Anthology
Silakan kirim tulisan yang berhubungan dengan jalan-jalan (travel related story) ke naked.traveler@gmail.com dengan menulis Subject di e-mail: [Anthology][Judul Tulisan].
Trinity akan menjadi editor-nya. Bila memenuhi syarat, akan ditampilkan ke dalam blog ini. Siapa tahu bisa diterbitkan jadi buku!
Syaratnya:
- Dalam bahasa Indonesia yang baik, dengan ejaan dan tanda baca yang benar.
- 800-1000 kata per tulisan. Dengan 1 buah foto yang ‘nyambung’ dengan tulisan.
- Diketik dalam format Microsoft Word, tipe huruf Times, 12 pt, 1 spasi.
- Belum pernah dimuat di media massa, bukan plagiat/terjemahan.
- Cerita harus unik, tidak bohong, tidak membosankan, bebas memilih angle apapun. Bukan tentang laporan perjalanan dari titik A ke titik B ke titik C.
- Setiap orang boleh mengirim lebih dari 1 tulisan.
- Sertakan juga biografi singkat Anda.
Ditipu atau pikun?
by Vinda L.S.*
Ada-ada saja cara orang nipu. Waktu saya ke Bangkok, saya sudah diwanti-wanti tentang penipuan yang beroperasi di sekitar Grand Palace. Mereka akan pura-pura ramah dan bertanya tujuan kita. Bila dijawab Grand Palace, mereka akan bilang tempat itu tutup, sore baru buka. Lalu mereka akan menawarkan untuk mengantar ke kuil lain yang sama bagus dengan tarif tuktuk yang murah. Tapi kenyataannya, Grand Palace tidak tutup dan mereka akan membawa kita ke toko kain atau perhiasan yang harganya mahal, baru kemudian mengantar ke kuil yang disebutnya. Benar saja, setiba di Grand Palace ada yang mendekati saya dengan pertanyaan yang sama. Saya jawab dengan gelengan kepala lalu kabur. Kok mereka nggak kapok-kapok menipu ya?
Jarak selemparan batu?
by Maria Wardhani*
Baru-baru ini, tanpa direncanakan, aku dan Ney berniat sedikit ber-adventure. Pinginnya cari pantai yang pasirnya putih, tidak begitu banyak pengunjung, dengan jarak tempuh bolak-balik satu hari dari Surabaya. Berbekal tanya kanan kiri, dapat satu rekomendasi pantai Sipelot yang katanya asyik buat berenang dan sepi. “Masuknya dari jalan besar juga nggak jauh-jauh amat,” begitu promosi temannya Ney. Dari kota Malang, katanya hanya berjarak tempuh satu jam. Satu jam berlalu, mulailah kami menyusuri jalan yang hanya cukup untuk satu mobil pas. Pemandangannya lumayan keren, banyak pohon berbukit-bukit dan kabut sudah mulai turun sehingga berkesan romantis. Terbuai pemandangan itu, kami baru menyadari bahwa sudah sekitar satu jam kami jalan dari jalan besar tadi, tapi bukit-bukit di depan kami masih tidak terhitung banyaknya. Jangankan deburan ombak, pohon-pohon besar dan tonjolan bukit masih terlihat. Tidak terhitung berapa kali kami naik turun bukit. Setelah merasa kelamaan di jalan, aku mencoba memastikan bahwa kami tidak salah jalan. Si mas supir membenarkan bahwa kami tidak salah jalan. “Masih lumayan, tapi tinggal lurus saja ikuti jalan ini nanti sampai ke pantai,” katanya.
Apes Mengejar Jembatan
by Wendy*
Gara-gara melihat lukisan seorang teman menggambarkan jembatan berpilar kokoh yang berdiri di atas sungai yang disiram cahaya matahari senja, saya bertekad mengunjungi jembatan Ponte Vecchio. Bertahun-tahun kemudian ketika mendapat liburan singkat di Italia, saya pun menjadwalkan satu hari mengunjungi Firenze (bahasa Inggrisnya: Florence). Semua sudah direncanakan dengan rinci. Mobil akan diparkir di stasiun Empoli, yang jaraknya kira-kira 30 km dari Firenze. Menurut buku petunjuk perjalanan, Firenze itu nightmare untuk soal parkir-memarkir (apalagi untuk turis yang tidak tahu jalan), maka Empoli – Firenze akan ditempuh naik kereta api. Selain lebih santai, sarana transportasi ini juga lebih memuaskan mata karena melewati lembah dan bukit hijau yang khas Toscana bagian Utara. Kelihatannya gampang, rencana dan rute sudah jelas, tapi ada saja hal-hal apes yang terjadi pada hari itu…
Astuti (ASlinya TUkang TIpu)
by TJ*
Perhatian: kisah ini jangan ditiru!
Sudah bawaan orok bahwa saya punya kemampuan mengibul. Yah dipakai untuk iseng-iseng saja lah, tidak untuk menjadi penipu profesional membawa lari uang orang atau “mem-buaya-i” anak gadis yang masih lugu. Paling sering, kemampuan mengibul itu saya pakai di dunia maya, saya biasa login di chat room menjadi orang yang sama sekali bukan diri saya, tujuannya supaya ngobrolnya asyik saja. Tidak terpikir sama sekali sebelumnya bahwa saya bisa mengibul untuk pelesir irit.
Ketemu Banyak “Dewa Penolong” di Ko Samui
by Mayawati Nurhalim*
Nyasar di negeri orang, di daerah yang sama sekali asing, menjelang malam hari pula, pasti bukan hal yang diharapkan oleh siapa pun. Tapi itulah yang kami alami di Maenam, Ko Samui, Thailand, Desember 2007. Kami diturunkan oleh supir songthaew (angkot) di depan salah satu jalan kecil, yang katanya menuju Coco House Samui, guest house yang sudah kami buking. Dengan yakinnya kami pun menyusuri jalan gelap tak beraspal itu. Cari-mencari, nah lho bingung, mana Coco House-nya ya? Peta yang saya download sama sekali nggak jelas. Duuuh, mana perut udah keruyukan karena tadi siang dalam perjalanan panjang dengan bus plus ferry dari Krabi kami cuma ngemil. Karena melihat tampang bingung kami, seorang lelaki muda yang lagi nongkrong di depan rumahnya menghampiri. Langsung saya tanya sambil menunjukkan peta. Ternyata dia mengernyitkan dahi. Sama bingungnya! Lalu dia memanggil temannya. Hasilnya sama, tidak tahu juga. Alamak, begini nih kalau buking guest house murah antah berantah. Karena tak yakin di mana letak penginapan kami, mereka pun memutuskan mengantar kami dengan motor. Akhirnya dalam waktu singkat, ketemu juga tuh penginapan. Rupanya nama penginapan itu Pinky House, bukan Coco House. Pantas saja!
You are currently browsing the archives for the Anthology category.







