Thoughts

[New Release] The Naked Traveler, Across the Indonesian Archipelago (#TNTeng)

by Trinity

#TNTeng

Trinity is Indonesia’s leading travel blogger and writer. Four volumes of “The Naked Traveler” have been published to date, and have quickly become Indonesia’s best-selling travel book. Her books tell of her adventures around the world in compilations of thoughtful, entertaining and often hysterical short stories. Through her blog, books, and appearances, Trinity has inspired a young generation of Indonesians to expand their horizons through travel. For the first time in English, this compilation focuses on Trinity’s adventures in and around Indonesia, providing travelers to the region an indispensable insight into the culture and sights of this multi-faceted archipelago.

(preview from page 51-53)

From what you see of it on TV, the Komodo is truly terrifying – I will never erase the image of a goat being swallowed whole in a single huge gulp. For a whole month before we left, Yasmin, Jana and I (none of us spring chickens) were busy developing our komodo evasion techniques in case we were suddenly charged. Apparently, a komodo that is approximately three metres long and weighs 70kg (on an empty stomach) can run at 20km/h, climb trees, and swim underwater!

When the boat arrived in Komodo Island, a World Heritage Site, we were given a briefing by the guide. “There are 2,500 komodos in the park. Komodos like to eat meat, including human meat.”
One westerner was less than excited. “Can I just stay in the boat?”
But there was no backing out now. All the foreign tourists who had spent the boat ride wearing as little as possible were suddenly transformed into Indiana Jones attire, complete with hats, khaki shirts, pants and trekking boots. Of course, that left us three looking like total dorks. All we were worried about was making sure we had put on enough insect repellent.
And the dorkiness continued when the Komodo National Park ranger asked, “Who wants to go for a short trek?”
All three of us put our hands up at the same time.
“Medium trek?”
No response.
“Long trek?”
At this point the remaining 23 sets of hands shot up into the air. Damn westerners! It wasn’t all bad though as the three of us were given our own guide while the rest of the group shared the remaining two. Aside from not really wanting to go trekking, we were also glad we would not have to try to keep up with their long-legged strides.
… 

(more…)

Read more

Peluncuran buku “The Naked Traveler 4”

Buku travel yang paling ditunggu pembaca Indonesia, “The Naked Traveler 4”, akhirnya terbit! Buku ini merupakan buku sekuel The Naked Traveler keempat  setelah ketiga sekuel buku sebelumnya menjadi buku travel paling laris di Indonesia.

Peluncurannya akan diadakan pada;

Hari/Tanggal: Sabtu, 29 September 2012
Jam: 14.00 – 16.00 WIB
Tempat: East Mall – Void Lantai 3 (dekat Food Louvre), Grand Indonesia Shopping Town, Jln. MH.Thamrin No.1, Jakarta 10310
MC:  Hans Lango
Acara: Talk show, tanya-jawab, quiz berhadiah, book signing, foto bareng… Gratis!

Acara peluncuran buku “The Naked Traveler 4” ini juga bisa dikatakan sebagai event terakhir Trinity tahun ini. Mulai Oktober 2012, Trinity bertekad untuk jalan-jalan keliling dunia selama satu tahun dengan menggunakan paspor RI. Maka jangan lewatkan kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan tanda tangan Trinity sebelum dia ngacir.

Selain tersedia penjualan semua bukunya dengan harga diskon, tersedia pula berlangganan Majalah Jalanjalan dan merchandise khusus travel dari KemasKemas.

(more…)

Read more

[Buku baru] TraveLove – Dari Ransel Turun ke Hati

Front cover

Telah terbit buku baru berjudul: TraveLove – Dari Ransel Turun ke Hati!

Ditulis oleh 9 travel writer ngetop yang buku-bukunya telah diterbitkan Bentang Pustaka, yaitu: Andrei  Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan Trinity a.k.a. saya :)

Sinopsis:
Ternyata, traveler tangguh pun tunduk pada cinta. Trinity misalnya, terpaksa menemani orang yang dicintainya ke Bromo, padahal malas setengah mati. Claudia Kaunang, Andrei Budiman, Rini Raharjanti, Sari Musdar, dkk. pun pernah tunduk pada cinta, dengan kisah berbeda-beda.
TraveLove adalah kisah-kisah traveling berbalut cinta, ditulis oleh para traveler dengan segala kejujurannya. Buku ini akan membuat pembaca bisa menemukan sisi lain para traveler. Jadi, jangan kaget kalau ternyata mereka punya sisi melankolis.
Tak hanya disuguhi kisah sedih, romantis, dan mengharukan, pembaca juga akan diajak jalan-jalan keliling dunia lewat buku ini. Menikmati indahnya Lombok, Laos, Jepang, hingga Eropa dengan bumbu kisah cinta tak biasa.

ISBN: 9786028864565
Jumlah halaman: 158
Harga: Rp 47.000,-
Tersedia mulai hari ini di toko-toko buku di Jabodetabek dan secara bertahap di daerah lain, atau pesan online di mizan.com

Serbuuuuu!

 

Read more

The Power of Blog*

Tak terasa hampir 7 tahun saya punya blog naked-traveler.com. Kalau dulu saya nggak nge-blog, mungkin saya tidak bisa seperti saya sekarang ini yang berprofesi sebagai “tukang jalan-jalan sambil sesekali menulis”. Gimana nggak nikmat, coba? Padahal dulu punya blog cuma iseng ingin mendokumentasikan perjalanan saya di tempat yang aman. Karena gaptek, blog saya dibuatkan oleh teman. Sampai sekarang pun saya masih gaptek, tapi intinya nge-blog bukan jago-jagoan bikin dengan program IT, tapi konsisten dalam menulis. If you can write, then you can blog!

Dulu saya tidak pernah menyangka bahwa blog itu bisa menghasilkan uang, bahkan bisa jadi profesi. Nge-blog ternyata bisa membuka pintu-pintu lain. Saya tiba-tiba dilirik Editor dan menawarkan untuk jadi kontributor di majalahnya. Selanjutnya blog saya dilirik penerbit untuk diterbitkan jadi buku. Saya jadi sering diundang menjadi pembicara di seminar, workshop, talkshow di radio, TV, dan sebagainya, termasuk diwawancara media untuk ditanyakan pendapat tentang suatu isu ataupun dibuatkan profil. Dari blog pula, saya mendapat undangan untuk jalan-jalan gratis ke seluruh dunia!

Bukan karena saya spesifik di travel blog yang bisa begitu, tapi teman-teman blogger saya juga mendapatkan kesempatan yang sama. Ada teman yang punya blog bertema IT, bisnis, fashion, foto, kuliner, kedokteran  – semuanya juga sering diundang perusahaan untuk me-review produk, jadi pembicara, bahkan jadi presenter TV dan bintang iklan.

Selain alasan bisnis, blog itu berguna untuk mengekspresikan diri, menguatkan personal brand, menjadi ahli di bidangnya, ajang kita berlatih menulis, bahkan sesederhana agar nama kita eksis di google :) Dengan nge-blog kita bisa mengungkapkan sesuatu di depan publik dan tantangannya adalah orang bisa mempercayai pendapat kita!

Apakah dengan adanya Facebook dan Twitter itu mengalahkan keberadaan blog? Tidak. Saat ini promosi suatu produk/perusahaan mulai merambah ke digital dan mereka lebih menyukai endorser yang punya blog dan aktif di social media sekaligus. Banyak akun Twitter yang memiliki banyak follower, tapi belum tentu punya blog. Ada juga yang punya blog, tapi tidak aktif di Twitter. Dengan aktif di keduanya, maka Anda akan memiliki nilai lebih sehingga semakin mudah dilirik.

Nah, bagi Anda yang ingin nge-blog, berikut tipsnya:

Niche content  – Karena saat ini blog sudah banyak banget berseliweran di dunia maya, maka Anda perlu memikirkan tema yang spesifik dan unik. Contohnya blog tentang traveling, bisa dibikin lebih fokus lagi ke wisata kuliner, menyelam, atau wisata sejarah. Boleh saja blog Anda berisi diary tentang kehidupan sehari-hari, tapi kalau Anda menulisnya biasa saja (nggak lucu), siapa yang melirik kecuali teman-teman Anda sendiri? Ingat, pilihlah tema yang benar-benar Anda kuasai, sehingga Anda juga enak dalam menulis dan tidak bosan berbagi.

WIIFM – Ini singkatan dari “What’s In It For Me?”. Artinya, bikin blog jangan hanya untuk memuaskan diri sendiri, tapi juga harus menempatkan diri sebagai pembaca. Ngapain baca blog orang kalau isinya tidak ada gunanya bagi kita sebagai pembaca, bukan?

Nama domain yang eye catching dan ear catching – Kecuali nama keluarga Anda Onasis atau Hilton, sebaiknya saat ini jangan menggunakan nama pribadi sebagai alamat domain blog Anda. Pikirkan sesuatu nama yang mudah diingat dan enak didengar, yang lucu atau menarik, yang sesuai dengan tema yang akan diusung, tapi jangan kepanjangan sehingga susah diingat.

Tampilan memikat – Memikat bukan berarti canggih, tapi user friendly. Warna dasar jangan yang mencolok, apalagi menggunakan font yang warnanya tidak kontras dengan warna dasar. Duh, pusing bacanya! Sebaiknya tidak pakai flash atau musik, karena berat bukanya dan bikin kaget.

Konsisten – Segalanya harus konsisten, baik dalam gaya bahasa, font, warna, gambar, maupun jumlah kata. Yang paling berat adalah konsisten dalam mem-posting. Menulis blog terus menerus membutuhkan waktu dan tenaga khusus. Jangan sampai blog lama kosongnya, karena akan ditinggalkan pembaca. Pengalaman saya sih maksimal seminggu sekali.

Taut dengan akun social media – Taruhlah link akun social media Anda dan alamat email di blog agar pembaca dapat berhubungan dengan Anda. Sebaliknya, setiap Anda mem-posting blog, taruhlah link tersebut di akun social media Anda sehingga traffic blog akan semakin tinggi.


*Tulisan ini diambil dari http://www.acerid.com/2012/01/the-power-of-blog

Read more

Follow your passion*

Setelah jadi “mbak-mbak kantoran” selama bertahun-tahun, saya punya cita-cita untuk jadi freelancer sehingga tidak usah bergantung dengan satu institusi tertentu, tidak punya bos, tidak punya kolega, tidak harus ngantor, tidak harus bangun pagi. Tapi kerjaan macam apa yang bisa survive hidup di ibu kota? Seluruh keluarga besar saya nggak ada yang jadi freelancer, dari kecil kami ditanamkan untuk bekerja kantoran dan berkarir.

Jadi bagaimana caranya saya meyakinkan diri untuk melepas kerja kantoran dengan gaji bulanan dan menjadi freelancer dengan gaji kapan-kapan?

Professor Gavino, dosen saya di Asian Institute of Management, Filipina, menasehati saya, “Follow your passion and success will follow you”. Saat itu saya tidak bisa mendeskripsikan kata “passion”. Dalam bahasa Indonesia hanya diartikan sebagai “gairah”. Lalu saya disuruh bertanya kepada diri sendiri: hal apa yang membuat saya dengan senang hati terus melakukannya? Jawabannya: jalan-jalan dan menulis. Kedua hal itu lah yang membuat saya merasa bergairah dan tidak merasa bosan bila melakukannya terus menerus. Tanpa dibayar pun saya dengan senang hati melakukannya, contohnya menulis di blog naked-traveler.com.

Jadi, passion saya adalah menulis tentang perjalanan atau menjadi travel writer. Dulu saya pikir passion saya adalah bekerja di bidang marketing communications, tapi mengapa masih juga saya males ke kantor? Kalau saya tidak digaji, tentu saya akan ngamuk-ngamuk mengerjakannya. Tapi kalau jadi travel writer, saya bisa bergairah terus menerus!

Tapi bagaimana caranya agar passion itu jadi penghasilan dan membuat saya sukses? Saya pun dikuliahi Professor Gavino. Intinya, kalau kita menginginkan sesuatu, jangan hanya di angan-angan aja. Kita harus put into action. Iya, tapi gimana? “Dimulai dengan menuliskannya. Lalu menghitung segala kemungkinan,” jawabnya.

Saya disuruh bikin MRR (Management Research Report) terhadap diri sendiri. Di sekolah S2 saya, MRR adalah thesis yang berisi business plan tentang suatu perusahaan sehingga menjadi lebih baik. Sederhananya, kita harus membuat analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), menetapkan segmen pasar, membuat produk, membuat strategi bisnis, dan pada akhirnya ada perhitungan bisnis 5 tahun ke depan.

Lalu sibuklah saya bikin MRR itu. Saya memposisikan diri sebagai sebuah perusahaan dan produknya adalah tulisan perjalanan. Saya menganalisa apa kelebihan dan kekurangan saya, kesempatan dan ancaman di industri, juga riset tentang potensi bisnis. Terakhir, saya buat file excel selama 5 tahun ke depan atau 60 bulan. Tiap kolom saya isi dengan perkiraan pengeluaran bulanan dan pemasukan dari berbagai macam pundi.

Dan tibalah saatnya saya beneran tidak bekerja kantoran. 3 bulan pertama saya asyik leyeh-leyeh di rumah, menikmati kebebasan. Bulan berikutnya mulai mikir, loh kok belum ada pemasukan? Barulah saya panik dan segera melihat MRR saya tadi. Saya mengikuti langkah-langkahnya, mengontak potensi bisnis, bikin proposal sana-sini, dan rajin menulis.

Hasilnya? Pemasukan meleset! Tapi saya tetap sabar dan terus berusaha. Lama-lama menuai untung juga, bahkan melebihi perkiraan yang saya buat sebelumnya. Ternyata kalau kita fokus pada satu hal, hasilnya jauh lebih menguntungkan. Ternyata pemasukan saya dari “menulis saja” lebih besar daripada “kerja kantoran + menulis”. Bahkan akhirnya saya dapat banyak job yang bukan menulis, misalnya jadi pembicara, karena keahlian saya yang spesifik. Bonusnya adalah saya nggak harus bangun pagi, nggak harus bermacet-macetan di Jakarta, dan punya waktu jalan-jalan yang tidak terbatas.

Tidak terbatas? Ya, pekerjaan sebagai travel writer itu bisa dikerjakan di mana saja. Traveling sih jalan terus, tapi menulis juga harus jalan. Sebagai freelancer yang tidak punya kantor, teknologi adalah hal yang penting sebagai backbone pekerjaan saya. Makanya harus punya gadget dan applications yang mendukung. Tablet Acer Iconia A500 saya adalah salah satunya. Browsing, emailing, writing, blogging, twitting, facebooking, reading, gaming, chatting, taking pictures, filming – semua tinggal sentuh doang. Long journeys jadi terasa short karena banyak yang bisa dikerjakan di tablet itu. Tidak cuma untuk bekerja, tapi juga untuk bersosialisasi dan bermain.

Nah, sekarang tanyalah pada diri sendiri: apakah passion Anda? Dan yang lebih penting, apakah Anda punya keberanian untuk mewujudkan passion Anda tersebut?

*tulisan Advertorial ini diambil dari http://www.acerid.com/2011/08/follow-your-passion/

Read more