The Naked Traveler

Starving in Bali

by Retno Ika Putri*

Karena suntuk dengan pekerjaan, saya memutuskan untuk berlibur ke Bali bersama seorang teman. Dialah yang bertugas memesan hotel langganan di Legian. Petugas reservasi memberitahu bahwa kami akan melewati Nyepi di sana. Nyepi di Bali? Pasti seru, pikir saya. Bandara Ngurah Rai saja ditutup pada saat Nyepi dan kita tidak diperbolehkan melakukan aktifitas apapun di luar lingkungan hotel. Dari hasil browsing para turis disarankan untuk membeli makanan dan minuman untuk persediaan sehari sebelumnya untuk jaga–jaga kalau kelaparan karena semua toko, café ataupun restoran akan tutup. Tapi saya tidak begitu memperdulikan hal tersebut. Lah, kan ada room service. Kenapa harus dibikin pusing?

Kami pun berangkat dari Pekanbaru, transit di Jakarta, dan tibalah kami di Ngurah Rai beberapa menit sebelum tengah malam sebelum Nyepi dimulai. Pagi harinya kami mulai dengan breakfast di coffee shop. Belum ada sesuatu yang signifikan yang menandakan kalau hari itu adalah Nyepi. Hanya saja sewaktu breakfast kami diinformasikan bahwa nanti malam pihak hotel akan menyediakan dinner untuk semua tamu di coffee shop yang sama. Pelayanan yang bagus pikir saya. Ya iyalah, kalau tidak tamu mau makan di mana.

Hotel tempat kami menginap terletak persis di depan pantai. Biasanya dari pagi sudah terlihat lautan bule berjemur, tapi kali ini mereka semua hijrah ke halaman depan hotel. Wah, Nyepi sudah dimulai. Karena nggak ada kerjaan, saya dan teman pun ikutan sunbathing kayak bule. Terus terang ini pengalaman pertama saya berjemur langsung di bawah panas matahari terik, biasanya saya lebih memilih tiduran di bawah payung. Sambil membaca saya pun mulai  ‘membakar’ kulit saya. Heran juga kok bule–bule itu seneng banget jemuran sampai gosong. Tapi sepertinya kami terlalu lama berjemur, alhasil kulit jadi bener–bener gosong (dan membekas sampai setahun!).

Tak sadar haripun sudah petang dan kami kembali ke kamar untuk mandi dan istirahat sejenak. Maksudnya sejenak, kami ketiduran sampai pukul 8 malam. Buru-buru kami pergi ke coffee shop yang telah diinformasikan tadi pagi. Perut kami sudah protes berat secara kami belum makan apapun sejak breakfast tadi pagi pukul 10.30 yang kami anggap brunch. Alangkah kagetnya kami pada saat kami turun ke bawah, suasana benar–benar gelap gulita, tanpa listrik dan hanya diterangi lilin. Nggak nyangka, ternyata Nyepi itu benar-benar sepi! Setibanya di coffee shop, eh kok sepi? Karyawannya aja udah beres–beres. Teman bertanya kepada salah seorang karyawan dan jawabannya, “Iya, bu, sudah beres dari tadi, dinner kan pukul 18.00–20.00. Apakah ibu sudah reserve tadi?”. Hah? Reserve? “Karena kami hanya menyediakan makanan sesuai dengan reservasi”, tambahnya. Lah, perasaan tadi pagi kami tidak mendapat informasi seperti itu.

Kami pun kembali ke kamar dengan perut yang luar biasa lapar campur emosi. “Kita pesen room service aja”, usul teman saya. What a brilliant idea, pikir saya. Tak lama kemudian dengan wajah kuyu teman saya berkata, “Mampus kita! Nggak ada room service! Kita nggak makan dong hari ini?”. Ternyata room service is not available during Nyepi. Langsung terlintas penyesalan dalam diri saya, coba kalo saya tidak menggampangkan informasi yang saya dapat dari internet waktu itu, pasti nggak akan kelaparan kayak sekarang. Saya dan teman terduduk lemas, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi dipikir-pikir, gimana chef-nya bisa masak kalo gelap gulita begini ya?

Saya membongkar-bongkar tas barangkali ada sesuatu yang bisa dimakan. Eh malah ketemu sebotol wine. Rencananya saya bawa wine untuk surprise party dalam rangka merayakan ulang tahun teman saya itu pada hari terakhir liburan kami. Tapi apa boleh buat, rencana itu gagal. Kami pergi ke coffee shop yang gelap gulita tadi dan ‘membalas amarah’ kami kepada wine. Gluk gluk gluk… hajjaaarr! Tak berapa lama kepala rasanya pusing berat. Bagaimana tidak, perut kosong lalu dihajar alkohol sehingga tak perlu waktu lama untuk bereaksi.

Tiba-tiba ide gila pun mulai keluar dari otak saya. Kebetulan hotel tersebut punya dua kolam renang yang dibuat agak tinggi jadi bisa melihat view pantai. Begitu saya menunjuk ke arah itu tanpa harus berkata apapun, teman saya langsung mengangguk tanda setuju. Kami mengendap–endap naik ke atas, takut ketahuan satpam hotel. Setelah memastikan situasi aman, kami membuka pakaian sampai maaf, telanjang. Kami pun berenang telanjang di bawah cahaya bintang sambil cekikikan. Pengaruh alkohol membuat kami tak berpikir panjang lagi.

Puas berenang, tiba-tiba kami mendengar sesuatu. Seperti ada seseorang yang datang. Kami buru-buru naik, pakai baju dan siap kabur. Sekilas terlihat seorang cowok bule berbadan sangat besar. Entah dia menyadari keberadaan kami atau tidak, karena memang malam itu sangat gelap, dia membuka pakaian dan juga berenang telanjang. Kami cekikikan menahan tawa, ternyata bukan kami saja yang bandel malam itu. “Atau jangan–jangan dia juga kelaparan”, kata teman saya. Dan kamipun tak bisa menahan tawa lagi sambil bersusah payah kembali ke kamar.

Keesokan paginya, kami berdua terbangun tepat pukul 6.30 saking laparnya. Tanpa ba-bi-bu, kami langsung berlari ke coffee shop takut kehabisan makanan. Dan kalian tahu siapa yang kami temui pada saat kami baru saja masuk ke coffee shop? Cowok bule berbadan besar yang juga berenang telanjang tadi malam! Kami ngakak berkepanjangan melihat piringnya yang penuh dengan makanan segunung. Hahaha! Berarti benar dia memang kelaparan seperti kami!


*Retno Ika Putri, tinggal di Pekanbaru. Seorang hotelier sejati yang suka jalan-jalan. Pernah kerja satu tahun di Belanda dan pernah mengunjungi beberapa negara Eropa dan Asia. Obsesinya keliling dunia, dengan tujuan utama Karibia dan Italia.

14 Responses to “Starving in Bali”

  1. June 4th, 2010 at 4:16 pm

    Tweets that mention Starving in Bali” malah berenang telanjang krn laper – Anthology TNT terbaru di — Topsy.com says:

    [...] This post was mentioned on Twitter by TrinityNakedTraveler, TrinityNakedTraveler. TrinityNakedTraveler said: "Starving in Bali" malah berenang telanjang krn laper – Anthology TNT terbaru di http://bit.ly/dCmktm [...]

  2. June 4th, 2010 at 5:17 pm

    Ratsio Rinaldi says:

    Hahaha,,,,,pengalaman yg sangat menarik dan lucu sekali , makanya jangan meremehkan informasi yg disampaikan teman

  3. June 4th, 2010 at 6:07 pm

    ofiofio says:

    Hahahaha… nice story ika! u haven’t told me that the incident was horrendous ;p ke Bali yuukkss!

  4. June 5th, 2010 at 6:28 am

    desty says:

    pernah juga ngalami itu..tapi bukan pas nyepi-nya, malam sebelum nyepi malah..
    kalo pas nyepi, ada room service

  5. June 5th, 2010 at 2:50 pm

    Anonymous says:

    mantaps….
    selamat yaaaa,,,
    finally your story dah dimuat juga….
    bangga pastinya..

  6. June 5th, 2010 at 2:52 pm

    lely says:

    cangrat ya sist,,
    your story akhir nya dimuat juga,,,
    bangga pasti nya..

  7. June 6th, 2010 at 12:25 am

    Nina says:

    ahahaha nice story… kalo aku males banget pas nyepi ke Bali…bakalan kelaparan n siap2 makan instant…padahal perut terbiasa makanan fresh… :D
    salam dari itali..kalo jalan2 ke sini mampir2 yah… ;)

  8. June 9th, 2010 at 8:56 pm

    graha pantara says:

    KERE………………………..EN

  9. June 14th, 2010 at 1:13 pm

    Bobby says:

    Nice trip mba putri. Cita2nya kayk mba T juga ya? ehhehe

  10. June 17th, 2010 at 2:40 pm

    Erika says:

    Congratulation Ik, akhirnya cerita loe muncul juga……^_^……tapi cerita tragedi syal harus cepat dikeluarin ya….menurut gw cerita itu yang paling seru…but anyway busway… pasti loe sekarang udah berasa jadi artis khan.. ha..ha..

  11. June 21st, 2010 at 5:46 pm

    TJ says:

    Kalo ada fotonya lagi naked swimming diposting yah :) )

  12. June 28th, 2010 at 9:11 pm

    retno ika putri says:

    I wish I could have the pic TJ ;D ..
    @ mba nina ; ia mudah2an.. Mesti nabung puluhan taun dl kali ya baru bs ke eropa lg ;b
    @ erika ; sabar ya ntaar gw masukin lg asal mba T ga bosen dpt cerita dr gw
    @ boby ; iya bob.. Obsesi seumur hidup tuh pengen keliling dunia, cm bingung nyari duit nya ;D

  13. July 5th, 2010 at 6:29 pm

    rendra says:

    wah ika, keren euy blog nya, cerita waktu di blanda pasti ga kalah seru neh…

  14. July 10th, 2010 at 1:51 pm

    deasy says:

    Wah mbak ika,.yg hobby jalan-2 nih,.udh ad club buat di pku lum??klu ada acra breng2 dunk,..(Pku backpacker club seru jga tuh)

Leave a Reply