The Naked Traveler

Thoughts

  • 20/01/2010 - 17:12 FAQ: TNT2 -

    Apa perbedaan TNT1 dan TNT2?
    - TNT2 lebih tebal dibanding TNT1. Yang sekarang >350 halaman gitu loh, jadi lebih puass!
    - TNT1 isinya masih basic, TNT2 sudah advance. Maksudnya, TNT1 merupakan pengenalan terhadap dunia jalan-jalan. Sedangkan TNT2 ceritanya lebih mendalam, fokus, merupakan pure travel writing yang menghibur dan tetap lucu. Tapi intinya sama: it's not the destinations but the journey.

    Kenapa harga TNT2 lebih mahal?
    Jelas karena jumlah halamannya lebih tebal. Harga kertas dan percetakan aja naik terus. Jadi wajar toh?

    Mengapa kertas TNT2 tidak putih seperti TNT1?
    Karena TNT2 halamannya lebih tebal maka menggunakan kertas yang lebih ringan sehingga bukunya tidak berat. Kalau TNT2 menggunakan kertas seperti TNT1 maka harganya akan jauh lebih mahal lagi.

    Kenapa TNT2 baru diterbitkan sekarang? Jaraknya lama banget dengan TNT1!
    Karena saya sempat sekolah di Filipina. Saking sibukanya sehingga tidak menulis selama setahun.

    Sepertinya ada cerita dari TNT1 yang diulang di TNT2. Benarkah?
    Ada 3 cerita dari TNT1 yang ada juga di TNT2 karena versi awal cetakan TNT1 tidak ada ke-3 cerita tsb. Ingat, TNT1 sempat dibredel dan dihilangkan 3 cerita, makanya masuk di versi kedua TNT1. Lagipula, cerita itu merupakan sambungan ke cerita lainnya di TNT2.

    Kenapa cover TNT2 warnanya hijau dan desainnya mirip dengan TNT1?
    Sengaja dibuat begitu supaya ada kesinambungan dengan semua buku TNT. Biar orang bisa re-call dengan cepat bahwa pernah membaca buku dengan cover seperti itu sebelumnya. FYI, pemilihan warna hijau ngejreng gitu atas ide dari sahabat saya, Wuli. Warna biru TNT1 dan hijau TNT2 dengan desain minimalis membuat efek eye-catching kalau ditaro di rak toko buku bersama jutaan buku lainnya. Bener kan?

    Di balik cover TNT2 ada gambar barang-barang gitu. Maksudnya apa sih?
    Itu asli barang-barang pribadi saya yang selalu saya bawa setiap traveling. Cover dibuat begitu supaya kuat karena bukunya sendiri tebal. Lagian, biar lain daripada yang lain dong!

    Tony Wheeler pendiri Lonely Planet kok bisa endorse TNT2? Kan dia nggak bisa bahasa Indonesia? Prosesnya gimana?
    Buku Wheeler yang berjudul "The Lonely Planet Story" diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit saya, dan saya lah yang meng-endorse bukunya. Maka saya meminta dia, "I endorsed your book, please you endorse mine too". Hehe! Lalu sejumlah cerita di TNT2 saya terjemahkan ke bahasa Inggris deh.

    Kok di toko buku dekat rumah saya belum ada?
    TNT2 baru launching 11 Jan 2010 di Jakarta. Setelah itu baru buku didistribusikan ke daerah lain, dimulai dari kota dan pulau yang terdekat di Jakarta. Kalau belum ada juga, berarti masih on the way gitu. Kalau Anda tinggal di Sulawesi dan Kalimantan, buku baru ada di minggu ke-4 Januari. Kalau sudah habis di toko buku langganan Anda, berarti TNT2 laku keras jadi tunggu aja stok barunya datang. Tapi bagi Anda malas menunggu atau malas ke toko buku, bisa pesan di sini - dapat tanda tangan saya lho!

    Apakah TNT2 versi digital yang diunduh via ponsel XL masih berlaku?
    Masih. Malah di versi digital ada tambahan 3 cerita yang sempat dibredel di TNT1. Yang belum langganan, caranya SMS dengan ketik REG (spasi) TNT kirim ke 3450.

    Apakah semua cerita di TNT itu kisah nyata?
    Ya, iyalah yaa.. Who else?

    Apakah akan ada TNT3, TNT4, TNT5, dst? Kapan terbitnya?
    Tentu! Jadi ditunggu saja ya? TNT3 rencana terbit sih tahun 2011. Tapi mudah-mudahan pertengahan tahun 2010 ini ada buku lain yang akan saya terbitkan. Doakan ya?

    Comment(s)
  • 09/01/2010 - 2:31 TNT2 & 11 Jan -

    Wuah, akhirnya buku 'The Naked Traveler 2' terbit juga dalam versi cetak (sesuai permintaan NTers :p). Ga nyangka banget dari iseng bikin blog, jadi 1 buku best seller, dan sekarang ada buku sekuelnya. Terima kasih, Tuhan. Semoga buku TNT2 lebih sukses lagi dan semoga akan ada TNT3, TNT4, TNT5, dan seterusnya!

    Sebenarnya buku TNT2 sudah tersedia di toko buku di Jakarta sejak 6 Jan 2010 (secara bertahap menyusul di kota-kota lain), namun acara resmi peluncurannya baru tgl 11 Jan 2010... karena dipasin sama ulang tahun saya :) Dua kali saya dikejutkan dengan tanggal 11 Januari. Pertama, karena band Gigi bikin lagu berjudul "11 Januari". Kedua, karena peluncuran buku "TNT2".

    Anyway, jangan lupa ya datang di acara peluncuran TNT2:
    Senin, 11 Januari 2010
    Jam 16.00 - 18.00 WIB
    Sudirman CityWalk, Jl. KH Mas Mansyur, Jakarta
    Guest Star: Bondan Winarno
    Acara ini gratis, siapa aja boleh datang. Kalo perlu, bawa serombongan. Kado buat saya... ya beli aja TNT2 ya? :)
    Khusus acara di atas, buku TNT2 akan mendapat diskon 15% + bisa minta tanda tangan + foto bareng + sesi tanya jawab

    Info buku

    Judul: The Naked Traveler 2
    Penerbit: B-First (Bentang Pustaka)
    ISBN : 978-979-24-3870-3
    Halaman : xvi + 350 hlmn
    Harga: Rp 58.000,-

    Sinopsis:

    Selama ini, tulisan perjalanan di media kebanyakan isinya tentang yang indah-indah saja. Seperti brosur yang menggunakan kalimat yang berbunga-bunga dan foto-foto hasil rekayasa digital agar pembaca tergerak untuk mengunjungi suatu tempat. Padahal traveling tidak selalu enak dan nyaman. Suatu tempat tidak selalu indah dan bagus. Kenangan perjalanan yang paling Trinity ingat pun bukanlah tentang keindahan arsitektur suatu bangunan atau putihnya pasir pantai, tapi pesawat yang delay atau orang lokal yang tidak ramah. Pengalaman (yang sering tidak terduga) saat melakukan perjalanan adalah jauh lebih berwarna. Seperti kata pepatah: it’s not the destination, but the journey.

    Endorser:

    Like climbing to the top of the hill to gaze down on the view I love to get a different picture, a different perspective, looking at the world through someone else’s eyes always adds another flavour to our travels. I fell in love with Indonesia on my first trip through South-East Asia way back in 1972 and now I can get a glimpse of the world through Trinity’s Indonesian eyes. I may have been to many of these places before, but The Naked Traveler takes me there by a whole new route.
    -- Tony Wheeler, pendiri Lonely Planet, penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia

    Seorang penulis – seperti juga seorang jurufoto – haruslah terlebih dulu seorang pengamat yang baik. Seorang yang memiliki kamera, bisa saja menjepret seribu foto ketika baru tiba di sebuah tempat yang baru dikunjunginya. Tetapi, mungkin hanya ada satu-dua foto saja yang benar-benar unik dan menarik. Seorang pengelana harus mampu menyeleksi semua pengalaman baru yang diserapnya, dan kemudian menuliskannya secara menarik. Trinity berhasil sekaligus menjadi pengamat dan penulis yang baik. Saya menikmati tulisan-tulisannya tentang kunjungan ke berbagai tempat.
    -- Bondan Winarno, penulis, wartawan, dan pendiri komunitas wisata boga Jalansutra

    Comment(s)
  • 31/12/2009 - 0:37 Selamat Tahun Baru -

    Selamat Tahun Baru, NTers!
    Semoga di tahun 2010 kita diberikan rezeki yang cukup sehingga bisa jalan-jalan lagi. Amin.

    Tahun baru ini rencananya saya nggak heboh jalan-jalan ke tempat aneh kok, tapi ke Jambi. Ada apa di Jambi? Saya mau mengunjungi keluarga abang saya, ipar saya, dan tentunya 3 keponakan laki-laki yang lucu-lucu (Alessandro, Carlo dan Matteo). Yep, we're blogger family! :) Sejak blog TNT muncul tahun 2005, saya berhasil menularkan virus bikin blog. Abang saya punya blog, istrinya punya, adik saya punya, bahkan ibu saya yang berumur 60an tahun pun punya blog. Hebat ya? :)

    Comment(s)
  • 15/12/2009 - 2:18 Trip Bareng! -

    Siapa sangka dari iseng nulis blog, jadi buku, dan akhirnya bisa bikin trip bareng para NTers - para pembaca setia blog dan buku saya. Trip bareng pertama kali ini diadakan tgl 5-6 Des 2009 ke Kep. Seribu. Padahal sudah sejak 2 tahun yg lalu saya diojok-ojok untuk bikin trip bareng, tapi kok ya males banget organize-nya. Untung aja ada Milis Tamasya Indonesia yang dengan senang hati arrange segalanya, jadi saya tinggal bawa badan dan jalan-jalan bareng dengan 35 orang NTers. Biayanya pun tidak mahal, Rp 390 ribu sudah all-in, termasuk menginap di Villa Delima - hotel terbaik di P. Pramuka.

    Meskipun trip ini nggak 'ngegembel' banget, tapi saya sempat kawatir juga karena kami akan naik kapal regular ke P. Pramuka dari Muara Angke. Memasuki daerah ini saja bikin syok karena kotor dan bau, maklum pasar ikan. Kapalnya yang kecil pun diumplek-umplek sampai 150 orang yang duduk di segala tempat sampai ke atap. Benar saja, beberapa peserta sudah mengeluh soal bau dan kotor. Begitu kapal berjalan, salah satu peserta bahkan parno abis sampe sepanjang jalan memakai life jacket. Tapi begitu sampai di P. Pramuka, semua keparnoan terbayar. Mulailah para 'wartawan Facebook' sibuk potrat-potret. Kami sewa kapal untuk snorkeling ke pulau-pulau sekitarnya. Untung banget, musim hujan gini Kep. Seribu justru cerah ceria. Saya juga kagum, saat itu visibility air laut cukup baik dan melihat terumbu karang yang cukup sehat. Tak hanya 'melaut', kami juga melihat budi daya bandeng dan penangkaran penyu sisik.

    Sebagian besar peserta ternyata baru pertama kali ke Kep. Seribu, meski mereka lahir dan besar di Jakarta. Banyak juga yang baru pertama kali snorkeling, bahkan ada beberapa yang tidak bisa berenang. Tapi saya salut dengan semangatnya. Mungkin karena mereka traveler yang cukup handal, bahkan sudah pernah traveling ke mana-mana. Yang saya heran, 85% dari jumlah peserta adalah cewek. Mungkin karena cewek doyan jalan rame-rame. Tapi peserta cowok asik-asik aja tuh, mereka malah hepi dikelilingi para wanita cantik yang bergaya ala FHM girls :)

    Anyway, berbekal pengalaman ini, saya jadi pengen rutin menjalankan acara trip bareng lagi. Ditunggu aja ya?

    Comment(s)
  • 24/09/2009 - 1:45 Cuti ah... -

    Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa! Sekalian mau bikin 'dosa' lagi nih... saya minta izin utk traveling (tepatnya di mana, tunggu aja postingan selanjutnya). Unfortunately, saya bakal tidak ada waktu utk menulis di blog selama 2 bulan (lama ya? hehe!). Saya sih akan berusaha utk ngecek email, milis, facebook, dan twitter di warnet. Hanya saja tdk bisa sering2 deh.
    Yang jelas, cerita2nya pasti akan diposting kok :)
    Terima kasih.

    In the mean time,baca "The Naked Traveler 2" dg cara ketik REG TNT dan SMS ke 3450 (hanya utk pengguna XL).

    Comment(s)
  • 24/03/2009 - 13:13 Hore bebas fiskal! -

    Bagi yang sudah berusia 21 tahun ke atas dan sudah memiliki NPWP, ternyata mudah kok mendapatkan fasilitas bebas fiskal kalau mau ke luar negeri.
    Terbukti minggu lalu di bandara Soekarno-Hatta: abis check in di konter penerbangan, pergi ke loket Bebas Fiskal di paling ujung kiri, serahkan boarding pass dan paspor, lalu petugas akan mencap sesuatu di boarding pass. Sebelum masuk boarding gate, capnya dicek oleh petugas di konter Fiskal, lalu tinggal ke bagian imigrasi deh.
    Mengurus NPWP juga mudah, saya sih cuma apply online aja di http://www.pajak.go.id/ lalu ambil kartunya di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) sesuai dengan alamat KTP - 15 menit ngantri langsung kelar.
    Daripada bayar fiskal Rp 2,5 juta lewat udara atau Rp 1 juta lewat laut, mending punya NPWP deh!

    Comment(s)
  • 04/03/2009 - 1:45 Lesson Learned -

    Sejak buku TNT terbit, saya bercita-cita buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan harapan akan semakin banyak pembacanya (dengan semakin besar pula royaltinya :p). Dulu saya juga bercita-cita bisa menulis dalam bahasa Inggris sebaik saya menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan gaya tulisan saya yang ndeso begini mana bisa ungkapannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris? Contohnya, bagaimana menterjemahkan 'lempeng.com' atau 'capee deeh' yang bisa sama lucunya dalam bahasa Inggris?

    Kesimpulan itu dikuatkan dengan kejadian yang baru saja terjadi belakangan ini. Seseorang yang tidak saya kenal di forum Thorn Tree mempertanyakan (lebih tepatnya menyindir) Laszlo yang meng-endorse buku TNT. Rupanya setelah saya menulis komen dengan mencantumkan alamat blog TNT, orang itu memborbardir komen tentang cabe. Padahal tulisan saya cuman tentang pedasnya cabe Indonesia, eh dia merambat ke hal-hal yang lain yang tidak ada hubungannya. Saya hanya mengatakan bahwa jalapeno bagi saya tidak pedas, tapi dia teruusss berkomentar bahwa cabe Indonesia begini lah begitu lah. Ditambah lagi bahasanya yang tidak sopan membuat saya harus mengedit komennya, bahkan menghapusnya. Saya yang (berusaha) tidak terpancing, ternyata membuat dia tambah 'napsu' dengan menghina para pembaca/orang Indonesia. Saya jadi berpikir, kenapa dia begitu panas?

    Ketika saya balik ke forum, saya pun menjadi panas. Ternyata setelah 'membantai' Laszlo, dia 'membantai' saya. Katanya saya kampungan, katanya cerita Pramugari membuat dia muak, dan katanya tulisan saya yang bilang bahwa orang Indonesia menganggap kulit putih itu lebih menarik adalah politically incorrect. Hah?! Meski saya sudah dibela Laszlo yang mengatakan bahwa tulisan saya adalah for Indonesian readership according to their values, tapi tetap dia merepet ga karuan.

    Meskipun orang (bule) itu mengaku sudah pernah tinggal di Indonesia, kelihatannya dia belum mengerti bahasa Indonesia-nya tulisan saya, belum mengerti benar budaya dan nilai-nilai yang dianut orang Indonesia, serta masih belum mempunyai selera humor yang sama dengan kita. Lesson learned: tulisan saya yang sangat apa adanya dan terbuka bisa jadi dianggap melanggar SARA, HAM, dsb, bagi orang luar yang mempunyai budaya dan nilai-nilai berbeda.

    Jadi, saya akan terus menulis TNT dalam bahasa Indonesia saja dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, karena hanya orang Indonesia yang mengerti (lucunya).
    Hidup Indonesia!

    Comment(s)
  • 20/02/2009 - 10:56 Salah satu sumber dana jalan-jalan -

    Coba deh inget-inget apakah perusahaan tempat kamu bekerja memotong gajimu untuk Jamsostek atau Dana Pensiun. Nah, kalau sudah keluar dari pekerjaan, bisa tuh dana dicairkan. Lumayan untuk ditabung di bank (daripada didiemin di Jamsostek dengan bunga kecil), untuk belanja, atau... untuk modal jalan-jalan!

    Untuk klaim JHT Jamsostek syaratnya gampang: kepesertaan minimal 5 tahun dan sudah keluar dari kantor minimal 1 bulan, bawa kartu asli Jamsostek, bawa fotokopi dan aslinya KTP/Kartu Keluarga/Surat Referensi Kerja/Rekening Bank, bawa materai Rp 1.000. Tinggal ke kantor Jamsostek sesuai terdaftarnya kartu (tanyain alamatnya ke HRD kantormu, karena saya aja salah kantor -  dan sialnya, kantor Jamsostek hari gini belum online antar cabang), isi formulir yang tersedia di sana, antri (bisa sampe 2 jam sih), serahkan dokumen, dan dalam waktu 10 hari kerja ditransfer deh duitnya ke rekening bank sendiri. Yipppeee! Informasi selanjutnya, klik aja http://www.jamsostek.co.id/

    Hmmm... mau ke mana ya?

    Comment(s)
  • 25/12/2008 - 13:52 Selamat Natal & Tahun Baru! -

    Tidak ada yang bisa menahan keinginan saya untuk jalan-jalan. Meski terkena disentri amuba, meski dengan duit pas-pasan, meski ini-itu, akhirnya sebentar lagi saya akan berangkat ke Komodo.
    Mengapa Komodo? Sebagai orang Indonesia, saya merasa malu bila belum pernah melihat langsung hewan menyeramkan yang termasuk spesies kadal terbesar di dunia dan hanya terdapat di Indonesia ini. Keinginan yang sudah lama tertunda ini akhirnya dalam waktu dekat akan terlaksana juga. Akhirnya saya bisa bilang, "Thanks to global financial crisis!" karena memaksa saya untuk putar haluan. Biarlah Rupiah melemah, tapi uang saya masuk ke kantong bangsa sendiri. Terima kasih juga bagi NT-ers yang sudah membeli barang merchandise saya, terima kasih bagi TV dan perusahaan yang telah mengundang saya, sehingga saya bisa mewujudkan impian ini.
    Mohon pamit untuk 'cuti' menulis selama 3 minggu ya?
    Akhir kata, saya mengucapkan Selamat hari Natal dan Tahun Baru! Semoga tahun 2009 membawa kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian bagi kita semua. Amin..

    Comment(s)
  • 02/12/2008 - 11:03 Rencana jalan2 ke mana lagi? -

    Bingung saya setiap ditanya begitu. Masalahnya, tidak kerja = tidak bisa nabung = tidak bisa jalan2. Sampe2 hampir setiap malam saya mimpi traveling mulu! Memang benar, kalo mau jalan2 harus punya minimal 3 hal: waktu, uang, kesehatan. Padahal lagi jobless gini (kata teman saya, harusnya pake kata in between jobs), saya punya buanyak waktu... tapi ga punya duit. Dulu lagi kerja, ada duit... eh ga ada waktu. Hiks. Mana dolar lagi menggila. Ke Indonesia timur juga mahal, charge-nya pake dolar pula, malah ada yg pake Euro. Sialan. Kapan ya bisa ke Amerika Latin? *ngimpi*. Ya sud lah, saya mau nulis dulu... semoga buku ke-2 cepet kelar. Doain ya?

    Comment(s)