Anthology Posts

There is always a first time

By Trinity

January 28, 2009

by Tjahja Junindra*

TJ & istri di Masjid Sultan, Kampong Gelam, Singapore

Sudah ‘tuwir’ baru bisa jalan ke luar negeri. Begitulah nasib saya, yang kiranya cukup mewakili sebagian besar orang kantoran level menengah Indonesia. Sekalipun punya corporate title cukup keren, belum tentu gajinya cukup besar. Kalaupun bekerja di perusahaan asing, belum tentu dapat fasilitas overseas training. Kalaupun bisa menabung, sebentar kemudian menikah, dan setelah itu mencicil rumah, mengkredit mobil dan mengangsur ini itu, habislah alokasi tabungan. Boro-boro pelesir ke luar negeri, ke Bali saja belum tentu lima tahun sekali. Sebetulnya pelesir bisa disiasati agar bujetnya minim. Tapi buat orang kantoran seusia saya, pelesir irit-irit cenderung dipandang aneh, yang ketuaan untuk sebuah petualangan lah, yang pelit lah, dll. Tapi saya dan istri sih biasa jalan-jalan irit. Ke Bali misalnya, naik mobil, tanpa punya target lokasi, tanpa reservasi hotel, patokannya cuma satu: tanggal sekian harus pulang karena cuti sudah habis.

Menjelang usia 36, saya dan istri baru bikin paspor untuk perjalanan yang sederhana sekali: ke Singapore dan lanjut ke Malaysia. Karena sudah biasa pelesir di dalam negeri tanpa rencana detail, maka pola yang sama kami lakukan juga untuk perjalanan perdana ini. Kami cuma membeli tiket pesawat one way ke Batam dan memesan budget hotel di Singapore untuk satu malam. Selebihnya urusan nanti. Tips pelesiran kami googling dari internet, dan karena kami cinta laut maka salah satu keyword-nya adalah pantai mana yang bagus di Malaysia, hasilnya adalah Perhentian Island atau Langkawi. Wah, mencar banget tempatnya! Yah itulah, lihat nanti saja di sana. Tiba di Marina Bay Singapore, saya dapat cap perdana di paspor yang masih polos itu, rasanya bahagia banget. A dream came true! Sudah lama ingin ke luar negeri, baru kesampaian sekarang. Singapore segalanya sempurna, ya kotanya, ya manusianya, ya hotelnya, pokoknya puasss! Untuk lanjut ke Malaysia, kami bertanya ke beberapa travel agent soal paket wisata pantai. Ternyata hanya ada paket ke Langkawi, itupun mahal. Maka rencana diubah: ke KL dulu, baru disana nanti dipikir lagi.

Sore hari kami pun berangkat ke KL naik bus, sekitar jam 11 malam tiba di perbatasan sisi Singapore. Begitu lancarnya proses imigrasi: penumpang turun dari bis beserta seluruh bawaannya, paspor dicap, dan masuk bus lagi. Bus lalu berjalan dua kilometer dan berhenti lagi untuk pemeriksaan imigrasi sisi Malaysia, sekali lagi kami turun berikut semua bawaan. Seorang petugas imigrasi yang masih sangat muda memeriksa paspor saya. “Mau kemana?”, katanya galak. “KL”, jawab saya. “Tiket pulangnya ?”, tanyanya lagi. “Nanti saya beli tiket train di KL ke Singapore”, jelas saya. “Tidak bisa, tidak boleh masuk, kembali ke Singapore, bawa tiket pulang baru boleh masuk”. Saya berusaha menjelaskan bahwa kami hanya ingin melihat KL satu hari saja dan menunjukkan voucher hotel semalam. Petugas tetap galak, “Pokoknya tak boleh masuk Malaysia, pergi ke seberang jalan sana nanti ada bus ke Singapore”. Dialek Melayu orang sana cukup sukar dipahami, apalagi dalam suasana tegang seperti ini. Kami semakin panik karena semua penumpang lain telah sukses melalui imigrasi dan sudah masuk bus. Akhirnya petugas bertanya, “Berapa banyak uang yang kamu bawa?”. Kepanikan lain muncul, kami akan menjadi korban pemerasan. Ternyata maksudnya untuk membuktikan bahwa kami punya cukup uang untuk beli tiket pulang dan hidup beberapa hari di sana. Saya buka dompet dan tunjukkan beberapa ratus Ringgit. “Tidak bisa. Terlalu sedikit”. Saya tunjukkan beberapa kartu kredit gold. “Tidak bisa. Tunai”. Saya buka ransel dan ambil simpanan USD (memang uang saya umpetin di tas terpisah-pisah buat jaga-jaga kalau kemalingan biar masih ada yang lain). Setelah saya tunjukkan USD itu, si petugas nyerocos, “Mau jadi apa negara saya kedatangan orang seperti kelian… bla bla bla “. Aduh sakit hati ini, rasa kebangsaan ini benar-benar diinjak. Sering saya baca berita pelecehan kepada WNI oleh orang Malaysia, sekarang saya alami sendiri. “Kami pelancong”, itu kata terakhir saya, dan dibalas dengan cacian atas realita pendatang haram dari Indonesia. Namun akhirnya cap diberikan juga di paspor kami. Cis!

Setelah masuk bus, beberapa penumpang bertanya apa yang terjadi. Seorang penumpang usia akhir 20an yang duduk di dekat kami memperkenalkan diri, katanya dia aslinya orang Bandung tapi sudah beralih warganegara Malaysia, profesinya EO untuk band-band Indonesia yang tour ke Singapore dan Malaysia. Teman baru ini menjelaskan bahwa di Malaysia tidak mudah untuk pelesir irit-irit karena karakter bangsa sana yang memang dasarnya unfriendly dan belum sadar wisata. Jam 3 dini hari, bus sampai di Puduraya KL. Saya kira terminalnya bagus, ternyata tidak lebih bagus daripada terminal bus Bungurasih di Surabaya! Sialnya lagi, penumpang diturunkan di pinggir jalan yang suasananya seperti di Pulo Gadung. Deretan taksi butut dengan sopir berwajah India memenuhi sepanjang jalan. Mengerikan! Si teman baru berkata, “Mas, orang-orang ini semua evil (itu exactly yang dia bilang: evil), catat nomor hape saya ini, nanti kalau ada apa-apa telepon saya”. Lalu dia berjalan meninggalkan kami yang terbengong-bengong di pinggir jalan. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi. “Saya tidak tega meninggalkan kalian disini, sebentar lagi adik ipar saya menjemput, saya antarkan sampai ke hotel”. Aduh leganya. Saya berikan nama dan telepon hotel tujuan kami kepada si penolong dan dia menelpon ke resepsionis hotel minta diberitahu arah. Lama berputar-putar tak karuan, akhirnya kami bertanya kepada seseorang. Sial, rupanya si resepsionis memberikan arahan yang salah! Begitu tiba di hotel yang katanya bintang tiga itu, saya berpikir pantas saja hotelnya ngasih diskon abis, rupanya sepi pengunjung, kurang terawat, dan punya resepsionis yang dodol tanpa minta maaf pula.

Kami bangun ketika hari sudah cukup siang. Tiba-tiba istri saya berkata ngambek, “Pulang! I don’t want to be here! I don’t want to go to Langkawi“. Yah, beginilah kalau kesan pertama yang buruk membuat kami kapok. Maka siang itu kami cari tiket kereta ke Singapore sambil mampir ke Petronas tapi tidak bisa naik ke atas menara karena kesiangan, lalu putar-putar kota dengan bus dan sky train, kemudian mencari Petailing (pasar produk fake branded) tapi tidak ketemu juga walaupun sudah tanya sana sini. Duh! Besoknya kami ‘kabur’ naik kereta non AC, pemandangan yang disuguhkan pun cuman kebun karet dan sawit yang monoton. Rasa lega yang luar biasa ketika kami tiba di Singapore. Kami pun menghabiskan sisa liburan di Singapore, naik turun subway, keluar masuk mall, ke kebun binatang malam-malam dan jalan kaki keliling kota sampai gempor.

—– * Tjahja Junindra (TJ), hampir 40 tahun, pengusaha kecil bidang survei riset pemasaran, tinggal di Surabaya tapi berkantor di Jakarta. Punya hobi nyemplung laut tetapi tidak bisa berenang, alhasil dia terpaksa ribet membawa jaket pelampung kemana-mana. Di dunia maya, TJ adalah salah satu penggiat pada milis Paguyuban Karl May Indonesia.