<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler &#187; Travel</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/category/travel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 12:57:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat (2): Main, pesta, dan nyebur!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 15:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (live on board)? Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, chef kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-80_KcYFHiRc/TyaKUOL7pwI/AAAAAAAABOQ/bykDGYMgIcM/s288/wayag.jpg" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Wayag</p></div>
<p>Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (<em>live on board</em>)?</p>
<p>Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, <em>chef </em>kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada sup, salad, ayam, sapi, tahu, tempe, sayuran, kerupuk, buah-buahan &#8211; yang bawaannya pengen nambah berkali-kali  dan untungnya tanpa berantem karena stok banyak. Selain makan besar 3 kali sehari, di antaranya ada camilan hangat dan aneka jus buah, ditambah lagi <em>unlimited</em> kopi, teh, dan susu coklat. Ah, nikmaat!</p>
<p><span id="more-1059"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img class=" " src="https://lh6.googleusercontent.com/-Z0z_thgaUDg/Tyax1UrGKmI/AAAAAAAABOo/FdVY8d0uwiQ/s144/P1040146.JPG" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Bobo siang di lounge (pic by Juni)</p></div>
<p>Selain <em>diving</em> dan makan, barulah acara main. Nah, itulah untungnya pergi dengan teman-teman sendiri yang sealiran. Adaa aja yang dikerjain di kapal: ngobrol ngalor-ngidul, cela-celaan, sesi foto ala foto model, nonton DVD bareng, gitaran, nyanyi bareng, main tebak lagu, permainan tanpa kartu ala bule dan Jepang, dan lain-lain. Kadang kami malah bobo siang bareng di sofa <em>lounge</em>, saking nggak mau terpisahkan. Buku tebal yang sudah saya bawa pun tidak tamat karena keasikan kongkow. Soal ngobrol, tentu nggak ngomongin soal <em>diving</em> sama sekali. Malah cenderung bikin gosip nggak penting. Maklum, seminggu di kapal 4L (lu lagi lu lagi) yang isinya 80% jomblo kan lama-lama kelihatan siapa yang lagi mojok sama siapa. Uhuy! <em>#nomention</em></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 257px"><img class=" " src="https://lh4.googleusercontent.com/-7RKMqVcxBJg/TyaLm3DSX_I/AAAAAAAABOY/6hzaqwTcrW0/s288/main%2520kaki.JPG" alt="" width="247" height="167" /><p class="wp-caption-text">Permainan air! (pic by Rini)</p></div>
<p>Alam bawah laut Raja Ampat memang luar biasa, tapi pemandangan atasnya lebih luar biasa lagi! Inilah godaan terbesar saya tiap hari: mending <em>diving</em> atau main di pantai? Akhirnya saya berhasil ikut 80% dari seluruh jadwal diving sih. Abis, gimana nggak ngiler ketika melewati ratusan pulau dan pantai pasir putih cantik? Begitu tidak ada jadwal <em>diving</em> dan kapal pas berhenti, yang dicari adalah pantai terdekat, lalu kami minta diantar pake <em>speed boat</em>. Bahkan kalau tidak sempat, kami nyebur langsung dari atas kapal. Permainan kami di pantai juga tak kalah seru, mulai dari lomba gaya lompat dari <em>boat</em>, lama-lamaan <em>hand stand</em> di air, lomba berenang, sampai main perang-perangan sambil gendong-gendongan. Motret pun makin ngaco. Gaya lompat sudah biasa, kami foto bawah laut ala sampul kaset Nevermind-nya Nirvana, bahkan foto pantat bugil berjejer. Bosan main, kami berenang atau berjemur..  sampai dijemput lagi untuk makan malam!</p>
<p>Kalau Anda lihat foto-foto Raja Ampat, sebagian besar fotonya adalah <em>aerial view</em> dari sekumpulan pulau berbukit dan laut begradasi biru. Itulah yang disebut Wayag. Lokasinya paling jauh di Kabupaten Raja Ampat, kapal LOB ini aja memakan waktu 17 jam dari Sorong ke Wayag kalau <em>direct</em>. Untungnya nyewa kapal sendiri ya bisa menentukan rute dan saya tidak menyiakan kesempatan ini. Ternyata untuk sampai ke <em>view point</em> itu, kita harus naik ke puncak bukit yang terjal dan berbatu runcing. Di pagi mendung itu dengan memakai <em>booties</em> untuk <em>diving</em>, perlahan kami memanjat. Wedeh, medannya sulit bener: dengkul sampai di kepala, kepala sampai di dengkul ! Sampai di puncak, terbayar dengan pemandangan spektakuler itu! Gila, kereeen banget! Kembali ke bawah, dilanjutkan dengan keliling pulau-pulau naik <em>speed boat</em> sambil sesekali nyebur di lagun.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-xuDf53nhEhM/TyaL-rdZz_I/AAAAAAAABOg/D0nza9gfdT0/s144/NYE.jpg" alt="" width="144" height="101" /><p class="wp-caption-text">Happy New Year!</p></div>
<p>Puncaknya adalah perayaan tahun baru 2012 di tengah lautan. Meski baru jam 8 malam, rupanya para ABK sudah menghias tempat pesta, pasang <em>speaker</em>, dan mulai berjoget dangdut. Juni menyumbang sebotol <em>whisky</em> mahal, sisanya beli bir dari kapal. <em>Let’s get this party started</em>! Di luar ternyata cuaca buruk, hujan superderas dan angin bertiup kencang sampai tempias dan kami semua basah. Beberapa kali kami terpleset saking licinnya lantai, dan suara Om Joni yang <em>control freak</em> itu terus menggema, “Hati-hati licin! Awas jatuh!” Tiap orang pun jadi DJ, muterin lagu dari iPod masing-masing. Bosan dengan lagu disko, ganti ke <em>suffle dance</em>, <em>ballroom dance</em>, <em>sexy dance</em>, <em>pole dance</em> di tiang tenda, poco-poco, karaoke, bahkan bikin video klip sendiri dengan menggunakan lampu <em>torch diving</em> sebagai <em>lighting</em>. Kapal LOB bule yang tadinya parkir di sebelah kami langsung pergi menjauh saking berisiknya kami ketawa ngakak dan lagu jedar-jeder. Detik hitung <em>count down</em> ditutup dengan suara klakson keras dari Kapten kapal dan sulutan petasan. Kami pun saling berpelukan mengucapkan selamat. Sungguh perayaan Tahun Baru terbaik yang pernah saya alami!</p>
<p>Hari ke-7 kami dipulangkan ke hotel di Sorong. Baru pertama kali itu saya merasakan bumi miring! Ya ampun, setiap jalan saya berasa jalannya miring, setiap duduk berasa mejanya miring, setiap tidur saya pegangan ranjang takut jatoh.Weh, ini toh rasanya seminggu di kapal goyang, begitu turun ke daratan yang rata, sayanya yang jadi miring selama dua hari penuh!</p>
<p>Tapi apakah Raja Ampat segitu doang? Naik kapal LOB seminggu itu tidak cukup untuk menjelajahi Raja Ampat. Saya masih ada 2 minggu lagi untuk menjelajah dan berenang lebih banyak!</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat: Diving bersama bebek kena potas</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 19:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1049</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (live on board) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada lounge ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img class=" " src="https://lh3.googleusercontent.com/-oOXbcawX5FA/TxxVYY6RJ_I/AAAAAAAABOI/zvzGDqFCnX0/s288/DSC01380.JPG" alt="" width="288" height="198" /><p class="wp-caption-text">Pose sama ikan (pic by Juni)</p></div>
<p>Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (<em>live on board</em>) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada <em>lounge</em> ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya ada dapur besar dan ruang ABK. Di lantai bawahnya berjajar 5 kamar yang masing-masing berisi 2 tempat tidur <em>single</em>, AC, meja, lemari, serta kamar mandi lengkap dengan <em>shower</em> air panas, wastafel, dan toilet. Di atas <em>lounge</em>, ada <em>deck </em>terbuka tempat leyeh-leyeh di kursi pantai. Di belakangnya ruang kemudi kapten dan 2 kamar <em>suite</em> jatah karom (kepala rombongan). Sekamar diisi Nina dan Yasmin, lalu di sebelahnya ditempati saya dan Eli. Yep, saya berhasil menggeret Eli jadi teman sekamar, daripada saya tidur sama cowok nggak kenal itu.</p>
<p>Acara pertama adalah perkenalan sesama peserta, meski saya sudah kenal hampir semua orang sebelumnya. Nina dan Yasmin mah sahabat saya puluhan tahun. Rini adalah teman sesama penulis di Bentang. Juni teman sekantornya Rini. Ezra sepupu saya. Ken teman SMA-nya Ezra. Eli adalah teman lama yang pernah bareng ke Israel, dan 4 orang lagi adalah teman-teman kantornya. Rupanya 2 orang cowok tak dikenal itu adalah Panda dan Tato’ yang merupakan <em>diver</em> paling serius sekaligus <em>underwater photographer</em>. Di kapal ini juga diperkenalkan 10 orang ABK, termasuk 2 orang DM (<em>Dive Master</em>) bernama Om Joni dan Kris. Wew, rasio tamu banding kru hampir satu banding satu &#8211; jadi berasa Onasis!</p>
<p><span id="more-1049"></span>Sore itu adalah <em>dive</em> pertama kali yang disebut <em>check dive</em> alias ngetes kemampuan <em>diving</em> para peserta untuk pembagian grup. Jreeeng, Om Joni langsung stres melihat hasil tes! Inilah akibatnya merekrut peserta dengan syarat “bukan <em>hard core divers</em>” &#8211; sebagian besar dari kami adalah <em>diver</em> pemula, bahkan beberapa orang baru aja punya <em>license</em>. Sejak itulah setiap <em>briefing</em> sebelum <em>diving</em>, Om Joni selalu berpesan, “<em>Diving</em> yang benar! Jangan kayak bebek kena potas!” Huehehe! Tapi saya baru menyadari apa artinya ketika saya lagi asik-asiknya <em>diving</em>, tiba-tiba ada segerombolan <em>diver</em> di bawah saya yang lewat sambil berenang gubrak-gubruk dengan <em>buoyancy</em> turun-naik dan <em>fins</em> mereka menabrak-nabrak karang. Aduh! Lalu saya mendengar suara “Hm! Hm! Argh! Argh!” yang ternyata adalah Om Joni yang “berteriak-teriak” di dalam air dengan mata melotot dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Oalah, rupanya <em>diver-diver</em> itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis seperti bebek kena potas! *tutup mata*</p>
<p>Namanya juga kapal LOB Diving, jadi setiap hari aktivitas utamanya adalah <em>diving</em>. Bangun jam 6.30 pagi, sarapan ringan, <em>diving</em>, sarapan berat, <em>diving</em>, makan siang, tidur siang, <em>diving</em>, mandi, makan malam. Setiap mulai satu kegiatan, bel klenengan berbunyi. Awalnya males juga sih, kok berasa kayak kambing dipelihara, dikasih makan, dan disuruh kerja. Tapi karena ingat sudah bayar mahal, jadi semangat. “Untung”-nya, makin hari jumlah <em>diver</em> makin berkurang. Cewek-cewek pada haid jadi males nyebur, ditambah Eli kena flu dan Rini mencret. Sebagian cowok pun memilih untuk leyeh-leyeh. Akhirnya tinggallah Panda dan Tato’, plus saya dan Juni yang dipimpin Om Joni. Kalau ada peserta lain yang mau <em>diving</em>, disatukan di grup lain dipimpin Kris. Ternyata <em>diving</em> dengan grup kecil dan bersama <em>diver</em> berpengalaman, saya baru merasa <em>enjoy</em>.</p>
<p>Saya berkesimpulan bahwa Raja Ampat <em>is not for beginner divers</em>. Tidak ada satu <em>dive site</em> pun yang tidak berarus. Mending kalau arus pelan dan cuma satu arah, ini kadang super kencang dan berbalik arah! Hampir setiap <em>dive</em>, kami diwajibkan untuk <em>negative entry</em> alias turun gaya <em>back roll </em>dari kapal dan langsung turun sampai ke dasar laut sebelum tersapu arus atas. Kalau bermasalah dengan ekualisasi atau nggak kuat berenang, bisa-bisa tertinggal sama teman-teman yang lain. Dengan rasio DM dan <em>diver</em> yang tidak ideal karena 1 DM bisa membawa 7 <em>diver</em>, jadi jangan berharap bisa diperhatikan secara eksklusif oleh DM. Belum lagi udara di tabung yang tingkat konsumsi tiap orang berbeda, jadi kita harus bisa naik ke permukaan sendiri dengan aman dengan memperhitungkan sisa udara, waktu, kedalaman, dan <em>safety stop</em>. Intinya, setiap <em>diver</em> harus bisa menyelamatkan diri masing-masing!</p>
<p>Semua “usaha keras” itu memang terbayar dengan pemandangan alam bawah laut yang spektakuler. Menurut penelitian Conservation International, Raja Ampat memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Bayangkan saja, ada 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang dan 699 spesies moluska – semuanya dalam keadaan sehat. Artinya, sekali nyebur pemandangannya sangat beragam, bahkan cenderung sibuk kayak di pasar. Hukumnya, banyak arus berarti banyak ikan. Dan karena banyak mengandung plankton plus cuaca mendung, <em>visibility</em> sih tidak begitu baik, rata-rata 10 meter saja. Namun itu pun sudah cukup untuk bikin berdecak kagum.</p>
<p><em>Landscape</em> bawah laut Raja Ampat berupa <em>wall</em>, <em>slope</em>, gua – semuanya rapat ditumbuhi terumbu karang yang sangat beragam. Dalam satu area aja bisa melihat karang yang bentuknya meja, otak, kol, bunga, kipas, pilar, dan sebagainya. Belum lagi <em>soft corals</em> yang <em>leather</em>, yang mirip bunga, putri malu, pohon, dengan warna <em>ngejreng</em>. Kerangnya aja bisa berwarna <em>turquoise</em> dan <em>fuchsia</em>. Secara mata saya bolor, tapi karena barengan fotografer, saya jadi bisa lihat mahkluk <em>macro</em>, seperti <em>nudibranch</em>,<em> flatworms</em> dan <em>pygmy seahorse</em> dengan jenis-jenis yang saya juga baru pertama kali lihat.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/16zrnmOhU_Y" frameborder="0" width="288" height="216"></iframe><p class="wp-caption-text">Manta, saya, dan Ezra (video by Juni)</p></div>
<p>Ikan warna-warni beraneka ragam lewat-lewat dan hampir selalu <em>schooling</em> (bergerombolan dengan sejenisnya). Kalau <em>jackfish</em> atau <em>fusiliers</em> sih biasa, tapi yang baru pertama kali saya lihat adalah <em>schooling</em> ikan barakuda ekor kuning<em>. </em>Raja Ampat juga terkenal dengan adanya Wobbegong atau disebut <em>carpet shark</em> karena jenis hiu ini memang mirip karpet yang pinggirnya dedel dowel dan doyannya nyusruk di pasir. Hiu jenis <em>blacktip</em> dan penyu terlihat beberapa kali lewat. Tapi favorit saya adalah melihat Manta Ray atau ikan pari raksasa. Dengan hanya tiduran di pasir, 7 ekor Manta sepanjang 3 meter bolak-balik lewat sambil mengepakkan sayapnya. Di spot bernama Blue Magic malah nemu jenis Manta yang berbeda, yang ini bentuknya gemuk menggemaskan. Bahkan saat <em>safety stop </em>di kedalaman 5 meter tanpa ada pemandangan apa-apa yang sejajar, eh 3 ekor Manta menghampiri saya dengan cueknya. Aww!</p>
<p>Sebalnya <em>diving</em> di Raja Ampat cuma satu, yaitu saat menyadari bahwa udara hampir habis. Duh, seandainya manusia bisa <em>hybrid</em> dengan punya insang, pasti saya nggak mau naik ke permukaan! Eh, nggak juga ding. Ternyata trip seminggu di kapal LOB ini tambah menyenangkan lagi pada saat tidak <em>diving</em>..</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ribetnya persiapan ke Raja Ampat</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 18:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (live on board alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus diving karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang diver yang biasa-biasa saja – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 274px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-oVmQ4Sneifw/TxcNGpARl7I/AAAAAAAABOA/BtVdnAl5Asw/s288/IMG_5713.JPG" alt="" width="264" height="140" /><p class="wp-caption-text">Kapal LOB</p></div>
<p>Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (<em>live on board </em>alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus <em>diving </em>karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang <em>diver</em> yang biasa-biasa saja – meski jumlah <em>log</em> saya ratusan, tapi saya lebih suka disebut <em>traveler </em>daripada <em>diver</em>, sehingga pergi ke Raja Ampat selalu menjadi prioritas terakhir dari segala rencana perjalanan. Padahal bagi para <em>diver</em> serius, pergi ke Raja Ampat itu bagaikan “naik haji”, sama sakralnya seperti orang yang doyan naik gunung ke Everest.</p>
<p>Saya tetep nggak kebayang LOB seminggu kerjaannya cuman <em>diving</em> dan <em>diving</em> doang. Haduh, malasnya! Saya tuh <em>diving</em> hanya sebagai bonus dari <em>traveling</em> ke suatu tempat. Seumur hidup ikut <em>dive trip</em> bareng para <em>diver</em> (serius) cuma dua kali, itu pun dalam sehari pasti ada yang saya <em>skip</em> demi belain berenang doang di laut atau bahkan tidur di kapal. Sebenarnya dari dulu saya sudah beberapa kali diajak ke Raja Ampat, tapi selalu nggak merasa sreg dengan kumpulannya. Abisan yang ngajak kok ya <em>hard core divers</em> gitu? Kebayang pagi-pagi bangun trus <em>diving</em>, sarapan, <em>diving</em>, makan, <em>diving</em>, istirahat, <em>diving</em> lagi. Hiyy! Topik pembicaraan pas <em>surface interval</em> apalagi kalau bukan ngomongin ikan ini, ikan itu, <em>gadget diving</em>, atau bahas teknik <em>diving</em> yang harus begini begitu. Mana gosipnya?</p>
<p><span id="more-1042"></span>Belum lagi sekapal LOB itu kan isinya belasan orang, belum termasuk ABK/kru kapal. Kalau orangnya nggak asik, gimana caranya “menyelematkan diri” sementara di kapal bakal ketemunya 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Kalo bete, nggak bisa ngumpet. Kalo berantem, masa cebur-ceburan? Saya jadi terbayang mati gaya di kapal dari Lombok ke Komodo, berantem sama bule ABG di kapal Turki, atau berebutan makanan sama tamu lain di kapal Halong Bay. Kebetean itu ditambah waktu yang tambah lama, yaitu total seminggu di LOB! Wadaw!</p>
<p>Pada suatu malam di Januari 2011, tiba-tiba aja pembicaraan Raja Ampat keluar lagi di antara saya, Yasmin, Jana dan King Kong. Jawaban untuk keresahan saya di atas adalah “sewa kapal aja sendiri dan ajakin temen-temen sendiri yang doyannya leyeh-leyeh”. Hmm, benar juga. Lalu kami mensyaratkan bahwa isinya harus teman sendiri (<em>mutual friends</em>), punya sertifikat <em>diving</em> tapi bukan <em>hard core diver</em>, umur di atas 30an, kalau bisa sesama jomblo, punya duit, dan punya komitmen libur kantor seminggu di tahun berikutnya. Dari lima syarat itu dibuatlah daftar orang yang akan diundang. Eh makin dipersulit lagi dengan faktor kecocokan satu sama lain. Maka diskusi pun berlanjut sampai pagi ditambah dengan gosipan tentang ketidakcocokan si ini dan itu. Pokoknya kami berempat sepakat untuk berkomitmen dan hanya karena alasan hamil baru boleh batal. *siapa juga yang mau menghamili :p*</p>
<p>Sebulan kemudian, tiba-tiba si Jana dan King Kong telepon bahwa mereka sedang berada di sebuah pameran <em>diving</em> dan harus segera <em>booking</em> kapal untuk ke Raja Ampat karena pas lagi ada slot di tahun baru 2012 dan pas ada diskon. Jana kekeuh milih kapal perusahaan Indonesia Raya yang terbagus dan tentunya termahal karena, “Biar nyaman kita, bo, <em>wis tue</em> gini… daripada kapal yang lainnya sempit dan tidurnya umplek-umplekan gitu di <em>bunk bed</em>.” Ya apa boleh buat, ditodong begitu saya ngikut aja. Masalah selanjutnya adalah gimana caranya ngumpulin DP (<em>down payment</em>) dalam waktu 2 hari dari semua peserta yang mereka juga belum dikabari?</p>
<p>Jadi, sewa kapal LOB bernama MV Raja Ampat Explorer selama seminggu (7 hari/6 malam) <em>full board</em> tanggal 27 Desember 2011 – 2 Januari 2012 (<em>booking</em> setahun!) itu harganya hampir Rp 200 juta yang pembayarannya dibagi rata oleh 14 peserta! DP Rp 2,9 juta dibayar dalam waktu 2 hari. Langsung deh saya kirim email ke teman-teman daftar prioritas utama. Dari semua yang terkirim, yang <em>commit</em> baru 7 orang. Ha, kurang 7 orang lagi! Jadilah saya sebar email lagi dan akhirnya memperbolehkan orang yang mau ajak temennya asal lolos <em>interview</em> mengenai bagaimana orangnya. Sisanya DP ditalangi dulu sama Jana sembari kami semua mencari orang. Ribet ye kite?</p>
<p>Gebleknya, beberapa bulan kemudian, si Jana dan King Kong tiba-tiba <em>bail out</em> alias mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas! Lah, orangnya kurang lagi! Saya pun ngambek dan minta mereka yang cari sendiri entah dari mana tapi orangnya harus asik. Daftar peserta pun semakin mendekati pembayaran terakhir di bulan September malah ganti-ganti nggak jelas. Akhirnya diperbolehkan pula teman bawa teman, asal asik. Yah, daripada nombok. Saya dan Nina didaulat jadi karom (kepala rombongan) menggantikan King Kong. Kami pun merencanakan rute yang terserah mau ke mana yang penting nyampe ke Wayag dan harus ada acara berhenti di pantai-pantai untuk leyeh-leyeh.</p>
<p>Alhasil isinya adalah saya, Yasmin, Nina, Rini + 3 teman kantornya, Eli + 3 teman kantornya, plus 3 orang yang kita semua nggak kenal hasil dari pencarian si pengkhianat. Seminggu sebelum <em>deadline </em>pembayaran, tiba-tiba 3 orang batal sehingga 2 orang digantikan sepupu saya, Ezra + temannya + 1 teman Eli. Ih, ribet ya? Nggak apa-apa deh, yang penting <em>mutual friends</em>-nya lebih banyak jadi tetap mayoritas dibanding status “temannya teman”. Masalah selanjutnya adalah pembagian kamar! Dengan jumlah genap 6 cewek + 8 cowok di dalam 7 kamar ternyata ada beberapa <em>couple</em> juga yang nggak mau terpisahkan. Supaya cepat, 2 kamar terbaik di kapal adalah milik karom – tinggal nanti antara salah satu dari saya, Nina dan Yasmin yang harus bersedia tidur dengan cowok nggak kenal. Sampai-sampai saya dikirimi King Kong foto-foto cowok 2 orang nggak kenal itu dengan harapan saya lah yang melunak.</p>
<p>Belum selesai sampai di situ. Sudah jauh dan mahal sampai Papua, masa kita nggak <em>explore</em> tempat lain? Secara cuma saya dan Nina yang bukan anak kantoran, maka kami merencanakan trip <em>traveling </em>di Papua setelahnya. Yasmin pun bersedia <em>resign</em> dari kantornya demi nambah 2 minggu jalan-jalan di Papua. Mau ke mana? Beberapa kali kami ketemuan untuk membahas tetap tidak ada kepastian. Kami baru sadar Papua itu luasnya luar biasa dengan akses serba nggak jelas dan nggak bisa di-<em>google</em>. Intinya, liat aja ntar gimana. Punya tiket pergi dulu ke Sorong, pulangnya ntar baru dipikirin.</p>
<p>26 Desember 2011 kami berangkat dari Jakarta dengan menitip pesan ke ibu masing-masing, “Kami pergi ke Papua, seminggu LOB, lalu 2 minggu jalan-jalan entah ke mana, diperkirakan pulang pertengahan Januari, dan.. nggak bisa dihubungi karena nggak ada sinyal.”</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Bukan) jalan-jalan ke gereja</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[Banyak gereja yang merupakan situs pariwisata, mungkin karena dianggap memiliki nilai arsitektur bangunan atau historis yang tinggi. Gereja yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara antara lain St. Peter Basilica di Vatican, Notre Dame Cathedral di Paris, atau Westminster Abbey yang makin populer karena pernikahan Will and Kate. Di Indonesia, banyak yang berkunjung ke Katedral di Jakarta atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 202px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-Ch6Rfd8Y6Dk/TvOI_82TY2I/AAAAAAAABN0/ZHZn4cLEIn0/s288/ame%252520in%252520manila%252520137.jpg" alt="" width="192" height="245" /><p class="wp-caption-text">Gereja saya di Manila</p></div>
<p>Banyak gereja yang merupakan situs pariwisata, mungkin karena dianggap memiliki nilai arsitektur bangunan atau historis yang tinggi. Gereja yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara antara lain St. Peter Basilica di Vatican, Notre Dame Cathedral di Paris, atau Westminster Abbey yang makin populer karena pernikahan Will and Kate. Di Indonesia, banyak yang berkunjung ke Katedral di Jakarta atau Gereja Blenduk di Semarang.</p>
<p>Kalau saya lagi <em>traveling</em>, mengunjungi gereja atau rumah ibadah tersohor di sebuah kota adalah wajib hukumnya. Pas hari Minggu, kalau lagi berada di luar kota atau luar negeri, saya juga usahakan ke gereja untuk menghadiri kebaktian. Kunci nyari gereja adalah bahasa pengantarnya. Dengan berbagai budaya di Indonesia, banyak gereja yang kebaktiannya dalam bahasa daerah. Kalau di kota besar di Indonesia, saya mencari gereja yang judulnya GKI atau GPIB karena biasanya ada kebaktian berbahasa Indonesia. Saya pun mendapat pengalaman yang mengesankan ke gereja di Indonesia..</p>
<p><span id="more-1036"></span>Awal tahun 1990an di Bali, saya ikut <em>church service</em> yang pake antar-jemput dari hotel di Kuta. Tepatnya saya lupa di mana, tapi gerejanya ada di tengah sawah dan berbentuk mirip pura. Sebagian besar jemaat yang datang pun pake kebaya dan kain ala Bali. Meski kebaktiannya dalam bahasa Indonesia, saya sempat kaget juga melihat cara mereka berdoa. Mereka menyatukan kedua telapak tangan dan diangkat ke dahi, bukan melipat jari-jari tangan seperti biasanya. Saat itu saya baru tahu bahwa tidak semua orang Bali beragama Hindu, dan pengaruh budaya itu juga masuk ke gaya orang berdoa.</p>
<p>Saat bekerja di Kelapa Gading, Jakarta, pada suatu hari Minggu, saya menyempatkan diri ke gereja yang terdekat dari kantor tanpa melihat plang namanya. Begitu sudah duduk manis di dalam, orang di sebelah saya menyodorkan buku lagu pujian. Loh, kok tulisannya karakter Cina? Semenit kemudian terdengarlah nyanyian jemaat… Waks, saya baru sadar bahwa kebaktiannya dalam bahasa Cina! Jadilah saya hanya bersenandung karena nggak ngerti dan bengong sepanjang kebaktian. Hehe!</p>
<p>Sekali-kalinya saya sengaja ke gereja di Indonesia dengan kebaktian bahasa daerah waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Nanga Bulik, Kalimantan Tengah. Di desa itu ada satu gereja berbentuk rumah panggung dari kayu. Jemaat yang hadirsekitar 20an orang, dan rupanya gereja itu untuk orang Dayak dan dalam bahasa Dayak. Karena tidak ada pilihan sementara saya tinggal sebulan di tempat terpencil, setiap minggu saya ke sana. Meski nggak ngerti, tapi dengar kidung jemaat (yang dalam bahasa apapun tapi nada lagunya sama) sudah bikin hati saya sejuk.</p>
<p>Kalau di luar negeri, saya nyari gereja yang kebaktiannya berbahasa Inggris. Tapi terus terang, kalau negara tersebut penduduknya nggak bisa bahasa Inggris, saya biasanya tidak ke gereja karena mau nanyanya aja susah ke orang lokal, contohnya di Thailand dan Cina. Sedangkan negara yang berbahasa Inggris (baik bahasa utama, maupaun kedua) biasanya mayoritas Kristen, jadi lebih mudah nyari. Apalagi kalau saya punya teman bergama Kristen yang tinggal di sana, jadinya saya tinggal nebeng.</p>
<p>Pengalaman pertama saya ke gereja di luar negeri adalah saat saya <em>home stay</em> bersama keluarga Amerika penganut <em>Mormon </em>di Ventura, California. Setiap minggu saya diajak ke gereja dan masuk Sekolah Minggu bersama anak-anaknya. Dan saya baru tahu bahwa Mormon itu, selain memakai alkitab Kristen dan percaya Yesus, mereka juga percaya terhadap nabi baru, yaitu Joseph Smith yang berasal dari New York! Saya pun diberi <em>Book of Mormon</em>, alkitab mereka, dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Di Geneve, Swiss, saya diajak teman saya ke gerejanya yang berbahasa Inggris… tapi jam 6 pagi! Alasannya karena, “Kebaktiannya sebentar, cuma 15 menit.” Dan ternyata benar! Di dalam gedung gereja tua itu yang datang cuma 8 orang kakek-nenek. Pendeta ngomong sebentar, tidak ada nyanyian, trus maju ke depan makan hosti dan minum anggur, lalu kelar. Rekor ibadah di gereja tercepat seumur hidup saya!</p>
<p>Di London, Inggris, saya diajak teman bernama Egi ke gerejanya juga. Saya juga lupa di mana, tapi terletak di lantai dua dengan ruangan besar dan berbentuk <em>amphitheate</em>r. Sebagian besar jemaat berkulit hitam tapi pendetanya bule. Di panggung ada <em>band</em> lengkap, dan saat bernyanyi benar-benar kayak konser <em>rock </em>sambil jemaatnya ikutan joget. Sudah 2 jam lebih di sana dan pada saat selesai kebaktian, saya digeret ke panggung oleh teman saya itu untuk minta didoakan pendeta. Si pendeta menaruh tangannya di atas kepala saya, dan semenit kemudian… saya pingsan! Entah berapa lama saya baru tersadar, tau-tau saya tidur terlentang di lantai panggung. Semua badan saya kaku, saya hanya bisa melihat si pendeta komat-kamit. Beberapa menit kemudian, saya sehat kembali. Entah apalah aliran gereja itu, tapi saya langsung lari terbirit-birit kabur!</p>
<p>Di Wina, Austria, saya diajak teman saya Aping ke gerejanya yang berbahasa Inggris di Dorotheerkirche. Gerejanya keren banget, gedung tua penuh dengan ukiran, ada balkon dan orgel. Sebagian besar yang datang kakek-nenek. Tibalah saat kolekte (persembahan), saya mengalami dilema. Secara <em>backpacker</em> dengan duit mepet padahal di sana menggunakan mata uang Euro, berapa yang harus saya berikan pada gereja? Saya mencolek Aping, “Psst.. boleh pake koinan, nggak?”. Dia bilang terserah. Maka dengan hati-hati saya memasukkan sejumlah koin ke dalam kantong persembahan yang diedarkan, soalnya malu kalau bunyinya gemerincing. Duh!</p>
<p>Kalau ke gereja di luar negeri yang negaranya lumayan banyak penduduk Indonesianya, biasanya ada gereja berbahasa Indonesia, contohnya saya pernah diajak ke gereja di Auckland, New Zealand. Abis itu, ada ibu-ibu yang jualan makanan Indonesia. Lumayan mengobati rasa rindu!</p>
<p>Kalau pas di negara yang berbahasa Inggris tapi terletak di pedalaman, ya saya pasrah aja. Contohnya waktu saya di Malapascua Island, Filipina. Hari itu jam 5 pagi saya malah diving untuk melihat <em>thresher shark</em>. Kelar diving, si Yasmin dan Jana bilang, “Selamat Natal ya! Hebat, merayakan natal bersama hiu!”. Deg. Itulah natal pertama seumur hidup saya yang tidak ke gereja. Lagu “<em>Have yourself a merry little Christmas</em>”-nya Coldplay terus menerus berkumandang di kepala saya sambil <em>mewek</em> karena saya kangen rumah!</p>
<p>Filipina itu mayoritas penduduknya beragama Katolik. Setiap hari Minggu, di mana-mana ada misa: di ruang tunggu, di kapal, di sekolah, di taman, bahkan di lobby mall! Beberapa kali saya ikut misa, tapi kalau dipimpin oleh teman saya, Father Generoso. Saya menemukan gereja Kristen Protestan yang berbahasa Inggris dengan tidak sengaja. Suatu hari di Sunday Market, saya kenalan sama cewek Korea. Dari merekalah saya dikasih tau bahwa ada gereja Protestan berjarak 3 blok dari asrama saya. Maka minggu depannya saya ke Union Church of Manila. Rupanya itu gereja yang awalnya diperuntukkan untuk warga Amerika Serikat. Rasanya baru kali itu saya berasa jadi jemaat beneran. Pendetanya bule Amerika yang sangat baik, bahkan membalas email-email curhatan saya mengenai betapa stresnya sekolah. Dasar orang Filipina, koornya selalu spektakuler dan bikin merinding. Setiap kelar kebaktian, di lantai <em>basement </em>disediakan makanan kecil dan minuman gratis, sekalian bersosialisasi dengan jemaat lain. Rupanya cukup banyak orang Indonesia yang bergereja di sana. Salah satunya adalah Agus, mahasiswa S2 Akuntansi yang akhirnya menjadi guru les privat akuntansi saya karena saya tidak lolos mata kuliah itu.</p>
<p>Herannya, saya “baru” mengerti isi alkitab justru ketika ditulis dalam bahasa Inggris. Saya baru sadar bahwa alkitab dalam bahasa Indonesia itu menggunakan bahasa yang “di awang-awang” bak baca buku sastra kuno. Sedangkan alkitab dalam bahasa Inggris itu, mungkin karena ada <em>grammar</em>-nya, semua jadi lebih <em>make sense</em>. Sejak itulah, setiap saya ke gereja di Indonesia, saya selalu baca alkitab dari <em>apps </em>yang berbahasa Inggris.</p>
<p><em>Anyway</em>, menurut saya, apapun gereja dan tata caranya, yang penting kita selalu punya hubungan yang baik dengan Tuhan dan saling mengasihi sesama.</p>
<p>Selamat Hari Natal!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/24/bukan-jalan-jalan-ke-gereja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata murah meriah di George Town</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 12:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1021</guid>
		<description><![CDATA[Penang adalah salah satu tempat favorit saya di Malaysia. Alasannya karena murah meriah! Murah harganya, meriah wisatanya, terutama untuk wisata budaya dan kuliner. Penang sebenarnya adalah semacam propinsi, tapi orang lebih mengenal sebagai Pulau Pinang meski wilayahnya juga termasuk Seberang Perai. Kali ini saya fokus main di George Town, ibu kota Penang yang terdaftar ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-bnePtajN55o/TvB4cV5IXpI/AAAAAAAABM4/Chm8mOH2d3o/s288/IMG_5460.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Beach Street</p></div>
<p>Penang adalah salah satu tempat favorit saya di Malaysia. Alasannya karena murah meriah! Murah harganya, meriah wisatanya, terutama untuk wisata budaya dan kuliner. Penang sebenarnya adalah semacam propinsi, tapi orang lebih mengenal sebagai Pulau Pinang meski wilayahnya juga termasuk Seberang Perai. Kali ini saya fokus main di George Town, ibu kota Penang yang terdaftar ke dalam UNESCO Heritage Site karena mereka berhasil melestarikan bangunan bersejarahnya yang merupakan perpaduan gaya kolonial Eropa dan budaya Asia.</p>
<p><strong>Tempat Wisata Gratis</strong></p>
<p>Enaknya di George Town, banyak tempat menarik yang gratisan. Modal jalan kaki doang, keliling-keliling liat bangunan tua dan mratiin orang menyenangkan sekali. Sebelum jalan, saya cari referensi di internet, salah satunya <a href="http://www.projectpenang.my/" target="_blank">ini</a>.</p>
<p>Beberapa tempat favorit saya adalah:</p>
<p><span id="more-1021"></span>Seluruh George Town sebenarnya didominasi oleh <em>shophouses</em>, semacam ruko bergaya arsitektur eklektik Cina Selatan. Di Asia Tenggara banyak terdapat <em>shophouses</em> semacam ini, tapi cuman di Malaysia dan Singapura yang bagus melestarikannya. Ruko bertingkat dua ini dicat warna-warni, kadang dijadikan toko, café, restoran, atau rumah pribadi.</p>
<p>Beach Street – disebut juga Bank Street karena merupakan pusat kantor bank komersial dunia. Siap-siap banyak motret di jalan ini karena bangunan di sekelilingnya keren banget, jadi berasa kayak kota di Eropa!</p>
<p>Padang Kota – di daerah sekitar Lebuh Light, terdapat Clock Tower, Town Hall, City Hall, dan Penang State Assembly Building, yang keren banget bangunan kolonialnya.</p>
<p>Lebuh Farquhar – sepanjang jalan ini terdapat bangunan era kolonial yang megah, seperti St. George’s Church (gereja Anglican tertua di Malaysia), Cathederal of The Assumption (gereja Katholik sejak 1860), dan Court Building (gedung Mahkamah Tinggi yang bergaya Palladian).</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 91px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-WsiyJO1RuNg/TvB7PBCPKtI/AAAAAAAABNU/JujPHJ4wq0U/s144/IMG_5310.JPG" alt="" width="81" height="144" /><p class="wp-caption-text">Uncle bikin kuih</p></div>
<p>Chowrasta Market – Ini adalah pasar tradisional yang jualannya macem-macem, termasuk jajanan enak-enak. Nonton deh si <em>Uncle</em> (di sana semua pria tua dipanggil “uncle”) bikin Po Piah Skin (kulit lumpia) atau Nyonya Kuih (kue basah tradisional).</p>
<p>Little India – nggak usah jauh-jauh ke India, daerah ini India banget. Mau beli kain sari atau gelang <em>bangle</em>, mau nyukur alis pake benang (<em>threading</em>), mau tindik hidung, atau makan samosa sampai <em>dessert </em>India ada di sana.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-HXj7iTvGqTU/TvB71gT9l7I/AAAAAAAABNk/c50b3FlJhKw/s144/IMG_5269.JPG" alt="" width="144" height="81" /><p class="wp-caption-text">Kapitan Keling Mosque</p></div>
<p>Kunjungi juga Sri Mahariamman Temple (candi Hindu tertua di Penang sejak 1883 dengan menara setinggi 7 meter berisi 38 patung cantik), Kapitan Keling Mosque (mesjid tertua di Penang sejak tahun 1800), dan Goddess of Mercy Temple (kelenteng tertua di Penang sejak tahun 1728).</p>
<p>Clan Jetty – perkampungan imigran asal Cina yang berumur 100an tahun yang rumah-rumahnya terbuat dari kayu berdiri di atas laut. Lingkungannya bersih dan lumayan untuk leyeh-leyeh lihat laut.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-HNfGtDPLFhw/TvB9A5UFVMI/AAAAAAAABNs/VdFxY8zJ2eQ/s288/IMG_5344.JPG" alt="" width="175" height="103" /><p class="wp-caption-text">Cheong Fat Tze Mansion</p></div>
<p>Sedangkan yang pake tiket masuk tapi wajib dikunjungi di George Town adalah Fort Cornwallis (benteng terbesar di Malaysia yang dibangun tahun 1786), Cheong Fat Tze Mansion (rumah orang kaya asal Cina yang menang UNESCO Conservation Heritage Award), Pinang Peranakan Mansion (museum Baba-Nyonya) dan Khoo Kongsi Temple (kelenteng salah satu klan Cina tempat syuting “Anna and The King”).</p>
<p><strong>Makan</strong></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 207px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-uHJoszs3SnI/TvB7zD_YdZI/AAAAAAAABNc/HOMv_sJMBsw/s288/IMG_5219.JPG" alt="" width="197" height="107" /><p class="wp-caption-text">Susu almond + kwetiaw kuah = RM 5</p></div>
<p>Orang Malaysia sendiri mengakui bahwa makanan paling enak se-Malaysia ada di Penang. Selain enak, murah pula! Char Koay Teow (kwetiaw goreng), Koay Teow Soup (kwetiaw kuah), Hokkien Mee, Lor Bak, Chee Cheong Fun, Wan Tan Mee, Pork Porridge, rata-rata cuma RM 3/porsi, tapi ini 100% haram. Untuk makanan halal jangan kuatir, ada Nasi Kandar (nasi campur ala India), Roti Canai, Assam Laksa, Fried Oyster dengan harga RM 1 – RM 5 aja. Atau Nasi Lemak paling enak sedunia yang cuman RM 1,50/porsi di Sri Weld Food Court! Untuk <em>dessert</em>, cobain deh Ice Cendol dan Rojak-nya. Maaf, kali ini saya harus bilang bahwa rasanya lebih enak daripada punya kita. Kalau minuman favorit saya sih Ice Almond Milk! Wih, segerr!</p>
<p><strong>Penginapan</strong></p>
<p>Banyak hostel/<em>guest house</em> bertebaran di George Town, terutama di sekitar Lebuh Chulia. Harga per orang per malam di <em>dorm</em> murah banget, mulai dari RM 12. Kemarin sih saya nginep di sebuah hostel di Jalan Hutton yang menempati bangunan tua kolonial keren, harganya RM 30.</p>
<p><strong>Transportasi</strong></p>
<p>Saat ini setiap hari udah ada <em>direct flight</em> naik <a href="http://www.airasia.com/">Air Asia</a> dari Jakarta ke Penang, juga dari Surabaya (3x seminggu) dan Medan (3x sehari). Kota George Town sendiri relatif kecil, ke mana-mana bisa jalan kaki. Kalau malas, bisa naik bus MPPP Rapid Penang CAT.. gratis tis tis! Cari aja halte yang tulisannya “Hop On Free” dan bus yang tulisannya gede “City Hop On”, mereka berhenti di 19 titik strategis yang dekat dengan destinasi wisata di sekitar George Town. Masih malas juga, bisa naik becak yang penuh dengan hiasan bunga plastik. Harganya kudu tawar-tawaran, tapi sering kasihan karena yang narik aki-aki tua gitu. Kalau iseng, cobain naik <em>ferry</em> dari George Town ke Butterworth di <em>mainland</em>, dan itu gratis loh! Lucunya, balik dengan rute Butterworth – George Town baru bayar RM 1,20.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Kurs Desember 2011, 1 RM = Rp 2.850,-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/20/wisata-murah-meriah-di-george-town/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[ADV] Serunya Transformers The Ride!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 14:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai penggemar berat theme park, apalagi yang ada wahana bikin adrenalin memuncak, saya pasti bersemangat nyobain naik. Saya nggak keberatan berkali-kali ke theme park asal ada mainan baru yang seru. Lagi-lagi saya harus bikin sirik kalian, karena saya diundang Resort World Sentosa untuk menghadiri peluncuran wahana baru bernama Transformers The Ride di Universal Studios Singapore! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-hmc9IhcO4tw/TtzUZHIkdAI/AAAAAAAABMk/GduosER-nZc/s288/IMG_5166.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Transformers The Ride</p></div>
<p>Sebagai penggemar berat <em>theme park</em>, apalagi yang ada wahana bikin adrenalin memuncak, saya pasti bersemangat nyobain naik. Saya nggak keberatan berkali-kali ke <em>theme park</em> asal ada mainan baru yang seru. Lagi-lagi saya harus bikin sirik kalian, karena saya diundang <a href="http://www.rwsentosa.com/" target="_blank">Resort World Sentosa </a>untuk menghadiri peluncuran wahana baru bernama <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/UniversalStudiosSingapore/TransformersTheRide" target="_blank">Transformers The Ride </a>di Universal Studios Singapore! Hihi, padahal Dufan aja nggak pernah ngundang saya.</p>
<p>Sampai saat ini Universal Studios Theme Park ada 4 di dunia, di Hollywood, Orlando, Osaka dan Singapura. Untung juga sih buka di Singapura, jadi bisa lebih dekat dan murah mencapainya. Saya sendiri sudah 3 kali ke sana dan nyobain berbagai macam wahananya. Nah, sebagai undangan peluncuran Transformers the Ride, saya menjadi salah satu orang pertama yang nyobain. Bukannya kelinci percobaan sih, tapi kan seneng banget, apalagi bisa ketemu Michael Bay (sutradara film Transformers). Biar tambah sirik, saya jalan barengan 3 orang brondong eh blogger kondang, yaitu si Poconggg, Benakribo dan Shitlicious. Makanya kalau punya blog, seriusin deh bikinnya, siapa tahu dapat kesempatan asik seperti kami! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-1016"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-YMc27OF0j2o/TtzUI3SoVQI/AAAAAAAABMU/q3V1ru_sBTo/s144/1%252529%252520Hotel%252520Michael%252520-%252520Room%252520Interior.jpg" alt="" width="144" height="96" /><p class="wp-caption-text">Kamar Hotel Michael</p></div>
<p>Bersama wartawan dan blogger dari negara-negara lain, kami semua diinapkan hotel-hotel yang ada di Resort World Sentosa. Rombongan Indonesia nginep di <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Hotels/HotelMichael" target="_blank">Hotel Michael</a>, yang didesain oleh arsitek kontemporer terkenal Amerika Serikat bernama Michael Graves. Nggak heran, kamarnya berasa di <em>art gallery</em> karena mural dan furniturnya unik dan keren, didominasi warna oranye. Selama 3 hari di sana, kami makan di sekitar Resort World aja udah puas karena banyak banget restorannya. Saya sempat <em>dinner</em> uenak di Starz Restaurant di Hard Rock Hotel, bahkan dapat kesempatan <em>food tasting</em> Malaysian Food Street yang akan segera buka persis di gerbang Universal Studios. Karena bulan Desember mendekati Natal, di Resort World Sentosa suasananya natal banget, lengkap dengan pohon natal raksasa setinggi 38 meter dan areanya dihiasi dengan lampu kelap-kelip. Saya juga sempat nonton <em>Crane Dance</em> di Waterfront.</p>
<p>Resort World Sentosa sedang membangun fase keduanya yang akan berisi Marine Life Park, ESPA, dan 2 hotel baru. Di lahan fase kedua, saat ini sudah buka <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/MaritimeExperientialMuseumAquarium" target="_blank">Maritime Experiential Museum &amp; Aquarium </a>(MEMA). Bangunannya berbentuk lambung kapal terbuat dari baja dan kaca, isinya segala macam dokumentasi perjalanan kapal Laksamana Zheng He bao Chuan (di kita disebut sebagai Cheng Ho). Yang paling asik adalah Typhoon Theatre, semacam bioskop multimedia 360° yang bikin kita berasa sedang diamuk topan badai di atas kapal layar China abad ke-9, lengkap dengan cipratan air!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 166px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-ZREdyYi69AY/TtzUqC_Uz4I/AAAAAAAABMs/5Ltsn_g6gI0/s144/Battlestar%252520Galactica%252520Close-up%2525202.jpg" alt="" width="156" height="104" /><p class="wp-caption-text">Battlestar Galactica</p></div>
<p>Kembali ke <a href="http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Attractions/UniversalStudiosSingapore" target="_blank">Universal Studios</a>, saya naik wahana yang belum pernah coba sebelumnya, yaitu Madagascar. Udah siap-siap pake jas hujan, eh ternyata nggak basah sama sekali. Yah, kayak di Istana Boneka-nya Dufan gitu deh. Saya juga naik lagi <em>roller coaster</em> Battlestar Galactica, eh ternyata masih berasa deg-degan! Di <em>Human</em> (warna merah), kita duduk di kursi yang berlantai. Di <em>Cylone</em> (warna biru), duduk di kursi gantung dengan kaki menjuntai kewer-kewer. Jadi kebayang kan mana yang lebih serem? Tentu yang biru! Kalau si merah <em>roller coaster</em> turun-naik-muter, si biru ditambah lagi muter kursinya 360° jadi kita bisa liat kaki sendiri di atas! Mantaab!</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-WngG4Sl9tZU/TtzULGxzxEI/AAAAAAAABMc/orb-LFYlCSE/s288/IMG01649-20111202-0917.jpg" alt="" width="196" height="140" /><p class="wp-caption-text">Bersama Poconggg &amp; Benakribo</p></div>
<p>Dan kini saatnya naik Transformers The Ride: <em>The Ultimate 3D Battle</em>! Wahana baru ini ada di Sci-Fi City, yang berdekatan dengan Battlestar Galactica. Kalau sudah nonton film Transformers, wahana ini dibikin persis seperti filmnya, jadi berasa kita ada di <em>scene</em> filmnya. Awalnya kita akan direkrut di NEST, pusat komando militer buatan manusia dan Autobots untuk melindungi bumi dari Deceptions. Kita masuk ke ruangan semacam terowongan dengan interior persis kayak laboratorium dan ruang kontrol, lalu pake kaca mata 3D dan naik kendaraan berkapasitas 12 orang yang bernama Evac. Si Evac ini adalah Autobot yang bisa berubah dari mobil, kendaraan <em>hybrid</em>, dan robot. Kita lalu dibawa PERAANG bersama 4 Autobots lain (Optimus Prime, Bumblebee, Sidewsipe, dan Wheelie) melawan 7 Deceptions (Megatron, Ravage, Sideways, Grindor, Devastator, Bonecrusher, dan Starscream). Jadi kita beneran berasa dilempar nabrak gedung, dijatohin dari atas robot, ditembak peluru (sampe berasa panas beneran!). Gila, kereeen banget!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-GUsL7KzpBJQ/TtzTChmwBzI/AAAAAAAABMM/G5g8mwNCoqY/s144/_YHK0462.JPG" alt="" width="144" height="96" /><p class="wp-caption-text">Foto bareng Michael Bay!</p></div>
<p>Sore itu saya menghadiri <em>press conference</em> peluncuran Transformers The Ride, malah ikutan nanya biar diajak ngomong sama Michael Bay. Sialnya, dia dikawal ketat sama <em>body guards</em>-nya sampe susah mau foto bareng! Setengah jam kelar acara, dia lagi berdiri ngobrol sama para pejabat, saya langsung aja nekat memotong pembicaraan dan berhasil foto bareng! Hehe! Malamnya, saya menghadiri pesta peluncuran Transformers The Ride bersama ratusan undangan lain. Lumayan dapat makan dan <em>champagne</em> gratis! Di panggung, setelah kata sambutan para pejabat, Michael Bay sekonyong-konyong muncul naik Bumblebee alias mobil kuning Chevrolet Camaro yang dipake Shia LaBeouf, lalu muncul lah para Autobots! Dan resmilah Transformers The Ride dibuka untuk umum per tanggal 3 Desember 2011. Ayo cobain serunya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/12/05/adv-serunya-transformers-the-ride/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya jadi tamu kenegaraan</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/11/25/nikmatnya-jadi-tamu-kenegaraan/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/11/25/nikmatnya-jadi-tamu-kenegaraan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 20:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore yang biasa-biasa saja, saya menerima email dengan attachment berkop surat lambang Garuda Pancasila. Weh, ini surat serius banget dari pemerintah! Ternyata isi suratnya mengundang saya jadi pembicara tanggal 6 Juli 2011 di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Namibia! What? Namibia? Jauh amat! Kirain ini hoax, jadi saya googling. Eh ternyata bener [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-vLHk_DYJaUo/Ts6esd_NDnI/AAAAAAAABLY/aoVygM8JUu4/s288/IMG_1498.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Backdrop seminar</p></div>
<p>Pada suatu sore yang biasa-biasa saja, saya menerima email dengan <em>attachment</em> berkop surat lambang Garuda Pancasila. Weh, ini surat serius banget dari pemerintah! Ternyata isi suratnya mengundang saya jadi pembicara tanggal 6 Juli 2011 di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Namibia! <em>What</em>? Namibia? Jauh amat! Kirain ini <em>hoax</em>, jadi saya <em>googling</em>. Eh ternyata bener lho! Langsung deh saya koprol! *lebay*</p>
<p>Besoknya saya ditelepon oleh staf KBRI Namibia dan dilanjutkan pengaturannya via email. Yang membuat saya bahagia adalah meski tidak ada <em>fee</em>, tapi transportasi, akomodasi, dan makan ditanggung. Wah, nggak apa-apa banget! Mariiii! Naluri <em>traveler</em> saya pun keluar, saya minta <em>extend</em> 2 hari di Namibia, plus tiket pulangnya minta via Cape Town untuk kembali ke Jakarta seminggu kemudian. Setelah disetujui, saya langsung <em>apply</em> visa South Africa di Jakarta dan sempat ribet cari orang yang tinggal di Cape Town untuk minta surat sponsor.</p>
<p><span id="more-1012"></span>Jadi ceritanya KBRI Namibia ini mengadakan acara peringatan 20 tahun hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Namibia, judulnya: <em>On the occasion of 20th Indonesia &#8211; Namibia Diplomatic Relations: Wonderful Indonesia: BaIi and Lombok Islands and Land of the Brave: Namibia</em>. Konon sebelum-sebelumnya acaranya seremonial doang, makanya kali ini mau dibikin beda. Dipilihlah acara seminar pariwisata, dan saya diundang sebagai pembicara yang akan mempromosikan Indonesia. Haduh, saya terharu. Selama ini pemerintah yang dekat aja nggak peduli sama saya, tapi ini pemerintahan yang berjarak ribuan kilometer yang terletak di benua Afrika!</p>
<p>Entah kenapa, di Namibia ada Kedutaan Besar Indonesia, tapi di Indonesia tidak ada Kedutaan Besar Namibia. Untuk <em>apply</em> visa bagi pemegang paspor RI harus ke Embassy of Namibia yang ada di Malaysia yang wilayahnya merangkap Indonesia. Untungnya sebagai “tamu kenegaraan”, saya diuruskan visa oleh mereka. Tinggal kasih fotokopi paspor, lalu diimel lah visa yang berupa secarik kertas bertanda tangan <em>Ministry of Foreign Affairs</em> Namibia. Cihuy!</p>
<p>Maka berangkatlah saya sendirian dengan rute pesawat Jakarta-Kuala Lumpur-Johannesburg-Windhoek dengan total 16 jam terbang, belum termasuk transit. Saya bertemu dengan tidak sengaja 2 pembicara lain dari Indonesia, pas transit di Johannesburg: dua orang bapak-bapak bermuka bingung sibuk cari dokumen di dalam tas mereka karena diminta seorang satpam garang.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 242px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-tc0IQjOIH3U/Ts6fVI1ty6I/AAAAAAAABLg/1fywfWlb1U8/s288/IMG_2266.JPG" alt="" width="232" height="128" /><p class="wp-caption-text">Seminar di mana ya?</p></div>
<p>Sebelum pesawat mendarat di Windhoek, saya stres! Sepanjang mata memandang, di bawah yang terlihat cuma padang rumput kering dan semak belukar! Mampus, jangan-jangan ini <em>hoax</em>! Mau seminar di mana kalo nggak ada bangunan sama sekali gini? Di rumput sambil dikejar singa? Ternyata bangunan satu-satunya di sekitar situ adalah Hosea Kutako Airport. Saya baru yakin ini bukan <em>hoax</em> setelah staf protokoler KBRI datang menjemput. Enaknya jadi tamu kenegaraan, pas di imigrasi kami mengantri di jalur khusus “Diplomat” tanpa harus berjejal mengantri di jalur “Foreigners”. Dari situ diantar naik mobil berplat CD (<em>Corps Diplomatic)</em> menuju pusat kota &#8211; tanpa pengawalan kok.</p>
<p>Kami diinapkan di Wisma Duta. Sebenarnya itu rumah Duta Besar Indonesia dan para tamunya, tapi karena posisi Dubes sedang kosong, maka kami lah yang menempatinya selama beberapa hari. Rumahnya bertingkat dua superbesar dengan halaman luas dan ada kolam renangnya! Saat itu para staf KBRI sedang menyiapkan acara. Ada yang ngangkut gamelan, latihan angklung, masak, menata meja, merangkai bunga, mendekorasi ruangan, dan sebagainya. Maklum staf KBRI hanya 12 orang saja, sehingga mereka harus bisa multi talenta alias bisa mengerjakan semuanya sendiri.</p>
<p>Saya diajak ke kantor KBRI. Sebuah rumah besar yang dialihfungsikan jadi kantor. Halamannya luas dan berbukit. Saya dipersilakan duduk di ruangan kerja diplomat. Tak lama kemudian <em>office boy</em>-nya datang membawakan saya teh panas manis. Dia orang lokal yang besar dan berkulit hitam, tapi memakai batik dan membawakan nampan. Hihi.. baru kali ini saya merasa Indonesia adalah bangsa superior!</p>
<p>Keesokan harinya, barulah acara seminar dimulai. Saya pake batik, celana panjang dan jaket tebal. Tololnya, baru sadar sepatu <em>trekking</em> saya nggak nyambung sama batik, jadilah saya pinjam sepatu staf KBRI. Acara dimulai dengan lagu kebangsaan kedua negara. Saya merinding luar biasa dan mata pun berkaca-kaca, rasanya saya jadi pahlawan pembela bangsa. Lalu dilanjutkan dengan tarian tradisional Namibia. Buset, di suhu 2°C begini, mereka menari pake beha dan rok mini bahan serat kayu! Brrr!!</p>
<p>Setelah kata sambutan dari pejabat sementara Dubes RI dan kementrian pariwisata Namibia, maka seminar dimulai – tentunya dalam bahasa Inggris. Sesi pertama si kedua bapak tentang Bali dan Nusa Tenggara, sesi kedua saya dan perwakilan Budpar Namibia. Acara pun ditutup dengan pertunjukan kesenian angklung oleh staf KBRI, lalu makan masakan Indonesia yang dimasak para istrinya. Sembari ngobrol-ngobrol, kami diwawancara oleh media Namibia. Rupanya acara ini “sesuatu banget” di negara itu.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-fySE0NigQXU/Ts6dMTQQqiI/AAAAAAAABLQ/1JMSV2tKJNc/s144/tv4.jpg" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Olah raga ala NBC</p></div>
<p>Keesokan paginya saya diundang NBC (Namibian Broadcasting Corporation) &#8211; semacam TVRI di kita &#8211; untuk <em>live</em> <em>talkshow</em> di acara “Good Morning Namibia”. Selain <em>host</em>-nya, pembicara lain adalah dari perwakilan Budpar Namibia. Pertanyaan <em>host</em> yang bikin saya merinding adalah, “<em>How do you think Namibia should learn from tourism in Indonesia</em>?”. Weits, pertanyaan berat begini ditanyakan ke saya. Bikin GR aja, saya jadi berasa <em>tourism expert</em> paling okeh sedunia! Hehe! Yang bikin ngakak, <em>talkshow</em> ini slotnya disambi dengan acara olah raga. Bukan pertandingan olah raga, tapi <em>aerobic</em> dalam ruangan dengan beberapa orang Namibia pake singlet tanpa alas kaki. Hahaha!</p>
<p>Selama beberapa hari berikutnya kami diajak jalan-jalan dan makan-makan keliling Namibia. Emang nikmat jadi tamu kenegaraan! Padahal saya “kerja” hanya satu jam tapi dapat liburan gratis seminggu di Namibia. Hayo, nggak boleh sirik! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/11/25/nikmatnya-jadi-tamu-kenegaraan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Safari di Namibia</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/11/16/safari-di-namibia/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/11/16/safari-di-namibia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 17:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Wisata nonton satwa? Pilihannya ya ke kebun binatang. Tapi bonbin di Indonesia sepertinya cuma disukai anak kecil. Udah gede, saya nggak pernah lagi ke kebun binatang di Indonesia, kecuali di Jambi (namanya keren: Taman Aneka Rimba) karena gratis dan pas iseng nggak ada kerjaan. Pilihan lain ke Taman Safari karena lebih luas, jenisnya variatif, satwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img class=" " src="https://lh3.googleusercontent.com/-qiX37tqb-PI/TsKb6hQ6wvI/AAAAAAAABK8/_R1kPX3qpfo/s288/IMG_1658.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Jerapah di waterhole Etosha</p></div>
<p>Wisata nonton satwa? Pilihannya ya ke kebun binatang. Tapi bonbin di Indonesia sepertinya cuma disukai anak kecil. Udah gede, saya nggak pernah lagi ke kebun binatang di Indonesia, kecuali di Jambi (namanya keren: Taman Aneka Rimba) karena gratis dan pas iseng nggak ada kerjaan. Pilihan lain ke Taman Safari karena lebih luas, jenisnya variatif, satwa yang lebih sehat  dan nggak dikerangkeng sempit-sempit. Di Indonesia, saya sudah pernah mengunjungi semuanya, yaitu di Cisarua, Prigen dan Bali. Yang paling keren sih di Bali Safari &amp; Marine Park. Meski kurang lebih sama, tapi di Bali mereka pintar <em>create experience</em>. Kelilingnya tidak boleh naik mobil pribadi, tapi harus naik mobil khusus dan ada <em>guide</em> yang menceritakan fakta-fakta ringkas yang lucu dan menarik dalam dua bahasa.</p>
<p>Sebenarnya sih saya kurang begitu suka wisata “nonton satwa”, kecuali memang satwa tersebut unik banget. Buktinya saya bela-belain ke Chengdu untuk nonton panda dan ke Pulau Komodo untuk nonton komodo – di habitatnya langsung. Ini pengecualian untuk satwa laut ya, karena saya kan emang doyan menyelam. Saya juga nggak masalah nonton satwa laut di aquarium, baik domestik maupun di luar negeri, seperti di Chiang Mai Aquarium (Thailand), Coex Mall Aquarium Seoul (KorSel), Toba Aquarium (Jepang), bahkan sampai ke SeaWorld San Diego (AS).</p>
<p><span id="more-1006"></span>Untuk satwa darat, cita-cita saya dari dulu adalah melihat langsung binatang liar di Afrika karena kebanyakan nonton TV National Geographic dan Animal Planet. Tambah pengen lagi ketika ibu saya balik dari Kruger National Park di South Africa. Juli 2011 sampailah saya di Namibia. Cita-cita saya kesampean saat saya diajak jalan sama teman-teman untuk mengunjungi Etosha National Park.</p>
<p>Dari Windhoek (ibu kota Namibia) ke Etosha berjarak 550 km (lebih jauh daripada jarak Jakarta-Yogyakarta), tapi bisa ditempuh dalam waktu 5 jam saja naik mobil, padahal udah termasuk istirahat makan. Abis, jalan rayanya cuma luruuuus aja sampe bego! Udah gitu jarang ketemu mobil lainnya pula. Etosha luasnya 4 kali lebih besar dari Pulau Bali. Tidak seperti di Kruger yang harus naik jeep khusus dan ditemani jagawana, di Etosha kita bisa naik mobil pribadi (nggak usah 4WD) untuk keliling dan melihat sendiri satwa liar. Agak bergidik saya membayangkannya. Gimana kalo diserang singa coba? Atau diinjak gajah?</p>
<p>Setelah membayar tiket di Anderson Gate, kami dikasih brosur berisi peta dan peraturan yang intinya nggak boleh buka kaca dan ke luar dari mobil. Jangan membayangkan taman nasional itu seperti di Indonesia yang banyak pohon tinggi dan rapat sampai suasana gelap. Di sana hanyalah padang rumput luas dan semak belukar sehingga kumpulan satwa liar itu dapat terlihat jelas.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-hQgD8n7dsg8/TsKbP7hwUmI/AAAAAAAABK0/V6qFQj6PliM/s288/IMG_1714.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Gemes sama pantat zebra!</p></div>
<p>Baru bergerak 100 meter dari gerbang aja, saya langsung lihat beberapa jerapah. Bergerak sebentar lagi, eh ketemu zebra.. bukan cuma beberapa, tapi ratusan! Lalu lihat lagi puluhan jerapah dan ribuan zebra lain! Gilaa banyaknyaa! Saya baru tahu kalau zebra ada yang strip putih-hitam, ada yang kuning-hitam. Saya juga menemukan satwa yang belum pernah lihat di Indonesia, yaitu <em>springbok, impala, oryx, antelope, kudu, gazelle</em>. Itu semacam rusa tapi berbeda-beda ukuran, warna, motif, dan tanduk. Lucu-lucu banget dan jumlahnya ribuan! Saya jadi nyesel cuma punya kamera <em>pocket</em> <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita sering mendengar istilah “Big Five” untuk satwa liar penguasa alam. Rupanya itu adalah singa, gajah Afrika, kerbau Afrika, <em>leopard</em> (macan tutul) dan badak. Lucunya, kami nemu gajah itu karena mengikuti jejak kotorannya yang menggunung. Pas ketemu, gajah itu bukan hanya beberapa, tapi puluhan! Gajah Afrika itu jauh lebih besar daripada gajah Asia, kupingnya aja besaar (apalagi anunya)! Saya melihat semua “Big Five”, kecuali singa. Katanya memang untung-untungan kalau melihat. Namanya juga satwa liar, suka-suka mereka nongkrongnya di mana.</p>
<p>Meski hidup liar di alam yang kering cuma rumput dan semak, satwa di sana gemuk dan sehat! Kalo nggak inget larangan, rasanya saya pengen turun dan mukulin pantat zebra, eh maksudnya mau foto bareng. Suasana di dalam mobil aja jadi heboh, kami sampe tumpuk-tumpukan karena berebut memotret dari jendela. Ya itulah kelebihan taman nasional di Afrika, bukan kebun binatang, bukan taman safari. Satwa dibiarkan hidup bebas di habitatnya, nggak dikasih makan/minum oleh petugas. Semuanya alami. Saya jadi bersyukur nggak lihat adegan satwa memakan satwa lain seperti di TV.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 272px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-Jt8wFZ_3OH0/TsKckOAThnI/AAAAAAAABLE/Eyb2dSUtUFQ/s288/IMG_1728.JPG" alt="" width="262" height="116" /><p class="wp-caption-text">Springbok</p></div>
<p>Kami sempat berhenti di Okaukeujo Rest Camp untuk makan di restoran. Ketika menunya datang, tertulis “<em>Game Steak of the Day</em>”. Rupanya “game” itu berarti binatang yang diburu untuk makanan tapi memiliki lisensi dari pemerintah untuk diburu dalam kondisi tertentu. “Saya cek dulu ya, hari ini adanya daging <em>impala, oryx, springbok, zebra</em>, atau yang lainnya,” kata <em>waiter</em>-nya menjelaskan. Saya pun menjerit. Aww! Itu kan binatang lucu-lucu yang tadi kami lihat! Zebra pun dimakan, bo!</p>
<p>Saat matahari terbenam, kami berhenti memandang danau luas sejajar horizon. Matahari di sana besar dan bulat sempurna. Sinarnya memancarkan warna pink di langit tanpa awan! Sekawanan <em>ostrich</em> (burung unta) berjalan berbaris “membelah” matahari, sementara di belakang kami sekawanan gajah sedang lewat begitu saja. Ampun, spektakuler indahnya!</p>
<p>Jam 7 malam sampailah kami di gerbang ujung satunya di Von Lindenquist Gate.. dan seada-adanya terkunci! Mana tidak terlihat satu orang pun di sana! Glek. Ini gimana coba kalo kami terjebak di dalam taman dan diserang segala macam satwa? Tak lama kemudian, datanglah mobil patroli dan kami minta tolong dibukakan. Yang ada kami semua dimarahi karena taman tutupnya jam 6 sore! Bukannya membantu, mobil balik arah begitu saja. Seorang ibu-ibu datang dari kegelapan dan ngomel-ngomel, “<em>What time IS it? Seven, huh? You know what time it’s close? Six!</em>” Nah lho! Lalu teman saya menyelipkan uang kertas ke dalam tangannya dan langsung beres! Ini Afrika, bung! Budaya nyogok masih berlaku. Hehe!</p>
<p>Kami pun menginap di Mokuti Lodge yang terletak persis di luar gerbang. Ceritanya ini penginapan khas Afrika yang berupa <em>cottage</em> dengan atap rumbia, tapi dilihat dari furniturnya.. sebagian <em>made in</em> Indonesia, malah bergaya Bali! *bangga* Kenangan manis di taman nasional ini ditutup ketika saya bangun tidur di pagi hari. Begitu buka pintu, eh ada jerapah dan <em>springbok</em>! <em>Oh, so cute</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/11/16/safari-di-namibia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[ADV] Liburan di Bandung sama travel writers</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/11/15/adv-liburan-di-bandung-sama-travel-writers/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/11/15/adv-liburan-di-bandung-sama-travel-writers/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 22:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1001</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya kalo sesama travel writers liburan bareng? Sudah lama berteman dan merencanakan, tapi baru tanggal 11-13 November 2011 kemarin bisa diwujudkan. Nggak usah jauh-jauh ke luar negeri, cukup ke Bandung aja. Setelah woro-woro, berhasil lah saya ngajak Rini dan Ariy, serta Ditta dari Bentang Pustaka. Kalo udah ngumpul begini, si Ditta malah ‘memanfaatkan’ liburan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-yWZ4C7T1RE4/TsGQ2ExMrrI/AAAAAAAABKU/gBcm7m24bbc/s288/papandayan.jpg" alt="" width="288" height="167" /><p class="wp-caption-text">Kamar di hotel The Papandayan</p></div>
<p>Apa jadinya kalo sesama <em>travel writers</em> liburan bareng? Sudah lama berteman dan merencanakan, tapi baru tanggal 11-13 November 2011 kemarin bisa diwujudkan. Nggak usah jauh-jauh ke luar negeri, cukup ke Bandung aja. Setelah woro-woro, berhasil lah saya ngajak <a href="http://cuapcuapnabi.blogspot.com/">Rini</a> dan <a href="http://a-journo.blogspot.com/">Ariy</a>, serta Ditta dari <a href="http://bentang.mizan.com/">Bentang Pustaka</a>. Kalo udah ngumpul begini, si Ditta malah ‘memanfaatkan’ liburan kami dengan nyempilin acara <em>Meet &amp; Greet</em> di Gramedia PVJ deh.</p>
<p>Kami semua berangkat sendiri-sendiri untuk berkumpul di Hotel <a href="http://www.thepapandayan.com/index.php">The Papandayan</a> yang terletak di Jl. Gatot Subroto 83, Bandung. Begitu saya bilang akan menginap di Hotel Papandayan, banyak yang komen, “Hah? Bukannya itu hotel lama gitu?” Nah, banyak yang belum tau bahwa Hotel Papandayan yang sudah berdiri 20an tahun itu telah direnovasi selama 2 tahun terakhir, dan April tahun ini resmi menjadi Hotel “The Papandayan” yang termasuk hotel bintang lima dengan 172 kamar.</p>
<p><span id="more-1001"></span>Tadinya saya pikir hotel bintang lima yang manajemennya bukan dari jaringan hotel luar negeri akan berbeda, tapi ternyata justru kelebihan The Papandayan adalah kelokalannya. Interior kamarnya bergaya klasik yang Indonesia banget dengan menggunakan dominasi kayu, namun furnitur dan barangnya tetap standar bintang lima (<em>toiletries</em>-nya aja merk Molton Brown dari Inggris). Perbedaan lain adalah keramahtamahannya. Hotel ini dimiliki orang Indonesia asli, <em>value</em> yang dianut ya Indonesia banget, jadi semua stafnya ramah dan baik. Meski manajemen lokal, mereka tetap jaga kualitas.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 91px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-LazFzrhnHw0/TsGSHxynfOI/AAAAAAAABKk/l2ur6zceYxs/s144/IMG_4915.JPG" alt="" width="81" height="144" /><p class="wp-caption-text">Vertigo bener naik ini!</p></div>
<p><a href="http://www.thepapandayan.com/contact.php" target="_blank">The Papandayan</a> ini lokasinya hanya 3 menit naik mobil ke Bandung Supermal dan <a href="http://www.transstudiobandung.com/">Trans Studio Bandung</a>. Tentunya kami langsung coba dong! Kali ini saya ngajak teman-teman lain, yaitu Deni dan Danti, karena Rini dan Ditta belum datang. Ternyata dibanding Trans Studio Makassar, yang di Bandung ini lebih luas dengan jenis permainan yang lebih ekstrim. Empat favorit saya adalah: Yamaha Racing Coaster (<em>roller coaster</em> tercepat di dunia dengan manuver gerakan mundur!), Vertigo (kincir raksasa yang berputar 360° di ketinggian), Giant Swing (ayunan tinggi dan berputar), dan Negeri Raksasa (kita dijatuhin dari puncak menara) – keempatnya ‘serem’ banget sampe jantung rasanya mau copot dan dengkul ngilu! Eh, turun-turun si Danti sampe pipinya penuh ludah karena mulutnya ngowoh sepanjang permainan dan Ariy sampe keleyengan mau muntah loh! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Malam hari sampai pagi kami kumpul-kumpul di kamar <a href="http://www.thepapandayan.com/rooms/executive-suite">Executive Suite</a> ini karena ruangannya besaar. Dasar <em>travel writers</em> yang aktif di <em>social media</em>, kami duduknya berjauhan (saya di meja kerja, Rini di sofa depan TV, Ariy di tempat tidur) sambil buka komputer masing-masing karena Wi-Fi hotel kenceng. Kami malah ngerumpi via <em>chat</em> dan twitter, meski duduk berjarak beberapa meter aja. Mau ke toilet nggak berebutan karena 1 kamar ada 2 kamar mandi. Begitu lapar, kami menyantap aneka <em>dessert</em> nikmat yang disediakan di meja dan menyeduh teh/kopi di teko listrik. Belum puas juga, sesekali kami ke luar kamar karena lantai 5 ini adalah <em>Executive Floor</em> yang memiliki resepsionis dan ruang makan sendiri. Mantab bener!</p>
<p>Yang paling oke, makanan yang tersedia di <a href="http://www.thepapandayan.com/facilities/pago-restaurant">Pago Restaurant</a> yang didominasi oleh makanan Indonesia banget sehingga berasa <em>homey</em>, meski ada juga <em>stall</em> makanan Jepang, Cina, India dan Eropa. Jadi selain saya bisa menyikat <em>sashimi salmon</em> dan <em>dim sum</em> sepuasnya, bisa makan juga gepuk, semur tahu, gurame goreng, bahkan bubur kacang ijo. <em>Breakfast</em> (yang sudah termasuk paket menginap) dan <em>lunch buffet</em> ini variasinya tetap banyak dan enak-enak. Saya tentu makan yang paling banyak dan lengkap mulai dari makanan pembuka sampai penutup. Rini irit banget makannya karena dia cuma makan ayam dan ikan. Ariy sistemnya langsung makan <em>main course</em> dan langsung kenyang. Ditta ini penyikat karbohirat alias doyan nasi, kentang, roti, dengan lauk sedikit. Kesamaan kami semua adalah doyan makan es krim. Apalagi es krim di The Papandayan ini <em>home made</em> jadi enaknya nggak ketulungan! Coba deh yang rasa Chocolate Chip dan Kopyor, pasti ketagihan! Sedangkan untuk <em>dinner</em>, kami memilih menu <em>a la carte</em>. Yang paling enak adalah Buntut Bakar (<em>Grilled Oxtail</em>). Udah porsinya gede, rasanya enak banget, plus sambalnya nendang!</p>
<p>Setelah sukses dengan acara <em>Meet &amp; Greet</em> di PVJ rame-rame sekalian sama <a href="http://mantostrip.wordpress.com/">Mantos</a>, acara di Bandung tentunya ke FO dong. Psst, jarang-jarang kami belanja baju loh, tapi kali ini kami beralasan “saatnya menghadiahi diri sendiri”. Catat, kami sama sekali tidak membeli oleh-oleh apapun untuk orang rumah. Hehe! Setelah susah payah cari ukuran gede, saya dapat juga 3 potong blus rapih yang modelnya klasik. Rini tentu dengan baju kantornya, Ditta dengan baju gaya Korea, dan Ariy yang nggak belanja apa-apa. Malam hari kami makan di daerah Dago atas sambil menikmati sejuknya Bandung. Jam 10 malam saya malah lanjut <em>meeting</em> sama bos-bos Bentang Pustaka di <a href="http://www.thepapandayan.com/facilities/mirten-lounge">Mirten Lounge</a> sambil minum bandrek.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/--3kUE9cicVU/TsGRf61EAmI/AAAAAAAABKc/7T90XPIUbHg/s288/papandayan2.jpg" alt="" width="230" height="128" /><p class="wp-caption-text">Edelweiss Spa</p></div>
<p>Hari terakhir, rencananya kami mau berenang di <a href="http://www.thepapandayan.com/facilities/hurubatu-poolbar">Hurubatu Pool</a> yang keren berlatar belakang pegunungan, tapi karena bangun siang dan keenakan bolak-balik makan di <em>breakfast buffet</em> jadilah batal. Sebenarnya ada <em>fitness</em> juga, tapi lebih enak liburan gini menikmati spa! Cocok, di The Papandayan ada <a href="http://www.thepapandayan.com/facilities/edelweiss-spa">Edelweiss Spa</a>. Kamar spa-nya keren, <em>spa therapist</em>-nya profesional. Kami pun termerem-melek dipijat! Belum puas juga, kami berendam di <em>whirlpool</em> air panas dan keluar masuk <em>sauna</em> dan <em>steam room</em> – sambil teriak-teriak menonton pertandingan bulutangkis tim Indonesia di SEA Games melalui TV layar lebar yang tersedia di ruangan spa! Ya, biar bagaimanapun kami tetap cinta Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/11/15/adv-liburan-di-bandung-sama-travel-writers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngebut naik motor gede di jalan tol</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/11/07/ngebut-naik-motor-gede-di-jalan-tol/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/11/07/ngebut-naik-motor-gede-di-jalan-tol/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 18:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=973</guid>
		<description><![CDATA[Dulu orang tua saya melarang naik motor karena bahaya. Apalagi setelah kejadian pas saya masih di dalam perut ibu, dia pernah kecelakaan motor sampai tulang panggulnya patah dan bed rest di RS. Untungnya saya lahir baik-baik saja, meski agak “gila” udah gedenya (hehe!). Saya sendiri baru bisa (diam-diam) belajar naik motor pas saya SMA kelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/dmImP_oFBJQ" frameborder="0" width="288" height="216"></iframe><p class="wp-caption-text">Ngebut naik motor gede di jalan tol</p></div>
<p>Dulu orang tua saya melarang naik motor karena bahaya. Apalagi setelah kejadian pas saya masih di dalam perut ibu, dia pernah kecelakaan motor sampai tulang panggulnya patah dan <em>bed rest</em> di RS. Untungnya saya lahir baik-baik saja, meski agak “gila” udah gedenya (hehe!). Saya sendiri baru bisa (diam-diam) belajar naik motor pas saya SMA kelas 2 di Rumbai karena orang sana mayoritas pake motor. Keahlian naik motor dilancarkan pas saya kuliah di Semarang. Kembali ke Jakarta, saya nggak berani naek motor, maka naik ojek pun jadi makanan sehari-hari. Di mana pun saya tinggal, saya punya langganan supir ojek. Siapa yang kuat sama macet Jakarta?</p>
<p>Saat <em>traveling</em>, kadang motor pun jadi alat transportasi utama, bisa sewa atau naik ojek. Di Indonesia, terutama di pedalaman, saya cukup sering ngojek, bahkan sampai ke hutan dan gunung. Emang gila rasanya kalau naik motor menuruni lereng pegunungan, atau saat jalan tidak bisa dilalui sehingga harus menggendong motornya! Pengalaman yang tidak terlupakan: naik ojek di Taman Nasional Gunung Halimun di malam hari pas gerimis. Motor kami tergelincir, saya jatuh ke lumpur, ditimpa motornya, eh ditimpa si abang ojek segede gaban juga! Sial!</p>
<p><span id="more-973"></span>Saat <em>traveling</em> di luar negeri, saya juga menggunakan ojek, contohnya di Thailand, Kamboja dan Vietnam. Maklum, motor bebek yang mudah dan murah itu memang populer di Asia. Supir ojeknya pun merangkap jadi <em>guide</em> dan akhirnya jadi berteman, bahkan nekat melamar saya (baca buku TNT2). Ya lucu aja sih, saya jadi tau kehidupan orang lokal karena diajak nongkrong segala.</p>
<p>Bagaimana di negara lain? Paling serem pas saya di India. Seperti biasa saat <em>booking</em> suatu <em>guest house</em>, saya pasti minta sekalian dijemput di stasiun KA biar nggak ribet berantem sama tukang bajaj. Sampai di Ajmer, seorang pemuda India lumayan ganteng dengan pakaian licin abis disetrika menjemput saya…  pake motor bebek! Lah, kemarin-kemarin di kota lain selalu naik mobil, ini saya terpaksa mbonceng dengan ransel gede. Gilanya, jarak Ajmer-Pushkar itu 11 km dan saya nggak dikasih helm! Belum selesai, ternyata jalannya naik melewati pegunungan yang berkelok-kelok dengan jurang di salah satu sisi! Hadoh, saya nggak mikir apa-apa selain memanjatkan doa sambil berusaha duduk tetap tegak karena takut melorot ke belakang akibat ransel yang berat! Karena si abang ini baik, beberapa hari saya diajak jalan-jalan naik motornya keliling Pushkar di atas jam 11 malam karena nungguin dia selesai kerja di <em>guest house</em> sambil sesekali nongkrong minum <em>masala chai</em> di warung. Saya kasihan juga lihat dia karena sebelah kakinya cacat karena polio sehingga motor sering oleng.</p>
<p>Berbeda di negara Barat, motor itu jarang kelihatan di jalan. Mungkin karena tingkat hidup masyarakatnya yang sudah rata-rata mapan sehingga memilih memiliki mobil atau naik transportasi umum sekalian. Atau mungkin juga karena udaranya dingin, meski di sana nggak ada yang namanya “masuk angin”. Kalau lagi <em>traveling</em> di negara Barat, saya suka rindu ojek. Abisan di sana ke mana-mana kudu jalan kaki jauh-jauh, padahal udaranya dingin. Perbedaan lain, di sana motor bisa lewat jalan tol dan <em>highway</em>. Kedua, kalaupun ada motor, saya jarang banget lihat ada motor bebek atau motor di bawah 125cc. Saya pun ngiler, pengen ngerasain ngebut naik motor gede di jalan tol yang artinya kudu di negara luar Asia. Niat harus dilaksanakan!</p>
<p>Di Israel, meski ikutan tur religius, saya berteman baik dengan <em>guide</em> lokalnya sehingga punya cara untuk kabur di luar jadwal (baca buku TNT3). Dia seorang aki-aki yang jago berbahasa Indonesia dan baik hati. Karena sering ngobrol-ngobrol, saya jadi tau kalau dia ke mana-mana naik motor gede. Langsung dong saya minta diajak dan dia mengundang saya makan malam Sabat di <em>kibbutz</em> Yahudi bersama keluarga anaknya. Saya dipinjami helm yang agak kekecilan sampe kedua pipi tembem saya menjepit hidung. Lalu dibonceng naik motor merk Suzuki Burgman 650cc berwarna hitam dari dari Jerusalem ke Jericho yang berjarak 36 km dengan kecepatan sampai 160 km/jam! Meski ini motor, pas di gerbang tol, langsung bunyi “tit” karena otomatis tercatat di mesin ERP (<em>Electronic Road Pricing</em>). Kami ngebut melewati jalan raya mulus yang membelah gurun dan pegunungan berbatu yang berwarna kemerahan saat matahari terbenam. Spektakuler banget! Dengan susah payah saya pun memvideokan perjalanan ini menggunakan kamera saku.</p>
<p><!--Nonton videonya: a href="http://youtu.be/dmImP_oFBJQ">Dari Jerusalem ke Jericho</a><br />
<iframe src="http://www.youtube.com/embed/dmImP_oFBJQ" frameborder="0" width="420" height="315"></iframe--></p>
<p>Lain lagi di Izmir, Turki. Saya sempat sewa mobil untuk liputan, eh supirnya lelaki ganteng berambut gondrong, berusia 41 tahun, dan jago berbahasa Inggris. Pas saya tanya hobinya apa, dia bilang “motorbike” lalu menunjukkan foto motor di layar ponselnya. Wew, motor gede Yamaha TDM 850cc warna merah! Langsung dong saya (jebakan betmen) minta diajak jalan-jalan naek motornya. Maka pada satu malam minggu dengan suhu 10°C, dijemputlah saya naik motornya. Baru aja kaki saya naik, eh saya dimarahin. Rupanya saya harus dipakein sama dia sarung penutup kepala sampai leher, jaket motor yang tebal, sarung tangan yang bagian buku jari ada plastik jendul-jendul, dan tentunya helm (uh, tayaang!). Beh, gaya saya udah kayak film Armagedon! Saya duduk di belakang motor yang nyaman, kayak duduk nyender di sofa dan nggak usah membungkukkan badan ke depan. Maka ngebutlah dia di jalan <em>highway</em>… kuenceeng banget! Sialnya, helm pinjaman ini bagian matanya bolong. Saya sampai merem karena takut soft lens saya lepas! Lalu kami nongkrong di daerah Kordon, tempat gaul anak muda Izmir, bersama teman-teman geng motornya yang.. jauh lebih muda dan cakep daripada dia! *geregetan*</p>
<p>Semoga suatu hari di negara-negara lain ada cowok ganteng dan baik hati lagi yang mau boncengin saya naik motor gede…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/11/07/ngebut-naik-motor-gede-di-jalan-tol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

