Perjuangan Merenovasi Rumah Impian

Perjuangan Merenovasi Rumah Impian

I know ini bukan tulisan tentang jalan-jalan. Tapi pada masa pandemi yang sangat minim ke mana-mana, berhasil merenovasi rumah sendiri itu adalah my biggest achievement in 2020!

Rumah saya yang berlokasi di kuburan (iya, kuburan! Baca deh di buku The Naked Traveler 4) sebenarnya adalah rumah peninggalan orang tua yang sudah berusia lebih dari 25 tahun. Saya tinggal di sana sejak bapak saya meninggal dunia pada 2002 untuk menemani mama. Eh pada 2014, mama saya meninggal dunia juga. Hiks. Setelah kelar membiayai kuliah adik saya sehingga dia sudah mandiri, jadilah saya tinggal sendiri (plus seorang pembokat galak yang sudah bekerja 30 tahun di keluarga saya).

Rumah rasanya jadi terlalu besar, biayanya pun lama-lama meningkat. Gara-gara keseringan nonton HGTV dan “Income Property” di Lifetime, saya jadi terinspirasi untuk merenovasi dan menyewakan sebagian rumah. Lagipula, saya ingin menikmati sisa hidup saya dengan nyaman di kamar dan perabot yang saya inginkan. Maklum, tinggal di rumah orang tua artinya kan seleranya ya selera mereka. Lalu, dapat passive income kan lumayan, apalagi industri buku lagi turun.

Sudah lama saya menabung untuk merenovasi rumah. Baru mau mulai dikerjakan awal 2020, eh pandemi datang! Bisa jadi blessing in disguise karena saya jadi ada waktu untuk mengawasi pembangunan, namun perhitungan jadi kacau balau karena pemasukan turun drastis tis tis!

Fasad rumah. Beda banget ya!

Anyway, bagi yang mau renovasi rumah juga, begini tahapannya;

  1. Ketahuilah secara detail apa yang ingin direnovasi. Kalau rumah tidak dihancurkan semua dan dibangun dari nol, maka saya rasa tidak perlu jasa arsitek. Yang penting sudah tahu apa yang dibuang, dipertahankan, atau dibangun baru, serta buatlah skala prioritas.
  2. Carilah referensi kontraktor/tukang yang terpercaya. Saya sendiri dapat referensi kontraktor dari sahabat sendiri yang hasil pengerjaannya sudah saya lihat sendiri, jadi saya pakai sistem borongan penuh (termasuk bikin tirai sampai perabot). Pilihan lain yang lebih ribet tapi bisa lebih murah adalah cari mandor/tukang dan membayar jasa mereka sementara materialnya kita beli sendiri.
  3. Diskusikan dengan kontraktor dan minta RAB (Rencana Anggaran Biaya), berikut terms and conditions, tata cara pembayaran, dan garansinya. Apakah bakal lebih? PASTI! Siapkan aja dana sampai 20% lebihnya, apalagi kalau banyak maunya.
  4. Carilah tempat tinggal sementara karena dalam kasus saya (sampai bongkar atap) rumah tidak mungkin ditinggali meski pindah kamar sekalipun. Saya akhirnya ngekos di sini.
  5. Cek rumah secara reguler. Saat pekerjaan sipil dilakukan, datang seminggu sekali. Lebih sering datang pada saat pengerjaan interior.

Pertanyaan sejuta umat adalah berapa biaya renovasi rumah? Sungguh saya tidak bisa jawab karena setiap rumah kan unik. Luasnya berapa? Berapa lantai? Apa yang mau direnovasi? Termasuk perabot nggak? Lha, saya habis berapa dong? Silakan membayangkan: luas tanahnya aja 250 m²! *nangis*

Masalahnya, semakin tua rumah maka semakin banyak jebakan betmen. Artinya kita nggak tau ada apa di baliknya. Tadinya mau dipertahankan, ternyata udah keropos atau salurannya mampet. Lalu, ada kemungkinan material yang ditawarkan kontraktor ternyata tidak sesuai dengan selera kita, jadilah dana bertambah karena terpaksa membeli material dengan grade lebih premium. Diperparah lagi oleh keinginan yang tidak sesuai dengan RAB awal. Contohnya ketika rumah hampir jadi, eh lantai teras tampak nggak nyambung. Dengan tema minimalis serba putih, masa lantainya keramik warna merah kusam? Jadilah diganti dengan granit abu-abu. Yang kayak begini ini yang bikin boncos!

Taman After (foto atas) & Before (foto bawah).

Saya belajar bahwa hukum membangun rumah yang terutama adalah ada harga, ada mutu. Pokoknya benar-benar kelihatan dan terasa bedanya antara material murah dan mahal! Saya selalu ingat kata-kata kontraktor saya ketika menawarkan sesuatu, “Ibu mau murah atau bagus?” saking keduanya susah temenan. Huhuhuu!

Kalau di-break down, biaya terbesar adalah ganti atap dan plafon. Lalu bikin perabot (lemari, meja, rak) custom. Secara ruangan, paling mahal adalah bikin kamar mandi dan kitchen set – saya akhirnya menyerah nggak bikin kabinet dapur karena dana terbatas.

My comfy bathroom

Untuk menghemat bujet hukumnya adalah sebisa mungkin tidak mengubah layout ruangan karena membongkar tembok dan membangun tembok baru itu biayanya besar. Pertahankanlah pula apa yang bisa dipertahankan, misalnya jendela, pintu, ubin lantai, keramik dinding. Perlu diketahui, kalau mau mengganti hanya sebagian keramik dinding/lantai, kemungkinan besar materialnya sudah tidak diproduksi lagi jadi bakal belang. Kalau mau hemat, harus kuat melihat bedanya (sangat tidak disarankan bagi penderita OCD)! Bila ingin barang yang spesifik dan tidak ketemu di toko bangunan atau harganya mahal, misalnya tutup toilet warna biru, beli aja sendiri di online shop – asal nggak masalah dengan merk.

Yang jelas, renovasi rumah itu tidak ada batasnya. Mau dibikin kayak apa aja bisa. Jadi yang membatasi itu hanya kita sendiri: seberapa besar biaya yang kita mau keluarkan dibandingkan dengan tingkat kepuasan? Dari awal prioritas saya adalah kamar saya harus kece, sisanya minim aja. Keramik lantai kamar dan dinding kamar mandi aja yang baru cuma di kamar saya, yang lain dipertahankan. Perabot custom hanya dibikin untuk kamar saya dan perpustakaan.

My bedroom now (foto atas), dulunya bekas living room (foto bawah).

Yang perlu disiapkan selain duit sebenarnya adalah mental. Selama empat bulan saya insomnia, sakit kepala, dan sakit perut karena stres! Kadang karena saya terlalu excited memilih desain dan material, tapi seringnya sih karena urusan duit yang keluar melulu tanpa ada pemasukan yang berarti pada masa pandemi. Ternyata, menyamakan keinginan dan bujet itu berat banget!

Pada akhirnya, perjuangan saya merenovasi rumah with sweat, blood and tears terbayar! I finally have my dream home! Semoga bisa membuat almarhum kedua orang tua saya bangga! Dan semoga habis ini, rejeki saya lancar. *Amin yang kenceng!*

I see this everyday from my window!

Kiat tambahan:
– Karena ingin punya taman sebagai focal point, saya hire jasa landscapist (ahli taman). Dia mendesain, memilih, dan menanam aneka tanaman berdasarkan intensitas sinar matahari, jatuhnya hujan dan aliran air. Memang mahal harganya, tapi jadinya keren banget!
– Sebelum ditempati, hire jasa pembersihan khusus pasca renovasi di bersihrapih.com. Karena pasti ada bekas semen, cat, kotoran lain yang menempel di lantai atau jendela. Belum lagi WC dan wastafel tua yang pasti berkerak. Nah, dengan jasa ini semuanya jadi spotless! Mereka akan datang setim dengan peralatan lengkap termasuk tangga, bahan kimia, dan mesin-mesin. Hanya saja harus terus diawasi supaya tau mana aja.
– Kalau butuh referensi, silakan email saya. Tapi ini khusus peminat serius ya, karena sistemnya mereka akan datang survey dulu.

Living room and library (dulunya bekas kamar tidur orang tua).


18 Comments

  • Anonymous
    December 6, 2020 9:56 pm

    Banyak berkah, dilancarkan jalan rejekinya, nulisnya pun tambah lancar di rumah impian

  • mayarumi
    December 7, 2020 9:21 am

    wuah mba aq penasaran sama tamannya, mau dong mba di ceritain lebih detail

  • Ayu Sumedani
    December 7, 2020 6:18 pm

    Bagus.. Mbak.. Mihon bimbingan utk menulis.. Saya baru belajar nulis.

  • reymaulana
    December 7, 2020 9:46 pm

    Woooow ?
    Suka deh kamar sama kamar mandinya kak, ketje banget.

    Tamannya juga cozy, kebayang duduk leyeh-leyeh baca buku di taman itu.
    Congrats ya buat renovasinya kak.

    Ps : sweat, blood, and tears, apakah Kak Trinity penikmat dedek-dedek emesh BTS, secara mirip ya kaya judul lagu mereka ?

    • Trinity
      December 9, 2020 1:06 pm

      Istilah sweat, blood and tears itu udah jamak dalam bahasa Inggris. Krn ada BTS aja, warga +62 baru ngeh 🙂

  • Ria Basoeki
    December 8, 2020 11:28 pm

    Selamat yaaa… Rumah barunya cantik dan pengerjaannya tampak rapih. Boleh tau gak kontraktornya dan nomor yang bisa dihubungi? Saya ada rencana ganti atap dan rangka dgn baja ringan tahun depan, dipenghujung musim hujan. Semoga makin sukses ya Trinity!!

    • Trinity
      December 9, 2020 1:09 pm

      yaah dibaca lengkap dong di blog, udah ditulis cara minta referensi 🙂

  • Weshley
    December 9, 2020 12:05 pm

    Keren euy.. selamat yaa… kapan diundang makan2 di sana???

    • Trinity
      December 9, 2020 1:09 pm

      WA aja 🙂

  • fitriindriani
    December 18, 2020 9:44 am

    keren deh tulisannya, boleh donk untuk berbagi ilmu disini mbak 😀

  • Anonymous
    December 26, 2020 5:47 pm

    tamannya cakep banget, jadi iri

  • rasyid
    December 28, 2020 12:04 pm

    wah keren ya.. butuh biaya berapa agar bisa seperti itu..?

  • annisa ca
    December 30, 2020 10:51 am

    thanks for information

  • zulhan
    January 4, 2021 9:18 am

    bagus banget ruang bacanya

  • ibun
    January 7, 2021 11:45 am

    whoaaaa… keren banget after-nya mbak.. beneran ini kayak keluaran HGTV gitu hehehehe… nuansa sleek & modern-nya dapet.. semoga habis ini pemasukan lancar jaya ya mbak…

  • arif
    January 7, 2021 1:53 pm

    keren banget tempatnya.. jdi pingin kesini…

  • uchie
    January 8, 2021 8:34 am

    suka sama tamannya… keren mba, tp aku koq merinding liat lantai bathroomnya.. wah ada yang salah sama saya..hahaha.. saya mau renov kamar harus dipikirkan lagi neh setelah baca blog ini.. hihihi pandemic ini jadi lebih baca apapun karena bosen di rumah gak bisa keluar, terima kasih blognya mba..

  • Trackback: Akhirnya Jadi Ibu Kos! – The Naked Traveler

Leave a Reply

Leave a Reply