Travel

Tinker Bell Kenthir!

By Trinity

April 01, 2020

Ini sepenggal cerita pada saat #TNTrtw (perjalanan saya keliling dunia setahun penuh ke 22 negara) yang tidak jadi dimasukkan ke dalam buku “The Naked Traveler: 1 Year Round-the-World Trip” di sini maupun di sini karena merupakan tindakan ilegal. Mohon tidak ditiru!

Moskow, Rusia, hari ke-1 #TNTrtw

Malam pertama di Moskow, saya berbelanja ke minimarket yang berjarak dua blok dari hostel. Setelah mengambil barang seperlunya, saya mengantri di kasir. Ternyata jumlah uang Rubel yang tertera di mesin kasir ada angka sen jadi mending bayar pakai uang koin. Saya pun merogoh dompet koin yang terpisah dari dompet utama. Karena antrian panjang, supaya cepat saya balik isi dompet sampai koinnya tumpah. Cring! Cring!

Saya terus membalik dompet sampai… sesuatu berwarna putih melayang… pelan-pelan jatuh di meja kasir tanpa bunyi… Jantung saya seketika berhenti. Mbak kasir melotot. Yasmin menjerit. Orang-orang menganga. Dunia seakan berhenti beberapa detik. Benda putih itu adalah… selinting cimeng! Oh, shit!

Belum sempat bernapas, saya sok coolmemungut lintingan tersebut dengan tangan gemetaran. Dem, gimana ceritanya cimeng ada di dalam dompet? Doh, kenapa juga sebelum berangkat nggak diperiksa dulu dalamnya dompet? Eh, jadiiii… perjalanan dari Jakarta sampai Moskow via Doha saya bawa cimeng di dalam tas kabin?! Gimana kalo dipenjara di Rusia coba? Atau, mati digantung di Qatar?!

“LU GILA BAWA CIMENG KE RUSIA! GIMANA KALO KETANGKEP KGB? BUANG SANA CEPAAAT!”, tiba-tiba suara Yasmin yang melengking memecah kesunyian.

Kami pun buru-buru lari kabuuurrr!!! Sampai di hostel, saya segera membuang ke toilet dan mem-flush-nya. Ffuih! I love you but no thank you!

Isla Grande, Kolombia, hari ke-238 #TNTrtw

Di sebuah pulau terpencil di utara Cartagena, saya lagi asyik berenang di pantai berpasir putih. Tiba-tiba… ada cowok muncul dari dalam air! Aww, saya yang ‘nggak kuat’ sama cowok yang jago berenang otomatis langsung saya ajak kenalan. Cowok Kolombia ini mukanya biasa aja, tapi orangnya sangat menyenangkan, dan yang terpenting, jago bahasa Inggris – ia ternyata manager hotel sebelah. Entah gimana mulainya, lagi asyik ngobrol tiba-tiba saja kami membicarakan tentang cimeng. Mungkin karena melihat tampang saya yang mupeng, dia pun menawarkan saya, “Gue ada stok nih! Mau nggak?” Jeng! Jeng! Lucu juga nih bisa nyimeng di Kolombia, berasa kayak anak buahnya Pablo Escobar!

Dermaga Laguna Encantada pada siang hari

Singkat cerita, jam 8 malam cowok ini dateng ke hostel saya di tengah hutan. Saya pun mengajaknya nongkrong di Laguna Encantada – sebuah danau bioluminescence yang kayak di film “Life of Pi” dimana pada malam hari kalau kita bergerak di air, ada plankton yang menyala-nyala mengikuti gerak kita. Kami pun nyimeng sambil ngobrol dan ketawa-ketiwi di dermaga dengan kaki menjulur ke danau. Begitu kaki digerak-gerakkan, air sekeliling menyala kebiruan! Lama-lama kami nyebur dan menari-nari di dalam air. Wihh.. saya tiba-tiba berasa kayak Tinker Bell! Bisa terbang sambil dikelilingi cahaya dan mempunyai tongkat ajaib. CLING! CLING! Si cowok ini pun tiba-tiba mukanya berubah jadi Ariel Peterpan! Anjirr! Bener-bener perfect spot to get high!

Medellin, Kolombia, hari ke-248 #TNTrtw

Saat menginap di hostel di Medellin, dasar murah, toiletnya terletak jauh di ujung belakang rumah samping taman. Suatu pagi saat kebelet, saya buru-buru lari ke belakang, eh pintu toilet terkunci! Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah asap rokok bergulung-gulung tebal! Asap pelan-pelan menghilang, lalu terlihat lah si pemilik hostel sambil terbatuk-batuk. Hmm, baunya nggak salah lagi… ini cimeng! Hayoo.. kegeb! Ide cemerlang saya pun keluar. Saya ancam, “I know what you did in the toilet. Give me one or I’ll tell everybody!” Pria botak ini pun menjawab, “Plis, plis, jangan bilang-bilang! Saya kasih kamu satu deh ntar malam!”

Jam 11 malam saat semua tamu hostel sudah tidur, saya mengendap-endap ke ruang tamu dan menagih cimeng ke bapak kos. Dia memberikan selinting sambil berkata, “Ini ya! Tapi syaratnya kamu harus nyimeng di dalam toilet terkunci di belakang juga, karena tetangga pernah komplen baunya. Dan hati-hati, cimeng ituvery strong!” Saya ketawa aja karena dia pasti nggak tau cimeng Indonesia juga strong banget.

Saya pun nyimeng di toilet sambil duduk di kakusnya. Baru juga tiga isap, eh saya udah terbang! Uh, gimana nggak cepet giting? Nyimeng di ruangan tertutup, asapnya kan berputar di situ-situ aja, dan terhirup lagi! Baru setengah linting, saya pun menyerah. Saya berjalan balik ke ruang tamu dan mengembalikan sisanya ke bapak kos. Dia tertawa terkekeh-kekeh, “See, I told you so!”

Lagi merasa kreatif, saya lalu membuka laptop untuk menulis. Eeeh.. tiba-tiba tuts di keyboard melayang satu per satu! Tanpa harus mengetik, kata-katanya sudah ada di udara yang tergabung dari tuts-tuts huruf melayang! Saya pun hanya tinggal menggeser-geser file di udara, kayak di film seri CSI! Anjirrr, efek cimeng ini keren banget!

Montego Bay, Jamaika, hari ke-295 #TNTrtw

Jamaika emang senegara tukang nyimeng! Harganya murah, dapatnya gampang, sehingga turis pun ikut merasakan, termasuk di hostel yang saya tinggali. Setiap malam fellow travelers dari berbagai bangsa ini ngakak-ngikik, main kartu, ngobral-ngobrol, nyebur ke kolam renang, sampe ketiduran di luar dan paginya sekujur tubuh bentol-bentol dimakan nyamuk.

Kolam renang hostel di Montego Bay

Malam terakhir di Montego Bay, di hostel saya asyik ngobrol sama seorang cowok kece berambut model dreadlock diiringi musik reggae dari laptop-nya di pinggir kolam renang. Perfect setting! Kurangnya cuma bahasa Inggrisnya aja kacau dengan logat Prancis yang mendengung-dengung. Entah gimana awalnya, tau-tau dia nawarin cimeng! Kami pun giting bareng, keketawaan karena bahasa Inggrisnya belibet.

Sampai pada suatu saat nggak sengaja kaki saya menginjak kakinya. Tiba-tiba dia menjerit keras, “Matamu suwek! Kenthir kowe!” Saya langsung terdiam. Masalahnya saya ngerti bahasa Jawa dan itu kasar banget! Ehh.. tapiii… dia barusan ngomong bahasa Jawa bukan sih? Belum sempat mikir lain, tau-tau mulai saat itu kami berdua ngomong dalam bahasa Jawa! Saya ngakak sampe kejungkel-jungkel! Bayangkan, denger bule Prancis ngomong bahasa Jawa dengan logat medok di Jamaika! Ternyata si bule pernah tinggal di Yogyakarta setahun. Ah, sungguh absurd malam itu!

Guadalajara, Meksiko, hari ke-352 #TNTrtw

Malam terakhir di Guadalajara, saya lagi sibuk ngetik di lobi hostel karena internet cuma nyala di situ. Resepsionisnya seorang cowok Meksiko Utara yang ganteng lewat. Dia menyapa saya basa-basi, “Hola! Como estas?”. Hmm… dari mulutnya saya mencium bau lain nih! Saya pun langsung nembak, “Baru abis nyimeng ya lo?” Dia pun tertawa, “Emang lo mau? Ntar malem ya?”

Katedral Guadalajara

Jam 11 malam saat hostel sepi, saya mengendap-endap ke lobi. Saya ditariknya ke balkon luar dan nyimeng bareng di sana. Wih, saya baru sadar hostel yang berusia ratusan tahun ini memiliki pemandangan spektakuler di malam hari karena langsung menghadap Katedral! Setiap jam, Katedral membunyikan belnya. DONG! DONG! DONG! Aduh, saya jadi tambah merasa bersalah: nyimeng di depan gereja! Namun cowok superganteng ini tidak boleh disia-siakan. Sayangnya dia nggak bisa berbahasa Inggris jadi saya terpaksa ngomong bahasa Spanyol dengan terbata-bata. Eh tapi lama-lama seru juga cowok ini karena kami keketawaan semalaman sampai berkali-kali dengar bel gereja. Ternyata kalau giting, saya makin lancar nyerocos bahasa Spanyol! Hahaha!