Archive for the ‘Travel’ Category
Sushi paling enak sedunia
Maguro Set
Saya termasuk doyan makanan Jepang. Di Indonesia banyak restoran Jepang bertebaran, dijajakan mulai dari warung kaki lima sampai fine dining di hotel bintang lima. Kuliner Jepang ini juga tersebar di hampir setiap negara di dunia. Tapi bagaimana masakan Jepang di negaranya sendiri?
Makanan Jepang paling populer adalah sushi. Padahal konon asalnya justru berasal dari Asia Tenggara, disebarkan ke Cina, sebelum sampai ke Jepang. Awalnya sushi itu adalah ikan asin yang dibungkus nasi hasil fermentasi, tapi lama-kelamaan berubah menjadi sushi yang kita kenal sekarang yaitu ikan di atas gumpalan nasi non-fermentasi.
Pas saya ke Jepang, saya pun puas-puasin makan sushi. Di sana sushi tersedia di mana-mana, mulai dari mini market sampai restoran, kokinya pun banyak yang membuat sushi langsung di depan tamu. Ternyata saya baru sadar bahwa sushi di Indonesia itu ternyata fancy abis. Per potong nasi gulung itu ukurannya besar dan tampak warna-warni. Isinya variatif, mulai dari belut, salmon, sapi, dilumurin mayones, bahkan ada yang dijejali cabe rawit. Begitu saya makan sushi di Jepang, semuanya berbeda dengan yang biasa saya makan di Indonesia. Sushi di Jepang nggak macem-macem, kebanyakan yang berbentuk gumpalan nasi yang ukurannya pas dimakan sekali suap dan di atasnya diberi sashimi (potongan ikan mentah), disebut dengan nigiri sushi.
[Adv] Tips pake softlens untuk traveler
Saya pake kaca mata minus sejak SD. Taunya gara-gara setiap lihat ke papan tulis, tulisannya jadi dobel. Dulu saya malu pake kaca mata, jadinya dicopot melulu, sehingga minusnya naik dengan drastis. Baru SMP saya selalu pake kaca mata kecuali tidur dan mandi. Itu pun saya masih merasa terganggu karena nggak enak pas maen basket, kemping, naik gunung, naik motor, dan lain-lain. Belum lagi kaca mata sering pecah atau gagangnya patah karena jatuh atau kedudukan.
Sejak saya jadi “mbak-mbak kantoran”, acara jalan-jalan makin menggebu. Tambahlah saya merasa sengsara pake kaca mata minus 5,50 itu, makanya saya ganti pake softlens. Sebagai traveler, pake softlens sangat membantu. Bisa gaya pake kaca mata item model apapun, bisa ikut aktifitas outdoor tanpa risih kaca mata melorot karena keringetan, bisa mandi dengan jelas (penting nih), bangun tidur nggak usah ribet cari kaca mata, dan lain-lain.
Anak kuliah juga bisa jalan-jalan!

saya, anak kuliah yg jalan2 ke Amsterdam
Pembaca dan follower twitter saya yang anak kuliahan banyak yang bilang “nggak bisa jalan-jalan”. Alasan terbesarnya adalah karena mengaku nggak ada duit. Padahal saya yakin sebagian dari mereka punya smart phone dan komputer jenis terbaru, yang lebih keren daripada punya saya sekarang. Nggak dapet izin dari orang tua untuk jalan-jalan? Ya, kamu sih mau jalan-jalan tapi duitnya minta ortu. Coba deh kalo duitnya nggak minta ortu, 90% pasti mereka kasih izin. Lah, 10% nggak ngasih izin kenapa? Silakan introspeksi diri, mungkin kamu nilainya jeblok atau kelakuannya tidak baik di mata ortumu.
Percaya nggak, dulu waktu kuliah di Universitas Diponegoro Semarang, saya bisa backpacking ke Eropa hasil keringat sendiri! Well, dulu memang dolar tidak semahal sekarang. Tapi dulu juga nggak ada hape, internet, apalagi budget airlines. Jadi, kalau saya bisa, kenapa kamu nggak bisa?
Sendirian di Benua Hitam
Waterfront, Cape Town
Sampai saat ini saya sudah melancong ke 46 negara, seringnya sendirian pula. Apakah saya pernah merasa takut? Sama sekali nggak. Takut di sini bukan berarti takut terhadap hal-hal gaib semacam hantu, tapi takut dalam artian keselamatan diri seperti takut dicopet, takut dirampok, takut diperkosa. Terakhir saya pikir bakal takut pas jalan ke India sendiri, tapi ternyata sebulan di sana malah nggak merasa takut sama sekali. Nah, begitu saya traveling sendiri di South Africa, kok saya jadi takut sendiri ya?
Jadi ceritanya, Juli 2011 lalu saya punya waktu seminggu untuk traveling sendirian di South Africa. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa South Africa adalah negara modern yang kotanya tampak seperti di Eropa. Dari hasil browsing dan tanya-tanya, saya memilih untuk tinggal di Cape Town daripada Johannesburg (kota terbesar di South Africa). Selain karena di Cape Town alam dan aktivitasnya lebih menarik, di Johannesburg katanya lebih bahaya bagi cewek sendirian. “Either you will be raped or robed,” begitu katanya. Meskipun perhelatan FIFA World Cup 2010 telah sukses diselenggarakan di South Africa dan tampaknya semua baik-baik saja, namun saya tetap menganggap serius soal keselamatan saya.
Berisik!
Suatu sore yang hujan, berlari-lari saya menuju sebuah cottage di Pulau Kei Kecil, Maluku. Dari review di website, penginapan sederhana di pinggir pantai itu sangat direkomendasikan bagi yang ingin mencari ketenangan. Tapi saking terpencilnya tempat itu, sinyal handphone tidak ada sehingga tidak bisa booking via telepon, apalagi online. Jadi setelah mendarat di Bandara Dumatubin, saya langsung go show. Pemiliknya seorang pria tua asal Belanda. Begitu menemui saya, dia bertanya, “Are you Indonesian?” Loh, pertanyaan aneh. Saya jawab iya. Serta merta dia bilang, “No room is available!” Saya pun mengeluarkan jurus-jurus rayuan sehingga dia melunak dan memperbolehkan saya menginap. Ternyata dia seorang yang menyenangkan. Saat makan siang, saya pun bertanya kenapa dia begitu “anti Indonesia”? Jawabnya, “Because they pay for 1 room but stay with the whole families and friends until the room and verandah are full with people sleeping. They are also very noisy that my other guests complain.” Nah! Cerita klasik tentang turis domestik Indonesia bukan?
Yah, saya tidak menyalahkan pemiliknya sih. Kalau saya punya penginapan, saya juga ogah kamar dijejali orang banyak tapi bayarnya cuma sekamar. Kalau termasuk sarapan masih bisa diakali, tapi mereka kan pasti menggunakan kamar mandi yang akhirnya menambah biaya air. Belum lagi berisiknya membuat pusing kepala. Budaya kita memang kekerabatannya sangat dekat dan doyan kumpul-kumpul. Acara jalan-jalan pada musim liburan bagi orang kita sebagian besar masih bersama keluarga (besar). Menginap di hotel menjadi sarana rekreasi keluarga.
You are currently browsing the archives for the Travel category.




