Mengintip program pariwisata negara tetangga

Mengintip program pariwisata negara tetangga

Baru pertama kali saya ikut ASEAN Tourism Forum (ATF) yang pada tahun 2016 ini diadakan di SMX Conference Center di Manila. Acara ini utamanya adalah trading B2B (business to business) antar buyers dan sellers pelaku industri pariwisata internasional, jadi bukan ajang promo tour dan tiket murah yang diantre orang. Karena saya diundang sebagai media, maka setiap hari saya dan sekitar 100an jurnalis dunia berkumpul di sebuah ruangan untuk mendengarkan konferensi pers dari 10 anggota ASEAN yang mempresentasikan update pariwisata negara masing-masing. Herannya, hanya saya satu-satunya media dari Indonesia.

Berikut laporannya yang saya urutkan berdasarkan jumlah turis asing yang masuk ke negara yang bersangkutan;

Thailand

Jumlah turis asing yang masuk ke Thailand adalah yang terbanyak dibandingkan seluruh negara ASEAN, yaitu sebanyak 29,8 juta orang selama tahun 2015. Pariwisata menyumbang pemasukan negara terbesar dengan USD 42 milyar pada 2015 dan mentargetkan USD 66 milyar pada 2016. Amazing Thailand juga meluncurkan logo pariwisata dan TVC terbaru dengan tagline “Where life rules everything”.

Fokus pariwisata Thailand 2016 adalah luxury tourist, antara lain dengan cara meningkatkan pariwisata di bidang cruise ship (mencapai 10.000 orang turis asing/tahun), golf, medical tourism, health & wellness. Juga mengembangkan community based tourism di daerah terpencil dan female travelers. Selain itu, Thailand ingin meningkatkan turis domestik dengan memberikan insentif khusus.

Malaysia

Mereka bikin Malaysia Tourism Transformation Plan di mana tahun 2020 ditargetkan 36 juta turis asing masuk dengan pemasukan negara sebesar 168 milyar Ringgit. Malaysia menawarkan pariwisata yang value-for-money dan well-developed infrastructure. Salah satu presentasinya adalah tentang pembangunan high-speed railway antara Kuala Lumpur dan Singapura. Fokus promosinya menggunakan media digital, maka tak heran situs pariwisatanya memenangkan Best Tourism Website di ajang penghargaan dunia.

Program pariwisatanya antara lain adalah mengadakan festival seni dan kuliner, mulai dari mask art, street food, halal food, sampai durian festival. Meningkatkan sport tourism seperti F1, Ironman, Malaysia Open. Yang lebih hebatnya lagi, Malaysia sudah mempunyai 17 theme park termasuk yang akan segera buka, yaitu Dreamworks, Nickelodeon, dan 20th Century Fox! Progam lain yang menarik adalah “Malaysia My Second Home” di mana para pensiunan dari negara asing manapun dapat tinggal di Malaysia dengan syarat memiliki aset minimal 350.000 Ringgit.

Singapura

Jumlah turis asing ke Singapura sebanyak 15 juta dengan pemasukan SGD 24 milyar. Turis asing terbanyak yang masuk terbanyak berasal dari Indonesia dengan 2,4 juta orang/tahun (sementara turis Singapura yang masuk ke Indonesia 1,5 juta orang/tahun). Hanya Singapura yang diwakili oleh satu orang saja (negara lain serombongan), namun program pariwisatanya menurut saya paling hebat.

Program promosi pariwisata mereka dibuat segmented berdasarkan target market negaranya, misalnya untuk market Filipina mereka menampilkan video musik band terkenal Filipina yang syuting di Singapura, dan untuk market Tiongkok mereka membuat apps digital dalam bahasa lokal. Mereka juga bikin pameran contemporary art di Beijing, London, New York untuk memperkenalkan negaranya. Tourism board Singapura menjalankan kerja sama promosi dengan bandara Changi sebesar SGD 35 milyar dan maskapai penerbangannya sebesar SGD 20 milyar. Mereka berkerja sama dengan TripAdvisor dengan membuat microsite khusus “Live like a local”. Hebatnya lagi, mereka memperbaiki museum-museum dan memamerkan koleksi baru, juga membuat event kuliner/musik/olah raga yang berskala internasional seperti MasterChef Asia dan Asia’s Got Talent.

Indonesia

Dari 10 negara, cuma Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pariwisatanya langsung. Baru kali ini juga saya lihat press release yang ada foto muka, yaitu mukanya Pak Menteri! Tapi Pak Menteri tidak mempresentasikan slide-nya namun langsung ke tanya-jawab yang diserbu oleh para jurnalis. Pertanyaannya tentang perkembangan bom Sarinah dan kabut asap.

Pada slide tertulis jumlah turis asing pada 2015 adalah 10 juta, dan target 2019 adalah 20 juta orang, dengan top 3 market dari Singapura, Malaysia dan Australia. Program pariwisata Indonesia adalah pembebasan visa bagi 90 negara di dunia, meningkatkan budget promosi sebesar 300% dan mengembangkan 10 destinasi prioritas. Hmm, “ngambang” banget ya?

Vietnam

Jumlah turis asing yang masuk ke Vietnam sebanyak 7,9 juta/tahun dengan top market-nya berasal dari Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang. Vietnam mencanangkan Visit Vietnam 2016 dengan fokus destinasinya di Phu Quoc Island – Mekong Delta. Lalu presentasi diganti dengan iklan maskapai penerbangannya yang baru saja privatisasi pada 2015, iklan tentang kota Danang, dan iklan tentang travel mart yang akan diadakan di Ho Chi Minh City.

Filipina

Filipina kedatangan turis asing sebanyak 5 juta/tahun yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Rupanya orang Korea banyak yang datang karena ingin belajar bahasa Inggris lebih murah.

Program mereka lebih banyak berbenah diri, antara lain membuat sistem akreditasi baru untuk akomodasi, meningkatkan accessibility melalui jalur udara dan laut, pelatihan pariwisata, serta mengembangkan niche market yaitu scuba diving dan medical tourism.

Kamboja, Myanmar, Laos

Saya jadikan satu karena ketiga negara ini presentasinya sama-sama membosankan dengan bahasa Inggris yang sulit dimengerti. Rata-rata turis asing yang masuk ke masing-masing negara sebanyak 3 – 4 jutaan orang/tahun. Isi presentasi malah foto-foto destinasi yang generik. Fakta menarik, jumlah turis Korea Selatan meningkat 91% ke Laos karena ada artis Korea yang syuting di sana.

Brunei

Sebagai negara terkecil di ASEAN, Brunei tak banyak memberikan update tentang pariwisatanya. Setengah dari jurnalis pun keluar dari ruangan karena menganggap tidak penting, bahkan ada yang karena sentimen terhadap hukum syariah Brunei. Yang bawain presentasi juga songong sih, bisa-bisanya dia bilang bahwa dia nggak suka Filipina. Anyway, isi presentasinya tentang pembangunan jembatan dengan menayangkan berita TV tentang anak Sultan meletakkan batu pertama. Salah satu program yang diajukan adalah Ramadhan Festive di mana semua orang dapat ke istana untuk berjabat tangan dengan Sultan!

ASEAN for ASEAN

Pada ATF 2016 ini 10 negara anggota ASEAN sepakat untuk saling mempromosikan kunjungan pariwisata di dalam ASEAN dan meningkatkan awareness terhadap brand pariwisata ASEAN. Masing-masing negara diberi tema promosi, seperti Indonesia untuk ASEAN spa and wellness, Singapura untuk cruise tourism, dan Malaysia untuk adventure travel.

Anehnya, dari perwakilan negara ASEAN di panggung hanya Thailand, Malaysia, dan Singapura yang ngomong. Yang lain meneng bae, termasuk Indonesia. Inisiatif promosi ASEAN pun kebanyakan datang dari Malaysia dengan program GoASEAN dan Singapura dengan program trade show khusus cruise tourism.

Nah, menurut Anda, program pariwisata negara mana yang keren?

Catatan: Menurut saya sih hitungan jumlah turis asing yang masuk itu masih diragukan. Ada yang menghitung jumlah penumpang pesawat dari luar negeri, ada yang menghitung dari jumlah cap masuk WNA di imigrasi, ada yang berdasarkan jumlah WNA yang menginap di hotel minimal semalam, ada yang membedakan antara WNA yang datang sebagai turis atau bisnis.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

44 comments

  • Ya ampun Singapore yang di peta cuma setitik aja jumlah wisatawannya banyak banget dan niat banget pas presentasi. Terlihat lebih serius dan professional ya hehe

    Reply
  • Indonesia, kalau dari segi tempat wisata, baik alam atau buatan, top markotop deh ! Dari Sabang sampai Merauke, juara kelas, tapi ya itu pemerintahnya kaya “ogah-ogahan” promosinya, “ogah-ogahan juga benerin peraturannya.

    Tinggal bagaimana kita sebagai warga negara aja sih, bantu promosi via media sosial dan juga bantu ngejaga tempat-tempat wisata biar ga rusak.

    Jujur sih, Singapura paling keliatan pro banget sama programnya

    Reply
  • Saya pikir ngga perlu pesimis seperti ulasan diatas mengenai bangsa kita. Seburuk apapun negeri ini, itu lebih baik daripada dinegeri orang. Saya jadi teringat ketika bertolak dari kota Kinabalu (KK), dipesawat saya sebaris dengan seorang Datuk dari Malaysia. Tentunya beliau bukan orang sembarangan di negeri jiran. Beliau adalah salah seorang pengusaha kelapa sawit dan pertambangan baik di Malaysia sendiri maupun di Indonesia. Satu hal yang menarik yang beliau katakan, yang masih terngiang dibenak saya adalah justru mengenai bangsa ini. Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang sangat kaya, bangsa yang sangat indah, namun karena kepentingan tertentu yang menginginkan Indonesia untuk tidak maju. Isu SARA dan HAM menjadikan Indonesia bergerak lamban. Hal yang kecil dari isu tersebut bisa jadi batu sandungan yang cukup merepotkan. Berbanggalah menjadi warga negara Indonesia, negara dimana ditakuti kalau jadi mandiri, berekonomi yang kuat, militer yang kuat bakal menjadi bangsa terkuat didunia. Indonesia tidak butuh bangsa-bangsa disekitarnya karena bumi dan kekayaan alam didalamnya cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya. Kalau saja hutan di Indonesia semua terbakar atau ditebang, bukan saja Indonesia bahkan dunia akan merasakan dampaknya.
    Saya hanya bisa terdiam mendengarkan beliau berbicara. Bagaimana saya yang terlahir sebagai warga negara Indonesia justru tidak memiliki nasionalisme sekokoh itu. Apalah beliau hanya warga negeri jiran yang tidak ada apa-apanya dengan bangsa ini.
    Cukup menjadi renungan untuk kita semua, sudahkah menjadi warga negara yang baik, mematuhi aturan dan hukum yang ada, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan fasilitas umum secara tertib, dsb. Yang kemudian menjadikan turis atau tamu menjadi nyaman untuk melancong ke sini. Ataukah sebaliknya. Kalau begitu jangan bermimpi kalau cita-cita itu akan terwujud. Coba anda melancong ke Thailand, Malaysia atau Singapura, terasa keramahan yang lebih jika dibandingkan berwisata di wilayah Indonesia.

    Reply
    • Nimbrung ya, sebenernya bukan soal hospitality. Tapi program pariwisata yang akan kita jual. Emang Indo kurang niatan kedengaran di sini.

      Kalau ngomong soal ramah, .. rata2 orang Asia Tenggara ramah2 sama turis, karena filosofi hidup kita yang bilang tamu itu ‘raja’. Dan, kalau kita sebagai turis, host emang rata2 pada ramah tamah.. Tapi.. itu temporary deh. Kalau netap di SG, orang S’pore itu yang paling jutek se Asia Tenggara. Mungkin faktor mereka sibuk dan gila kerja, hanya ke turis mereka big smile.

      Dan satu lagi bedanya kita dibanding negara tetangga, .. kita terlalu bebas dalam media, Beda sama negara tetangga, My dan Sg sangat mengontrol kebebasan Pers, jadi kesannya kita emang banyak banget problems.. Mereka juga banyak problems, tapi gak begitu diexpose.

      Reply
  • Terlalu banyak event ginian, mungkin kurang begitu bergairah utk mempromosikan negara. negara kita hanya perlu dipoles sana sini sudah dibanjiri kunjungan internasional juga koq.. pertanyaanya siapa yang mau bergerak pertama utk menarik wisman asean

    Reply
  • Saya rasa salah satu keberhasilan Malaysia menggaet turis adalah karena adanya Air Asia, mungkin Indonesia bisa meniru malaysia dengan memberikan kemudahan/bekerjasama dengan salahsatu maskapai atau bisa juga men-subsidi salahsatu maskapai dengan promo harga murah (asalkan jangan bekerja sama dengan maskapai yang suka delay/cancel saja) IMHO

    Reply
  • Potensi Pariwisata kita luar biasa cuma promosi dan programnya kurannggg..masa saat kesempatan emas presentasi Menpar cuma tanya jawab! Kak..Trinity saja yang jadi Menteri Pariwisata saya suetujuuu bangettt…

    Reply
  • Ah bosan, terus2an bangga dengan keindahan alam Indonesia, Padahal ciptaan Tuhan dimanapun pasti cantiknya luar biasa. Setiap negara punya keunikan dan keunggulan alam sendiri2 dan semuanya indah. Yang mustinya dibanggakan adalah bisa tidaknya kita manusia menjaga dan menggunakan tanpa merusak, keindahan alam yg diberikan Tuhan itu. Disini Indonesia memang sudah gagal total dan yang salah ya kita semua,

    Waktu Jokowi mengeluarkan questionnaire untuk calon-calon mentri pilihan rakyat (yg ternyata cuma utk show) saya pilih T.

    Reply
  • Sepertinya ada yang salah dengan kepariwisataan kita ya mbak? Ya, okelah Indonesia masih kalah dengan Thailand dan Malaysia. Tapi lama kelamaan Indonesia akan banyak juga yang mendatanginya dari turis asing asalkan semua jalan menuju obyek wisata di perbaiki. Mungkin negara tetangga ramai dikunjunginya karena satu hal ini infrastruktur. Jadi sebaiknya menpar segera berbenah, jangan hanya berharap saja tanpa melakukan tindakan apa – apa 🙂

    Reply
  • Wah indonesia bakalan promosi gede-gedean nih, semoga pariwisata di indonesia bisa memperbaiki nilai rupiah. Oh iya, makasih mbak atas rangkuman hasil forum asean 2016 di manila ini. hehehe

    Reply
  • Emang benar malaysia dan singapura.terutama karena pusat transit,sampai sering heran kenapa kita punya batam gak bisa bersaing dengan klia dan changi,toh lokasinya sama strategisnya,harusnya indonesia ada satu maskapai yg low cost kyk air asia dan pusatnya di batam , gw yakin turis asing pasti naik signifikan

    Reply
  • Malaysia paling keren programnya! Bakalan g bosen2 ni kesana, hmm Indonesia cuma butuh tim yang serius buat ngegarap potensi wisatanya, Kementrian kalau mw swrius bs hire Mb T buat jd staff or deputinya. Pasti pariwisata Indonesia bs lbh baik.

    Reply
  • Pingback: infografis, tentang registrasi Dosen ada lowongan silahkan inbox>>>> BAGIKAN … | Lowongan Dosen

  • baca tulisan trinity jadi nyengir-nyengir sendiri, setingkat menteri tapi ketika ngasi paparan “ngambang”. itulah pemerintah (maaf..), terlalu banyak unsur kepentingan akhirnya jadi gagal fokus. seberapa banyak dan indahnya daya tarik wisata yang kita punya, ketika pemegang kebijakan (pemerintah) ga ada niatan untuk memajukan pariwisata-nya, akhirnya tetep gitu-gitu aja.

    Reply
  • Jangan2 miss T, pernah ditawarin juga sama pak J buat duduk di kabinet?Secara beliau open ke skillful person, kita aja gatau kali, ya miss T?

    Reply
  • Oke, mau numpang komen dengan sudut pandang orang yang jadi anak buahnya Arief Yahya (di lapisan yang ke sekian, hehehe). Saya seobjektif mungkin di sini.

    1. Hal paling mendasar adalah soal perhitungan wisman. Di guidebook UNWTO (dan buku pariwisata manapun yang saya jadikan referensi skripsi dulu), yang dihitung adalah KUNJUNGAN bukan ORANG. It is VISITS not VISITORS.

    Jadi, kalau Singapura dikunjungi 15 juta wisman, Indonesia 10 juta sebetulnya jumlah orangnya gak sebanyak itu. Bisa jadi riilnya cuma, katakanlah, 8 juta karena orang yang datang 2x ya diitung dua kunjungan, bukan satu orang.

    Perhitungannya pun simpel kalo menurut UNWTO. Kalo berkunjung selama lebih dari 24 jam dan kurang dari setahun itu dihitung over-night visit. Soal yang dihitung sebagai wisatawan itu yang tujuannya piknik, yang dicap imigrasi, dll itu kebijakan negara masing-masing.

    Pendefinisian wisatawan bisa berbeda, dan sejatinya kalau mau ngecek apa saja aktvitasnya itu susah sekali dan butuh biaya buanyak. Yang bisnis bisa saja kemudia vakansi 1-2 hari. Yang pelesir 7 hari bisa saja nyambi kerja sampai 11 bulan 🙂

    2. Menarik melihat fakta bahwa cuma Indonesia yang diwakili menterinya, negara lain (mungkin) diwakili orang tourism boardnya. Nah bisa dikira-kira ada apa dengan tourism board kita? :))

    3. Number is not always important. Seperti yang mbak sendiri ceritakan saat main ke Sipadan. Di sana karena jumlah penyelam dibatasi, jamnya juga, dan gak ada resort di pulau itu eeeeh Sipadan malah jadi tempat yang sungguh aduhai.

    Derawan katanya 10 tahun lalu begitu, tapi kemudian kualitasnya menurun (entah ya, belum pernah bandingin sendiri). So, kenyataannya angka yang lebih besar selalu berarti lebih baik.

    4. Harus diakui pariwisata kita tertinggal. Di laporan WEF, bagian Travel & Tourism Competitiveness Index, kita masih kalah dari Singapura, Thailand, dan Malaysia. Tapi let’s be fair, sebelum era Jokowi, dana kementerian pariwisata berapa? Berapa rasionya dibanding ketiga negara itu?

    Karena besarnya anggaran sangat berpengaruh pada kemampuan mengurus pariwisata (gak melulu promosinya ya).

    5. Masalah terbesar (yang dicurhatin orang awam ke saya) Indonesia adalah aksesibilitas. Mau ke Morotai bisa jadi lebih mahal dari ke Jepang. Susahnya akses ini berpengaruh pada harga yang gak kompetitif.

    Soal ini memang jadi PR banyak pihak. Karena bangun jalan, bandara, sediain kapal, pesawat, itu bukan domainnya Kemenpar, jadi harus duduk bareng lalu ngopi lucu dengan pihak lain biar sepakat dan sejalan.

    Belum lagi sediain penginapan. Kan gak lucu udah sampai satu destinasi tapi jumlah kamarnya gak memadai, hehehe.

    6. Penting gak penting untuk diketahui, dinas-dinas pariwisata di daerah itu otonom. Mereka di bawah pemda, bukan Kemenpar. Jadi kadang susahnya menteri bikin kebijakan apa belum tentu sepenuhnya akan dilaksanakan oleh daerah. Wong bukan bawahan, jadi ya gak bisa seenak udel kasih komando.

    “emang lu sape merintah kite?”

    —————————————————————————————————————————-

    Ya kira-kira segitu. Semoga Mbak Trinity sempat baca dair awal sampai pungkas. Kalo ada waktu pengen banget ngobrol aseek sama mbaknya 🙂

    Reply
  • Kalau aku melihat di Indonesia sendiri saat ini keminatan berwisata memang cukup tinggi. Katanya pak walikota Bandung sih biar nggak panik.
    Namun, dari segi perawata dan pengembanhan infrastruktur sendiri kurang dikelola dengan baik. Semoga tempat wisata di Indonesia nanti kedepannya membaik, selain promosi yang gempor-gemporan 😀

    Reply
  • Org Indo hobinya ke Malaysia sih. Sakit dikit ke Penang. Beli baju baru ke Bangkok. Mau beli vinci di KL. Sumbangin teruslah devisa buat mereka sono

    Reply
  • Pingback: Bunga Matahari Pesona Indonesia | debyan89

  • Kalau datang ke berwisata ke Indonesia gak dikasih kemudahan yah susah juga wisatawan mau datang….mau ke pantai tapi gak boleh pakai bikini….mau minum tapi gak boleh ada bir….kalo kita kayak Iran sih gak papa dilarang-larang wisatawan tetap mau datang….kalau Indonesia yah gitu-gitu aja khususnya di beberapa daerah yang pengen pariwisatanya maju tapi “jual mahal” yah susah juga.

    Reply
  • Dari penjelasan di artikel ini, saya jadi bertanya kenapa program pariwista Indonesia bisa “Ngambang” banget ya ? tidak ada sisi kreatifnya dalam pemaparannya seperti keunggulan2 destinasi wisata yang tidak dimiliki oleh negara2 tetangga, aktivitas yang bisa dilakukan, pariwisata indonesia yang menuju sistem digital atau visi kedepan pariwisata Indonesia seperti apa ?
    Saya kurang puas dengan pemaparan pak menteri.
    Seharusnya bisa lebih spesifik lagi pemaparannya mengingat banyak jurnalis yang meliput.

    Reply

Leave a Reply