The Naked Traveler

Hostel esek-esek

Dorm (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)

Peringatan: Untuk 17 tahun ke atas.

Sudah ratusan hostel (bukan hotel, karena ada ‘s’ di tengah kata) yang saya inapi di seluruh dunia. Sebenarnya udah wis tue kayak sekarang ini saya males banget tinggal di hostel. Tapi apa daya sampai sekarang saya masih nggak sanggup (dan nggak tega) bayar hotel di negara-negara mahal, apalagi kalau jalan-jalannya sampai setahun penuh. Sialnya lagi, sanggupnya masih nginap di dorm yang sekamar rame-rame.

Bayangkan, setiap hari saya bobo sama orang ga kenal dengan berbagai bau dan bunyi. Terpaksa harus mencium bau alkohol, bau kentut, bau jigong, bau ketek, dan lain-lain. Mendengar bunyi ngorok sahut-sahutan, bunyi ranjang berdenyit-denyit, bunyi kresek-kresek orang lagi packing, bunyi pintu berkali-kali buka-tutup, berisiknya suara orang ngobrol – apalagi kalau lagi mabuk dan masuk ke kamar di pagi buta! Arrgh!

Read the rest of this entry »

Ice Hockey, bir, dan cewek

Kedua kalinya ke tempat yang sama, saya pasti melakukan hal yang berbeda. Seperti ketika ke Helsinki, Finlandia, pada Oktober 2012, teman saya, Henna, mengajak nonton pertandingan ice hockey – olah raga nasional negara Finlandia, seperti Indonesia dengan badminton atau sepak bolanya. Sebagai penggemar (nonton) olah raga, tentu saya mengiyakan meski agak deg-degan karena ini pertandingan “laki banget”.

Kami nonton SM-liiga atau liga profesional ice hockey senegara Finlandia, antara klub tuan rumah HIFK (Idrottsföreningen Kamraterna i Helsingfors­) dari Helsinki melawan klub Pelicans dari Lahti. Pertandingan di Helsingin jäähalli dimulai jam 18.30, tapi kami minum-minum dulu di bar sekalian kenalan dengan Jani (ini nama cowok loh), teman Henna yang suporter HIFK. Sekilas ia bercerita tentang olah raga ice hockey yang dijuluki “The fastest game on earth”. Kenapa Finlandia sepak bolanya tidak sebaik Swedia dan Denmark karena katanya olah raga kebanggaan Finlandia adalah ice hockey. Ngeles!

Read the rest of this entry »

Rusia seram?

Dulu pada saat Rusia masih bernama CCCP atau USSR atau Soviet, rasanya mereka adalah negara yang sangat menyeramkan. Apalagi saya besar pada zaman Orba dimana komunis itu digambarkan sebagai “bahaya laten yang harus diberantas sampai ke akar-akarnya” (anjrit, bahasa gue Orba banget!). Belum lagi gambaran pasukan Rusia yang berjubah panjang dan peci tinggi berbulu. Atau “joke” yang mengatakan kalau mereka ngga bener, akan dibuang ke Siberia yang superdingin untuk kerja paksa. Sebagian besar film Hollywood pun menggambarkan orang Rusia sebagai musuh bebuyutan, apalagi film-film James Bond. Bahkan Lord Voldermort di film Harry Potter aja beraksen Rusia!

Apply visa turis ke Kedutaan Rusia pun salah satu yang teraneh syaratnya, karena harus dapat undangan dari pihak hotel atau travel agent yang sudah ditunjuk pemerintah Rusia. Peraturan aneh lagi adalah begitu tiba di Rusia, setiap tiga hari sekali atau pindah kota, turis harus mendaftarkan diri ke kantor imigrasi kalau tinggal di penginapan atau kantor polisi setempat kalau nebeng di rumah orang! Hadeuh! Tentunya semua ini nggak akan pusing diurus kalau kita jalan-jalan ikut tour yang sudah diurus travel agent di Indonesia sehingga semuanya jelas dan terdaftar, sayangnya saya cuma backpacker tanpa arah. Maka tak heran saya deg-degan setengah mati begitu mengantri di imigrasi bandara di Moscow, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Saya cuma disuruh buka kaca mata untuk menyamakan foto paspor, lalu paspor dicap. Kalau kata buku Lonely Planet, lebih mudah masuk ke Rusia daripada keluar.

Read the rest of this entry »

Mencret di Udara

Semalam sebelum berangkat traveling, saya selalu nggak bisa tidur. Katanya karena too excited sehingga adrenalin memuncak dan mata susah merem. Tapi kalau tahu mau pergi dalam waktu yang sangat lama, sialnya, saya mesti jatuh sakit. Sudah dua kali saya mengalaminya, yaitu sebelum berangkat ke Semarang dan Manila untuk kuliah. Dua-duanya badan saya meriang nggak karuan, ditambah lagi dengan perut mulas dan mencret-mencret.

Perasaan itu muncul lagi ketika saya mau berangkat round-the-world trip selama setahun. Orang pikir saya yang “tukang jalan-jalan” itu nggak bakal nervous, tapi itu salah besar! Dua hari sebelum keberangkatan.. saya tumbang! Badan tiba-tiba meriang nggak karuan, lemas, pusing, dan diperparah dengan mencret. Dua hari terakhir yang seharusnya saya gunakan untuk bertemu teman-teman dan bela-beli barang jadi gagal karena saya hanya bisa meringkuk di tempat tidur. Bahkan packing aja belum karena lemas tak bertenaga.

Read the rest of this entry »

I’m on a Round-the-World trip!

#TNTrtw

Udah pada baca buku “The Naked Traveler 4” belom? Baca deh halaman terakhir paragraf terakhir. Jadi ceritanya, saya akan RTW (round-the-world) trip alias jalan-jalan keliling dunia selama setahun. Auooo! Jadi itulah alasan kenapa tiba-tiba rambut saya cepak kayak ABRI: supaya nggak usah repot cari salon untuk potong rambut selama setahun ke depan!

Dari baca-baca blog orang bule, RTW itu sepertinya biasa aja dilakukan. Konon tradisi ini dimulai oleh bangsa Inggris pada tahun 1960an. Ada yang menyebut “gap year” alias setahun backpacking, umumnya setelah lulus SMA sebelum masuk kuliah. Ada juga yang menyebut “career break” alias orang kantoran biasa yang udah mati bosan kerja lalu memutuskan jalan-jalan keliling dunia. Ada juga yang karena patah hati jadi jalan-jalan hampir setahun, seperti buku/film “Eat, Pray and Love”.

Read the rest of this entry »