Travel

Menunggu = Makan

Pada saat menunggu di airport, sebenarnya ada tempat yang nyaman dan gratis. Syaratnya kita harus mempunyai kartu kredit, lebih bagus lagi kalau kartu kredit Anda keluaran bank terkenal. Ya, itulah yang disebut Executive Lounge. Meskipun bank penerbit kartu kredit telah banyak menanamkan uangnya untuk memanjakan customer yang akan bepergian, namun masih sedikit orang yang memanfaatkannya. Padahal caranya gampang, tinggal lihat di papan merk kartu kredit di depan lounge. Bila kartu kredit Anda tercantum, tinggal nyelonong masuk dan mendaftarkan diri di receptionist dan kartu Anda akan digesek. Di dalamnya ada ruang duduk dengan sofa yang nyaman, surat kabar terbaru, TV, dan yang terpenting dapat makan dan minum gratis. Saya malah lebih ekstrim, bila saya kebelet, toilet yang paling bersih adalah yang berada di lounge ini. Saking nikmatnya, beberapa kali saya dipanggil lewat pengeras suara karena pesawat sudah akan berangkat.

Lucunya kalau kita bepergian dengan orang yang mempunyai kartu kredit berbeda, seringkali saya dan teman menunggu di lounge yang berbeda karena saya mempunyai kartu Standard Chartered dan dia punya Citibank. Kalau tidak ingin ‘berpisah’ silakan salah satu yang tidak mempunyai kartu kredit yang cocok membayar Rp 50.000,- sebagai charge masuk. Kalau Anda cukup nekat, cek orang yang akan masuk ke lounge dan membuka dompetnya. Kalau ada deretan bermacam kartu kredit apalagi yang berwarna emas, mintalah tolong, “Pak, teman saya tidak punya kartu kredit tapi mau masuk sama saya, boleh saya pinjam satu kartu Bapak?” Waktu itu sih saya berhasil, mungkin lagi hoki aja nemu bapak-bapak yang baik. Bila trik itu tidak berhasil, pilihan terakhir adalah silakan punya bermacam-macam jenis kartu kredit sehingga bisa punya banyak pilihan.

Nah, bagaimana bila kita tidak mempunyai kartu kredit? Restoran di airport menjadi pilihan. Saya sampai eneg. Bila sedang menunggu di Soekarno-Hatta Terminal 2 maka saya akan nongkrong di McDonald’s. Bila di Terminal 1 ya ke AW. Meskipun harga di fast food tersebut lebih mahal, paling tidak rasanya sesuai ekspektasi. Saya jadi ingat iklan salah satu fast food di Indonesia, bila ada iklan promosi paket pasti ada tanda bintang yang berisi keterangan dengan tulisan kecil-kecil di bagian paling bawah iklan ‘harga tidak berlaku di bandara’.

Restoran yang ada di dalam setelah check in bagi saya tidak nyaman karena rata-rata tidak bisa merokok. Kalau terpaksa makan di dalam, relakan merogoh kocek yang tidak sedikit karena apapun barangnya harga pasti melambung tinggi di airport. Sebagai perbandingan, saya pernah makan 1 porsi mie instan di airport Denpasar seharga Rp 20.000,-!

Pengalaman yang paling buruk bisa jadi kalau Anda harus menunggu lamaa sekali di airport pada malam hari dimana semua restoran sudah tutup. Saya pernah tertahan sepuluh jam di Soekarno-Hatta karena sistem menara pengontrolnya down (hebat sekali ya Indonesia!). Mau pulang tanggung karena saat itu musim liburan dan tidak ada pesawat lain yang tersedia sampai 2 hari berikutnya. Padahal, ada meeting penting yang harus saya hadiri keesokan harinya. Yang saya lakukan, sama seperti ratusan calon penumpang lain, adalah tidur di lantai. Ingat, airport ini tidak ada karpetnya, duh, punggung rasanya semriwing berat! Deretan ratusan orang tidur di lantai airport persis kayak pengungsi kena tsunami. Kami pun tidak pernah tau kapan pesawat akan berangkat karena papan jadwal elektroniknya pun mati. Bila salah satu pesawat akhirnya jadi berangkat, ada petugas khusus yang mendatangi calon penumpang, dia mengguncang-guncangkan badan kita sambil membangunkan, “Pak, Bu, bangun… bangun… pesawat ke Surabaya sudah mau berangkat sekarang.”

Read more

‘Dipalak’ di Tabung Kaca Berasap

Saya ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu, merokok di dalam pesawat dengan rute panjang masih diperbolehkan. Waktu itu saya terbang dari Jakarta ke Amsterdam dan memang disediakan tempat duduk khusus perokok di bagian ekor pesawat. Tidak tahu sejak kapan keluarlah peraturan terbaru yang tidak memperbolehkan merokok di pesawat apapun dan kemanapun. Mau tak mau saya menyetujuinya juga, mengingat alasan keselamatan adalah jauh lebih penting. Malah sekarang saya berpikir, “kok dulu boleh ya merokok di dalam pesawat?”.

Setelah pesawat mendarat, apalagi setelah terbang berjam-jam, hal pertama yang saya selalu cari adalah tulisan ‘smoking room’. Saya yakin seluruh perokok di mana pun di seluruh dunia akan menyatakan hal yang sama (saat menulis ini saja membuat saya jadi pengen merokok). Begitu memasuki anjungan airport, signage dengan gambar rokok inilah yang paling utama dicari bagi para perokok, bagaikan magnet kita terbius dan mengikuti ke mana arah signage tersebut bermuara. Kalau tak sabar, langsung aja tanya ke petugas informasi. Pertanyaan ”where’s the closest smoking room here?” dalam bahasa apa pun saya sampai tahu saking bela-belainnya. Hehe, saya ngaku ini sih exagerated.

Anyway, smoking room yang dicari-cari ini sebenarnya hanyalah berbentuk tabung kaca. Tapi dapat mengundang orang dengan mata berbinar-binar dan langkah kaki cepat untuk masuk ke dalamnya. Lalu beberapa lama kemudian keluar dengan raut muka yang lebih relaks. Ajaib kan?

Dengan kecilnya ruangan tersebut sementara yang ngebul banyak banget, yang terlihat dari luar yah seperti tabung kaca berasap. Kita bisa lihat tabung kaca ini berisi orang-orang yang asik memicingkan mata sambil menghisap rokoknya dalam-dalam lalu asapnya disembur ke luar lewat mulut sehingga wajahnya tidak terlihat karena tertutup asap. Begitu seterusnya.

Bagi para pengguna lensa kontak, inilah saatnya meneteskan obat tetes mata saking sepetnya ruangan itu. Sialnya para perokok memang dianggap makhluk yang tidak berguna, ruangan merokok ini terletak jauh dari mana-mana. Maka tak heran ruangan merokok di airport adalah ruangan favorit pengunjung, padahal baunya sangat tengik. Kalau setiap 4 gate ada 1 ruangan merokok saja sudah bagus. Kadang di dalam airport besar hanya punya 1 atau 2 ruangan merokok, itupun susah ditemukan, seperti di airport Sydney atau Tokyo. Sedangkan di airport Los Angeles atau Kuala Lumpur, pilihannya adalah pergi ke luar dari airport dan merokok di area antrian taksi.

Ada juga airport yang ‘curang’ seperti di airport Christchurch (New Zealand). Waktu itu saya lagi sakau pengen banget merokok, setelah cari smoking room tidak ketemu, saya tanya petugas informasi. Dia menunjuk ke suatu arah dan setelah saya mengikutinya ternyata bukanlah smoking room melainkan sebuah bar. Saya lalu disapa waiter-nya, “If you drink beer here, you can smoke here, Ma’am!” Sialan, pinter banget cara marketingnya!

Well, biar bagaimanapun airport internasional Bangkok menurut saya adalah salah satu airport yang paling smoker friendly. Setiap 1 gate mempunyai 1 ruangan merokok. Horee!

Sekedar tips dari saya: kalau Anda berada di airport di negara barat, berhati-hatilah bagi yang merokok kretek. Baunya yang menyengat itu sering disangka ganja atau hasis. Inilah yang membuat saya sering dipelototin orang. Seperti yang sudah-sudah, pasti ada bule di situ yang akan bertanya saya merokok apa, atau bahkan ada yang (nekat) minta. Pokoknya kalau ada pilihan, lebih baik pergi ke ruangan merokok outdoor deh – aman bagi mata dan hidung, juga hemat karena tidak ada yang malak.

Read more

Distrik Lampu Merah

Peringatan: sebagian orang mungkin terganggu dengan tulisan ini.

Bagaimana Anda menghabiskan malam saat traveling ke luar negeri? Makan makanan lokal sudah biasa, ke bar atau diskotik memang wajib hukumnya (terutama bagi anak muda) tapi itu juga biasa. Nah, cobalah pergi ke ‘distrik lampu merah’ atau red-light district setempat. Namun yang pertama kali di pikiran pastilah keluar kata ‘Amsterdam’, seperti niat saya ingin melihat langsung tempat prostitusi di sana. Yup, di situlah tempat prostitusi yang paling populer di dunia (konon sudah ada sejak 5 abad yang lalu) dimana sajian tubuh manusia nyaris bugil dipajang di jendela etalase berlampu merah. Bagaikan beli roti, kita bisa memilih jenis apa favorit kita, tinggal dibungkus dan bayar. Pilihan ‘rotinya’ pun beragam, terdiri dari segala macam warna kulit, segala macam ukuran tubuh, segala macam preferensi seks dan usia. Di bagian belakang etalase tersebut ada yang menyatu sekalian dengan rumah bordil, jadi benar-benar one-stop-shopping diterapkan di sini. Hebatnya lagi, para hoertjes (pelacur) di sana dilegalkan dan dilindungi undang-undang oleh pemerintah Belanda, bahkan ada organisasi khusus yang mengurus kesehatannya untuk memastikan bahwa mereka terbebas dari penyakit kelamin (guys, don’t you wanna read this? Hehe!)

Di jalan sempit itu pula banyak terdapat Sex Shops yang menjual majalah porno, film porno, mainan seks, dan segala hal yang berhubungan dengan seks dalam bentuk yang unik dan beragam, contohnya saja vibrator yang dipajang di rak diurutkan berdasarkan ukuran panjang penis persis kayak kita mencari kaset berdasarkan abjad penyanyinya. Juga terdapat bioskop yang hanya memutar film porno, bar dan diskotik khusus gay, tak ketinggalan sejumlah restoran Cina yang etalasenya bukan berisi manusia mejeng tapi bebek peking (sungguh saya tidak tertarik untuk makan di sana!), dan yang paling fiktif bagi saya adalah tempat pertunjukan manusia yang sedang berhubungan seks!

Saya ingat musim salju tahun 1995 ketika saya berkunjung ke sana bersama 4 orang teman. Rupanya muka Indonesia sangat terkenal di sana (regular customer eh?) sampai-sampai para waiters yang mejeng di luar pintu bisa menawarkan servisnya dalam bahasa Indonesia, “Apakah Anda senang menonton pertunjukkan n**n**t hidup kami?” Ha? Gile, kalimat ‘would you like to watch our live sex show’ diterjemahkan sangat gamblang sampai membuat saya tertawa berguling-guling!

Kalau di Asia, distrik lampu merah yang paling populer adalah Patpong di Bangkok, Thailand. Namun yang saya pikir tempat ini seperti di Amsterdam ternyata salah besar, isinya hanya bar-bar kecil di sepanjang 3 gang yang paralel. Bar di sini modelnya seperti di Jalan Jaksa lah, penuh bule mabok dan ayam-ayam yang joget (sok) seksi. Yang terkenal di tempat ini adalah Pu**y Show – pertunjukan ‘kesaktian’ kemaluan wanita – biasanya ada di lantai dua dengan tangga yang sempit menuju ke atas. Sebalnya adalah para calo yang mengejar-ngejar dan memaksa pengunjung agar mau nonton, “Flee, sil. No pay kopel chalge” (artinya: Free, Sir. No pay cover charge).

Karena seorang teman yang kena rayuan calo, kami masuklah ke tempat Pu**y Show. Ruangan di dalamnya seperti diskotik dengan lampu-lampu hidup-mati, di tengahnya ada semacam panggung catwalk dengan tiang-tiang besi, yah model bar striptease di Amrik gitu. Di sepanjang sisinya terdapat meja dan kursi yang menghadap panggung dan disuguhkan minuman.

Saat show dimulai…ya ampun, yang naik ke panggung adalah ‘mbok-mbok penjual jamu’! Asli cewek-cewek setengah tua, bogel, berperut buncit, badan penuh gelambir, dan maaf, ” rambut” yang sangat gondrong! Lingerie-nya juga tidak ‘matching’, masa pake bra renda-renda merah dengan celana dalam putih motif totol-totol hijau. Hiii…! Tapi jangan salah, ‘anu’ ‘mbok-mbok’ ini sakti banget, ada yang bisa minum Coca Cola pake sedotan, ada yang bisa ngeluarin silet, ada yang bisa ngerokok, bahkan ada yang bisa niup trompet! Dan keluarlah tagihan segelas orange juice seharga 300 Baht (jadi masuk tidak gratis kan?), plus segerombolan ‘mbok-mbok’ yang mendatangi meja kami sambil memaksa, “Tip! Tip! For me, tip!

Read more

Manfaat Teman (Nemu di) Jalan

Idealnya kalau kita traveling memang lebih mengasikkan bila bersama dengan teman, paling tidak ada orang lain yang bisa diajak ngomongin orang. Lebih asik lagi kalau teman tersebut mempunyai hobi yang sama, seperti sama-sama suka menyelam, sama-sama suka dugem, sama-sama tidak suka shopping. Tapi apa daya tidak semua teman berhobi sama, tidak semua teman mempunyai waktu libur yang sama, dan yang paling sering terjadi adalah tidak semua teman mempunyai jumlah tabungan yang sama.

Ada teman saya (bahkan banyak orang) yang lebih baik membatalkan perjalanan jika tidak ada yang menemani, tapi bagi saya the show must go on – saya bisa cari teman sendiri bukan? Sebagai seorang backpacker yang mempunyai keterbatasan uang, saya senang mencari teman di jalan dengan tujuan utama untuk menghemat biaya selain mencari teman ngobrol.

Ideal kedua adalah mempunyai teman lokal yang bisa ditebengi menginap dan diajak jalan-jalan, apalagi yang mempunyai mobil. Biasanya teman-teman golongan (tajir) ini adalah teman lama yang tinggal di luar negeri. Fasilitas ini saya nikmati saat saya ke London, Paris, dan beberapa kota di Amerika. Mereka mengenal betul daerahnya, jadi kita ga usah pusing-pusing baca peta, hemat biaya akomodasi pula.

Cara lain adalah menjadi anggota kumpulan para traveler di dunia yang suka mengadakan pertemuan di suatu negara. Spot ini berguna untuk mencari teman buat patungan, seperti di Auckland, NZ, tahun 2003, saat saya menemukan cowok asal Scotland yang bersedia patungan bensin dan sewa mobil. Untungnya lagi, dia jago masak, jadi kami tinggal patungan belanja bahan makanan ke supermarket dan dia bersedia masak setiap hari.

Cara cari teman jika Anda tinggal di hostel (ingat, di tengahnya ada huruf ‘s’ artinya ini penginapan khusus backpackers) dimana isinya adalah sesama orang kere dan berjiwa muda, adalah dengan modal pede. Berkenalanlah dengan orang-orang yang Anda anggap mempunyai aura yang positif, biasanya pada saat makan malam di hall utama. Trik ini berhasil saya lakukan tahun 1998 saat saya menginap di hostel di Florence, Italia.

Di Eropa yang multi bahasa, saya tinggal mensensitifkan pendengaran dan mulai mencari arah suara yang berbahasa Inggris. Dimulai dari berkenalan dengan seeorang cewek Inggris yang funky, lalu saya berteriak dengan bossy-nya “Anybody who speaks English sit here please!”, jadilah saya berkumpul dengan 3 orang cewek lain berkebangsaan Amerika. Kami berlima pun traveling bersama keliling Italia, bisa share makan pizza di restoran, bisa share menginap di bekas istana tua yang cantik di pinggir pantai, bisa share naik taksi, bisa ngegosipin orang lagi!

Teman traveling yang paling salah adalah ketika saya ke Kamboja tahun 2002. Terus terang karena saya nggak pede traveling di negara ga jelas begitu, saya mengajak seorang teman yang baru kenalan. Seorang cowok India tinggal di Pasar Baru, berdandan seperti detektif partikelir, pekerjaannya adalah seorang bookie (bandar taruhan sepak bola). Duh, dia belum pernah sama sekali ke luar negeri, berjalan dengan pace yang lambat, membawa boombox yang selalu memutar lagu jadul, bawelnya minta ampun, dan ini temuan yang paling lucu – selalu menutup pintu dan jendela kamar rapat-rapat sehabis mandi karena dia harus memblow poninya yang panjang dan dibentuk sedemikian rupa untuk menutupi kebotakannya! Alhasil di tengah perjalanan kami pun ‘bercerai’. Rasanya saya tidak beruntung banyak selain sedikit hemat biaya akomodasi. Yang pastinya dia yang paling beruntung mendapatkan teman jalan yang expert. Hehe!

Saya juga pernah menemukan teman karena teman tersebut kasihan sama saya saking kerenya. Di San Juan, Puerto Rico tahun 2001, saat saya trip ke El Yunqe Forrest saya diajak berkenalan di bis dengan seorang bapak-bapak asal Canada. Pas saya turun dari bis di depan penginapan saya, si bapak merasa kasihan, “Are you staying here in this uhm…place?”. Karena dia ke Puerto Rico untuk bisnis, sementara dia bekerja saya diperbolehkan mempergunakan fasilitas hotel, boleh pesan makan dan minum sepuasnya pula di hotel berbintang lima Hilton Caribe. Setelah dia kembali dari kerja, saya pun kembali menginap di penginapan saya yang disebutnya ‘uhm…place’.

Di Nice, Perancis, saya juga pernah berkenalan dengan sepasang suami-istri manula di stasiun kereta. Saya menolong mereka mengangkat kopernya dan mengajarkan cara efektif pergi dari suatu tempat ke tempat lain (termasuk mengantrikan tiket). Imbalannya, saya sih ga pernah minta, tapi saya selalu dibayari tiket dan ditraktir makan minum. Hehe, cheap shit ngga sih saya?

Saat-saat terakhir traveling pun saya pernah menemukan teman yang baik hati. Di pesawat dari Jepang ke Singapura, cewek Cina di sebelah saya mengajak ngobrol. Mungkin lagi-lagi karena dia kasihan sama saya yang kere, akhirnya saya diajak menginap di apartemennya karena tahu saya punya 1 malam transit di Singapura sebelum terbang ke Jakarta. Tapi saya disuruh tidur di kamar yang seranjang sama ibunya dan tukang ngorok berat! Benar juga kata pepatah yang dipercayai para backpackers bahwa ‘beggars can’t be choosers’.

Read more

Becak di Landasan Pesawat

Airport paling ‘lucu’ adalah ketika Anda berada di airport dimana airport tersebut melayani penerbangan dengan menggunakan pesawat kecil, biasanya pesawat baling-baling berkapasitas 4 sampai 40an orang. Wajib hukumnya pada saat check in, bagaikan bagasi kita sendiri harus naik timbangan dan petugas akan berteriak di depan umum berapa berat badan kita dan dicatat di boarding pass (beruntunglah bagi Anda yang tidak bertubuh gemuk seperti saya!). Berat badan inilah yang menentukan posisi tempat duduk kita di dalam pesawat, supaya balance. Perlakuan terhadap berat badan pun berlaku terhadap bagasi dimana bagasi tidak boleh lebih dari 10 kg per orang, kalau lebih berarti Anda harus membayar kelebihan bagasi yang lumayan mahal – itupun kalau memungkinkan untuk diangkut.

Di airport Tanjung Redeb (Kalimantan Timur) saat boarding menunggu pesawat datang, saya mendengar suara sirene kencang sekali sebanyak 3 kali dengan jeda beberapa menit. Saya pun bertanya artinya kepada penumpang yang duduk di sebelah saya yang saya yakin adalah penduduk setempat. Jadi begini artinya: sirene pertama adalah pemberitahuan bahwa akan ada pesawat mendarat sehingga harap mengosongkan landasan…bagi orang-orang yang menggembalakan ternaknya. Sirene kedua untuk mengusir orang yang sedang main bola yang biasanya masih nekat main di tengah landasan. Sirene ketiga berarti pesawat sudah benar-benar akan mendarat!

Kelucuan lain yang terjadi di airport kecil adalah saat transit di airport Busuanga (Filipina), pesawat akan mengambil penumpang lain untuk sama-sama menuju Manila. Karena haus dan ada selang waktu beberapa saat, maka kami nyelonong aja ke luar airport dan nongkrong di warung. Lagi asik-asiknya minum, terdengar suara orang berlari ke arah kami, hah, di pintu warung kami berdirilah pilot pesawat tadi sambil teriak, “Boarding! Boarding!”. Hehe, seorang pilot harus turun dari pesawatnya dan kejar-kejaran sampai ke warung untuk memanggil para penumpangnya! Dengan malu, saya dan teman-teman pun berlari-lari masuk dan menjawab, “Coming! Coming!

Airport paling favorit saya adalah airport El Nido, sebuah kota kecil di utara pulau Palawan di Filipina. Begitu pesawat yang membawa saya dari Manila mendarat, saya sampai heran karena tidak ada bangunan berbentuk airport sama sekali di dekat landasan. Ada juga sebuah rumah kayu dengan garasi terbuka tempat orang berkumpul. Rupanya ‘garasi’ itu adalah tempat counter check in dimana cuman ada satu meja tinggi dan timbangan. Di sisi-sisi ‘garasi’ terdapat bangku kayu panjang, di bawahnya terdapat ember-ember berwarna merah yang digantung berisi pasir. Percaya atau tidak, di setiap ember bertuliskan “use this in case of fire“! Busyet, hari gini kalau ada kebakaran cara mematikan apinya masih harus disiram pasir!

Saya lalu bertanya kepada petugasnya bagaimana cara pergi ke pusat kota karena tidak ada jalan raya di belakang ‘garasi’ dan tidak ada tricycle (kendaran beroda tiga khas Filipina, semacam becak bermotor) yang merupakan kendaraan umum di kota kecil. Jawabnya, “Just wait here, Ma’am. After the plane take off, the tricycles will come here.” Hah? Rupanya si petugas tau kalau saya masih bingung. Ia lalu menambahkan, “Because tricycles here are using the same runway, Ma’am!” Huahaha! Gile juga, pesawat dan becak menggunakan jalan yang sama! Tak berapa lama kemudian begitu pesawat lepas landas, ada bunyi sirene yang kencang tanda landasan ‘aman’. Lalu terdengar suara berisik segerombolan motor yang digas pol, terlihat debu yang bertebangan, dan… di balik kabut debu itu …jreng, jreng…segerombolan tricycle pun datang dengan supir-supir becak yang gagah serasa di film Renegade. Hebat kan?

Kehebatan lain dari airport El Nido adalah saat saya harus terbang balik ke Manila. Dengan naik tricycle, saya memasuki area airport dan tricycle yang memang berjalan atas landasan pesawat! Sehabis check in, ada tiga pilihan menunggu pesawat: berenang di pantai yang indah persis di sebelah airport, tidur-tiduran sambil berayun di hammock di bawah pohon, atau duduk di bangunan utama yang asri bagaikan lobby resort yang mewah dan disediakan aneka minuman gratis. Enak kan boarding di airport seperti ini?

Read more