PULAU BURU DAN HAL-HAL YANG INGIN KULUPAKAN

PULAU BURU DAN HAL-HAL YANG INGIN KULUPAKAN

Oleh Fatma Puri Sayekti* (Pemenang #LombaKelasTrinity)

Pulau Buru adalah sebuah ambisi. Aku beberapa kali pernah ke Maluku, tapi belum ke Buru. Aku hanya mendengar pulau kecil di barat Ambon ini dari cerita sepintas lalu bahwa sastrawan kawakan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah dibuang ke sana. Lalu orang ramai membicarakannya.

Awal mula perjalanan ke Pulau Buru ini cukup menggelikan, lalu kemudian menyesakkan. Sekitar Mei 2018, aku bertemu seorang laki-laki di Aceh. Sebut saja namanya Bastian. Kami ada acara bersama selama seminggu. Dia asli Maluku, jadi sangat pas bila aku bertanya bagaimana cara ke Buru. Setelah ngobrol, aku baru tahu ternyata dia berasal dari Sofifi, ibukota Maluku Utara, tapi sedang berkuliah di Jogja. Sebuah pulau yang bahkan sangat jauh di utara Buru, pun beda provinsi. Tapi tak apa, pikirku.

Setelah pulang dari Aceh, aku dan Bastian intens berkabar di chat. Tujuanku antara lain mengetahui dengan persis bagaimana cara menyeberang dari Ambon ke Buru, berapa biaya yang dibutuhkan, minta dikenalkan ke teman yang tinggal di sana, dan sebuah jaminan bahwa aku akan bisa pulang dengan badan utuh.

Akhirnya hari itupun tiba. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan di Ambon dan mulai merealisasikan rencana ke Pulau Buru. Bastian “mengawasiku” dari Jogja. Mengirim banyak pesan singkat selagi aku membunuh waktu menunggu jadwal keberangkatan feri di pelabuhan Ambon pukul 8 malam. Selama 6 jam perjalanan laut dengan bantal apek dan ketakutan dimaling, setengahnya kuhabiskan dengan chat dengan Bastian juga. Ngobrol tentang proyek menulis kami, buku-buku yang dibaca, apa yang dilakukan, sampai kekhawatiran karena aku selalu gagal mengontak teman yang akan menjemputku besok pagi. Ah, untunglah, teman itu memang nyata wujudnya dan membawaku naik motor dari Namlea ke Lamahang, kampungnya. Teman baruku ini bernama La Ode.

Aku merekam dengan baik setiap senti perjalanan naik motor selama sejam bersama La Ode. Aku mengabarkan pada Bastian bahwa benar Pulau Buru berbau minyak kayu putih segar, pohon-pohon kayu putih yang normal terbakar di musim panas, dan garis pantai yang amat panjang. Aku seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Sangat bersemangat.

“Aku mau ke desanya Pram! Savanajaya! ” tekadku kepada Bastian, setelah aku sampai di Lamahang. Dia dengan sabar menyarankan aku untuk menggali hal lain selain kejadian 1965 atau para tapol dilan (tahanan politik tanpa pengadilan). Ia memberi ide agar aku mencari cerita tentang makanan kesukaan Pramoedya Ananta Toer, hobi, dan cerita ringan lain. Spontan aku tertawa.

Esoknya, La Ode memboncengku dengan motor melaju ke Savanajaya, yang ternyata jaraknya jauh. Dua jam naik motor cukup bikin bokong dan punggung pegel. Aku bercerita lagi kepada Bastian, bahwa aku tak mungkin melewatkan pergi ke hutan untuk mencari pembuat minyak kayu putih asli dari penyulingannya. Aku bahkan cukup haru bisa melihat wujud daun dari pohon putih, bahan utama pembuatan minyak. Hidungku seperti dimanjakan bau wangi yang agak jauh beda dengan minyak buatan pabrik yang biasa kubeli di supermarket. Aku tersenyum mendapati para pekerja bertelanjang dada yang menunggui tungku panas. Aku melanjutkan perjalanan dengan membawa sebotol tanggung minyak kayu putih yang telah dingin. Mahal juga, 175 ribu Rupiah!

Sesampai di desa Pram, kami mendatangi rumah seorang pegiat literasi di sana, sebut saja Bu Minarsih. Beliau masih sangat menggebu-gebu bercerita bagaimana tahun 1980-an harus datang ke Buru karena orangtuanya diasingkan di sini. Stigma negatif masyarakat luas masih ada saja, yang menganggap mereka adalah bekas anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Walau ia juga mengakui bahwa pemerintah sudah banyak memberikan akses pada berbagai fasilitas untuk warga Savanajaya, kompleks perumahan eks pembuangan tapol dilan itu. Aku menceritakan semuanya pada Bastian, yang setia menunggu ceritaku dari Jogja.

Bu Minarsih juga menunjukkan pada kami perpustakaan kecil belakang rumahnya, yang dindingnya dipasang banner foto para perempuan yang zaman dahulu dianggap PKI kemudian diasingkan di sana. Hatiku senang dapat memori baru soal Buru, tapi juga trenyuh dan sakit bagaimana sejarah di bumi manusia bisa begitu bias dan tidak adil bagi sebagian rakyat Indonesia. Perjalanan ini aku akhiri dengan naik feri kembali ke Ambon 7 jam, direct flight 2,5 jam Ambon – Surabaya, lanjut mobil travel 4 jam menuju Kediri.

Sepulang dari Pulau Buru dan kembali ke kota asalku, aku makin intens berhubungan dengan Bastian. Bahkan ketika aku ada agenda ke Jogja, aku menyempatkan diri menemuinya. Di trotoar seberang Alun-Alun Kidul Jogja, dengan dua gelas kopi dan kacang. Ia baru jujur bahwa sebenarnya ia pun tak kenal sama sekali awalnya dengan La Ode yang tinggal di Buru itu. Ia hanya teman dari temannya. Jadi dia melepasku ke Buru dalam kondisi berjudi, antara selamat atau tidak. Aku tertawa sejadi-jadinya. Tapi aku tahu. Agar aku mendapat akses ke Buru dengan mudah, ia sedikit omong kosong ke La Ode bahwa aku adalah pegiat literasi yang sedang meneliti dan ingin menulis soal Pram.

Sejak saat itu, aku dan Bastian semakin dekat. Bagiku, tak mudah menemukan pria yang bisa nyambung diajak ngobrol, sekaligus menghormati dan mendukung aktivitas perempuan.

Namun, tepat sebulan setelah pertemuan terakhir kami, Bastian menghilang tanpa kabar. Sampai sekarang. Seandainya boleh memilih, aku ingin melupakan semua yang sudah dia lakukan. Aku ingin lupa bahwa dialah yang sudah “membawaku” jauh ke Buru. Lupa bahwa dia yang membuatku mengalami hal-hal seru. Lupa bahwa ia yang “menemaniku” sepanjang perjalanan dengan pesan-pesan singkat menanyakan kabar dan sebagainya. Lupa bahwa ia adalah salah satu orang paling bahagia ketika aku berhasil kembali ke Kediri dengan selamat. Dan lupa bahwa keinginan melupakan justru membuatku semakin ingat dia, bahkan setelah tiga tahun sesudahnya.

——————————————————————————————————————————

*Fatma Puri Sayekti, asli Kediri, Jawa Timur. Sekarang menjadi psikolog dan dosen Psikologi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. Hobi membaca novel dan nonfiksi traveling, jalan-jalan, serta nonton drama Korea. Pernah singgah hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Bercita-cita keliling dunia gratis.
IG: @puri.fatma, FB: Fatma Puri, Blog: www.petypuri.blogspot.com

#LombaKelasTrinity adalah lomba menulis yang ditujukan bagi para peserta kelas “Cara Mudah Menulis Perjalanan” pada 1 Mei 2021. Tiga pemenang mendapat sesi private coaching menulis dari Trinity dan paket buku dari Bentang Pustaka. Info kelas-kelas daring yang diadakan oleh Trinity dapat diakses melalui blog ini, Instagram dan Twitter @TrinityTraveler.

4 Comments

  • Emaknya Benjamin br. Silaen
    July 6, 2021 1:19 pm

    Fatma kena ghosting cowok itu!. Semoga dia baca tulisanmu ini 🙂 . Aku belum pernah ke pulau Buru cukup tahu dari tulisan dan nonton liputat saja. Bagus tulisanmu, selamat ya jadi pemenang lomba kelas TRinity 😉 .

    • Fatma Puri
      July 8, 2021 4:59 pm

      Haha iya kak. Kalau zaman sekarang istilahnya ghosting yaaa. Hmmm bagus juga kayaknya kalo dia baca tulisan ini, wkwk. Makasih kak, salam kenal. Semoga suatu saat bisa ke Buru yaa

  • Yudi Rahmatullah
    July 7, 2021 10:13 pm

    Baca tulisan mba Fatma bikin ngiri. Saya pecinta novel2 Pramoedya Ananta Toer, dan Pulau Buru salah satu tempat yang ingin saya datangi juga.

    Terimakasih udah membuat tulisan ini dan sharing pengalaman traveling ke sana.

    • Fatma Puri
      July 8, 2021 5:02 pm

      Hihi iya mas. Pantainya bagus (karena mostly pasir putih), pohon kayu putihnya ikonik, dan tentu sejarah ’65 nya yang bikin penasaran juga. Ada juga tambang emas yang merusak lingkungan juga kata teman saya, tapi akhirnya ditutup. Semoga mas Yudi bisa ke sana nanti ?

Leave a Reply

Leave a Reply to Emaknya Benjamin br. Silaen Cancel reply