Sampah Liburan

by Wendy*

sampah_tiketSampah seharusnya dibuang di tempat sampah, tapi kadang-kadang sampah malah menarik untuk disimpan. Alasannya mungkin berbeda-beda; salah satunya adalah sampah bisa memiliki potensi mengembalikan kenangan menarik. Ibarat kunci, sampah tertentu bisa membuka laci memori di otak dan memanggil kembali kenangan yang lama tersimpan, terutama kenangan liburan yang selalu menyenangkan. Begitulah, setiap liburan, saya paling rajin mengumpulkan sampah. Sukses-tidaknya sebuah liburan pun bisa dihitung dari jumlah sampah yang dikumpulkan dan ditempelkan di dalam buku harian saya. Pulang-pulang pasti jadi makin tebal dengan tempelan berbagai sampah, seperti tiket kereta, bon restoran, atau bungkus permen karet. Saya pun dengan mudahnya mengingat kejadian-kejadian apa di balik secarik sampah tersebut. Rasanya lebih emosional daripada melihat foto-foto.

Pertama kali backpacking, saya ke Bukittinggi, Sumatera Barat, ikutan teman yang menengok kampung halamannya. Perjalanan yang luar biasa tentunya, apalagi itu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Sumatera. Bisa diduga, sampah yang ter-upgrade statusnya jadi barang kenangan pun terkumpul lumayan. Di buku harian, ada halaman yang berisi label air mineral merek tertentu yang selalu menyebut lokasi mata air yang digunakan untuk mengisi botol tersebut. Saya menganggapnya sebagai collector item, karena botol air mineral dengan air dari lokasi itu, hanya dapat dibeli di daerah tersebut. Selain itu, saya pun membawa pulang beberapa kelopak mawar yang tumbuh di teras rumah teman di kampung halamannya itu. Semua tertempel rapih di halaman buku harian saat itu, lebih untuk alasan emosional daripada estetika.

Rupanya kebiasaan ini terus berlanjut sampai sekarang. Beberapa hari yang lalu saat berganti tas, saya menemukan kartu nama restoran yang saya kunjungi di liburan musim panas lalu. Ah, memori itu pun terpanggil kembali. Saya diingatkan pada suatu senja menjelang makan malam, di salah satu kafe trotoar dekat Sacre Coeur di Paris. Terbayang jelas suasana kafe yang sibuk, dengan sejumlah pelayan cowok yang keren dan gaya, mengenakan kaus hitam lengan pendek agak ketat dan Bahasa Inggris yang (tumben) tidak berlogat Perancis. Sayangnya, restorannya itu termasuk mahal buat kantong turis hemat seperti saya. Apalagi diperparah dengan kelemahan utama: cacing-cacing di perut saya semuanya masih berdarah Melayu. Artinya makanan Londo yang mungkin termasuk kategori fine dining di negaranya, tidak setinggi itu diapresiasi oleh para penghuni perut. Kurang nendang, pelit bumbu, porsinya kecil lagi. Besoknya saya menemukan kantin kecil yang menjual masakan Asia seperti capcay, lumpia, nasi goreng, dll. Ah, nama-nama yang akrab di telinga dan perut. Tempatnya sederhana dan terletak di dalam pusat pertokoan yang hiruk-pikuk. Tidak ada mas ganteng seperti malam sebelumnya, tapi makanannya oke banget. Dengan kalap saya memesan nyaris semua hidangan yang bisa ditunjuk (karena pelayannya hanya berbahasa Cina dan Perancis). Alhasil saya meninggalkan kantin tersebut dengan wajah berseri-seri, perut kekenyangan, dan yang paling penting: dompet yang tidak kosong terkuras karena harganya separuh dari kemarin tapi kenyangnya dua kali lipat.

Itulah indahnya kenangan yang dibawa oleh sampah-sampah liburan. Semuanya seperti surprise kecil-kecilan yang menanti untuk ditemukan di saat-saat tak terduga. Tapi ada satu yang koleksi paling gila dari semua sampah liburan saya, yaitu selembar kulit punggung manusia! Ceritanya berawal dari salah satu acara backpacking ke Bali bersama teman-teman yang sedang ngotot-ngototnya belajar surfing. Berhubung masih taraf pemula, hampir setiap hari kami ke pantai dengan tujuan bukan hanya belajar surfing, tapi juga ngeceng dan (berharap) dikecengi para surfers. Akibatnya kulit pun jadi gosong terbakar matahari. Pertama kulit memerah dan perih kalau tersentuh. Sesudahnya, lapisan paling luar kulit akan mengering dan terkelupas. Nah, kulit tipis hampir transparan inilah yang saya maksud. Suatu hari kami berlomba siapa yang dapat mengelupas kulit paling lebar dan indah. Antara lucu dan jijik sih, tapi saya berhasil mengelupas kulit punggung selebar 3 x 5 cm sehingga saya menjadi juara satu! Makanya hasil jerih payah itu tidak berakhir di tong sampah, tapi diselipkan di buku ‘Gitanjali’ karangan Tagore yang jadi bacaan wajib liburan saat itu. Buku itu pun masih tersimpan di rak buku saya bersama sejumlah kenangan liburan yang asyik terselip di antara halaman-halamannya.

Syukurlah hanya itu koleksi paling ekstrim yang saya simpan. Sampah liburan memang memberi kesempatan menikmati kembali liburan yang telah berlalu. Potongan kenangan yang diwakili oleh secarik sampah bisa menjadikannya benda bernilai. Ia bukan hanya benda fisik yang tercecer dari sebuah liburan, melainkan sebuah lambang yang diasosiasikan dengan pengalaman tertentu. Sampah berubah status dari benda layak buang menjadi layak simpan karena ikatan emosionalnya. Jadi, sampah tidak selamanya berakhir tempat sampah bukan?

——
*Wendy, pegawai swasta, tinggal di Eropa Barat. Dulunya buruh di pabrik kata-kata, sekarang melampiaskan hobi produksi kata-kata lewat blog jauhdarirumah.blogspot.com. Suka jalan-jalan dan petualangan yang tidak hardcore, selalu rindu pantai berpohon kelapa dan sunset.


Trinity

Indonesia’s leading travel writer & blogger whose life story became a movie. Author of 15 books incl “The Naked Traveler” series.

14 Comments

  • richoz
    January 28, 2009 7:29 pm

    ketika sampah menjadi benda layak simpan
    apakah namanya masih sah sebagai sampah?

    ah, never mind
    😀

  • imuyachan
    January 29, 2009 5:23 pm

    dulu sempet kyk loe , tp skrg jd ga pernah ngumpulin lagi, krn gw ga kepikir utk menyimpannya dlm 1 box tertentu or even menempelnya di suatu buku yg mgkn bs gw jadiin diari perjalanan gw .. haha.. a very encouraging posting u have here ^^thx 4 sharing with us

  • Kalbu
    January 31, 2009 4:01 pm

    Iya, gue jg selalu ngumpulin benda-benda gak pntg. Bhkn tiket bus pun gue simpen. Begitu 2th trnyt barangnya kebanyakan. Eh dibuang deh… Padahal ada kliping dg foto gue di koran berita harian malaysia setelah terjebak dlm demo HINDRAF.

  • Mugi
    February 1, 2009 7:17 pm

    Aku jadi inget almarhum papiku, beliau juga suka banget ngumpulin “sampah” dan itu sempat nularin ke aku tp aku ga betah ngumpulin binun nyimpennya,akhirnya aku masukin ke tong sampah deh.

  • TJ
    February 7, 2009 12:10 pm

    memang ada orang2 yg romantis. menyimpan benda2 utk kenang-kenangan. mengingat saat2 indah.
    buat sebagian orang, lifes goes on, dulu disana itu indah, tapi itu sudah berlalu, sekarang waktunya mencari sesuatu yg indah di tempat yg lain lagi.
    hidup adalah pilihan … nikmatilah pilihan anda

  • jasmine
    February 16, 2009 5:15 pm

    aku jg kadang ngumpulin brosure atau apalah, ntar kalo lage bosan kerja, trus ketemu salah satu sampah travel. Hm jd semangat lage kerja, hrs ngumpulin uang buat travel lagi, lagi, lagi dan lagei.

  • Milka
    February 21, 2009 2:32 am

    samaaa…. gue jg suka kumpulin sampah2 liburan tp gak se-ekstrim Wendy… paling2 cuman koleksi 2-3 item aja tiap habis pulang liburan en paper material aja kok, ga sampe kayak kulit punggung gitu, huahuahua 😀

  • Trackback: Apes Mengejar Jembatan » The Naked Traveler
  • candra
    March 13, 2009 10:28 am

    iya, selain camera dan cam. ‘sampah’ itu penonjok otak buat ngeluarin memori yang mungkin terpendam jauuuuh di bawah rutinitas pekerjaan yg menjemukan.

  • damz
    March 13, 2009 4:08 pm

    hmm, sampah itu kadang gue simpen.. tapi paling cuma tahan beberapa minggu, udah gitu gatel pengen buang, hehe..

    untuk kenang-kenangan biasanya gue beli magnet tempelan kulkas dari setiap kota yang gue kunjungin 😀

  • yumi koeanda
    May 21, 2009 4:31 pm

    hahaha… gw juga menyimpan “sampah” itu saat pertama kali keluar negeri, Singapore-KL Malaysia. Dari boarding pass, ticket kereta, bon pembelian barang2, semua disimpen. Setelah beberapa tahun kemudian gak sengaja saya membuka kembali kotak kecil itu, dengan senyum bahagia jadi teringat masa2 dulu… Indahnya.. Apalagi pada saat itu saya tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk jalan2 karena gratis (bonus) dari kantor…

  • sari
    December 10, 2009 12:28 pm

    Saya dan suami juga pengumpul sampah liburan..apa aja, dari tiket bon makanan dan lain lain. semua nya disimpan di bagasi mobil, karena saya dan suami traveling menggunakan mobil pribadi. Sekalian buat ngirit ga perlu nginap dihotel. tapi hiks..mobilnya rusak berat krn suatu kecelakaan dan sampah liburan lupa saya selamatkan dari mobil. semuanya ilang di bengkel

  • Gee
    January 17, 2010 10:04 pm

    waaaa…. sama aku jg. ide bagus tuh beli box yg cantik, masukin semua kesana… aku lbh suka ngumpulin ‘sampah’ drpd beli magnet kulkas, gantungan kunci dll..
    klo yg bentuknya kartu aku simpan di dompet. waks baru nemu nih kartu kunci hotel, ‘holiday inn sarajevo’ *sigh* jadi rindu kesana lg..

  • riu
    January 14, 2013 3:24 pm

    hahaha jadi inget waktu kecil seneng banged ngumpulin bungkus permen yang warna warni,..seru!!!

Leave a Reply

Leave a Reply