Travel

Hidup expat di Dar es Salaam

Hidup expat di Dar es Salaam

Begitu tahu akan ke Seychelles, saya langsung lihat peta. Hmm… tidak jauh dari Tanzania, naik pesawat tinggal nyebrang doang. Jadilah saya extend dan cari tiket Seychelles-Tanzania-Seychelles sebelum pulang ke Indonesia. Saya pengen banget ke Tanzania karena tertarik safari di Serengeti National Park untuk melihat migrasi jutaan hewan seperti di TV NatGeo. Tapi masuk ke Tanzania harus melalui ibu kotanya, Dar es Salaam.

Mendengar nama Dar es Salaam aja udah bikin merinding. Macam lokasi film-film Hollywood tentang perang atau secret agent. Di pemberitaan pun kesannya negatif. Dari hasil riset online saya, Dar es Salaam memang termasuk tinggi tingkat kriminalitasnya. 43% rumah di Dar es Salaam pernah dirampok dan 32% penduduknya pernah dijambret/ditodong/dicopet. Ih, serem nggak sih?

Untunglah saya punya teman orang Indonesia yang tinggal di Dar es Salaam dan diperbolehkan menginap di rumahnya. Suaminya orang AS yang kerja di sebuah badan dunia dan mereka memiliki 2 anak kecil. Maka teman saya pun mengirimkan taksi langganan kantor suaminya untuk menjemput saya di Julius Nyerere International Airport pada jam kedatangan saya pukul 23.00.

Rumah mereka terletak di Oyster Bay, area expat yang sekelilingnya adalah rumah kediaman para Duta Besar negara-negara maju. Halamannya yang rimbun dengan pepohonan ini luas, mungkin sekitar 2000an meter persegi. Rumahnya yang bertingkat dua berbentuk persegi panjang dan berumur puluhan tahun. Ada kolam renang kecil di halaman belakang. Yang mencengangkan, seluruh pagarnya diliputi kawat listrik tegangan tinggi! Ada pula Askari (security) di pos depan rumah yang menjaga 24 jam. “Namanya juga di Afrika. Ya harus begini!” kata teman saya.

Rumahnya dekat dengan Coco Beach, pantai umum berpasir putih yang lumayan bagus. Namun mereka sendiri tidak berani ke sana karena pasti ditodong atau dijambret, tidak hanya ke orang asing tapi juga ke orang lokal. Jalan kaki sendirian di Dar es Salaam pada siang hari bolong tidak disarankan, apalagi malam hari. Saya pun diceritakan kejadian-kejadian penodongan dan penjambretan yang pernah terjadi. Saya ya manut aja.

Anak-anak expat tentu bersekolah di sekolah internasional. Banyak dari mereka yang mixed race. Maklum, keluarga expat di sana pasti sudah pernah ditempatkan di berbagai belahan dunia dan kawin-mawin dengan penduduk lokalnya atau sesama expat dari negara lain. Anak-anak itu ada yang lahir di Rwanda, Nairobi, Johannesburg, dan kota-kota lainnya yang terdengar “eksotis”.

Basically, Dar es Salaam nggak ada apa-apanya. Turis pun ke sana hanya untuk transit. Untuk cari hiburan jadi sulit. Restoran standar bule hanya ada 5 buah di seluruh kota. That’s it. Jadi hubungan antar expat sangat erat dan eksklusif. Secara reguler mereka berkegiatan bareng, umumnya para istri yang bikin acara charity ini-itu. Lucunya, kecuali teman saya itu, nggak ada satupun orang Indonesia yang gabung ke geng mereka. Mungkin orang KBRI nggak gaul sama bule, atau emang nggak ada expat orang Indonesia di sana.

Kalau anak-anak mau santai-santai di dalam kota, mereka ke Dar Yacht Club. Klub khusus expat dengan sistem membership ini memang jamak ada di mana pun di negara berkembang. Area klub termasuk pantai yang tertutup dan dijaga Askari. Di dalamnya juga ada kolam renang dan restoran. Aktivitas para anggota berkutat di pantai; berenang, berjemur, paddle boarding, dan berlayar. Sesekali mereka mengundang band luar negeri untuk mengadakan pesta atau bikin kursus ini-itu.

Sendirian di pantai Dar Yacht Club

Sendirian di pantai Dar Yacht Club

Hiburan lain untuk para expat adalah bikin pesta di rumah orang secara bergilir setiap Jumat malam. Saya pernah ikut juga. Ada sekitar 15 keluarga yang datang. Keluarga? Ya. Suami-istri-anak. Host-nya menyediakan makanan dan minuman bagi para tamu. Jadi semacam arisan bergilir. Rumah para expat memang luar biasa besar dan mewahnya, semuanya pun berpagar listrik tegangan tinggi dan dijaga Askari. Para asisten rumah tangganya semua orang lokal yang sudah dilatih memasak makanan western.

Anak-anak pun tak ketinggalan dibuat hiburan sendiri. Salah satunya adalah pementasan Kid Rock yang diadakan selama sebulan setiap weekend di bulan Mei. Seratusan anak tampil di panggung, ditonton oleh seratusan anak lain dan orangtuanya.

Suatu weekend, keluarga teman saya ini ada acara nginep bareng para expat di South Beach. Saya yang malas gaul dengan anak-anak memilih untuk tinggal sendiri di rumahnya. Sebelum mereka berangkat, saya pun di-traning singkat tentang sistem keamanan rumahnya. Pertama, kunci pintu. Rumahnya harus selalu dikunci dobel-dobel. Kuncinya pun disembunyikan di tempat tertentu. Pintu utama rumah terdiri dari dua pintu besi yang harus dikunci plus digembok. Naik ke lantai dua, ada dua pintu besi lagi yang harus dikunci, plus gembok rantai. Kamar anak-anaknya yang saya tebengi memiliki balkon pun ada dua pintu besi yang harus dikunci. Pokoknya ribet dah!

“Lah, kalau ada kebakaran, gue gimana keluarnya dong?” tanya saya ke suaminya setelah sadar betapa banyak pintu yang harus saya kunci. Saya pun diajak masuk ke kamarnya. Ada sebuah tombol emergency yang harus ditekan. “Kalau ada apa-apa, jangan ragu pencet tombol ini. Dalam lima menit, pasukan security dan pemadam kebakaran akan datang ke rumah untuk menyelamatkan kita,” terangnya. WOW! Berasa kayak di rumah James Bond! “Dalam lima menit, kamu harus keluar ke balkon kamarmu dan tunggu di sana. Don’t worry. You’ll be fine!”

Siaaap!

Dan dua hari itu saya punya waktu untuk jalan-jalan keliling kota Dar es Salaam dengan diantar taksi langganan. Saya pun ke Museum Nasional Tanzania, ke Wonder Workshop, ke pasar lukisan Tinga-Tinga, bahkan ke Coco Beach dan dugem di Maisha Club – yang mereka pun belum pernah sambangi! Yah begitulah, kadang perjalanan kita tergantung dengan siapa kita pergi atau tinggal.

Jadi mikir, apakah expat di Indonesia segitu ketat penjagaan keamanannya ya?

Read more
Honeymoon with myself in Zanzibar

Honeymoon with myself in Zanzibar

Kadang kita pengen ke suatu tempat hanya karena nama tempat tersebut terdengar eksotis di telinga. Seperti saya pengen ke Zanzibar. Nggak kebayang sebelumnya bahwa Zanzibar itu ternyata sebuah kepulauan di negara Tanzania, di timur benua Afrika. Bahkan merupakan tempat kelahiran Freddie Mercury, vokalis Queen!

Sebelum pergi, saya browsing penginapan di Pulau Zanzibar. Penginapan murah adanya di kota Stone Town tapi tampak mengerikan karena dekat dengan pelabuhan dengan jalan-jalan yang sempit dan gelap. Hostel cuma ada satu, itu pun sekamar berdua mixed gender – hii, apa nggak takut tergoda? Secara saya traveling sendirian, di Afrika pula, borju dikit nggak apa-apa lah. Jadi lah saya memutuskan untuk tinggal di hotel pinggir pantai. Asal dekat laut, I’d be happy meski sendirian.

Akhirnya dapatlah di sebuah hotel di Pantai Uroa seharga 40 USD sekamar sendiri di satu bungalow. Cukup mahal, tapi itu yang terbaik dari fasilitas yang disediakan karena ada kolam renang dan free WiFi. Pantainya pun bukan pantai turis yang banyak beach boys dan tukang jualan gengges, jadi bisa santai gugulingan pake bikini. Hotelnya cukup gede, ada 18 bungalow. Mayan bisa kenalan sama tamu-tamu lain.

Dari Dar es Salaam saya naik feri ke Zanzibar dan minta dijemput oleh supir hotel. Rupanya jaraknya jauh juga, sekitar sejam naik mobil. Mendekati Uroa, jalanan supersepi dan ada 2 hotel lain yang sudah tutup. Ebuset, jadi hotel saya ini tinggal satu-satunya yang buka! Sampai hotel, dikasih bungalow yang jauh dari resepsionis. Pas masuk kamar, lha listrik kok mati? Katanya, jam 18.00 baru akan dinyalakan genset. Karena gelap, saya nongkrong aja di restorannya yang luas. Lhaa, kok nggak ada orang lain? “Am I the only guest here?” tanya saya. “Yes,” jawab mas resepsionis. Haa? Jadiii… saya satu-satunya tamu di satu-satunya hotel di daerah sepi ini?! Maksudnya sih mau menyepi, tapi ini kebangetan!

Sehotel searea sendirian!

Sehotel searea sendirian!

Sialnya WiFi gratis itu cuman bisa diakses di lobi hotel. Karena saya satu-satunya tamu, router-nya saya paksa bawa ke kamar – mayan untuk maen hape. Ehh, pas jam 22.00 WiFi mati! Lhaa? Mati gaya deh! Belum ngantuk gini ngapain di tempat supersepi begini? Suara terdengar cuman dengungan nyamuk dan deburan ombak. Area hotel tidak berpagar dan gelap. Satpam kagak ada. Resepsionis cuman seorang, jauh pula dari kamar. Kalau saya dirampok atau diculik, nggak bakal ada yang dengar. Mulai deh saya parno. Ini Afrika, bung! Saya pun berdoa, baca Alkitab, berkali-kali mengunci pintu, bahkan menghalangi pintu dengan kursi, dan pegang pepper spray. Rasanya saya pengen malam itu cepat berakhir. Hiy!

Saya terbangun dengan bersyukur, ternyata semalaman aman terkendali. Seharian saya pun hepi-hepi berjemur dan berenang di kolam renang dan laut sampe gosong. Pantai Uroa ini memang cantik! Pasirnya putih, teksturnya halus kayak bedak. Pantainya pun landai tak berkarang dengan air laut berwarna turquoise. Mana bersih lagi, sama sekali nggak ada sampah. Sesekali para wanita lokal yang berjilbab warna ngejreng lewat sambil membawa ember berisi rumput laut di atas kepala mereka. Selain mereka, tidak ada siapa pun. Serasa pantai pribadi banget. Yay, I’m having honeymoon with myself!

Depan hotel

Depan hotel

Sore balik ke kamar, saya mau mandi. Udah telanjang, buka kran… lha, air mati! Apa-apaan ini? Saya pun berlari ke resepsion dengan hanya berbalut handuk – mumpung nggak ada siapa-siapa. Pas lagi nyap-nyap komplen ke resepsionis, eh datanglah dua mobil gerombolan cowok lokal yang mau makan di restoran! KWAK KWAAAW! Mata mereka langsung melotot. Saya seperti mau dimakan hidup-hidup! Saya buru-buru lari ngebut ke kamar dan berharap handuk nggak melorot.

Sejam berlalu air belum nyala juga. Saya masih handukan dengan badan lengket dan diserbu nyamuk. Setengah jam kemudian datanglah staf hotel membawa dua ember berisi air. “I’m sorry, madam. The water is off. Something wrong with the plumbing. We’re calling the technician,” katanya. Huh! Baru telepon? Ini gimana mau keramas? Belum air untuk nyiram boker. Arrrgh!

Sehabis mandi ipik-ipik, saya makan malam sendiri lagi di restoran. Katanya air sudah nyala, tapi WiFi masih mati. Alasannya jaringan provider-nya lagi gangguan. Saya yakin sih mereka malas aja ngisi pulsa. Daripada bete di kamar sendiri, saya pun ngobrol sama para staf hotel.

Penduduk Zanzibar 99% Muslim. Kalau menyapa orang, bukannya “jambo” (“halo” dalam bahasa Swahili) tapi “Assalammualaikum”. Tentu saya lancar ngomong begitu – yang membuat mereka kagum karena saya dianggap fasih bahasa Swahili. “It’s Arabic,” kata saya. “No, it’s Swahili!” jawab mereka. Terserah deh, nek! Mungkin karena itu lah mereka hormat dengan orang Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, sekaligus heran kenapa saya bukan Muslim.

Menariknya, seorang staf bernama Hamadi meminta saya menerjemahkan sepatah lagu berbahasa Indonesia yang selalu diputar di masjid desa Uroa setiap habis sholat Jumat. Dia pun bernyanyi terbata-bata, “Hai kalian, kaum wanita yang menderita…” HAH? Beneran bahasa Indonesia! Lagu apaan tuh? Iramanya seperti kasidah, tapi kenapa kata-katanya begitu? Dan kenapa diputar di masjid? Setelah saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Hamadi tambah bingung dan bertanya, “So what’s wrong with the women in Indonesia?” Waduh, kalau nggak lengkap kalimatnya ya susah. Tapi saya jadi ngikik sendiri. Jangan-jangan itu lagu dangdut!

Hari-hari selanjutnya saya nggak parno lagi dan survived hidup tanpa internet. Makanan enak sesuai request karena semua staf hanya melayani saya seorang. Masalah air teratasi. Listrik dinyalakan 24 jam. Plus, dikasih semprotan nyamuk – yang ternyata made in Indonesia. Selain berenang dan jalan-jalan, setiap hari saya nongkrong bareng dengan para staf hotel. Malah saya sempat main ke rumah keluarga mereka di desa Uroa. Saya pun jadi belajar bahasa Swahili gratis.

Hari terakhir saya mau terbang ke Arusha dan minta diantar ke bandara. Lho, kok yang nganter sekeluarga supir? Segitu merasa akrabnya kah mereka? Supir berkata, “I’m sorry, madam. My daughter just delivered a baby. We’re all going to the hospital in town after taking you to the airport!” Saya pun tersenyum dan berkata, “Hakuna matata, kaka!” (artinya “No problem, bro!”).

P.S. Mungkin saya harus pergi ke tempat lain yang juga terdengar eksotis; Timbuktu. Apa ya yang akan terjadi di sana? :)

Read more
Dugem di Afrika!

Dugem di Afrika!

Pada dasarnya saya nggak suka sudah pensiun dari dugem. Apalagi pas traveling – sendiri pula. Udah harus keluar duit ekstra karena saya minumnya banyak, kudu mikir transportasi yang jadinya mahal karena pulang pagi berarti kudu naik taksi, belum lagi mikir keselamatan diri. Pas rencana mau traveling ke Afrika sendiri, saya nggak mikir akan pergi dugem. Eh, tau-tau ada aja yang ngajak!

Pas malam Minggu di Seychelles, seorang jurnalis cewek AS ngajak dugem dan janjian ketemu di lobi Hotel Savoy jam 22.30. Nggak taunya ada 5 jurnalis lain yang diajak juga. Hore, the more the merrier! Liat di GPS, club-nya bisa dicapai dengan jalan kaki lewat pantai. Ternyata jalannya tak semudah itu. Udah gelap, banyak anjing liar, harus melewati sungai dan tembus segala, sehingga kami harus nyeker dan kemringet.

Club-nya bernama Tequila Boom. Di sana kami ketemu lagi sesama jurnalis, sehingga kami berjumlah 10 orang. Si cewek AS ini rupanya tajir, dia mentraktir saya minum tequila berkali-kali, di luar berbotol-botol bir yang saya beli (dan dibeliin cowok. #ehm). Makin malam, club yang tidak begitu luas ini makin penuh sesak. Musiknya hip hop Amerika. Orang lokal yang bodinya gede-gede berbaju serba kekurangan bahan. Mana jogetnya egol-egol pantat sehingga tambah sumpek, jadinya kami nongkrong di bar luar. Berjam-jam kemudian kami pulang ke hotel berjalan kaki yang rasanya tambah jauh karena kami sudah tipsy. Malam pagi itu diakhiri dengan nyebur rame-rame di kolam renang hotel!

Besok malamnya, seorang jurnalis Brasil mengundang beach party tim karnaval Brasil dalam rangka perayaan kemenangannya pada Carnaval International de Victoria. Grup hura-hura kemarin pun segera beranjak. Karena kelamaan minum-minum dulu di bar hotel, rupanya pesta Brasil udah kelar. Eh tapi kok masih kedengeran suara perkusi di pantai yang lebih jauh. Rupanya pesta yang sama diadakan oleh tim karnaval Mauritius yang juga menang. Bersama tim Brasil, mereka bergantian menabuh alat-alat perkusi sambil bernyanyi dengan beat cepat. Wih, serasa pesta adat suku terasing! Kami pun ikutan joget lompat-lompat ga keruan!

Belum puas, kami pergi ke Tequila Boom, eh ternyata Minggu tutup! Balik lagi ke pantai, pesta sudah bubar. Tapi kok masih kedengeran suara musik hip hop dari tape di lobi hotel sebelah. Ternyata tim Mauritius itu lanjut berpesta bersama tim Notting Hill dari Inggris! Kami pun ikutan gabung, berpesta lagi sampai bar hotel tutup dan terpaksa harus membeli minum di Casino. Jam 4.00 pagi, anak-anak itu rame-rame nyebur ke laut dan kami pun pulang.

Seminggu sesudahnya, saya berada di Dar es Salaam, ibu kota Tanzania. Denger nama kotanya aja udah bikin serem. Boro-boro mau dugem, jalan kaki sendiri di siang bolong aja pasti kena jambret katanya. Siang harinya saya kenalan sama cowok lokal, nggak taunya dia ngajak dugem di New Maisha Club. Katanya akan dijemput jam 23.30. Say what? Jam bobo banget! Saya benar-benar ketiduran pas dia datang menjemput.

Club ini luas. Ada area semi outdoor dengan bar, kursi, meja, dan biliard di mana orang nongkrong dulu minum-minum. Tiket masuk club seharga 10.000 Shilling (sekitar Rp 75.000,-) tidak termasuk minum. Interiornya luas dan bertingkat dua. Di tengahnya dance floor dengan lantai kaca yang menyala berwarna-warni, plus lampu sorot dan laser. Orang lokalnya, baik cowok maupun cewek, berpakaian ala hip hop dengan celana kedodoran, topi baseball, dan sepatu keds. Beda banget dengan para PSK yang pake hot pants dan tank top keliatan udel! Awalnya dipasang lagu-lagu jadul, lagu dance tahun 1980-1990an Amerika. Lalu berganti jadi lagu hip hop Amerika, dan akhirnya lagu hip hop Tanzania berbahasa Swahili! Orang pun makin ramai memenuhi lantai. Dasar ya ras item itu emang diciptakan jago joget, mereka gayanya asyik banget – macam nonton film Step Up! Jam 2 pagi, lagu berganti jadi lagu Bollywood. Orang Tanzania keturunan India pun turun dengan gaya joget berantakan. Awalnya lucu, lama-lama bosan dan saya pun pulang.

Seminggu kemudian saya berada di Arusha, kota kecil di utara Tanzania. Malam itu saya makan malam bersama guide safari saya dari The Story of Africa. Karena kangen makan babi, saya diajak makan Kitimoto Choma (artinya “babi panggang” dalam bahasa Swahili) di warung pinggir jalan. Lucunya, kami duduk di sebuah bar bernama Sarafina. Ruangannya cukup luas tapi gelap. Cahaya lampu hanya berasal dari bar yang tertutup jeruji besi! Pengunjungnya pun sebagian besar geng lelaki. Widih, ghetto banget! Lalu datanglah si mbak warung bawa teko, sabun cair dan baskom. Maksudnya? Oh untuk cuci tangan sebelum makan! Anyway, Kitimoto ini enaknya luar biasa! Babi dan bir itu emang paduan yang cocok banget. Abis makan, kami menghabiskan malam dengan minum bir di bar gelap gulita sambil ditemani musik hip hop Swahili. Maisha marefu*!

Bar di Arusha

Bar di Arusha

*Cheers! dalam bahasa Swahili, yang arti harfiahnya “hidup lama” (long live). #ironis

Read more
Seksinya Karnaval di Seychelles!

Seksinya Karnaval di Seychelles!

Seychelles (dibaca: Sey-Syels), negara kepulauan di Afrika ini hanyalah berpenduduk 90.000 orang saja, tapi mereka punya event yang terkenal seantero dunia, yaitu Carnaval International de Victoria. Bertempat di ibu kotanya Victoria, pada 24-26 April 2015 ini adalah tahun kelima diadakannya karnaval. Setiap karnaval, negara itu dibanjiri oleh turis asing dari seluruh dunia, baik sebagai peserta karnaval maupun penonton. Saya pun mendapat kehormatan sebagai satu-satunya orang Indonesia dari antara 109 orang jurnalis dunia yang diundang untuk meliput karnaval ini. #bangga

Hari pertama merupakan malam pembukaan yang diadakan di stadion Stad Popiler. Presiden Seychelles, tamu kehormatan Raja Ghana dan Puteri Mahkota Swaziland, serta para pejabat memberikan sambutannya di atas panggung. “Look at the carnival a small country like Seychelles can stage for the world as large,” kata Alain St. Ange, Menteri Pariwisata dan Budaya Seychelles. Ih, hebat ya?

King of Ghana speech

King of Ghana speech

Lalu panggung dibuka dengan penampilan penyanyi-penyanyi ibu kota yang diiringi band lokal. Mereka juga menampilkan pemenang lomba lagu bertema karnaval 2015. Oya, lagu-lagunya berbahasa Creole. Beberapa negara peserta pun tampil di panggung dalam bentuk musik dan tarian tradisional.

Indonesia yang diwakili oleh tim dari Kepulauan Nias menampilkan tari dan nyanyi. Setelah penampilan live dari tiap negara, eh Indonesia penyanyinya lipsync! Ditambah lagi musiknya mendem, masih mono kualitas kaset gitu. Namun tarian yang ditampilkan oleh 10 penari sih bagus. Saya menggila sendiri teriak-teriak menyemangati tim Indonesia dari bawah panggung!

Setelah semalaman ada pesta rakyat, hari kedua merupakan puncak acara. Jalan-jalan utama di Kota Victoria ditutup, praktis senegara berhenti beroperasi karena hampir semua warganya tumpah ruah ke jalan. Mulai siang hari turun hujan deras, abis itu cuaca menjadi superpanas dan sangat lembap. Acara yang seharusnya mulai jam 15.00 molor 1,5 jam. Ada 60 tim, termasuk tim dari 20 negara asing, menggunakan float (kendaraan hias) berparade di jalan mulai dari Bois de Rose Avenue sampai Orion Mall.

Tim pertama adalah marching band lokal mengiringi para petinggi Seychelles. Lalu muncul lah float yang paling unik berupa giant tortoise (kura-kura raksasa khas Seychelles) yang dinaiki oleh para pemenang kontes beauty pageant dunia, yaitu Miss Seychelles, Miss Tanzania, Miss Australia dan Miss USA.

Miss Seychelles etc

Miss Seychelles etc

Puluhan float dengan sound system menggelegar lewat satu per satu. Di depan tenda VIP mereka memperagakan tarian dan/atau nyanyian selama 5 menit. Tim lokal, mulai dari sekolah, tempat fitness, hotel, sampai perusahaan konstruksi joget-joget seksi diriingi lagu hip hop Amerika. Tim yang terdiri dari sejumlah penari dan penyanyi itu berpakaian minim, mungkin karena negaranya panas. Banyak wanita yang hanya memakai bikini berwarna ngejreng dan pria bertelanjang dada, tak peduli bentuk  bodinya gimana. Makin minim bajunya, penonton makin bersorak!

Salah satu tim lokal Seychelles

Salah satu tim lokal Seychelles

Negara-negara asing pun menampilkan float sesuai dengan budaya masing-masing. Negara-negara Afrika menurut saya paling unik, ya karena saya jarang melihat budaya mereka. Swaziland, Zambia, Kenya dengan pria-pria ras hitam bertelanjang dada menari dan bernyanyi menghentak-hentak itu seksi banget! Bodi mereka emang kayak dipahat aja! #salahfokus

Tim Swaziland bersiap sebelum tampil

Tim Swaziland bersiap sebelum tampil

Peserta dari negara Asia lah yang paling tertutup bajunya dari ujung kepala sampai kaki! Kelihatan sih mereka lodoh keringetan. Tiongkok dengan pasukan kungfu, Korea Selatan dengan tim martial arts diiringi lagu boy band, Kamboja dengan tarian tradisionalnya yang slow, India dengan tarian muter-muter beat cepat. Tapi float mereka saya akui bagus dan dipikirin detailnya.

Cambodian float

Cambodian float

Tim Indonesia naik dua float yang dihias dengan rumah tradisional Nias dibalut spanduk digital print yang kurang rapi. Mereka menampilkan tarian dan… atraksi lompat batu! Batunya sih artifisial, tapi tiga cowok Nias itu sambil nyeker di aspal bisa lompat setinggi 2 meter itu keren banget! Para penonton berkali-kali bilang “WOW!” sampai saya merinding!

Tim Indonesia!

Tim Indonesia!

Yang biasa-biasa aja malah tim negara barat. Maklum mereka kurang kaya budayanya. Contohnya Spanyol menampilkan kwartet pegitar yang nyanyi lagu jadul Macarena dan Jerman menampilkan tim semacam cheer leaders. Paling parah tim Italia. Mereka menampilkan tokoh-tokoh superhero dan kartun, mulai dari Batman, Spiderman, Lara Croft, sampai Minion dan Mickey Mouse! What’s so Italian about that huh?

Di penghujung iringan float, penonton kembali heboh karena melihat tim Brasil. Kebayang kan kostum karnaval samba mereka? Yep, yang cewek pake topi bulu-bulu tinggi sih, tapi kostumnya cuman nutupin puting dan anunya, sementara toket dan pantat mereka telanjang! Wohooo! Masyarakat menggila rebutan motret, sampe saya kelelep.

Float terakhir adalah tim Notting Hill dari Inggris yang paling keren menurut saya. Maklum, mereka adalah grup spesialisasi karnaval. Emang paling niat dari segi kostum, musik, dan atraksinya – yang sampai ada tim sepeda motor menggilas orang tiduran! Sayangnya hari sudah gelap, jadi hasil foto pun ancur. Acara karnaval pun ditutup dengan pesta rakyat semalam suntuk berupa live band dan DJ di Freedom Square dan Waterfront.

Hari terakhir pada 26 Maret 2015 yang diadakan di Freedom Square berupa karnaval khusus anak-anak dan keluarga, serta festival kuliner lokal. Di panggung utama ditampilkan acara hiburan dari pesulap dan band lokal, dan penampilan dari beberapa negara peserta – termasuk tim Brasil yang bikin heboh!

Tim Brasil!

Tim Brasil!

Sorenya diumumkanlah para pemenang karnaval oleh Menbudpar Seychelles. Ada 4 kategori, yaitu Best School Float, Best Local Float, Best Cultural Float, dan Best International Float. Kamboja memenangkan juara kedua kategori Best Cultural Float. Sedangkan untuk Best International Float juara ketiganya adalah Mauritius, juara keduanya adalah Brasil, dan juara pertamanya adalah Notting Hill dari Inggris. Sudah ketebak sih.

Indonesia nggak menang apa-apa, tapi seharusnya sih kita bisa lebih baik. PR selanjutnya, kapan dong Indonesia bikin karnaval yang bertaraf internasional? Eh tapi harus pake baju tertutup ya? Negara-negara selain Asia nggak boleh ikutan dong! :)

Read more
The Extraordinary Flores!

The Extraordinary Flores!

Sebagian besar orang yang sudah pernah ke Flores di Nusa Tenggara Timur, tapi seringnya cuman sampe Labuan Bajo dan Komodo. Saya juga begitu. Padahal Flores merupakan pulau yang luasnya nyaris 2,5 kali lebih besar daripada Bali. Sebenarnya setelah Komodo, saya pengen ke Danau Kelimutu. Sayangnya pada April 2015 jalannya lagi longsor sehingga tidak memungkinkan dilalui. Akhirnya saya hanya main di bagian tengah Flores aja dalam waktu 4 hari.

Saya terbang dari Denpasar menuju Ende naik pesawat Garuda Indonesia, dengan transit di Labuan Bajo sebentar. Nama Ende dulu saya dengar karena Soekarno pernah dibuang oleh Belanda ke sana. Ternyata rumah bekas tempat tinggalnya masih ada dan dijadikan museum. Rumah berkamar tiga ini pernah ditanggali Soekarno bersama Ibu Inggit pada tahun 1934-1938. Furniturnya masih terpelihara dengan baik, bahkan tapak tangan Soekarno saat sujud aja masih ada di musholanya.

Soekarno's House

Soekarno’s House

Yang lebih hebat lagi adalah Taman Renungan Pancasila yang terletak 100 meter dari rumah tersebut. Tau nggak kalo Pancasila itu dirumuskan oleh Soekarno di bawah pohon sukun di situ? Dulu Soekarno mandangin sukun yang bersegi lima itu, merenungi, dan akhirnya kita semua hapal luar kepala kelima sila Pancasila. Saat ini sekelilingnya telah dijadikan taman kota dan ada patung Soekarno sedang duduk.

Sekitar setengah jam dari Ende, saya mampir ke Blue Stone Beach. Aslinya bernama Pantai Penggajawa, entah kenapa namanya berubah meski saya setuju karena namanya menjelaskan tempatnya. Ya, pantai tersebut penuh bebatuan berwarna gradasi biru! Ajaib bener! Terlihat beberapa penduduk lokal mengumpulkan bebatuan tersebut untuk dijual, konon sampai ke Jepang.

Blue Stone Beach

Blue Stone Beach

Menjelang malam, saya tiba di Riung, desa nelayan yang terletak di utara Pulau Flores. Saya menginap di Pondok SVD, sebuah hotel kecil yang dikelola oleh gereja Katolik. Keesokan paginya dengan menyewa boat, saya menyelusuri Taman Laut Riung 17 Pulau. Sebenarnya sih jumlah pulaunya ada 24 buah, namun karena 17 merupakan angka “keramat” maka penduduk setempat menyebutnya 17.

Pertama saya mampir ke Pulau Kalong atau Flying Fox Island. Saya pikir yah cuma beberapa aja kelelawarnya, ternyata ada ratusan bahkan ribuan. Kelelawar tersebut tidur terbalik pada ranting pepohonan dengan krukupan “jubah” hitam persis kayak Batman.

Setelah snorkeling di Pulau Tiga, saya ke Pulau Rutong yang tak berpenghuni. Widih, pantainya adalah salah satu yang terbaik di Indonesia untuk berenang versi saya! Airnya bening, pasirnya putih halus, pantainya landai tak berkarang dan tak berbatu, sehingga serasa berenang di kolam renang. Di belakangnya terdapat bukit yang bisa dinaiki, tapi mana mau saya manjat-manjat gitu.. mending puas-puasin berenang! Makan siang pun tinggal bakar ikan. Nikmat bener!

Rutong Beach

Rutong Beach

Sore harinya perjalanan menuju Bajawa. Sebenarnya jarak Riung-Bajawa cuman 72 km. Kalau jalan aspal mulus yah kira-kira 2 jam lah, tapi karena jalannya sempit dan agak rusak maka ditempuh dalam waktu 4-5 jam! Untungnya pemandangan keren; bukit-bukitnya kayak di film seri Teletubbies!

Between Riung and Bajawa

Between Riung and Bajawa

Sampai di Bajawa saya langsung pake jaket. Maklum, kotanya terletak di ketinggian 1.100 mdpl. Habis panas-panasan di laut, langsung terasa dinginnya udara pegunungan. Keesokan subuh, saya ke bukit Wolobolo untuk melihat matahari terbit. Dari atas bukit langsung dapat terlihat dua gunung yaitu Gunung Inerie dan Gunung Ebulobo. Warna langit yang bergradasi kuning dan merah menyembul dari gunung emang gila kerennya!

Kelar sarapan, saya berkunjung ke Desa Bena . Desa ini paling terkenal di antara para wisatawan karena paling tourist friendly; penduduknya yang sadar wisata, bisa beli langsung tenun ikatnya, dan tersedia toilet umum yang bersih. Desa megalitikum sejak 1200 tahun yang lalu ini terdiri dari 45 rumah beratap tinggi serta beberapa bangunan simbolis adat dan tumpukan batu yang merupakan makam. Di atas bukit terdapat Gua Maria yang juga merupakan view point memandang desa yang dikelilingi pegunungan ini.

Bena Village

Bena Village

Dari situ saya ke Malanage Hot Spring di tengah hutan. Biasanya kan hot spring adanya di kolam, nah yang ini ada di sungai. Uniknya, ada dua aliran air, yaitu air panas yang mengandung sulfur berasal dari Gunung Inerie dan air superdingin dari mata air. Kedua aliran itu bersatu di sebuah sungai! Berendamnya sih harus milih tempat agar suhu airnya pas hangat.

Siangnya saya ke Desa Gurusina untuk makan siang; ikan kuah kuning, ayam goreng, sayur, nasi, singkong rebus, sambal.. ah, nikmat! Desa ini meski di tanah yang rata namun dikelilingi perbukitan hijau. Biasanya wisatawan trekking dari Desa Bena ke sini, cuman saya malas karena bisa naik mobil juga kok :)

Sebelum kembali ke Ende, saya mampir ke Papa Wiu untuk melihat secara langsung proses pembuatan kopi mulai dipetik sampai jadi bubuk. Bajawa memang terkenal akan kopi Arabikanya yang premium. Sore itu saya pun ngopi dan membeli kopinya sebagai oleh-oleh.

Liburan singkat di Flores ini membuat saya makin cinta alam dan budaya Indonesia. Destinasi Flores pun komplit; mulai dari museum, desa adat, perkebunan kopi, hot spring, gunung, sampai pantai yang kece! Benar-benar Flores itu extraordinary!

TIPS

Info lengkap tentang destinasi wisata di Flores, silakan cek FloresTourism.com.

Read more