<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler &#187; Travel</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/category/travel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 19:20:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mewek di kawinan Filipino</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/27/mewek-di-kawinan-filipino/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/27/mewek-di-kawinan-filipino/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 19:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sering saya menghadiri pesta kawinan Indonesia dari berbagai macam suku, tapi nggak pernah ke pesta kawinan di luar negeri. Dasar ‘jodoh’ sama Filipina, saya dapat undangan pernikahan dua teman Filipin bernama Pierre Gadpaille dan Mahleen Gatbonton pada April 2010 lalu. Pierre adalah teman sekelas saya di AIM yang berayah Perancis beribu Filipina dan jago sulap. Mahleen yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THQWYu4UFZI/AAAAAAAAAzg/5lim_KKY6Sc/s288/IMG_5861.JPG" alt="" width="262" height="188" /><p class="wp-caption-text">Mempelai bersama bridesmaids dan groomsmen</p></div>
<p>Sudah sering saya menghadiri pesta kawinan Indonesia dari berbagai macam suku, tapi nggak pernah ke pesta kawinan di luar negeri. Dasar ‘jodoh’ sama Filipina, saya dapat undangan pernikahan dua teman Filipin bernama Pierre Gadpaille dan Mahleen Gatbonton pada April 2010 lalu. Pierre adalah teman sekelas saya di <a href="http://www.aim.edu/" target="_blank">AIM</a> yang berayah Perancis beribu Filipina dan jago sulap. Mahleen yang asli Filipin ini bertanggal lahir sama dengan saya jadi kompak abis. Beberapa kali kami pernah <em>traveling</em> bareng saking asiknya pasangan itu.</p>
<p>Undangan pernikahan mereka berupa buku kecil berisi foto-foto mereka<em> traveling</em> di berbagai belahan dunia dan saat Pierre melamar. Di bagian belakang tertulis 3 hal yang menarik: RSVP, <em>adult affair</em> dan <em>formal dress</em>. Berarti ini acara serius banget: harus daftar, nggak boleh bawa anak kecil, dan harus pake baju kondangan. Dua hal pertama sih nggak masalah, tapi baju? Duh, secara baju kondangan saya sudah nggak ada yang muat karena udah nggak jamannya lagi ke kawinan teman atau sodara &#8211; kecuali kawinan kedua. Untuk cari aman dan supaya berasa nasionalis, maka saya memutuskan pake kebaya longgar pinjem dari si Nina.</p>
<p><span id="more-520"></span></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THQWYfQCYZI/AAAAAAAAAzc/vagm9wHX-BU/s144/IMG_5810.JPG" alt="" width="150" height="117" /><p class="wp-caption-text">Ngeceng di depan gereja</p></div>
<p>Siang itu saya dijemput teman untuk bersama-sama pergi ke gereja San Antonio Ng Padua sekitar 1,5 jam naik mobil dari Manila. Ini merupakan salah satu gereja Katolik favorit bagi pasangan Filipin yang menikah karena bangunannya tua, cantik, dan berlokasi di Tagaytay yang sejuk (semacam Puncak-nya Jakarta). Untuk memesannya saja harus setahun sebelumnya. Kalau kurang dari itu, maka dapat hari <em>weekday</em>, seperti kawinan ini yang jatuh pada hari Kamis. Baru turun… weits, cewek-ceweknya pake <em>dress</em> yang atasannya model kemben dan/atau bawahan rok mini. Tidak seperti di Indonesia, di sana tidak ada yang pake warna hitam, meski mereka montok. Cowok-cowoknya semua pake <em>barong</em>, blus tradisional Filipina terbuat dari serat nanas yang transparan. Duh, rasanya saya <em>overdress</em>, seperti pake <em>wetsuit</em> di antara bikini.</p>
<p>Jam 14.30 acara dimulai dengan doa, pembacaan ayat Alkitab, nyanyi oleh <em>wedding singer</em> bersuara supergokil, dan orang-orang yang membawa hamparan ke altar. Lalu pintu gereja dibuka, masuklah Mahleen yang berjalan bersama kedua orang tuanya yang <em>mewek</em>. Sementara Pierre dan kedua orang tuanya menunggu di depan dengan tampang stres. Mempelai pun duduk menghadap altar. Pastornya siapa lagi kalau bukan <a href="http://naked-traveler.com/2009/03/15/traveling-and-partying-with-father/" target="_blank">Father Generoso</a> yang juga teman sekelas saya dan Pierre. Meski dulu kita main bareng dan toyor-toyoran kepala sama si Romo, tapi begitu dia di atas altar langsung <em>gap</em>-nya jauuuh banget. Dia begitu berkharisma, apalagi dengan jubahnya itu. Kotbah Father tentang <em>lifetime commitment</em> sungguh bikin jleb. Dia juga memberikan hadiah berupa sumpit dengan alasan, “Karena Pierre suka makan dan karena ini merupakan simbol pernikahan dimana sumpit dapat bekerja dengan baik bila keduanya bersatu namun tidak terlalu erat maupun terlalu longgar. <em>Chopstick is not to chop each other, but to stick together</em>”. Unyu unyuuu…</p>
<p>Yang baru bagi saya adalah ada prosesi melilit kain dan mengaitkan seutas tali pada kedua mempelai sebagai simbol kesatuan. Yang paling bikin terharu adalah janji mempelai. Biasanya di gereja Indonesia kan cuma disuruh ngikutin kata pendeta, tapi di sana masing-masing menuangkan perasaan dan janji mereka satu sama lain… tentu dengan suara parau karena <em>mewek</em>. Kata-katanya nggak gitu bombastis sih, tapi sukses bikin saya <em>mewek</em> juga. Pada saat pemberkatan nikah, 14 orang <em>principal sponsors</em> ikut maju ke depan dan turut menandatangani surat nikah sebagai saksi. Mereka inilah para tetua yang dianggap sebagai orang tua angkat sebagai konsultan pernikahan, dan konon ikut menyumbang duit kawinan juga. Terakhir, kedua mempelai berjalan ke luar gereja sambil dilempari bunga oleh para tamu kayak di film-film Hollywood. Mereka berdua lalu melepas sepasang merpati, ciuman (bibir), dan kami semua melepaskan balon warna-warni di udara.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THQWY4hqCKI/AAAAAAAAAzk/vEQBcGEswns/s144/IMG_5893.JPG" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Photo booth</p></div>
<p>Resepsi diadakan mulai jam 6 sore di <em>Club House</em>-nya Splendid Taal Golf &amp; Country Club, sekitar 5 km dari gereja. Sesuai dengan namanya, gedung kawinan ini terletak di tengah kompleks golf. Sebelum masuk kita harus daftar di resepsionis dimana sudah ditentukan siapa duduk dengan siapa, dalam hal ini tentunya saya semeja dengan teman-teman sekelas. Di sebelahnya ada <em>photo booth</em> dimana para tamu bisa foto-foto bareng dan mencetak foto instan gratis, juga memvideokan pesan dan kesan kepada kedua mempelai. Disediakan pula <em>prop</em> berupa aneka topeng festival dan selendang bulu-bulu. Keren!</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THQWZSXedbI/AAAAAAAAAzo/GeI5IYRrsEY/s144/IMG_5915.JPG" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">paella</p></div>
<p>Acaranya diadakan di ruangan <em>semi-outdoor</em> dengan pemandangan lembah dan pegunungan. Sepanjang selasar dipajang foto-foto Pierre dan Mahleen dari anak-anak sampe gede. Meja-meja semua bertaplak putih dengan hiasan mawar putih dan lilin. Tamu yang diundang hanya sekitar 150 orang sesuai dengan jumlah kursi. Sungguh salut mengingat budaya Filipina sama kayak kita di mana kekerabatannya sangat dekat tapi tetap bisa memilih sekian saja dari antara ratusan bahkan ribuan saudara, teman dan kolega. Di meja sudah disediakan <em>wine</em>, bir dan irisan <em>lechon</em> (babi guling). Makanan ala prasmanan disediakan di meja lain yang bisa diambil tanpa antrian panjang. Makanan utamanya adalah <em>paella</em> (nasi kuning ala Spanyol), ada juga salad, sup, aneka lauk, buah, dan <em>dessert </em>- semua enak.</p>
<p>Di <em>dance floor</em>, resepsi dimulai dengan doa, potong kue, dan bersulang. Lalu ada 3 orang yang berpidato mengenai kesan dan pesan untuk kedua mempelai, yaitu dari adiknya Mahleen (&#8220;&#8230;Biasanya saya tidur bareng kakak Mahleen, tapi mulai hari ini nggak lagi&#8230;&#8221;), ibunya Pierre (&#8220;&#8230;Anakku sayang, sekarang kamu sudah ada yang ngurus&#8230;&#8221;) dan seorang <em>sponsor</em> (&#8220;&#8230;Setialah satu sama lain&#8230;&#8221;) – yang bikin semuanya <em>mewek</em> lagi. Kedua mempelai pun berdansa, <em>last dance</em> bersama orang tua masing-masing dan <em>first dance</em> sebagai pengantin. Yang paling keren adalah pemutaran video kawinan mereka di gereja, termasuk dansa yang terjadi sejam sebelumnya. Hebat banget <em>organizer</em>-nya bisa mengedit video secepat itu. Hasilnya pun keren sangat karena emosinya dapet.</p>
<p>Hiburannya selain <em>live music</em> dan joget, si MC mengadakan <em>games</em>. Tentu saya dipaksa ikut <em>games</em> untuk para jomblo. Rupanya ada 7 orang lain, jadi total 4 cewek dan 4 cowok. Langsung mata saya jelalatan cari yang keren, siapa tau kayak di film-film Hollywood yang pada ‘jadian’ setelah menghadiri kawinan *ngarep*. <em>Games</em>-nya menjawab pertanyaan yang diajukan MC tentang seputar hubungan Pierre dan Mahleen. Kami masing-masing diberi gelas berisi <em>tequila</em>. Kalau nggak bisa jawab, ya harus diminum s<em>traight</em>! Untung saya bisa jawab tanggal berapa mereka pacaran pertama kali. Pertanyaan yang <em>nggilani</em>, tapi saya hapal jawabannya karena sempat baca di undangan.</p>
<p>Setelah para tamu pulang, hanya tinggal keluarga inti dan sahabat terdekat kedua mempelai. Jadilah saya, ayahnya Pierre, <em>groomsmen</em> dan beberapa teman &#8216;buka meja&#8217; sambil lanjut minum bir dan <em>tequila</em> sampe teler. Mantab &#8211; pake b! Ah, kalau saya menikah, rasanya pesta pernikahan yang kayak begini yang saya mau. Hanya orang terdekat yang diundang, makanan enak dan banyak, semua terhibur, dan banyak alkohol! Kalau ibu saya baca tulisan ini, pasti dia akan berkomentar, “Cari aja dulu lakinya!” Hehe!</p>
<p><strong>Catatan</strong>: tonton deh video 4 menit mereka yang keren banget di <a href="http://www.dvinfo.net/forum/wedding-event-video-sample-clips-gallery/477673-pierre-mahleen-same-day-edit.html" target="_blank">sini</a>. Hati-hati jangan ikutan <em>mewek</em> ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/27/mewek-di-kawinan-filipino/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>59</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cekrak-cekrek</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/20/cekrak-cekrek/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/20/cekrak-cekrek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 21:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Pada dasarnya saya nggak doyan motret pas jalan-jalan. Padahal banyak yang bilang bahwa salah satu alasan utama jalan-jalan adalah untuk foto-foto. Katanya ada rasa bangga kalau punya foto di depan ini-itu, terus dipajang di blog, Facebook atau Twitter. Tapi bagi saya kok rasanya saya jadi harus mendedikasikan waktu asyik saya untuk motret. Kan waktunya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 251px"><img class=" " src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TG2IYzbbDiI/AAAAAAAAAzI/aOxaIgBCDnI/s288/IMG_6177.JPG" alt="" width="241" height="162" /><p class="wp-caption-text">Gaya andalan foto saya (lokasi: Malcapuya Island, Filipina)</p></div>
<p>Pada dasarnya saya nggak doyan motret pas jalan-jalan. Padahal banyak yang bilang bahwa salah satu alasan utama jalan-jalan adalah untuk foto-foto. Katanya ada rasa bangga kalau punya foto di depan ini-itu, terus dipajang di blog, Facebook atau Twitter. Tapi bagi saya kok rasanya saya jadi harus mendedikasikan waktu asyik saya untuk motret. Kan waktunya bisa dipake untuk ngobrol, berenang, atau ngopi.</p>
<p>Padahal dulu saya termasuk fotografer yang handal. Sejak SMP sering jadi tukang potret teman-teman ala sampul majalah. Kuliah ikut ekskul fotografi yang membuat saya bertahun-tahun selalu jadi seksi dokumentasi di kepanitiaan, bahkan skripsi saya tentang semiotik foto saking cintanya motret. Dulu kamera saya jenis SLR yang masih pake rol film. Begitu saya jadi sering jalan-jalan, rasanya membawa kamera SLR itu ribet bener. Udah berat, takut hilang, maka bergantilah ke kamera saku digital. Itupun masih males motret. Kalaupun motret ya sambil jalan aja cekrak-cekrek tanpa usaha.</p>
<p><span id="more-516"></span>Sebagai <em>travel writer</em>, saya sering diprotes redaksi majalah-majalah <em>travel</em> yang memuat tulisan saya. Katanya saya sebaiknya serius belajar fotografi karena tulisan saya sudah bagus tapi fotonya kurang bagus. Saya mengerti banget dan bisa saja saya serius belajar memotret, tapi sayangnya media di Indonesia kurang menghargainya. Satu tulisan itu biasanya dibayar per paket, berapapun fotonya dan bagaimanapun kualitasnya. Jadi bagi saya itu tidak ada nilai tambah, meski saya nggak bisa juga ngirim foto yang sembarangan. Alasan saya pun nyebelin, “<em>I’m a travel writer, not a photographer.</em>” Maksudnya supaya mereka sadar bahwa kedua profesi itu selayaknya terpisah dan harus berani bayar sesuai dengan keahlian masing-masing, seperti majalah <em>travel</em> terbitan Amerika.</p>
<p>Tapi ironisnya, sebagai wartawan, saya paling sebel disuruh <em>traveling</em> bersama fotografer. Ya ampun, luamanya minta ampun! Saya nggak ngerti gimana mereka bisa menikmati perjalanan, secara dikit-dikit berhenti dan memotret dari segala sisi, pake ganti-ganti lensa pula. Lagi enak-enaknya jalan bareng, bisa-bisa menghilang karena naik ke atas bangunan atau tiarap di pasir. Mau misah juga sulit karena cerita saya harus nyambung dengan fotonya, belum lagi ongkos transportasi jadi mahal. Menurut saya, wartawan dan fotografer itu kerjanya bertolak belakang. Wartawan itu kan berusaha mendekati orang dan ngobrol sealami mungkin supaya dapat jawaban yang lebih jujur, sementara fotografer justru menjaga jarak karena kudu motret dari jarak tertentu bahkan sering nara sumbernya diminta berpose.</p>
<p>Saya menjadi agak narsis ketika saya mulai sering ditanya pembaca, “Kok nggak ada fotonya mbak sih? Jangan-jangan mbak sebenarnya nggak pergi.” Oalah, karena dituduh begitu saya mulai deh bikin foto diri. Itu pun ditaro di Facebook dan Twitter, bukan di buku – apalagi di sampul depan. Belakangan baru sadar bahwa ada gunanya juga punya foto narsis, karena kalau diwawancara oleh media sering diminta foto diri lagi jalan-jalan. Pusingnya, saya harus hapal foto mana yang sudah tampil di majalah mana secara koleksi foto diri sedikit.</p>
<p>Kalau jalan bersama teman sih nggak pernah masalah, tinggal ganti-gantian motret. Masalahnya kalau jalan sendiri, foto saya ya kebanyakan foto pemandangan atau foto kedua kaki saya. Kalaupun ada foto diri, kebanyakan <em>close-up</em> karena saya motret sambil pegang kamera di salah satu tangan. Kalau ada foto diri yang kelihatan latar belakang berarti saya minta tolong orang lain, tepatnya sesama <em>solo</em> <em>traveler</em> – bukan orang lokal &#8211; supaya fotonya bener dan mintanya enak. Lucunya kalau saya kebagian motretin orang di luar negeri, saya sering kebablasan ngomong “satu, dua, tiga!” sebelum memencet tombol. Baru sadar salah setelah saya diprotes kok nggak bilang. Jadilah ganti bahasa, “<em>one, two, three!</em>”. Hihihi.</p>
<p>Saya paling terhibur kalau memperhatikan gaya teman-teman jalan saya ketika mereka memotret dan dipotret:<br />
&#8211; Nina setiap <em>traveling</em> nggak pernah bawa kamera. Sampe-sampe saya sering maksa motretin dia karena merasa kasihan, itu pun saya dimarahin balik karena dia memang ogah difoto. Anehnya, begitu fotonya jadi, matanya sering pas merem.<br />
&#8211; Yasmin sudah 20 tahun saya kenal, semua fotonya dari dulu sampe sekarang gayanya sama: nyengir keliatan gigi dengan latar belakang <em>landmark</em> suatu tempat. Mana muke dan bodinya dari dulu nggak berubah lagi.<br />
&#8211; Jana paling narsis. Kalau sudah menghilang, dipastikan dia sedang pegang kamera satu tangan dan memotret diri sambil monyong-monyong nggak keruan, atau pake <em>self-timer</em> trus dia berlari bolak-balik. Selain dirinya, obyek foto yang sering dipotretnya adalah tanaman, terutama bunga dan buah.<br />
&#8211; Ezra mengaku fotografer dan selalu bawa kamera SLR. Tapi 90% dari hasil fotonya adalah foto diri! Jadi dia modal beli peralatan mahal demi membuat kualitas foto dirinya lebih baik.<br />
&#8211; Pascal tuh kalau difoto paling ribet. Harus ada sisi tertentu yang boleh dipotret, yaitu mukanya yang ¾ madep kanan dan nggak boleh kelihatan giginya. Kalo derajatnya meleset dikit, pasti minta diulang. Plis deh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/20/cekrak-cekrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya peserta tur</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/13/gaya-peserta-tur/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/13/gaya-peserta-tur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 07:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi cerita tentang hasil pengamatan saya terhadap para perserta tur asal Indonesia. Memang saya hanya sekali ikut rombongan beginian karena memang tidak ada pilihan lain untuk masuk ke negara tersebut. Tidak ada yang benar atau salah sih, hanya saja mereka sangat berbeda dengan gaya jalan saya dan saya gatel pengen ngomongin. Hihihi…
Pertama, kostumnya overdress. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi cerita tentang hasil pengamatan saya terhadap para perserta tur asal Indonesia. Memang saya hanya sekali ikut rombongan beginian karena memang tidak ada pilihan lain untuk masuk ke negara tersebut. Tidak ada yang benar atau salah sih, hanya saja mereka sangat berbeda dengan gaya jalan saya dan saya gatel pengen ngomongin. Hihihi…</p>
<p>Pertama, kostumnya <em>overdress</em>. Sepertinya mereka tidak tahu (atau tidak mau tahu) tentang cuaca di negara lain. Bayangkan, musim panas dengan suhu lebih dari 35ºC ada yang pake jaket kulit! Saya yang gerah iseng bertanya, “Nggak kepanasan?” Jawabnya, “Daripada jadi item”. Hah? Tapi kenapa jaket kulit? Ada lagi peserta tur yang <em>underdress</em>. Biasaa&#8230; cewek-cewek seksi berkulit putih mulus gitu deh. Oke, ini memang musim panas. Tapi mereka tidak sadar bahwa ada tempat-tempat yang tidak memperbolehkan baju tanpa lengan dan rok mini, seperti ketika masuk ke masjid, gereja atau candi. Jadilah dia tunggu di luar atau pinjam baju orang lain. Hiih! Ada juga ibu-ibu yang pake <em>high</em><em> </em><em>heels</em> 9 cm ke mana-mana. Sudah diduga, jalan di lumpur dia terseok-seok karena haknya nancep, jalan di tanjakan pun jadi pelan. Lagi-lagi saya gerah melihatnya dan bertanya, “Nggak pegel ya pake sepatu hak?”. Jawabnya, “Soalnya aku nggak pede kalo kita difoto bareng, ntar aku kelihatan pendek.” Hah? Saya nggak ngerti kenapa dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri.</p>
<p><span id="more-512"></span>Kedua, <em>you know</em> lah orang kita kan doyan banget belanja, terutama beli suvenir. Pertanyaan pertama yang muncul ketika sampai di suatu tempat adalah, “Mall di mana ya?”. Jalan ke mana pun pasti tersendat di toko. Kalau ada peserta yang hilang, pasti mentok di toko. Duh! Belanjanya pun benar-benar kalap. Padahal bagi saya sih belanjanya yang nggakpenting-nggakpenting gitu, kayak kartu pos dan gantungan kunci. Tapi apa pun yang disodori tukang jualan mesti dibeli, termasuk tas, bolpen, pajangan, boneka, kaos, kalung, topi, bla bla bla. Sekali beli jumlahnya nggak kira-kira, selusin, dua lusin, bahkan sampe sekardus! Katanya sih untuk tante, om, kakak, adik, ponakan, sepupu, pembokat, supir, tetangga, orang kantor, dll, dsb. Aduh, apa nggak tambah bangkrut kudu ngoleh-ngolehin orang sebanyak itu?</p>
<p>Ketiga, apalagi kalo bukan makanan? Ya ampun, sampe ada satu tas khusus makanan. Mulai dari abon, mi instan, kering tempe, balado teri, saos, sambal, sampe berbagai macam camilan seperti coklat, kue, keripik – semuanya bawa dari Indonesia! Kok kayaknya takut banget nggak bisa makan makanan asing, atau takut kelaparan ya? Meski seringnya makan di restoran Cina, tetep perbekalan itu dituang di piring loh. Lucunya, ada yang berbaik hati menawarkan ke peserta lain, tapi ada juga yang diumpetin di tasnya tanpa bagi-bagi. Buset deh! Saya sih terima aja kalo dikasih, kan pantang menolak rejeki toh?</p>
<p>Saya baru sadar bahwa banyak orang ikut tur karena takut ‘tidak bisa berbahasa Inggris’. Setiap diterangin <em>guide</em> akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh <em>tour leader</em>, makanya ke mana-mana mereka nguntit si <em>tour leader</em>. Padahal ada saat dimana <em>guide</em> atau <em>tour leader</em> tidak bisa ada di sisi setiap saat, contohnya saat ngantri di depan loket imigrasi dimana mereka mesti pada pucat, takut ditanya-tanya dan tidak bisa jawab. Ketika kami diberi waktu untuk berkeliling di musium tanpa <em>guide</em>, saya malah pernah ditanya, “Mbak, tolong terjemahin dong itu artinya apa ya?” Tapi herannya, begitu saat berbelanja&#8230; tiba-tiba mereka jadi jago bahasa Inggris! Malah bisa milih dan menawar harga segala! Hebat kan?</p>
<p>Yang saya paling nggak abis pikir adalah peserta tur yang malas jalan. Ini model cewek yang menye-menye gitu deh. Begitu bus berhenti dan di luar kelihatan terik, dia memilih untuk menunggu di dalam bus! Udah tau jadwal tur adalah berenang di pantai, eh dia nggak bawa baju renang dan cuma duduk-duduk di bawah pohon. Ya ampun, udah bayar mahal-mahal malah nggak ngapa-ngapain. Kalau sudah tua dan fisiknya lemah sih nggak apa-apa, dia ini masih berumur 23 tahun!</p>
<p>Yang bikin sirik adalah peserta tur itu bawa duitnya buanyak! Yang anak kecil duit jajannya banyak, yang nenek-nenek duitnya segepok – nggak ada matinya jajan dan belanja. Pernah saya nggak sengaja melihat seorang bapak tajir buka dompet, eh duit kertasnya tebel banget dan masing-masing lembaran 100 USD! Karena ketauan saya ngintip, si bapak tiba-tiba berkata, “Waduh, hari ini saya belanja udah abis 1.100 dolar lho!”. Hah? Rasanya saya ingin menjedut-jedutkan kepala saya ke tembok. Zedig! Pertama, tentu saya tidak punya uang sebanyak itu. Kedua, kok nekad ya bawa <em>cash</em> sebanyak itu di dalam dompet celananya.</p>
<p>Dan ‘pembalasan’ itu datang. Saat kami semua menunggu di ruang tunggu bandara untuk naik pesawat… saya masuk pesawat duluan. Si bapak tajir tentu bertanya, “Kok kamu bisa masuk duluan, emang duduknya di nomor berapa?” Saya menjawab dengan menunjukkan <em>boarding pass</em> saya yang bertuliskan <em>business class</em>. Dia dan peserta tur lainnya pun terkejut. Dalam hati saya berkata, “Boleh deh lu pade gaya pake jaket kulit, hak tinggi, belanja berkardus-kardus, bawa duit ribuan dolar… tapi gue duduknya di kelas bisnis, wek!” Hehehe!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/13/gaya-peserta-tur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Great Wall with shopping</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/06/great-wall-with-shopping/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/06/great-wall-with-shopping/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 18:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak ingin ke Tembok Cina (The Great Wall of China)? Konon saking gedenya sampe terlihat dari bulan. Tapi tau nggak, ternyata tidak seorang astronot pun pernah melihatnya dari bulan. Panjang temboknya aja 8.851 km atau lebih panjang daripada jarak Sabang sampai Merauke! Dibangun pada abad 5 Sebelum Masehi sampai abad 6 dengan tujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 277px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TFmld21Nw2I/AAAAAAAAAyI/wIMIZI8AZr8/s288/China%20238.jpg" alt="" width="267" height="192" /><p class="wp-caption-text">Tembok Cina: sepi kan?</p></div>
<p>Siapa yang tidak ingin ke Tembok Cina (<em>The</em> <em>Great Wall of China</em>)? Konon saking gedenya sampe terlihat dari bulan. Tapi tau nggak, ternyata tidak seorang astronot pun pernah melihatnya dari bulan. Panjang temboknya aja 8.851 km atau lebih panjang daripada jarak Sabang sampai Merauke! Dibangun pada abad 5 Sebelum Masehi sampai abad 6 dengan tujuan awal sebagai tembok perlindungan dari serangan musuh, tapi saat ini telah menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi turis dunia, bahkan masuk sebagai salah satu dari <em>New 7 Wonders of the World</em>.</p>
<p>Mengingat lokasinya di luar kota Beijing dan ribet naik kendaraan umumnya (plus bahasanya yang kaga ngarti), saya memutuskan untuk ikutan tur yang diselenggarakan oleh hostel. Ogah deh menghancurkan tujuan utama ke Cina akibat kebanyakan nyasar atau ditipu. Tembok Cina yang gede itu hanya boleh masuk dari beberapa area tertentu saja. Kebanyakan turis masuk dari Badaling, 70 km barat laut dari Beijing, dimana fasilitasnya paling maju tapi terlalu <em>touristy</em>. Teman yang sudah pernah ke sana aja susah untuk jalan dan foto-foto karena berebutan dengan ribuan orang. Makanya saya memilih untuk masuk dari Mutianyu, 90 km timur laut dari Beijing, karena lebih sepi.</p>
<p><span id="more-501"></span>Pada dinding konter <em>travel agent</em> di hostel terpampang beragam pilihan tur. Ke Mutianyu aja ada 2 pilihan: ‘Mutianyu <em>with shopping’</em> dan ‘Mutianyu <em>no shopping’</em>. Keduanya sama-sama mengabiskan waktu seharian, tapi ‘<em>with shopping</em>’ lebih murah 100 Yuan atau sekitar Rp 150 ribu. Wah, lumayan banget! Kata si mbak, “<em>With shopping </em>berarti waktu yang dihabiskan di Tembok Cina lebih sebentar karena akan berhenti di beberapa tempat untuk belanja.” Lho kok malah lebih murah? Ya karena si agen akan mendapat komisi. Hebat, jujur amat! Selama ini kan kalo ikut tur sering ketipu karena mampir di toko tanpa sepengetahuan.</p>
<p>Pagi itu saya dijemput mobil van. Rombongan tur ini berisi saya, Yasmin, seorang cowok asal Kolombia, dan <em>surprise</em>, satu keluarga orang Indonesia terdiri dari bapak, ibu, dan 3 anak ABG. Pemandunya bernama Bruce (pasti dia ngarang nama), sarjana IT yang banting stir jadi <em>guide</em> karena bisa berbahasa Inggris dan karena duitnya lebih banyak jadi <em>guide</em> daripada kerja IT. Catatan, kalo pake pemandu Cina, biar dikata mengaku ‘bisa berbahasa Inggris’ kita tetep harus memperhatikan omongannya dengan seksama sambil membaca gerak bibirnya.</p>
<p>Belum juga nyampe Tembok Cina, udah berhenti di pabrik batu giok. Tipikal toko turis, ada pemandu dari toko yang menerangkan tentang giok, salah satunya info bagaimana membedakan giok asli dan palsu. Lalu kami &#8217;ditempel&#8217; mbaknya saat kita berjalan, supaya beli. Selain nggak suka giok, mana sanggup saya beli bukan? Maka dengan alasan ke toilet, diam-diam saya kabur ke luar untuk nongkrong di parkiran mobil. Eh saya melihat 3 bus rombongan tur orang Indonesia lainnya. Pantesan, ini tempat orang Indonesia banget!</p>
<p>Pemberhentian kedua dan ketiga barulah inti dari tur ini, ke Ming Tombs (kompleks makam para Kaisar dinasti Ming) dan Tembok Cina. Saya sih kurang terkesan dengan Ming Tombs, tapi begitu sampai di parkiran mobil Mutianyu, barulah saya riang gembira karena ‘tercita capai-capainya’. Baru aja menuju loket, saya udah ngos-ngosan mendaki anak tangga. Dari loket, harus naik lagi mendaki ratusan anak tangga lagi untuk sampai ke tembok. Tentu saja saya yang pemalas ini memilih naik <em>cable car</em>. Sampai di atas, wih, suasananya benar-benar sepi! Mana kabut menutupi sebagian pemandangan lagi, sehingga terasa mistis. Sekelilingnya adalah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan lebat dengan dedauan berwarna hijau dan kuning. Jalan di tembok ini ternyata cukup lebar, sekitar 5 meter. Kontur jalannya pun tidak rata sehingga kadang terpleset karena licin akibat embun. Bila melongok ke bawah melalui lubang tembok ya langsung jurang gitu. Saya sempat berjalan sampai 3 <em>watch towers</em>. Udah sepi gini, di kepala saya langsung ‘putar’ film silat, berimajinasi ada peperangan dan&#8230;Takeshi Kaneshiro.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 154px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TFmleBOgjAI/AAAAAAAAAyM/IGhlG8S7AqI/s144/China%20255.jpg" alt="" width="144" height="108" /><p class="wp-caption-text">Orang gendut hati-hati sama dokter ini <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Kembali ke kota Beijing, kami dibawa di Chinese Medicine Center. Letaknya di dalam gedung perkantoran, lobinya kayak di spa. Kami disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan, di mana ada dokter yang memberikan presentasi tentang obat-obat tradisional Cina &#8211; dengan penerjemah berbahasa Inggris &#8211; sembari kami semua dipijat refleksi gratis. Lalu satu per satu kami didatangi si dokter untuk diperiksa. Dia cuman pegang denyut nadi di tangan dan melihat lidah dan langsung ‘menuduh’ saya memiliki metabolisme tidak baik sehingga lemak bertumpuk. Yailah, itu sih tanpa diperiksa juga saya tau kalo saya gendut! Si dokter memberikan resep “no. 3” dan “no.7” yang harganya sekian juta untuk pemakaian selama 3 bulan. Buset! Lucunya, si ibu-ibu serombongan yang sedikit gendut juga dikasih resep no.3 dan 7. Doh, generalisasi banget &#8211; semua yang gendut resepnya sama. Yang nyebelin lagi adalah cara mbak-mbaknya memaksa kami beli dengan pasang tampang jutek. Hii, takuut!</p>
<p>Selanjutnya kami dibawa ke pabrik sutra Cina. Seperti biasa, oleh petugas toko kami diterangkan cara pembuatan sutra, mulai dari kepompong sampai jadi seprei. Setelah selesai tur, tentu akhirnya kami dibawa ke toko dan ‘dipaksa’ beli. Kali ini untuk ngeles, saya melipir ke toilet lagi lalu kabur ke luar. Terakhir, kami dibawa ke <em>tea house</em>, di mana ada peragaan cara minum teh ala Cina sekaligus promosi teh. Si mbak yang menerangkan sangat susah payah berbahasa Inggris. Mulutnya sampe monyong-monyong nggak karuan, tapi tetap suara yang dikeluarkan tidak sesuai dengan usahanya. Maaf, bukannya nyela fisik, tapi asli kami semua jadi sakit perut menahan ketawa. Akhirannya, si mbak ngambek karena tidak ada satupun dari kami yang membeli tehnya. Ya iyalah ya.</p>
<p>Begitulah, hemat 150 ribu tapi dapat pengalaman yang lucu dan mempraktekkan trik ‘jadi tembok’ yang tahan terhadap rayuan. Tapi kalo dapat rombongan kayak kami gini, kasian juga si <em>travel agent</em> nggak dapet komisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/06/great-wall-with-shopping/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABG gegar budaya</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/07/30/abg-gegar-budaya/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/07/30/abg-gegar-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 20:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Ini sedikit catatan kisah hidup saya pas masih ABG, dimana saya pertama kali merasakan apa yang disebut “gegar budaya” alias culture shock. Pada akhir tahun 1980an, saat saya berusia 16 tahun (ketauan deh tuwirnya saya sekarang!), saya ikut kursus bahasa Inggris di Amerika Serikat. Selain setiap hari bakal kursus di sekolah, saya akan homestay alias [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini sedikit catatan kisah hidup saya pas masih ABG, dimana saya pertama kali merasakan apa yang disebut “gegar budaya” alias <em>culture shock</em>. Pada akhir tahun 1980an, saat saya berusia 16 tahun (ketauan deh tuwirnya saya sekarang!), saya ikut kursus bahasa Inggris di Amerika Serikat. Selain setiap hari bakal kursus di sekolah, saya akan <em>homestay</em> alias tinggal di rumah keluarga lokal selama sebulan.</p>
<p>Berbahagialah orang yang besar di zaman sekarang dimana informasi mudah sekali didapat. Dulu ponsel aja belum ada, apalagi internet. Buku impor jarang ada, apalagi buku tentang perjalanan. Waktu itu saya tinggal di Sumatra, jauh dari peradaban ibu kota. Ngomong sama bule aja nggak pernah. Tayangan TV hanya dari TVRI, itu pun tak banyak mengenai dunia luar. Parahnya lagi, pelajaran Bahasa Inggris dimulai baru pas SMP, itupun hanya 2 jam seminggu. Jadi dengan bahasa Inggris yang masih superbelepotan plus bayangan Amerika adalah negeri para koboy, pergi lah saya sendirian ke Amerika.</p>
<p><span id="more-498"></span>Saya terbang sendiri ke Jakarta dengan menggeret koper, lalu dilanjutkan terbang ke Los Angeles. Baru kali itu saya merasakan naik pesawat selama lebih dari 20 jam! Dari Los Angeles, harus naik bus lagi ke kota San Buenaventura atau disingkat Ventura. Di sebuah lapangan parkir, saya masih ingat rasa gundah gulana ketika menunggu <em>host parents</em> yang akan menjemput. Duh, gimana coba kalau diajak ngomong bahasa Inggris? Lalu datanglah seorang bule tinggi besar, mirip Hommer Simpsons, menjemput. Ketika memperkenalkan diri, dia menyebut nama Dirk. Dari dulu kan saya diajari untuk tidak memanggil nama kepada orang yang lebih tua, jadilah saya canggung memanggil Dirk tanpa embel-embel “Oom”. Sama jengahnya ketika memanggil guru dan kakek-neneknya yang tanpa embel-embel “Pak, Bu, Kakek, Nenek”.</p>
<p>Dengan santainya saya masuk ke mobil lewat sisi kiri. “<em>Are you driving</em>?”, kata Dirk meledek. Lah, mana saya tau kalau di Amrik setir ada di kiri! Saya pun memutar arah. Memang tak mudah membiasakan diri. Berkali-kali saya juga salah nengok kalau mau menyebrang. Seumur hidup kan terbiasa menyebrang jalan tengok kiri dulu baru kanan. Ternyata di negara yang jalan mobilnya di kanan bikin canggung juga. Dirk menyuruh saya memasang <em>seat belt</em>. Saya jadi ketawa sendiri, dulu di Indonesia mobil aja jarang ada <em>seat belt</em>.</p>
<p>Rumahnya besar dan saya heran kok tidak ada pagar. Sampai di rumah disambut oleh istrinya, Evelyne, dan ketiga anak lelakinya, Dirk (15 tahun), Bill (13), dan Sean (11). Aneh banget kok nama bapak dan anak bisa sama gitu. Mereka tinggi-tinggi dan besar, jauh dengan anak-anak Indonesia. Saya masih ingat betapa salah tingkahnya saya ketika Evelyne menyuruh anak-anaknya, “<em>Give her a hug</em>”. Zaman dulu cupika-cupiki aja belum ada karena belum dipopulerkan Habibi, eh ini saya disuruh pelukan erat dengan para pemuda sebaya yang belum kenal. Karena bingung, tangan saya sampe tabrakan, pipi pun nggak tau mau ditempel di mana.</p>
<p>Setiap hari jam 4 pagi, ketiga <em>host brothers</em> saya sudah bangun. Umur belasan gitu mereka bekerja sebagai loper koran dengan menggunakan sepeda masing-masing! Hebat bener, padahal mereka bukanlah keluarga yang berkekurangan. Jam 8 pagi kami sekeluarga sarapan bersama. Sebelum berangkat ke sekolah, saya dibekali kantong kertas berisi roti <em>sandwich</em>, yogurt, buah, dan sekaleng soda. Tiap siang saya selalu kelaparan karena tidak biasa tidak makan nasi. Makan malam pun biasanya pasta atau kentang, ditambah daging dan salad. Setiap haus, saya otomatis mencari botol air minum di dalam kulkas dan selalu ‘ketipu’ karena itu adalah <em>plain soda</em>. Sedangkan kalau mau minum air putih ya harus langsung dari kran, mana kran yang terdekat dengan ruang makan adalah kran di tempat cuci piring lagi. Herannya lagi, keluarga ini setiap haus minumannya Coca Cola. Minumnya pun langsung glek-glek dan habis sebotol besar per orang.</p>
<p>Keluarga ini penggemar<em> surfing</em>. Pantai hanya berjarak 15 menit saja dari rumahnya. Hampir tiap malam saya diajak <em>surfing</em> dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Awalnya saya bingung, kok berani<em> surfing</em> malam-malam. Rupanya kalau musim panas di sana mataharinya tenggelam lebih malam. Tapi airnya brrrr&#8230; dinginnya! Saat <em>weekend</em>, saya diajak piknik di taman, nonton film anak-anak di bioskop, diajak main American Football, main <em>bowling</em>, atau ke rumah kakek-neneknya di luar kota. Rupanya keluarga ini penganut agama Kristen Mormon yang taat. Sebelum makan dan sebelum tidur, kami berdoa bersama. Setiap hari Minggu, saya dan <em>host brothers</em> ke Sekolah Minggu di gerejanya. Saya tambah heran, ternyata alkitab Mormon beda.</p>
<p>Pada perayaan <em>4th of July</em>, kami sekeluarga piknik di pinggir pantai menonton pertunjukkan kembang api. Sekali lagi saya kena gegar budaya. Evelyne bercerita tentang anak tetangga yang diisengi temannya dengan menaruh petasan di tangannya yang terlipat di belakang sehingga meledak. Mendengarnya saya langsung tertawa terbahak-bahak karena membayangkan adegan ala Warkop. Sampai saya tersadar ketika semua diam dan pasang tampang kenceng. Evelyne pun berkata, “<em>It’s not funny, you know</em>.” Ups, berbeda <em>sense of humor</em> nih!</p>
<p>Hari terakhir, sekolah kami mengadakan pesta perpisahan dimana kami mengundang <em>host family</em> masing-masing. Alhasil setiap murid berlatih untuk pertunjukan, saya aja ikutan <em>vocal group</em>. Malamnya kami berdandan abis, eeh.. para <em>host family</em> datang dengan cueknya pakai kaos dan celana pendek. Bagi kita kan yang dinamakan pesta itu penting, apalagi judulnya perpisahan. Di sono mah nyantai-nyantai aja. Besoknya keluarga itu melepas kepulangan saya dengan tangisan dan pelukan lama. Saya jadi ikutan nangis juga, setelah terakhir nangis pas saya masih SD.</p>
<p>Efeknya, perkembangan bahasa Inggris saya memang maju pesat. Karena di sana tiap hari tidak ada yang bisa diajak ngomong bahasa Indonesia, jadilah saya terpaksa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Tapi lebih dari itu, tinggal bersama Keluarga Boon di Ventura merupakan salah satu fase terpenting dalam hidup saya. Sebulan kemudian, tulisan saya mengenai pengalaman ini dimuat di Majalah Mode. Itulah pertama kali saya mendapatkan honor sebagai penulis, masih lewat wesel yang diambil di kantor pos pula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/07/30/abg-gegar-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>15 cara jalan-jalan GRATIS ke luar negeri</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/07/16/15-cara-jalan-jalan-gratis-ke-luar-negeri/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/07/16/15-cara-jalan-jalan-gratis-ke-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 19:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Meski semakin banyak orang sudah paham bagaimana cara jalan-jalan murah ke luar negeri, tetap saja masih banyak juga yang penasaran gimana caranya bisa gratis jalan-jalan ke luar negeri. Ya, siapa sih yang nggak pengen gratisan? Kalau sekedar tiket gratis sih bisa menggunakan point dari frequent flyer, atau punya kenalan seperti Mr.X-nya saya. Tapi kalau yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TD9bp_GyJ-I/AAAAAAAAAxs/vAK72sDcQB0/s288/Singapore-Nov09%20167.jpg" alt="" width="162" height="215" /><p class="wp-caption-text">Nginep di Hotel Mercure Roxy Singapore gratis</p></div>
<p>Meski semakin banyak orang sudah paham bagaimana cara jalan-jalan murah ke luar negeri, tetap saja masih banyak juga yang penasaran gimana caranya bisa gratis jalan-jalan ke luar negeri. Ya, siapa sih yang nggak pengen gratisan? Kalau sekedar tiket gratis sih bisa menggunakan <em>point</em> dari <em>frequent flyer</em>, atau punya kenalan seperti <a href="http://naked-traveler.com/2005/10/05/im-just-a-lucky-bastard/" target="_blank">Mr.X</a>-nya saya. Tapi kalau yang benar-benar gratis tiket pesawat, akomodasi, konsumsi dan transportasi ke luar negeri, baca cara-caranya di bawah ini:</p>
<p>[1] Ikut undian atau lomba yang hadiahnya jalan-jalan ke luar negeri. Hanya orang yang sangat beruntung aja bisa menang. Bayangkan, teman saya bisa jalan-jalan ke Swiss karena membeli produk, menulis data diri di secarik kertas formulir, memasukkannya ke kotak undian, dan bum, menang! Sulit dipercaya tapi ternyata beneran ada. Kalau ikutan lomba, ya harus usaha dulu sesuai syaratnya plus berdoa yang kenceng supaya menang.</p>
<p>[2] Kalau Anda merasa cantik dan seksi (meski bahasa Inggris kurang lancar), ikutlah lomba Miss/Putri Indonesia dan jadi juara pertama. Abis itu kan tandingnya di luar negeri. Berharap aja agar Anda tidak lagi dihujat pemerintah sendiri karena tampil berbikini.</p>
<p><span id="more-491"></span>[3] Anda jago menyanyi, menari, atau kesenian lainnya yang unik, dan ikut perkumpulan yang bener. Dengan demikian ada kemungkinan Anda bisa bertanding atau menggelar pertunjukan ke luar negeri, contohnya anggota koor atau <em>marching band</em>, penari atau pemusik tradisional. Kalau Anda anggota band yang ngetop banget, konsernya juga ke luar negeri lho, minimal ke Malaysia lah. Yang paling hebat sih Eddy Silitonga yang ditunjuk oleh Jero Wacik menjadi Duta Kebudayaan Indonesia 2010 yang keliling dunia untuk bernyanyi di restoran.</p>
<p>[4] Anda seorang atlet berprestasi. Liat aja tuh atlet bulu tangkis kita, sering bertanding ke luar negeri kan? Kalau Anda baru mau merintis jadi atlet dan ingin dapat kesempatan yang lebih besar, carilah olah raga yang lebih jarang pesaingnya, lalu berprestasi lah setinggi-tingginya.</p>
<p>[5] Anda pelajar yang superpintar sehingga dikirim ke luar negeri untuk tanding fisika dan matematika. Atau Anda cukup beruntung jadi mahasiswa yang bisa dibayarin ikut konferensi di luar negeri.</p>
<p>[6] Dari segi jenis pekerjaan, yang paling banyak jalan-jalan gratis tentu jadi <em>Tour Guide</em> atau <em>Tour Leader</em>. Awalnya sih Anda dikirim ke negara tetangga, tapi kalau jam terbang sudah tinggi baru ke negara-negara yang jauh sampe mereka sendiri bosan bolak-balik ke luar negeri. Biar dikata gratis, Anda harus kerja rodi ngurusin rombongan tur orang Indonesia yang gitu deh…! Kalau pilot, pramugari, kru kapal pesiar, apalagi yang sektor internasional, juga sampe bosan sendiri keliling dunia. Nggak kebayang <em>jetlag</em>-nya kayak apa tuh, mana tiap hari menghadapi penumpang-penumpang rese lagi.</p>
<p>[7] Kerja jadi <em>sales</em> asuransi atau MLM. Yang ini Anda harus jualan yang buanyak sehingga dapet bonus jalan-jalan ke luar negeri bersama rombongan. Ditambah bonus foto Anda dipajang di koran dengan pakaian yang aneh-aneh.</p>
<p>[8] Jadi wartawan dan tunggu undangan liputan ke luar negeri. Kalau baru memulai karir di media, ya sabar aja dulu sampe dikirim ke luar negeri. Media yang jumlah karyawannya banyak seperti koran harian kemungkinan dikirim ke luar negeri lebih kecil dibanding majalah, apalagi majalah wisata. Ada baiknya Anda jadi ahli di satu bidang, contohnya wartawan spesialis menulis tentang pesawat terbang atau telekomunikasi, maka undangan akan menumpuk di meja Anda. Wartawan/kameraman media elektronik juga bisa liputan ke luar negeri, terutama di bagian berita, wisata dan olah raga.</p>
<p>[9] Jadi <em>blogger</em> ngetop. <em>Blogger</em> saat ini sudah disejajarkan dengan wartawan dimana mereka juga diundang ke luar negeri karena kemampuannya memberikan pengaruh terhadap pembaca blog. Tapi blog Anda harus unik dan banyak dibaca, sehingga Anda dianggap ahli di bidangnya. Bukan cuma <em>travel blog</em> aja, tapi blog tentang <em>fashion</em> dan IT pun bisa.</p>
<p>[10] Bekerja di perusahaan swasta yang <em>profit</em>-nya tinggi dan punya jaringan multinasional. Contohnya perusahaan IT, minyak, telekomunikasi, FMCG, <em>advertising agency</em>, <em>production house, </em>dll. Mereka mengirim karyawannya untuk <em>meeting</em>, <em>conference</em>, <em>training</em> atau syuting di luar negeri. Malah ada yang <em>outing</em> kantornya ke luar negeri segala. Semakin tinggi jabatan tentu semakin besar kemungkinan dikirim ke luar negeri. Bisa jadi anak buahnya yang mati-matian bikin presentasi, tapi si bos yang berangkat ke luar negeri.</p>
<p>[11] Kalau jadi pegawai negeri, bisa jalan-jalan ke luar negeri pake Abidin (Atas Biaya Dinas), tapi itu tergantung dari Departemen, jabatan, atau faktor KKN-nya. Alasan utamanya apalagi kalau bukan “studi banding”. Puluhan pengurus PSSI dan anggota DPR aja bisa nobar ke Afsel lho! Ada juga sih ke luar negeri untuk pameran, <em>meeting</em>, <em>training, </em>atau dibayarin <em>vendor/supplier</em> karena proyeknya gol. Jadi Diplomat atau ajudan Dubes sih kemungkinannya lebih besar, apalagi jadi Presiden. Kalau jadi polisi, ya cari deh bagian yang jemput koruptor yang kabur ke luar negeri.</p>
<p>[12] Jadi TKI. Jangan pikir TKI itu kerjanya cuma jadi pembokat. Beberapa teman saya bisa kerja di luar negeri karena keprofesionalan di bidangnya, contohnya di bidang IT, <em>hospitality industry</em>, <em>airlines</em>, atau kerja di Badan Dunia. Kalau Anda nggak punya <em>skill</em> tinggi tapi rajin, jadilah &#8220;asisten rumah tangga&#8221; dan berdoa dapet bos yang bukan tukang siksa.</p>
<p>[13] Carilah beasiswa untuk belajar di luar negeri. Syarat umumnya harus paling pintar dan lebih miskin dibanding pesaing lain. Kalau malas sekolah lama, cari beasiswa <em>fellowship</em> atau <em>workshop</em>. Bagi dosen, PNS, LSM, dan berasal dari Indonesia Timur, kemungkinan mendapatkan beasiswa lebih besar.</p>
<p>[14] Kalau Anda tidak berpenghasilan sendiri tapi punya orang tua yang tajir ya mestilah diajak jalan-jalan ke luar negeri. Kalau orang tua Anda nggak tajir, ya carilah istri/suami yang tajir melintir. Kan asik tuh dibawa jalan-jalan ke luar negeri gratis bersama keluarga. Jadi pembokatnya majikan tajir bisa juga lho ikutan diajak ke luar negeri.</p>
<p>[15] Kalau ogah menikah dan mau nekat, jadi aja perempuan simpenan pria tajir berhidung belang atau jadi cowok brondong piaraan wanita sukses. Beberapa cewek yang saya kenal beneran bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Semakin tajir maka jalan-jalannya semakin nikmat: nginep di hotel bintang lima, makan di restoran <em>fine dining</em>, dibelanjain barang-barang <em>branded</em> lagi. Asal siap deg-degan karena takut ketauan dan punya energi banyak untuk diembat ya silakan aja.</p>
<p>Tapi jika Anda bukan salah satu dari di atas, maka berhentilah bermimpi jalan-jalan gratis ke luar negeri! Menabung aja yang rajin, oke?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/07/16/15-cara-jalan-jalan-gratis-ke-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>98</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber mata air bikin pingsan</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/07/09/sumber-mata-air-bikin-pingsan/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/07/09/sumber-mata-air-bikin-pingsan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 18:54:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Jangan meremehkan sumber mata air karena bisa jadi merupakan andalan pariwisata setempat. Selama ini di benak saya sumber mata air itu hanyalah sumber mata air panas (hot spring). Saya sendiri sih tidak begitu ngefans sama jenis mata air ini. Di Indonesia yang terkenal adalah pemandian air panas Ciater dekat Bandung. Pertama kali saya ke sana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TDYWTqqjzHI/AAAAAAAAAxA/0ucLEEpUNis/s288/IMG_5076.jpg" alt="" width="288" height="216" /><p class="wp-caption-text">Pamukkale, Turki</p></div>
<p>Jangan meremehkan sumber mata air karena bisa jadi merupakan andalan pariwisata setempat. Selama ini di benak saya sumber mata air itu hanyalah sumber mata air panas (<em>hot spring</em>). Saya sendiri sih tidak begitu ngefans sama jenis mata air ini. Di Indonesia yang terkenal adalah pemandian air panas Ciater dekat Bandung. Pertama kali saya ke sana saat berumur 5 tahun. Entah mengapa saya sukses pingsan, mungkin karena kelamaan berendam atau karena bau belerangnya yang menyengat. Sejak itu saya agak trauma ke <em>hot spring</em> sehingga nggak pernah menjadikannya sebagai tujuan wisata.</p>
<p>Ternyata udah gede pun kalau saya ke sauna rasanya mau pingsan. Pokoknya segala yang panas-panasan itu bikin saya keleyengan. Sampai beberapa tahun yang lalu ketika liburan di Bali, saya baru tau di hotel  tempat saya menginap yang terletak di dekat Taman Nasional Bali Barat terdapat beberapa kolam renang yang airnya berasal dari sumber mata air panas. Keren dan cocok banget untuk berendam malam-malam sambil minum <em>wine</em> setelah seharian main di laut. Ditambah lagi kolam ini kolam privat yang isinya ya hanya saya dan teman-teman saja. Karena sudah tahu imbasnya, saya sih nggak berani berlama-lama berendam.</p>
<p><span id="more-484"></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TDYZ57RtxuI/AAAAAAAAAxQ/Nmq-xI_EVMQ/s144/Coromandel.JPG" alt="" width="144" height="108" />Nah, bagaimana kalau saya sudah kadung di luar negeri? Saya sih nggak nyari-nyari amat, tapi kalau unik ya saya jabanin. Salah satunya di Hot Water Beach di Coromandel Peninsula, Selandia Baru. Ini aneh banget: pada saat <em>low tide</em> ada sumber mata air panas yang airnya keluar dari pasir, tapi air laut yang hanya berjarak beberapa meter di depannya tetap dingin. Jadi abis berenang di pantai, saya menggali pasir dan membentuk lubang kecil untuk berendam air panas. Wah, nikmatnya! Nah, yang ini sih nggak bikin saya pingsan. Mana pemandangannya sedap, air lautnya biru, pantai sepi, dan gratis.</p>
<p><img class="alignright" src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TDYWTz8d_LI/AAAAAAAAAxE/DziuzlO5FGk/s144/IMG_5125.jpg" alt="" width="144" height="108" />Saya juga ke Pamukkale, Turki, bukan semata karena <em>hot spring</em>, tapi karena Pamukkale dalam bahasa Inggris artinya <em>Cotton Castle</em>. Dari kejauhan aja terlihat bukit besar sepanjang 2,7 km berwarna putih-tih-tih seperti bersalju. Warna putih itu sebenarnya adalah sedimen yang terbentuk karena gempa tektonik yang menyebabkan air dari Sungai Menderes yang mengandung mineral kapur tinggi menyembur ke permukaan. Air yang keluar menjadi sumber mata air panas yang akhirnya membentuk batu kapur yang luar biasa besar dan luas sehingga terlihat seperti “Kastil Kapas”. Benar-benar keajaiban alam yang luar biasa! Lagi-lagi karena trauma, saya tidak bawa baju ganti. Maka saya hanya menceburkan kaki ke dalam kolam-kolam kecil bersuhu 33ºC. Kolam yang banyak ini membentuk undak-undakan di lereng bukitnya dan airnya yang jernih terlihat berwarna biru muda. Wih, spektakuler abis!</p>
<p>April 2010 lalu saya <em>diving</em> di Coron, Filipina. Malamnya saya diberitahu resepsionis untuk berendam di Maquinit Hot Spring. Pemandian air panas ini terletak di tepi laut dikelilingi hutan bakau yang terdapat 3 buah kolam dengan kedalaman air sedada. Baru aja 10 menit berendam, tiba-tiba badan saya lemas bukan kepalang sampai si Jana panik membangunkan saya yang pingsan.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TDYWULGFRNI/AAAAAAAAAxI/iKXSB4LPNB8/s144/IMG_6318.JPG" alt="" width="144" height="108" />Seminggu kemudian sampai di Pulau Camiguin, betapa paniknya saya ketika diberitahu bahwa obyek wisata utamanya adalah “Tour de spring” alias keliling pulau untuk mencoba berbagai macam sumber mata air. Oh, tidak lagi!! Tapi mobil sudah keburu disewa, maka saya ikut Mr. Supir yang ganteng aja. Sungguh tidak kecewa karena saat itu lah pertama kali saya merasakan berenang di  <em>Soda Spring</em> alias kolam yang berisi sumber mata air soda. Ternyata berenang di air soda rasanya segerrr banget! Seperti tercebur di dalam Sprite dingin dengan gelembung-gelembung udara karbonasinya. Saya sengaja meminum air dari selang yang mengalirkan air soda ke dalam kolam, rasanya memang <em>plain soda</em>! Sungguh ajaib! Mungkin kalau ditambah sirup dan es batu jadilah Soda Gembira. Eh katanya di Tarutung, Sumatra Utara, ada <em>Soda Spring</em> juga lho!</p>
<p>Satu jam merasakan berenang tersegar di air soda, saya ke Santo Niño Cold Spring. Saya juga baru tau kalau ada yang disebut sumber mata air dingin. Air dialirkan ke dalam kolam renang segi empat berukuran 25 x 40 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Baru saja saya mencelupkan ujung jari kaki, saya dikejutkan dengan rasa dingin yang luar biasa seperti air es – jauh lebih dingin daripada kolam air soda! Brrrr!! Perjalanan hari itu ditutup dengan berendam di Ardent Hot Spring. Sumber mata air panas bersuhu 40°C ini berasal dari Gunung Hibok-Hibok. Air dialirkan ke dalam beberapa kolam renang berundak seperti terasering sawah. Untuk kedua tempat ini, saya cuma berani berendam 5 menit aja sebagai ‘syarat’.</p>
<p>Selanjutnya saya tau apa yang saya mau. Kalau saya harus ke sumber mata air, harus yang unik banget dengan pemandangan yang oke. Contohnya: Jigokudani di Jepang, Yangbaijing di Tibet dan Blue Lagoon di Iceland. Tapi karena ketiganya <em>hot spring</em>, ogah deh saya berendam lama-lama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/07/09/sumber-mata-air-bikin-pingsan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sirik sama pariwisata Thailand</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/06/30/sirik-sama-pariwisata-thailand/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/06/30/sirik-sama-pariwisata-thailand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 15:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Thailand mengklaim ada 15 juta turis asing per tahun yang berkunjung ke negaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6 juta. Setiap kali ke Thailand di bagian manapun, saya tak habis pikir bagaimana negara itu kok bisa rame banget sama turis. Padahal menurut saya, keindahan alam dan kebudayaan Indonesia tak kalah sama Thailand yang luasnya hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 164px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TCtIw_dnuHI/AAAAAAAAAv4/EU7za_5oMVg/s144/IMG_5339.JPG" alt="" width="154" height="120" /><p class="wp-caption-text">Beda banget sama gaya blogger yg pake kamera saku <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>Thailand mengklaim ada 15 juta turis asing per tahun yang berkunjung ke negaranya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6 juta. Setiap kali ke Thailand di bagian manapun, saya tak habis pikir bagaimana negara itu kok bisa rame banget sama turis. Padahal menurut saya, keindahan alam dan kebudayaan Indonesia tak kalah sama Thailand yang luasnya hanya seperempat dari luas Indonesia. Memang sih ada banyak faktor yang menyebabkan pariwisata kita kalah jauh, tapi tulisan ini adalah wacana baru yang menarik bagi kita semua.</p>
<p>Lagi heboh kerusuhan Bangkok pada akhir Maret 2010 lalu, saya malah dapat undangan dari Thailand Tourism Authority untuk menghadiri perayaan ke-50 ulang tahunnya. Bukan cuma saya, tapi juga 500 orang wartawan dan <em>blogger </em>dari seluruh dunia. <em>FYI</em>, saya aja tidak pernah diundang oleh Budpar Indonesia untuk kepentingan apapun. Kami dikumpulkan di <em>ballroom</em> hotel mewah untuk mendengarkan presentasi tentang pariwisata Thailand yang meng-<em>cover</em> berbagai macam segmen, termasuk <em>niche-market</em>. Acara dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Olah Raga Thailand, Mr. Chumphol Silpa-archa yang sangat bangga mengatakan bahwa pariwisata Thailand merupakan tulang punggung perkembangan sosial dan ekonomi negaranya. Selanjutnya ada presentasi bertopik “Today’s Trends, Tomorrow’s Tourism” (maksudnya apa saya nggak ngerti) selama seharian, tapi bikin saya tambah miris dengan pariwisata Indonesia. </p>
<p><span id="more-473"></span>Pertama tentang <em>Medical Tourism</em>. Thailand saat ini menjadi pilihan untuk berobat. Tak disangka, Thailand udah canggih bener pengobatan dan fasilitas kesehatannya. Kelebihan Thailand dibanding Singapura dan Malaysia yang sama-sama menjual <em>medical tourism</em> adalah harganya paling murah &#8211; dan mereka tak malu mengakuinya. Kendala bahasa yang ditakutkan oleh para turis (<em>you know</em> deh bahasa Thailand yang begitu) pun diatasi dengan menyediakan penterjemah khusus atau dokter-dokter asing yang tersedia di Rumah Sakit. Programnya mulai dari <em>check up</em> sampai operasi plastik. Sementara kita? Fasilitas sih boleh lah, tapi tingkat kepercayaan terhadap dokter dan rumah sakit kurang. Orang kita sendiri lebih percaya sama dokter luar. Mau komplen aja takut dipenjara kayak Prita.</p>
<p>Presentasi kedua bikin sirik lagi. Thailand menawarkan <em>Community Based Tourism </em>artinya pariwisata berbasis komunitas, seperti tinggal bersama penduduk desa. Di sana turis dapat tinggal di rumah penduduk lokal, belajar memasak, belajar bertani, membantu mengajar di sekolah setempat &#8211; mirip kayak program KKN tapi untuk turis asing. Selain menambah devisa negara juga turut meningkatkan perekonomian penduduk desa. Padahal sebenarnya kita bisa melakukan hal seperti itu, tapi Thailand mengemasnya dengan baik dan terintegrasi. Ternyata paket ini laku oleh anak-anak SMA dari Eropa.</p>
<p>Presentasi ketiga adalah tentang <em>Experient</em><em>i</em><em>al Travel</em>. Katanya <em>trend</em> pariwisata kini telah berubah, dari <em>destination based tourism</em> ke <em>activity based tourism</em>. Biasanya kan turis – apalagi yang ikut paket tur – perginya ke destinasi umum, seperti ke candi ini candi itu atau ke pantai A, B, C. Makanya Thailand menawarkan <em>rock climbing, </em><em>trekking</em><em>, caving, scuba diving, golfing, </em><em>biking</em>, <em>rafting</em>, dan <em>–ing tourism</em> lainnya, yang fokus kepada partisipatif, pengalaman yang baru dan berkesan. Ditambah lagi promosi lewat <em>social media</em> yang dipercaya lebih mantap dalam memberikan testimoni. Ah, tentu di negara kita ada dan banyak bukan? Tapi rasanya yang kayak gini kurang dipromosiin ke luar deh.</p>
<p>Yang tambah menganga adalah presentasi terakhir tentang <em>Intelligent </em><em>Luxury Tourism.</em> Dibeberkanlah resor-resor cantik yang letaknya di tempat tersembunyi di pulau, di tengah hutan atau di pegunungan. Fasilitasnya bukan lagi kamar mewah atau kolam renang cantik, tapi punya bioskop privat di bawah bintang dan rumah-rumahan di atas pohon. Kelebihan resor pun dilabeli dengan <em>environmental friendly</em>, seperti fasilitas air minum yang disuling sendiri sehingga tidak menggunakan botol plastik atau makanan dan spa organik. Nah ini dia, pariwisata mereka juga mencakup segmen kelas atas. Di negara kita sih banyak banget resor mewah, tapi sepertinya promosi hanya dilakukan secara sporadis dari masing-masing pemilik/manajemen resor sehingga tidak terintegrasi dengan baik. Kelebihannya pun masih berkisar di mewahnya fasilitas.</p>
<p>Saya salut bahwa Thailand tidak sungkan untuk meng-<em>hire</em> para <em>expat</em> dalam mengerjakan proyek-proyek pariwisata ini. Contohnya aja, pembicara presentasi itu empat-empatnya orang bule. Menurut saya penting karena selain dapat keahliannya, mereka lebih dapat menyesuaikan dengan selera turis asing. Sementara kita? Kalo ada pejabat bule aja, sering dituduh “gitu aja kok pake bule, emang orang kita ga ada?”. Belum lagi fokus pariwisata kita masih aja berkutat di Bali lagi Bali lagi &#8211; sampe Menbudpar pun sepertinya harus dari Bali.<em> </em><em>Well</em>, saya memang tidak tahu dengan pasti program apa yang dilakukan oleh Departemen Pariwisata kita, tapi saya harus akui pariwisata Thailand jauh lebih maju.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/06/30/sirik-sama-pariwisata-thailand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RW &amp; B1</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/06/24/rw-b1/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/06/24/rw-b1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 08:38:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan: sebagian orang mungkin merasa terganggu dengan tulisan dan gambar ini.
Anjing adalah sahabat manusia yang paling setia. Tapi nampaknya itu lebih dipercayai oleh budaya Barat dibanding Timur. Anjing dengan berbagai macam ras telah menjadi bagian dari keluarga, bahkan tak sedikit yang menganggap lebih baik memelihara anjing daripada punya pasangan atau punya anak. Karena memiliki tingkat intelegensia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 163px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TCMOEK11BZI/AAAAAAAAAvc/x_LTmGE3s8I/s144/doggystyle.jpg" alt="" width="153" height="121" /><p class="wp-caption-text">Dog meat in Vietnam</p></div>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Peringatan</span></strong>: sebagian orang mungkin merasa terganggu dengan tulisan dan gambar ini.</p>
<p>Anjing adalah sahabat manusia yang paling setia. Tapi nampaknya itu lebih dipercayai oleh budaya Barat dibanding Timur. Anjing dengan berbagai macam ras telah menjadi bagian dari keluarga, bahkan tak sedikit yang menganggap lebih baik memelihara anjing daripada punya pasangan atau punya anak. Karena memiliki tingkat intelegensia yang tinggi, anjing juga digunakan untuk membantu polisi dan orang cacat. Perlombaan ketangkasan anjing pun ramai diikuti para peserta, salah satunya jadi <em>reality show</em> di TV bertajuk “Greatest American Dog”. Industri anjing berkembang pesat, mulai dari makanan anjing, baju anjing, majalah anjing, sampai salon dan spa anjing. Artis Hollywood seperti Paris Hilton aja doyan bawa anjing (yang didandani setema dengan pemiliknya) ke pesta, bahkan ia membangun rumah anjing seharga Rp 3 milyar.</p>
<p>Kebalikannya, di Timur, anjing seringnya dipelihara untuk menjaga keamanan atau malah dimakan. Sebenarnya di Barat orang juga makan anjing. Di Siberia dan Alaska saja orang makan anjing untuk bertahan hidup. Bisa jadi karena konon daging anjing itu &#8216;panas&#8217; sehingga dapat menghangatkan badan. Tapi itu dulu sekali. Sejak seratusan tahun yang lalu makan anjing adalah tabu secara sosial. Saat ini banyak negara yang sudah membuat hukum “anti pembunuhan anjing untuk dikonsumsi”. Belum lagi LSM yang mengkampanyekan “anti kekerasan terhadap binatang”.</p>
<p><span id="more-468"></span>Sementara negara pemakan anjing terbesar di dunia adalah Cina, Korea Selatan, dan Vietnam – semuanya di Timur. Memang jenis anjing yang dimakan bukan ras yang lucu-lucu seperti Chihuahua-nya Paris Hilton, melainkan anjing kampung yang diternakkan. Tapi tetep aja kesannya ‘mengerikan’. Di antara ketiga negara itu, yang paling keliatan banget ya di Vietnam. Meskipun saya nggak ngerti tulisannya, tapi plang restorannya aja ada gambar anjing. Tadinya saya kira <em>pet shop</em>, nggak taunya restoran, bo! Di warung pinggir jalan bahkan daging anjing utuh cuek aja digantung di etalase kaca, kayak bebek panggang aja gitu. Daging anjing yang sudah dipotong-potong juga cuek ditaro di piring dan dipajang di meja. Kepala anjing dengan mulut menganga, ada empat kaki anjing, buntutnya… Ih, jijay! Segitu doyannya kah orang Vietnam makan anjing? Ketika saya bertanya kepada teman Vietnam saya yang tinggal di Filipina tentang apa yang dikangeni dari negaranya, jawabannya, “<em>Eating dog meat</em>!”. Hiiiih! Itu kan sama seperti saya kangen makan sayur asem atau rendang sapi, tapi dia kangen makan daging anjing.</p>
<p>Daging anjing diharamkan oleh agama Yahudi dan Islam. Saking najisnya anjing, kata makian di kita aja menyebut, “Anjing lu!”. Coba bayangkan bila ada orang bule memaki bule lain, “<em>You dog</em>!” – yang dimaki rasanya tidak akan setersinggung seperti ketika ada orang yang memaki kita dengan kata “anjing” dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, daging anjing diasosiasikan sebagai ‘makanan’ orang Manado atau Batak. Di Manado disebut RW (singkatan dari “Rintek Wuuk”, artinya “bulu halus” dalam bahasa Tombulu).  Umumnya dimasak ala rica-rica. Sedangkan di Batak, daging anjing disebut B1, singkatan dari “biang” alias anjing. Biang kan huruf “b”-nya satu, maka disebut “B1”. Sedangkan B2 artinya “babi” yang memiliki dua huruf “b”. Jadi kalau ke Lapo (rumah makan tradisional Batak), memesannya pake kode B1 atau B2. Cuman sampe saat ini saya sih belum pernah lihat ada Lapo yang jualan B1.</p>
<p>Cara membunuh anjing pun mengerikan. Mereka percaya bahwa anjing tidak boleh dibunuh dengan cara membelek karena darahnya akan keluar. Bila darahnya keluar, rasanya akan ‘pahit’. Makanya anjing itu digetok kepalanya atau digebuki sampai mati, sehingga darahnya tidak keluar. Ada juga kepercayaan yang bilang bahwa anjing berwarna hitam rasanya lebih nikmat dan anjing berusia di bawah setahun adalah yang paling nikmat karena dagingnya empuk. Tapi pengasosiasian daging anjing dengan kedua suku itu, justru tidak terasa sama sekali ketika saya berada di Sulawesi Utara atau di Sumatra Utara (eh, sama-sama dari Utara ya?). Mungkin karena saya bukan penduduk lokal, tapi saya tidak pernah melihat daging anjing dijual di restoran manapun di sana. Katanya sih daging anjing hanya dimakan di rumah kalau ada perayaan.</p>
<p>Begitu saya ke Sumba, barulah kelihatan banget. Di pasar di Waingapu sebenarnya standar aja menjual sayuran, daging, bumbu, beras, dan lain lain. Yang membedakan adalah… mereka cuek menjual anjing hidup di pasar – bukan untuk dipelihara, tapi untuk dimakan! Puluhan anjing kampung berwarna hitam, putih, coklat &#8211; semuanya “kaing-kaing” &#8211; diikat pada tonggak bambu, dan orang cuek membeli anjing hidup kayak beli ayam aja. Sungguh saya tidak berani memandang tatapan mata anjing yang sepertinya tahu sebentar lagi mereka mau dimakan. Gilanya lagi, si <em>supplier</em> anjing ini datang menggunakan motor dengan rentetan anjing yang diikat di belakangnya sehingga susah payah berlari menyamakan kecepatan motor. Oh, tidaaak!</p>
<p>Dalam rangka perayaan Pasola di Waikabubak, saya diundang makan makanan khas Sumba di rumah seorang pejabat desa. Rupanya ia juga mengundang juga para kerabatnya dan jurnalis asing. Setelah beramah tamah, kami disuruh mengambil makanan di ruang makan karena sistemnya prasmanan. Makanan pun tersedia di meja. Ada nasi, sayur daun pepaya, babi rica, sop babi, dan ada sebuah mangkok berisi daging yang dipotong kecil-kecil dan berbumbu banyak sehingga tidak kelihatan bentuk dagingnya.<br />
Maka saya pun bertanya kepada si bapak sambil menunjuk mangkok itu, “Yang ini daging apa ya, Pak?”.<br />
Dengan santainya ia menjawab, “Oh itu daging anjing.”<br />
HAH?! Saya langsung lemas… apalagi melihat 5 ekor anjing peliharannya sedang asyik tidur-tiduran di ruang makan sambil menggoyang-goyangkan buntutnya.<br />
“Ini bukan anjing yang bapak pelihara kan?”, tanya saya cemas.<br />
“Lho, anjing di Sumba itu dipelihara di rumah ya untuk dipotong dan dimakan, kak. Tenang saja, di belakang saya masih punya 20 anjing lagi kok. Tidak bakal habis untuk pesta ini.”<br />
GUBRAK!<br />
Jangan-jangan yang di mangkok itu adalah anjing yang kemarin main-main sama saya…</p>
<p>Belum habis <em>shock</em> saya di Sumba, seminggu kemudian saya ke Kupang dan menyempatkan diri untuk berkeliling kota. Eh, di sana juga cuek banget. Gerobak makanan kaki lima tulisannya “Nasi Ayam, Nasi Babi, Nasi RW”. Buset, saya sampai jengah membacanya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/06/24/rw-b1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>93</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 generasi dalam 1 rumah</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/06/11/4-generasi-dalam-1-rumah/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/06/11/4-generasi-dalam-1-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 21:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Terus terang, kalau saja saya tidak punya teman-teman sekolah orang India, rasanya tidak mungkin saya mau jalan-jalan ke India sendiri. Kalaupun iya, pasti India jadi prioritas terakhir. Karena diyakinkan oleh teman-teman saya itu, saya memberanikan diri. Mereka sampai bikin panitia khusus menyambut kedatangan saya dan saling menawarkan untuk menginap di rumahnya. Asyik juga ngerasain nginep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TBFT2QYC21I/AAAAAAAAAuU/xu6I2GM9Hzs/s288/India%201523.jpg" alt="" width="263" height="177" />Terus terang, kalau saja saya tidak punya teman-teman sekolah orang India, rasanya tidak mungkin saya mau jalan-jalan ke India sendiri. Kalaupun iya, pasti India jadi prioritas terakhir. Karena diyakinkan oleh teman-teman saya itu, saya memberanikan diri. Mereka sampai bikin panitia khusus menyambut kedatangan saya dan saling menawarkan untuk menginap di rumahnya. Asyik juga ngerasain nginep di rumah keluarga India. Meski saya hanya bertemu mereka pada malam hari, karena siang harinya mereka kerja, tapi bolehlah untuk menghemat <em>budget</em> akomodasi setelah 2 minggu ngelayap sendiri di India.</p>
<p>Di Mumbai saya tinggal di flat milik Sapi (hush, memang begitu namanya! Kependekan dari Saptarshi). Karena istrinya baru melahirkan maka mereka pindah tinggal ke rumah mertua sehingga saya diperbolehkan tinggal di flat sendirian. Lokasinya bukan di tengah kota, tapi ada di Navi Mumbai – sekitar satu jam naik kereta api yang superduper umplek-umplekan. Flatnya bertingkat tiga, satu lantai ada 4 unit, dan rumah Sapi ada di lantai tiga. Bentuk flatnya mirip seperti rumah susun di Tanah Abang. Kamar tidurnya ada 2, tapi ruang keluarga dan dapurnya luas. Begitu nyampe, saya berencana pinjam mesin cuci karena semua baju udah kotor. Sialnya, cuci baju hanya bisa dilakukan jam 6 pagi. Buset, saya sampai pasang alarm demi bangun untuk memencet tombol. Rupanya di Mumbai terjadi krisis air. Kalau nggak pas jam 6 pagi maka debit air nggak cukup untuk cuci baju. Pantes aja kalo mandi, airnya kecil banget kayak pipis mengucur.</p>
<p><span id="more-457"></span>Besoknya saya diajak ke rumah mertua Sapi sekitar 15 menit naik bajaj. Flatnya bertingkat tujuh, <em>lift</em>-nya kuno banget yang pintunya hanya berupa jeruji besi. Rumah mertuanya berkamar satu, jadi setiap malam Sapi dan istrinya ngampar kasur di ruang tamu. Saat ibu mertuanya masak, saya sampe terbersin-bersin mencium bau masakannya dari dapur yang berjarak 2 meter dari ruang tamu. Rupanya bapaknya kerja di PBB dan sekarang ditempatkan di Afrika, malah pernah di Timor Leste. Saya kaget aja, kalau di kita kan pasti rumahnya udah gede banget.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TBFT3PLjS4I/AAAAAAAAAuc/k1YvyBMCDuE/s144/India%201792.jpg" alt="" width="144" height="108" />Saya juga sempat main ke rumah teman-teman yang lain. Salah satunya Hussein yang beragama Islam dan tinggal di komunitas Islam. Masuk ke gerbangnya terpampang spanduk paket naik haji, nama-nama toko dan warung pun berbau Arab. Rupanya di India, harga rumah itu tergantung juga dari lingkungannya. Tinggal di lingkungan seagama harganya lebih murah. Di India terbagi antara komunitas Islam dengan Islam, Hindu dengan Hindu. Kalau mau tinggal di lingkungan campur, maka harganya lebih mahal. Hussein tinggal bersama istrinya yang sedang hamil 8 bulan dan ibunya. Meski dia seorang CEO perusahaan farmasi, namun rumahnya lebih parah daripada rumah susun Kebon Kacang. Bahkan tembok luar flatnya hitam karena catnya terkelupas plus hijau karena lumutan.</p>
<p><img class="alignright" src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TBFT2fr_qeI/AAAAAAAAAuY/qnjN4Wv5mi8/s144/India%201776.jpg" alt="" width="144" height="108" />Saya juga ke rumah teman lain bernama Nilesh. Flatnya yang kecil hanya punya 2 kamar dan 1 kamar mandi, ukurannya sekitar 36 m². Tapi yang tinggal di situ adalah dia, istrinya, anaknya, ibunya, bapaknya, dan neneknya. Buset, 4 generasi dalam 1 rumah! Tidurnya bagaimana? Ya umplek-umplekan gitu deh. Begitu buka pintu rumah, langsung ada kasur besar tergelar di lantai. Padahal Nilesh berkerja sebagai manager di perusahaan selular no.1 di India. Saya tanya, kenapa orang tuanya tidak tinggal di rumah saudaranya saja? Nilesh menjawab bahwa di antara saudara-saudaranya yang lain, dialah anak lelaki yang ekonominya paling mampu. Sementara anak perempuan India yang sudah menikah tinggal di rumah keluarga suaminya. Apa rasanya ya jadi istri Nilesh?</p>
<p>Di Bangalore, 2 malam pertama saya nebeng di rumah Ana (nama boleh feminin, tapi dia lelaki tulen). Dia tinggal di kos-kosan bersama istrinya. Kos ini maksudnya rumah orang yang disewakan. Serumah ada 3 unit kos. Masing-masing unit ada 1 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Udah tau kamarnya cuma satu, eh masa saya disuruh tidur di kamar bersama istrinya. Tentu saya memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Itupun pintu kamar tidur mereka buka lebar-lebar saking nggak enaknya sama saya.</p>
<p>Karena mereka ada kawinan di luar kota, saya pindah menginap di rumah Roy. Berhubung dia pangkatnya tinggi, apartemennya yang berkamar 2 cukup luas dan bagus. Roy tinggal bersama istri dan anaknya berumur 3 tahun. Saya sampai nggak enak hati dipaksa tidur di kamar utama, sementara mereka sekeluarga tidur di kamar anaknya. Siang hari saat Roy ngantor dan istrinya ke salon, pembokatnya dateng. Si anak tidur siang di kasur, pembokatnya tidur di lantai! Ck ck ck…</p>
<p>Dari semua rumah yang saya kunjungi, paling bagus adalah apartemennya Udhi. Dia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Sebagai direktur di perusahaan multinasional, maka dapat jatah apartemen yang paling bagus dan berlokasi strategis. Konon di Bangalore merupakan apartemen paling mahal, letaknya aja bersebelahan dengan hotel bintang lima di jalan protokol. Baru kali ini saya lihat toiletnya memiliki WC duduk. Di India memang biasanya memiliki WC jongkok yang mereka sebut “Indian toilet”. Saya pun diajak berkeliling kompleks yang terdiri dari 10 <em>tower</em>. Fasilitasnya lengkap, mulai dari restoran, tempat penitipan anak, gym, lapangan tenis, lapangan basket, sampai kolam renang. Lucunya, kolam renangnya ada dua. Satu untuk pria, satu untuk wanita &#8211; dan sore itu tidak ada satu orangpun yang berenang! Menurut saya, kalau disamain sama apartemen di Jakarta, apartemen yang paling mahal di sana malah kondisinya lebih buruk daripada Apartemen Rasuna.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TBFV_YgKgVI/AAAAAAAAAuk/pWgaaQsre6k/s144/India%202025.jpg" alt="" width="144" height="108" />Di Mysore saya nginep di rumah Nitha, istri teman sekelas saya yang sedang bekerja di Hongkong. Baru kali ini saya lihat rumah beneran yang menjejak tanah dan ada halaman. Mungkin karena Mysore adalah kota kecil. Rumahnya sendiri besar dan bertingkat dua dengan pilar-pilar dan korden berumbai warna merah mencolok. Yang tinggal di situ adalah Nitha, anaknya, kakaknya, iparnya, 2 orang keponakan, kedua orang tuanya, dan 3 orang pembokat. Karena rumahnya besar, ada salah satu kamar yang dikhususkan untuk <em>puja</em> (sembahyang Hindu) dengan gambar-gambar dewa, bunga, dan dupa. Anehnya, semua kamar mandi ada di dalam kamar tidur, sementara saya tinggal di kamar tamu yang satu-satunya kamar tanpa kamar mandi. Alhasil saat kebelet di malam hari, saya terpaksa mengendap-endap masuk kamar ibunya untuk buang air! Nitha baru melahirkan anak pertama. Kebiasaan di sana, kalau abis melahirkan si ibu harus pake baju tebal, pake kaos kaki, dan kupingnya disumpel kapas. Katanya supaya nggak masuk angin! Hihi, di India percaya juga masuk angin. Anehnya lagi, setiap malam saya diajak minum <em>Brandy</em> di kamar Nitha. Karena melahirkan secara caesar, mereka percaya bahwa operasi di dalam perut akan cepat sembuh bila minum alkohol. Lah, apa bayinya nggak mabok pas disusui ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/06/11/4-generasi-dalam-1-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
