Oh Nyawa!
Suatu sore yang indah pada tahun 1998 di Pulau Bunaken, saya lagi asik leyeh-leyeh di pantainya. Suasana cukup ramai, banyak orang duduk-duduk memandang laut. Sekitar 10 meter di sebelah kiri saya, duduk seorang bapak bule yang terbatuk-batuk keras. Saya tidak begitu menghiraukan, sampai dia tak bersuara lagi. Saya menengok lagi, ternyata dia sudah terkulai di atas pasir. Waduh! Saya pun berlari mengikuti orang-orang yang sudah berkerumun mengelilingi si bapak. Saya dan belasan orang di situ tidak tahu harus berbuat bagaimana. Seorang laki-laki memegang pergelangan tangan si bapak, dan berkata, “Dia sudah mati.” Hah? Bulu kuduk saya langsung berdiri. Seorang lain berteriak, “Ambil oksigen!”. Lalu seorang laki-laki berlari dan kembali… membawa tangki scuba diving dan regulator-nya. Lho? Bagaimana cara menghirup oksigennya? Orang lain lagi berteriak, “Telepon ambulans! Telepon Rumah Sakit! Ada yang tau nomor telepon polisi?”. Namun semuanya hanya diam. Si mayat terbujur kaku saja di situ. Entah bagaimana akhirnya, saya keburu meninggalkan kerumunan karena perut saya berasa teraduk-aduk.
9 ide mengisi waktu dengan hemat
Traveling bukan berarti kita harus ‘ngotot’ pergi ke obyek-obyek wisata tertentu. Bisa jadi saking napsunya, semua tempat yang ingin Anda datangi sudah kelar dikelilingi sehingga punya waktu luang. Bisa jadi Anda sudah bosan ke museum ini itu, sudah capek jalan kaki, capek nyasar, atau memang pengen punya ‘me time’ … tapi persediaan duit menipis. Nah, kalau dalam keadaan bingung-mau-ngapain-lagi-tapi-ngga-punya-duit, saya punya 9 ide untuk mengisi waktu ‘nganggur’:
[1] Naik kendaraan umum, seperti bus atau trem, dan ikutin trayeknya sampai habis lalu balik lagi - Ini adalah aktivitas favorit saya bila saya sudah frustasi membaca peta dan/atau bila saya kedinginan. Bus umum itu adalah moda transportasi termurah. Saat saya masih ingin jalan-jalan melihat kota, dengan cara begini maka ditanggung menyenangkan, tidak nyasar, dan tetap hemat! Saya pun sering menemukan tempat-tempat non turistik, mengetahui kebiasaan orang-orang lokal, melihat perumahannya, dan ngetawain iklan billboard yang lucu-lucu. Soal kedinginan, bus itu menghangatkan badan - apalagi kalau penuh sesak. Di Hongkong saat winter, saya menghabiskan malam hari dengan naik bus keliling kota melihat gedung-gedung pencakar langit dan turun ketika ada warung makan yang penuh antrian orang. Hehe!
Sirkus Matahari
Kapan Anda terakhir nonton sirkus? Saya sih tahun 1970an di Jakarta (ketauan deh tuwir!). Selebihnya, sesekali nonton sirkus di TV yang isinya gitu-gitu doang. Dari dulu cuma ada satu pertunjukan sirkus yang paling saya pengen nonton, yaitu Cirque du Soleil (bacanya: sirk du solei, dalam bahasa Perancis, artinya ’sirkus matahari’) - sirkus terkenal seantero jagat.
Sirkus sudah ada sejak jaman Romawi, bahkan di Cina ada sejak tahun 108 sebelum masehi. Namun sejak tahun 1970an penonton sirkus berkurang drastis sehingga banyak kelompok sirkus yang bangkrut. Bermula dari street performers, Cirque du Soleil didirikan pada tahun 1984 oleh Guy Laliberte. Cirque mengetengahkan konsep sirkus modern untuk pangsa pasar orang dewasa. Jangan porno dulu, dewasa dalam arti dibuat seperti pertunjukan opera dengan tema cerita tertentu, tanpa ringmaster (Master of Ceremony), tanpa binatang. Dalam pelajaran marketing, Cirque telah sukses melakukan blue ocean strategy. Artinya, Cirque sukses menciptakan ruang pasar tanpa pesaing - mereka membuat produk yang benar-benar baru, berbeda, dan tidak ada kompetitornya. Saat ini Cirque bukan sekedar pertunjukan sirkus, ia adalah perusahaan entertainment global yang mempekerjakan 4.000 orang dan ditonton oleh lebih dari 90 juta orang di dunia.
Situ mau kita semua mati?
Bisa dikatakan saya lumayan stres kalau bepergian naik pesawat. Entah mengapa begitu sampai di konter check in di bandara, muka saya langsung garang dan begitu seterusnya sampai pesawat akhirnya terbang. Itu karena darah saya mendidih melihat orang-orang yang tidak tahu etika dan tidak bertanggung jawab. Padahal saya marah aja jarang, tapi kok yaa hanya terjadi saat mau terbang.
Konter check in - Di tempat inilah saya paling sering ngamuk, karena masalah antrian. Ada yang tiba-tiba motong jalur, ada yang bikin jalur baru, ada yang KKN sama petugas konter. Meski di depan konter sudah ada garis pembatas, tapi seringnya orang nempel banget berdiri di belakang. Serba salah, secara ruangan check in itu sempit - kelar pemeriksaan sinar X, langsung ada antrian ular-naga-panjangnya di depan konter check in. Belum lagi petugas check in kita luama banget, padahal ada 4 orang di belakangnya yang kerjanya cuman ngeliatin doang.
Ngamuk terbaru terjadi dua minggu yang lalu. Sudah jelas saya yang berdiri persis di depan meja konter, tiba-tiba…DUG! Ada tangan besar dan berbulu melayang di atas kepala saya sambil menggenggam sejumlah tiket. Saya marahin si bapak-bapak itu, “Pak, bisa nggak ngantri? Saya sudah di sini duluan!”. Si bapak bukannya minta maaf eh malah sok menggoda saya, “Jangan marah dong, mbak… Eh, mbak namanya bagus juga yaa?”. Rupanya dia membaca nama saya yang menempel di bag tag. Huh! Gombalannya garing sia!
Rame-rame vs Sendiri

Chocolate Hills, Philippines
Kalau traveling, enakan ikut paket tur, rame-rame bersama teman, atau sendiri? Semuanya ada positif dan negatifnya, tergantung kepribadian masing-masing.
Paket tur
Bagi orang yang ga pengen ribet dan punya waktu terbatas, mendingan ikut paket tur sih. Mulai dari check in, naik pesawat, penjemputan di bandara, jalan-jalan, makan-makan, semua diurusin. Bisa dikatakan kita tinggal bawa badan dan ngikutin guide-nya aja. Paket tur yang diselenggarakan oleh agen perjalanan Indonesia untuk tujuan luar negeri didesain sedemikian rupa untuk mengakomodasi keinginan peserta tur yang tipenya “orang Indonesia banget” seperti ada acara belanja dan makan harus nasi, itu pun kebanyakan ke kota-kota besar.
Kalau saya sih malas aja jalan serombongan. Bayangkan: kita dimasukin ke bus, diturunin di suatu obyek wisata dengan waktu terbatas, dijemput lagi, foto rame-rame… oh no! Sebagai orang yang tepat waktu, saya paling sebel nungguin anggota rombongan yang telat kumpul. Entah nyasar, entah kudu ke toilet dulu, atau sibuk belanja dan foto-foto sendiri. Capee deeh! Belum lagi saya malas berbasa-basi dengan anggota rombongan lain yang ga kenal, mending kalo asik-asik orangnya. Kalau serombongan dengan age gap yang jauh, harus punya kesabaran dan toleransi yang tinggi untuk menghadapi anggota rombongan lain, seperti manula yang jalannya lamban, sekelompok ABG yang brisiiik banget, atau anak kecil yang lari-lari entah ke mana sampe susah ditemuin.



