Travel

Ke mana di Taiwan?

Ke mana di Taiwan?

Kalau ke Taiwan, ke mana aja ya? Kemungkinan besar Anda akan mendarat di ibu kotanya Taipei dan tinggal di situ. Destinasi wajibnya ke menara Taipei 101, Chiang Kai Shek Memorial Hall, dan National Palace Museum. Malamnya wajib ke pasar malam untuk makan dan belanja, terutama ke Shilin Night Market yang terbesar itu. Kalau masih ada waktu dan mau ke luar kota dikit, umumnya ke Yehliu Geopark atau Taroko Gorge.

Soal makanan, Taiwan juara. Tempat makan ada di mana-mana dan menurut saya rasanya nggak pernah salah. Cara pilih yang mana prinsipnya adalah cari yang paling rame diantre orang! Restoran yang patut dicoba dan harus sabar antre adalah Din Tai Fung. Ya, restoran yang sudah mendunia ini berasal dari Taiwan, tepatnya di Xinyi Road, Taipei. Kalau ingin coba restoran haute cuisine pemenang Asia’s 50 Best Restaurants 2017, di Taipe ada dua dan di Taichung ada satu.

Kebanyakan turis mentok di Taipei, tapi coba deh jalan ke luar kota arah selatan naik kereta cepat bernama Taiwan High Speed Rail (THSR). Teknologi yang digunakan sama seperti kereta cepat Shinkansen di Jepang yang kecepatannya mencapai 300 km/jam. Waktu itu saya coba dari Taipei ke Taichung hanya dalam waktu 50 menit saja.

Berikut beberapa tempat yang tidak biasa tapi sangat menarik di luar Taipei;

Whisky Distilery – Taiwan ternyata memproduksi salah satu wiski (whisky) terbaik di dunia yang telah memenangkan berbagai penghargaan, bahkan pernah mengalahkan Scotch Whisky yang merupakan asal wiski. Merknya adalah Kavalan. Pernah denger kan? Wiski adalah minuman beralkohol yang berasal dari fermentasi serealia. Pabrik wiski Kavalan ini berada di Yilan karena di sana memiliki sumber mata air yang baik yang merupakan kunci utama pembuatan wiski. Air murni ini lah yang langsung dibuat untuk fermentasi, distilasi, dan seterusnya, dan seterusnya sampai jadi 9 juta botol wiski per tahun.

Mary Leu Fine Art Carving Gallery – Tidak pernah denger nama ini sebelumnya tapi baru kali ini saya ke galeri seni sampai nganga melihat hasil kerja Mary Leu ini! Mary adalah pemahat patung. Mediumnya adalah kayu, tembaga, emas, dan kaca. Yang bikin takjub adalah dia memahat suatu barang yang biasa saja namun pahatannya sangat detil dan rumit. Sayangnya tidak boleh memotret sama sekali di galeri tersebut, tapi saya nemu situs yang memuat sebagian karyanya di sini.

Chun Shui Tang Cultural Tea House – Tahukah Anda bahwa bubble tea itu diciptakan pertama kali di Taiwan? Meski merk Taiwan yang terkenal di Indonesia adalah Chatime, namun di rumah teh Chun Shui Tang di Taichung ini lah pertama kali bubble tea diciptakan pada 1983. Alasannya karena tiga puluh tahun yang lalu budaya minum teh itu hanya dinikmati oleh orang tua, makanya diciptakan lah minuman teh dingin ini agar anak muda mau minum teh. Keberhasilan ini jadi mendunia, bubble tea dikenal di mana-mana. Selain jualan teh, mereka jual aneka kue kering, ada restorannya, juga bisa ikut workshop bikin bubble tea seperti yang saya ikuti. Bikinnya gampang ternyata!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

National Taichung Theater – Baru dibuka 2016, National Taichung Theater adalah opera house kebanggaan Taiwan – dan tempat paling favorit saya. Meski tidak sempat menonton operanya namun saya sangat terkesan karena arsitekturnya yang keren dan intelligent oleh Toyo Ito dari Jepang. Konsepnya adalah struktur free-form yang terbuat dari 58 dinding melengkung, jadi tidak ada satu pilar atau AC kelihatan di bangunan luas ini. Pokoknya semua sudutnya instagrammable banget deh!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Chang Lien Cheng Saxophone Museum – Taiwan ternyata memproduksi saksofon. Awalnya seorang pelukis bernama Chang Lien Cheng yang suka bermusik. Suatu hari saksofon temannya terbakar di rumahnya. Chang memperbaikinya dengan membongkarnya dan menggambar satu per satu ratusan part-nya, sampai jadilah saksofon pertama yang dibuat di Taiwan pada 1945, dan akhirnya dibuat pabrik. Saat ini anaknya Chang Wen Tsan yang memimpin perusahaan tersebut, dibantu oleh istri dan keempat anak perempuannya yang semuanya pemain saksofon terkenal. Selain museum saksofon, kita bisa melihat langsung pembuatan saksofon bermerk “LC Saxophone” ini. Kenny G. adalah salah satu saksofonis terkenal dunia yang menggunakannya. Pak Chang sendiri masih mengerjakan saksofon dengan tangannya. Saya baru tahu bahwa sebuah saksofon yang kualitas bagus itu harganya mencapai ribuan dolar.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Read more
5 Alasan Taiwan itu Menyenangkan

5 Alasan Taiwan itu Menyenangkan

Saya merupakan salah satu orang yang termasuk telat ke Taiwan. Terus terang dari dulu nggak tertarik ke sana. Alasannya karena saya kurang menyukai traveling di Tiongkok daratan. Kalau pernah membaca buku The Naked Traveler 3 dan 4, Anda tahu alasannya kenapa. Intinya karena saya nggak tahan dengan juteknya orang sana, toiletnya yang jorok, dan kendala bahasa.

Tapi ternyata Taiwan itu jauh berbeda dibanding ‘kakak’-nya Tiongkok. Seminggu di Taiwan saya suka banget karena jauh melebihi ekspektasi saya. Malah saya ingin balik lagi suatu saat. Mengapa demikian? Ada 5 alasan utama sebagai berikut;

  1. Orangnya ramah dan keren

Orang Taiwan lebih mirip orang di Asia Tenggara daripada orang Tiongkok daratan. Mereka ramah dan banyak senyum. Kalau di Tiongkok atau Hongkong saya suka takut masuk toko karena sering dimarahin (bahkan dibentak) sama penjualnya kalau nggak jadi beli, sementara di Taiwan mah santai aja. Malah mereka oke aja difoto sambil disuruh berpose.
Warna kulit orang Taiwan nggak kuning kinclong, namun kuning agak gelap dikit kayak orang Tionghoa di Indonesia. Dandanannya juga keren, nggak norak, nggak pake merk-merk plesetan.

The guards

  1. Toilet bersih

Ini hal yang paling berbeda dengan Tiongkok daratan. Saya nggak pernah ketemu toilet yang bau dan kotor di Taiwan! Di terminal bus, di dalam kereta, di restoran, di tempat wisata, semua bersih. Meski tidak tampak petugas kebersihan, tapi kesadaran akan kebersihan tinggi seperti WC yang selalu di-flush dan pembalut yang dibungkus.
Yang menyenangkan lagi, banyak WC di Taiwan bermodel kayak di Jepang yang di panel sisinya ada tombol air untuk cebok, bahkan untuk mengeringkan pantat. Hehe! Kadang masih nemu WC jongkok, tapi itu pun tersedia bidet dan tisu gulung.

  1. Bisa Bahasa Inggris

Orang Taiwan berbahasa Mandarin dengan intonasi yang lebih lambat dan tidak high pitch macam orang Tionghoa daratan. Kalau pun nggak ngerti mereka ngomong apa, paling tidak nggak “sakit hati” karena nadanya terdengar sopan.
Meski tidak semua bisa lancar berbahasa Inggris tapi paling nggak mereka mau membantu, minimal bisa menunjukkan arah. Kalau pengin nanya, cari aja anak muda, rata-rata mereka bisa berbahasa Inggris kok. Malah saya sering jadi ngobrol dengan mereka, yang ternyata berbahasa Inggris sangat baik karena lulusan Amerika atau Eropa.
Selain itu, tulisan pada rambu, nama jalan/stasiun, pengumuman, dan menu makanan rata-rata ada bahasa Inggrisnya, selain tulisan Mandarin.

  1. Transportasi yang gampang dan nyaman

Di Taipei terdapat MRT yang ekstensif. Beli tiketnya di mesin yang tersedia di stasiun dan ada bahasa Inggrisnya, murah pula. Kalau mau ke luar kota Taipei, bisa naik bus atau kereta yang sama mudahnya. Cobain deh naik Taiwan High Speed Railway, kereta supercepat dengan kecepatan sampai 300 km/jam. Di stasiun utama ada kantor informasi untuk turis, mereka dengan senang hati menerangkan dalam bahasa Inggris. Di dalam MRT/bus/kereta ada pengumuman destinasi dalam bahasa Inggris, baik berupa suara maupun running text. Semua transportasi publik umumnya pun sangat nyaman dan bersih. Penumpang pada saat rush hour nggak begitu berjubel karena frekuensi yang banyak.
Enaknya lagi, kalau mau naik taksi pun harganya nggak mencekik. Supirnya jujur, taksinya pake argo. Kalau ada kembalian uang, sampe recehan pun akan dikembalikan. Saya pernah sengaja ninggalin recehan untuk tip, eh malah dikejar untuk dikembalikan!

Taiwan High Speed Rail

  1. Terjangkau

Taiwan itu nggak jauh-jauh banget dari Indonesia. Jakarta-Taipei dengan menggunakan direct flight maskapai Eva Air hanya memakan waktu 4-5 jam saja. Budget airlines pun ada beberapa meski harus transit satu kali dulu. Untuk harga, silakan cek sendiri ya? Siapa tahu ada promo.
Penginapan banyak tersedia, mulai dari hotel sampai hostel. Saya menginap di Grand Hotel yang bersejarah dan megah itu sekitar US$ 122/malam, cukup murah untuk ukuran hotel bintang lima – apalagi kalau bisa patungan berdua. Pernah juga saya menginap di hostel sekamar sendiri harganya cuma US$ 10/malam.
Makanan di Taiwan itu enak-enak dan somehow lebih murah daripada di Jakarta. Kalau malam, kunjungi night market yang banyak menjual street food dengan harga sekitar NT$30-75 per porsi.

Grand Hotel lobby

Dengan 5 alasan di atas, rasanya nggak perlu ragu lagi traveling ke Taiwan. Eh, pasti ada yang tanya bagaimana dengan visa Taiwan? Bagi pemegang paspor Indonesia, bisa bebas visa Taiwan bila memiliki visa atau izin tinggal dari negara Amerika, Jepang, Korea, Australia, New Zealand, Uni Eropa yang masih berlaku, jadi tinggal isi formulir di sini aja. Bagi yang tidak punya visa negara maju tersebut, silakan apply visa di TETO (Taipei Economic Trade Office) di Jakarta, syaratnya ada di sini. Gampang kan?

Berangkaaat!

Read more
[Adv] Traveler bijak punya travel insurance

[Adv] Traveler bijak punya travel insurance

Penting nggak sih punya travel insurance (asuransi perjalanan)? Saya sudah pernah membahasnya di sini. Tapi mungkin Anda belum terbayang kesialan atau musibah apa yang mungkin terjadi ketika Anda sedang traveling di luar negeri. Sementara kita tahu bahwa sebagian besar negara di dunia itu biaya hidupnya lebih tinggi daripada kita, sehingga membutuhkan uang ekstra. Ini saya berikan ilustrasi beberapa kejadian sebagai berikut;

Pada trip terakhir saya di Taiwan, seorang teman kehilangan bagasinya dan dijanjikan akan dikembalikan dalam tiga hari ke depan. Padahal dia sedang business trip yang perlu pakai baju rapih untuk bertemu dengan pejabat tinggi setempat. Duh, males banget kan kalo kejadian kayak gitu? Kalau itu terjadi sama saya, pasti saya langsung belanja ke mal terdekat untuk beli baju dan sepatu baru. Nggak khawatir karena uang belanjanya akan ditanggung oleh travel insurance saya.

Sepupu saya juga baru trip ke Australia. Eh sampai di bandara Melbourne, entah kenapa kopernya rusak. Suaminya pas lagi berusaha menutup koper yang sedikit menganga itu, laptop-nya jatuh ke lantai dan pecah. Duh, sial banget kan? Untungnya mereka sudah saya rekomendasikan pake travel insurance langganan saya, jadi mereka santai aja beli koper dan laptop baru di Australia karena uangnya akan diganti.

Tante saya pun pernah mengalami kesialan saat traveling di Inggris. Paspornya hilang dicuri! Tentu beliau harus ke sana ke mari mengurus ini itu dan ke KBRI untuk mendapatkan paspor sementara. Biaya pengurusannya, termasuk transportasi lokal, ditanggung juga oleh travel insurance.

Saya sendiri pernah merasakan manfaatnya pada saat penerbangan saya ke Kenya tiba-tiba dibatalkan dan dimajukan sehari. Hotel dan biaya visa diganti, uangnya ditransfer ke rekening bank saya. Selain itu, travel insurance juga mengganti biaya ketidaknyamanan lainnya seperti delay.

Kondisi lain misalnya saat teman saya yang lagi traveling ke Swedia tiba-tiba jatuh sakit karena terpleset dari tangga. Dengan travel insurance, biaya pengobatan di rumah sakit Stockholm ditanggung. Bahkan bisa menerbangkan seorang anggota keluarga atau teman untuk menemani selama di rumah sakit. Hebatnya, sampai tiga bulan setelah tiba di Indonesia, pengobatan lanjutannya juga ditanggung! Perlu diketahui, travel insurance juga bisa menanggung biaya evakuasi medis darurat dan repatriasi dalam keadaan darurat di seluruh dunia lho!

Kondisi ekstrim lainnya adalah meninggal dunia di luar negeri. Travel insurance akan menanggung biaya pemulangan jenazah. Jika Anda sedang traveling di luar negeri lalu rumah di Indonesia kebakaran pun akan ditanggung oleh travel insurance.

Nah, travel insurance apa yang saya punyai yang bisa menanggung semua ilustrasi di atas? Saya pakai asuransi perjalanan AXA Mandiri. Alasannya karena gampang; bisa beli online di sini dan tinggal di-print langsung berlaku. Harganya terjangkau – setahun penuh ke seluruh dunia hanya USD 114,75 (sekarang lagi diskon 15%). Paket coverage-nya pun lengkap, mencakup seluruh dunia dengan uang santunan/penggantian yang besar.

Tips agar lebih hemat: Jika Anda ke luar negeri minimal tiga kali dalam setahun seperti saya, lebih baik ambil asuransi jenis Annual Trip. Asuransi ini bisa disertakan sebagai syarat pembuatan visa, malah kemungkinan mendapat visa multiple lebih besar karena periode waktu yang panjang. Jika Anda pergi bersama anggota keluarga pada saat yang bersamaan, pilih Family yang mencakup 2 orang dewasa plus maksimal 3 orang anak. Biaya premi Family tentu lebih murah daripada Individual dikali jumlah orang.

Intinya, traveler yang bijak, punya travel insurance! Jangan sampai deh Anda terlantar di luar negeri dan merepotkan keluarga di rumah. Saya sendiri dan orang-orang yang saya kenal telah merasakan manfaatnya.

Read more
Sial di Negara Maju

Sial di Negara Maju

Di dalam kereta Belgia dari ibu kotanya Brussel ke kota kecil Leuven, tiba-tiba perut saya bergejolak! Ah ini pasti karena saya kalap makan ala buffet di restoran Cina tadi siang. Maklum sudah lebih dari sebulan traveling di Eropa, begitu ketemu makanan yang cocok di perut langsung berontak ingin keluar. Duh, kenapa harus sekarang kebelet sih? Di dalam kereta ada toilet tapi saya sangsi tokai bisa masuk, atau malah langsung jatuh di rel. Saya tahan aja deh sampai stasiun kereta yang sudah pasti ada toilet.

Malam itu sekitar jam 8.30 saya tiba di stasiun kereta Leuven. Saya buru-buru lari mengikuti tanda arah toilet umum. Rupanya berada di bangunan sebelahnya. Saya pegang gagang pintunya… terkunci! Saya baca pengumuman di secarik kertas dalam bahasa Belanda, yang kira-kira artinya tutup. Sialan! Saya lari ke loket dan bertanya kepada petugasnya. Jawabnya, “Maaf, toilet kami memang sudah tutup dari tadi sore.” Hah? Tega benar! Padahal kereta datang setiap saat.

Di stasiun ada beberapa kafe yang masih buka. Saya masuk dan bertanya di mana toiletnya. Eh ternyata toilet mereka juga menggunakan toilet umum stasiun yang tutup itu! Lha? Sekompleks stasiun kereta toiletnya cuman satu? Cis! Saya berjalan lunglai ke luar stasiun. Ya ampun, kota ini sepi! Jam 5 semua toko sudah tutup. Di seberang ada restoran buka, tapi itu restoran mahal – nggak enak rasanya numpang ke toilet (boker pula) kalau nggak duduk dan beli makanan.

Oh well… Jarak dari stasiun kereta ke apartemen Indie, sepupu saya, sekitar 1,5 km. Setiap hari saya jalan kaki bolak-balik nggak masalah, tapi kali ini dalam keadaan kebelet. Ada bus tapi jadwal nggak jelas dan hanya turun satu halte, sisanya tetap jalan kaki. Duh, coba kalo di Indonesia, tinggal naik ojek kelar! Ya sudah lah, saya berjalan kaki saja. Paling 15 menit. Jalannya agak menanjak tapi hanya lurus doang lalu belok kiri di kampus.

Saya berjalan kaki sambil ‘mengepang’ kedua kaki supaya nggak brojol. Saya juga sambil bermeditasi dengan menarik napas dalam-dalam supaya tenang. Tapi perut saya semakin bergemuruh! Jalanan sepi dan gelap, hanya terlihat beberapa orang yang lewat. Di kiri-kanan jalan berjejer bangunan tua rumah penduduk. Duh, apa saya ketok aja pintu rumahnya untuk numpang ke toilet? Kebayang saya bilang, “I’m sorry, I need help! I need to use your toilet!” Lalu jika dikasih, saya ngebom di WC dengan segala bunyi dan bau khas Asia. Kalau di Indonesia saya berani minta tolong begitu.

Saya lanjut berjalan yang makin terbungkuk-bungkuk menahan gelora. Di ujung jalan pas belokan kampus, saya kentut… eh ternyata keluar sama isinya! Celana jeans saya pun basah. O-em-ji!! Apartemen Indie masih 2 blok lagi dan terlihat sekelompok orang berjalan ke arah saya. Mampus, ini baunya gimana? Kalau keliatan gimana? Hii! Saya tutup pantat saya dengan tas dan terus berjalan. Sialnya, sekali keluar, pertahanan itu jebol-bol-bol! Perduli setan sama orang lain, saya jalan tambah cepat, eh tokai pun jalan cepat… keluar!

Sampai di apartemen Indie (naik tangga dulu dua lantai), saya lari ke toilet untuk meneruskan hajat dan bebersih di dalam shower. Mau jemur, eh nggak ada balkon. Saya gantung aja di toilet. Saya pun mengepel lantai dari tangga, dapur, sampai ke toilet. Ewwww!

Ah, saya jadi haus. Ambil gelas, buka kran di dapur… lho kok nggak ada air? Buka kran di wastafel kamar mandi, eh nggak ada air juga! Wah gawat, air mati nih. Untung udah kelar nyuci. Saya pun buka kulkas, eh tidak ada botol air putih. Wah, si Indie juga nggak nyetok air! Eh jangan-jangan air mati gara-gara saya pakai air kebanyakan sehingga melebihi kuota? Emang bisa gitu?

Tengah malam Indie pulang dan saya cerita soal ‘kecelakaan’ tadi. “Ya begitu lah, di Eropa yang maju ini paling susah cari toilet umum!” komentar Indie. Lalu saya lapor soal air mati. Indie cek kran, setitik air pun tidak keluar.

“Aduh teteh, gue udah 7 tahun tinggal di sini belum pernah sekalipun air mati!” kata Indie.

“Trus gimana? Elo telepon PAM Leuven gih!” saran saya.

“Kantornya tutup jam 5 sore.”

“Hah? Nggak ada nomor emergency?”

“Mana ada orang sini yang mau kerja 24 jam?”

“Kalo gitu elo telepon landlord lo deh, kali dia yang matiin.”

“Aduh, teh, udah jam 12 malam gini masa telepon? Nggak boleh banget di Eropa.”

“Lha terus gue minum gimana? Trus kalo gue kebelet boker lagi gimana?”

“Kalo gue sih bisa mandi, boker, dan minum di kampus besok. Elo besok ikut ke kampus gue aja!”

“Gimana kalo elo keluar sekarang beli air galonan atau air botolan?”

“Teh, jam segini apapun nggak ada yang buka!”

“Lagian elo gimana sih nggak nyetok air putih di botol?”

“Lha mana gue tau di Eropa air bisa mati?”

“Lha ini buktinya mati!”

“Udah gue bilang, ini kejadian baru kali ini setelah 7 tahun, pas ada elo doang!”

Saya pun ngakak kejengkang! Kejadian sial kayak gini itu tipikal gue banget! Bagus sih jadi ada bahan tulisan, tapi kan nyebelin banget! Coba kalau ini terjadi di Indonesia; saya bisa boker di stasiun, kalaupun tutup saya bisa naik ojek ke apartemen Indie, kalau air mati saya bisa beli di toko yang buka 24 jam! Ah, negara maju itu belum tentu lebih baik daripada kita. Hidup Indonesia!

Epilog

Keesokan paginya kami bangun, sama-sama pipis dan tidak bisa mem-flush WC. Kami keluar dengan tampang bete. Eh, di trotoar depan rumah ada hidran bocor dengan air tumpah berlimpah-limpah. “Nah, gue sikat gigi di sini gimana? Air banyak nih!” kata saya. “Hush, nggak boleh teteh!” larang Indie. Dan kami pun didatangi petugas berseragam yang berkata, “Mohon maaf, telah terjadi kebocoran pipa air sehingga kami matikan. Saat ini kami masih memperbaikinya.” Huh, saya yakin mereka memperbaiki baru pagi ini, saat jam kantor mulai.

Read more
[Tayang Hari Ini] Trinity, The Nekad Traveler

[Tayang Hari Ini] Trinity, The Nekad Traveler

Setelah tulisan The Naked Traveler Jadi Film Layar Lebar yang di-posting di blog ini pada 2014, akhirnya mulai 16 Maret 2017 filmnya akan tayang di seluruh bioskop di Indonesia! Yeayyyy!

Flashback ke 2005 saat bikin blog naked-traveler.com, saya nggak pernah kepikiran bahwa blog saya jadi buku. Pada 2007 diterbitkan lah buku pertama saya berjudul “The Naked Traveler”. Sampai saat ini saya telah menerbitkan 13 buku dalam 10 tahun. Pernah kepikiran buku saya jadi film? Nggak! Yang tambah gila lagi, ada film tentang diri gue! Padahal siapa lah saya; pahlawan bukan, mantan presiden juga bukan. Istilah bahasa Inggrisnya: it’s beyond my wildest dream!

Sebelum nonton di bioskop, tonton trailer-nya:

Ini sinopsisnya:

Sebuah film mahakarya dari Rizal Mantovani. Diangkat dari travel blog pertama dan teratas selama 12 tahun, dan buku mega best seller “The Naked Traveler” karya Trinity.

Awalnya TRINITY (Maudy Ayunda) adalah seorang mbak-mbak kantoran yang hobi traveling sejak kecil. Namun hobinya ini sering terbentur dengan jatah cuti di kantor dan duit pas-pasan. Akibatnya Trinity sering diomeli BOSS (Ayu Dewi). Trinity memiliki sahabat yang punya hobi sama, yakni YASMIN (Rachel Amanda) dan NINA (Anggika Bolsterli), ditambah dengan sepupu Trinity, EZRA (Babe Cabiita). Trinity selalu menuliskan pengalamannya dalam sebuah blog berjudul naked-traveler.com.

Di rumah, BAPAK (Farhan) dan MAMAH (Cut Mini) selalu menanyakan kapan Trinity serius memikirkan jodoh. Tapi Trinity selalu menjawab: nanti kalau semua bucket list sudah terpenuhi. Bucket list adalah daftar hal-hal yang harus Trinity lakukan sebelum tua, kebanyakan sih isinya (lagi-lagi) tentang jalan-jalan. Bapak langsung pusing mendengarnya. Sebenarnya Trinity bukan tidak tertarik pacaran, bahkan dia sempat tertarik dengan PAUL (Hamish Daud), seorang traveler tampan yang berprofesi fotografer.

Bagaimana keseruan perjalanan Trinity melintasi 3 negara (Indonesia, Maldives dan Filipina)? Keputusan apakah yang diambil Trinity saat menghadapi dilema pekerjaan di kantornya? Bagaimana kelanjutan hubungan Trinity dan Paul?

FAQ

Bagi Anda pembaca setia blog dan buku-buku saya, pasti ada segudang pertanyaan. Saya rangkum  sebagai berikut:

Mengapa Naked jadi Nekad?

Karena film ini untuk 13 tahun ke atas, alangkah baiknya tidak menggunakan kata yang provokatif. Kasihan ntar anaknya nggak boleh nonton ke bioskop sama orang tuanya karena disangka nonton film porno. *batuk-batuk*

Mengapa Maudy Ayunda?

Mengapa tidak? Film ini diadaptasi dari buku pertama The Naked Traveler yang ceritanya pas saya masih jadi MMK (Mbak-Mbak Kantoran) yang masih muda dan kurus. Konsep film memang dibuat kekinian di mana produser mencari casting cewek umur awal 20-an, yang aktris terkenal film box office. Saya tentu setuju, selama jadi tambah kece positif. Kalau Anda masih belum ‘rela’ Maudy yang jadi saya, maka Anda wajib nonton deh – acting Maudy itu kayak Trinity banget!

Seberapa mirip antara buku dan filmnya?

Bahasa buku dan bahasa film adalah dua hal yang berbeda. Buku saya adalah kumpulan cerita pendek mengenai perjalanan keliling dunia, jadi adaptasinya harus dibuat cerita yang linear. Di film jelas ada tambahan bumbu-bumbu untuk menyatukan semuanya, jadi ada sebagian fiksinya juga.

Nah, daripada penasaran mending tonton film Trinity, The Nekad Traveler di bioskop-bioskop kesayangan Anda di seluruh Indonesia mulai 16 Maret 2017!

Info tentang film silakan follow Instagram @TrinityTheNekadTraveler.

Read more