Anthology
Silakan kirim tulisan yang berhubungan dengan jalan-jalan (travel related story) ke naked.traveler@gmail.com
Trinity akan menjadi editor-nya. Bila memenuhi syarat, akan ditampilkan ke dalam blog ini. Siapa tahu bisa diterbitkan jadi buku!
Syaratnya:
- Dalam bahasa Indonesia yang baik, dengan ejaan dan tanda baca yang benar.
- 800-1000 kata per tulisan. Dengan 1 buah foto.
- Diketik dalam format Microsoft Word, tipe huruf Times, 12 pt, 1 spasi.
- Belum pernah dimuat di media massa, bukan plagiat/terjemahan.
- Cerita harus unik, tidak bohong, tidak membosankan, bebas memilih angle apapun.
- Setiap orang boleh mengirim lebih dari 1 tulisan.
- Sertakan juga biografi singkat Anda.
Cheju, pulau 17 tahun ke atas
by Ivan Imanuel Tumpak*
Cheju Island
Saat kuliah di Korea Selatan, saya berkesempatan mengunjungi Cheju Island atau orang Korea menyebutnya Jejudo. Kata teman saya, tempat ini menjadi sangat terkenal ketika sinetron drama Korea bertajuk “Winter Sonata” memilih pulau ini sebagai tempat syuting. Tentu saya jadi penasaran pengen ke sana dan pengen nyirik-nyirikin teman-teman di Indonesia penggemar sinetron Korea.
Dari kota Gimpo ke Cheju Island memakan waktu 1 jam perjalanan dengan maskapai penerbangan Jeju Air. Ketika berada di pesawat, perhatian saya tertuju kepada seorang gadis Korea bening nan aduhai yang sedang melintas hendak menuju toilet. Dasar laki-laki nggak bisa lihat barang bagus dikit, saya langsung berbisik-bisik nakal dengan Jeremy, teman saya asal Ceko, dan Boo asal Georgia. Begitu gadis itu melintas kembali ke tempat duduknya, dari belakang kami memperhatikan ada sesuatu yang menyembul keluar dari bawah lengannya. Dan ternyata… itu adalah bulu keteknya yang hitam dan superduper lebat! Alhasil kami ketawa keras banget karena ilfil, sampai seorang pramugari menegur kami untuk tenang. (FYI, orang Korea paling tidak suka kebisingan meski di tempat umum sekalipun seperti taman, bus, pesawat, atau mall).
Interogasi ala Imigrasi
by Nelda Afriany*

Nelda (kanan) di Rusia
Meskipun sudah berkali-kali melalui imigrasi di bandara suatu negara, saya tetap deg-degan menghadapinya. Rasanya semua jadi serba salah dan kikuk. Mungkin banyak kasus yang mereka alami sehingga membuat pemeriksaan paspor bikin jiper orang (atau cuma saya saja ya?). Kalau saja semua petugas imigrasi tampangnya ramah dan suka senyum, saya tidak begitu grogi. Tapi kalau tampangnya serius dan galak, berdiri di antrian panjang menunggu giliran pun bisa bikin lutut saya lemas.
Negara pertama yang saya kunjungi adalah Jerman, meskipun hanya transit dalam perjalanan menuju Oslo, Norwegia. Saat itu Norwegia belum masuk visa Schengen, jadi untuk keluar dari airport di Jerman, saya bikin visa transit. Ketika di bagian imigrasi airport Frankfurt am Main, mas-masnya yang muda dan ramah mengajak saya bicara. Dia bertanya, apa saya bisa bahasa Jerman. Ketika saya jawab ya, ia langsung bertanya macam-macam dalam bahasa Jerman. Mulai di mana saya belajar bahasa Jerman, universitas mana, dan mau ngapain di Jerman. Haduh, untung bisa jawab semua.
Collin, My Idol
by Reevo Saulus*

Collin dan saya
Sebagai penggemar traveling, saya suka menonton acara acara yang berbau travel, terutama The Amazing Race Asia (TARA). Sebuah reality show dimana terdapat 10 tim yang harus berlomba mengelilingi belahan dunia dengan mengatasi tantangan-tantangan. Dari semua peserta TARA, saya sangat mengidolakan Collin Low asal Singapura. Ia adalah pemenang pada musim kedua bersama temannya yang tuna rungu, Adrian Yap. Di antara Adrian dan Collin, saya lebih akrab dengan Collin karena saya sering chatting sama dia. Di sela-sela waktunya yang padat, ia sering memberi support kepada saya dengan urusan sekolah. Pria berumur 36 tahun dan masih single itu berprofesi sebagai instruktur senam dan personal trainer di sana, maka saya pun suka meminta tips berolahraga yang baik dan benar.
Gara-gara Collin, saya ingin sekali ke Singapura untuk bertemu dengannya. Tapi saya masih pelajar SMA, belum punya uang sendiri. Sudah lama saya meminta ayah saya untuk pergi ke sana, tapi belum kesampaian juga. Akhirnya pada bulan Desember 2008 karena ayah ada urusan pekerjaan ke Singapura, maka saya pun diajaknya. Horee! Begitu sampai Singapura, saya pun menghubungi Collin lewat SMS. Tetapi sayang, tidak ada jawaban. Mungkin dia sudah lupa dengan saya. Rasanya sedih banget. Gagal lah rencana bertemu idola. Saya menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama ayah, tapi saya tetap sedih memikirkan Collin.
Belajar Bahasa Gara-Gara Anna

Anna
by Oktarina Prasetyowati (Okke)
Saya sempat tinggal selama setahun lebih di Timor Leste karena urusan pekerjaan. Mau tidak mau saya harus bisa berbahasa lokal, yakni bahasa Tetun. Sebenarnya saya sudah disuruh-suruh untuk belajar sejak pertama kali menjejakkan kaki di sana, tapi ternyata orang-orang di Dili, baik yang muda maupun yang tua masih bisa berbahasa Indonesia. Murid-murid saya pun kebanyakan anak SMU dan mahasiswa. Mereka mengerti banget setiap perkataan saya dalam bahasa Indonesia. Jadi ya sudah, saya tidak merasa perlu untuk serius mempelajari bahasa ini. Jadi tiga bulan pertama, kemampuan bahasa saya turis banget. Palingan standar penguasaan kata-kata dasar pada kursus bahasa: Bon dia (Selamat pagi), Botarde (Selamat siang/sore), Bon noite (selamat malam), Obrigado (Terima kasih), Desculpa (Maaf), Lisensa(Permisi). Hau nia naran Okke (Nama saya Okke), Hau husi Indonesia (saya dari Indonesia), hau hela iha becusse centro (saya tinggal di Becusse Centro).
Tipu-Tipu Ala India
by Mayawati Nurhalim*

Becak di Varanasi
Siapa pun yang berniat jalan-jalan ke India, bersiaplah mengalami serangkaian peristiwa mengejutkan. Apalagi kalau kita mengunjungi kota-kota kecilnya yang miskin. Bukan cuma soal jorok dan kumuh, melainkan juga soal banyaknya pengemis agresif dan para penipu berkedok macam-macam.
Lagi enak-enak tidur di kamar hotel, bisa-bisanya pintu diketuk 4 orang cleaning service berbadan tegap berkulit gelap laksana bodyguard demi dapat tip. Gara-garanya saya pernah kasih tip kepada salah seorang room boy. Rupanya air susu dibalas air tuba. Room boy lainnya jadi hobi mengetuk kamar, mengantarkan apa saja yang tidak kita minta. Begitu pula dengan para pengemis yang ternyata sangat ’setia kawan’. Saya pikir aman memberikan uang pada pengemis cilik yang berdiri sendirian di gerbang hotel. Eh ternyata si pengemis ini solider kepada teman-teman seperngemisannya. Dia kasih tahulah kalau rombongan kami murah hati, dan wusshh… tiba-tiba banyak pengemis lain membuntuti kami. Pake acara nyolek-nyolek lengan kita segala. Yang mengejutkan, setelah kakak saya bilang “Sorry” dan tak memberi uang, kakak saya dibentak oleh seorang pengemis cilik perempuan, “No sorry!”. Buset.
You are currently browsing the archives for the Anthology category.




