Travel

Terdampar di bandara Lombok

Terdampar di bandara Lombok

Setelah kelar liburan di pantai-pantai di selatan Pulau Lombok yang supercantik itu, saya dan Tante Em (adik ibu saya) berencana meneruskan liburan ke Bali pada 4 Februari 2015. Ndelalah, bangun tidur dapat SMS dari Garuda bahwa pesawat dipindah dari jam 9.50 ke jam 14.40. Senang juga, bisa tidur lebih lama. Tapi ada apa ya? Saya browsing, ternyata kemarinnya jam 17.00 ada pesawat Garuda tergelincir di runway bandara LOP, untungnya tidak ada korban jiwa. Hmm, berarti sudah semalaman bandara ditutup.

Lagi asyik makan siang, saya terima email dari Garuda yang mengatakan bahwa pesawat saya yang tadinya jam 14.40 dipindah lagi ke jam 19.00, itupun rutenya jadi muter. Tadinya direct LOP-DPS, sekarang jadi LOP-SUB-DPS. Gilanya lagi, connecting flight-nya ga nyambung, masa flight SUB-DPS tetap jam 16.25? Saya pun menelepon CS Garuda, dan ia mengubah tiket SUB-DPS sehingga akan mendarat di Denpasar pada jam 22.45. Buset!

Opsi lain adalah naik feri ke Bali yang memakan waktu 4 jam, tapi lebih ribet karena harus ke Pelabuhan Lembar dan sampainya pun di Padang Bai. Ditambah supir mobil sewaan sedang sakit dan mobilnya tidak ada seatbelt, saya memutuskan untuk didrop saja di bandara dan lebih baik menunggu jam 19.00 sampe bego.

Sampai di bandara LOP, suasananya luar biasa ramai kayak pasar! Banyak orang duduk di taman, di jalan, di lantai bandara, dan di semua restoran. Saya mengikuti kerumunan orang yang ternyata adalah bagian informasi bandara. Seorang mbak-mbak bilang bahwa belum ada pesawat yang bisa terbang karena bandara masih ditutup. Saya segera mencari tahu bagaimana caranya ke Bali naik boat. Rupanya saya tidak sendiri, selusinan orang juga mencari informasi yang sama. Katanya, boat terakhir ke Bali jam 14.00. Jiaah!

Saya masuk aja ke dalam dan check in supaya tidak harus menggeret koper. Petugasnya bilang, “Kok aneh ya, malah disuruh muter lewat Surabaya. Padahal ada pesawat direct LOP-DPS nanti jam 18.10.” Lha nggak tau, disuruh CS-nya begitu! Tapi… horee, bisa berangkat lebih cepat sejam! Kami pun membunuh waktu dengan pijat refleksi, makan bakso sampe 3 mangkok, dan keluar-masuk semua toko di bandara.

Jam 17.00 kami masuk ke ruang tunggu yang superpenuh. Berkali-kali diumumkan bahwa pesawat AirAsia, Citilink, Lion Air, dan lain lain dibatalkan penerbangannya karena “alasan operasional” yang disusul dengan suara bergemuruh, “HUUUUUUU!!” dari ratusan orang. Saya mengintip dari jendela, di ujung runway terdapat pesawat Garuda tipe ATR 72-600 yang mandeg di rumput dan beberapa kendaraan di sekitarnya. Entah apa yang sedang mereka perbuat selama lebih dari 24 jam tanpa hasil.

Sampai jam 20.00 atau sudah lewat sejam dari jadwal, belum juga ada pengumuman terbang. Saya bertanya kepada petugas, katanya saya disuruh ke bawah untuk minta refund. Lha? Di dekat gate, terlihat troli berisi kantong plastik sampah berwarna hitam. Saya intip dalamnya, eh ada nasi kotak dan air mineral botol. Aduh, makanan dan minuman sebanyak ini teronggok begitu saja karena tidak ada yang memberi tahu! Tentu saya langsung ambil karena lapar luar biasa.

Di bawah, saya mengantri di konter Garuda bersama ratusan penumpang yang you know lah ngantrinya berbentuk trapesium, bukan satu garis. Orang-orang mulai saling sikut dan teriak marah-marah, anak-anak menangis keras. Beberapa kali saya pun jadi ikutan memaki bapak-bapak yang dengan santainya memotong jalur antrian. Karena lama, sambil berdiri saya makan nasi kotak. Beberapa penumpang yang tampak ngiler saya bilangin, “Pak, Bu, disediain nasi kotak lho di atas. Ambil aja, daripada laper!” Mereka pun pergi, sehingga antrian saya jadi lebih pendek. #modus

Saya nguping orang-orang di depan, ternyata ada yang dipindahkan ke pesawat besok atau lusanya. Ada juga bule mewek karena ketinggalan connecting flight pulang ke Australia. Pas giliran saya, petugas konter bilang bahwa penerbangan saya diganti jadi keesokan harinya. “Pesawat jam berapa, Pak?” tanya saya. “Belum bisa dipastikan. Tunggu besok di-SMS aja. Malam ini menginap dulu di Lombok. Voucher hotelnya diambil di konter sebelah,” jawabnya. Hah? Tapi ya sudah lah, mau apa lagi. Yang lebih kasihan lagi sih yang nggak naik Garuda, katanya mereka tidak dapat fasilitas hotel.

Saya mengantri lagi di konter ujung. Petugas mbak-mbak yang jutek hanya memberikan secarik kertas dan saya disuruh menulis nama dan nomor hape. Ia berkata, “Nanti menginap di Hotel Praya. Tunjukin aja boarding pass-nya. Abis ini keluar bandara, dan cari petugas berseragam. Tanya infonya di sana.” Saya jadi curiga, semua orang cuman nulis di kertas oret-oretan, apa mereka tahu siapa menginap di mana dan apakah cukup jumlah kamarnya?

Di luar bandara, banyak orang berkumpul di parkiran. Saya menemui seorang petugas yang dikerubuti para penumpang gagal. Katanya, “Hotel Praya kemungkinan sudah penuh, jadi pindah ke Hotel Lombok Raya.” Lha, tadi di dalam didaftarkan ke Hotel Praya, kok sekarang ganti? Mereka menghitung nggak sih jumlah orang yang akan menginap dengan ketersediaan kamar dan jumlah kursi bus? Bagaimana dengan makan malam dan sarapan?

Tau-tau kami disuruh naik bus kecil yang telah disediakan untuk membawa kami ke hotel. Udah buru-buru naik, jreng… bus penuh banget! Gimana sih ini? Kata petugasnya, “Tunggu aja bus lain! Nanti busnya abis nganter akan balik ke sini untuk jemput.” Kami pun turun lagi dan berkumpul lagi. Orang-orang bertambah panik dan mengomeli petugas.

20 menit berlalu, belum ada bus juga. Hotel Praya ada di Praya, Hotel Lombok Raya ada di Mataram. Keduanya berjarak 1,5 jam. Kebayang kan lamanya? Saya benar-benar sudah lelah fisik dan mental. Saya pun berinisiatif untuk naik taksi saja. Saya ditawari sewa mobil ke Mataram. Bergaya ala bekpeker, saya pun berteriak, “Woiii, ada yang mau patungan taksi? Rp 160.000 nih. Saya sudah berdua, butuh dua orang lagi. Jadi per orang bayar Rp 40.000 aja!” Dan dapatlah sepasang suami-istri asal Jakarta.

Sepanjang jalan kami saling bercerita. Kata si suami, ia pernah juga diinapkan di Bali karena pesawat cancel, tapi penanganannya jauh lebih baik. Seluruh penumpang dikumpulkan, ada seorang yang in charge dan memberikan pengumuman secara baik-baik sehingga tidak ada yang panik. Hotel dan makan dapat, bahkan dapat uang cash sebagai ganti rugi. Saya pun baru tau darinya bahwa airport tax bisa minta refund. Ih, kok beda banget ya Bali sama Lombok?

Tiba di lobi hotel, kami check in dengan menyerahkan boarding pass. Staf hotel menawarkan sekamar sendiri atau berdua. Tentu saya memilih sekamar berdua karena kasihan kalau penumpang lain nggak dapat kamar. Setelah menaruh barang di kamar, saya ke restoran untuk makan. “Saya dari Garuda yang cancel, katanya boleh minta makan di sini. Bolehnya makan apa ya?” Staf restoran bingung, ia menelepon entah siapa. 10 menit kemudian baru diperbolehkan. Saya juga tahu diri dengan memesan hanya seporsi makanan. Saya lihat tidak ada penumpang lain di restoran ini. Kasihan sekali mereka yang kelaparan.

Sarapan keesokan harinya dipenuhi oleh para penumpang yang kemarin ketemu di bandara. Katanya mereka akan menunggu SMS dari Garuda untuk kepastian keberangkatan. Sampai jam 9.00 belum di-SMS, saya pun kabur naik fast boat dari pelabuhan Senggigi – bersama puluhan orang yang sama-sama di-cancel. Tante Em pun berkomentar, “Sekarang baru nyadar kalau kamu traveling emang sering sial sampe gue kebawa-bawa. Bagusnya, kamu jadi punya banyak bahan untuk ditulis.” :)

Dari follower Twitter, belakangan saya tahu bahwa bandara LOP akhirnya dibuka pada tanggal 5 Februari 2015 malam atau lebih dari 48 jam! Bayangkan, berapa kerugian yang telah ditanggung atas batalnya puluhan penerbangan? Berapa ratus orang yang kecewa akibat gagal pulang atau menghadiri acara penting? Come on, bandara internasional sebesar Lombok masa tidak punya peralatan yang memadai?

Kecelakaan (pesawat) memang di luar kuasa kita, tapi seharusnya kerugian itu bisa diminimalkan dengan lebih cepatnya penanganan terhadap pesawat (yang tergelincir). Yang terpenting lagi, perlunya pelatihan manajemen tanggap darurat bagi seluruh staf bandara dan perusahaan penerbangan sehingga tidak terjadi kepanikan di antara para penumpang dan kacaunya bandara.

Read more
[Adv] Bobo sama zebra, makan sama singa… di Bali!

[Adv] Bobo sama zebra, makan sama singa… di Bali!

Bali adalah destinasi wisata favorit turis domestik maupun luar negeri. Tak heran Bali sering memenangkan destinasi wisata terbaik karena didukung dengan infrastruktur yang baik, masyarakatnya yang paling sadar wisata, serta banyaknya variasi – mulai dari pantai, bawah laut, hutan, gunung, candi, museum, taman bermain, sampai safari.

Iya, safari! Kalau dulu definisi “safari” merujuk ke trip jalan darat melihat hewan di habitatnya di Afrika, namun sekarang safari dapat dilakukan di luar Afrika. Pernah ke Taman Safari di Cisarua (Jawa Barat) atau di Prigen (Jawa Timur)? Saya pernah mengunjungi keduanya. Konsep safari berbeda dengan kebun binatang yang hewannya berada di kandang. Safari menempati area yang jauh lebih luas di mana hewan bebas berkeliaran. Taman Safari ada juga di Bali, ia bernama Bali Safari & Marine Park. Lokasinya di Gianyar – sekitar sejam naik mobil dari bandara Ngurah Rai. Saya sendiri sudah pernah ke sana pada 2011. Itulah hebatnya Bali, safari ala Afrika pun ada!

Awal Februari 2015 ini saya ke Bali Safari & Marine Park lagi, namun kali ini saya menginap di Mara River Safari Lodge yang bertema Afrika di dalam kompleksnya. Karena datang sudah sore, saya langsung masuk kamar tipe Twiga Suite untuk leyeh-leyeh. Kamar di Mara berupa bungalow yang dihubungkan dengan jembatan kayu. Kamarnya luas, ber-AC, kamar mandi terbuka menghadap langit, dengan jendela besar langsung menghadap hutan. Saat saya duduk di balkonnya, eeh.. ada sekelompok zebra dan wildebeest lagi leyeh-leyeh juga persis di depan saya! Nggak usah khawatir diseruduk karena ada sungai kecil yang membatasi kamar dan habitat hewannya. Bahkan kolam renangnya pun terbuka begitu saja. Terlihat para pekerja sedang membangun platform yang katanya untuk tempat parkir gajah yang nantinya akan membawa tamu ke restoran untuk sarapan. Ih, keren abis!

Jam 18.30 saya langsung ikut Night Safari. Berbeda dengan Safari Journey di siang hari yang menggunakan mobil biasa, Night Safari ini naik mobil tram yang dikerangkeng besi karena katanya pada saat malam hari hewan lebih agresif sehingga perlu keamanan lebih. Oh yeah, bring me on! Tram berjalan dipandu pemandu bilingual yang menerangkan kehebatan hewan-hewan yang ada. Namun hutan yang emang gelap tidak terlihat apapun di sekitarnya. Saat tram berhenti, lampu sorot mobil baru menerangi. Eeh.. ada gajah dan badak mengendus-endus tram! Saat itulah kami memberi makan berupa wortel kepada mereka. Ya ampun, luthunaah! Pada pemberhentian kesekian kali, tiba-tiba… dua ekor macan melompat ke atas atap tram! Kami semua merunduk karena ngilu, saya malah takut dipipisin. Macan tersebut santai aja jalan-jalan dan duduk di atas kepala kami yang hanya berjarak dua jengkal! Aww, deket banget!

Puas deg-degan diserbu macan, saya makan malam barbeku di outdoor restoran Tsavo sambil nonton Afrika! Rhythm of Fire Show. Masakannya yang variatif dan enak itu dinikmati sambil memandang bintang dan pas lagi bulan purnama. Kayak di Afrika beneran! Malamnya saya tidur sendiri deh… hiks. Tiba-tiba terdengar suara keras banget, “ROAAARRR… ROARRRR…!!” Wow, luar biasa pengalaman saya. Biasanya tidur di hutan denger suara jangkrik dan tonggeret, ini ditambah dengan suara auman singa!

Keesokan harinya saya menghabiskan waktu seharian di Bali Safari & Marine Park. Pertama saya ikutan Elephant Back Safari. Naik mobil kan udah biasa, nah ini jalan-jalan di antara hewan Afrika naik gajah Sumatra! Saya jadi ikutan difoto rombongan mobil Safari Journey, mungkin disangka bagian dari show safari :).

Lalu saya nonton pertunjukan edukatif tentang hewan. Pertama adalah Animal Educational Show di Hanuman Stage jam 11.00. Berbagai hewan, termasuk burung elang, burung kakaktua, binturong, ular piton, dan orangutan tampil. Mereka bukanlah tampil kayak sirkus, tapi diterangkan apa dan bagaimana hewan tersebut oleh MC. Selanjutnya saya nonton Elephant Conservational & Educational Show di Kampung Gajah jam 11.45. Pertunjukkan ini dibuat layaknya sandiwara tentang gajah yang diburu manusia, padahal gajah adalah hewan yang baik dan penolong. Psst.. saya sampai menitikkan air mata karena terharu.

Bali Agung Show

Bali Agung Show

Setelah makan siang di Uma Restaurant, saya nonton Bali Agung Show di Bali Theater jam 14.30. Pertunjukkan budaya tentang kisah hidup Raja Sri Jaya Pangus tahun 1179 – 1181 ini sangat spektakuler. Lebih dari 150 orang terlibat di dalamnya, belum termasuk gajah, macan, kambing, dan bebek! Meski saya sudah pernah nonton 4 tahun yang lalu, namun mereka tetap memberikan performance yang tetap bagus karena dilakukan dengan passion.

Hydro Lift & Spinning Coaster

Hydro Lift & Spinning Coaster

Bosan sama hewan, saya keliling taman. Ternyata ada juga Fun Zone dan Water Park lho! Fun Zone ini semacam theme park. Secara saya doyan extreme ride, saya langsung naik Hydro Lift (naik kendaraan di sungai yang ditarik ke atas menara dan dijatuhkan sambil muter-muter) dan Spinning Coaster (roller coaster yang turun naik dan kursinya muter-muter). Widih, seru banget! Di Water Park selain bisa berenang, juga ada berbagai luncuran seru.

Pagi hari saya bangun, kembali nongkrong di balkon. Kali ini yang terlihat selain zebra dan wildebeest, ada badak Afrika superbesar! Saya pun sarapan di Tsavo Lion Restaurant, duduk di dekat kaca yang menghadap hutan. Tiba-tiba dua ekor singa berlari menuju saya! Saya langsung memejamkan mata dan merunduk… begitu melek lagi, saya lupa kalau singa itu ada di balik kaca. Rupanya mereka sedang asyik minum di sungai kecil persis di sebelah meja saya! Wah, emang dahsyat dah pengalaman menginap di Mara River Safari Lodge!

Ngopi sama singa!

Ngopi sama singa!

Ikuti #TNTquiz berhadiah menginap dan tiket gratis!

Mau nyobain serunya ke Bali Safari & Marine Park GRATIS? Ikutan kontes “The Cutest Pet in the House” aja! Tersedia 4 hadiah yang oke banget, yaitu menginap gratis 1 malam di Mara River Safari Lodge dan 3 tiket masuk gratis ke Bali Safari & Marine Park! Caranya gampang: upload foto Anda dengan hewan kesayangan dengan caption yang menarik, follow akun Twitter @BaliSafari dan Instagram @balisafari, tag foto Anda ke kedua akun tersebut dengan hashtag #balisafari dan #TNTquiz, ditunggu sampai sebelum 28 Februari 2015 jam 23.59 WITA ya!

Read more
10 hal yang bikin kangen sama Indonesia

10 hal yang bikin kangen sama Indonesia

Kalau ke luar negeri dalam waktu yang lama, kira-kira apa yang paling Anda kangenin dari Indonesia dan setelah berapa lama? Kalau liburan ke luar negeri seminggu sih masih belum berasa karena masih semangat-semangatnya mencoba hal baru. Dua minggu baru baru mulai crancky, dan semakin parah setelah berbulan-bulan.

Selain kangen sama keluarga dan teman di Indonesia, menurut saya ada beberapa hal lainnya:

  1. Makanan

Emang ada makanan yang lebih enak daripada makanan Indonesia? Sebagai WNI tentu setuju, mungkin karena seumur hidup sudah terbiasa dengan segala macam bahan dan bumbu khas Indonesia. Kalau pun tidak bisa memasak sendiri, kita sudah tahu bisa cari makanan itu ke mana dan tahu harganya. Makanan negara lain memang (ada yang) enak, tapi kalau setiap hari selama seminggu ya eneg juga, apalagi berbulan-bulan!

  1. Bau yang khas

Satu lagi efek lama nggak makan makanan non-Indonesia: saya tidak mengenali bau kentut dan boker yang familiar itu! Hehehe! Tapi bau-bau lain juga berbeda dan kadang bikin kangen. Seperti bau tanah basah abis hujan dan bau bensin di SPBU.

  1. Bantal Guling

Ternyata berpisah dari kebiasaan berpuluh tahun pake bantal guling itu berat! Kalau cuma menginap di hotel (yang 99,9% nggak ada guling meski di hotel Indonesia) beberapa hari sih nggak kerasa, tapi kalau udah lama, waaa… rasanya ada yang hilang! Waktu saya tinggal di Filipina, saya sampe bawa guling sendiri dari Indonesia. Tapi pas RTW setahun, tentu nggak bisa. Mana di hostel cuman dapet bantal sebiji doang. Nggak ada yang bisa dipeluk..  hiks.

  1. Ojek

Di negara maju, transportasi umum memang sangat baik. Tapi haltenya sering berada jauh dari penginapan/obyek wisata. Saya sih senang jalan kaki, tapi kalau pas musim dingin atau pas cuaca panas-panasnya saya kangen banget sama ojek! Mau naik taksi takut mahal.

  1. Taksi yang bagus dan terjangkau

Mungkin ini hanya berlaku di Jakarta, tapi yang jelas taksi kita itu yang terbagus di dunia dengan harga yang terjangkau. Taksi di negara maju boleh deh pake mobil merk mahal, tapi harga argonya juga supermahal! Taksi di Amerika Latin, huu.. boro-boro bagus, ada argonya juga nggak!

  1. Matahari yang konsisten

Betapa berbahagianya kita yang dapat menikmati sinar matahari 365 hari setahun; everyday is summer! Setiap hari pun terbit dan terbenam pada jam yang sama, paling beda-beda di menit. Saya pernah di Polandia mendekati winter, matahari terbenam jam 15.30 sore. Sebaliknya, pernah di Chile saat summer, matahari terbenam jam 22.30 malam. Rasanya jadi linglung, makan malam yang biasanya jam 19.00 terasa terlalu malam di Polandia dan terlalu sore di Chile. Mau jalan-jalan rasanya udah kemalaman sehingga ingin cepat-cepat pulang, sebaliknya mau tidur malam kok matahari masih terang benderang. Hidup rasanya jadi aneh!

  1. Azan

Meski kadang terlalu berisik, tapi ternyata bikin saya kangen juga. Kalau sedang di negara yang penduduknya mayoritas Muslim sih nggak kerasa, tapi setahun di Filipina dan RTW sama sekali saya nggak denger! Lha, selama setahun itu aja saya cuma lihat masjid sekali.

  1. Ayam berkokok

Anak Jakarta zaman sekarang mungkin udah nggak pernah dengar suara ayam berkokok di pagi hari. Tapi dari kecil sampai sekarang saya terbiasa dengan suara ayam berkokok di pagi hari. Suaranya ternyata bikin kangen!

  1. Tisu

Sadar nggak bahwa kualitas tisu di Indonesia adalah yang terbaik? Bahkan lapisan tisu gulungnya aja sampe tiga lembar! Menurut saya, kualitas tisu Indonesia paling baik sedunia yang tersedia di toilet umum. Di negara maju aja tisu toilet umumnya berbahan mirip kertas yang saking kasarnya bikin pantat sakit. Perhatiin deh, penggunaan tisu di Indonesia itu luar biasa banyaknya. Di setiap meja restoran, bahkan warung, disediakan tisu – minimal tisu gulung. Padahal sebenarnya itu nggak baik karena telah memotong banyak pohon dan di negara kita nggak jelas apakah ditanam kembali dengan benar.

  1. Pijat enak dan murah

Bukan cuma saat badan pegal dan pergi ke panti pijat atau panggil ke rumah, tapi saya juga sering ke salon untuk krimbat, facial, manikur dan pedikur. Udah enak, harganya pun terjangkau! Pas traveling ke luar negeri, pijat dan nyalon jadi barang mewah. Nah, kalau pas tinggal lama di suatu negara baru deh saya sakau. Selama di Filipina, saya pernah beberapa kali ke panti pijat karena kepepet, itu pun sambil nangis karena mahal. Pas RTW sempat cari-cari salon/panti pijat, tapi harganya mahal nggak karu-karuan! Selama setahun pernah coba pedikur doang di Kolombia, itu pun nggak pake dipijat kakinya.

Kalau menurut Anda yang pernah tinggal lama di luar negeri, kangennya sama apa ya?

Read more
[Adv] Jadi saksi sejarah peluncuran pesawat A350 Qatar Airways

[Adv] Jadi saksi sejarah peluncuran pesawat A350 Qatar Airways

Saya jadi GR berat saat terima undangan dari Qatar Airways menjadi salah satu dari 150 orang media seluruh dunia untuk menyaksikan peluncuran pesawat terbaru jenis Airbus 350 XWB. Perasaan menjadi saksi sejarah dunia itu memang luar biasa! Yang lebih excited lagi, acaranya diadakan di Qatar – negara baru atau ke-65 yang saya kunjungi.

Sebagai undangan (penting), saya berkesempatan naik Qatar Airways rute Jakarta-Doha di business class. Ah, nggak usah diceritain lagi betapa enaknya duduk di kelas bisnis yang kursinya bisa jadi tempat tidur flat ini. Hebatnya lagi, kursinya juga berfungsi sebagai massage chair – bayangkan enaknya tidur sambil punggung dipijit! Lalu masing-masing penumpang dikasih satu set piyama berbahan superlembut yang langsung saya pake, juga penumpang lain, sehingga kami semua tidur berseragam! :)

Keluar pintu pesawat, eh udah ada staf Qatar Airways menjemput dengan papan bertuliskan nama saya. Saya takjub dengan bandara baru Doha yang telah selesai dibangun. Lalu kami semua menginap di Oryx Rotana, hotel bintang lima milik grup Qatar Airways.

Besok paginya kami dikasih option untuk ikutan City Tour atau Desert Safari Tour. Tentu saya milih yang kedua, dan juga para peserta yang memenuhi 12 mobil SUV 4×4 mengarungi gurun. Mobil membawa kami ngebut turun-naik di sand dunes yang curam sambil jerit-jerit! Kami sempat stop di perbatasan Arab Saudi dan ngopi di tepi laut.

Makan siang kami di restoran Spice Market, W Hotel. Di situ lah saya berkenalan dengan para udangan dari negara-negara lain. Rupanya per negara terdiri dari jurnalis dari media tradisional (koran, majalah), portal berita online, ada blogger, dan ada juga selebtwit dan artis Instagram. Hebat juga ya perkembangan social media sekarang! Makanya kudu diseriusin karena kesempatan masih terbuka lebar.

Lalu kami ke Legacy Pavilion untuk menonton presentasi tentang persiapan Qatar sebagai tuan rumah FIFA World Cup 2022. Presentasi yang diadakan di sebuah ruangan yang ¾ dindingnya berupa layar yang ditembak 34 proyektor ini adalah presentasi asli kepada tim bidding World Cup FIFA Technical Inspectors. Pantas saja Qatar menang bidding, presentasinya keren banget sampe bikin saya nganga! Meski Qatar negaranya sebesar Pulau Sumba, mereka akan membangun 12 stadion bola ber-AC dan berkapasitas rata-rata 45 ribu orang! Mereka juga akan membangun jaringan transportasi umum MRT, bus, dan kapal yang supercanggih.

Sorenya kami dikasih kesempatan belanja oleh-oleh di Souq Waqif. Malamnya acara ditutup dengan dinner di atas kapal Dhow Cruise sambil melihat gedung-gedung pencakar langit Doha dan lampu-lampunya.

Hari kedua adalah hari yang bersejarah itu! Kami menghadiri press conference di bandara Doha yang dipimpin oleh His Excellency Akbar Al Baker (Qatar Airways Group Chief Executive), Didier Evrard (Airbus Executive Vice President Head of Programmes, dan Eric Schulz (Rolls-Royce President of Civil Large Engines). Qatar Airways adalah maskapai penerbangan pertama di dunia yang menggunakan pesawat terbaru di dunia jenis Airbus 350 XWB. Keunggulan pesawat ini antara lain adalah memiliki mesin yang paling efisien di dunia dan tidak berisik. Penerbangan komersial pertama dilakukan 15 Januari 2015 dengan rute Doha-Frankfurt. Mereka telah memesan 80 pesawat A350, semoga aja nanti ada yang terbang ke Indonesia.

Setelah itu kami dibagi ke dalam grup untuk masuk ke dalam pesawat A350 Qatar Airways. Hebatnya, saya termasuk Grup A atau grup yang pertama kali masuk pesawat! Berjalan di atas karpet merah menuju tangga pesawat membuat saya nyengir lebar. Dalam pesawat ini memang luas. Konfirgurasi kursi di kelas ekonomi adalah 3-3-3 dengan lebar kursi 18 inci dan jarak ke depannya 32 inci. Layar TV-nya aja berukuran 10,6 inci! Yang bikin ngiler adalah kursi business class-nya dengan konfigurasi 1-2-1 yang bisa jadi tempat tidur horisontal dan layar TV berukuran 17 inci. Wow!

Untuk lebih jelasnya, silakan nonton video ini deh:

Makan siang lalu diadakan di Business Class Airport Lounge. Mr. Al Baker yang berkarisma sampe bikin ndredeg itu tiba-tiba lewat, saya pun langsung minta foto bareng. Teman-teman media luar sampe berkomentar, “Gila, nekad banget lo!”

With His Excellency Mr. Akbar Al Baker (Qatar Airways Group Chief Executive)

With His Excellency Mr. Akbar Al Baker (Qatar Airways Group Chief Executive)

Malamnya adalah acara reveal ceremony yang diadakan di landasan bandara Doha. Pesta ini dihadiri ratusan orang dengan set table dan bergantian makanan mewah diantar langsung di hadapan. Di depan kami ada panggung dan back drop terbesar dan terlebar yang pernah saya lihat seumur hidup. Selain pidato dan hiburan, di panggung ada presentasi tentang kecanggihan A350. Pada puncak acara ada laser show, dan akhirnya back drop terbuka… Jreng, ada pesawatnya!

Pagi harinya semua peserta terbang pulang. Saya sih santai bangun siang karena saya extend trip ini selama beberapa hari ke depan. Cerita jalan-jalan saya sendiri di Qatar bersambung kapan-kapan ya!

Note: Foto dan video buatan Qatar Airways, kecuali foto diri, karena… kamera saya tiba-tiba mati di Doha! Setelah dibawa ke service center di Jakarta, semua fotonya tidak bisa diselamatkan. Duh, padahal ada foto saya di cockpit dan jumpalitan di business class! :(

Read more
[Adv] Traveling ke Singapura nggak pake ribet

[Adv] Traveling ke Singapura nggak pake ribet

Ke Singapura nggak cukup sekali karena selalu aja ada atraksi dan program promosi yang baru. Meski udah beberapa kali ke sana, saya selalu nemuin cara baru, pergi ke tempat atraksi baru, makan dan menginap di tempat baru, dan sebagainya.

Kali ini saya mau sharing tips tentang menikmati Singapura dengan cara yang nggak pake ribet dan lebih hemat. Keluar dari bandara Changi setelah ambil bagasi dan melewati customs, di Terminal manapun, perhatikan deh konter Changi Recommends yang didominasi warna putih dan biru. Ia adalah anak perusahaan Changi Airport Group yang mengkhususkan diri pada layanan best deal setelah keluar dari bandara, seperti tiket atraksi, kartu MRT, SIM Card, WiFi router, booking hotel, asuransi, paket check up kesehatan, dan segala yang berhubungan dengan kenyamanan kita selama traveling di Singapura.

Lokasi konter Changi Recommends

Lokasi konter Changi Recommends

Saya sih sangat terbantu atas pelayanannya Changi Recommends, contohnya:

Sewa WiFi Router

Hari gini penting banget kita terkoneksi dengan internet, bahkan lebih penting daripada koneksi hape untuk layanan voice dan SMS. Bosan jadi “fakir WiFi”, biasanya ke luar negeri ya beli SIM Card lokal. Namun sekarang ada alternatif lain, yaitu sewa WiFi router. Kalau SIM Card dengan paket internet terbatas sekian Giga dibrandrol SGD 28, WiFi router ini biayanya SGD 10/hari dengan akses internet unlimited supercepat 4G – bisa dipake sampe 8 device pula, termasuk laptop. Kalau perginya barengan temen/keluarga, paket ini oke banget untuk patungan, sekalian sama-sama donlot film! :) Apalagi kalau pergi dalam rangka urusan bisnis bersama para kolega yang harus terus terhubung internet. Tenang aja, modem-nya kecil kok jadi enteng dibawa ke mana-mana, bahkan dimasukin ke saku.

Beli tiket atraksi lebih murah

Waktu itu saya beli tiket ke beberapa atraksi favorit saya di konter Changi Recommends, eh masing-masing dapat diskon SGD 3! Kelihatannya sedikit, tapi mayan loh SGD 3 itu bisa buat seporsi makanan enak di hawker food stall! Keuntungan lainnya kalau udah punya tiket duluan, kita nggak perlu antre panjang di depan loket atraksi sehingga hemat waktu dan tenaga.

Beberapa atraksi yang saya datangi adalah:

  • S.E.A. Aquarium –> Terletak di Resort World Sentosa, ia merupakan salah satu akuarium terbesar di dunia yang memiliki koleksi 100.000 hewan laut, termasuk koleksi Manta Ray terbanyak di dunia. Saya baru pertama kali ke sana dan senengnya minta ampun! Sebagai pencinta underwater, saya menganga-nganga melihat hewan laut yang unik dan aneh, bahkan yang hampir punah seperti Sea Dragon dan Guitarfish. Yang paling spektakuler adalah akuarium Shark Seas yang terdiri dari 200 ikan hiu berbagai spesies, termasuk hiu martil! Woww!
  • Gardens by the Bay –> Taman seluas 101 hektar ini sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Flower Dome dan Cloud Forest yang bikin nambah pengetahuan, juga Supertree Grove yang keren banget untuk foto-foto. Tak lupa berjalan di OCBC Skyway – jembatan sepanjang 128 meter dan setinggi 22 meter yang oke banget pemandangannya dari situ. Datang lagi deh pada jam 19.45 dan 20.45 untuk nonton gratis Garden Rhapsody light and sound show yang spektakuler. Saat ini dekorasi bunga di Gardens by the Bay dibuat bertema Chinese New Year dengan kambing sebagai lambang tahunnya.
OCBC Skyway @ Gardens by the Bay

OCBC Skyway @ Gardens by the Bay

  • Sands SkyPark –> Hotel Marina Bay Sands yang terbesar di Singapura ini memiliki 3 tower, 2560 kamar, dan 55 lantai. Kita bisa ke lantai teratasnya pada ketinggian 200 meter yaitu di SkyPark Observation Deck yang bisa melihat pemandangan Singapura 360°. Foto lansekap maupun selfie dari sana dijamin keren parah! Sambil ngopi-ngopi cantik atau makan di salah satu restoran di sana juga bisa.

Booking hotel

Saya menginap di Hotel Marina Mandarin di Raffles Boulevard, hasil booking dari Changi Recommends. Hotel berbintang lima milik grup Meritus ini terletak sangat strategis, diapit 2 mal yaitu Marina Square (bahkan nyambung pintu malnya ke lobi) dan Suntec City. Hotel bertingkat 21 ini masing-masing memiliki balkon yang langsung menghadap kota (sebagian menghadap Marina Bay), kamarnya luas dan nyaman, sarapan ala prasmanannya nikmat. Yang paling oke adalah kolam renangnya, karena airnya adalah air mineral yang dipurifikasi pake standar NASA – jadi nggak ada tuh kaporit yang bikin sakit mata.

Premier Room @ Marina Mandarin Hotel

Premier Room @ Marina Mandarin Hotel

Airport City Express Bus

Dari bandara Changi ke tengah kota emang gampang naik MRT, tapi kalo bawa barang banyak males juga turun-naik geret-geret koper. Nah, Changi Recommends mulai Februari 2015 akan menyediakan layanan shuttle bus. Tiketnya cuma SGD 5, udah termasuk tiket OCBC Skyway di Gardens by the Bay (padahal harga tiket Skyway itu SGD 5 sendiri lho!). Kabar gembiranya lagi, bus ini memiliki beberapa halte pemberhentian, termasuk Hotel Marina Mandarin, Gardens by the Bay, Raffles Hotel, dan lain-lain yang tinggal ngesot ke berbagai pusat atraksi. Karena ini adalah bus kecil berkapasitas 23 penumpang, jadi bisa masuk sampai ke lobi hotel. Dan… tiket ini berlaku 24 jam! Jadi kita bisa turun-naik sesukanya, sambil keliling Singapura dengan lebih hemat dan nggak pake ribet.

ACE Bus Route

Layanan keluar Singapura

Keluar dari Singapura, di bandara Changi area Departure sebelum check in counter maskapai penerbangan, ada juga konter Changi Recommends. Layanannya juga penting banget, seperti jasa kurir DHL (say no to bagasi overweight yang mahal), jasa plastic wrapping untuk koper, sewa WiFi router untuk 14 negara di luar negeri (khusus WN Singapura dan Permanent Resident), bahkan beli tiket pesawat last minute.

Oke banget kan layanan Changi Recommends? Traveling ke Singapura, yuk!

Note: Foto-foto traveling saya bisa dilihat di Instagram @trinitytraveler

Read more