Obat darurat
Paling nyebelin lagi sakit pas di negara orang. Pertama, merusak acara jalan-jalan. Kedua, meskipun udah bawa obat dari Indonesia, tetep rasanya beda karena jauh dari rumah (apalagi jauh dari mama. Hehe!). Biasanya sih saya sakit karena flu aja akibat perubahan cuaca dan capek luar biasa. Kadang saya lupa pula bawa stok dan obat-obatan ala luar negeri belum tentu cocok. Contohnya, saya disuruh makan sup ayam panas-panas yang rasanya ‘cemplang’ padahal saya justru pengen makan mie instan yang superpedes sampe keringetan. Saya juga pengen pake minyak kayu putih di badan tapi nggak tau cari di mana. Mau pijitan, tapi kere. Kalau udah begini, saya istirahat banyak dan minum vitamin sambil berdoa cepat sembuh. Tapi bagaimana kalau lagi sakit bukan flu?
[Adv] Nyaman dan Tepat Waktu Naik Citilink

Pramugari Citilink
Baru-baru ini saya harus ke Surabaya untuk menghadiri sebuah meeting penting. Maka dimulailah perburuan tiket pesawat melalui internet. Hari gini saya jarang beli tiket melalui travel agent. Jakarta yang muacet begini mana sempat untuk wara-wiri cari tiket. Lagian pekerjaan saya kan di depan komputer sehingga lebih nyaman melakukan segalanya melalui internet. Sayangnya situs pembelian tiket online perusahaan penerbangan domestik hanya beberapa saja yang reliable.
Lagi browsing, mata saya tertuju pada situs berwarna pink beralamat citilink.co.id. Surprise, ternyata itu adalah Citilink! Tadinya saya pikir Citilink sudah berhenti beroperasi karena nggak pernah kedengeran lagi. Duh, ketinggalan jaman banget saya, ternyata Citilink masih eksis. Saya ingat sembilan tahun yang lalu, Citilink merupakan salah satu pelopor low cost airline di Indonesia. Pesawatnya dicat warna-warni dekoratif, berbeda banget dengan pesawat-pesawat lainnya yang berkesan kaku dan formil saat itu. Saya juga ingat pramugari Citilink dulu satu-satunya yang berseragam wearpack ketat berwarna ngejreng yang didesain oleh perancang busana terkenal.
Drama becak dan bajaj India

Bajaj pake argo digital
Transportasi umum di India mudah dan murah. Naik bus, kereta api, atau pesawat tinggal beli tiket dari internet. Pilihannya banyak, jalurnya pun ke mana-mana ada. Tapi saya justru punya banyak pengalaman menarik ketika naik alat transportasi tradisional dalam kota, seperti becak dan bajaj, yang penuh dengan drama.
Setiap hari di Delhi saya selalu naik rickshaw alias becak dari hotel ke stasion Metro pp. Murah sih, cuman Rs 20 (Rp 4 ribu) sekali jalan. Tapi lumayan jauh lho, sekitar 15 menit di jalan aspal yang naik-turun. Tukang becaknya mana tua-tua dan kurus banget lagi, sampe nggak tega melihat mereka menggenjot becak. Tapi gimana dong, becak di India supirnya di depan jadi terpaksa melihat ‘perjuangan’ mereka. Meski nggak tega ngasih duit cuma segitu, tapi memang standarnya segitu. Untuk mengetahui harga, saya selalu bertanya kepada orang lokal, entah resepsionis, tukang karcis, sampe polisi - supaya nggak ketipu.
Jambi gagap pariwisata
Candi Tinggi
Kalau ada istilah ‘gaptek’ alias ‘gagap teknologi’, maka saya bisa bilang bahwa Jambi adalah ‘gagap pariwisata’. Banyak situs pariwisata yang menarik di kota Jambi tapi informasi minim, penduduk yang tidak menganggap penting, dan pemerintah yang sepertinya kurang peduli. Saya ke Jambi dalam rangka mengunjungi keluarga abang saya yang tinggal di sana, sekalian berwisata ke Candi Muaro Jambi. Abang saya yang sudah 5 tahun tinggal di Jambi aja tidak pernah tahu ada candi itu, sampai dia tanya-tanya orang bagaimana caranya ke sana. Saya tahu candi itu justru dari teman saya yang orang Hongaria.
Memasuki kompleksnya saya sampai takjub, ada candi-candi yang terletak di halaman rumput yang hijau asri dan dikelilingi hutan lebat in the middle of nowhere. Kompleks percandian Muaro Jambi ternyata terluas di Indonesia, bahkan 2 kali lebih luas daripada kompleks candi Angkor Wat di Kamboja! Pertama kali ditemukan oleh perwira angkatan laut Inggris bernama S.C. Crooke pada tahun 1883. Selanjutnya para peneliti luar negeri mendatangi tempat itu, bahkan mereka lah yang menamai candi-candinya. Pemerintah kita baru tahun 1954 melakukan survey, tahun 1976 membersihkan, dan tahun 1981 meneliti. Konon terdapat 82 candi yang terkubur tapi sampai saat ini baru 11 yang dipugar, antara lain Candi Gampung, Candi Tinggi, Candi Gedong, dan Candi Kedaton.
Under the stars
Hari terakhir saya di India, saya diundang makan malam di apartemen keluarga Udhi (salah satu Rookie of the Year di buku TNT2) di Bangalore. Saya dimasakin makanan India favorit saya bernama Rogan Josh (namanya keren banget, maksudnya ‘kari domba’) yang otentik dari Kashmir dan uenak tenan. Pembicaraan pun menyenangkan tentang masa kuliah kami di Filipina dan gosip-gosip antar teman sekampus. Bagusnya lagi, saya dipesenin taksi untuk pergi ke bandara sekalian dibayarin dan dikasih duit untuk jajan. Hehe! Pokoknya everything was perfect!
Taksi kuning itu akhirnya datang. Supirnya seorang pria berumur 30an. Tinggi, besar, brewokan. Tak banyak pembicaraan di mobil. Supir hanya tanya saya asalnya dari mana dan ngapain ke India. Saya pun sudah capek sekaligus sedih harus mengakhiri liburan. Tapi jalanan di Bangalore pada hari Jumat jam 7 malam yang gerimis sama kayak di Jakarta aja: muacetnya pol! Sudah 1,5 jam kami stuck di antara rentetan mobil yang berisik dengan bunyi klakson. Parahnya, saya kebelet pipis lagi. Ah mungkin sebentar lagi, pikir saya. Lalu taksi memasuki jalan highway yang gelap dan sepi. Waduh, ini sih masih lama banget nyampenya. Saya pun bertanya kepada supir taksi, “Sir, how far more is the airport?”
“About half hour, madam”, jawabnya santai.
Aduh. Lama banget.




