The Jomblo Traveler

The Jomblo Traveler

Sudah setua gini, masih ada aja orang yang nanya ke saya, “Kapan menikah? Kok masih jomblo aja?”. Nah, ini saya kasih jawaban yang agak panjang mengenai pemikiran saya terhadap pernikahan dan status kejombloan saya.

Pertama, diperlukan lingkungan yang stabil untuk menjalin suatu hubungan percintaan. Makanya jauh lebih mudah pacaran zaman kuliah dan jadi MMK (Mbak-Mbak Kantoran) daripada setelah jadi full time traveler dan freelance writer. Ingat pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino? Lingkungan kampus dan kantor itu membuat kita bertemu dengan orang yang sama dalam waktu yang lama – yang bikin lama-lama tumbuh rasa saling suka karena terbiasa bersama. Kerja kantoran pun udah jelas jam kerjanya, liburnya 2 minggu setahun. Makanya kalau diajak kencan jadi gampang: kalau nggak pas pulang kantor, ya weekend.

Masalahnya, dengan jenis pekerjaan saya, urusan percintaan ini menjadi sungguh rumit. Sahabat sendiri aja kalo mau ketemuan nanya dulu, “Lo lagi ada di Jakarta nggak?” – apalagi cowok yang mau ngajak kencan! Setiap mau ketemuan, ada aja jadwal trip.

Pembicaraan ini klasik banget dan sering terjadi;
“Sabtu ini ketemuan yuk!” tanya si cowok.
“Aduh, dari Jumat gue cabut ke negara X,” jawab saya.
“Minggu depannya?”
“Di negara Y.”
“Kalau bulan depan?”
“Masih kosong sih, tapi ada rencana ke kota Z cuman belum confirm.”
Aduh, mau ketemu aja susah banget! Lama-lama cowok-cowok pun jadi males dan berkata, “Sorry, I cant catch you up!”

Bagaimana dengan cinlok? Kan sering traveling ke seluruh dunia, masa nggak ada yang nyangkut? Gini ya. Cinlok sih sering. Pake banget malah. Tapi itu bisa dikatakan hanya sebatas “holiday fling” alias gebetan selama liburan doang.

Namanya juga liburan di tempat baru, segalanya jadi lebih indah, mood jadi baik, perasaan jadi bergejolak. Begitu ketemu yang cocok, rasanya langsung jatuh cinta. Makan bareng, minum bareng, jalan bareng… sampai akhirnya berpisah. Dari awal juga udah sadar bahwa akhirnya akan begini. Sesama traveler itu sudah tahu bahwa yang satu akan menuju ke tempat lain, yang satunya lagi juga. Kadang memang bisa berubah destinasi karena salah satu mau ngikut barengan, tapi waktu juga akhirnya yang bikin kisah selesai. Salah satu liburannya habis, salah satu harus pulang. Yaaaah…!

Memang tidak semua berakhir kayak begini. Saya lah saksi dari sekian banyaknya teman jalan saya yang berjodoh karena ketemu pas lagi traveling antara orang asing dan orang lokal atau antara sesama traveler antarbangsa. Cewek Inggris dengan cowok India, cowok Amerika dengan cewek Kolombia, cowok Prancis dengan cewek Spanyol, cewek Austria dengan cowok New Zealand, dan lain-lain. Dengan paspor dari negara maju, mereka sih enak aja tinggal pindah ke negara manapun ngikutin pasangannya. Mereka bisa tinggal dan kerja di mana saja. Apalagi kulit putih yang tinggal di negara berkembang, mereka dipuja dan lapangan kerja lebih terbuka.

Nah, gimana caranya dengan pemegang paspor Indonesia? Wah, sulit banget! Udah visa dapetnya susah, lama tinggal terbatas, mau kerja juga nggak bisa karena cuma punya visa turis. Karena paspor ini lah kita nggak bisa seimpulsif bule yang main pergi aja demi mengejar cinta. Kalau untung, bisa sih kita disponsori pasangan untuk tinggal di sana. Dengan kondisi belum dinikahin, jadi mikir gimana dengan keluarga kita di sini? Trus, di sana kita ngapain?

Sebaliknya kalau cowoknya mau tinggal di Indonesia, gimana caranya? Kalau bukan expat yang bekerja di kantor besar atau pengusaha beneran, bikin KITAS itu susah, harganya pun mahal bener. Kecuali mau bela-belain cara visa run yang tiap sebulan sekali ke luar negeri baru masuk Indonesia lagi.

Pernah mencoba LDR (long distance relationship), tapi lama-lama siapa yang kuat? Mau chatting beda zona waktu, mau saling mengunjungi ongkosnya mahal. Hadeuh, pelik!

Kalau sudah nonton film Trinity Traveler, tokoh Paul yang diperankan Hamish Daud itu adalah contoh standar hubungan saya dengan cowok. Kenalan pas traveling, jalan bareng, trus bubar entah ke mana. Mungkin karena sesama traveler yang susah dipegang buntutnya.

Cinta bagi saya maknanya dalam banget, tapi pernikahan itu jauh lebih dalam. Saya berprinsip menikah itu hanya sekali seumur hidup, jadi pertimbangannya makin panjang. Memang benar zaman masih muda kita bebas milih yang kita suka, semakin tua pilihan semakin nggak ada. Tapi itu bukan berarti kita memilih sembarangan hanya demi menikah. Makanya saya paling sebal kalau dituduh, “Elo sih picky!” Ebuset! Beli baju aja kita kudu milih yang terbaik, masa suami kita nggak milih – padahal akan tidur seranjang sepanjang hidup kita!

Prinsip saya yang lain: saya nggak bakal bela-belain menikah kalau hidup saya nantinya tidak lebih baik, atau minimal sama, dengan hidup saya sekarang. Pembokat saya aja punya prinsip, “Kalo udah kawin tapi gue masih jadi babu juga mah males!” Nah, kan?

Maklum, orang Indonesia itu kebanyakan memang live in fear (hidup dalam ketakutan). Takut nggak laku, takut nggak menikah, takut nggak punya anak, takut nggak ada yang ngurus saat tua, takut jadi omongan, takut ini, takut itu. Akhirnya jadi menikah karena segala ketakutan-ketakutan itu.

Beberapa kenalan saya “berhasil” menikah dengan sistem dijodohin pemuka agama karena tekanan lingkungan, ada juga yang menikah karena orang tua udah sakit-sakitan, karena ini-itu. Sungguh saya salut dengan mereka yang mau berbuat demikian demi “kebahagian” orang lain.

Kalau zaman dulu memang menikah itu merupakan suatu norma, suatu keharusan. Tapi sekarang kita punya pilihan untuk tidak menikah kok – asal berani tidak live in fear. Bodo amat kata orang kasarnya.

Coba kalian tanya kepada orang yang sudah menikah, “Enak nggak sih menikah?”, jawabannya kalau beneran jujur kebanyakan adalah, “Kalo gue boleh milih untuk nggak nikah, mending nggak deh. Enakan single. Bebas!”. Tapi kalau kalian tanya kepada jomblo, “Mau nggak menikah?”, kebanyakan jawabannya, “Gue tetep pengen nikah!” Rumput tetangga memang tampak lebih hijau, tapi coba tanya lagi ke diri sendiri: apakah alasanmu ingin menikah?

Kalau ditanya apakah saya mau menikah, saya tetap mau. Alasannya karena belum pernah. Penasaran aja dari milyaran lelaki di muka bumi, siapakah lelaki beruntung itu yang bisa menaklukan saya? Hehe! Yang jelas, menikah itu bakal jadi the biggest adventure in my life! Meski tidak punya beban dan tekanan, saya masih perempuan normal yang naksir cowok dan usaha kok.

Tapi memang saya tidak mau punya anak. Mohon tidak menuduh saya macam-macam. Menurut saya, punya anak itu merupakan suatu tanggung jawab yang amat besar. Dan terus terang saya malas bertanggung jawab sebesar itu. Lagipula, bumi kita sudah kebanyakan manusia yang makin lama makin mengancurkan bumi sendiri.

Kebanyakan orang Indonesia punya anak alasannya pamrih – supaya ada yang mendoakan, supaya ada yang mengurus saat tua. Setelah “berinvestasi” kepada si anak dengan harapan si anak akan membalas nantinya, maka orang tua punya banyak harapan kepada si anak. Ketika si anak tidak memenuhi harapan orang tua, aduh bayangkan betapa kecewanya. Saya tidak mau jadi orang yang pamrih begini. Nah ini jadi tambah susah bagi saya. Siapa juga orang yang mau menikahi perempuan yang tidak mau punya anak?

Tapi mungkin Tuhan punya jalan lain. Seringnya ada seorang anak di dalam keluarga yang “dibiarkan” jomblo karena untuk mengurus orang tuanya yang renta dan sakit. Saya adalah salah satunya diberi berkah begitu. Bahkan saya merasa bersyukur nggak punya anak karena anak saya nggak bakal merasakan sedihnya ditinggal orang tua, dan sebaliknya.

Saya sendiri pede aja nggak punya anak. Yang penting saya tidak menyusahkan orang lain. Tujuan finansial saya adalah bila nanti saya jompo dan sakit-sakitan, uang tabungan dan asuransi saya mampu bayar suster atau perawatan di RS. Sedangkan dalam kepercayaan saya, masuk surga atau tidak itu adalah hak prerogatif Tuhan, jadi tidak tergantung doa anak dan anakpun tidak tergantung doa saya.

Pertanyaan selanjutnya: apakah karena kebanyakan traveling maka saya jomblo? Atau karena jomblo maka saya traveling? Tenang aja, ada banyak cewek lain yang masih jomblo yang nggak traveling kok. Jadi jelas traveling bukan faktornya!

Sementara itu, di sisa hidup saya, ya enjoy to the fullest aja. Menikah syukur, tidak menikah pun syukur. Kebahagiaan itu bukan tergantung dari orang lain kok. Life is too short to live in fear!

59 Comments

  • bara anggara
    May 1, 2020 5:48 pm

    salut sama prinsipnya mbak T.. ini juga sekaligus insight bukan ciwi2 muda (or maybe cowo juga ya) di luaran sana, bener mau jadi full-time traveler? memang banyak enaknya juga, tapi dalam hal percintaan ternyata susah juga mengatur untuk misalnya kencan atau apapun itu you name it..

    kalau saya sih sebagai “traveler paruh waktu” menjadikan traveling hanyalah sebagai hobi saja. married udah, anak udah 1 skrg.. sekarang tentang anak, kalau mbak T gak pgn punya anak.. kalau saya 1 ini saja rasanya cukup (untuk pemikiran saat ini), karena ngurus anak itu ribet juga. 1 aja cukup kelabakan, padahal masih bayi, gimana kalau lebih?? tapi alasanku punya anak bukan supaya ada yg mendoakan atau ada yg ngurus saat tua kok, ya karena pgn aja punya anak 😀 ..

    at the end of the day,, semakin hari saya semakin banyak menjumpai cewek2 yg berprinsip kaya mbak T dan menurut saja sih itu okay2 saja, walaupun di mata orang kebanyakan mungkin kesannya unik (baca: aneh) hehe..

    salam pejalan
    -Traveler Paruh Waktu

    • Trinity
      May 3, 2020 10:04 pm

      Kalo di cowok beda kasus deh. Cowok biar gimana pun lebih mudah menikah krn dia yg punya kontrol dan waktu biologisnya yg tak terbatas.

  • omnduut
    May 1, 2020 5:52 pm

    Bagus banget tulisannya mbak T. Prinsip bahwa penikahan harus menjadikan lebih baik atau minimal sama itu bener banget. Aku sendiri saksi bahwa pernikahan beberapa orang terdekat dilakukan karena ya itu tadi: ketakutan. Takut dianggap gak laku dsb. Tapi ketika dijalani ya ternyata maju kena mundur kena.

    Walau nanti pas nikah gak bisa jamin akan sama atau lebih baik, minimal sebelum nikah udah yakin banget kalau pernikahannya akan berjalan dengan baik. Jangan sampe, “nikah ah, mudah²an akan a, b atau c.”

    Sisanya Tuhan yang pegang andil.

    • Trinity
      May 3, 2020 10:06 pm

      Pada dasarnya “hitung2an” sih. Memutuskan menikah lebih pake logika drpd hati 🙂

  • aluf
    May 1, 2020 7:28 pm

    Mau kritik nih , kalo masih berpikiran untuk tidak punya anak , coba anda lihat di channel youtube nya Dzawin Nur .
    Disana ia bersama Raditya Dika ngobrol soal pernikahannya Radit.
    Disana Radit bercerita yang awalnya enggan untuk mempunyai anak , lalu sekarang ia berkeluarga dan telah membunyai satu anak. Disanalah situasi yang merubah pikirannya dulu.

    • Zora
      May 6, 2020 7:52 am

      Yaah, kok pengalaman orang lain dijadikan standar? Orang kan beda beda. Lucu aja, awal komennya pake pembukaan “mau kritik” wkwkwk

  • Martha Kurniawati
    May 1, 2020 11:11 pm

    Mungkin ini jadi bagian favorite ku di blog ini mbak ??

  • Martha Kurniawati
    May 1, 2020 11:12 pm

    Mungkin ini jadi bagian favorite ku di blog ini mbak ??

  • Rhie
    May 2, 2020 6:38 am

    Laaaffffff 10000000000 persen tulisan Mba..
    More or less we have same opinion..tp saya bingung gimana ungkapkannya..jika ada yang bertanya soal pernikahan dan anak..
    Thank you for sharing Mba..
    Tulisan ini make me feel relieved..
    Gbu Mba..

  • wahyu
    May 2, 2020 7:26 am

    Saya suka bnget kak, inilah yang dinamakan menikmati hidup.

  • Lisa
    May 2, 2020 7:53 am

    Setuju banget mb Trinity..thanks for sharing. GBU 🙂

  • Khela
    May 2, 2020 8:01 am

    Pretty much the same with my life

  • kartikasaris2709
    May 2, 2020 8:16 am

    Sama Kak. Aku juga pingin menikah karena aku belum pernah hahaha. Rasanya sudah kulakukan semua yang kumau, nikah aja yg belom. It will be my next biggest adventure!

  • Licasya
    May 2, 2020 9:23 am

    Suka banget dengan pemikiran ka trinity yang open minded. Dan dari nonton film yang pertama di bioskop the naked traveler langsung seneng dan berdoa semoga bisa traveling ke banyak tempat kaya kaka. ??

  • Rini Hafsah Maharani
    May 2, 2020 9:52 am

    Penjelasannya sangat logis.

  • Deny Oey
    May 2, 2020 1:29 pm

    Benar kak, kita hidup di lingkungan yang memaksa umur sekian harus menikah, umur sekian harus mapan, umur sekian harus bla bla bla..

    Padahal perjalanan hidup tiap orang berbeda-beda. Hidup bukanlah kompetisi, kalaupun berkompetisi kita harus berlomba menjadi lebih baik dari diri kita kemarin, bukan berlomba dengan orang lain..

  • Anonymous
    May 2, 2020 2:50 pm

    aku speechless kak T ..!

    permikiran dan pertimbangan yang sangat rasional,
    ga bisa di samaratakan ke semu perempuan.

    so inspiring kak T,
    thank you\
    🙂

  • agung sudomo
    May 2, 2020 4:30 pm

    Sudut pandang yang menarik. Saya setuju tentang punya anak adalah tanggung jawab yang sangat besar.

  • thebasecamp10
    May 2, 2020 6:45 pm

    aku suka banget sama prinsipnya kak T. Aku juga berpikir kalo menikah itu tuh sakral banget, apalagi kalo punya anak. So inspiring!

    • lucky
      May 4, 2020 8:02 pm

      yaaas..setuju banget sama mbak T..
      udah nggak jamannya cewek kudu nikah diumur segini,trus kalo misal nggak nikah atau belom udah nggak jaman dikira ngak laku. Setuju kalo nikah itu sekali seumur hidup ..wuih mantap dah alesannya mbak T .Gbu

  • Anonymous
    May 2, 2020 7:10 pm

    Thank you Mba buat sharingnya.

    Sependapat banget sama Mba. Aku pernah menikah dan sekarang single kembali hampir 6 tahun.. Awal-awal stress karena terlalu mikirin apa kata orang, stress dengan pertanyaan semua orang, “Kapan nikah lagi? Jangan kelamaan sendiri, nanti ‘keenakan’..” (ternyata emang enak banget kok hahaha)
    Well.. bangkit dari trauma aja susah setengah mati, ini disuruh-suruh untuk ‘in relationship’ lagi.. ya ga segampang itu lah..

    Sama kaya Mba T, akupun ‘dituduh’ terlalu picky, dikatain sok cantik, sok standar terlalu tinggi.. dll dll. Awalnya iya aku kepikiran banget, tapi ah lama-lama aku pikir, mereka sih cuma ‘sok tau’ aja.. Emangnya mereka mau nanggung semua resiko kalo aku settle down lagi dan terjadi lagi sebuah perceraian? Mereka paling cuma bilang, “Kasian..”

    Dari semenjak itu, aku mencoba ga peduli apapun yang orang lain bilang. Dan Alhamdulillah-nya kedua orang tuaku ngga pernah sekalipun memaksa aku untuk menikah lagi. They said, “Do whatever you love, as long as u can responsible of what you do”. Dan itu such a relieve bgt, karena sempat kepikiran bagaimana dengan mereka? Eh tapi ternyata, mereka open mind banget. Dan aku bersyukur karena itu, jadi beban ga terlalu berat buat aku.

    Akhirnya setelah divorced, aku mutusin untuk traveling aja yang sebelumnya ga pernah aku lakuin, meskipun ngga full time seperti Mba T, karena aku pekerja kantoran juga. Dan ternyata, bener-bener ngebuka mataku, ngebuka pikiranku, ngebuka hati aku dan semuanya. Ternyata selama ini aku ga tau apa-apa. Sedikit menyesal, ternyata agak terlambat untuk melihat dunia, tapi aku tepis. Daripada ga sama sekali, lebih baik terlambat sedikit kan..

    Kebayang kalau aku masih menikah dan punya anak, ataupun in relationship lagi saat ini, mungkin ga akan bisa seperti sekarang, bisa jalan-jalan dan liat dunia. Mungkin Tuhan sudah memilihkan jalan yang terbaik saat ini adalah untuk sendiri dulu, sambil ‘disuruh melihat dunia yang luas ini’ sambil memperbaiki diri dan mempersiapkan diri *mungkin* untuk ketemu orang yang tepat,someday. Harapan selalu ada, tapi untuk sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan bersyukur dengan semua yang Tuhan kasih.. karena yakin ini adalah yg terbaik. Dan aku bahagia..

    I wish u always blessed Mba, happy and keep inspiring yaa..

    Laf Mba..

    • Trinity
      May 2, 2020 10:30 pm

      Terima kasih sharing-nya. Baca nih, gaes!

  • Ira
    May 2, 2020 8:11 pm

    Aku suka tulisannya Mbak T, dan aku pun penganut kalau mau menikah bukan karena tekanan kiri kanan, tapi ya pernikahan harus bikin kita sama sama jadi lebih baik atau minimal sama. Ga jadi jomplang ataupun jadi keseret-seret ini itu karena alasan nikah di awal karena keterpaksaan maupun ketakutan.

  • pungkasnurrohman
    May 2, 2020 11:12 pm

    Iya sih, saya beda dua jam aja pas LDR an dulu juga susah nyari waktunya. Apalagi lebih dari dua jam. Dan faedah dari tulisan ini saya jadi tidak terlalu stres dengan status, tidak semuanya dapat dengan mudah ketemu jodoh. Ada kalanya kita cukup harus berfokus pada hal yang bermanfaat dahulu.

  • Lisa Maulida R.
    May 3, 2020 1:29 pm

    SUKA PAKAI BANGET TULISANNYA MBA ^^
    Ijin share ya, ke temen sesama perantauan yg masih jomblo..

  • Anonymous
    May 4, 2020 8:01 pm

    Aku sangat menghargai pemikiran kamu mba, tidak semua orang mau seterbuka kamu, menurutku kita semua harus punya tujuan, apalagi menikah yang hampir semua orang menganggapnya achievement..
    Ya menikah adalah bentuk tanggung jawab yang besar, memulainya pun harus dengan tanggung jawab..
    Sukses terus buat kamu mba!

  • Edyra Guapo
    May 4, 2020 8:55 pm

    Tulisan yg bagus & mencerahkan. Tapi ada hal yg ingin gw tanyain, nih. Pernah nggak Trinity sakit yg cukup parah sampai harus opname/bed rest cukup lama? Jujur aja, alasan gw untuk menikah (Insya Allah sebentar lagi) salah satunya adalah ada yg merawat saat gw sakit (walaupun seumur hidup gw alhamdulillah nggak pernah sakit parah sampai opname). Saat jomblo seperti sekarang, sedihnya saat sakit doang, sih. Meski ada saudara & teman2 yg nengokin rasanya tetap beda. Apalagi kalo dirawat suster/orang lain yg bukan saudara meskipun kita mampu membayar.

    • Trinity
      May 5, 2020 8:32 pm

      Saya udah 6x sakit sampe diopname di RS + 1 kg operasi besar, ga pernah mikir cari pasangan supaya ada yg rawat! Itu sih pamrih abis! Sama kayak mo nikahin cewek supaya ada yg ngurus rumah, ebuset cari aja pembantu kalo gitu.

    • Gee
      May 6, 2020 5:08 am

      Saya baru menikah 6 tahun dan baru punya 1 anak sih, tapi menurut saya kalau dari awal sudah nuntut begitu akan lebih susah ke depannya, karena hidup itu tidak selamanya ideal. Saya pernah sakit sampai dioperasi dan rawat inap, sementara waktu itu kondisinya anak masih kecil banget. Pasangan saya ya saya minta jaga anak aja di rumah, cuma nengok sekali-kali. Apa iya dia udah capek ngurus anak harus disuruh ngerawat saya juga? Mungkin cara berpikirnya digeser dikit aja sih, daripada berharap supaya ada yang rawat, akan lebih bagus kalau mikirnya bisa saling menjaga, saling membantu, karena nikah itu ya kerja sama seumur hidup.

      • Edyra Guapo
        May 6, 2020 9:30 pm

        Maksud gw emang begitu mbak. Bukan minta dirawat doang. Tapi kalo dia sakit, gw juga mau merawat. Alhamdulillah, seumur2 gw belum pernah sakit parah apalagi sampai opname di rumah (semoga tidak pernah terjadi juga). Soalnya, gw suka kasihan lihat tmn/kenalan yg nggak punya pasangan ketika sakit saat udah tua. Mereka emang mampu membayar suster/perawat tapi tetap beda rasanya dirawat pasangan sendiri /perawat. Tapi kembali lagi, tiap orang punya pemikiran & tujuan masing2 tentang pernikahan. Jadi menurut gw nggak ada yg salah.

  • Putu Juitama Wirata
    May 4, 2020 10:23 pm

    Setujuu banget dengan pemikiran kakak kecuali urusan anak tapi itu hak kakak HAK AZAZI! sebagai orang yang mengalami perceraian untuk move on apalagi move up..Susahhhh dan waktu tidak akan menyembuhkan! Butuh kesediaan untuk mengiklaskan. Buat yang mau nikah gunakan AKAL SEHAT jangan ASAL NEKAT!

  • Single
    May 4, 2020 10:34 pm

    saya juga mba,walau umur sudah tua single ga memikirkan mau nikah, dulu mikirnya ga apa ga nikah jaga orang tua aja, ga banyak beban, enakan single.
    tapi sekarang masalahnya suka sepihak sama seseorang dan beda banget rasanya, dengan ini pikiran saya jadi banyak yang berubah.

  • Juliana
    May 4, 2020 11:55 pm

    Aku masih remaja masih 18 tahun dan belum terlalu ngerti ttg menikah dan belum kepikiran jg. Tapi melihat dari lingkungan sekitarku memang apa yg kk tuliskan itu benar karena banyak org menikah namun hidup mereka jauh lebih buruk dari sebelum mereka menikah, jd dalam pernikahannya penuh dengan rasa tertekan akibat dari perbedaan sikap yg sering dialami dengan pasangannya. Soal anak jg emang harus dipikirkan matang matang krn membesarkan anak itu adalah tanggung jawab yg besar dan kalau org tua yg lalai akan menimbulkan dosa yg besar pula dan si anak pun tidak akan bertumbuh dengan baik. Dari tulisan kk aku jd belajar tentang prinsip dalam pernikahan karena pernikahan itu sakral, walaupun mungkin perjalananku masih panjang dan setidaknya aku jd bisa menikmati masa jomblo dengan bebas wkwk. Disamping itu kita adalah manusia terbatas, emang kita berencana tapi Tuhan lah yg bertindak baik nya lah kita menyerahkan hidup kita kepada Nya. Semoga bermanfaat makasih.

  • agusiskandar9
    May 5, 2020 11:54 am

    Yang seru iya sih, kalau bisa jadi pasangan traveler gitu dan ngasilin duit dari nulis atau pekerjaan freelance lainnya (jadi traveller bayaran kek mbak T). 😉 salam kenal Mbak T 🙂

  • diazhollic
    May 5, 2020 12:09 pm

    Biarkan semua mengalir apa adanya, dan temukan jutaan kejutan disetiap perjalanan hidup ini. Sehat terus Teteh dan teruslah menginspirasi ?

    • Trinity
      May 5, 2020 8:34 pm

      Nuhun, kang!

  • Custom Furniture
    May 6, 2020 8:12 am

    Ini nih konten yang lagi kucarai, sering mengalami pertanyaan seperti itu. Makasih teteh.

  • Dinilint
    May 6, 2020 9:52 pm

    Mbak T, aku suka dengan tulisan yang ini. Emang kalo aku perhatiin, banyak orang yang ingin menikah dan ingin punya anak karena pamrih. Padahal kalo ada pamrih begini kan beban yak, beban di pasangan, beban di anak. Jangan sampe deh pamrih ke orang-orang yang kita sayang.

    Menikah is the biggest adventure. I agree. Aku juga penasaran gimana rasanya menikah, karena belum pernah. Hahahaha.

  • neno
    May 8, 2020 9:35 am

    nice & beautiful place, semoga makin sukses ya..

  • Erul
    May 9, 2020 3:52 am

    Salut ama prinsipnya. Kebahagiaan itu datang dari dalam diri sendiri. Malah justru banyak yg tidak bahagia karena mendengarkan suara2 dari luar. Menikah adalah pilhan dan hanya diri sendirilah yg tahu keadaan masing2. Manusia bijak tidak akan pernah mempermasalahkan orang lain yg belum menikah, hehehe.
    Menikah atau belum menikah masing-masing punya kesulitan. Manusia memang akan selalu kesulitan hidup di bumi ini. Untung ada pikiran yg bisa digunakan agar mampu menghadapi kesulitan itu, atau mengubah kesulitan menjadi jembatan kebahagiaan.

    Salam kenal, baru pertama kali berkunjung di blog ini.

  • nita natalia
    May 16, 2020 4:11 pm

    judul nya ngenes banget om? hahhaha

    Agen SLot Online 2020

  • lia
    May 17, 2020 10:37 pm

    Hai mba, terima kasih tulisannya. sangat membantu menjelaskan untuk yang masih suka nanya kok blm nikah? pilih2 sih? bla bla…. meski udah pingin banget nikah tapi belum dikasih jalannya sama Allah, ga bisa maksa kan. nikah bukan sesuatu yang bisa dipaksa. di lingkungan sekitar beberapa yg pisah maen tinggal aja, yang morotin suami sampe abis2an padahal dah punya anak 2. suka kepikiran ke pasangan yang berantem atau sampai cerai dan setelah itu kaya ga mau kenal lagi. apakah rasa cinta tuh bisa hilang tak berbekas, padahal dah pernah melakukan hampir segalanya bareng.

  • Anonymous
    May 18, 2020 2:31 pm

    aku hanya ingin katakan, bahwa tulisan ini salah satu efek pandemi. hahahhah… di rumah aja bagi traveler sama seperti di penjara. hahahahaha

  • Z
    May 21, 2020 3:16 am

    setujuu dg mba trinity.. tp tiap org punya pendapat berbeda beda , gk hrs bs disamakan dgn mba trinity juga..
    oya nih pembokatnya kocak juga yah kyk mbak.. wkwkwk..
    taapi mba klu nikah n punya anak seruu mbaa.. ( gk usah byk2 anaknya). satu ajaa..
    tulisan mba bisa dibaca oleh anak & cucu mbak.. ?

  • JaTiara
    May 26, 2020 8:24 pm

    Kalo menurut saya menikahlah bukan karena omongan netizen julid diluar sana. Jadi jomblo itu pilihan bukan berarti tidak laku atau terlalu banyak memilih. Saya saat ini jomblo tapi kedepannya sapa yang tahu. Terkadang orang tua mencemaskan anak perempuannya belum menikah karena takut nanti saat melewati masa usia subur jadi susah punya anak atau mandul. Sebenarnya rencana Tuhan lebih indah dari yang kita bayangkan. Kadang kita berdoa ingin ini itu tapi diberi yang lain. Karena Tuhan lebih tau mana yang kita butuhkan daripada kita inginkan. Saya setuju dengan pemikiran anda. Karena saat ini saya juga merasakan hal yang sama.

  • Peter Adi Saputro
    May 27, 2020 10:35 am

    Jadi karakter atau tokoh Paul dalam film Trinity Traveler itu beneran ada ya ? Kebetulan aja baru habis nonton film itu. Pengen juga sih bisa traveling ke banyak tempat sambil bisa make money dari sana.
    Oya apa dari awal dulu sudah kepikiran bahwa suatu saat akan bisa hasilkan uang dari traveling atau sambil traveling ?

    # Salam kenal dari seseorang yang pengen jadi traveler #

  • Astrid
    May 30, 2020 3:36 am

    Post-nya sukaaa banget! Mau bahas soal holiday fling saat travelling sih, memang itu tuh seru banget kalau di flashback lagi. Aku juga ada beberapa holiday fling yang setiap negara beda-beda. Rata-rata awal pertemuannya karena kita sama-sama lagi travelling aja dan bumped out with each other somewhere yang akhirnya entah jalan-jalan bareng, makan bareng, bahkan ada yang liburan bareng dan merubah hampir the whole plan perjalanan aku. Justru seringkali sukses dan dekat sama holiday fling ku karena hal-hal kecil yang gak pernah disangka. Kalau pake dating apps malah gak asik + gak greget! Aaaah rindunya masa-masa single dan travelling kemana aja, sekarang udah menikah juga seru sih, tapi… ah sudahlah! hehe

    Salam dari Prancis,
    Astrid

  • Nonanomad
    June 2, 2020 6:47 am

    Semoga Mbak Trinity bisa ketemu juga sama jodohnya, mungkin yang senang traveling juga jadi bisa bareng hehe. As long as we’re happy aja 🙂

  • selarasmentari
    June 2, 2020 1:55 pm

    Lingkungan memang terlalu sering melihat dan berpendapat tentang orang lain tanpa melihat dari sudut pandapat orang tersebut. Tapi itu menjadi bumbu dalam kehidupan. Saya sangat suka sekali dengan tulisanmu kak T. Kebahagiaan utama yang sebenarnya itu muncul dalam diri masing-masing, bukan karena orang lain yang selalu menuntut ini dan itu.

  • Ming
    June 6, 2020 2:23 pm

    Just because everybody else are doing it , doesn’t mean you have too .

  • Aries Pratama
    June 9, 2020 2:52 am

    Just for sharing.. Menikah adalah pilihan masing masing orang namun perlu dipahami bahwa pada hakikatnya menikah adalah mengikuti kodrat tubuh manusia itu sendiri untuk menyalurkan hasrat biologis karena pada dasarnya kebutuhan biologis akan menuntut untuk disalurkan sama seperti halnya kebutuhan makan dan minum.. buat sebagian orang mungkin penayluran hasrat ini bisa dilakukan dengan sembarang orang tapi apakah ada yang pernah tahu efek secara kesehatan atau psikologinya terhadap tubuh manusia itu sendiri .. pernah dengar penelitian kalo salah satu faktor penyebab kanker rahim itu akibat seringnya sel sperma laki laki yang berlainan DNA masuk ke rahim wanita .. pernah baca bahwa salah satu penyebab kanker cerviks adalah seringnya Mr. P yang berbeda ukuran masuk ke dalam Ms V seorang wanita .. pernah memahami pada saat ejakulasi seorang pria menyedot juga cairan lawan mainnya dan itu bisa menyebabkan beberapa penyakit kelamin.. saya yakin smw yang ada disini pasti manusia normal yang punya hasrat biologis tersebut kecuali yang memang punya kelainan .. masak untuk pakaian atau sepatu saja kita harus memilih yang baik dan cocok untuk kita apalagi ini untuk kebutuhan yang sifatnya privasi dan mendasar kita mau beresiko.. dan ingat kita dilahirkan sebagai manusia bukan sebagai hewan yang bisa menyalurkan hasrat biologisnya dengan seenaknya .. kecuali kalo memang kita sudah kuat menahan hasrat tersebut dan gak butuh lagi dengan hasrat tersebut.. kalo memang sudah bisa begitu saya acungkan 4 jempol deh..

    SO CHOOSE WISELY
    Aries

    • Trinity
      June 10, 2020 9:31 am

      Anda belum tau teknologi kondom? Dan nggak tau kalau vagina itu sangat elastis? Kok malah menyalahkan wanita?

  • Roda dan Roti
    June 14, 2020 10:56 am

    Bukan mak gw ngapain ngurusin gw wkwkwkwk
    Netijen +62 emang terlalu kepo dengan pribadi orang lain

  • Adena
    June 15, 2020 9:54 am

    Bole ikut komen ya mba.. tulisanmu menginspirasi banget buat banyak perempuan single di luar sana yg belum ketemu sama “the one” nya. I’m happily married for almost 8 years (and 2 kids). Ya karna kebetulan aja ketemu ama soulmate, kalo engga sih ogah banget.. Dan percaya lah org2 yg bener2 happy kehidupan pernikahannya ga akan pernah usik2 org lain dgn pertanyaan gengges “kapan married” dll. Buat saya itu sih mereka “mo cari temen susah” aja karna kehidupannya yg ga happy hahahaha. Amit2 deh jangan ampe nikah malah lebih belibet drpd single :p

  • Nicholas Kevin Halim
    June 26, 2020 4:50 pm

    Salut sama mbak T yang berpikiran tidak egois dengan tidak mau punya anak.

  • Susana Lubis
    June 27, 2020 3:14 am

    saya gak jomblo tapi saya gak suka travelling bareng dengan orang banyak, bisa di bilang saya sebenernya suka sendiri dan kangen jadi jomblo hahahhaha

  • arika prihastanti
    June 28, 2020 6:27 pm

    Keren mbak… menurutku semua langkah dalam hidup emang harus kita perimbangkan semua, yg penting bisa membuat kita bahagia..
    Menurut aku Married is adventure too, kerjaan udah settle, traveling juga udah di beberapa negara, selanjutnya emang dari aku nya pingin nikah & lanjut traveling…
    Apapun segala tindakan/keputusan org lain kita harus hargain, aku suka sebel kalo ada orang yg kepo2 ato sok menggurui di saat yg nggak tepat. Karna emang hidup kita yg paling tau adalah kita… semoga kita selalu bahagia…

  • dewinatalia89
    June 30, 2020 7:44 pm

    Mbak, tulisanmu ini mewakili perasaanku banget >.< Diusiaku yang 30an ini, keluarga besar selalu repot tanya2, "Mana cowokmu? Kapan nikah? Kok masih jomblo? Inget, mama udah tua". Padahal keluarga intiku santai2 aja dan kami happy dengan kehidupan kami saat ini.

    Thanks for sharing your thoughts, mbak! Bahagia selalu 🙂

  • Lesley Wijaya
    July 2, 2020 4:58 pm

    salut yang bisa jadi full time traveler gatau dapet duit dari mana, thanks for sharing, semoga situs ku https://anakstreaming.club/ bisa hasilin duit buat travelling juga

Leave a Reply

Leave a Reply to pungkasnurrohman Cancel reply