Anthology Posts

Perjuangan ke Luang Prabang

By Trinity

August 17, 2011

By Rini Raharjanti*

Luang Prabang, Laos

Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit guesthouse. Menurut rekomendasi Lonely Planet, lebih baik naik van daripada bus karena lebih nyaman dan perjalanan yang harusnya ditempuh 12 jam bisa jadi 10 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk naik van walaupun harganya $9 lebih mahal dari harga bus VIP. Di travel agent terpampang foto cantik van yang akan membawa saya ke Luang Prabang. Saya senyum sumringah karena bakal tidur di jok kursi van yang empuk.

Setelah makan siang dan berjalan-jalan sekitar kota, saya menuju meeting point dimana van menuju Luang Prabang akan menjemput saya. Tidak lama menunggu, sebuah mobil pick up lengkap dengan jeruji besi di kedua sisi berhenti di depan hidung saya. Pak Supir keluar dari mobil dan bertanya “Luang Prabang?”. Saya BENGONG. Sempet bolot beberapa saat ngebayangin bakalan naik mobil pick up buat ngangkut sapi ke Luang Prabang selama 12 jam! ALAMAK! Saya cuman mengangguk perlahan memandang nelangsa penuh derita nestapa. Dengan bahasa Inggris patah-patah pak supir bilang “Don’t worry, I will only take you to bus station. You will move to a nice van there.” OALAAHHH..mendengarnya lega sekali serasa diguyur air syurga! Dengan senyum lebar saya naik mobil pick up dan menuju terminal bus.

Sesampainya di terminal bus, saya langsung celingak-celinguk mencari van yang menuju Luang Prabang. Tapi saya ga nemu satu van pun beredar di sekitar terminal. Pak supir hanya mengantar saya sampai loket penjualan tiket untuk menukar tiket dan sepersekian detik berikutnya, dia hilang ditelan bumi. Saya mendapat karcis dan langsung digiring sama petugas terminal ke sebuah bus model bus AKAP ekonomi! SAYA DITIPU! Mana van-nya? Kok malah bus butut? Duh, rasanya gondok dan sebel bisa ditipu habis-habisan kayak begini. Mau ngamuk dan mau complain juga udah ga bisa lagi karena pak supir juga udah melarikan diri! Kalau dikasih bus VIP yang ada AC dan tempat duduk yang nyaman mungkin saya ga bakalan bete banget. Tapi ini bus ekonomi, bung! Padahal saya juga udah bayar $9 lebih mahal dari bus VIP. Saya cuman bisa duduk lemes, menelan ludah dan berusaha untuk mengendalikan kegondokan.

Tepat pukul jam 4 sore bus berangkat. Isi busnya ga penuh, hanya saya, dua orang teman, dan segelintir orang lokal dengan berbagai macam jenis belanjaan. Kegondokan saya berangsur hilang waktu ngeliat pemandangan indah sepanjang jalan ditemenin dengan lagu Laos yang hingar bingar model semi-dangdutan. Pak Supir dan pak kondektur dengan semangat juga ikutan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Orang-orang lokal pada ngobrol ngalor ngidul sambil ngakak ngikik.

Mendadak di tengah jalan bus berenti. Orang-orang pada serentak turun satu demi satu. Nah lho, kenapa nih? Ban bocor? Bus mogok? Kenapa sih? Sampe akhirnya pak supir bilang, “Toilet.” Weks, saya cari cari mana toiletnya? Kagak ada bentuk toilet di sekitar-sekitar situ. Yang ada cuman semak-semak dimana-mana. Saya perhatiin orang-orang asoy geboy aja ngumpet disemak-semak pilihan mereka dan melepaskan pipisnya! Saya langsung ketawa abis-abisan! Buset, di Indonesia ga segitu parahnya deh ya!

Perjalanan panjang pun dilanjutkan. Bus cuman jalan dengan kecepatan kayak siput, 30-40 km per jam di jalan berkelak-kelok ditemani dengan rintik hujan. Sepanjang jalan saya berusaha tidur senyenyak mungkin walaupun kedinginan dan harus mengkeret di tempat duduk yang super sempit dan ga nyaman. Belum lagi tiap jam bus-nya berenti buat toilet break atau beli jajanan pasar atau makan. Rasanya ga sampe-sampe! Bener-bener penuh penderitaan!

Tepat 12 jam tersiksa di dalam bus, saya terbangun karena sudah sampai di Luang Prabang. Masih ngantuk dengan tampang kucel saya keluar dari bus. Saya shock karena terminal bus di sana sunyi senyap. Ga ada kehidupan. Ga ada tuk-tuk. Saya terdampar dan terlantar di terminal bus Luang Prabang jam 4 pagi! Saya sempet takut juga kalo bakalan diapa-apain sama orang. Untungnya ga lama sebuah tuk-tuk dateng. Setelah menyebutkan daerah mana yang mau saya tuju dan melakukan tawar-menawar saya pun meluncur ke daerah backpacker. Luck was still on my side, pagi-pagi buta setelah turun dari tuk-tuk ada seorang lelaki paruh baya yang muncul di depan hidung saya dan menawarkan guesthouse miliknya yang superluas dan bersih.

Setelah istirahat dan mandi, saya menyewa sepeda mini dan menggowesnya keliling Luang Prabang bersama teman. Saya langsung jatuh cinta dan terpesona dengan keindahan Luang Prabang. Ga salah kalo Luang Prabang ditunjuk sebagai UNESCO World Heritage Center. Kota ini tertata dengan teratur dan bersih. Rumah-rumah modern dengan gaya campuran Laos dan Perancis berjejer dengan rapi. Kuil-kuil Buddha yang sudah berumur ratusan tahun menambah kesan religi kota ini. Walaupun secara keseluruhan kota ini tampak modern tapi kesan keramahan Asia sangat terasa. Penduduk lokalnya baik dan ramah, sesama turis yang ga dikenal asik saling menyapa. Suasananya bener-bener nyaman dan menyenangkan. Saya terus menggowes sepeda mini sampai malam menyusuri sungai Mekong, kuil-kuil Buddha, Old heritage house dan berhenti di Night Market. Beberapa teman baru dari Skotlandia dan Spanyol bergabung bersama saya malam itu menikmati mie kuah khas Laos, Beer Lao dan Lao coffee.

Sedetik saya berada di titik terendah penuh penderitaan, namun sedetik berikut saya berada di titik teratas penuh keriaan menikmati perjalanan. Traveling memang selalu menjanjikan pengalaman naik turun yang memacu andrenalin. Hari ini saya rasakan seperti roller coaster..

*Rini Raharjanti – Sudah menulis 2 buku panduan traveling berjudul “Rp 3 Jutaan Keliling India” dan “Travelicious Jakarta”. Suka melampiaskan kebosanannya lewat tulisan di blog cuapcuapnabi.blogspot.com. Suka berkicau di twitter @riniraharjanti dengan banyak sharing cerita perjalanannya.