Archive for the ‘Travel’ Category
Jakarta is beautiful!
Alda & Thi Met di busway
Menarik juga memperhatikan teman-teman saya dari luar negeri ketika berkunjung ke Jakarta, kota yang saya tinggali selama lebih dari setengah hidup saya. Saya pernah jadi tuan rumah bagi teman-teman saya asal Australia dan Eropa. Sebagian besar mereka tinggal beberapa bulan di Jakarta karena sedang magang di sebuah perusahaan. Karena mereka kerja dengan waktu terbatas, ya saya hanya mengajak berwisata Jakarta sesekali. Lebih sering jadi teman biasa yang nongkrong bareng bersama sahabat-sahabat saya. Kalau bosan di Jakarta, saya mengajak mereka ke Kepulauan Seribu, Anyer, atau ikut pulang kampung ke Sukabumi.
Teman-teman saya yang berasal dari negara maju yang mengunjungi Jakarta dalam beberapa hari menganggap bahwa Jakarta is just another big city. Tujuan ke Jakarta bukan berwisata, tapi hanya karena transit nunggu pesawat sekalian ketemu saya. Katanya Jakarta tidak punya identitas. Beda dengan Bali yang ketika berada di sana, mereka akan berasa ada di Bali karena arsitekturnya berciri khas. Komentar mereka tentang Jakarta: macet, tidak adanya trotoar yang bener, dan sarana transportasi umum yang membingungkan. Kalau tidak karena pengen ketemu saya, mereka ogah berkunjung ke Jakarta sendiri.
[ADV] Cara mudah belanja liburan
Traveling lagi hits banget! Sejak ada budget airlines, orang jadi lebih mudah bepergian. Jaringan hotel internasional pun mulai buka hotel versi budget. Blog dan komunitas khusus jalan-jalan tumbuh subur. (Saya boleh berbangga) sejak ada buku The Naked Traveler, terbitlah buku-buku perjalanan lainnya. Meskipun demikian, masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana merencanakan liburan, mulai dari booking pesawat, sampai mencari penginapan dan tur. Setiap hari saya menerima banyak e-mail yang bertanya “di sana nginepnya di mana ya?” atau “ngapain aja ya enaknya?”. Bagi sebagian orang, ada yang malas repot cari-cari hotel dan tur – maunya semua sudah terencana dengan baik.
26 Mei 2010 lalu, AirAsiaGo.com resmi diluncurkan. Ia adalah one-stop online travel portal, artinya situs online untuk pemesanan pesawat, hotel, tur, aktivitas, sampai antar-jemput dari-ke bandara. Sebenarnya 5 tahun yang lalu sudah ada dengan nama GoHoliday, tapi sekarang telah diperbaharui sehingga lebih lengkap dan user-friendly. Jumlah hotelnya aja lebih dari 70.000 dan bukan hanya di kota-kota yang dilayani Air Asia saja. Ditambah lagi 5.000 tur dan aktivitas yang bisa dipilih bersamaan dengan booking. Bila travel agent menawarkan paket-paket liburan yang sudah ditentukan oleh mereka, sekarang kita bisa bikin paket sendiri. Yah preferensi orang terhadap liburan kan beda-beda, apalagi budget-nya. Peluang itulah yang dimanfaatkan grup Air Asia. Setelah AirAsia.com dan TuneHotels.com sukses merubah cara orang berlibur, maka AirAsiaGo.com akan merubah pengalaman liburan. Tony Fernandes, CEO Air Asia, memang brilian!
Ikan juga spa!
Pintu Masuk Barracuda Lake
Saya suka ngetawain seorang teman bule yang penyelam. Karena di negaranya tidak ada pantai, ia menyelam di danau memakai dry suit (baju menyelam khusus di air dingin). Apa yang dilihat? Katanya, “Sedikit ikan dan rumput.” Makanya ia doyan banget menyelam di negara tropis karena terumbu karang dan ikannya bervariatif dan banyak. Saya sendiri tidak pernah kepikiran untuk menyelam di danau. Ngapain capek-capek pake peralatan scuba diving tapi nggak lihat apa-apa di dalam air?
Sampai ketika saya ke Coron, Filipina, salah satu destinasi wajib penyelaman adalah Barracuda Lake. Danau barakuda? Saya pikir danau yang ada ikan barakuda, tapi konon si ikan yang ternyata cuma seekor nyasar di danau itu dan jarang banget ditemukan. Si DM (Dive Master) meyakinkan saya untuk ke sana karena danau itu ajaib. “Kamu akan merasakan thermocline,” katanya. Dari namanya kok kedengeran kayak nama penyakit atau obat batuk. Ya sutralah. Surprise me!
Pantai Ideal
Maldives (postcard by M.Friedel)
Mari kita telaah definisi “pantai”. Dalam bahasa Indonesia, pantai adalah “perbatasan darat dengan laut”. Dalam bahasa Inggris, beach atau pantai adalah “area berpasir yang berbatasan dengan air, bisa laut atau danau”. Selama ini saya pun selalu berpikir bahwa semua pantai pasti ada laut, seperti ajaran guru sekolah. Pikiran itu berubah ketika tahun 2000 saya mengunjungi pantai di Lake McKenzie, Fraser Island, Australia, yang keren abis. Inilah dia pantai berpasir putih di pinggir danau berair tawar tanpa ombak! Sejak itu saya “mengutuki” pembuat kamus bahasa Indonesia. Pasti dia belum pernah jalan-jalan. Hehe.
Bagi orang yang tidak suka pantai, ia tidak bisa membedakan mana pantai yang bagus mana yang tidak. Katanya pantai di mana-mana sama saja. Ada laut dan pasir. Yang bagus ya yang bersih. Yah bener juga sih. Setiap saya cerita atau memajang foto pantai, mesti ada yang tanya, “Bagusan mana sama pantai X? Pantai Y? Z?”. Lucunya, setiap pulang dari liburan dan warna kulit saya jadi tanned (penghalusan dari kata “hitam” atau “gosong”), pasti ditanya orang, “Abis dari Bali, mbak?”. Sepertinya kalo kulit jadi item pasti dicap dari Bali seakan-akan di dunia ini tidak ada tempat lain yang bikin item.
Paspor dulu dan sekarang
Terus terang baru kali ini saya ngurus paspor sendiri. Dulu paspor pertama saya pas SMA diurusin emak. Nggak usah tanya tahun berapa, ntar ketauan umur saya. Hehe! Yang jelas saya inget banget untuk cap jari, kesepuluh jari harus blepetan tinta untuk dicap-cap di selembar karton. Begitu jadi, foto paspornya masih hitam putih yang ditempel pake lem di paspor. Data identitasnya masih ditulis pake tinta rotring dengan huruf miring. Pada bagian jenis kelamin, ada bekas penghapus karena tadinya ditulis “male” karena foto saya tomboy abis jadi disangka laki. Lucunya, pada halaman selanjutnya ada tulisan “Paspor ini berlaku untuk seluruh negara kecuali Israel”.
Selanjutnya saya selalu mengurus paspor via travel agent karena dulu saya sama sekali nggak ngerti gimana cara ngurus paspor sendiri. Lagipula sebagai mbak-mbak kantoran, kabur sebentar ke Imigrasi aja susah bener. Taunya tinggal bayar sekitar Rp 750 ribu, paspor jadi 3 hari bahkan pernah jadi sehari. Saya cuma datang untuk foto. Itupun pake dianter sama si tukang urusnya nyelinep-nyelinep ke dalam ruang kantor Imigrasi. Saya masih lihat duit-duit sogokan bertebaran di setiap meja pengurusan. Kemajuannya, awalnya foto paspor berwarna tapi masih ditempel dan masih pake tulisan tangan, lama-lama tulisan dan foto sudah digital.
You are currently browsing the archives for the Travel category.





