The Naked Traveler

Tidak Semua Pramugari Seksi

Sejak duduk di bangku TK, saya bercita-cita menjadi pramugari, pikiran saya waktu itu rasanya enak bisa jalan-jalan ke mana-mana. Namun sejak SD saya sudah memakai kaca mata, jadi gagal lah cita-cita saya. Belum lagi penampilan saya yang bukan pramugari banget. Hehe! Memang pramugari bagaikan role model, mereka cantik, tinggi, langsing, rapih, dan ramah. Suatu hari teman saya berkomentar, “Enak banget pramugari Citilink, kerjanya cuman ngasih Aqua gelas.” Pemikiran ini salah, sebab fungsi utama pramugara dan pramugari di pesawat terbang adalah flight safety, malah service adalah nomer dua. Kenapa pramugari pramugara tinggi-tinggi ya untuk alasan sederhana saja, supaya nyampe kalau menutup
Read more

Dimana Andorra?

Tidak ada yang bisa menjelaskan dan menjamin bahwa pergi ke negara Andorra tidak memerlukan visa. Meskipun di website dan di buku disebutkan visa not necessary, tapi kan selalu ada pengecualian untuk pemegang paspor Indonesia. Lagipula saya pernah punya pengalaman dideportasi karena tidak punya visa negara Cyprus yang sama-sama negara terkecil di dunia. Namun saya membulatkan tekad saja, toh naik bis hanya 3 jam dari Barcelona, kalau dipulangkan ya tinggal balik lagi – jangan kayak orang susah! Benar saja, di perbatasan ada posko dengan bendera Andorra dan bis pun disuruh behenti. Duh, dengkul saya lemas sekali, saya lalu memelorotkan tubuh saya
Read more

Makan Hemat dan Nekad (2)

Mau lebih borju lagi, saya makan di restoran yang menyediakan menu all you can eat. Lebih mahal memang, tapi jauh lebih kenyang. Supaya tidak rugi, kosongkanlah perut sekosong mungkin dan makanlah dengan santai, sedangkan modal lainnya adalah nekat. Di Helsinki (Finlandia) dimana merupakan salah satu kota dan negara termahal di dunia, saya pernah makan di restoran Cina all you can eat seharga 8 Euro. Saya makan mulai dari nasi, gorengan, aneka lauk pauk dan sayuran, termasuk softdrink dan kopi. Istirahat sebentar, merokok, mulai lagi makan dari awal, begitu seterusnya, sampai sempat-sempatnya saya buang air besar dulu, lalu makan dari awal
Read more

Makan Hemat dan Nekad (1)

Sebagai backpacker, atau istilah lebih kerennya budget traveler, faktor makan adalah hal yang terpenting karena merupakan faktor yang dapat kita kontrol pengeluarannya sebab biaya transportasi dan tiket masuk sight seeing adalah pengeluaran yang wajib dan tidak dapat ditawar. Apalagi jika traveling di negaranya bule, dimana 1 main course saja sekitar 7 – 12 Euro atau setaranya dalam Dolar, belum termasuk minum dan pajak. Lupakan appetizer dan dessert. Bukannya saya pelit, saya bisa makan dengan harga segitu di restoran di Jakarta. Tapi ini kan dalam rangka traveling di luar negeri dimana harga tiket pesawatnya saja sudah mahal, bawa duit juga terbatas,
Read more

Jutawan yang Menyamar Jadi ‘Backpacker’

Kalau saya traveling, saya paling anti memberitahu banyak orang tentang rencana kepergian saya. Soalnya pasti mereka akan bilang, “Oleh-oleh ya?”. Tidak tahu dari mana budaya oleh-oleh di Indonesia itu berasal, maksudnya sih sebagai kenang-kenangan tapi kok terasa menyusahkan orang yang pergi. Padahal saya jalan a la gembel, dengan duit terbatas, membawa ransel pula. Oleh-oleh itu harganya mahal tau’, barang-barang suvenir termurah seperti magnet kulkas dan gantungan kunci saja harganya sekitar 2 – 7 Euro atau setaranya dalam Dolar. Apalagi T-Shirt yang rata-rata harganya 2 digit. Belum lagi kalau ada yang bilang, “Titip ya?”. Males banget! Saya sih bukan seperti teman
Read more