Search Results for:

[ADV] Nginep di apartemen yuk!

Apartemen di Izmir, Turki

Saat saya berencana nginep di apartemen, berarti saya sedang traveling bersama teman-teman dan mau diajak patungan. Soalnya kalau menginap di hotel, kamarnya nggak bisa dijejelin rame-rame. Belum lagi peraturan hotel tambah ketat tentang jumlah tamu per kamar. Mau nambah extra bed, akan keluar biaya ekstra lagi. Mau tinggal di dorm hostel, jatuhnya lebih mahal kalau dihitung per kepala. Sementara, kalau sudah kena “faktor U”, saya wajib memiliki tidur yang berkualitas supaya tetap bertenaga saat traveling.

Pertama kali nginep di apartemen waktu dulu ke Anyer, Banten, bareng teman-teman. Entah dari mana teman saya itu dapat nomor telepon pemiliknya, pokoknya tinggal transfer duitnya dan dapat kunci. Enak juga bisa bebas ngapa-ngapain di “rumah” sendiri dan pada saat ingin sendiri tinggal pindah ke balkon, ke ruang tamu, atau ke dapur. Kedua kali nginep apartemen pas di Swakopmund, Namibia. Lagi-lagi teman saya yang punya kontak pemiliknya, lalu janjian ketemu dan dikasih kunci. Kita bawa bekal banyak dan masak-masak di “rumah”. Emang enak deh nginep di apartemen karena lebih bebas tanpa dipelototin staf hotel. Tapi saya jadi berpikir, kalau saya nggak tau kontak pemilik apartemen secara bukan orang lokal, gimana caranya saya bisa nginep coba?

(more…)

Read more

[ADV] Dukung tim Indonesia di IT Travelers Go!

Tim Indonesia! (ki-ka: Rahmat, Yasmin, Arif, Ivan)

Masih inget dengan IT Travelers Go yang pernah saya ceritakan sebelum ini kan? Biar nggak lupa, IT Travelers Go adalah kompetisi yang diselenggarakan oleh Taiwan Excellence, untuk mencari para perwakilan negara yang layak melakukan jalan-jalan ke negara Indonesia, India, Vietnam, dan Taiwan selama 21 hari, sekaligus bersaing antar tim negara untuk merebut hadiah utama US$20,000 bagi tim terbaik. 

Untung saya sempat datang ke babak penentuan 4 finalis yang akan mewakili Indonesia sebagai satu tim pas tanggal 25 September 2011 di Emporium Pluit. Semua peserta antusias banget untuk terpilih jadi peserta yang akan jalan-jalan. Mereka diberi tugas-tugas menulis, bikin video, presentasi, dan lain-lain, yang semuanya keren. Sayangnya nggak bisa semuanya menang sekaligus, tapi saya yakin mereka dapat pengalaman yang oke juga kok. Bisa diterbangin ke Jakarta gratis, bertemu dengan teman-teman sesama penggila jalan-jalan dan.. bisa ketemu saya 🙂 *GR*

(more…)

Read more

[Adv] Tips pake softlens untuk traveler

Saya pake kaca mata minus sejak SD. Taunya gara-gara setiap lihat ke papan tulis, tulisannya jadi dobel. Dulu saya malu pake kaca mata, jadinya dicopot melulu, sehingga minusnya naik dengan drastis. Baru SMP saya selalu pake kaca mata kecuali tidur dan mandi. Itu pun saya masih merasa terganggu karena nggak enak pas maen basket, kemping, naik gunung, naik motor, dan lain-lain. Belum lagi kaca mata sering pecah atau gagangnya patah karena jatuh atau kedudukan.

Sejak saya jadi “mbak-mbak kantoran”, acara jalan-jalan makin menggebu. Tambahlah saya merasa sengsara pake kaca mata minus 5,50 itu, makanya saya ganti pake softlens. Sebagai traveler, pake softlens sangat membantu. Bisa gaya pake kaca mata item model apapun, bisa ikut aktifitas outdoor tanpa risih kaca mata melorot karena keringetan, bisa mandi dengan jelas (penting nih), bangun tidur nggak usah ribet cari kaca mata, dan lain-lain.

(more…)

Read more

Follow your passion*

Setelah jadi “mbak-mbak kantoran” selama bertahun-tahun, saya punya cita-cita untuk jadi freelancer sehingga tidak usah bergantung dengan satu institusi tertentu, tidak punya bos, tidak punya kolega, tidak harus ngantor, tidak harus bangun pagi. Tapi kerjaan macam apa yang bisa survive hidup di ibu kota? Seluruh keluarga besar saya nggak ada yang jadi freelancer, dari kecil kami ditanamkan untuk bekerja kantoran dan berkarir.

Jadi bagaimana caranya saya meyakinkan diri untuk melepas kerja kantoran dengan gaji bulanan dan menjadi freelancer dengan gaji kapan-kapan?

Professor Gavino, dosen saya di Asian Institute of Management, Filipina, menasehati saya, “Follow your passion and success will follow you”. Saat itu saya tidak bisa mendeskripsikan kata “passion”. Dalam bahasa Indonesia hanya diartikan sebagai “gairah”. Lalu saya disuruh bertanya kepada diri sendiri: hal apa yang membuat saya dengan senang hati terus melakukannya? Jawabannya: jalan-jalan dan menulis. Kedua hal itu lah yang membuat saya merasa bergairah dan tidak merasa bosan bila melakukannya terus menerus. Tanpa dibayar pun saya dengan senang hati melakukannya, contohnya menulis di blog naked-traveler.com.

Jadi, passion saya adalah menulis tentang perjalanan atau menjadi travel writer. Dulu saya pikir passion saya adalah bekerja di bidang marketing communications, tapi mengapa masih juga saya males ke kantor? Kalau saya tidak digaji, tentu saya akan ngamuk-ngamuk mengerjakannya. Tapi kalau jadi travel writer, saya bisa bergairah terus menerus!

Tapi bagaimana caranya agar passion itu jadi penghasilan dan membuat saya sukses? Saya pun dikuliahi Professor Gavino. Intinya, kalau kita menginginkan sesuatu, jangan hanya di angan-angan aja. Kita harus put into action. Iya, tapi gimana? “Dimulai dengan menuliskannya. Lalu menghitung segala kemungkinan,” jawabnya.

Saya disuruh bikin MRR (Management Research Report) terhadap diri sendiri. Di sekolah S2 saya, MRR adalah thesis yang berisi business plan tentang suatu perusahaan sehingga menjadi lebih baik. Sederhananya, kita harus membuat analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), menetapkan segmen pasar, membuat produk, membuat strategi bisnis, dan pada akhirnya ada perhitungan bisnis 5 tahun ke depan.

Lalu sibuklah saya bikin MRR itu. Saya memposisikan diri sebagai sebuah perusahaan dan produknya adalah tulisan perjalanan. Saya menganalisa apa kelebihan dan kekurangan saya, kesempatan dan ancaman di industri, juga riset tentang potensi bisnis. Terakhir, saya buat file excel selama 5 tahun ke depan atau 60 bulan. Tiap kolom saya isi dengan perkiraan pengeluaran bulanan dan pemasukan dari berbagai macam pundi.

Dan tibalah saatnya saya beneran tidak bekerja kantoran. 3 bulan pertama saya asyik leyeh-leyeh di rumah, menikmati kebebasan. Bulan berikutnya mulai mikir, loh kok belum ada pemasukan? Barulah saya panik dan segera melihat MRR saya tadi. Saya mengikuti langkah-langkahnya, mengontak potensi bisnis, bikin proposal sana-sini, dan rajin menulis.

Hasilnya? Pemasukan meleset! Tapi saya tetap sabar dan terus berusaha. Lama-lama menuai untung juga, bahkan melebihi perkiraan yang saya buat sebelumnya. Ternyata kalau kita fokus pada satu hal, hasilnya jauh lebih menguntungkan. Ternyata pemasukan saya dari “menulis saja” lebih besar daripada “kerja kantoran + menulis”. Bahkan akhirnya saya dapat banyak job yang bukan menulis, misalnya jadi pembicara, karena keahlian saya yang spesifik. Bonusnya adalah saya nggak harus bangun pagi, nggak harus bermacet-macetan di Jakarta, dan punya waktu jalan-jalan yang tidak terbatas.

Tidak terbatas? Ya, pekerjaan sebagai travel writer itu bisa dikerjakan di mana saja. Traveling sih jalan terus, tapi menulis juga harus jalan. Sebagai freelancer yang tidak punya kantor, teknologi adalah hal yang penting sebagai backbone pekerjaan saya. Makanya harus punya gadget dan applications yang mendukung. Tablet Acer Iconia A500 saya adalah salah satunya. Browsing, emailing, writing, blogging, twitting, facebooking, reading, gaming, chatting, taking pictures, filming – semua tinggal sentuh doang. Long journeys jadi terasa short karena banyak yang bisa dikerjakan di tablet itu. Tidak cuma untuk bekerja, tapi juga untuk bersosialisasi dan bermain.

Nah, sekarang tanyalah pada diri sendiri: apakah passion Anda? Dan yang lebih penting, apakah Anda punya keberanian untuk mewujudkan passion Anda tersebut?

*tulisan Advertorial ini diambil dari http://www.acerid.com/2011/08/follow-your-passion/

Read more

Anak kuliah juga bisa jalan-jalan!

saya, anak kuliah yg jalan2 ke Amsterdam

Pembaca dan follower twitter saya yang anak kuliahan banyak yang bilang “nggak bisa jalan-jalan”. Alasan terbesarnya adalah karena mengaku nggak ada duit. Padahal saya yakin sebagian dari mereka punya smart phone dan komputer jenis terbaru, yang lebih keren daripada punya saya sekarang. Nggak dapet izin dari orang tua untuk jalan-jalan? Ya, kamu sih mau jalan-jalan tapi duitnya minta ortu. Coba deh kalo duitnya nggak minta ortu, 90% pasti mereka kasih izin. Lah, 10% nggak ngasih izin kenapa? Silakan introspeksi diri, mungkin kamu nilainya jeblok atau kelakuannya tidak baik di mata ortumu.

Percaya nggak, dulu waktu kuliah di Universitas Diponegoro Semarang, saya bisa backpacking ke Eropa hasil keringat sendiri! Well, dulu memang dolar tidak semahal sekarang. Tapi dulu juga nggak ada hape, internet, apalagi budget airlines. Jadi, kalau saya bisa, kenapa kamu nggak bisa?

(more…)

Read more