Travel

India bersalju di Jammu & Kashmir

India bersalju di Jammu & Kashmir

Jammu & Kashmir adalah state yang terletak di paling utara negara India. Karena dekat dengan pegunungan Himalaya, maka tak heran di sana cuacanya relatif lebih dingin dan pada musim winter pun turun salju. Jammu & Kashmir terbagi menjadi 3 region, yaitu Jammu, Kashmir, dan Ladakh. Karena segregasi antaragama, mayoritas penduduk Jammu adalah penganut Hindu, di Kashmir adalah Islam, dan di Ladakh adalah Buddha. Lucunya, ibu kota state tersebut terbagi dua; Srinagar adalah ibu kota saat summer, sedangkan Jammu adalah ibu kota saat winter. Bayangkan, para PNS yang kerja di situ pindah rumah setiap 6 bulan!

Dari dulu kita mendengar dari berita bahwa daerah tersebut bahaya dan sulit didatangi karena diduduki militer. Bahkan pada September 2014 terjadi banjir sehingga jalan putus. Masih ingat Udhi, teman sekelas saya di buku #TNT3? Dia berasal dari Kashmir yang pada saat kuliah terpaksa kabur ke Delhi karena rumahnya dibakar akibat konflik antaragama. Meskipun semua teman India saya bilang bahaya, namun gara-gara salah satu setting film Bollywood berjudul “3 Idiots” saya justru tambah pengen ke sana. Kesempatan itu pun datang pada Maret 2015.

Untuk gampangnya, kita dapat terbang langsung dari Delhi ke ibu kotanya, yaitu ke Jammu (ibu kota Jammu), Srinagar (ibu kota Kashmir), atau Leh (ibu kota Ladakh). Saya memilih mengunjungi kedua kota terakhir. Sebenarnya antarkota tersebut dapat dilalui jalan darat, namun karena bersalju jalan tertutup dan tidak disarankan. Bila Anda terbang ke sana, jangan lupa minta duduk di window seat sebelah kanan. Astagaa… pemandangan pegunungan Himalaya itu benar-benar spektakuler!

Mendarat di bandara Srinagar dan Leh, sebagai turis asing kita wajib mendaftarkan diri dengan mengisi formulir yang sangat detil seperti tinggal di hotel mana, pekerjaannya apa, ngapain ke sana. Saya cukup syok melihat banyak sekali tentara bersenjata di mana-mana, bahkan di sepanjang jalan tiap 25 meter! Belum lagi truk militer yang hilir mudik. Meski rasanya seperti sedang berada di daerah konflik, namun itu adalah hal yang biasa. Maklum Jammu & Kashmir ini berbatasan dengan Pakistan dan China, bahkan sebagian wilayahnya memang masih sengketa. Tapi saya sebagai turis sih justru merasa aman-aman aja.

Di Srinagar, saya tinggal di houseboat bernama Meena. “Rumah kapal” ini terletak di Dal Lake yang pemandangannya gila banget kerennya! Bayangkan, danau yang airnya bening bak kaca sehingga refleksi awannya bisa kelihatan pada permukaannya, lalu dikelilingi pegunungan Himalaya yang puncaknya bersalju dan bukit berpohon almond yang keunguan dan pinus yang hijau. Tak heran Kashmir dijuluki sebagai “mini Swiss”! Tiap sore kerjaan saya naik shikara (kapal tradisional yang didayung) keliling danau dan nongkrong di atas atap houseboat menunggu sunset.

Dal Lake, Srinagar

Dal Lake, Srinagar

Srinagar terkenal dengan taman-taman cantiknya yang ada sejak zaman Kekaisaran Mughal (abad 15-18). Jama Masjid-nya menurut saya adalah mesjid tercantik di India yang pernah saya lihat. Tempat teruniknya adalah mesjid Hazratbal yang dipercaya menyimpan rambut Nabi Muhammad SAW. Lebih anehnya lagi, di Rozabal ada kuburan yang dipercaya sebagai makam Yesus! Konon gosip ini disebarkan oleh tukang jualan di sana agar turis mau mampir sehingga dagangannya laku. Hahaha! Yang jelas sih, cowok Kashmiri yang mirip orang Persia itu ganteng banget! Tuh yang doyan cowok India putih dan ganteng, Muslim pula, silakan datang langsung! :)

Demi ketemu salju, saya naik mobil lebih dari sejam untuk mengunjungi Gulmarg. Selain merupakan pusat orang bermain ski, Gulmarg memiliki cable car nomor dua tertinggi di dunia. Karena terletak di pegunungan Himalaya maka ia mencapai ketinggian 3.979 meter di atas permukaan laut! Dari stasiun pertamanya saja saljunya sudah menggunung mencapai atap rumah. Gondolanya sendiri berkapasitas maksimum 6 orang, namun saya hanya duduk berdua guide. Tahap pertama ke Kongdoori Station (3.080 m), eh mati listrik sampai 3 kali! Gila, gimana nggak deg-degan? Tahap kedua ke stasiun di puncak gunung dan saya pun turun. Melihat dataran salju begini, langsung saya gogoleran di salju dan foto narsis!

Gulmarg Gondola

Gulmarg Gondola

Leh sendiri berada di ketinggian 3.524 mdpl. Begitu mendarat, saya pun disuruh tidur setengah hari untuk aklimitasi supaya nggak kena mountain sickness. Wih, kepala pusing dan perut mual! Sorenya baru saya jalan-jalan sambil termegeh-megeh keliling Leh. Kota kecil ini terletak di tanah berpasir kecoklatan mirip di gurun. Saya mengunjungi antara lain Leh Palace dan Shanti Stupa yang terletak di atas bukit. Pemandangan kota Leh yang dikelilingi pegununang bersalju keren banget! Saat winter, kota ini relatif sepi. Banyak penduduk yang memilih bekerja di tempat lain yang lebih hangat. Orang Ladakhi mukanya mirip orang Tibet. Mereka pun ramah dan menyenangkan.

Thiksey Gompa

Thiksey Gompa

Biara Buddha aliran Tibet tersebar di Ladakh, antara lain Sankar Gompa, Shey, dan Stok Gompa. Yang paling cantik di Thiksey karena berada di bukit ketinggian 3.600 mdpl dan bertingkat 12 sehingga terlihat sejajar dengan awan! Biara terbesar terdapat di Hemis yang terletak 45 km dari Leh. Perjalanan ke sana disuguhi pemandangan spektakuler. Pegunungan berlapis-lapis dengan gradasi warna coklat, kuning, biru, dan ditutup putihnya salju di puncaknya. Sungai berair turquoise. Ratusan stupa berwarna putih yang tersebar dan bendera doa warna-warni. Para biksu yang sebagian besar anak-anak sampai belasan tahun berjubah merah berjalan beriringan. Dan pemandangan surreal ini pun diiringi dengan turunnya salju… Ah, indahnya! Benar-benar Incredible India!


PS: Foto-foto lainnya bisa dilihat di Instagram @trinitytraveler

Read more
Sungai Gangga yang bersih

Sungai Gangga yang bersih

Bersih? Masa sih? Kalau lihat dari berita, Sungai Gangga di India tampak sangat jorok. Berbekal ekspektasi yang rendah, saya pun ke sana. Terlepas dari jorok tidaknya, saya ingin ke sana karena sungai tersebut merupakan sungai suci bagi umat Hindu.

Sungai Gangga (dalam bahasa Inggris disebut “Ganges”) diambil dari nama Dewi umat Hindu yang dipercaya dapat memberikan kesuburan dan membersihkan dosa. Dengan mandi air suci Sungai Gangga ini lah, maka segala dosa dapat terhapus dan manusia dapat terselamatkan. Tak heran, abu jenazah yang telah dikremasi dilarung di sungai ini sebagai penghantar masuk ke surga.

Sungai Gangga sendiri panjangnya 2.525 km mulai dari Himalaya sampai ke Teluk Benggala, kira-kira sama jaraknya dari Banda Aceh ke Jakarta. Meski sungai tersebut banyak melewati kota di India, namun pusatnya terdapat di Varanasi. Kota itu disebut sebagai “Kota Tersuci di India” karena merupakan tempat favorit Dewa Siwa. Ia juga merupakan kota tertua di dunia yang masih ditinggali sejak abad 11 SM sampai saat ini.

Karena nyampe sore di Varanasi, malamnya saya langsung ke Sungai Gangga untuk menyaksikan Ganga Aarti atau ritual doa bersama umat Hindu yang diadakan setiap malam di pinggir Sungai Gangga. Dari parkiran mobil, saya harus berjalan kaki lumayan jauh melewati pasar yang chaos, lalu tiba di Dashashwamedh Ghat. Tangga bertembok menuju sungai disebut ghat dalam bahasa Hindi. Tangga Dashashwamedh ini terpenting di Sungai Gangga karena Dewa Brahma yang menciptakannya untuk menyambut Dewa Siwa, juga tempat Dewa Brahma mengorbankan 10 kuda.

Menuruni tangganya, saya langsung merinding. Nggak nyangka saya akhirnya sampai di Sungai Gangga – sungai yang sering saya dengar sejak kecil dari pelajaran sekolah! Namun di kegelapan sungainya tidak terlihat karena dipenuhi oleh kapal-kapal kayu yang merapat. Sementara di bibir sungai terdapat 7 panggung kecil yang dikelilingi manusia. Daripada klaustrofobik, saya memilih duduk di atap sebuah restoran dengan membayar INR 50.

Di atas panggung 7 pendeta berkain kuning berdiri. Dengan meniup cangkang keong, doa dimulai. Doa yang terdengar seperti lagu himne ini diputar melalui pengeras suara, diikuti oleh para umat dan diiringi dentang simbal. Para pendeta seperti menari mengikuti irama dengan memegang dupa serta lampu api. Tujuh asapnya yang membumbung ke udara dan harum kayu cendananya menambah magis suasana. Lagi-lagi saya merinding.

Ganga Aarti

Ganga Aarti

Katanya kalau ke Sungai Gangga paling oke saat matahari terbit untuk merasakan suasana magisnya. Maka keesokan subuh, saya kembali ke Sungai Gangga masih melalui Dashashwamedh Ghat. Sepagi itu susana sudah hiruk pikuk; orang lokal berganti baju mandi, anak kecil menawarkan flower candle untuk memanjatkan doa, dan puluhan pemilik kapal kayu menawarkan jasanya di pinggir sungai. Saya dan pemandu melompat ke salah satu kapal yang didayung oleh seorang pria muda.

Kapal bergerak melawan arus ke arah kanan menyusuri Sungai Gangga. Rupanya sungai ini sangat lebar, kira-kira 1 km. Suasana yang mulai terang membuat mata saya memperhatikan detil sungai. Sungguh, saya melihat sungai yang bersih tanpa sampah! Tidak ada botol plastik, bungkus plastik, kotoran, atau apapun di sungai. Lalu saya mencelupkan tangan ke dalam air sungai dan menampung airnya di telapak, wah… airnya bening! Saya pun tidak mencium bau apapun!

Mata saya pun tertuju kepada serangkaian ghat. Setiap hari ada 60.000 orang yang mandi di air suci Gangga ini. Tak heran banyak orang berdiri di pinggir sungai; pria memakai celana pendek atau sarung dan wanita memakai kain menutupi dada sampai betis. Saat berdiri, airnya hanya sebatas pinggang. Lalu mereka menyelupkan tubuhnya sebentar sambil berdoa komat-kamit. Sebagian orang mandi menggunakan sabun dan sampo, malah ada yang menggosok gigi.

20150323_074833

Kapal terus berjalan dan matahari mengintip dari balik pepohonan di seberang sungai. Bentuknya bulat sempurna, berwarna sangat oranye, dan tampak dekat. Dengan langit tanpa awan, sinarnya membanjiri permukaan sungai dengan warna keemasan. Wow, ini merupakan salah satu sunrise terbaik yang pernah saya lihat!

Sunrise over the River Ganges

Sunrise over the River Ganges

Saya menengok ke kanan, terlihat orang-orang mencuci pakaian dan seprei. Melihat jumlahnya yang banyak dijemur merentang di atas ghat, mereka rupanya pekerja laundry. “Kemungkinan sprei hotel kamu tuh dicuci di sini,” kata pemandu sambil terkekeh.

Kapal berjalan lagi 15 menit, sampailah kami di Harischandra Ghat. “Mohon jangan memotret,” kata pemandu. Saya pun melihat jenazah yang sedang dikremasi di atas tumpukan kayu di atas ghat. Setelah itu, abunya dilarung ke sungai. “Di sini 50 orang per hari yang dikremasi,” tambahnya.

Kapal pun berbalik arah mengikuti arus sungai. Jadi jika aliran air mengikuti arus, secara otomatis urutannya adalah: air yang mengandung abu jenazah, dipakai nyuci baju, dipakai mandi, lalu air yang sama dipakai untuk gosok gigi! Ewww! “Tenang aja, airnya kan banyak, berarus, dan sungainya lebar kok,” terang pemandu.

Kami terus menyusuri sungai, dan pemandu bercerita tentang bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai. Karena kesucian sungai ini, banyak Raja Hindu dari berbagai daerah di India membangun istana sejak ratusan tahun yang lalu. Saat ini sebagian telah berubah fungsi menjadi hotel. Ada juga sekolah pendeta Hindu yang murid-muridnya setiap pagi melakukan yoga bersama. Selain itu, terdapat sejumlah candi pemujaan terhadap Dewa Siwa. Sinar matahari keemasan menerangi serentetan bangunan berwarna-warni tersebut memang tampak spektakuler!

Salah satu istana

Salah satu istana

Mendayung dari Harischandra Ghat sepanjang 6 km, sampai lah kami di Manikarnika Ghat. “Di sini 150 orang per hari dikremasi,” kata pemandu. Lalu… saya lihat ada 2 mayat tertutup kain diletakkan di pinggir sungai! Dua pasang kaki mereka yang berwarna pucat dicelupkan ke dalam sungai sebelum dikremasi. Aduh, saya langsung buang muka!

Kami turun di ghat selanjutnya, lalu meneruskan berjalan kaki di antara gang sempit. Sepanjang gang terdapat toko, warung makan, sapi berkeliaran, candi, dan tumpukan kayu. Untuk sekali kremasi dibutuhkan sekitar 70 kg kayu yang dapat membakar jenazah dalam 2,5 jam menjadi abu. “Kasihan orang yang miskin yang tidak sanggup membayar biaya kremasi. Keluarganya cuek aja membuang jenazahnya di sungai. Tapi ada juga orang yang tidak boleh dikremasi, seperti jenazah anak kecil atau ibu hamil. Caranya, mereka ditenggelamkan ke dasar sungai dengan menggunakan pemberat dari batu. Kadang talinya lepas sehingga mayatnya mengambang,” kata pemandu dengan tenang. WHAT? Untung dari tadi saya tidak lihat!

Intinya, secara kasatmata menurut saya Sungai Gangga sih bersih. Malah jauh lebih bersih daripada sungai/kali yang ada di Jakarta di mana sampahnya yang menumpuk, superbau, dan bikin banjir. Kalau secara tidak kasatmata, sungai di mana pun sih nggak janji ya!

Quiz

Udah follow Instagram saya @trinitytraveler? Banyak foto keren tentang trip saya ke India baru-baru ini lho! Nah, yang mau traveling GRATIS ke India, ikutan aja “My Incredible India Journey Contest”. Pasang foto selfie yang diambil di semua rangkaian acara Festival of India 2015 di Indonesia dengan menyertakan nama, umur, nama acara dan kota tempat foto diambil. Tag Twitter @IndianEmbJkt atau Facebook Fanpage Embassy of India in Jakarta dengan hashtag #SahabatIndiaContest, sebelum 22 Mei 2015. Info lengkap di sini.

Read more
One random night in Surfers Paradise

One random night in Surfers Paradise

Suatu malam pada Juni 2014, sampai lah saya di Surfers Paradise, Australia. Saya teringat punya teman yang tinggal di situ, yaitu Christian dan Larissa – sepasang Aussie yang pernah traveling bareng di Filipina 10 tahun yang lalu. Thanks to Facebook, saya bisa terhubung lagi dengannya. Akhirnya kami bertemu. Christian mengajak saya “getting pissed”, istilah Aussie untuk minum-minum sampe lodoh. Sayangnya Larissa, yang kini telah menjadi istrinya, tidak bisa ikut.

Menambah ke-random-an malam itu, saya sedang traveling ke Australia bareng Daniel Mananta, host Indonesian Idol yang ngetop itu. Gile, jalan bareng artis, bo! Eh malam itu Daniel minta ikutan dugem bareng. Ya udah, saya bilang bahwa Christian ini orangnya gokil dan pasti ngaco. Saya sendiri nggak tau mau diajak ke mana. Daniel malah setuju.

Christian beli alkohol "drive-thru" :)

Christian beli alkohol “drive-thru” :)

Christian mengajak kami ke sebuah pesta temannya teman dia. Nah, mulai nih ngaconya. Jadi, Christian punya teman namanya Jack, si Jack ini punya teman namanya Fernanda. Nah, si Fernanda ini adalah cewek Chile yang ngadain farewell party di apartemennya. Lah, masa yang diundang si Jack, yang dateng segerombolan orang tak dikenal? Kata Christian, “No problem! The more the merrier! Party di Australia itu ya begitu, kita datang ke rumah orang sambil bawa minum sendiri.”

Kami pun mampir ke supermarket untuk membeli bir masing-masing serenteng. Ternyata pesta diadakan di kolam renang apartemen Fernanda. Isinya full sama orang Amerika Selatan. Yep, all the Latinos! Saya tentu semangat karena bisa mempraktekkan bahasa Spanyol yang sudah lama nggak dipakai. Kenalan sana-sini, ngobral-ngobrol, kakak-kikik, jadilah saya berbaur dengan mereka yang kira-kira berjumlah 30 orang. Tentu saya yang paling tua! Rata-rata mereka berusia awal 20an dan ke Australia dengan visa working holiday.

Si Daniel pun asyik ngobrol sana-sini, sampai ketika ada cowok Asia yang datang dan menjerit, “Wow! An Indonesian celebrity is in the house!” dan semua orang menoleh ke Daniel. Rupanya dia anak Indonesia yang tinggal di sana. Saya ngakak! Belakangan kami baru tau bahwa pesta ini diadakan Fernanda karena dia akan pergi berlibur 2 minggu di Australia. Duile, ngapain bikin pesta segala ya?

Kebanyakan minum, saya pun ke kamar mandi yang berada di basement. Baru aja mengancingkan celana… tiba-tiba lampu mati! Di kegelapan saya merambat keluar. Eh, saya disambut oleh dua orang polisi berseragam! Nah lho, ngapain polisi ada di sini? “Are you the last person in the toilet?” tanyanya.

Yes. But… where are my friends?” Saya melihat area kolam renang yang sepi-pi-pi! Apa-apaan ini?

You are not allowed to have party after 9 PM in this apartement, so your friends may be outside!”

Astaga, norak amat pesta dibubarin polisi! Kayak pesta anak ABG aja. Ini baru jam 9 malam dan saya lagi tinggi-tingginya! Saya dihalau keluar oleh polisi. Ternyata semua orang sudah di halaman parkir depan lobi. Teman-teman saya tertawa melihat kepanikan saya. Minum tanggung gini bikin semua orang pengen nerusin pesta. Diputuskan lah untuk meneruskan party di sebuah club. Saya dan Christian berjalan kaki duluan. Jack entah ke mana sama Fernanda. Daniel pulang duluan.

Sampai lah kami ke sebuah bar dan memesan bir lagi. Tunggu punya tunggu, sampai sejam, tak kelihatan sebatang hidung pun orang-orang yang di pesta tadi! Jack tidak mengangkat telepon Christian pula. Lama-lama baru sadar bahwa club itu ada di atas bar! Kami pun naik ke atas. Kabar gembiranya, malam itu ada promo free unlimited champagne for ladies dan birnya juga cuma AUD 2.50/botol. Horeee! Di dalam kami pun bertemu dengan geng Fernanda, termasuk Jack yang kelihatan lagi sibuk menggebet.

Lagi-lagi saya kebelet pipis. Kata Christian, “Tuh ada di ujung!” Saya pun mengikuti arahnya. Buka pintu club, belok kiri, buka pintu toilet. Widih, toiletnya bersih amat. Sepi pula nggak ada orang. Tumben toilet club keren begini. Begitu kelar, saya buka pintu toilet dan buka pintu ke club. Ehh… kok kekunci? Nah lho! Saya coba lagi dorong yang keras. Masih bergeming. Saya ketok-ketok, tidak ada jawaban. Pintu kayu ini luar biasa tebalnya, sound proof, sampai tidak terdengar keramaian di club. Lha, gimana orang-orang mau ke toilet kalau gini caranya? Saya menunggu 5 menit, kali-kali aja ada orang yang mau ke toilet dan buka pintu.

5 menit lagi menunggu, tidak ada orang yang buka pintu. Saya pun menelepon Christian. Tidak diangkat. Telepon lagi. Tidak ada jawaban. Dan seterusnya sampai berkali-kali. Saya mengirimkan SMS juga tidak dijawab.

Oke, plan B. Saya melihat ke sekeliling. Rupanya ini adalah kantor yang sudah tutup dan gelap. Saya mencari pintu Emergency Exit di pojokan. Klik. Terbuka! Tapi… kenapa tangganya banyak banget ya? Lebih dari dua lantai dan ada pintu-pintu lain! Kalau saya keluar tapi pintu satunya tidak terbuka, alamat gawat karena tidak bisa balik lagiii.. Hiyy!

Panik, saya balik lagi ke pintu club. Saya gedor-gedor sekuat tenaga sambil teriak, “Help! Help!! Open the door, pleaseee!” Entah berapa kali saya gedor sampai saya kecapekan sendiri dan ngejoprak di lantai.

Tiba-tiba… KREK! Pintu terbuka! Seorang bouncer menongolkan kepalanya. Saya langsung nyamber, “Thank you! You saved my life!” dan wussssh… saya lari ke dalam club. Daaan… si Christian dengan santainya lagi joget-joget!

“Elu gila telepon nggak diangkat! Gue kekunci lagi di toilet tauk!” kata saya sambil misuh-misuh menceritakan kejadian tadi.

Christian pun ngakak kejengkang. “Pantes dari tadi gue tungguin kok lama banget.” Ia lalu mengajak saya ke arah toilet. “Ini lihat, sebelum pintu exit itu, ada toilet di samping kirinya. Mata lo aja nggak bener! Mabuk ya?” ledeknya terkekeh. “Buruan minum champagne lagi yang banyak, mumpung gratis!”

Kami pun berpesta sampai pagi. Sungguh malam yang random!

Read more
#Escapers15, bertanding melawan 8 negara

#Escapers15, bertanding melawan 8 negara

Dapat undangan jalan-jalan ke Singapura dan Australia sudah biasa, tapi pada 28 Februari – 4 Maret 2015 ini dalam rangka tanding antar tim dari negara-negara Asia Pasifik dengan hashtag #Escapers15. Awalnya males banget ikutan, secara udah kena “faktor U”. Ini masa kudu lari-lari segala ala Amazing Race? Panitianya dari #ThisIsQueensland, #AccorHotels, dan #FlyScoot meyakinkan bahwa tantangannya nggak ekstrim. Senegara diwakilkan oleh 2 orang dan saya akan dipasangkan dengan @amrazing. Selain udah kenal Alex, saya okein karena pengen kenal juga para travel blogger dari negara lain.

H-1

Malam hari kami semua berkumpul di Hotel Ibis Bencoleen untuk acara perkenalan. Pesertanya ada 9 tim masing-masing 2 orang travel blogger/jurnalis dari 9 negara, yaitu: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, India, China, dan Australia. Rata-rata masih anak muda dan sehat, kecuali saya dan tim ibu-ibu Australia. Tim Jepang dan Australia pernah ikut #EscapersHK tahun sebelumnya. Lucunya, sebagian peserta bahasa Inggrisnya belepotan, bahkan ada yang sama sekali nggak bisa bahasa Inggris.

The #Escapers15 from 9 countries (pic by TEQ)

The #Escapers15 from 9 countries (pic by TEQ)

Malam itu kami diberi kertas challenge berupa clue tempat yang harus kami datangi besok. Di kamar, jawaban dibantu follower, terutama follower Alex yang hampir 500K. Masing-masing peserta dipinjami handy phone dari hotel yang bisa unlimited 3G dan telepon.

Hari ke-1, Singapura

Seharian saya dan Alex keliling Singapura melakukan challenge di 5 lokasi dari jam 09.00-17.00 dengan hanya naik transportasi umum. Semua peserta pake sepatu lari, sementara saya dan Alex pake sendal jepit aja. Tempat pertama ternyata di puncak Mount Faber yang bikin gempor naik tangga! Udah mo mati, eh peserta lain ada yang santai naik cable car! 4 tempat lain susah payah nyarinya karena ternyata kami berdua sama-sama tukang nyasar. Akhirnya dari lokasi ke-5 kami pulang naik taksi demi mengejar waktu.. yang akhirnya karena ngaku, point kami dikurangi.

Dari situ saya sadar betapa pemalasnya saya motret dan main socmed. Alex sambil lari pun sempet motret dan ngetwit! Lebih gila lagi peserta negara lain. Mereka masing-masing bawa smartphone, kamera SLR dengan beberapa jenis lensa, kamera mirrorless, tripod/tongsis, bahkan ada yang bawa kamera 360° – ditambah lagi kecanggihan mereka ngedit/posting foto/video dalam waktu cepat! Kreatifitas mereka pun patut diacungin jempol. Contohnya aja nih, kita harus foto di depan patung Merlion. Saya berpose air muncratan Merlion masuk ke dada dan Alex bergaya keramas, eh peserta lain pake gaya air masuk botol, gaya bawa payung supaya nggak basah, ada yang buka baju mandi beneran, dan ada yang bikin video slow motion bergaya silat! Wow!

Tim pemenang dari challenge hari itu yang juga disponsori oleh #yoursingapore adalah China, disusul oleh tim Malaysia dan Australia. Ya pantes aja sih, mereka memang sangat kreatif dan efisien. Tim Korea yang paling buntut karena cuman ke 4 lokasi. Ah, masih ada yang lebih lelet daripada kami.

Malamnya kami terbang naik Scoot dengan rute Singapura-Gold Coast. Mulai dari check in, nunggu di SATS lounge, terbang, sampai mendarat ada 5 challenge. Secara hape saya pasti mati sebelum masuk pesawat ditambah bodi udah remuk, saya cuek aja langsung tidur ngejoprak. Rencananya saya akan RT aja dari twit Alex.

Hari ke-2, Brisbane

Mulai di Australia, sistem pertandingan sedikit berbeda. Kami akan dinilai secara individual, namun masuk sebagai penilaian per tim senegara. Bila memenangkan challenge, maka kami akan diberi badge. Ada juga badge bila menang wild card, yaitu challenge harian seperti posting terbaik di socmed.

Mendarat di Gold Coast Airport, kami naik bus ke Brisbane dan check in di Hotel Ibis dan Mercure. Amplop challenge dibagikan. Salah satunya adalah foto relaxing di kamar. Saya cuma foto selfie di cermin kamar mandi, eh peserta lain heboh banget posenya. Sebagian besar bawa tripod/tongsis foto diri tidur di ranjang yang keliatan sekamar-kamarnya dengan gaya artistik. Waduh!

Kami berjalan kaki ke City dipandu guide dari Brisbane Greeters dan langsung dikasih challenge, antara lain foto sama baju berlabel asli Queensland dan cari CD musikus asal Brisbane. Sorenya kami dibagi 4 grup yang melakukan challenge berbeda. Saya yang seharusnya manjat Story Bridge memilih tukeran sama Alex yang seharusnya tur jalan kaki keliling kota. Bodi nggak fit gini malas banget suruh manjat jembatan! Ternyata challenge saya pun tidak mudah. Bukan hanya jalan kaki jauh banget, tapi juga naik sepeda menanjak sampe ngos-ngosan! Untungnya peserta grup saya baik-baik dan saling kasih contekan.

Abis makan malam, masih ada challenge, yaitu nebak bahan 3 desert dengan mata tertutup! Yang menang tim Australia dan Malaysia. Juga diumumkan pemenang foto terbaik, yaitu tim Singapura. Yah, kalah lagi deh! Saya dan Alex berbisik-bisik, “Ya udah lah ya, bo. Emang dasar kita selow. Yang penting have fun!”

Hari ke-3, Sunshine Coast

Kami ke Australia Zoo dengan challenge antara lain ngasih makan kanguru dan ngelingkarin ular piton ke leher! Astaganaga, saya jiji’an sama hewan apapun, ini disuruh ular pula! Mananya yang nggak ekstrim?

Lalu grup dibagi 2, saya ke Noosa Beach dan Alex ke Mooloolaba Beach. Challenge kali ini kami disuruh ganti baju ketat dan topi renang berwarna pink ala Life Guard lalu 9 orang peserta adu lomba lari memperebutkan 5 bendera. Meski saya larinya termasuk paling lambat, tapi cukup cerdik – saya pun mendapatkan badge! Eh ternyata Alex di grup satunya juga menang nomor satu. Untung setelah itu challenge-nya menyenangkan: kami jet boating mengarungi laut.

Foto Alex dengan saya sebagai model :)

Foto Alex dengan saya sebagai model :)

Sorenya kami check in di Novotel Twin Waters Resort. Melihat kolam renang bagus, saya langsung nyebur aja sambil difoto Alex. Malamnya BBQ party di pinggir pantai plus ada challenge tertulis. Diumumkan juga bahwa pemenang foto terbaik adalah Alex. Hore, tim Indonesia!

Hari ke-4, Gold Coast

Jam 8 pagi grup dibagi 2, yaitu wet challenge atau dry challenge. Karena saya jago berenang dan Alex jago lari, maka saya lah yang ikutan wet challenge. Ternyata challenge grup saya adalah lomba kayaking dan lomba sailing. Saya dapat badge lagi karena menang!

Siang hari kami pindah Gold Coast. Grup dibagi 4, challenge saya adalah belajar surfing dan Alex ke Movie World. Sirik banget karena challenge Alex adalah naik roller coaster – hobi saya yang ditakuti Alex. Saya sendiri sudah pernah belajar surfing, tapi nggak pernah berhasil. Untungnya kami sama-sama berhasil mengatasi ketakutan itu.

#TeamIndonesia

#TeamIndonesia

Sorenya kami check in di Hotel Sofitel Broadbeach. Malamnya ada acara Awards Dinner. Pengumuman tim terbaik pun tiba. Sebelumnya ada 4 pemenang individu untuk posting terlucu, terkreatif, dan lain-lain yang banyak dimenangkan oleh tim China. Lalu diumumkanlah juara ke-3, yaitu tim Malaysia. Saya dan Alex bisik-bisik, “Yah, alamat kita nggak kebagian deh. Malaysia yang rajin gitu aja juara 3.” And the runner up goes to… team Indonesia! Saya dan Alex sampe melongo beberapa detik. “Yes, you!” kata MC. Kami pun ke depan menerima hadiah sampe sumringah karena masih nggak percaya. Bayangin, lebih dari 30 challenge dari 9 negara, kami juara 2! Sementara juara pertamanya dengan beda 1 point adalah tim Australia.

Kami dapat apa hadiahnya? Bukan dalam bentuk uang kok, tapi voucher menginap di Hotel Pullman di mana pun di Asia dan paket produk khas Queensland. Hadiahnya sih nggak seberapa, tapi membawa harum nama bangsa itu yang membanggakan kami!

H+1

Sebagian besar peserta pulang ke negaranya masing-masing, tapi saya extend sendiri ke Brisbane dengan menginap beberapa hari di apartemen teman. Ketika diajak jalan, saya jawab, “I don’t wanna do anything except sleeping!” #EdisiAmbruk

Read more
Terdampar di bandara Lombok

Terdampar di bandara Lombok

Setelah kelar liburan di pantai-pantai di selatan Pulau Lombok yang supercantik itu, saya dan Tante Em (adik ibu saya) berencana meneruskan liburan ke Bali pada 4 Februari 2015. Ndelalah, bangun tidur dapat SMS dari Garuda bahwa pesawat dipindah dari jam 9.50 ke jam 14.40. Senang juga, bisa tidur lebih lama. Tapi ada apa ya? Saya browsing, ternyata kemarinnya jam 17.00 ada pesawat Garuda tergelincir di runway bandara LOP, untungnya tidak ada korban jiwa. Hmm, berarti sudah semalaman bandara ditutup.

Lagi asyik makan siang, saya terima email dari Garuda yang mengatakan bahwa pesawat saya yang tadinya jam 14.40 dipindah lagi ke jam 19.00, itupun rutenya jadi muter. Tadinya direct LOP-DPS, sekarang jadi LOP-SUB-DPS. Gilanya lagi, connecting flight-nya ga nyambung, masa flight SUB-DPS tetap jam 16.25? Saya pun menelepon CS Garuda, dan ia mengubah tiket SUB-DPS sehingga akan mendarat di Denpasar pada jam 22.45. Buset!

Opsi lain adalah naik feri ke Bali yang memakan waktu 4 jam, tapi lebih ribet karena harus ke Pelabuhan Lembar dan sampainya pun di Padang Bai. Ditambah supir mobil sewaan sedang sakit dan mobilnya tidak ada seatbelt, saya memutuskan untuk didrop saja di bandara dan lebih baik menunggu jam 19.00 sampe bego.

Sampai di bandara LOP, suasananya luar biasa ramai kayak pasar! Banyak orang duduk di taman, di jalan, di lantai bandara, dan di semua restoran. Saya mengikuti kerumunan orang yang ternyata adalah bagian informasi bandara. Seorang mbak-mbak bilang bahwa belum ada pesawat yang bisa terbang karena bandara masih ditutup. Saya segera mencari tahu bagaimana caranya ke Bali naik boat. Rupanya saya tidak sendiri, selusinan orang juga mencari informasi yang sama. Katanya, boat terakhir ke Bali jam 14.00. Jiaah!

Saya masuk aja ke dalam dan check in supaya tidak harus menggeret koper. Petugasnya bilang, “Kok aneh ya, malah disuruh muter lewat Surabaya. Padahal ada pesawat direct LOP-DPS nanti jam 18.10.” Lha nggak tau, disuruh CS-nya begitu! Tapi… horee, bisa berangkat lebih cepat sejam! Kami pun membunuh waktu dengan pijat refleksi, makan bakso sampe 3 mangkok, dan keluar-masuk semua toko di bandara.

Jam 17.00 kami masuk ke ruang tunggu yang superpenuh. Berkali-kali diumumkan bahwa pesawat AirAsia, Citilink, Lion Air, dan lain lain dibatalkan penerbangannya karena “alasan operasional” yang disusul dengan suara bergemuruh, “HUUUUUUU!!” dari ratusan orang. Saya mengintip dari jendela, di ujung runway terdapat pesawat Garuda tipe ATR 72-600 yang mandeg di rumput dan beberapa kendaraan di sekitarnya. Entah apa yang sedang mereka perbuat selama lebih dari 24 jam tanpa hasil.

Sampai jam 20.00 atau sudah lewat sejam dari jadwal, belum juga ada pengumuman terbang. Saya bertanya kepada petugas, katanya saya disuruh ke bawah untuk minta refund. Lha? Di dekat gate, terlihat troli berisi kantong plastik sampah berwarna hitam. Saya intip dalamnya, eh ada nasi kotak dan air mineral botol. Aduh, makanan dan minuman sebanyak ini teronggok begitu saja karena tidak ada yang memberi tahu! Tentu saya langsung ambil karena lapar luar biasa.

Di bawah, saya mengantri di konter Garuda bersama ratusan penumpang yang you know lah ngantrinya berbentuk trapesium, bukan satu garis. Orang-orang mulai saling sikut dan teriak marah-marah, anak-anak menangis keras. Beberapa kali saya pun jadi ikutan memaki bapak-bapak yang dengan santainya memotong jalur antrian. Karena lama, sambil berdiri saya makan nasi kotak. Beberapa penumpang yang tampak ngiler saya bilangin, “Pak, Bu, disediain nasi kotak lho di atas. Ambil aja, daripada laper!” Mereka pun pergi, sehingga antrian saya jadi lebih pendek. #modus

Saya nguping orang-orang di depan, ternyata ada yang dipindahkan ke pesawat besok atau lusanya. Ada juga bule mewek karena ketinggalan connecting flight pulang ke Australia. Pas giliran saya, petugas konter bilang bahwa penerbangan saya diganti jadi keesokan harinya. “Pesawat jam berapa, Pak?” tanya saya. “Belum bisa dipastikan. Tunggu besok di-SMS aja. Malam ini menginap dulu di Lombok. Voucher hotelnya diambil di konter sebelah,” jawabnya. Hah? Tapi ya sudah lah, mau apa lagi. Yang lebih kasihan lagi sih yang nggak naik Garuda, katanya mereka tidak dapat fasilitas hotel.

Saya mengantri lagi di konter ujung. Petugas mbak-mbak yang jutek hanya memberikan secarik kertas dan saya disuruh menulis nama dan nomor hape. Ia berkata, “Nanti menginap di Hotel Praya. Tunjukin aja boarding pass-nya. Abis ini keluar bandara, dan cari petugas berseragam. Tanya infonya di sana.” Saya jadi curiga, semua orang cuman nulis di kertas oret-oretan, apa mereka tahu siapa menginap di mana dan apakah cukup jumlah kamarnya?

Di luar bandara, banyak orang berkumpul di parkiran. Saya menemui seorang petugas yang dikerubuti para penumpang gagal. Katanya, “Hotel Praya kemungkinan sudah penuh, jadi pindah ke Hotel Lombok Raya.” Lha, tadi di dalam didaftarkan ke Hotel Praya, kok sekarang ganti? Mereka menghitung nggak sih jumlah orang yang akan menginap dengan ketersediaan kamar dan jumlah kursi bus? Bagaimana dengan makan malam dan sarapan?

Tau-tau kami disuruh naik bus kecil yang telah disediakan untuk membawa kami ke hotel. Udah buru-buru naik, jreng… bus penuh banget! Gimana sih ini? Kata petugasnya, “Tunggu aja bus lain! Nanti busnya abis nganter akan balik ke sini untuk jemput.” Kami pun turun lagi dan berkumpul lagi. Orang-orang bertambah panik dan mengomeli petugas.

20 menit berlalu, belum ada bus juga. Hotel Praya ada di Praya, Hotel Lombok Raya ada di Mataram. Keduanya berjarak 1,5 jam. Kebayang kan lamanya? Saya benar-benar sudah lelah fisik dan mental. Saya pun berinisiatif untuk naik taksi saja. Saya ditawari sewa mobil ke Mataram. Bergaya ala bekpeker, saya pun berteriak, “Woiii, ada yang mau patungan taksi? Rp 160.000 nih. Saya sudah berdua, butuh dua orang lagi. Jadi per orang bayar Rp 40.000 aja!” Dan dapatlah sepasang suami-istri asal Jakarta.

Sepanjang jalan kami saling bercerita. Kata si suami, ia pernah juga diinapkan di Bali karena pesawat cancel, tapi penanganannya jauh lebih baik. Seluruh penumpang dikumpulkan, ada seorang yang in charge dan memberikan pengumuman secara baik-baik sehingga tidak ada yang panik. Hotel dan makan dapat, bahkan dapat uang cash sebagai ganti rugi. Saya pun baru tau darinya bahwa airport tax bisa minta refund. Ih, kok beda banget ya Bali sama Lombok?

Tiba di lobi hotel, kami check in dengan menyerahkan boarding pass. Staf hotel menawarkan sekamar sendiri atau berdua. Tentu saya memilih sekamar berdua karena kasihan kalau penumpang lain nggak dapat kamar. Setelah menaruh barang di kamar, saya ke restoran untuk makan. “Saya dari Garuda yang cancel, katanya boleh minta makan di sini. Bolehnya makan apa ya?” Staf restoran bingung, ia menelepon entah siapa. 10 menit kemudian baru diperbolehkan. Saya juga tahu diri dengan memesan hanya seporsi makanan. Saya lihat tidak ada penumpang lain di restoran ini. Kasihan sekali mereka yang kelaparan.

Sarapan keesokan harinya dipenuhi oleh para penumpang yang kemarin ketemu di bandara. Katanya mereka akan menunggu SMS dari Garuda untuk kepastian keberangkatan. Sampai jam 9.00 belum di-SMS, saya pun kabur naik fast boat dari pelabuhan Senggigi – bersama puluhan orang yang sama-sama di-cancel. Tante Em pun berkomentar, “Sekarang baru nyadar kalau kamu traveling emang sering sial sampe gue kebawa-bawa. Bagusnya, kamu jadi punya banyak bahan untuk ditulis.” :)

Dari follower Twitter, belakangan saya tahu bahwa bandara LOP akhirnya dibuka pada tanggal 5 Februari 2015 malam atau lebih dari 48 jam! Bayangkan, berapa kerugian yang telah ditanggung atas batalnya puluhan penerbangan? Berapa ratus orang yang kecewa akibat gagal pulang atau menghadiri acara penting? Come on, bandara internasional sebesar Lombok masa tidak punya peralatan yang memadai?

Kecelakaan (pesawat) memang di luar kuasa kita, tapi seharusnya kerugian itu bisa diminimalkan dengan lebih cepatnya penanganan terhadap pesawat (yang tergelincir). Yang terpenting lagi, perlunya pelatihan manajemen tanggap darurat bagi seluruh staf bandara dan perusahaan penerbangan sehingga tidak terjadi kepanikan di antara para penumpang dan kacaunya bandara.

Read more