<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Feb 2012 18:14:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Disiksa Kurisi</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 17:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat. Tapi tempat yang luar biasa indah bak surga itu tentu ada “jebakan betmen”-nya. Ya, tidak segampang itu mencapai Misool! Maklum, semakin jarang ada manusia, maka semakin indah alamnya. Misool yang menjauh sendiri lokasinya di selatan Raja Ampat sampai saat ini aksesnya masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 226px"><img class=" " src="https://lh5.googleusercontent.com/-8x3mZjn_gI8/TzgFF73lGyI/AAAAAAAABPo/Z5ecaU1Yz8A/s288/IMG_6174.JPG" alt="" width="216" height="288" /><p class="wp-caption-text">Pagi hari kapal masih sepi</p></div>
<p>Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat. Tapi tempat yang luar biasa indah bak surga itu tentu ada “jebakan betmen”-nya. Ya, tidak segampang itu mencapai Misool! Maklum, semakin jarang ada manusia, maka semakin indah alamnya. Misool yang menjauh sendiri lokasinya di selatan Raja Ampat sampai saat ini aksesnya masih sangat terbatas. Kapal reguler Sorong-Misool hanya ada minimal seminggu sekali, itupun dengan jadwal yang nggak jelas. Mau sewa <em>speed boat</em> sendiri bisa, tapi harganya mencapai Rp 10 juta! Jadi pilihannya: punya duit banyak atau waktu yang panjang.</p>
<p>Kami sangat tertolong saat berangkat Sorong-Misool bisa nebeng kapal milik salah satu LSM, tapi pulangnya terpaksa harus menggunakan kapal perintis. Sebenarnya masih betah banget tinggal di Misool, tapi kalau harus menunggu seminggu lagi takutnya tidak terkejar pesawat ke Jakarta. Dari Harfat<em> </em>Homestay jam 10.30 pagi, kami diantar naik <em>boat</em> ke kapal bernama KMP Kurisi yang bercat putih dan berkarat. Setelah susah payah memanjat pinggiran kapal… <em>jreng</em>, terjebaklah saya ke dalam lautan manusia!</p>
<p><span id="more-1086"></span>Sebenarnya KMP Kurisi adalah kapal jenis Roro, alias kapal kargo pengangkut kendaraan beroda sehingga bagian tengah dan belakangnya kosong &#8211; jadi bukan kapal yang diperuntukkan untuk penumpang manusia. Namun kapal telah dimodifikasi dengan dipasangnya tenda terpal pada atapnya dan papan-papan kayu pada lantainya agar penumpang dapat duduk tidak kena terik matahari. Ratusan orang segala umur tumpah ruah di situ, persis kayak militer mau perang, atau lebih parahnya lagi, kayak pengungsi. Mau jalan harus berhati-hati takut menginjak kaki bahkan kepala orang yang sedang tidur. Bawaan mereka pun bukan hanya tas, tapi juga kardus, karung, peti, ikan, dan sembako.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 118px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-fEpbP5OdSu8/TzgFJKZjkcI/AAAAAAAABPw/ywquU5ePMIs/s144/IMG_6173.JPG" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">Selamatkan dirimu!</p></div>
<p>Saya diperkenalkan dengan salah seorang ABK (Anak Buah Kapal) yang menerima <em>side job</em> dengan menyewakan kabin kamarnya yang tak berjendela di lantai dua. Di dalam kabin hanya ada tempat tidur susun ukuran kecil dan <em>space</em> kosong di lantai yang selebar pantat. Di luarnya, tempat jalan umum pun sudah dikapling para penumpang dengan tikar sewaan. Ada juga ruangan di samping kabin yang terdapat belasan kursi, TV rusak, dan satu lemari bercat <em>pink</em> yang digembok berisi… <em>life jacket</em>! Saya langsung mual, membayangkan keadaan darurat dimana ratusan orang berebutan membuka lemari dengan paksa.</p>
<p>Kabar buruknya lagi, kami diberitahu ABK itu bahwa KMP Kurisi kecepatannya 7 knot, jadi Misool-Sorong ditempuh dalam waktu 15 jam atau bakal nyampe jam 3 pagi! <em>What</em>? Itu kan lambatnya sama kayak kita naik sepeda dari Jakarta ke Bandung! Baru sadar bahwa tebengan <em>speed boat</em> minggu lalu itu bagaikan naik mobil karena hanya 3 jam. Haduh, bagaimana menghabiskan waktu 15 jam di kapal kacrut dan sumpek macam ini? Padahal saya sudah pernah naik segala jenis kapal laut. Kapal feri dari Lampung ke Merak adalah yang terburuk di dunia, tapi hanya 3 jam. Rekor terlama saya naik kapal pun 7 hari, tapi naik kapal phinisi yang mewah. Namun baru kali ini saya merasa waktu berjalan sangat lambat! Setiap lihat jam, penambahannya hanya tiap 15 menit.</p>
<p>Awalnya masih lucu, saya, Nina dan Yasmin ngobrol-ngobrol sambil memperhatikan orang lalu lalang. Sejam kemudian kapal berhenti dan mengangkut ratusan penumpang lagi! Sepertinya memang tidak ada batasan jumlah penumpang. Weleh, kapal makin ramai dan sumpek! Lama-lama perut mulai keroncongan, saya pun pergi ke kantin. Ternyata kantin tidak menjual nasi dan lauk pauk, tapi hanya pop mie! Baru ambil satu, eh tau-tau udah abis aja dibeli orang. Saya langsung stres, masih ada belasan jam tanpa makanan berat – padahal ketakutan terbesar saya adalah kelaparan. Saya menyesal tidak minta dibawakan makanan dari <em>homestay</em> karena katanya di kapal ada yang jual. Sejam kemudian, giliran Nina ke kantin. Dan kantin tutup begitu saja! Aww! Kami pun makan kue bolu sisa sarapan sambil melihat para penumpang lain asyik makan dari rantang bawaan sendiri. Ada nasi, ikan goreng rica, sayur singkong. Gleg!</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-I9wWzhWD5Bk/TzgE8cLVbwI/AAAAAAAABPg/5pxtbeklMmI/s144/kurisi%2520kabin.jpg" alt="" width="144" height="124" /><p class="wp-caption-text">Uwel2an di kabin</p></div>
<p>Berjam-jam kemudian kami mati gaya. Memotret dengan gaya biasa sampe gaya ngaco udah bosan, mengedit foto dengan berbagai macam efek udah kelar, baca buku udah tamat, main Angry Bird di Iconia udah sampe mentok levelnya. Mau ngapain lagi, coba? Diperparah lagi dengan kabin yang cuma muat dua orang sehingga kami bertiga harus bergantian keluar-masuk. Oh, badan udah basah keringat, mau ngomong pun yang keluar kebanyakan huruf ‘h’ saking lelahnya.</p>
<p>Tepat jam 7 malam, saya pergi lagi ke kantin, dan… pop mie sudah habis! Berkaca dari pengalaman makan siang, saya langsung kalap membeli biskuit, kacang, air mineral, teh kotak, masing-masing dikali tiga seharga Rp 50 ribu. Benar saja, setelah itu kantin diserbu penumpang. Zet! Habis semua dagangan yang ada di kantin! Penjaga kantin langsung menutup kios, dengan cueknya mereka membuang sampah makanan dan botol minuman langsung ke laut! Kembali ke kabin, setengah menangis kami “makan malam mini” bersama.</p>
<p>Tentu lama-lama perut kami berontak. Saya jadi ingat ada seorang pria yang menawarkan “Nasi goreng! Nasi goreng!” dengan suara lantang. Cling! Saya langsung jelalatan mencari orang yang berpakaian kuning dan membawa balon itu. Tiba-tiba suaranya makin dekat, saya pun mencegatnya dan bertanya, “Kau tadi bilang jualan nasi goreng. Mana nasi gorengnya? Kami lapar sekali!”<br />
“Nasi goreng? <em>Tarada</em>!” jawabnya sambil tersenyum.<br />
“Loh kok nggak ada? Trus, kenapa kau tawarkan nasi goreng?”<br />
“Maksudnya, kalau nanti kapal mendarat di Sorong, baru saya masak nasi gorengnya. Kalau sekarang <em>tarada</em> nasinya.”<br />
“Berarti kau menipu dong?”<br />
“Tidak! Kan hanya bercandaa…”<br />
Sialan, <em>joke</em>-nya nggak lucu sama sekali! Mungkin dia memang tukang jual balon, dan “nasi goreng” itu adalah strateginya untuk menarik perhatian pembeli. Tapi, sekapal aja nggak ada yang jualan makanan, masa dia nekat jualan balon? Kami pun tertawa guling-guling karena kena tipu orang gila!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 118px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-9Iav2VFFLIU/TzgFPDbrVgI/AAAAAAAABP4/3zfD3mbJ3AE/s144/kurisi2.JPG" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">Ada yg tidurnya imut <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Perut lapar, orang tumpah ruah, dan sumpek kepanasan merupakan kombinasi yang mematikan selama belasan jam di dalam kapal ini. Air minum yang cuma sebotol 600 ml itu saya irit-irit karena tidak punya stok lagi, plus malas ke toilet di lantai bawah karena harus berjuang untuk berjalan di antara lautan manusia. Malam itu sebagian besar penumpang tidur, atau pura-pura tidur. Sebagian lagi masih ada yang berjudi kartu, main catur, atau mendengarkan lagu dari <em>handphone</em> tanpa <em>headset </em>sehingga segala macam musik terdengar bersahutan. Saya sempat tidur sebentar di kabin yang terasa seperti sauna saking panasnya, tapi terbangun karena digigit kutu busuk yang bikin badan bentol-bentol dan gatal luar biasa. Duh, lengkap sudah penderitaan saya disiksa Kurisi!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raja Ampat adalah surga lantai ke-9!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 12:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1073</guid>
		<description><![CDATA[Turun dari kapal LOB (live on board) di Sorong, saya, Nina dan Yasmin rencananya mau jalan-jalan ke bagian lain di Papua karena masih punya 2 minggu liburan. Kami pun pergi ke bandara dan beberapa travel agent untuk nanya info pesawat dan kapal laut. Serasa ditampar, kami disadarkan bahwa Papua itu gedee banget! Naik pesawat bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><img class=" " src="https://lh6.googleusercontent.com/-gQkjG6HBKJY/TzJVB0Wc6tI/AAAAAAAABO4/yFmN4GPmwVs/s288/IMG_5957.JPG" alt="" width="162" height="288" /><p class="wp-caption-text">Salah satu pantai di Misool</p></div>
<p>Turun dari kapal LOB (<em>live on board</em>) di Sorong, saya, Nina dan Yasmin rencananya mau jalan-jalan ke bagian lain di Papua karena masih punya 2 minggu liburan. Kami pun pergi ke bandara dan beberapa <em>travel agent</em> untuk nanya info pesawat dan kapal laut. Serasa ditampar, kami disadarkan bahwa Papua itu gedee banget! Naik pesawat bisa empat kali ganti, naik kapal bisa berhari-hari lagi. Setelah dihitung-hitung, harga dan waktu tidak sebanding untuk melanjutkan ke Biak, Nabire, apalagi ke Jayapura dan Wamena. Akhirnya kami memutuskan untuk balik lagi ke Raja Ampat – saking cintanya.</p>
<p>Tapi ke bagian mananya? Raja Ampat itu luasnya 46.000 km² atau hampir seluas provinsi Jawa Timur! Dengan lebih dari 1.500 pulau, sebagian besar dari wilahnya adalah laut. Berbekal informasi dari sana-sini, termasuk cari kenalan di Twitter, kami pergi ke Misool yang berada jauh di selatan Raja Ampat dan pas dapat tebengan <em>speed boat</em> milik TNC. Di distrik Misool hanya ada dua penginapan, yaitu resor milik bule seharga ribuan Euro di Babitim dan <em>homestay</em> lokal di Desa Harapan Jaya dengan harga ratusan ribu. Tentu kami pilih yang kedua meski masih termasuk mahal. Karena daerah kepulauan, kendaraan di sana ya kapal bermotor. Untungnya kami bertiga, jadi bisa patungan menyewa <em>boat</em> yang cukup mahal mengingat harga bensin di Papua itu tinggi dan ketersediaanya terbatas. Setiap hari kami menyewa <em>speed boat</em> untuk berkeliling dan tinggal menunjuk pulau mana yang akan disinggahi untuk berenang.</p>
<p><span id="more-1073"></span>Sepanjang jalan (di laut), mulut saya menganga: sungguh indah distrik Misool! Contohnya daerah Sumalelen yang jauh lebih bagus daripada Wayag yang terkenal itu, meski tidak ada <em>view point</em> dari ketinggian bukit. Pulau-pulau karstnya yang rapat ditumbuhi pohon itu berjarak dekat satu sama lain, sehingga seperti berjalan di labirin &#8211; kalau bawa <em>boat</em> sendiri pasti saya sudah nyasar nggak karuan. Formasi batunya pun unik, mirip seperti pohon natal dengan lapisan bebatuan yang bertumpuk dan meruncing. Yang menariknya lagi, dinding batu di sebagian pulau terdapat lukisan purba yang digambar menggunakan <em>ochre</em> (pigmen dari tanah liat), mirip lukisan Aborigin yang saya pernah lihat di Kepulauan Kei, Maluku. Air lautnya pun sungguh mengundang untuk nyebur!</p>
<p><img class="alignright" src="https://lh5.googleusercontent.com/-scenOypCKps/TzJW7lsUaKI/AAAAAAAABPI/IRPVhTO-4wM/s288/IMG_6074.JPG" alt="" width="162" height="288" />Suatu siang kami mampir ke pulau yang ada kolam air tawar. Pak Kepala Desa Yellu memelihara ikan bandeng, ikan mas, dan mujair di kolam tersebut. Ia menawarkan makan, lalu dibakarlah beberapa ikan dengan menggunakan kayu bakau. Ya ampun, itu bandeng yang paling enak yang pernah saya makan seumur hidup! Ukuran bandengnya sebesar tangan jadi duri-duri halusnya tidak ada, plus tidak berbau lumpur sama sekali. Begitu pula dengan ikan mujair dan mas, semua berasa manis dan gurih meski cuma dibakar tanpa garam dan bumbu! Enyaaak! Pak Kades bilang bahwa di balik bukit itu terdapat danau prasejarah yang berisi <em>stingless jellyfish</em> (seperti di Derawan dan Palau), hanya saja belum dibuat jalan untuk <em>trekking</em> dan untuk mencapai danau itu katanya sampai “setengah mati”. Saya hanya berharap danau itu nantinya bisa dikelola dengan baik sehingga tidak rusak.</p>
<p>Distrik Misool memiliki pantai-pantai paling sempurna. Sempurna menurut saya yang doyan berenang adalah pulau yang berpohon, lalu pasir putih yang panjang dan lebar, lalu air laut tanpa ombak yang dasarnya pasir doang (tidak ada rumput laut atau terumbu karang, sehingga serasa berenang di kolam renang), lalu sekitar 25 meter ke arah laut barulah hamparan terumbu karang cantik yang penuh dengan ikan warna-warni. Jadi bisa leyeh-leyeh di bawah pohon, jumpalitan di pantai, berenang di laut, dan <em>snorkeling</em> melihat biota laut. Tambah sempurna lagi dengan hadirnya &#8221;<em>ABK babes</em>&#8220;, alias cowok-cowok tukang kapal/nelayan asli Indonesia Timur yang perutnya kotak-kotak. Berenang di pantai indah ditambah pemandangan menggiurkan = sedaap! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hampir seminggu di Misool, kami kembali ke Sorong karena pas ada kapal KMP Kurisi yang hanya datang seminggu sekali, kalau lancar. Dari Sorong kami naik kapal ke Pulau Waigeo dimana terdapat pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat di Kota Waisai. Mendengar kata “kota” tentu tidak menarik bagi kami. Pilihan lain adalah dengan menginap di pulau-pulau lain, tapi lagi-lagi milik bule yang muahal. Jadilah kami menginap di resor milik orang lokal di Waiwo, sekitar 10 menit naik <em>boat </em>dari Waisai.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 114px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-tsQ7525lz3I/TzJXytH0_tI/AAAAAAAABPQ/0ww4FZlHA6o/s288/IMG_6324.JPG" alt="" width="104" height="184" /><p class="wp-caption-text">Hidden Bay</p></div>
<p>Saya sempat beberapa kali <em>diving</em> di Saonek Monde (tadinya saya pikir <em>Sonic Monday</em>) yang bagus tapi tetap airnya berarus. Selain itu, tetap keliling-keliling naik <em>boat</em> dan berenang. Yang keren itu di daerah Kabui. Sama seperti Wayag dan Sumalelen, di Kabui juga merupakan kumpulan pulau karst, hanya tebingnya jauh lebih tinggi. Ada juga gua berstalagtit yang bisa dilalui boat di dalamnya dan kuburan yang masih ada tengkoraknya. Widih, serasa ikutan ekspedisi bajak laut! Yang keren lagi di Hidden Bay, kumpulan pulau yang rapat dengan hutan bakau dan berair payau. Lalu bisa <em>snorkeling</em> bersama Manta Ray di dekat Pulau Arborek. Belum lagi, pulau-pulau berpasir putih lainnya dan gosongan (pulau pasir) yang spektakuler.</p>
<p><img class="alignright" src="https://lh3.googleusercontent.com/-rKGTP5ueXs0/TzJVp0zZ8QI/AAAAAAAABPA/2ZEkjR6ocPA/s288/IMG_5979.JPG" alt="" width="264" height="136" />Selain alam bawah lautnya yang terbaik di dunia, Raja Ampat adalah gabungan antara ribuan pulau karst berbukit, hutan rimba pekat, dan pantai pasir putih. Benar-benar perawan sehingga Phi Phi Islands di Thailand dan Halong Bay di Vietnam langsung berasa tawar! Satu hal lagi yang baru saya alami hanya di Raja Ampat, yaitu berenang di pantai sambil mendengar ramainya kicauan burung! Burung-burung terbang bebas dan berwarna-warni <em>ngejreng</em>, seperti Kakaktua dan Cendrawasih. Pokoknya, pagi, siang, sore, malam – terik maupun hujan – tidak ada yang menghalangi kami untuk berenang saking nikmatnya. Karena sesekali hujan, sehari minimal dua kali kami melihat pelangi! Bukan hanya kelihatan jelas lapisan warna <em>me-</em><em>ji-</em><em>ku-</em><em>hi-</em><em>bi-</em><em>ni-</em><em>u</em>, tapi juga bisa melihat busurnya dari satu ujung ke ujung yang lainnya! Dan baru kali ini pula saya bisa menitikkan air mata saking kagumnya melihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Ya, indahnya alam Indonesia itu memang bak surga, tapi Raja Ampat itu adalah surga lantai kesembilan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solo trip pertama kali!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 12:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[By Pristi Gusmatahati* Berbekal ilmu sebagai daydreamer, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama backpacking saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi backpacking sen-di-ri-an, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Pristi Gusmatahati*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 181px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-CBlq-4HZYlY/TyvYML_yPJI/AAAAAAAABOw/hPn6MeAhF1Q/s288/tjlesung.jpg" alt="" width="171" height="227" /><p class="wp-caption-text">Pose sama ikan buntal</p></div>
<p>Berbekal ilmu sebagai <em>daydreamer</em>, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama <em>backpacking</em> saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi <em>backpacking</em> <strong>sen-di-ri-an</strong>, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil kaya balita padahal sudah tua, plus saya buta arah. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri pergi ke Tanjung Lesung, sendiri. Yippiiiee!</p>
<p>Tanjung Lesung adalah sebuah pantai yang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Disebut Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung (alat tradisional untuk menumbuk padi). Tempat ini terkenal dengan resort mewahnya serta Beach Club yang menyediakan fasilitas snorkeling, mancing, banana boat, jetski, dan lain-lain. Ada juga sailing trip ke anak gunung Krakatau, tapi buat saya harganya ngajak miskin banget. Lagipula, saya berencana untuk trip satu hari saja, berangkat pagi, pulang malam, karena esok harinya harus ngantor.</p>
<p><span id="more-1068"></span>Dari rumah saya yang di Bogor, Tanjung Lesung memang tidak terlalu jauh, “cuma” 7 jam perjalanan saja angkutan umum. Saya berangkat pagi, dan berencana sudah tiba di rumah paling lambat pukul 12 malam. Sepanjang perjalanan, saya dapat pengalaman “unik”. Misalnya, sewaktu menunggu bus pagi-pagi, saya terpaksa diam-diam numpang buang air kecil di toilet pria di sebuah pusat perbelanjaan karena toilet wanitanya belum buka. Sudah mengendap-endap, eh pas keluar toilet sudah ada satpam menanti saya dan “menginterogasi”.</p>
<p>Setelah naik-turun bus, ajrut-ajrutan melewati jalanan busuk, sampai akhirnya mata dimanjakan dengan pemandangan pantai biru kehijauan dan nyiur melambai, sampai juga saya di Tanjung Lesung Beach Club. Cuaca yang lumayan terik tidak menyurutkan niat saya snorkeling. Sayangnya <em>visibility</em>-nya sedang kurang bagus karena sempat hujan. Walaupun begitu, snorkeling di Tanjung Lesung ini bagi saya lebih menyenangkan daripada pengalaman snorkeling sebelum-sebelumnya karena dengan jarak 20 meter saja dari pantai. Kedalaman tidak sampai 5 meter, begitu nyemplung saya langsung nabrak beragam <em>school of fish</em>! Terumbu karangnya pun berwarna-warni dan saya bisa mengelus-elusnya tanpa harus menyelam dalam-dalam. Saya juga bertemu banyak <em>clownfish</em> alias Nemo, dari ukuran kecil sampai yang agak besar. Tapi juaranya&#8230; saya nemu ikan buntal! Ternyata ikan ini wujudnya benar-benar lucu, selain badannya yang gembung, ikan ini punya gigi besar-besar bak gigi kelinci memenuhi mulutnya yang imut. Tapi ‘kurang ajar’nya si ikan ini (maaf) ternyata hobi pup. Selama saya pegang dalam air, dalam 1 menit dia pup sampai 2 kali.</p>
<p>Selesai snorkeling, saya pesan makanan. Berhubung Tanjung Lesung adalah objek wisata yang pada umumnya menyasar golongan &#8220;the have&#8221;, dengan akomodasi rata-rata minimal Rp. 1.000.000/malam, jadi Beach Club-nya pun menyediakan makanan mahal. Sekedar ilustrasi, teh tawar panas yang biasa digratisin di tukang pecel lele, di resto ini membandrolnya dengan harga Rp. 8000. Dan kalau di tukang pecel lele kita dapat segelas gede GRATIS, di sini hanya secangkir kecil.</p>
<p>Sambil menunggu pesanan, saya leyeh-leyeh di pinggir pantai sok-sok <em>sunbathing</em> ketika saya melihat ada cowo bule GANTENG berperut kotak-kotak! Untung saya pakai <em>sunglass</em>, jadi bisa ngelirik sepuas hati. Setelah saya perhatikan, ternyata memang banyak pengunjung yang bertampang ‘indo’. Selain si ganteng itu, ada segerombol keluarga Arab yang cakep-cakep banget. Ada juga keluarga India yang salah seorang wanitanya pakai sari lengkap sambil leyeh-leyeh di pantai! Hasil obrolan dengan pengelolanya, pengunjung di sini memang banyak ekspatriat dan rombongan perusahaan yang menginap di resort. Orang lokal Pandeglang-nya justru nyaris tidak ada.</p>
<p>Matahari mulai bergulir ke barat, dan ternyata oh ternyata, di Beach Club ini kita tidak bisa melihat sunset. Itulah sebabnya mereka menyediakan Sunset Trip, karena untuk melihat sunset mesti naik <em>boat</em> agak ke tengah laut. Gagal deh niat foto-foto “klasik” siluet berlatar sunset. Saya memutuskan untuk beranjak pulang, karena transportasi umum dari Tanjung Lesung ke terminal bus terdekat terbatas. Benar saja, selepas maghrib sudah tidak nampak ojek satupun! Untungnya seorang instruktur snorkeling berbaik hati memberi tumpangan sampai pangkalan ojek terdekat.</p>
<p>Di sinilah ‘kesalahperhitungan’ makin kacau. Karena niatnya <em>backpacking</em>, saya bawa uang tunai pas-pasan. Tapi ternyata di sini ada aturan tidak tertulis bahwa transportasi umum harganya bisa naik hampir 3 kali lipat kalau malam dan tidak bisa negosiasi karena tidak ada pilihan transportasi lain! Ojek yang harusnya Rp 15.000 jadi Rp. 35.000, angkot yang mestinya Rp. 10.000 jadi Rp. 25.000. Selain itu, sesampainya di Terminal Serang, saya yang santai karena diberitahu terminal ini beroperasi 24 jam, melongo melihat cuma ada 2 bus AC jurusan Bandung. Oalah, baru sadar ternyata walaupun terminalnya 24 jamtidak  berarti semua trayeknya  ikutan 24 jam. Wah, sudah deg-degan takut uang yang saya bawa tidak cukup, busnya gak ada pula! Apalagi waktu itu sudah menjelang tengah malam. Saya pun bertanya sama salah satu calo di situ, kalau mau ke Bogor bagaimana. Ternyata saya bisa naik bus jurusan Bandung tapi yang ekonomi via Ciawi, hanya saja saya harus sabar menanti karena datangnya biasanya lewat tengah malam. Waduh! Cuma dasar saya ndablek kali ya, karena terlalu senang berhasil <em>backpacking</em> sendirian, jadi sepanjang perjalanan bibir saya tidak bisa berhenti cekikikan walaupun lagi deg-degan takut tidak bisa pulang.</p>
<p>Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah, <strong>riset-riset-riset</strong>. Mungkin menyenangkan jalan-jalan dengan spontan, tapi salah perhitungan di tengah jalan itu tidak menyenangkan loh! Apalagi jalan sendirian berarti tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain diri sendiri.</p>
<p>&#8212;<br />
*Pristi Gusmatahati, broadcaster yang baru belajar jadi backpacker. Obsesi keliling Eropa sebelum usia 26 tahun, biar dapat diskon kereta 30%. Suka curhat dan menampung curhatan di <a href="http://kangenkasur.wordpress.com" target="_blank">http://kangenkasur.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Blog*</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/03/the-power-of-blog/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/03/the-power-of-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 17:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa hampir 7 tahun saya punya blog naked-traveler.com. Kalau dulu saya nggak nge-blog, mungkin saya tidak bisa seperti saya sekarang ini yang berprofesi sebagai “tukang jalan-jalan sambil sesekali menulis”. Gimana nggak nikmat, coba? Padahal dulu punya blog cuma iseng ingin mendokumentasikan perjalanan saya di tempat yang aman. Karena gaptek, blog saya dibuatkan oleh teman. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa hampir 7 tahun saya punya blog <a href="http://naked-traveler.com/">naked-traveler.com</a>. Kalau dulu saya nggak nge-blog, mungkin saya tidak bisa seperti saya sekarang ini yang berprofesi sebagai “tukang jalan-jalan sambil sesekali menulis”. Gimana nggak nikmat, coba? Padahal dulu punya blog cuma iseng ingin mendokumentasikan perjalanan saya di tempat yang aman. Karena gaptek, blog saya dibuatkan oleh teman. Sampai sekarang pun saya masih gaptek, tapi intinya nge-blog bukan jago-jagoan bikin dengan program IT, tapi konsisten dalam menulis. <em>If you can write, then you can blog!</em></p>
<p>Dulu saya tidak pernah menyangka bahwa blog itu bisa menghasilkan uang, bahkan bisa jadi profesi. Nge-blog ternyata bisa membuka pintu-pintu lain. Saya tiba-tiba dilirik Editor dan menawarkan untuk jadi kontributor di majalahnya. Selanjutnya blog saya dilirik penerbit untuk diterbitkan jadi buku. Saya jadi sering diundang menjadi pembicara di seminar, <em>workshop</em>, <em>talkshow</em> di radio, TV, dan sebagainya, termasuk diwawancara media untuk ditanyakan pendapat tentang suatu isu ataupun dibuatkan profil. Dari blog pula, saya mendapat undangan untuk jalan-jalan gratis ke seluruh dunia!</p>
<p>Bukan karena saya spesifik di <em>travel blog</em> yang bisa begitu, tapi teman-teman blogger saya juga mendapatkan kesempatan yang sama. Ada teman yang punya blog bertema IT, bisnis, <em>fashion</em>, foto, kuliner, kedokteran  – semuanya juga sering diundang perusahaan untuk me-<em>review</em> produk, jadi pembicara, bahkan jadi presenter TV dan bintang iklan.</p>
<p>Selain alasan bisnis, blog itu berguna untuk mengekspresikan diri, menguatkan <em>personal brand</em>, menjadi ahli di bidangnya, ajang kita berlatih menulis, bahkan sesederhana agar nama kita eksis di google <img src="http://www.acerid.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> Dengan nge-blog kita bisa mengungkapkan sesuatu di depan publik dan tantangannya adalah orang bisa mempercayai pendapat kita!</p>
<p>Apakah dengan adanya Facebook dan Twitter itu mengalahkan keberadaan blog? Tidak. Saat ini promosi suatu produk/perusahaan mulai merambah ke digital dan mereka lebih menyukai <em>endorser</em> yang punya blog dan aktif di <em>social media</em> sekaligus. Banyak akun Twitter yang memiliki banyak <em>follower</em>, tapi belum tentu punya blog. Ada juga yang punya blog, tapi tidak aktif di Twitter. Dengan aktif di keduanya, maka Anda akan memiliki nilai lebih sehingga semakin mudah dilirik.</p>
<p>Nah, bagi Anda yang ingin nge-blog, berikut tipsnya:</p>
<p><strong><em>Niche content</em></strong>  – Karena saat ini blog sudah banyak banget berseliweran di dunia maya, maka Anda perlu memikirkan tema yang spesifik dan unik. Contohnya blog tentang traveling, bisa dibikin lebih fokus lagi ke wisata kuliner, menyelam, atau wisata sejarah. Boleh saja blog Anda berisi <em>diary</em> tentang kehidupan sehari-hari, tapi kalau Anda menulisnya biasa saja (nggak lucu), siapa yang melirik kecuali teman-teman Anda sendiri? Ingat, pilihlah tema yang benar-benar Anda kuasai, sehingga Anda juga enak dalam menulis dan tidak bosan berbagi.</p>
<p><strong><em>WIIFM</em></strong> – Ini singkatan dari “What’s In It For Me?”. Artinya, bikin blog jangan hanya untuk memuaskan diri sendiri, tapi juga harus menempatkan diri sebagai pembaca. Ngapain baca blog orang kalau isinya tidak ada gunanya bagi kita sebagai pembaca, bukan?</p>
<p><strong>Nama domain yang <em>eye catching</em> dan <em>ear catching</em></strong> – Kecuali nama keluarga Anda Onasis atau Hilton, sebaiknya saat ini jangan menggunakan nama pribadi sebagai alamat domain blog Anda. Pikirkan sesuatu nama yang mudah diingat dan enak didengar, yang lucu atau menarik, yang sesuai dengan tema yang akan diusung, tapi jangan kepanjangan sehingga susah diingat.</p>
<p><strong>Tampilan memikat</strong> – Memikat bukan berarti canggih, tapi <em>user friendly</em>. Warna dasar jangan yang mencolok, apalagi menggunakan <em>font</em> yang warnanya tidak kontras dengan warna dasar. Duh, pusing bacanya! Sebaiknya tidak pakai <em>flash</em> atau musik, karena berat bukanya dan bikin kaget.</p>
<p><strong>Konsisten</strong> – Segalanya harus konsisten, baik dalam gaya bahasa, font, warna, gambar, maupun jumlah kata. Yang paling berat adalah konsisten dalam mem-posting. Menulis blog terus menerus membutuhkan waktu dan tenaga khusus. Jangan sampai blog lama kosongnya, karena akan ditinggalkan pembaca. Pengalaman saya sih maksimal seminggu sekali.</p>
<p><strong>Taut dengan akun<em> social media</em></strong> – Taruhlah link akun<em> social media</em> Anda dan alamat email di blog agar pembaca dapat berhubungan dengan Anda. Sebaliknya, setiap Anda mem<em>-posting</em> blog, taruhlah link tersebut di akun<em> social media</em> Anda sehingga<em> traffic</em> blog akan semakin tinggi.</p>
<p>&#8212;<br />
*Tulisan ini diambil dari <a href="http://www.acerid.com/2012/01/the-power-of-blog">http://www.acerid.com/2012/01/the-power-of-blog</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/03/the-power-of-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat (2): Main, pesta, dan nyebur!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 15:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (live on board)? Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, chef kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-80_KcYFHiRc/TyaKUOL7pwI/AAAAAAAABOQ/bykDGYMgIcM/s288/wayag.jpg" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Wayag</p></div>
<p>Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (<em>live on board</em>)?</p>
<p>Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, <em>chef </em>kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada sup, salad, ayam, sapi, tahu, tempe, sayuran, kerupuk, buah-buahan &#8211; yang bawaannya pengen nambah berkali-kali  dan untungnya tanpa berantem karena stok banyak. Selain makan besar 3 kali sehari, di antaranya ada camilan hangat dan aneka jus buah, ditambah lagi <em>unlimited</em> kopi, teh, dan susu coklat. Ah, nikmaat!</p>
<p><span id="more-1059"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img class=" " src="https://lh6.googleusercontent.com/-Z0z_thgaUDg/Tyax1UrGKmI/AAAAAAAABOo/FdVY8d0uwiQ/s144/P1040146.JPG" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Bobo siang di lounge (pic by Juni)</p></div>
<p>Selain <em>diving</em> dan makan, barulah acara main. Nah, itulah untungnya pergi dengan teman-teman sendiri yang sealiran. Adaa aja yang dikerjain di kapal: ngobrol ngalor-ngidul, cela-celaan, sesi foto ala foto model, nonton DVD bareng, gitaran, nyanyi bareng, main tebak lagu, permainan tanpa kartu ala bule dan Jepang, dan lain-lain. Kadang kami malah bobo siang bareng di sofa <em>lounge</em>, saking nggak mau terpisahkan. Buku tebal yang sudah saya bawa pun tidak tamat karena keasikan kongkow. Soal ngobrol, tentu nggak ngomongin soal <em>diving</em> sama sekali. Malah cenderung bikin gosip nggak penting. Maklum, seminggu di kapal 4L (lu lagi lu lagi) yang isinya 80% jomblo kan lama-lama kelihatan siapa yang lagi mojok sama siapa. Uhuy! <em>#nomention</em></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 257px"><img class=" " src="https://lh4.googleusercontent.com/-7RKMqVcxBJg/TyaLm3DSX_I/AAAAAAAABOY/6hzaqwTcrW0/s288/main%2520kaki.JPG" alt="" width="247" height="167" /><p class="wp-caption-text">Permainan air! (pic by Rini)</p></div>
<p>Alam bawah laut Raja Ampat memang luar biasa, tapi pemandangan atasnya lebih luar biasa lagi! Inilah godaan terbesar saya tiap hari: mending <em>diving</em> atau main di pantai? Akhirnya saya berhasil ikut 80% dari seluruh jadwal diving sih. Abis, gimana nggak ngiler ketika melewati ratusan pulau dan pantai pasir putih cantik? Begitu tidak ada jadwal <em>diving</em> dan kapal pas berhenti, yang dicari adalah pantai terdekat, lalu kami minta diantar pake <em>speed boat</em>. Bahkan kalau tidak sempat, kami nyebur langsung dari atas kapal. Permainan kami di pantai juga tak kalah seru, mulai dari lomba gaya lompat dari <em>boat</em>, lama-lamaan <em>hand stand</em> di air, lomba berenang, sampai main perang-perangan sambil gendong-gendongan. Motret pun makin ngaco. Gaya lompat sudah biasa, kami foto bawah laut ala sampul kaset Nevermind-nya Nirvana, bahkan foto pantat bugil berjejer. Bosan main, kami berenang atau berjemur..  sampai dijemput lagi untuk makan malam!</p>
<p>Kalau Anda lihat foto-foto Raja Ampat, sebagian besar fotonya adalah <em>aerial view</em> dari sekumpulan pulau berbukit dan laut begradasi biru. Itulah yang disebut Wayag. Lokasinya paling jauh di Kabupaten Raja Ampat, kapal LOB ini aja memakan waktu 17 jam dari Sorong ke Wayag kalau <em>direct</em>. Untungnya nyewa kapal sendiri ya bisa menentukan rute dan saya tidak menyiakan kesempatan ini. Ternyata untuk sampai ke <em>view point</em> itu, kita harus naik ke puncak bukit yang terjal dan berbatu runcing. Di pagi mendung itu dengan memakai <em>booties</em> untuk <em>diving</em>, perlahan kami memanjat. Wedeh, medannya sulit bener: dengkul sampai di kepala, kepala sampai di dengkul ! Sampai di puncak, terbayar dengan pemandangan spektakuler itu! Gila, kereeen banget! Kembali ke bawah, dilanjutkan dengan keliling pulau-pulau naik <em>speed boat</em> sambil sesekali nyebur di lagun.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-xuDf53nhEhM/TyaL-rdZz_I/AAAAAAAABOg/D0nza9gfdT0/s144/NYE.jpg" alt="" width="144" height="101" /><p class="wp-caption-text">Happy New Year!</p></div>
<p>Puncaknya adalah perayaan tahun baru 2012 di tengah lautan. Meski baru jam 8 malam, rupanya para ABK sudah menghias tempat pesta, pasang <em>speaker</em>, dan mulai berjoget dangdut. Juni menyumbang sebotol <em>whisky</em> mahal, sisanya beli bir dari kapal. <em>Let’s get this party started</em>! Di luar ternyata cuaca buruk, hujan superderas dan angin bertiup kencang sampai tempias dan kami semua basah. Beberapa kali kami terpleset saking licinnya lantai, dan suara Om Joni yang <em>control freak</em> itu terus menggema, “Hati-hati licin! Awas jatuh!” Tiap orang pun jadi DJ, muterin lagu dari iPod masing-masing. Bosan dengan lagu disko, ganti ke <em>suffle dance</em>, <em>ballroom dance</em>, <em>sexy dance</em>, <em>pole dance</em> di tiang tenda, poco-poco, karaoke, bahkan bikin video klip sendiri dengan menggunakan lampu <em>torch diving</em> sebagai <em>lighting</em>. Kapal LOB bule yang tadinya parkir di sebelah kami langsung pergi menjauh saking berisiknya kami ketawa ngakak dan lagu jedar-jeder. Detik hitung <em>count down</em> ditutup dengan suara klakson keras dari Kapten kapal dan sulutan petasan. Kami pun saling berpelukan mengucapkan selamat. Sungguh perayaan Tahun Baru terbaik yang pernah saya alami!</p>
<p>Hari ke-7 kami dipulangkan ke hotel di Sorong. Baru pertama kali itu saya merasakan bumi miring! Ya ampun, setiap jalan saya berasa jalannya miring, setiap duduk berasa mejanya miring, setiap tidur saya pegangan ranjang takut jatoh.Weh, ini toh rasanya seminggu di kapal goyang, begitu turun ke daratan yang rata, sayanya yang jadi miring selama dua hari penuh!</p>
<p>Tapi apakah Raja Ampat segitu doang? Naik kapal LOB seminggu itu tidak cukup untuk menjelajahi Raja Ampat. Saya masih ada 2 minggu lagi untuk menjelajah dan berenang lebih banyak!</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat: Diving bersama bebek kena potas</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 19:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1049</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (live on board) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada lounge ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img class=" " src="https://lh3.googleusercontent.com/-oOXbcawX5FA/TxxVYY6RJ_I/AAAAAAAABOI/zvzGDqFCnX0/s288/DSC01380.JPG" alt="" width="288" height="198" /><p class="wp-caption-text">Pose sama ikan (pic by Juni)</p></div>
<p>Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (<em>live on board</em>) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada <em>lounge</em> ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya ada dapur besar dan ruang ABK. Di lantai bawahnya berjajar 5 kamar yang masing-masing berisi 2 tempat tidur <em>single</em>, AC, meja, lemari, serta kamar mandi lengkap dengan <em>shower</em> air panas, wastafel, dan toilet. Di atas <em>lounge</em>, ada <em>deck </em>terbuka tempat leyeh-leyeh di kursi pantai. Di belakangnya ruang kemudi kapten dan 2 kamar <em>suite</em> jatah karom (kepala rombongan). Sekamar diisi Nina dan Yasmin, lalu di sebelahnya ditempati saya dan Eli. Yep, saya berhasil menggeret Eli jadi teman sekamar, daripada saya tidur sama cowok nggak kenal itu.</p>
<p>Acara pertama adalah perkenalan sesama peserta, meski saya sudah kenal hampir semua orang sebelumnya. Nina dan Yasmin mah sahabat saya puluhan tahun. Rini adalah teman sesama penulis di Bentang. Juni teman sekantornya Rini. Ezra sepupu saya. Ken teman SMA-nya Ezra. Eli adalah teman lama yang pernah bareng ke Israel, dan 4 orang lagi adalah teman-teman kantornya. Rupanya 2 orang cowok tak dikenal itu adalah Panda dan Tato’ yang merupakan <em>diver</em> paling serius sekaligus <em>underwater photographer</em>. Di kapal ini juga diperkenalkan 10 orang ABK, termasuk 2 orang DM (<em>Dive Master</em>) bernama Om Joni dan Kris. Wew, rasio tamu banding kru hampir satu banding satu &#8211; jadi berasa Onasis!</p>
<p><span id="more-1049"></span>Sore itu adalah <em>dive</em> pertama kali yang disebut <em>check dive</em> alias ngetes kemampuan <em>diving</em> para peserta untuk pembagian grup. Jreeeng, Om Joni langsung stres melihat hasil tes! Inilah akibatnya merekrut peserta dengan syarat “bukan <em>hard core divers</em>” &#8211; sebagian besar dari kami adalah <em>diver</em> pemula, bahkan beberapa orang baru aja punya <em>license</em>. Sejak itulah setiap <em>briefing</em> sebelum <em>diving</em>, Om Joni selalu berpesan, “<em>Diving</em> yang benar! Jangan kayak bebek kena potas!” Huehehe! Tapi saya baru menyadari apa artinya ketika saya lagi asik-asiknya <em>diving</em>, tiba-tiba ada segerombolan <em>diver</em> di bawah saya yang lewat sambil berenang gubrak-gubruk dengan <em>buoyancy</em> turun-naik dan <em>fins</em> mereka menabrak-nabrak karang. Aduh! Lalu saya mendengar suara “Hm! Hm! Argh! Argh!” yang ternyata adalah Om Joni yang “berteriak-teriak” di dalam air dengan mata melotot dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Oalah, rupanya <em>diver-diver</em> itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis seperti bebek kena potas! *tutup mata*</p>
<p>Namanya juga kapal LOB Diving, jadi setiap hari aktivitas utamanya adalah <em>diving</em>. Bangun jam 6.30 pagi, sarapan ringan, <em>diving</em>, sarapan berat, <em>diving</em>, makan siang, tidur siang, <em>diving</em>, mandi, makan malam. Setiap mulai satu kegiatan, bel klenengan berbunyi. Awalnya males juga sih, kok berasa kayak kambing dipelihara, dikasih makan, dan disuruh kerja. Tapi karena ingat sudah bayar mahal, jadi semangat. “Untung”-nya, makin hari jumlah <em>diver</em> makin berkurang. Cewek-cewek pada haid jadi males nyebur, ditambah Eli kena flu dan Rini mencret. Sebagian cowok pun memilih untuk leyeh-leyeh. Akhirnya tinggallah Panda dan Tato’, plus saya dan Juni yang dipimpin Om Joni. Kalau ada peserta lain yang mau <em>diving</em>, disatukan di grup lain dipimpin Kris. Ternyata <em>diving</em> dengan grup kecil dan bersama <em>diver</em> berpengalaman, saya baru merasa <em>enjoy</em>.</p>
<p>Saya berkesimpulan bahwa Raja Ampat <em>is not for beginner divers</em>. Tidak ada satu <em>dive site</em> pun yang tidak berarus. Mending kalau arus pelan dan cuma satu arah, ini kadang super kencang dan berbalik arah! Hampir setiap <em>dive</em>, kami diwajibkan untuk <em>negative entry</em> alias turun gaya <em>back roll </em>dari kapal dan langsung turun sampai ke dasar laut sebelum tersapu arus atas. Kalau bermasalah dengan ekualisasi atau nggak kuat berenang, bisa-bisa tertinggal sama teman-teman yang lain. Dengan rasio DM dan <em>diver</em> yang tidak ideal karena 1 DM bisa membawa 7 <em>diver</em>, jadi jangan berharap bisa diperhatikan secara eksklusif oleh DM. Belum lagi udara di tabung yang tingkat konsumsi tiap orang berbeda, jadi kita harus bisa naik ke permukaan sendiri dengan aman dengan memperhitungkan sisa udara, waktu, kedalaman, dan <em>safety stop</em>. Intinya, setiap <em>diver</em> harus bisa menyelamatkan diri masing-masing!</p>
<p>Semua “usaha keras” itu memang terbayar dengan pemandangan alam bawah laut yang spektakuler. Menurut penelitian Conservation International, Raja Ampat memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Bayangkan saja, ada 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang dan 699 spesies moluska – semuanya dalam keadaan sehat. Artinya, sekali nyebur pemandangannya sangat beragam, bahkan cenderung sibuk kayak di pasar. Hukumnya, banyak arus berarti banyak ikan. Dan karena banyak mengandung plankton plus cuaca mendung, <em>visibility</em> sih tidak begitu baik, rata-rata 10 meter saja. Namun itu pun sudah cukup untuk bikin berdecak kagum.</p>
<p><em>Landscape</em> bawah laut Raja Ampat berupa <em>wall</em>, <em>slope</em>, gua – semuanya rapat ditumbuhi terumbu karang yang sangat beragam. Dalam satu area aja bisa melihat karang yang bentuknya meja, otak, kol, bunga, kipas, pilar, dan sebagainya. Belum lagi <em>soft corals</em> yang <em>leather</em>, yang mirip bunga, putri malu, pohon, dengan warna <em>ngejreng</em>. Kerangnya aja bisa berwarna <em>turquoise</em> dan <em>fuchsia</em>. Secara mata saya bolor, tapi karena barengan fotografer, saya jadi bisa lihat mahkluk <em>macro</em>, seperti <em>nudibranch</em>,<em> flatworms</em> dan <em>pygmy seahorse</em> dengan jenis-jenis yang saya juga baru pertama kali lihat.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/16zrnmOhU_Y" frameborder="0" width="288" height="216"></iframe><p class="wp-caption-text">Manta, saya, dan Ezra (video by Juni)</p></div>
<p>Ikan warna-warni beraneka ragam lewat-lewat dan hampir selalu <em>schooling</em> (bergerombolan dengan sejenisnya). Kalau <em>jackfish</em> atau <em>fusiliers</em> sih biasa, tapi yang baru pertama kali saya lihat adalah <em>schooling</em> ikan barakuda ekor kuning<em>. </em>Raja Ampat juga terkenal dengan adanya Wobbegong atau disebut <em>carpet shark</em> karena jenis hiu ini memang mirip karpet yang pinggirnya dedel dowel dan doyannya nyusruk di pasir. Hiu jenis <em>blacktip</em> dan penyu terlihat beberapa kali lewat. Tapi favorit saya adalah melihat Manta Ray atau ikan pari raksasa. Dengan hanya tiduran di pasir, 7 ekor Manta sepanjang 3 meter bolak-balik lewat sambil mengepakkan sayapnya. Di spot bernama Blue Magic malah nemu jenis Manta yang berbeda, yang ini bentuknya gemuk menggemaskan. Bahkan saat <em>safety stop </em>di kedalaman 5 meter tanpa ada pemandangan apa-apa yang sejajar, eh 3 ekor Manta menghampiri saya dengan cueknya. Aww!</p>
<p>Sebalnya <em>diving</em> di Raja Ampat cuma satu, yaitu saat menyadari bahwa udara hampir habis. Duh, seandainya manusia bisa <em>hybrid</em> dengan punya insang, pasti saya nggak mau naik ke permukaan! Eh, nggak juga ding. Ternyata trip seminggu di kapal LOB ini tambah menyenangkan lagi pada saat tidak <em>diving</em>..</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ribetnya persiapan ke Raja Ampat</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 18:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (live on board alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus diving karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang diver yang biasa-biasa saja – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 274px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-oVmQ4Sneifw/TxcNGpARl7I/AAAAAAAABOA/BtVdnAl5Asw/s288/IMG_5713.JPG" alt="" width="264" height="140" /><p class="wp-caption-text">Kapal LOB</p></div>
<p>Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (<em>live on board </em>alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus <em>diving </em>karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang <em>diver</em> yang biasa-biasa saja – meski jumlah <em>log</em> saya ratusan, tapi saya lebih suka disebut <em>traveler </em>daripada <em>diver</em>, sehingga pergi ke Raja Ampat selalu menjadi prioritas terakhir dari segala rencana perjalanan. Padahal bagi para <em>diver</em> serius, pergi ke Raja Ampat itu bagaikan “naik haji”, sama sakralnya seperti orang yang doyan naik gunung ke Everest.</p>
<p>Saya tetep nggak kebayang LOB seminggu kerjaannya cuman <em>diving</em> dan <em>diving</em> doang. Haduh, malasnya! Saya tuh <em>diving</em> hanya sebagai bonus dari <em>traveling</em> ke suatu tempat. Seumur hidup ikut <em>dive trip</em> bareng para <em>diver</em> (serius) cuma dua kali, itu pun dalam sehari pasti ada yang saya <em>skip</em> demi belain berenang doang di laut atau bahkan tidur di kapal. Sebenarnya dari dulu saya sudah beberapa kali diajak ke Raja Ampat, tapi selalu nggak merasa sreg dengan kumpulannya. Abisan yang ngajak kok ya <em>hard core divers</em> gitu? Kebayang pagi-pagi bangun trus <em>diving</em>, sarapan, <em>diving</em>, makan, <em>diving</em>, istirahat, <em>diving</em> lagi. Hiyy! Topik pembicaraan pas <em>surface interval</em> apalagi kalau bukan ngomongin ikan ini, ikan itu, <em>gadget diving</em>, atau bahas teknik <em>diving</em> yang harus begini begitu. Mana gosipnya?</p>
<p><span id="more-1042"></span>Belum lagi sekapal LOB itu kan isinya belasan orang, belum termasuk ABK/kru kapal. Kalau orangnya nggak asik, gimana caranya “menyelematkan diri” sementara di kapal bakal ketemunya 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Kalo bete, nggak bisa ngumpet. Kalo berantem, masa cebur-ceburan? Saya jadi terbayang mati gaya di kapal dari Lombok ke Komodo, berantem sama bule ABG di kapal Turki, atau berebutan makanan sama tamu lain di kapal Halong Bay. Kebetean itu ditambah waktu yang tambah lama, yaitu total seminggu di LOB! Wadaw!</p>
<p>Pada suatu malam di Januari 2011, tiba-tiba aja pembicaraan Raja Ampat keluar lagi di antara saya, Yasmin, Jana dan King Kong. Jawaban untuk keresahan saya di atas adalah “sewa kapal aja sendiri dan ajakin temen-temen sendiri yang doyannya leyeh-leyeh”. Hmm, benar juga. Lalu kami mensyaratkan bahwa isinya harus teman sendiri (<em>mutual friends</em>), punya sertifikat <em>diving</em> tapi bukan <em>hard core diver</em>, umur di atas 30an, kalau bisa sesama jomblo, punya duit, dan punya komitmen libur kantor seminggu di tahun berikutnya. Dari lima syarat itu dibuatlah daftar orang yang akan diundang. Eh makin dipersulit lagi dengan faktor kecocokan satu sama lain. Maka diskusi pun berlanjut sampai pagi ditambah dengan gosipan tentang ketidakcocokan si ini dan itu. Pokoknya kami berempat sepakat untuk berkomitmen dan hanya karena alasan hamil baru boleh batal. *siapa juga yang mau menghamili :p*</p>
<p>Sebulan kemudian, tiba-tiba si Jana dan King Kong telepon bahwa mereka sedang berada di sebuah pameran <em>diving</em> dan harus segera <em>booking</em> kapal untuk ke Raja Ampat karena pas lagi ada slot di tahun baru 2012 dan pas ada diskon. Jana kekeuh milih kapal perusahaan Indonesia Raya yang terbagus dan tentunya termahal karena, “Biar nyaman kita, bo, <em>wis tue</em> gini… daripada kapal yang lainnya sempit dan tidurnya umplek-umplekan gitu di <em>bunk bed</em>.” Ya apa boleh buat, ditodong begitu saya ngikut aja. Masalah selanjutnya adalah gimana caranya ngumpulin DP (<em>down payment</em>) dalam waktu 2 hari dari semua peserta yang mereka juga belum dikabari?</p>
<p>Jadi, sewa kapal LOB bernama MV Raja Ampat Explorer selama seminggu (7 hari/6 malam) <em>full board</em> tanggal 27 Desember 2011 – 2 Januari 2012 (<em>booking</em> setahun!) itu harganya hampir Rp 200 juta yang pembayarannya dibagi rata oleh 14 peserta! DP Rp 2,9 juta dibayar dalam waktu 2 hari. Langsung deh saya kirim email ke teman-teman daftar prioritas utama. Dari semua yang terkirim, yang <em>commit</em> baru 7 orang. Ha, kurang 7 orang lagi! Jadilah saya sebar email lagi dan akhirnya memperbolehkan orang yang mau ajak temennya asal lolos <em>interview</em> mengenai bagaimana orangnya. Sisanya DP ditalangi dulu sama Jana sembari kami semua mencari orang. Ribet ye kite?</p>
<p>Gebleknya, beberapa bulan kemudian, si Jana dan King Kong tiba-tiba <em>bail out</em> alias mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas! Lah, orangnya kurang lagi! Saya pun ngambek dan minta mereka yang cari sendiri entah dari mana tapi orangnya harus asik. Daftar peserta pun semakin mendekati pembayaran terakhir di bulan September malah ganti-ganti nggak jelas. Akhirnya diperbolehkan pula teman bawa teman, asal asik. Yah, daripada nombok. Saya dan Nina didaulat jadi karom (kepala rombongan) menggantikan King Kong. Kami pun merencanakan rute yang terserah mau ke mana yang penting nyampe ke Wayag dan harus ada acara berhenti di pantai-pantai untuk leyeh-leyeh.</p>
<p>Alhasil isinya adalah saya, Yasmin, Nina, Rini + 3 teman kantornya, Eli + 3 teman kantornya, plus 3 orang yang kita semua nggak kenal hasil dari pencarian si pengkhianat. Seminggu sebelum <em>deadline </em>pembayaran, tiba-tiba 3 orang batal sehingga 2 orang digantikan sepupu saya, Ezra + temannya + 1 teman Eli. Ih, ribet ya? Nggak apa-apa deh, yang penting <em>mutual friends</em>-nya lebih banyak jadi tetap mayoritas dibanding status “temannya teman”. Masalah selanjutnya adalah pembagian kamar! Dengan jumlah genap 6 cewek + 8 cowok di dalam 7 kamar ternyata ada beberapa <em>couple</em> juga yang nggak mau terpisahkan. Supaya cepat, 2 kamar terbaik di kapal adalah milik karom – tinggal nanti antara salah satu dari saya, Nina dan Yasmin yang harus bersedia tidur dengan cowok nggak kenal. Sampai-sampai saya dikirimi King Kong foto-foto cowok 2 orang nggak kenal itu dengan harapan saya lah yang melunak.</p>
<p>Belum selesai sampai di situ. Sudah jauh dan mahal sampai Papua, masa kita nggak <em>explore</em> tempat lain? Secara cuma saya dan Nina yang bukan anak kantoran, maka kami merencanakan trip <em>traveling </em>di Papua setelahnya. Yasmin pun bersedia <em>resign</em> dari kantornya demi nambah 2 minggu jalan-jalan di Papua. Mau ke mana? Beberapa kali kami ketemuan untuk membahas tetap tidak ada kepastian. Kami baru sadar Papua itu luasnya luar biasa dengan akses serba nggak jelas dan nggak bisa di-<em>google</em>. Intinya, liat aja ntar gimana. Punya tiket pergi dulu ke Sorong, pulangnya ntar baru dipikirin.</p>
<p>26 Desember 2011 kami berangkat dari Jakarta dengan menitip pesan ke ibu masing-masing, “Kami pergi ke Papua, seminggu LOB, lalu 2 minggu jalan-jalan entah ke mana, diperkirakan pulang pertengahan Januari, dan.. nggak bisa dihubungi karena nggak ada sinyal.”</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Bukan) jalan-jalan ke gereja</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[Banyak gereja yang merupakan situs pariwisata, mungkin karena dianggap memiliki nilai arsitektur bangunan atau historis yang tinggi. Gereja yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara antara lain St. Peter Basilica di Vatican, Notre Dame Cathedral di Paris, atau Westminster Abbey yang makin populer karena pernikahan Will and Kate. Di Indonesia, banyak yang berkunjung ke Katedral di Jakarta atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 202px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-Ch6Rfd8Y6Dk/TvOI_82TY2I/AAAAAAAABN0/ZHZn4cLEIn0/s288/ame%252520in%252520manila%252520137.jpg" alt="" width="192" height="245" /><p class="wp-caption-text">Gereja saya di Manila</p></div>
<p>Banyak gereja yang merupakan situs pariwisata, mungkin karena dianggap memiliki nilai arsitektur bangunan atau historis yang tinggi. Gereja yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara antara lain St. Peter Basilica di Vatican, Notre Dame Cathedral di Paris, atau Westminster Abbey yang makin populer karena pernikahan Will and Kate. Di Indonesia, banyak yang berkunjung ke Katedral di Jakarta atau Gereja Blenduk di Semarang.</p>
<p>Kalau saya lagi <em>traveling</em>, mengunjungi gereja atau rumah ibadah tersohor di sebuah kota adalah wajib hukumnya. Pas hari Minggu, kalau lagi berada di luar kota atau luar negeri, saya juga usahakan ke gereja untuk menghadiri kebaktian. Kunci nyari gereja adalah bahasa pengantarnya. Dengan berbagai budaya di Indonesia, banyak gereja yang kebaktiannya dalam bahasa daerah. Kalau di kota besar di Indonesia, saya mencari gereja yang judulnya GKI atau GPIB karena biasanya ada kebaktian berbahasa Indonesia. Saya pun mendapat pengalaman yang mengesankan ke gereja di Indonesia..</p>
<p><span id="more-1036"></span>Awal tahun 1990an di Bali, saya ikut <em>church service</em> yang pake antar-jemput dari hotel di Kuta. Tepatnya saya lupa di mana, tapi gerejanya ada di tengah sawah dan berbentuk mirip pura. Sebagian besar jemaat yang datang pun pake kebaya dan kain ala Bali. Meski kebaktiannya dalam bahasa Indonesia, saya sempat kaget juga melihat cara mereka berdoa. Mereka menyatukan kedua telapak tangan dan diangkat ke dahi, bukan melipat jari-jari tangan seperti biasanya. Saat itu saya baru tahu bahwa tidak semua orang Bali beragama Hindu, dan pengaruh budaya itu juga masuk ke gaya orang berdoa.</p>
<p>Saat bekerja di Kelapa Gading, Jakarta, pada suatu hari Minggu, saya menyempatkan diri ke gereja yang terdekat dari kantor tanpa melihat plang namanya. Begitu sudah duduk manis di dalam, orang di sebelah saya menyodorkan buku lagu pujian. Loh, kok tulisannya karakter Cina? Semenit kemudian terdengarlah nyanyian jemaat… Waks, saya baru sadar bahwa kebaktiannya dalam bahasa Cina! Jadilah saya hanya bersenandung karena nggak ngerti dan bengong sepanjang kebaktian. Hehe!</p>
<p>Sekali-kalinya saya sengaja ke gereja di Indonesia dengan kebaktian bahasa daerah waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Nanga Bulik, Kalimantan Tengah. Di desa itu ada satu gereja berbentuk rumah panggung dari kayu. Jemaat yang hadirsekitar 20an orang, dan rupanya gereja itu untuk orang Dayak dan dalam bahasa Dayak. Karena tidak ada pilihan sementara saya tinggal sebulan di tempat terpencil, setiap minggu saya ke sana. Meski nggak ngerti, tapi dengar kidung jemaat (yang dalam bahasa apapun tapi nada lagunya sama) sudah bikin hati saya sejuk.</p>
<p>Kalau di luar negeri, saya nyari gereja yang kebaktiannya berbahasa Inggris. Tapi terus terang, kalau negara tersebut penduduknya nggak bisa bahasa Inggris, saya biasanya tidak ke gereja karena mau nanyanya aja susah ke orang lokal, contohnya di Thailand dan Cina. Sedangkan negara yang berbahasa Inggris (baik bahasa utama, maupaun kedua) biasanya mayoritas Kristen, jadi lebih mudah nyari. Apalagi kalau saya punya teman bergama Kristen yang tinggal di sana, jadinya saya tinggal nebeng.</p>
<p>Pengalaman pertama saya ke gereja di luar negeri adalah saat saya <em>home stay</em> bersama keluarga Amerika penganut <em>Mormon </em>di Ventura, California. Setiap minggu saya diajak ke gereja dan masuk Sekolah Minggu bersama anak-anaknya. Dan saya baru tahu bahwa Mormon itu, selain memakai alkitab Kristen dan percaya Yesus, mereka juga percaya terhadap nabi baru, yaitu Joseph Smith yang berasal dari New York! Saya pun diberi <em>Book of Mormon</em>, alkitab mereka, dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Di Geneve, Swiss, saya diajak teman saya ke gerejanya yang berbahasa Inggris… tapi jam 6 pagi! Alasannya karena, “Kebaktiannya sebentar, cuma 15 menit.” Dan ternyata benar! Di dalam gedung gereja tua itu yang datang cuma 8 orang kakek-nenek. Pendeta ngomong sebentar, tidak ada nyanyian, trus maju ke depan makan hosti dan minum anggur, lalu kelar. Rekor ibadah di gereja tercepat seumur hidup saya!</p>
<p>Di London, Inggris, saya diajak teman bernama Egi ke gerejanya juga. Saya juga lupa di mana, tapi terletak di lantai dua dengan ruangan besar dan berbentuk <em>amphitheate</em>r. Sebagian besar jemaat berkulit hitam tapi pendetanya bule. Di panggung ada <em>band</em> lengkap, dan saat bernyanyi benar-benar kayak konser <em>rock </em>sambil jemaatnya ikutan joget. Sudah 2 jam lebih di sana dan pada saat selesai kebaktian, saya digeret ke panggung oleh teman saya itu untuk minta didoakan pendeta. Si pendeta menaruh tangannya di atas kepala saya, dan semenit kemudian… saya pingsan! Entah berapa lama saya baru tersadar, tau-tau saya tidur terlentang di lantai panggung. Semua badan saya kaku, saya hanya bisa melihat si pendeta komat-kamit. Beberapa menit kemudian, saya sehat kembali. Entah apalah aliran gereja itu, tapi saya langsung lari terbirit-birit kabur!</p>
<p>Di Wina, Austria, saya diajak teman saya Aping ke gerejanya yang berbahasa Inggris di Dorotheerkirche. Gerejanya keren banget, gedung tua penuh dengan ukiran, ada balkon dan orgel. Sebagian besar yang datang kakek-nenek. Tibalah saat kolekte (persembahan), saya mengalami dilema. Secara <em>backpacker</em> dengan duit mepet padahal di sana menggunakan mata uang Euro, berapa yang harus saya berikan pada gereja? Saya mencolek Aping, “Psst.. boleh pake koinan, nggak?”. Dia bilang terserah. Maka dengan hati-hati saya memasukkan sejumlah koin ke dalam kantong persembahan yang diedarkan, soalnya malu kalau bunyinya gemerincing. Duh!</p>
<p>Kalau ke gereja di luar negeri yang negaranya lumayan banyak penduduk Indonesianya, biasanya ada gereja berbahasa Indonesia, contohnya saya pernah diajak ke gereja di Auckland, New Zealand. Abis itu, ada ibu-ibu yang jualan makanan Indonesia. Lumayan mengobati rasa rindu!</p>
<p>Kalau pas di negara yang berbahasa Inggris tapi terletak di pedalaman, ya saya pasrah aja. Contohnya waktu saya di Malapascua Island, Filipina. Hari itu jam 5 pagi saya malah diving untuk melihat <em>thresher shark</em>. Kelar diving, si Yasmin dan Jana bilang, “Selamat Natal ya! Hebat, merayakan natal bersama hiu!”. Deg. Itulah natal pertama seumur hidup saya yang tidak ke gereja. Lagu “<em>Have yourself a merry little Christmas</em>”-nya Coldplay terus menerus berkumandang di kepala saya sambil <em>mewek</em> karena saya kangen rumah!</p>
<p>Filipina itu mayoritas penduduknya beragama Katolik. Setiap hari Minggu, di mana-mana ada misa: di ruang tunggu, di kapal, di sekolah, di taman, bahkan di lobby mall! Beberapa kali saya ikut misa, tapi kalau dipimpin oleh teman saya, Father Generoso. Saya menemukan gereja Kristen Protestan yang berbahasa Inggris dengan tidak sengaja. Suatu hari di Sunday Market, saya kenalan sama cewek Korea. Dari merekalah saya dikasih tau bahwa ada gereja Protestan berjarak 3 blok dari asrama saya. Maka minggu depannya saya ke Union Church of Manila. Rupanya itu gereja yang awalnya diperuntukkan untuk warga Amerika Serikat. Rasanya baru kali itu saya berasa jadi jemaat beneran. Pendetanya bule Amerika yang sangat baik, bahkan membalas email-email curhatan saya mengenai betapa stresnya sekolah. Dasar orang Filipina, koornya selalu spektakuler dan bikin merinding. Setiap kelar kebaktian, di lantai <em>basement </em>disediakan makanan kecil dan minuman gratis, sekalian bersosialisasi dengan jemaat lain. Rupanya cukup banyak orang Indonesia yang bergereja di sana. Salah satunya adalah Agus, mahasiswa S2 Akuntansi yang akhirnya menjadi guru les privat akuntansi saya karena saya tidak lolos mata kuliah itu.</p>
<p>Herannya, saya “baru” mengerti isi alkitab justru ketika ditulis dalam bahasa Inggris. Saya baru sadar bahwa alkitab dalam bahasa Indonesia itu menggunakan bahasa yang “di awang-awang” bak baca buku sastra kuno. Sedangkan alkitab dalam bahasa Inggris itu, mungkin karena ada <em>grammar</em>-nya, semua jadi lebih <em>make sense</em>. Sejak itulah, setiap saya ke gereja di Indonesia, saya selalu baca alkitab dari <em>apps </em>yang berbahasa Inggris.</p>
<p><em>Anyway</em>, menurut saya, apapun gereja dan tata caranya, yang penting kita selalu punya hubungan yang baik dengan Tuhan dan saling mengasihi sesama.</p>
<p>Selamat Hari Natal!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata murah meriah di George Town</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 12:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[Penang adalah salah satu tempat favorit saya di Malaysia. Alasannya karena murah meriah! Murah harganya, meriah wisatanya, terutama untuk wisata budaya dan kuliner. Penang sebenarnya adalah semacam propinsi, tapi orang lebih mengenal sebagai Pulau Pinang meski wilayahnya juga termasuk Seberang Perai. Kali ini saya fokus main di George Town, ibu kota Penang yang terdaftar ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-bnePtajN55o/TvB4cV5IXpI/AAAAAAAABM4/Chm8mOH2d3o/s288/IMG_5460.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Beach Street</p></div>
<p>Penang adalah salah satu tempat favorit saya di Malaysia. Alasannya karena murah meriah! Murah harganya, meriah wisatanya, terutama untuk wisata budaya dan kuliner. Penang sebenarnya adalah semacam propinsi, tapi orang lebih mengenal sebagai Pulau Pinang meski wilayahnya juga termasuk Seberang Perai. Kali ini saya fokus main di George Town, ibu kota Penang yang terdaftar ke dalam UNESCO Heritage Site karena mereka berhasil melestarikan bangunan bersejarahnya yang merupakan perpaduan gaya kolonial Eropa dan budaya Asia.</p>
<p><strong>Tempat Wisata Gratis</strong></p>
<p>Enaknya di George Town, banyak tempat menarik yang gratisan. Modal jalan kaki doang, keliling-keliling liat bangunan tua dan mratiin orang menyenangkan sekali. Sebelum jalan, saya cari referensi di internet, salah satunya <a href="http://www.projectpenang.my/" target="_blank">ini</a>.</p>
<p>Beberapa tempat favorit saya adalah:</p>
<p><span id="more-1021"></span>Seluruh George Town sebenarnya didominasi oleh <em>shophouses</em>, semacam ruko bergaya arsitektur eklektik Cina Selatan. Di Asia Tenggara banyak terdapat <em>shophouses</em> semacam ini, tapi cuman di Malaysia dan Singapura yang bagus melestarikannya. Ruko bertingkat dua ini dicat warna-warni, kadang dijadikan toko, café, restoran, atau rumah pribadi.</p>
<p>Beach Street – disebut juga Bank Street karena merupakan pusat kantor bank komersial dunia. Siap-siap banyak motret di jalan ini karena bangunan di sekelilingnya keren banget, jadi berasa kayak kota di Eropa!</p>
<p>Padang Kota – di daerah sekitar Lebuh Light, terdapat Clock Tower, Town Hall, City Hall, dan Penang State Assembly Building, yang keren banget bangunan kolonialnya.</p>
<p>Lebuh Farquhar – sepanjang jalan ini terdapat bangunan era kolonial yang megah, seperti St. George’s Church (gereja Anglican tertua di Malaysia), Cathederal of The Assumption (gereja Katholik sejak 1860), dan Court Building (gedung Mahkamah Tinggi yang bergaya Palladian).</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 91px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-WsiyJO1RuNg/TvB7PBCPKtI/AAAAAAAABNU/JujPHJ4wq0U/s144/IMG_5310.JPG" alt="" width="81" height="144" /><p class="wp-caption-text">Uncle bikin kuih</p></div>
<p>Chowrasta Market – Ini adalah pasar tradisional yang jualannya macem-macem, termasuk jajanan enak-enak. Nonton deh si <em>Uncle</em> (di sana semua pria tua dipanggil “uncle”) bikin Po Piah Skin (kulit lumpia) atau Nyonya Kuih (kue basah tradisional).</p>
<p>Little India – nggak usah jauh-jauh ke India, daerah ini India banget. Mau beli kain sari atau gelang <em>bangle</em>, mau nyukur alis pake benang (<em>threading</em>), mau tindik hidung, atau makan samosa sampai <em>dessert </em>India ada di sana.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-HXj7iTvGqTU/TvB71gT9l7I/AAAAAAAABNk/c50b3FlJhKw/s144/IMG_5269.JPG" alt="" width="144" height="81" /><p class="wp-caption-text">Kapitan Keling Mosque</p></div>
<p>Kunjungi juga Sri Mahariamman Temple (candi Hindu tertua di Penang sejak 1883 dengan menara setinggi 7 meter berisi 38 patung cantik), Kapitan Keling Mosque (mesjid tertua di Penang sejak tahun 1800), dan Goddess of Mercy Temple (kelenteng tertua di Penang sejak tahun 1728).</p>
<p>Clan Jetty – perkampungan imigran asal Cina yang berumur 100an tahun yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu berdiri di atas laut. Lingkungannya bersih dan lumayan untuk leyeh-leyeh lihat laut.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-HNfGtDPLFhw/TvB9A5UFVMI/AAAAAAAABNs/VdFxY8zJ2eQ/s288/IMG_5344.JPG" alt="" width="175" height="103" /><p class="wp-caption-text">Cheong Fat Tze Mansion</p></div>
<p>Sedangkan yang pake tiket masuk tapi wajib dikunjungi di George Town adalah Fort Cornwallis (benteng terbesar di Malaysia yang dibangun tahun 1786), Cheong Fat Tze Mansion (rumah orang kaya asal Cina yang menang UNESCO Conservation Heritage Award), Pinang Peranakan Mansion (museum Baba-Nyonya) dan Khoo Kongsi Temple (kelenteng salah satu klan Cina tempat syuting “Anna and The King”).</p>
<p><strong>Makan</strong></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 207px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-uHJoszs3SnI/TvB7zD_YdZI/AAAAAAAABNc/HOMv_sJMBsw/s288/IMG_5219.JPG" alt="" width="197" height="107" /><p class="wp-caption-text">Susu almond + kwetiaw kuah = RM 5</p></div>
<p>Orang Malaysia sendiri mengakui bahwa makanan paling enak se-Malaysia ada di Penang. Selain enak, murah pula! Char Koay Teow (kwetiaw goreng), Koay Teow Soup (kwetiaw kuah), Hokkien Mee, Lor Bak, Chee Cheong Fun, Wan Tan Mee, Pork Porridge, rata-rata cuma RM 3/porsi, tapi ini 100% haram. Untuk makanan halal jangan kuatir, ada Nasi Kandar (nasi campur ala India), Roti Canai, Assam Laksa, Fried Oyster dengan harga RM 1 – RM 5 aja. Atau Nasi Lemak paling enak sedunia yang cuman RM 1,50/porsi di Sri Weld Food Court! Untuk <em>dessert</em>, cobain deh Ice Cendol dan Rojak-nya. Maaf, kali ini saya harus bilang bahwa rasanya lebih enak daripada punya kita. Kalau minuman favorit saya sih Ice Almond Milk! Wih, segerr!</p>
<p><strong>Penginapan</strong></p>
<p>Banyak hostel/<em>guest house</em> bertebaran di George Town, terutama di sekitar Lebuh Chulia. Harga per orang per malam di <em>dorm</em> murah banget, mulai dari RM 12. Kemarin sih saya nginep di sebuah hostel di Jalan Hutton yang menempati bangunan tua kolonial keren, harganya RM 30.</p>
<p><strong>Transportasi</strong></p>
<p>Saat ini setiap hari udah ada <em>direct flight</em> naik <a href="http://www.airasia.com/">Air Asia</a> dari Jakarta ke Penang, juga dari Surabaya (3x seminggu) dan Medan (3x sehari). Kota George Town sendiri relatif kecil, ke mana-mana bisa jalan kaki. Kalau malas, bisa naik bus MPPP Rapid Penang CAT.. gratis tis tis! Cari aja halte yang tulisannya “Hop On Free” dan bus yang tulisannya gede “City Hop On”, mereka berhenti di 19 titik strategis yang dekat dengan destinasi wisata di sekitar George Town. Masih malas juga, bisa naik becak yang penuh dengan hiasan bunga plastik. Harganya kudu tawar-tawaran, tapi sering kasihan karena yang narik aki-aki tua gitu. Kalau iseng, cobain naik <em>ferry</em> dari George Town ke Butterworth di <em>mainland</em>, dan itu gratis loh! Lucunya, balik dengan rute Butterworth – George Town baru bayar RM 1,20.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Kurs Desember 2011, 1 RM = Rp 2.850,-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[ADV] Serunya Transformers The Ride!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 14:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai penggemar berat theme park, apalagi yang ada wahana bikin adrenalin memuncak, saya pasti bersemangat nyobain naik. Saya nggak keberatan berkali-kali ke theme park asal ada mainan baru yang seru. Lagi-lagi saya harus bikin sirik kalian, karena saya diundang Resort World Sentosa untuk menghadiri peluncuran wahana baru bernama Transformers The Ride di Universal Studios Singapore! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-hmc9IhcO4tw/TtzUZHIkdAI/AAAAAAAABMk/GduosER-nZc/s288/IMG_5166.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Transformers The Ride</p></div>
<p>Sebagai penggemar berat <em>theme park</em>, apalagi yang ada wahana bikin adrenalin memuncak, saya pasti bersemangat nyobain naik. Saya nggak keberatan berkali-kali ke <em>theme park</em> asal ada mainan baru yang seru. Lagi-lagi saya harus bikin sirik kalian, karena saya diundang <a href="http://www.rwsentosa.com/" target="_blank">Resort World Sentosa </a>untuk menghadiri peluncuran wahana baru bernama <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/UniversalStudiosSingapore/TransformersTheRide" target="_blank">Transformers The Ride </a>di Universal Studios Singapore! Hihi, padahal Dufan aja nggak pernah ngundang saya.</p>
<p>Sampai saat ini Universal Studios Theme Park ada 4 di dunia, di Hollywood, Orlando, Osaka dan Singapura. Untung juga sih buka di Singapura, jadi bisa lebih dekat dan murah mencapainya. Saya sendiri sudah 3 kali ke sana dan nyobain berbagai macam wahananya. Nah, sebagai undangan peluncuran Transformers the Ride, saya menjadi salah satu orang pertama yang nyobain. Bukannya kelinci percobaan sih, tapi kan seneng banget, apalagi bisa ketemu Michael Bay (sutradara film Transformers). Biar tambah sirik, saya jalan barengan 3 orang brondong eh blogger kondang, yaitu si Poconggg, Benakribo dan Shitlicious. Makanya kalau punya blog, seriusin deh bikinnya, siapa tahu dapat kesempatan asik seperti kami! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-1016"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-YMc27OF0j2o/TtzUI3SoVQI/AAAAAAAABMU/q3V1ru_sBTo/s144/1%252529%252520Hotel%252520Michael%252520-%252520Room%252520Interior.jpg" alt="" width="144" height="96" /><p class="wp-caption-text">Kamar Hotel Michael</p></div>
<p>Bersama wartawan dan blogger dari negara-negara lain, kami semua diinapkan hotel-hotel yang ada di Resort World Sentosa. Rombongan Indonesia nginep di <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Hotels/HotelMichael" target="_blank">Hotel Michael</a>, yang didesain oleh arsitek kontemporer terkenal Amerika Serikat bernama Michael Graves. Nggak heran, kamarnya berasa di <em>art gallery</em> karena mural dan furniturnya unik dan keren, didominasi warna oranye. Selama 3 hari di sana, kami makan di sekitar Resort World aja udah puas karena banyak banget restorannya. Saya sempat <em>dinner</em> uenak di Starz Restaurant di Hard Rock Hotel, bahkan dapat kesempatan <em>food tasting</em> Malaysian Food Street yang akan segera buka persis di gerbang Universal Studios. Karena bulan Desember mendekati Natal, di Resort World Sentosa suasananya natal banget, lengkap dengan pohon natal raksasa setinggi 38 meter dan areanya dihiasi dengan lampu kelap-kelip. Saya juga sempat nonton <em>Crane Dance</em> di Waterfront.</p>
<p>Resort World Sentosa sedang membangun fase keduanya yang akan berisi Marine Life Park, ESPA, dan 2 hotel baru. Di lahan fase kedua, saat ini sudah buka <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/MaritimeExperientialMuseumAquarium" target="_blank">Maritime Experiential Museum &amp; Aquarium </a>(MEMA). Bangunannya berbentuk lambung kapal terbuat dari baja dan kaca, isinya segala macam dokumentasi perjalanan kapal Laksamana Zheng He bao Chuan (di kita disebut sebagai Cheng Ho). Yang paling asik adalah Typhoon Theatre, semacam bioskop multimedia 360° yang bikin kita berasa sedang diamuk topan badai di atas kapal layar China abad ke-9, lengkap dengan cipratan air!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 166px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-ZREdyYi69AY/TtzUqC_Uz4I/AAAAAAAABMs/5Ltsn_g6gI0/s144/Battlestar%252520Galactica%252520Close-up%2525202.jpg" alt="" width="156" height="104" /><p class="wp-caption-text">Battlestar Galactica</p></div>
<p>Kembali ke <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/UniversalStudiosSingapore" target="_blank">Universal Studios</a>, saya naik wahana yang belum pernah coba sebelumnya, yaitu Madagascar. Udah siap-siap pake jas hujan, eh ternyata nggak basah sama sekali. Yah, kayak di Istana Boneka-nya Dufan gitu deh. Saya juga naik lagi <em>roller coaster</em> Battlestar Galactica, eh ternyata masih berasa deg-degan! Di <em>Human</em> (warna merah), kita duduk di kursi yang berlantai. Di <em>Cylone</em> (warna biru), duduk di kursi gantung dengan kaki menjuntai kewer-kewer. Jadi kebayang kan mana yang lebih serem? Tentu yang biru! Kalau si merah <em>roller coaster</em> turun-naik-muter, si biru ditambah lagi muter kursinya 360° jadi kita bisa liat kaki sendiri di atas! Mantaab!</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-WngG4Sl9tZU/TtzULGxzxEI/AAAAAAAABMc/orb-LFYlCSE/s288/IMG01649-20111202-0917.jpg" alt="" width="196" height="140" /><p class="wp-caption-text">Bersama Poconggg &amp; Benakribo</p></div>
<p>Dan kini saatnya naik Transformers The Ride: <em>The Ultimate 3D Battle</em>! Wahana baru ini ada di Sci-Fi City, yang berdekatan dengan Battlestar Galactica. Kalau sudah nonton film Transformers, wahana ini dibikin persis seperti filmnya, jadi berasa kita ada di <em>scene</em> filmnya. Awalnya kita akan direkrut di NEST, pusat komando militer buatan manusia dan Autobots untuk melindungi bumi dari Deceptions. Kita masuk ke ruangan semacam terowongan dengan interior persis kayak laboratorium dan ruang kontrol, lalu pake kaca mata 3D dan naik kendaraan berkapasitas 12 orang yang bernama Evac. Si Evac ini adalah Autobot yang bisa berubah dari mobil, kendaraan <em>hybrid</em>, dan robot. Kita lalu dibawa PERAANG bersama 4 Autobots lain (Optimus Prime, Bumblebee, Sidewsipe, dan Wheelie) melawan 7 Deceptions (Megatron, Ravage, Sideways, Grindor, Devastator, Bonecrusher, dan Starscream). Jadi kita beneran berasa dilempar nabrak gedung, dijatohin dari atas robot, ditembak peluru (sampe berasa panas beneran!). Gila, kereeen banget!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-GUsL7KzpBJQ/TtzTChmwBzI/AAAAAAAABMM/G5g8mwNCoqY/s144/_YHK0462.JPG" alt="" width="144" height="96" /><p class="wp-caption-text">Foto bareng Michael Bay!</p></div>
<p>Sore itu saya menghadiri <em>press conference</em> peluncuran Transformers The Ride, malah ikutan nanya biar diajak ngomong sama Michael Bay. Sialnya, dia dikawal ketat sama <em>body guards</em>-nya sampe susah mau foto bareng! Setengah jam kelar acara, dia lagi berdiri ngobrol sama para pejabat, saya langsung aja nekat memotong pembicaraan dan berhasil foto bareng! Hehe! Malamnya, saya menghadiri pesta peluncuran Transformers The Ride bersama ratusan undangan lain. Lumayan dapat makan dan <em>champagne</em> gratis! Di panggung, setelah kata sambutan para pejabat, Michael Bay sekonyong-konyong muncul naik Bumblebee alias mobil kuning Chevrolet Camaro yang dipake Shia LaBeouf, lalu muncul lah para Autobots! Dan resmilah Transformers The Ride dibuka untuk umum per tanggal 3 Desember 2011. Ayo cobain serunya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

