Travel

El Nido dulu dan sekarang

El Nido dulu dan sekarang

Sebagai delegasi ASEAN Tourism Forum 2016, kami diberi kesempatan untuk ikut post-tour ke salah satu dari 10 destinasi wisata di Filipina dengan hanya membayar USD 150 all in untuk paket 4 hari 3 malam. Lucunya, saya sudah pernah ke 10 destinasi tersebut saking doyannya traveling di Filipina. Maka saya pun memilih untuk ke El Nido karena grupnya kecil, hanya 15 orang khusus media – di destinasi lain grupnya 40-60 orang dan bercampur dengan para buyers dan sellers. Selain itu, itinerary-nya “gue banget”, hanya island hopping dan berenang. Yang jelas kalau paketnya dihitung, value El Nido paling mahal dibanding ke-9 destinasi lainnya.

Pertama kali saya ke El Nido pada 2004 bekpekingan bareng si Nina dan Jade. Kami menginap di losmen busuk di El Nido Town dan patungan nyewa kapal untuk island hopping bareng Christian asal Australia. Nggak nyangka 12 tahun kemudian saya kembali dengan gaya luxury bersama para jurnalis internasional!

Saya baru tahu bahwa sekarang sudah ada direct flight langsung dari Manila yang hanya sejam, jadi nggak usah terbang ke Puerto Princesa dan naik jeepney 6 jam lagi. Mendarat di El Nido Airport pun sudah tidak ada becak (tricycle) lagi yang berbagi runway dengan pesawat, sekarang berganti dengan jeepney. Bangunan bandara sekarang sudah bukan garasi lagi, tapi 2 rumah besar meski tetap terbuat dari kayu dan non-AC, sayangnya hammock sudah tidak ada karena berganti dengan bangku permanen.

Kami menginap di Lagen Island Resort yang terletak di ujung Pulau Lagen yang dipenuhi hutan lebat dan diapit tebing limestone, sekitar 45 menit naik kapal dari El Nido yang terletak di mainland Pulau Palawan bagian utara. Hotel ini sangat eco friendly. Begitu nyampe kami langsung di-briefing tentang pelestarian alam. Kami diberi brosur berisi aneka satwa yang dapat ditemui di sekitar El Nido. Setiap tamu wajib mengisi dan memberi tanda satwa apa yang ditemui, tanggal dan lokasinya, agar satwa tersebut tetap terpantau. Kami juga diberi kantong khusus untuk tempat sampah, baik sampah sendiri maupun sampah orang lain. Di kamar dikasih minum air putih cuman sebotol, sisanya harus refill sendiri untuk meminimalisasi sampah plastik. Karena letaknya yang nyempil, saya bertanya apakah ada sumur air tawar. Ternyata mereka menyuling air dari laut. Pembuangannya pun telah melalui proses waste management yang baik.

Almost sunset in Lagen Island

Almost sunset in Lagen Island

Setiap hari kalo nggak leyeh-leyeh di resort, kami island hopping ke sebagian pulau dari 45 pulau yang ada di Bacuit Bay dipandu oleh guide bernama Marlon. Kami kayaking di Small Lagoon dan Big Lagoon di labyrinth tebing-tebing limestone, snorkeling di Bayog Beach dan Miniloc Island bersama schooling ikan giant trevally, caving di Codognon Cave, hiking di Snake Island, serta makan siang dan berenang di Entalula Island dan Dibuluan Island. Kepulauan El Nido memang mirip dengan Raja Ampat dengan skala yang lebih kecil, maka tak heran ia disebut sebagai “the best beach and island destination in the Philippines”.

Entalula Island

Entalula Island

Apa perbedaannya kawasan itu sekarang dan 12 tahun yang lalu? Bisa dikatakan tidak ada. Semuanya tetap tampak sama. Pemandangannya tetap spektakuler, terumbu karangnya tetap sehat, ikannya tetap banyak, pantai-pantainya tetap bersih tanpa sampah. Yang berbeda adalah pantai favorit saya di Entalula Island. Dulu hanyalah pulau tak berpenghuni, sekarang sudah ada satu restoran – itu pun dibuat eco friendly jadi tidak mengganggu pemandangan dan kebersihan. Peraturan keselamatan transportasi laut Filipina pun tetap ditegakkan – setiap penumpang kapal, sebusuk apapun kapalnya, tetap wajib mengenakan life jacket. Ah, sangat salut!

Yang paling berbeda hanyalah El Nido Town. Meski pemandangan ke arah laut tetap kece, namun sekarang jauh lebih rame, sudah banyak mobil, toko, hotel , restoran, bar. Saya masih ingat dulu di sana hanyalah desa nelayan kecil, penginapan kebanyakan model losmen atau homestay yang menyatu dengan rumah pemilik, restoran cuman ada beberapa – itupun kami sering dipelototin pemuda desa karena kami disangka cewek Pinay asal Manila yang sombong karena hanya ngomong bahasa Inggris. Saking kecilnya, semua kenal semua orang, terutama sesama turis. Tiap malam karena tidak ada hiburan dan sinyal telepon, sesama turis saling jemput dan nongkrong di suatu tempat untuk berpesta.

Dari trip ini, ada cerita menarik. Rombongan jurnalis terdiri dari 3 orang Rusia, 3 orang Turki, 2 orang Polandia, 1 orang Portugal, 1 Belgia, 1 Tiongkok, saya sendirian orang Indonesia, dan 2 orang panitia Filipina dari travel agent Intas dan Tourism Promotions Board. Saking parnonya pemerintah Filipina, rombongan kami dikawal oleh 2 orang polisi! Terus terang rombongan ini adalah rombongan media yang paling aneh. Semuanya takut matahari, termasuk bule-bule. Parahnya, semua saling ngegeng sehingga jarang terjadi percakapan di antara kami kecuali basa-basi, mungkin karena bahasa Inggris mereka yang kacau. Padahal kami makan selalu semeja, tapi mereka memisahkan diri aja gitu.

Jadilah saya ngegeng dengan kakek-kakek Portugal berusia 70 tahun bernama Salvador. Di antara rombongan, dia jurnalis paling profesional – selalu merekam dengan camcorder, memotret, dan mencatat. Meski paling tua, si kakek sangat asik diajak ngobrol, pintar, berbahasa Inggris dan Spanyol lancar, doyan berjemur dan berenang kayak saya. Badannya masih sangat fit, ingatannya masih tajam. Keren aja gitu saat dia bercerita, “50 tahun yang lalu saya ikut perang di Angola”, atau “40 tahun yang lalu saya ke Beijing, orang masih naik sepeda”. Lucunya, memori jangka pendek malah terganggu. Bisa-bisanya lagi posting foto di Facebook, dia bertanya, “Sekarang ini kita lagi di negara apa?” Hehehe!

Malam terakhir saya dan kakek menonton video hasil buatannya di camcorder-nya yang juga berfungsi sebagai projector. Angle-nya menarik, kualitas bagus, bak film dokumenter perjalanan di TV. Saya pun bertanya, “Elo setua gini emang nggak capek ya traveling mulu, apalagi terbang jauh di economy class?” Si kakek menjawab, “If I don’t travel, I’d die.”

Read more
Mengintip program pariwisata negara tetangga

Mengintip program pariwisata negara tetangga

Baru pertama kali saya ikut ASEAN Tourism Forum (ATF) yang pada tahun 2016 ini diadakan di SMX Conference Center di Manila. Acara ini utamanya adalah trading B2B (business to business) antar buyers dan sellers pelaku industri pariwisata internasional, jadi bukan ajang promo tour dan tiket murah yang diantre orang. Karena saya diundang sebagai media, maka setiap hari saya dan sekitar 100an jurnalis dunia berkumpul di sebuah ruangan untuk mendengarkan konferensi pers dari 10 anggota ASEAN yang mempresentasikan update pariwisata negara masing-masing. Herannya, hanya saya satu-satunya media dari Indonesia.

Berikut laporannya yang saya urutkan berdasarkan jumlah turis asing yang masuk ke negara yang bersangkutan;

Thailand

Jumlah turis asing yang masuk ke Thailand adalah yang terbanyak dibandingkan seluruh negara ASEAN, yaitu sebanyak 29,8 juta orang selama tahun 2015. Pariwisata menyumbang pemasukan negara terbesar dengan USD 42 milyar pada 2015 dan mentargetkan USD 66 milyar pada 2016. Amazing Thailand juga meluncurkan logo pariwisata dan TVC terbaru dengan tagline “Where life rules everything”.

Fokus pariwisata Thailand 2016 adalah luxury tourist, antara lain dengan cara meningkatkan pariwisata di bidang cruise ship (mencapai 10.000 orang turis asing/tahun), golf, medical tourism, health & wellness. Juga mengembangkan community based tourism di daerah terpencil dan female travelers. Selain itu, Thailand ingin meningkatkan turis domestik dengan memberikan insentif khusus.

Malaysia

Mereka bikin Malaysia Tourism Transformation Plan di mana tahun 2020 ditargetkan 36 juta turis asing masuk dengan pemasukan negara sebesar 168 milyar Ringgit. Malaysia menawarkan pariwisata yang value-for-money dan well-developed infrastructure. Salah satu presentasinya adalah tentang pembangunan high-speed railway antara Kuala Lumpur dan Singapura. Fokus promosinya menggunakan media digital, maka tak heran situs pariwisatanya memenangkan Best Tourism Website di ajang penghargaan dunia.

Program pariwisatanya antara lain adalah mengadakan festival seni dan kuliner, mulai dari mask art, street food, halal food, sampai durian festival. Meningkatkan sport tourism seperti F1, Ironman, Malaysia Open. Yang lebih hebatnya lagi, Malaysia sudah mempunyai 17 theme park termasuk yang akan segera buka, yaitu Dreamworks, Nickelodeon, dan 20th Century Fox! Progam lain yang menarik adalah “Malaysia My Second Home” di mana para pensiunan dari negara asing manapun dapat tinggal di Malaysia dengan syarat memiliki aset minimal 350.000 Ringgit.

Singapura

Jumlah turis asing ke Singapura sebanyak 15 juta dengan pemasukan SGD 24 milyar. Turis asing terbanyak yang masuk terbanyak berasal dari Indonesia dengan 2,4 juta orang/tahun (sementara turis Singapura yang masuk ke Indonesia 1,5 juta orang/tahun). Hanya Singapura yang diwakili oleh satu orang saja (negara lain serombongan), namun program pariwisatanya menurut saya paling hebat.

Program promosi pariwisata mereka dibuat segmented berdasarkan target market negaranya, misalnya untuk market Filipina mereka menampilkan video musik band terkenal Filipina yang syuting di Singapura, dan untuk market Tiongkok mereka membuat apps digital dalam bahasa lokal. Mereka juga bikin pameran contemporary art di Beijing, London, New York untuk memperkenalkan negaranya. Tourism board Singapura menjalankan kerja sama promosi dengan bandara Changi sebesar SGD 35 milyar dan maskapai penerbangannya sebesar SGD 20 milyar. Mereka berkerja sama dengan TripAdvisor dengan membuat microsite khusus “Live like a local”. Hebatnya lagi, mereka memperbaiki museum-museum dan memamerkan koleksi baru, juga membuat event kuliner/musik/olah raga yang berskala internasional seperti MasterChef Asia dan Asia’s Got Talent.

Indonesia

Dari 10 negara, cuma Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pariwisatanya langsung. Baru kali ini juga saya lihat press release yang ada foto muka, yaitu mukanya Pak Menteri! Tapi Pak Menteri tidak mempresentasikan slide-nya namun langsung ke tanya-jawab yang diserbu oleh para jurnalis. Pertanyaannya tentang perkembangan bom Sarinah dan kabut asap.

Pada slide tertulis jumlah turis asing pada 2015 adalah 10 juta, dan target 2019 adalah 20 juta orang, dengan top 3 market dari Singapura, Malaysia dan Australia. Program pariwisata Indonesia adalah pembebasan visa bagi 90 negara di dunia, meningkatkan budget promosi sebesar 300% dan mengembangkan 10 destinasi prioritas. Hmm, “ngambang” banget ya?

Vietnam

Jumlah turis asing yang masuk ke Vietnam sebanyak 7,9 juta/tahun dengan top market-nya berasal dari Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang. Vietnam mencanangkan Visit Vietnam 2016 dengan fokus destinasinya di Phu Quoc Island – Mekong Delta. Lalu presentasi diganti dengan iklan maskapai penerbangannya yang baru saja privatisasi pada 2015, iklan tentang kota Danang, dan iklan tentang travel mart yang akan diadakan di Ho Chi Minh City.

Filipina

Filipina kedatangan turis asing sebanyak 5 juta/tahun yang kebanyakan berasal dari Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang. Rupanya orang Korea banyak yang datang karena ingin belajar bahasa Inggris lebih murah.

Program mereka lebih banyak berbenah diri, antara lain membuat sistem akreditasi baru untuk akomodasi, meningkatkan accessibility melalui jalur udara dan laut, pelatihan pariwisata, serta mengembangkan niche market yaitu scuba diving dan medical tourism.

Kamboja, Myanmar, Laos

Saya jadikan satu karena ketiga negara ini presentasinya sama-sama membosankan dengan bahasa Inggris yang sulit dimengerti. Rata-rata turis asing yang masuk ke masing-masing negara sebanyak 3 – 4 jutaan orang/tahun. Isi presentasi malah foto-foto destinasi yang generik. Fakta menarik, jumlah turis Korea Selatan meningkat 91% ke Laos karena ada artis Korea yang syuting di sana.

Brunei

Sebagai negara terkecil di ASEAN, Brunei tak banyak memberikan update tentang pariwisatanya. Setengah dari jurnalis pun keluar dari ruangan karena menganggap tidak penting, bahkan ada yang karena sentimen terhadap hukum syariah Brunei. Yang bawain presentasi juga songong sih, bisa-bisanya dia bilang bahwa dia nggak suka Filipina. Anyway, isi presentasinya tentang pembangunan jembatan dengan menayangkan berita TV tentang anak Sultan meletakkan batu pertama. Salah satu program yang diajukan adalah Ramadhan Festive di mana semua orang dapat ke istana untuk berjabat tangan dengan Sultan!

ASEAN for ASEAN

Pada ATF 2016 ini 10 negara anggota ASEAN sepakat untuk saling mempromosikan kunjungan pariwisata di dalam ASEAN dan meningkatkan awareness terhadap brand pariwisata ASEAN. Masing-masing negara diberi tema promosi, seperti Indonesia untuk ASEAN spa and wellness, Singapura untuk cruise tourism, dan Malaysia untuk adventure travel.

Anehnya, dari perwakilan negara ASEAN di panggung hanya Thailand, Malaysia, dan Singapura yang ngomong. Yang lain meneng bae, termasuk Indonesia. Inisiatif promosi ASEAN pun kebanyakan datang dari Malaysia dengan program GoASEAN dan Singapura dengan program trade show khusus cruise tourism.

Nah, menurut Anda, program pariwisata negara mana yang keren?

Catatan: Menurut saya sih hitungan jumlah turis asing yang masuk itu masih diragukan. Ada yang menghitung jumlah penumpang pesawat dari luar negeri, ada yang menghitung dari jumlah cap masuk WNA di imigrasi, ada yang berdasarkan jumlah WNA yang menginap di hotel minimal semalam, ada yang membedakan antara WNA yang datang sebagai turis atau bisnis.

Read more
ASEAN Tourism Forum 2016

ASEAN Tourism Forum 2016

Sebuah e-mail mengundang saya untuk hadir dalam acara ASEAN Tourism Forum (ATF) di Manila, Filipina, yang akan diadakan pada 18-25 Januari 2016. Saya langsung berbunga-bunga membacanya, karena; Pertama, saya akan “pulang kampung” ke Filipina. Kalau belum tahu, Filipina adalah negara favorit saya setelah Indonesia. Berkali-kali saya traveling ke sana, bahkan pernah tinggal di Manila untuk sekolah S2. Kedua, sebagai travel writer, saya sangat tertarik dengan industri pariwisata dunia. Dengan hadir di acara ini, saya akan tahu peta kekuatan pariwisata di ASEAN, apalagi kita sudah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Semoga saya bisa menyumbang sesuatu bagi dunia pariwisata Indonesia dari hasil liputan saya. Ketiga, dengan undangan ini, saya bangga saya diakui secara regional meski pemerintah Indonesia aja nggak pernah ngundang saya di ATF :)

logo atfATF adalah upaya regional untuk mempromosikan wilayah ASEAN sebagai tujuan wisata. Acara tahunan ini melibatkan semua sektor industri pariwisata dari 10 negara anggota ASEAN, yaitu: Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Setiap tahun, setiap negara anggota bergantian menjadi tuan rumah. ATF 2016 menandai ulang tahunnya yang ke-35 sejak pertama kali diadakan di Malaysia pada 1981.

ATF bertujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal yang menarik, meningkatkan kesadaran ASEAN sebagai tujuan wisata yang sangat kompetitif di Asia Pasifik, menarik lebih banyak wisatawan ke negara anggota ASEAN, mempromosikan wisata ASEAN, dan memperkuat kerjasama antarsektor industri pariwisata ASEAN. Sebagai konvensi tahunan industri pariwisata ASEAN, ATF mempromosikan pertukaran ide, mengulas perkembangan industri, merumuskan rekomendasi bersama untuk lebih mempercepat pertumbuhan pariwisata ASEAN.

Selain itu, ATF juga menyediakan tempat untuk menjual dan membeli produk pariwisata regional dan individu negara anggota ASEAN melalui TRAVEX (Travel Exhibition) selama 3 hari. Para penyedia produk pariwisata ASEAN dan para pembeli internasional dapat langsung melakukan bisnis pada acara tersebut. Setiap tahun ATF TRAVEX dihadiri oleh 1.600 delegasi yang terdiri lebih dari 450 international buyers and 150 media internasional.

ATF kali ini bertema One Community for Sustainability. Keindahan Asia Tenggara terletak pada orangnya yang hangat dan ramah, budaya, bahasa, agama, arsitektur, kuliner, dan geografi. ASEAN adalah destinasi bagi para pencari petualangan, backpackers, pengusaha, keluarga, penggemar fotografi, pecinta laut dan gunung, dan masih banyak lagi. Asia Tenggara akan meningkatkan kepuasan wisata, memastikan pengalaman yang baik bagi para wisatawan, meningkatkan kesadaran dan mempromosikan praktik pariwisata berkelanjutan.

Wah, penting banget kan acara ini? Nah, bagi Anda pelaku bisnis atau pemerhati pariwisata dan ingin menjadi bagian dari ATF 2016, silakan ke http://www.atfphilippines.com

Liputannya menyusul ya? *siap-siap packing*

Read more
Liburan Nebeng di Maluku Utara

Liburan Nebeng di Maluku Utara

Bermula dari undangan Bank Indonesia Ternate untuk menjadi pembicara North Maluku Tourism Summit 2015, saya langsung setuju. Alasannya karena saya belum pernah menjelajah propinsi Maluku Utara yang termasuk baru ini. Apalagi salah satu penawarannya adalah “akan diajak jalan-jalan keliling Ternate yang ditemani guide berstandar internasional”.

Salah satu fasilitas yang diberikan adalah hotel 2 malam 2 kamar untuk saya dan manager. Rupanya saya ini disamain sama artis. Maklum saya bakal sepanggung dengan artis pembicara lain dari Jakarta yaitu Putri Indonesia Zivanna Letisha, Miss Scuba Yovita Liwanuru, dan MC-nya Farhan. Jadilah saya minta izin untuk mengganti menjadi 1 kamar 4 malam sehingga bisa extend 2 malam gratis. Yah, daripada nyape-nyapein bodi cuma sebentar, mending sekalian explore Ternate lebih banyak. Dari rencana awal 1-2 Desember, saya pun extend sampai 4 Desember. Mau ngapain nantinya, liat aja nanti.

Ternate City

Ternate City

Setelah semalaman di pesawat, kami mendarat di Ternate pagi hari dan langsung diajak jalan-jalan keliling Ternate pake mobil berplat merah. Guide kami @ilhamarch tahu banget spot yang oke. Mulai dari bukit di atas Danau Ngade yang menghadap Pulau Tidore dan Maitara, Pantai Fitu yang merupakan lokasi pada gambar uang kertas Rp 1.000, Benteng Kastela yang pada reliefnya ada pasukan Portugis ber-“anu” bowling, Batu Angus yang berisi bebatuan aneh berasal dari muntahan lahar Gunung Gamalama, Danau Tolire yang spektakuler bagusnya, sampai diakhiri dengan snorkeling di Pantai Sulamadaha. Meski kulit gosong, hati dan mata senang!

Keesokan harinya seharian kami mengisi acara seminar. Saat sesi pertama saya sepanggung dengan Kang Idris, pemilik dive operator Nasijaha. Sekilas kami pun berkenalan, eh dia mengundang saya diving keesokan paginya. Pucuk dicinta ulam tiba! Keberuntungan lain datang saat seminar itu juga, saya berkenalan dengan seorang peserta yang pembaca buku-buku The Naked Traveler garis keras bernama Itje. Ia seorang karyawati sebuah bank di Ternate yang menawarkan diri untuk mengajak jalan-jalan pake mobilnya.

Pagi-pagi kami naik kapal ke Pulau Hiri untuk diving dua kali. Meski tidak ada pelagic (ikan besar), namun terumbu karangnya cantik, visibility oke, arus pun nyaris tidak ada. Terakhir kami makan siang di Pantai Jikomalamo yang kece banget sampai semua orang sibuk selfie. Lalu Kang Idris melontarkan ide untuk ikut dia trip diving ke Jailolo pada 4 Desember bersama Pak Bupati. Waah, racun abis! Tanpa ba-bi-bu, saya pun langsung ke kantor penerbangan untuk ganti tanggal pulang ke 6 Desember.

Jikomalamo Beach

Hari ketiga, naik mobik Itje kami mengunjungi Istana Kesultanan Ternate yang berkesan mistis itu, ke Benteng Tolukko, dan Benteng Kalamata. Lalu dengan naik speed boat reguler, kami menyebrang ke Pulau Tidore. Di sana kami dijemput mobil SUV mewah milik pejabat setempat kliennya Itje. Kami pun ke “negeri di atas awan” yaitu desa Gura Bunga yang terletak di atas gunung untuk menemui Sohi atau pemimpin adat yang ditahbiskan secara gaib. Tak lupa kami ke Istana Kesultanan Tidore yang dulu kekuasaannya sampai ke Papua, serta naik ratusan tangga ke Benteng Tahula.

Hari keempat jam 7 pagi saya sudah sampai di pelabuhan. Sungguh saya nggak tau akan naik apa, sama siapa, gimana alat diving-nya, dan di mana menginapnya. Rupanya trip ke Jailolo ini bersama KPL (Komunitas Pecinta Laut) Sulawesi Utara dan Maluku Utara yang isinya belasan orang… om-om semua! Peralatan sudah disiapkan, saya bahkan dikasih dive guide eksklusif bernama Reza yang niat bawa tongsis 3 meter. Kami pun diving di Pulau Pastufiri, lalu di Pulau Babua bersama Bupati Jailolo, Pak Namto. Alam bawah lautnya juga cantik!

Babua Island

Babua Island

Sore hari sampai di Jailolo, Kang Idris dan kru balik ke Ternate karena ada kerjaan. Lha, saya ditinggal sendiri sama om-om yang baru modal kenal senyam-senyum doang! Tahu-tahu, saya ditawarkan menginap di Villa Gaba oleh Ketua KPL Malut, Pak Syahril. Sore hari mobilnya siap sedia mengantar jalan-jalan di Jailolo, saya pun menikmati sunset Jailolo yang indah banget. Malamnya ada acara sarasehan KPL dengan para pemuda Karan Taruna (iya, emang begitu tulisannya) – saya “terjebak” untuk ikut jadi pembicara. Ya nggak apa-apa lah, that’s the only thing I can contribute karena saya dilarang bayar.

Hari kelima, kami semua naik kapal ke Desa Guaeria di Pulau Halmahera untuk memberikan penghargaan kepada pemuda desa atas prestasi mereka menjaga kebersihan dan memberdayakan pariwisata. Desa di pantai ini memang bersih, tidak ada sampah, dan hebatnya, tanpa asap rokok. Lagi-lagi saya didaulat untuk jadi pembicara. Kembali ke Ternate, baru mau booking hotel eh malah diajak menginap di rumah Itje. Malam itu kami nongkrong di pinggir pantai dan farewel party makan martabak di rumahnya. Besoknya pun pake diantar ke bandara gratis!

Wah, kebangetan beruntungnya saya! Judulnya ini liburan nggak sengaja di Maluku Utara, atau lebih tepatnya liburan nebeng sana-sini. Dari seharusnya pulang tanggal 2 Desember, pindah ke 4 Desember, dan akhirnya jadi 6 Desember 2015. Modal liburan saya kali ini hanya sekian ratus ribu, itu pun sebagian besar karena bayar penalti tiket pesawat. Meski tidak ada rencana dan tidak ada ekspektasi, tapi saya dapat pengalaman yang luar biasa dan dipertemukan dengan orang-orang yang sangat baik hati. Terima kasih!

Read more
Habiskan makananmu

Habiskan makananmu

Saya sangat menikmati sarapan di hotel, terutama di hotel-hotel di Indonesia – karena makananya makanan Indonesia yang tidak ada yang ngalahin enaknya! Tapi… saya selalu dibuat sebal dengan tingkah para tamu.

Pagi itu, saya memperhatikan seorang lelaki setengah baya yang duduk di meja sebelah. Ia datang dengan piring berisi nasi goreng menggunung dan lauk pauk yang menumpuk sampai menutupi nasinya. Belum juga disentuh makanan tersebut, dia sudah beranjak lagi ke egg corner untuk memesan omelette. Sambil menunggu telur matang, dia bergeser ke meja sebelahnya dan mengambil dua lapis roti yang diolesi selai stroberi. Saya yang doyan makan banyak pun salut dengan porsi makan si bapak. Rupanya dia duduk bersama keluarganya yang semuanya mengambil makanan berlimpah sampai mejanya penuh. Dalam lima menit mereka berhenti makan, lalu mengobrol. Saya pun terhenyak. Masih banyak sisa makanan di piring dan di meja mereka! Saya pikir makannya akan diteruskan, nggak tahunya nasi dan lauk pauk hanya diaduk-aduk dan roti lapis yang bekas dua gigitan ditumpuk di atas nasi.

Ah, pemandangan yang “jamak” di hotel di Indonesia saat sarapan ala prasmanan di restorannya. Entah ini budaya dari mana asalnya, tapi saya sering sekali melihat pemandangan seperti ini. Orang mengambil makanan berlimpah, tapi tidak dihabiskan. Hal yang sama terjadi juga pada saat pesta resepsi pernikahan. Masih mending kalau sisa makanannya hanya sedikit, ini seringnya lebih dari setengah. Apakah mereka tidak bisa mengukur kapasitas makan diri sendiri? Apakah ini terjadi karena sistemnya makan prasmanan saja?

Sebagaian yang makanannya tidak dihabiskan beralasan karena “tidak enak”. Duh, kalau begitu jangan diambil sekaligus banyak dong! Meskipun gratis dan prasmanan, bukankah sebaiknya makanan diambil sedikit-sedikit? Alasan lain, “Nanti takut keburu habis diambil orang lain”! Loh, emangnya kalian segitu kekurangan makanan? Yang lebih aneh lagi alasan, “Daripada diambil sama catering-nya”. Loh?

Anyway, ada tiga pengalaman pribadi yang membuat saya sangat sebal dengan orang yang mengambil banyak makanan tapi tidak dimakan. Pertama, saya selalu ingat almarhum ayah saya yang selalu mengingatkan bahwa makanan itu harus dihabiskan. Alasannya, “Kamu sudah diberi makan aja tidak dihabiskan. Bayangkan orang-orang di Ethiopia yang kelaparan tidak bisa makan!” Sahih.

Kedua, saya pernah kerja di dua restoran siap saji selama lima tahun. Saya tahu banget bagaimana susahnya mengelola restoran, terutama mempersiapkan makanan. Semua staf harus menjalani pelatihan berbulan-bulan untuk membuat makanan dengan rasa dan tampilan yang konsisten. Staf bagian dapur berpeluh seharian untuk memasak, bahkan tak jarang tangan mereka terluka kena letupan minyak panas. Bayangkan bila perjuangan mereka jadi sia-sia kalau makanan dibuang begitu saja!

Ketiga, saya juga pernah bekerja di perkebunan sayur-mayur. Saya baru sadar betapa sulitnya menumbuhkan sayuran! Mulai dari membeli bibit, menanam, mengairi, memberi pupuk, sampai beberapa bulan kemudian dipetik. Saya ingat klien saya, salah satu jaringan restoran terbesar di Indonesia, setiap hari memesan sayur caysim sebanyak 1,5 ton. Terbayang seberapa besar lahan yang diperlukan untuk menanam caysim, berapa banyak sumber daya dikerahkan. Sedihnya, caysim adalah sayuran yang paling sering tidak dimakan, padahal telah susah payah ditumbuhkan.

Kembali ke pemandangan awal, saya memperhatikan lagi meja di depan saya. Sepasang orang asing yang diam-diam memasukkan roti yang dibungkus tissue ke dalam tasnya. Yah, paling tidak makanan di restoran ini dibutuhkan dan akan dihabiskan – daripada diambil, diaduk-aduk dan tidak dimakan.

Saya rasa, hidup tumbuhan dan hewan akan lebih berarti di dunia ini jika mereka “mati” tidak sia-sia, namun bermanfaat untuk kebaikan manusia. Jadi, tolong habiskan makananmu, minimal di piringmu sendiri ya?

Read more