Nikmatnya Perjalanan Dinas

by TJ*

Plengkung bersama Maya dkk

Kadang-kadang kita merasa iri terhadap orang seperti Trinity yang kerjanya jalan-jalan melulu. Pertanyaan yang muncul di dalam pikiran kita biasanya “Kok bisa ya? Kok punya duit ya?”. Jawaban yang paling mendasar tentunya karena setiap orang punya rejeki masing-masing.

Kalau memang rejeki, kita bisa bekerja sebagai orang yang memang profesinya sering harus melakukan perjalanan bisnis, misalnya marketing, auditor, atau wartawan. Tapi kembali lagi pada rejeki masing-masing, walaupun kita ditugaskan pergi ke luar kota, bisa jadi tenggat penyelesaian pekerjaan sangat ketat sehingga kita tidak sempat kemana-mana. Ada juga tuan rumah yang mengawal ketat tamu-tamunya, pagi dijemput, selesai kerja harus ramah-tamah basa-basi sampai malam, lalu diantar pulang ke hotel… lah, kapan jalan-jalannya coba? Selain itu tentu terkait dengan kepribadian kita, karena ada saja orang kurang berani jalan sendiri, bahkan bertugas ke luar negeri tapi yang diketahuinya cuma hotel dan lokasi kerja, ditambah convinience store di samping hotel tempat membeli makanan instant.

Saya pernah bekerja sebagai salesman pada sebuah perusahaan distributor consumer goods. Waktu itu hidup saya benar-benar di atas roda karena setiap hari harus membawa barang dagangan naik mobil boks ke berbagai kota. Dasarnya doyan ngelayap, kesempatan itu saya gunakan sebaik-baiknya, pekerjaan dikebut agar cepat selesai, lalu menuju tempat yang menarik. Saya juga suka keliling kesana kemari mencoba makanan khas daerah itu. Saya akui dalam beberapa hal saya merugikan perusahaan, karena bisa jadi ongkos bensin menuju daerah favorit saya tidak sepadan dengan prospek pasar di sana. Paling parah kalau ada pelanggan yang cakep, biarpun lokasinya jauh, beli barangnya sedikit pula, tapi tetap masuk dalam daftar wajib kunjung! Hehe! Tapi itu dulu, sekarang sudah ada teknologi GPS yang bisa dipakai memantau salesman nakal, jadi jangan harap bisa ngelayap jauh-jauh.

Beberapa perusahaan dan instansi memiliki budaya santai dan sangat longgar dalam urusan perjalanan dinas. Mohon maaf, tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, biasanya di tempat seperti itu kulturnya feodal. Para tamu dari kantor pusat bila mengunjungi daerah disambut bak tamu agung, diservis habis-habisan, diantar berwisata, kenyang ditraktir makan, dibelikan oleh-oleh, dan kalau tamu itu pria mesum bisa disediakan pula “hiburan khusus”. Tentunya tamu tak perlu bayar, semua ditanggung kantor setempat, mungkin dengan kuitansi dan nota fiktif. Soal pekerjaan? Ah, lupakan saja, semua toh sudah TST (tahu sama tahu), tinggal laporkan yang baik-baik dan kasih tanda tangan sambil merem. Bagaimanapun, jika kita berada pada posisi seperti itu maka sebaiknya dengan kesadaran penuh berusaha menghindari, karena dampak negatifnya baru akan kita rasakan kelak. Ketika sudah berhenti bekerja akan terkena post power syndrome – nggak enak deh kalau sudah tua terus stres karena tidak bisa menikmati layanan spesial lagi.

Ada juga pekerjaan yang memang seratus persen halal nge-trip. Jadi tour guide jelas setiap hari nge-trip melulu. Tapi coba deh amati, apa kira-kira mereka enjoy. Kayaknya sih enggak, karena tempat wisata yang mereka kunjungi ya itu-itu saja. Selain itu, biasanya ada saja peserta tur yang tukang komplen, begini salah begitu salah, rewel.

Satu orang yang saya kenal benar-benar berprofesi happy traveler adalah Mayawati Nur Halim (pernah menulis di blog TNT berjudul Wartawan Norak Pertama Kali ke Luar Negeri). Memang dia wartawan (nggak norak sih), dan sekarang mengasuh majalah jalan-jalan. Awalnya saya “mengenal Maya di dunia maya” saja, karena sama-sama menulis di Blog TNT, lalu dilanjut via email, chatting dan Facebook, sampai akhir 2010 ketika dia butuh teman jalan untuk meliput Plengkung, pantai di ujung timur Pulau Jawa. Kesempatan kopi-darat pertama, kami langsung nge-trip bareng. Simbiosis mutualisme, saya menjadi supir Surabaya Banyuwangi pp, tapi semua biaya perjalanan dibayar kantor tempat Maya bekerja. Mantap deh, entah kapan bisa diulangi lagi, rencananya kami ingin ke Pacitan atau Semeru.

Mereka yang sudah menikah, ada yang kurang beruntung jika memiliki pasangan yang cemburuan. Biasanya ketika dinas luar kota, pasangannya sebentar-sebentar menelepon. Apalagi kalau malam, teleponnya pasti ke kamar hotel, supaya yakin situasinya sudah “aman”. Saya pernah harus pergi keluar kota bersama teman perempuan yang sudah menikah. Si suami secara rutin meminta istrinya memotret lokasi ada dimana dan di-upload di Facebook. Saya jadi berpikir apa tampang saya ini sebegitu mesumnya ya, mungkin kalau istrinya pergi dengan orang lain dia tidak begitu khawatir. Yah, nasib!

Saya sendiri bukan tergolong ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), tapi memang saya aji mumpung. Kalau ada perjalanan dinas ke tempat yang menarik, saya akan mengajak istri, apalagi kalau dinasnya ke luar negeri. Lumayan kan, tiket pesawat dan hotel saya dibayar kantor, outstationed allowance juga ada – artinya saya tinggal keluar uang untuk beli tiket buat istri. Sementara saya bekerja, istri saya bisa jalan-jalan sendiri, setelah pekerjaan selesai saya akan extend cuti sekitar dua hari. Kadang-kadang perjalanan dinas dibayar oleh principal, kantor regional luar negeri. Mereka suka sebal kalau tahu istri saya ikut, “Your wife is coming too?” Saya sih cuek saja menjawab, “Yes, why not, she paid for her own ticket.”

Pernah saya bekerja di perusahaan yang mewajibkan karyawan untuk room sharing pada setiap perjalanan dinas, padahal istri saya ikut. Untungnya jabatan saya waktu itu cukup senior, sehingga sering kali orang lain yang harus sekamar dengan saya jabatannya lebih rendah. Biasanya saya akan sedikit basa basi, “Maaf kamu saya tinggalkan, karena istri ikut maka saya pindah hotel yang lebih murah, maklum bayar sendiri”. Maka orang yang seharusnya sekamar dengan saya itu akan mengerti sendiri, “Oh nggak usah, Pak. Silakan dipakai kamarnya, saya gabung dengan kawan-kawan lain saja di kamar sebelah.” Hehehe.. memang itu risiko jadi junior, man!

——
*) TJ, saat ini bekerja sebagai surveyor marketing research, sering melakukan perjalanan dinas ke berbagai kota. Ini adalah tulisannya yang kelima di blog TNT, dengan gaya tutur yang khas Bonek (bondo/modal nekad) dari Surabaya.

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

20 comments

  • ah mas TJ, slalu memanpaatkan segala kesempatan yang dapat timbul dari sebuah kesempitan, ckkckcck…
    laen kali, ajak2 dong mz, hehehehhe…

    Reply
  • wah,,bisa aja nih si Bapak yg atu. ak bener2 iri loh,,bisa bgitu. dulu sih suka juga dinas luar kota, tp yah kadang2 waktunya ga pas u mmperpnjg libur, dan kurang seru jg kalo mesti jln sdiri….hahaha…

    Reply
  • Apa ini si TJ temenya Kokok ya? Kok kayaknya iya, tapi kalo nggak boleh kenal? Sy juga arek Sby. Pengalmanya ada mirip2nya sama aq, he..he..

    Reply
  • Wahhh temanya pas bgt ma dakuh!
    Soalnya sy jg kerjaannya jln2 wisata kuliner n shopping sambil dinas kantor..
    Lohhh?? Salah kebalik hihihi… Betul tuh TJ, emamg plg enak kl jln2
    Kluar negri krn dinas.. Semua gratis n dpt uang saku jg buat jajan!
    Hehehehe

    Reply
  • Masih mending pjalann dinas bawa istri bayar ndiri (namanya tahu diri) lha ada bbrp org (palagi pjabat publik) pjalann dinas bawa istri/anak yg 100%nebeng bener2 manfaar ksempatn dlm ksempitan uuuuhhhh nyebelin puoolllll

    Reply
  • Lol, sy juga termasuk istri yang suka ngikut kalo suami dinas luar kota, malah bosnya nawarin untuk semua pengeluaran makan selama dinas digabung aja (uang makan), tapi kita suka ga enakan, moso dikasi hati ngerogoh ampelo? hihihihi…. 

    Reply
  • Ada satu profesi yang jarang orang ketahui dan sering sekali melakukan travelling. Kalau yang lain hanya travelling ke kota-kota besar, profesi yang satu ini bisa travelling sampe pelosok-pelosok indonesia, yang mungkin jarang orang denger nama lokasinya. Profesi apakah itu???jawabannya adalah Surveyor Pemetaan. Termasuk teman-teman kami yang bekerja untuk memasang peralatan pasang surut di hampir semua pelabuhan di Indonesia. Alhamdulillah dapat kerja sambil travelling dan bukan melakukan pekerjaan asal-asalan kemudian minta tandatangan dan pulang. Mudah-mudahan akan begitu selamanya

    Reply
  • di paragraf 4 “Mohon maaf, tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, biasanya di tempat seperti itu kulturnya feodal.” tapi di kalimat terakhir “Hehehe.. memang itu risiko jadi junior, man!”, berkorelasi ya sepertinya?

    mengusir si junior demi dapet private room?

    i dont think this bog owner would do the same thing 🙂

    Reply
  • yah.. sebagian orang memang punya rezeki seperti itu.. saya berdoa saja semoga suatu hari nanti saya pun bisa mendapatkan rezeki seperti itud di tempat terbaik yang Alloh berikan pada saya suatu hari nanti..amin..

    Reply
  • kl ada anggota dewan yg memanfaatkan kyk gini biasanya dihujatt. tp ternyata rakyatnya sendiri jg sama. jd ya , ternyata sm ajeeee

    Reply

Leave a Reply