Solo trip pertama kali!

By Pristi Gusmatahati*

Pose sama ikan buntal

Berbekal ilmu sebagai daydreamer, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama backpacking saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi backpacking sen-di-ri-an, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil kaya balita padahal sudah tua, plus saya buta arah. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri pergi ke Tanjung Lesung, sendiri. Yippiiiee!

Tanjung Lesung adalah sebuah pantai yang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Disebut Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung (alat tradisional untuk menumbuk padi). Tempat ini terkenal dengan resort mewahnya serta Beach Club yang menyediakan fasilitas snorkeling, mancing, banana boat, jetski, dan lain-lain. Ada juga sailing trip ke anak gunung Krakatau, tapi buat saya harganya ngajak miskin banget. Lagipula, saya berencana untuk trip satu hari saja, berangkat pagi, pulang malam, karena esok harinya harus ngantor.

Dari rumah saya yang di Bogor, Tanjung Lesung memang tidak terlalu jauh, “cuma” 7 jam perjalanan saja angkutan umum. Saya berangkat pagi, dan berencana sudah tiba di rumah paling lambat pukul 12 malam. Sepanjang perjalanan, saya dapat pengalaman “unik”. Misalnya, sewaktu menunggu bus pagi-pagi, saya terpaksa diam-diam numpang buang air kecil di toilet pria di sebuah pusat perbelanjaan karena toilet wanitanya belum buka. Sudah mengendap-endap, eh pas keluar toilet sudah ada satpam menanti saya dan “menginterogasi”.

Setelah naik-turun bus, ajrut-ajrutan melewati jalanan busuk, sampai akhirnya mata dimanjakan dengan pemandangan pantai biru kehijauan dan nyiur melambai, sampai juga saya di Tanjung Lesung Beach Club. Cuaca yang lumayan terik tidak menyurutkan niat saya snorkeling. Sayangnya visibility-nya sedang kurang bagus karena sempat hujan. Walaupun begitu, snorkeling di Tanjung Lesung ini bagi saya lebih menyenangkan daripada pengalaman snorkeling sebelum-sebelumnya karena dengan jarak 20 meter saja dari pantai. Kedalaman tidak sampai 5 meter, begitu nyemplung saya langsung nabrak beragam school of fish! Terumbu karangnya pun berwarna-warni dan saya bisa mengelus-elusnya tanpa harus menyelam dalam-dalam. Saya juga bertemu banyak clownfish alias Nemo, dari ukuran kecil sampai yang agak besar. Tapi juaranya… saya nemu ikan buntal! Ternyata ikan ini wujudnya benar-benar lucu, selain badannya yang gembung, ikan ini punya gigi besar-besar bak gigi kelinci memenuhi mulutnya yang imut. Tapi ‘kurang ajar’nya si ikan ini (maaf) ternyata hobi pup. Selama saya pegang dalam air, dalam 1 menit dia pup sampai 2 kali.

Selesai snorkeling, saya pesan makanan. Berhubung Tanjung Lesung adalah objek wisata yang pada umumnya menyasar golongan “the have”, dengan akomodasi rata-rata minimal Rp. 1.000.000/malam, jadi Beach Club-nya pun menyediakan makanan mahal. Sekedar ilustrasi, teh tawar panas yang biasa digratisin di tukang pecel lele, di resto ini membandrolnya dengan harga Rp. 8000. Dan kalau di tukang pecel lele kita dapat segelas gede GRATIS, di sini hanya secangkir kecil.

Sambil menunggu pesanan, saya leyeh-leyeh di pinggir pantai sok-sok sunbathing ketika saya melihat ada cowo bule GANTENG berperut kotak-kotak! Untung saya pakai sunglass, jadi bisa ngelirik sepuas hati. Setelah saya perhatikan, ternyata memang banyak pengunjung yang bertampang ‘indo’. Selain si ganteng itu, ada segerombol keluarga Arab yang cakep-cakep banget. Ada juga keluarga India yang salah seorang wanitanya pakai sari lengkap sambil leyeh-leyeh di pantai! Hasil obrolan dengan pengelolanya, pengunjung di sini memang banyak ekspatriat dan rombongan perusahaan yang menginap di resort. Orang lokal Pandeglang-nya justru nyaris tidak ada.

Matahari mulai bergulir ke barat, dan ternyata oh ternyata, di Beach Club ini kita tidak bisa melihat sunset. Itulah sebabnya mereka menyediakan Sunset Trip, karena untuk melihat sunset mesti naik boat agak ke tengah laut. Gagal deh niat foto-foto “klasik” siluet berlatar sunset. Saya memutuskan untuk beranjak pulang, karena transportasi umum dari Tanjung Lesung ke terminal bus terdekat terbatas. Benar saja, selepas maghrib sudah tidak nampak ojek satupun! Untungnya seorang instruktur snorkeling berbaik hati memberi tumpangan sampai pangkalan ojek terdekat.

Di sinilah ‘kesalahperhitungan’ makin kacau. Karena niatnya backpacking, saya bawa uang tunai pas-pasan. Tapi ternyata di sini ada aturan tidak tertulis bahwa transportasi umum harganya bisa naik hampir 3 kali lipat kalau malam dan tidak bisa negosiasi karena tidak ada pilihan transportasi lain! Ojek yang harusnya Rp 15.000 jadi Rp. 35.000, angkot yang mestinya Rp. 10.000 jadi Rp. 25.000. Selain itu, sesampainya di Terminal Serang, saya yang santai karena diberitahu terminal ini beroperasi 24 jam, melongo melihat cuma ada 2 bus AC jurusan Bandung. Oalah, baru sadar ternyata walaupun terminalnya 24 jamtidak  berarti semua trayeknya  ikutan 24 jam. Wah, sudah deg-degan takut uang yang saya bawa tidak cukup, busnya gak ada pula! Apalagi waktu itu sudah menjelang tengah malam. Saya pun bertanya sama salah satu calo di situ, kalau mau ke Bogor bagaimana. Ternyata saya bisa naik bus jurusan Bandung tapi yang ekonomi via Ciawi, hanya saja saya harus sabar menanti karena datangnya biasanya lewat tengah malam. Waduh! Cuma dasar saya ndablek kali ya, karena terlalu senang berhasil backpacking sendirian, jadi sepanjang perjalanan bibir saya tidak bisa berhenti cekikikan walaupun lagi deg-degan takut tidak bisa pulang.

Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah, riset-riset-riset. Mungkin menyenangkan jalan-jalan dengan spontan, tapi salah perhitungan di tengah jalan itu tidak menyenangkan loh! Apalagi jalan sendirian berarti tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain diri sendiri.


*Pristi Gusmatahati, broadcaster yang baru belajar jadi backpacker. Obsesi keliling Eropa sebelum usia 26 tahun, biar dapat diskon kereta 30%. Suka curhat dan menampung curhatan di http://kangenkasur.wordpress.com

15 comments

  • Bawa uang tunai pas2an, apa tidak ada mesin ATM di perjalanan? wah susah juga ya kalau uangnya gak ada, kalau di Eropa mungkin bisa nyuci pring buat cari tambahan, kalau pas di Indonesia cari tambahan dana bgm ya? hehehe.. Nice article ;-).

  • @Nella : Waktu itu dari Tanjung Lesung ke Terminal Serang tidak ada ATM yang buka T.T setelah naik bus jurusan Bandung itu sih di Rest Area ada ATM, tapi berhubung bus-nya lewat gerbang tol yang memang sudah dekat ke arah rumah jadi saya nggak ambil uang. Alhamdulillah selamat. :D

    @Anonymous : Iya, padahal bawa uang-nya sudah di spare, tapi memang nggak sampai 2-3 kali ongkos pulang sih. Di traveling-traveling selanjutnya saya sudah ‘belajar’ dari pengalaman ini, jadi selalu bawa dana darurat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. :)

    @Lannie & Dhienar : Tanjung Lesung cantik, dan kalau nggak mau pulang balik seperti saya, bisa menginap di resort, maupun camping di sekitar pantai. Traveling rame-rame seru, tapi traveling sendiri lebih praktis karena bebas menentukan itinerary, meskipun lebih berat dari segi budget karena tidak ada teman patungan.

  • semoga menikmati snorkeling di tanjung lesung :)
    buat sekedar masukan, makhluk air di bawah sana akan lebih menarik kalau kita hanya mengamati dan tidak menyentuh, apalagi diangkat keluar dari habitatnya hanya buat foto2 (saya asumsikan dari gambar yg dipasang, semoga saya salah).
    -Take nothing but picture, leave nothing but bubbles, kill nothing but times-

  • @nesca : ayo travelliiing! Sebenernya backpacker itu ya terpaksa ya, karena budget saya terbatas, hehehe. Kalau memang punya budget lebih, pengen juga travelling yang nginep di resort mewah gitu, ke sana ke marinya sewa mobil, tapi apa daya belum mampu.

    @tato : Tanjung Lesung menyenangkan karena tanpa perlu naik kapal terlalu jauh dari pantai, pemandangan bawah laut-nya sudah cantik. Ikan buntal yang di foto itu waktu itu saya “nemu” dekat kapal pas saya mau turun kapal menuju pantai. Karena gemas (-_-*) jadi saya angkat buat foto bareng, habis itu dilepas lagi. Memang salah sih, makanya habis itu nggak pernah kaya gitu lagi. :)

  • hal mbak pristi…
    pengalamannya mnarik, sya jadi mau ah ke TL sendiri.
    bisa mnta itinerary sma budget kasarnya ga yah? kebetulan saya di bogor juga…
    kalau boleh,bisa di email ke cooljab@yahoo.com terimakasih mbak…

  • @ratri : postingan Naked Traveler yang bukan tulisan mbak Trinity namanya Anthology. Untuk nyumbang tulisan di anthology ini klik tab Anthology di bagian atas blog Naked Traveler, ada caranya di situ.

    @jabbar : saya gak ada itinerary karena daytrip, berangkat pagi, pulang sore, jadi cuma ngunjungin Sports Club-nya si Tanjung Lesung Resort aja. Kalau emang punya waktu luang, bisa diterusin trip-nya ke Pulau Umang. Mengenai budget, waktu dulu sih cuma 200ribu ya, sudah sama makan. Soalnya naik bus dan angkot gitu. Kalau dari Bogor, tinggal naik bus apa aja jurusan Merak, trus turun di terminal Serang, naik DAMRI jurusan Tanjung Lesung. DAMRI-nya butut ya, bukan DAMRI bagus kaya yang mejeng di samping Botani Square.

  • Itulah susahnya mau backpacker-an di dalam negeri karena fasilitas serba terbatas apalagi kurang persiapan. Yapi justru disitulah yang bikin nagih haha…adrenalin antara takut, ngeri dan juga seneng.

Leave a Reply