The Naked Traveler

Percaya website = dideportasi

Saya melihat kalender Mei 2003, aha, minggu depan ada tanggal merah 3 hari dalam 1 minggu – lumayan dengan modal 2 hari cuti bisa dapat 9 hari http://viagracanadausa.com/ liburan! Saya pun berencana plesir ke luar negeri bersama ibu saya dan seorang teman berhubung kami bertiga sama-sama impulsif. Dari hasil nonton ‘Wild on E’ membuat kami tertarik pergi ke Cyprus, sebuah pulau kecil di Eropa dekat dengan Italia. Kami pun sibuk mencari informasi via internet. Sedap, bisa masuk tanpa visa. Lagipula saking kecilnya itu negara sampai tidak ada kedutaan besarnya di Indonesia. Kami pun terbang naik Emirates, Jakarta – Singapore –
Read more

Don’t Touch the (Women) Dancer!

Catatan: 17 tahun ke atas! Mari kita ke Strip Club – acara hiburan malam melihat pertunjukan orang bugil menari – just for fun. Bisa jadi Anda malah merasa kasihan daripada enjoy the show. Perlu diketahui, strip club itu terbagi dua jenis, strip club cowok berarti penarinya adalah cewek, begitu juga sebaliknya strip club cewek penarinya adalah cowok. Pengalaman pertama saya ke strip club sebenarnya tidak direncanakan. Tahun 1997 saat saya training di kota Atlanta, teman-teman dari headquarter mengajak saya ke sana. Risih juga saya diajak sekelompok cowok-cowok untuk menonton cewek-cewek bugil. Tapi penasaran. Kami ke Gold Club yang merupakan strip
Read more

Terkutuklah Edinburgh

Edinburgh, Scotland, Februari 1995 Pergi ke kota ini tidak direncanakan. Saat saya berlibur di London, tiba-tiba saja salah seorang teman saya memberikan surprise dengan menghadiahi tiket pesawat pulang pergi ke Edinburgh. Saking surprise-nya, tiket diberikan 2 jam sebelum keberangkatan! Siapa yang menolak coba? Meski agak panik juga karena sama sekali tidak ada persiapan, tidak tahu mau ke mana, menginap di mana, dan naik apa. Begitu pesawat British Airways mendarat siang hari, kesialan pertama terjadi: saya kehilangan topi baseball kesayangan yang tertinggal di pesawat. Sampai di tengah kota, saya mendapat hostel yang ternyata butut banget yang sangat tidak sesuai dengan promosi
Read more

C-130, S-58, CN-235, ATR-42, LET 410 UVP-E…

Naik pesawat terbang jenis Fokker, Boeing, atau Airbus, dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 100-an orang sudah biasa. Pernahkah Anda terbang naik pesawat non komersial atau bahkan naik pesawat kecil berbaling-baling? Wah, seru banget! Tahun 1983 kami naik Hercules C-130, pesawat kargonya TNI AU, karena belum ada pesawat komersial yang terbang ke Dili, Timor Timur. Naik Hercules serasa naik angkot karena duduknya hadap-hadapan. Tempat duduknya bukan berbentuk jok, tapi semacam hammock panjang menempel di sepanjang pinggiran pesawat sehingga duduknya ‘enjot-enjotan’ seirama dengan goncangan pesawat. Jendelanya kecil-kecil dan susah untuk melihat apa-apa karena harus berbalik badan 180 derajat. Di tengah alley
Read more

Taksi, Tram, Bis, atau Ojek?

Seperti kebanyakan airport di dunia yang mesti berlokasi agak melipir di luar kota, transportasi dari dan ke airport adalah penting. Bila Anda seorang turis bule yang pertama kali ke Indonesia dan tiba di airport Soekarno-Hatta, Anda akan dikerubutin orang-orang yang menawarkan taksi. Kalau mengantri taksi juga seringkali supirnya ‘nembak’ argo. Pilihan lain adalah menggunakan bis Damri yang sebagian besar hanya dimanfaatkan oleh orang lokal saja. Informasi bagaimana orang sampai ke tengah kota pun minim. Memang paling baik kalau ada yang jemput sih, apalagi kalau pulang naik haji! Wih, satu RT diangkut! Lagi-lagi saya harus membandingkan dengan airport di Kuala Lumpur,
Read more