Browsing before traveling

Jalan-jalan lagi nge-hit banget saat ini. Orang semakin mudah untuk melakukan perjalanan mandiri alias tanpa ikut paket tur dari agen perjalanan. Tapi sepertinya jalan sendiri malah bikin senewen. Belum juga berangkat, udah pada panik. Padahal “resiko” perjalanan mandiri adalah mencari tahu segala informasinya sendiri, apalagi maunya yang murah. Meski buku travel udah banyak tersedia (contohnya buku-buku travel terbitan Bentang Pustaka) dan akses internet udah mudah didapat – tapi entah karena budaya orang Indonesia atau bukan – tetap kurang afdol kalau nggak tanya. Saya bisa bilang begini karena setiap hari saya menerima puluhan pertanyaan via email, Facebook, dan Twitter. Padahal semua pertanyaan itu bisa dijawab asal rajin browsing di internet. Nah, kalo udah bisa menghubungi saya via email atau social media, berarti mereka punya punya akses internet bukan? If I can, why can’t you?

Saya paling sebel dengan pertanyaan generik seperti, “Besok aq mau ke Bali niy, di sana enaknya ngapain ya?”. Atau “Di Singapur nginep yang murah di mana ya?”. Dan pertanyaan itu setiap hari pasti ada! Udah gitu, kalo nggak dijawab bisa-bisanya saya dimarahin. Duh, saya yakin kalau pun saya bikin buku travel guide macam Lonely Planet yang super lengkap, pastiii masih ada yang nanya. Saya setuju bahwa tidak ada pertanyaan yang buruk, tapi silly question deserves silly answer. Kalau saya tidak menemukan informasinya di internet (terutama ke daerah yang tidak ngetop), saya pun tanya-tanya forum, milis, teman, penginapan, dll, tapi itu setelah saya usaha mencari.

Nah, berikut adalah panduan browsing before traveling untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar:

Enaknya ngapain ya?”

Ini  pertanyaan paling susah saya jawab karena setiap orang kan seleranya beda, jadi memang harus Anda sendiri yang menentukan mau ngapain dan ke mana. Paling gampang google dengan keyword “tourism” dari negara atau kota yang ingin dituju. Situs pariwisata yang lengkap contohnya Singapura di www.yoursingapore.com, Swiss di www.myswitzerland.com, bahkan Thailand memiliki situs lengkap dalam bahasa Indonesia yaitu www.wisatathailand.com. (Melihat situs-situs itu saya jadi prihatin dengan situs pariwisata negara sendiri. Hiks.). Pilihan lain bisa cek ke situs wikitravel.org atau www.lonelyplanet.com . Saya juga suka browsing berdasarkan tips dari orang yang pernah ke sana, seperti www.virtualtourist.com atau lonelyplanet.com/thorntree

Nginepnya di mana ya?”

Kalau mau nginep di hotel, klik www.agoda.com atau www.airasiago.com. Kalau mau nginep di hostel, klik www.hostelbookers.com, www.hostels.com, www.hostelworld.com. Di situ sudah ada daftar lengkap nama hotel/hostel, lengkap dengan alamat, fasilitas, cara ke sana, review orang yang pernah menginap di sana, dan harganya. Kalau mau booking, tinggal pake kartu kredit dan bayar. Kalau tidak mau booking, tinggal catat alamatnya dan datangi langsung. Namun selalu catat alamat beberapa penginapan yang ingin dituju sehingga bila penuh kita bisa cari lainnya.

“Naik pesawat apa ya?”

Kalau mau cari murah, ya harus rajin browsing dan membandingkan harga antar maskapai penerbangan. Semakin jauh dari tanggal keberangkatan biasanya lebih murah, apalagi kalau maskapai itu lagi ada promo. Untuk rute domestik yang murah bisa ke www.airasia.com, www.lionair.co.id , www.citilink.co.id . Untuk rute internasional terutama di Asia yang murah, cek di www.airasia.com, www.tigerairways.com, www.jetstar.com, www.cebupacificair.com. Untuk budget airlines antar negara di satu benua, google dengan keyword “low cost airlines [nama benua]”. Untuk rute dari Indonesia ke Eropa, Amerika, Afrika memang harus ke situs maskapai penerbangan masing-masing, misalnya www.emirates.com, www.singaporeair.com, atau www.lufthansa.com . Banding-bandingin aja dulu, lalu telepon travel agent untuk mencarikan tiket. Travel agent juga harus lebih dari satu, biar tahu kisaran harganya. Kalau ke negara-negara yang “aneh” seperti  di Amerika Latin, saya biasanya ke www.expedia.com dulu untuk menentukan pilihan-pilihan maskapai penerbangan, lalu masuk langsung deh ke situs maskapainya.

Gimana sih cara ngurus visa?”

Kita tidak perlu visa untuk pergi ke sebagian besar negara yang masuk ke dalam ASEAN. Ada juga negara-negara yang menerapkan visa on arrival atau visa yang diurus di bandara, contohnya Kamboja dan Nepal. Untuk negara lainnya, cari website kedutaan yang bersangkutan, klik bagian visa. Biasanya sudah diberitahu lengkap cara-cara dan jam operasionalnya. Contohnya AS di jakarta.usembassy.gov, Cina di id.china-embassy.org , Belanda di indonesia.nlembassy.org . Hanya saja, cuma Tuhan dan petugas visa yang tahu kenapa visa itu diterima atau ditolak. Intinya, kita harus bisa menunjukkan bahwa kita akan pulang tepat waktu dan tidak menjadi imigran gelap di sana, makanya harus disertai dengan bukti-bukti yang mendukung seperti rekening bank dan surat sponsor. Selalu penuhi syarat-syaratnya dengan lengkap dan tepat sehingga kita tidak harus  bolak-balik untuk melengkapi dokumen.

Bawa duit berapa ya?”

Sumber yang selalu saya pakai adalah www.lonelyplanet.com, pilih negara yang akan dituju, pilih Practical Information, pilih Money & Cost. Di situ biasanya sudah dijelaskan berapa besar budget yang dikeluarkan per hari, mulai dari low-cost sampai luxury. Tinggal dikali saja berapa hari Anda akan tinggal di sana, tapi tidak termasuk biaya tiket pesawat dari Indonesia. Untuk domestik sih tinggal hitung aja Anda maunya nginep dan makan yang harga berapaan, sama seperti biaya hidup sehari-hari. Kalau perlu konversi mata uang asing, cek aja di www.xe.com atau di situs bank lokal. Dalam prakteknya, di money changer harga akan lebih mahal sedikit dibanding situs tadi.

“Bagi tipsnya dong!”

Ingat, worrying gets you nowhere! Kalau kebanyakan kuatir, ya nggak berangkat-berangkat dong. Menurut saya traveling itu lebih membutuhkan mental dibanding yang lain-lainnya. Makanya siapkan mental Anda dulu deh, baru bisa tenang memikirkan solusi – salah satunya mencari info sendiri. Atau kalau berani, pake cara saya: beli tiket pulang-pergi aja dan sampai sana “liat aja nanti” mau ke mana dan ngapain. Yang penting berangkaat! Mari kita jalan-jalan! 🙂

Author

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

75 comments

  • salah satu kelemahan orang indonesia adalah malas membaca, walaupun sudah disodori bahan bacaan tetap saja enggan membaca apalagi kalau disuruh mencari sendiri bahan bacaan atau informasi (browsing) bisa muntah-muntah kali, hehehehe…

    Reply
  • jawabannya ancur bgt mbak Trinity hhahahha..ayak-ayak wae! Kasihan tuch yg serius nanya2 tips dan hostel murah hahhahaha…dijawab saklek ama mbak yah hahhahaha..

    Reply
  • Absolutely right. Kita harus browse dulu. Ibaratnya kita ngisi gelas kita dengan air supaya kita bisa minum, sama juga kan kita ngisih otak kita dengan pengetahun yang didapatkan dari om google.

    Reply
  • setuju banget sm kata2 worrying gets you nowhere! dan gw baru melakukan pembelian tiket pp tanpa tau mau ngapain di tempat tujuan, ato berapa duit yg akan dibutuhkan disana,, yg penting berangkattt!!!

    Reply
  • Iya tuh mbak, di negera kita ini budaya ‘ngobrol’ lebih tinggi daripada budaya ‘baca’ jdi ya orang lebih suka nanya2 slly questions drpada browse n baca sendiri n juga karena mereka kurang terbisa membuat keputusan n menerima resikonya. Ntar kalo nanya orang n salah jalan dll pasti orang yang kasih info yg disalahin. Travelling menurutku salah satu wujud kemandirian, kalo masih ‘menye-menye’ n manja mending tidur aja di rumah heheehheehe. Round trip tickets? Why not hehe. Thx mb.

    Reply
  • quote: Nanya mungkin bukan karena ga tau, tapi karena butuh dikuatkan. Misalnya kaya beli baju, “bagus warna A atau warna B?” sebenarnya kita mah dah tau kalo kita mau warna A, tapi kita tetep nanya untuk disahihkan aja ama orang lain bahwa warna A emang cocok buat kita. Mereka hanya simply ragu-ragu atas keputusan mereka(unquote)

    Ini contoh tipe orang yang tidak dapat memutuskan sesuatu tanpa bantuan orang lain hanya untuk hal sepele soal selera pribadi, alias tidak mandiri. Padahal untuk traveling apalagi ala backpacker dibutuhkan keberanian/kemandirian. Kapan harus bertanya, pertanyaan apa yang harus diajukan (bukan asal bunyi) dan kapan harus memutuskan.

    Menurut saya bagi yang kurang mandiri lebih baik cukup jadi pengikut/peserta dalam traveling yang dibuat/diorganize orang lain. Atau cukup memuaskan diri dengan menikmati cerita/pengalaman orang lain yang berani traveling alias bertualang.

    Saya setuju dgn pendapat soal orang Indo yang suka mengajukan silly question adalah orang yg lebih suka disuapi, kurang mau berusaha, kurang menantang dirinya sendiri untuk mencari tahu dulu sesuatu, dan satu lagi: malas membaca. Kalau jaman dulu belum ada Google masih bisa dimaklumi, lah sekarang ???? Anything you can find with the internet and google. Saya aja sampai bingung kok bisa yah si Google punya informasi bejibun. Rajin banget mereka yang jadi kontributor informasi di internet, salut buat mereka karena sudah menyediakan informasi untuk kemudahan kita yang awam ini.

    Reply
  • Tips yang sangat bermanfaat, Trinity. Gw setuju bahwa ‘we can find anything with internet and google’. IMHO, silly questions tersebut gak selalu berarti penanya belum mencari atau browsing internet, tapi justru dia berusaha untuk memanfaatkan semua akses untuk mendapatkan info sebanyak-banyaknya, ya browsing, ya nanya lewat milis….Siapa tahu ada yang nambahin info yang dia dapat sendiri. BTW, mana nih catper Trinity di Borneo?

    Reply
  • Menurut saya malah pas browsing2 sebelum jalan2 itu ada kenikmatan tersendiri 🙂 and setuju sama kata2 ini “liat aja nanti” disana, jalan2nya bisa lebih seru kalo kaya gitu. Kaya natgeo bilang “Let’s get lost!”

    Reply
  • One if the satisfactions of travelling alone is “the joy of discovering”. Too much thinking, too much planning will lead to information overload and can “kill” the joy 🙂

    Reply
  • mbak tri-ty yang baik hati…………… boleh saya nanya gak,,, rencananya tahun depan saya mo travelling ke europe , kalo ke amsterdam kan saya pake schengen….. tapi bisa gak saya ke london pake VOA atau saya memang harus urus visa UK dari jakarta …………………………… saya mohon pencerahannya …………….. “sembah sembah sambil sujud ke mbak Tri -ty ……………….love you

    Reply
  • Mudah-mudahan para newbie di dunia traveling bisa membaca postingan ini sehingga tidak “mengganggu” mbak T dgn pertanyaan2 yg sbnrnya nggk perlu di tanyakan krn jawabannya sdh ada di internet.. Happy traveling..

    Reply
  • ayo-ayo kita budayakan mencari tahu sendiri setiap pertanyaan yang muncul di benak kita sebelum dan saat bepergian.Mbak Trinity kan bukan malaikat yang tahu semua jawaban.

    Reply
  • hahahaha…dan saiyaapun ikut menanyakan pertanyaan2 yg stupid itu, maap yaa mba,saiyaa lom baca semua blog dan bukunya mba trinity
    emang sih harus siap mental dulu keluar negri

    Reply
  • info linknya lengkap nih,di bookmark ahhh,thanks inponya,..emang yg paling penting adalah mental,aq naik pesawat aja ketar ketir ketakutan buangeddd,hualaaa gimana mau traveling,..tapi jd semangad menumbuhkan kebranian setelah baca baca blog ini,…

    Reply
  • Browsing informasi sebanyak2nya via Google atau situs web dari negara yg mau dituju adlh keharusan. Memang ada sebagian orang punya type “tau beres dan metal bossy”, yg kek gini cocok nya ikut trip dari Travel Agent. Kalau ngatur trip sendiri justru asyik banget apalagi kalau sudah buka Google Map, lihat jarak dari satu kota ke kota lain dan googling transportasi yg memungkinkan. Saya merasakan “sensasi” setara orang mabuk cinta disaat saya menyusun itinerary. ???

    Reply

Leave a Reply