Travel

Ekspedisi WWF ke Pulau Koon

Ekspedisi WWF ke Pulau Koon

Mendadak saya menerima undangan dari WWF Indonesia untuk mengikuti ekspedisi ke Pulau Koon di Kabupaten Seram Bagian Timur, provinsi Maluku (hashtag #XPDCKOON). Tujuan ekspedisi ini adalah mengumpulkan data ekologi, sosial dan pariwisata kawasan konservasi Koon. Sebagai pecinta pulau eksotis dan diving, saya langsung setuju. Apalagi bisa melihat langsung bagaimana para ilmuwan kelautan dan perikanan bekerja.

Ada 21 orang yang ikut dalam ekspedisi Koon dari WWF Indonesia yang dibantu oleh personel dari Yayasan TERANGI, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Seram Bagian Timur, TNI AL Ambon, Balai Taman Nasional Wakatobi, dan 2 orang travel blogger yaitu saya dan Terry dari negerisendiri.com. Ekspedisi yang diadakan pada 13-25 April 2016 ini menggunakan Kapal Menami milik WWF yang dikirimkan dari Wakatobi.

Tim #XPDCKOON tiba di Pulau Gorom

Tim #XPDCKOON tiba di Pulau Gorom

Karena ada kerjaan lain di Lampung, saya baru bisa menyusul pada 14 April 2016 yang dijadwalkan dengan menggunakan pesawat rute Jakarta-Ambon-Langgur, lalu akan naik speed boat WWF dari Langgur (Kei) ke Koon. Baru saja mau naik pesawat di bandara Pattimura Ambon menuju Langgur, saya ditelepon WWF yang mengatakan bahwa saya sebaiknya turun dari pesawat saja karena kapal Menami ternyata masih di Ambon. Saya sampai nggak enak ngerepotin sebandara karena harus mengeluarkan tas dari bagasi pesawat.

Beruntung saya masih bisa ikut workshop sehari untuk semua peserta ekspedisi di atas kapal Menami. Workshop ini antara lain mengenai tata cara survei cepat dan manajemen data. Sehari tiga kali diadakan coral and fish test alias ujian tentang karang dan ikan! Saya baru tahu bahwa karang itu jenisnya sangat banyak. Karang keras saja terbagi lagi menjadi Acropora dan Non Acropora. Masing-masing terbagi menjadi golongan branching, encrusting, submassive, dan lain-lain. Padahal di layar semua tampak sama!

Sedangkan ujian ikan, terbagi antara identifikasi ikan dan ukuran ikan. Ruangan kelas pun terdengar bak bahasa Asterix & Obelix karena mereka menyebut jenis ikan dalam bahasa Latin! Saya yang cuma tahu ikan baronang, ikan kuwe, ikan kerapu itu masih salah karena masing-masing keluarga ikan mempunyai jenis lain-lain – makanya wajib hapal nama Latin dua kata karena termasuk genus-nya. Sebagian besar peserta yang memang sarjana kelautan dan perikanan sekaligus bekerja di LSM bidang konservasi laut membuat saya geleng-geleng kepala. By the way, sebagian besar lulusan IPB dan Universitas Diponegoro lho! Ih, bangga deh saya sebagai almamater Undip!

Yang agak mending saya bisa ikuti adalah ujian mengukur panjang ikan. Panjang dihitung dari ujung muka sampai ujung ekor. Ternyata tidak semua ikan dijadikan target penelitian. Ikan karang di bawah 10 cm tidak dihitung. Kategori ikan yang dihitung adalah “ikan kecil” dengan ukuran 10-35 cm dan “ikan besar” dengan ukuran 35 cm ke atas. Jenisnya pun tertentu, hanya yang dianggap bernilai ekonomis, antara lain Scaridae, Seranidae, Lutjanidae, Carangidae, Sphyraenidae, dan Cachardindae – silakan googling artinya ya? Hehehe.

Ada juga penelitian Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Selam, seperti kecerahan perariran, tutupan karang, jenis life form, kecepatan arus, dan lain-lain. Juga pengambilan data SPAGs (spawning agregation) yang artinya adalah meneliti ikan kawin! Ditambah lagi penelitian Hewan Karismatik, maksudnya penyu, hiu, paus  – entah kenapa disebut “karismatik”. Selain pengambilan data bawah laut, juga ada penelitian darat berupa wawancara kepada para nelayan di pulau-pulau terdekat dengan 150 butir pertanyaan.

Sayangnya karena birokrasi surat izin berlayar dari syahbandar yang ribet, kami stuck di Ambon selama 3 malam. Setelah workshop ekspedisi selesai, mendadak saya disuruh mengisi workshop penulisan. Hari bebas lain kami isi dengan berbelanja di mal dan pasar untuk logistik kapal. Saya sendiri mengajak sebagian peserta untuk berwisata ke Pantai Liang, Kampung Bola Tulehu, dan makan rujak di Pantai Natsepa. Beruntung saya sempat bertemu dengan Victor, seorang teman di Ambon yang berbaik hati meminjami kipas angin… karena kamar tidur di kapal Menami sangat panas!

Singkat cerita, pada 17 April 2016 pukul 10 pagi kami berangkat. DUA PULUH ENAM JAM yang membosankan kemudian, akhirnya kami tiba di Pulau Gorom. Speed boat WWF yang dinamai Pesut dari Kei telah tiba untuk membantu penelitian. Kata kaptennya, untung saya tidak ikut nebeng karena perjalanan molor dari 5 jam jadi 8 jam akibat ombak besar. Titik penyelaman ada dua puluhan di sekitar gugusan Pulau Koon, Pulau Gorom, Pulau Geser, Pulau Grogos, Pulau Nukus, Pulau Neiden, Pulau Kidan, dan Pulau Panjang.

Kami pun dibagi 2 tim ekspedisi penyelaman, masing-masing terdiri dari 6 orang. Saya memilih untuk ikut tim yang berada di kapal Pesut yang bertangga karena masalah (badan) saya adalah memanjat rubber boat dari laut. Urutan penyelaman adalah pertama, “anak ikan” yaitu 2 orang yang mendata ikan kecil dan ikan besar. Kedua adalah “Roll Master” yaitu orang yang bertugas membentangkan tali meteran rol. Ada 5 rol tali, masing-masing sepanjang 50 meter. Ketiga adalah “anak karang” yaitu yang mendata terumbu karang, bleaching, dan bentik. Masing-masing penyelam mencatat hasil temuannya pada papan yang dilapisi kertas anti air. Di atas kapal ada orang yang bertugas mendata lokasi dan men-tag GPS bila bertemu “hewan karismatik”.

Tutus Wijanarko meneliti ikan kawin! (foto: Taufik Abdillah)

Tutus Wijanarko meneliti ikan kawin! (foto: Taufik Abdillah)

Kami semua turun ke kedalaman 10 meter, seseorang akan menandainya dengan jerigen. Lalu “anak ikan” maju ke depan sambil mencatat data ikan. Tugas mereka mendata sampai jarak 250 meter dan dilanjutkan dengan long swim selama 15 menit. Di belakangnya, Roll Master membentangkan tali meteran. Bila sudah lewat 250 meter dan menandainya dengan safety sausage, maka tandanya “anak ikan” akan long swim. Terakhir “anak karang” yang mendata kondisi karang sampai jarak 150 meter. Makanya Roll Master setelah membentangkan tali meteran 250 meter, ia harus balik menggulung meteran sampai ke titik 150 meter. Dan “anak karang” lah yang akan menggulung balik sampai ke titik 0.

Dari semua spot penyelaman, alam bawah lautnya memang bagus. Karena lokasinya yang terpencil, hanya kapal pesiar atau LOB (live on board) yang bisa masuk – itu pun sangat jarang. Memang ada sebagian spot yang rusak akibat pemboman oleh nelayan setempat. Untunglah WWF Indonesia telah melakukan konservasi sejak tahun 2011 dimana WWF bersama dengan Raja dan rakyat Petuanan Negeri Kataloka telah menyepakati kerjasama wilayah konservasi yakni Marine Conservation Agreement (MCA), yang bertujuan untuk pemulihan ekosistem laut di perairan sekitar Pulau Koon. Pelarangan pengambilan ikan di situ dilakukan karena merupakan lokasi agregasi pemijahan ikan kerapu sunu, kakap merah, kerapu macan, dan bobara mata besar. Selain itu, perairan Koon juga memiliki kepadatan biomasa (jumlah spesies) jenis ikan tertinggi bila dibandingkan dengan wilayah pemijahan ikan lainnya di Indonesia bagian Timur. Terbukti saat menyelam di area MCA tersebut, saya menyaksikan sendiri terumbu karang yang padat, sehat, dengan ikan yang luar biasa banyaknya, termasuk ikan kerapu dan bobara, bahkan bertemu schooling ikan GT, barakuda, bumphead, dan sweetlips! Tak heran situs ini dinamai warga setempat sebagai “Pasar Ikan” – nama yang sangat cocok!

Saya yang biasa diving for fun, sekarang baru tahu bedanya diving for work. Peralatan diving angkut sendiri, pasang sendiri. Setelahnya angkut sendiri, bongkar sendiri, cuci sendiri. Kalau ada arus kencang, kami tetap berenang melawan arus sekencang apapun sampai kaki dan gigi mau copot saking pegelnya. Kalau ada spot oke untuk foto, tidak ada yang peduli karena pada fokus pada penelitian. Kalau pun mau foto-foto, hanya bisa saat safety stop. Kalau ada yang fotoin, hasilnya tidak sebagus teman fun diver yang biasanya bawa kamera profesional. Ya iya lah yaa… namanya juga ekspedisi penelitian ilmiah, bukan hura-hura!

Di sisi lain saya sangat salut dengan para peneliti yang begitu passionate dengan pekerjaannya dan tidak masalah menempuh kondisi apapun. Saya bertanya, “Emang kalian enjoy ya diving tapi kerja keras begitu?” Jawab mereka, “Kami malah bingung kalau cuma diving doang tanpa mencatat ikan dan karang.”


PS. Cerita behind the scene ekspedisi ini bisa dibaca di buku “The Naked Traveler 7” yang akan terbit secepatnya. :)

Read more
Traveling with Travel Writers

Traveling with Travel Writers

Tidak semua teman itu enak buat diajak traveling bareng, meski itungannya sahabat paling dekat sekalipun. Tapi kalau teman yang emang sama-sama penggila traveling, tanpa ba-bi-bu langsung aja setuju.

Saya, @claudiakaunang, dan @riniraharjanti sama-sama penulis buku travel. Kami berkenalan lebih dari 5 tahun yang lalu karena sama-sama satu penerbit di Bentang Pustaka. Sejak itu kami berteman baik. Namanya juga tukang jalan-jalan, kami jarang banget bertemu. Namun gosip chatting jalan terus, mulai dulu di laptop via Yahoo Messenger sampai sekarang di smartphone via Whatsapp dan Skype.

Saya sendiri sudah pernah traveling bareng Rini ke Raja Ampat, itu pun gabung dengan 10 orang lainnya di atas kapal. Sama Claudia baru sekali ke Yogya, sehari pula. Rini dan Claudia malah belum pernah traveling bareng. Setiap chatting kami selalu melontarkan ide untuk traveling bareng, tapi nggak pernah kesampaian. Bahkan mengunjungi Rini yang tinggal di Kuala Lumpur aja nggak jadi-jadi. Sampai lah suatu hari terlontar ide untuk traveling bareng ke Canada. Kenapa Canada? Meski sudah puluhan negara kami kunjungi, tapi kami bertiga sama-sama belum pernah ke Canada.

Singkat cerita, coba tebak, gimana gaya jalan kami – para travel writer kondang? #ciyee

Apakah disponsorin? Nggak sama sekali. Kami traveling ke Canada pake duit tabungan masing-masing.

Seberapa banyak bawaannya? Setiap orang bawa 2 pieces; koper/ransel dan ransel kecil. Karena cuaca dingin, bawaan jadi lebih banyak dan bulky. Bawaan yang paling lengkap sampe ke printilan sih Claudia – minta apa aja kayaknya ada. Rini yang bodinya paling kecil justru bawaannya paling banyak.

Bikin itinerary? Kagak! Kami cuma tahu tanggal berapa ada di mana. Karena saya punya waktu hampir sebulan, Rini 2 minggu, dan Claudia cuman punya semingguan. Artinya, kami hanya bersama seminggu pertama. Tiga hari pertama saya dan Rini ke Victoria, sebelum bergabung dengan Claudia di Vancouver. Setelah itu tiap malam kami berdiskusi mau ngapain,ke mana besoknya dan sama-sama browsing. Di tiap kota kami selalu ke Tourism Office setempat untuk cari info. Itu pun sering nemu ide baru di jalan dan berubah rencana. Pokoknya kami sangat fleksibel.

Naik apa? Kebanyakan sih jalan kaki. Sebagai tukang jalan-jalan, kami semua kuat jalan kaki seharian. Kalo jauh ya naik bus, atau naik taksi ke bandara/terminal bus karena bisa patungan bertiga. Pernah juga nyewa mobil ke Lake Louise karena Rini dan Claudia punya SIM Internasional.

20151106_030142 (640x480)

Apakah ke mana-mana selalu barengan? Seharian sih iya, tapi duduk di bus pun kami bertiga mencar karena sama-sama maunya duduk di jendela. Tapi kalo ada salah satu yang nggak mau ikut, ya nggak maksa. Sehabis makan malam biasanya ada sesi curhat. Setelah itu, Rini yang anak kantoran pasti tidur duluan, Claudia kerja di laptop-nya, saya kadang ngelayap.

Menginap di mana? Kami tinggal di hostel yang female dorm sekamar berempat, jadi ada seorang wanita lain yang tidak kami kenal. Saya dan Claudia yang bertubuh besar mendapat kemewahan untuk boleh tidur di bunkbed bawah.

Apakah ada ritual khusus? Claudia bangun selalu paling pagi karena dia kudu dandan dulu. Tidur paling telat pasti saya, karena saya selalu mandi sebelum tidur dan mengeringkan rambut pake hair dryer. Karena kami bertiga sama-sama Kristiani, sebelum berangkat kami berdoa bersama yang dipimpin oleh Rini.

Gimana makannya? Cari makan pasti yang lebih hemat, seperti di food court atau restoran lokal. Sesuai dengan ukuran tubuh, Rini makannya paling sedikit. Claudia yang doyan ngemil mesti ke supermarket beli camilan sendiri. Saya hanya makan 3 kali sehari langsung porsi besar. Lucunya setiap order makanan di restoran ada polanya; Rini makan ayam, Claudia makan sapi, saya makan babi. Hehehe!

Gimana soal perduitan? Untuk booking tiket bus dan hostel biasanya ditalangin dulu pake kartu kredit Claudia, bayarnya belakangan pas tagihan datang dalam Rupiah. Sisanya duit sendiri-sendiri.

Siapa yang jadi leader? Tanpa traveling bareng pun, kami sudah tahu bahwa Claudia lah yang otomatis menjadi pemimpin, dia juga paling jago baca peta. Saya dan Rini sih seneng banget ada yang ngurusin. Claudia pun hepi karena dia terbiasa bawa grup #TripBarengCK. Lucunya pernah dia kebablasan mengajak kami ke kafe populer asal Amerika karena kebiasaan grupnya suka beli tumbler.

Shopping nggak? Ternyata di antara kami bertiga, yang paling doyan shopping adalah Rini! Dia juga yang rajin ngeracunin kami kalo ada barang sale. Claudia hanya beli suvenir, saya yang paling nggak beli apa-apa kecuali sekali kena racunnya Rini beli jaket.

Pada gila selfie nggak? Nggak sama sekali. Motret aja kami termasuk malas. Kami semua tidak punya action cam dan tongsis, jadi kalau mau foto ya gantian aja. Itu pun foto bertiga jarang banget. Meski kami aktif di socmed, tapi kami tidak terpaku pada smartphone masing-masing. Interaksi dengan real people lebih penting!

Berantem nggak? Nggak sama sekali! Itu dia, kalo jalan sama orang udah sama-sama sering traveling, hampir dipastikan orangnya sama-sama asyik. Apa-apa dikomunikasikan dan transparan. Mau gebet cowok juga aman karena selera kami berbeda.

Ah, ternyata traveling sama mereka memang menyenangkan! Pulang dari Canada, kami pun merencanakan untuk traveling bareng lagi di tahun 2016. Ke mana? Yang jelas ke negara yang kami semua belum pernah juga. Ada yang bisa tebak? Tunggu aja ceritanya!

Read more
Adrenaline Activities in New Zealand

Adrenaline Activities in New Zealand

Saya suka New Zealand! Selain alamnya yang luar biasa indah, negara itu cocok untuk saya yang adrenaline junkie alias doyan nyari aktivitas yang bikin jantung mau copot. 13 tahun yang lalu saya ke New Zealand dengan tekad pengen nyobain bungy jump di negara penciptanya. Dulu pusat aktivitas beradrenalin adanya di South Island, tapi saat ini di North Island juga banyak, terutama di Auckland dan Rotorua (3 jam naik bus dari Auckland). New Zealand memang pusat aktivitas beradrenalin. Safety-nya sudah tidak diragukan lagi. Pemerintahnya pun secara reguler mengkaji.

Berikut sebagian aktivitas berdasarkan tingkat deg-degan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi;

Luge Riding di Skyline Rotorua
Operator: Luge Skyline

Luge adalah semacam papan beroda yang meluncur dari ketinggian. Luge komersial pertama di dunia diciptakan di sini lho! Ada 3 track yang bisa dipilih, saya meluncur downhill di Scenic Track sepanjang 2 km sambil balapan sama @marischkaprue. Yang bikin seru adalah belokan-belokannya dan turunan yang curam. Kita sendiri yang mengontrol kecepatan. Kalau banyak rem ya berarti makin lambat. Jadi saya tancap aja, dan menang balapan deh!

4WD Buggy Riding dan Clay Bird Shooting di Rotorua
Operator: Adventure Playground Rotorua

4WD Buggy Car

4WD Buggy Car

Naik mobil SUV yang 4-wheel drive mungkin sudah biasa, tapi ini naik 4WD buggy car terbuka dengan tingkat kemiringan yang tajam! Saya dibawa off road ke dalam hutan, belok-belok, naik bukit terjal berbatu-batu, meluncur turun sampe pemandangan menghadap bawah! Teriakan saya akhirnya berakhir di puncak Mount Ngongotaha pada ketinggian 2.000 kaki di atas permukaan laut. Pemandangannya spektakuler abis, menghadap Lake Rotorua, Mokoia Island, dan kota Rotorua.

Belum selesai sampai situ, saya dibawa sebuah bukit untuk Clay Bird Shooting. Saya diajarin menembak sasaran berupa clay (tanah liat) terbang dengan menggunakan senjata semi otomatis berlaras panjang! Begitu “jeder” aja bahu saya terpantul getaran tembakan dan suaranya sangat menggelegar! Duh, serem! Adrenalin saya benar-benar terpacu! Setelah percobaan ke-3, saya baru bisa menembak tepat sasaran.

Bridge Climbing di Auckland Harbour Bridge
Operator: AJ Hackett

Manjat jembatan? Iya, itu juga pertanyaan saya awalnya. Tapi jangan membayangkan jembatannya kecil, ini Auckland Harbour Bridge yang terbuat dari baja dengan panjang 1,02 km dan dibangun tahun 1954. Mulanya agak deg-degan sih karena berjalan di jembatan terbuka yang lantainya bolong-bolong di ketinggian 43,27 meter di atas permukaan air. Guide-nya menerangkan sejarah dan teknis jembatan, termasuk menunjukkan lokasi di mana 3 pekerja bangunannya tewas! Saya makin ndredeg ketika berjalan di atas puncak lengkungan tempat tiang bendera  – atau 64 meter (setinggi bangunan 21 lantai) di atas permukaan laut! Udah tinggi, lebar lantai cuma seukuran dua tapak kaki, kanan-kiri-atas kosong, angin kencang menerpa sehingga jembatan terasa agak bergoyang! Arrrggh!

Parasailing dan Jetboating di Lake Rotorua
Operator: Kawarau Jet

Apa bedanya dengan parasailing di Bali? Yang ini jauh lebih bikin jantung mau copot! Tingginya aja sampe 121 meter atau setinggi gedung 40 lantai! Aw, nyer-nyeran abis! Canggihnya lagi, kapal yang nariknya bukan speed boat biasa, tapi ini lebih besar dan lebih cepat karena kita naik dan turun dari deck kapal, jadi nggak basah kena air sama sekali. Tali yang menghubungkan parasut dan kapal sistemnya katrol otomatis, jadi tinggal dikerek aja kayak bendera. Ditambah lagi pemandangannya yang spektakuler, melihat danau, pegunungan dan kota. Foto di udara ada di paling atas tuh.

Jetboat pertama kali didesain di New Zealand. Kapal bermesin jet ini kecepatannya mencapai 80 km/jam dan mudah bermanuver. Di atas air, saya dibawa ngebut sampe ajrut-ajrutan, tiba-tiba berhenti, tau-tau berputar kencang 360° sampe miring-miring! Seru banget!

Ziplining di Pulau Waikehe dan Rotorua
Operator: EcoZip Adventure dan Canopy Tours Rotorua

Di Indonesia disebut flying fox, tapi istilah itu ternyata untuk jarak pendek dan rendah alias untuk konsumsi anak-anak. Ziplining jaraknya panjang dan di atas ketinggian. Di Waiheke, zipline-nya ada tiga, masing-masing berkabel ganda yang berjarak 200 meter. Karena serba terbuka dan tidak begitu curam, jadi tidak begitu deg-degan tapi pasti teriak.

Yang lebih serem zipline di Rotorua. Ini kombinasi dengan canopy tour, jadi trekking di hutan perawan sambil diterangin soal konservasi alam, naik jembatan antar pohon, melewati jembatan gantung sempit bergoyang-goyang, dan meluncur di 6 zipline berjarak 40-220 meter dengan ketinggian sampai 22 meter! Meluncur nyempil di antara pepohonan supertinggi berusia ratusan tahun di hutan lebat emang bikin jantung mau copot! Saya nggak punya videonya, karena megang kamera aja susah bener karena lemez.

Skyswing di Skyline Rotorua
Operator: Skyswing

Ini semacam ayunan raksasa, tingginya saja 50 meter. Awalnya saya dan teman duduk di kursi terbuka. Pelan-pelan kursi dikerek ke atas sampai 90°. Nah, ini sih serem banget karena lama-lama badan saya yang tadinya posisi duduk tegak jadi menghadap ke bawah. Gilanya, kita sendiri harus menarik tali agar terlepas, lalu kursi jatuh dan berayun dengan kecepatan sampai 150 km/jam! *pegangin jantung*

Skyjump di Sky Tower Auckland
Operator: Skyjump

Sky Tower adalah bangunan tertinggi se-New Zealand, tingginya 328 meter. Di observation deck setinggi 192 meter terdapat patform untuk terjun! Duh, ngebayangin terjun dari gedung setinggi 64 lantai aja udah bikin sakit perut. Berbeda dengan bungy jump yang diikat kakinya, skyjump dikaitkan tali di punggung jadi jatuhnya dalam keadaan tengkurap – makanya disebut juga wired base jump. Delapan tahun yang lalu saya pernah bungy dari Macau Tower setinggi 233 meter, tapi tetep aja yang ini rasanya mau mati ketika berdiri di ujung platform! Pada percobaan ketiga, akhirnya, “AAAAAAAAAK…!!!” Saya teriak kenceng 11 detik sampai mendarat! *mungut jantung di lantai*

Masih ada lagi sih yang belum saya coba, seperti zorbing dan sky dive. Tapi itu adalah alasan saya agar bisa kembali lagi ke New Zealand. Nah, Anda pilih yang mana? Selamat mencoba deg-degan di Middle Earth!

—-
Tips

Saya terbang ke Auckland naik Singapore Airlines di Premium Economy Class. Ternyata nyaman banget; kursi dan jarak kaki lebih lebar, ada calf-rest, reclining seat lebih mundur, TV HD ukuran 13,3 inci, headset canggih, dan yang penting… makanan lebih banyak!
Nah, untuk mendapatkan tiket harga spesial ke New Zealand, saya dan @SingaporeAirID telah menciptakan kode unik untuk Anda. Caranya gampang! Ketik kode 436204795 pada kolom promo code di awal tahap pemesanan tiket online melalui situs www.singaporeair.com.

Read more
Malta: You’ll never be alone in traveling

Malta: You’ll never be alone in traveling

Ceritanya saya janjian traveling bareng seorang teman asal Italia yang dulu saya kenal di Seychelles. Kami berencana untuk pergi ke Republik Malta, sebuah negara yang terletak di selatan Italia dan utara Libya. Ia adalah salah satu negara kepulauan yang terkecil di dunia. Penduduknya aja cuma 400.000 orang. Karena letaknya di Eropa selatan maka cuacanya lebih hangat, lumayan banget setelah seminggu saya kedinginan di Jerman.

Dua minggu sebelum berangkat ke Malta, eh teman saya itu tiba-tiba membatalkan janji karena mendadak ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan! Dem, bete banget gue di-PHP-in gini! Bayangan indah dan seru jalan bareng dia jadi bubar. But the show must go on. Gengsi banget membatalkan perjalanan hanya gara-gara dia nggak jadi. Emangnya dia pikir dia siapa? Huh!

Saya pun memilih untuk tinggal di hostel  supaya nggak sendirian. Dari sedikit pilihan yang ada, saya pilih di daerah Sliema agar akses mudah ke mana-mana. Di Malta ada apa saya nggak tahu karena nggak sempat browsing. Maka pada hari pertama sampai, saya langsung ke reception dan bertanya kepada ibu kos sebaiknya ke mana. Dia lah yang membuat itinerary berdasarkan keyword saya: pantai dan sightseeing. Beres!

Saya langsung mengikuti sarannya untuk membeli tiket bus terusan Tallinja Card seharga 15 Euro untuk 12 kali naik bus ke mana aja senegara. Melihat plang informasi, saya syok dengan bahasa Malta yang kebanyakan huruf konsonan. Bahasa Malta berasal dari bahasa Arab, tapi intonasinya seperti pengucapan bahasa Italia. Untung penduduk Malta lumayan bisa berbahasa Inggris, jadi gampang nanya-nanya.

Valetta

Valetta

Saya pun jalan kaki keliling-keliling di ibu kotanya, Valletta. Kota yang termasuk ke dalam UNESCO  Word Heritage Site ini bangunan dan jalannya bergaya Baroque yang berdiri sejak abad 16. Kendaraan tidak boleh lewat di pusat kota, jadi enak banget jalan kaki. Saya sempatkan ke Saint John Co-Cathedral yang ternyata merupakan salah satu gereja yang interiornya paling bagus yang pernah saya kunjungi di dunia. Menjelang sunset, saya nonton tradisi lokal yang sudah berjalan ratusan tahun, yaitu tembak meriam.

Karena kangen makan nasi, malamnya saya makan di sebuah restoran India. Di meja sebelah duduk seorang bapak-bapak asal Inggris yang juga makan sendiri. Ia kelihatannya ramah. Dengan santainya saya bilang, “I hate to eat alone. Do you wanna join my table?”  Kami pun makan semeja dan ngobrol seru semalaman. Pemilik restoran yang orang India asli pun akhirnya ikut gabung ngobrol, bahkan ia mentraktir alkohol dan dessert gratis. Saat bon ditagih, eh saya malah dibayarin sama si bapak Inggris! Wah, saya untung sampe dobel gini!

Hostel saya kecil, hanya ada empat kamar dorm masing-masing terdiri dari 6 bed. Bagusnya yang menginap bukan ABG dan kebanyakan solo traveler. Setiap malam kami nongkrong bareng di teras. Rupanya banyak penghuni hostel yang tinggal sudah lama sehingga mereka ngegeng. Saya pun jadi ngegeng dengan sesama “anak baru”; Carlos dari Spanyol dan Vanessa dari Inggris – keduanya berprofesi sebagai dokter! Lucunya, Carlos juga korban PHP, tadinya ia janjian jalan bareng temannya ke Malta tapi dibatalin juga.

Hari-hari selanjutnya saya jalan bareng sama geng baru ini. Kami berenang di Blue Lagoon dengan pemandangkan khas Mediterania yang berair turquoise, berjemur di Golden Sands yang pasirnya keemasan, keliling kota medival Mdina yang cantik tempat syuting Game of Thrones, nongkrong di atas tebing tempat syuting film Troy di Blue Grotto, ke makam bawah tanah zaman Romawi di Rabat, menanti sunset di Dingi Cliffs yang merupakan titik tertinggi se-Malta, dan lain-lain. Seru banget ada temen ngobrol dan ada yang motretin!

Blue Lagoon

Blue Lagoon

Sialnya, selama di Eropa saya lagi sakit acid reflux – penyakit asam lambung yang naik ke tenggorokan sampai batuk-batuk kering terutama malam hari. Bener-bener saya jadi nggak enak sama teman-teman sekamar karena saya berisik. Namun teman-teman sehostel sangat perhatian. Dua teman dokter itu meresepkan obat khusus untuk dibeli di apotek. Cowok Libya bikinin minuman jahe. Cewek Korea masakin makanan. Cowok Brasil bagian nepok-nepok. Aih, saya sungguh terharu!

Memang benar bahwa you’ll never be alone in traveling. Jadi, nggak usah takut solo traveling!

Read more
El Nido dulu dan sekarang

El Nido dulu dan sekarang

Sebagai delegasi ASEAN Tourism Forum 2016, kami diberi kesempatan untuk ikut post-tour ke salah satu dari 10 destinasi wisata di Filipina dengan hanya membayar USD 150 all in untuk paket 4 hari 3 malam. Lucunya, saya sudah pernah ke 10 destinasi tersebut saking doyannya traveling di Filipina. Maka saya pun memilih untuk ke El Nido karena grupnya kecil, hanya 15 orang khusus media – di destinasi lain grupnya 40-60 orang dan bercampur dengan para buyers dan sellers. Selain itu, itinerary-nya “gue banget”, hanya island hopping dan berenang. Yang jelas kalau paketnya dihitung, value El Nido paling mahal dibanding ke-9 destinasi lainnya.

Pertama kali saya ke El Nido pada 2004 bekpekingan bareng si Nina dan Jade. Kami menginap di losmen busuk di El Nido Town dan patungan nyewa kapal untuk island hopping bareng Christian asal Australia. Nggak nyangka 12 tahun kemudian saya kembali dengan gaya luxury bersama para jurnalis internasional!

Saya baru tahu bahwa sekarang sudah ada direct flight langsung dari Manila yang hanya sejam, jadi nggak usah terbang ke Puerto Princesa dan naik jeepney 6 jam lagi. Mendarat di El Nido Airport pun sudah tidak ada becak (tricycle) lagi yang berbagi runway dengan pesawat, sekarang berganti dengan jeepney. Bangunan bandara sekarang sudah bukan garasi lagi, tapi 2 rumah besar meski tetap terbuat dari kayu dan non-AC, sayangnya hammock sudah tidak ada karena berganti dengan bangku permanen.

Kami menginap di Lagen Island Resort yang terletak di ujung Pulau Lagen yang dipenuhi hutan lebat dan diapit tebing limestone, sekitar 45 menit naik kapal dari El Nido yang terletak di mainland Pulau Palawan bagian utara. Hotel ini sangat eco friendly. Begitu nyampe kami langsung di-briefing tentang pelestarian alam. Kami diberi brosur berisi aneka satwa yang dapat ditemui di sekitar El Nido. Setiap tamu wajib mengisi dan memberi tanda satwa apa yang ditemui, tanggal dan lokasinya, agar satwa tersebut tetap terpantau. Kami juga diberi kantong khusus untuk tempat sampah, baik sampah sendiri maupun sampah orang lain. Di kamar dikasih minum air putih cuman sebotol, sisanya harus refill sendiri untuk meminimalisasi sampah plastik. Karena letaknya yang nyempil, saya bertanya apakah ada sumur air tawar. Ternyata mereka menyuling air dari laut. Pembuangannya pun telah melalui proses waste management yang baik.

Almost sunset in Lagen Island

Almost sunset in Lagen Island

Setiap hari kalo nggak leyeh-leyeh di resort, kami island hopping ke sebagian pulau dari 45 pulau yang ada di Bacuit Bay dipandu oleh guide bernama Marlon. Kami kayaking di Small Lagoon dan Big Lagoon di labyrinth tebing-tebing limestone, snorkeling di Bayog Beach dan Miniloc Island bersama schooling ikan giant trevally, caving di Codognon Cave, hiking di Snake Island, serta makan siang dan berenang di Entalula Island dan Dibuluan Island. Kepulauan El Nido memang mirip dengan Raja Ampat dengan skala yang lebih kecil, maka tak heran ia disebut sebagai “the best beach and island destination in the Philippines”.

Entalula Island

Entalula Island

Apa perbedaannya kawasan itu sekarang dan 12 tahun yang lalu? Bisa dikatakan tidak ada. Semuanya tetap tampak sama. Pemandangannya tetap spektakuler, terumbu karangnya tetap sehat, ikannya tetap banyak, pantai-pantainya tetap bersih tanpa sampah. Yang berbeda adalah pantai favorit saya di Entalula Island. Dulu hanyalah pulau tak berpenghuni, sekarang sudah ada satu restoran – itu pun dibuat eco friendly jadi tidak mengganggu pemandangan dan kebersihan. Peraturan keselamatan transportasi laut Filipina pun tetap ditegakkan – setiap penumpang kapal, sebusuk apapun kapalnya, tetap wajib mengenakan life jacket. Ah, sangat salut!

Yang paling berbeda hanyalah El Nido Town. Meski pemandangan ke arah laut tetap kece, namun sekarang jauh lebih rame, sudah banyak mobil, toko, hotel , restoran, bar. Saya masih ingat dulu di sana hanyalah desa nelayan kecil, penginapan kebanyakan model losmen atau homestay yang menyatu dengan rumah pemilik, restoran cuman ada beberapa – itupun kami sering dipelototin pemuda desa karena kami disangka cewek Pinay asal Manila yang sombong karena hanya ngomong bahasa Inggris. Saking kecilnya, semua kenal semua orang, terutama sesama turis. Tiap malam karena tidak ada hiburan dan sinyal telepon, sesama turis saling jemput dan nongkrong di suatu tempat untuk berpesta.

Dari trip ini, ada cerita menarik. Rombongan jurnalis terdiri dari 3 orang Rusia, 3 orang Turki, 2 orang Polandia, 1 orang Portugal, 1 Belgia, 1 Tiongkok, saya sendirian orang Indonesia, dan 2 orang panitia Filipina dari travel agent Intas dan Tourism Promotions Board. Saking parnonya pemerintah Filipina, rombongan kami dikawal oleh 2 orang polisi! Terus terang rombongan ini adalah rombongan media yang paling aneh. Semuanya takut matahari, termasuk bule-bule. Parahnya, semua saling ngegeng sehingga jarang terjadi percakapan di antara kami kecuali basa-basi, mungkin karena bahasa Inggris mereka yang kacau. Padahal kami makan selalu semeja, tapi mereka memisahkan diri aja gitu.

Jadilah saya ngegeng dengan kakek-kakek Portugal berusia 70 tahun bernama Salvador. Di antara rombongan, dia jurnalis paling profesional – selalu merekam dengan camcorder, memotret, dan mencatat. Meski paling tua, si kakek sangat asik diajak ngobrol, pintar, berbahasa Inggris dan Spanyol lancar, doyan berjemur dan berenang kayak saya. Badannya masih sangat fit, ingatannya masih tajam. Keren aja gitu saat dia bercerita, “50 tahun yang lalu saya ikut perang di Angola”, atau “40 tahun yang lalu saya ke Beijing, orang masih naik sepeda”. Lucunya, memori jangka pendek malah terganggu. Bisa-bisanya lagi posting foto di Facebook, dia bertanya, “Sekarang ini kita lagi di negara apa?” Hehehe!

Malam terakhir saya dan kakek menonton video hasil buatannya di camcorder-nya yang juga berfungsi sebagai projector. Angle-nya menarik, kualitas bagus, bak film dokumenter perjalanan di TV. Saya pun bertanya, “Elo setua gini emang nggak capek ya traveling mulu, apalagi terbang jauh di economy class?” Si kakek menjawab, “If I don’t travel, I’d die.”

Read more