Thoughts
- 15/07/2010 - 22:49 Cara cari buku "Duo Hippo Dinamis" -
Buku saya ke-3 berjudul “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” sudah diluncurkan pada 22 Mei 2010. Sudah dapat dibeli di toko-toko buku terdekat juga. Tapi masih ada yang bilang buku ini “nggak nemu di toko buku”.
Berikut tips mencari buku ini:
[1] Ada jutaan buku yang ada di toko buku, maka agak sulit menemukan buku yang dicari dengan hanya melihat saja. Sebagian toko menaruh DHD di bagian “buku baru” atau “buku laris”, sebagian di rak “komik”, “pariwisata”, bahkan di rak “buku anak-anak”.
[2] DHD memang tidak masuk ke kategori buku ”novel” melainkan “komik”, jadi kemungkinan besar ada di rak “komik”.
[3] Sayangnya sangat jarang ada toko buku yang punya rak “komik dewasa” sehingga ada kemungkinan digabung dengan komik anak-anak.
[4] Paling gampang, begitu masuk toko buku sih tanya ke petugasnya – biar mereka yang menunjukkan di mana buku DHD.
[5] Di toko buku Gramedia, tersedia komputer untuk mencari. Search berdasarkan judul “DHD: Tersesat di Byzantium“. Jika mencari dengan keyword “Duo Hippo”, maka tidak akan keluar di data base-nya. Lebih gampang lagi search berdasarkan nama pengarang, masukkan keyword “Trinity” maka pasti ketemu.
[6] Kalau masih belum nemu juga meski langkah 1-5 sudah dilakukan, mohon memberi info kepada saya di email duohippodinamis@gmail.comKalau malas atau nggak ada waktu ke toko buku, bisa pesan online melalui http://naked-traveler.com/merchandise/. Tinggal duduk manis di rumah/kantor, dan tunggu buku sampai di depan pintu.
Happy hippos hunting!
# - 20/05/2010 - 23:46 Duo Hippo Dinamis -
Peluncuran graphic travelogue pertama di Indonesia
“Duo Hippo Dinamis | Tersesat di Byzantium”It’s more than just a comic, it’s a graphic travelogue!
Graphic travelogue pertama di Indonesia berjudul “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” akan diluncurkan pada 22 Mei 2010 jam 16.00 WIB di Level One - East Mall, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta. Terinspirasi dari buku bestseller “The Naked Traveler”, kali ini perjalanan seru Trinity bersama sahabatnya Erastiany di Turki tidak hanya dituliskan melalui kata-kata namun digambar dengan detail oleh Sheila Rooswitha.
Graphic travelogue adalah catatan perjalanan yang disajikan dalam bentuk cerita-gambar sehingga membuat pesan si penutur cerita mengenai esensi perjalanan yang dialaminya tersampaikan secara hidup dan ekspresif. “Dengan graphic travelogue, sensasi pembaca dalam mencicipi pengalaman tersebut memperoleh stimulasi lebih,” jelas Rony Amdani, CEO Curhat Anak Bangsa, yang merupakan produser Duo Hippo Dinamis.
Duo Hippo Dinamis adalah duet tokoh anti-hero, bernama KK dan DD. Mereka adalah dua perempuan gembul yang doyan berenang dan jalan-jalan. Di episode Tersesat di Byzantium ini, KK dan DD melakukan perjalanan impulsif ke Turki, yang penuh dengan berbagai insiden tak terduga, yang membutuhkan nyali petualang, semangat nekad dan humor yang tinggi untuk melaluinya. Menikmati bangunan bersejarah yang terawat baik, mencoba mandi ala Turki dan bermalam di kereta berkabin hanyalah segelintir peristiwa seru dari graphic travelogue ini. Perjalanan KK dan DD menjadi semakin tak tentu arah ketika terjadi pertemuan antara mereka dengan seorang pria lokal yang ganteng namun hidupnya seperti selalu di ambang kriminalitas.
Duo Hippo Dinamis diterbitkan bersama oleh B-First (PT Bentang Pustaka) dan CAB (Curhat Anak Bangsa). Tentang penerbitan graphic travelogue ini, Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka, menjelaskan, “Bukan lagi wacana bahwa komik lokal bertanding dengan komik impor. Teknik menggambar adalah masalah selera, tapi dengan cara penyampaian dan content yang bagus maka itulah kunci kesuksesan buku cerita bergambar. Dengan maraknya buku perjalanan di Indonesia, Duo Hippo Dinamis merupakan sebuah terobosan yang memenuhi kriteria tersebut.” Selain episode bertajuk Tersesat di Byzantium, rencananya Duo Hippo Dinamis akan diterbitkan dalam beberapa episode.
Tentang Penulis
Trinity - Profesinya adalah fulltime traveler & freelance writer. Bergelar Sarjana Komunikasi dari Universitas Diponegoro dan Master in Management dari Asian Institute of Management di Filipina. Kesuksesan blog naked-traveler.com dan buku “The Naked Traveler 1 & 2” membuatnya menjadi orang yang paling bikin sirik sejuta umat akibat perjalanannya menjelajah dunia.
Erastiany – Profesinya pekerja serabutan tapi apapun bisa dia lakukan dan selalu beres – dapat bayaran adalah bonus. Bergelar Sarjana Sastra dari Universitas Indonesia dan pernah sekolah tinggi lainnya di Amerika.
Sheila Rooswita – Memulai karirnya sebagai ilustrator dan storyboard artist, saat ini profesi utama adalah ibu rumah tangga beranak satu. Lulusan FSRD Universitas Trisakti ini telah menerbitkan buku komik “Lovely Luna” dan graphic diary laris berjudul “Cerita si Lala”.Informasi Buku
Judul: Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium
Penulis: Trinity, Erastiany, dan Sheila Rooswitha
Penyunting: Ikhdah Henny
ISBN: 978-602-8864-01-5
Penerbit: B-First (PT Bentang Pustaka)
Jumlah halaman: vi + 130
Harga: Rp 39.000,-Buku dapat dibeli pada saat launching dengan jumlah terbatas. Jadi buruan datang yaa?
#
Tersedia di toko-toko buku seluruh Indonesia secara bertahap mulai Juni 2010.
Masih penasaran kayak apa bentuk buku ini? Klik aja ini.
FYI, ini bukan buku "The Naked Traveler 3". - 31/03/2010 - 19:50 REASON #78: WHY I LOVE MY JOB -
Gara-gara nulis tentang Citilink di blog, saya dapat undangan untuk ikutan Inagural Citilink Jakarta-Medan tanggal 15 Maret 2010 lalu. Inagural artinya pembukaan rute pernerbangan pertama. Hmm.. belum pernah nih saya ikut acara begituan. Meski badan bonyok abis trip ke Sumba, tapi kalo diajak jalan-jalan gratis siapa yang nggak mau? Ke Medan pula! Asiknya kali ini saya berangkat bersama Ollie - penulis ngetop yang pernah jalan bareng sama saya ke Singapura, dan Kristupa - pendiri fotografer.net.
Rupanya penerbangan inagural itu acara serius, jadi di bandara kita disuguhi makanan dan minuman gratis. Pidato sambutan diberikan oleh Bpk. Elisa Lumbantoruan, EVP Strategic & IT Garuda Indonesia. Katanya Citilink adalah low cost carrier domestik yang paling tepat waktu. Percaya, Pak! Pesawat Citilink menggunakan Boeing 737-300 ini dipenuhi oleh penumpang yang beruntung dapat harga promosi Rp 0, pejabat Garuda, dan para wartawan, termasuk kami, 3 orang blogger. Interior pesawatnya masih Garuda banget dengan jok kursi biru dan lambang Garuda. Akhirnya ketemu lagi deh sama pramugari cantik Citilink yang berseragam celana pendek. Karena penerbangan inagural, ada treatment khusus lagi: kami semua dikasih makan di boks. Yihaa! Take off dan landing pun mulus, khas pilot Garuda yang gape. Sampe di Bandara Polonia Medan, disambut tari-tarian Batak dan kami masing-masing dikasih ulos cantik warna merah ngejreng. Dari bandara, kami naik bus menuju hotel JW Marihot eh JW Marriott. Aih, senangnya bisa nginep gratis di hotel bintang lima yang supermewah! Malemnya di hotel ada jamuan bersama para pejabat daerah. Bubar acara, kami ditraktir makan durian Medan ampe blenger. Geng blogger lalu melipir sendiri menghabiskan malam dengan nongkrong di Merdeka Walk.
How can I not love my job? Bisa dapet teman-teman baru, ketemu pejabat penting, terbang gratis, nginep di hotel bintang lima gratis, makan enak gratis!
# - 20/01/2010 - 17:12 FAQ: TNT2 -
Apa perbedaan TNT1 dan TNT2?
- TNT2 lebih tebal dibanding TNT1. Yang sekarang >350 halaman gitu loh, jadi lebih puass!
- TNT1 isinya masih basic, TNT2 sudah advance. Maksudnya, TNT1 merupakan pengenalan terhadap dunia jalan-jalan. Sedangkan TNT2 ceritanya lebih mendalam, fokus, merupakan pure travel writing yang menghibur dan tetap lucu. Tapi intinya sama: it's not the destinations but the journey.Kenapa harga TNT2 lebih mahal?
Jelas karena jumlah halamannya lebih tebal. Harga kertas dan percetakan aja naik terus. Jadi wajar toh?Mengapa kertas TNT2 tidak putih seperti TNT1?
Karena TNT2 halamannya lebih tebal maka menggunakan kertas yang lebih ringan sehingga bukunya tidak berat. Kalau TNT2 menggunakan kertas seperti TNT1 maka harganya akan jauh lebih mahal lagi.Kenapa TNT2 baru diterbitkan sekarang? Jaraknya lama banget dengan TNT1!
Karena saya sempat sekolah di Filipina. Saking sibukanya sehingga tidak menulis selama setahun.Sepertinya ada cerita dari TNT1 yang diulang di TNT2. Benarkah?
Ada 3 cerita dari TNT1 yang ada juga di TNT2 karena versi awal cetakan TNT1 tidak ada ke-3 cerita tsb. Ingat, TNT1 sempat dibredel dan dihilangkan 3 cerita, makanya masuk di versi kedua TNT1. Lagipula, cerita itu merupakan sambungan ke cerita lainnya di TNT2.Kenapa cover TNT2 warnanya hijau dan desainnya mirip dengan TNT1?
Sengaja dibuat begitu supaya ada kesinambungan dengan semua buku TNT. Biar orang bisa re-call dengan cepat bahwa pernah membaca buku dengan cover seperti itu sebelumnya. FYI, pemilihan warna hijau ngejreng gitu atas ide dari sahabat saya, Wuli. Warna biru TNT1 dan hijau TNT2 dengan desain minimalis membuat efek eye-catching kalau ditaro di rak toko buku bersama jutaan buku lainnya. Bener kan?Di balik cover TNT2 ada gambar barang-barang gitu. Maksudnya apa sih?
Itu asli barang-barang pribadi saya yang selalu saya bawa setiap traveling. Cover dibuat begitu supaya kuat karena bukunya sendiri tebal. Lagian, biar lain daripada yang lain dong!Tony Wheeler pendiri Lonely Planet kok bisa endorse TNT2? Kan dia nggak bisa bahasa Indonesia? Prosesnya gimana?
Buku Wheeler yang berjudul "The Lonely Planet Story" diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit saya, dan saya lah yang meng-endorse bukunya. Maka saya meminta dia, "I endorsed your book, please you endorse mine too". Hehe! Lalu sejumlah cerita di TNT2 saya terjemahkan ke bahasa Inggris deh.Kok di toko buku dekat rumah saya belum ada?
TNT2 baru launching 11 Jan 2010 di Jakarta. Setelah itu baru buku didistribusikan ke daerah lain, dimulai dari kota dan pulau yang terdekat di Jakarta. Kalau belum ada juga, berarti masih on the way gitu. Kalau Anda tinggal di Sulawesi dan Kalimantan, buku baru ada di minggu ke-4 Januari. Kalau sudah habis di toko buku langganan Anda, berarti TNT2 laku keras jadi tunggu aja stok barunya datang. Tapi bagi Anda malas menunggu atau malas ke toko buku, bisa pesan di sini - dapat tanda tangan saya lho!Apakah TNT2 versi digital yang diunduh via ponsel XL masih berlaku?
Masih. Malah di versi digital ada tambahan 3 cerita yang sempat dibredel di TNT1. Yang belum langganan, caranya SMS dengan ketik REG (spasi) TNT kirim ke 3450.Apakah semua cerita di TNT itu kisah nyata?
Ya, iyalah yaa.. Who else?Apakah akan ada TNT3, TNT4, TNT5, dst? Kapan terbitnya?
#
Tentu! Jadi ditunggu saja ya? TNT3 rencana terbit sih tahun 2011. Tapi mudah-mudahan pertengahan tahun 2010 ini ada buku lain yang akan saya terbitkan. Doakan ya? - 09/01/2010 - 2:31 TNT2 & 11 Jan -
Wuah, akhirnya buku 'The Naked Traveler 2' terbit juga dalam versi cetak (sesuai permintaan NTers :p). Ga nyangka banget dari iseng bikin blog, jadi 1 buku best seller, dan sekarang ada buku sekuelnya. Terima kasih, Tuhan. Semoga buku TNT2 lebih sukses lagi dan semoga akan ada TNT3, TNT4, TNT5, dan seterusnya!
Sebenarnya buku TNT2 sudah tersedia di toko buku di Jakarta sejak 6 Jan 2010 (secara bertahap menyusul di kota-kota lain), namun acara resmi peluncurannya baru tgl 11 Jan 2010... karena dipasin sama ulang tahun saya :) Dua kali saya dikejutkan dengan tanggal 11 Januari. Pertama, karena band Gigi bikin lagu berjudul "11 Januari". Kedua, karena peluncuran buku "TNT2".
Anyway, jangan lupa ya datang di acara peluncuran TNT2:
Senin, 11 Januari 2010
Jam 16.00 - 18.00 WIB
Sudirman CityWalk, Jl. KH Mas Mansyur, Jakarta
Guest Star: Bondan Winarno
Acara ini gratis, siapa aja boleh datang. Kalo perlu, bawa serombongan. Kado buat saya... ya beli aja TNT2 ya? :)
Khusus acara di atas, buku TNT2 akan mendapat diskon 15% + bisa minta tanda tangan + foto bareng + sesi tanya jawabInfo buku
Judul: The Naked Traveler 2
Penerbit: B-First (Bentang Pustaka)
ISBN : 978-979-24-3870-3
Halaman : xvi + 350 hlmn
Harga: Rp 58.000,-Sinopsis:
Selama ini, tulisan perjalanan di media kebanyakan isinya tentang yang indah-indah saja. Seperti brosur yang menggunakan kalimat yang berbunga-bunga dan foto-foto hasil rekayasa digital agar pembaca tergerak untuk mengunjungi suatu tempat. Padahal traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling Trinity ingat pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah. Pengalaman (yang sering tidak terduga) saat melakukan perjalanan adalah jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah: it’s not the destination, but the journey.
Endorser:
Like climbing to the top of the hill to gaze down on the view I love to get a different picture, a different perspective, looking at the world through someone else’s eyes always adds another flavour to our travels. I fell in love with Indonesia on my first trip through South-East Asia way back in 1972 and now I can get a glimpse of the world through Trinity’s Indonesian eyes. I may have been to many of these places before, but The Naked Traveler takes me there by a whole new route.
-- Tony Wheeler, pendiri Lonely Planet, penerbitan buku perjalanan terbesar di duniaSeorang penulis – seperti juga seorang jurufoto – haruslah terlebih dulu seorang pengamat yang baik. Seorang yang memiliki kamera, bisa saja menjepret seribu foto ketika baru tiba di sebuah tempat yang baru dikunjunginya. Tetapi, mungkin hanya ada satu-dua foto saja yang benar-benar unik dan menarik. Seorang pengelana harus mampu menyeleksi semua pengalaman baru yang diserapnya, dan kemudian menuliskannya secara menarik. Trinity berhasil sekaligus menjadi pengamat dan penulis yang baik. Saya menikmati tulisan-tulisannya tentang kunjungan ke berbagai tempat.
#
-- Bondan Winarno, penulis, wartawan, dan pendiri komunitas wisata boga Jalansutra - 31/12/2009 - 0:37 Selamat Tahun Baru -
Selamat Tahun Baru, NTers!
Semoga di tahun 2010 kita diberikan rezeki yang cukup sehingga bisa jalan-jalan lagi. Amin.Tahun baru ini rencananya saya nggak heboh jalan-jalan ke tempat aneh kok, tapi ke Jambi. Ada apa di Jambi? Saya mau mengunjungi keluarga abang saya, ipar saya, dan tentunya 3 keponakan laki-laki yang lucu-lucu (Alessandro, Carlo dan Matteo). Yep, we're blogger family! :) Sejak blog TNT muncul tahun 2005, saya berhasil menularkan virus bikin blog. Abang saya punya blog, istrinya punya, adik saya punya, bahkan ibu saya yang berumur 60an tahun pun punya blog. Hebat ya? :)
# - 15/12/2009 - 2:18 Trip Bareng! -
Siapa sangka dari iseng nulis blog, jadi buku, dan akhirnya bisa bikin trip bareng para NTers - para pembaca setia blog dan buku saya. Trip bareng pertama kali ini diadakan tgl 5-6 Des 2009 ke Kep. Seribu. Padahal sudah sejak 2 tahun yg lalu saya diojok-ojok untuk bikin trip bareng, tapi kok ya males banget organize-nya. Untung aja ada Milis Tamasya Indonesia yang dengan senang hati arrange segalanya, jadi saya tinggal bawa badan dan jalan-jalan bareng dengan 35 orang NTers. Biayanya pun tidak mahal, Rp 390 ribu sudah all-in, termasuk menginap di Villa Delima - hotel terbaik di P. Pramuka.
Meskipun trip ini nggak 'ngegembel' banget, tapi saya sempat kawatir juga karena kami akan naik kapal regular ke P. Pramuka dari Muara Angke. Memasuki daerah ini saja bikin syok karena kotor dan bau, maklum pasar ikan. Kapalnya yang kecil pun diumplek-umplek sampai 150 orang yang duduk di segala tempat sampai ke atap. Benar saja, beberapa peserta sudah mengeluh soal bau dan kotor. Begitu kapal berjalan, salah satu peserta bahkan parno abis sampe sepanjang jalan memakai life jacket. Tapi begitu sampai di P. Pramuka, semua keparnoan terbayar. Mulailah para 'wartawan Facebook' sibuk potrat-potret. Kami sewa kapal untuk snorkeling ke pulau-pulau sekitarnya. Untung banget, musim hujan gini Kep. Seribu justru cerah ceria. Saya juga kagum, saat itu visibility air laut cukup baik dan melihat terumbu karang yang cukup sehat. Tak hanya 'melaut', kami juga melihat budi daya bandeng dan penangkaran penyu sisik.
Sebagian besar peserta ternyata baru pertama kali ke Kep. Seribu, meski mereka lahir dan besar di Jakarta. Banyak juga yang baru pertama kali snorkeling, bahkan ada beberapa yang tidak bisa berenang. Tapi saya salut dengan semangatnya. Mungkin karena mereka traveler yang cukup handal, bahkan sudah pernah traveling ke mana-mana. Yang saya heran, 85% dari jumlah peserta adalah cewek. Mungkin karena cewek doyan jalan rame-rame. Tapi peserta cowok asik-asik aja tuh, mereka malah hepi dikelilingi para wanita cantik yang bergaya ala FHM girls :)
Anyway, berbekal pengalaman ini, saya jadi pengen rutin menjalankan acara trip bareng lagi. Ditunggu aja ya?
# - 24/09/2009 - 1:45 Cuti ah... -
Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa! Sekalian mau bikin 'dosa' lagi nih... saya minta izin utk traveling (tepatnya di mana, tunggu aja postingan selanjutnya). Unfortunately, saya bakal tidak ada waktu utk menulis di blog selama 2 bulan (lama ya? hehe!). Saya sih akan berusaha utk ngecek email, milis, facebook, dan twitter di warnet. Hanya saja tdk bisa sering2 deh.
Yang jelas, cerita2nya pasti akan diposting kok :)
Terima kasih.In the mean time,baca "The Naked Traveler 2" dg cara ketik REG TNT dan SMS ke 3450 (hanya utk pengguna XL).
# - 24/03/2009 - 13:13 Hore bebas fiskal! -
Bagi yang sudah berusia 21 tahun ke atas dan sudah memiliki NPWP, ternyata mudah kok mendapatkan fasilitas bebas fiskal kalau mau ke luar negeri.
#
Terbukti minggu lalu di bandara Soekarno-Hatta: abis check in di konter penerbangan, pergi ke loket Bebas Fiskal di paling ujung kiri, serahkan boarding pass dan paspor, lalu petugas akan mencap sesuatu di boarding pass. Sebelum masuk boarding gate, capnya dicek oleh petugas di konter Fiskal, lalu tinggal ke bagian imigrasi deh.
Mengurus NPWP juga mudah, saya sih cuma apply online aja di http://www.pajak.go.id/ lalu ambil kartunya di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) sesuai dengan alamat KTP - 15 menit ngantri langsung kelar.
Daripada bayar fiskal Rp 2,5 juta lewat udara atau Rp 1 juta lewat laut, mending punya NPWP deh! - 04/03/2009 - 1:45 Lesson Learned -
Sejak buku TNT terbit, saya bercita-cita buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan harapan akan semakin banyak pembacanya (dengan semakin besar pula royaltinya :p). Dulu saya juga bercita-cita bisa menulis dalam bahasa Inggris sebaik saya menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan gaya tulisan saya yang ndeso begini mana bisa ungkapannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris? Contohnya, bagaimana menterjemahkan 'lempeng.com' atau 'capee deeh' yang bisa sama lucunya dalam bahasa Inggris?
Kesimpulan itu dikuatkan dengan kejadian yang baru saja terjadi belakangan ini. Seseorang yang tidak saya kenal di forum Thorn Tree mempertanyakan (lebih tepatnya menyindir) Laszlo yang meng-endorse buku TNT. Rupanya setelah saya menulis komen dengan mencantumkan alamat blog TNT, orang itu memborbardir komen tentang cabe. Padahal tulisan saya cuman tentang pedasnya cabe Indonesia, eh dia merambat ke hal-hal yang lain yang tidak ada hubungannya. Saya hanya mengatakan bahwa jalapeno bagi saya tidak pedas, tapi dia teruusss berkomentar bahwa cabe Indonesia begini lah begitu lah. Ditambah lagi bahasanya yang tidak sopan membuat saya harus mengedit komennya, bahkan menghapusnya. Saya yang (berusaha) tidak terpancing, ternyata membuat dia tambah 'napsu' dengan menghina para pembaca/orang Indonesia. Saya jadi berpikir, kenapa dia begitu panas?
Ketika saya balik ke forum, saya pun menjadi panas. Ternyata setelah 'membantai' Laszlo, dia 'membantai' saya. Katanya saya kampungan, katanya cerita Pramugari membuat dia muak, dan katanya tulisan saya yang bilang bahwa orang Indonesia menganggap kulit putih itu lebih menarik adalah politically incorrect. Hah?! Meski saya sudah dibela Laszlo yang mengatakan bahwa tulisan saya adalah for Indonesian readership according to their values, tapi tetap dia merepet ga karuan.
Meskipun orang (bule) itu mengaku sudah pernah tinggal di Indonesia, kelihatannya dia belum mengerti bahasa Indonesia-nya tulisan saya, belum mengerti benar budaya dan nilai-nilai yang dianut orang Indonesia, serta masih belum mempunyai selera humor yang sama dengan kita. Lesson learned: tulisan saya yang sangat apa adanya dan terbuka bisa jadi dianggap melanggar SARA, HAM, dsb, bagi orang luar yang mempunyai budaya dan nilai-nilai berbeda.
Jadi, saya akan terus menulis TNT dalam bahasa Indonesia saja dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, karena hanya orang Indonesia yang mengerti (lucunya).
#
Hidup Indonesia!





