Anthology Posts

Solo trip pertama kali!

By Pristi Gusmatahati*

Pose sama ikan buntal

Berbekal ilmu sebagai daydreamer, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama backpacking saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi backpacking sen-di-ri-an, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil kaya balita padahal sudah tua, plus saya buta arah. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri pergi ke Tanjung Lesung, sendiri. Yippiiiee!

Tanjung Lesung adalah sebuah pantai yang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Disebut Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung (alat tradisional untuk menumbuk padi). Tempat ini terkenal dengan resort mewahnya serta Beach Club yang menyediakan fasilitas snorkeling, mancing, banana boat, jetski, dan lain-lain. Ada juga sailing trip ke anak gunung Krakatau, tapi buat saya harganya ngajak miskin banget. Lagipula, saya berencana untuk trip satu hari saja, berangkat pagi, pulang malam, karena esok harinya harus ngantor.

(more…)

Read more

Menunggu kereta di Lucknow

By Seli Satriana*

Stasiun Kereta Lucknow

Pada suatu musim dingin dibagian utara India, saya melakukan perjalanan selama 25 hari dengan menggunakan moda transportasi kereta api.

Hari itu, saya mau berpindah kota dari Lucknow menuju Varanasi dengan naik kereta yang berangkat jam 11.00. Saya dan teman-teman sudah datang ke stasiun jam 10.30 pagi. Cuaca Lucknow hari ini mendung dan suhu udaranya dingin banget, sekitar 10 derajat Celcius. Daripada bengong di peron, kami akhirnya memutuskan menunggu di sebuah food court kecil di dalam stasiun sambil makan siang dan minum chai (teh ala India). Lumayan sambil menghangatkan badan.

Tunggu punya tunggu, belum ada tanda-tanda keretanya muncul. Katanya kereta terlambat, rencananya akan datang jam 14.00. Kami pun balik lagi ke food court. Eh jam 14.00 lebih belum juga keretanya nongol! Sampai sudah bosan menunggu, kami bertanya-tanya ke penumpang di sekitar. Katanya keretanya telat lagi, baru sekitar jam 17.30 nanti dijadwalkan akan datang. Pasrah, kami memutuskan menunggu di platform daripada naik lagi ke ruang tunggu di lantai atas dengan backpack masing-masing. Di ruangan terbuka begini, dinginnya terasa minta ampun! Bolak-balik kami membeli chai di warung-warung kelontong yang tersedia di peron.

(more…)

Read more

Kena Sweeping di Thailand

By Ariyanto*

Jalan utama Mae Sai

Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.

Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!

(more…)

Read more

Perjuangan ke Luang Prabang

By Rini Raharjanti*

Luang Prabang, Laos

Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit guesthouse. Menurut rekomendasi Lonely Planet, lebih baik naik van daripada bus karena lebih nyaman dan perjalanan yang harusnya ditempuh 12 jam bisa jadi 10 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk naik van walaupun harganya $9 lebih mahal dari harga bus VIP. Di travel agent terpampang foto cantik van yang akan membawa saya ke Luang Prabang. Saya senyum sumringah karena bakal tidur di jok kursi van yang empuk.

Setelah makan siang dan berjalan-jalan sekitar kota, saya menuju meeting point dimana van menuju Luang Prabang akan menjemput saya. Tidak lama menunggu, sebuah mobil pick up lengkap dengan jeruji besi di kedua sisi berhenti di depan hidung saya. Pak Supir keluar dari mobil dan bertanya “Luang Prabang?”. Saya BENGONG. Sempet bolot beberapa saat ngebayangin bakalan naik mobil pick up buat ngangkut sapi ke Luang Prabang selama 12 jam! ALAMAK! Saya cuman mengangguk perlahan memandang nelangsa penuh derita nestapa. Dengan bahasa Inggris patah-patah pak supir bilang “Don’t worry, I will only take you to bus station. You will move to a nice van there.” OALAAHHH..mendengarnya lega sekali serasa diguyur air syurga! Dengan senyum lebar saya naik mobil pick up dan menuju terminal bus.

(more…)

Read more

Semurup, the most dangerous hot spring

By Reinhard Hutagaol*

Dangerously Semurup

Setelah pindah tugas meninggalkan Jambi beberapa bulan ini, saya jadi teringat cerita yang unik selama berdinas disana selama 7 tahun di sana, yaitu pada waktu berkunjung ke Kabupaten Kerinci. Ini adalah sebuah kabupaten yang paling jauh dari ibukota Jambi, letaknya di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatra) di sebelah Barat Jambi. Kalau menggunakan kendaraan paling cepat bisa ditempuh 10 jam melewati jalan yang buruk disekitar pegunungan. Pernah sih Pemda-nya mengupayakan angkutan pesawat dengan memberikan subsidi kepada penumpangnya, tapi lama-lama bangkrut juga.

Kerinci secara geografis lebih dekat ke Sumatra Barat sehingga sangat berpengaruh sekali segala adat istidatnya yang hampir sama dengan budaya Minang kecuali bahasanya. Sebenarnya dulu Kerinci adalah bagian dari Sumatra Barat. Pada awal pembentukan Propinsi Jambi pada tahun 1950-an, syarat 5 kabupaten untuk membuat satu propinsi masih kurang 1 Kabupaten, nah melalui negoisasi dengan propinsi Sumatra Barat dilepaslah kabupaten Kerinci untuk bergabung dengan Jambi.

(more…)

Read more