The Naked Traveler

Banyak bertanya tetap sesat di jalan

by Aan Wulandari Usman*

Nagatami Dam

Sebuah gambar cantik menarik perhatian saya dan suami. Gambar itu ada di peta wisata yang diambil di kantor kecamatan Fukuoka, Kyushu, Jepang. Jembatan merah melintang di atas sebuah danau dikelilingi rerimbunan pepohonan nan hijau. Nagatami Dam, itulah namanya. Selain tempatnya oke, jaraknya di peta kelihatan dekat banget. Terjangkau pula dengan naik sepeda sehingga tak perlu modal untuk ke sana selain otot kaki. Ya, saat itu baru menginjakan bulan kedua kami di Jepang. Acara wisata kami pun masih terbatas yang dekat-dekat.

Akhirnya saat akhir pekan, bersiaplah kami ke sana. Tapi, ternyata oh ternyata, menuju ke sana dengan naik sepeda tak semudah menjalankan jari di peta. Baru beberapa menit jalan, sudah lost! Nggak tahu dimana posisi kami. Akhirnya asal blusak blusuk sesuai feeling aja. Dan hasilnya adalah semakin bingung!

Satu-satunya cara adalah bertanya. Sesuatu yang paling kami hindari. Maklum, kami masih bagaikan orang bisu dan buta di negeri ini. Bisu karena belum bisa ngomong. Buta karena kami belum bisa membaca huruf yang keriting itu. Memang sih, kalau hanya bertanya tempat saja seperti “dimanakah tempat ini?” kami bisa karena itu pelajaran bahasa Jepang dasar banget. Nah, yang menjadi masalah adalah kami belum tentu bisa  mengerti jawaban yang diberikan! Orang Jepun itu kan baik banget. Bertanya satu kata, akan dijawab dengan kalimat sepanjang gerbong kereta api. Buat yang ngerti bahasanya sih tentu akan semakin jelas, tapi buat kami tentu saja malah tambah ruwet.

Tak ada cara lain, kami harus tanya. Kami menanyakan posisi kami sekarang dalam peta dimana, juga mengatakan akan menuju Nagatami Dam. Dan bener kan? Mereka menjawab dengan panjang kali lebar. Tak satu pun kata yang bisa kami tangkap selain menghapal jari mereka nunjuk-nunjuk arah jalan dan peta. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali ala Jepun yang pake nunduk-nunduk, kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

Tahu-tahu, sampailah kami di sebuah persimpangan. Ndilalahnya lagi, feeling juga kurang kuat untuk mengambil ke kiri atau ke kanan. Untunglah ada kakek-kakek, yang memandang kami penuh arti. Dan pandangan itu tentunya tak kami sia-siakan, kami pun bertanya jalan. Alamak, jawabannya lebih panjang lagi! Tak hanya itu, beliau mulai mengajak ngobrol. Kami timpali obrolan itu hanya dengan senyum-senyum dan mengangguk-angguk. Lama kelamaan sepertinya beliau mulai sadar bahwa kami tak mengerti dan beliau pun menyilakan kami untuk jalan.

Duh, gusti… tempat yang hanya sejengkal di peta itu ternyata jauhhhhh banget! Mana jalannya menanjak lagi! Lebih dari satu jam ngegowes, kadang turun dan menuntun sepeda karena nggak kuat mendaki. Saya mulai putus asa dan mengajak suami pulang. Tapi ditentangnya dengan sangat. Fiuhh, rasanya sudah gempor kaki ini. Untunglah, terlihat tanjakan sudah berujung dan ada orang untuk bertanya lagi. “Tuh ada di sana. Dekat lagi!” katanya sambil menunjuk jalan dengan jari. Tumben jawabannya singkat, padat, jelas. Tarraaa… seperti apakah tempat yang kelihatan bagus di gambar itu? Dan untuk mencapainya, kami harus bersepeda penuh perjuangan selama dua jam?

Huhuu… tukang foto emang menipu! Tepatnya tidak jujur. Yang ada di foto itu cuma bagusnya aja. Ternyata, tempat itu tak lain hanyalah sebuah bendungan (ya iyalah, kan sudah dibilang juga namanya dam: Nagatami Dam). Di dekatnya ada lapangan besar dikelilingi lintasan lari. Ada juga arena bermain berisi perosotan dan ayunan, tapi jauh lebih bagus di taman dekat rumah. Di situ semuanya hanya terbuat dari kayu dan kotor. Jadi ini benar-benar hanya bendungan biasa aja dengan jembatan warna merah di atasnya! Udah, gitu ajah!

Walaupun kecewa, kami tetap lama di sana. Rugi amat bila kami hanya beberapa menit di sana setelah berjuang dua jam! Sialnya, nggak ada orang jualan. Bahkan jidohanbaiki (mesin penjual minuman otomatis) pun tak ada. Setelah rasa capai naik sepedanya mulai hilang, kami pun pulang. Kapok dah ke sini lagi!

Suami mengusulkan untuk ambil jalan lain untuk pulang tapi saya menentang keras takut nyasar lagi. Tapi sampai di persimpangan, tempat kami tadi terakhir bertanya, saya berubah pikiran. Wuih, jalan itu ternyata curam sekali. Nggak kebayang kalau kami tadi menaiki jalan securam itu. Kami pun memilih jalan satunya lagi yang sama-sama menurun tapi tidak terlalu curam. Werrrrr…kami pun meluncur dengan suka cita. Bila dibandingkan saat berangkat tadi, rasanya seperti di surga.

Tak sampai seperempat jam, kami terbelalak di sebuah jalan di mana kami berada. Tak salah lagi, inilah tempat saat kami bertanya pertama kali. Jarak dengan rumah ternyata tak sampai 10 menit. Oalah! Kesimpulannya, walaupun tadi kami sudah banyak bertanya, dan sampai tujuan dengan selamat, tapi judulnya tetap tersesat!


*Aan Wulandari Usman – Seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang sangat suka jalan-jalan. Sering melihat peta atau googling mencari tempat unik menarik yang bisa disambangi. Hobi kedua adalah menulis. Beberapa liputan jalan-jalannya pernah dimuat di majalah Bravo!, Sekar, Paras dan Suara Merdeka.

16 Responses to “Banyak bertanya tetap sesat di jalan”

  1. August 31st, 2010 at 1:55 am

    Nina says:

    wahh.. seru sekali kedengarannyaa..
    (kedengerannya aja, tapi pasti capek banget ya mbak! hahhaa)
    itu namanya bukan tersesat mbak, tapi satu cara menuju lokasi tersebut namun sampainya jauh lebih lama XD
    jadi kan kalo kesitu lagi mbak gx akan milih jalan itu lagi . hihihii .
    Untung aja perginya bareng suami, perjalanan pasti gx kerasa jauh dan terasa menyenangkan #sotoy :p

  2. August 31st, 2010 at 4:27 am

    Aan says:

    hihihi…
    tetep ajah mangkel, ama siapa pun jalannya :D Cuapekkkk, bo!
    tapi lumayanlah..jadi kenangan manis yang bisa ditulis *halah…

  3. August 31st, 2010 at 5:01 am

    Sulthanah says:

    hihiih….

  4. August 31st, 2010 at 8:35 am

    pipit says:

    wahahaha… sama ama saya dong.. ga bisa baca peta, ga ngerti mana barat timur utara selatan, jadi kalo jalan-jalan udah bisa dipastikan bakal ada nyasarnya.. :P tapi tetep kok, gak pernah kapok jalan-jalan hehehehe

  5. August 31st, 2010 at 10:00 am

    Aan says:

    Riya…hihihi juga :D
    Pipit@hehehe..tersesat itu emang kapok sambel yah…biar kepedesan mah pengin lagi..lagi dan lagi..:)

  6. September 3rd, 2010 at 9:46 pm

    Cipu says:

    Setahu saya Fukuoka itu bukan kecamatan. Fukuoka adalah sebuah prefektur, tidak bisa secara harfiah langsung diterjemahkan kecamatan karena hirarki nya langsung berada di bawah negara.

    Saya setuju kalau travel di Jepang emang musingin apalagi kalau gak bisa nihon-go, alamat tersesat karena papan petunjuk semuanya pake huruf keriting *sigh*

  7. September 6th, 2010 at 12:23 pm

    Fatah says:

    Hehehehe…
    Ternyata, gak selamanya bener ya pepatah itu…
    Emang, pepatah, aslinya diciptakan sesuai konteks :)

    Anyway, selamat ya mbak, catatan perjalanannya ini masuk Trinity! Keren beud, dah. Bisa dibaca sama banyak backpacking addict :)

  8. September 28th, 2010 at 9:38 am

    irma says:

    hehe…

  9. October 19th, 2010 at 6:09 am

    nunun djakfar says:

    bakat nyasar ada dlm diri saya.ga bisa baca peta,ga bs hafalin jalan,paling sering tanya yg kdg malah lebih nyasar.tapi ironisnya…aq hobby bgt jalan2…tuh…kan aneh yak.prinsip aq..’selama masih bisa sampe rumah..ga pa pa lah nyasar..’

  10. November 11th, 2010 at 2:57 pm

    nova says:

    hahaha,tapi seru kan,mbak…hoho

    menurut saya, orang jepang tu helpful banget. ga cuma mau nunjuk2 pake tangan dan menjelaskan panjang kali lebar tentang t4 yang kita cari.

    pengalaman aku waktu di salah satu toko mainan di ginza.
    waktu itu, si B(temen se tour group) sepertinys merendahkan kemampuan saya berbahasa inggris (padahal asli-nya dia tiarap banget di bidang perbahasa inggrisan)*masih sebel kalo inget gimana expresi mukanya waktu nanya apa saya bisa bahasa inggris…padahal, belajar bahasa inggris nya kan juga ga gampang! mana ditambah pengorbanan waktu dan uang untuk memperdalam biar cepet bisa(baca:ikut les)*

    si B nyuruh aku nanyain apa di toyshop tersebut ada sesuatu yang berbau naruto. saking sebelnya, aku skak mat aja dia, dengan tanya pake bahasa Jepang (biar keliatan jenius…*halah,,apa coba..
    tentu, tanya dengan bahasa Jepang, dan segenap resiko yang menyertai selepas pertanyaan itu terucap.

    si embak2 shopkeepernya, ngejawab juga panjang kali lebar kali tinggi banget…tapi…untungnya, orang Jepang itu amat sangat ekspresif.
    dan berbekal (hanya kata) gomen (diawal jawabannya) dan ekspresi mukanya yang menunjukkan gesture “naruto is not sold here”,,,dengan pedenya aku bilang ke B,”B, mereka nggak ngejual Naruto”…dan berlalu begitu saja…meninggalkan si B yang plonga plongo..(dan tentu saja dengan senyum kemenangan penuh arti dari saya..kkkk :p)..*padahal saat itu, aku bener2 ga tau, tu embak2 ngomong apaan dan emang udah tau bakal gimana jadinya kalo aku tanya pake bahasa Jepang…apalagi pake bahasa Inggris…

    eh, di lantai 2, dia minta aku untuk tanya apa di situ jual dadu yang bisa nyala,,,
    kali ini, aku mati gaya…dengan pasrah aku tanya pake bahasa inggris (berhubung nggak tau bahasa jepangnya dadu ,,mana mintanya dadu yg bisa nyala lagi…-.-”) dan berhubung bapak2 shopkeepernya ga bisa bahasa inggris, dia malah ke dalem ruangan bertuliskan kira2: selain karyawan dilarang masuk” dan keluar lagi dengan membawa alfalink diluar ukuran normal..
    yahhhhh,,,,ga jadi keren dehhhh….

  11. January 8th, 2011 at 8:55 pm

    Aan says:

    Cipu@Iya. Fukuoka memang prefektur (Fukuoka ken),tapi dijadikan nama setingkat kecamatan juga (Fukuoka-shi)

  12. January 8th, 2011 at 9:00 pm

    Aan says:

    Fatah@iya nih,dikirim ke sini,alhamdulillah lolos, hehe…
    Irma@hihihi
    Nunun@hahaha..emang nyasar tuh kapok sambel buat pecinta jalan-jalan
    Nova@haha…alfa link bekalku kalau ke dokter juga :))

  13. February 24th, 2011 at 4:02 pm

    Dhika says:

    hihih..lucu juga mba ^^ diriku si ga buta peta :D cuma kalo jalan2 emang senengnya nyoba2 jalan2 baru gitu wkwkw..hasilnya si tetep aja kaya orang nyasar..tapi malah bisa blusuk-blusuk gitu..hehehe..nice post ^^

  14. January 29th, 2012 at 8:44 pm

    Indra Kertati says:

    Beneran orang Jepang itu penolong banget, cuma sayangnya cuma bisa bahasa Jepang. Jadi deh harus bawa kamus kecil kemana-mana yang kadang-kadang tidak membantu juga ya. Seru ceritanya ya, Mbak Aan.

  15. August 11th, 2012 at 2:04 pm

    cindy says:

    hahaha.. membaca cerita mbak Aan sama mbak Nove jadi senyum dan tergelak. Ingat dulu waktu ke Jepang, tepatnya Tokyo di tahun 2008, wisata kuliner bangeth judulnya. Berbagai macam makanan dan berbagai macam bentuk. Jadi pengen ke sana lagi some day..

  16. January 23rd, 2013 at 3:42 pm

    desi ariyanti says:

    Aan wulandari usman, dari mgl kah?

Leave a Reply