Kena Sweeping di Thailand

By Ariyanto*

Jalan utama Mae Sai

Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.

Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!

Chang wesuh kra be wos wus wes!” serentetan kalimat meluncur dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “I’m speaking English. I’m Indonesian, Sir,” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya. 

Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “Okay! Passport! Passport!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila apa?!

Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang sweeping imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.”

Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand.  Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.

Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang diturunkan dari bus itu ya?

—–
*Ariyanto – penulis 4 buku panduan traveling, yaitu “Rp 2 Jutaan Keliling China Selatan dalam 16 Hari”, “Rp 1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari”, “Travelicious Yogya & Solo: Jalan Hemat Jajan Nikmat”, serta “Travelicious Surabaya, Malang & Madura: Jalan Hemat Jajan Nikmat”. Banyak pengalaman traveling-nya yang belum dibukukan dia tuangkan di http://www.a-journo.blogspot.com/ atau di twitter @ariysoc

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

11 comments

  • widih, setelah neng Rini Raharjanti, sekarang mas Ariyanto yang tulisannya nongol di sini. Para ‘kalong’ akhirnya ngumpul. Besok deh coba kirim ke Naked Traveler, siapa tahu ikutan nongol juga. Tapi, ‘Kalongers’ ini kok suka banget nulis tentang Thailand ya? ;=)

    Reply
  • Pengalaman naik bis di Thailand dan diperiksa tentara juga pernah saya alami waktu perjalanan dari Bangkok menuju perbatasan Kamboja. Menjelang perbatasan, bus sempat berhenti di 2 checkpoint dan di setiap checkpoint ada tentara naik ke bis untuk memeriksa identitas penumpang. Awalnya saya tidak paham mengapa bis berhenti dan ada tentara naik bis, tapi saya melihat ke sekeliling dan melihat semua orang mengeluarkan kartu identitas saya langsung ‘ngeh’ dan berasumsi ini adalah pengecekan terhadap imigran gelap. Sayapun langsung mengeluarkan paspor, tapi tentara yang melihat paspor saya cuma melihat sekilas (tidak sampai memeriksa isinya) dan beralih ke penumpang lain.

    Reply
  • feb kemarin sy melintas perbatasan Malaysia-Thai selatan Changloon-Sadao,walau ga sampai sweeping,tp van yang membawa kami sempat dibuka tentara & pengemudinya ditanya2.deg2an juga cz tentara2nya ada semobil & masing2 bawa senjata.tp untunglah akhirnya kami lewat tanpa masalah 🙂

    Reply
  • @Adie: gak tau kalo yg lain. Kalau aku memang karena nulis buku soal Thailand 🙂
    @Bama kunci menghadapi kayak gitu emang gak boleh panik ya
    @Dila kebanyakan yg mobil pribadi malah lolos pemeriksaan
    @Niee: betool, selalu soal konflik perbatasan dan imigran gelap
    @Paul: LOL, dude…no..no i took that pic. But, u should be proud your back is seen in Indonesia’s famous travel blog 🙂
    PS: maap temen2, ini Paul gak bs bhs Indonesia, he’s my travelmate pas kena sweeping itu. Dia yg keliatan di foto, dibonceng ojek 🙂

    Reply
  • hahaha… pengalaman aku di geledah habis2an di perbatasan Perancis dan Belgia.. walopun gak bawa yang aneh2 ntah kenapa ikutan panik juga!

    Ternyata mereka nyari drug traffickers hehe..

    Reply
  • Pernah di periksa di Dermany, adri seluruh penumpang pesawat cuma kita yg di periksa. Muka south east asia.. Passport kita de senter di keker abis.. muka petugas2 nya serius plus sereeeem, diih..

    Reply
  • Pernah di periksa di Germany, dari seluruh penumpang pesawat cuma kita yg di periksa. Muka south east asia.. Passport kita de senter di keker abis.. muka petugas2 nya serius plus sereeeem, diih..

    Reply

Leave a Reply