The Naked Traveler

Taksi, Tram, Bis, atau Ojek?

Seperti kebanyakan airport di dunia yang mesti berlokasi agak melipir di luar kota, transportasi dari dan ke airport adalah penting. Bila Anda seorang turis bule yang pertama kali ke Indonesia dan tiba di airport Soekarno-Hatta, Anda akan dikerubutin orang-orang yang menawarkan taksi. Kalau mengantri taksi juga seringkali supirnya ‘nembak’ argo. Pilihan lain adalah menggunakan bis Damri yang sebagian besar hanya dimanfaatkan oleh orang lokal saja. Informasi bagaimana orang sampai ke tengah kota pun minim. Memang paling baik kalau ada yang jemput sih, apalagi kalau pulang naik haji! Wih, satu RT diangkut! Lagi-lagi saya harus membandingkan dengan airport di Kuala Lumpur,
Read more

Gotham City?

Saya akui meskipun saya seorang certified scuba diver, saya tidak fanatik amat menyelam. Menjadi penyelam pun tidak sengaja. Balik ke tahun 1992 saat jadi anak kos namun pengennya traveling melulu, dalam suatu liburan saya terdampar di Pulau Gili Trawangan, Lombok. Tidak mau pulang tapi duit menipis, saya setiap hari menjaga counter, membantu mengangkat tangki, membersihkan peralatan, dengan imbalan saya diperbolehkan menginap dan makan gratis di diving operator milik teman saya. Akhirnya teman saya malah mengajak saya untuk kursus menyelam, gratis pula. Sebagai seorang mantan atlit perenang tingkat ecek-ecek dan kebetulan diberkahi otak yang lumayan tidak ecek-ecek, saya tidak menemukan kesulitan
Read more

Menunggu = Makan

Pada saat menunggu di airport, sebenarnya ada tempat yang nyaman dan gratis. Syaratnya kita harus mempunyai kartu kredit, lebih bagus lagi kalau kartu kredit Anda keluaran bank terkenal. Ya, itulah yang disebut Executive Lounge. Meskipun bank penerbit kartu kredit telah banyak menanamkan uangnya untuk memanjakan customer yang akan bepergian, namun masih sedikit orang yang memanfaatkannya. Padahal caranya gampang, tinggal lihat di papan merk kartu kredit di depan lounge. Bila kartu kredit Anda tercantum, tinggal nyelonong masuk dan mendaftarkan diri di receptionist dan kartu Anda akan digesek. Di dalamnya ada ruang duduk dengan sofa yang nyaman, surat kabar terbaru, TV, dan
Read more

‘Dipalak’ di Tabung Kaca Berasap

Saya ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu, merokok di dalam pesawat dengan rute panjang masih diperbolehkan. Waktu itu saya terbang dari Jakarta ke Amsterdam dan memang disediakan tempat duduk khusus perokok di bagian ekor pesawat. Tidak tahu sejak kapan keluarlah peraturan terbaru yang tidak memperbolehkan merokok di pesawat apapun dan kemanapun. Mau tak mau saya menyetujuinya juga, mengingat alasan keselamatan adalah jauh lebih penting. Malah sekarang saya berpikir, “kok dulu boleh ya merokok di dalam pesawat?”. Setelah pesawat mendarat, apalagi setelah terbang berjam-jam, hal pertama yang saya selalu cari adalah tulisan ‘smoking room’. Saya yakin seluruh perokok di mana pun
Read more

Distrik Lampu Merah

Peringatan: sebagian orang mungkin terganggu dengan tulisan ini. Bagaimana Anda menghabiskan malam saat traveling ke luar negeri? Makan makanan lokal sudah biasa, ke bar atau diskotik memang wajib hukumnya (terutama bagi anak muda) tapi itu juga biasa. Nah, cobalah pergi ke ‘distrik lampu merah’ atau red-light district setempat. Namun yang pertama kali di pikiran pastilah keluar kata ‘Amsterdam’, seperti niat saya ingin melihat langsung tempat prostitusi di sana. Yup, di situlah tempat prostitusi yang paling populer di dunia (konon sudah ada sejak 5 abad yang lalu) dimana sajian tubuh manusia nyaris bugil dipajang di jendela etalase berlampu merah. Bagaikan beli
Read more