Jadi Delegasi Konferensi Adventure Dunia

Jadi Delegasi Konferensi Adventure Dunia

Dua tahun yang lalu dari hasil browsing di internet, saya menemukan sebuah organisasi bernama ATTA (Adventure Travel Trade Association). Asosiasi yang berbasis di Amerika Serikat dan beranggotakan 100 negara ini adalah kumpulan travel agent, tour operator, akomodasi, dan tourism board yang khusus bergerak di bidang adventure tourism. Susah menerjemahkannya, namun artinya kira-kira jenis pariwisata yang mengandalkan aktivitas fisik di alam bebas dengan memberdayakan sumber lokal. Jadi bukannya jalan-jalan shopping di kota atau leyeh-leyeh di pantai, melainkan melakukan aktivitas seperti white water rafting, hiking, mountain climbing. Tujuan asosiasi ini selain networking, juga edukasi, advokasi, konservasi, dan promosi agar tercipta pariwisata yang bertanggung jawab dan berkesinambungan. Sebagai pecinta alam, asosiasi ini “gue banget” kan?

Shannon Stowell , CEO ATTA (ketiga dari kanan) bersama para pejabat India

Setiap tahun ATTA mengadakan berbagai kegiatan seperti trade fair, konferensi, dan pelatihan yang selalu pindah-pindah di berbagai belahan dunia. Tentunya selalu di tempat-tempat non mainstream, seperti di Patagonia (Chile), Banff (Kanada), Pantanal (Brasil). Setiap kegiatan mereka selalu membuka lowongan bagi buyer, supplier, dan media untuk berpartisipasi. Bila aplikasi diterima, mereka akan menanggung semua biaya. Saya langsung ngiler dong! Maka setiap kali mereka buka aplikasi, saya selalu melamar sebagai media. Lamaran ini cukup ribet karena kita harus bisa menjual diri sedemikian rupa dan meyakinkan panitia apa yang akan kita kontribusikan. Dan selama dua tahun itu pula saya ditolak! Hiks.

Sampai akhirnya untuk acara AdventureNEXT di Bhopal, India, pada 3-5 Desember 2018 aplikasi saya diterima! Hore! Tanpa ba-bi-bu saya terima tawaran itu. Yang bikin tambah penasaran adalah konferensinya diadakan di Bhopal. Jika Anda seangkatan sama saya, nama “Bhopal” akan terdengar menyeramkan. Pada 1984 di Bhopal terjadi tragedi ledakan gas dahsyat dari sebuah pabrik pestisida yang menewaskan ribuan jiwa dan meracuni ratusan ribu korban lainnya. Bagaimana kota itu sekarang?

Konferensi selama tiga hari itu dibarengi dengan fam trip sebelum Hari-H yang dapat kami pilih dari 9 jenis trip yang disebut pre-adventure. Karena host-nya adalah Madhya Pradesh Tourism maka trip diadakan di sekitar provinsi itu. Saya memilih trip “Central India Wildlife Safari” karena tingkat kesulitannya paling rendah (1 dari 5) – maklum saya kan newbie. Setelah segalanya fix, eh nggak taunya datang lagi tawaran trip post-adventure ke provinsi lain di India. Saya memilih yang belum pernah yaitu “Walking Holiday in the Himalayas – Kullu Valley” di provinsi Himachal Pradesh dengan tingkat kesulitan terendah juga (2 dari 5). Meski kelihatannya mudah, tapi sungguh saya jiper dengan trip Himalaya ini!

Semua urusan per-booking-an dilakukan via email dari pengurus ATTA di Amerika dengan mengisi formulir online. Briefing sebelum keberangkatan dilakukan melalui webinar. Kami juga wajib mengunduh mobile app ATTA untuk mengetahui segala macam jadwal, lokasi, peta, serta nama setiap delegasi yang mana kita bisa saling mengirim chat. Setiap delegasi yang ingin meeting dengan calon rekanan bisnisnya harus mendaftarkan slot di Marketplace. Canggih deh pokoknya! Saya jadi ngintip siapa saja delegasi yang akan hadir. Wah, rupanya saya satu-satunya dari Indonesia!

MarketPlace

Singkat cerita, setelah pre-adventure berjalan dengan sukses, seluruh delegasi akhirnya berkumpul di Bhopal. Ternyata kotanya cantik dan hijau karena terletak di pinggir danau dan ditumbuhi banyak pepohonan – berbeda dengan kota-kota besar di India lainnya. Seluruh media menginap di Noor-Us-Sabah Palace, sementara acara konferensi diadakan di Minto Hall. Panitia telah menyiapkan shuttle bus dari hotel ke tempat acara yang berjarak sekitar 20 menit saja. Hari pertama kami disiapkan city tour Bhopal, namun saya skip karena terlalu lelah. Sorenya acara pembukaan diadakan di Tribal Museum sambil dihibur dengan tari-tarian tradisional India.

Tarian khas Madhya Pradesh

Selama dua hari penuh konferensi berlangsung. Sebagai media, saya wajib menghadiri press conference dan media peer-to-peer exchange, sisanya terserah memilih ikut acara apa. Di saat ini lah para buyer (travel agent luar negeri) bertransaksi bisnis dengan para supplier (tour operator lokal) di Marketplace – semacam trade fair yang dilakukan di puluhan meja dan terbatas 15 menit per pertemuan. Acara lain adalah berbagai seminar dan workshop keren oleh para ahli di bidangnya. Saya ikut beberapa di antaranya, seperti Defining Yourself: Branding in the Experience Age, Workshop: The Fine Art of Travel Photography, The Economic of Wildlife Tourism in India, dan The Keys to Digital Marketing Success. Di antaranya tentu ada coffee break dan makan siang, lalu diakhiri dengan makan malam sambil mimi-mimi alkohol.

Saya banyak mendapat pelajaran berharga dari event ini. Pertama, sungguh menyenangkan bertemu dengan like-minded people atau orang-orang yang memiliki gagasan, pendapat, dan minat yang sama. Semua sudah pernah ke puluhan negara, semua suka adventure, dan kalo ngobrol sangat nyambung. Awalnya memang saya agak kikuk tiba-tiba diceburkan ke kumpulan orang asing yang tidak kenal dan harus mingle sana-sini, tapi lama-lama langsung kompak gitu aja. Saya aja jadi belajar dari mereka, mulai dari soal industri pariwisata, cara membangun bisnis, sampai survival tips. Saya yang selalu menganggap diri “wis tuwek” jadi malu sendiri melihat mereka yang meski manula namun adventure tetap jalan terus!

ATTA members and Kanha Earth Lodge staffs

Kedua, India sangat maju dalam adventure tourism dibandingkan Indonesia. Pariwisata India tidak semata mengandalkan cultural tourism yang menjual budaya, bangunan bersejarah, atau tempat suci, tapi sudah bergerak ke arah aktivitas adventure di alam bebas seperti mountain biking, skiing, paragliding, wildlife safari, dan motorcycle tour. Bahkan ada organisasi khususnya yaitu ATOAI (Adventure Tour Operators Assosication of India) yang membantu anggotanya beroperasi di 7 benua dunia dan bermisi menjadikan India sebagai destinasi adventure terbesar di dunia yang bisa dilakukan 365 hari setahun. Hebat kan?

Kebayang tuh orang Eropa dan Amerika yang “alam banget” pasti doyan banget berwisata adventure. Pengeluaran mereka tentu lebih banyak daripada turis biasa karena harus modal membayar tour operator yang spesifik mengorganisasikan aktivitas alam. Mengapa Indonesia belum mengambil segmen ini ya? Padahal Indonesia kurang adventure apa coba?

15 Comments

  • firafirdaus
    February 11, 2019 12:09 pm

    Kurang inisiatif dari pemerintah lokal terutama yang membawahi pariwisata kak. Di provinsiku (Bengkulu) mungkin salah satu contoh provinsi yang punya banyak lokasi buat adventure tourism, terutama buat olahraga air. Tapi yah gitu info nggak jelas, pamflet jelek, ga ada niat buat promosiin. Baru beberapa tahun ini mereka gencar bikin lomba kayak marathon dan triathlon, tapi ya masih banyak potensi event yang dibiarin aja

  • firafirdaus
    February 11, 2019 12:11 pm

    Oh iya kak, untuk blog ini nggak ada fitur subscribe gitu biar dapat update otomatis ke email? Langganan newsletter gitu

  • mayarumi
    February 11, 2019 5:29 pm

    keren banget mbak acaranya, sayang yah dari indonesia nggak ada perwakilan untuk travel agent, tour operator, akomodasi, dan tourism board, apa nggak ada yang tahu kalau ada konferensi adventure dunia seperti ini yah ?!

  • Andrew
    February 13, 2019 9:55 am

    Kirain India cuma punya kuil, tempat suci dan ziarah … tak taunya… jauh ketikung kita ya. Jadi ingat cerita TNT yg special tour khusus melewati (bukan berkunjung) rumah Amitabh Bachaan…yang super norak abis.

  • SARIF HIDAYAT
    February 16, 2019 12:56 pm

    Keren sekali mbk, satu-satunya perwakilan dari Indonesia 🙂 semoga dapat memberikan ide inovatif untuk pariwisata alam di Indonesia~

  • SriAyu
    February 17, 2019 3:48 pm

    Trinity, mulai jadilah dirimu sebagai pionir pariwisata jenis ini.
    Ilmunya sudah punya.
    Pengikut banyak.
    Apa lagi?
    Kalau tak dimulai sekarang, kapan lagi?

  • Mutiara Peqer
    February 18, 2019 11:33 am

    kapan ya aku bisa traveler?

    • Sari
      February 19, 2019 11:59 pm

      Travelling maksudnya ?

      • Adeuy
        February 28, 2019 9:44 pm

        Traveller itu orang yang travelling kan?

  • Backpacker bau
    February 18, 2019 10:14 pm

    Kaya nya pemerintah harus belajar sama Kaka nih, yang udah terjun langsung. Kereeeennn

  • andi
    February 24, 2019 10:25 am

    saya taunya india ya film bollywood, hiks!

  • Memez
    March 5, 2019 6:53 pm

    Selalu dapat pencerahan kalau mampir di sini. Keren dan beruntung banget Mba T bisa ikut acara seperti ini… sehat selalu yaaa

  • Ririn Wandes
    March 8, 2019 6:28 am

    Wow, seru sekali yah kakak. Aku terinspirasi sekali dengan kakak ini biar suatu hari bisa juga kece di dunia travelling.

  • babyangles
    March 12, 2019 12:35 pm

    mbak, bukunya yang baru udah nyampe ambon belom ya????

  • Trackback: Hampir Semaput di Himalaya – The Naked Traveler

Leave a Reply

Leave a Reply