The Naked Traveler

[ADV] Nginep di apartemen yuk!

Apartemen di Izmir, Turki

Saat saya berencana nginep di apartemen, berarti saya sedang traveling bersama teman-teman dan mau diajak patungan. Soalnya kalau menginap di hotel, kamarnya nggak bisa dijejelin rame-rame. Belum lagi peraturan hotel tambah ketat tentang jumlah tamu per kamar. Mau nambah extra bed, akan keluar biaya ekstra lagi. Mau tinggal di dorm hostel, jatuhnya lebih mahal kalau dihitung per kepala. Sementara, kalau sudah kena “faktor U”, saya wajib memiliki tidur yang berkualitas supaya tetap bertenaga saat traveling.

Pertama kali nginep di apartemen waktu dulu ke Anyer, Banten, bareng teman-teman. Entah dari mana teman saya itu dapat nomor telepon pemiliknya, pokoknya tinggal transfer duitnya dan dapat kunci. Enak juga bisa bebas ngapa-ngapain di “rumah” sendiri dan pada saat ingin sendiri tinggal pindah ke balkon, ke ruang tamu, atau ke dapur. Kedua kali nginep apartemen pas di Swakopmund, Namibia. Lagi-lagi teman saya yang punya kontak pemiliknya, lalu janjian ketemu dan dikasih kunci. Kita bawa bekal banyak dan masak-masak di “rumah”. Emang enak deh nginep di apartemen karena lebih bebas tanpa dipelototin staf hotel. Tapi saya jadi berpikir, kalau saya nggak tau kontak pemilik apartemen secara bukan orang lokal, gimana caranya saya bisa nginep coba?

Read the rest of this entry »

The ladyboys

harga khusus ladyboy

Peringatan: hanya boleh dibaca untuk yang berusia 21 tahun ke atas!

Satu hal lagi yang saya salut dari Thailand, mereka tidak malu-malu mengakui negaranya memiliki wisata bersama waria, selain “wisata syahwat” lainnya yang tidak usah lagi diceritakan di sini. Dalam bahasa Thailand, waria disebut khatoey. Dalam bahasa Inggris ala Thailand diterjemahkan sebagai ladyboy atau shemale. Namun tidak semua khatoey sudah menjalani operasi ganti kelamin. Ya, tulisan ini tentang pria yang menjadi wanita, bukan sebaliknya.

Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum akan keterbukaan masyarakat Thailand. Di restoran yang menyajikan makan ala prasmanan memberikan tiga jenis harga, yaitu harga boy, girl, dan ladyboy dengan harga di antara boy dan girl. Saya juga pernah melihat beberapa toilet umum yang terdapat tiga jenis toilet: ada toilet cowok, toilet cewek, dan toilet “gender ketiga” alias waria. Konon di sebagian Sekolah Dasar di Thailand pun, toiletnya sudah terbagi tiga! FYI, toilet untuk ladyboy bentuknya ya seperti wanita yang berbilik, bukan urinal. Terbayang dulu waktu saya masih kecil, “banci” adalah kata hinaan yang kasar. Kebalikannya, di Thailand anak kecil pun sudah menyadari konsep banci, bahkan ada yang sudah merasa masuk ke kategori banci.

Read the rest of this entry »

[ADV] Dukung tim Indonesia di IT Travelers Go!

Tim Indonesia! (ki-ka: Rahmat, Yasmin, Arif, Ivan)

Masih inget dengan IT Travelers Go yang pernah saya ceritakan sebelum ini kan? Biar nggak lupa, IT Travelers Go adalah kompetisi yang diselenggarakan oleh Taiwan Excellence, untuk mencari para perwakilan negara yang layak melakukan jalan-jalan ke negara Indonesia, India, Vietnam, dan Taiwan selama 21 hari, sekaligus bersaing antar tim negara untuk merebut hadiah utama US$20,000 bagi tim terbaik. 

Untung saya sempat datang ke babak penentuan 4 finalis yang akan mewakili Indonesia sebagai satu tim pas tanggal 25 September 2011 di Emporium Pluit. Semua peserta antusias banget untuk terpilih jadi peserta yang akan jalan-jalan. Mereka diberi tugas-tugas menulis, bikin video, presentasi, dan lain-lain, yang semuanya keren. Sayangnya nggak bisa semuanya menang sekaligus, tapi saya yakin mereka dapat pengalaman yang oke juga kok. Bisa diterbangin ke Jakarta gratis, bertemu dengan teman-teman sesama penggila jalan-jalan dan.. bisa ketemu saya :) *GR*

Read the rest of this entry »

Sushi paling enak sedunia

Maguro Set

Saya termasuk doyan makanan Jepang. Di Indonesia banyak restoran Jepang bertebaran, dijajakan mulai dari warung kaki lima sampai fine dining di hotel bintang lima. Kuliner Jepang ini juga tersebar di hampir  setiap negara di dunia. Tapi bagaimana masakan Jepang di negaranya sendiri?

Makanan Jepang paling populer adalah sushi. Padahal konon asalnya justru berasal dari Asia Tenggara, disebarkan ke Cina, sebelum sampai ke Jepang. Awalnya sushi itu adalah ikan asin yang dibungkus nasi hasil fermentasi, tapi lama-kelamaan berubah menjadi sushi yang kita kenal sekarang yaitu ikan di atas gumpalan nasi non-fermentasi.

Pas saya ke Jepang, saya pun puas-puasin makan sushi. Di sana sushi tersedia di mana-mana, mulai dari mini market sampai restoran, kokinya pun banyak yang membuat sushi langsung di depan tamu. Ternyata saya baru sadar bahwa sushi di Indonesia itu ternyata fancy abis. Per potong nasi gulung itu ukurannya besar dan tampak warna-warni. Isinya variatif, mulai dari belut, salmon, sapi, dilumurin mayones, bahkan ada yang dijejali cabe rawit. Begitu saya makan sushi di Jepang, semuanya berbeda dengan yang biasa saya makan di Indonesia. Sushi di Jepang nggak macem-macem, kebanyakan yang berbentuk gumpalan nasi yang ukurannya pas dimakan sekali suap dan di atasnya diberi sashimi (potongan ikan mentah), disebut dengan nigiri sushi.

Read the rest of this entry »

[Adv] Tips pake softlens untuk traveler

Saya pake kaca mata minus sejak SD. Taunya gara-gara setiap lihat ke papan tulis, tulisannya jadi dobel. Dulu saya malu pake kaca mata, jadinya dicopot melulu, sehingga minusnya naik dengan drastis. Baru SMP saya selalu pake kaca mata kecuali tidur dan mandi. Itu pun saya masih merasa terganggu karena nggak enak pas maen basket, kemping, naik gunung, naik motor, dan lain-lain. Belum lagi kaca mata sering pecah atau gagangnya patah karena jatuh atau kedudukan.

Sejak saya jadi “mbak-mbak kantoran”, acara jalan-jalan makin menggebu. Tambahlah saya merasa sengsara pake kaca mata minus 5,50 itu, makanya saya ganti pake softlens. Sebagai traveler, pake softlens sangat membantu. Bisa gaya pake kaca mata item model apapun, bisa ikut aktifitas outdoor tanpa risih kaca mata melorot karena keringetan, bisa mandi dengan jelas (penting nih), bangun tidur nggak usah ribet cari kaca mata, dan lain-lain.

Read the rest of this entry »