Travel

One random night in Surfers Paradise

One random night in Surfers Paradise

Suatu malam pada Juni 2014, sampai lah saya di Surfers Paradise, Australia. Saya teringat punya teman yang tinggal di situ, yaitu Christian dan Larissa – sepasang Aussie yang pernah traveling bareng di Filipina 10 tahun yang lalu. Thanks to Facebook, saya bisa terhubung lagi dengannya. Akhirnya kami bertemu. Christian mengajak saya “getting pissed”, istilah Aussie untuk minum-minum sampe lodoh. Sayangnya Larissa, yang kini telah menjadi istrinya, tidak bisa ikut.

Menambah ke-random-an malam itu, saya sedang traveling ke Australia bareng Daniel Mananta, host Indonesian Idol yang ngetop itu. Gile, jalan bareng artis, bo! Eh malam itu Daniel minta ikutan dugem bareng. Ya udah, saya bilang bahwa Christian ini orangnya gokil dan pasti ngaco. Saya sendiri nggak tau mau diajak ke mana. Daniel malah setuju.

Christian beli alkohol "drive-thru" :)

Christian beli alkohol “drive-thru” :)

Christian mengajak kami ke sebuah pesta temannya teman dia. Nah, mulai nih ngaconya. Jadi, Christian punya teman namanya Jack, si Jack ini punya teman namanya Fernanda. Nah, si Fernanda ini adalah cewek Chile yang ngadain farewell party di apartemennya. Lah, masa yang diundang si Jack, yang dateng segerombolan orang tak dikenal? Kata Christian, “No problem! The more the merrier! Party di Australia itu ya begitu, kita datang ke rumah orang sambil bawa minum sendiri.”

Kami pun mampir ke supermarket untuk membeli bir masing-masing serenteng. Ternyata pesta diadakan di kolam renang apartemen Fernanda. Isinya full sama orang Amerika Selatan. Yep, all the Latinos! Saya tentu semangat karena bisa mempraktekkan bahasa Spanyol yang sudah lama nggak dipakai. Kenalan sana-sini, ngobral-ngobrol, kakak-kikik, jadilah saya berbaur dengan mereka yang kira-kira berjumlah 30 orang. Tentu saya yang paling tua! Rata-rata mereka berusia awal 20an dan ke Australia dengan visa working holiday.

Si Daniel pun asyik ngobrol sana-sini, sampai ketika ada cowok Asia yang datang dan menjerit, “Wow! An Indonesian celebrity is in the house!” dan semua orang menoleh ke Daniel. Rupanya dia anak Indonesia yang tinggal di sana. Saya ngakak! Belakangan kami baru tau bahwa pesta ini diadakan Fernanda karena dia akan pergi berlibur 2 minggu di Australia. Duile, ngapain bikin pesta segala ya?

Kebanyakan minum, saya pun ke kamar mandi yang berada di basement. Baru aja mengancingkan celana… tiba-tiba lampu mati! Di kegelapan saya merambat keluar. Eh, saya disambut oleh dua orang polisi berseragam! Nah lho, ngapain polisi ada di sini? “Are you the last person in the toilet?” tanyanya.

Yes. But… where are my friends?” Saya melihat area kolam renang yang sepi-pi-pi! Apa-apaan ini?

You are not allowed to have party after 9 PM in this apartement, so your friends may be outside!”

Astaga, norak amat pesta dibubarin polisi! Kayak pesta anak ABG aja. Ini baru jam 9 malam dan saya lagi tinggi-tingginya! Saya dihalau keluar oleh polisi. Ternyata semua orang sudah di halaman parkir depan lobi. Teman-teman saya tertawa melihat kepanikan saya. Minum tanggung gini bikin semua orang pengen nerusin pesta. Diputuskan lah untuk meneruskan party di sebuah club. Saya dan Christian berjalan kaki duluan. Jack entah ke mana sama Fernanda. Daniel pulang duluan.

Sampai lah kami ke sebuah bar dan memesan bir lagi. Tunggu punya tunggu, sampai sejam, tak kelihatan sebatang hidung pun orang-orang yang di pesta tadi! Jack tidak mengangkat telepon Christian pula. Lama-lama baru sadar bahwa club itu ada di atas bar! Kami pun naik ke atas. Kabar gembiranya, malam itu ada promo free unlimited champagne for ladies dan birnya juga cuma AUD 2.50/botol. Horeee! Di dalam kami pun bertemu dengan geng Fernanda, termasuk Jack yang kelihatan lagi sibuk menggebet.

Lagi-lagi saya kebelet pipis. Kata Christian, “Tuh ada di ujung!” Saya pun mengikuti arahnya. Buka pintu club, belok kiri, buka pintu toilet. Widih, toiletnya bersih amat. Sepi pula nggak ada orang. Tumben toilet club keren begini. Begitu kelar, saya buka pintu toilet dan buka pintu ke club. Ehh… kok kekunci? Nah lho! Saya coba lagi dorong yang keras. Masih bergeming. Saya ketok-ketok, tidak ada jawaban. Pintu kayu ini luar biasa tebalnya, sound proof, sampai tidak terdengar keramaian di club. Lha, gimana orang-orang mau ke toilet kalau gini caranya? Saya menunggu 5 menit, kali-kali aja ada orang yang mau ke toilet dan buka pintu.

5 menit lagi menunggu, tidak ada orang yang buka pintu. Saya pun menelepon Christian. Tidak diangkat. Telepon lagi. Tidak ada jawaban. Dan seterusnya sampai berkali-kali. Saya mengirimkan SMS juga tidak dijawab.

Oke, plan B. Saya melihat ke sekeliling. Rupanya ini adalah kantor yang sudah tutup dan gelap. Saya mencari pintu Emergency Exit di pojokan. Klik. Terbuka! Tapi… kenapa tangganya banyak banget ya? Lebih dari dua lantai dan ada pintu-pintu lain! Kalau saya keluar tapi pintu satunya tidak terbuka, alamat gawat karena tidak bisa balik lagiii.. Hiyy!

Panik, saya balik lagi ke pintu club. Saya gedor-gedor sekuat tenaga sambil teriak, “Help! Help!! Open the door, pleaseee!” Entah berapa kali saya gedor sampai saya kecapekan sendiri dan ngejoprak di lantai.

Tiba-tiba… KREK! Pintu terbuka! Seorang bouncer menongolkan kepalanya. Saya langsung nyamber, “Thank you! You saved my life!” dan wussssh… saya lari ke dalam club. Daaan… si Christian dengan santainya lagi joget-joget!

“Elu gila telepon nggak diangkat! Gue kekunci lagi di toilet tauk!” kata saya sambil misuh-misuh menceritakan kejadian tadi.

Christian pun ngakak kejengkang. “Pantes dari tadi gue tungguin kok lama banget.” Ia lalu mengajak saya ke arah toilet. “Ini lihat, sebelum pintu exit itu, ada toilet di samping kirinya. Mata lo aja nggak bener! Mabuk ya?” ledeknya terkekeh. “Buruan minum champagne lagi yang banyak, mumpung gratis!”

Kami pun berpesta sampai pagi. Sungguh malam yang random!

Read more
#Escapers15, bertanding melawan 8 negara

#Escapers15, bertanding melawan 8 negara

Dapat undangan jalan-jalan ke Singapura dan Australia sudah biasa, tapi pada 28 Februari – 4 Maret 2015 ini dalam rangka tanding antar tim dari negara-negara Asia Pasifik dengan hashtag #Escapers15. Awalnya males banget ikutan, secara udah kena “faktor U”. Ini masa kudu lari-lari segala ala Amazing Race? Panitianya dari #ThisIsQueensland, #AccorHotels, dan #FlyScoot meyakinkan bahwa tantangannya nggak ekstrim. Senegara diwakilkan oleh 2 orang dan saya akan dipasangkan dengan @amrazing. Selain udah kenal Alex, saya okein karena pengen kenal juga para travel blogger dari negara lain.

H-1

Malam hari kami semua berkumpul di Hotel Ibis Bencoleen untuk acara perkenalan. Pesertanya ada 9 tim masing-masing 2 orang travel blogger/jurnalis dari 9 negara, yaitu: Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, India, China, dan Australia. Rata-rata masih anak muda dan sehat, kecuali saya dan tim ibu-ibu Australia. Tim Jepang dan Australia pernah ikut #EscapersHK tahun sebelumnya. Lucunya, sebagian peserta bahasa Inggrisnya belepotan, bahkan ada yang sama sekali nggak bisa bahasa Inggris.

The #Escapers15 from 9 countries (pic by TEQ)

The #Escapers15 from 9 countries (pic by TEQ)

Malam itu kami diberi kertas challenge berupa clue tempat yang harus kami datangi besok. Di kamar, jawaban dibantu follower, terutama follower Alex yang hampir 500K. Masing-masing peserta dipinjami handy phone dari hotel yang bisa unlimited 3G dan telepon.

Hari ke-1, Singapura

Seharian saya dan Alex keliling Singapura melakukan challenge di 5 lokasi dari jam 09.00-17.00 dengan hanya naik transportasi umum. Semua peserta pake sepatu lari, sementara saya dan Alex pake sendal jepit aja. Tempat pertama ternyata di puncak Mount Faber yang bikin gempor naik tangga! Udah mo mati, eh peserta lain ada yang santai naik cable car! 4 tempat lain susah payah nyarinya karena ternyata kami berdua sama-sama tukang nyasar. Akhirnya dari lokasi ke-5 kami pulang naik taksi demi mengejar waktu.. yang akhirnya karena ngaku, point kami dikurangi.

Dari situ saya sadar betapa pemalasnya saya motret dan main socmed. Alex sambil lari pun sempet motret dan ngetwit! Lebih gila lagi peserta negara lain. Mereka masing-masing bawa smartphone, kamera SLR dengan beberapa jenis lensa, kamera mirrorless, tripod/tongsis, bahkan ada yang bawa kamera 360° – ditambah lagi kecanggihan mereka ngedit/posting foto/video dalam waktu cepat! Kreatifitas mereka pun patut diacungin jempol. Contohnya aja nih, kita harus foto di depan patung Merlion. Saya berpose air muncratan Merlion masuk ke dada dan Alex bergaya keramas, eh peserta lain pake gaya air masuk botol, gaya bawa payung supaya nggak basah, ada yang buka baju mandi beneran, dan ada yang bikin video slow motion bergaya silat! Wow!

Tim pemenang dari challenge hari itu yang juga disponsori oleh #yoursingapore adalah China, disusul oleh tim Malaysia dan Australia. Ya pantes aja sih, mereka memang sangat kreatif dan efisien. Tim Korea yang paling buntut karena cuman ke 4 lokasi. Ah, masih ada yang lebih lelet daripada kami.

Malamnya kami terbang naik Scoot dengan rute Singapura-Gold Coast. Mulai dari check in, nunggu di SATS lounge, terbang, sampai mendarat ada 5 challenge. Secara hape saya pasti mati sebelum masuk pesawat ditambah bodi udah remuk, saya cuek aja langsung tidur ngejoprak. Rencananya saya akan RT aja dari twit Alex.

Hari ke-2, Brisbane

Mulai di Australia, sistem pertandingan sedikit berbeda. Kami akan dinilai secara individual, namun masuk sebagai penilaian per tim senegara. Bila memenangkan challenge, maka kami akan diberi badge. Ada juga badge bila menang wild card, yaitu challenge harian seperti posting terbaik di socmed.

Mendarat di Gold Coast Airport, kami naik bus ke Brisbane dan check in di Hotel Ibis dan Mercure. Amplop challenge dibagikan. Salah satunya adalah foto relaxing di kamar. Saya cuma foto selfie di cermin kamar mandi, eh peserta lain heboh banget posenya. Sebagian besar bawa tripod/tongsis foto diri tidur di ranjang yang keliatan sekamar-kamarnya dengan gaya artistik. Waduh!

Kami berjalan kaki ke City dipandu guide dari Brisbane Greeters dan langsung dikasih challenge, antara lain foto sama baju berlabel asli Queensland dan cari CD musikus asal Brisbane. Sorenya kami dibagi 4 grup yang melakukan challenge berbeda. Saya yang seharusnya manjat Story Bridge memilih tukeran sama Alex yang seharusnya tur jalan kaki keliling kota. Bodi nggak fit gini malas banget suruh manjat jembatan! Ternyata challenge saya pun tidak mudah. Bukan hanya jalan kaki jauh banget, tapi juga naik sepeda menanjak sampe ngos-ngosan! Untungnya peserta grup saya baik-baik dan saling kasih contekan.

Abis makan malam, masih ada challenge, yaitu nebak bahan 3 desert dengan mata tertutup! Yang menang tim Australia dan Malaysia. Juga diumumkan pemenang foto terbaik, yaitu tim Singapura. Yah, kalah lagi deh! Saya dan Alex berbisik-bisik, “Ya udah lah ya, bo. Emang dasar kita selow. Yang penting have fun!”

Hari ke-3, Sunshine Coast

Kami ke Australia Zoo dengan challenge antara lain ngasih makan kanguru dan ngelingkarin ular piton ke leher! Astaganaga, saya jiji’an sama hewan apapun, ini disuruh ular pula! Mananya yang nggak ekstrim?

Lalu grup dibagi 2, saya ke Noosa Beach dan Alex ke Mooloolaba Beach. Challenge kali ini kami disuruh ganti baju ketat dan topi renang berwarna pink ala Life Guard lalu 9 orang peserta adu lomba lari memperebutkan 5 bendera. Meski saya larinya termasuk paling lambat, tapi cukup cerdik – saya pun mendapatkan badge! Eh ternyata Alex di grup satunya juga menang nomor satu. Untung setelah itu challenge-nya menyenangkan: kami jet boating mengarungi laut.

Foto Alex dengan saya sebagai model :)

Foto Alex dengan saya sebagai model :)

Sorenya kami check in di Novotel Twin Waters Resort. Melihat kolam renang bagus, saya langsung nyebur aja sambil difoto Alex. Malamnya BBQ party di pinggir pantai plus ada challenge tertulis. Diumumkan juga bahwa pemenang foto terbaik adalah Alex. Hore, tim Indonesia!

Hari ke-4, Gold Coast

Jam 8 pagi grup dibagi 2, yaitu wet challenge atau dry challenge. Karena saya jago berenang dan Alex jago lari, maka saya lah yang ikutan wet challenge. Ternyata challenge grup saya adalah lomba kayaking dan lomba sailing. Saya dapat badge lagi karena menang!

Siang hari kami pindah Gold Coast. Grup dibagi 4, challenge saya adalah belajar surfing dan Alex ke Movie World. Sirik banget karena challenge Alex adalah naik roller coaster – hobi saya yang ditakuti Alex. Saya sendiri sudah pernah belajar surfing, tapi nggak pernah berhasil. Untungnya kami sama-sama berhasil mengatasi ketakutan itu.

#TeamIndonesia

#TeamIndonesia

Sorenya kami check in di Hotel Sofitel Broadbeach. Malamnya ada acara Awards Dinner. Pengumuman tim terbaik pun tiba. Sebelumnya ada 4 pemenang individu untuk posting terlucu, terkreatif, dan lain-lain yang banyak dimenangkan oleh tim China. Lalu diumumkanlah juara ke-3, yaitu tim Malaysia. Saya dan Alex bisik-bisik, “Yah, alamat kita nggak kebagian deh. Malaysia yang rajin gitu aja juara 3.” And the runner up goes to… team Indonesia! Saya dan Alex sampe melongo beberapa detik. “Yes, you!” kata MC. Kami pun ke depan menerima hadiah sampe sumringah karena masih nggak percaya. Bayangin, lebih dari 30 challenge dari 9 negara, kami juara 2! Sementara juara pertamanya dengan beda 1 point adalah tim Australia.

Kami dapat apa hadiahnya? Bukan dalam bentuk uang kok, tapi voucher menginap di Hotel Pullman di mana pun di Asia dan paket produk khas Queensland. Hadiahnya sih nggak seberapa, tapi membawa harum nama bangsa itu yang membanggakan kami!

H+1

Sebagian besar peserta pulang ke negaranya masing-masing, tapi saya extend sendiri ke Brisbane dengan menginap beberapa hari di apartemen teman. Ketika diajak jalan, saya jawab, “I don’t wanna do anything except sleeping!” #EdisiAmbruk

Read more
Terdampar di bandara Lombok

Terdampar di bandara Lombok

Setelah kelar liburan di pantai-pantai di selatan Pulau Lombok yang supercantik itu, saya dan Tante Em (adik ibu saya) berencana meneruskan liburan ke Bali pada 4 Februari 2015. Ndelalah, bangun tidur dapat SMS dari Garuda bahwa pesawat dipindah dari jam 9.50 ke jam 14.40. Senang juga, bisa tidur lebih lama. Tapi ada apa ya? Saya browsing, ternyata kemarinnya jam 17.00 ada pesawat Garuda tergelincir di runway bandara LOP, untungnya tidak ada korban jiwa. Hmm, berarti sudah semalaman bandara ditutup.

Lagi asyik makan siang, saya terima email dari Garuda yang mengatakan bahwa pesawat saya yang tadinya jam 14.40 dipindah lagi ke jam 19.00, itupun rutenya jadi muter. Tadinya direct LOP-DPS, sekarang jadi LOP-SUB-DPS. Gilanya lagi, connecting flight-nya ga nyambung, masa flight SUB-DPS tetap jam 16.25? Saya pun menelepon CS Garuda, dan ia mengubah tiket SUB-DPS sehingga akan mendarat di Denpasar pada jam 22.45. Buset!

Opsi lain adalah naik feri ke Bali yang memakan waktu 4 jam, tapi lebih ribet karena harus ke Pelabuhan Lembar dan sampainya pun di Padang Bai. Ditambah supir mobil sewaan sedang sakit dan mobilnya tidak ada seatbelt, saya memutuskan untuk didrop saja di bandara dan lebih baik menunggu jam 19.00 sampe bego.

Sampai di bandara LOP, suasananya luar biasa ramai kayak pasar! Banyak orang duduk di taman, di jalan, di lantai bandara, dan di semua restoran. Saya mengikuti kerumunan orang yang ternyata adalah bagian informasi bandara. Seorang mbak-mbak bilang bahwa belum ada pesawat yang bisa terbang karena bandara masih ditutup. Saya segera mencari tahu bagaimana caranya ke Bali naik boat. Rupanya saya tidak sendiri, selusinan orang juga mencari informasi yang sama. Katanya, boat terakhir ke Bali jam 14.00. Jiaah!

Saya masuk aja ke dalam dan check in supaya tidak harus menggeret koper. Petugasnya bilang, “Kok aneh ya, malah disuruh muter lewat Surabaya. Padahal ada pesawat direct LOP-DPS nanti jam 18.10.” Lha nggak tau, disuruh CS-nya begitu! Tapi… horee, bisa berangkat lebih cepat sejam! Kami pun membunuh waktu dengan pijat refleksi, makan bakso sampe 3 mangkok, dan keluar-masuk semua toko di bandara.

Jam 17.00 kami masuk ke ruang tunggu yang superpenuh. Berkali-kali diumumkan bahwa pesawat AirAsia, Citilink, Lion Air, dan lain lain dibatalkan penerbangannya karena “alasan operasional” yang disusul dengan suara bergemuruh, “HUUUUUUU!!” dari ratusan orang. Saya mengintip dari jendela, di ujung runway terdapat pesawat Garuda tipe ATR 72-600 yang mandeg di rumput dan beberapa kendaraan di sekitarnya. Entah apa yang sedang mereka perbuat selama lebih dari 24 jam tanpa hasil.

Sampai jam 20.00 atau sudah lewat sejam dari jadwal, belum juga ada pengumuman terbang. Saya bertanya kepada petugas, katanya saya disuruh ke bawah untuk minta refund. Lha? Di dekat gate, terlihat troli berisi kantong plastik sampah berwarna hitam. Saya intip dalamnya, eh ada nasi kotak dan air mineral botol. Aduh, makanan dan minuman sebanyak ini teronggok begitu saja karena tidak ada yang memberi tahu! Tentu saya langsung ambil karena lapar luar biasa.

Di bawah, saya mengantri di konter Garuda bersama ratusan penumpang yang you know lah ngantrinya berbentuk trapesium, bukan satu garis. Orang-orang mulai saling sikut dan teriak marah-marah, anak-anak menangis keras. Beberapa kali saya pun jadi ikutan memaki bapak-bapak yang dengan santainya memotong jalur antrian. Karena lama, sambil berdiri saya makan nasi kotak. Beberapa penumpang yang tampak ngiler saya bilangin, “Pak, Bu, disediain nasi kotak lho di atas. Ambil aja, daripada laper!” Mereka pun pergi, sehingga antrian saya jadi lebih pendek. #modus

Saya nguping orang-orang di depan, ternyata ada yang dipindahkan ke pesawat besok atau lusanya. Ada juga bule mewek karena ketinggalan connecting flight pulang ke Australia. Pas giliran saya, petugas konter bilang bahwa penerbangan saya diganti jadi keesokan harinya. “Pesawat jam berapa, Pak?” tanya saya. “Belum bisa dipastikan. Tunggu besok di-SMS aja. Malam ini menginap dulu di Lombok. Voucher hotelnya diambil di konter sebelah,” jawabnya. Hah? Tapi ya sudah lah, mau apa lagi. Yang lebih kasihan lagi sih yang nggak naik Garuda, katanya mereka tidak dapat fasilitas hotel.

Saya mengantri lagi di konter ujung. Petugas mbak-mbak yang jutek hanya memberikan secarik kertas dan saya disuruh menulis nama dan nomor hape. Ia berkata, “Nanti menginap di Hotel Praya. Tunjukin aja boarding pass-nya. Abis ini keluar bandara, dan cari petugas berseragam. Tanya infonya di sana.” Saya jadi curiga, semua orang cuman nulis di kertas oret-oretan, apa mereka tahu siapa menginap di mana dan apakah cukup jumlah kamarnya?

Di luar bandara, banyak orang berkumpul di parkiran. Saya menemui seorang petugas yang dikerubuti para penumpang gagal. Katanya, “Hotel Praya kemungkinan sudah penuh, jadi pindah ke Hotel Lombok Raya.” Lha, tadi di dalam didaftarkan ke Hotel Praya, kok sekarang ganti? Mereka menghitung nggak sih jumlah orang yang akan menginap dengan ketersediaan kamar dan jumlah kursi bus? Bagaimana dengan makan malam dan sarapan?

Tau-tau kami disuruh naik bus kecil yang telah disediakan untuk membawa kami ke hotel. Udah buru-buru naik, jreng… bus penuh banget! Gimana sih ini? Kata petugasnya, “Tunggu aja bus lain! Nanti busnya abis nganter akan balik ke sini untuk jemput.” Kami pun turun lagi dan berkumpul lagi. Orang-orang bertambah panik dan mengomeli petugas.

20 menit berlalu, belum ada bus juga. Hotel Praya ada di Praya, Hotel Lombok Raya ada di Mataram. Keduanya berjarak 1,5 jam. Kebayang kan lamanya? Saya benar-benar sudah lelah fisik dan mental. Saya pun berinisiatif untuk naik taksi saja. Saya ditawari sewa mobil ke Mataram. Bergaya ala bekpeker, saya pun berteriak, “Woiii, ada yang mau patungan taksi? Rp 160.000 nih. Saya sudah berdua, butuh dua orang lagi. Jadi per orang bayar Rp 40.000 aja!” Dan dapatlah sepasang suami-istri asal Jakarta.

Sepanjang jalan kami saling bercerita. Kata si suami, ia pernah juga diinapkan di Bali karena pesawat cancel, tapi penanganannya jauh lebih baik. Seluruh penumpang dikumpulkan, ada seorang yang in charge dan memberikan pengumuman secara baik-baik sehingga tidak ada yang panik. Hotel dan makan dapat, bahkan dapat uang cash sebagai ganti rugi. Saya pun baru tau darinya bahwa airport tax bisa minta refund. Ih, kok beda banget ya Bali sama Lombok?

Tiba di lobi hotel, kami check in dengan menyerahkan boarding pass. Staf hotel menawarkan sekamar sendiri atau berdua. Tentu saya memilih sekamar berdua karena kasihan kalau penumpang lain nggak dapat kamar. Setelah menaruh barang di kamar, saya ke restoran untuk makan. “Saya dari Garuda yang cancel, katanya boleh minta makan di sini. Bolehnya makan apa ya?” Staf restoran bingung, ia menelepon entah siapa. 10 menit kemudian baru diperbolehkan. Saya juga tahu diri dengan memesan hanya seporsi makanan. Saya lihat tidak ada penumpang lain di restoran ini. Kasihan sekali mereka yang kelaparan.

Sarapan keesokan harinya dipenuhi oleh para penumpang yang kemarin ketemu di bandara. Katanya mereka akan menunggu SMS dari Garuda untuk kepastian keberangkatan. Sampai jam 9.00 belum di-SMS, saya pun kabur naik fast boat dari pelabuhan Senggigi – bersama puluhan orang yang sama-sama di-cancel. Tante Em pun berkomentar, “Sekarang baru nyadar kalau kamu traveling emang sering sial sampe gue kebawa-bawa. Bagusnya, kamu jadi punya banyak bahan untuk ditulis.” :)

Dari follower Twitter, belakangan saya tahu bahwa bandara LOP akhirnya dibuka pada tanggal 5 Februari 2015 malam atau lebih dari 48 jam! Bayangkan, berapa kerugian yang telah ditanggung atas batalnya puluhan penerbangan? Berapa ratus orang yang kecewa akibat gagal pulang atau menghadiri acara penting? Come on, bandara internasional sebesar Lombok masa tidak punya peralatan yang memadai?

Kecelakaan (pesawat) memang di luar kuasa kita, tapi seharusnya kerugian itu bisa diminimalkan dengan lebih cepatnya penanganan terhadap pesawat (yang tergelincir). Yang terpenting lagi, perlunya pelatihan manajemen tanggap darurat bagi seluruh staf bandara dan perusahaan penerbangan sehingga tidak terjadi kepanikan di antara para penumpang dan kacaunya bandara.

Read more
[Adv] Bobo sama zebra, makan sama singa… di Bali!

[Adv] Bobo sama zebra, makan sama singa… di Bali!

Bali adalah destinasi wisata favorit turis domestik maupun luar negeri. Tak heran Bali sering memenangkan destinasi wisata terbaik karena didukung dengan infrastruktur yang baik, masyarakatnya yang paling sadar wisata, serta banyaknya variasi – mulai dari pantai, bawah laut, hutan, gunung, candi, museum, taman bermain, sampai safari.

Iya, safari! Kalau dulu definisi “safari” merujuk ke trip jalan darat melihat hewan di habitatnya di Afrika, namun sekarang safari dapat dilakukan di luar Afrika. Pernah ke Taman Safari di Cisarua (Jawa Barat) atau di Prigen (Jawa Timur)? Saya pernah mengunjungi keduanya. Konsep safari berbeda dengan kebun binatang yang hewannya berada di kandang. Safari menempati area yang jauh lebih luas di mana hewan bebas berkeliaran. Taman Safari ada juga di Bali, ia bernama Bali Safari & Marine Park. Lokasinya di Gianyar – sekitar sejam naik mobil dari bandara Ngurah Rai. Saya sendiri sudah pernah ke sana pada 2011. Itulah hebatnya Bali, safari ala Afrika pun ada!

Awal Februari 2015 ini saya ke Bali Safari & Marine Park lagi, namun kali ini saya menginap di Mara River Safari Lodge yang bertema Afrika di dalam kompleksnya. Karena datang sudah sore, saya langsung masuk kamar tipe Twiga Suite untuk leyeh-leyeh. Kamar di Mara berupa bungalow yang dihubungkan dengan jembatan kayu. Kamarnya luas, ber-AC, kamar mandi terbuka menghadap langit, dengan jendela besar langsung menghadap hutan. Saat saya duduk di balkonnya, eeh.. ada sekelompok zebra dan wildebeest lagi leyeh-leyeh juga persis di depan saya! Nggak usah khawatir diseruduk karena ada sungai kecil yang membatasi kamar dan habitat hewannya. Bahkan kolam renangnya pun terbuka begitu saja. Terlihat para pekerja sedang membangun platform yang katanya untuk tempat parkir gajah yang nantinya akan membawa tamu ke restoran untuk sarapan. Ih, keren abis!

Jam 18.30 saya langsung ikut Night Safari. Berbeda dengan Safari Journey di siang hari yang menggunakan mobil biasa, Night Safari ini naik mobil tram yang dikerangkeng besi karena katanya pada saat malam hari hewan lebih agresif sehingga perlu keamanan lebih. Oh yeah, bring me on! Tram berjalan dipandu pemandu bilingual yang menerangkan kehebatan hewan-hewan yang ada. Namun hutan yang emang gelap tidak terlihat apapun di sekitarnya. Saat tram berhenti, lampu sorot mobil baru menerangi. Eeh.. ada gajah dan badak mengendus-endus tram! Saat itulah kami memberi makan berupa wortel kepada mereka. Ya ampun, luthunaah! Pada pemberhentian kesekian kali, tiba-tiba… dua ekor macan melompat ke atas atap tram! Kami semua merunduk karena ngilu, saya malah takut dipipisin. Macan tersebut santai aja jalan-jalan dan duduk di atas kepala kami yang hanya berjarak dua jengkal! Aww, deket banget!

Puas deg-degan diserbu macan, saya makan malam barbeku di outdoor restoran Tsavo sambil nonton Afrika! Rhythm of Fire Show. Masakannya yang variatif dan enak itu dinikmati sambil memandang bintang dan pas lagi bulan purnama. Kayak di Afrika beneran! Malamnya saya tidur sendiri deh… hiks. Tiba-tiba terdengar suara keras banget, “ROAAARRR… ROARRRR…!!” Wow, luar biasa pengalaman saya. Biasanya tidur di hutan denger suara jangkrik dan tonggeret, ini ditambah dengan suara auman singa!

Keesokan harinya saya menghabiskan waktu seharian di Bali Safari & Marine Park. Pertama saya ikutan Elephant Back Safari. Naik mobil kan udah biasa, nah ini jalan-jalan di antara hewan Afrika naik gajah Sumatra! Saya jadi ikutan difoto rombongan mobil Safari Journey, mungkin disangka bagian dari show safari :).

Lalu saya nonton pertunjukan edukatif tentang hewan. Pertama adalah Animal Educational Show di Hanuman Stage jam 11.00. Berbagai hewan, termasuk burung elang, burung kakaktua, binturong, ular piton, dan orangutan tampil. Mereka bukanlah tampil kayak sirkus, tapi diterangkan apa dan bagaimana hewan tersebut oleh MC. Selanjutnya saya nonton Elephant Conservational & Educational Show di Kampung Gajah jam 11.45. Pertunjukkan ini dibuat layaknya sandiwara tentang gajah yang diburu manusia, padahal gajah adalah hewan yang baik dan penolong. Psst.. saya sampai menitikkan air mata karena terharu.

Bali Agung Show

Bali Agung Show

Setelah makan siang di Uma Restaurant, saya nonton Bali Agung Show di Bali Theater jam 14.30. Pertunjukkan budaya tentang kisah hidup Raja Sri Jaya Pangus tahun 1179 – 1181 ini sangat spektakuler. Lebih dari 150 orang terlibat di dalamnya, belum termasuk gajah, macan, kambing, dan bebek! Meski saya sudah pernah nonton 4 tahun yang lalu, namun mereka tetap memberikan performance yang tetap bagus karena dilakukan dengan passion.

Hydro Lift & Spinning Coaster

Hydro Lift & Spinning Coaster

Bosan sama hewan, saya keliling taman. Ternyata ada juga Fun Zone dan Water Park lho! Fun Zone ini semacam theme park. Secara saya doyan extreme ride, saya langsung naik Hydro Lift (naik kendaraan di sungai yang ditarik ke atas menara dan dijatuhkan sambil muter-muter) dan Spinning Coaster (roller coaster yang turun naik dan kursinya muter-muter). Widih, seru banget! Di Water Park selain bisa berenang, juga ada berbagai luncuran seru.

Pagi hari saya bangun, kembali nongkrong di balkon. Kali ini yang terlihat selain zebra dan wildebeest, ada badak Afrika superbesar! Saya pun sarapan di Tsavo Lion Restaurant, duduk di dekat kaca yang menghadap hutan. Tiba-tiba dua ekor singa berlari menuju saya! Saya langsung memejamkan mata dan merunduk… begitu melek lagi, saya lupa kalau singa itu ada di balik kaca. Rupanya mereka sedang asyik minum di sungai kecil persis di sebelah meja saya! Wah, emang dahsyat dah pengalaman menginap di Mara River Safari Lodge!

Ngopi sama singa!

Ngopi sama singa!

Ikuti #TNTquiz berhadiah menginap dan tiket gratis!

Mau nyobain serunya ke Bali Safari & Marine Park GRATIS? Ikutan kontes “The Cutest Pet in the House” aja! Tersedia 4 hadiah yang oke banget, yaitu menginap gratis 1 malam di Mara River Safari Lodge dan 3 tiket masuk gratis ke Bali Safari & Marine Park! Caranya gampang: upload foto Anda dengan hewan kesayangan dengan caption yang menarik, follow akun Twitter @BaliSafari dan Instagram @balisafari, tag foto Anda ke kedua akun tersebut dengan hashtag #balisafari dan #TNTquiz, ditunggu sampai sebelum 28 Februari 2015 jam 23.59 WITA ya!

Read more
10 hal yang bikin kangen sama Indonesia

10 hal yang bikin kangen sama Indonesia

Kalau ke luar negeri dalam waktu yang lama, kira-kira apa yang paling Anda kangenin dari Indonesia dan setelah berapa lama? Kalau liburan ke luar negeri seminggu sih masih belum berasa karena masih semangat-semangatnya mencoba hal baru. Dua minggu baru baru mulai crancky, dan semakin parah setelah berbulan-bulan.

Selain kangen sama keluarga dan teman di Indonesia, menurut saya ada beberapa hal lainnya:

  1. Makanan

Emang ada makanan yang lebih enak daripada makanan Indonesia? Sebagai WNI tentu setuju, mungkin karena seumur hidup sudah terbiasa dengan segala macam bahan dan bumbu khas Indonesia. Kalau pun tidak bisa memasak sendiri, kita sudah tahu bisa cari makanan itu ke mana dan tahu harganya. Makanan negara lain memang (ada yang) enak, tapi kalau setiap hari selama seminggu ya eneg juga, apalagi berbulan-bulan!

  1. Bau yang khas

Satu lagi efek lama nggak makan makanan non-Indonesia: saya tidak mengenali bau kentut dan boker yang familiar itu! Hehehe! Tapi bau-bau lain juga berbeda dan kadang bikin kangen. Seperti bau tanah basah abis hujan dan bau bensin di SPBU.

  1. Bantal Guling

Ternyata berpisah dari kebiasaan berpuluh tahun pake bantal guling itu berat! Kalau cuma menginap di hotel (yang 99,9% nggak ada guling meski di hotel Indonesia) beberapa hari sih nggak kerasa, tapi kalau udah lama, waaa… rasanya ada yang hilang! Waktu saya tinggal di Filipina, saya sampe bawa guling sendiri dari Indonesia. Tapi pas RTW setahun, tentu nggak bisa. Mana di hostel cuman dapet bantal sebiji doang. Nggak ada yang bisa dipeluk..  hiks.

  1. Ojek

Di negara maju, transportasi umum memang sangat baik. Tapi haltenya sering berada jauh dari penginapan/obyek wisata. Saya sih senang jalan kaki, tapi kalau pas musim dingin atau pas cuaca panas-panasnya saya kangen banget sama ojek! Mau naik taksi takut mahal.

  1. Taksi yang bagus dan terjangkau

Mungkin ini hanya berlaku di Jakarta, tapi yang jelas taksi kita itu yang terbagus di dunia dengan harga yang terjangkau. Taksi di negara maju boleh deh pake mobil merk mahal, tapi harga argonya juga supermahal! Taksi di Amerika Latin, huu.. boro-boro bagus, ada argonya juga nggak!

  1. Matahari yang konsisten

Betapa berbahagianya kita yang dapat menikmati sinar matahari 365 hari setahun; everyday is summer! Setiap hari pun terbit dan terbenam pada jam yang sama, paling beda-beda di menit. Saya pernah di Polandia mendekati winter, matahari terbenam jam 15.30 sore. Sebaliknya, pernah di Chile saat summer, matahari terbenam jam 22.30 malam. Rasanya jadi linglung, makan malam yang biasanya jam 19.00 terasa terlalu malam di Polandia dan terlalu sore di Chile. Mau jalan-jalan rasanya udah kemalaman sehingga ingin cepat-cepat pulang, sebaliknya mau tidur malam kok matahari masih terang benderang. Hidup rasanya jadi aneh!

  1. Azan

Meski kadang terlalu berisik, tapi ternyata bikin saya kangen juga. Kalau sedang di negara yang penduduknya mayoritas Muslim sih nggak kerasa, tapi setahun di Filipina dan RTW sama sekali saya nggak denger! Lha, selama setahun itu aja saya cuma lihat masjid sekali.

  1. Ayam berkokok

Anak Jakarta zaman sekarang mungkin udah nggak pernah dengar suara ayam berkokok di pagi hari. Tapi dari kecil sampai sekarang saya terbiasa dengan suara ayam berkokok di pagi hari. Suaranya ternyata bikin kangen!

  1. Tisu

Sadar nggak bahwa kualitas tisu di Indonesia adalah yang terbaik? Bahkan lapisan tisu gulungnya aja sampe tiga lembar! Menurut saya, kualitas tisu Indonesia paling baik sedunia yang tersedia di toilet umum. Di negara maju aja tisu toilet umumnya berbahan mirip kertas yang saking kasarnya bikin pantat sakit. Perhatiin deh, penggunaan tisu di Indonesia itu luar biasa banyaknya. Di setiap meja restoran, bahkan warung, disediakan tisu – minimal tisu gulung. Padahal sebenarnya itu nggak baik karena telah memotong banyak pohon dan di negara kita nggak jelas apakah ditanam kembali dengan benar.

  1. Pijat enak dan murah

Bukan cuma saat badan pegal dan pergi ke panti pijat atau panggil ke rumah, tapi saya juga sering ke salon untuk krimbat, facial, manikur dan pedikur. Udah enak, harganya pun terjangkau! Pas traveling ke luar negeri, pijat dan nyalon jadi barang mewah. Nah, kalau pas tinggal lama di suatu negara baru deh saya sakau. Selama di Filipina, saya pernah beberapa kali ke panti pijat karena kepepet, itu pun sambil nangis karena mahal. Pas RTW sempat cari-cari salon/panti pijat, tapi harganya mahal nggak karu-karuan! Selama setahun pernah coba pedikur doang di Kolombia, itu pun nggak pake dipijat kakinya.

Kalau menurut Anda yang pernah tinggal lama di luar negeri, kangennya sama apa ya?

Read more