Thoughts

Trip Bareng!

Siapa sangka dari iseng nulis blog, jadi buku, dan akhirnya bisa bikin trip bareng para NTers – para pembaca setia blog dan buku saya. Trip bareng pertama kali ini diadakan tgl 5-6 Des 2009 ke Kep. Seribu. Padahal sudah sejak 2 tahun yg lalu saya diojok-ojok untuk bikin trip bareng, tapi kok ya males banget organize-nya. Untung aja ada Milis Tamasya Indonesia yang dengan senang hati arrange segalanya, jadi saya tinggal bawa badan dan jalan-jalan bareng dengan 35 orang NTers. Biayanya pun tidak mahal, Rp 390 ribu sudah all-in, termasuk menginap di Villa Delima – hotel terbaik di P. Pramuka.

Meskipun trip ini nggak ‘ngegembel’ banget, tapi saya sempat kawatir juga karena kami akan naik kapal regular ke P. Pramuka dari Muara Angke. Memasuki daerah ini saja bikin syok karena kotor dan bau, maklum pasar ikan. Kapalnya yang kecil pun diumplek-umplek sampai 150 orang yang duduk di segala tempat sampai ke atap. Benar saja, beberapa peserta sudah mengeluh soal bau dan kotor. Begitu kapal berjalan, salah satu peserta bahkan parno abis sampe sepanjang jalan memakai life jacket. Tapi begitu sampai di P. Pramuka, semua keparnoan terbayar. Mulailah para ‘wartawan Facebook’ sibuk potrat-potret. Kami sewa kapal untuk snorkeling ke pulau-pulau sekitarnya. Untung banget, musim hujan gini Kep. Seribu justru cerah ceria. Saya juga kagum, saat itu visibility air laut cukup baik dan melihat terumbu karang yang cukup sehat. Tak hanya ‘melaut’, kami juga melihat budi daya bandeng dan penangkaran penyu sisik.

Sebagian besar peserta ternyata baru pertama kali ke Kep. Seribu, meski mereka lahir dan besar di Jakarta. Banyak juga yang baru pertama kali snorkeling, bahkan ada beberapa yang tidak bisa berenang. Tapi saya salut dengan semangatnya. Mungkin karena mereka traveler yang cukup handal, bahkan sudah pernah traveling ke mana-mana. Yang saya heran, 85% dari jumlah peserta adalah cewek. Mungkin karena cewek doyan jalan rame-rame. Tapi peserta cowok asik-asik aja tuh, mereka malah hepi dikelilingi para wanita cantik yang bergaya ala FHM girls 🙂

Anyway, berbekal pengalaman ini, saya jadi pengen rutin menjalankan acara trip bareng lagi. Ditunggu aja ya?

Read more

Cuti ah…

Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa! Sekalian mau bikin ‘dosa’ lagi nih… saya minta izin utk traveling (tepatnya di mana, tunggu aja postingan selanjutnya). Unfortunately, saya bakal tidak ada waktu utk menulis di blog selama 2 bulan (lama ya? hehe!). Saya sih akan berusaha utk ngecek email, milis, facebook, dan twitter di warnet. Hanya saja tdk bisa sering2 deh.
Yang jelas, cerita2nya pasti akan diposting kok 🙂
Terima kasih.

In the mean time,baca “The Naked Traveler 2” dg cara ketik REG TNT dan SMS ke 3450 (hanya utk pengguna XL).

Read more

Hore bebas fiskal!

Bagi yang sudah berusia 21 tahun ke atas dan sudah memiliki NPWP, ternyata mudah kok mendapatkan fasilitas bebas fiskal kalau mau ke luar negeri.
Terbukti minggu lalu di bandara Soekarno-Hatta: abis check in di konter penerbangan, pergi ke loket Bebas Fiskal di paling ujung kiri, serahkan boarding pass dan paspor, lalu petugas akan mencap sesuatu di boarding pass. Sebelum masuk boarding gate, capnya dicek oleh petugas di konter Fiskal, lalu tinggal ke bagian imigrasi deh.
Mengurus NPWP juga mudah, saya sih cuma apply online aja di http://www.pajak.go.id/ lalu ambil kartunya di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) sesuai dengan alamat KTP – 15 menit ngantri langsung kelar.
Daripada bayar fiskal Rp 2,5 juta lewat udara atau Rp 1 juta lewat laut, mending punya NPWP deh!

Read more

Lesson Learned

Sejak buku TNT terbit, saya bercita-cita buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan harapan akan semakin banyak pembacanya (dengan semakin besar pula royaltinya :p). Dulu saya juga bercita-cita bisa menulis dalam bahasa Inggris sebaik saya menulis dalam bahasa Indonesia, tapi dengan gaya tulisan saya yang ndeso begini mana bisa ungkapannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris? Contohnya, bagaimana menterjemahkan ‘lempeng.com’ atau ‘capee deeh’ yang bisa sama lucunya dalam bahasa Inggris?

Kesimpulan itu dikuatkan dengan kejadian yang baru saja terjadi belakangan ini. Seseorang yang tidak saya kenal di forum Thorn Tree mempertanyakan (lebih tepatnya menyindir) Laszlo yang meng-endorse buku TNT. Rupanya setelah saya menulis komen dengan mencantumkan alamat blog TNT, orang itu memborbardir komen tentang cabe. Padahal tulisan saya cuman tentang pedasnya cabe Indonesia, eh dia merambat ke hal-hal yang lain yang tidak ada hubungannya. Saya hanya mengatakan bahwa jalapeno bagi saya tidak pedas, tapi dia teruusss berkomentar bahwa cabe Indonesia begini lah begitu lah. Ditambah lagi bahasanya yang tidak sopan membuat saya harus mengedit komennya, bahkan menghapusnya. Saya yang (berusaha) tidak terpancing, ternyata membuat dia tambah ‘napsu’ dengan menghina para pembaca/orang Indonesia. Saya jadi berpikir, kenapa dia begitu panas?

Ketika saya balik ke forum, saya pun menjadi panas. Ternyata setelah ‘membantai’ Laszlo, dia ‘membantai’ saya. Katanya saya kampungan, katanya cerita Pramugari membuat dia muak, dan katanya tulisan saya yang bilang bahwa orang Indonesia menganggap kulit putih itu lebih menarik adalah politically incorrect. Hah?! Meski saya sudah dibela Laszlo yang mengatakan bahwa tulisan saya adalah for Indonesian readership according to their values, tapi tetap dia merepet ga karuan.

Meskipun orang (bule) itu mengaku sudah pernah tinggal di Indonesia, kelihatannya dia belum mengerti bahasa Indonesia-nya tulisan saya, belum mengerti benar budaya dan nilai-nilai yang dianut orang Indonesia, serta masih belum mempunyai selera humor yang sama dengan kita. Lesson learned: tulisan saya yang sangat apa adanya dan terbuka bisa jadi dianggap melanggar SARA, HAM, dsb, bagi orang luar yang mempunyai budaya dan nilai-nilai berbeda.

Jadi, saya akan terus menulis TNT dalam bahasa Indonesia saja dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, karena hanya orang Indonesia yang mengerti (lucunya).
Hidup Indonesia!

Read more

Salah satu sumber dana jalan-jalan

Coba deh inget-inget apakah perusahaan tempat kamu bekerja memotong gajimu untuk Jamsostek atau Dana Pensiun. Nah, kalau sudah keluar dari pekerjaan, bisa tuh dana dicairkan. Lumayan untuk ditabung di bank (daripada didiemin di Jamsostek dengan bunga kecil), untuk belanja, atau… untuk modal jalan-jalan!

Untuk klaim JHT Jamsostek syaratnya gampang: kepesertaan minimal 5 tahun dan sudah keluar dari kantor minimal 1 bulan, bawa kartu asli Jamsostek, bawa fotokopi dan aslinya KTP/Kartu Keluarga/Surat Referensi Kerja/Rekening Bank, bawa materai Rp 1.000. Tinggal ke kantor Jamsostek sesuai terdaftarnya kartu (tanyain alamatnya ke HRD kantormu, karena saya aja salah kantor –  dan sialnya, kantor Jamsostek hari gini belum online antar cabang), isi formulir yang tersedia di sana, antri (bisa sampe 2 jam sih), serahkan dokumen, dan dalam waktu 10 hari kerja ditransfer deh duitnya ke rekening bank sendiri. Yipppeee! Informasi selanjutnya, klik aja http://www.jamsostek.co.id/

Hmmm… mau ke mana ya?

Read more