Menunggu kereta di Lucknow

By Seli Satriana*

Stasiun Kereta Lucknow

Pada suatu musim dingin dibagian utara India, saya melakukan perjalanan selama 25 hari dengan menggunakan moda transportasi kereta api.

Hari itu, saya mau berpindah kota dari Lucknow menuju Varanasi dengan naik kereta yang berangkat jam 11.00. Saya dan teman-teman sudah datang ke stasiun jam 10.30 pagi. Cuaca Lucknow hari ini mendung dan suhu udaranya dingin banget, sekitar 10 derajat Celcius. Daripada bengong di peron, kami akhirnya memutuskan menunggu di sebuah food court kecil di dalam stasiun sambil makan siang dan minum chai (teh ala India). Lumayan sambil menghangatkan badan.

Tunggu punya tunggu, belum ada tanda-tanda keretanya muncul. Katanya kereta terlambat, rencananya akan datang jam 14.00. Kami pun balik lagi ke food court. Eh jam 14.00 lebih belum juga keretanya nongol! Sampai sudah bosan menunggu, kami bertanya-tanya ke penumpang di sekitar. Katanya keretanya telat lagi, baru sekitar jam 17.30 nanti dijadwalkan akan datang. Pasrah, kami memutuskan menunggu di platform daripada naik lagi ke ruang tunggu di lantai atas dengan backpack masing-masing. Di ruangan terbuka begini, dinginnya terasa minta ampun! Bolak-balik kami membeli chai di warung-warung kelontong yang tersedia di peron.

Suasana peron di stasiun Lucknow tidak jauh berbeda dengan susasan peron di kota-kota lainnya di India, penuh dengan manusia dan sapi yang berkeliaran bebas. Kan kaget gitu kalau tiba-tiba kesenggol sapi lewat! Masih mending sapi, ternyata ada pula tikus dan monyet! Padahal saya paling takut sama tikus! Nyebelinnya, tikus-tikus itu bukan sekedar berkeliaran, tapi mulai mencium-cium ransel saya. Duh, bete banget jadinya! Meski saya pindah duduk di atas ransel, tikus-tikus itu tetap aja masih nekat mendekat! Belum lagi monyet-monyetnya yang selain besar-besar, berjumlah banyak dan pastinya suka iseng. Di sebelah kami nongkrong ada keluarga India yang sedang asyik makan kacang, tiba-tiba harus rela plastik kacangnya diambil oleh si monyet. Saya jadi mendekap barang-barang saya dengan erat, takut dicuri monyet juga.

Sampai lewat jam 18.00, tetap belum ada tanda-tanda kemunculan kereta kami. Seorang penumpang di dekat kami yang juga sedang menunggu kereta yang sama bilang bahwa kereta baru akan datang jam 20.00! Gubrak! Saya mulai agak cemas nih mengingat baru kemarin saya baca berita di internet, ada tabrakan di jalur utara. Penyebabnya cuaca buruk karena kabut tebal. Kami sempat berpikir untuk naik bis, tapi karena sudah gelap rasanya tidak ada pilihan lain selain pasrah menunggu. Kali ini saya mengajak teman-teman untuk pindah ke ruang tunggu khusus perempuan di lantai atas. Di India, memang banyak terjadi pemisahan antara ruangan laki-laki dan perempuan, katanya karena kasus pelecehan seksual yang cukup sering terjadi di sana. Saya bakalan setuju banget nih kalau diterapkan hal yang sama di Indonesia.

Di ruang tunggu, suasananya penuh tapi kami masih kebagian tempat duduk. Di sebelah kami ada 2 orang ibu-ibu yang juga masih menunggu keretanya datang. Akhirnya jadi ngobrol ngalor-ngilur dengan kami. Lumayan sedikit mengatasi rasa kebosanan menunggu dalam ketidakjelasan. Sisi menariknya, kedua ibu ini adalah pengabdi gereja bukan penganut Hindu seperti kebanyakan masyarakat India umumnya. Mereka sangat tertarik setelah mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia dan sedang melakukan perjalanan keliling India utara. Di Lucknow sendiri memang tidak banyak terlihat turis-turis asing karena kota ini tidak terlalu populer kecuali jika ingin melihat sisa-sisa peninggalan bernuansa Islam.

Satu jam berlalu, belum ada pengumuman kereta kami datang. Sesekali saya keluar mencari keterangan di lobi utama mengenai waktu datangnya kereta kami. Pengumuman ditulis di papan tulis putih ukuran kecil dalam bahasa India pula. Untunglah seorang cowok yang sedang berdiri di samping bisa berbahasa Inggris dan menurutnya kereta kami baru akan datang jam 23.00 nanti. Hah?! Saya pun hanya bisa pasrah dan kembali menunggu.

Dan akhirnya jam 23.00 lewat sedikit, terdengar pengumuman kereta kami datang! Horeee! Kami buru-buru pamitan dengan ibu-ibu yang ramah tadi, lalu dengan semangat turun ke peron. Sialnya, kami sempat salah arah menuju gerbong tempat kami seharusnya berada, sehingga terpaksa balik arah menuju gerbong-gerbong di depan. Gerbong kereta di India memang panjang-panjang sehingga bikin panik. Sekitar jam 23.30, kereta kami benar-benar berangkat! Walaupun kereta ini terlambat 12,5 jam, waktu perjalanan selama 6 jam 45 menit tidak ikutan molor. India oh India, sekali seru tetap seru semuanya!


*Seli Satriana – Tinggal di Jakarta, penikmat jalan-jalan dan The Naked Traveler. Kepingin kembali menjelajah India bagian Selatan di suatu waktu nanti.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series – which will become a movie in 2017.

14 comments

Leave a Reply