Travel

Kencan Online di Eropa

Kencan Online di Eropa

Warning: Untuk 17 tahun ke atas

Sebagai jomblo akut, saya disarankan oleh seorang teman cewek untuk menggunakan aplikasi online dating (bahasa Indonesianya “kencan daring”). Saya langsung antipati karena dulu pernah menggunakan dan hasilnya gagal total. Kata teman saya, zaman now itu berbeda. “Orang seumuran kita itu sekarang susah dapet jodoh. Semuanya sibuk, hidup cuman rumah-kantor-rumah, mau keluar malas karena udah capek macet dan sebagainya. Gimana mau ketemu orang baru?” jelasnya. Bukannya isinya cuman cari teman tidur? “Ih, dicoba aja dulu. Buktinya gue berhasil punya pacar. Malah ada beberapa temen gue yang merit gara-gara online dating lho!” tambahnya lagi.

Ya udah sih. Nothing to lose. Saya pun diajarin cara-caranya dan disuruh registrasi. Tentu saya memalsukan nama dan umur, serta pasang foto yang tidak jelas. Malu, bo!

Sampe rumah, saya coba… eh kok cowok-cowoknya bikin ill feel! Bisa-bisanya foto profil bareng anak-istrinya, atau bionya ditulis “ada dech!” (pake ejaan d-e-c-h). Ewww! Dan yang bikin panik, saya ketemu profil familiar: sepupu sendiri, temen yang udah nikah dan saya kenal istrinya, dan mantan bos! Waduh! Saya pun memutuskan untuk menggunakan aplikasi kencan ini pas saya traveling di Eropa selama dua bulan pada 2016.

FYI, aplikasi kencan ini cara kerjanya adalah kita menggeser profil ke kanan bila suka dan menggeser ke kiri bila tidak suka. Kalau match, berarti kedua belah pihak sama-sama geser kanan alias sama-sama suka, baru bisa saling berhubungan via in-app chat. Dalam eksperimen ini saya menggunakan istilah “success rate” yang berarti persentase kesuksesan match dari total yang saya geser kanan.

Pertama saya coba di beberapa kota di Portugal. Wih, cowok-cowok sana emang banyak yang tipe saya. Ganteng-ganteng amat! Success rate: 50%. Begitu match, sebagian besar langsung kirim pesan ke saya di chat. Tapi akhirnya saya tidak menemui satu orang pun, karena ternyata saya malah dapat kencan di kehidupan nyata sama seorang cowok di Porto. Ehm!

Di Prancis saya cuma tinggal di Paris selama 3 malam. Cowok-cowoknya paling kece, tapi zero success rate alias nggak ada satupun laki yang geser kanan ke profil saya. Sialan!

Berbanding terbalik, di Iceland success rate-nya 100%! Semua yang saya geser kanan menggeser kanan juga, artinya semua match! Semua pick up line-nya sopan dan menyenangkan. Semua mengajak kencan. Bahkan ada yang tinggal di luar kota pun bela-belain mau terbang untuk menemui saya! Saya jadi bingung karena begitu banyak yang mengajak kencan, tapi saya takut! Udah sepi, gelap, transportasi umum jarang, ntar kalau dibunuh dan mayat saya nggak ditemukan gimana? Belakangan saya baru tahu bahwa di Iceland memang “kering” soal perjodohan. Karena penduduknya sedikit, kebanyakan mereka saling berhubungan saudara. Bahkan konon mereka punya aplikasi sendiri yang bisa mengetes apakah mereka sedarah!

Sampai di Belanda, saya rajin main aplikasi kencan daring ini. Ternyata di Belanda success rate hanya 25%. Cuma 3 cowok yang mengirim chat: 1 cowok yang dengan jelas langsung mengajak tidur, 1 cowok yang ribet masalah ketemuan di mana, dan 1 cowok lagi yang tetap sopan.

Yang sopan ini bertampang dan bernama Indonesia. Kali aja expat Indonesia yang kerja di Amsterdam, pikir saya. Setelah bolak-balik chat, akhirnya kami akan berkencan dengan makan siang di sebuah restoran dekat kantornya. Wah, ini kencan daring pertama saya! Cowok itu ternyata pemalu dan kikuk. Kami mengobrol dalam bahasa Inggris, tapi begitu sesekali saya ngobrol dalam bahasa Indonesia kok dia terbata-bata. Ternyata… dia orang Suriname! Maka selanjutnya kami pun ngobrol dalam bahasa Jawa ngoko. Hahaha! Anyway, kencan cuman sampai situ aja sih. Abis makan, pulang, dan nggak ada kelanjutannya lagi. The chemistry was not there.

Pindah ke Belgia, saya tinggal di Leuven, sebuah kota kecil yang 80% isinya mahasiswa. Agak malas main aplikasi kencan itu karena isinya dedek-dedek, malasnya lagi kalau ternyata dia kenal sama sepupu saya. Jadilah selama hampir seminggu saya non aktif. Sampai saya berkenalan dengan mahasiswi Indonesia yang juga pengguna aplikasi kencan yang sama. Katanya cowok-cowok di Leuven justru buas-buas! Lha, bukannya dedek-dedek isinya? “Cari yang anak kantoran karena cukup banyak orang yang tinggal di Leuven dan bekerja di Brussels karena Leuven lebih murah biaya hidupnya,” katanya. Maka malam terakhir saya buka aplikasi dan mulai geser-geser kanan. Success rate-nya 25%. Bener aja, semua langsung mengajak tidur, kecuali seorang cowok ganteng dan sopan yang saya lanjutkan.

Karena malam itu nggak ada yang buka di Leuven, si cowok ngajak nongkrong di apartemennya yang berjarak 1 km dari apartemen sepupu saya. Bisa benerrr! Eh tapi males banget malem-malem jalan kaki sendiri! Lalu dia berinisiatif menjemput pake mobilnya. Ya udah lah, saya pasrah aja, penasaran juga akan jadi gimana. Di mobil dia lagi denger siaran pertandingan sepak bola antara klub Leuven vs Porto. Sampai di apartemennya, kami melanjutkan nonton pertandingan di TV. Saya tentu membela Porto karena kipernya Iker Casillas. Si cowok sampe heran dengan pengetahuan saya tentang persepakbolaan dunia. Singkat cerita, Leuven kalah. Dia bete banget dan berkata, “Maaf, gue kesel banget. Nothing personal, but I’d better drop you home”. Lha? That’s it! Saya pulang nggak diapa-apain. Hahaha!

Di Swiss tak banyak yang saya geser kanan karena muka cowok-cowoknya kok pucat dan kurang bergairah. Success rate hanya 5%. Cuman ada 1 cowok yang chat, itu pun pemalas gitu, jadi saya juga cuek aja. Belakangan saya juga baru tahu bahwa cowok Swis memang pasif dan tidak hangat. Pantes nggak match!

Negara terakhir trip Eropa saya adalah Italia, gudangnya cowok ganteng. Gayung bersambut, success rate: 75%! Hampir semuanya pun langsung kirim chat duluan. Sayangnya sebagian chat terpaksa berhenti saat mereka nggak bisa bahasa Inggris! Di utara Italia tidak ada yang saya temui karena saya nemu kencan di kehidupan nyata. Di selatan Italia, tepatnya di Napoli, dalam sejam aja langsung dapet banyak, padahal saya tiba di hotel sekitar jam 11 malam. Oke, ini negara terakhir saya akan menggunakan kencan daring. Apapun yang terjadi, terjadi lah.

Sebagian besar yang chat langsung menuju ke arah “situ” sampai saya jadi ngeri sendiri. Kecuali 1 cowok yang bahasa Inggrisnya lumayan dan bahasanya sopan. Udah kayak iming-iming ala sales, dia bilang, “Gue samperin ya? Kita ngobrol aja dulu, ntar kalo cocok baru lanjut.” Saya iyain aja. Tak lama kemudian dia bilang, “Kamu keluar balkon deh. Mobil saya yang hitam.” Saya nongol keluar dan si cowok itu melambaikan tangan. Udah ganteng, mobilnya mewah pula! Saya pun menemuinya dan kami ngobrol di dalam mobilnya. “Aduh, di pinggir jalan gini nggak boleh parkir lama-lama. Gimana kalau gue parkir di tempat lain, trus kita lanjut ngobrol di kamar hotel lo?”  Eisyeileeh, bisa bener! Kami pun pindah parkir dan berjalan kaki ke hotel saya. Sampai di resepsion, si cowok itu diminta kartu identitas diri. Seketika mukanya bete, ternyata nggak bawa kartu. Dia pun minta maaf dan pulang. Lha? Again!? Saya ngakak nggak berhenti karena lagi-lagi nggak terjadi apa-apa! 🙂

Kesimpulan: Pertama, aplikasi kencan daring ini memang untuk hook up dalam arti seksual, alias “satu malam berdiri”. Nggak ngerti gimana caranya orang bisa dapet jodoh dari aplikasi ini. Dari ‘bawah’ naik ke hati? Kedua, saya bukan selera bule kali sampe dilepeh tiga kali. Nasib ya nasib… balik lagi jadi jomblo akut! Hehehe!

Ada yang berani share pengalaman kencan daring di sini? Tinggalin di comment ya?

Read more
Hidup Dangdut!

Hidup Dangdut!

Tulisan ini bermula di Banda Naira. Suatu malam di kota kecil itu ada acara pesta pernikahan dengan dangdutan. Saya yang doyan ikutan acara-acara penduduk lokal tentu menyambut gembira dan ikutan joget. Tapi salah seorang teman saya yang anak Jakarta ternyata tidak bisa joget dangdut sama sekali! Maka saya pun memberikan kursus kilat kepadanya. Dia yang biasa joget di club dengan trance music ternyata mengalami kesulitan joget lebih slow, padahal dangdut kan cuma maju-mundur doang.

Saya jadi berusaha mengingat kembali, kapan pertama kali saya berjoget dangdut dan pada acara apa. Sebagai seorang yang bisa joget dan pede joget di tempat umum, rasanya saya nggak pake belajar joget dangdut. Rasanya tinggal ngikutin ketukannya aja. Pertama kali saya dangdutan (di depan umum) mungkin pas SD di acara pesta adat yang kadang disempili acara joget dangdut dan saya disempilin duit di jari. Selanjutnya joget di kawinan tetangga, acara kampus, pas KKN, dan sebagainya. Jadi joget dangdut udah kayak alamiah aja gitu. Yah mungkin karena saya ndeso.

Kembali ke Banda, pesta dangdut di kawinan itu dihadiri banyak orang. Pria dan wanita duduk terpisah. Begitu lagu mulai, otomatis mereka joget membentuk satu jejer – pria menghadap wanita. Lagu habis, orang duduk lagi. Begitu seterusnya. Pernah sampai lama duduk karena laptop DJ hang! Hehe! Suasananya kayak dangdutan di kawinan Wakatobi yang pernah saya datangi, hanya di sana lebih tertib; joget lebih beraturan, muka lebih lempeng, maju-mundur bareng di dalam satu jejer. Yang joget hanya ketika pria mengajak wanita, jadi pasti berpasangan.

Di Jakarta, pesta kawin rumahan sering ada pesta dangdut. Mungkin karena dulu saya tinggal di daerah pinggiran. Saat ini pun tinggal di (sebelah) kompleks kuburan Tanah Kusir, dangdutan masih eksis – bahkan dengan cueknya orang joget-joget di kuburan! Bahkan sejak kuburan telah dirombak jadi ruang umum, pesta dangdut semakin merajalela – dengan alasan kampanye politik sampai kawinan. Ya ampyun, saya sampe nggak bisa tidur karena berisik!

Terakhir pesta dangdutan ketika tetangga bikin pesta sunatan anaknya. Panggung dipasang di samping kuburan. Semalaman orkes dangdut dan beberapa penyanyi cewek menghibur warga. Saya jadi jengah karena para penyanyi yang pake baju ketat, belahan dada rendah, dan rok mini itu berjoget vulgar, sementara si anak yang disunat baru berusia 10 tahun bersama teman-teman sebayanya menonton! Gilanya lagi, sebagian bapak-bapak ‘nyawer’ (menyelipkan uang) kepada penyanyi di atas panggung sambil berjoget pake ngelaba ke penyanyinya! Ewww!

Lama-lama botol miras beredar di sekitar saya dan saya ditawari juga. Ih! Saya bertanya kepada pembokat saya, “Ini kapan gue joget dong?” Jawabnya, “Kalo mau joget ya harus naik panggung dan nyawer.” Lha, padahal hanya para pria yang nyawer yang bisa berjoget. Saya dan penonton di bawah hanya bisa cengo nonton – apanya yang menghibur coba? Nggak seru nggak bisa ikutan joget! Belakangan terjadilah adegan klasik: seorang bapak mabuk sedang berjoget mesra dengan penyanyi bahenol, tiba-tiba ada seorang ibu naik panggung dan menjewer si bapak nyuruh pulang! Jiaaah, tercyduk sama istrinya!

Saya jadi ingat dangdutan ala Peru di Iquitos. Malam minggu ada panggung di alun-alun kota yang genre musiknya disebut Cumbia. Mirip lah sama dangdut, jadi saya pun gampang aja ngikutinnya pas joget sama ratusan orang lokal. Pemain musik dan penyanyi mayoritas pria yang pake seragam baju jas putih. Gilanya, penyanyinya didampingi para penari latar yang berjoget memakai… bikini! Iya, cuman pake beha dan celana dalam berpayet-payet. Buset! Beberapa kota lainnya di Peru pun sering mengadakan pesta Cumbia gratis, jadi lumayan lah bagi saya ada hiburan dan olah raga dikit. Dua bulan di Peru saya memang sering mendengarkan lagu Cumbia diputar di mana-mana. Orang yang ngikutin juga sama kayak denger dangdut; mata merem-melek, kepala goyang-goyang, bibir digigit, jari jempol terangkat.

Seperti lagu Project Pop yang berjudul “Dangdut is the Music of my Country”, harusnya kita bangga dengan dangdut. Masih banyak dari kita gengsi joget atau bahkan hanya mendengar dangdut karena jaim takut dianggap seleranya kelas bawah. Padahal kalau kita bisa mengelevasi dangdut menjadi musik khas Indonesia, bisa jadi daya tarik bagi dunia luar. Siapa tahu bisa sekelas Salsa atau Tango yang dipelajari banyak orang di seluruh dunia di luar negara asalnya. Oke, itu lebay. Mungkin bisa jadi sekelas Cumbia yang jadi folk dance di negara-negara Amerika Latin, tanpa harus nyawer atau hanya bisa menonton doang.

Hidup dangdut!

Baidewei, lagu dangdut apa favoritmu? Sekarang sih saya lagi seneng denger “Sayang”-nya Via Vallen. 🙂
Sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku
Mengharap engkau kembali
Sayang, nganti memutih rambut ku
Ra bakal luntur tresno ku…

Read more
It’s Time for Taiwan!

It’s Time for Taiwan!

Setelah traveling seminggu di Taiwan pada April 2017, saya balik lagi November 2017! Di tulisan terdahulu saya bilang mau balik, eh kesampaian. Meski Taiwan luasnya hanya sekitar propinsi Jawa Tengah, namun banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Mantapnya, rata-rata kota di Taiwan berpantai dengan latar belakang pegunungan jadi kece. Cuacanya pun tropis, jadi tetap hangat meski saat musim winter. Dan yang terpenting, makanan enak-enak dan harga terjangkau! Saya suka Taiwan karena alasan ini.

Kunjungan saya kali ini temanya lebih ke budaya dan tidak mengulang kunjungan sebelumnya. Saya tinggal di ibukotanya, Taipei, dan day trip aja ke daerah Yingge, Jiufen dan Yilan. Akses transportasi publiknya pun mudah, bisa naik MRT, kereta, maupun bus. Jadi ini rekomendasinya;

Taipei

Longshan Temple – Salah satu kuil terbesar dan tertua di Taiwan ini dibangun pada 1738 oleh bangsa Cina yang pindah ke Taiwan. Kuil ini sangat populer karena konon kalau berdoa di sana, maka kemungkinan terkabulnya tinggi. Yang menarik, paling rame orang di “Dewa Cinta” (cupid god) karena banyak anak muda berdoa minta jodoh!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Ximending – Ini daerah shopping outdoor keren dengan lampu-lampu mentereng. Disebut sebagai “Harajuku-nya Taipei”, di sepanjang jalan pedestrian terdapat toko brand internasional maupun lokal, juga yang bertema Jepang. Ditambah lagi mal, restoran, dan kafe. Favorit saya adalah butik desainer lokal bernama “Mana” yang pakaiannya serba asimetris.

Christmasland – Setiap tahun tanggal 24 November sampai 1 Januari, halaman New Taipei City Hall berubah menjadi winter wonderland dengan pohon natal tertinggi se-Taiwan, lampu-lampu Natal dililit di seluruh area, pertunjukan musik dan animasi yang ditembak proyektor ke gedung-gedung, komidi putar dan Christmast Market. Meski penganut Nasrani hanya 4% dari total populasi Taiwan, tapi Natal memang perayaan global!

Yingge

Yingge adalah pusat produksi keramik di Taiwan. Di Yinggle Old Street saja terdapat lebih dari 800 toko keramik. Kalau penggemar keramik/porselen/tembikar, Anda bisa nggak pulang-pulang deh! Toko favorit saya adalah “Shu’s Pottery” karena desainnya bagus-bagus, dan di sana bisa sekalian belajar bikin tembikar dari tanah liat dengan alat yang diputar-putar gitu.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Jiufen

Jiufen Old Street – Jiufen dulunya hanya sebuah desa yang terisolasi karena nyempil di atas pegunungan menghadap Samudra Pasifik sampai ditemukannya emas oleh bangsa Jepang. Di sini lah terdapat jalan kecil terbuat dari cobblestone yang turun-naik. Di kanan-kirinya penuh dengan toko makanan, restoran, kafe, rumah teh, dan toko suvenir. Dari ujung ke ujung saya nyobain makanannya, favorit saya adalah (terjemahannya) fried taro balls, meatballs, dan peanut roll ice cream. O ya, Jiufen jadi sangat terkenal sama turis Jepang sejak film Studio Ghibli berjudul Spirited Away.

Gold Museum – Museum ini bukan khusus memamerkan hiasan emas, namun dulunya merupakan tempat penambangan emas pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940an. Gilanya, di sana dijadikan camp kerja paksa bagi para tawanan perang yang banyak mati karena disiksa! Di museum ini terdapat diorama dan display fakta-faktanya. Namun nggak usah ngeri karena museum ini open-air, artinya serba terbuka dengan pemandangan dahsyat dikelilingi pegunungan, salah satunya Mount Keelung. Display paling menarik adalah emas batangan terbesar di dunia seberat 220 kg dan kita bisa menyentuhnya!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Port of Keelung – Dari Jiufen, mending langsung turun ke Keelung. Keelung adalah tempat mendaratnya ekspedisi Spanyol ke Formosa pada abad ke-17. Meski kota di tepi pelabuhan, namun bersih sampai ke airnya. Night market-nya terkenal karena lebih tradisional daripada di Taipei. Yang jelas, Anda harus makan seafood-nya. Saya makan di Restoran Seafood di Chenggongyi Road yang terkenal dengan sashimi tersegar se-Taiwan. Sepiring aneka sashimi cuman sekitar Rp 90 ribu saja!

Yilan

Pinglin Tea Museum – Pinglin adalah daerah penghasil teh Pouchong. Di sana terdapat museum tentang sejarah dan budaya teh di Taiwan, mulai dari daun teh, mesin, perusahaan produksi, sampai peta ekspor. Favorit saya adalah koleksi di bagian packaging, karena ada sebagian teh tradisional Indonesia dipajang! Bangga deh!

Lanyang Museum – Museum dengan gedung miring ini didesain oleh arsitek terkenal Taiwan, Kris Yao, yang terisnpirasi dari tebing-tebing yang di sekitar Pantai Biguan. Isinya adalah segala macam tentang sejarah dan kekayaan alam daerah Yilan yang terbagi empat lantai, mulai dari “Ocean Level” sampai “Mountain Level”. Sungguh, arsitektur, desain interior dan display-nya bagus!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Waiao Beach – Pantai berpasir luas dan berombak cukup besar ini adalah tempat surfing populer di Taiwan yang biasanya dipenuhi expat bertelanjang dada. Sayangnya pas di sana, pas hujan deras jadi sepi. Jadilah saya nongkrong di kafe hits bernama “No. 9 Café at the Beach” sambil memandang Turtle Island dari kejauhan. Pantas dinamakan turtle, karena emang bentuknya mirip kura-kura.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Tangweigo Hot Spring Park – Di sini terletak pusat hot spring (sumber air panas alami) yang mengalir di taman yang asri. Hebatnya, disediakan kolam-kolam kecil untuk siapapun merendam kaki dan gratis! Kalau mau berendam seluruh badan ya harus ke tempat permandian hot spring khusus di dalam gedung berkayu. Tiketnya murah kok, cuman sekitar Rp 36 ribu saja. Saya tentu nyobain, dan ternyata modelnya kayak onsen di Jepang yang kudu telanjang bulat! Nggak ada pilihan mix gender sih, tapi saya cukup syok karena ternyata cewek-cewek Taiwan gondrong-gondrong! #eaaa

Nah, tunggu apa lagi? It’s #TimeForTaiwan!

Read more
Wisata dan makan enak di Madrid

Wisata dan makan enak di Madrid

Saya sudah pernah ke Spanyol, tapi entah kenapa saya melewatkan Madrid. Maka undangan dari Dwidaya Tour bekerja sama dengan Turismo Madrid dan Turkish Airlines untuk menjelajah Madrid pada 31 Oktober-5 November 2017 langsung saya konfirmasi. Asyiknya lagi, bareng pasangan seleb @DionWiyoko dan @FionaAnthony, serta selebgram @kadekarini.

Saat kami berkumpul di sebuah restoran di bandara Soekarno-Hatta, tau-tau koper saya udah nggak ada! Lupa kalau jalan bareng Dwidaya Tour semuanya diurusin jadi nggak usah pake mikir – koper kami tau-tau sudah dikasih bag tag, diangkat ke dalam, dan di-checkin-in! Abis itu kami dikasih SIM Card Eropa. Very well-prepared!

Penerbangan ke Madrid kami naik Turkish Airlines. Sering ke Eropa saya naik Turkish, tapi baru kali ini naik Business Class. Di Soekarno-Hatta, kami menunggu di lounge khusus dan lewat imigrasi khusus yang nggak pake antre. Kursi di business class beneran bisa jadi tempat tidur rata (flat bed) jadi bisa tidur gaya andalan: tengkurep. Makanannya enak dan berlimpah. Transit di Istanbul Ataturk Airport dapat lounge yang luas dan banyak pilihan makanan. Sekarang saya baru sadar bahwa saya nggak masalah terbang belasan bahkan puluhan jam, asal di business class! Hehe!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Siang hari kami tiba di Adolfo Suarez Madrid-Barajas, dijemput van dengan supir ganteng, langsung check in di hotel Eurostar Suites Mirasierra yang terletak di business district hanya 20 menit berkendara dari bandara. Namanya juga Suites, kamarnya gede – ada dapur, ruang makan dan ruang duduk segala.

Lagi lapar-laparnya kami makan siang khas Spanyol ala prasmanan di restoran Topolino, mulai dari paella, steak sampai dan tres de leche. Seorang guide lokal memandu kami jalan-jalan keliling pusat kota Madrid, mulai dari Puerta Del Sol, Plaza Mayor, Plaza de Espana, Cervantes Monument, sampai ke Cibeles Fountain yang dipakai untuk merayakan kemenangan klub sepak bola Real Madrid. Hari itu pas hari libur Dia de los Muertos, jadi penuh dengan orang lagi hangout atau menikmati musik jalanan. Orang Spanyol yang berkulit lebih kecoklatan dan rambut hitam memang sedap dipandang!

Saya paling suka ke Plaza de Toros de Las Ventas. Stadion bullfighting berkapasitas 25.000 kursi ini cakep banget karena berasitektur khas Moorish dengan dominasi warna tanah dan dilapisi keramik. Sangat Instagramable! Hari itu diakhiri dengan makan malam di restoran hits bernama Prada A Tope yang masuk Michelin Guide. Saya pesan pork chop dan bir lokal yang nikmat.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Keesokan harinya kami ke Royal Palace of Madrid. Istana keluarga kerajaan Spanyol ini merupakan yang terluas dari seluruh istana di Eropa, ruangannya aja ada 3.418! Furnitur, perabotan, alat makan, lukisan istana memang bikin menganga, mana tiap ruangan berdekorasi warna senada pula. Istana yang sangat cantik! Untungnya lagi, hari itu di lapangan sedang ada latihan pasukan kerajaan demi menyambut Perdana Menteri Israel jadi kami bisa menonton gratis baris-berbaris dan drum band.

Kami lanjut ke Buen Retiro Park untuk foto-foto karena Dwidaya menyediakan servis fotografer profesional dari @SweetEscape. Jadilah kami bergaya ala-ala di antara pepohonan berdaun kuning saat musim gugur! Di taman asri yang berdanau ini juga terdapat Palacio de Cristal, istana kristal dengan struktur kaca dan logam. Makan siang kami kali ini di Thaidy dengan makanan Thailand. Perut pengen makan nasi putih mengepul dan lauk berbumbu pedas ini pun terpuaskan!

Photo by @SweetEscape

Sorenya kami ke Santiago Bernabéu – stadion sepak bola markas tim sepak bola Real Madrid! Selalu senang akhirnya bisa mengunjungi tempat yang tadinya cuma liat di TV. Stadion berkapasitas 81.044 kursi ini emang gede banget, kami masuk dari jejeran kursi paling atas sehingga tampak ngeri melihat ke bawah. Kami juga ke tempat duduk para pemain sampai ke locker dan kamar mandinya! Aww, saya “sedekat” itu dengan Cristiano Ronaldo! Museum Real Madrid juga keren, berisi memorabilia para pemain dan sejarah kemenangan mereka di aneka kejuaraan dunia. Hala Madrid!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Karena masih ada waktu sebelum makan malam, saya mengusulkan untuk ke Primark – toko pakaian murah meriah, bahkan lebih murah daripada di Indonesia. Gilanya lagi, di Madrid toko ini gede banget sampai lima lantai! Setelah agak kalap belanja, kami pun makan malam gaul di Hard Rock Café Madrid sampe blenger karena apapun porsinya XXXL – pork ribs setengah kilo, es krim fudge seember!

Pagi-pagi pas sarapan di hotel eh kami ketemu José Mourinho, manager-nya Manchester United! Kadek langsung nyamperin minta foto bareng, dan beliau menjawab dengan muka jutek sambil mengacungkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri. Saya dan Dion pun melipir kabur! Atuuuuut! Tapi jadi mikir, ngapain doi sendirian di Madrid ya? Apa mau balik lagi ke Real Madrid? ?

Kami lalu mengunjungi San Lorenzo de El Escorial yang berjarak sekitar setengah jam dari Madrid. Kota kecil ini masuk ke dalam UNESCO Heritage Site karena dulunya merupakan tempat tinggal Raja Spanyol yang telah menjadi biara yang masih berfungsi – sayangnya interior tidak bisa difoto. Rupanya zaman dulu Raja dan Ratu tinggal terpisah meski di satu istana. Masing-masing punya sejumlah pelayan yang membantu mereka mulai dari membersihkan kotoran sampai mengangkat mereka saat berjalan – pantes aja mereka pada gemuk karena tidak bergerak! El Escorial juga merupakan makam Raja-Raja Spanyol sejak lima abad yang lalu. Makam mereka berada di bawah tanah, di dalam peti di dalam dinding! Hiyyy!!

Makan siang khas lokal di La Cueva Meson Taberna, restoran tertua di kota itu yang sudah beroperasi selama 50 tahun. Menu yang saya pilih: Candeal bread, Sopa Castellana, Chuletón de Ávila, dan Custard of the Inn. Para waiter-nya hanya bisa berbahasa Spanyol dan saya bangga jadi satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan mereka untuk order makanan. Ternyata #TNTrtw di Amerika Selatan ada hasilnya!

Lalu ke Las Rozas Village, salah satu Luxury Factory Outlet terbesar di Eropa dengan diskon sampai 60% dan bebas pajak. Brand-nya mulai dari Armani, Bulgari, Coach, Gucci, Furla, Michael Kors, Versace, sampai yang “sederhana” macam Timberland, Columbia, dan Camper (brand asal Spanyol, dibacanya “kamper” dengan e pepet). Keluar masuk toko doang aja saya menghabiskan 2 jam lebih!

Kembali ke pusat kota Madrid, kami ke Mercado de San Miguel. Namanya pasar, tapi bukan pasar basah tradisional, melainkan bangunan berkaca berisi sekitar 30 kios penjual aneka makanan, dari tapas, zaitun, ham, bir, wine, roti, dan sebagainya. Budaya makan tapa ini muncul karena jam makan orang Spanyol yang dimulai sekitar jam 2 siang untuk lunch dan jam 9 malam untuk dinner, jadi di antaranya mereka makan camilan berupa aneka tapa sambil mimi alkohol.

Wisata Madrid diakhiri dengan menikmati pertunjukan tarian yang terkenal di Spanyol, Flamenco, sambil bersantap malam di Las Carboneras. Paella seafood-nya juara, ditambah lagi minuman khas Sangria tidak membuat kami mengantuk menonton Flamenco. Tarian yang merupakan kombinasi antara tarian dengan banyak hentakan kaki, nyanyian, permainan gitar, tepuk tangan, jentikan jemari ini memang luar biasa dinamis. Saya juga baru pertama kali menonton penari Flamenco pria yang tak kalah kerennya.

The paella tastes better than my picture tho 🙂

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Madrid memang ibu kota yang hidup, wisata dan makan pun enak-enak!

Read more
Bukan honeymoon di Halimun

Bukan honeymoon di Halimun

Adakah tempat yang Anda merasa cinta sekaligus benci? Jakarta? Pasti! Tapi selain Jakarta, bagi saya adalah Halimun, nama kependekan dari Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) di Jawa Barat.

Dulu waktu saya SMA, di sana lah saya mengikuti pendidikan dasar kelompok Pencinta Alam. Saat itu 40 orang angkatan saya habis-habisan “dididik”. Saya menggunakan tanda kutip karena masa itu orang belum sadar akan pelanggaran hak asasi, bullying, dan lain lain. Saya dibesarkan di zaman guru yang santai memukul murid. Kalau Anda segenerasi dengan saya pasti pernah merasakan pukulan penggaris kayu panjang saat kita dianggap salah atau tidak tertib.

Tak heran pada masa itu Ospek atau semacam “pendidikan” merajalela. Anak baru benar-benar dikerjain nggak karuan. Tambah parahnya lagi pake main fisik, seperti ditendang dan digampar. Di luar Ospek, sering juga ada yang “menggencet”, terutama cewek senior ke cewek junior. Setelah naik kelas, tak heran senior jadi balas dendam ke para junior. Begitu seterusnya. Nggak ada tuh orang tua murid yang protes. Lha, pada masa itu orang tua juga santai main tangan ke anak-anaknya.

Kembali ke cerita Halimun, saya baru menyadari betapa indah alamnya setelah menjadi senior – di mana senior nggak ada kerjaan selain ngerjain junior saat pendidikan. Namanya juga cagar alam, segalanya masih asri. Lansekap yang bergunung-gunung, perkebunan teh yang luas, hutan hujan tropis, sungai berair jernih, udara yang sejuk, dan kabut yang pekat memang lebih cocok sebagai tempat honeymoon daripada Kawah Candradimuka alias “pendidikan”. Setelah dua kali saya jadi senior ngerjain junior, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana.

Setelah lulus SMA, kuliah, dan bekerja, 12 orang seangkatan Pencinta Alam saya kembali ke Halimun untuk napak tilas pada Januari 2016. Kalau dulu kami ke sana naik truk, sekarang bawa mobil pribadi (bukan punya saya sih). Dulu masuk ke Halimun lewat Parung Kuda, namun karena jalan ke arah Sukabumi yang semakin macet tidak terkendali, kami lewat Leuwiliang. Saya takjub karena sepanjang jalan sudah banyak toko, restoran, apalagi jaringan minimarket terkenal itu.

Memasuki gapura Halimun, ada beberapa plang bertanda “Tempat Latihan Brimob”. Buset, Brimob aja pendidikannya di sini. Apalagi dulu kami anak bau kencur! Kami pun terdiam sambil menengok kiri-kanan jendela mobil. Lalu satu per satu berteriak;

“Anjir, dulu kita disuruh jalan kaki hujan-hujanan bawa ransel berat sejauh ini!”

“Oh, ini kan pos yang dulu kita digamparin senior!”

“Wah ini sungai yang dulu kita diceburin lama banget sampe menggigil!”

“Nah ini lapangan yang dulu kita disuruh gampar-gamparan satu sama lain!”

“Ih, ini kan pendopo waktu kita disuruh push up berapa seri tuh!”

“Lha ini hutan yang kita lagi enak-enak tidur ditendang-tendangin senior!”

Dan semua kenangan buruk pun keluar! Betapa kami menderita fisik dan mental ikut pendidikan. Pulang-pulang berat badan kami turun sampai 3 kg dan tidur berhari-hari kemudian saking capeknya. Tapi kami tidak ada yang berani mengeluh, apalagi mengadu ke orang tua. Kelar pendidikan dasar, masih ada pendidikan-pendidikan lain ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, kami masih dihajar lagi sama senior.

Kenangan buruk itu berakhir ketika kami tiba di Halimun. Setelah sekian lama, ternyata Halimun yang terpelosok itu ada perubahannya juga. Sekarang sudah ada home stay yang bisa kami sewa untuk menginap, jadi tidak usah pasang tenda lagi. Sekarang sudah bisa pesan makanan komplit, jadi tidak usah memasak lagi pake kompor parafin. Sekarang sudah ada perkampungan, sinyal hape, listrik, TV, bahkan parabola.

Malam itu kami mengobrol panjang sampai pagi. Mulai dari kisah penderitaan saat Pendidikan Dasar sampai akhirnya kami saling mencela satu sama lain. Siangnya kami sungguh menikmati segarnya alam. Perkebunan teh beserta kabutnya masih sama indahnya, meski dinginnya berkurang. Sungai masih berair segar dan jernih. Hutan tampak tidak seseram dulu, bahkan sekarang sudah ada wisata canopy (yang sudah tutup karena rusak). Sedihnya, sampah banyak bertebaran di mana-mana.

Seharian kami napak tilas ke tempat-tempat “pembantaian”, namun kali ini kami hanya mentertawakan saja sambil foto-foto. 12 orang itu lah yang kami sebut brotherhood. Lebih dari teman, bagaikan saudara sedarah. Geng ceweknya aja masih traveling bareng saya sampai sekarang.

Jadi pertanyaannya, kenapa juga kami mau ikut kelompok Pencinta Alam? Ya pada masa itu jadi anak Pencinta Alam sangatlah keren; pakai jaket seragam petantang-petenteng di sekolah, merasa hebat karena telah menaklukkan gunung-gunung Indonesia. Sekarang siapa sih anak zaman sekarang yang mau bersusah payah pendidikan, kotor-kotoran masuk hutan, dan ngos-ngosan naik gunung? Zamannya sudah beda. Di sekolah saya itu aja paling cuman ada beberapa orang yang ikut organisasi Pencinta Alam, itu pun dengan syarat kalau ada pendidikan tidak boleh di luar Jakarta dan tidak ada kekerasan fisik. Sayangnya ada beberapa sekolah yang bahkan sudah menghapus organisasi Pencinta Alam dengan alasan tidak safety.

Bagi saya pribadi, jadi anak Pencinta Alam tetap membanggakan. Karena itu lah saya merasa pede traveling ke mana pun, terutama dalam hal survivor skill. Soal mentalitas, yang jelas lebih kuat. Setelah menempuh semua “pendidikan” yang penuh perjuangan itu, apa sih yang ditakutkan lagi?

Read more