Anthology Posts

Anthology ini adalah kumpulan tulisan perjalanan dari para pembaca buku dan blog “The Naked Traveler” sejak 2009. Sebagian dari tulisan di sini sudah diterbitkan menjadi buku “The Naked Traveler Anthology” pada Agustrus 2014 oleh Bentang Pustaka.

Anthology Posts

Kena Sweeping di Thailand

By Ariyanto*

Jalan utama Mae Sai

Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.

Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!

continue reading

Anthology Posts

Perjuangan ke Luang Prabang

By Rini Raharjanti*

Luang Prabang, Laos

Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit guesthouse. Menurut rekomendasi Lonely Planet, lebih baik naik van daripada bus karena lebih nyaman dan perjalanan yang harusnya ditempuh 12 jam bisa jadi 10 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk naik van walaupun harganya $9 lebih mahal dari harga bus VIP. Di travel agent terpampang foto cantik van yang akan membawa saya ke Luang Prabang. Saya senyum sumringah karena bakal tidur di jok kursi van yang empuk.

Setelah makan siang dan berjalan-jalan sekitar kota, saya menuju meeting point dimana van menuju Luang Prabang akan menjemput saya. Tidak lama menunggu, sebuah mobil pick up lengkap dengan jeruji besi di kedua sisi berhenti di depan hidung saya. Pak Supir keluar dari mobil dan bertanya “Luang Prabang?”. Saya BENGONG. Sempet bolot beberapa saat ngebayangin bakalan naik mobil pick up buat ngangkut sapi ke Luang Prabang selama 12 jam! ALAMAK! Saya cuman mengangguk perlahan memandang nelangsa penuh derita nestapa. Dengan bahasa Inggris patah-patah pak supir bilang “Don’t worry, I will only take you to bus station. You will move to a nice van there.” OALAAHHH..mendengarnya lega sekali serasa diguyur air syurga! Dengan senyum lebar saya naik mobil pick up dan menuju terminal bus.

continue reading

Anthology Posts

Semurup, the most dangerous hot spring

By Reinhard Hutagaol*

Dangerously Semurup

Setelah pindah tugas meninggalkan Jambi beberapa bulan ini, saya jadi teringat cerita yang unik selama berdinas disana selama 7 tahun di sana, yaitu pada waktu berkunjung ke Kabupaten Kerinci. Ini adalah sebuah kabupaten yang paling jauh dari ibukota Jambi, letaknya di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatra) di sebelah Barat Jambi. Kalau menggunakan kendaraan paling cepat bisa ditempuh 10 jam melewati jalan yang buruk disekitar pegunungan. Pernah sih Pemda-nya mengupayakan angkutan pesawat dengan memberikan subsidi kepada penumpangnya, tapi lama-lama bangkrut juga.

Kerinci secara geografis lebih dekat ke Sumatra Barat sehingga sangat berpengaruh sekali segala adat istidatnya yang hampir sama dengan budaya Minang kecuali bahasanya. Sebenarnya dulu Kerinci adalah bagian dari Sumatra Barat. Pada awal pembentukan Propinsi Jambi pada tahun 1950-an, syarat 5 kabupaten untuk membuat satu propinsi masih kurang 1 Kabupaten, nah melalui negoisasi dengan propinsi Sumatra Barat dilepaslah kabupaten Kerinci untuk bergabung dengan Jambi.

continue reading

Anthology Posts

Pasar Loak di Dubai

by: Hairun Fahrudin*

Suatu pagi di akhir pekan, saya ditemani Paolo, seorang kawan yang berkampung halaman di Filipina, mendatangi Safa Park tempat digelarnya pasar loak. Meski hanya pasar loak, nama resminya lumayan keren, yakni Dubai Flea Market. Itu adalah kali pertama saya mengunjunginya. Terus terang, saya tidak terlalu berminat membeli barang bekas. Namun, setelah mendengar cerita seru tentang kemeriahan pasar loak ini, saya jadi tertarik mengunjunginya.

Safa Park adalah semacam Central Park-nya Dubai. Lokasinya tepat berada di pusat kota Dubai yang sangat modern itu. Meskipun beriklim padang pasir, Dubai memiliki banyak taman-taman hijau nan ribun bak kebun raya. Taman-taman kota seperti Safa Park ini kerap digunakan warga untuk berpiknik sambil memanggang barberque, atau tempat menggelar event seperti Dubai Flea Market.

Waktu masih jam tujuh pagi, namun antrian di depan pintu masuk Safa park sudah mengular. Safa Park yang biasanya sepi mendadak meriah dengan kehadiran ratusan pengunjung. Suasananya benar-benar seperti miniatur dunia. Segala bangsa dan ras berkumpul di sana hanya untuk berburu barang loak! Para penjual yang sebenarnya pedagang kagetan itu nampak lalu lalang mengangkut barang dagangan dari bagasi mobil mereka ke lokasi pasar loak digelar. Meskipun hanya berdagang barang-barang bekas, tapi alamak, kendaraan yang dipakai mereka kebanyakan bermerek kelas atas. Koper dan tas berisi barang-barang bekas dikeluarkan dari bagasi mobil Jaguar, BMW, Mercedez Benz dan yang setaraf itu. Bahkan ada yang membawa mobil sport seperti Ferrari dan Porsche.

continue reading

Anthology Posts

Nikmatnya Perjalanan Dinas

by TJ*

Plengkung bersama Maya dkk

Kadang-kadang kita merasa iri terhadap orang seperti Trinity yang kerjanya jalan-jalan melulu. Pertanyaan yang muncul di dalam pikiran kita biasanya “Kok bisa ya? Kok punya duit ya?”. Jawaban yang paling mendasar tentunya karena setiap orang punya rejeki masing-masing.

Kalau memang rejeki, kita bisa bekerja sebagai orang yang memang profesinya sering harus melakukan perjalanan bisnis, misalnya marketing, auditor, atau wartawan. Tapi kembali lagi pada rejeki masing-masing, walaupun kita ditugaskan pergi ke luar kota, bisa jadi tenggat penyelesaian pekerjaan sangat ketat sehingga kita tidak sempat kemana-mana. Ada juga tuan rumah yang mengawal ketat tamu-tamunya, pagi dijemput, selesai kerja harus ramah-tamah basa-basi sampai malam, lalu diantar pulang ke hotel… lah, kapan jalan-jalannya coba? Selain itu tentu terkait dengan kepribadian kita, karena ada saja orang kurang berani jalan sendiri, bahkan bertugas ke luar negeri tapi yang diketahuinya cuma hotel dan lokasi kerja, ditambah convinience store di samping hotel tempat membeli makanan instant.

continue reading