Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.
Residensi Penulis 2018 di Peru & Bolivia

Residensi Penulis 2018 di Peru & Bolivia

Saya baru saja kembali dari Peru setelah dua bulan menjalani Residensi Penulis 2018. Program ini diselenggarakan atas prakarsa Komite Buku Nasional dan Program Beasiswa Unggulan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk memacu para penulis profesional menerbitkan karya yang layak, mempromosikan sastra dan budaya Indonesia, serta membangun jejaring literasi internasional.

Setelah Residensi Penulis dijalankan di tahun ketiga, akhirnya saya berani melamar. Awalnya kita diwajibkan membuat proposal tentang apa yang akan ditulis dan mengapa memilih tempat tersebut. Ada juga syarat administrasi yang agak ribet, seperti surat keterangan bebas narkoba, sehat fisik dan mental (ternyata ini tiga hal yang berbeda jadi harus ikut tiga tes). Dan yang terpenting punya undangan dari institusi di tempat residensi yang bersedia bekerja sama. Syarat lengkapnya bisa dibaca di sini.

Mengapa ke Peru karena saya suka Peru dan pengin balik ke sana. Ide proposal datang dari tulisan saya sendiri di buku The Naked Traveler: 1 Year Round-the-World Trip tentang keberadaan WNI yang banyak bekerja sebagai misionaris Katolik di Amerika Latin. Premisnya: negara kita yang minoritas Katolik (mayoritas Islam) ternyata salah satu negara terbesar “pengekspor” pastor dan suster ke negara yang mayoritas Katolik lho! Menarik, bukan?

Tapi jalan ke Peru tidak semulus itu. Saya satu-satunya penulis Residensi yang mencelat ke benua Amerika Selatan karena umumnya penulis Indonesia memilih Belanda, Inggris, Jepang karena hubungan sejarah. Alhasil karena kekurangtahuan, dana biaya hidup di Peru diberikan sangat kecil, bahkan tidak cukup untuk ngekos. Apalagi tiba-tiba dolar Amerika menguat. Jadilah saya memohon bantuan sponsor dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lima yang akhirnya menyetujui memberikan akomodasi di “kamar seadanya” di kantor KBRI. Iya, begitu tulisan di emailnya. Untungnya saya traveler sejati yang bersedia tidur di mana saja.

Untuk menghemat biaya, setiap hari saya masak sendiri. Terus terang ini hal yang pertama kali saya lakukan seumur hidup karena di rumah selalu ada pembantu dan pas traveling hanya masak ala Pramuka (modal mi instan dan aneka masakan telur). Cara masaknya gimana ya saya nanya Yasmin (biasanya saya jadi tukang cuci piring karena dia yang masak), nanya pembantu, dan nanya ibu-ibu Darma Wanita. Karena literary hidup di kantor, saya jadi berteman dengan Satpam, Tukang Kebun, Office Boy dan Office Girl. Dari mereka lah saya belajar bahasa tutur Spanyol.

Kalau Anda bayangkan saya ke Peru karena ingin ke Machu Picchu maka Anda salah. Saya sudah pernah ke sana, jadi kali ini ke Peru dalam rangka bekerja. Setiap hari kerjanya mewawancarai nara sumber dan mengikuti aktivitas mereka. Jadilah saya ke seminari, gereja, kapel, rumah sakit, rumah jompo, sampai makam, dan bahkan kadang tinggal di biara! Untuk promosi sastra dan budaya Indonesia, saya sempat mengajar di Universidad Nacional Mayor de San Marcos, mengajar kelas Bahasa Indonesia, dan talkshow di KBRI Lima.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Karena KBRI Lima membawahi negara Peru dan Bolivia, saya mendapat daftar misionaris Indonesia yang ternyata setengahnya bertempat tinggal di Bolivia. Dalam waktu sebulan saya telah wawancarai sebagian besar misionaris di Lima dan sekitarnya, sisanya berada di luar kota. Maka saya apply visa Bolivia dengan pertimbangan kalau diterima maka saya akan melanjutkan riset di Bolivia, bila tidak maka saya akan ke luar kota di Peru saja. Setelah lima tahun lalu ditolak, saya tidak bisa berharap banyak tapi rupanya visa diterima! Dalam dua minggu saya pergi ke tiga kota untuk wawancara, plus liburan sendiri ke Salar de Uyuni! Tentu dana makin membengkak, tapi saya bela-belain pakai uang sendiri karena sudah kadung dekat.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Saya belajar sangat banyak di Peru dan Bolivia! Saya kagum sendiri dengan keterbatasan Bahasa Spanyol saya tapi bisa mengurus visa sendiri, transfer uang ke bank, pergi ke mana-mana naik transportasi umum sendiri (bahkan pede ikut tur di Salar de Uyuni dengan guide yang hanya berbahasa Spanyol), juga mengajar di kelas (meski dengan bantuan penerjemah). WNI di sana yang jumlahnya sedikit sangat dekat satu sama lain dan banyak membantu saya terutama mengatasi rindu terhadap makanan Indonesia. Saya sebagai non Katolik pun belajar sangat banyak dari para misionaris Indonesia, bukan hanya soal agama tapi juga filosofi hidup yang sangat mendalam.

Saya berterima kasih sekali kepada pemerintah Indonesia, terutama Kemdikbud yang telah menyokong penulis Indonesia. Juga kepada para staf dan keluarga KBRI Lima yang telah menjadi keluarga sendiri selama dua bulan ini. Apalagi kepada para misionaris Indonesia yang telah bersedia dikintili! Dios te bendiga! Semoga proses penulisan nanti berjalan dengan lancar sampai diterbitkan jadi buku sehingga saya bisa menyumbangkan sesuatu untuk negara dan dunia.

Read more
Curhat Seorang Penulis

Curhat Seorang Penulis

Bolehkah kali ini saya nggak bercerita tentang perjalanan? Soalnya lagi pengin curhat nih!

Jadi gini ceritanya. Tau nggak kalo sekarang industri penerbitan semakin kacrut? Banyak koran dan majalah yang tutup, padahal dulu sangat berjaya di masanya. Contohnya koran Sinar Harapan dan Harian Bola, majalah Kawanku, Hai, dan terakhir Go Girl. Sedih banget kan?

Industri buku juga sama aja. Toko buku satu per satu tutup. Kalau pun tidak tutup, ruangannya diperkecil. Namanya tetap “toko buku” tapi sebagian besar justru jualannya non buku, mulai dari tas, sepatu, sepeda, tenda, sampai selimut! Sebuah toko buku favorit saya di sebuah mal bahkan hanya memberi seperempat tempatnya untuk rak buku, sementara sisanya dijadikan tempat jualan non buku dan kafe! Pejabat jaringan toko buku yang mendominasi Indonesia bahkan berkata, “Soalnya penjualan non buku lebih banyak dan lebih menguntungkan daripada jualan buku!” Ouch!

Dengan ruang jualan buku semakin sempit, padahal jumlah buku tetap bertambah, kebayang kan bagaimana policy yang diberikan toko buku? Masih bagus buku bisa dipajang, kalau nggak laku dalam waktu tertentu (yang periodenya semakin pendek) langsung dikembalikan ke penerbit. Konsep brick and mortar memang sulit. Tak heran banyak toko buku di negara maju pun tutup.

Apakah pembaca Indonesia jadi berganti dari baca buku kertas ke buku digital? Menurut saya sih nggak juga. Buktinya royalti e-book yang saya terima sejak lima tahun yang lalu sampai sekarang masih sama dan sedikit sekali. Berarti memang sangat sedikit orang Indonesia yang membaca e-book. Sayangnya beli ponsel mahal nggak apa-apa, tapi beli buku di ponsel dianggap mahal.

Bila dikaitkan dengan teori supply and demand, dalam hal industri penerbitan supply-nya ada terus tapi demand-nya semakin berkurang. Karena apa? Karena semakin banyak orang yang tidak suka membaca. Sejak era internet, terutama sejak adanya media sosial, timespan manusia zaman sekarang semakin sedikit. Membaca bukan lagi jadi pilihan karena sekarang main ponsel lebih menarik dan dianggap “bermanfaat”. Tak heran berita online sekarang berjudul heboh untuk clickbait, padahal isi kontennya biasa aja. Tulisan perjalanan pun ikut-ikutan jadi “5 tempat yang Instagrammable di Kota X” karena itulah yang disukai pembaca masa kini. Ketidaksukaan membaca juga bisa terlihat dari komen di media sosial yang sering bertanya “kapan acaranya?” padahal sudah ditulis jelas di caption. Membaca caption beberapa kalimat aja susah, apalagi membaca sebuku? #hakdezik

Efeknya bagi saya dan mungkin penulis lain adalah penghasilan dari royalti semakin kecil. Yang penasaran berapa royalti yang didapatkan oleh penulis Indonesia, silakan baca tulisan dari penulis kondang Eka Kurniawan tentang “Mengapa Harga Buku Mahal?” di sini.  Penulis mah cuman dapat persentase terkecil dari harga buku, itu pun nggak bisa nambah karena banyak tangan yang harus dibagi. Harga buku kita jadi mahal, apalagi dengan pajak yang berlapis-lapis.

Padahal sebagai travel writer, saya harus selalu traveling untuk mendapatkan bahan. Sedangkan modal traveling adalah dari royalti. Tapi kalau royalti semakin sedikit (karena semakin sedikit orang membeli buku), boro-boro untuk traveling, untuk hidup aja saya berat!

Saya pun berusaha untuk berinovasi dengan menerbitkan buku “69 Cara Traveling Gratis” yang ditujukan untuk mengakuisisi pembaca baru yaitu para milenial. Sambutannya cukup baik, tapi masih kurang – apalagi royalti harus saya bagi dua dengan Yasmin. Ditambah lagi bujet promosi yang biasanya diadakan di beberapa kota dipotong karena saat ini dipercaya lebih ampuh bila promosi dilakukan di media sosial saja.

Terus terang hal ini mematahkan semangat saya. Jadinya saya kepikiran untuk pensiun jadi penulis! Berbagai alternatif cara mengisi pundi-pundi masih saya pikirkan, termasuk kembali jadi MMK (Mbak-Mbak Kantoran) dengan keterbatasan cuti atau jadi selebgram dengan jualan segala macam barang endorsan. Aduh, membayangkannya aja saya stres! Di saat saya lagi down-down-nya jadi penulis, eh saya malah dapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk Residensi Penulis 2018 di Peru pada awal September ini! What? Pertanda apakah ini?

Sebelum pergi, saya sedang ngebut menyelesaikan tulisan untuk buku “The Naked Traveler 8”. Namun dengan sedih dan berat hati saya menyatakan bahwa ini akan menjadi buku terakhir dari seri “The Naked Traveler”.

Terima kasih telah menjadi pembaca setia saya!

P.S. Bila Anda merasa buku-buku saya (total ada 14 buku sejak 2007) telah mengubah hidup Anda, mohon ditulis sebanyak 500-1000 kata dan dikirim ke resensi.bentangpustaka@gmail.com sebelum 5 September 2018. Tulisan terbaik akan dimasukkan ke dalam buku “The Naked Traveler 8”.

Read more
I survived public toilets in Central Asia!

I survived public toilets in Central Asia!

Perjalanan ke Asia Tengah (Kyrgyzstan, Tajikistan, Uzbekistan) pada Juli 2018 sungguh merupakan salah satu pengalaman yang paling seru. Pertama, karena jalannya sama teman-teman sendiri, sesama hardcore traveler, sesama travel writer, yaitu @claudiakaunang dan @riniraharjanti. Kedua, karena perjalanannya sungguh emosional – di satu sisi ternganga-nganga dengan indahnya pemandangan, di sisi lain terhoek-hoek dengan toilet umumnya!

Ya, meski Asia Tengah diberkahi dengan pemandangan yang indahnya luar biasa ternyata memiliki toilet umum terburuk di dunia. Saya menyadari toilet umum di Asia Tengah itu parah sejak kunjungan ke Kazakhstan pada Juli 2017. Meski Kazakhstan adalah negara terkaya di Asia Tengah, namun toilet umum yang bener cuma di kota besar seperti di Astana dan Almaty. Begitu ke pinggiran kota, ya ampun! Meski saat itu saya diundang oleh pemerintahnya, tapi mereka juga tidak kuasa terhadap keadaan toilet umumnya. Seorang peserta jurnalis asal Eropa mengatakan kepada saya, “Yah begitu lah toilet umum di negara bekas jajahan Uni Soviet. Parah semua!”

Jadilah saya wanti-wanti ke Claudia dan Rini untuk hati-hati sama toilet umumnya, secara ketiga negara yang kami datangi lebih kacrut daripada Kazakhstan. Saya suruh bawa kaca mata hitam biar pemandangan jorok jadi agak samar-samar, masker hidung biar nutupin bau, parfum atau minyak kayu putih untuk dibubuhi di masker hidung, serta tisu basah dan tisu kering yang banyak. Kami pun siap berangkat road trip dari Bishkek ke Samarkand.

Pagi itu baru juga meninggalkan kota Bishkek sejam, kami kebelet pipis. Pas supir isi bensin ke pom, saya terpaksa turun mencari toilet umum yang pasti berada di area belakang dengan bangunan terpisah. Dan saya pun dihadapkan lagi dengan WC jongkok tanpa ada klosetnya. Jadi hanya ada bolongan, tanpa air, baik untuk menyiram maupun membasuh! Alamak, segala kotoran manusia terlihat jelas menumpuk di dalam bolongan itu! Ditambah lagi dengan pasukan lalat dan lebah yang terbang berkeliaran di bilik yang sempit tanpa ventilasi! Sambil jongkok kebauan, lebah berdengung terbang di sekitar kepala tanpa bisa saya usir. Saya langsung mempraktikkan cara menahan napas ala freediving, buru-buru menyelesaikan tugas, lalu keluar sambil berlari kalang kabut kembali ke mobil. “Gaes, good luck, ya!” kata saya kepada Claudia dan Rini yang dibalas dengan muka pucat.

Tipikal toilet umum di pom bensin (foto @claudiakaunang)

Sejak itu kami berusaha menahan pipis sedemikian rupa sampai tiba di restoran atau penginapan. Pengalaman pertama yang buruk ini rupanya meninggalkan trauma bagi Rini. Sejak itu dia memilih untuk tidak minum sampai bibir kering daripada kebelet pipis. Sementara saya pada dasarnya “onta” yang doyan minum air putih jadi rajin “mengepang” kaki. Kasihannya Claudia sedang datang bulan, jadi mau tidak mau dia harus masuk toilet umum.

Namanya juga road trip di negara “nggak jelas” dan kami berada di pelosok, ternyata restorannya pun memiliki toilet dengan jenis yang sama berada di bilik terpisah jauh dari bangunan utama. Meski ada tisu, tapi tetep bentuknya WC jongkok tanpa kloset dengan bolongan yang berisi tumpukan kotoran tanpa air! Ewww!! Kalau restorannya besar, di dalam satu kamar mandi terdapat beberapa WC. Ada kloset tapi tetep nggak ada air. Parahnya lagi, antar WC hanya dipisah oleh tembok setinggi paha. Aneh banget buang air sebelah-sebelahan sama orang nggak dikenal sembari terdengar bunyi keluar kotorannya dan tercium baunya! Dem!!

Toilet restoran besar (foto @claudiakaunang)

Untung lah penginapan kami selalu punya toilet yang benar, kecuali satu kali saat kami kemping di yurt (tenda bulat khas bangsa Nomad) di pinggir danau Tulpar Kul di ketinggian 3500 meter dengan suhu minus derajat. Di sana tersedia dua toilet portable terbuat dari kayu yang diletakkan jauh di belakang yurt. Bolongan digali dari tanah, semua kotoran menumpuk di dalamnya. Masalahnya, ini yurt turis yang diinapi bule-bule. Tau kan kalo bule itu nggak bisa jongkok? Alhasil tokai mereka banyak yang meleset dari bolongan jadi lah berceceran di lantainya! Hoekkk!! Kami susah payah nahan pipis karena males ke toilet di kegelapan dan kedinginan plus kejorokan, sampai akhirnya jam 2 pagi kami sama-sama terbangun karena udah nggak kuat! “We’re in this together! Ayo berangkat!” kata saya berkomando sambil sok menguatkan satu sama lain. Keesokan harinya ketika saya kebelet lagi, eh satu toilet udah dirubuhin karena pindah galian lobang saking penuh isinya!

Toilet portable di yurt (foto @claudiakaunang)

Begitu kami melintasi Pamir Highway (bukan jalan highway seperti di kota, tapi jalan rusak di antara pegunungan Pamir), selama berhari-hari kami jarang ketemu manusia lain. Karena berada di ketinggian 4000an meter di atas permukaan laut, saya mengalami altitude sickness (penyakit akibat tipisnya oksigen di ketinggian) sehingga saya butuh minum air putih sebanyak-banyaknya. Saat itulah kalau kebelet, saya minta supir berhenti, menyuruhnya keluar mobil, dan dengan cueknya saya pipis di pinggir jalan. Lama-lama Rini terpaksa melakukan hal yang sama, jadi lah kami berbagi tempat: saya di jongkok roda depan dan Rini di roda belakang! Pee with a view, begitulah keadaan sebenarnya.

Saya tercyduk! (foto @riniraharjanti)

Kisah toilet umum selanjutnya diceritakan oleh Claudia yang terpaksa menggunakan toilet umum. Makin memblusuk tempatnya ternyata restoran tidak lagi memiliki toilet sendiri, tapi menggunakan toilet umum yang berada di tengah pasar. Jaraknya aja bisa sampai 500 meter dari restoran. Toilet privat aja udah parah begitu, gimana dengan toilet pasar? Bayangkan toilet-toilet yang saya ceritakan di atas, lalu kalikan tiga parahnya! Masih tetap bolongan doang, ditambah tokai yang lebih menggunung, ceceran tokai di lantai dan tembok yang lebih banyak, bau yang lebih parah, dan pasukan lalat sekompi! Arrrgghhhh!! Dasar Claudia sadomasokis, dia masih sempet-sempetnya motretin toilet. Dengan catatan ini foto-foto yang paling mending!

Toilet privat restoran (foto @claudiakaunang)

Bagaimana cara kami buang air besar dong? “Untung pantat kita supel! Baru bisa boker kalau toiletnya bagus!” kata Rini. Ya bener juga! Begitu ketemu penginapan dengan toilet duduk dan ada air banyak mengalir, kami bisa boker berkali-kali dalam sehari. Begitu kondisi toiletnya tidak kondusif, kami bisa nggak boker sampai tiga hari!

Di hari terakhir, kami makan siang di restoran semacam rest area. Karena sudah berada di kota, kami tidak bisa lagi pipis sembarangan di pinggir jalan dan udah kapok pipis di pom bensin. Padahal perjalanan masih sekitar tiga jam berkendara lagi. Saya bertanya kepada waitress, di mana kah toilet? Dia menjawab sambil menunjuk ke arah luar. Ketika kami sama-sama menoleh, seketika itu juga kami menjerit, “NOOOO!!!” Karena apa? Terlihat bangunan kecil khas toilet umum di seberang jalan, tanpa pintu, tanpa ventilasi, dan di sampingnya parkirlah truk-truk besar dengan abang-abang supirnya yang mengantre ke toilet! *semaput*

Saya jadi mikir, kenapa ya kok toilet Asia Tengah parah begitu? Saya bisa mengerti kalau mereka pada dasarnya adalah bangsa nomad yang mengembara jadi tinggalnya berpindah-pindah tanpa aliran air dan listrik. Maka sistem toiletnya dengan cara menggali lubang, menumpuk kotoran sampai penuh, baru ditutup lagi, dan pindah lubang lagi. Sekarang sebagian dari mereka sudah hidup menetap, punya rumah tembok, listrik, dan air. Tapi kenapa toiletnya yang dibuat permanen dari tembok itu tetap berupa bolongan doang dan tidak ada air untuk menyiramnya? Padahal ada lho air melimpah dari sungai dan sumber mata air, bahkan banyak yang terbuang begitu aja di pinggir jalan sampai supir kami sering menggunakannya untuk mencuci mobil!

Jadi, parahan mana sama toilet umum di Tiongkok daratan seperti yang saya tulis di buku “The Naked Traveler 3”? Menurut saya, sama aja joroknya! Bedanya, Tiongkok termasuk negara maju dengan gedung-gedung pencakar langit, jadi ekspektasi kita tinggi terhadap kondisi toiletnya. Masalahnya, kelakuan orang-orangnya yang tidak higinis seperti bertahak, buang pembalut sembarangan, dan tidak mem-flush WC lah yang memperparah keadaan. Di Asia Tengah, secara negara baru merdeka dan perekonomiannya masih kacrut menjadikan ekspektasi kita juga jadi rendah terhadap toiletnya jadi harap maklum aja. Kedua, udara di Asia Tengah kering sehingga baunya lebih mending daripada di Tiongkok yang udaranya lebih lembap. Kelembapan itu memang memperparah bau-bauan. Belum lagi jenis makanan orang Tionghoa yang pemakan segala dan serba berbumbu itu menjadikan kotorannya lebih berbau.

Anyway, I survived public toilets in Central Asia! Biarpun demikian, saya nggak kapok untuk berkunjung lagi. Kalau alamnya cantik dan orangnya ramah, masalah toilet bisa lah dimaafkan. Traveler sejati memang harus supel bukan? Kami sih hanya ketawa-ketawa aja dengan kerempongan buang air. Hanya satu yang bikin kami sama-sama menjerit panik, yaitu kalau ada lalat nempel di makanan. Karena terbayang lalat-lalat di toilet umum, makanan yang ketempelan lalat langsung kami singkirkan! Eh ada satu lagi. Kalau ketemu cowok kece di sana, kami langsung berkomentar, “Aduh, kece-kece gitu tapi bayangin mereka ke toilet deh!”

Pemandangan kece!

If it takes no proper toilet to be in paradise, would you go? Ayo dikomen!

Read more
Deg-Degan Sekolah Freediving

Deg-Degan Sekolah Freediving

Freediving adalah penyelaman ke dalam air tanpa melibatkan penggunaan peralatan selam atau alat bantu pernapasan, tetapi lebih bergantung pada kemampuan seorang penyelam untuk menahan napasnya di dalam air sampai penyelam tersebut kembali menuju permukaan. (www.freediverindonesia.com)

Pertama kali saya tertarik pengin bisa freediving karena melihat aksi gebetan di Fiji pada 2016. Cowok ganteng asal Jerman itu adalah seorang cameraman spesialis underwater. Kami tinggal sekamar di hostel dan setiap hari berenang bareng di laut. Ehm. Di situ lah saya lihat dia tiba-tiba turun ke dasar laut, duduk santai sambil memvideokan saya lagi berenang di permukaan! Aih, saya langsung klepek-klepek!

Setiap tahun saya menargetkan diri untuk belajar hal baru dengan ikut kursus. Gara-gara cowok itu lah saya jadi pengin sekolah freedive. Tanggalnya dipasin dengan ulang tahun saya 11 Januari 2017 sebagai hadiah kepada diri sendiri. Sengaja saya ambil kursus di Bali supaya privat, soalnya malas kalo rame-rame di Jakarta. Pemilihan sekolahnya di Apnea Bali berdasarkan rekomendasi dari Babang Hamish Daud. Saya mengambil kelas dasar “Freediver” dan kursus diadakan selama 2 hari full di Tulamben. Catatan, tulisan ini bukan iklan, saya bayar sendiri dengan harga normal.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Saya baru tahu bahwa sertifikasi freedive itu ada bermacam mahzab, antara lain AIDA, SSI, PADI, CMAS, Apnea Total. Yang terakhir yang saya pilih karena saya tidak ingin terlalu serius apalagi ikut berkompetisi, jadi sertifikasi Apnea Total sudah cukup. Agensi sertifikasi lain baru akan meluluskan bila murid dapat menyelam minimum kedalaman yang ditentukan oleh agensi dan ada ujian tertulis, sedangkan di Apnea Total tidak mengharuskan syarat kelulusan tersebut karena tujuannya adalah rekreasi jadi yang penting nyaman menyelam dan menguasai teknik menyelam yang proper serta efisien.

Sebagai seorang yang jago berenang (malah mantan atlet renang) dan scuba diver puluhan tahun, saya merasa saya nggak bakal bermasalah. Tapi mendekati Hari-H, saya kok deg-degan! Membayangkan diri sendiri di bawah laut yang gelap, dingin, dalam, sunyi… lalu setengah mati menahan napas sampai sesak… Huaaaa! Terus, kalau di udah nggak kuat, nggak ada emergency plan, nggak ada buddy di sebelah seperti di scuba diving yang bisa dimintai oksigen! Aarrrgghh!

Saya jadi merasa nggak pede untuk sekolah freedive sendiri, maka saya ajak lah teman-teman. Sialnya ngga ada yang mau. “Bo, wis tue mbok ya nggak usah macem-macem!” kata mereka begitu. Ah, mereka memang kurang suka tantangan. Seminggu sebelum kursus, tau-tau teman saya di Bali si Tom pengin ikutan juga. Asyik ada barengannya!

Singkat cerita, jam 8 pagi hari pertama kami memulai sekolah dan berkenalan dengan instrukturnya, @AgusHong. Rupanya sekelas ya muridnya cuman saya dan Tom. Salah satu kelebihan sekolah ini hanya menerima maksimal 3 orang murid dalam 1 kelas. Jadwal sekolah selama dua hari adalah setengah hari belajar di kelas dan setengah hari di laut. Selama sesi kelas kami belajar teori, teknik dasar freedive, fisiologi pernapasan, praktik teknik pernapasan, relaksasi badan dan pikiran/mental, ekualisasi telinga, isu keamanan, prana yama dari yoga, serta stretching.

Untuk praktik di laut, kami dipinjami wetsuit, fins, dan masker. Saya pikir fins akan dikasih yang panjang khusus freediving, nggak taunya yang standar aja karena lebih fokus ke teknik finning yang benar, jadi nanti pakai fins panjang maupun pendek bukan masalah lagi. Yang beda adalah masker-nya lebih tipis karena harus yang low volume. Kami juga diberi pemberat besi 2 kg yang dililitkan di pinggang supaya lebih gampang tenggelam. Di permukaan laut tersedia buoy, semacam ban apung. Dari ban tersebut menjulurlah tali ke dalam laut sepanjang puluhan meter.

Jadi sebelum menyelam itu kita harus pemanasan dengan melakukan beberapa penyelaman yang dangkal dulu untuk mempersiapkan paru-paru terhadap tekanan, serta mempersiapkan mental dan relaksasi. Lalu dengan menahan napas saya masuk ke dalam laut perlahan-lahan dengan berpegangan tali sambil pencet hidung untuk ekualisasi. Awalnya hanya bisa turun sampai kedalaman 3 meter, tapi lama-lama semakin dalam. Ketika udah berasa dalam banget, dada rasanya sesak! Pikiran saya, kalau menyelam lebih dalam lagi berarti harus menyisakan napas untuk naik ke permukaan. Begitu liat ke atas, malah tambah panik lagi karena rasanya jauuuuh banget diraih! Sementara saya udah megap-megap. Omaigat!! Persoalan selanjutnya adalah ketika saya disuruh masuk kepala duluan dengan kaki di atas. Waduh, saya jadi disorientasi sambil cari-cari tali sehingga buyar!

Kata instruktur, kuncinya memang harus menyelam setenang mungkin dan sesedikit mungkin mengeluarkan tenaga. Semua ketakutan itu hanya lah di pikiran kita aja. Oksigen di dalam tubuh kita ada banyak hanya saja otak kita terlalu malas untuk menahan napas, makanya relaksasi pikiran sangatlah penting. Arrrrghh, tetep aja susah! Apalagi melihat si Tom bermasalah dengan sinus jadi dia nggak bisa ekualisasi dan melanjutkan penyelaman – padahal dia adalah seorang diver dan surfer handal! Duh, tambah deg-degan! It’s indeed a mental game!

Singkat cerita, akhirnya saya dinyatakan lulus dengan rekor menyelam di kedalaman 14-an meter. Malu sih cuman segitu aja, tapi ya sudah lah, itu pun saya takjub bisa sedalam itu. Pokoknya saya hepi saya bisa lulus, dan lebih penting lagi saya berhasil mengatasi ketakutan sendiri!

Sesi hari terakhir ditutup dengan fun dive di USS Liberty shipwreck (kapal karam). Saya dibolehin pake baju renang aja dan pake fins yang panjang. Baru kali itu juga saya freedive tanpa turun pake tali, jadi bisa liat pemandangan kapal karam dan banyak ikan. Ternyata saya lebih nyaman begitu. Pinternya lagi instuktur saya, dia bawa kamera underwater. Saya disuruh berenang masuk wreck yang dalam itu dengan imbalan akan difoto. Eh berhasil dengan sukses! Hehehe! Takjub juga saya bisa menyelam tanpa tabung di kapal karam situ, bisa sebelahan sama orang yang scuba diving!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Terus terang saya masih lebih suka scuba diving daripada freediving. “Ya beda. Kalau scuba diving untuk lihat-lihat sekeliling, kalau freediving untuk lihat diri sendiri – semacam meditasi dalam air,” kata Agus. Oh ya pantes! Lalu kenapa belakangan ini freediving jadi hits banget? Sekolah ini aja sampai punya instruktur dari berbagai bangsa dan bahasa, termasuk dari Cina. Muridnya pun masih muda-muda, anak milenial (kayaknya saya yang paling tua deh!). Dari hasil obrolan, jawabannya ternyata: “Motivasi kebanyakan orang pengin bisa freediving supaya kalau difoto underwater jadi bagus, bersih, nggak ada peralatan selam. Kan Instagram-nya jadi tambah kece!”  Oalah, fenomena eksis di medsos lagi rupanya!

Epilog
Sampai saat ini, 1,5 tahun kemudian, secara tidak disengaja setiap berenang atau snorkeling di laut ternyata saya otomatis mempraktikkan freediving. Rasanya jadi jauh lebih gampang ketika turun di kedalaman laut untuk melihat terumbu karang lebih jelas – itu pun nggak dalam-dalam amat dan nggak perlu juga dalam-dalam. Saya pun jadi lebih merasa aman saat scuba diving karena sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika (amit-amit) peralatan macet.

Ini ada video saya snorkeling di Maldives bersama schooling ikan giant trevallies segede-gede bayi. Kalau dulu belum sekolah freediving, mungkin saya nggak bisa kayak begini.

Read more
How to sleep in an economy class long-haul flight?

How to sleep in an economy class long-haul flight?

Sebagai tukang jalan-jalan, sialnya saya nggak bisa “pelor” (nempel langsung molor) alias nggak gampang bisa tidur. Saya baru bisa tidur beneran kalau posisi badan horizontal, suasana gelap, dan sunyi. Alangkah capeknya kalau pas terbang long haul, kan? Belum transit, belum kena jet lag, apalagi kalau begitu nyampe harus langsung beraktivitas. Hadeuh!

Penerbangan long haul di sini hitungannya di atas 6 jam. Contohnya, ke Jepang sekitar 7 jam, ke Eropa belasan jam, ke Amerika 20-an jam. Paling enak memang terbang di business class – ditanggung malah nggak mau bangun saking enaknya! Tapi saya kan bukan anggota DPR, eh bukan orang tajir.

Eniwei, saya kasih tau nih caranya supaya bisa tidur di kelas kambing ekonomi pada penerbangan long haul dengan asumsi naik pesawat full board (bukan budget);

  1. Bayar lebih untuk kursi kelas Premium Economy. Kelas ini berada di antara economy class dan business class. Tetap duduk di deretan kursi ekonomi, tapi ruang kaki lebih lega dan kursi lebih gede dikit dengan sandaran yang bisa lebih ngejeblak. Kalau Anda sebal dengan anak kecil cengeng di pesawat, duduk di kelas ini adalah investasi karena sebagian maskapai bikin zona sunyi di mana yang boleh duduk di situ hanya yang berusia 12 tahun ke atas. Nikmat, bukan?
  2. Pilih jam keberangkatan pas jam tidur. Enaknya sih di atas jam 10 malam.
  3. Sangat penting untuk online check-in! Rata-rata maskapai baru memperbolehkan check-in online 24-48 jam sebelum jam keberangkatan. Selain supaya mempercepat proses check-in di konter, yang lebih penting lagi adalah bisa pilih kursi.
  4. Posisi menentukan prestasi! Lebih enak tidur kalau duduk di jendela karena kepala bisa nyender ke samping dan tidak diganggu orang sebelah. Tapi kalau Anda beseran (sering pipis), pilih lah duduk di aisle (gang) jadi nggak gangguin orang di sebelah karena sering permisi. Kalau Anda kakinya panjang, pilih duduk di emergency exit. Pokoknya duduk di mana pun asal jangan duduk di tengah deh karena bakal digencet kanan kiri dan harus selalu permisi ke sebelah.
  5. Capek-capekin badan dulu sebelum terbang. Saya biasanya sih nge-gym dulu, atau berenang bolak-balik yang banyak. Olah raga berat itu bikin enak tidur setelahnya, minimal gampang ketiduran.
  6. Jangan lupa makan di pesawat karena lapar itu bikin nggak bisa tidur! Di sebagian maskapai bisa memesan makanan khusus saat membeli tiket, seperti makanan vegetarian, kosher, gluten free, diabetic. Keuntungannya, makanan akan diberikan duluan, jadi bisa tidur duluan! Tapi kalau Anda memang nggak mau makan, tempel lah sticker do not disturb jadi nggak bakal dibangunin pas makanan datang.
  7. Pakai lah baju senyaman mungkin. Malah saya kalau terbang jauh bajunya udah hampir kayak piyama: kaos kedodoran dan celana legging/celana training dengan bahan katun. Beha pun pake yang tidak berkawat. Gimana gayanya sih terserah Anda, yang penting tidak mengganggu tidur – misalnya pake rok mini atau baju yang terlalu ketat sampai duduk aja susah.
  8. Musuh saya di pesawat adalah AC yang super dingin. Meski disediakan selimut, saya tetap pake jaket, malah yang ada hoodie-nya. Kadang ditambah dengan selendang pashmina untuk diubet-ubet ke leher dan kepala. Saya juga pasti pake kaos kaki karena tidak semua maskapai memberikan amenities.
  9. Pas kita menunggu boarding, hitung lah jumlah penumpang dan bandingkan dengan kapasitas kursi pesawat. Kalau sedikit, usahakan duluan masuk. Tek barisan tengah. Duduk di situ dulu. Supaya apa? Supaya bisa tidur selonjoran dengan ngembat 3-4 kursi yang sejajar! Begitu ada penumpangnya, segera pindah ke barisan lain. Biasanya sih di barisan belakang lebih banyak kesempatan kosongnya. Kalau keliatannya barisan tengah sudah ditempati semua, carilah di pinggir. Tidur di 2 kursi sejajar masih jauh lebih baik daripada 1 kursi.
  10. Sebelum pesawat take-off, jangan lupa berdoa. Karena kekhawatiran itu bikin nggak bisa tidur! Ada baiknya minta ampun sekalian, siapa tahu pas lagi enak tidur pesawatnya jatuh jadi nggak sempat ngapa-ngapain!
  11. Minum obat tidur. Andalan saya sih Antimo aja. Logikanya, obat ini membuat kita jadi ngantuk. Karena tidur selama perjalanan pasti tidak jadi mabuk kan? Ada sih jenis obat lain khusus bikin tidur, tapi saya udah nyoba nggak ada yang mempan. Si Yasmin malah biasanya minum obat batuk.
  12. Kalau boleh, minum alkohol. Biasanya sih minum wine yang paling bikin ngantuk. Atau ada yang kebiasaannya minum susu dulu sebelum bobo, ya minta aja sama pramugarinya. Yang jelas jangan minum kopi karena kafeinnya bikin mata malah melek, kecuali yang udah biasa.
  13. Bawa bantal leher. Udah jelas kan untuk apa?
  14. Jeblakin senderan kursi paling pol. Pada bagian kepala biasanya ada semacam bantalan. Tekuklah di ujung kanan kirinya untuk senderan kepala.
  15. Pake penutup mata (eye mask), apalagi bagi yang tidurnya harus pitch dark.
  16. Pake sumpelan kuping (earplug) supaya tidak terganggu suara. Tapi kalau biasa tidur sambil denger musik ya pake headset dan pasang lagu yang bikin tidur.
  17. Pake minyak aromatherapy, biasanya yang lavender, bergamot, chamomile. Saya sih nggak pernah pake ginian, tapi beberapa teman saya bersumpah ini berhasil membantu.
  18. Pake seat belt terus dan ikatkan di atas selimut, biar nggak dibangunin kalau ada turbulence.
  19. Singkirin majalah dari kantong kursi depan, supaya nambah ruang untuk dengkul.
  20. Kalau semuanya belum mempan juga, ya cari kegiatan yang lama-lama bikin ngantuk, misalnya nonton film sampe bego, baca buku tebal, atau kerja di laptop.

Selamat bobo!
Yang punya tambahan cara lain, silakan ditulis di comment ya?

Read more