Pelarian kriminal
Peringatan: Jangan ditiru!
Entah bagaimana kedutaan itu memutuskan seseorang mendapatkan visa atau tidak. Lebih heran lagi dengan keputusan berapa lama seseorang asing bisa tinggal di suatu negara. Terakhir saya apply visa Schengen tahun lalu, pada sticker visanya tertulis masa berlaku “from 19-10-12 until 27-11-12”, tapi “duration: 27 days”. Lah, nggak sesuai dengan bukti reservasi tiket pesawat yang disertakan. Kenapa angka ganjil 27 hari? Kenapa nggak genap aja 30 hari? Atau malah 25 hari?
Masalahnya adalah saya udah ngincer mau beli tiket promo Frankfurt-Rio de Janeiro yang berangkat tanggal 17 November 2012. Sedangkan kalau visa cuma dapat 27 hari maka akan jatuh pada tanggal 14 November, sehingga harga tiketnya lebih mahal 150 USD! Demi menghemat hampir Rp 1,5 juta, saya dan Yasmin akhirnya membeli juga tiket promo.
Drama kakek-nenek di Chile

Hospedaje in Chile (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)
Untuk menjaga kewarasan traveling dalam jangka waktu yang panjang, bohong banget kalau tiap hari oke aja tinggal di dorm hostel berame-rame. Sesekali orang kan butuh privacy. Setelah 2,5 bulan #TNTrtw dan menginap di puluhan hostel, di Chile saya mendapat pengalaman baru dengan menginap di Hospedaje (dalam bahasa Spanyol, dibaca: ospedahe).
Hospedaje kurang lebih sama dengan lodging, losmen, guesthouse, atau bed & breakfast. Dimiliki oleh perorangan, dimana mereka menyewakan sebagian kamar di rumahnya untuk penginapan. Umumnya dimiliki oleh nenek-nenek sebagai mata pencahariannya di masa tua. Berbeda dengan hostel yang lebih besar dan memiliki kamar dorm (satu kamar berisi banyak tempat tidur), hospedaje biasanya memiliki beberapa kamar twin atau double, dengan atau tanpa kamar mandi privat. Karena saya traveling bareng si Yasmin, dengan menambah Rp 10.000-20.000 per orang bisa dapat kamar sendiri kan sungguh menyenangkan. Bisa bebas nyalain-matiin lampu, bisa tidur nggak pake baju, juga bisa bebas kentut! Kekurangannya, pemilik/staf tidak ada yang bisa berbahasa Inggris dan sulit dapat info tentang pariwisata setempat. Kedua hal itu ditukar dengan penginapan yang worth the value, plus nggak berisik sama backpacker ABG yang tukang mabok. Pokoknya cocok deh bagi yang udah kena “faktor U” macam saya!
Penyakit Gunung Akut

Laguna Miscanti (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)
Waktu jadi anak PA (Pencinta Alam) di SMA, istilah “mountain sickness” terdengar familiar karena merupakan salah satu materi yang diajarkan. Saat nonton film-film tentang ekspedisi pendakian gunung, penyakit tersebut dialami oleh para pendaki gunung bersalju, tapi tetap nggak terbayang sakitnya kayak apa. Baru-baru ini saya merasakan apa yang disebut dengan penyakit tersebut… jutru pada saat bukan di gunung!
Setelah gempor naik bus selama 18 jam dari kota La Serena ke Calama di negara Chile, begitu nyampe di kamar hostel, tiba-tiba kepala saya rasanya pusing minta ampun, seperti digebukin gada bertubi-tubi! Saya pikir karena kecapekan semalaman di bus dan kurang minum. Setelah mandi, saya tidur dan minum air putih banyak tapi tidak membaik, malah ditambah mual. Waduh! Saya pun minum obat sakit kepala. Sejam, dua jam, beberapa jam kemudian ternyata nggak ngaruh – kepala tetap pusing! Otomatis dari pagi sampai sore saya terkapar di tempat tidur hostel sambil mata berair terkena cahaya. Saya pikir cuma saya doang yang begini, nggak taunya si Yasmin juga mengalami hal yang sama. Kirain pusing karena perut kosong, maka kami makan di restoran terdekat. Perut telah diisi, minum air putih sudah sebotol, tapi pusing nggak hilang! Ah, mungkin masih capek. Minum lagi obat, paksa lagi tidur. Seharian kami berdua meringkuk di kamar sambil mengaduh-aduh. Perasaan lainnya adalah kaki dan tangan kesemutan! Ih aneh banget!
Hostel ideal
Salah satu hostel di Latvia yang mendekati ideal (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)
Sudah ratusan hostel saya tinggali di berbagai negara dalam kurun waktu lebih dari dua dekade. Malah sekarang memasuki bulan ke-5 #TNTrtw, artinya sudah hampir 5 bulan berturut-turut setiap hari saya menginap di hostel! Boleh dong saya punya syarat hostel ideal seperti di bawah ini:
- Lokasinya strategis – Dekat dengan terminal bus/kereta api/Metro sehingga jalan kakinya minimal. Lokasi di tengah kota, minimal dekat dengan alun-alun (Square). Dekat dengan supermarket dan tempat makan murah. Tidak berada di atas bukit sampe naiknya bikin semaput.
- Aman – Daerahnya aman untuk berjalan kaki, meski sendirian di malam hari. Sistem keamanan hostel yang baik, dimana hanya tamu saja yang bisa masuk pintu utama. Kamar hostel memiliki kunci yang pintunya bisa dikunci. Memiliki signage keluar yang jelas dalam keadaan emergency, juga memiliki fire extinguisher.
- WiFi gratis, unlimited, dan kenceng sampai ke kamar – Nggak usah dijelaskan lagi, tapi ini superpenting! Saya paling nggak bisa nulis di tempat yang rame, jadi nulis di atas tempat tidur di kamar yang paling ideal. Saya bisa bete banget kalo WiFi lelet atau mati-nyala, apalagi kalau pake charge dan ada kuota!
- Hostel tidak terlalu besar – Maksimal jumlah bed cuma 20. Makin banyak orang, makin gengges. Dengan jumlah tamu sedikit, kita bisa saling mengenal satu sama lain dan jadi akrab. Read the rest of this entry »
Agama Pantai
Ipanema (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)
Baru kali ini saya ke negara yang penduduknya sangat tergila-gila dengan pantai. Ya, siapa lagi kalau bukan Brazil? Selain sepak bola, ternyata “agama” mereka adalah pantai. Mereka pun memiliki budaya pantai sendiri yang tidak dipunyai bangsa lain.
Sebagian besar kota di Brazil berada di tepi pantai. Orang yang tidak tinggal dekat pantai itu dianggap “kasian deh lu” dan dicap stres karena jauh dari laut. Sampai-sampai joke-nya mengatakan, “No mar, [that’s why] we go to bar” (orang Brazil mengucapkannya ‘no mah, we go to bah’ karena ‘r’ di belakang kata diucapkan ‘h’), artinya “karena nggak ada laut, jadi kami minum di bar”. Penduduk Brasilia (ibu kota Brazil), Manaus (dekat Amazon) dan Foz do Iguacu (dekat Air Terjun Iguacu) adalah contoh yang sering stres karena jauh dari pantai. Setiap liburan mereka bela-belain terbang berjam-jam atau naik bus berhari-hari demi ketemu pantai.
Kalau di Indonesia, ke pantai justru dipenuhi oleh turis, kebalikannya di Brazil, pantai dipenuhi oleh orang lokal. Begitu matahari bersinar terang benderang, apalagi pas hari libur, jalan bisa macet parah karena semua orang ke pantai! Kebalikannya di Indonesia, kalau hujan justru macet. Lah di Brazil, macet itu pas cuaca cerah. Hehe!


