Anthology Posts

Anthology ini adalah kumpulan tulisan perjalanan dari para pembaca buku dan blog “The Naked Traveler” sejak 2009. Sebagian dari tulisan di sini sudah diterbitkan menjadi buku “The Naked Traveler Anthology” pada Agustrus 2014 oleh Bentang Pustaka.

Anthology Posts

Tersesat dalam makanan Korea

by Milka Yeanne*

Desa Seongsan dilihat dari puncak Seongsan Ilchulbong, Jeju

Gara-gara AirAsia buka penerbangan baru di bulan Agustus lalu dengan destinasi ke Seoul, jiwa traveling saya bergetar hebat saat itu juga dan sukseslah saya membooking tiket KL-Incheon pp seharga Rp 750,000 untuk keberangkatan awal Desember 2010. Seperti mimpi saja rasanya bisa mengunjungi Korea Selatan karena bisa dibilang pengetahuan saya tentang Korea selama ini nol besar, alias tidak tahu apa-apa sama sekali. Saya pun bukan penggemar drama serial Korea, sehingga tidak familiar dengan bahasanya, budayanya, makanannya, dll. Maka setiap malam saya habiskan waktu luang untuk survey dan browsing di internet selama 3 bulan sehingga sebelum berangkat saya merasa telah mengenal negara ini 90%.

Setelah saya tiba disana, terkagum-kagum jadinya karena ternyata hampir semua tanda dan petunjuk jalan di Korea disertai dengan bahasa Inggris yang jelas, bahkan di dalam bis umum pun tersedia pengumuman dalam bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin untuk setiap halte yang akan dilewati sehingga kita tidak perlu takut kebablasan. Intinya, saya sama sekali tidak mengalami kesulitan saat bepergian kemanapun saat disana, padahal saya hanya menggunakan subway dan bis umum serta berjalan kaki tentunya. Tak pernah saya mengalami yang namanya disorientasi ataupun tersesat, bertanya arah ke orang lokal pun tidak karena banyak orang Korea yang tidak bisa berbahasa Inggris.

continue reading

Anthology Posts

Jadi guru TK di sekolah Thailand

by SN*

sesi curhat

Awal tahun 2010 saya berangkat ke Thailand dengan tujuan mengambil sertifikasi mengajar di Pattaya. Dengan bantuan sekolah perantara, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk magang di salah satu sekolah swasta di daerah Sriracha yang merupakan kawasan industri antara Bangkok dan Pattaya.

Tiba di sekolah, saya terkagum-kagum melihat gedung sekolah yang ternyata cukup besar. Total murid di sekolah tersebut hampir mencapai 2000 orang dengan staf guru hampir 80 orang. Dimulailah sesi wawancara dengan sang manajer yang merangkap sebagai penerjemah, sang kepala sekolah yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan sang wakil kepala sekolah yang katanya sih bisa berbahasa Inggris tetapi hanya senyum-senyum saja. Wawancara itu lebih didominasi oleh perbincangan mereka dalam bahasa lokal, sehingga saya harus pasang tampang cuek berada di tengah-tengah mereka.

continue reading

Anthology Posts

Is London the Most Expensive City in the World?

by Fadhly Syofian*

Big Ben London

Is London the most expensive city in the world?, demikian keraguan saya. Berita yang saya dengar juga info dari beberapa teman menyatakan demikian. Info ini tentu membuat saya “berhati-hati” karena dompet saya tidaklah cukup tebal untuk dikonversi ke pounds saat berkunjung ke kota London. Berdasarkan survey yang dilakukan CityMayors, lembaga independen yang fokus pada urban affairs, tahun 2008 London berada di peringkat 1 sebagai the most expensive city in the world. Namun berdasarkan survey tahun 2009 yang juga dilakukan oleh CityMayors, peringkat 1-nya adalah Oslo sedangkan London melorot ke peringkat 21. Menurut CityMayors, hal ini terkait dengan devaluasi mata uang poundsterling. Lalu apakah benar London sudah tidak mahal lagi? Saya pun membuktikannya.

Awalnya saya ingin memesan Hotel Ibis di dekat Bandara Heathrow yang tarifnya sekitar 40 pounds/night (Rp 600.000). Tapi atas saran atasan yang memang orang British, dengan memperhitungkan ongkos transportasi dari Heathrow ke London, menginap di hotel sekitar Heathrow bukan pilihan yang tepat karena jatuhnya nanti bisa lebih mahal. Maka dipilihlah Hotel Ibis di Earls Court, Central London. Tarifnya 85 pounds/night alias Rp 1.275.000/malam. Pfff, teramat mahal untuk kelas hotel bintang tiga. Di Indonesia, dengan tarif segitu pasti sudah dapat tidur di hotel bintang lima. Harga segitu belum termasuk breakfast sebesar 8 pounds (Rp 120.000). Saat breakfast, daging yang disajikan adalah daging babi. Jadilah saya cuma sarapan dengan roti dan sup plus perasaan nyesek.

continue reading

Anthology Posts

Banyak bertanya tetap sesat di jalan

by Aan Wulandari Usman*

Nagatami Dam

Sebuah gambar cantik menarik perhatian saya dan suami. Gambar itu ada di peta wisata yang diambil di kantor kecamatan Fukuoka, Kyushu, Jepang. Jembatan merah melintang di atas sebuah danau dikelilingi rerimbunan pepohonan nan hijau. Nagatami Dam, itulah namanya. Selain tempatnya oke, jaraknya di peta kelihatan dekat banget. Terjangkau pula dengan naik sepeda sehingga tak perlu modal untuk ke sana selain otot kaki. Ya, saat itu baru menginjakan bulan kedua kami di Jepang. Acara wisata kami pun masih terbatas yang dekat-dekat.

Akhirnya saat akhir pekan, bersiaplah kami ke sana. Tapi, ternyata oh ternyata, menuju ke sana dengan naik sepeda tak semudah menjalankan jari di peta. Baru beberapa menit jalan, sudah lost! Nggak tahu dimana posisi kami. Akhirnya asal blusak blusuk sesuai feeling aja. Dan hasilnya adalah semakin bingung!

continue reading

Anthology Posts

Parnonya newbie backpacker

by Ariessita*

Belitong

Saya tuh pada dasarnya hobi jalan-jalan, tapi parno alias takuut banget untuk jalan sendiri karena takut diculik. Gara-garanya saya pernah nonton film tentang orang yang diculik, terus diambil ginjalnya, lalu korbannya terbangun di bathtub penuh dengan sayatan di pinggang kiri. Hiih! Tapi karena ‘kemakan’ sama buku Laskar Pelangi, saya menetapkan Belitong sebagai tujuan pertama sebagai backpacker newbie. Saya berhasil meracuni 2 orang teman, tapi mereka berangkat dari Palembang – artinya saya pergi sendiri dari Jakarta. Haduh.

Karena keparnoan saya lagi, saya ogah naik maskapai abal-abal karena tidak mau berakhir di rumah sakit, atau yang lebih parah, ke akhirat. Maka saya bela-belain naek Garuda berangkat dari Jakarta ke Bangka lalu naik kapal laut selama 4 jam ke Belitong. Sialnya, Garuda berangkatnya jam 6 pagi supaya bisa mengejar kapal yang brangkat jam 2 siang. Duh, berada di bandara jam 4 pagi sungguh tidak berperikemanusiaan karena saya harus bangun lebih pagi dari ayam.

continue reading