<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler &#187; Travel</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/category/travel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 17:40:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>[Buku baru] TraveLove &#8211; Dari Ransel Turun ke Hati</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/05/05/buku-baru-travelove-dari-ransel-turun-ke-hati/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/05/05/buku-baru-travelove-dari-ransel-turun-ke-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 17:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1137</guid>
		<description><![CDATA[Telah terbit buku baru berjudul: TraveLove &#8211; Dari Ransel Turun ke Hati! Ditulis oleh 9 travel writer ngetop yang buku-bukunya telah diterbitkan Bentang Pustaka, yaitu: Andrei  Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan Trinity a.k.a. saya Sinopsis: Ternyata, traveler tangguh pun tunduk pada cinta. Trinity misalnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1139" class="wp-caption alignleft" style="width: 161px"><a href="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2012/05/travelove-dpn2.jpg"  rel="lightbox[roadtrip]"><img class="size-medium wp-image-1139 " title="travelove dpn" src="http://naked-traveler.com/wp-content/uploads/2012/05/travelove-dpn2-189x300.jpg" alt="" width="151" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Front cover</p></div>
<p>Telah terbit buku baru berjudul: <a href="http://www.mizan.com/bentang/index.php?fuseaction=buku_full&amp;id=6160" target="_blank">TraveLove</a> &#8211; Dari Ransel Turun ke Hati!</p>
<p>Ditulis oleh 9 <em>travel writer</em> ngetop yang buku-bukunya telah diterbitkan Bentang Pustaka, yaitu: Andrei  Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan Trinity a.k.a. saya <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sinopsis:<br />
Ternyata, traveler tangguh pun tunduk pada cinta. Trinity misalnya, terpaksa menemani orang yang dicintainya ke Bromo, padahal malas setengah mati. Claudia Kaunang, Andrei Budiman, Rini Raharjanti, Sari Musdar, dkk. pun pernah tunduk pada cinta, dengan kisah berbeda-beda.<br />
TraveLove adalah kisah-kisah traveling berbalut cinta, ditulis oleh para traveler dengan segala kejujurannya. Buku ini akan membuat pembaca bisa menemukan sisi lain para traveler. Jadi, jangan kaget kalau ternyata mereka punya sisi melankolis.<br />
Tak hanya disuguhi kisah sedih, romantis, dan mengharukan, pembaca juga akan diajak jalan-jalan keliling dunia lewat buku ini. Menikmati indahnya Lombok, Laos, Jepang, hingga Eropa dengan bumbu kisah cinta tak biasa.</p>
<p>ISBN: 9786028864565<br />
Jumlah halaman: 158<br />
Harga: Rp 47.000,-<br />
Tersedia mulai hari ini di toko-toko buku di Jabodetabek dan secara bertahap di daerah lain, atau pesan <em>online</em> di <a href="http://www.mizan.com" target="_blank">mizan.com</a></p>
<p>Serbuuuuu!</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/05/05/buku-baru-travelove-dari-ransel-turun-ke-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beijing 3 tahun kemudian</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/04/07/beijing-3-tahun-kemudian/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/04/07/beijing-3-tahun-kemudian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 15:26:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah menyangka bahwa saya dapat kembali lagi ke Beijing. Semua bermula dari undangan sebuah institusi yang akan mengadakan workshop dimana saya dan editor saya, Ikhdah, jadi pembicaranya. Sebenarnya agak malas ke sana lagi, tapi berhubung semua sudah diatur jadi sudah dipastikan bakal jauh lebih nyaman daripada pengalaman bekpekingan saya dan Yasmin di tahun 2009. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-8r66_5ofOeQ/T4BXjdQ5IfI/AAAAAAAABRA/hKdt6QzMbd8/s288/IMG_7217.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Wangfujing, Beijing</p></div>
<p>Tidak pernah menyangka bahwa saya dapat kembali lagi ke Beijing. Semua bermula dari undangan sebuah institusi yang akan mengadakan <em>workshop</em> dimana saya dan editor saya, Ikhdah, jadi pembicaranya. Sebenarnya agak malas ke sana lagi, tapi berhubung semua sudah diatur jadi sudah dipastikan bakal jauh lebih nyaman daripada pengalaman <em>bekpekingan</em> saya dan Yasmin di tahun 2009. Tanggal keberangkatan sudah ditentukan, visa China dan tiket pesawat pp pun sudah di tangan. Dua hari sebelum keberangkatan, tiba-tiba saya dikabari bahwa acara itu dibatalkan dengan alasan <em>budget</em> di-<em>cut</em>! Duh, nggak profesional banget!</p>
<p>Gimana nasib visa dan tiket pesawat yang mubazir ini? Ikhdah yang belum pernah ke China “meracuni” saya untuk tetap berangkat dan mengajak patungan. Tapi ngapain di Beijing? Semua obyek wisatanya sudah pernah saya datengin dan nggak kepengen mengunjungi untuk kedua kalinya. Tambah malas lagi karena cuaca lagi dingin (3-12°C), jalannya jauh, bahasa belibet, dan tidak sempat riset. Saya pun mengontak teman-teman yang tinggal di Beijing, sekalian minta dicarikan hotel murah pake <em>corporate rate</em>. Kali ini saya berencana cuma mau santai-santai aja di Beijing dan nongkrong sama teman-teman. Setelah mengais-ngais tabungan karena berarti saya harus membayar akomodasi, makan dan transportasi sendiri, kami pun berangkat.</p>
<p><span id="more-1117"></span>Kami tinggal di sebuah hotel bintang 3 di daerah Dongzhimen, area elit pusat <em>expatriate</em> di pusat kota. Teman saya, Lizzie, yang lagi liburan Cheng Beng bersedia nemenin jalan-jalan naik mobilnya. Ikhdah pergi ke obyek wisata seperti Great Wall, Forbidden City, Temple of Heaven, dan tentunya <em>shopping</em> (Psst.. editor ternyata lebih tajir daripada penulisnya! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Sementara saya nongkrong sama teman-teman di daerah gaul macam Wangfujing, Qianmen, Houhai, Sanlitun, bahkan sempat <em>talkshow</em> di China Radio International (hebat juga, buku TNT nyampe ke China!).</p>
<p>Pergi sama orang lokal pengalamannya memang beda banget. Mereka sudah fasih bahasa Mandarin jadi mudah untuk bertanya, order makanan, menawar harga, dan lain-lain. Karena kebanyakan diantar Lizzie naik mobil, nggak ada acara nyasar-nyasaran. Kalaupun saya harus naik <em>subway</em>, di stasion sudah dijemput teman. Mau beli sesuatu atau mau makan, mereka pula yang merekomendasikan tempatnya. Wih, memang nikmat <em>traveling</em> yang nggak pake mikir! Hehe!</p>
<p>Salah satu alasan saya jadi berangkat adalah karena pengen tahu bagaimana perkembangan Beijing 3 tahun kemudian. Apakah kesannya masih sama seperti tulisan saya di buku TNT3?</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 273px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-T35nk8IUz5Y/T4BXtCkum5I/AAAAAAAABRI/XDZ1xJdMykI/s288/IMG_7404.JPG" alt="" width="263" height="137" /><p class="wp-caption-text">Peking Duck</p></div>
<p>Soal makanan, meski dibawa ke restoran sama orang lokal, tapi makanannya tetap tidak ada yang enaaak banget yang bikin saya tergila-gila. Dibanding dulu, memang yang sekarang lebih enak sih. Cuman makanannya tetap berminyak, berbumbu medok tapi berbau aneh, dan porsinya tetap raksasa. Bagi saya, rasa <em>Chinese food</em> di Indonesia masih tetap lebih enak. Namun, makanan paling enak di Beijing masih dipegang oleh Peking Duck. Bebek panggang asal Beijing ini emang nggak ada duanya di dunia! Bayangin, daging bebek bisa meleleh di mulut! Nyam nyaam! Restoran China termahal di Indonesia sekalipun belum ada yang mengalahkan aslinya.</p>
<p>Selama di Beijing, saya tidak menemukan satupun balita yang pake celana bolong di selangkangannya seperti tahun 2009. Bisa jadi karena saya tidak ke obyek wisata umum atau daerah kumuh. Tapi kata Lizzie, di Beijing memang sudah jarang sekali terlihat. Mungkin itulah sisi positifnya, perekonomiannya semakin maju sehingga sudah mampu membeli <em>diaper</em>.</p>
<p>Anehnya, bila perekonomiannya semakin maju, baru kali ini saya lihat <em>subway</em>-nya berisi pengamen dan pengemis! Padahal dulu di Beijing saya juga naik <em>subway</em> segala macam jalur tapi tidak pernah lihat.</p>
<p>Saya juga masih lihat beberapa bapak-bapak yang bertahak kencang dan buang ludah sembarangan. Memang sih tidak di tengah kota, tapi di pinggiran kota Beijing. Baguslah.</p>
<p>Dan ini lah yang paling menakutkan kalau ke China… saya trauma sama toilet umumnya! Belajar dari pengalaman, saya sengaja tidak banyak minum karena takut kebelet pipis. Akibatnya bibir saya jadi kering dan pecah-pecah. Kalaupun terpaksa pipis, saya menahan diri untuk pipis di hotel sendiri, atau di mal dan restoran. Tapi semua toiletnya tetap jijay banget baunya, bahkan masih ada aja “ranjau” yang tidak disiram dan pembalut berdarah di tempat sampahnya yang selalu terbuka! Pernah di mal, saya bela-belain ke toilet di biskop Imax 3D yang harga tiketnya aja RMB 120 (Rp 175 ribu), tapi ya ampyuun.. sudahlah, nggak usah diceritain lagi – yang jelas saya sampe hoek-hoek muntah! Malamnya Ikhdah berbagi cerita, “Tadi di KFC, ada mbak cantik santai aja keluar dari toilet dan malah ngaca. Begitu aku masuk, eh ternyata dia nggak nyiram bokernya! Kok bisa ya dia cuek begitu, padahal ketemu aku!” Nah!</p>
<p>Yang masih tetap sampai sekarang adalah orang-orang lokalnya yang tidak sopan untuk ukuran Indonesia. Entah mengapa mereka itu kok ya susah senyum dan bermuka dingin. Jangankan orang awam, tukang jualan dan <em>waitress</em> aja juteknya minta ampun. Di mall dan stasion <em>subway</em>, ketika harus membuka pintu, bukannya pintu ditahan, beberapa kali malah dibanting di depan muka saya! Pernah di Hutong, becak kami hampir ditabrak mobil. Saya pun otomatis menjerit kaget, eh si pengemudi mobil bukannya minta maaf malah melabrak saya habis-habisan! Pengalaman saya sih masih mending dibanding Ikhdah. Ia yang berbodi kecil dan bermuka tampak ketakutan, semakin habis di-<em>abuse</em> sama orang sana. Ia sampe dipepet tukang jualan dan dibentak-bentak. Komentar Ikhdah, “Haduh, orang China ini kok ndak ada unggah-ungguhnya ya? Nggak pernah senyum atau bilang terima kasih. Kalaupun kita bilang terima kasih, mereka bukannya senyum atau nunduk atau apa kek gitu?” Hihihi.. <em>welcome</em> to China!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/04/07/beijing-3-tahun-kemudian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hotel ayam di Singapura</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/03/22/hotel-ayam-di-singapura/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/03/22/hotel-ayam-di-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 16:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1107</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan: hanya boleh dibaca untuk usia 17 tahun ke atas Jalan-jalan ala backpacker dengan budget seadanya belum tentu wajib tinggal di hostel. Prinsip saya: selama ada hotel yang lebih murah daripada hostel, mendingan tinggal di hotel. Kalau lagi kere dan pengen bekpekingan di Singapura, saya tidak pernah tinggal di hostel manapun karena nemu hotel murah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Peringatan: hanya boleh dibaca untuk usia 17 tahun ke atas</strong></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 197px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-_j-y2nvTQqA/T2tU5xrwgDI/AAAAAAAABQw/ozLorGGaC04/s288/07032011%2528002%2529.jpg" alt="" width="187" height="247" /><p class="wp-caption-text">Hotel di Lorong (pic by Alda)</p></div>
<p>Jalan-jalan ala <em>backpacker</em> dengan <em>budget</em> seadanya belum tentu wajib tinggal di hostel. Prinsip saya: selama ada hotel yang lebih murah daripada hostel, mendingan tinggal di hotel. Kalau lagi kere dan pengen bekpekingan di Singapura, saya tidak pernah tinggal di hostel manapun karena nemu hotel murah meriah.</p>
<p>Nah, hotel murah di Singapura ada di daerah bernama Geylang. Nama jalannya tidak menarik, yaitu Lorong 1, Lorong 2, Lorong 3, sampai Lorong kesekian puluh (disingkat “Lor”). Stasion MRT terdekatnya di Kallang atau Aljunied. Harga hotel yang berbintang dua ini per malamnya untuk <em>twin bed</em> dulu sekitar Rp 200 ribuan, tapi sekarang sekitar Rp 300 ribuan. Kalau <em>sharing</em> berdua, lumayan banget. Hotelnya besar dengan puluhan bahkan seratusan kamar, gedungnya bertingkat belasan dan tentunya ada <em>lift</em>. Dibanding tinggal di <em>private room</em> bahkan <em>dorm </em>di<em> </em>hostel, tinggal di hotel ini mending banget. Kamarnya privat dengan kamar mandi sendiri, ber-AC dan TV <em>flat screen</em>. Meski ukuran kamarnya kecil, tapi bersiiih. Sprei, sarung bantal, selimut, dan handuk harum bersih tanpa noda &#8211; diganti pula setiap hari. Tiap kamar dapat teh, kopi, air minum kemasan, beserta teko pemanas. Dapat juga <em>amenities</em> macam sikat gigi, odol, sabun, sampo dan kadang tersedia <em>hair dryer</em>.</p>
<p>Kalau murah, apa “jebakan betmen”-nya dong? Geylang adalah <em>re</em><em>d-</em><em>light district</em> alias tempat lokalisasi prostitusi di Singapura! Yihaaa!</p>
<p><span id="more-1107"></span>Awalnya saya sungguh nggak tahu Geylang itu tempat apaan karena dulu main <em>booking </em>via internet<em> </em>aja cari hotel termurah. Setelah <em>check in</em> di kamar yang bagus, tengah malam saya keluar makan bersama Alda, teman kuliah asal Filipina. Kami baru mendarat, jadi masih pake celana panjang dan jaket. Lagi enak-enaknya makan di sebuah <em>foodcourt</em>, tiba-tiba ada oom-oom Cina gendut bercelana pendek ikutan duduk di meja kami tanpa meminta izin. Trus si oom senyum-senyum dan bertanya semacam “<em>Where are you from? Where are you going in Singapore</em>?” Kami pun menjawab dengan berbohong karena merasa terganggu. Lalu si oom menawarkan untuk membelikan makanan! Eh, apa tampang kami kelihatan miskin dan lapar ya? Selanjutnya si oom senyumnya tambah lebar plus kedip-kedip. Sialan, kami “ditawar”! Saya langsung menyepak kaki Alda di bawah meja, memberi kode agar kami segera pergi.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-puQxs0i4qIs/T2tU6fUNrXI/AAAAAAAABQ0/-EHxeZ3-HCk/s144/IMG00585-20110307-0115.jpg" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Toko &quot;ngeri&quot;</p></div>
<p>Alda syok berat sampai mau nangis. Saya sih menganggap lucu. Lumayan lah, saya yang gendut tua ini masih ada yang nawar! Hehe! Karena takut diikuti si oom, kami berkeliling dulu di sekitar Geylang Road. Malam itu bukan malam <em>weekend</em>, tapi ramai sekali. Rupanya selain toko dan restoran, ada juga bar, karaoke, dan.. <em>sex shop</em>! Setelah memperhatikan orang-orang yang seliweran, barulah saya sadar&#8230; ternyata banyak “ayam” nampang di trotoar! Cewek-ceweknya bermata sipit, langsing, putih, pake baju kekurangan bahan, tapi ada yang tua dan gendut &#8211; sebagian dari mereka digandeng oom-oom. Berjalan pulang ke hotel yang terletak di Lorong 18, saya melewati perumahan yang mirip jejeran kos-kosan. Nomor rumahnya terpampang besar dan berwarna merah menyala di boks berlampu. Dari pintunya yang terbuka kelihatan ada ruang tamu bersofa yang diduduki cewek-cewek muda. Di rumah sebelahnya malah ada cewek-cewek mejeng pake baju superseksi. Oalah, itu rumah bordil! Langsung saya didamprat Alda, “<em>Why are you taking me to stay in this red-light district</em>?!” Errr…</p>
<p>Saya jadi <em>kepo</em> tanya orang lokal berapa harga ayam di sana, katanya SGD 60 untuk 45 menit. Menurut saya sih lumayan murah dibandingkan dengan biaya hidup di Singapura. Kalau orang asing, tarif ceweknya bisa dua kali lipat. “<em>Well</em>, mereka kerja sikit laa! Mandinya saja sudah setengah jam!” katanya lagi bernada protes. Di dalam rumah bordil itu ada mucikarinya. <em>Customer</em> (hanya menerima cowok heteroseksual) boleh milih ceweknya langsung dari “akuarium”. Kalau udah <em>deal</em> dengan “menu”-nya, <em>customer</em> masuk ke dalam rumah bordil itu yang berisi beberapa kamar termasuk <em>shower</em>. Ritual standarnya adalah dimandiin dulu, baru dipijat biasa, dan terakhir “pijat plus”.</p>
<p>Rupanya prostitusi di Singapura itu legal. Geylang telah menjadi lokalisasi sejak 100 tahun yang lalu. Hebatnya, para ayam dan rumah bordil diregulasi pemerintah. Ayam diperiksa seminggu sekali untuk penyakit kelamin dan dua bulan sekali untuk HIV. Kalau ragu, <em>customer</em> berhak meminta kartu pemeriksaannya! Justru yang bahaya adalah ayam di jalanan karena kalau mereka belum terdaftar bisa ketangkep polisi dan merupakan resiko pula bagi <em>customer</em> karena kesehatan ayam tidak terjamin. Rupanya lagi, tiap Lorong memiliki andalannya sendiri. Misalnya di Lorong 8 dan 10 isinya ayam asal China, Lorong 16, 18, 20 isinya ayam Thailand, dan Lorong 12 isinya ayam Indonesia!</p>
<p>Tapi saya nggak kapok. Buktinya sampai saat ini saya udah empat kali menginap di Geylang. Selain lokasinya strategis, keuntungan tinggal di Geylang adalah banyak tempat makan yang buka 24 jam. Mau dim sum, kopi tiam,<em> Chinese food</em>, <em>Filipino food, Indian</em> <em>food</em>, bahkan ironisnya, <em>halal food</em> juga ada. Selain enak-enak, harganya pun murah. Makan seharga SGD 5 aja udah kenyang dan termasuk minum. Mau beli apa-apa juga gampang karena tokonya buka 24 jam.</p>
<p>Berbeda dengan area lainnya di Singapura, di Geylang sangat rileks. Orang-orangnya lebih ramah, peraturan pun cuek aja dilanggar. Meski ada <em>signage</em> larangan merokok, tapi di semua restoran boleh merokok. Saya aja berani menyebrang jalan raya tanpa lewat <em>zebra cross</em> ya cuma di Geylang. Buang sampah bisa langsung lempar ke jalan, tapi paginya langsung bersih seperti tidak ada keramaian di malam sebelumnya. Siang hari Geylang memang keren dengan jejeran <em>shophouse</em>-nya yang masih asli. Kalau boleh disebut keuntungan, saya nggak pernah lihat seorang Indonesia pun di Geylang.</p>
<p>Jadi, berani tinggal di Geylang? <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/03/22/hotel-ayam-di-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tua nonton konser band tua</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/03/15/tua-nonton-konser-band-tua/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/03/15/tua-nonton-konser-band-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 17:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1100</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan sahabat saya sejak kuliah, Yasmin, tanggal lahirnya cuma beda 2 minggu. Beberapa tahun belakangan ini, kami merayakan ulang tahun bersama dengan cara melakukan tantangan berupa suatu hal yang keluar dari zona nyaman. Tujuannya untuk mengingatkan diri bahwa “meski tua tapi nyali tetap muda”. Contohnya tahun lalu kami sama-sama nekat mencoba reverse bungy jumping [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-CO8OuR1J6xE/T2DQYy06cUI/AAAAAAAABQk/tJ88_dVaz5Y/s288/IMG_7175.JPG" alt="" width="288" height="216" /><p class="wp-caption-text">Duran Duran live in Singapore</p></div>
<p>Saya dan sahabat saya sejak kuliah, Yasmin, tanggal lahirnya cuma beda 2 minggu. Beberapa tahun belakangan ini, kami merayakan ulang tahun bersama dengan cara melakukan tantangan berupa suatu hal yang keluar dari zona nyaman. Tujuannya untuk mengingatkan diri bahwa “meski tua tapi nyali tetap muda”. Contohnya tahun lalu kami sama-sama nekat mencoba <em>reverse bungy jumping</em> di Singapura. Tapi lama-lama <em>we</em> <em>set the bar too high</em>, sehingga bingung juga mau melakukan apa yang  lebih gila lagi setelah <em>bungy jumping</em>.</p>
<p>Tahun 2012 ini kami merayakannya dengan nonton konser band Duran Duran. Loh, apa gilanya dong? Bagi penikmat musik, nonton konser adalah hal yang biasa. Tapi bagi saya yang kapok nonton konser malah jadi senewen. Terakhir kali saya nonton konser band adalah Linkin Park di Ancol tahun 2004. Saya hanya bertahan jejingkrakan di tiga lagu pertama. Abis itu, saya sesak napas dan perut mual karena klaustrofobik kegencet ribuan orang. Kepala juga berasa pusing karena berasa ada gempa akibat penonton loncat-loncat di tanah. Akhirnya saya melipir ke pagar belakang sambil merangkak! Sementara si Yasmin nggak pernah nonton konser kecuali di acara sekolah. Maka pilihan teraman bagi yang sudah terkena “Faktor U” seperti kami adalah nonton konser band tua di Singapura dengan harapan lebih tertib.</p>
<p><span id="more-1100"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 118px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-viNFPkfgI-Y/T2DPQN1bG6I/AAAAAAAABQU/nMk_xq4ttD4/s144/duranduran_l.jpg" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">Duran Duran 1980an (pic by Simon Fowler)</p></div>
<p>Untuk <em>yesterday afternoon child</em> (istilah si Yasmin untuk “anak kemarin sore”) yang nggak ngerti siapa itu Duran Duran, mereka adalah band <em>rock</em> asal Inggris yang sangat terkenal sedunia di awal tahun 1980an. *<em>Doh, ketauan deh tuwirnya gue!</em>* Anggotanya adalah Simon Le Bon, Nick Rhodes, John Taylor, Roger Taylor, Andy Taylor yang cakep-cakep dengan dandanan metroseksual, sampe dijuluki “<em>the prettiest boys in rock</em>”. Video klipnya keren-keren, sampe saya aja masih inget jelas adegannya. Sampai saat ini mereka telah merilis 14 album dalam 34 tahun berkarya. Nah, kebayang kan seberapa tuanya mereka sekarang?</p>
<p>Enaknya konser di Singapura, kita bisa dengan mudahnya beli tiket <em>online</em> dan tiket akan ditukar di loket stadion sejam sebelum konser dimulai. Pas beli, saya pun ngakak… ternyata ini konser duduk! Jadi, stadion gede begini ada nomor kursinya, termasuk tiket yang termahal yang duduk di depan panggung. Dasar band tua dan ditonton orang tua, sampe nggak ada tiket festival padahal Duran Duran adalah <em>rock band</em>. Positifnya, kami bakal aman dari “gempa”.</p>
<p>Untuk menambah faktor “gila”, kami janjian untuk nonton dengan <em>dress code</em> dandanan ala tahun 80an. Duran Duran memang cocok ditonton dengan ikutan berdandan ala mereka. Tapi dandan itu pun bukan gaya kami banget, secara lipstik aja kami nggak punya. Untungnya sahabat saya sejak SMA, Sri, ikutan nonton dan punya peralatan lenong.</p>
<p>Setelah seharian jalan-jalan keliling Singapura, sore itu kami kembali ke hotel dengan niat dandan heboh sebelum konser dimulai jam 8 malam. Dasar tuwir, bukannya dandan, kami semua malah ketiduran saking capeknya! Tanpa mandi, kami buru-buru ganti baju. Saya pake <em>tank top</em> dilapis kaos gombrong bergambar jadul dengan leher lebar dan celana gombrong. Yasmin pake <em>skinny jeans</em> yang digulung, <em>tank top,</em> dan kemeja denim kedombrangan yang diiket di pinggang. Sri pake <em>tank top</em>, blus model sabrina, <em>legging</em> dan <em>leg warmer</em> (semacam kaos kaki panjang yang digulung). Untuk menambah ke-80an-an, kami semua pake <em>headband,</em> rambut model awut-awutan, dan <em>make up</em> menor (sampai bibir saya terlihat seperti abis makan bayi saking merahnya)!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-4HPFgqQNiVA/T2DPar8-wtI/AAAAAAAABQc/wJmGrDspKM8/s144/nenek2.jpg" alt="" width="144" height="130" /><p class="wp-caption-text">Dandanan penonton</p></div>
<p>Saking nggak beraninya berdandan begitu di depan umum, kami berjalan kaki sambil ngebut ke jalan utama dan memutuskan untuk naik taksi. Duh, rasanya deg-degan setengah mati! Turun pun jauh-jauh dari Singapore Indoor Stadium dan berharap semoga nggak ketemu siapa-siapa. Setengah berlari kami mendekati stadion… eh nggak taunya sebagian besar penonton adalah bule yang juga berdandan ala 80an! Bahkan mereka jauh lebih niat dengan pakai <em>wig</em>, rok <em>tutu</em>, <em>stocking</em> jala-jala, dengan warna lebih ngejreng! Hebatnya lagi, yang dandan bukan hanya cewek, tapi juga cowok, dan mereka berusia 40-50an! Kami pun saling menyapa, bahkan bule-bule itu memuji dandanan kami. Ah, ternyata kami termasuk generasi termuda di situ dengan dandanan 80an yang paling nggak niat! Hehe! FYI, di sana orang Asia berdandan biasa, dan orang Indonesia berdandan bak ke pesta.</p>
<p>Maksud hati mau foto di depan poster Duran Duran, ternyata dari jalan raya sampai ke dalam stadion tidak ada sama sekali poster, umbul-umbul, maupun spanduk konser! Di halaman stadion pun hanya ada satu <em>booth</em> jualan makanan dan minuman (yang gelasnya pun boleh dibawa masuk) dan satu <em>booth</em> jualan <em>merchandise</em>. Masuk ke stadion berkapasitas 12.000 orang ini pun nggak pake besi penghalang dan tidak kelihatan polisi berkeliaran. Petugas hanya ada beberapa yang jaga di pintu, itu pun kebanyakan nenek-nenek. Semua penonton mengantri masuk dengan tertib dan dapat dengan mudah menemukan nomor kursi karena petunjuknya sangat jelas terpampang di mana-mana. Stadion terisi hampir penuh tapi AC berasa superdingin. Aih, beda banget sama di Indonesia! Atau karena ini Duran Duran ya?</p>
<p>Karena beli tiket termurah seharga SGD 98, kami duduk di paling atas dan paling jauh dari panggung. Meski muka anggota band nggak kelihatan, tapi tata panggung, <em>lighting</em> dan <em>sound system</em>-nya oke. Lagu pertama semua terdiam karena merupakan lagu dari album yang baru dirilis tahun 2011. Lagu kedua <em>Planet Earth</em>, barulah semua penonton bangkit dari kursinya dan mulai joget-joget. Vokalis Simon Le Bon suaranya nggak berubah, meski gayanya udah nggak selincah dulu karena sekarang jauh lebih gendut. Main musiknya pun sempurna, meski melodi seperti itu berasa jadul banget untuk ukuran sekarang. Bedanya, kali ini mereka berdandan standar berbaju hitam, tidak sewarna-warni dulu. Simon bahkan melucu dengan mengatakan bahwa sekarang ia sudah sulit membaca daftar urutan lagu karena tidak bawa kacamatanya. <em>Oh, so sweet</em>!</p>
<p>Lagu keempat, dasar tuwir, kami udah kebelet pipis. Kembali dari toilet, kami menyelinap ke balkon lantai tengah stadion sehingga pandangan ke panggung lebih dekat. Rupanya banyak penonton melakukan hal yang sama karena pengen jejingkrakan bebas, meski gaya jogetnya pun jadul banget. Nyaris dua jam kami dihibur dengan lagu-lagu andalannya tahun 1980an seperti<em> A View to a Kill, The Reflex, Hungry Like the Wolf, Notorious, Wild Boys,</em> <em>Rio, </em>dan yang dirilis awal 1990an seperti <em>Ordinary World</em> dan <em>Come Undone. </em>Tanpa malu-malu (dan tidak pake desak-desakan) kami bernyanyi dan bergoyang bersama. Wah, serasa balik ke jaman ABG lagi!</p>
<p>Di penghujung konser, layar proyektor menampilkan wajah anggota Duran Duran (yang sekarang tinggal berempat) secara <em>close up.</em> Saya baru sadar bahwa mereka sudah tua dengan muka peot, keriput, dan rambut ubanan. Dan ketika melihat sekeliling, penontonnya pun rata-rata setua mereka. Namun penampilan Duran Duran dan penonton sama-sama tak kenal umur, persis seperti berada di tahun 80an. Bahkan idola saya, si <em>drummer</em> Roger Taylor masih <em>cool</em> dan ganteng! Setelah lebih dari 20 tahun, <em>it’s a great come back, both for Duran Duran and us! </em></p>
<p>Mau tahu apa tantangan ulang tahun kami tahun 2013? Tunggu aja ya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/03/15/tua-nonton-konser-band-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keliling dunia makan seafood</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/03/09/keliling-dunia-makan-seafood/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/03/09/keliling-dunia-makan-seafood/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 18:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1092</guid>
		<description><![CDATA[Saat saya tinggal sebuah homestay di Misool, Raja Ampat, paket menginapnya sudah termasuk makan. Saya yang selalu kelaparan selalu pengen tahu makan jam berapa dan makan apa, tapi selalu dijawab, “Tunggu saja ikan hasil pancingan.” Penduduk desa di pinggir laut Papua yang sehat yang tidak memiliki listrik ini, makanannya bergantung sepenuhnya dari laut. Maka sehari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-Q68kIWX832w/T1jxGACouEI/AAAAAAAABQE/c5Fmm1h3MOc/s288/IMG_1106.JPG" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Moonfish di Korea</p></div>
<p>Saat saya tinggal sebuah <em>homestay</em> di Misool, Raja Ampat, paket menginapnya sudah termasuk makan. Saya yang selalu kelaparan selalu pengen tahu makan jam berapa dan makan apa, tapi selalu dijawab, “Tunggu saja ikan hasil pancingan.” Penduduk desa di pinggir laut Papua yang sehat yang tidak memiliki listrik ini, makanannya bergantung sepenuhnya dari laut. Maka sehari tiga kali selama hampir seminggu saya makan ikan dan nasi. Memang nikmat makan ikan yang dimasak begitu habis dipancing! Orang sana menyebutnya sebagai “Ikan mati sekali”. Saya langsung membayangkan makan ikan di Jakarta yang ditangkap entah di mana, dibunuh, dimasukkan es, dipeti, naik kapal berhari-hari, pindah ke beberapa suplier, dijual di supermarket, sampai dimasak di rumah. Wah, matinya berapa kali itu? Pantas rasanya jauh berbeda!</p>
<p>Ketika setiap hari makan ikan (enak), saya tidak keberatan. Yang keberatan adalah ketika setiap sarapan makan nasi goreng pake ikan. Maka hari keempat saya bilang ke anak pemilik <em>homestay</em> untuk mengganti ikan dengan telur untuk makan pagi. Jawabnya, “Ngapain makan telur? Orang di Jawa itu makan telur karena tidak ada ikan di sana! Di sini kan banyak ikan dan tinggal ambil saja!” Err.. bukan begitu maksudnya, cuman berasa nggak nyambung aja. Saya dan teman-teman pun patungan membeli telur yang harganya mahal di warung.</p>
<p><span id="more-1092"></span>Di Indonesia Timur, terutama di pulau terpencil, harga ayam dan telur jauh lebih mahal. Harga KFC di Ambon dan Sorong lebih mahal daripada di Pulau Jawa, bahkan harga sebutir telur di Pulau Hoga (Wakatobi) aja Rp 5.000! Meski penduduk yang tinggal di pesisir Jawa atau di Indonesia Barat makan ikan juga, sepertinya cuma di Indonesia Timur yang ikannya gede-gede dan beragam. Contohnya di Maluku, seekor ikan besar sebesar tangan (bukan telapak doang) adalah untuk porsi satu orang. Padahal kalau di rumah, seekor ikan besar itu dibagi untuk sekeluarga. Teman saya yang asli orang Selayar (Sulawesi Selatan) sampe stres ketika pindah ke Bandung karena sulit makan ikan. Menurutnya, ikan mujair yang ukurannya mini itu bukan termasuk kategori ikan.</p>
<p>Untungnya tinggal di Indonesia yang negara kepulauan, kita terbiasa makan aneka <em>seafood</em> karena cukup mudah didapatkan, apalagi bagi yang tinggal di pesisir. Ikan paling enak yang berasal dari perairan terdekat di Jakarta menurut saya adalah ikan bandeng yang beli langsung di Kepulauan Seribu. Di sebuah pulau, ada tambak ikan bandeng dan parbrik pencabutan duri. Setiap hari ada puluhan ibu bekerja nyabutin duri bandeng… pake pinset! Itulah kelebihan bandeng di sana: tidak berbau lumpur, plus tidak ada duri sama sekali. Ada sih dijual di supermarket, cuman beli di sana lebih segar dan lebih murah.</p>
<p>Pengalaman makan <em>seafood</em> di luar negeri pun unik. Lansekap dan budaya di suatu negara itu mempengaruhi jenis kulinernya. Contohnya India yang sebagian besar wilayahnya adalah daratan dan banyak yang vegetarian, maka tidak terbiasa makan <em>seafood</em>. Sebulan di India, saya tidak pernah makan ikan sekalipun. Banyak teman kuliah saya yang orang India baru pertama kali makan cumi dan kepiting di Filipina. Penduduk di negara yang sebagian besar daratan biasanya makan ikan yang dihasilkan dari danau atau sungai. Contohnya di Israel, ada ikan yang terkenal dengan nama “Ikan Petrus” (<em>Saint Peter’s fish</em>) di kota Tiberias persis di tepi Danau Galilea. Disebut ikan Petrus karena di danau itu tempat Rasul Petrus menjala ikan. Sejatinya ikan itu sejenis ikan nila, namun berukuran besar. Orang sana memakan ikan Petrus dengan kentang dan salad, tapi saya memesan nasi pake sambal <em>sachet</em> bawa dari rumah.</p>
<p>Kebiasaan orang Indonesia kalau makan, semuanya dimakan sampai bersih – semua digerogotin, diisep-isep, pake tangan pula. Saya menyadarinya ketika makan <em>seafood</em> di luar negeri. Ketika orang Barat makan ikan dengan mem-<em>fillet</em> dagingnya menggunakan pisau dan garpu meski porsi satu ikan satu orang di piring masing-masing, saya maen comot pake tangan bahkan memakan bersih kepala ikannya. Ketika udang goreng dikuliti dulu, saya makan semua sampai ekornya. Paling lucu ketika di Palau, saya dan Yasmin makan kepiting. Harganya mahal USD 50/ekor. Untungnya seekor itu ukurannya superbesar, cangkang perutnya aja sebesar piring. Kami menghabiskan berjam-jam untuk menghabiskannya, karena sibuk memotong dan mengisap sampai bersih. Berbeda dengan meja lain yang bersih, meja kami yang bertaplak kertas sampai penuh dengan potongan-potongan cangkang kepiting bak habis perang. Para <em>waiter</em> dan tamu lain di restoran itu sampai terbelalak matanya melihat kami yang <em>nggragas</em>! Haha!</p>
<p>Di Pantai Cesme, Turki, bosan dengan makan daging-dagingan, saya pengen makan <em>seafood</em>. Saya dan seorang teman pun pergi ke salah satu restoran kecil di ruko yang nyempil di gang. Ikan-ikan segar sebesar telapak tangan dipajang di atas tumpukan es. Dengan riang gembira, saya asik milih-milih ikan untuk dimasak. Ikan pun ditimbang, rupanya harga ikan dihitung per gram. Tak lama kemudian, si pemilik restoran yang tidak bisa berbahasa Inggris, menuliskan sesuatu di secarik kertas: 50 TYL/pc. Hah? Rp 260.000,- untuk seekor ikan bakar? Mahal banget! Saya langsung mau pingsan! Reaksi saya selanjutnya adalah membatalkan order, dari tadinya 3 ikan jadi 1 ikan berdua. Hiks. Masalah selanjutnya, makan ikan itu cocoknya pake nasi putih. Pemilik restoran pun membeli nasi dari restoran sebelah dan setiap orang yang lewat mentertawai kami. Rupanya orang Turki menganggap makan ikan pake nasi adalah hal yang sangat aneh, karena ikan itu cocoknya dimakan pake roti tawar, sementara daging cocoknya dimakan pake nasi.</p>
<p>Di Seoul, Korea Selatan, pertama kali saya makan <em>moonfish</em>. Katanya ini ikan enak banget dan hanya terdapat di laut dalam di Korea jadi merupakan andalan negara itu. Di restoran yang terkenal ini, saya makan <em>moonfish</em> yang disup. Rasanya ikannya sih enak karena kenyal dan berlemak, tapi bumbunya ya rasa kimchi aja gitu. Lagi enak-enak makan, pemilik restoran mendatangi meja kami sambil membawa <em>moonfish</em> hidup. Duh, selera makan saya langsung hilang seketika saat melihat si ikan ini. Bentuknya kayak ikan purba dengan kepala bulat dan mulut yang lebar! Waks! Lalu si <em>waiter</em> memasukkan sesuatu ke dalam sup saya. Saya tanya apa, dia menyebutkan suatu kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “<em>sea sperm</em>”. Hah? Entah hewan apa lagi itu, yang jelas perut saya mulai berontak.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 118px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-HVxGrquUBkQ/T1jzanfzdHI/AAAAAAAABQM/jE32KEYV978/s144/IMG_7117.JPG" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">sampah di lantai</p></div>
<p>Di Da Nang, Vietnam, bosan makan mie khas sana, saya pun mencari <em>seafood</em>, mumpung di pinggir pantai dan sungai. Malam hari berjalan kaki, saya menemukan restoran <em>seafood</em> yang sangat ramai pengunjung. Saya pun duduk di meja pendek dan dingklik. Restoran yang lebih mirip warung ini joroknya minta ampun, lantainya penuh dengan sampah makanan. Problem selanjutnya adalah gimana ngomongnya untuk memesan makanan? Si <em>waitress</em> berinisiatif memberikan selembar kertas bertuliskan menu dalam bahasa Inggris. Curiganya ia tidak bisa menerjemahkan semua makanan karena hanya ada beberapa pilihan. Saya pun menunjuk-nunjuk menu. Hasilnya? Datanglah nasi, mayones, dan sepiring cumi kukus &#8211; padahal saya pesan cumi bakar! Sungguh <em>seafood</em> dengan paduan teraneh! Saya pesan lagi udang bakar dengan menunjuk makanan meja sebelah. Kulit udangnya dibuang ke mana? Si <em>waitress </em>menunjuk lantai! Oalahh pantas!</p>
<p>Saya sungguh kasihan dengan orang yang alergi <em>seafood</em>, biasanya sih alergi dengan <em>shellfish</em>. Duh, makanan begitu enaknya kok nggak bisa? Si Yasmin sendiri sangat doyan <em>seafood </em>tapi kadang alergi kalau tidak segar. Saya pernah lihat mukanya jadi <em>moon face</em> alias mukanya bengkak bak bulan karena makan lobster di Pelabuhan Ratu. Kabar buruk, bulan lalu saya <em>medical check up</em>, ketahuan lah bahwa kolesterol saya cukup tinggi. Dokter menyarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi termasuk udang dan kepiting! Haduh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/03/09/keliling-dunia-makan-seafood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disiksa Kurisi</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 17:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1086</guid>
		<description><![CDATA[Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat. Tapi tempat yang luar biasa indah bak surga itu tentu ada “jebakan betmen”-nya. Ya, tidak segampang itu mencapai Misool! Maklum, semakin jarang ada manusia, maka semakin indah alamnya. Misool yang menjauh sendiri lokasinya di selatan Raja Ampat sampai saat ini aksesnya masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 226px"><img class=" " src="https://lh5.googleusercontent.com/-8x3mZjn_gI8/TzgFF73lGyI/AAAAAAAABPo/Z5ecaU1Yz8A/s288/IMG_6174.JPG" alt="" width="216" height="288" /><p class="wp-caption-text">Pagi hari kapal masih sepi</p></div>
<p>Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat. Tapi tempat yang luar biasa indah bak surga itu tentu ada “jebakan betmen”-nya. Ya, tidak segampang itu mencapai Misool! Maklum, semakin jarang ada manusia, maka semakin indah alamnya. Misool yang menjauh sendiri lokasinya di selatan Raja Ampat sampai saat ini aksesnya masih sangat terbatas. Kapal reguler Sorong-Misool hanya ada minimal seminggu sekali, itupun dengan jadwal yang nggak jelas. Mau sewa <em>speed boat</em> sendiri bisa, tapi harganya mencapai Rp 10 juta! Jadi pilihannya: punya duit banyak atau waktu yang panjang.</p>
<p>Kami sangat tertolong saat berangkat Sorong-Misool bisa nebeng kapal milik salah satu LSM, tapi pulangnya terpaksa harus menggunakan kapal perintis. Sebenarnya masih betah banget tinggal di Misool, tapi kalau harus menunggu seminggu lagi takutnya tidak terkejar pesawat ke Jakarta. Dari Harfat<em> </em>Homestay jam 10.30 pagi, kami diantar naik <em>boat</em> ke kapal bernama KMP Kurisi yang bercat putih dan berkarat. Setelah susah payah memanjat pinggiran kapal… <em>jreng</em>, terjebaklah saya ke dalam lautan manusia!</p>
<p><span id="more-1086"></span>Sebenarnya KMP Kurisi adalah kapal jenis Roro, alias kapal kargo pengangkut kendaraan beroda sehingga bagian tengah dan belakangnya kosong &#8211; jadi bukan kapal yang diperuntukkan untuk penumpang manusia. Namun kapal telah dimodifikasi dengan dipasangnya tenda terpal pada atapnya dan papan-papan kayu pada lantainya agar penumpang dapat duduk tidak kena terik matahari. Ratusan orang segala umur tumpah ruah di situ, persis kayak militer mau perang, atau lebih parahnya lagi, kayak pengungsi. Mau jalan harus berhati-hati takut menginjak kaki bahkan kepala orang yang sedang tidur. Bawaan mereka pun bukan hanya tas, tapi juga kardus, karung, peti, ikan, dan sembako.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 118px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-fEpbP5OdSu8/TzgFJKZjkcI/AAAAAAAABPw/ywquU5ePMIs/s144/IMG_6173.JPG" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">Selamatkan dirimu!</p></div>
<p>Saya diperkenalkan dengan salah seorang ABK (Anak Buah Kapal) yang menerima <em>side job</em> dengan menyewakan kabin kamarnya yang tak berjendela di lantai dua. Di dalam kabin hanya ada tempat tidur susun ukuran kecil dan <em>space</em> kosong di lantai yang selebar pantat. Di luarnya, tempat jalan umum pun sudah dikapling para penumpang dengan tikar sewaan. Ada juga ruangan di samping kabin yang terdapat belasan kursi, TV rusak, dan satu lemari bercat <em>pink</em> yang digembok berisi… <em>life jacket</em>! Saya langsung mual, membayangkan keadaan darurat dimana ratusan orang berebutan membuka lemari dengan paksa.</p>
<p>Kabar buruknya lagi, kami diberitahu ABK itu bahwa KMP Kurisi kecepatannya 7 knot, jadi Misool-Sorong ditempuh dalam waktu 15 jam atau bakal nyampe jam 3 pagi! <em>What</em>? Itu kan lambatnya sama kayak kita naik sepeda dari Jakarta ke Bandung! Baru sadar bahwa tebengan <em>speed boat</em> minggu lalu itu bagaikan naik mobil karena hanya 3 jam. Haduh, bagaimana menghabiskan waktu 15 jam di kapal kacrut dan sumpek macam ini? Padahal saya sudah pernah naik segala jenis kapal laut. Kapal feri dari Lampung ke Merak adalah yang terburuk di dunia, tapi hanya 3 jam. Rekor terlama saya naik kapal pun 7 hari, tapi naik kapal phinisi yang mewah. Namun baru kali ini saya merasa waktu berjalan sangat lambat! Setiap lihat jam, penambahannya hanya tiap 15 menit.</p>
<p>Awalnya masih lucu, saya, Nina dan Yasmin ngobrol-ngobrol sambil memperhatikan orang lalu lalang. Sejam kemudian kapal berhenti dan mengangkut ratusan penumpang lagi! Sepertinya memang tidak ada batasan jumlah penumpang. Weleh, kapal makin ramai dan sumpek! Lama-lama perut mulai keroncongan, saya pun pergi ke kantin. Ternyata kantin tidak menjual nasi dan lauk pauk, tapi hanya pop mie! Baru ambil satu, eh tau-tau udah abis aja dibeli orang. Saya langsung stres, masih ada belasan jam tanpa makanan berat – padahal ketakutan terbesar saya adalah kelaparan. Saya menyesal tidak minta dibawakan makanan dari <em>homestay</em> karena katanya di kapal ada yang jual. Sejam kemudian, giliran Nina ke kantin. Dan kantin tutup begitu saja! Aww! Kami pun makan kue bolu sisa sarapan sambil melihat para penumpang lain asyik makan dari rantang bawaan sendiri. Ada nasi, ikan goreng rica, sayur singkong. Gleg!</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-I9wWzhWD5Bk/TzgE8cLVbwI/AAAAAAAABPg/5pxtbeklMmI/s144/kurisi%2520kabin.jpg" alt="" width="144" height="124" /><p class="wp-caption-text">Uwel2an di kabin</p></div>
<p>Berjam-jam kemudian kami mati gaya. Memotret dengan gaya biasa sampe gaya ngaco udah bosan, mengedit foto dengan berbagai macam efek udah kelar, baca buku udah tamat, main Angry Bird di Iconia udah sampe mentok levelnya. Mau ngapain lagi, coba? Diperparah lagi dengan kabin yang cuma muat dua orang sehingga kami bertiga harus bergantian keluar-masuk. Oh, badan udah basah keringat, mau ngomong pun yang keluar kebanyakan huruf ‘h’ saking lelahnya.</p>
<p>Tepat jam 7 malam, saya pergi lagi ke kantin, dan… pop mie sudah habis! Berkaca dari pengalaman makan siang, saya langsung kalap membeli biskuit, kacang, air mineral, teh kotak, masing-masing dikali tiga seharga Rp 50 ribu. Benar saja, setelah itu kantin diserbu penumpang. Zet! Habis semua dagangan yang ada di kantin! Penjaga kantin langsung menutup kios, dengan cueknya mereka membuang sampah makanan dan botol minuman langsung ke laut! Kembali ke kabin, setengah menangis kami “makan malam mini” bersama.</p>
<p>Tentu lama-lama perut kami berontak. Saya jadi ingat ada seorang pria yang menawarkan “Nasi goreng! Nasi goreng!” dengan suara lantang. Cling! Saya langsung jelalatan mencari orang yang berpakaian kuning dan membawa balon itu. Tiba-tiba suaranya makin dekat, saya pun mencegatnya dan bertanya, “Kau tadi bilang jualan nasi goreng. Mana nasi gorengnya? Kami lapar sekali!”<br />
“Nasi goreng? <em>Tarada</em>!” jawabnya sambil tersenyum.<br />
“Loh kok nggak ada? Trus, kenapa kau tawarkan nasi goreng?”<br />
“Maksudnya, kalau nanti kapal mendarat di Sorong, baru saya masak nasi gorengnya. Kalau sekarang <em>tarada</em> nasinya.”<br />
“Berarti kau menipu dong?”<br />
“Tidak! Kan hanya bercandaa…”<br />
Sialan, <em>joke</em>-nya nggak lucu sama sekali! Mungkin dia memang tukang jual balon, dan “nasi goreng” itu adalah strateginya untuk menarik perhatian pembeli. Tapi, sekapal aja nggak ada yang jualan makanan, masa dia nekat jualan balon? Kami pun tertawa guling-guling karena kena tipu orang gila!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 118px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-9Iav2VFFLIU/TzgFPDbrVgI/AAAAAAAABP4/3zfD3mbJ3AE/s144/kurisi2.JPG" alt="" width="108" height="144" /><p class="wp-caption-text">Ada yg tidurnya imut <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Perut lapar, orang tumpah ruah, dan sumpek kepanasan merupakan kombinasi yang mematikan selama belasan jam di dalam kapal ini. Air minum yang cuma sebotol 600 ml itu saya irit-irit karena tidak punya stok lagi, plus malas ke toilet di lantai bawah karena harus berjuang untuk berjalan di antara lautan manusia. Malam itu sebagian besar penumpang tidur, atau pura-pura tidur. Sebagian lagi masih ada yang berjudi kartu, main catur, atau mendengarkan lagu dari <em>handphone</em> tanpa <em>headset </em>sehingga segala macam musik terdengar bersahutan. Saya sempat tidur sebentar di kabin yang terasa seperti sauna saking panasnya, tapi terbangun karena digigit kutu busuk yang bikin badan bentol-bentol dan gatal luar biasa. Duh, lengkap sudah penderitaan saya disiksa Kurisi!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/14/disiksa-kurisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raja Ampat adalah surga lantai ke-9!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 12:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1073</guid>
		<description><![CDATA[Turun dari kapal LOB (live on board) di Sorong, saya, Nina dan Yasmin rencananya mau jalan-jalan ke bagian lain di Papua karena masih punya 2 minggu liburan. Kami pun pergi ke bandara dan beberapa travel agent untuk nanya info pesawat dan kapal laut. Serasa ditampar, kami disadarkan bahwa Papua itu gedee banget! Naik pesawat bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><img class=" " src="https://lh6.googleusercontent.com/-gQkjG6HBKJY/TzJVB0Wc6tI/AAAAAAAABO4/yFmN4GPmwVs/s288/IMG_5957.JPG" alt="" width="162" height="288" /><p class="wp-caption-text">Salah satu pantai di Misool</p></div>
<p>Turun dari kapal LOB (<em>live on board</em>) di Sorong, saya, Nina dan Yasmin rencananya mau jalan-jalan ke bagian lain di Papua karena masih punya 2 minggu liburan. Kami pun pergi ke bandara dan beberapa <em>travel agent</em> untuk nanya info pesawat dan kapal laut. Serasa ditampar, kami disadarkan bahwa Papua itu gedee banget! Naik pesawat bisa empat kali ganti, naik kapal bisa berhari-hari lagi. Setelah dihitung-hitung, harga dan waktu tidak sebanding untuk melanjutkan ke Biak, Nabire, apalagi ke Jayapura dan Wamena. Akhirnya kami memutuskan untuk balik lagi ke Raja Ampat – saking cintanya.</p>
<p>Tapi ke bagian mananya? Raja Ampat itu luasnya 46.000 km² atau hampir seluas provinsi Jawa Timur! Dengan lebih dari 1.500 pulau, sebagian besar dari wilahnya adalah laut. Berbekal informasi dari sana-sini, termasuk cari kenalan di Twitter, kami pergi ke Misool yang berada jauh di selatan Raja Ampat dan pas dapat tebengan <em>speed boat</em> milik TNC. Di distrik Misool hanya ada dua penginapan, yaitu resor milik bule seharga ribuan Euro di Babitim dan <em>homestay</em> lokal di Desa Harapan Jaya dengan harga ratusan ribu. Tentu kami pilih yang kedua meski masih termasuk mahal. Karena daerah kepulauan, kendaraan di sana ya kapal bermotor. Untungnya kami bertiga, jadi bisa patungan menyewa <em>boat</em> yang cukup mahal mengingat harga bensin di Papua itu tinggi dan ketersediaanya terbatas. Setiap hari kami menyewa <em>speed boat</em> untuk berkeliling dan tinggal menunjuk pulau mana yang akan disinggahi untuk berenang.</p>
<p><span id="more-1073"></span>Sepanjang jalan (di laut), mulut saya menganga: sungguh indah distrik Misool! Contohnya daerah Sumalelen yang jauh lebih bagus daripada Wayag yang terkenal itu, meski tidak ada <em>view point</em> dari ketinggian bukit. Pulau-pulau karstnya yang rapat ditumbuhi pohon itu berjarak dekat satu sama lain, sehingga seperti berjalan di labirin &#8211; kalau bawa <em>boat</em> sendiri pasti saya sudah nyasar nggak karuan. Formasi batunya pun unik, mirip seperti pohon natal dengan lapisan bebatuan yang bertumpuk dan meruncing. Yang menariknya lagi, dinding batu di sebagian pulau terdapat lukisan purba yang digambar menggunakan <em>ochre</em> (pigmen dari tanah liat), mirip lukisan Aborigin yang saya pernah lihat di Kepulauan Kei, Maluku. Air lautnya pun sungguh mengundang untuk nyebur!</p>
<p><img class="alignright" src="https://lh5.googleusercontent.com/-scenOypCKps/TzJW7lsUaKI/AAAAAAAABPI/IRPVhTO-4wM/s288/IMG_6074.JPG" alt="" width="162" height="288" />Suatu siang kami mampir ke pulau yang ada kolam air tawar. Pak Kepala Desa Yellu memelihara ikan bandeng, ikan mas, dan mujair di kolam tersebut. Ia menawarkan makan, lalu dibakarlah beberapa ikan dengan menggunakan kayu bakau. Ya ampun, itu bandeng yang paling enak yang pernah saya makan seumur hidup! Ukuran bandengnya sebesar tangan jadi duri-duri halusnya tidak ada, plus tidak berbau lumpur sama sekali. Begitu pula dengan ikan mujair dan mas, semua berasa manis dan gurih meski cuma dibakar tanpa garam dan bumbu! Enyaaak! Pak Kades bilang bahwa di balik bukit itu terdapat danau prasejarah yang berisi <em>stingless jellyfish</em> (seperti di Derawan dan Palau), hanya saja belum dibuat jalan untuk <em>trekking</em> dan untuk mencapai danau itu katanya sampai “setengah mati”. Saya hanya berharap danau itu nantinya bisa dikelola dengan baik sehingga tidak rusak.</p>
<p>Distrik Misool memiliki pantai-pantai paling sempurna. Sempurna menurut saya yang doyan berenang adalah pulau yang berpohon, lalu pasir putih yang panjang dan lebar, lalu air laut tanpa ombak yang dasarnya pasir doang (tidak ada rumput laut atau terumbu karang, sehingga serasa berenang di kolam renang), lalu sekitar 25 meter ke arah laut barulah hamparan terumbu karang cantik yang penuh dengan ikan warna-warni. Jadi bisa leyeh-leyeh di bawah pohon, jumpalitan di pantai, berenang di laut, dan <em>snorkeling</em> melihat biota laut. Tambah sempurna lagi dengan hadirnya &#8221;<em>ABK babes</em>&#8220;, alias cowok-cowok tukang kapal/nelayan asli Indonesia Timur yang perutnya kotak-kotak. Berenang di pantai indah ditambah pemandangan menggiurkan = sedaap! <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hampir seminggu di Misool, kami kembali ke Sorong karena pas ada kapal KMP Kurisi yang hanya datang seminggu sekali, kalau lancar. Dari Sorong kami naik kapal ke Pulau Waigeo dimana terdapat pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat di Kota Waisai. Mendengar kata “kota” tentu tidak menarik bagi kami. Pilihan lain adalah dengan menginap di pulau-pulau lain, tapi lagi-lagi milik bule yang muahal. Jadilah kami menginap di resor milik orang lokal di Waiwo, sekitar 10 menit naik <em>boat </em>dari Waisai.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 114px"><img src="https://lh5.googleusercontent.com/-tsQ7525lz3I/TzJXytH0_tI/AAAAAAAABPQ/0ww4FZlHA6o/s288/IMG_6324.JPG" alt="" width="104" height="184" /><p class="wp-caption-text">Hidden Bay</p></div>
<p>Saya sempat beberapa kali <em>diving</em> di Saonek Monde (tadinya saya pikir <em>Sonic Monday</em>) yang bagus tapi tetap airnya berarus. Selain itu, tetap keliling-keliling naik <em>boat</em> dan berenang. Yang keren itu di daerah Kabui. Sama seperti Wayag dan Sumalelen, di Kabui juga merupakan kumpulan pulau karst, hanya tebingnya jauh lebih tinggi. Ada juga gua berstalagtit yang bisa dilalui boat di dalamnya dan kuburan yang masih ada tengkoraknya. Widih, serasa ikutan ekspedisi bajak laut! Yang keren lagi di Hidden Bay, kumpulan pulau yang rapat dengan hutan bakau dan berair payau. Lalu bisa <em>snorkeling</em> bersama Manta Ray di dekat Pulau Arborek. Belum lagi, pulau-pulau berpasir putih lainnya dan gosongan (pulau pasir) yang spektakuler.</p>
<p><img class="alignright" src="https://lh3.googleusercontent.com/-rKGTP5ueXs0/TzJVp0zZ8QI/AAAAAAAABPA/2ZEkjR6ocPA/s288/IMG_5979.JPG" alt="" width="264" height="136" />Selain alam bawah lautnya yang terbaik di dunia, Raja Ampat adalah gabungan antara ribuan pulau karst berbukit, hutan rimba pekat, dan pantai pasir putih. Benar-benar perawan sehingga Phi Phi Islands di Thailand dan Halong Bay di Vietnam langsung berasa tawar! Satu hal lagi yang baru saya alami hanya di Raja Ampat, yaitu berenang di pantai sambil mendengar ramainya kicauan burung! Burung-burung terbang bebas dan berwarna-warni <em>ngejreng</em>, seperti Kakaktua dan Cendrawasih. Pokoknya, pagi, siang, sore, malam – terik maupun hujan – tidak ada yang menghalangi kami untuk berenang saking nikmatnya. Karena sesekali hujan, sehari minimal dua kali kami melihat pelangi! Bukan hanya kelihatan jelas lapisan warna <em>me-</em><em>ji-</em><em>ku-</em><em>hi-</em><em>bi-</em><em>ni-</em><em>u</em>, tapi juga bisa melihat busurnya dari satu ujung ke ujung yang lainnya! Dan baru kali ini pula saya bisa menitikkan air mata saking kagumnya melihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Ya, indahnya alam Indonesia itu memang bak surga, tapi Raja Ampat itu adalah surga lantai kesembilan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/08/raja-ampat-adalah-surga-lantai-ke-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat (2): Main, pesta, dan nyebur!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 15:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (live on board)? Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, chef kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-80_KcYFHiRc/TyaKUOL7pwI/AAAAAAAABOQ/bykDGYMgIcM/s288/wayag.jpg" alt="" width="288" height="162" /><p class="wp-caption-text">Wayag</p></div>
<p>Jadi bagaimana menghabiskan waktu seminggu di atas kapal LOB (<em>live on board</em>)?</p>
<p>Paling penting (bagi saya) adalah makan. Kami pikir makanan yang disediakan di kapal bakal ikan melulu, maka kami semua membawa stok makanan masing-masing. Ternyata Ibu Surya, <em>chef </em>kapal, menyiapkan makanan yang super duper enak dengan menu komplit!  Tidak hanya ikan segar, tapi ada sup, salad, ayam, sapi, tahu, tempe, sayuran, kerupuk, buah-buahan &#8211; yang bawaannya pengen nambah berkali-kali  dan untungnya tanpa berantem karena stok banyak. Selain makan besar 3 kali sehari, di antaranya ada camilan hangat dan aneka jus buah, ditambah lagi <em>unlimited</em> kopi, teh, dan susu coklat. Ah, nikmaat!</p>
<p><span id="more-1059"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img class=" " src="https://lh6.googleusercontent.com/-Z0z_thgaUDg/Tyax1UrGKmI/AAAAAAAABOo/FdVY8d0uwiQ/s144/P1040146.JPG" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Bobo siang di lounge (pic by Juni)</p></div>
<p>Selain <em>diving</em> dan makan, barulah acara main. Nah, itulah untungnya pergi dengan teman-teman sendiri yang sealiran. Adaa aja yang dikerjain di kapal: ngobrol ngalor-ngidul, cela-celaan, sesi foto ala foto model, nonton DVD bareng, gitaran, nyanyi bareng, main tebak lagu, permainan tanpa kartu ala bule dan Jepang, dan lain-lain. Kadang kami malah bobo siang bareng di sofa <em>lounge</em>, saking nggak mau terpisahkan. Buku tebal yang sudah saya bawa pun tidak tamat karena keasikan kongkow. Soal ngobrol, tentu nggak ngomongin soal <em>diving</em> sama sekali. Malah cenderung bikin gosip nggak penting. Maklum, seminggu di kapal 4L (lu lagi lu lagi) yang isinya 80% jomblo kan lama-lama kelihatan siapa yang lagi mojok sama siapa. Uhuy! <em>#nomention</em></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 257px"><img class=" " src="https://lh4.googleusercontent.com/-7RKMqVcxBJg/TyaLm3DSX_I/AAAAAAAABOY/6hzaqwTcrW0/s288/main%2520kaki.JPG" alt="" width="247" height="167" /><p class="wp-caption-text">Permainan air! (pic by Rini)</p></div>
<p>Alam bawah laut Raja Ampat memang luar biasa, tapi pemandangan atasnya lebih luar biasa lagi! Inilah godaan terbesar saya tiap hari: mending <em>diving</em> atau main di pantai? Akhirnya saya berhasil ikut 80% dari seluruh jadwal diving sih. Abis, gimana nggak ngiler ketika melewati ratusan pulau dan pantai pasir putih cantik? Begitu tidak ada jadwal <em>diving</em> dan kapal pas berhenti, yang dicari adalah pantai terdekat, lalu kami minta diantar pake <em>speed boat</em>. Bahkan kalau tidak sempat, kami nyebur langsung dari atas kapal. Permainan kami di pantai juga tak kalah seru, mulai dari lomba gaya lompat dari <em>boat</em>, lama-lamaan <em>hand stand</em> di air, lomba berenang, sampai main perang-perangan sambil gendong-gendongan. Motret pun makin ngaco. Gaya lompat sudah biasa, kami foto bawah laut ala sampul kaset Nevermind-nya Nirvana, bahkan foto pantat bugil berjejer. Bosan main, kami berenang atau berjemur..  sampai dijemput lagi untuk makan malam!</p>
<p>Kalau Anda lihat foto-foto Raja Ampat, sebagian besar fotonya adalah <em>aerial view</em> dari sekumpulan pulau berbukit dan laut begradasi biru. Itulah yang disebut Wayag. Lokasinya paling jauh di Kabupaten Raja Ampat, kapal LOB ini aja memakan waktu 17 jam dari Sorong ke Wayag kalau <em>direct</em>. Untungnya nyewa kapal sendiri ya bisa menentukan rute dan saya tidak menyiakan kesempatan ini. Ternyata untuk sampai ke <em>view point</em> itu, kita harus naik ke puncak bukit yang terjal dan berbatu runcing. Di pagi mendung itu dengan memakai <em>booties</em> untuk <em>diving</em>, perlahan kami memanjat. Wedeh, medannya sulit bener: dengkul sampai di kepala, kepala sampai di dengkul ! Sampai di puncak, terbayar dengan pemandangan spektakuler itu! Gila, kereeen banget! Kembali ke bawah, dilanjutkan dengan keliling pulau-pulau naik <em>speed boat</em> sambil sesekali nyebur di lagun.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-xuDf53nhEhM/TyaL-rdZz_I/AAAAAAAABOg/D0nza9gfdT0/s144/NYE.jpg" alt="" width="144" height="101" /><p class="wp-caption-text">Happy New Year!</p></div>
<p>Puncaknya adalah perayaan tahun baru 2012 di tengah lautan. Meski baru jam 8 malam, rupanya para ABK sudah menghias tempat pesta, pasang <em>speaker</em>, dan mulai berjoget dangdut. Juni menyumbang sebotol <em>whisky</em> mahal, sisanya beli bir dari kapal. <em>Let’s get this party started</em>! Di luar ternyata cuaca buruk, hujan superderas dan angin bertiup kencang sampai tempias dan kami semua basah. Beberapa kali kami terpleset saking licinnya lantai, dan suara Om Joni yang <em>control freak</em> itu terus menggema, “Hati-hati licin! Awas jatuh!” Tiap orang pun jadi DJ, muterin lagu dari iPod masing-masing. Bosan dengan lagu disko, ganti ke <em>suffle dance</em>, <em>ballroom dance</em>, <em>sexy dance</em>, <em>pole dance</em> di tiang tenda, poco-poco, karaoke, bahkan bikin video klip sendiri dengan menggunakan lampu <em>torch diving</em> sebagai <em>lighting</em>. Kapal LOB bule yang tadinya parkir di sebelah kami langsung pergi menjauh saking berisiknya kami ketawa ngakak dan lagu jedar-jeder. Detik hitung <em>count down</em> ditutup dengan suara klakson keras dari Kapten kapal dan sulutan petasan. Kami pun saling berpelukan mengucapkan selamat. Sungguh perayaan Tahun Baru terbaik yang pernah saya alami!</p>
<p>Hari ke-7 kami dipulangkan ke hotel di Sorong. Baru pertama kali itu saya merasakan bumi miring! Ya ampun, setiap jalan saya berasa jalannya miring, setiap duduk berasa mejanya miring, setiap tidur saya pegangan ranjang takut jatoh.Weh, ini toh rasanya seminggu di kapal goyang, begitu turun ke daratan yang rata, sayanya yang jadi miring selama dua hari penuh!</p>
<p>Tapi apakah Raja Ampat segitu doang? Naik kapal LOB seminggu itu tidak cukup untuk menjelajahi Raja Ampat. Saya masih ada 2 minggu lagi untuk menjelajah dan berenang lebih banyak!</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/30/lob-raja-ampat-2-main-pesta-dan-nyebur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOB Raja Ampat: Diving bersama bebek kena potas</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 19:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1049</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (live on board) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada lounge ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img class=" " src="https://lh3.googleusercontent.com/-oOXbcawX5FA/TxxVYY6RJ_I/AAAAAAAABOI/zvzGDqFCnX0/s288/DSC01380.JPG" alt="" width="288" height="198" /><p class="wp-caption-text">Pose sama ikan (pic by Juni)</p></div>
<p>Pagi itu kami semua diantar ke kapal LOB (<em>live on board</em>) yang bernama MV Raja Ampat Explorer. Wah, ternyata kapalnya jauh lebih bagus dari ekspektasi saya! Masuk dari bagian belakang kapal phinisi ini, ada ruang peralatan diving. Jalan ke depan ada <em>lounge</em> ber-AC berisi meja makan, sofa, TV, meja kerja, kulkas, perpustakaan kecil. Bagian belakangnya ada dapur besar dan ruang ABK. Di lantai bawahnya berjajar 5 kamar yang masing-masing berisi 2 tempat tidur <em>single</em>, AC, meja, lemari, serta kamar mandi lengkap dengan <em>shower</em> air panas, wastafel, dan toilet. Di atas <em>lounge</em>, ada <em>deck </em>terbuka tempat leyeh-leyeh di kursi pantai. Di belakangnya ruang kemudi kapten dan 2 kamar <em>suite</em> jatah karom (kepala rombongan). Sekamar diisi Nina dan Yasmin, lalu di sebelahnya ditempati saya dan Eli. Yep, saya berhasil menggeret Eli jadi teman sekamar, daripada saya tidur sama cowok nggak kenal itu.</p>
<p>Acara pertama adalah perkenalan sesama peserta, meski saya sudah kenal hampir semua orang sebelumnya. Nina dan Yasmin mah sahabat saya puluhan tahun. Rini adalah teman sesama penulis di Bentang. Juni teman sekantornya Rini. Ezra sepupu saya. Ken teman SMA-nya Ezra. Eli adalah teman lama yang pernah bareng ke Israel, dan 4 orang lagi adalah teman-teman kantornya. Rupanya 2 orang cowok tak dikenal itu adalah Panda dan Tato’ yang merupakan <em>diver</em> paling serius sekaligus <em>underwater photographer</em>. Di kapal ini juga diperkenalkan 10 orang ABK, termasuk 2 orang DM (<em>Dive Master</em>) bernama Om Joni dan Kris. Wew, rasio tamu banding kru hampir satu banding satu &#8211; jadi berasa Onasis!</p>
<p><span id="more-1049"></span>Sore itu adalah <em>dive</em> pertama kali yang disebut <em>check dive</em> alias ngetes kemampuan <em>diving</em> para peserta untuk pembagian grup. Jreeeng, Om Joni langsung stres melihat hasil tes! Inilah akibatnya merekrut peserta dengan syarat “bukan <em>hard core divers</em>” &#8211; sebagian besar dari kami adalah <em>diver</em> pemula, bahkan beberapa orang baru aja punya <em>license</em>. Sejak itulah setiap <em>briefing</em> sebelum <em>diving</em>, Om Joni selalu berpesan, “<em>Diving</em> yang benar! Jangan kayak bebek kena potas!” Huehehe! Tapi saya baru menyadari apa artinya ketika saya lagi asik-asiknya <em>diving</em>, tiba-tiba ada segerombolan <em>diver</em> di bawah saya yang lewat sambil berenang gubrak-gubruk dengan <em>buoyancy</em> turun-naik dan <em>fins</em> mereka menabrak-nabrak karang. Aduh! Lalu saya mendengar suara “Hm! Hm! Argh! Argh!” yang ternyata adalah Om Joni yang “berteriak-teriak” di dalam air dengan mata melotot dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Oalah, rupanya <em>diver-diver</em> itu adalah teman sekapal sendiri yang gerakannya persis seperti bebek kena potas! *tutup mata*</p>
<p>Namanya juga kapal LOB Diving, jadi setiap hari aktivitas utamanya adalah <em>diving</em>. Bangun jam 6.30 pagi, sarapan ringan, <em>diving</em>, sarapan berat, <em>diving</em>, makan siang, tidur siang, <em>diving</em>, mandi, makan malam. Setiap mulai satu kegiatan, bel klenengan berbunyi. Awalnya males juga sih, kok berasa kayak kambing dipelihara, dikasih makan, dan disuruh kerja. Tapi karena ingat sudah bayar mahal, jadi semangat. “Untung”-nya, makin hari jumlah <em>diver</em> makin berkurang. Cewek-cewek pada haid jadi males nyebur, ditambah Eli kena flu dan Rini mencret. Sebagian cowok pun memilih untuk leyeh-leyeh. Akhirnya tinggallah Panda dan Tato’, plus saya dan Juni yang dipimpin Om Joni. Kalau ada peserta lain yang mau <em>diving</em>, disatukan di grup lain dipimpin Kris. Ternyata <em>diving</em> dengan grup kecil dan bersama <em>diver</em> berpengalaman, saya baru merasa <em>enjoy</em>.</p>
<p>Saya berkesimpulan bahwa Raja Ampat <em>is not for beginner divers</em>. Tidak ada satu <em>dive site</em> pun yang tidak berarus. Mending kalau arus pelan dan cuma satu arah, ini kadang super kencang dan berbalik arah! Hampir setiap <em>dive</em>, kami diwajibkan untuk <em>negative entry</em> alias turun gaya <em>back roll </em>dari kapal dan langsung turun sampai ke dasar laut sebelum tersapu arus atas. Kalau bermasalah dengan ekualisasi atau nggak kuat berenang, bisa-bisa tertinggal sama teman-teman yang lain. Dengan rasio DM dan <em>diver</em> yang tidak ideal karena 1 DM bisa membawa 7 <em>diver</em>, jadi jangan berharap bisa diperhatikan secara eksklusif oleh DM. Belum lagi udara di tabung yang tingkat konsumsi tiap orang berbeda, jadi kita harus bisa naik ke permukaan sendiri dengan aman dengan memperhitungkan sisa udara, waktu, kedalaman, dan <em>safety stop</em>. Intinya, setiap <em>diver</em> harus bisa menyelamatkan diri masing-masing!</p>
<p>Semua “usaha keras” itu memang terbayar dengan pemandangan alam bawah laut yang spektakuler. Menurut penelitian Conservation International, Raja Ampat memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Bayangkan saja, ada 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang dan 699 spesies moluska – semuanya dalam keadaan sehat. Artinya, sekali nyebur pemandangannya sangat beragam, bahkan cenderung sibuk kayak di pasar. Hukumnya, banyak arus berarti banyak ikan. Dan karena banyak mengandung plankton plus cuaca mendung, <em>visibility</em> sih tidak begitu baik, rata-rata 10 meter saja. Namun itu pun sudah cukup untuk bikin berdecak kagum.</p>
<p><em>Landscape</em> bawah laut Raja Ampat berupa <em>wall</em>, <em>slope</em>, gua – semuanya rapat ditumbuhi terumbu karang yang sangat beragam. Dalam satu area aja bisa melihat karang yang bentuknya meja, otak, kol, bunga, kipas, pilar, dan sebagainya. Belum lagi <em>soft corals</em> yang <em>leather</em>, yang mirip bunga, putri malu, pohon, dengan warna <em>ngejreng</em>. Kerangnya aja bisa berwarna <em>turquoise</em> dan <em>fuchsia</em>. Secara mata saya bolor, tapi karena barengan fotografer, saya jadi bisa lihat mahkluk <em>macro</em>, seperti <em>nudibranch</em>,<em> flatworms</em> dan <em>pygmy seahorse</em> dengan jenis-jenis yang saya juga baru pertama kali lihat.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><iframe src="http://www.youtube.com/embed/16zrnmOhU_Y" frameborder="0" width="288" height="216"></iframe><p class="wp-caption-text">Manta, saya, dan Ezra (video by Juni)</p></div>
<p>Ikan warna-warni beraneka ragam lewat-lewat dan hampir selalu <em>schooling</em> (bergerombolan dengan sejenisnya). Kalau <em>jackfish</em> atau <em>fusiliers</em> sih biasa, tapi yang baru pertama kali saya lihat adalah <em>schooling</em> ikan barakuda ekor kuning<em>. </em>Raja Ampat juga terkenal dengan adanya Wobbegong atau disebut <em>carpet shark</em> karena jenis hiu ini memang mirip karpet yang pinggirnya dedel dowel dan doyannya nyusruk di pasir. Hiu jenis <em>blacktip</em> dan penyu terlihat beberapa kali lewat. Tapi favorit saya adalah melihat Manta Ray atau ikan pari raksasa. Dengan hanya tiduran di pasir, 7 ekor Manta sepanjang 3 meter bolak-balik lewat sambil mengepakkan sayapnya. Di spot bernama Blue Magic malah nemu jenis Manta yang berbeda, yang ini bentuknya gemuk menggemaskan. Bahkan saat <em>safety stop </em>di kedalaman 5 meter tanpa ada pemandangan apa-apa yang sejajar, eh 3 ekor Manta menghampiri saya dengan cueknya. Aww!</p>
<p>Sebalnya <em>diving</em> di Raja Ampat cuma satu, yaitu saat menyadari bahwa udara hampir habis. Duh, seandainya manusia bisa <em>hybrid</em> dengan punya insang, pasti saya nggak mau naik ke permukaan! Eh, nggak juga ding. Ternyata trip seminggu di kapal LOB ini tambah menyenangkan lagi pada saat tidak <em>diving</em>..</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/23/lob-raja-ampat-diving-bersama-bebek-kena-potas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ribetnya persiapan ke Raja Ampat</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 18:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1042</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (live on board alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus diving karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang diver yang biasa-biasa saja – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 274px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-oVmQ4Sneifw/TxcNGpARl7I/AAAAAAAABOA/BtVdnAl5Asw/s288/IMG_5713.JPG" alt="" width="264" height="140" /><p class="wp-caption-text">Kapal LOB</p></div>
<p>Saya sudah lama tahu kalau Raja Ampat itu bagus, tapi kok ya jauh dan mahal. Masalahnya, supaya efektif dan efisien keliling di Raja Ampat, kudu naik kapal LOB (<em>live on board </em>alias “tinggal di dalam kapal”) sekaligus <em>diving </em>karena di sana konon merupakan tempat terbaik di dunia. Padahal saya adalah seorang <em>diver</em> yang biasa-biasa saja – meski jumlah <em>log</em> saya ratusan, tapi saya lebih suka disebut <em>traveler </em>daripada <em>diver</em>, sehingga pergi ke Raja Ampat selalu menjadi prioritas terakhir dari segala rencana perjalanan. Padahal bagi para <em>diver</em> serius, pergi ke Raja Ampat itu bagaikan “naik haji”, sama sakralnya seperti orang yang doyan naik gunung ke Everest.</p>
<p>Saya tetep nggak kebayang LOB seminggu kerjaannya cuman <em>diving</em> dan <em>diving</em> doang. Haduh, malasnya! Saya tuh <em>diving</em> hanya sebagai bonus dari <em>traveling</em> ke suatu tempat. Seumur hidup ikut <em>dive trip</em> bareng para <em>diver</em> (serius) cuma dua kali, itu pun dalam sehari pasti ada yang saya <em>skip</em> demi belain berenang doang di laut atau bahkan tidur di kapal. Sebenarnya dari dulu saya sudah beberapa kali diajak ke Raja Ampat, tapi selalu nggak merasa sreg dengan kumpulannya. Abisan yang ngajak kok ya <em>hard core divers</em> gitu? Kebayang pagi-pagi bangun trus <em>diving</em>, sarapan, <em>diving</em>, makan, <em>diving</em>, istirahat, <em>diving</em> lagi. Hiyy! Topik pembicaraan pas <em>surface interval</em> apalagi kalau bukan ngomongin ikan ini, ikan itu, <em>gadget diving</em>, atau bahas teknik <em>diving</em> yang harus begini begitu. Mana gosipnya?</p>
<p><span id="more-1042"></span>Belum lagi sekapal LOB itu kan isinya belasan orang, belum termasuk ABK/kru kapal. Kalau orangnya nggak asik, gimana caranya “menyelematkan diri” sementara di kapal bakal ketemunya 4L (Lu Lagi Lu Lagi). Kalo bete, nggak bisa ngumpet. Kalo berantem, masa cebur-ceburan? Saya jadi terbayang mati gaya di kapal dari Lombok ke Komodo, berantem sama bule ABG di kapal Turki, atau berebutan makanan sama tamu lain di kapal Halong Bay. Kebetean itu ditambah waktu yang tambah lama, yaitu total seminggu di LOB! Wadaw!</p>
<p>Pada suatu malam di Januari 2011, tiba-tiba aja pembicaraan Raja Ampat keluar lagi di antara saya, Yasmin, Jana dan King Kong. Jawaban untuk keresahan saya di atas adalah “sewa kapal aja sendiri dan ajakin temen-temen sendiri yang doyannya leyeh-leyeh”. Hmm, benar juga. Lalu kami mensyaratkan bahwa isinya harus teman sendiri (<em>mutual friends</em>), punya sertifikat <em>diving</em> tapi bukan <em>hard core diver</em>, umur di atas 30an, kalau bisa sesama jomblo, punya duit, dan punya komitmen libur kantor seminggu di tahun berikutnya. Dari lima syarat itu dibuatlah daftar orang yang akan diundang. Eh makin dipersulit lagi dengan faktor kecocokan satu sama lain. Maka diskusi pun berlanjut sampai pagi ditambah dengan gosipan tentang ketidakcocokan si ini dan itu. Pokoknya kami berempat sepakat untuk berkomitmen dan hanya karena alasan hamil baru boleh batal. *siapa juga yang mau menghamili :p*</p>
<p>Sebulan kemudian, tiba-tiba si Jana dan King Kong telepon bahwa mereka sedang berada di sebuah pameran <em>diving</em> dan harus segera <em>booking</em> kapal untuk ke Raja Ampat karena pas lagi ada slot di tahun baru 2012 dan pas ada diskon. Jana kekeuh milih kapal perusahaan Indonesia Raya yang terbagus dan tentunya termahal karena, “Biar nyaman kita, bo, <em>wis tue</em> gini… daripada kapal yang lainnya sempit dan tidurnya umplek-umplekan gitu di <em>bunk bed</em>.” Ya apa boleh buat, ditodong begitu saya ngikut aja. Masalah selanjutnya adalah gimana caranya ngumpulin DP (<em>down payment</em>) dalam waktu 2 hari dari semua peserta yang mereka juga belum dikabari?</p>
<p>Jadi, sewa kapal LOB bernama MV Raja Ampat Explorer selama seminggu (7 hari/6 malam) <em>full board</em> tanggal 27 Desember 2011 – 2 Januari 2012 (<em>booking</em> setahun!) itu harganya hampir Rp 200 juta yang pembayarannya dibagi rata oleh 14 peserta! DP Rp 2,9 juta dibayar dalam waktu 2 hari. Langsung deh saya kirim email ke teman-teman daftar prioritas utama. Dari semua yang terkirim, yang <em>commit</em> baru 7 orang. Ha, kurang 7 orang lagi! Jadilah saya sebar email lagi dan akhirnya memperbolehkan orang yang mau ajak temennya asal lolos <em>interview</em> mengenai bagaimana orangnya. Sisanya DP ditalangi dulu sama Jana sembari kami semua mencari orang. Ribet ye kite?</p>
<p>Gebleknya, beberapa bulan kemudian, si Jana dan King Kong tiba-tiba <em>bail out</em> alias mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas! Lah, orangnya kurang lagi! Saya pun ngambek dan minta mereka yang cari sendiri entah dari mana tapi orangnya harus asik. Daftar peserta pun semakin mendekati pembayaran terakhir di bulan September malah ganti-ganti nggak jelas. Akhirnya diperbolehkan pula teman bawa teman, asal asik. Yah, daripada nombok. Saya dan Nina didaulat jadi karom (kepala rombongan) menggantikan King Kong. Kami pun merencanakan rute yang terserah mau ke mana yang penting nyampe ke Wayag dan harus ada acara berhenti di pantai-pantai untuk leyeh-leyeh.</p>
<p>Alhasil isinya adalah saya, Yasmin, Nina, Rini + 3 teman kantornya, Eli + 3 teman kantornya, plus 3 orang yang kita semua nggak kenal hasil dari pencarian si pengkhianat. Seminggu sebelum <em>deadline </em>pembayaran, tiba-tiba 3 orang batal sehingga 2 orang digantikan sepupu saya, Ezra + temannya + 1 teman Eli. Ih, ribet ya? Nggak apa-apa deh, yang penting <em>mutual friends</em>-nya lebih banyak jadi tetap mayoritas dibanding status “temannya teman”. Masalah selanjutnya adalah pembagian kamar! Dengan jumlah genap 6 cewek + 8 cowok di dalam 7 kamar ternyata ada beberapa <em>couple</em> juga yang nggak mau terpisahkan. Supaya cepat, 2 kamar terbaik di kapal adalah milik karom – tinggal nanti antara salah satu dari saya, Nina dan Yasmin yang harus bersedia tidur dengan cowok nggak kenal. Sampai-sampai saya dikirimi King Kong foto-foto cowok 2 orang nggak kenal itu dengan harapan saya lah yang melunak.</p>
<p>Belum selesai sampai di situ. Sudah jauh dan mahal sampai Papua, masa kita nggak <em>explore</em> tempat lain? Secara cuma saya dan Nina yang bukan anak kantoran, maka kami merencanakan trip <em>traveling </em>di Papua setelahnya. Yasmin pun bersedia <em>resign</em> dari kantornya demi nambah 2 minggu jalan-jalan di Papua. Mau ke mana? Beberapa kali kami ketemuan untuk membahas tetap tidak ada kepastian. Kami baru sadar Papua itu luasnya luar biasa dengan akses serba nggak jelas dan nggak bisa di-<em>google</em>. Intinya, liat aja ntar gimana. Punya tiket pergi dulu ke Sorong, pulangnya ntar baru dipikirin.</p>
<p>26 Desember 2011 kami berangkat dari Jakarta dengan menitip pesan ke ibu masing-masing, “Kami pergi ke Papua, seminggu LOB, lalu 2 minggu jalan-jalan entah ke mana, diperkirakan pulang pertengahan Januari, dan.. nggak bisa dihubungi karena nggak ada sinyal.”</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/01/19/ribetnya-persiapan-ke-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

