The Naked Traveler

Anak kuliah juga bisa jalan-jalan!

saya, anak kuliah yg jalan2 ke Amsterdam

Pembaca dan follower twitter saya yang anak kuliahan banyak yang bilang “nggak bisa jalan-jalan”. Alasan terbesarnya adalah karena mengaku nggak ada duit. Padahal saya yakin sebagian dari mereka punya smart phone dan komputer jenis terbaru, yang lebih keren daripada punya saya sekarang. Nggak dapet izin dari orang tua untuk jalan-jalan? Ya, kamu sih mau jalan-jalan tapi duitnya minta ortu. Coba deh kalo duitnya nggak minta ortu, 90% pasti mereka kasih izin. Lah, 10% nggak ngasih izin kenapa? Silakan introspeksi diri, mungkin kamu nilainya jeblok atau kelakuannya tidak baik di mata ortumu.

Percaya nggak, dulu waktu kuliah di Universitas Diponegoro Semarang, saya bisa backpacking ke Eropa hasil keringat sendiri! Well, dulu memang dolar tidak semahal sekarang. Tapi dulu juga nggak ada hape, internet, apalagi budget airlines. Jadi, kalau saya bisa, kenapa kamu nggak bisa?

Read the rest of this entry »

Sendirian di Benua Hitam

Waterfront, Cape Town

Sampai saat ini saya sudah melancong ke 46 negara, seringnya sendirian pula. Apakah saya pernah merasa takut? Sama sekali nggak. Takut di sini bukan berarti takut terhadap hal-hal gaib semacam hantu, tapi takut dalam artian keselamatan diri seperti takut dicopet, takut dirampok, takut diperkosa. Terakhir saya pikir bakal takut pas jalan ke India sendiri, tapi ternyata sebulan di sana malah nggak merasa takut sama sekali. Nah, begitu saya traveling sendiri di South Africa, kok saya jadi takut sendiri ya?

Jadi ceritanya, Juli 2011 lalu saya punya waktu seminggu untuk traveling sendirian di South Africa. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa South Africa adalah negara modern yang kotanya tampak seperti di Eropa. Dari hasil browsing dan tanya-tanya, saya memilih untuk tinggal di Cape Town daripada Johannesburg (kota terbesar di South Africa). Selain karena di Cape Town alam dan aktivitasnya lebih menarik, di Johannesburg katanya lebih bahaya bagi cewek sendirian. “Either you will be raped or robed,” begitu katanya. Meskipun perhelatan FIFA World Cup 2010 telah sukses diselenggarakan di South Africa dan tampaknya semua baik-baik saja, namun saya tetap menganggap serius soal keselamatan saya.

Read the rest of this entry »

Berisik!

Suatu sore yang hujan, berlari-lari saya menuju sebuah cottage di Pulau Kei Kecil, Maluku. Dari review di website, penginapan sederhana di pinggir pantai itu sangat direkomendasikan bagi yang ingin mencari ketenangan. Tapi saking terpencilnya tempat itu, sinyal handphone tidak ada sehingga tidak bisa booking via telepon, apalagi online. Jadi setelah mendarat di Bandara Dumatubin, saya langsung go show. Pemiliknya seorang pria tua asal Belanda. Begitu menemui saya, dia bertanya, “Are you Indonesian?” Loh, pertanyaan aneh. Saya jawab iya. Serta merta dia bilang, “No room is available!” Saya pun mengeluarkan jurus-jurus rayuan sehingga dia melunak dan memperbolehkan saya menginap. Ternyata dia seorang yang menyenangkan. Saat makan siang, saya pun bertanya kenapa dia begitu “anti Indonesia”? Jawabnya, “Because they pay for 1 room but stay with the whole families and friends until the room and verandah are full with people sleeping. They are also very noisy that my other guests complain.” Nah! Cerita klasik tentang turis domestik Indonesia bukan?

Yah, saya tidak menyalahkan pemiliknya sih. Kalau saya punya penginapan, saya juga ogah kamar dijejali orang banyak tapi bayarnya cuma sekamar. Kalau termasuk sarapan masih bisa diakali, tapi mereka kan pasti menggunakan kamar mandi yang akhirnya menambah biaya air. Belum lagi berisiknya membuat pusing kepala. Budaya kita memang kekerabatannya sangat dekat dan doyan kumpul-kumpul. Acara jalan-jalan pada musim liburan bagi orang kita sebagian besar masih bersama keluarga (besar). Menginap di hotel menjadi sarana rekreasi keluarga.

Read the rest of this entry »

Bergidik di South Africa!

Bangku khusus orang kulit putih

Apartheid adalah adalah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di South Africa pada tahun 1948-1994. Padahal saat itu negara lain sudah merdeka, manusia sudah menginjak bulan, dan Michael Jordan pemain basket berkulit hitam asal Amerika Serikat sudah jadi idola dunia. Saya tau sejarah apartheid, saya pernah mengalami diskriminasi rasial, tapi tidak pernah merasakan separah apakah rasisme yang terjadi pada warga di satu negara. Dan saya bergidik ketika saya mengalaminya di Cape Town…

Bergidik pertama saat saya mengunjungi District Six Museum. Jadi, orang berkulit hitam (saya menyingkatnya menjadi “orang item”) dulu tinggal di sebuah wilayah di tengah kota Cape Town yang disebut District Six. Karena politik apartheid itulah, pada tahun 1970an sekitar 60 ribu orang item diusir keluar dari area tersebut, bahkan rumah-rumahnya dibuldozer sampe rata! Di museum itu, selain menceritakan sejarah dan daftar nama orang yang dulu pernah tinggal di sana, berisi memorabilia mulai dari plang nama jalan sampai peralatan salon.

Read the rest of this entry »

Afrika panas dan orangnya hitam?

Tarian salah satu suku di Namibia

Banyak yang salah anggapan tentang Afrika. Maklum, selain kita tidak merasa “dekat”, benua Afrika juga bukan destinasi favorit kita untuk jalan-jalan. Mayoritas yang sudah pernah ke Afrika pun biasanya ke bagian utara, seperti Mesir dan Moroko. Tak heran banyak orang menganggap “Afrika itu panas” dan “Orang Afrika itu hitam semua”. Saya bukanlah ahli sosiologi, geografi, maupun antropologi, apalagi rasis, tapi saya mencoba sharing berdasarkan pengalaman saya jalan-jalan ke Afrika supaya kita nggak salah dan bikin orang tersinggung.

Begitu saya berencana ke Afrika, tepatnya ke negara Namibia dan South Africa, nyaris semua orang bilang, “Ih, ngapain ke sana? Pasti puanas banget!”. Ketika saya jawab, “Kan di sana lagi winter”. Dan semua tidak percaya, “Emang ada winter di Afrika?”

Penjelasannya gini: coba deh buka peta dunia. Tau kan garis khatulistiwa (equator) yang berada memanjang di tengah? Untuk gampangnya, negara-negara yang terlintasi garis khatulistiwa itu pasti bersuhu hangat atau cuacanya tropis sepanjang tahun. Semakin menjauh dari garis itu maka negara tersebut semakin dingin, apalagi dekat dengan Kutub. Winter atau musim dingin terjadi kebalikan antara negara-negara di atas garis dan di bawah garis khatulistiwa. Bila winter terjadi di Eropa pada bulan November-Februari, maka di Australia (kecuali di Utara) justru sedang summer (musim panas). Begitu juga sebaliknya, bila di Australia sedang winter pada bulan Juni-Agustus, maka di Eropa sedang summer. Pengecualian di negara-negara yang berada di dekat gurun, seperti  di Timur Tengah, berarti suhunya panas. Saat summer di sana bisa mencapai 50°C, tapi jangan salah, saat winter bisa drop ke belasan derajat Celcius. Begitulah negara-negara yang jauh dari khatulistiwa itu ciri khasnya memiliki perbedaan suhu yang tajam, baik antara summer-winter, maupun siang-malam.

Read the rest of this entry »