The Naked Traveler

[Buku baru] TraveLove – Dari Ransel Turun ke Hati

Front cover

Telah terbit buku baru berjudul: TraveLove – Dari Ransel Turun ke Hati!

Ditulis oleh 9 travel writer ngetop yang buku-bukunya telah diterbitkan Bentang Pustaka, yaitu: Andrei  Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan Trinity a.k.a. saya :)

Sinopsis:
Ternyata, traveler tangguh pun tunduk pada cinta. Trinity misalnya, terpaksa menemani orang yang dicintainya ke Bromo, padahal malas setengah mati. Claudia Kaunang, Andrei Budiman, Rini Raharjanti, Sari Musdar, dkk. pun pernah tunduk pada cinta, dengan kisah berbeda-beda.
TraveLove adalah kisah-kisah traveling berbalut cinta, ditulis oleh para traveler dengan segala kejujurannya. Buku ini akan membuat pembaca bisa menemukan sisi lain para traveler. Jadi, jangan kaget kalau ternyata mereka punya sisi melankolis.
Tak hanya disuguhi kisah sedih, romantis, dan mengharukan, pembaca juga akan diajak jalan-jalan keliling dunia lewat buku ini. Menikmati indahnya Lombok, Laos, Jepang, hingga Eropa dengan bumbu kisah cinta tak biasa.

ISBN: 9786028864565
Jumlah halaman: 158
Harga: Rp 47.000,-
Tersedia mulai hari ini di toko-toko buku di Jabodetabek dan secara bertahap di daerah lain, atau pesan online di mizan.com

Serbuuuuu!

 

Beijing 3 tahun kemudian

Wangfujing, Beijing

Tidak pernah menyangka bahwa saya dapat kembali lagi ke Beijing. Semua bermula dari undangan sebuah institusi yang akan mengadakan workshop dimana saya dan editor saya, Ikhdah, jadi pembicaranya. Sebenarnya agak malas ke sana lagi, tapi berhubung semua sudah diatur jadi sudah dipastikan bakal jauh lebih nyaman daripada pengalaman bekpekingan saya dan Yasmin di tahun 2009. Tanggal keberangkatan sudah ditentukan, visa China dan tiket pesawat pp pun sudah di tangan. Dua hari sebelum keberangkatan, tiba-tiba saya dikabari bahwa acara itu dibatalkan dengan alasan budget di-cut! Duh, nggak profesional banget!

Gimana nasib visa dan tiket pesawat yang mubazir ini? Ikhdah yang belum pernah ke China “meracuni” saya untuk tetap berangkat dan mengajak patungan. Tapi ngapain di Beijing? Semua obyek wisatanya sudah pernah saya datengin dan nggak kepengen mengunjungi untuk kedua kalinya. Tambah malas lagi karena cuaca lagi dingin (3-12°C), jalannya jauh, bahasa belibet, dan tidak sempat riset. Saya pun mengontak teman-teman yang tinggal di Beijing, sekalian minta dicarikan hotel murah pake corporate rate. Kali ini saya berencana cuma mau santai-santai aja di Beijing dan nongkrong sama teman-teman. Setelah mengais-ngais tabungan karena berarti saya harus membayar akomodasi, makan dan transportasi sendiri, kami pun berangkat.

Read the rest of this entry »

Hotel ayam di Singapura

Peringatan: hanya boleh dibaca untuk usia 17 tahun ke atas

Hotel di Lorong (pic by Alda)

Jalan-jalan ala backpacker dengan budget seadanya belum tentu wajib tinggal di hostel. Prinsip saya: selama ada hotel yang lebih murah daripada hostel, mendingan tinggal di hotel. Kalau lagi kere dan pengen bekpekingan di Singapura, saya tidak pernah tinggal di hostel manapun karena nemu hotel murah meriah.

Nah, hotel murah di Singapura ada di daerah bernama Geylang. Nama jalannya tidak menarik, yaitu Lorong 1, Lorong 2, Lorong 3, sampai Lorong kesekian puluh (disingkat “Lor”). Stasion MRT terdekatnya di Kallang atau Aljunied. Harga hotel yang berbintang dua ini per malamnya untuk twin bed dulu sekitar Rp 200 ribuan, tapi sekarang sekitar Rp 300 ribuan. Kalau sharing berdua, lumayan banget. Hotelnya besar dengan puluhan bahkan seratusan kamar, gedungnya bertingkat belasan dan tentunya ada lift. Dibanding tinggal di private room bahkan dorm di hostel, tinggal di hotel ini mending banget. Kamarnya privat dengan kamar mandi sendiri, ber-AC dan TV flat screen. Meski ukuran kamarnya kecil, tapi bersiiih. Sprei, sarung bantal, selimut, dan handuk harum bersih tanpa noda – diganti pula setiap hari. Tiap kamar dapat teh, kopi, air minum kemasan, beserta teko pemanas. Dapat juga amenities macam sikat gigi, odol, sabun, sampo dan kadang tersedia hair dryer.

Kalau murah, apa “jebakan betmen”-nya dong? Geylang adalah red-light district alias tempat lokalisasi prostitusi di Singapura! Yihaaa!

Read the rest of this entry »

Tua nonton konser band tua

Duran Duran live in Singapore

Saya dan sahabat saya sejak kuliah, Yasmin, tanggal lahirnya cuma beda 2 minggu. Beberapa tahun belakangan ini, kami merayakan ulang tahun bersama dengan cara melakukan tantangan berupa suatu hal yang keluar dari zona nyaman. Tujuannya untuk mengingatkan diri bahwa “meski tua tapi nyali tetap muda”. Contohnya tahun lalu kami sama-sama nekat mencoba reverse bungy jumping di Singapura. Tapi lama-lama we set the bar too high, sehingga bingung juga mau melakukan apa yang  lebih gila lagi setelah bungy jumping.

Tahun 2012 ini kami merayakannya dengan nonton konser band Duran Duran. Loh, apa gilanya dong? Bagi penikmat musik, nonton konser adalah hal yang biasa. Tapi bagi saya yang kapok nonton konser malah jadi senewen. Terakhir kali saya nonton konser band adalah Linkin Park di Ancol tahun 2004. Saya hanya bertahan jejingkrakan di tiga lagu pertama. Abis itu, saya sesak napas dan perut mual karena klaustrofobik kegencet ribuan orang. Kepala juga berasa pusing karena berasa ada gempa akibat penonton loncat-loncat di tanah. Akhirnya saya melipir ke pagar belakang sambil merangkak! Sementara si Yasmin nggak pernah nonton konser kecuali di acara sekolah. Maka pilihan teraman bagi yang sudah terkena “Faktor U” seperti kami adalah nonton konser band tua di Singapura dengan harapan lebih tertib.

Read the rest of this entry »

Keliling dunia makan seafood

Moonfish di Korea

Saat saya tinggal sebuah homestay di Misool, Raja Ampat, paket menginapnya sudah termasuk makan. Saya yang selalu kelaparan selalu pengen tahu makan jam berapa dan makan apa, tapi selalu dijawab, “Tunggu saja ikan hasil pancingan.” Penduduk desa di pinggir laut Papua yang sehat yang tidak memiliki listrik ini, makanannya bergantung sepenuhnya dari laut. Maka sehari tiga kali selama hampir seminggu saya makan ikan dan nasi. Memang nikmat makan ikan yang dimasak begitu habis dipancing! Orang sana menyebutnya sebagai “Ikan mati sekali”. Saya langsung membayangkan makan ikan di Jakarta yang ditangkap entah di mana, dibunuh, dimasukkan es, dipeti, naik kapal berhari-hari, pindah ke beberapa suplier, dijual di supermarket, sampai dimasak di rumah. Wah, matinya berapa kali itu? Pantas rasanya jauh berbeda!

Ketika setiap hari makan ikan (enak), saya tidak keberatan. Yang keberatan adalah ketika setiap sarapan makan nasi goreng pake ikan. Maka hari keempat saya bilang ke anak pemilik homestay untuk mengganti ikan dengan telur untuk makan pagi. Jawabnya, “Ngapain makan telur? Orang di Jawa itu makan telur karena tidak ada ikan di sana! Di sini kan banyak ikan dan tinggal ambil saja!” Err.. bukan begitu maksudnya, cuman berasa nggak nyambung aja. Saya dan teman-teman pun patungan membeli telur yang harganya mahal di warung.

Read the rest of this entry »