Anthology Posts

Anthology ini adalah kumpulan tulisan perjalanan dari para pembaca buku dan blog “The Naked Traveler” sejak 2009. Sebagian dari tulisan di sini sudah diterbitkan menjadi buku “The Naked Traveler Anthology” pada Agustrus 2014 oleh Bentang Pustaka.

Anthology Posts

Hemat Pangkal Repot

by Vinda L.S.*

Saya dengan rok putih di Athena :)
Saya dengan rok putih di Athena ūüôā

Saya pikir di negara maju macam Eropa itu toilet umumnya gratis, eh ternyata bayar dan mahal pula. Meskipun bayarnya ‘hanya’ berupa sebuah koin 1 Euro, tapi kalau dikurskan sama dengan Rp 16.000,-. Gila, buang air aja harganya sama dengan makan kenyang di Indonesia! ¬†Karena saya pikir gratis sehingga tidak siap dengan uang receh, sering kejadian saya jadi bolak-balik cari duit koin untuk ke toilet. Di Luxembourg, saya terpaksa harus berlari kembali ke bis untuk mengambil uang 50 sen sambil terseok-seok menahan pipis. Beberapa tahun kemudian di Stasiun KA Frankfurt Main Hbf , saya terpaksa berlari-lari meminjam 70 sen koin temen saya yang ada di luar. Di Roma Termini, toiletnya pakai sistem seperti gerbang di subway, masukkan koin dan gerbangnya terbuka. Saya sudah siap dengan 75 sen, ternyata masih kurang karena harganya 1 Euro, terpaksa ke luar lagi deh cari tambahan koin.

continue reading

Anthology Posts

Air oh Air!

by Maria Wardhani*

Sebelum berangkat ke Los Angeles, aku sibuk menyiapkan beragam bekal makanan, mulai dari abon, saos sambal, hingga mie instan, saking takutnya lidahku tidak cocok dengan makanan Amerika. Ternyata temanku, Ananta, seorang asisten desainer kebaya kenamaan yang sudah berulang kali ke luar negeri malah tidak kalah heboh bawaannya. Dia bawa rice cooker, beras, rendang, sampai wajan, dan ikan asin. Katanya, walaupun sudah berulang kali ke luar negeri, perutnya tetap asli Indonesia yang baru merasa kenyang kalau sudah terisi nasi. Hebatnya lagi, semua perbekalan kami lolos dari pengamanan Bandara LAX yang super ketat. Singkat cerita, betapa bahagianya kami melihat kamar hotel yang fasilitasnya lengkap untuk menikmati perbekalan. Ada kopi instan, teh celup, lemari es, hingga microwave. Setelah terbang selama 22 jam, langsung terbayang mau menyeruput teh panas sambil menikmati mie instan berkuah pedas. Teh sudah ada, mie instan ada, saos sambal ada, microvawe pun ada, hanya kurang satu: air.

continue reading

Anthology Posts

Sampah Liburan

by Wendy*

sampah_tiketSampah seharusnya dibuang di tempat sampah, tapi kadang-kadang sampah malah menarik untuk disimpan. Alasannya mungkin berbeda-beda; salah satunya adalah sampah bisa memiliki potensi mengembalikan kenangan menarik. Ibarat kunci, sampah tertentu bisa membuka laci memori di otak dan memanggil kembali kenangan yang lama tersimpan, terutama kenangan liburan yang selalu menyenangkan. Begitulah, setiap liburan, saya paling rajin mengumpulkan sampah. Sukses-tidaknya sebuah liburan pun bisa dihitung dari jumlah sampah yang dikumpulkan dan ditempelkan di dalam buku harian saya. Pulang-pulang pasti jadi makin tebal dengan tempelan berbagai sampah, seperti tiket kereta, bon restoran, atau bungkus permen karet. Saya pun dengan mudahnya mengingat kejadian-kejadian apa di balik secarik sampah tersebut. Rasanya lebih emosional daripada melihat foto-foto.

continue reading

Anthology Posts

There is always a first time

by Tjahja Junindra*

TJ & istri di Masjid Sultan, Kampong Gelam, Singapore
TJ & istri di Masjid Sultan, Kampong Gelam, Singapore

Sudah ‘tuwir’ baru bisa jalan ke luar negeri. Begitulah nasib saya, yang kiranya cukup mewakili sebagian besar orang kantoran level menengah Indonesia. Sekalipun punya corporate title cukup keren, belum tentu gajinya cukup besar. Kalaupun bekerja di perusahaan asing, belum tentu dapat fasilitas overseas training. Kalaupun bisa menabung, sebentar kemudian menikah, dan setelah itu mencicil rumah, mengkredit mobil dan mengangsur ini itu, habislah alokasi tabungan. Boro-boro pelesir ke luar negeri, ke Bali saja belum tentu lima tahun sekali. Sebetulnya pelesir bisa disiasati agar bujetnya minim. Tapi buat orang kantoran seusia saya, pelesir irit-irit cenderung dipandang aneh, yang ketuaan untuk sebuah petualangan lah, yang pelit lah, dll. Tapi saya dan istri sih biasa jalan-jalan irit. Ke Bali misalnya, naik mobil, tanpa punya target lokasi, tanpa reservasi hotel, patokannya cuma satu: tanggal sekian harus pulang karena cuti sudah habis.

continue reading