The Naked Traveler

Aneka Dugem (2)

Di Barcelona, suatu malam saya pernah diajak dugem oleh teman-teman sekamar saya di hostel. Saya pikir bercanda ketika Sonya, cewek asal Perancis, bilang bahwa dia biasa pulang dugem sampai jam 6 pagi, namun saya mengiyakan saja. Kami pergi ke daerah Port Olympic dan club hopping (keluar masuk klub). Masuk satu tempat, joget-joget, pindah klub lain, joget-joget lagi, begitu seterusnya. Sampai hitungan tempat dugem ke-6 di Baja Beach Club jam 4 pagi, saya menyerah dan terpaksa pulang sendiri naik taksi. Mereka sih tetap bertahan joget karena “The first Metro in the morning is at 6 AM”. Wah, pelit atau kere banget
Read more

Aneka dugem (1)

Meskipun saat ini saya sudah tidak suka dugem lagi di negara sendiri karena ‘faktor u’ yang semakin tidak kuat bergadang, namun saat saya traveling saya pasti menyempatkan diri pada satu malam pergi ke tempat dugem di setiap negara. Selain dugem itu membutuhkan uang ekstra, paduan antara ke-disoriented-an saya dan rasa mabuk membuat sulit untuk menemukan jalan pulang ke hostel. Namun pada saat saya harus melaksanakan ‘kewajiban’ dugem di tiap negara yang saya kunjungi tapi lagi sendirian, ya tidak masalah. essay writer online Kalau niat cari teman, saya ‘modal’ belagak menyembunyikan korek dan meminta api dari orang yang diincar untuk memulai
Read more

‘Jaim’-nya Perjalanan Bisnis

Dasar saya doyan banget jalan-jalan, saya sangat menikmati perjalanan bisnis (business trip). Daripada pantat saya nempel terus di kursi kantor di tengah sumpeknya kota Jakarta dengan langitnya yang berwarna abu-abu, lebih baik saya disuruh ke luar kota untuk meeting kek, survey kek, conference kek, mengurus event kek, disuruh ngangkut barang juga saya bersedia. Selama ini perjalan bisnis saya mayoritas masih di sekitaran Indonesia (penasaran kan saya kerja di mana?), tapi saya tetap menikmatinya. Tidak enaknya perjalanan bisnis adalah capek. Mungkin karena orang kantor pusat jarang sekali ke daerah, sekalinya ketemu agenda jadi dibuat penuh. Seharian digeber untuk meeting atau keliling
Read more

Sial atau Tolol?

Cerita sial traveling kebanyakan bermuara karena terlambat datang pada waktu keberangkatan. Ketinggalan pesawat sudah jamak dialami orang yang sering berpergian. Alasan klasik, apalagi kalau bukan karena telat bangun pada penerbangan pagi hari. Saya juga pernah, pas mau ke Manado lagi. Tahun 1998 harga tiketnya saja sejuta rupiah one way hasil nabung mati-matian dan penerbangan hanya ada satu kali sehari, mana tiketnya non refundable lagi! Enaknya naik pesawat dari Jambi, orang jarang telat kecuali tolol banget. “Di sini orang pergi ke bandara setelah lihat pesawat mau mendarat,” kata abang saya, mengingat kota Jambi anti macet dan dekat ke mana-mana. Tinggal nongkrong
Read more

Faktor ‘U’

Tujuan, gaya, dan teman traveling sedikit banyak tergantung dari Faktor ‘U’ alias Faktor Umur atau Usia. Kita yang berasal dari negara berkembang dengan standar hidup rendah, baru bisa (paksa-paksain) traveling ke luar negeri setelah bekerja dan mempunyai duit sendiri. Pada saat saya mampu traveling ke luar negeri sendiri, umur saya sudah tidak matching dengan kebanyakan para backpackers. Di hostel sebagian besar yang menginap berumur early 20s, mereka traveling setelah lulus kuliah. Ada juga yang masih teenagers, baru lulus SMA dan keliling dunia. Imbasnya, saya lebih sering jalan dengan para brondong yang ‘kaga ada matinye’ – jalan ke sana ke mari,
Read more