The Naked Traveler

Mau Murah, Tahanlah Lapar

Beruntunglah saya! Bagi saya, makanan hanya ada 2 kategori: enak dan enak sekali. Katanya makanan di pesawat paling tidak enak, tapi bagi saya ya enak saja. Meski makanan di pesawat dimasak dan ditata sedemikian rupa tapi karena berada di dalam pesawat – apalagi penerbangan jauh – memang tidak menyenangkan sehingga apapun rasanya jadi tidak enak.

Baru-baru ini saya terbang naik Lion Air dari Banjarmasin ke Palu, berangkat jam 15.30 tiba jam 23.00 dengan 3 kali ganti pesawat dan transit di Surabaya dan Makasar. Wih, sekali terbang cuman dikasih segelas air mineral, jadi sepanjang perjalanan total dikasih 3 gelas air. Duh laparnyaaa! Penerbangan sekarang memang sungguh tega. Murah sih murah, tapi kok ya tidak manusiawi jadinya. Padahal dulu Lion terkenal dengan ‘trio kudapan’ yaitu kotak kardus berisi arem-arem, dodol, dan roti coklat pada setiap penerbangannya. Bahkan penerbangan sampai ke Vietnam pun mendapat jatah ‘trio kudapan’ tersebut sebanyak 3 set, dari Jakarta ke Singapura sampai Ho Chi Minh. Blenger memang, tapi masih lebih baik daripada segelas air putih.

Tiket pesawat saat ini memang semakin murah harganya, salah juga kalau protes tidak dikasih makan atau makanannya tidak enak atau kurang banyak. Sriwijaya dan Adam Air masih menyediakan kotak makanan berisi roti coklat – yang ledekan teman saya modalnya hanya tiga ribuan perak. Air Asia yang menyediakan makanan di dalam pesawat meskipun harus bayar ekstra. Tren tiket murah ini juga berlaku di luar negeri. Bahkan penerbangan utama seperti Lufthansa atau Swiss Air memberlakukan tiket murah lewat internet, semakin lama memesan sebelum tanggal keberangkatan akan semakin murah. Penerbangan antar negara di Eropa yang ditempuh sekitar 1 jam dapat air mineral sebotol atau kopi/teh dan coklat wafer. Mereka juga menyediakan makanan yang dapat dibeli di atas pesawat, seperti sandwich, namun kalau memesan kursi kelas satu makanan termasuk di dalamnya.

Ada harga, ada mutu. Garuda yang termahal masih menyediakan makanan yang lumayan meski penerbangannya cuma satu jam. Sebelum take off pasti dikasih permen. Kalau berangkat pagi bisa dapat omelet dan sosis hangat, kadang nasi goreng. Berangkat pas makan siang atau malam, dapat nasi dan lauk pauk plus buah atau puding. Kalau pun dikasih kudapan, jenisnya yang mahalan seperti croissant atau kue sus plus sebatang coklat. Minumannya pun bisa milih, mau jus, soft drink atau kopi/teh. Tapi terus terang, kalau tidak dibayar kantor saya memilih untuk tidak naik Garuda soalnya kalau jalan sendiri dengan penerbangan lain bisa dapat lebih murah. Dulu saya senang naik Star Air karena mereka royal memberikan makanan, nasi pula. Mungkin karena saking royalnya, penerbangan itu ditutup.

Penerbangan jarak jauh yang melewati time zone berbeda-beda itu menyakitkan. Lagi enak-enak tidur, kita dipaksa makan untuk menyesuaikan diri dengan waktu setempat – konon untuk meminimalisasi jet lag. Prinsipnya seperti orang lagi diet, makan sering tapi dengan porsi sedikit. Kalau tidak mau dibangunkan, isyaratnya tempel sticker khusus di senderan kursi, atau menaruh syal di perut – yang saya juga tidak tahu apakah sudah berlaku universal dan dimengerti semua pramugari di dunia. Makanan favorit penerbangan jarak jauh bagi saya adalah yang disediakan maskapai penerbangan dari negara-negara Arab, seperti Emirates, Gulf Air, atau Qatar Air, soalnya mereka menyediakan pilihan makanan berupa kambing! Sebenarnya saya bukan penggemar berat kambing, tapi makan kambing di udara bagi saya adalah luxurious. Kebanyakan jenis makanan pesawat plain saja, seperti fillet dada ayam tanpa kulit atau daging sapi tanpa lemak, keduanya dengan bumbu minim. Rasanya kurang ‘jorok’ dan greasy dibanding daging kambing berbumbu tajam bukan?

Namun saya perhatikan, makanan pesawat tidak ada yang berkuah panas. Pasti karena takut belepotan atau karena ukuran mangkok tidak muat di kereta dorong pramugari. Padahal dingin-dingin di pesawat bawaannya saya selalu membayangkan mie bakso dengan kuah pedas atau soto betawi. Nggak mungkin banget kan? Bukan bicara kotor, tapi saya perhatikan lagi, kelamaan berada di dalam pesawat dan sering memakan makanan pesawat membuat, maaf, ‘boker’ jadi encer – entah karena jenis makanannya atau karena efek dari jet lag. Hiii!

Lost in Translation

Banyak sekali yang bisa diceritakan mengenai kendala bahasa saat traveling. Saya jadi ingat dulu waktu belajar bahasa Inggris di sekolah, kita hanya tahu bahasa Inggris ya bahasa Inggris. Setelah kenal dunia luar, barulah tahu bahwa setiap orang kulit putih belum tentu bisa berbahasa Inggris, dan bahwa bahasa Inggris di tiap negara itu berbeda, baik aksen maupun penggunaan kata-katanya. Dari cara orang berbicara bahasa Inggris pun saya bisa tahu dia asalnya dari mana. Salah terjemahan karena salah pengertian bahasa adalah biasa, misalnya di Jerman ketika saya memesan minuman di bar, “I’d like to have a Dry Martini” yang datang adalah 3 gelas Martini! Duh! Nah, kalau pergi ke negara dimana bahasa Inggris bukan bahasa utamanya, mulailah bahasa a la Tarzan digunakan. Contohnya ketika saya meminta sambal di restoran di Kamboja harus dengan cara berakting memotong cabe, belagak memakan dan kepedasan, barulah mereka mengerti.

Kalau traveling naik kereta di Eropa, pengumuman kota yang akan dituju dilakukan melalui pengeras suara dengan menggunakan bahasa setempat, dan berganti bahasa ketika memasuki perbatasan negara lain. Di airport, papan pengumuman juga menggunakan bahasa setempat. Nah, di sinilah saya sering ‘tebak-tebak buah manggis’ untuk menebak nama kota. Contohnya kota Jenewa di Swiss, dalam bahasa Inggrisnya adalah Geneva, dalam bahasa Jerman jadi Genf dan dalam bahasa Spanyol jadi Ginebra. Tapi bagi saya, paling tidak saya harus menghapal bahasa setempat untuk kata ‘keluar’ dan mengetahui persis dimana arahnya, baik sedang berada di restoran, tempat dugem, stasion kereta, airport, dan lain-lain. Rasanya di setiap tempat, saya harus bisa cepat lari keluar untuk menyelamatkan diri bila terjadi sesuatu. Kalau suatu negara mempunyai huruf sendiri, saya sampai mencatat di kertas khusus kata ‘keluar’. Begitu juga dengan alamat tempat penginapan saya, agar mudah ditunjukkan ke orang lokal bila nyasar.

Tahun 1995, teman saya pernah kecopetan dompetnya di Praha, Ceko. Kami berdua pun langsung mencari polisi untuk melapor kehilangan karena ada KTP, SIM, dan kartu kreditnya. Sialnya negara itu tidak ada yang bisa bahasa Inggris, bahasa keduanya adalah bahasa Jerman. Jadilah kami dengan berbahasa Tarzan ‘dilempar’ dari satu polisi ke polisi lainnya, sampailah kami di kantor polisi besar di dalam gedung bertingkat. Di dalam suatu ruangan kami disuruh menceritakan apa yang terjadi, tapi tak satupun mengerti bahasa Inggris. Yang ada, saya dan teman jadi buat pertunjukan drama, sedikit mirip pantomim: kami berdua jalan-jalan, saya mengambil dompetnya, kami kejar-kejaran, dan seterusnya. Polisi-polisi di ruangan itu semua malah terbahak-bahak. Sial. Kami disuruh menunggu sampai sejam dan keluarlah selembar kertas…laporan kehilangan dalam bahasa Ceko! Hehe, betapa tololnya kami, bela-belain lapor dan dikasih surat keterangan yang tidak bisa digunakan juga di Indonesia.

Cerita lucu lagi-lagi di Manila, Filipina. Suatu pagi saya naik taksi ke airport Centennial, tiba-tiba saya mencium bau yang menyengat sepert bau kentut. Otomatis saya ngamuk-ngamuk ke supir taksi karena saya yakin dia yang mengeluarkan gas berbau tidak sedap itu soalnya taksi yang ber-AC itu jendelanya tertutup dan tidak mungkin bau berasal dari luar karena kami berjalan di jalan protokol yang jauh dari got atau tumpukan sampah. Saya pun merepet dalam bahasa Indonesia – mungkin karena si supir mukanya kayak orang Indonesia beneran, “Sialan! Kentut ya lo! Bau kentut tau! Hih, berani-beraninya lo kentut!”. Bukannya merasa bersalah, si supir malah tersenyum simpul dengan muka yang memerah bak kepiting rebus dan menjadi sangat grogi. Untunglah tak lama kemudian sampai di airport jadi saya segera turun, tanpa memperpanjang persoalan meskipun kesal. Malam harinya saya mengobrol dengan cowok-cowok lokal Filipin di pinggir pantai Sabang dan pembicaraan sampai ke topik bahasa yang akhirnya membahas bahasa jorok di masing-masing negara. Mampus, saya baru tahu kalau kata ‘kentut’ dalam bahasa sana artinya ‘f*ck’! Pantas saja tadi si supir taksi merah mukanya, pasti dia menyangka saya mengajak dia tidur! Hiiii!

Kebetulan saya pernah diuntungkan menginap di sebuah hostel di Athena karena dalam kamar yang seharusnya diisi 4 orang hanya diisi dengan saya dan seorang cowok brondong Jepang yang guanteng banget. Selama dua hari kami menghabiskan waktu bersama, meskipun bahasa Inggris dia sangat parah. Kemana-mana dia bawa kamus elektronik supaya dia bisa berkomunikasi dengan saya, bahkan ucapannya terdengar seperti robot karena mengikuti suara di gadget tersebut. Jawaban atas pertanyaan kompleks selalu dengan kalimat ‘I don’t know’ – artinya, dia tidak tahu jawabannya atau dia tidak tahu menjawab apa dalam bahasa Inggris. Berhubung dia ganteng dan saya traveling sendiri, ya sudahlah saya cuek saja, lumayan buat lucu-lucuan. Malam terakhir, kami tidur di tempat tidur masing-masing, tiba-tiba dia bertanya, “Who are you thinking now?”. Aha, ada sinyal nih.
Saya pun menjawab sok menggoda, “You.”
Jedah. 1 menit. Saya melihat dia mengetik-ngetikkan sesuatu di kamus elektroniknya.
What about you? Who are you thinking now?”, tanya saya penasaran tapi gengsi.
I don’t know,” jawabnya lempeng-dot-com.
Saya pun menarik selimut dan tidur. Bete.

Pertandingan Olah Raga? Bete!

Di musim World Cup seperti saat ini, rasanya semua orang jadi intens untuk menyaksikan pertandingan sepak bola dunia, bahkan cafe dan restoran pun jadi sering bikin acara nonton bareng. Rupanya fenomena nonton bareng terdapat di mana-mana, baik pertandingan sepak bola, maupun cabang olah raga lainnya. Tapi menurut saya, budaya nonton bareng pertandingan olah raga membuat saya jadi bete kalau saya sedang traveling di luar negeri. Lain halnya kalau saya memang niat nonton pertandingan, membeli tiket, masuk ke stadion, dan menjadi suporter salah satu tim. Tapi kalau niatnya jalan-jalan, dan karena ada pertandingan olah raga malah jadi ribet, wah ogah deh!

Waktu saya backpacking ke Australia tahun 2000, pas bersamaan dengan penyelenggaraan Olympiade. Karena saya mulai dari Melbourne, euphoria Olympiade kurang berasa di sana, sampai saya tiba di Sydney barulah saya merasakannya. Mulai dari bandara, transportasi umum, jalan-jalan, cafe, pantai, semua penuh dengan orang dengan kostum berbagai negara, entah pendukung entah atlet. Cari hostel maupun hotel pun susah, semuanya fully booked – untung saya bisa nebeng di rumah teman. Mau berenang di Bondi Beach pun penuh dengan orang yang menonton pertandingan volley pantai. Lumayan juga sih liat atlet-atlet laki bertelanjang dada sliweran…yumm! Pertandingan-pertandingan lain, terutama yang melibatkan Australia, disiarkan live melalui giant screen di jalanan. Pengalungan medali juga dilakukan di tempat ramai di Circular Quay dekat Opera House sehingga menambah sesak sampai mau foto-foto pun tidak bisa. Malam hari di daerah gaul The Rocks juga tidak lain tidak bukan bikin acara nonton bareng di tiap cafe. Lama-lama saya muak juga, pengen santai bergaul tanpa embel-embel olah raga tapi tidak bisa. Sedikit-sedikit mau ngga mau jadi dipaksa orang-orang di sekitar saya untuk turut meneriakkan yell mereka, “Aussie, Aussie, Oy, Oy, Oy!”. Rasanya saya jadi tidak nasionalis. Giliran ada pertandingan bulutangkis di TV yang ada tim Indonesianya, saya baru semangat nonton…tapi akhirnya dipindah channel karena tidak ada tim Australia di sana – saya sampai nonton di toko elektronik yang jual TV. Penutupan Olympiade tanggal 1 Oktober malam, saya diajak teman orang Australia untuk nonton pesta kembang api di Darling Harbour. Bis dan taksi semua penuh, jalan kaki pun penuh sesak. Akhirnya kami susah payah berjalan kaki pulang ke rumah teman di pinggir pantai Habord, dan menonton dari teras rumahnya.

Pesan saya, kalau berencana traveling ke kota penyelenggara Olympiade, paling enak datang setelah Olympiade bubar. Beberapa bulan setelah Olympiade 1996 di Atlanta dan Olympiade 2004 di Athena, saya pas lagi berada kedua kota tersebut. Enaknya, transportasi umum sudah dibuat baik tapi tidak penuh, contohnya di Athena – karena Olympiade jadi ada kereta bawah tanah yang mempermudah traveling. Fasilitas umum jadi bersih dan nyaman, petunjuk pun banyak dibuat dalam bahasa Inggris. Kalau doyan belanja, barang-barang merchandise Olympiade dijual obral sampai 70%.

Namun bukan hanya pertandingan Olympiade saja bikin saya bete. Suatu malam minggu di Auckland, Selandia Baru, saya berencana mau clubbing. Pergilah saya ke daerah Harbour karena di situ ada sederetan cafe dan club, jadi gampang untuk pindah-pindah tempat. Sialnya malam itu ada siaran langsung pertandingan rugby internasional dan ditayangkan live di tiap restoran/cafe/bar/pub/biliard/club, bahkan dipasang giant screen di tengah laut! Akhirnya saya minum-minum saja di Loaded Hog, yang katanya tempat yang paling happening. Tapi di situ orang-orang semuanya serius nonton TV sampai berteriak-teriak dan bertepuk tangan, padahal saya sama sekali tidak mengerti pertandingan rugby. Sampai jam 1 pagi pertandingan rugby itu belum juga kelar, saya sudah keburu capek dan mengantuk. Bubarlah acara. Sial!

Pertandingan olah raga juga hampir ‘membunuh’ saya pada suatu malam di daerah Khaosan, Bangkok. Malam itu ada final Tiger Cup 2002 antara Indonesia vs Thailand, jadi saya dan seorang teman Indonesia bela-belain mencari warung lokal yang menyetel pertandingan live di TV. Kami duduk di meja paling depan, berteriak-teriak di antara orang Thailand, memelet-meletkan lidah saat tim Indonesia memasukkan gol, mencaci maki dalam bahasa Indonesia saat tim Thailand memasukkan gol. Setelah 2 x 45 menit, kedudukan 2-2 jadi masih ada perpanjangan waktu, eh channel TV diganti pertandingan Liga Inggris karena ada orang bule yang protes. Suasana makin panas karena ada 3 kubu yang berebut channel, tapi karena Liga Inggris sudah diiklankan sebagai acara nonton bareng di papan depan warung jadinya kita mengalah. Buru-buru kami pindah dan lari-lari mencari warung lain, ternyata orang-orang Thailand itu juga ikutan pindah. Warung yang satu ini jadi penuh sesak, hanya kami berdua yang super ribut membela tim Indonesia di antara puluhan orang lokal dan bule yang membela Thailand. Teriakan semangat ‘Yess!’ dan teriakan ledekan ‘Booooo…!’ bergantian terdengar di antara 2 kubu. Saat adu penalty, suasana tambah panas sampai lempar-lemparan kacang dan bungkus rokok. Begitu tim Thailand berhasil menggolkan bola pada kesempatan terakhir, tim Indonesia pun kalah. Buru-buru kami berlari kabur sambil diteriaki orang sewarung dan dilempari!

Menunggu Angin demi Adrenalin

Bicara soal adrenalin, rasanya sudah lama adrenalin saya tidak pernah ‘dipompa’ akibat kesibukan kerja. Ajakan seorang teman beberapa waktu yang lalu yang sedang ikut kursus paragliding membuat saya tertarik untuk mencoba. Paragliding? Setahu saya sih terjun payung dari gunung seperti yang sering kita lihat kalau melewati jalur Puncak. Ternyata terbuka untuk umum dan bisa terjun tandem (soalnya saya malas kalau disuruh ikut kursus). Kontak sana kontak sini demi untuk mencari teman barengan memang cukup sulit, mayoritas lagi-lagi alasannya klasik: karena takut. Untunglah ada satu teman yang mau diangkut.

Kami disuruh datang pada hari Sabtu di atas jam 12 siang ke lokasi di Riung Gunung Puncak, tepatnya di perkebunan teh PTP VIII Gunung Mas. Lagi asik mengisi perut di Puncak Pass, turunlah hujan deras. Kami pun pergi ke Factory Outlet sambil menunggu hujan berhenti. Jam 5 sore baru kami bisa naik ke puncak Gunung Mas. Hmm…naik mobil di pinggir tebing tinggi saja sudah lumayan bikin deg-degan mengingat kami akan terbang dari landasan yang tingginya 250 meter. Wah, setinggi gedung 83 lantai! Tempat landing berada sekitar 2 km dari landasan take off, cukup jauh dan curam kalau dilihat dari atas. Berhubung sudah sore dan katanya ‘mati angin’, kami pun menginap ramai-ramai di villa teman agar dapat mencoba lagi keesokan paginya. Sesepuh paragliding di situ lalu bercerita bahwa paragliding berbeda jauh dengan terjung payung meskipun sama-sama menggunakan payung. Kalau terjun payung adalah berupaya untuk turun, tapi paragliding justru berupaya untuk naik setinggi-tingginya dan terbang selama-lamanya di udara, namun sangat tergantung pada kondisi cuaca, thermal (udara panas yang naik ke atas) dan kecepatan angin.

Keesokan pagi jam 9 kami sudah ready di landasan. Badan dan paha saya lalu dililit dengan harnes yang menyambung ke semacam ransel besar berbentuk mirip seperti kura-kura – rupanya tempat menaruh parasut sekalian tempat duduk dan senderannya. Parasut lalu dibuka lebar dan diletakkan di landasan, tandem master dan saya pun diikat lagi ke tali parasut. Kami menunggu dan terus menunggu, duduk, berdiri, duduk, berdiri, demi mendapat angin baik’ yang katanya bisa diindasikan dengan melihat wind socket – bila arah angin menghadap kita dan bertiup cukup kencang, maka kita boleh mulai terbang. Giliran saya pun terus didahului para paraglider lain karena untuk tandem membutuhkan angin yang cukup kuat untuk membawa bobot 2 orang dibanding terbang solo. Sialnya, tiba-tiba awan hitam datang dan turunlah hujan. Buru-buru kami turun gunung dan berteduh lagi di warung. Menunggu lagi. Hujan turun cukup lama sampai akhirnya jam 1 siang kami memutuskan untuk pergi makan di restoran beneran. Lagi asik-asik makan, tiba-tiba awan hitam hilang dan matahari bersinar terang. Cling! Buru-buru lagi kami naik gunung dan bersiap lagi untuk terbang, tapi sialnya saat itu angin bertiup cuma sepoi-sepoi saja dan mengarah ke depan. Tandem master pun diganti dengan bobot yang lebih ringan supaya lebih mudah terbang. Kami pun menunggu dan menunggu lagi.

Jam 3 sore barulah saya tiba-tiba dipanggil dan cepat-cepat mengaitkan diri ke sana-sini. Si tandem master lalu menyuruh saya berlari… menghadap bibir tebing. Dan begitu saya berada di bibir tebing, saya merasakan jantung saya berhenti berdetak karena saya tidak melihat lagi landasan… tapi saya pun tertarik ke atas. Oh, saya sudah terbang! Selanjutnya saya sibuk menaikkan pantat saya agar dapat duduk di ransel kura-kura, sampai-sampai tandem master saya berdiri dan mendorong kursi ransel agar dia dapat ‘mencidukkan’ pantat saya. Setelah saya bisa menenangkan diri karena dapat duduk dengan tenang, saya baru merasakan terpaan angin yang berbunyi brbrrrrrr di muka saya. Kami pun terbang ke sana ke mari, rasanya seperti naik Ontang-Anting di Dufan tapi ini tidak ada porosnya. Telepon genggam yang berbunyi pun tidak saya hiraukan – bisa sih diangkat, tapi kalau jatuh bagaimana? Saya sempat pula melihat macetnya jalanan Puncak sampai…zziingg… tiba-tiba tandem master melakukan wing over – manuver belokan yang tajam. Saat inilah saya merasa adrenalin saya memuncak karena saya bisa saja seketika itu jatuh melorot karena tidak ada pegangan! Saat menuju tempat landing, tandem master menyuruh untuk menaikkan kaki saya bila tidak yakin bisa landing dengan kaki. Ssssuuuuttt…kami pun menabrak kebun teh.

Terakhir saya dikasih semacam sertifikat yang bertuliskan (perhatikan grammar dan ejaan bahasa Inggrisnya): I have try this extreem adventure flight in Indonesia. Tapi bagi saya, paragliding kurang seram dibanding ‘perjuangan’ saya menunggu angin – menunggu 2 hari untuk terbang sekitar 15 menit! Mungkin lagi sial, tapi berita baiknya, kalau saya traveling ke suatu tempat yang merupakan lokasi paragliding, ada aktivitas baru: saya bisa ikut lagi terbang tandem.

Taman Permainan Seram

Waktu Dunia Fantasi pertama kali buka di Ancol dua puluh tahun yang lalu (bayangkan, dua puluh tahun!), saya menyadari bahwa saya sangat menyukai permainan yang justru bikin jantung orang rasanya mau copot, pusing, atau muntah. Sampai sekarang pun Kora-Kora dan Halilintar adalah salah dua permainan yang tidak bosan-bosannya saya naiki tanpa rasa pusing atau mual sedikitpun, malah mengalir rasa yang luar biasa.

Tahun 1990 saya ke Amerika Serikat, saya sengaja pergi ke Disneyland Annaheim dan Six Flags Magic Mountain untuk merasakan aliran adrenalin yang lebih banyak. Saya sih tidak tertarik dengan tokoh-tokoh Walt Disney, tapi saya tertarik dengan permainan-permainannya yang seram. Sebetulnya isi permainannya kurang lebih sama dengan yang ada di Dufan, ada semacam Ontang-Anting, Pontang-Panting, Kora-Kora dan Niagara-Gara (baru sadar ternyata banyak nama permainan di Dufan yang merupakan pengulangan kata), tapi di sana dibuat jauh lebih seru dan lebih gila lagi!

Ontang-Anting dan Pontang-Panting di sana berputar lebih lama dan lebih cepat. Niagara-Gara dibuat turun yang lebih curam dan panjang, malah dua kali turunan. Kora-Kora yang di Dufan sudah bikin orang muntah karena perahunya turun naik kencang, di sana dibuat berputar 360 derajat – bahkan dibuat berhenti beberapa detik dengan kepala di bawah pada posisi jam 12! Halilintar sendiri langsung tidak ada apa-apanya, karena di sana banyak roller coaster yang jauh lebih seram. Coaster ini terbagi dua ‘spesialisasi’, ada yang spesialis turun naik curam seperti ‘Colossus’, ada yang spesialis berputar-putar (looping) seperti ‘Viper’. Selain coaster, permainan seram lainnya adalah ‘Free Fall’ – dari namanya saja langsung bikin deg-degan – kita duduk dan ditarik ke atas menara setinggi 30an meter dan dalam 2 detik dijatuhkan dari atas dengan kecepatan 90 km/jam! Atau ‘Space Mountain’ di Disneyland, yaitu roller coaster di dalam ruangan yang dibuat seakan-akan kita melesat ke luar angkasa. Pemandangannya gelap gulita, tapi kita dibawa turun naik, menukik, memutar, dan merasakan beberapa saat tanpa gravitasi. Wih!

Selanjutnya saya ke Amerika lagi, saya langsung tau apa yang saya mau: mencoba permainan seram lainnya. Saya ke Disney World di Orlando dan Six Flags Over Texas di Arlington. Di Orlando ternyata permainannya kurang lebih sama dengan di Annaheim tapi tempatnya lebih luas. Di Arlington permainannya lebih berkesan, seperti ‘Titan’, roller coaster dengan ketinggiannya 77 meter (atau setinggi gedung dengan 26 lantai) dengan kecepatan 136 km/jam. Satu putaran cuma 3,5 menit, tapi naik turun dengan putaran spiral dan kecepatan tinggi, bahkan di dalam lorong yang gelap total sepanjang 40 meter. Kalau di Titan kita duduk di semacam kereta, nah kalau ‘Batman The Ride’ kita duduk dengan kaki menjuntai-juntai dan hanya badan saja yang diikat. Walah! Soal kecepatan ada yang lebih gila yaitu ‘Mr. Freeze’ dimana kita ‘ditembak’ dengan kecepatan 0 sampai 112 km/jam dalam 4 detik, langsung naik ke atas ketinggian 70 meter, berhenti beberapa detik, dan meluncur turun tapi mundur! Wiih!

Terus terang dulu saya tertarik ke Brunei karena katanya ada taman permainan yang diklaim terbesar di dunia – bahkan lebih besar dari Disneyland, yang terletak agak di luar kota dari Bandar Sri Begawan bernama Jerudong Park dan GRATIS. Memang cukup canggih permainannya, ada semacam Kora-Kora dan Halilintar juga, bahkan ada Free Fall. Tapi tempat itu super sepi, satu permainan yang naik paling cuman 2 orang. Benar-benar tidak menarik sama sekali jadinya. Ketika saya ke Vienna saya juga pergi ke Prater, tapi tidak ada permainan yang seram di sana. Prater hanya terkenal dengan Giant Ferris Wheel – seperti Bianglala di Dufan. Atau ketika saya ke Barcelona saya menyempatkan diri ke Tibidabo. Saya juga tidak tertarik karena permaiannya didisain untuk anak-anak semua.

Saat ini rekor roller coaster dipegang oleh Kingda Ka yang terletak di Six Flags Great Adventure, New Jersey. Dengan kecepatan 0 sampai 205 km/jam dalam 3,5 detik kita dibawa ke ketinggian 126 meter, lalu berputar setinggi 137 meter (gedung setinggi 45 lantai) ke angkasa dengan kemiringan 90 derajat. Setelah beberapa saat di udara, turun 45 meter ke bawah dengan spiral 270 derajat untuk merasakan bebrapa saat tanpa gravitasi, lalu melejit naik lagi ke ketinggian 40 meter lalu meluncur balik. Wah, bikin ngileerr! Kalau ada kesempatan, saya pasti bela-belain ke ‘taman permainan seram’ (saya tidak tahu bahasa Indonesianya untuk kata ‘amusement park’ atau ‘theme park’), mau naik roller coaster yang makin hari makin cepat, makin canggih, dan makin bikin deg-degan. Sayangnya saya tidak punya lawan eh kawan. Teman-teman saya pada parno dengan ketinggian, apalagi naik roller coaster…pasti ogah. Rasanya bete kalau saya harus nunggu antrian yang panjang sendiri dan berteriak-teriak sendiri tanpa ada orang untuk diketawain.