Thoughts

Hore bebas fiskal!

Bagi yang sudah berusia 21 tahun ke atas dan sudah memiliki NPWP, ternyata mudah kok mendapatkan fasilitas bebas fiskal kalau mau ke luar negeri.
Terbukti minggu lalu di bandara Soekarno-Hatta: abis check in di konter penerbangan, pergi ke loket Bebas Fiskal di paling ujung kiri, serahkan boarding pass dan paspor, lalu petugas akan mencap sesuatu di boarding pass. Sebelum masuk boarding gate, capnya dicek oleh petugas di konter Fiskal, lalu tinggal ke bagian imigrasi deh.
Mengurus NPWP juga mudah, saya sih cuma apply online aja di http://www.pajak.go.id/ lalu ambil kartunya di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) sesuai dengan alamat KTP – 15 menit ngantri langsung kelar.
Daripada bayar fiskal Rp 2,5 juta lewat udara atau Rp 1 juta lewat laut, mending punya NPWP deh!

Read more

Lesson Learned

Sejak buku TNT terbit, saya bercita-cita buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan harapan akan semakin banyak pembacanya (dengan semakin besar pula royaltinya :p). Dulu saya juga bercita-cita bisa menulis dalam bahasa Inggris sebaik saya menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan gaya tulisan saya yang ndeso begini mana bisa ungkapannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris? Contohnya, bagaimana menterjemahkan ‘lempeng.com’ atau ‘capee deeh’ yang bisa sama lucunya dalam bahasa Inggris?

Kesimpulan itu dikuatkan dengan kejadian yang baru saja terjadi belakangan ini. Seseorang yang tidak saya kenal di forum Thorn Tree mempertanyakan (lebih tepatnya menyindir) Laszlo yang meng-endorse buku TNT. Rupanya setelah saya menulis komen dengan mencantumkan alamat blog TNT, orang itu memborbardir komen tentang cabe. Padahal tulisan saya cuman tentang pedasnya cabe Indonesia, eh dia merambat ke hal-hal yang lain yang tidak ada hubungannya. Saya hanya mengatakan bahwa jalapeno bagi saya tidak pedas, tapi dia teruusss berkomentar bahwa cabe Indonesia begini lah begitu lah. Ditambah lagi bahasanya yang tidak sopan membuat saya harus mengedit komennya, bahkan menghapusnya. Saya yang (berusaha) tidak terpancing, ternyata membuat dia tambah ‘napsu’ dengan menghina para pembaca/orang Indonesia. Saya jadi berpikir, kenapa dia begitu panas?

Ketika saya balik ke forum, saya pun menjadi panas. Ternyata setelah ‘membantai’ Laszlo, dia ‘membantai’ saya. Katanya saya kampungan, katanya cerita Pramugari membuat dia muak, dan katanya tulisan saya yang bilang bahwa orang Indonesia menganggap kulit putih itu lebih menarik adalah politically incorrect. Hah?! Meski saya sudah dibela Laszlo yang mengatakan bahwa tulisan saya adalah for Indonesian readership according to their values, tapi tetap dia merepet ga karuan.

Meskipun orang (bule) itu mengaku sudah pernah tinggal di Indonesia, kelihatannya dia belum mengerti bahasa Indonesia-nya tulisan saya, belum mengerti benar budaya dan nilai-nilai yang dianut orang Indonesia, serta masih belum mempunyai selera humor yang sama dengan kita. Lesson learned: tulisan saya yang sangat apa adanya dan terbuka bisa jadi dianggap melanggar SARA, HAM, dsb, bagi orang luar yang mempunyai budaya dan nilai-nilai berbeda.

Jadi, saya akan terus menulis TNT dalam bahasa Indonesia saja dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, karena hanya orang Indonesia yang mengerti (lucunya).
Hidup Indonesia!

Read more

Salah satu sumber dana jalan-jalan

Coba deh inget-inget apakah perusahaan tempat kamu bekerja memotong gajimu untuk Jamsostek atau Dana Pensiun. Nah, kalau sudah keluar dari pekerjaan, bisa tuh dana dicairkan. Lumayan untuk ditabung di bank (daripada didiemin di Jamsostek dengan bunga kecil), untuk belanja, atau… untuk modal jalan-jalan!

Untuk klaim JHT Jamsostek syaratnya gampang: kepesertaan minimal 5 tahun dan sudah keluar dari kantor minimal 1 bulan, bawa kartu asli Jamsostek, bawa fotokopi dan aslinya KTP/Kartu Keluarga/Surat Referensi Kerja/Rekening Bank, bawa materai Rp 1.000. Tinggal ke kantor Jamsostek sesuai terdaftarnya kartu (tanyain alamatnya ke HRD kantormu, karena saya aja salah kantor –  dan sialnya, kantor Jamsostek hari gini belum online antar cabang), isi formulir yang tersedia di sana, antri (bisa sampe 2 jam sih), serahkan dokumen, dan dalam waktu 10 hari kerja ditransfer deh duitnya ke rekening bank sendiri. Yipppeee! Informasi selanjutnya, klik aja http://www.jamsostek.co.id/

Hmmm… mau ke mana ya?

Read more

Selamat Natal & Tahun Baru!

Tidak ada yang bisa menahan keinginan saya untuk jalan-jalan. Meski terkena disentri amuba, meski dengan duit pas-pasan, meski ini-itu, akhirnya sebentar lagi saya akan berangkat ke Komodo.
Mengapa Komodo? Sebagai orang Indonesia, saya merasa malu bila belum pernah melihat langsung hewan menyeramkan yang termasuk spesies kadal terbesar di dunia dan hanya terdapat di Indonesia ini. Keinginan yang sudah lama tertunda ini akhirnya dalam waktu dekat akan terlaksana juga. Akhirnya saya bisa bilang, “Thanks to global financial crisis!” karena memaksa saya untuk putar haluan. Biarlah Rupiah melemah, tapi uang saya masuk ke kantong bangsa sendiri. Terima kasih juga bagi NT-ers yang sudah membeli barang merchandise saya, terima kasih bagi TV dan perusahaan yang telah mengundang saya, sehingga saya bisa mewujudkan impian ini.
Mohon pamit untuk ‘cuti’ menulis selama 3 minggu ya?
Akhir kata, saya mengucapkan Selamat hari Natal dan Tahun Baru! Semoga tahun 2009 membawa kebahagiaan, kesejahteraan, dan kedamaian bagi kita semua. Amin..

Read more

Rencana jalan2 ke mana lagi?

Bingung saya setiap ditanya begitu. Masalahnya, tidak kerja = tidak bisa nabung = tidak bisa jalan2. Sampe2 hampir setiap malam saya mimpi traveling mulu! Memang benar, kalo mau jalan2 harus punya minimal 3 hal: waktu, uang, kesehatan. Padahal lagi jobless gini (kata teman saya, harusnya pake kata in between jobs), saya punya buanyak waktu… tapi ga punya duit. Dulu lagi kerja, ada duit… eh ga ada waktu. Hiks. Mana dolar lagi menggila. Ke Indonesia timur juga mahal, charge-nya pake dolar pula, malah ada yg pake Euro. Sialan. Kapan ya bisa ke Amerika Latin? *ngimpi*. Ya sud lah, saya mau nulis dulu… semoga buku ke-2 cepet kelar. Doain ya?

Read more