Travel

[Adv] Pentingnya memiliki asuransi perjalanan

[Adv] Pentingnya memiliki asuransi perjalanan

Hayo ngaku, Anda punya nggak asuransi perjalanan (travel insurance)? Sebagian akan menjawab “pernah punya” tapi punyanya karena syarat bikin visa ke luar negeri. Kalo nggak disyaratin, nggak punya kan? Sama, saya dulu juga gitu.

Dulu masih muda emang cuek dan nggak mikir panjang. Semakin tua jadi semakin gendut bijak. Dengan frekuensi traveling saya yang tinggi, kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semakin tinggi. Gimana kalo paspor dicuri, bagasi hilang, penerbangan dibatalkan, dsb? Hiyyy… amit-amit! Tapi yang lebih parah lagi, gimana kalo lagi traveling di luar negeri saya masuk Rumah Sakit, kecelakaan, bahkan meninggal dunia? Siapa yang mau bayarin? Udah saya yatim piatu, masih jomblo pula. Males kan kalo ngerepotin orang?

Saya sendiri sudah punya asuransi yang mencakup Indonesia, sehingga saya perlu memiliki asuransi perjalanan yang berlaku di manapun di luar negeri. Dengan memiliki asuransi perjalanan, kita telah meminimalisasi salah satu kekhawatiran – terutama kekhawatiran “gimana kalo kenapa-kenapa, tapi duit abis?”Apalagi biaya hidup di sebagian besar negara jauh lebih mahal daripada di Indonesia.

Setelah browsing sana-sini, pilihan saya adalah AXA Mandiri Travel Insurance. Kenapa? Karena belinya gampang. Nggak usah buang waktu dan energi pergi ke kantor asuransi, tapi tinggal beli online doang di sini. Setelah bayar, dokumen langsung jadi dan tinggal di-print. Daripada repot, saya ambil asuransi perjalanan dalam jangka waktu satu tahun penuh (annual trip) ke seluruh negara di dunia, termasuk Schengen (negara-negara di Eropa). Harganya pun terjangkau, hanya USD 135 untuk asuransi perjalanan kategori Platinum! FYI, asuransi ini juga bisa diajukan untuk apply visa.

Keuntungannya bisa dibaca di sini, namun saya sarikan antara lain;

  1. Uang santunan akan dibayar untuk kematian, kehilangan salah satu anggota badan, salah satu atau kedua mata, atau kelumpuhan total akibat kecelakaan yang terjadi selama perjalanan sebesar USD 100.000. Kalau terjadi kecelakaan diri pada saat berada di dalam pesawat terbang komersil terjadwal dapat USD 200.000.
  2. Penggantian biaya pengobatan, perawatan gigi karena dalam keadaan darurat, biaya rumah sakit, biaya operasi, termasuk pengobatan tradisional yang dialami/terjadi selama dalam perjalanan sampai sebesar USD 100.000. Bahkan ditanggung biaya pengobatan terusannya di Indonesia sampai USD 1.250.
  3. Jika harus tinggal di Rumah Sakit luar negeri lebih dari 24 jam, akan memperoleh tunjangan harian berupa uang tunai maksimum USD 25/hari yang bebas digunakan untuk apa saja.
  4. Biaya untuk penguburan atau kremasi di luar negeri ditempat kematian terjadi atau biaya untuk mengangkut jenasah kembali ke Indonesia = USD 7.500.
  5. Bila satu orang keluarga atau teman yang diperlukan untuk tinggal bersama atau melakukan perjalanan bersama Anda selama dirawat di rumah sakit di luar negeri, atau untuk menemani anak Anda kembali ke Indonesia karena Anda harus dirawat di rumah sakit di luar negeri = USD 3.000.
  6. Penggantian uang bila terjadi ketidaknyamanan perjalanan seperti kehilangan paspor USD 300, bagasi telat USD 500, pesawat/KA/kapal delay USD 500, bahkan kalau rumah kebakaran karena ditinggal pergi dapat diganti sampai USD 5.000.

Anda juga bisa memilih asuransi AXA Mandiri Travel Insurance berdasarkan jumlah hari dan negara tujuan. Klik short trip, masukin tanggal pergi dan pulang, pilih cakupan negara (Worldwide including Schengen, Worldwide excluding Schengen, atau ASEAN plus), maka situs akan otomatis memberikan harga. Anda juga bisa beli paket Family (1-2 orang tua + 1-4 anak) dengan harga lebih murah daripada beli satuan yang Individual.

Bagaimana dengan pengalaman saya dalam klaim asuransi AXA Mandiri? Tuhan Maha Baik, selama trip saya baik-baik saja. Tapi ingat cerita “Nggak Sengaja ke Kenya”? Karena penerbangan dimajukan sehari, hotel yang sudah saya pesan seharga USD 50 jadi hangus. Karena terpaksa harus ke Kenya, saya wajib bayar visa USD 20. Total kerugian USD 70 bisa kembali dengan mengajukan dokumen berupa tanda terima pembayaran dan email dari maskapai penerbangan. Memang sih dipotong atas resiko sendiri sebesar USD 25, tapi bisa dapat USD 45 kan lumayan daripada kesel. Duit langsung ditransfer ke rekening saya dalam bentuk rupiah dalam waktu seminggu. Gampang dan menyenangkan kan?

Sebagai traveler yang bertanggung jawab, punya asuransi perjalanan emang penting banget!

Read more
Nggak Sengaja ke Kenya

Nggak Sengaja ke Kenya

Judulnya sombong banget ya? Padahal saya beneran nggak sengaja bisa menginjak negara Kenya di Afrika Timur itu!

Ceritanya begini. Saya lagi asyik bersafari di utara Tanzania pada penghujung trip. Rencananya saya akan pulang ke Indonesia dengan terbang dari Kilimanjaro ke Seychelles, via Nairobi pada 12 Mei 2015 jam 06.00 pagi. Lalu dilanjut malam harinya terbang ke Jakarta via Dubai. Memang rutenya muter-muter. Maklum, tiket saya dibayarin Jakarta-Seychelles-Jakarta sehingga kalau extend, saya tetap harus kembali ke Seychelles.

Tau-tau saya dapat email dari maskapai penerbangannya kalau pesawat Kilimanjaro-Nairobi dibatalkan! Penerbangan diganti ke tanggal 13 Mei. Lah, nggak nyambung sama pesawat ke Jakarta! Saya pun protes, bilang bahwa tanggal 12 Mei saya harus terbang pulang. Tambah senewen lagi ketika internet sangat terbatas, secara lagi safari di tengah hutan. Alhasil saya minta di-share hotspot dari hapenya guide untuk email-emailan.

Akhirnya maskapai memberikan alternatif solusi, yaitu saya akan terbang Kilimanjaro-Seychelles sehari sebelum jadwal yaitu pada 11 Mei jam 18.20, menginap di Nairobi, baru besoknya 12 Mei jam 11.30 terbang ke Seychelles. Merasa di atas angin – ya iyalah, karena ini bukan salah saya – tentu saya minta ditanggung penginapan, makan, dan transfer bandara-hotel-bandara. Si Manager pun menyetujuinya. Hanya saya harus bayar visa Kenya sebesar USD 20. Untung pemegang paspor Indonesia bisa masuk ke Kenya dengan visa on arrival!

Saya okein aja pulang lebih awal. Alasannya, pertama, setelah empat hari kemping di hutan, saya pengin mandi di shower yang airnya keras dan panas. Kedua, saya belum pernah ke Kenya. Kapan lagi bukan? Saya pun browsing apa yang bisa dilakukan di Kota Nairobi pada malam hari. Katanya Nairobi oke banget night life-nya. Saya pun tambah semangat. Lumayan bisa dugem sambil ngecengin cowok berkulit hitam, pikir saya.

Jam 9 pagi kami terpaksa harus berangkat dari Serengeti National Park menuju Kota Kilimanjaro. Katanya perjalanan akan memakan waktu 5 jam. Ah, aman. Namun di sepanjang jalan, tau-tau aja ketemu 10 ekor singa yang lagi gelantungan di pohon, jalan lagi eh ada 2 ekor singa lagi jalan-jalan di savana, jalan lagi eh ada 2 ekor singa lagi bobo di pinggir jalan! Belum lagi ketemu sekelompok jerapah lagi nyebrang, ribuan wildebeest, ratusan gazelle.. aaahh! Saya sampai diteriaki guide safari saya dari The Story of Africa, “Stop it, or you will miss your flight!”

Mobil safari pun ngebut. Saya baru sadar ini jam-jam terakhir di Tanzania dan belum membeli apa-apa untuk kenang-kenangan ke diri sendiri. Saat kami makan siang di restoran, saya lari ke toko membeli kain khas suku Maasai. Penerbangan jam 18.20, tapi jam 17.00 kami baru memasuki Arusha, sementara bandaranya ada di Kilimanjaro yang sekitar sejam lagi dengan jalan macet begini. Duh, saya mulai sakit perut membayangkan kalau saya ketinggalan pesawat! Tau gitu mending nambah sehari deh daripada kejar-kejaran nggak karuan.

Sampai di bandara Kilimanjaro, saya langsung check in dan tau-tau udah disuruh naik pesawat. Lah, sekarang baru jam 17.45. Saya berlari naik tangga dan pesawat pun langsung terbang. Rupanya mereka nungguin saya doang karena jam terbangnya dipercepat. Di atas udara, pesawat kecil baling-baling ini mengalami turbulence sampe tergoncang-goncang dahsyat! Ya Tuhan, jangan sampe saya mati sia-sia gara-gara bela-belain sehari doang di Kenya.

Untunglah kami selamat mendarat di Nairobi. Sesuai petunjuk, saya ke imigrasi, bayar visa transit, lalu ke bagian Hotel Service. Saya kasih paspor saya, eh si mbak petugas malah marah, “Where is your boarding pass Nairobi-Seychelles?” Lah, meneketehe? Saya kan cuma dikasih Kilimanjaro-Nairobi! Lama kami berdebat karena saya dituduh sengaja pengin jalan-jalan, bukannya terpaksa transit. Akhirnya setelah beberapa telepon ke bos-bosnya, saya pun diberikan boarding pass baru, voucher hotel dan transportasi.

Saya disediakan transportasi gratis yang parkir di luar bandara. Rupanya berupa bus yang segede PPD. Tapi kenapa saya cuma sendiri? Saya disuruh tunggu sebentar karena busnya ngetem. Alhasil 45 menit kemudian saya malah dinaikkan ke mobil sedan menuju hotel. Saya tanya ke supirnya berapa waktu tempuh bandara ke hotel. Jawabnya, “If there’s no traffic, it’s only 15 minutes.” Yes, aman! Masih bisa dugem! Sepanjang jalan saya kagum, kota Nairobi ini maju dan rapi.

Dan… hujan deras pun turun! Deras sederas-derasnya sampai macet total dan mobil tidak bergerak! Ternyata masalahnya sama aja kayak di Jakarta. Karena hujan, jalan banjir. Mobil saling susul, melawan arah, nekat menerabas lampu merah, nggak ada yang mau ngalah, terjadi bottle neck, dan seterusnya. Bedanya, pas di sana nggak ada polisi atau Pak Ogah yang mengurai. Orang hanya buka kaca mobil dan saling meneriaki satu sama lain. Hadeuh!

Total 2,5 jam baru saya sampai di hotel, atau sudah jam 22.30! Saya buru-buru check in, naro tas di kamar, dan lari ke restoran karena takut tutup. Secara ogah rugi, saya pilih makanan yang termahal berupa steak. Bodo amat deh. Kesel!

Sampai kamar… badan saya sudah remuk! Jauh-jauh ke Kenya cuman dipake tidur. Foto-foto aja nggak sempat. Begitulah cerita tentang negara ke-68 yang saya kunjungi.

Read more
Pantai-pantai di Lampung bagus, tapi…

Pantai-pantai di Lampung bagus, tapi…

Pada akhir Juni 2015 sahabat saya, Pepita, ujug-ujug mengajak saya berlibur ke Lampung bersama kedua anaknya; Cia dan Cio. Semua sudah di-arrange jadi saya tinggal bawa baju aja, begitu promosinya. Kami akan menginap di sebuah resort di tepi pantai Kalianda. Mendengar kata “pantai”, saya langsung oke! Apalagi pas awal bulan puasa, jadi bakal sepi.

Dari bandara Radin Inten II naik mobil sewaan memakan waktu 2 jam. Memasuki kota Kalianda kami nyasar-nyasar karena peta di situs hotel sangat disederhanakan dan Google Maps pun tidak mampu memberikan petunjuk saking mblusuknya. Herannya, hanya berjarak 5 menit dari kantor Bupati (yang muka bupatinya selalu ada di setiap billboard apapun) jalannya rusak parah. 20 menit teruncal-uncal kemudian kami tiba di hotel.

Dan… saya kaget karena hotel dan kompleksnya jauh berbeda dengan foto yang ada di situsnya! Bangunannya tampak tua dan kusam, pasir pantainya sudah tidak putih lagi. Ketika sampai di bibir pantainya di depan hotel, saya kaget lagi. Pantainya banyak sampah dan ombaknya besar banget – bahkan ada plang bertuliskan “Kawasan Dilarang Mandi ”. Waduh, gimana mau berenang? “Oh situs itu dibikin tahun 2005, terus password-nya hilang, jadi nggak bisa di-update,” kata manager hotel. Kabar gembiranya, kami adalah satu-satunya tamu yang menginap di hotel. Kedua, sunset-nya keren!

Sunset depan hotel

Sunset depan hotel

Besoknya Pepita sekeluarga berwisata ke Way Kambas, tapi saya memilih untuk berenang di pantai. Saya bertanya ke resepsionis di mana berenang yang aman. Mereka mengatakan bahwa saya harus berjalan ke pantai paling kanan dekat batu-batu. Saya pun ke sana, tapi berenangnya hanya bisa kecibak-kecibuk doang karena airnya dangkal dan banyak batu. Selanjutnya saya berjemur matahari beralas sarung Bali sambil baca buku… sampai ketika saya sadar bahwa ada seorang pria sedang merokok duduk di atas batu ngeliatin saya! Duh, males banget kan? Saya berpindah posisi dan ngumpet di balik batu lain, eh dia masih di situ. That’s it. Saya pun balik ke kamar.

Pas jam makan siang saya ke resepsion untuk memesan makanan, eh restoran tutup. Saya mau titip beliin makanan, katanya warung sekitar juga tutup karena bulan puasa. Untungnya Pak Manager hotel berbaik hati mengantarkan saya naik mobilnya cari makan. Setelah keliling-keliling Kota Kalianda, tak satupun tempat makan yang buka! Si Bapak kemudian mengarahkan mobilnya ke Jalan Trans Sumatra ke arah Bakauheni. Sepanjang jalan memang banyak restoran Padang, tapi kata si Bapak males bareng supir-supir truk. 20 menit kemudian, kami sampai di sebuah restoran Padang ber-AC yang parkirannya berisi mobil-mobil pribadi. Waktu menunjukkan pukul 14.00, saya pun kalap menghabiskan 3 piring nasi plus lauk pauk yang berjibun.

Hari berikutnya agenda kami adalah island hopping seharian. Pepita sudah membayar trip ini sebesar Rp 1,7 juta termasuk sewa mobil dan kapal. Gila mahalnya! Tapi ya sudahlah, sudah dibayar ini. Kami naik mobil sejam menuju Pantai Pasir Putih, tempat kapal bersandar. Begitu kapalnya datang, lagi-lagi saya kaget. Kapalnya kecil banget dan hanya memiliki mesin tempel 25 PK! Buset, ini sih harganya digetok! Saking imutnya kapal ini, ke Pulau Pahawang aja memakan waktu 1,5 jam!

Untungnya Pulau Pahawang bagus. Pasirnya putih meski ada sampah plastik juga, tapi airnya tenang. Kami pun berenang sampai jam makan siang. Saya mengusulkan kepada tukang kapal untuk cari makan di pulau lain sekalian berenang lagi. Eh si bapak bilang, “Oh, perjanjiannya kami cuma mengantar ke Pahawang saja. Kalau mau ke pulau-pulau lain tambah Rp 400.000,-!” Hah? “Soalnya muter itu. Jauh lagi!” Hah? Padahal tadi pulau-pulau itu juga kita lewatin! Minta diskon nggak dikasih, saya tidak punya pilihan. Itung-itung membantu perekonomian lokal, ya sudah lah.

Pulau kedua adalah Kelagian Lunik yang ada satu warung jualan mi instan cup dan kopi instan. Abis makan, kami berenang lagi. Pulau ini cakep banget! Dikelilingi pulau-pulau lain yang berbukit dengan air tenang bergradasi biru. Pasirnya pun jauh lebih bersih. Ketika kapal kami pergi, saya ditagih karcis tanda masuk sebesar Rp 25.000,- Saya membayar dengan berpesan agar pulau ini dijaga kebersihannya.

Kelagian Lunik Island

Kelagian Lunik Island

Pulau ketiga adalah ke sebuah pulau gosong atau sandbar yang saya lihat dari hasil browsing. Kata tukang kapal ada di Pulau Pasir Timbul. Begitu mendekat, mata saya terbelalak. Pulau yang cuma seuprit tersebut sudah ada bangunan permanen berupa penginapan dan tambak ikan! Lha, mana keren kalo difoto bocor begitu? Rupanya ada sandbar yang jauh lebih kecil yang harus berjalanan dari dermaga melalui jembatan kayu. Anjir, betul-betul merusak pemandangan! Meskipun demikian, kami menikmati juga berenang dan foto-foto di sandbar selama 10 menit, sampai datang rombongan turis lokal 2 kapal yang langsung bikin penuh. Pulangnya saya ditagih lagi Rp 10.000,-/orang. Saya tanya ke mas-masnya, “Karcisnya mana?” Jawabnya santai, “Nggak ada.” Hmm, baiklah.

Di ujung jembatan ini ada sandbar sih

Di ujung jembatan ini ada sandbar sih

Saat perjalanan pulang, ombak meninggi. Kami semua basah kuyup diterjang air laut! Mendarat di Pantai Pasir Putih, air surut jauh sehingga kami harus berjalan kaki di atas pasir bersampah. Eww!

Merasa “dirampok”, besoknya kami leyeh-leyeh aja di pantai hotel, tepatnya di “pantai kanan berbatu”. Ternyata di balik bukit sebelah kanannya batu-batuan tersebut, ada pantai lain yang airnya jauh lebih tenang dan tidak berbatu. Karena sengaja dibendung, pantai ini seperti kolam renang alami yang airnya masuk dari terjangan ombak. Meski pasirnya bersampah super banyak, namun tak mengurungkan niat kami untuk berenang sepuasnya. Saya salut sama Cia dan Cio yang tidak rewel berenang di kondisi apapun.

Intinya saya hepi kok liburan di pantai-pantai Lampung. Lumayan dekat dari Jakarta, tapi bisa dapat pantai-pantai cakep. Saya cuman berharap aja dikelola dengan baik, baik SDM maupun pengelolaan sampahnya.

Sedih :(

Sedih :(

Read more
[Adv] Amazing stay in Bali’s luxury villas

[Adv] Amazing stay in Bali’s luxury villas

Alda, cewek Filipino teman sekelas dan sekamar saya waktu sekolah S2 di Manila (ada di buku #TNT3), sedang patah hati. Kangen juga sama dia karena terakhir kami bertemu empat tahun yang lalu di Vietnam. Kali ini saya ingin menghiburnya dengan mengundangnya berlibur ke Bali. “All you have to do is buy the return tickets from Davao to Bali and I will arrange the rest,” begitu pesan saya kepadanya yang supersibuk sama kerjaan kantornya.

Awal Juli 2015, kami janjian mendarat pada waktu yang sama di Bandara Ngurah Rai. Tanpa tahu apa-apa, ia langsung saya ajak menginap di sebuah villa yang hanya berjarak 15 menit dari bandara via tol Mandara. Berbeda dengan kamar hotel, villa ini bentuknya seperti rumah dengan halaman sendiri. Saya tahu Alda belum pernah menginap di villa, jadi saya mau kasih kejutan.

Memasuki halaman Tjendana Villas Nusa Dua di Mumbul Hill dan masuk ke villa kami yang bertipe One Bedroom Pool Villa, Alda membelalakkan mata karena kaget. “Surprise!” kata saya. Gimana dia nggak kaget, villa kami luas, bertingkat dua, ada ruang makan, dapur, dan ada kolam renang pribadi! Interior kamarnya modern dengan aksen warna hijau, satu sisi dinding semua berupa kaca, kamar mandi dengan bathtub-nya terbuka menghadap kolam, dan dapur pun lengkap dengan peralatannya. Tanpa ba-bi-bu, kami langsung ganti baju renang dan nyebur ke kolam pribadi!

Tjendana Villas' dining room

Tjendana Villas’ dining room

Tempat paling oke untuk nongkrong malam-malam adalah di rooftop-nya. Bentuknya kotak yang dikarengkeng besi sehingga kanan-kiri-atas terbuka. Di tengahnya dikasih day bed, semacam sofa yang besar tanpa sandaran jadi lebih mirip tempat tidur ukuran kecil sehingga cocok untuk leyeh-leyeh. Setiap malam kami ngegosip di atas atap sambil memandang kerlap-kerlip Teluk Benoa, jutaan bintang dan bulan yang pas lagi purnama, bahkan planet Jupiter dan Venus.

Rooftop at Tjendana Villas Nusa Dua

Rooftop at Tjendana Villas Nusa Dua

Untungnya lagi, Tjendana Villas Nusa Dua memiliki Bayleaf Restaurant & Lounge. Interiornya yang chic dan tempatnya yang menghadap teluk bikin betah berlama-lama. Setiap sarapan, kami ke sini. Bisa juga berenang di kolam renang infinity-nya yang cakep banget. Katanya restoran ini suka dijadikan venue untuk pesta pernikahan. Uhuk! Setiap malam pun kami tak melewatkan makan di sini saking kerennya pemandangan dan nikmatnya makanannya.  Sempat juga ikutan pesta barbecue dengan hiburan berupa fire dance.

Selain mengunjungi pura-pura dan menonton tari-tarian, ke Bali wajib hukumnya untuk berenang di pantai. Sayangnya sekarang di Bali susah cari pantai ideal ala saya – yang bagus, sepi, tidak berkarang, dan tidak berombak besar. Sialnya pantai favorit saya sudah ditutup oleh hotel bintang lima. Ada pantai yang sepi dan bagus, tapi jalannya setengah mati kudu turun-naik ratusan tangga. Jadilah jam 10 pagi saya mengajaknya ke Surf & Turf Nusa Dua, tepatnya di BTDC. Banyak yang belum tau bahwa pantai di sana termasuk bagus, sepi, dan akses yang mudah.

Surf & Turf Nusa Dua ini merupakan beach club yang baru beroperasi dua bulan dan punya surf rider pertama dan satu-satunya di Bali – itu lho, ombak buatan untuk berselancar! Saya tahu banget Alda suka aktivitas beradrenalin, maka sekali ke tempat itu, kami bisa berenang di pantai, di kolam renang, meluncur di slides-nya yang ekstrim, main kano di laut, dan berselancar di surf rider. Enaknya lagi, sudah tersedia handuk, kamar mandi dan amenities-nya, day bed untuk leyeh-leyeh, dan restoran. Seharian kami turun-naik berbagai perosotan, bolak-balik berselancar, dan pindah-pindah berenang. Makan siangnya di restoran pun enak dengan porsi besar. Alda yang pertama kali makan sup buntut berkali-kali bilang, “Napaka masarap!” (artinya: enak banget!).

Surf & Turf Nusa Dua

Surf & Turf Nusa Dua

Hari Sabtu saya sengaja pindah ke daerah Seminyak, supaya lebih gampang untuk akses gaul dan shopping bagi Alda. Kami pun menginap di The Club Villas di Jalan Kayu Aya. Saya sering ke daerah Seminyak karena banyak restoran enak, tapi baru kali ini saya ngeh bahwa ada gang kecil dekat toko NicoNico yang di dalamnya terdapat kompleks 34 unit villa mewah! Hebatnya, meski dekat dengan jalan utama Seminyak yang ramai, kompleks The Club Villas ini benar-benar secluded, nggak berisik, banyak pepohonan rimbun, bahkan masih terdengar kicauan burung-burung liar!

The Club Villas' private pool

The Club Villas’ private pool

Kali ini saya dan Alda yang kaget. Villa kami yang bertipe One Bedroom Honeymoon Pool Villa luasnya 165 meter persegi! Abis itu kami tertawa ngakak karena di tempat tidur disebar bunga-bunga mawar sampai ke kamar mandi. Namanya juga honeymoon villa, sayangnya nggak sama suami. #curcol. Arsitektur dan interiornya bergaya tradisional Bali dengan unsur kayu. Ada pendopo untuk duduk-duduk, dapur, meja makan, ruang pakaian, kamar mandi yang superluas – yang terdiri dari shower outdoor, shower indoor, dan bathtub, halaman dan sun lounge, serta kolam renang pribadi berukuran 40 meter persegi yang dalamnya sampai 1,60 meter! Apakah yang kami lakukan pertama kali? Tentu nyebur di kolam renang! Setalah itu saya membiarkan Alda jalan-jalan sendiri di Seminyak karena saya memilih untuk tidur di tempat tidurnya yang supernyaman dan berendam di bathtub-nya yang keren. What an amazing stay in Bali’s luxury villas!

Bathroom in The Club Villas

Bathroom in The Club Villas

Read more
Hidup expat di Dar es Salaam

Hidup expat di Dar es Salaam

Begitu tahu akan ke Seychelles, saya langsung lihat peta. Hmm… tidak jauh dari Tanzania, naik pesawat tinggal nyebrang doang. Jadilah saya extend dan cari tiket Seychelles-Tanzania-Seychelles sebelum pulang ke Indonesia. Saya pengen banget ke Tanzania karena tertarik safari di Serengeti National Park untuk melihat migrasi jutaan hewan seperti di TV NatGeo. Tapi masuk ke Tanzania harus melalui ibu kotanya, Dar es Salaam.

Mendengar nama Dar es Salaam aja udah bikin merinding. Macam lokasi film-film Hollywood tentang perang atau secret agent. Di pemberitaan pun kesannya negatif. Dari hasil riset online saya, Dar es Salaam memang termasuk tinggi tingkat kriminalitasnya. 43% rumah di Dar es Salaam pernah dirampok dan 32% penduduknya pernah dijambret/ditodong/dicopet. Ih, serem nggak sih?

Untunglah saya punya teman orang Indonesia yang tinggal di Dar es Salaam dan diperbolehkan menginap di rumahnya. Suaminya orang AS yang kerja di sebuah badan dunia dan mereka memiliki 2 anak kecil. Maka teman saya pun mengirimkan taksi langganan kantor suaminya untuk menjemput saya di Julius Nyerere International Airport pada jam kedatangan saya pukul 23.00.

Rumah mereka terletak di Oyster Bay, area expat yang sekelilingnya adalah rumah kediaman para Duta Besar negara-negara maju. Halamannya yang rimbun dengan pepohonan ini luas, mungkin sekitar 2000an meter persegi. Rumahnya yang bertingkat dua berbentuk persegi panjang dan berumur puluhan tahun. Ada kolam renang kecil di halaman belakang. Yang mencengangkan, seluruh pagarnya diliputi kawat listrik tegangan tinggi! Ada pula Askari (security) di pos depan rumah yang menjaga 24 jam. “Namanya juga di Afrika. Ya harus begini!” kata teman saya.

Rumahnya dekat dengan Coco Beach, pantai umum berpasir putih yang lumayan bagus. Namun mereka sendiri tidak berani ke sana karena pasti ditodong atau dijambret, tidak hanya ke orang asing tapi juga ke orang lokal. Jalan kaki sendirian di Dar es Salaam pada siang hari bolong tidak disarankan, apalagi malam hari. Saya pun diceritakan kejadian-kejadian penodongan dan penjambretan yang pernah terjadi. Saya ya manut aja.

Anak-anak expat tentu bersekolah di sekolah internasional. Banyak dari mereka yang mixed race. Maklum, keluarga expat di sana pasti sudah pernah ditempatkan di berbagai belahan dunia dan kawin-mawin dengan penduduk lokalnya atau sesama expat dari negara lain. Anak-anak itu ada yang lahir di Rwanda, Nairobi, Johannesburg, dan kota-kota lainnya yang terdengar “eksotis”.

Basically, Dar es Salaam nggak ada apa-apanya. Turis pun ke sana hanya untuk transit. Untuk cari hiburan jadi sulit. Restoran standar bule hanya ada 5 buah di seluruh kota. That’s it. Jadi hubungan antar expat sangat erat dan eksklusif. Secara reguler mereka berkegiatan bareng, umumnya para istri yang bikin acara charity ini-itu. Lucunya, kecuali teman saya itu, nggak ada satupun orang Indonesia yang gabung ke geng mereka. Mungkin orang KBRI nggak gaul sama bule, atau emang nggak ada expat orang Indonesia di sana.

Kalau anak-anak mau santai-santai di dalam kota, mereka ke Dar Yacht Club. Klub khusus expat dengan sistem membership ini memang jamak ada di mana pun di negara berkembang. Area klub termasuk pantai yang tertutup dan dijaga Askari. Di dalamnya juga ada kolam renang dan restoran. Aktivitas para anggota berkutat di pantai; berenang, berjemur, paddle boarding, dan berlayar. Sesekali mereka mengundang band luar negeri untuk mengadakan pesta atau bikin kursus ini-itu.

Sendirian di pantai Dar Yacht Club

Sendirian di pantai Dar Yacht Club

Hiburan lain untuk para expat adalah bikin pesta di rumah orang secara bergilir setiap Jumat malam. Saya pernah ikut juga. Ada sekitar 15 keluarga yang datang. Keluarga? Ya. Suami-istri-anak. Host-nya menyediakan makanan dan minuman bagi para tamu. Jadi semacam arisan bergilir. Rumah para expat memang luar biasa besar dan mewahnya, semuanya pun berpagar listrik tegangan tinggi dan dijaga Askari. Para asisten rumah tangganya semua orang lokal yang sudah dilatih memasak makanan western.

Anak-anak pun tak ketinggalan dibuat hiburan sendiri. Salah satunya adalah pementasan Kid Rock yang diadakan selama sebulan setiap weekend di bulan Mei. Seratusan anak tampil di panggung, ditonton oleh seratusan anak lain dan orangtuanya.

Suatu weekend, keluarga teman saya ini ada acara nginep bareng para expat di South Beach. Saya yang malas gaul dengan anak-anak memilih untuk tinggal sendiri di rumahnya. Sebelum mereka berangkat, saya pun di-traning singkat tentang sistem keamanan rumahnya. Pertama, kunci pintu. Rumahnya harus selalu dikunci dobel-dobel. Kuncinya pun disembunyikan di tempat tertentu. Pintu utama rumah terdiri dari dua pintu besi yang harus dikunci plus digembok. Naik ke lantai dua, ada dua pintu besi lagi yang harus dikunci, plus gembok rantai. Kamar anak-anaknya yang saya tebengi memiliki balkon pun ada dua pintu besi yang harus dikunci. Pokoknya ribet dah!

“Lah, kalau ada kebakaran, gue gimana keluarnya dong?” tanya saya ke suaminya setelah sadar betapa banyak pintu yang harus saya kunci. Saya pun diajak masuk ke kamarnya. Ada sebuah tombol emergency yang harus ditekan. “Kalau ada apa-apa, jangan ragu pencet tombol ini. Dalam lima menit, pasukan security dan pemadam kebakaran akan datang ke rumah untuk menyelamatkan kita,” terangnya. WOW! Berasa kayak di rumah James Bond! “Dalam lima menit, kamu harus keluar ke balkon kamarmu dan tunggu di sana. Don’t worry. You’ll be fine!”

Siaaap!

Dan dua hari itu saya punya waktu untuk jalan-jalan keliling kota Dar es Salaam dengan diantar taksi langganan. Saya pun ke Museum Nasional Tanzania, ke Wonder Workshop, ke pasar lukisan Tinga-Tinga, bahkan ke Coco Beach dan dugem di Maisha Club – yang mereka pun belum pernah sambangi! Yah begitulah, kadang perjalanan kita tergantung dengan siapa kita pergi atau tinggal.

Jadi mikir, apakah expat di Indonesia segitu ketat penjagaan keamanannya ya?

Read more