Anthology
Silakan kirim tulisan yang berhubungan dengan jalan-jalan (travel related story) ke naked.traveler@gmail.com dengan menulis Subject di e-mail: [Anthology][Judul Tulisan].
Trinity akan menjadi editor-nya. Bila memenuhi syarat, akan ditampilkan ke dalam blog ini. Siapa tahu bisa diterbitkan jadi buku!
Syaratnya:
- Dalam bahasa Indonesia yang baik, dengan ejaan dan tanda baca yang benar.
- 800-1000 kata per tulisan. Dengan 1 buah foto yang ‘nyambung’ dengan tulisan.
- Diketik dalam format Microsoft Word, tipe huruf Times, 12 pt, 1 spasi.
- Belum pernah dimuat di media massa, bukan plagiat/terjemahan.
- Cerita harus unik, tidak bohong, tidak membosankan, bebas memilih angle apapun. Bukan tentang laporan perjalanan dari titik A ke titik B ke titik C.
- Setiap orang boleh mengirim lebih dari 1 tulisan.
- Sertakan juga biografi singkat Anda.
Solo trip pertama kali!
By Pristi Gusmatahati*

Pose sama ikan buntal
Berbekal ilmu sebagai daydreamer, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama backpacking saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi backpacking sen-di-ri-an, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil kaya balita padahal sudah tua, plus saya buta arah. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri pergi ke Tanjung Lesung, sendiri. Yippiiiee!
Tanjung Lesung adalah sebuah pantai yang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Disebut Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung (alat tradisional untuk menumbuk padi). Tempat ini terkenal dengan resort mewahnya serta Beach Club yang menyediakan fasilitas snorkeling, mancing, banana boat, jetski, dan lain-lain. Ada juga sailing trip ke anak gunung Krakatau, tapi buat saya harganya ngajak miskin banget. Lagipula, saya berencana untuk trip satu hari saja, berangkat pagi, pulang malam, karena esok harinya harus ngantor.
Dari rumah saya yang di Bogor, Tanjung Lesung memang tidak terlalu jauh, “cuma” 7 jam perjalanan saja angkutan umum. Saya berangkat pagi, dan berencana sudah tiba di rumah paling lambat pukul 12 malam. Sepanjang perjalanan, saya dapat pengalaman “unik”. Misalnya, sewaktu menunggu bus pagi-pagi, saya terpaksa diam-diam numpang buang air kecil di toilet pria di sebuah pusat perbelanjaan karena toilet wanitanya belum buka. Sudah mengendap-endap, eh pas keluar toilet sudah ada satpam menanti saya dan “menginterogasi”.
Setelah naik-turun bus, ajrut-ajrutan melewati jalanan busuk, sampai akhirnya mata dimanjakan dengan pemandangan pantai biru kehijauan dan nyiur melambai, sampai juga saya di Tanjung Lesung Beach Club. Cuaca yang lumayan terik tidak menyurutkan niat saya snorkeling. Sayangnya visibility-nya sedang kurang bagus karena sempat hujan. Walaupun begitu, snorkeling di Tanjung Lesung ini bagi saya lebih menyenangkan daripada pengalaman snorkeling sebelum-sebelumnya karena dengan jarak 20 meter saja dari pantai. Kedalaman tidak sampai 5 meter, begitu nyemplung saya langsung nabrak beragam school of fish! Terumbu karangnya pun berwarna-warni dan saya bisa mengelus-elusnya tanpa harus menyelam dalam-dalam. Saya juga bertemu banyak clownfish alias Nemo, dari ukuran kecil sampai yang agak besar. Tapi juaranya… saya nemu ikan buntal! Ternyata ikan ini wujudnya benar-benar lucu, selain badannya yang gembung, ikan ini punya gigi besar-besar bak gigi kelinci memenuhi mulutnya yang imut. Tapi ‘kurang ajar’nya si ikan ini (maaf) ternyata hobi pup. Selama saya pegang dalam air, dalam 1 menit dia pup sampai 2 kali.
Selesai snorkeling, saya pesan makanan. Berhubung Tanjung Lesung adalah objek wisata yang pada umumnya menyasar golongan “the have”, dengan akomodasi rata-rata minimal Rp. 1.000.000/malam, jadi Beach Club-nya pun menyediakan makanan mahal. Sekedar ilustrasi, teh tawar panas yang biasa digratisin di tukang pecel lele, di resto ini membandrolnya dengan harga Rp. 8000. Dan kalau di tukang pecel lele kita dapat segelas gede GRATIS, di sini hanya secangkir kecil.
Sambil menunggu pesanan, saya leyeh-leyeh di pinggir pantai sok-sok sunbathing ketika saya melihat ada cowo bule GANTENG berperut kotak-kotak! Untung saya pakai sunglass, jadi bisa ngelirik sepuas hati. Setelah saya perhatikan, ternyata memang banyak pengunjung yang bertampang ‘indo’. Selain si ganteng itu, ada segerombol keluarga Arab yang cakep-cakep banget. Ada juga keluarga India yang salah seorang wanitanya pakai sari lengkap sambil leyeh-leyeh di pantai! Hasil obrolan dengan pengelolanya, pengunjung di sini memang banyak ekspatriat dan rombongan perusahaan yang menginap di resort. Orang lokal Pandeglang-nya justru nyaris tidak ada.
Matahari mulai bergulir ke barat, dan ternyata oh ternyata, di Beach Club ini kita tidak bisa melihat sunset. Itulah sebabnya mereka menyediakan Sunset Trip, karena untuk melihat sunset mesti naik boat agak ke tengah laut. Gagal deh niat foto-foto “klasik” siluet berlatar sunset. Saya memutuskan untuk beranjak pulang, karena transportasi umum dari Tanjung Lesung ke terminal bus terdekat terbatas. Benar saja, selepas maghrib sudah tidak nampak ojek satupun! Untungnya seorang instruktur snorkeling berbaik hati memberi tumpangan sampai pangkalan ojek terdekat.
Di sinilah ‘kesalahperhitungan’ makin kacau. Karena niatnya backpacking, saya bawa uang tunai pas-pasan. Tapi ternyata di sini ada aturan tidak tertulis bahwa transportasi umum harganya bisa naik hampir 3 kali lipat kalau malam dan tidak bisa negosiasi karena tidak ada pilihan transportasi lain! Ojek yang harusnya Rp 15.000 jadi Rp. 35.000, angkot yang mestinya Rp. 10.000 jadi Rp. 25.000. Selain itu, sesampainya di Terminal Serang, saya yang santai karena diberitahu terminal ini beroperasi 24 jam, melongo melihat cuma ada 2 bus AC jurusan Bandung. Oalah, baru sadar ternyata walaupun terminalnya 24 jamtidak berarti semua trayeknya ikutan 24 jam. Wah, sudah deg-degan takut uang yang saya bawa tidak cukup, busnya gak ada pula! Apalagi waktu itu sudah menjelang tengah malam. Saya pun bertanya sama salah satu calo di situ, kalau mau ke Bogor bagaimana. Ternyata saya bisa naik bus jurusan Bandung tapi yang ekonomi via Ciawi, hanya saja saya harus sabar menanti karena datangnya biasanya lewat tengah malam. Waduh! Cuma dasar saya ndablek kali ya, karena terlalu senang berhasil backpacking sendirian, jadi sepanjang perjalanan bibir saya tidak bisa berhenti cekikikan walaupun lagi deg-degan takut tidak bisa pulang.
Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah, riset-riset-riset. Mungkin menyenangkan jalan-jalan dengan spontan, tapi salah perhitungan di tengah jalan itu tidak menyenangkan loh! Apalagi jalan sendirian berarti tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain diri sendiri.
—
*Pristi Gusmatahati, broadcaster yang baru belajar jadi backpacker. Obsesi keliling Eropa sebelum usia 26 tahun, biar dapat diskon kereta 30%. Suka curhat dan menampung curhatan di http://kangenkasur.wordpress.com
Menunggu kereta di Lucknow
By Seli Satriana*

Stasiun Kereta Lucknow
Pada suatu musim dingin dibagian utara India, saya melakukan perjalanan selama 25 hari dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Hari itu, saya mau berpindah kota dari Lucknow menuju Varanasi dengan naik kereta yang berangkat jam 11.00. Saya dan teman-teman sudah datang ke stasiun jam 10.30 pagi. Cuaca Lucknow hari ini mendung dan suhu udaranya dingin banget, sekitar 10 derajat Celcius. Daripada bengong di peron, kami akhirnya memutuskan menunggu di sebuah food court kecil di dalam stasiun sambil makan siang dan minum chai (teh ala India). Lumayan sambil menghangatkan badan.
Tunggu punya tunggu, belum ada tanda-tanda keretanya muncul. Katanya kereta terlambat, rencananya akan datang jam 14.00. Kami pun balik lagi ke food court. Eh jam 14.00 lebih belum juga keretanya nongol! Sampai sudah bosan menunggu, kami bertanya-tanya ke penumpang di sekitar. Katanya keretanya telat lagi, baru sekitar jam 17.30 nanti dijadwalkan akan datang. Pasrah, kami memutuskan menunggu di platform daripada naik lagi ke ruang tunggu di lantai atas dengan backpack masing-masing. Di ruangan terbuka begini, dinginnya terasa minta ampun! Bolak-balik kami membeli chai di warung-warung kelontong yang tersedia di peron.
Suasana peron di stasiun Lucknow tidak jauh berbeda dengan susasan peron di kota-kota lainnya di India, penuh dengan manusia dan sapi yang berkeliaran bebas. Kan kaget gitu kalau tiba-tiba kesenggol sapi lewat! Masih mending sapi, ternyata ada pula tikus dan monyet! Padahal saya paling takut sama tikus! Nyebelinnya, tikus-tikus itu bukan sekedar berkeliaran, tapi mulai mencium-cium ransel saya. Duh, bete banget jadinya! Meski saya pindah duduk di atas ransel, tikus-tikus itu tetap aja masih nekat mendekat! Belum lagi monyet-monyetnya yang selain besar-besar, berjumlah banyak dan pastinya suka iseng. Di sebelah kami nongkrong ada keluarga India yang sedang asyik makan kacang, tiba-tiba harus rela plastik kacangnya diambil oleh si monyet. Saya jadi mendekap barang-barang saya dengan erat, takut dicuri monyet juga.
Sampai lewat jam 18.00, tetap belum ada tanda-tanda kemunculan kereta kami. Seorang penumpang di dekat kami yang juga sedang menunggu kereta yang sama bilang bahwa kereta baru akan datang jam 20.00! Gubrak! Saya mulai agak cemas nih mengingat baru kemarin saya baca berita di internet, ada tabrakan di jalur utara. Penyebabnya cuaca buruk karena kabut tebal. Kami sempat berpikir untuk naik bis, tapi karena sudah gelap rasanya tidak ada pilihan lain selain pasrah menunggu. Kali ini saya mengajak teman-teman untuk pindah ke ruang tunggu khusus perempuan di lantai atas. Di India, memang banyak terjadi pemisahan antara ruangan laki-laki dan perempuan, katanya karena kasus pelecehan seksual yang cukup sering terjadi di sana. Saya bakalan setuju banget nih kalau diterapkan hal yang sama di Indonesia.
Di ruang tunggu, suasananya penuh tapi kami masih kebagian tempat duduk. Di sebelah kami ada 2 orang ibu-ibu yang juga masih menunggu keretanya datang. Akhirnya jadi ngobrol ngalor-ngilur dengan kami. Lumayan sedikit mengatasi rasa kebosanan menunggu dalam ketidakjelasan. Sisi menariknya, kedua ibu ini adalah pengabdi gereja bukan penganut Hindu seperti kebanyakan masyarakat India umumnya. Mereka sangat tertarik setelah mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia dan sedang melakukan perjalanan keliling India utara. Di Lucknow sendiri memang tidak banyak terlihat turis-turis asing karena kota ini tidak terlalu populer kecuali jika ingin melihat sisa-sisa peninggalan bernuansa Islam.
Satu jam berlalu, belum ada pengumuman kereta kami datang. Sesekali saya keluar mencari keterangan di lobi utama mengenai waktu datangnya kereta kami. Pengumuman ditulis di papan tulis putih ukuran kecil dalam bahasa India pula. Untunglah seorang cowok yang sedang berdiri di samping bisa berbahasa Inggris dan menurutnya kereta kami baru akan datang jam 23.00 nanti. Hah?! Saya pun hanya bisa pasrah dan kembali menunggu.
Dan akhirnya jam 23.00 lewat sedikit, terdengar pengumuman kereta kami datang! Horeee! Kami buru-buru pamitan dengan ibu-ibu yang ramah tadi, lalu dengan semangat turun ke peron. Sialnya, kami sempat salah arah menuju gerbong tempat kami seharusnya berada, sehingga terpaksa balik arah menuju gerbong-gerbong di depan. Gerbong kereta di India memang panjang-panjang sehingga bikin panik. Sekitar jam 23.30, kereta kami benar-benar berangkat! Walaupun kereta ini terlambat 12,5 jam, waktu perjalanan selama 6 jam 45 menit tidak ikutan molor. India oh India, sekali seru tetap seru semuanya!
—
*Seli Satriana – Tinggal di Jakarta, penikmat jalan-jalan dan The Naked Traveler. Kepingin kembali menjelajah India bagian Selatan di suatu waktu nanti.
Kena Sweeping di Thailand
By Ariyanto*

Jalan utama Mae Sai
Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.
Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!
“Chang wesuh kra be wos wus wes!” serentetan kalimat meluncur dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “I’m speaking English. I’m Indonesian, Sir,” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya.
Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “Okay! Passport! Passport!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila apa?!
Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang sweeping imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.”
Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand. Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.
Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang diturunkan dari bus itu ya?
—–
*Ariyanto – penulis 4 buku panduan traveling, yaitu “Rp 2 Jutaan Keliling China Selatan dalam 16 Hari”, “Rp 1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari”, “Travelicious Yogya & Solo: Jalan Hemat Jajan Nikmat”, serta “Travelicious Surabaya, Malang & Madura: Jalan Hemat Jajan Nikmat”. Banyak pengalaman traveling-nya yang belum dibukukan dia tuangkan di http://www.a-journo.blogspot.com/ atau di twitter @ariysoc
Perjuangan ke Luang Prabang
By Rini Raharjanti*

Luang Prabang, Laos
Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit guesthouse. Menurut rekomendasi Lonely Planet, lebih baik naik van daripada bus karena lebih nyaman dan perjalanan yang harusnya ditempuh 12 jam bisa jadi 10 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk naik van walaupun harganya $9 lebih mahal dari harga bus VIP. Di travel agent terpampang foto cantik van yang akan membawa saya ke Luang Prabang. Saya senyum sumringah karena bakal tidur di jok kursi van yang empuk.
Setelah makan siang dan berjalan-jalan sekitar kota, saya menuju meeting point dimana van menuju Luang Prabang akan menjemput saya. Tidak lama menunggu, sebuah mobil pick up lengkap dengan jeruji besi di kedua sisi berhenti di depan hidung saya. Pak Supir keluar dari mobil dan bertanya “Luang Prabang?”. Saya BENGONG. Sempet bolot beberapa saat ngebayangin bakalan naik mobil pick up buat ngangkut sapi ke Luang Prabang selama 12 jam! ALAMAK! Saya cuman mengangguk perlahan memandang nelangsa penuh derita nestapa. Dengan bahasa Inggris patah-patah pak supir bilang “Don’t worry, I will only take you to bus station. You will move to a nice van there.” OALAAHHH..mendengarnya lega sekali serasa diguyur air syurga! Dengan senyum lebar saya naik mobil pick up dan menuju terminal bus.
Sesampainya di terminal bus, saya langsung celingak-celinguk mencari van yang menuju Luang Prabang. Tapi saya ga nemu satu van pun beredar di sekitar terminal. Pak supir hanya mengantar saya sampai loket penjualan tiket untuk menukar tiket dan sepersekian detik berikutnya, dia hilang ditelan bumi. Saya mendapat karcis dan langsung digiring sama petugas terminal ke sebuah bus model bus AKAP ekonomi! SAYA DITIPU! Mana van-nya? Kok malah bus butut? Duh, rasanya gondok dan sebel bisa ditipu habis-habisan kayak begini. Mau ngamuk dan mau complain juga udah ga bisa lagi karena pak supir juga udah melarikan diri! Kalau dikasih bus VIP yang ada AC dan tempat duduk yang nyaman mungkin saya ga bakalan bete banget. Tapi ini bus ekonomi, bung! Padahal saya juga udah bayar $9 lebih mahal dari bus VIP. Saya cuman bisa duduk lemes, menelan ludah dan berusaha untuk mengendalikan kegondokan.
Tepat pukul jam 4 sore bus berangkat. Isi busnya ga penuh, hanya saya, dua orang teman, dan segelintir orang lokal dengan berbagai macam jenis belanjaan. Kegondokan saya berangsur hilang waktu ngeliat pemandangan indah sepanjang jalan ditemenin dengan lagu Laos yang hingar bingar model semi-dangdutan. Pak Supir dan pak kondektur dengan semangat juga ikutan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Orang-orang lokal pada ngobrol ngalor ngidul sambil ngakak ngikik.
Mendadak di tengah jalan bus berenti. Orang-orang pada serentak turun satu demi satu. Nah lho, kenapa nih? Ban bocor? Bus mogok? Kenapa sih? Sampe akhirnya pak supir bilang, “Toilet.” Weks, saya cari cari mana toiletnya? Kagak ada bentuk toilet di sekitar-sekitar situ. Yang ada cuman semak-semak dimana-mana. Saya perhatiin orang-orang asoy geboy aja ngumpet disemak-semak pilihan mereka dan melepaskan pipisnya! Saya langsung ketawa abis-abisan! Buset, di Indonesia ga segitu parahnya deh ya!
Perjalanan panjang pun dilanjutkan. Bus cuman jalan dengan kecepatan kayak siput, 30-40 km per jam di jalan berkelak-kelok ditemani dengan rintik hujan. Sepanjang jalan saya berusaha tidur senyenyak mungkin walaupun kedinginan dan harus mengkeret di tempat duduk yang super sempit dan ga nyaman. Belum lagi tiap jam bus-nya berenti buat toilet break atau beli jajanan pasar atau makan. Rasanya ga sampe-sampe! Bener-bener penuh penderitaan!
Tepat 12 jam tersiksa di dalam bus, saya terbangun karena sudah sampai di Luang Prabang. Masih ngantuk dengan tampang kucel saya keluar dari bus. Saya shock karena terminal bus di sana sunyi senyap. Ga ada kehidupan. Ga ada tuk-tuk. Saya terdampar dan terlantar di terminal bus Luang Prabang jam 4 pagi! Saya sempet takut juga kalo bakalan diapa-apain sama orang. Untungnya ga lama sebuah tuk-tuk dateng. Setelah menyebutkan daerah mana yang mau saya tuju dan melakukan tawar-menawar saya pun meluncur ke daerah backpacker. Luck was still on my side, pagi-pagi buta setelah turun dari tuk-tuk ada seorang lelaki paruh baya yang muncul di depan hidung saya dan menawarkan guesthouse miliknya yang superluas dan bersih.
Setelah istirahat dan mandi, saya menyewa sepeda mini dan menggowesnya keliling Luang Prabang bersama teman. Saya langsung jatuh cinta dan terpesona dengan keindahan Luang Prabang. Ga salah kalo Luang Prabang ditunjuk sebagai UNESCO World Heritage Center. Kota ini tertata dengan teratur dan bersih. Rumah-rumah modern dengan gaya campuran Laos dan Perancis berjejer dengan rapi. Kuil-kuil Buddha yang sudah berumur ratusan tahun menambah kesan religi kota ini. Walaupun secara keseluruhan kota ini tampak modern tapi kesan keramahan Asia sangat terasa. Penduduk lokalnya baik dan ramah, sesama turis yang ga dikenal asik saling menyapa. Suasananya bener-bener nyaman dan menyenangkan. Saya terus menggowes sepeda mini sampai malam menyusuri sungai Mekong, kuil-kuil Buddha, Old heritage house dan berhenti di Night Market. Beberapa teman baru dari Skotlandia dan Spanyol bergabung bersama saya malam itu menikmati mie kuah khas Laos, Beer Lao dan Lao coffee.
Sedetik saya berada di titik terendah penuh penderitaan, namun sedetik berikut saya berada di titik teratas penuh keriaan menikmati perjalanan. Traveling memang selalu menjanjikan pengalaman naik turun yang memacu andrenalin. Hari ini saya rasakan seperti roller coaster..
—
*Rini Raharjanti – Sudah menulis 2 buku panduan traveling berjudul “Rp 3 Jutaan Keliling India” dan “Travelicious Jakarta”. Suka melampiaskan kebosanannya lewat tulisan di blog cuapcuapnabi.blogspot.com. Suka berkicau di twitter @riniraharjanti dengan banyak sharing cerita perjalanannya.
Semurup, the most dangerous hot spring
By Reinhard Hutagaol*

Dangerously Semurup
Setelah pindah tugas meninggalkan Jambi beberapa bulan ini, saya jadi teringat cerita yang unik selama berdinas disana selama 7 tahun di sana, yaitu pada waktu berkunjung ke Kabupaten Kerinci. Ini adalah sebuah kabupaten yang paling jauh dari ibukota Jambi, letaknya di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatra) di sebelah Barat Jambi. Kalau menggunakan kendaraan paling cepat bisa ditempuh 10 jam melewati jalan yang buruk disekitar pegunungan. Pernah sih Pemda-nya mengupayakan angkutan pesawat dengan memberikan subsidi kepada penumpangnya, tapi lama-lama bangkrut juga.
Kerinci secara geografis lebih dekat ke Sumatra Barat sehingga sangat berpengaruh sekali segala adat istidatnya yang hampir sama dengan budaya Minang kecuali bahasanya. Sebenarnya dulu Kerinci adalah bagian dari Sumatra Barat. Pada awal pembentukan Propinsi Jambi pada tahun 1950-an, syarat 5 kabupaten untuk membuat satu propinsi masih kurang 1 Kabupaten, nah melalui negoisasi dengan propinsi Sumatra Barat dilepaslah kabupaten Kerinci untuk bergabung dengan Jambi.
Seperti layaknya daerah pegunungan, pasti terdapat sumber mata air panas (hot spring). Begitu pula di Kerinci dengan sumber mata air panas Semurup yang terletak hanya 15 menit dari kota Kerinci. Lokasinya seperti tempat wisata lazimnya, ada banyak petunjuk arah menuju lokasi. Begitu masuk areal, ada gapura besar, ada petugas yang menjaga pintu masuk, dan dengan membayar Rp 5 ribu rupiah bisa masuk ke lokasi. Di dalam lokasi hot spring terdapat beberapa kolam permandian dan uniknya, banyak warung menjual kebanyakan telur dan pisang. Ternyata telur dan pisang itu nantinya akan dicelupkan langsung ke sumber air panas sehingga matang, tanpa harus direbus di atas kompor.
Anehnya, begitu masuk ke dalam area tempat hot spring itu ternyata pandangan kita terhalang dengan pagar tinggi terbuat dari besi dan kawat berduri di atasnya. Pintunya pun dikunci gembok dan hanya diberikan setelah meminta izin juru kunci lokasi air panas ini. Beliau lah lah yang memberikan screening siapa saja yang boleh masuk ke kawasan air panas ini! Nah lho, kenapa urusannya jadi ribet begini?
Ternyata tempat itu merupakan lokasi favorit untuk bunuh diri! Tercatat sudah puluhan korban bunuh diri yang datang ke lokasi ini dan melompat terjun ke dalam kolam di tengah sumber air panas. Menurut penjaga warung, setiap tahun kurang lebih 4 sampai 5 kali peristiwa bunuh diri dengan terjun ke kolam air panas. Kolam itu lebarnya kurang lebih 20 x 10 meter, namun dasarnya tidak kelihatan. Konon kolam itu sangat dalam, lebih dari 50 meter dalamnya. Di dasarnya ada aliran air panas dengan panjang puluhan kilometer.
Menurutnya, apabila seorang terjun ke kolam sangat tidak mungkin untuk ditolong karena air sangat panas dan pasti hilang tersedot ke dalam kolam. Jenazah baru bisa ditemukan kembali apabila meminta pertolongan pawang setempat. Dengan mengucapkan doa tertentu, jenazah bisa mengapung kembali walaupun yang tersisa tinggal tulang belulang dan rambut. Mengapa begitu? Karena tulang dan rambut manusia relatif tahan panas, sementara daging dan organ tubuh sudah hilang karena panasnya air.
Peristiwa bunuh diri terakhir terjadi pada tahun 2010 saat seorang wanita yang merupakan istri Kepala Dinas PU Kabupaten Kerinci terjun bunuh diri ke tengah kolam. Semenjak itu dibuatlah pagar tinggi sehingga orang tidak bisa masuk ke dalam areal kolam air panas dengan sembarangan.
Kenapa banyak terjadi bunuh diri di tempat itu? Konon sangat terlarang orang yang mempunyai masalah berat dan berpikiran kosong untuk datang ke tempat itu, karena akan ada “roh” yang akan “menarik” seseorang untuk terjun ke tengah kolam. “Roh” tersebut akan masuk dan mengendalikan pikiran orang tersebut.
Pada waktu saya kesana, juru kunci kolam Semurup lagi tergopoh-gopoh membawa ayam kampung, berdoa mengucapkan mantra, dan menyembelih seekor ayam di pinggir kolam. Ternyata ada seorang dengan pikiran “kosong” sedang berdiri di pinggir kolam. Saya dibisiki oleh penjaga warung, “Sssttt.. itu orang (ia menunjuk orang yang berdiri di pinggir kolam itu) sedang berniat untuk terjun ke tengah kolam. Untungnya juru kunci segera bertindak. Ia segera mengganti korban dengan memotong seekor ayam kampung dan menciprati darah ayam di sekeliling kolam.” Anehnya setelah upacara singkat itu, orang yang disinyalir hendak bunuh diri meninggalkan lokasi kolam begitu saja! Aneh bukan?
Memang tempat ini terkenal sebagai “The Most Dangerous Hot Spring” yang penuh misteri dan menyeramkan, tapi lupakanlah… saya sedang menikmati telur dan pisang yang saya rebus di aliran air panas ini.
——-
*Reinhard Hutagaol adalah seorang perwira POLRI di Jakarta yang saat ini berdinas di Divisi Hubungan Internasional. Polisi ngeblog? Itu lah dia. Cek di reinhardjambi.wordpress.com
You are currently browsing the archives for the Anthology Posts category.




