Nepal, biar miris tapi fotogenik

Semrawutnya Durbar Square
Kenapa sih Nepal sepertinya jadi dream destination-nya para backpackers? Kalau ada acara tanya jawab dengan NTers, saya pun sering ditanya, “Pernah ke Nepal nggak, mbak?”. Kayaknya keren banget gitu kalau sudah pernah ke Nepal. Padahal terus terang saya ke Nepal nggak ada ekspektasi apa-apa selain penasaran kenapa negara itu begitu tersohor. Selain itu karena saya pengen beli bendera negara Nepal dimana satu-satunya di dunia yang tidak berbentuk persegi panjang melainkan segitiga. Hihi… nggak penting banget!
Begitu mendarat di Tribhuvan International Airport dan menyusuri jalan ibukota Kathmandu, saya langsung shock. Ya ampun, negara ini terbelakang sekali. Bandaranya kumuh. Jalan rayanya meski beraspal namun kondisinya buruk. Bangunannya tidak ada yang modern, apalagi yang bertingkat tinggi. Mobil-mobilnya mini, tua dan reyot. Sampah dan debu beterbaran di mana-mana. Suara di jalanan sangat bising, mulai dari tukang jualan menjajakan barang, suara tape di toko, sampai klakson kendaraan yang melengking. Kondisi uang kertas Nepali Rupee pun jelek banget - bukan hanya lecek dan bau, tapi saking lusuhnya sampai tidak jelas gambar dan angkanya.
Sakau Sapi

Nasi campur ala India
Makan masakan India di negara India tidak pernah salah. Di warung, restoran, hotel - semuanya menyediakan makanan yang selalu ‘berani bumbu’ sehingga selalu berasa nikmat. Sambal sachet bawaan dari Indonesia langsung nggak kepake. Harganya pun murah, apalagi kalau dibandingkan restoran India di Jakarta. Tapi India adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Mereka tidak makan sapi, bahkan banyak yang vegetarian. Tempat makan yang non-vegetarian justru dianggap ‘aneh’ sehingga pada papan nama restorannya tertulis “Non-Veg Restaurant” (atau “Non-Veg Hotel” karena dalam bahasa sono ‘hotel’ = ‘restoran’). Kebalikan dari kita dan belahan lain di dunia dimana restoran vegetarian yang ditulis jelas.
Jangan berpikiran makanan vegetarian di India adalah sayur mayur, salad, atau tahu tempe. Di sana jarang sekali ada sayuran berdaun hijau seperti bayam dan kangkung, juga tidak ada tahu dan tempe. Kalaupun ada, cara masak bayamnya diblender jadi blenyek kayak tokai bayi bernama Palak. Makanan vegetarian di India artinya berbahan utama paneer (keju), kaju (kacang mete), aloo (kentang), yang dibumbui masala, curry, tikka, atau tandori. Bila di Indonesia seringnya masakan berbahan dasar santan kelapa, di India (utara) berbahan dasar susu atau yogurt. Nah, lauk ini dimakan bersama roti, capati, atau naan, yang berbahan dasar tepung. Itu pun masih ditambah nasi. Dessert-nya supermanis berbahan dasar gula dan susu, digoreng pula. Pantas saja teman-teman India saya yang vegetarian justru banyak yang gendut, malah berpenyakit kolesterol.
Hotel Harga Hostel
Siapa sih yang nggak mau jalan-jalan murah? Sejak ada low cost airlines, orang semakin mudah dan murah untuk bepergian jauh. Orang pun sudah maklum terhadap konsep ‘ada harga ada mutu’. Tapi untuk mencari penginapan murah, masih banyak orang yang kelimpungan. Tidak semua penginapan punya website. Kalau pun ada, bawaannya curiga karena takut hanya bagus di gambarnya doang. Sejak ada konsep hostel di negara barat, orang sudah mengerti bahwa kalau mau murah harus terima tidak nyaman. Sayangnya masih banyak yang salah kaprah memberikan nama, bahkan ada hidden charge yang tidak diinformasikan sebelumnya.
Tahun lalu di kota Fethiye, Turki, akibat sebuah hostel melakukan kesalahan over-booking, saya dipindahkan ke sebuah hotel dengan harga sama. Tentu saja saya senang sekali bisa tinggal di hotel dengan harga hostel. Begitu masuk kamarnya, saya sibuk mencari remote control AC dan TV. Maklum saya habis berlayar naik kapal laut selama 4 hari dengan suhu udara mencapai 40°C, jadi bawaannya mau ‘ngadem’ di kamar sambil nonton TV. Saya sampe memanjat meja untuk mencoba menyalakan AC secara manual dan memencet-mencet segala tombol di TV, namun tetap tidak bisa nyala. Lalu saya menghubungi resepsionis. Katanya kalau mau pake AC harus bayar tambahan 10 Turkish Lira, begitu pula dengan TV. Dengan misuh-misuh saya akhirnya membayar extra charge demi AC dan melupakan nonton TV, baru mereka memberikan saya remote control. Sialan, jebakan batman! Kalau saja hotel mau terbuka memberikan informasi lengkap sebelumnya, saya sih nggak bakal sekesal ini.
Capee deeh!
Gaya si Yasmin dan si Wringting
“Capee deeh!” adalah ungkapan yang paling sering saya katakan sehabis berbicara dengan orang Cina daratan. Kendala bahasa yang parah membuat pembicaraan sering nggak nyambung. Segala macam cara dan gaya sudah dilakukan, itupun jarang berhasil. Berikut beberapa percakapan yang bikin saya ketawa ngakak.
Negara Cina sebesar itu kalau mau menukar uang hanya bisa dilakukan di satu bank saja, yaitu Bank of China. Gilanya, orang lokal tidak mengerti bila ditanya dimana bank. Padahal bukankah bank itu adalah bahasa internasional? Di Chengdu saya kena tulah. Tadinya Bank of China ada persis di sebelah hostel, namun ternyata sudah pindah agak jauh dan belum tercantum di peta. Kata resepsionis tinggal jalan ke kiri aja. Tapi you know, Cina adalah negara mahabesar. Sudah jalan jauh tidak ketemu, mulailah saya tanya orang yang lewat (itu pun milih nanya sama orang yang kelihatannya terpelajar). Ini percakapan saya dengan seorang lelaki muda berkaca mata.
“Where is Bank of China?”, tanya saya.
Lelaki itu bengong.
Read the rest of this entry »
“Cang-Cing-Cung!”
Saya tidak menyangka ternyata jalan-jalan sendiri ke Cina daratan (mainland China, bukan Hongkong/Macau/Taiwan) itu susahnya minta ampun. Meski saya sering ke negara-negara yang tidak berbahasa Inggris, tapi sampai saat ini Cina adalah yang tersulit. Bukan hanya jarang banget orang Cina daratan bisa berbahasa Inggris, tapi yang bikin mumet adalah jarang pula ada tulisan latin. Sekalinya saya mau sok-sokan berbahasa Cina, tetep nggak dimengerti karena intonasinya salah. Yang tambah bikin frustasi adalah negaranya superbesar sehingga sekalinya nyasar berarti fatal. Saya terpaksa harus tanya sana-sini lagi yang seringnya dijawab “cang-cing-cung”, plus jalan kaki yang jauuh banget!
Teorinya, jika ke suatu negara yang punya karakter tulisan sendiri maka mintalah orang lokal untuk menulis alamatnya supaya tidak tersesat. Saya pun selalu ngembat kartu nama hostel dan memegang peta dalam tulisan Cina supaya lebih mudah bertanya jika nyasar. Tapi tulisan Cina susah banget nyamainnya. Setiap kali saya harus main tebak-tebakan seperti kuis di majalah anak-anak yang berjudul ‘cari 8 titik perbedaan’ dimana kita harus menebak perbedaan gambar satu dengan yang lain. Ada yang kayak pedang, ada yang kayak rumah, tiga garis pake topi… halah! Kadang memang ada nama jalan dan halte bus dalam bahasa Inggris, tapi terjemahannya sering tidak sama dengan apa yang diucapkan dan yang tertulis di peta. Jadi untuk mengetahui turun di halte mana, saya harus nyamain tulisan Cina dari dalam bus yang berjalan. Belum lagi kalau harus nyambung naik bus lain, peta rute di halte pun dalam karakter Cina!




