Hijaunya Pabrik Semen

Hijaunya Pabrik Semen

Undangan menjadi pembicara tentang #MembangunKebaikan Melalui Media Sosial yang diselenggarakan di kampus UISI (Universitas Internasional Semen Indonesia) pada 11 April 2019 membuat saya menjejakkan kaki di Gresik untuk pertama kalinya. Wah, kampus ini keren banget karena gedungnya menempati bekas pabrik semen! Interiornya sangat Instagramable, terutama perpustakaannya yang kece (apalagi punya buku seri “The Naked Traveler”)! Setelah berkeliling saya tambah penasaran dan minta diajak jalan-jalan ke pabrik benerannya.

Salah satu sudut kampus UISI

Gresik terkenal karena merupakan tempat pabrik semen pertama milik bangsa Indonesia sejak 1957 dan cikal bakal perusahaan semen terbesar di Indonesia. Selama ini saya tahunya “Semen Gresik”, namun ternyata sejak 2013 perusahaannya sudah berganti nama menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Anak perusahaannya antara lain Semen Padang, Semen Tonasa, Thang Long Cement Vietnam dan Solusi Bangun Indonesia (eks Holcim). Perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) ini kantor pusatnya memang di Gresik, tapi ternyata pabrik terbesarnya berlokasi di Tuban.

Saya juga baru tahu bahwa untuk membuat semen itu diperlukan bahan utama berupa batu kapur dan tanah liat. Kedua bahan tersebut diperoleh dari penambangan sumber daya alam. Penyatuan kedua bahan ini dilakukan di pabrik, makanya kedua tambang harus berada dekat satu sama lain. Sebagian dari Gresik yang hijau itu ternyata justru bekas tambang semen. Karena sudah non aktif, maka tambangnya pindah ke Tuban yang berjarak 2,5 jam berkendara dari Gresik.

Saya pun diajak jalan-jalan ke Arboretum (kebun botani) Bukit Daun. Disebut demikian karena kalau dilihat dari atas bentuknya seperti selembar daun. Kebun hijau yang asri seluas satu hektar ini berisi tanaman-tanaman langka, seperti pohon kurma, kawista, damar, gaharu, dan ulin. Di depannya terdapat Arboretum Bukit Herbal yang berisi koleksi tanaman obat, seperti merica, bawang dayak, lengkuas, jahe merah, kunir putih, dan kunir kuning. Ada juga Kebun Pangkas berupa pepohonan kayu putih. Angin sepoi-sepoi dan suara aneka burung liar menambah kenyamanan leyeh-leyeh di kebun.

“Dari 752 hektar keseluruhan lahan tambang, ada 200 hektar yang sudah direklamasi. Sisanya belum karena memang masih berfungsi jadi tambang kapur”, terang Pak Eko Purnomo, Kepala Seksi Reklamasi Lahan Pabrik Tuban. Praktik penambangan ramah lingkungan inilah yang ingin ditunjukkan Semen Indonesia kepada masyarakat umum.

Setiap sore taman tersebut ramai dikunjungi penduduk sekitar, mulai dari rombongan ibu-ibu yang doyan selfie sampai anak muda yang pacaran. Kadang datang juga rombongan anak sekolah yang belajar alam. Semuanya gratis masuk dengan jam buka pukul 15.00-17.00 pada Senin-Jumat dan pukul 08.00-17.00 pada Sabtu dan Minggu. Papan informasi tentang tanaman dan pentingnya penghijauan terpampang jelas sehingga semua orang dapat pengetahuan baru.

Dari Arboretum yang terletak di atas bukit tersebut terlihat dari kejauhan lahan berwarna putih bak pasir pantai. Ternyata itu lah tambang kapurnya (foto paling atas). Di sekelilingnya ditumbuhi hutan hijau yang menutupi lahan pabrik dan tambang. Pipa untuk mengangkut hasil tambang dan pabrik penghancur kapur hampir tidak terlihat karena tertutup pepohonan. Suaranya pun tidak berisik.

Nampang dulu ah di Arboretum 🙂

Pabrik identik dengan keluarnya debu dari cerobong raksasa, namun saya sama sekali tidak melihat ada debu sama sekali yang keluar dari pabrik Semen Indonesia di Tuban ini! “Kalau ada debu berarti ada yang ndak bener itu dan harus diperbaiki,” terang Pak Eko lagi.

Pabrik dikelilingi hutan

Tak jauh dari sana, saya diajak ke lahan penambangan tanah liat. Bayangan saya bakal kayak di kolam kotor berlumpur, nggak tahunya sangat hijau dan rapi! Jalan masuknya aja sangat rindang karena ditumbuhi pohon trembesi yang tinggi besar. Sore itu terlihat banyak pemuda lokal sedang memancing di kolam-kolam sekitar. Ternyata kolam-kolam itulah bekas tambang tanah liat!

Melimpahnya ikan di kolam menandakan bekas tambang sangatlah aman. Bekas tambang ini dalamnya sekitar 4-6 meter, airnya didapat murni dari air hujan. Air itu pulalah yang dibuat irigasi untuk mengairi persawahan sekitar. Tadinya sawah panen hanya sekali setahun jadi bisa tiga kali setahun berkat aliran air dari embung. Selain itu terdapat juga kebun bibit dan peternakan yang nantinya akan dikembangkan menjadi lahan edu-wisata.  

Kunjungan ke lahan pabrik dan tambang Semen Indonesia di Tuban hari itu sungguh menambah wawasan dan pengetahuan saya. Cocok deh dengan prinsipnya #MembangunKekuatan #MemajukanIndonesia. Salut!

3 Comments

  • Nasirullah Sitam
    April 14, 2019 12:43 am

    Menarik ini. Kolam bekas tambang bisa jernih dan mengaliri sawah di sekitarnya. Tentu semuanya sudah dikonsep sejak awal.

  • @nurulrahma
    April 15, 2019 7:41 am

    Wohoo, aku aja yg arek Suroboyo belum pernah ke situ lho Mba 😀
    Semoga setelah ini bakal ada kesempatan buat blogger Jatim main2 ke SG di Tuban.

  • Dhany@inReview.id
    April 15, 2019 7:55 pm

    Kalo beton sama ijo-ijo diseimbangkan bisa jadi asyik juga ya tempatnya. Sehat alamnya sehat orangnya.

Leave a Reply

Leave a Reply