Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.
Bukan honeymoon di Halimun

Bukan honeymoon di Halimun

Adakah tempat yang Anda merasa cinta sekaligus benci? Jakarta? Pasti! Tapi selain Jakarta, bagi saya adalah Halimun, nama kependekan dari Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) di Jawa Barat.

Dulu waktu saya SMA, di sana lah saya mengikuti pendidikan dasar kelompok Pencinta Alam. Saat itu 40 orang angkatan saya habis-habisan “dididik”. Saya menggunakan tanda kutip karena masa itu orang belum sadar akan pelanggaran hak asasi, bullying, dan lain lain. Saya dibesarkan di zaman guru yang santai memukul murid. Kalau Anda segenerasi dengan saya pasti pernah merasakan pukulan penggaris kayu panjang saat kita dianggap salah atau tidak tertib.

Tak heran pada masa itu Ospek atau semacam “pendidikan” merajalela. Anak baru benar-benar dikerjain nggak karuan. Tambah parahnya lagi pake main fisik, seperti ditendang dan digampar. Di luar Ospek, sering juga ada yang “menggencet”, terutama cewek senior ke cewek junior. Setelah naik kelas, tak heran senior jadi balas dendam ke para junior. Begitu seterusnya. Nggak ada tuh orang tua murid yang protes. Lha, pada masa itu orang tua juga santai main tangan ke anak-anaknya.

Kembali ke cerita Halimun, saya baru menyadari betapa indah alamnya setelah menjadi senior – di mana senior nggak ada kerjaan selain ngerjain junior saat pendidikan. Namanya juga cagar alam, segalanya masih asri. Lansekap yang bergunung-gunung, perkebunan teh yang luas, hutan hujan tropis, sungai berair jernih, udara yang sejuk, dan kabut yang pekat memang lebih cocok sebagai tempat honeymoon daripada Kawah Candradimuka alias “pendidikan”. Setelah dua kali saya jadi senior ngerjain junior, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana.

Setelah lulus SMA, kuliah, dan bekerja, 12 orang seangkatan Pencinta Alam saya kembali ke Halimun untuk napak tilas pada Januari 2016. Kalau dulu kami ke sana naik truk, sekarang bawa mobil pribadi (bukan punya saya sih). Dulu masuk ke Halimun lewat Parung Kuda, namun karena jalan ke arah Sukabumi yang semakin macet tidak terkendali, kami lewat Leuwiliang. Saya takjub karena sepanjang jalan sudah banyak toko, restoran, apalagi jaringan minimarket terkenal itu.

Memasuki gapura Halimun, ada beberapa plang bertanda “Tempat Latihan Brimob”. Buset, Brimob aja pendidikannya di sini. Apalagi dulu kami anak bau kencur! Kami pun terdiam sambil menengok kiri-kanan jendela mobil. Lalu satu per satu berteriak;

“Anjir, dulu kita disuruh jalan kaki hujan-hujanan bawa ransel berat sejauh ini!”

“Oh, ini kan pos yang dulu kita digamparin senior!”

“Wah ini sungai yang dulu kita diceburin lama banget sampe menggigil!”

“Nah ini lapangan yang dulu kita disuruh gampar-gamparan satu sama lain!”

“Ih, ini kan pendopo waktu kita disuruh push up berapa seri tuh!”

“Lha ini hutan yang kita lagi enak-enak tidur ditendang-tendangin senior!”

Dan semua kenangan buruk pun keluar! Betapa kami menderita fisik dan mental ikut pendidikan. Pulang-pulang berat badan kami turun sampai 3 kg dan tidur berhari-hari kemudian saking capeknya. Tapi kami tidak ada yang berani mengeluh, apalagi mengadu ke orang tua. Kelar pendidikan dasar, masih ada pendidikan-pendidikan lain ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, kami masih dihajar lagi sama senior.

Kenangan buruk itu berakhir ketika kami tiba di Halimun. Setelah sekian lama, ternyata Halimun yang terpelosok itu ada perubahannya juga. Sekarang sudah ada home stay yang bisa kami sewa untuk menginap, jadi tidak usah pasang tenda lagi. Sekarang sudah bisa pesan makanan komplit, jadi tidak usah memasak lagi pake kompor parafin. Sekarang sudah ada perkampungan, sinyal hape, listrik, TV, bahkan parabola.

Malam itu kami mengobrol panjang sampai pagi. Mulai dari kisah penderitaan saat Pendidikan Dasar sampai akhirnya kami saling mencela satu sama lain. Siangnya kami sungguh menikmati segarnya alam. Perkebunan teh beserta kabutnya masih sama indahnya, meski dinginnya berkurang. Sungai masih berair segar dan jernih. Hutan tampak tidak seseram dulu, bahkan sekarang sudah ada wisata canopy (yang sudah tutup karena rusak). Sedihnya, sampah banyak bertebaran di mana-mana.

Seharian kami napak tilas ke tempat-tempat “pembantaian”, namun kali ini kami hanya mentertawakan saja sambil foto-foto. 12 orang itu lah yang kami sebut brotherhood. Lebih dari teman, bagaikan saudara sedarah. Geng ceweknya aja masih traveling bareng saya sampai sekarang.

Jadi pertanyaannya, kenapa juga kami mau ikut kelompok Pencinta Alam? Ya pada masa itu jadi anak Pencinta Alam sangatlah keren; pakai jaket seragam petantang-petenteng di sekolah, merasa hebat karena telah menaklukkan gunung-gunung Indonesia. Sekarang siapa sih anak zaman sekarang yang mau bersusah payah pendidikan, kotor-kotoran masuk hutan, dan ngos-ngosan naik gunung? Zamannya sudah beda. Di sekolah saya itu aja paling cuman ada beberapa orang yang ikut organisasi Pencinta Alam, itu pun dengan syarat kalau ada pendidikan tidak boleh di luar Jakarta dan tidak ada kekerasan fisik. Sayangnya ada beberapa sekolah yang bahkan sudah menghapus organisasi Pencinta Alam dengan alasan tidak safety.

Bagi saya pribadi, jadi anak Pencinta Alam tetap membanggakan. Karena itu lah saya merasa pede traveling ke mana pun, terutama dalam hal survivor skill. Soal mentalitas, yang jelas lebih kuat. Setelah menempuh semua “pendidikan” yang penuh perjuangan itu, apa sih yang ditakutkan lagi?

Read more
My most favorite travel songs

My most favorite travel songs

Kita suka sebuah lagu sebenarnya karena ada kenangan yang menempel padanya. Setuju? Nah, saat traveling kita punya “lagu kebangsaan” yang terus berputar. Pas lagi traveling-nya sih nggak berasa, tapi saat balik muncul lah film flashback tentang kejadian apa saat mendengar lagu itu. Ada juga lagu yang bikin kita terinspirasi atau bahkan bikin depresi karena lirik atau suaranya.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak pakai headphone dengerin lagu di mana pun. Sebagai penulis, saya membiarkan semua panca indera terbuka jadi tidak mau mengisolasi diri dengan mendengarkan musik. Namun, di setiap perjalanan mau tidak mau pasti mendengar musik yang diputar di ruang publik. Nah, berikut ada 10 lagu favorit saya saat traveling beserta alasannya, serta video musiknya:

  1. Waiting in Vain by Bob Marley

Saya suka semua lagu Bob Marley sampai sulit memilih hanya satu. Genre reggae emang pas  diputar di pantai, apalagi lagunya Marley. Karena dialah saya sampai pergi ke rumahnya di Jamaika (baca di buku “The Naked Traveler: 1 Year Round-the-World Trip”). Mendengar kocokan awal lagu ini langsung bisa membawa saya ke pantai tropis, pasir putih, nyiur melambai, matahari terbanam di cakrawala, pria hot bertelanjang dada, sambil chill nyimeng minum bir! #eaaa

  1. It Aint Over til Its Over by Lenny Kravitz

Semua lagu Kravitz juga keren-keren. Gantengnya juga sama kayak Marley. Khusus lagu ini otomatis kepala dan badan saya pasti goyang-goyang saking beat-nya enak banget. Kalau lagi enak-enaknya traveling, kenalan sama orang yang menyenangkan, lalu terjadi kekhawatiran terhadap sesuatu, saya selalu bilang sambil nyanyi, “‘Cause baby it ain’t over ’til it’s over!”. Jadi nikmatin dulu aja apa yang ada. #modus

  1. Ants Marching by Dave Matthews Band

Dua mantan gebetan saya fans berat Dave Matthews Band, bahkan mereka bisa main gitar dan bernyanyi persis lagu ini. Sialnya saya jadi kebawa-bawa doyan lagu ini. Eh tapi liriknya bagus sih, bikin saya pengin keluar dari rutinitas karena jangan sampai kayak semut baris (ants marching) mengerjakan hal yang sama setiap hari. Lagu yang menginspirasi untuk traveling!

  1. Pure Shores by All Saints

Gara-gara film The Beach-nya Leonardo di Caprio yang saya suka banget, saya sampai bela-belain ke Pulau Phi Phi di Thailand pada 2003. Nah, soundtrack film itu adalah lagu ini! Saat saya liburan ke pantai sama sahabat-sahabat cewek saya, lagu ini pun diputar sambil berlagak bikin video klip ala All Saints. Hehe!

  1. Hey Ya! By OutKast

Mendengar lagu ini pasti bikin saya langsung joget. Ini lagu kenangan saat road trip di New Zealand bersama sahabat-sahabat saya Sri dan Jade pada 2003. Tiap kami dugem dan merajai lantai dansa dengan “Goyang nge-bor” ala pedangdut Inul tapi pake lagu Hey Ya! Sudah dipastikan kami dikelilingi orang-orang seklub yang bertepuk tangan. Rasanya jadi orang paling seksi sedunia!

  1. Guajira by Yerba Buena

Saat saya keliling dunia 1 tahun yang kebanyakan di negara Amerika Selatan, mau nggak mau jadi terekspos dengan Bahasa Spanyol beserta lagu-lagunya. Sebenarnya saat itu yang lagi ngetop adalah lagu-lagu dangdut disko Latin, namun yang nancep adalah lagu ini saat pemilik penginapan di Havana, Kuba, sering memutarnya. Dia akhirnya mengkopi lagu ini ke USB dan menjadi “lagu kebangsaan” saya dan Yasmin.

  1. Rocketeer by Far East Movement Ryan Tedder

Entah kenapa, lagu ini pas banget didengerin saat saya mau packing! Lagu yang pernah dipakai iklan salah satu maskapai penerbangan ini emang bikin saya segera terbang ke destinasi impian. Jadi semangat bongkar lemari!

  1. Closer by The Chainsmokers

Lagu sejuta umat ini nempel di kepala saat saya trip ke Eropa pada 2016 selama 1,5 bulan sendiri, saking selalu diputar di mana-mana. Rasanya bikin saya jadi cool dan pede mau kayak apapun sulitnya  ngegebet perjalanan.

  1. Home by Daughtry

Lagu ini berputar di kepala saat trip berakhir, biasanya pas di jalan mau ke bandara dengan perasaan penuh kemenangan berhasil menaklukkan suatu tempat. Sialnya harus pulang… untuk ngurus visa lagi. #hiks

  1. Chasing Pavements by Adele

Ini lagu bikin saya termehek-mehek banget! Saya selalu bernyanyi lagu ini di kepala kalo punya gebetan pas traveling sampai akhirnya kami berpisah ke destinasi masing-masing. Trus, mikir ini mau dibawa ke mana? Should I just keep chasin’ pavements, even if it leads nowhere? Anjirrr! #hakjleb

Nah, lagu favorit kalian pas traveling apa dan kenapa? Share dong di comment! ?

Read more
Iceland indah?

Iceland indah?

Pertama kali mendengar nama negara Iceland (dalam bahasa Indonesia disebut “Islandia”) ini ketika backpacking di Eropa saat masih kuliah. Saat winter, saya sedang duduk menggigil kedinginan di bandara. Pengumuman melalui pengeras suara di bandara menunjukkan kota-kota tujuan penerbangan. Tinggal saya dan seorang lelaki duduk di dekat situ. “Where are you going?” tanya saya sambil gemetaran dingin. “Iceland,” jawabnya yang membuat saya tiba-tiba merasa tambah kedinginan. “Apa tadi? I I Ice land? Ice in the land? Land of the ice?” BRRRR!!!

Dulu Iceland adalah negeri yang tidak pernah saya bayangkan bisa didatangi saking jauh dan mahalnya. Namun sejak krisis ekonomi yang melanda Iceland pada 2008, pariwisatanya mulai digalakkan. Hotel-hotel mulai dibangun, pesawat berbiaya rendah mulai diterbangkan. Alhasil yang tadinya turis asing berjumlah 80 ribu naik menjadi 4 jutaan per tahun – bandingkan dengan jumlah penduduk Iceland yang hanya 300 ribu. Lama-lama mereka pun sebel dengan turis yang kebanyakan.

Anyway, saya tidak menyangka 30 kg kemudian akhirnya sampai juga di Iceland pada Oktober 2016 bareng @RiniRaharjanti, berkat nemu budget airlines yang kami naiki dari Paris seharga 85 Euro. Kami berdua memang malas ‘belajar’ dulu tentang tempat yang akan didatangi – maksudnya biar terbuka mata dan pikiran gitu. Tapi gara-gara ini lah ‘bencana’ berdatangan.

Oktober bukan high season di Iceand, jadi kami pede aja booking hostel hanya untuk 2 malam pertama. Harganya cukup mahal untuk tinggal di dorm rame-rame, sekitar Rp 550 ribu per malam per orang per bed. Itu pun sudah dapat yang agak murah karena tidak terletak di pusat kota. Begitu masuk dan sudah terbukti kamarnya nyaman, kami langsung extend.. eh kamarnya sudah fully booked! Panik browsing ke sana ke mari nggak nemu, akhirnya kami extend di hostel yang sama dengan kamar private untuk berdua yang tentu harganya lebih mahal lagi. Sial.

Makan pertama kami cari yang murah. Si resepsionis bilang yang terdekat ada KFC. Tadaaa! Ternyata makan berdua yang paket combo standar habis sekitar Rp 350 ribu! Emang sih udah dibilangin kalo Iceland mahal, tapi nggak nyangka sampe segitu harganya. Kami langsung belanja di supermarket untuk masak sendiri supaya hemat. Tapi kalau siang lagi jalan-jalan ke mana gitu tidak sempat pulang, jadi harus cari makan siang. So far nemu makan termurah berupa nasi bungkus porsi kecil dari warung India, itu pun harganya sekitar Rp 130 ribu. Alamak!

Dengan waktu hanya seminggu di Iceland kami mengunjungi destinasi wajib turis. Di Reykjavik, kami ikut free walking tour untuk mengetahui lebih dalam tentang Iceland yang ternyata sebagian besar nenek moyangnya berasal dari Norwegia. By the way, tour guide-nya cakep lho! Orang Icelander itu emang rata-rata cakep sih, baik cowok maupun ceweknya. Bodi mereka tinggi besar. Untungnya cukup ramah. Budaya mereka sangat bebas dan tidak ada tabu untuk hal apapun, tak heran mereka kreatif. Negara sekecil itu aja menghasilkan musikus dunia macam Björk dan Sigur Rós. Instalasi seni dan mural bertebaran di penjuru kota. Negaranya pun sangat aman, kantor Perdana Menteri aja tidak berpagar dan tidak ada satpam. Fakta yang menarik, Iceland sebenarnya tidak sedingin es, suhu rata-ratanya hanya -10 sampai 10 derajat Celcius saja.

Tempat favorit saya di Reykjavik ada dua. Pertama adalah Harpa, gedung konser dan konferensi yang strukturnya terdiri dari kerangka baja yang dilapisi dengan panel kaca berbentuk geometris berwarna-warni. Desainnya keren banget dan di manapun sangat Instragamable. Kedua adalah The Icelandic Phallological Museum alias Museum Penis. Iya, segala macam penis, kebanyakan hewan, dipamerkan. Ternyata yang terkecil adalah anunya hamster dan terbesar adalah anunya blue whale. Jadi jangan berkecil hati ya, gaes! 🙂

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Semua destinasi turis di luar kota pun kami kunjungi, seperti jalur Golden Circle yang terdiri dari air terjun Gullfoss, Geysir dan Strokkur, Þingvellir National Park, danau kawah Kerið. Kami sempat juga sewa mobil sendiri dengan jalur South Coast, antara lain ke Vik, air terjun Seljalandsfoss dan Skógafoss, glacier Sólheimajökull, pantai Reynisfjara. Pengen diving di antara lempengan benua tentu batal karena nggak kuat mahalnya, nggak worth it untuk pamer foto doang.

Jalur pantai selatan lebih indah sih: pegunungan hijau berlapis-lapis seperti di film Secret Life of Walter Mitty dan pantai pasir hitam seperti adegan pembuka film Rogue One: A Star Wars Story. Nah masalahnya, kebanyakan pas saya foto pemandangan di Iceland kenapa jadi mirip dengan alam Indonesia ya? Geysir dan air terjun bentuknya sama. Danau kawah malah bagusan punya kita banget. Pantai Star Wars itu malah kayak di Jawa! Saya jadi mikir, ini saya yang dodol motretnya atau para Instagramer yang kebanyakan edit ya?

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Kalau membayangkan Iceland adalah dataran luas tanpa manusia itu tidak seluruhnya benar. Film-film tersebut lokasinya khusus dan bukan berada di jalur turis, kecuali Anda adalah Justin Bieber yang bisa syuting video musik gugulingan sendirian. Mungkin dulu pernah sepi. Tapi sekarang sih udah penuh sama turis Amerika yang super berisik dan rombongan turis Tiongkok yang mendominasi lokasi untuk foto bareng. Mau foto sendirian nggak ada orang? Kecil kemungkinan!

O ya, sebagian besar orang ingin ke Iceland karena ingin melihat langsung aurora borealis. Sebenarnya saya pernah lihat aurora di Finlandia belasan tahun yang lalu, tapi sejak adanya medsos kan mau pamer ya? Aurora hanya bisa dilihat pada musim winter, katanya antara Oktober sampai April – kalau beruntung. Setiap hari kami booking tur liat aurora, tapi setiap sore semua tur selalu dibatalkan karena langit berawan. Padahal kata temen sehostel, dua hari sebelum kami tiba ada aurora terang banget di halaman hostel. Kecewa? Biasa aja sih. Aurora itu ada di negara-negara lain juga kok.

Hari terakhir kami berencana untuk kungkum di Blue Lagoon, kolam hotspring yang sangat terkenal itu. Eh kata teman sehostel kalau ke sana nggak bisa go show tapi harus booking dulu online. Hah? Dodolnya kami! Saya pun tanya ke resepsionis karena mereka menjual segala macam tiket. Ternyata semua jam penuh, kecuali slot yang jam 9 malam – itu pun tutupnya jam 10 malam! Dan di sana, ya ampun, udah kayak cendol! Mana malam itu angin berhembus sangat kencang sehingga air di kolam berombak. Kami bak manusia perahu yang kecebur di kegelapan dan dihajar banjir air bah! Pulangnya kami berjalan kaki ke mobil sampai merangkak-rangkak karena dihajar angin kencang. Lebih ngeri lagi, mobil kami bisa bergoyang-goyang sendiri bahkan mengsle kena angin! Hiyy!

Intinya: Iceland tidak se-wow yang saya kira. Kalau sudah pernah ke New Zealand dan Chile, rasanya Iceland jadi biasa saja. Jangan salah, Iceland tidak bisa dibilang jelek, ia tetap indah dan spektakuler. Hanya saja saya pernah melihat yang lebih indah lagi. Atau mungkin saya kurang lama dan kurang jauh. Pada akhirnya, pergi ke Iceland justru membuat saya makin cinta Indonesia.

Read more
Disabled Traveler

Disabled Traveler

Tak pernah menduga saya bisa menulis tentang pengalaman pribadi menjadi seorang yang disabled alias penyandang cacat. Istilah sopannya zaman sekarang disebut “difabel” yang berarti kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya. Nggak, saya nggak gila, tapi saya pernah cacat fisik selama lebih dari sebulan. Nggak parah, tapi lumayan mengganggu.

Pada Juni 2017, lutut kiri saya terasa ngilu luar biasa, terutama saat berjalan. Berhubung akan trip ke Kazakhstan, maka saya pergi ke dokter speasialis ortopedi. Setelah diperiksa, cek MRI dan X-Ray, hasilnya sungguh tidak menggembirakan: meniskus (bantalan antara sendi lutut) robek, terdapat cairan sehingga lutut bengkak, tulang memar, dan osteoartritis (pengapuran). Karena apa? Kombinasi antara cedera olah raga, overuse (kebanyakan dipake) dan obesitas! Dokter cuman kasih obat anti nyeri sementara. Cara penyembuhannya adalah istirahat, mengurangi pergerakan, dan menurunkan berat badan. Lha, gimana? Profesi saya kan tukang jalan-jalan! Saya pun disuruh berjalan pake tongkat agar mengurangi beban pada lutut kiri. Anjir, gue kayak nenek-nenek jompo!

Singkat cerita, berangkatlah saya ke Kazakhstan dengan muka meringis karena menahan ngilu. Saya baru sadar bahwa kecepatan jalan kaki saya dengan menggunakan tongkat melambat 50%. Saya frustasi sendiri karena saya yang biasanya aktif bet-bet-bet jadi selow banget. Pekerjaan saya literally and figuratively modal dengkul, namun dengkul saya menyerah. Aaaarrgh!

Kazakhstan ternyata bukan negara yang disabled friendly. Di Almaty, hampir semua hotel pasti bertangga untuk naik ke lobi. Saya memang sengaja bawa koper beroda supaya tidak tambah beban, tapi gimana bawanya kalau naik/turun tangga? Naik tangga adalah siksaan, tapi ternyata turun tangga lebih ngilu lagi. Di Metro (kereta bawah tanah) ada tangga jalan, tapi masuk ke dalam stasiun tetap ada tangga dan tidak ada ada lift. Jalan-jalan di kota masih mending, tapi begitu di alam fasilitas difabel tidak ada. Parahnya lagi, toilet umum di luar kota harus jongkok! Wadawww!

Saya extend ke Astana yang merupakan ibu kota modern, tapi tidak lebih baik. Saya meminta tolong teman orang Kazakh untuk menelepon hostel agar saya tidur pada lower bunk bed (ranjang bawah) jadi nggak harus manjat. Eh nggak taunya hostel terletak di lantai dua tanpa lift! Saya terpaksa hanya keluar hostel sekali, dari pagi pulang malam dan nggak keluar lagi.

Yang saya senang di Kazakhstan adalah malnya karena lift yang tersedia khusus untuk difabel. Kalau orang normal masuk, akan dipelototi orang. Namun di bandara saya dicurigai. Tongkat harus masuk X-Ray terpisah dan saya pun disuruh body check di dalam ruangan khusus. Untuk memastikan bahwa saya memang sakit kakinya, eh saya disuruh buka celana! Si mbak petugas malah mencet-mencet lutut saya. Aduh, mbak!

Pulang ke Jakarta, lutut saya belum sembuh jadi ke mana-mana masih pake tongkat. Saya baru memperhatikan bahwa permukaan jalan di Jakarta banyak yang tidak rata, bahkan di dalam rumah sekalipun. Ada anak tangga ada di hampir semua gedung, baik mal, kantor, restoran. Yang paling bahaya adalah ketika berada di keramaian. Jalan di tempat ramai, orang asyik aja mepet sampai tongkat saya jatuh. Lift mal dipenuhi oleh orang normal, padahal selalu ada escalator. Ketika saya naik bus umum, orang tidak memberikan tempat duduk. Keluar bus, ada gap besar antara lantai bus dan halte. Dan yang paling sulit adalah menyebrang jalan! Baru juga beberapa langkah, mobil dan motor tidak ada yang memperlambat kecepatan! Was-wus aja sampe saya stuck di tengah jalan dan ditolong tukang parkir.

Seminggu kemudian, saya diundang ke Inggris. Ada 10 orang media dari 10 negara yang ikut, dengan tema adventure yang membutuhkan banyak aktivitas fisik. Waktu saya konfimasi, saya pikir saya bakal normal kembali. Ternyata tidak. Saya merasa gagal merepresentasikan Indonesia! But the show must go on. Saya pun ke dokter gizi untuk konsultasi menurunkan berat badan dan ke dokter rehabilitasi medik untuk diajarkan cara berjalan agar mengurangi rasa sakit. Dengan tongkat keparat saya tetap berangkat. Untunglah saya masih dikasihani Tuhan. Dalam rombongan itu ternyata ada 4 orang tua, dan salah satunya juga sakit lutut! Jadilah itinerary dibuat 2 versi; aktivitas fisik untuk anak muda dan jalan-jalan untuk orang tua, contohnya yang muda surfing, yang tua ke kastil.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Inggris sebagai negara maju hampir selalu menyediakan fasilitas untuk difabel. Warganya pun sudah biasa memprioritaskan difabel, ada aja orang yang menolong saya. Setiap ada anak tangga, ada pilihan permukaan rata. Hotel kecil di pelosok sekalipun ada lift, tersedia kamar khusus difabel dengan kamar mandi yang banyak pegangan dan tidak harus memanjat bathtub. Hanya sekali saya naik-turun tangga, yaitu ketika saya extend ke Belfast dan naik pesawat berbiaya rendah. Dasar murah, tidak ada belalai dari pintu bandara ke pintu pesawat – ya, nasib!

Eh, ada satu hal lagi yang bikin down dengan ‘kecacatan’ saya. Ternyata saya jadi nggak pede gebet laki! *tutup muka*

Read more
Wales, the Epic Land! (2)

Wales, the Epic Land! (2)

Ini adalah bagian kedua tentang jalan-jalan di Wales, setelah sebelumnya dibahas di sini.

Epic Town

Caernarfon – kota kecil yang menawan karena dikelilingi oleh tembok kuno yang dibangun pada abad ke-13 dengan kastil yang dibangun oleh Raja Edward I yang besar menjulang. Kota dan kastil Caernarfon termasuk ke dalam situ warisan UNESCO karena masih terpelihara dengan baik seperti aslinya. Nongkrong sambil minum bir di pub samping Selat Menai sambil dengerin Welsh folk music serasa kembali ke zaman Robin Hood!

Portmeirion – terkenal karena merupakan tempat syuting film seri The Prisoner pada 1960an. Arsiteknya adalah Sir Clough Williams-Ellis, seorang yang cukup ‘gila’ untuk membuat desa bergaya Italia selama kurun waktu 50 tahun (1925-1975). Jadi ada kastil, berbagai bangunan Mediterania bercat pastel warna-warni, patung dan air mancur, sampai gereja berkubah. Terletak di pinggir Sungai Dwyryd dengan latar belakangan pegunungan Snowdonia, Portmeirion ini sebenarnya bukan desa karena tidak ada penduduknya, namun telah diubah menjadi resort bintang lima. Selebritas yang pernah tinggal di sana antara lain Ingrid Bergman dan Paul McCartney.

 

Llandudno – karena kota ini terletak di pinggir pantai, Llandudno jadi kota favorit saya. Tapi yang bikin bagus sih arsitektur bangunannya yang bergaya Victoria (abad ke-19) sehingga tampak elegan. Tak heran Llandudno terpilih sebagai the third best tourism destination in the UK by TripAdvisor, setelah London and Edinburgh. Kerennya lagi, kita bisa mengikuti jejak Alice in Wonderland di mana Alice aslinya (Alice Liddell) pernah tinggal di Llandudno pada 1860-an.

Epic Landscape

Menai Strait – selat ini memisahkan antara Pulau Anglesey dan Pulau Wales. Dengan naik speed boat keliling-keliling selat ini, kita disuguhkan pemandangan tebing-tebing Anglesey, desa-desa cantik, jembatan-jembatan berusia ratusan tahun, dan gereja tua. Pemandangan di daratnya pun indah; serba hijau dengan sapi-sapi gemuk makan rumput.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Snowdonia – daerah pegunungan ini dinamai demikian mengikuti nama gunung tertinggi di Wales, Mount Snowdon, dengan ketinggian 1.085 mdpl. Saking cantiknya, Snowdonia adalah lokasi syuting film King Arthur: Legend of the Sword! Biasanya orang ke sana untuk hiking, tapi ada cara yang jauh lebih gampang dan nggak pake ngos-ngosan, yaitu naik kereta Ffestiniog dari Porthmadog ke Caernarfon. Ffestiniog adalah perusahaan rel kereta tertua di dunia yang berdiri sejak 1832. Uniknya lagi, kereta ini adalah kereta uap tua, jadi melintasi pegunungan hijau di sana jadi berasa pergi ke Hogwarts!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on


Epic Language

Di Wales, bahasa resminya ada dua, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Welsh. Jadi rambu lalu lintas, menu, dan informasi apapun dalam dua bahasa. Orang Welsh yang berbahasa Welsh kebanyakan di utara Wales. Bahasa Welsh beda banget dengan bahasa Inggris! Misalnya, “Good afternoon! How are you? Good bye!” bahasa Welsh-nya adalah “Prynhawn da! Sut ydych chi? Hwyl fawr! Bila Anda merasa bahasa Welsh kebanyakan huruf konsonan daripada vokal, itu karena huruf ‘w’ dan ‘y’ dianggap huruf vokal.

Epic-nya adalah saya mengunjungi sebuah kota bernama Llanfairpwllgwyngyllgogerychwyrndrobwllllantysiliogogogoch. Buset! Nama satu kata dengan 58 huruf ini merupakan nama tempat terpanjang kedua di dunia (yang pertama ada di Selandia Baru dengan 92 huruf dalam bahasa Maori). Artinya dalam bahasa Inggris adalah, “Saint Mary’s Church in the Hollow of the White Hazel near a Rapid Whirlpool and the Church of St. Tysilio near the Red Cave“. Begitu memasuki kotanya, ada sebuah toko dealer mobil mewah, eh sepanjang tembok bangunannya adalah nama kota itu. Supaya gampang foto-foto selfie, saya ke stasiun keretanya. Eh bener lho, namanya sepanjang bangunan! Buset, ngabis-ngabisin dana percetakan ya? Hehe! Ada fakta menarik lagi, aktris Naomi Watts masa kecilnya pernah tinggal di sana.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Also Epic

Smallest house in Britain – terletak di kota Conwy, rumah terkecil se-Inggris ini ukuran lantainya 3,05 x 1,8 meter dengan dua lantai, yang bawah untuk ruang tamu dan perapian, yang atas untuk tempat tidur. Dibangun pada abad ke-16, rumah ini dihuni oleh seorang nelayan dengan 6 orang anggota keluarga. Pada abad ke-19, pemerintah setempat menutup rumah ini karena dianggap tidak manusiawi untuk dihuni sehingga akhirnya dijadikan destinasi wisata. Eng, bukannya banyak ya rumah kecil di Indonesia? *tutup muka*

World’s Best Beach Bar – namanya Ty Coch Inn, letaknya di desa Porthdinllaen di pantai pasir putih yang cantik. Bar ini terpilih menjadi salah satu dari 10 beach bar terbaik di dunia berdasarkan survei. Apa dong istimewanya? Ia terletak di pantai yang tidak bisa dilalui kendaraan, jadi pengunjung harus parkir di atas tebing lalu jalan kaki sekitar 20 menit untuk sampai ke bar yang hanya ada satu-satunya di pantai itu. Minumannya adalah bir Welsh Ale. Ah, segar!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Epic Tips

  • Untuk traveling di utara Wales, paling efektif terbang dari Jakarta (CGK) ke Manchester (MAN) via Dubai (DXB). Dari Manchester ke Llandudno di Wales hanya ditempuh sekitar 1,5 jam berkendara.
  • Visa UK bikinnya di VFS. Syaratnya gampang, cuman ikutin 3 langkah ini. Jangan khawatir, paspor Indonesia itu termasuk tinggi tingkat keberhasilan dapat visa UK lho!
    Karena waktu itu butuh buru-buru, saya ambil jasa Priority Visa yang ternyata 2 hari kerja udah kelar. Saya juga ambil jasa VIP Premium Lounge di VFS Kuningan City biar nggak pake ngantri, bisa nunggu sambil ngopi, dan ada yang bantuin, termasuk jasa SMS untuk mengetahui status.

VIP Premium Lounge di VFS Kuningan City

Read more