Apa rasanya menginap di hotel terbaik sedunia?

Apa rasanya menginap di hotel terbaik sedunia?

Sejak belasan tahun yang lalu saya sudah mendengar tentang resor keren di Pulau Sumba, namanya Nihiwatu. Ternyata pada 2012 namanya telah berubah menjadi Nihi setelah dibeli dan direnovasi oleh pengusaha AS, Chris Burch (FYI, brand fashion Tory Burch adalah salah satu miliknya). Nama Nihi semakin terkenal karena pada 2016-2017 memenangkan penghargaan sebagai Best Hotel in the World oleh Travel & Leisure selama dua tahun berturut-turut. Lalu diikuti oleh penghargaan sebagai hotel terbaik sedunia oleh Conde Nast, The Telegraph UK, Tripadvisor, dan lain-lain.

Selebritas dunia pernah menginap di Nihi: mulai dari liburan keluarganya David Beckham, bulan madunya Jennifer Lawrence, sampai pernikahan Brody Jenner. Belakangan di masa pandemi ini, Nihi menjadi tempat liburan para selebritas Indonesia, seperti Gisel, Luna Maya, dan Raffi Ahmad. Bukannya mau ikut-ikutan para seleb, tapi siapa yang nggak pengen menginap di Nihi?

Dalam rangka merayakan ulang tahun saya pada 11 Januari 2021, akhirnya kesempatan itu datang: saya menginap di Nihi selama 3 malam! Saya pun mengajak sahabat saya si Sri supaya nggak bete-bete amat sendirian di tempat kece begini.

Ucapan selamat ultah di outdoor bathtub!

Nihi terletak di Wanokaka, bagian barat Pulau Sumba, propinsi Nusa Tenggara Timur. Terbangnya dari Bali (DPS) ke Tambolaka (TMC) selama 1 jam. Dari TMC dijemput naik jip Nihi dan berkendara sekitar 1,5 jam. Hebatnya, ada staf Nihi yang membantu mulai dari check in di bandara Bali sampai tiba di hotel! Sampai di reception, kami disambut Kapten yang bertugas sebagai penghubung untuk segala kebutuhan selama menginap. Namanya Simson, pria Sumba asli. Kami bertukar WhatsApp agar memudahkan komunikasi (surprise, wifi lancar jaya!), lalu diantar berkeliling.

Terletak di Pantai Nihiwatu yang berbentuk teluk dan dikelilingi hutan lebat, Nihi memiliki 28 villa bergaya Sumba yang tersebar di kemiringan bukitnya. Setiap villa sangat tersembunyi, tidak kelihatan dari luar saking tertutupnya oleh pepohonan. Semua bangunan terhubung dengan jalan setapak dari batu alam dan berundak-undak, kadang tertutup atap tanaman rambat. Arsitekturnya dibuat khusus agar setiap villa menghadap laut dan matahari terbenam namun tidak tertutup oleh bangunan lain. Semuanya serba terbuka – socially distant, wildly connected yang sangat sesuai di masa pandemi. 

Pantai sepi sejauh mata memandang

Saya menempati 1-bedroom villa yang dinamai Raja Lamba. Desainnya rustic, beratap rumbia, banyak unsur kayu, dengan tone warna tanah. Semuanya terbuat dari bahan alami berkualitas tinggi seperti kayu jati, lantai marmer, dan outdoor bathtub terbuat dari tembaga. Amenities-nya pun sangat eco friendly: tidak ada plastik sekali buang, bahkan tempat sampah aja dialas daun pisang. Halamannya cukup luas menampung bale-bale berkasur empuk dan tentunya infinity pool. Siang hari saya berjemur bugil dengan bebas saking tersembunyinya villa ini. Setiap sore kami nongkrong melihat sunset sambil ngopi di bale-bale.

Villa Raja Lamba

Makan tiga kali sehari termasuk ke dalam harga paket. Makan pagi dan malam di Ombak Restaurant yang terletak di atas bibir tebing menghadap pemandangan laut yang spektakuler. Makan siang di Nio Beach Club yang persis di tepi pantai. Sistemnya a la carte, jadi tinggal pilih di menu aja: ada makanan Indonesia, Italia, Jepang, sampai Meksiko. Selain itu ada Menu of the Day yang berganti setiap hari. Mengingat lokasinya di Sumba yang terpencil, saya salut dengan ketersediaan bahan makanannya, seperti segala macam keju dan daging impor. Salutnya, stafnya semua orang Sumba asli dengan servis yang baik. Di kamar pun tersedia minibar berisi aneka minuman, termasuk bir, vodka, whiskey dan gin, juga handmade coklat organik buatan Nihi. Setiap hari minibar diisi penuh lagi!

Kalau bosan leyeh-leyeh, bisa memilih berbagai aktivitas gratis seperti yoga, paddle boarding, dan surfing – peralatannya bisa dipinjam di The Boathouse. Ada juga yang berbayar, seperti spa, cooking class, dan kursus menenun ikat. Saya memilih tiga aktivitas. Pertama, pas ulang tahun, saya ikut Half Day Spa Safari di Nihioka Spa. Ke lokasi spa ini bisa naik jip selama 20 menit atau trekking selama 2 jam. Lagi-lagi tempat ini sangat luas dan tersembunyi dengan pantai pribadi. Saya memilih 3 treatment dari belasan menu yang ada, yaitu Nihioka Signature Massage, Head Massage dan Facial. Tempat spa berupa bale-bale terbuka yang letaknya di pinggir tebing menghadap laut. Terapisnya pun mama-mama Sumba. Saya yang nggak pernah tidur saat dipijit, baru kali itu saya sampai tewas ketiduran saking enaknya!

Nihioka, the sexiest spa!

Kedua, saya ikut Beach Horse Riding. Sumba terkenal dengan kuda pacu endemiknya yang disebut kuda sandel (sandalwood pony) jadi aktivitas ini “Sumba banget”. Nihi sendiri memiliki stable berisi 17 kuda beserta para perawatnya. Menjelang sunset, setelah mengenakan helm dan sepatu boot, saya menunggangi kuda betina bernama Bindy, berusia 4 tahun, ras campuran kuda Sumba dan Australia. Saya lumayan sering berkuda, tapi baru kali ini di tepi pantai dan pakai bikini! Di mana lagi bisa begini coba?

Bindy and I

Terakhir, saya ikut tur The Sumba Foundation karena pengin tahu program CSR Nihi. Organisasi nonprofit ini sudah 20 tahun memberikan bantuan air bersih, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kepada masyarakat sekitarnya yang donasinya berasal dari tamu Nihi. Saya sempat mengunjungi klinik yang mempromosikan anti malaria dan ke Kampung Motodawu untuk memberikan makanan tambahan kepada anak-anak. Model kerjasama hotel dan NGO untuk memerangi kemiskinan ini sampai memenangkan penghargaan dunia dari WTTC dan PATA.

Anak-anak Kampung Motodawu

Kesimpulannya, Nihi memang salah satu hotel terbaik yang pernah saya inapi! Apakah setuju didaulat sebagai hotel terbaik sedunia dan apakah sebanding dengan harganya? Kalau menggunakan perspektif mayoritas orang Indonesia sih belum tentu ya, karena hotelnya bukan standar kemewahan orang Indonesia. TV aja nggak ada kok. Tapi kalau perspektif bule dari negara maju, Nihi itu seksi karena benar-benar private di tengah alam indah yang masih perawan. Privacy is the key dan Nihi menyediakannya di area yang sangat luas tanpa terganggu orang lain.

Bagi saya pribadi, kelebihan Nihi adalah lokasi dan ambience romantisnya. Bayangkan, sejauh mata memandang tidak ada bangunan apa-apa lagi di sekitarnya, hanyalah hamparan hutan berbukit dan laut luas dengan pantai pasir putih berkilo-kilo meter. Hotel mahal di Bali aja nggak bisa begini. Justru dengan kesederhanaan desain villa Nihi, jadinya menyatu dengan alam. Bagusnya lagi, makanannya berkualitas fine dining yang beneran enak. Dengan harga premium jadi wajar karena lokasi dan kualitasnya, plus mem-filter sendiri jenis tamu yang menginap. Above all, I had the best birthday celebration in Nihi!

Tonton videonya di sini:

Leave a Reply

Leave a Reply