Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.
[Adv] 5 Reasons Why You Should Stay in Club Med

[Adv] 5 Reasons Why You Should Stay in Club Med

Club Med adalah jaringan resor global yang berpusat di Prancis sejak 1950 dan sampai saat ini sudah ada 71 resor di seluruh dunia. Konsep Club Med adalah premium all-inclusive holiday alias liburan yang sudah termasuk semuanya. Uniknya, Club Med punya istilah khusus. Setiap satu resor di Club Med disebut “village”. Kalau di hotel pimpinan tertinggi disebut GM (General Manager), maka di Club Med ia disebut “Chef de Village”. Kita sebagai tamu disebut sebagai GM atau “Gentil Member” (kind guest). Sementara stafnya disebut GO atau “Gentil Organisateur” (kind organizer).

Pertama kali saya tinggal di Club Med Bali pas zaman kuliah dulu, sebelum ada ponsel dan internet. Waktu itu almarhumah ibu sedang ada conference, jadi saya diajak nginep bareng. Ibu kerja, saya main. Pengalaman pertama itu berkesan banget! Sebagai orang yang senang berolah raga dan kompetitif, saya sampe dapet medali lomba antar GM dalam berbagai cabang olah raga. Hehehe! Sampai saat ini saya telah menginap di 3 Club Med, yaitu Club Med Bali, Club Med Kani Maldives (tempat lokasi syuting film “Trinity, The Nekad Traveler”), dan terakhir Club Med Bintan Island. Masing-masing oke banget!

Ini 5 alasan kenapa Anda wajib menginap di Club Med dan yang membedakan Club Med dengan hotel/resor lainnya:

  1. Friendly GOs

Konsep GO ini lah yang cuman ada di Club Med. Para GO kerjanya nemenin tamu main, makan, minum, ngobrol. Sebagian GO ada yang merupakan instruktur cabang olah raga tertentu, atau guru di Mini Club, atau stage performer, dan lain-lain. Dalam satu village, GO berasal dari puluhan negara sehingga bisa berbagai macam bahasa. Mereka orangnya asik-asik banget, cowok-cowoknya juga luthu-luthu. Saya sih seneng jadi selalu punya teman baru, mulai orang lokal sampai orang Rusia, South Afrika, dan Mauritius segala. Bener-bener “desa internasional”! Pulang-pulang jadi sedih karena berasa ninggalin keluarga sendiri.

The multicultural GOs @ Club Med Bintan

  1. All-Inclusive Holidays

Sistem di Club Med ini enaknya adalah all inclusive. Artinya, harga menginap termasuk kamar, makan sepuasnya 3 kali sehari, snack di antaranya, minum apapun termasuk free flow alkohol.  Penggunaan segala macam fasilitas, seperti gym, tennis, squash, bahkan termasuk laundry. Juga termasuk ikutan aktivitas apapun, mulai dari olah raga, permainan, dan menonton pertunjukan. Tenang aja, setiap GM akan diberikan gelang berwarna yang membedakan dewasa dan anak-anak karena urusannya sama pesan alkohol. Harga yang tidak termasuk paling untuk beli baju di butik atau spa, itu pun disediakan kartu khusus jadi nggak perlu bawa dompet dan pegang uang tunai.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

  1. Perfect Location

Lokasinya pasti kece dan eksklusif, di sebuah destinasi liburan yang terkenal bagusnya. Bisa di pantai, atau di pegunungan bersalju. Resornya sendiri pasti luas dan pasti ada tempat menyendiri kok, misalnya di Club Med Bali ada kolam renang khusus dewasa, di Club Med Bintan ada bukit zen yang sepi. Lingkungan sekitarnya pun kece untuk dijelajahi, kayak di Club Med Kani yang sepulau bisa dikelilingi untuk pindah-pindah berenang dan foto-foto.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

  1. Delicious Food & Unlimited Drink

Setiap makan sistemnya adalah prasmanan (buffet). Hebatnya, kualitas makanannya juara kelas! Ini bukan kayak prasmanan pesta kawinan, tapi restoran yang super luas ini terdiri dari konter-konter makanan yang ditata per piring, misalnya aneka salad dan roti, Indonesian food, Indian food, Chinese food, Italian food, Japanese, Korean, healthy food, sampai dessert. Tampilan dan rasanya enak-enak banget! Pokoknya tiap makan pasti bingung milihnya dan nggak bisa diet! Minumannya juga dikasih bir, wine, infuse water, aneka juice, teh, kopi. Eits, belum selesai. Di antara makan besar sampai supper, disediakan snack juga, seperti sandwich, samosa, donat, sate, mie, dan lain-lain. Mau minum segala macam cocktail, mocktail, alkohol juga ada! Puasnya kebangetan!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

  1. Fun Activities

Setiap hari ada jadwal aktivitas yang dibuat per jam. Misalnya pagi hari ada kelas yoga, taichi, power walk, lalu siang-sore ada aquarobic, kelas memanah, belajar trapeze, belajar sailing, lomba voli pantai, snorkeling. Setiap malam pun ada stage performance oleh para GO dan disko bareng. Fitur khas Club Med yang terkenal adalah Mini Club, yaitu aktivitas seharian khusus untuk anak-anak, mulai dari olah raga sampai kesenian, yang dipimpin oleh para GO. Jadi para orang tua selalu punya “me time” sementara anak-anaknya punya kesibukan sendiri. Kalau saya punya anak, pasti saya ajak liburan ke Club Med deh biar nggak rempong! Hehe!

Dare to fly trapeze @ Club Med Bintan?

Meskipun aktivitas padat, tapi tidak harus ikut semua kok. Awalnya saya pikir ngapain 3 malam ngendon di hotel mulu, tapi selalu berakhir dengan tidak ke mana-mana, bahkan merasa selalu kekurangan waktu!

Tips:

  • Bawa pakaian olah raga, seperti baju yoga, sepatu lari, baju renang, yang disesuaikan dengan aktivitas yang ingin Anda ikuti.
  • Saat makan kenakan pakaian karena dilarang pake baju renang di dalam restoran.
  • Kenakan sunscreen karena akan banyak aktivitas luar ruangan.
  • Untuk info lebih lanjut atau mau booking, silakan langsung ke clubmed.co.id

Selamat berlibur!

Read more
Anambas kece banget!

Anambas kece banget!

Terus terang nama Anambas baru terdengar di telinga saya pada 2012 saat CNN menyebut Anambas sebagai salah satu dari Asia’s top five tropical island paradises. Saya jadi malu, masa orang bule lebih tahu daripada saya yang (tukang jalan-jalan) orang Indonesia! Anyway, Kepulauan Anambas ada di propinsi Kepulauan Riau yang terletak di tengah laut antara Sumatera dan Kalimantan.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Akhir Januari 2018 baru lah saya berkesempatan pergi karena nebeng teman yang ada urusan bisnis di sana. Rombongan ke Anambas ini lucu banget ceritanya, ntar deh diceritain di tulisan terpisah. Singkat cerita, instead pergi ke ibukota Kabupaten Anambas di Tarempa, kami malah “kabur” ke Letung.

Jadi Kepulauan Anambas itu terdiri dari 256 pulau tapi cuman 26 pulau yang berpenghuni. Tiga pulau terbesarnya adalah Jemaja (pelabuhannya bernama Letung), Siantan (tempat pusat pemerintahan di Tarempa), dan Matak (pusat perusahaan pengeboran minyak asing). Transportasi umum ke Anambas menggunakan feri dari Tanjung Pinang ke Letung atau Tarempa yang memakan waktu 8-10 jam, itu pun hanya ada 3 kali seminggu dan tergantung cuaca. Jangan membayangkan feri besar seperti dari Banten ke Lampung, tapi ini semacam kapal cepat dengan 125 kursi kayak di bus, plus hantaman ombak yang bikin sebagian besar penumpang muntah! Hadeuh!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Sebenarnya di Matak ada bandara tapi pesawatnya charter milik perusahaan minyak. Ada juga pesawat berupa seaplane dari Batam ke Pulau Bawah, tapi hanya diperuntukkan bagi tamu resor mewah yang dimiliki orang asing. Kami memilih turun di Letung karena di Pulau Jemaja lah yang pariwisatanya akan dikembangkan karena telah dibangun bandara untuk pesawat komersial.

Sampai di Jemaja, feri merapat di Pelabuhan Berhala. Dinamai demikian bukan karena penuh dosa, tapi karena terletak di Pulau Berhala. Melihat hamparan laut berwarna turquoise rasanya penderitaan disiksa feri langsung terbalas. Kami naik ojek ke penginapan bernama Miranti di Letung yang terletak di pinggir laut. Dengan harga per kamar per malam Rp 180.000 – Rp 220.000, saya surprise dengan fasilitasnya. Bayangin di tempat terpencil gini kamarnya bagus, ada kamar mandi dalam dengan WC duduk, ada TV layar datar, dan ada AC – bahkan di kamar bawah ada shower air panas segala!

Letung dari Pelabuhan Berhala

Setiap hari kami nongkrong di deck Miranti dengan pemandangan spektakuler dan air laut yang jernih sampai keliatan penyunya berenang. Jalan-jalan di Letung menarik karena rumah-rumah penduduknya berbentuk panggung di atas air. Warung, toko, restoran, pasar ada. Mau dugem juga ada di Juliani Bar & Karaoke. Meski ada botol-botol miras, tapi cuman dipajang doang di bar – minum sih tetep kopi dan teh. Hehehe! Maklum sebagian besar penduduknya Islam dan alkohol dilarang sepulau. Untungnya mereka nggak rese kalau liat saya pake bikini di pantai. #penting

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Perlu diketahui, penduduk Anambas ini sukunya Melayu, jadi mereka berbahasa Melayu gitu kayak di buku-buku jadul dengan pantun-pantun. Mereka ramah dan suka ngobrol. By the way, cowok-cowoknya ganteng-ganteng lho… dengan rahang kuat, hidung bangir, alis mata tebal, dan bodi tinggi. Tradisi khas orang Riau, kalau sore cowok-cowoknya bukannya main sepak bola, tapi main sepak takraw. Aww, seksinya! Soal kuliner terpengaruh Sumatera semacam kuah asam pedas dan kari. Cocok lah di lidah. Bosan makan ikan dan seafood, ayam juga banyak.

Kalau mau keliling pulau, harus sewa motor. Pantai terdekat yang sering jadi tempat berenang dan nongkrong orang lokal ada di Padang Merlang. Pemandangan sepulau serba hijau dan berbukit-bukit dengan jalan kecil berliku-liku. Tiap melewati pantai, saya langsung nyanyi lagu Coldplay: para para paradise… para para paradise! Apalagi pas ke Air Terjun Neraja yang menurut saya salah satu yang paling kece di Indonesia karena bentuknya berundak-undak dan ada kolamnya di tiap undakan, jadi puas berenang! Ke arah timurnya lagi ada Kuala Maras yang lautnya tenang bak danau luas dan dikelilingi perbukitan hijau. Sedangkan untuk sunset, paling kece nonton dari pantai deket bandara – kalau tidak mendung.

Kolam Neraja tingkat dua

Untuk island hopping, kami sewa kapal pompong. Arahnya ke mana hasil tanya-tanya penduduk lokal. Di Barat ada Pulau Ayam, Pulau Ayam Darat, Pantai Nguan. Di Utara ada Pantai Kusik, Pulau Impol Kecil, Pulau Impol Besar. Semuanya kece-kece banget! Airnya jernih, dalamnya pas untuk berenang, tidak berombak, karang dan ikannya banyak, pasirnya putih kayak bedak, latar belakangnya bukit-bukit hijau, dan sepi pi pi! Warna laut bervariasi dari biru muda, turquoise, sampai emerald green. Di pesisir Jemaja bertumpuk batu-batu raksasa, kadang ada air terjun langsung dari gunung ke pantai jadi bisa bilas air tawar abis berenang di laut! Wah, saya sampe mau nangis saking kagumnya sama keindahan Indonesia!

Kecenya!

Menurut saya, Kepulauan Anambas adalah tempat yang paling kece di barat Indonesia. Pantai kece memang banyak di Indonesia timur, tapi terbangnya jauh dari Jakarta. Anambas ini dekat pula dari Singapura dan Malaysia, jadi potensi industri pariwisatanya besar. Denger-denger sebagian pulau sudah dibeli asing dan para konglomerat Indonesia, namun belum dibangun. Dan karena terletak di barat Indonesia, harga-harga masih masuk akal dan supply bahan gampang tersedia. Soal sinyal ponsel, cuman lancar pake provider monopoli itu, tapi internet cuman nyala 2 menit dalam 24 jam, itu pun ngacir baru jam 3 pagi.

Katanya tak lama lagi pesawat komersial akan terbang ke Jemaja dari Tanjung Pinang. Di sini lah dilema melanda. Kita semua tahu bahwa jika akses makin sulit, tempat makin kece. Sementara bila akses makin gampang, tempat lama-lama bisa hancur saking ramenya (karena oknum yang tidak bertanggung jawab) tapi perekonomian lokal kan harus berkembang. Sebelum rasa khawatir saya berkepanjangan, ada baiknya saya bersyukur pernah ke Anambas sebelum populer.

Read more
Kencan Online di Eropa

Kencan Online di Eropa

Warning: Untuk 17 tahun ke atas

Sebagai jomblo akut, saya disarankan oleh seorang teman cewek untuk menggunakan aplikasi online dating (bahasa Indonesianya “kencan daring”). Saya langsung antipati karena dulu pernah menggunakan dan hasilnya gagal total. Kata teman saya, zaman now itu berbeda. “Orang seumuran kita itu sekarang susah dapet jodoh. Semuanya sibuk, hidup cuman rumah-kantor-rumah, mau keluar malas karena udah capek macet dan sebagainya. Gimana mau ketemu orang baru?” jelasnya. Bukannya isinya cuman cari teman tidur? “Ih, dicoba aja dulu. Buktinya gue berhasil punya pacar. Malah ada beberapa temen gue yang merit gara-gara online dating lho!” tambahnya lagi.

Ya udah sih. Nothing to lose. Saya pun diajarin cara-caranya dan disuruh registrasi. Tentu saya memalsukan nama dan umur, serta pasang foto yang tidak jelas. Malu, bo!

Sampe rumah, saya coba… eh kok cowok-cowoknya bikin ill feel! Bisa-bisanya foto profil bareng anak-istrinya, atau bionya ditulis “ada dech!” (pake ejaan d-e-c-h). Ewww! Dan yang bikin panik, saya ketemu profil familiar: sepupu sendiri, temen yang udah nikah dan saya kenal istrinya, dan mantan bos! Waduh! Saya pun memutuskan untuk menggunakan aplikasi kencan ini pas saya traveling di Eropa selama dua bulan pada 2016.

FYI, aplikasi kencan ini cara kerjanya adalah kita menggeser profil ke kanan bila suka dan menggeser ke kiri bila tidak suka. Kalau match, berarti kedua belah pihak sama-sama geser kanan alias sama-sama suka, baru bisa saling berhubungan via in-app chat. Dalam eksperimen ini saya menggunakan istilah “success rate” yang berarti persentase kesuksesan match dari total yang saya geser kanan.

Pertama saya coba di beberapa kota di Portugal. Wih, cowok-cowok sana emang banyak yang tipe saya. Ganteng-ganteng amat! Success rate: 50%. Begitu match, sebagian besar langsung kirim pesan ke saya di chat. Tapi akhirnya saya tidak menemui satu orang pun, karena ternyata saya malah dapat kencan di kehidupan nyata sama seorang cowok di Porto. Ehm!

Di Prancis saya cuma tinggal di Paris selama 3 malam. Cowok-cowoknya paling kece, tapi zero success rate alias nggak ada satupun laki yang geser kanan ke profil saya. Sialan!

Berbanding terbalik, di Iceland success rate-nya 100%! Semua yang saya geser kanan menggeser kanan juga, artinya semua match! Semua pick up line-nya sopan dan menyenangkan. Semua mengajak kencan. Bahkan ada yang tinggal di luar kota pun bela-belain mau terbang untuk menemui saya! Saya jadi bingung karena begitu banyak yang mengajak kencan, tapi saya takut! Udah sepi, gelap, transportasi umum jarang, ntar kalau dibunuh dan mayat saya nggak ditemukan gimana? Belakangan saya baru tahu bahwa di Iceland memang “kering” soal perjodohan. Karena penduduknya sedikit, kebanyakan mereka saling berhubungan saudara. Bahkan konon mereka punya aplikasi sendiri yang bisa mengetes apakah mereka sedarah!

Sampai di Belanda, saya rajin main aplikasi kencan daring ini. Ternyata di Belanda success rate hanya 25%. Cuma 3 cowok yang mengirim chat: 1 cowok yang dengan jelas langsung mengajak tidur, 1 cowok yang ribet masalah ketemuan di mana, dan 1 cowok lagi yang tetap sopan.

Yang sopan ini bertampang dan bernama Indonesia. Kali aja expat Indonesia yang kerja di Amsterdam, pikir saya. Setelah bolak-balik chat, akhirnya kami akan berkencan dengan makan siang di sebuah restoran dekat kantornya. Wah, ini kencan daring pertama saya! Cowok itu ternyata pemalu dan kikuk. Kami mengobrol dalam bahasa Inggris, tapi begitu sesekali saya ngobrol dalam bahasa Indonesia kok dia terbata-bata. Ternyata… dia orang Suriname! Maka selanjutnya kami pun ngobrol dalam bahasa Jawa ngoko. Hahaha! Anyway, kencan cuman sampai situ aja sih. Abis makan, pulang, dan nggak ada kelanjutannya lagi. The chemistry was not there.

Pindah ke Belgia, saya tinggal di Leuven, sebuah kota kecil yang 80% isinya mahasiswa. Agak malas main aplikasi kencan itu karena isinya dedek-dedek, malasnya lagi kalau ternyata dia kenal sama sepupu saya. Jadilah selama hampir seminggu saya non aktif. Sampai saya berkenalan dengan mahasiswi Indonesia yang juga pengguna aplikasi kencan yang sama. Katanya cowok-cowok di Leuven justru buas-buas! Lha, bukannya dedek-dedek isinya? “Cari yang anak kantoran karena cukup banyak orang yang tinggal di Leuven dan bekerja di Brussels karena Leuven lebih murah biaya hidupnya,” katanya. Maka malam terakhir saya buka aplikasi dan mulai geser-geser kanan. Success rate-nya 25%. Bener aja, semua langsung mengajak tidur, kecuali seorang cowok ganteng dan sopan yang saya lanjutkan.

Karena malam itu nggak ada yang buka di Leuven, si cowok ngajak nongkrong di apartemennya yang berjarak 1 km dari apartemen sepupu saya. Bisa benerrr! Eh tapi males banget malem-malem jalan kaki sendiri! Lalu dia berinisiatif menjemput pake mobilnya. Ya udah lah, saya pasrah aja, penasaran juga akan jadi gimana. Di mobil dia lagi denger siaran pertandingan sepak bola antara klub Leuven vs Porto. Sampai di apartemennya, kami melanjutkan nonton pertandingan di TV. Saya tentu membela Porto karena kipernya Iker Casillas. Si cowok sampe heran dengan pengetahuan saya tentang persepakbolaan dunia. Singkat cerita, Leuven kalah. Dia bete banget dan berkata, “Maaf, gue kesel banget. Nothing personal, but I’d better drop you home”. Lha? That’s it! Saya pulang nggak diapa-apain. Hahaha!

Di Swiss tak banyak yang saya geser kanan karena muka cowok-cowoknya kok pucat dan kurang bergairah. Success rate hanya 5%. Cuman ada 1 cowok yang chat, itu pun pemalas gitu, jadi saya juga cuek aja. Belakangan saya juga baru tahu bahwa cowok Swis memang pasif dan tidak hangat. Pantes nggak match!

Negara terakhir trip Eropa saya adalah Italia, gudangnya cowok ganteng. Gayung bersambut, success rate: 75%! Hampir semuanya pun langsung kirim chat duluan. Sayangnya sebagian chat terpaksa berhenti saat mereka nggak bisa bahasa Inggris! Di utara Italia tidak ada yang saya temui karena saya nemu kencan di kehidupan nyata. Di selatan Italia, tepatnya di Napoli, dalam sejam aja langsung dapet banyak, padahal saya tiba di hotel sekitar jam 11 malam. Oke, ini negara terakhir saya akan menggunakan kencan daring. Apapun yang terjadi, terjadi lah.

Sebagian besar yang chat langsung menuju ke arah “situ” sampai saya jadi ngeri sendiri. Kecuali 1 cowok yang bahasa Inggrisnya lumayan dan bahasanya sopan. Udah kayak iming-iming ala sales, dia bilang, “Gue samperin ya? Kita ngobrol aja dulu, ntar kalo cocok baru lanjut.” Saya iyain aja. Tak lama kemudian dia bilang, “Kamu keluar balkon deh. Mobil saya yang hitam.” Saya nongol keluar dan si cowok itu melambaikan tangan. Udah ganteng, mobilnya mewah pula! Saya pun menemuinya dan kami ngobrol di dalam mobilnya. “Aduh, di pinggir jalan gini nggak boleh parkir lama-lama. Gimana kalau gue parkir di tempat lain, trus kita lanjut ngobrol di kamar hotel lo?”  Eisyeileeh, bisa bener! Kami pun pindah parkir dan berjalan kaki ke hotel saya. Sampai di resepsion, si cowok itu diminta kartu identitas diri. Seketika mukanya bete, ternyata nggak bawa kartu. Dia pun minta maaf dan pulang. Lha? Again!? Saya ngakak nggak berhenti karena lagi-lagi nggak terjadi apa-apa! 🙂

Kesimpulan: Pertama, aplikasi kencan daring ini memang untuk hook up dalam arti seksual, alias “satu malam berdiri”. Nggak ngerti gimana caranya orang bisa dapet jodoh dari aplikasi ini. Dari ‘bawah’ naik ke hati? Kedua, saya bukan selera bule kali sampe dilepeh tiga kali. Nasib ya nasib… balik lagi jadi jomblo akut! Hehehe!

Ada yang berani share pengalaman kencan daring di sini? Tinggalin di comment ya?

Read more
Kado Ulang Tahun

Kado Ulang Tahun

Sudah lebih dari 80 negara yang saya kunjungi, semua kisahnya tertuang dalam 13 buku yang telah saya terbitkan. Berkat dukungan Anda, saya bisa terus menulis untuk berbagi cerita dari setiap sudut dunia.

Saya senang bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang melalui tulisan. Tulisan saya semoga bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Saya pun mendapatkan banyak inspirasi dari puluhan tempat yang saya kunjungi dan ratusan tulisan yang saya baca. Kedua hal ini merupakan keistimewaan dalam hidup.

Bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang jatuh pada 11 Januari, saya ingin berbagi keistimewaan dengan anak-anak di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang selama ini kesulitan memperoleh buku bacaan. Saya mengajak Anda, para pembaca, untuk bisa membantu mereka agar juga bisa pandai membaca dengan cara mendirikan Pos Baca.

Pos Baca ini akan menjadi ruang bagi anak agar mereka bisa sepuasnya membaca dan membuka cakrawala dunia. Sehingga tidak ada lagi anak-anak NTT yang tidak bisa membaca buku bahkan buta aksara.

Ayo, berikan kado, bukan untuk saya, tapi untuk mereka!
Donasikan bantuan Anda melalui https://kitabisa.com/bukudaritrinity
Donasi ditutup sampai sebelum 31 Januari 2018.

Terima kasih.

Update per 1 Februari 2018: Donasi telah terkumpul sejumlah Rp 7.093.377,- yang akan diberikan kepada campaign induk Buku untuk anak NTT melalui Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Terima kasih banyak bagi para donatur. Tuhan memberkati.

Read more
Hidup Dangdut!

Hidup Dangdut!

Tulisan ini bermula di Banda Naira. Suatu malam di kota kecil itu ada acara pesta pernikahan dengan dangdutan. Saya yang doyan ikutan acara-acara penduduk lokal tentu menyambut gembira dan ikutan joget. Tapi salah seorang teman saya yang anak Jakarta ternyata tidak bisa joget dangdut sama sekali! Maka saya pun memberikan kursus kilat kepadanya. Dia yang biasa joget di club dengan trance music ternyata mengalami kesulitan joget lebih slow, padahal dangdut kan cuma maju-mundur doang.

Saya jadi berusaha mengingat kembali, kapan pertama kali saya berjoget dangdut dan pada acara apa. Sebagai seorang yang bisa joget dan pede joget di tempat umum, rasanya saya nggak pake belajar joget dangdut. Rasanya tinggal ngikutin ketukannya aja. Pertama kali saya dangdutan (di depan umum) mungkin pas SD di acara pesta adat yang kadang disempili acara joget dangdut dan saya disempilin duit di jari. Selanjutnya joget di kawinan tetangga, acara kampus, pas KKN, dan sebagainya. Jadi joget dangdut udah kayak alamiah aja gitu. Yah mungkin karena saya ndeso.

Kembali ke Banda, pesta dangdut di kawinan itu dihadiri banyak orang. Pria dan wanita duduk terpisah. Begitu lagu mulai, otomatis mereka joget membentuk satu jejer – pria menghadap wanita. Lagu habis, orang duduk lagi. Begitu seterusnya. Pernah sampai lama duduk karena laptop DJ hang! Hehe! Suasananya kayak dangdutan di kawinan Wakatobi yang pernah saya datangi, hanya di sana lebih tertib; joget lebih beraturan, muka lebih lempeng, maju-mundur bareng di dalam satu jejer. Yang joget hanya ketika pria mengajak wanita, jadi pasti berpasangan.

Di Jakarta, pesta kawin rumahan sering ada pesta dangdut. Mungkin karena dulu saya tinggal di daerah pinggiran. Saat ini pun tinggal di (sebelah) kompleks kuburan Tanah Kusir, dangdutan masih eksis – bahkan dengan cueknya orang joget-joget di kuburan! Bahkan sejak kuburan telah dirombak jadi ruang umum, pesta dangdut semakin merajalela – dengan alasan kampanye politik sampai kawinan. Ya ampyun, saya sampe nggak bisa tidur karena berisik!

Terakhir pesta dangdutan ketika tetangga bikin pesta sunatan anaknya. Panggung dipasang di samping kuburan. Semalaman orkes dangdut dan beberapa penyanyi cewek menghibur warga. Saya jadi jengah karena para penyanyi yang pake baju ketat, belahan dada rendah, dan rok mini itu berjoget vulgar, sementara si anak yang disunat baru berusia 10 tahun bersama teman-teman sebayanya menonton! Gilanya lagi, sebagian bapak-bapak ‘nyawer’ (menyelipkan uang) kepada penyanyi di atas panggung sambil berjoget pake ngelaba ke penyanyinya! Ewww!

Lama-lama botol miras beredar di sekitar saya dan saya ditawari juga. Ih! Saya bertanya kepada pembokat saya, “Ini kapan gue joget dong?” Jawabnya, “Kalo mau joget ya harus naik panggung dan nyawer.” Lha, padahal hanya para pria yang nyawer yang bisa berjoget. Saya dan penonton di bawah hanya bisa cengo nonton – apanya yang menghibur coba? Nggak seru nggak bisa ikutan joget! Belakangan terjadilah adegan klasik: seorang bapak mabuk sedang berjoget mesra dengan penyanyi bahenol, tiba-tiba ada seorang ibu naik panggung dan menjewer si bapak nyuruh pulang! Jiaaah, tercyduk sama istrinya!

Saya jadi ingat dangdutan ala Peru di Iquitos. Malam minggu ada panggung di alun-alun kota yang genre musiknya disebut Cumbia. Mirip lah sama dangdut, jadi saya pun gampang aja ngikutinnya pas joget sama ratusan orang lokal. Pemain musik dan penyanyi mayoritas pria yang pake seragam baju jas putih. Gilanya, penyanyinya didampingi para penari latar yang berjoget memakai… bikini! Iya, cuman pake beha dan celana dalam berpayet-payet. Buset! Beberapa kota lainnya di Peru pun sering mengadakan pesta Cumbia gratis, jadi lumayan lah bagi saya ada hiburan dan olah raga dikit. Dua bulan di Peru saya memang sering mendengarkan lagu Cumbia diputar di mana-mana. Orang yang ngikutin juga sama kayak denger dangdut; mata merem-melek, kepala goyang-goyang, bibir digigit, jari jempol terangkat.

Seperti lagu Project Pop yang berjudul “Dangdut is the Music of my Country”, harusnya kita bangga dengan dangdut. Masih banyak dari kita gengsi joget atau bahkan hanya mendengar dangdut karena jaim takut dianggap seleranya kelas bawah. Padahal kalau kita bisa mengelevasi dangdut menjadi musik khas Indonesia, bisa jadi daya tarik bagi dunia luar. Siapa tahu bisa sekelas Salsa atau Tango yang dipelajari banyak orang di seluruh dunia di luar negara asalnya. Oke, itu lebay. Mungkin bisa jadi sekelas Cumbia yang jadi folk dance di negara-negara Amerika Latin, tanpa harus nyawer atau hanya bisa menonton doang.

Hidup dangdut!

Baidewei, lagu dangdut apa favoritmu? Sekarang sih saya lagi seneng denger “Sayang”-nya Via Vallen. 🙂
Sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku
Mengharap engkau kembali
Sayang, nganti memutih rambut ku
Ra bakal luntur tresno ku…

Read more