The Naked Traveler

Banyak matahari, sedikit jalan kaki

Di antara teman-teman, saya lah yang paling cepat berjalan kaki. Katanya karena saya bertubuh tinggi dan berkaki panjang sehingga langkahnya lebar. Tapi terus terang, saya hanya berjalan kaki beneran pada saat makan siang dari kantor ke warung atau di mall – selebihnya naik mobil. Jakarta yang panas dan berpolusi memang dijadikan alasan orang malas berjalan kaki. Tapi itu juga terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia, kecuali di desa karena alat transportasi belum memadai. Akuilah, kita memang tidak terbiasa untuk berjalan kaki. Tak heran trotoar di kota besar di Indonesia tidak pernah tergarap dengan baik. Trotoar bukan diisi oleh para pejalan
Read more

Kumbang, pantat dan kentut

Bicara soal traveling, saya merasa wajib bercerita mengenai si Kumbang. Gini-gini mobil Kijang warna coklat metalik ‘kelahiran’ tahun 1990 ini sudah pernah traveling Sumatra dan Jawa overland. Dia selalu setia menemani saya yang sibuk ke sana ke mari setiap hari, dan tentunya selalu super sibuk saat liburan. Dia juga pernah berjasa menyelamatkan saya dan teman-teman sekantor saat kerusuhan Jakarta. Pokoknya dia merupakan rumah ke dua bagi saya, apa yang ada di rumah ya ada di Kumbang, kecuali kompor dan kamar mandi. Saya beri nama Kumbang biar kesannya macho dan genit – seperti kata pepatah ‘bagaikan kumbang di antara kembang’. Tapi
Read more

Thai Message

Jangan protes, bukan saya salah ketik atau salah eja, tapi memang begitulah plang yang sering salah tulis di Thailand, bahkan di negara kita sendiri untuk kata ‘massage’. Saya jadi perhatian terhadap tulisan di plang karena saya memang senang dipijat. Setiap pulang traveling atau ketika saya merasa akan jatuh sakit, pasti saya ke panti pijat di bilangan Wijaya. Dulu saya sering panggil tukang pijat ke rumah, si mbok ini sudah jadi langganan keluarga sejak saya SD. Sayangnya si mbok sudah meninggal beberapa tahun yang lalu (mungkin kehabisan tenaga memijat keluarga saya yang segede-gede Gaban), jadilah saya beralih ke panti pijat. Karena
Read more

Jangan sirik dengan ransel saya

Mengapa disebut backpackers? Karena para traveler membawa ransel (backpack), bukannya koper (suitcase). Intinya, mereka menjelajah dunia dengan biaya yang terbatas. Bagi saya, ransel itu paling praktis untuk dibawa ke mana-mana. Karena digendong di punggung, tangan saya bebas memijit tombol, membayar sesuatu, menelepon sambil merokok, atau berkacak pinggang sambil mengupil (uh, nikmat). Kalau berdesak-desakan di dalam bis, saya bisa menyusup sambil ‘mengibaskan’ ransel saya supaya orang minggir. Kalau mau kejar-kejaran juga tidak masalah meskipun jalannya turun naik atau bergelombang. Ransel saya juga berfungsi sebagai alas duduk kalau capek, atau sebagai alas kepala kalau menginap di airport atau stasion kereta. Ransel saya
Read more

Aneka Dugem (2)

Di Barcelona, suatu malam saya pernah diajak dugem oleh teman-teman sekamar saya di hostel. Saya pikir bercanda ketika Sonya, cewek asal Perancis, bilang bahwa dia biasa pulang dugem sampai jam 6 pagi, namun saya mengiyakan saja. Kami pergi ke daerah Port Olympic dan club hopping (keluar masuk klub). Masuk satu tempat, joget-joget, pindah klub lain, joget-joget lagi, begitu seterusnya. Sampai hitungan tempat dugem ke-6 di Baja Beach Club jam 4 pagi, saya menyerah dan terpaksa pulang sendiri naik taksi. Mereka sih tetap bertahan joget karena “The first Metro in the morning is at 6 AM”. Wah, pelit atau kere banget
Read more