The Naked Traveler

Agama Pantai

Ipanema (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)

Baru kali ini saya ke negara yang penduduknya sangat tergila-gila dengan pantai. Ya, siapa lagi kalau bukan Brazil? Selain sepak bola, ternyata “agama” mereka adalah pantai. Mereka pun memiliki budaya pantai sendiri yang tidak dipunyai bangsa lain.

Sebagian besar kota di Brazil berada di tepi pantai. Orang yang tidak tinggal dekat pantai itu dianggap “kasian deh lu” dan dicap stres karena jauh dari laut. Sampai-sampai joke-nya mengatakan, “No mar, [that’s why] we go to bar” (orang Brazil mengucapkannya ‘no mah, we go to bah’ karena ‘r’ di belakang kata diucapkan ‘h’), artinya “karena nggak ada laut, jadi kami minum di bar”. Penduduk Brasilia (ibu kota Brazil), Manaus (dekat Amazon) dan Foz do Iguacu (dekat Air Terjun Iguacu) adalah contoh yang sering stres karena jauh dari pantai. Setiap liburan mereka bela-belain terbang berjam-jam atau naik bus berhari-hari demi ketemu pantai.

Kalau di Indonesia, ke pantai justru dipenuhi oleh turis, kebalikannya di Brazil, pantai dipenuhi oleh orang lokal. Begitu matahari bersinar terang benderang, apalagi pas hari libur, jalan bisa macet parah karena semua orang ke pantai! Kebalikannya di Indonesia, kalau hujan justru macet. Lah di Brazil, macet itu pas cuaca cerah. Hehe!

Read the rest of this entry »

Negara tanpa orang jelek


Baru kali ini jalan-jalan di suatu negara yang bisa bikin saya nggak pede. Cowok-cowoknya ganteng, cewek-ceweknya cantik – plus SEKSI pake huruf besar! Yeah, selamat datang di Brazil! *menatap nanar ke perut sendiri* Sejak mendarat di kota Rio de Janeiro pada musim panas 2012, mulut saya nggak berhenti menganga dan bola mata saya sampe mencelat ke luar saking terpana liat orang-orangnya!

Bayangkan, semua yang berjenis kelamin laki-laki ganteng! Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, sampe kakek-kakek! Mulai dari kuli, supir, kondektur bus, sampai orang kantoran, semua tampak menawan. Aish! Makanya baru kali ini saya jadi ngecengin cowok ABG ganteng. Belum lagi para bapak-bapak muda yang tanpa gengsi dan malu ngangon anaknya di tempat umum.. Uh, tidak ada yang lebih seksi dari cowok yang telaten mengurus anak kecil bukan?

Read the rest of this entry »

I cry for you, Argentina!

Oh no!

Rute #TNTrtw (Trinity Round-the-World trip) di Amerika Selatan pertama adalah Brazil, lalu jalan darat ke Argentina. Maka setelah dapat visa Schengen dan Brazil, saya pun apply visa Argentina di Jakarta. Udah browsing sampe bego, nggak nemu situs resmi yang bisa menjelaskan persyaratannya, kecuali situs-situs travel agent yang syaratnya lebay. Tanya sana-sini, malah nemu 3 orang teman saya yang visa Argentina-nya ditolak dengan alasan nggak jelas, padahal mereka traveler sejati yang udah ke mana-mana. Tapi saya tetap optimis, sampai ketika saya datang ke Kedutaannya…

Baru nyampe, tampak seorang cewek menyerahkan dokumen visanya kepada petugas di loket visa. Mbak-mbak petugas visa dengan juteknya meng-harass si cewek, “Ini tulisannya salah eja, Iguazu dalam bahasa Argentina pake z, bukan c! Ini booking-an hotel harus jelas ditulis nama kamu sesuai paspor! Loh, ini itinerary per harinya mana? Masuk dari mana, keluar dari mana? Ini nanti tiket pesawatnya nggak bisa hanya booking-an aja, harus sudah issued! Kembali lagi kalo udah lengkap!” Glek. Saya langsung mengkeret. Buset, semua orang seruangan bisa mendengar suara si mbak petugas visa yang jelas-jelas orang Indonesia juga! Si cewek berlinangan air mata karena ternyata dia sudah datang ke sekian kali tapi masih harus disuruh bolak-balik untuk melengkapi dokumennya. Pas giliran saya yang cuma mau nanya persyaratan, diberikanlah secarik kertas berisi alamat situsnya. Buset, pantesan aja kagak bisa di-browsing. Alamatnya panjang, banyak slash dan susah diingat!

Read the rest of this entry »

Agama bola

Estadio Pacaembu, Sao Paolo (taken by Panasonic Lumix DMC-FT4)

Saya termasuk penggemar nonton pertandingan sepak bola. Itu pun nggak gila-gila banget, biasanya hanya bela-belain begadang nonton TV kalau ada pertandingan World Cup atau Euro Cup. Namun salah satu bucket list saya adalah nonton pertandingan sepak bola di Brazil, negara pencetak juara dunia yang terkenal dengan pesepak bola legendaris bernama Pelé.

Sepak bola memang olah raga paling murah sehingga cocok untuk negara-negara yang penduduknya banyak atau negara berkembang. Tapi toh juara dunia berkutat di negara-negara Eropa. Padahal kalau ke Eropa, meskipun ke negara bola macam Jerman atau di Inggris, saya tidak merasakan “hawa” bola di kehidupan mereka sehari-hari.

Berbeda dengan Brazil. Asal ada lahan kosong, terutama di pantai, mesti ada orang yang bermain sepak bola, mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek. Asal bawa bola, gampang aja cari lawan. Yang lagi lewat aja bisa langsung buka baju dan ikutan main. Saya sampe terkagum-kagum karena orang awam aja jago men-dribble bola, nyundul, passing, nendang bola dari tumit kaki pindah ke dengkul lalu ke kepala, dan sebagainya. Tidak hanya permainan standar sepak bola, mereka pun menciptakan cabang olah raga baru, yaitu volley pantai tapi menggunakan kaki!

Read the rest of this entry »

Seramnya kamp konsentrasi NAZI


Alasan saya ke negara Polandia cuma karena pengen mengunjungi Auschwitz akibat doyan nonton film tentang NAZI dan kamp konsentrasinya, salah satu yang terbaik adalah film “Schindler’s List”-nya Steven Spielberg. Highlight perjalanan saya keliling Eropa Timur adalah ke Auschwitz, jadi saya memilih untuk ikut paket tur dari hostel di kota Krakow supaya diceritakan dengan detil oleh pemandunya.

Jam 9 pagi bus berangkat menuju kota Oswiecim (nama Auschwitz dalam bahasa Polandia). Di bus kami disuguhi film dokumenter tentang pembebasan tahanan Auschwitz. Itu saya nonton aja ampe mewek-mewek saking kasihannya liat penderitaan para tahanan kamp konsentrasi, atau lebih tepatnya kamp pembantaian. Guide kami adalah seorang nenek-nenek. Masing-masing peserta tur diberikan headset khusus dimana suara si nenek itu hanya bisa kita dengar lewat headset sehingga si nenek tidak perlu teriak-teriak, dan pengunjung lain tidak bisa nguping, plus situs ini jadi tetap tenang dan sunyi.

Read the rest of this entry »