Travel

The power of female travelers

The power of female travelers

Sangat sering saya ditanyakan orang “sebagai cewek, ngeri nggak sih traveling?” dan sungguh saya nggak ngerti kenapa pertanyaan semacam itu masih ada di tahun 2014? Bahkan orang-orang tua (untungnya bukan orang tua saya) hari gini masih ada yang bilang, “Traveling? Tapi kamu kan cewek!”

Sebagai cewek, harus diakui umumnya kita memang lebih rentan dibanding cowok secara fisik. Tapi ingat lah bahwa resiko ditipu, dicuri, dirampok, bahkan diperkosa adalah sama juga dengan yang ditanggung cowok. Kriminalitas itu tidak pandang jenis kelamin, umur, fisik dan lain-lain. Secara kasarnya, kalau sial ya sial aja. Jalan-jalan sendiri di malam hari ke tempat yang sepi? Itu sih bukan hanya cewek, tapi cowok pun akan jadi sasaran kejahatan. Dengan menggunakan common sense, semua resiko itu bisa diminimalisasi, dan tentunya ditambah doa agar kita selalu dalam lindunganNya.

Perhatikan nggak? Buku-buku travel di Indonesia sebagian besar ditulis oleh cewek. Semakin lama pun semakin banyak cewek yang traveling. Bahkan perjalanan setahun saya keliling dunia 2012-2013 saya bertemu lebih banyak cewek daripada cowok. Kalaupun ada cowok, sebagian besar dia datang bersama ceweknya.

Apakah karena populasi cewek lebih banyak di dunia? Salah! Saat ini perbandingan pria dan wanita adalah 101:100 kok. Jadi kenapa cewek lebih banyak traveling? Teori saya sih karena umumnya cowok itu lebih serius memikirkan masa depan karena secara kodrat mereka lah yang nantinya wajib menjadi breadwinner (pencari nafkah untuk keluarga). Jadi, cowok lebih cenderung untuk mengejar karir supaya duluan mapan dan bisa menikahi cewek. Sementara cewek, apalagi masih single, mikirnya kalo ada duit ya dipake untuk senang-senang sendiri aja dulu. Hayo ngaku! :)

Menurut saya, jadi cewek itu justru jauh lebih diuntungkan saat traveling. Tahu kan ada istilah “ladies first”? Artinya, kita memang selalu didahulukan. Sebut saya tidak mendukung persamaan hak pria dan wanita. Tapi dalam hal traveling, saya tetap ingin mendapat perlakuan khusus kok!

Pertama, cewek itu sering diberikan tempat khusus. Transportasi publik memberikan space khusus untuk cewek, seperti gerbong khusus di kereta api atau dapat prioritas tempat duduk di bus. Parkir aja di mal, cewek mendapat tempat khusus bukan? Bahkan di India yang katanya paling serem bagi traveler cewek, justru memberikan jalur antrian khusus, disediakan polisi cewek, dan kursi MRT hanya boleh diduduki oleh cewek.

Kalau menginap di hostel, sering tersedia kamar dorm khusus cewek tapi sangat jarang ada dorm khusus cowok. Cowok dianggap lebih fleksibel dengan berbagi kamar dengan cowok maupun cewek, sehingga pilihannya hanya dorm yang mix cewek-cowok. Belum lagi soal toilet dan kamar mandi, untuk cewek umumnya lebih luas dan letaknya lebih dekat.

Dalam soal belanja atau membeli sesuatu yang bukan fixed price, cewek yang emang doyan nawar dianggap wajar bagi penjual sehingga pada akhirnya kita bisa mendapatkan harga lebih murah. Cowok umumnya lebih gengsi dalam hal ini, dan itu terbukti seringnya saya mendapat harga lebih murah dibanding teman-teman traveler yang cowok. Secara umum, barang-barang yang tersedia di pasaran pun sebagian besar ditujukan untuk cewek sehingga kita lebih bebas memilih. Baik membeli barang untuk diri sendiri maupun untuk oleh-oleh kepada cewek lebih mudah karena lebih banyak pilihan.

Justru karena kita cewek, kita harus memanfaatkan “kecewekan” kita. Contohnya kalau kita bertanya arah jalan kepada seseorang, hampir dipastikan ia akan menjawab dengan lebih ramah kepada cewek  daripada kepada cowok – secara cowok kan gengsi kalau nanya jalan bukan? Malah cewek yang nanya jalan dan akhirnya dianterin itu kemungkinannya besar! Kalau naik kendaraan dan mengambil tas dari bagasi, sebagai cewek kita bisa santai meminta tolong kepada kondektur untuk diangkatin. Saya malah kasihan sama cowok, mereka harus berlaku sebagai cowok dengan mengangkat tas sendiri tanpa minta tolong – bahkan mereka merasa berkewajiban membantu traveler cewek lainnya.

Contoh yang lebih ekstrim lagi, kalau cewek ke bar, kita bisa senyum-senyum kedipin bartender cowok untuk mendapat minuman gratis. Hal semacam ini sulit dilakukan oleh cowok, kecuali emang udah kenal sebelumnya. Pokoknya, kemungkinan cewek ditraktir makan dan minum jauh lebih besar daripada cowok!

Masih banyak lagi deh keuntungan cewek traveling. Intinya, kita tinggal pasang muka memelas dan banyak senyum, orang akan senang hati membantu. Nggak usah sok kuat dan tegar deh. Kadang berlagak lemah justru memberikan keuntungan loh! Yang penting, kita tahu batasnya. Berani tegas kalau ada yang kurang ajar. Berpakaian sopan dan tidak “mengundang”. Sisanya, kita harus menjaga keamanan dan keselamatan diri, apapun jenis kelaminnya.

Ingatlah, worrying gets you nowhere! Kalau kita khawatir melulu, kapan kita jalan-jalannya dong?


Tulisan ini pernah masuk ke Majalah Elle, 2014

Read more
Menginap di Rumah Gubernur

Menginap di Rumah Gubernur

Saat ada kerjaan ke Filipina, saya sengaja extend seminggu untuk mengunjungi sahabat saya Alda, teman sekelas sekaligus roommate di kampus AIM Manila. Alda sudah pernah menginap di rumah saya di Jakarta, saya pernah mengunjunginya saat dia bekerja di Dubai, beberapa kali kami sempat traveling bareng. Akhirnya baru kesampean menginap di rumahnya di Davao City di Pulau Mindanao pada Januari 2016.

Mindanao adalah pulau paling selatan di Filipina yang dekat dengan utaranya Kalimantan dan Sulawesi. Tak heran di wilayah ini paling banyak penganut Islam karena dulu asal penduduknya dari Malaysia dan Indonesia. Sayangnya wilayah Mindanao dicap tidak aman karena di sana lah pusat Abu Sayyaf, kelompok militan Islam yang sering melakukan aksi terorisme, seperti pemboman dan penculikan, juga aksi kriminal lainnya. Terakhir mereka menculik tiga turis asing di Samal Island beberapa bulan sebelum keberangkatan saya! Tapi kata Alda tidak usah khawatir, karena saya bukan target. Baiklah.

Rupanya ayahnya Alda adalah konsultan Gubernur Davao Oriental. Beliau mempromosikan saya sebagai “blogger terkenal”, jadilah saya diundang menjadi tamu kehormatan. Saya, ditemani Alda, akan diajak jalan-jalan ke tempat wisata, disediakan mobil berplat merah dan supir, ditraktir makan, dan menginap di rumah Gubernur! Wah, seumur hidup saya aja nggak pernah ketemu Gubernur DKI Jakarta, apalagi diajak nginep. Diundang gubernur manapun di Indonesia juga nggak pernah sih. Lagian, siapa gue? Hehehe!

Davao Oriental adalah sebuah propinsi di Pulau Mindanao. Ibu kotanya bernama Mati yang berjarak sekitar 3 jam naik mobil dari Davao City. Iya, nama kotanya Mati! Saya aja langsung foto di depan tulisan “Mati”. Kesannya gimana gitu! Perjalanan ke sana pemandangannya keren, karena melewati pesisir yang pantainya bersih. Uniknya, ada sebuah pulau yang bernama Sleeping Dinosaurs. Saya perhatikan, bentuk pulaunya memang mirip dinosaurus yang lagi bobo! Uh, luthunah!

Kota Mati ternyata nggak mati-mati amat. Meski kotanya kecil dan agak awut-awutan, tapi kantor gubernurnya keren banget! Mirip kayak di Indonesia; bangunan paling bagus di suatu kota adalah kantor gubernurnya. Saya pun berencana sowan ke Governor Corazon Nuñez-Malanyaon. Sayangnya Gov Cora (panggilan untuk Ibu Gubernur) lagi sibuk, jadi saya tidak sempat bertemu.

Kantor Gubernur Davao Oriental

Kantor Gubernur Davao Oriental

Di Mati ada sebuah museum yang surprisingly merupakan museum yang paling bagus se-Filipina yang pernah saya kunjungi. Isinya adalah sejarah peradaban propinsi tersebut dan highlight destinasi wisatanya. Yang keren, display-nya interaktif, seperti lantai dan dindingnya yang berupa layar datar TV menampilkan satwa-satwa endemik yang kalau dipencet keluar informasi. Bagian yang menarik adalah tentang Mount Hamiguitan yang baru saja diresmikan menjadi UNESCO Heritage Site karena memiliki keunikan berupa hutan bonsai terluas di dunia. Sayang saya tidak sempat mengunjunginya.

Di belakang museum tersebut terdapat rumah dinas Gubernur. Di situ lah saya disuruh menginap. Wah, rumahnya mewah banget! Menghadap lembah yang cantik, rumah besar berasitektur mirip rumah kolonial Spanyol ini memiliki kolam renang. Kamar kami aja udah kayak hotel interiornya.

Sore-sore kami ke Dahican Beach. Pantai cantik berpasir putih sepanjang 7 km ini adalah andalan pariwisata Mati. Udah siap-siap mau nyebur, eh ombaknya gede banget sampe saya ciut! Masalahnya di situ tidak ada yang berenang selain para surfer profesional. Jadilah kami nongkrong aja sambil barbeque-an.

Bangun pagi, sudah disediakan sarapan di ruang makan dengan meja panjang bak jamuan kerajaan. Di kepala meja, duduk seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai suaminya Gubernur. Namanya Louie Malanyaon. Aduh saya jadi nggak enak gini. Belum ketemu gubernur tapi suaminya jadi kebawa-bawa. Namun Sir ini orangnya asyik dan pengetahuan tentang pariwisata Davao Oriental luas. Saya pun bertanya di mana berenang yang airnya tenang? Beliau menyarankan ke San Victor Island.

Di kota Caraga, kami mampir ke San Salvador del Mundo, gereja tertua di Mindanao yang berdiri pada 1884. Dari Mati, total dua jam naik mobil ditambah naik kapal nelayan sepuluh menit, sampailah kami di pulau San Victor yang berpasir putih seluas 3 hektar. Kami menyewa saung ke petugasnya. Rupanya pulau ini dimiliki oleh gereja Katolik setempat yang sudah menyediakan fasiltas kamar mandi dan air bersih untuk bilas. Ah, menyenangkan sekali kalau dikelola dengan baik seperti ini. Saya pun langsung nyebur!

Selanjutnya kami mampir di Baganga Sunrise Boulevard. Sejatinya adalah pantai pasir putih yang ditumbuhi hutan bakau. Karena taifun Pablo yang menghancurkan propinsi tersebut pada 2012, hutan bakau itu sebagian besar terserabut dan meranggas. Namun pemandangannya jadi sangat instagrammable!

20160129_110027

Akhirnya kami tiba di Cateel (dibaca: Kati-il), kota asal Gubernur. Ternyata rumah pribadi mereka lebih keren lagi! Berasitektur tradisional dengan daun jendela terbuat dari kerang, bertingkat tiga, serba luas dengan interior serba kayu minimalis. Kami disuruh tidur di kamar anaknya. Kekeluargaan banget nggak tuh? Malamnya Sir Louie menjamu kami. Makan cuma bertiga, eh beliau meng-hire catering khusus yang menyediakan seekor lechon (babi guling), lobster, dan udang galah. Wah, mewah bener! Saya jadi tahu perbedaan lechon ala Cateel. Babi yang hidup free range (tanpa dikandangi) ini dipotong saat baru berumur 3 bulan, sehingga dagingnya empuk dan lemaknya tipis. Bumbunya pun minimal sehingga rasanya luar biasa enaknya.

Rumah Gubernur Davao Oriental

Rumah Gubernur Davao Oriental

Besoknya sebelum kembali ke Davao City, kami mengunjungi Aliwagwag Falls. Denger namanya jadi pengen ketawa: Ali-wag-wag! Air terjun ini tingginya 340 meter atau tertinggi se-Filipina, tapi bentuknya berteras-teras sehingga membentuk 22 air terjun kecil yang jatuh ke kolam-kolam. Cantik banget! Meski lokasinya di tengah hutan, tapi fasilitas telah dibangun dengan baik. Di dasarnya tersedia bangunan permanen bertingkat untuk piknik, jalan setapak ke atas sudah diberi pagar dan bebatuan padat sehingga aman, kolam-kolamnya pun diberi informasi mana yang untuk anak kecil maupun orang dewasa. Salut!

Dan hari-hari selanjutnya saya jalan-jalan deh sama Alda di Davao City, kota terluas se-Filipina. Tahun 2005 saya pernah ke sana sama Yasmin, dan kotanya sendiri sekarang tak banyak berubah, hanya lebih ramai. Hebatnya, Walikota Davao telah menerapkan anti-smoking policy di seluruh kota! Destinasi wisata favorit saya sekitar Davao City adalah Eden Nature Park yang terletak di pegunungan dan Samal Island yang berpasir putih dan laut tenang. Sungguh, saya merasa aman-aman aja selama saya di Mindanao.

Read more
Ekspedisi WWF ke Pulau Koon

Ekspedisi WWF ke Pulau Koon

Mendadak saya menerima undangan dari WWF Indonesia untuk mengikuti ekspedisi ke Pulau Koon di Kabupaten Seram Bagian Timur, provinsi Maluku (hashtag #XPDCKOON). Tujuan ekspedisi ini adalah mengumpulkan data ekologi, sosial dan pariwisata kawasan konservasi Koon. Sebagai pecinta pulau eksotis dan diving, saya langsung setuju. Apalagi bisa melihat langsung bagaimana para ilmuwan kelautan dan perikanan bekerja.

Ada 21 orang yang ikut dalam ekspedisi Koon dari WWF Indonesia yang dibantu oleh personel dari Yayasan TERANGI, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Seram Bagian Timur, TNI AL Ambon, Balai Taman Nasional Wakatobi, dan 2 orang travel blogger yaitu saya dan Terry dari negerisendiri.com. Ekspedisi yang diadakan pada 13-25 April 2016 ini menggunakan Kapal Menami milik WWF yang dikirimkan dari Wakatobi.

Tim #XPDCKOON tiba di Pulau Gorom

Tim #XPDCKOON tiba di Pulau Gorom

Karena ada kerjaan lain di Lampung, saya baru bisa menyusul pada 14 April 2016 yang dijadwalkan dengan menggunakan pesawat rute Jakarta-Ambon-Langgur, lalu akan naik speed boat WWF dari Langgur (Kei) ke Koon. Baru saja mau naik pesawat di bandara Pattimura Ambon menuju Langgur, saya ditelepon WWF yang mengatakan bahwa saya sebaiknya turun dari pesawat saja karena kapal Menami ternyata masih di Ambon. Saya sampai nggak enak ngerepotin sebandara karena harus mengeluarkan tas dari bagasi pesawat.

Beruntung saya masih bisa ikut workshop sehari untuk semua peserta ekspedisi di atas kapal Menami. Workshop ini antara lain mengenai tata cara survei cepat dan manajemen data. Sehari tiga kali diadakan coral and fish test alias ujian tentang karang dan ikan! Saya baru tahu bahwa karang itu jenisnya sangat banyak. Karang keras saja terbagi lagi menjadi Acropora dan Non Acropora. Masing-masing terbagi menjadi golongan branching, encrusting, submassive, dan lain-lain. Padahal di layar semua tampak sama!

Sedangkan ujian ikan, terbagi antara identifikasi ikan dan estimasi panjang ikan. Ruangan kelas pun terdengar bak bahasa Asterix & Obelix karena mereka menyebut nama ikan dalam bahasa Latin! Saya yang cuma tahu ikan baronang, ikan kuwe, ikan kerapu itu masih salah, karena masing-masing keluarga ikan mempunyai jenis macam-macam – makanya wajib hapal nama spesies dalam bahasa Latin dua kata. Sebagian besar peserta yang memang sarjana kelautan dan perikanan sekaligus bekerja di LSM bidang konservasi laut membuat saya geleng-geleng kepala. By the way, sebagian besar lulusan IPB dan Universitas Diponegoro lho! Ih, bangga deh saya sebagai almamater Undip!

Yang agak mending saya bisa ikuti adalah ujian mengukur estimasi panjang ikan. Panjang dihitung dari ujung muka sampai ujung ekor. Ternyata tidak semua ikan dijadikan target penelitian. Ikan karang di bawah 10 cm tidak dihitung. Kategori ikan yang dihitung adalah “ikan kecil” dengan ukuran 10-35 cm dan “ikan besar” dengan ukuran 35 cm ke atas. Jenisnya pun tertentu, hanya yang dianggap bernilai ekonomis, antara lain Scaridae, Seranidae, Lutjanidae, Carangidae, Sphyraenidae, dan Cachardindae – silakan googling artinya ya? Hehehe.

Ada juga penelitian Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Selam, seperti kecerahan perairan, tutupan karang, jenis bentuk pertumbuhan (life form), kecepatan arus, dan lain-lain. Juga pengambilan data SPAGs (Spawning Agregation Sites) yang artinya adalah meneliti ikan kawin! Ditambah lagi penelitian Hewan Karismatik, maksudnya penyu, hiu, paus  – entah kenapa disebut “karismatik”. Selain pengambilan data bawah laut, juga ada penelitian darat berupa wawancara kepada para nelayan di pulau-pulau terdekat dengan 150 butir pertanyaan.

Sayangnya karena surat izin kapal bermasalah, kami stuck di Ambon selama 3 malam. Setelah workshop ekspedisi selesai, mendadak saya disuruh mengisi workshop penulisan. Hari bebas lain kami isi dengan berbelanja di mal dan pasar untuk logistik kapal. Saya sendiri mengajak sebagian peserta untuk berwisata ke Pantai Liang, Kampung Bola Tulehu, dan makan rujak di Pantai Natsepa. Beruntung saya sempat bertemu dengan Victor, seorang teman di Ambon yang berbaik hati meminjami kipas angin… karena kamar tidur di kapal Menami sangat panas!

Singkat cerita, pada 17 April 2016 pukul 10 pagi kami berangkat. DUA PULUH ENAM JAM yang membosankan kemudian, akhirnya kami tiba di Pulau Gorom. Speed boat WWF yang dinamai Pesut dari Kei telah tiba untuk membantu penelitian. Kata kaptennya, untung saya tidak ikut nebeng karena perjalanan molor dari 5 jam jadi 8 jam akibat ombak besar. Titik penyelaman ada dua puluhan di sekitar gugusan Pulau Koon, Pulau Gorom, Pulau Geser, Pulau Grogos, Pulau Nukus, Pulau Neiden, Pulau Kidan, dan Pulau Panjang.

Kami pun dibagi 2 tim ekspedisi penyelaman, masing-masing terdiri dari 6 orang. Saya memilih untuk ikut tim yang berada di kapal Pesut yang punya tangga karena masalah (badan) saya adalah memanjat rubber boat dari laut. Urutan penyelaman adalah pertama, “anak ikan” yaitu 2 orang yang mendata ikan kecil dan ikan besar. Kedua adalah “Roll Master” yaitu orang yang bertugas membentangkan tali meteran rol. Ada 5 rol tali, masing-masing sepanjang 50 meter. “Anak IKW” biasanya jadi buddy-nya. Ketiga adalah “anak karang” yaitu yang mendata terumbu karang dan bleaching. Masing-masing penyelam mencatat hasil temuannya pada papan yang dilapisi kertas anti air. Di atas kapal ada orang yang bertugas mendata lokasi dan men-tag GPS untuk titik penyelaman dan bila bertemu “hewan karismatik”.

Tutus Wijanarko meneliti ikan kawin! (foto: Taufik Abdillah)

Tutus Wijanarko meneliti ikan kawin! (foto: Taufik Abdillah)

Kami semua turun ke kedalaman 10 meter, seseorang akan menandainya dengan jerigen. Lalu “anak ikan” maju ke depan sambil mencatat data ikan. Tugas mereka mendata sampai jarak 250 meter dan dilanjutkan dengan long swim selama 15 menit. Di belakangnya, Roll Master membentangkan tali meteran. Bila sudah lewat 250 meter dan menandainya dengan safety sausage, maka tandanya “anak ikan” akan long swim. Terakhir “anak karang” yang mendata kondisi karang sampai jarak 150 meter. Makanya Roll Master setelah membentangkan tali meteran 250 meter, ia harus balik menggulung meteran sampai ke titik 150 meter. Dan “anak karang” lah yang akan menggulung balik sampai ke titik 0.

Dari semua spot penyelaman, alam bawah lautnya memang bagus, malah masih bisa dibilang perawan. Karena lokasinya yang terpencil, hanya kapal pesiar atau LOB (live on board) yang bisa masuk – itu pun sangat jarang. Memang ada sebagian spot yang rusak akibat pemboman oleh nelayan setempat. Untunglah WWF Indonesia telah melakukan konservasi sejak tahun 2011 dimana WWF bersama dengan Raja dan rakyat Petuanan Negeri Kataloka telah menyepakati kerjasama wilayah konservasi yakni Marine Conservation Agreement (MCA), yang bertujuan untuk pemulihan ekosistem laut di perairan sekitar Pulau Koon. Pelarangan pengambilan ikan di situ dilakukan karena merupakan lokasi agregasi pemijahan ikan kerapu sunu, kakap merah, kerapu macan, dan bobara mata besar. Selain itu, perairan Koon juga memiliki kepadatan biomasa (jumlah spesies) jenis ikan tertinggi bila dibandingkan dengan wilayah pemijahan ikan lainnya di Indonesia bagian Timur. Terbukti saat menyelam di area MCA tersebut, saya menyaksikan sendiri terumbu karang yang padat, sehat, dengan ikan yang luar biasa banyaknya, termasuk ikan kerapu dan bobara, bahkan bertemu schooling ikan GT, barakuda, bumphead, dan sweetlips!

Saya yang biasa diving for fun, sekarang baru tahu bedanya diving for work. Peralatan diving angkut sendiri, pasang sendiri. Setelahnya angkut sendiri, bongkar sendiri, cuci sendiri. Kalau ada arus kencang, kami tetap berenang melawan arus sekencang apapun sampai kaki dan gigi saya mau copot saking pegelnya. Kalau ada spot oke untuk foto, tidak ada yang peduli karena pada fokus pada penelitian. Kalau pun mau foto-foto, hanya bisa saat safety stop. Kalau ada yang fotoin, hasilnya tidak sebagus teman fun diver yang biasanya bawa kamera profesional. Ya iya lah yaa… namanya juga ekspedisi penelitian ilmiah, bukan hura-hura!

Di sisi lain saya sangat salut dengan para peneliti yang begitu passionate dengan pekerjaannya dan tidak masalah menempuh kondisi apapun. Saya bertanya, “Emang kalian enjoy ya diving tapi kerja keras begitu?” Jawab mereka, “Kami malah bingung kalau cuma diving doang tanpa mencatat ikan dan karang.”


PS. Cerita behind the scene ekspedisi ini bisa dibaca di buku “The Naked Traveler 7” yang akan terbit secepatnya. :)

Read more
Adrenaline Activities in New Zealand

Adrenaline Activities in New Zealand

Saya suka New Zealand! Selain alamnya yang luar biasa indah, negara itu cocok untuk saya yang adrenaline junkie alias doyan nyari aktivitas yang bikin jantung mau copot. 13 tahun yang lalu saya ke New Zealand dengan tekad pengen nyobain bungy jump di negara penciptanya. Dulu pusat aktivitas beradrenalin adanya di South Island, tapi saat ini di North Island juga banyak, terutama di Auckland dan Rotorua (3 jam naik bus dari Auckland). New Zealand memang pusat aktivitas beradrenalin. Safety-nya sudah tidak diragukan lagi. Pemerintahnya pun secara reguler mengkaji.

Berikut sebagian aktivitas berdasarkan tingkat deg-degan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi;

Luge Riding di Skyline Rotorua
Operator: Luge Skyline

Luge adalah semacam papan beroda yang meluncur dari ketinggian. Luge komersial pertama di dunia diciptakan di sini lho! Ada 3 track yang bisa dipilih, saya meluncur downhill di Scenic Track sepanjang 2 km sambil balapan sama @marischkaprue. Yang bikin seru adalah belokan-belokannya dan turunan yang curam. Kita sendiri yang mengontrol kecepatan. Kalau banyak rem ya berarti makin lambat. Jadi saya tancap aja, dan menang balapan deh!

4WD Buggy Riding dan Clay Bird Shooting di Rotorua
Operator: Adventure Playground Rotorua

4WD Buggy Car

4WD Buggy Car

Naik mobil SUV yang 4-wheel drive mungkin sudah biasa, tapi ini naik 4WD buggy car terbuka dengan tingkat kemiringan yang tajam! Saya dibawa off road ke dalam hutan, belok-belok, naik bukit terjal berbatu-batu, meluncur turun sampe pemandangan menghadap bawah! Teriakan saya akhirnya berakhir di puncak Mount Ngongotaha pada ketinggian 2.000 kaki di atas permukaan laut. Pemandangannya spektakuler abis, menghadap Lake Rotorua, Mokoia Island, dan kota Rotorua.

Belum selesai sampai situ, saya dibawa sebuah bukit untuk Clay Bird Shooting. Saya diajarin menembak sasaran berupa clay (tanah liat) terbang dengan menggunakan senjata semi otomatis berlaras panjang! Begitu “jeder” aja bahu saya terpantul getaran tembakan dan suaranya sangat menggelegar! Duh, serem! Adrenalin saya benar-benar terpacu! Setelah percobaan ke-3, saya baru bisa menembak tepat sasaran.

Bridge Climbing di Auckland Harbour Bridge
Operator: AJ Hackett

Manjat jembatan? Iya, itu juga pertanyaan saya awalnya. Tapi jangan membayangkan jembatannya kecil, ini Auckland Harbour Bridge yang terbuat dari baja dengan panjang 1,02 km dan dibangun tahun 1954. Mulanya agak deg-degan sih karena berjalan di jembatan terbuka yang lantainya bolong-bolong di ketinggian 43,27 meter di atas permukaan air. Guide-nya menerangkan sejarah dan teknis jembatan, termasuk menunjukkan lokasi di mana 3 pekerja bangunannya tewas! Saya makin ndredeg ketika berjalan di atas puncak lengkungan tempat tiang bendera  – atau 64 meter (setinggi bangunan 21 lantai) di atas permukaan laut! Udah tinggi, lebar lantai cuma seukuran dua tapak kaki, kanan-kiri-atas kosong, angin kencang menerpa sehingga jembatan terasa agak bergoyang! Arrrggh!

Parasailing dan Jetboating di Lake Rotorua
Operator: Kawarau Jet

Apa bedanya dengan parasailing di Bali? Yang ini jauh lebih bikin jantung mau copot! Tingginya aja sampe 121 meter atau setinggi gedung 40 lantai! Aw, nyer-nyeran abis! Canggihnya lagi, kapal yang nariknya bukan speed boat biasa, tapi ini lebih besar dan lebih cepat karena kita naik dan turun dari deck kapal, jadi nggak basah kena air sama sekali. Tali yang menghubungkan parasut dan kapal sistemnya katrol otomatis, jadi tinggal dikerek aja kayak bendera. Ditambah lagi pemandangannya yang spektakuler, melihat danau, pegunungan dan kota. Foto di udara ada di paling atas tuh.

Jetboat pertama kali didesain di New Zealand. Kapal bermesin jet ini kecepatannya mencapai 80 km/jam dan mudah bermanuver. Di atas air, saya dibawa ngebut sampe ajrut-ajrutan, tiba-tiba berhenti, tau-tau berputar kencang 360° sampe miring-miring! Seru banget!

Ziplining di Pulau Waikehe dan Rotorua
Operator: EcoZip Adventure dan Canopy Tours Rotorua

Di Indonesia disebut flying fox, tapi istilah itu ternyata untuk jarak pendek dan rendah alias untuk konsumsi anak-anak. Ziplining jaraknya panjang dan di atas ketinggian. Di Waiheke, zipline-nya ada tiga, masing-masing berkabel ganda yang berjarak 200 meter. Karena serba terbuka dan tidak begitu curam, jadi tidak begitu deg-degan tapi pasti teriak.

Yang lebih serem zipline di Rotorua. Ini kombinasi dengan canopy tour, jadi trekking di hutan perawan sambil diterangin soal konservasi alam, naik jembatan antar pohon, melewati jembatan gantung sempit bergoyang-goyang, dan meluncur di 6 zipline berjarak 40-220 meter dengan ketinggian sampai 22 meter! Meluncur nyempil di antara pepohonan supertinggi berusia ratusan tahun di hutan lebat emang bikin jantung mau copot! Saya nggak punya videonya, karena megang kamera aja susah bener karena lemez.

Skyswing di Skyline Rotorua
Operator: Skyswing

Ini semacam ayunan raksasa, tingginya saja 50 meter. Awalnya saya dan teman duduk di kursi terbuka. Pelan-pelan kursi dikerek ke atas sampai 90°. Nah, ini sih serem banget karena lama-lama badan saya yang tadinya posisi duduk tegak jadi menghadap ke bawah. Gilanya, kita sendiri harus menarik tali agar terlepas, lalu kursi jatuh dan berayun dengan kecepatan sampai 150 km/jam! *pegangin jantung*

Skyjump di Sky Tower Auckland
Operator: Skyjump

Sky Tower adalah bangunan tertinggi se-New Zealand, tingginya 328 meter. Di observation deck setinggi 192 meter terdapat patform untuk terjun! Duh, ngebayangin terjun dari gedung setinggi 64 lantai aja udah bikin sakit perut. Berbeda dengan bungy jump yang diikat kakinya, skyjump dikaitkan tali di punggung jadi jatuhnya dalam keadaan tengkurap – makanya disebut juga wired base jump. Delapan tahun yang lalu saya pernah bungy dari Macau Tower setinggi 233 meter, tapi tetep aja yang ini rasanya mau mati ketika berdiri di ujung platform! Pada percobaan ketiga, akhirnya, “AAAAAAAAAK…!!!” Saya teriak kenceng 11 detik sampai mendarat! *mungut jantung di lantai*

Masih ada lagi sih yang belum saya coba, seperti zorbing dan sky dive. Tapi itu adalah alasan saya agar bisa kembali lagi ke New Zealand. Nah, Anda pilih yang mana? Selamat mencoba deg-degan di Middle Earth!

—-
Tips

Saya terbang ke Auckland naik Singapore Airlines di Premium Economy Class. Ternyata nyaman banget; kursi dan jarak kaki lebih lebar, ada calf-rest, reclining seat lebih mundur, TV HD ukuran 13,3 inci, headset canggih, dan yang penting… makanan lebih banyak!
Nah, untuk mendapatkan tiket harga spesial ke New Zealand, saya dan @SingaporeAirID telah menciptakan kode unik untuk Anda. Caranya gampang! Ketik kode 436204795 pada kolom promo code di awal tahap pemesanan tiket online melalui situs www.singaporeair.com.

Read more
El Nido dulu dan sekarang

El Nido dulu dan sekarang

Sebagai delegasi ASEAN Tourism Forum 2016, kami diberi kesempatan untuk ikut post-tour ke salah satu dari 10 destinasi wisata di Filipina dengan hanya membayar USD 150 all in untuk paket 4 hari 3 malam. Lucunya, saya sudah pernah ke 10 destinasi tersebut saking doyannya traveling di Filipina. Maka saya pun memilih untuk ke El Nido karena grupnya kecil, hanya 15 orang khusus media – di destinasi lain grupnya 40-60 orang dan bercampur dengan para buyers dan sellers. Selain itu, itinerary-nya “gue banget”, hanya island hopping dan berenang. Yang jelas kalau paketnya dihitung, value El Nido paling mahal dibanding ke-9 destinasi lainnya.

Pertama kali saya ke El Nido pada 2004 bekpekingan bareng si Nina dan Jade. Kami menginap di losmen busuk di El Nido Town dan patungan nyewa kapal untuk island hopping bareng Christian asal Australia. Nggak nyangka 12 tahun kemudian saya kembali dengan gaya luxury bersama para jurnalis internasional!

Saya baru tahu bahwa sekarang sudah ada direct flight langsung dari Manila yang hanya sejam, jadi nggak usah terbang ke Puerto Princesa dan naik jeepney 6 jam lagi. Mendarat di El Nido Airport pun sudah tidak ada becak (tricycle) lagi yang berbagi runway dengan pesawat, sekarang berganti dengan jeepney. Bangunan bandara sekarang sudah bukan garasi lagi, tapi 2 rumah besar meski tetap terbuat dari kayu dan non-AC, sayangnya hammock sudah tidak ada karena berganti dengan bangku permanen.

Kami menginap di Lagen Island Resort yang terletak di ujung Pulau Lagen yang dipenuhi hutan lebat dan diapit tebing limestone, sekitar 45 menit naik kapal dari El Nido yang terletak di mainland Pulau Palawan bagian utara. Hotel ini sangat eco friendly. Begitu nyampe kami langsung di-briefing tentang pelestarian alam. Kami diberi brosur berisi aneka satwa yang dapat ditemui di sekitar El Nido. Setiap tamu wajib mengisi dan memberi tanda satwa apa yang ditemui, tanggal dan lokasinya, agar satwa tersebut tetap terpantau. Kami juga diberi kantong khusus untuk tempat sampah, baik sampah sendiri maupun sampah orang lain. Di kamar dikasih minum air putih cuman sebotol, sisanya harus refill sendiri untuk meminimalisasi sampah plastik. Karena letaknya yang nyempil, saya bertanya apakah ada sumur air tawar. Ternyata mereka menyuling air dari laut. Pembuangannya pun telah melalui proses waste management yang baik.

Almost sunset in Lagen Island

Almost sunset in Lagen Island

Setiap hari kalo nggak leyeh-leyeh di resort, kami island hopping ke sebagian pulau dari 45 pulau yang ada di Bacuit Bay dipandu oleh guide bernama Marlon. Kami kayaking di Small Lagoon dan Big Lagoon di labyrinth tebing-tebing limestone, snorkeling di Bayog Beach dan Miniloc Island bersama schooling ikan giant trevally, caving di Codognon Cave, hiking di Snake Island, serta makan siang dan berenang di Entalula Island dan Dibuluan Island. Kepulauan El Nido memang mirip dengan Raja Ampat dengan skala yang lebih kecil, maka tak heran ia disebut sebagai “the best beach and island destination in the Philippines”.

Entalula Island

Entalula Island

Apa perbedaannya kawasan itu sekarang dan 12 tahun yang lalu? Bisa dikatakan tidak ada. Semuanya tetap tampak sama. Pemandangannya tetap spektakuler, terumbu karangnya tetap sehat, ikannya tetap banyak, pantai-pantainya tetap bersih tanpa sampah. Yang berbeda adalah pantai favorit saya di Entalula Island. Dulu hanyalah pulau tak berpenghuni, sekarang sudah ada satu restoran – itu pun dibuat eco friendly jadi tidak mengganggu pemandangan dan kebersihan. Peraturan keselamatan transportasi laut Filipina pun tetap ditegakkan – setiap penumpang kapal, sebusuk apapun kapalnya, tetap wajib mengenakan life jacket. Ah, sangat salut!

Yang paling berbeda hanyalah El Nido Town. Meski pemandangan ke arah laut tetap kece, namun sekarang jauh lebih rame, sudah banyak mobil, toko, hotel , restoran, bar. Saya masih ingat dulu di sana hanyalah desa nelayan kecil, penginapan kebanyakan model losmen atau homestay yang menyatu dengan rumah pemilik, restoran cuman ada beberapa – itupun kami sering dipelototin pemuda desa karena kami disangka cewek Pinay asal Manila yang sombong karena hanya ngomong bahasa Inggris. Saking kecilnya, semua kenal semua orang, terutama sesama turis. Tiap malam karena tidak ada hiburan dan sinyal telepon, sesama turis saling jemput dan nongkrong di suatu tempat untuk berpesta.

Dari trip ini, ada cerita menarik. Rombongan jurnalis terdiri dari 3 orang Rusia, 3 orang Turki, 2 orang Polandia, 1 orang Portugal, 1 Belgia, 1 Tiongkok, saya sendirian orang Indonesia, dan 2 orang panitia Filipina dari travel agent Intas dan Tourism Promotions Board. Saking parnonya pemerintah Filipina, rombongan kami dikawal oleh 2 orang polisi! Terus terang rombongan ini adalah rombongan media yang paling aneh. Semuanya takut matahari, termasuk bule-bule. Parahnya, semua saling ngegeng sehingga jarang terjadi percakapan di antara kami kecuali basa-basi, mungkin karena bahasa Inggris mereka yang kacau. Padahal kami makan selalu semeja, tapi mereka memisahkan diri aja gitu.

Jadilah saya ngegeng dengan kakek-kakek Portugal berusia 70 tahun bernama Salvador. Di antara rombongan, dia jurnalis paling profesional – selalu merekam dengan camcorder, memotret, dan mencatat. Meski paling tua, si kakek sangat asik diajak ngobrol, pintar, berbahasa Inggris dan Spanyol lancar, doyan berjemur dan berenang kayak saya. Badannya masih sangat fit, ingatannya masih tajam. Keren aja gitu saat dia bercerita, “50 tahun yang lalu saya ikut perang di Angola”, atau “40 tahun yang lalu saya ke Beijing, orang masih naik sepeda”. Lucunya, memori jangka pendek malah terganggu. Bisa-bisanya lagi posting foto di Facebook, dia bertanya, “Sekarang ini kita lagi di negara apa?” Hehehe!

Malam terakhir saya dan kakek menonton video hasil buatannya di camcorder-nya yang juga berfungsi sebagai projector. Angle-nya menarik, kualitas bagus, bak film dokumenter perjalanan di TV. Saya pun bertanya, “Elo setua gini emang nggak capek ya traveling mulu, apalagi terbang jauh di economy class?” Si kakek menjawab, “If I don’t travel, I’d die.”

Read more