The Naked Traveler

Interogasi ala Imigrasi

by Nelda Afriany*

Nelda (kanan) di Rusia

Nelda (kanan) di Rusia

Meskipun sudah berkali-kali melalui imigrasi di bandara suatu negara, saya tetap deg-degan menghadapinya. Rasanya semua jadi serba salah dan kikuk. Mungkin banyak kasus yang mereka alami sehingga membuat pemeriksaan paspor bikin jiper orang (atau cuma saya saja ya?). Kalau saja semua petugas imigrasi tampangnya ramah dan suka senyum, saya tidak begitu grogi. Tapi kalau tampangnya serius dan galak, berdiri di antrian panjang menunggu giliran pun bisa bikin lutut saya lemas.

Negara pertama yang saya kunjungi adalah Jerman, meskipun hanya transit dalam perjalanan menuju Oslo, Norwegia. Saat itu Norwegia belum masuk visa Schengen, jadi untuk keluar dari airport di Jerman, saya bikin visa transit. Ketika di bagian imigrasi airport Frankfurt am Main, mas-masnya yang muda dan ramah mengajak saya bicara. Dia bertanya, apa saya bisa bahasa Jerman. Ketika saya jawab ya, ia langsung bertanya macam-macam dalam bahasa Jerman. Mulai di mana saya belajar bahasa Jerman, universitas mana, dan mau ngapain di Jerman. Haduh, untung bisa jawab semua.

Setelah tinggal selama setahun di Norwegia, saya menyempatkan diri mengunjungi sepupu yang sedang kuliah di Berlin. Saat itu Norwegia baru saja masuk visa Schengen sehingga seharusnya tidak perlu lagi punya visa Jerman. Tapi tetap saya deg-degan. Apalagi ketika paspor saya diperiksa petugas sampai halamannya dibolak-balik berkali-kali. Ketika tidak menemukan visa Jerman, saya membantunya membalik halaman paspor yang ada visa Norwegia. Setelah dipelototi, dengan tanpa ekspresi dia mengembalikan paspor saya.  Fuiihh…

Beberapa kali singgah di airport di Norwegia, tidak ada kejadian yang berkesan dengan petugas imigrasinya. Paling juga sempat sekali dicegat petugas dengan anjing gedenya. Gila, sempet kaget banget. Ngapain juga pake bawa-bawa anjing? Untung nggak ada masalah.

Kadang petugas memang mengecek dengan cara menguji kemampuan berbahasa asing yang bukan bahasa Inggris. Ini terjadi ketika sedang transit di Kopenhagen dalam perjalanan ke Moskow. Karena melihat visa kerja saya di Norwegia, si mas-masnya tiba-tiba bertanya, “Prater du Norsk?” (bisa bicara bahasa Norwegia?). Begitu saya jawab bisa, ia bertanya apa yang saya lakukan di Norwegia dalam bahasa Norwegia, padahal dia orang Denmark. Hebat betul!  

Kali kedua transit di Kopenhagen, saya sempat mendengar percakapan dalam bahasa Inggris antara seorang perempuan Thailand di depan saya dengan petugas imigrasi. Petugas bertanya detail banget seperti mau ngapain, liburan berapa lama, apakah mau mengunjungi pacar, kenalan di mana, dsb. Si mbak Thailand menjawab dengan bahasa Inggris seadanya sambil tersipu-sipu. Waduh, sampe pacar aja ditanya! Begitu giliran saya dipanggil, saya makin jiper. Eh ketika mengecek paspor saya, dia tak bertanya apapun. Mungkin karena saya nggak punya tampang punya pacar bule kali. Lalu dia bilang, “Selamat datang!”.  Asli, dalam bahasa Indonesia. Wow!

Pertanyaan nggak nyambung pun kadang ditanyakan. Waktu itu saya transit di Helsinki, Finlandia. Lagi-lagi bertanya apa yang saya kerjakan di Norwegia. Saya kasih penjelasan sedikit. Lalu dia tanya lagi, “Menurutmu Norwegia lebih indah daripada Finlandia?”. Sepertinya ada nada kompetisi di antara negara-negara Nordic. Untuk menjawabnya, terpaksa saya harus ‘mengarang bebas’ supaya lolos.

Paling bikin jiper ketika saya mendarat di Inggris. Petugas-petugas sana terampil banget menginterogasi dengan pertanyaan segudang. Karena kedatangan saya berdasarkan undangan, saya ditanya tentang orang yang mengundang saya di UK. Bagaimana bisa kenal Mrs D (yang mengundang saya), apa Mrs D menikah, anaknya berapa, dll. Ketika ditanya alamat dan nomor telepon Mrs D, saking groginya saya bilang ada di handphone yang ditaruh di bagasi. Ketika saya diminta menunjukkan return ticket, lagi-lagi saya bilang saya taruh di bagasi. Ya ampun, bodohnya saya. Bukankah orang biasanya bawa handphone dan taruh tiket di tas tangan! Untung dia tidak meminta saya mengambil di bagasi.

Adapula pengecekan paspor yang bikin saya kayak kacang goreng, garing, dikacangin. Yaitu di Moskow, Rusia. Ini pengecekan paspor yang paling ‘dingin’. Petugasnya ibu-ibu dengan make-up tebal, tanpa seulas senyum. Ia sibuk mengarahkan matanya antara paspor saya dan layar komputernya. Jret! Lalu menstempel cap kedatangan di Rusia. Aww!

—–
*Nelda Afriany lahir, besar, dan tinggal di Jakarta. Senang mencari kesempatan untuk bisa tinggal di tempat lain, tapi sampai masih aja di Jakarta. Berusia 30 tahun tapi tidak pernah merasa tua.

23 Responses to “Interogasi ala Imigrasi”

  1. January 26th, 2010 at 11:22 am

    yudi says:

    kq nggak sekalian diceritain pengalamanya di masing2 negara tsb mbak.

  2. January 26th, 2010 at 11:48 am

    Bobby Ertanto says:

    Info menarik buat jaga-jaga… I say nice ‘anthologer’…hihi

  3. January 26th, 2010 at 12:37 pm

    Tweets that mention Interogasi ala Imigrasi » The Naked Traveler — Topsy.com says:

    [...] This post was mentioned on Twitter by TrinityNakedTraveler, Lin2. Lin2 said: RT @TrinityTraveler: Interogasi ala imigrasi, baca anthology baru di http://naked-traveler.com/2010/01/26/interogasi-ala-imigrasi/ [...]

  4. January 26th, 2010 at 12:37 pm

    lila says:

    mbak nelda berjiblab, mbak??

    gak ada perlakuan diskrininatifkah, dengan wanita berjilbab di negara2 eropa tersebut??

  5. January 26th, 2010 at 3:00 pm

    dharma says:

    keren banget! lucu juga tuh mereka, suka2 want to know aja…
    kalo kita jawab kayak gitu kira2 kita bakalan dikasi masuk ga yah? *wondering*

  6. January 26th, 2010 at 10:34 pm

    Nelda says:

    Numpang komen ya Mbak T…:)
    Makasih ya buat komen2nya…
    utk cerita lebih banyak, baca di blog saya aja http://neldastravel.blogspot.com

    @lila: Alhamdulillah saya nggak ada pengalaman buruk dg jilbab
    @dharma: hehe…kalo dibaikin jangan begitu dong (kalo officernya ramah), apalagi kalo officernya jutek, wiiih…jangan macem2:))

  7. January 26th, 2010 at 11:06 pm

    Yanniebunnie says:

    hihihiihi untungnya gw ga ditanya2 begitu tuh waktu ke eropa :-) ) ga ada tampang punya pacar bule jg kali yah :-) )….Tapi waktu di Girona , sempet denger ada cewek asia juga di tanya2 seperti itu hehehhehe

    anyway info yg menarik Nel:-)

  8. January 26th, 2010 at 11:17 pm

    mira says:

    setuju!! info menarik sekali :P

    @ Lila : orang eropa gag terlalu membedakan agama!
    mereka juga manusia.. asal bersikap baik dan tidak berbuat jahat.. beda dgn negara2 ****** yg bersikap beda sama orang yg “berbeda”

  9. January 27th, 2010 at 10:43 am

    herce says:

    Mungkin tergantung petugas imigrasinya dan tujuannya juga kali, waktu di London saya hanya ditanya mau ngapain kesini dan sampai kapan? waktu dibilang mau ikut seminar internasional dan waktunya, langsung lolos tuh (mungkin juga karena petugas imigrasinya orang India, hahaha… sesama Asia).

  10. January 27th, 2010 at 11:31 am

    damz says:

    setuju!! memang ada nada kompetisi antar negara nordic, kayak kita ama malaysia lah.. :)
    btw, bahasa swedia, denmark & norwegia mirip, jadinya wajar kalo orang denmark bisa bahasa norwegia..

  11. January 28th, 2010 at 9:57 am

    Nelda says:

    hehehe mungkin begitu melihat saya petugasnya ter-intrigued utk nanya2:)) makanya kalo gak ditanya, sepi dunia:))
    saya nggak pernah menyiapkan secara khusus utk menjawab pertanyaan, let it flow…jadinya gitu deh…nervosa dotcom:))

  12. January 28th, 2010 at 12:29 pm

    Yana says:

    Waaah keren juga Mbak Nelda ngadepin orang2 imigrasi, hehe.. Bisa berapa bahasa tuh berarti? ckckck kagum :-D

  13. January 28th, 2010 at 1:13 pm

    mas stein says:

    saya yang ndak ngerti bahasa inggris jadi makin takut denger kata ke luar negeri :roll:

  14. January 29th, 2010 at 11:38 am

    duma says:

    hi.. ini miss nelda teacher ku bukan? pastinya kalo liat fotonya ia donk…congrat ya miss tulisan nya dah di muat di tnt..keren..blog nya juga keren….salam kangen..mmmmuuaahhh

  15. January 29th, 2010 at 11:12 pm

    Indonesia Java International Destination says:

    waduh ngeri juga ngadepin yang berbau2 imigrasi nehh

  16. February 1st, 2010 at 9:17 pm

    Nelda says:

    @Yana: kan mau nggak mau mesti ngadepin, bukan???:))
    @mas stein: ada kemauan ada jalan mas:)
    @ms Duma: thank you…udah lama gak kontak2an yah?:)
    @Indonesia Java: gak usah ngeri, mereka gak minta duit kok:))

  17. February 8th, 2010 at 12:14 pm

    Nuniek says:

    Wah enak banget Mbak Nelda masih muda tapi udah jalan2 keliling dunia (pake tinggal lagi)..ceritain donk gimana caranya kalo mo jalan2 (ala backpackers) ke venesia..thanks b4 Mbak..

  18. February 11th, 2010 at 9:20 pm

    monica says:

    dari cerita- jalan yang saya baca, kok kayaknya keluar negri susah banget ya? harus jawab2 ptanyaan imigrasi dgn bener baru bs lolos ya? weleh, kyk interview kerja donk.. :D
    kalo sitanya alamat n no hape sama petugasnya itu sebenernya perlu dikasitau ga sih?
    takut jg kan klo kenapa2. thx bgt yaa klo ada yg baik hati mau jawab. :)

  19. February 14th, 2010 at 6:22 am

    Nelda says:

    @Nuniek: saya belum pernah ke Venezia, dan biasanya saya pergi bawa koper hihi…jadi tanya Mbak Trinity aja suhu-nya:)

  20. February 18th, 2010 at 9:21 am

    Nelda says:

    @monica: kalo menurut saya, lebih susah ketika menembus visa, karena begitu ditolak, ya berarti gak bisa masuk negara bersangkutan. Dan kalo ditanya alamat dan no hp, kasih tau aja, supaya lebih meyakinkan toh, walaupun ijin masuk/visa sudah di tangan.

  21. May 13th, 2010 at 1:16 am

    Gailla says:

    Mang kerja apa mbak?kok jalan2 mulu?enak banget.:p

  22. May 17th, 2010 at 4:16 am

    Nina says:

    sempet deg2an jg waktu mo ke italy. Banyak yg bilang imigrasi tuh suka nanya aneh2. Ternyata gak tuh. Petugasnya ramah, senyum n bilang welcome to Italy…

  23. May 21st, 2010 at 3:58 am

    Karenina says:

    haduh mbak nelda kalau petugas denmark bisa bahasa norwegia sih ga perlu dibilang hebat, secara bahasa norwegia-denmark-swedia itu mirip (satu keluarga bahasa). terutama secara tertulis bahasa norwegia dan denmark ga beda jauh, satu hal yang mungkin bisa agak sulit dimengerti kalau masing2 berbicara dengan dialek, tapi diluar itu mudah dimengerti.

    -K.M.
    asli indonesia, siswi videregående skole

Leave a Reply