<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler &#187; Anthology</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/category/anthology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 19:20:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Banyak bertanya tetap sesat di jalan</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/31/banyak-bertanya-tetap-sesat-di-jalan/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/31/banyak-bertanya-tetap-sesat-di-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 18:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=541</guid>
		<description><![CDATA[by Aan Wulandari Usman*
Sebuah gambar cantik menarik perhatian saya dan suami. Gambar itu ada di peta wisata yang diambil di kantor kecamatan Fukuoka, Kyushu, Jepang. Jembatan merah melintang di atas sebuah danau dikelilingi rerimbunan pepohonan nan hijau. Nagatami Dam, itulah namanya. Selain tempatnya oke, jaraknya di peta kelihatan dekat banget. Terjangkau pula dengan naik sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by </strong><strong>Aan Wulandari</strong><strong> Usman*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 290px"><img src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THqUJktONzI/AAAAAAAAA0c/ne7xnE2wEtk/s288/Nagatami_Dam.JPG" alt="" width="280" height="120" /><p class="wp-caption-text">Nagatami Dam</p></div>
<p>Sebuah gambar cantik menarik perhatian saya dan suami. Gambar itu ada di peta wisata yang diambil di kantor kecamatan Fukuoka, Kyushu, Jepang. Jembatan merah melintang di atas sebuah danau dikelilingi rerimbunan pepohonan nan hijau. Nagatami Dam, itulah namanya. Selain tempatnya oke, jaraknya di peta kelihatan dekat banget. Terjangkau pula dengan naik sepeda sehingga tak perlu modal untuk ke sana selain otot kaki. Ya, saat itu baru menginjakan bulan kedua kami di Jepang. Acara wisata kami pun masih terbatas yang dekat-dekat.</p>
<p>Akhirnya saat akhir pekan, bersiaplah kami ke sana. Tapi, ternyata oh ternyata, menuju ke sana dengan naik sepeda tak semudah menjalankan jari di peta. Baru beberapa menit jalan, sudah <em>lost</em>! Nggak tahu dimana posisi kami. Akhirnya asal <em>blusak blusuk</em> sesuai <em>feeling</em> aja. Dan hasilnya adalah semakin bingung!</p>
<p><span id="more-541"></span>Satu-satunya cara adalah bertanya. Sesuatu yang paling kami hindari. Maklum, kami masih bagaikan orang bisu dan buta di negeri ini. Bisu karena belum bisa ngomong. Buta karena kami belum bisa membaca huruf yang keriting itu. Memang sih, kalau hanya bertanya tempat saja seperti “dimanakah tempat ini?” kami bisa karena itu pelajaran bahasa Jepang dasar banget. Nah, yang menjadi masalah adalah kami belum tentu bisa  mengerti jawaban yang diberikan! Orang Jepun itu kan baik banget. Bertanya satu kata, akan dijawab dengan kalimat sepanjang gerbong kereta api. Buat yang ngerti bahasanya sih tentu akan semakin jelas, tapi buat kami tentu saja malah tambah ruwet.</p>
<p>Tak ada cara lain, kami harus tanya. Kami menanyakan posisi kami sekarang dalam peta dimana, juga mengatakan akan menuju Nagatami Dam. Dan bener kan? Mereka menjawab dengan panjang kali lebar. Tak satu pun kata yang bisa kami tangkap selain menghapal jari mereka nunjuk-nunjuk arah jalan dan peta. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali ala Jepun yang pake nunduk-nunduk, kami pun melanjutkan perjalanan lagi.</p>
<p>Tahu-tahu, sampailah kami di sebuah persimpangan. <em>Ndilalah</em>nya lagi, <em>feeling</em> juga kurang kuat untuk mengambil ke kiri atau ke kanan. Untunglah ada kakek-kakek, yang memandang kami penuh arti. Dan pandangan itu tentunya tak kami sia-siakan, kami pun bertanya jalan. Alamak, jawabannya lebih panjang lagi! Tak hanya itu, beliau mulai mengajak ngobrol. Kami timpali obrolan itu hanya dengan senyum-senyum dan mengangguk-angguk. Lama kelamaan sepertinya beliau mulai sadar bahwa kami tak mengerti dan beliau pun menyilakan kami untuk jalan.</p>
<p>Duh, gusti… tempat yang hanya sejengkal di peta itu ternyata jauhhhhh banget! Mana jalannya menanjak lagi! Lebih dari satu jam ngegowes, kadang turun dan menuntun sepeda karena nggak kuat mendaki. Saya mulai putus asa dan mengajak suami pulang. Tapi ditentangnya dengan sangat. Fiuhh, rasanya sudah gempor kaki ini. Untunglah, terlihat tanjakan sudah berujung dan ada orang untuk bertanya lagi. “Tuh ada di sana. Dekat lagi!” katanya sambil menunjuk jalan dengan jari. Tumben jawabannya singkat, padat, jelas. Tarraaa&#8230; seperti apakah tempat yang kelihatan bagus di gambar itu? Dan untuk mencapainya, kami harus bersepeda penuh perjuangan selama dua jam?</p>
<p>Huhuu… tukang foto emang menipu! Tepatnya tidak jujur. Yang ada di foto itu cuma bagusnya aja. Ternyata, tempat itu tak lain hanyalah sebuah bendungan (ya iyalah, kan sudah dibilang juga namanya dam: Nagatami Dam). Di dekatnya ada lapangan besar dikelilingi lintasan lari. Ada juga arena bermain berisi perosotan dan ayunan, tapi jauh lebih bagus di taman dekat rumah. Di situ semuanya hanya terbuat dari kayu dan kotor. Jadi ini benar-benar hanya bendungan biasa aja dengan jembatan warna merah di atasnya! Udah, gitu ajah!</p>
<p>Walaupun kecewa, kami tetap lama di sana. Rugi amat bila kami hanya beberapa menit di sana setelah berjuang dua jam! Sialnya, nggak ada orang jualan. Bahkan <em>jidohanbaiki</em> (mesin penjual minuman otomatis) pun tak ada. Setelah rasa capai naik sepedanya mulai hilang, kami pun pulang. Kapok dah ke sini lagi!</p>
<p>Suami mengusulkan untuk ambil jalan lain untuk pulang tapi saya menentang keras takut nyasar lagi. Tapi sampai di persimpangan, tempat kami tadi terakhir bertanya, saya berubah pikiran. Wuih, jalan itu ternyata curam sekali. Nggak kebayang kalau kami tadi menaiki jalan securam itu. Kami pun memilih jalan satunya lagi yang sama-sama menurun tapi tidak terlalu curam. Werrrrr…kami pun meluncur dengan suka cita. Bila dibandingkan saat berangkat tadi, rasanya seperti di surga.</p>
<p>Tak sampai seperempat jam, kami terbelalak di sebuah jalan di mana kami berada. Tak salah lagi, inilah tempat saat kami bertanya pertama kali. Jarak dengan rumah ternyata tak sampai 10 menit. Oalah! Kesimpulannya, walaupun tadi kami sudah banyak bertanya, dan sampai tujuan dengan selamat, tapi judulnya tetap tersesat!</p>
<p>&#8212;<br />
*Aan Wulandari Usman – Seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang sangat suka jalan-jalan. Sering melihat peta atau <em>googling</em> mencari tempat unik menarik yang bisa disambangi. Hobi kedua adalah menulis. Beberapa liputan jalan-jalannya pernah dimuat di majalah Bravo!, Sekar, Paras dan Suara Merdeka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/31/banyak-bertanya-tetap-sesat-di-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parnonya newbie backpacker</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/29/parnonya-newbie-backpacker/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/29/parnonya-newbie-backpacker/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 08:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[by Ariessita*
Saya tuh pada dasarnya hobi jalan-jalan, tapi parno alias takuut banget untuk jalan sendiri karena takut diculik. Gara-garanya saya pernah nonton film tentang orang yang diculik, terus diambil ginjalnya, lalu korbannya terbangun di bathtub penuh dengan sayatan di pinggang kiri. Hiih! Tapi karena ‘kemakan’ sama buku Laskar Pelangi, saya menetapkan Belitong sebagai tujuan pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by </strong><strong>Ariessita*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><img src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/THoYILzgjAI/AAAAAAAAA0I/la5ztJflunI/s144/Belitong.JPG" alt="" width="144" height="90" /><p class="wp-caption-text">Belitong</p></div>
<p>Saya tuh pada dasarnya hobi jalan-jalan, tapi parno alias takuut banget untuk jalan sendiri karena takut diculik. Gara-garanya saya pernah nonton film tentang orang yang diculik, terus diambil ginjalnya, lalu korbannya terbangun di <em>bathtub</em> penuh dengan sayatan di pinggang kiri. Hiih! Tapi karena ‘kemakan’ sama buku Laskar Pelangi, saya menetapkan Belitong sebagai tujuan pertama sebagai <em>backpacker</em> <em>newbie</em>. Saya berhasil meracuni 2 orang teman, tapi mereka berangkat dari Palembang – artinya saya pergi sendiri dari Jakarta. Haduh.</p>
<p>Karena keparnoan saya lagi, saya ogah naik maskapai abal-abal karena tidak mau berakhir di rumah sakit, atau yang lebih parah, ke akhirat. Maka saya bela-belain naek Garuda berangkat dari Jakarta ke Bangka lalu naik kapal laut selama 4 jam ke Belitong. Sialnya, Garuda berangkatnya jam 6 pagi supaya bisa mengejar kapal yang brangkat jam 2 siang. Duh, berada di bandara jam 4 pagi sungguh tidak berperikemanusiaan karena saya harus bangun lebih pagi dari ayam.</p>
<p><span id="more-537"></span>Sampai di bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, baru jam 7.30 pagi. Sebenarnya saya masih punya waktu 5 jam untuk jalan-jalan di kota sebelum ke pelabuhan Pangkal Balam, tapi emang dasar saya nggak punya nyali, saya nggak berani jalan-jalan di kota sendirian karena takut diculik tadi. Saya pikir saya bisa keliling-keliling di bandara, eh ternyata bandaranya cuma ‘sekuprit uncrit’. Jalan nggak nyampe 5 menit dari ujung ke ujung udah mentok. Belum lagi sopir taksinya agresif banget. Baru aja keluar dari terminal kedatangan langsung dikerubutin, malah ada yang menarik baju saya. Buset!</p>
<p>Akhirnya saya nongkrong aja di satu-satunya kafe bandara berkat nasihat ibu-ibu yang duduk di sebelah saya pas di pesawat yang bilang lebih aman kalo nunggu di bandara ketimbang di pelabuhan karena banyak kuli pelabuhan yang kasar. 5 jam saya habiskan dengan mengenggak segelas capucino, roti bakar kornet, air mineral, kemplang, kue rintak, <em>chesse stick</em>, dan permen. Ajegile! Saya juga dengerin musik sampe budeg, nginternet sampe nggak ada lagi yang bisa di-<em>update</em> statusnya, baca novel sampe mata sepet berair, ngunyah sampe mulut pegel, duduk sampe pantat saya<em> </em>panas. <em>Oh, waiting sucks</em>!</p>
<p>Jam 12.30 saya cabut ke pelabuhan naik taksi resmi bandara yang kayak taksi gelap di Jakarta tapi dengan warna oranye ngejreng, plus supir taksinya yang tinggi, item, gede, sehingga membuat saya makin jiper. Saya komat-kamit berdoa dan siap-siap memegang pulpen di tangan (menyedihkan sekali alat pertahanan diri saya), takut kalo-kalo supirnya macem-macem. Pas masih jalan di kota saya merasa aman-aman aja, tapi begitu nyampe di jalan yang sepi dan nggak ada rumah warga, parno saya akan penculikan kumat. Gelisah, nafas berat, dan keringet dingin mengucur! 25 menit kemudian, saya nyampe di pelabuhan dengan aman, selamat, dan utuh. Begitu lihat argonya, alamak, di-<em>charge</em> Rp 50 ribu! Saya heran, jarak cuma 8 km kok sampe 25 menit ya, padahal tadi pas saya liat <em>speedometer</em>-nya kecepatan taksi 60 km/jam. Uh, nggak rela!</p>
<p>2 temen saya lainnya naik kapal Palembang-Bangka-Belitong. Perjalanan mereka lebih ngenes dari saya: berangkat jam 7 pagi dari Palembang, nyampe ke Pelabuhan Muntok jam 10, lanjut jalan darat selama 3 jam ke Pangkal Balam &#8211; total jendral 11 jam mereka di perjalanan! Padahal kalo diliat di peta, Palembang-Belitung tuh tinggal kepleset aja. Edan besarnya Indonesia!</p>
<p>Jam 14.00 kami bertiga ketemu di kapal. Karena kecapekan fisik dan mental, saya langsung tertidur pulas meskipun disetel lagu dangdut karaoke kenceng-kenceng di kapal. Magrib kapal baru merapat di pelabuhan Tanjong Pandan, Belitong. Untunglah abis itu kami dijemput sama <em>tour guide</em>, jadi nggak usah mikir dan parno lagi. Semua penderitaan itu terbayar dengan indahnya pantai dan pulau-pulau di sekitar Belitong. 2 hari <em>full </em>di sana cukup untuk mem-<em>format</em> otak saya yang udah nge-<em>hang</em> sama pekerjaan.</p>
<p>&#8212;- <br />
*Ariessita &#8211; Dengan sistem kerja yang <em>on-off</em> (2 minggu di lapangan dan 2 minggu libur), baru akan mulai memanfaatkan waktu liburnya untuk <em>backpacking</em>-an setelah menemukan teman jalan yang klop bernama Siwi, karena (masih) takut banget kalo diculik.<em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/29/parnonya-newbie-backpacker/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilbab Traveler</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/08/12/jilbab-traveler/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/08/12/jilbab-traveler/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 10:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[by Nelda Afriany*
Sebagai wanita Indonesia berjilbab, banyak yang bertanya kepada saya apakah saya pernah mendapatkan masalah selama berada atau bepergian di luar negeri. Beberapa bahkan bertanya apakah saya masih pake jilbab, disangka saya rela melepaskannya demi cari aman. Sulit juga menjawabnya, sebab saya punya pengalaman yang berbeda-beda yang tidak bisa digeneralisasikan.
Dari awal mula mengirim aplikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by </strong><strong>Nelda Afriany</strong><strong>*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 169px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TGQqZuu7-wI/AAAAAAAAAys/VHjWKCb8J3o/s144/jilbab.JPG" alt="" width="159" height="118" /><p class="wp-caption-text">Nelda (tengah) bersama teman2 </p></div>
<p>Sebagai wanita Indonesia berjilbab, banyak yang bertanya kepada saya apakah saya pernah mendapatkan masalah selama berada atau bepergian di luar negeri. Beberapa bahkan bertanya apakah saya masih pake jilbab, disangka saya rela melepaskannya demi cari aman. Sulit juga menjawabnya, sebab saya punya pengalaman yang berbeda-beda yang tidak bisa digeneralisasikan.</p>
<p>Dari awal mula mengirim aplikasi untuk pekerjaan di Norwegia, saya ingat saat itu setelah hebohnya peristiwa 9/11. Syukur Alhamdulillah, sampai diterima dan bekerja, kantor saya tidak pernah mempermasalahkan keislaman dan jilbab saya meskipun kantor itu adalah komunitas berbasis Kristen. Salah satu teman kerja yang berasal dari Kanada pernah berkomentar, “Awalnya saya memang nggak biasa melihat kamu dengan penutup kepala seperti itu. Tapi lama-lama ya jadi biasa saja.” Ada juga rekan kerja dari Amerika yang bertanya, “Bagaimana pesta pernikahan di budaya saya sebagai muslim?”. Mungkin dia bingung bagaimana bentuk baju pengantin wanitanya. Beberapa hari kemudian, dia bertanya lagi, “Bagaimana dengan budaya pemakaman orang yang meninggal?”. Rasanya saya jadi duta besar Muslim saat menerangkan hal-hal seperti ini kepada mereka.</p>
<p><span id="more-506"></span>Rupanya pakai jilbab itu membuat saya sering disangka berkebangsaan negara lain. Saat saya keluar stasiun kereta api di Kopenhagen, Denmark, eh ada cowok yang langsung menyapa. Dia tanya saya dari mana. Ternyata dia orang Afghanistan dan mungkin berpikir saya dari Afghanistan juga. Dia nyerocos bertanya apa pekerjaan saya, di mana, email saya apa, dan menunjukkan kafe tempat sepupunya kerja. Terakhir dia tanya apakah saya punya pacar. Refleks saya jawab, “<em>It’s none of your business</em>”. Eh, dia tau-tau kabur aja gitu! Suatu kali lagi saat saya keluar dari stasiun kereta di Jerman. Tau-tau di belakang saya ada ibu dan anak perempuannya yang tampak saling berbicara dengan heboh. Tentu saya berasa diomongin karena saya mengenal bahasa mereka, bahasa Turki. Begitu saya menengok, eh mereka langsung diem. Hihihi&#8230; mungkin mereka mengira saya orang Turki.</p>
<p>Saya punya satu teman baik di Jerman. Kami sering <em>chat</em><em>ting</em>, malah sudah sempat ketemu satu kali. Satu hari kami <em>chat</em> lagi, saya lupa kami lagi ngobrol apa, tau-tau dia bertanya, “Memang kamu Muslim?”. Lah, memang nggak liat saya pake jilbab? Eh dia bilang,”Saya kira kamu pake tutupan kepala begitu karena di Norwegia dingin.” Hahahaha! Yang parahnya lagi dia bilang, “<em>You don’t behave like a Muslim</em><em>.</em>” Nah loh, hinaan atau pujian nih? *Saatnya mengintrospeksi diri*</p>
<p>Pengalaman yang cukup menarik karena berjilbab terjadi di Rusia. Teman Rusia saya merasa aneh dengan gaya berpakaian saya yang pake rok panjang dan sepatu keds. Memang  nggak <em>matching</em> sih, bukan tipikal pakaian seorang Muslim di sana. Pernah lagi naik bus, seorang bapak-bapak di sebelah bertanya saya dari mana. Ketika tahu dari Indonesia (mereka cukup mengenal bahwa orang Indonesia kebanyakan Muslim), saking senangnya dia langsung menyodorkan bawang putih yang dibawanya sebagai hadiah. Di Izhevsk, Tatarstan, saya tinggal di apartemen teman saya Elmira, yang keluarganya Muslim dan ibunya juga berjilbab.Yang paling bikin terharu yaitu neneknya yang tinggal di tempat lain, bela-belain datang naik bus untuk bertemu saya. Malah si nenek memberi saya beberapa kain untuk jilbab dan uang!</p>
<p>Kalau di Inggris, Muslimnya cukup banyak. Gaya perempuannya yang berjilbab juga beraneka ragam. Ada yg jilbab Indo/Melayu, jilbab Pakistan, jilbab puanjang bener ala ibu-ibu berkulit hitam dari Afrika, dan juga jilbab gaul ala perempuan berwajah Timur Tengah yang cantik-cantik itu. Ada yang berbaju longgar, ada yang cukup ketat, atau dengan <em>make-up</em> yang tebal. Ketika saya malam-malam menyusuri Edgware Road di London, wih, orang-orang Arab berpesta disitu, termasuk ibu-ibu berjilbab dan anak-anak. Yuuk! Karena pakai jilbab juga saya pernah disapa seorang Malaysia yang akhirnya bermalam takbiran bersama. Sepertinya ada ikatan gitu.</p>
<p>Balik ke Norwegia lagi. Satu kali saya dan beberapa teman kerja pergi nonton konser. Setelah konser usai, teman-teman saya itu pada mau ajojing dulu. Alhasil saya duduk aja, nonton mereka. Satu dua cowok ada yang ngajakin ajojing bareng, duh, terpaksa deh saya tolak. Berikutnya, seorang cewek kulit hitam yang cantik dengan baju superseksi datang dan bilang, “Hai, saya juga Muslim kok, saya dari Namibia.” Nah, bingung kan mau bereaksi gimana?</p>
<p>&#8212;-<br />
*Nelda Afriany, masih pake jilbab <img src='http://naked-traveler.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Biasa nge-blog di <a href="http://neldasjourney.wordpress.com/">http://neldasjourney.wordpress.com/</a> Ini adalah tulisan keduanya setelah <a href="http://naked-traveler.com/2010/01/26/interogasi-ala-imigrasi/" target="_blank">ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/08/12/jilbab-traveler/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang kita di Hongkong dan Macau</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/07/07/orang-kita-di-hongkong-dan-macau/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/07/07/orang-kita-di-hongkong-dan-macau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 17:22:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[by Ellen Eliawaty*
Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di koran, kami pun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau pada akhir Desember 2009 lalu. Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua kursi penuh-nuh-nuh, tidak ada satu pun yang kosong. Hebatnya, hanya kurang dari 10 orang saja yang bukan orang Indonesia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by </strong><strong>Ellen Eliawaty*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 173px"><img class=" " src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TDNis-YCylI/AAAAAAAAAwg/EoVc86g9sZg/s144/macau%20ellen.JPG" alt="" width="163" height="127" /><p class="wp-caption-text">Hotel di Macau</p></div>
<p>Karena digoda iklan pariwisata yang hampir setiap hari muncul di koran, kami pun berketetapan hati untuk berangkat ke Hongkong dan Macau pada akhir Desember 2009 lalu. Dalam pesawat Garuda yang membawa kami dari Jakarta, semua kursi penuh-nuh-nuh, tidak ada satu pun yang kosong. Hebatnya, hanya kurang dari 10 orang saja yang bukan orang Indonesia. Nyaris semua orang Indonesia, orang kita, alias <em>Wong Kito Galo</em> (&#8220;orang kita semua&#8221; dalam bahasa Palembang). Dalam hati saya bergumam sendiri, ternyata bukan kami saja yang termakan iklan, banyak juga yang lain. Tak terasa penerbangan sekitar 5 jam kami lalui dengan aman dan sentosa serta bahagia. Terutama bagi saya pribadi karena merasa rotinya kali ini enak sekali, lebih lembut dan harum &#8211; satu awal yang baik bagi Garuda yang katanya sedang berbenah diri.</p>
<p>Sesampainya di Bandara Hongkong, seru sekali melihat orang-orang yang begitu bersemangat mempersiapkan diri dengan jaket tebal, bahkan topi dan sarung tangan wol, bagaikan hendak berseluncur di pegunungan Alpen, padahal kami semua masih berada di dalam gedung bandara. Terlihatlah bendera-bendera biro perjalanan yang selama ini memasang iklan di koran menghiasi langit-langit Bandara. Rupanya saat ini mereka sedang panen. Saya yang semula santai jadi ikut-ikutan bersemangat. <em>Ciaaa…youu…</em><em>!</em> (artinya “bersemangat “dalam bahasa Mandarin, walaupun secara harafiah berarti “tambah minyak”).</p>
<p><span id="more-479"></span>Di Hongkong, orang kita ternyata ada di mana-mana: di hotel, di obyek wisata, di pusat perbelanjaan, di jalanan, di restoran mewah bahkan di restoran kaki lima. Saya sering main tebak-tebakan dengan anak saya kalau berhadapan dengan serombongan orang Asia, apakah mereka dari Indonesia atau bukan. Tanpa mendengar mereka berbicara, cukup dari jauh dengan hanya melihat penampilannya saja. Dan kami seringkali benar. Walaupun sekarang sudah jaman  globalisasi, dimana pakaian, dandanan dan gaya di seluruh dunia sudah hampir sama, tapi orang kita tetap beda. Menurut saya, orang kita – terutama wanita paruh baya &#8211; lebih <em>trendy</em>. Tak jarang kita melihat mereka menggunakan <em>make-up</em> lengkap dengan rambut yang ditata sempurna bagaikan hendak ke pesta, padahal hanya untuk jalan-jalan saja dimana kenyamanan gerak lebih dibutuhkan. Senang juga melihat ibu-ibu yang cantik ini, tak sia-sialah mereka menjaga penampilan dimana dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang tidak sedikit.</p>
<p>Orang kita juga terkenal paling senang berbelanja, terutama di toko-toko yang menjual barang bermerek, apalagi yang ada tulisan “SALE”.  Hongkong di akhir tahun memang sedang mengadakan <em>Sale</em> besar-besaran. Sering barangnya sampai tidak kelihatan karena tertutup dengan orang-orang kita yang sedang berebutan. Pernah suatu kali saya melihat di butik merk terkenal yang terletak di tepi jalan raya, orang-orang yang mengantri panjang sampai di luar toko tepat di pinggir jalan raya. Rupanya diskon sampai 70%. Mereka rela berbaris tertib menunggu giliran masuk, ditambah lagi was-was disenggol mobil yang berjalan di sisinya. Bagaimana kalau sampai diseruduk mobil ya? Apakah setimpal perjuangan yang dilakukan dengan barang yang diinginkan? Berbeda dengan toko yang ada tulisan “New Arrival”. Masuk ke toko ini orangnya dihitung, lalu dikandangkan dengan tali penyekat seperti antrian di bank. Kemudian barang yang diminati juga diambil oleh pelayan toko yang memakai sarung tangan dengan sangat hati-hati bak memegang benda pusaka, sementara satpam matanya melirik kiri-kanan bagaikan penari Bali. Apakah nyaman berbelanja dengan cara seperti itu ya?</p>
<p>Saya bertemu dengan sepasang suami-istri yang sedang berdiskusi mengenai makanan yang akan dibeli di konter makanan Korea di <em>Food Court</em> Hotel Venetian Macau. Karena tahu sama-sama dari Indonesia, kamipun bertukar cerita. Istrinya berkisah bahwa mereka sudah berada disini selama 3 hari 3 malam belum kemana-mana, hanya berkutat disekitar hotel dan <em>casino</em>. Mengetahui saya baru saja datang dari Hongkong, istrinya bertanya, “Bagaimana keadaan di Hongkong?”. Saya jawab, “Hongkong ramai sekali dengan orang Indonesia karena sedang ada <em>sale</em> besar-besaran.” Seketika raut wajahnya berubah, terpancar kekecewaan disana, lalu bilang, “Ah, aku juga mau ke Hongkong”. Rupanya jauh-jauh dari Indonesia mereka hanya berdiam di hotel saja. Bayangkan!</p>
<p>Saat jam makan, seluruh tempat di restoran hotel terisi penuh. Ternyata 90%-nya bersisi orang kita lagi! Kalau kursi tidak diduduki orang, maka diduduki tas atau jaket. Saat itu saya beruntung karena segera memperoleh tempat kosong untuk 4 orang, padahal kami cuma berdua. Sementara meja dibersihkan, saya melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan mondar-mandir kebingungan mencari tempat sambil membawa baki makanan. Saya melambai ke mereka dan menunjukkan 2 kursi di depan saya. Mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan segera duduk. Hingga kami selesai makan, kursi-kursi kosong masih tetap diduduki jaket dan tas oleh orang-orang yang tadi juga. Mereka tetap asyik berceloteh, sementara orang-orang lain, termasuk seorang yang memakai kursi roda, mondar-mandir mencari tempat kosong yang masih tersedia. Ah, nurani…ke manakah dikau pergi?</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
*Ellen Eliawaty penggemar berat “The Naked Traveler”, mungkin memegang rekor sebagai penggemar tertua. Kelahiran tahun 1955 di Palembang, profesinya adalah ibu rumah tangga dan memiliki hobi jalan-jalan. Sejak tulisan ini dimuat, beliau terpicu membuat blog sendiri yang bisa dibaca di <a href="http://travellingwithellen.wordpress.com">http://travellingwithellen.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/07/07/orang-kita-di-hongkong-dan-macau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan mistis</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/06/21/ikan-mistis/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/06/21/ikan-mistis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 11:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[by Rocky Martakusumah*
Di Indonesia, budaya mistis dan hal yang berbau gaib amat dekat dengan kehidupan masyarakat. Saya rasa legenda hantu di Indonesia bisa jadi yang terbanyak sedunia. Gimana nggak, dari tuyul yang merupakan hantu berusia balita sampai nenek lampir yang lansia semuanya punya cerita. Belum lagi kemampuan supranatural yang dimiliki, contohnya dukun. Ada yang jago [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Rocky Martakusumah*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 165px"><img src="http://lh4.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TB9NGiYitmI/AAAAAAAAAvA/KIJ-ORWvGrk/s144/bulan.jpg" alt="" width="155" height="104" /><p class="wp-caption-text">Ikan mistis di Jawa Barat</p></div>
<p>Di Indonesia, budaya mistis dan hal yang berbau gaib amat dekat dengan kehidupan masyarakat. Saya rasa legenda hantu di Indonesia bisa jadi yang terbanyak sedunia. Gimana nggak, dari tuyul yang merupakan hantu berusia balita sampai nenek lampir yang lansia semuanya punya cerita. Belum lagi kemampuan supranatural yang dimiliki, contohnya dukun. Ada yang jago santet, ada yang seperti Limbad, bahkan saat zaman penjajahan dulu banyak cerita mistis yang membuat para penjajah &#8220;ciut&#8221;.</p>
<p>Di salah satu daerah di Jawa Barat, saya pernah diceritakan bahwa zaman dahulu ada sebagian orang-orang luar biasa yang katanya kebal terhadap peluru! Saya sendiri belum pernah memeriksa benar atau tidaknya, tapi di daerah tersebut cerita ini merupakan legenda yang diceritakan turun-menurun oleh para orangtua ke anaknya. Ada juga cerita waktu saya ke Kalimantan Barat. Ada sebuah makam yang merupakan kuburan para korban penyiksaan zaman penjajahan Jepang. Tempatnya seram, dan anehnya ada satu area yang tanah sampai daun-daunnya berwarna merah. Menurut penduduk lokal, hal itu terjadi karena di titik itulah para pejuang- pejuang Indonesia disiksa, bersimbah darah, dipenggal kepalanya hingga terbunuh.</p>
<p><span id="more-465"></span>Lain lagi cerita waktu saya ke daerah Kuningan, Jawa Barat. Di sana ada salah satu obyek wisata yang menawarkan fasilitas mandi bersama ikan suci atau ikan dewa. Ternyata ikan ini salah satu jenis ikan besar dan berwarna hitam yang telah ada di tempat itu sejak zaman dulu. Bahkan saat ibu saya masih kecil, ikan ini sudah ada dan konon jumlahnya tidak bertambah dan tidak berkurang. Di sana para pengunjung bisa berenang bersama ikan dan memberi makan si ikan. Apapun yang dikasih pasti dimakan oleh ikan ini. Buktinya, saya beri kacang atom saja ikan-ikan tersebut langsung berebutan! Banyak versi tentang asal-usul dari ikan yang dikeramatkan warga ini. Salah satunya adalah cerita bahwa dahulu kala ketika Prabu Siliwangi masih hidup, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga hampir semua prajurit dan kawulanya tunduk dan hormat pada Sang Prabu. Namun masih ada saja prajurit yang tidak suka terhadap Prabu Siliwangi. Singkat cerita, dikutuklah prajurit-prajurit yang membangkang tersebut sehingga menjadi ikan.</p>
<p>Berbicara tentang ikan suci, ternyata di Thailand juga ada. Saya berjalan kaki beberapa ratus meter dari Grand Palace menuju Pelabuhan perahu untuk menjelajahi perairan sungai Chao Praya. Sungai yang bersih tapi tidak sebesar Sungai Kapuas. FYI, sungai Chao Praya juga pernah menjadi lokasi <em>shooting</em> film James Bond dan untuk menjelajahi sungai ini saya menggunakan perahu yang juga terkenal dengan nama &#8220;Bond&#8217;s boat&#8221; karena juga dipakai dalam <em>shooting</em> film tersebut. Di sungai inilah terdapat legenda tentang ikan suci. Pada suatu titik di sungai itu terdapat ratusan ikan berkumpul. Jenis ikannya serupa dengan ikan Patin, berwarna hitam dan berukuran besar. Ketika kita melemparkan makanan, dengan seketika ikan-ikan berbadan hitam itu muncul. Tidak ada satu ikanpun yang berwarna putih, tetapi ada mitos jika ada pengunjung yang melihat ikan berwarna putih maka akan mendapatkan keberuntungan. Saya beruntung banget karena berhasil melihatnya! Konon ikan suci ada di wilayah ini untuk menjaga kesucian tempat ibadah para umat Buddha tepat di pinggir sungai Chao Praya.</p>
<p>Percaya nggak percaya, legenda dan mitos mistis ini memang ada. Sebenarnya bisa dijadikan potensi obyek wisata karena memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Seperti mitos ikan suci di kedua tempat diatas yang menurut saya sangat menarik walaupun merupakan jenis ikan biasa dan tidak sebesar jenis ikan air tawar terbesar di dunia yaitu &#8220;Arapaima Gigas&#8221; yang saya lihat saat bertualang di Malaysia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;<br />
*Rocky Martakusumah adalah mahasiswa jurusan Fisika di Institut Teknologi Bandung yang kecanduan dengan <em>backpacking</em> sejak masa kecil. Ayahnya yang anggota WANADRI berperan banyak dalam menanamkan budaya <em>backpacking</em> sejak dini. Sekarang di usia 20 tahun, Rocky telah <em>backpacking</em> ke beberapa wilayah di Indonesia dan Asia. Cerita perjalanannya ditulis dalam blognya, <a href="http://rocky102.blogspot.com/" target="_blank">Obsesikelilingdunia</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/06/21/ikan-mistis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Starving in Bali</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/06/04/starving-in-bali/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/06/04/starving-in-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 08:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[by Retno Ika Putri*
Karena suntuk dengan pekerjaan, saya memutuskan untuk berlibur ke Bali bersama seorang teman. Dialah yang bertugas memesan hotel langganan di Legian. Petugas reservasi memberitahu bahwa kami akan melewati Nyepi di sana. Nyepi di Bali? Pasti seru, pikir saya. Bandara Ngurah Rai saja ditutup pada saat Nyepi dan kita tidak diperbolehkan melakukan aktifitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by </strong><strong>Retno Ika Putri</strong><strong>*</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TAfwcy309eI/AAAAAAAAAtk/CoYctU0jZio/s144/bali%20ika.JPG" alt="" width="150" height="116" />Karena suntuk dengan pekerjaan, saya memutuskan untuk berlibur ke Bali bersama seorang teman. Dialah yang bertugas memesan hotel langganan di Legian. Petugas reservasi memberitahu bahwa kami akan melewati Nyepi di sana. Nyepi di Bali? Pasti seru, pikir saya. Bandara Ngurah Rai saja ditutup pada saat Nyepi dan kita tidak diperbolehkan melakukan aktifitas apapun di luar lingkungan hotel. Dari hasil <em>browsing</em> para turis disarankan untuk membeli makanan dan minuman untuk persediaan sehari sebelumnya untuk jaga–jaga kalau kelaparan karena semua toko, café ataupun restoran akan tutup. Tapi saya tidak begitu memperdulikan hal tersebut. Lah, kan ada <em>room service</em>. Kenapa harus dibikin pusing?</p>
<p>Kami pun berangkat dari Pekanbaru, transit di Jakarta, dan tibalah kami di Ngurah Rai beberapa menit sebelum tengah malam sebelum Nyepi dimulai. Pagi harinya kami mulai dengan <em>breakfast </em>di <em>coffee shop</em>. Belum ada sesuatu yang signifikan yang menandakan kalau hari itu adalah Nyepi. Hanya saja sewaktu <em>breakfast</em> kami diinformasikan bahwa nanti malam pihak hotel akan menyediakan <em>dinner</em> untuk semua tamu di <em>coffee shop</em> yang sama. Pelayanan yang bagus pikir saya. Ya iyalah, kalau tidak tamu mau makan di mana.</p>
<p><span id="more-451"></span>Hotel tempat kami menginap terletak persis di depan pantai. Biasanya dari pagi sudah terlihat lautan bule berjemur, tapi kali ini mereka semua hijrah ke halaman depan hotel. Wah, Nyepi sudah dimulai. Karena nggak ada kerjaan, saya dan teman pun ikutan <em>sunbathing</em> kayak bule. Terus terang ini pengalaman pertama saya berjemur langsung di bawah panas matahari terik, biasanya saya lebih memilih tiduran di bawah payung. Sambil membaca saya pun mulai  ‘membakar’ kulit saya. Heran juga kok bule–bule itu seneng banget jemuran sampai gosong. Tapi sepertinya kami terlalu lama berjemur, alhasil kulit jadi bener–bener gosong (dan membekas sampai setahun!).</p>
<p>Tak sadar haripun sudah petang dan kami kembali ke kamar untuk mandi dan istirahat sejenak. Maksudnya sejenak, kami ketiduran sampai pukul 8 malam. Buru-buru kami pergi ke <em>coffee shop</em> yang telah diinformasikan tadi pagi. Perut kami sudah protes berat secara kami belum makan apapun sejak <em>breakfast</em> tadi pagi pukul 10.30 yang kami anggap <em>brunch</em>. Alangkah kagetnya kami pada saat kami turun ke bawah, suasana benar–benar gelap gulita, tanpa listrik dan hanya diterangi lilin. Nggak nyangka, ternyata Nyepi itu benar-benar sepi! Setibanya di <em>coffee shop</em>, eh kok sepi? Karyawannya aja udah beres–beres. Teman bertanya kepada salah seorang karyawan dan jawabannya, “Iya, bu, sudah beres dari tadi, <em>dinner</em> kan pukul 18.00–20.00. Apakah ibu sudah <em>reserve</em> tadi?”. Hah? <em>Reserve</em>? “Karena kami hanya menyediakan makanan sesuai dengan reservasi”, tambahnya. Lah, perasaan tadi pagi kami tidak mendapat informasi seperti itu.</p>
<p>Kami pun kembali ke kamar dengan perut yang luar biasa lapar campur emosi. “Kita pesen <em>room service</em> aja”, usul teman saya. <em>What a brilliant idea</em>, pikir saya. Tak lama kemudian dengan wajah kuyu teman saya berkata, “Mampus kita! Nggak ada <em>room service</em>! Kita nggak makan dong hari ini?”. Ternyata <em>r</em><em>oom servi</em><em>c</em><em>e is not available during</em> Nyepi. Langsung terlintas penyesalan dalam diri saya, coba kalo saya tidak menggampangkan informasi yang saya dapat dari internet waktu itu, pasti nggak akan kelaparan kayak sekarang. Saya dan teman terduduk lemas, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi dipikir-pikir, gimana <em>chef</em>-nya bisa masak kalo gelap gulita begini ya?</p>
<p>Saya membongkar-bongkar tas barangkali ada sesuatu yang bisa dimakan. Eh malah ketemu sebotol <em>wine</em>. Rencananya saya bawa <em>wine</em> untuk <em>surprise party</em> dalam rangka merayakan ulang tahun teman saya itu pada hari terakhir liburan kami. Tapi apa boleh buat, rencana itu gagal. Kami pergi ke <em>coffee shop</em> yang gelap gulita tadi dan ‘membalas amarah’ kami kepada <em>wine</em>. Gluk gluk gluk… hajjaaarr! Tak berapa lama kepala rasanya pusing berat. Bagaimana tidak, perut kosong lalu dihajar alkohol sehingga tak perlu waktu lama untuk bereaksi.</p>
<p>Tiba-tiba ide gila pun mulai keluar dari otak saya. Kebetulan hotel tersebut punya dua kolam renang yang dibuat agak tinggi jadi bisa melihat <em>view</em> pantai. Begitu saya menunjuk ke arah itu tanpa harus berkata apapun, teman saya langsung mengangguk tanda setuju. Kami mengendap–endap naik ke atas, takut ketahuan satpam hotel. Setelah memastikan situasi aman, kami membuka pakaian sampai maaf, telanjang. Kami pun berenang telanjang di bawah cahaya bintang sambil cekikikan. Pengaruh alkohol membuat kami tak berpikir panjang lagi.</p>
<p>Puas berenang, tiba-tiba kami mendengar sesuatu. Seperti ada seseorang yang datang. Kami buru-buru naik, pakai baju dan siap kabur. Sekilas terlihat seorang cowok bule berbadan sangat besar. Entah dia menyadari keberadaan kami atau tidak, karena memang malam itu sangat gelap, dia membuka pakaian dan juga berenang telanjang. Kami cekikikan menahan tawa, ternyata bukan kami saja yang bandel malam itu. “Atau jangan–jangan dia juga kelaparan”, kata teman saya. Dan kamipun tak bisa menahan tawa lagi sambil bersusah payah kembali ke kamar.</p>
<p>Keesokan paginya, kami berdua terbangun tepat pukul 6.30 saking laparnya. Tanpa ba-bi-bu, kami langsung berlari ke <em>coffee shop</em> takut kehabisan makanan. Dan kalian tahu siapa yang kami temui pada saat kami baru saja masuk ke <em>coffee shop</em>? Cowok bule berbadan besar yang juga berenang telanjang tadi malam! Kami ngakak berkepanjangan melihat piringnya yang penuh dengan makanan segunung. Hahaha! Berarti benar dia memang kelaparan seperti kami!</p>
<p>&#8212;<br />
*Retno Ika Putri, tinggal di Pekanbaru. Seorang <em>hotelier</em> sejati yang suka jalan-jalan. Pernah kerja satu tahun di Belanda dan pernah mengunjungi beberapa negara Eropa dan Asia. Obsesinya keliling dunia, dengan tujuan utama Karibia dan Italia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/06/04/starving-in-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke(tidak)rajinan tangan khas Swedia</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/05/14/ketidakrajinan-tangan-khas-swedia/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/05/14/ketidakrajinan-tangan-khas-swedia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 12:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[by Sara Respati*
Di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa di kota kecil bernama Norrköping di Swedia (yang tahun ini punya winter maha dasyat, sempat minus 30°C!), saya sempatkan untuk mengikuti acara yang diadakan oleh AIV (Association of International Visitor). AIV adalah sebuah organisasi untuk para mahasiswa internasional agar bisa lebih mengenal Swedia. Saya dan teman membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Sara Respati*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 124px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/S-084_NgJmI/AAAAAAAAAqE/s54dhyNsgJk/s144/Kerajinan%20tangan%20seharga%20Rp%201.462.500.jpg" alt="" width="114" height="154" /><p class="wp-caption-text">Kerajinan tangan Swedia seharga hampir Rp 1,5 juta!</p></div>
<p>Di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa di kota kecil bernama Norrköping di Swedia (yang tahun ini punya <em>winter</em> maha dasyat, sempat minus 30°C!), saya sempatkan untuk mengikuti acara yang diadakan oleh AIV (Association of International Visitor). AIV adalah sebuah organisasi untuk para mahasiswa internasional agar bisa lebih mengenal Swedia. Saya dan teman membeli tiket untuk event <em>Swedish Handricaft, </em>harga tiketnya 30 SEK atau Rp 39.000. <em>Event</em> itu diselenggarakan di sebuah kota bernama Linköping, kira-kira satu jam dari tempat saya tinggal.</p>
<p>Dengan tiket harga segitu, termasuk gratis mengikuti pelatihan membuat kerajinan khas Swedia yang bisa dibawa pulang setelah jadi. Asik nih, dapat pengetahuan baru. Setelah memasuki ruangan dan berkumpul dengan para <em>exchange student</em> yang lain, saya terkejut melihat meja kerja utama. Lah, kok cuma ada kayu dan kawat doang? Ternyata yang disebut kerajinan khas Swedia adalah membuat <em>love</em> dari kayu<em> </em>dan kawat yang diplintir-plintir terus dikasih manik-manik! Yaelah, gitu doang! Saya dan teman langsung misuh-misuh dalam bahasa Indonesia, mumpung tidak ada yang ngerti. Kalau dibandingin pas jaman saya SD di Samarinda, saya sudah membuat baju dari manik-manik yang jadi baju adat Kalimantan Timur atau bikin kotak pensil yang jauh lebih rumit dari sekedar kawat-kawat yang gitu doang. Walaupun saya bukan seniman, tapi saya juga bukan orang yang ”gagap seni”. Terpaksalah kami menjalani acara memotong kayu dan memlintir kawat itu. Langsung dong saya kelar pertama kali! Orang Indonesia gitu loh!</p>
<p><span id="more-427"></span>Sesi melihat toko kerajiananpun dimulai dan saya menemukan banyak hal yang mengejutkan. Mata saya tertuju pada kerajinan dari anyaman kayu, kalau di Jogja, itu biasanya disebut ”besek”. Wah, ada juga nih kerajinan seperti Indonesia. Tapi begitu saya melihat harganya… WOW, harganya 1125 SEK atau Rp 1.462.500! Buset, hampir 1,5 juta! Saya tidak habis pikir kenapa bisa semahal itu. Ada juga sikat kamar mandi, harganya hampir Rp 200.000. Karena penasaran, saya mendekati bapak-bapak Swedia di sana dan bertanya,”Pak, kok ada sikat kamar mandi disini, kan ini toko kerajinan?”. Si bapak menjawab dengan yakinnya, ”Coba lihat sikatnya, ini kan <em>handmade, </em>ada benangnya. Beda sama buatan pabrik, makanya mahal.” Gubrak! Di pasar Indonesia mungkin sikat kamar mandi itu cuma dijual Rp 5.000. Selanjutnya saya keliling dan menemukan banyak kerajinan tangan Swedia yang biasa-biasa saja tapi harganya gila-gilaan.</p>
<p>Setelah selesai melihat-lihat toko kerajinannya, kami masuk lagi ke ruangan untuk makan <em>sandwich </em>yang memang termasuk dalam tiket yang dibeli. Maklum mahasiswa, lumayan dapat makan malam jadi enggak perlu masak. Tapi lagi-lagi saya kecewa, <em>sandwich </em>yang disediakan itu ternyata cuma roti dikasih keju. Padahal itu adalah acaranya <em>International Visitor</em>! Ih, kalau di Indonesia, acara seperti itu tamu-tamunya disuguhi makanan yang mewah ala prasmanan yang serba menggiurkan. Duh, saya jadi rindu Ibu Pertiwi.</p>
<p>Kembali ke masalah kerajinan, saya punya teman orang Swedia yang tinggal satu <em>studenthouse </em>dan satu koridor. Waktu saya main ke kamarnya, dia nunjukin gelang, cincin, kalung, gantungan HP yang dia buat. Ternyata dia juga punya blog yang berfungsi untuk menjual barang-barangnya itu. Dengan senang dan bangga, ia menunjukkan hasil karyanya. Dengan terpaksa, saya selalu bilang ”<em>Nice</em>!” karena saya orangnya enggak tegaan. Padahal enggak ada apa-apanya dengan apa yang kita punya di Indonesia. Secara kasar, maaf, cuma kelas pasar yang harganya 1.000 sampe 2.000 rupiah. Karena penasaran, sekembali ke kamar saya buka blognya teman saya itu. Kaget juga melihat harga-harganya, rata-rata Rp 100.000! Saya tak mau kalah dengan menunjukkan kerajinan tangan Indonesia. Tapi setiap ketemu, dia masih rajin promosi barang kerajinannya. Terus dia cerita bahwa pembeli barang-barangnya bukan cuma dari Swedia, tapi juga dari negara lain. Wah,  kalau saya mengirim kerajinan dari Indonesia, terus menjualnya disini, mungkin laku keras dan untung banyak. Belum tau mereka bagaimana rumitnya membuat batik tulis, wayang, dan kain songket. Sayangnya, Juni ini saya sudah pulang ke Indonesia lagi, jadi temen saya itu enggak jadi punya rival bisnis. Tapi biar bagaimanapun, saya bangga jadi orang Indonesia.</p>
<p>&#8212;&#8211;<br />
*Sara Respati, 22 tahun, sedang menikmati menjadi mahasiswa di negara dingin atas bantuan dari beasiswa unggulan Diknas. Selalu mencoba menabung untuk <em>traveling</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/05/14/ketidakrajinan-tangan-khas-swedia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wartawan Norak Pertama Kali ke Luar Negeri</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/05/13/wartawan-norak-pertama-kali-ke-luar-negeri/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/05/13/wartawan-norak-pertama-kali-ke-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 15:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[by Mayawati Nurhalim*
Tahun 1994, saya pertama kali ke luar negeri ke Singapura (tentu saja!). Bahkan pertama kali naik pesawat terbang. Saat itu saya bekerja sebagai wartawan di salah satu tabloid hiburan di Jakarta. Saking kepengennya ke luar negeri, tanpa ada penugasan dari kantor, dengan uang sendiri tentunya, saya dan seorang sejawat berangkat ke Singapura untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Mayawati Nurhalim*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 119px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/S-wTPdw7-8I/AAAAAAAAApg/fQv7W9bbm10/s144/AndylauRosamundkwan.jpg" alt="" width="109" height="159" /><p class="wp-caption-text">Rosamund Kwan &amp; Andy Lau</p></div>
<p>Tahun 1994, saya pertama kali ke luar negeri ke Singapura (tentu saja!). Bahkan pertama kali naik pesawat terbang. Saat itu saya bekerja sebagai wartawan di salah satu tabloid hiburan di Jakarta. Saking kepengennya ke luar negeri, tanpa ada penugasan dari kantor, dengan uang sendiri tentunya, saya dan seorang sejawat berangkat ke Singapura untuk meliput konser Andy Lau. Maklum, lagi semangat-semangatnya (kalau tidak mau dibilang lagi norak-noraknya) melakoni kerja sebagai jurnalis yang belum genap setahun. Apalagi Andy Lau kala itu adalah aktor dan penyanyi Hong Kong paling ngetop. Wajah ganteng, suara merdu, dan akting yahud di film bikin cewek klepek-klepek. Serialnya yang paling <em>booming</em> di Indonesia tahun 90-an adalah <em>The Return of The Condor Heroes</em>. Dia berperan sebagai Yoko.</p>
<p>Tiba di Bandara Changi yang megah dan modern, kami bak orang kampung yang baru masuk kota. Terkagum-kagum berat. Tentu saja kami tak mau melewatkan kesempatan untuk berkeliling mengeksplor sudut bandara dan berfoto-ria. Usai melakukan tur singkat di bandara, dengan menggeret koper, kami pun ke luar buat menyetop taksi. Kok ya beberapa kali melambai pada taksi yang lewat, dicuekin, padahal jelas-jelas lampu di atap taksi menyala yang menandakan taksi kosong. Apa yang salah ya? Akhirnya ada satu taksi yang mau juga berhenti. Di dalam taksi, si supir buka suara. “Kok aneh ya kalian baru datang, dengan koper, tapi nyetop taksinya di terminal keberangkatan?”. Sialan, ketauan deh kami kampungan!</p>
<p><span id="more-423"></span>Saat jumpa pers dengan Andy Lau di Westin Stamford, sejawat saya yang lebih lancar berbahasa Mandarin bertugas sebagai wartawan yang ikut nanya-nanya, sementara saya jadi fotografer dadakan. Tibalah akhir sesi wawancara, para fotografer diberi kesempatan memotret Andy Lau yang ditemani aktris Rosamund Kwan sebagai bintang tamu di konser tersebut. Andy dan Rosamund berdiri bersisian memutar arah pandang ke sana ke mari mengikuti perintah para fotografer. Saya juga nggak mau kalah meneriakkan nama mereka, “Andy, Kwan Xiaojie!”. Keduanya menoleh ke arah saya, dan jepret… jepret! Wah, bangga bener rasanya ketika mereka menatap kamera saya. Tapi, para fotografer dan wartawan lain pada ngetawain saya. Apa yang salah ya? Apa karena gaya memotret saya yang kelihatan amatiran? Karena jujur aja, saya baru dapat kursus kilat menggunakan kamera SLR kantor dari rekan fotografer beberapa hari menjelang keberangkatan. Selain pada ketawa-ketiwi, mereka juga pada ikutan berseru dengan lantang, “Andy Kwan Xiaojie!”. Tapi mereka mengarahkan ucapan itu bukan kepada Andy Lau dan Rosamund  Kwan, melainkan kepada salah seorang wartawan Singapura. Brengsek, kenapa sih?</p>
<p>Belakangan saya baru tahu bahwa ada salah seorang wartawan Singapura yang bernama Andy Kwan. Dan tentu saja dia laki-laki tulen. Jadi, teriakan yang saya maksud untuk Andy Lau dan Rosamund Kwan berupa, “Andy, Kwan Xiaojie!” malah terkesan ledekan buat si Andy Kwan, karena <em>xiaojie</em> artinya nona. Cara memanggil yang tidak konsisten dengan menyebut Andy (nama Barat-nya), dibarengi Kwan (nama Chinese dan nama belakang pula), plus pake sebutan <em>Xiaojie</em> (yang nggak pas pada konteks itu), jadi sangat ngaco. Tambah lucu lagi karena pas banget di situ ada orang yang namanya Andy Kwan. Harusnya yang betul saya manggil, “Andy! Rosamund!”. Maklum deh, selain karena bahasa Mandarin saya memang masih belibet, saat itu juga saya ribet dengan kamera dan harus berdempet-dempetan dengan para fotografer sungguhan untuk mendapatkan gambar terbaik sehingga yang sempat terlontar dari mulut ya panggilan itu. Duh, malunya!</p>
<p>Setelah jumpa pers dan konser selesai, tiba saatnya kami pelesir keliling Singapura. Salah satu obyek wisata yang ada dalam daftar rencana kunjungan kami adalah Ming Village. Udah lihat peta dan tanya-tanya, kami pun naik MRT (Mass Rapid Transit) dan turun di perhentian terdekat dengan lokasi Ming Village. Setelah keluar dari stasiun MRT, kami bingung. Jalan kaki ke sana ke mari tidak juga nemu, akhirnya kami menyerah untuk naik taksi. Disetoplah sebuah taksi. Buka pintu, kami sebut dengan yakin, “Ming Village!”. Si supir taksi sempat mengernyit sebentar, memandang bingung ke arah kami. Kami pun masuk dan melempar pantat ke jok belakang taksi, jebret, tutup pintu. Taksi pun meluncur. Belum sempat narik napas, si supir telah menghentikan taksinya di depan sebuah gedung. “<em>This is</em> Ming Village,” katanya sambil nyengir lebar. Hah, sedekat ini? Bahkan argo pun belum beranjak dari nilai minimumnya. Dengan salah tingkah kami pun membayar taksi itu. Turun lalu memandang bego ke arah gedung besar yang bentuknya memanjang itu. Ini toh Ming Village. <em>Village</em> kan kampung. Masak ini gedung? Halah, inilah akibatnya kalau nyari informasi tidak detil. Ternyata Ming Village itu cuma sebuah toko suvenir yang menjual keramik-keramik dan kerajinan lainnya yang merupakan replika barang-barang berharga zaman Dinasti Ming! Semprul!</p>
<p>&#8212;&#8211;<br />
*Mayawati Nurhalim – masih jadi wartawan, tapi sekarang udah nggak norak lagi. Kalau Andy Lau adalah idolanya, maka ketebak umurnya berapa. Hobinya jalan-jalan dan aktivitas beradrenalin.  Ini merupakan tulisannya ketiga setelah <a href="http://naked-traveler.com/2010/01/13/tipu-tipu-ala-india/#more-373" target="_blank">ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/05/13/wartawan-norak-pertama-kali-ke-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penumpang Haram</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/04/07/penumpang-haram/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/04/07/penumpang-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 17:54:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[by TJ*
Sebagian orang cukup kreatif menyiasati agar bisa mengirit biaya perjalanan. Kreatifitas itu bisa jadi melanggar hukum seperti menjadi penumpang haram yang tidak bayar tiket, layaknya pengalaman saya. Jangan ditiru ya?
Transportasi paling mak nyus di negeri ini adalah nebeng pesawat Herkules TNI. Penerbangan gratis, kita cuma bayar airport tax Bandara Militer Halim PK sebesar sepuluh ribu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by TJ*</strong></p>
<p>Sebagian orang cukup kreatif menyiasati agar bisa mengirit biaya perjalanan. Kreatifitas itu bisa jadi melanggar hukum seperti menjadi penumpang haram yang tidak bayar tiket, layaknya pengalaman saya. Jangan ditiru ya?</p>
<p>Transportasi paling <em>mak nyus</em> di negeri ini adalah nebeng pesawat Herkules TNI. Penerbangan gratis, kita cuma bayar <em>airport tax</em> Bandara Militer Halim PK sebesar sepuluh ribu rupiah saja. Tidak ada pungli, seratus persen halal, tapi memang tidak semua orang bisa menikmatinya karena secara prosedur resmi pesawat dinas hanya diperuntukkan bagi anggota TNI dan keluarganya. Kebetulan saya punya sepupu Kapten Pilot TNI AU yang bisa menguruskan surat ijin kalau saya mau nebeng. Sayang sekali rentetan kecelakaan pesawat militer yang terjadi akhir-akhir ini membuat TNI menetapkan aturan ketat: hanya anggota TNI yang ditugaskan yang bisa masuk ke pesawat.</p>
<p>Menjadi penumpang haram yang paling mudah adalah di bus malam. Di tempat tertentu ada pengawas yang bertugas menghitung daftar penumpang, kalau semua cocok maka beres. Penumpang haram biasanya naik setelah bus melewati pos pemeriksaan. Tempat duduknya? Kalau ada kursi kosong sih tidak masalah, tapi kalau bus penuh maka penumpang haram harus rela duduk di pojok dekat toilet, atau di mana saja yang berstatus kelas kambing.</p>
<p><span id="more-407"></span>Kalau mau jadi penumpang haram kereta api, perlu sedikit ilmu <em>SSI (speak speak iblis) </em>kepada petugas berseragam dinas dan tentunya &#8220;salam tempel&#8221;. Secara saya punya tampang kriminal, baru senyum saja petugas langsung paham orang ini mau nebeng. Kereta api kelas non-AC paling kondusif untuk mengangkut penumpang haram, karena sudah tidak jelas lagi siapa seharusnya duduk di mana. Sudah menjadi kebiasaan penumpang kereta non-AC berbaring di lantai kereta, tidur di gang, di sela-sela kursi, sampai ke bordes sambungan kereta. Kalau naik kereta eksekutif, penumpang haram bisa duduk di restorasi atau menyelinap ke kursi penumpang yang kebetulan kosong. Ada satu kebijakan KAI yang sangat aneh, dengan alasan kereta penuh tapi penumpang memaksa berangkat, tersedia karcis tanpa tempat duduk, bahkan untuk kereta eksekutif! Saya selalu memandang geli kepada penumpang kelas eksekutif yang seperti itu, bayar ratusan ribu rupiah kok mau-maunya diberi tempat kelas kambing di sudut gerbong, sengsaranya semalam suntuk pula. <em>Mbok</em> ya naik pesawat toh jaman sekarang harga tiketnya tidak terpaut jauh, atau mending ilegal sekalian seperti saya.</p>
<p>Pilihan favorit saya sebagai penumpang haram kereta api adalah di lokomotif. Saya sungguh menikmati naik loko, suasananya akrab karena masinis selalu berbagi rokok, kopi dan makanan. Terlepas dari adanya salam tempel, masinis senang dengan kehadiran penumpang haram karena ada lebih banyak teman di perjalanan, daripada bete cuma berdua dengan asistennya. Anehnya, setiap kali naik loko saya selalu bisa tidur nyenyak walaupun melungker di lantai beralas koran. Sebaliknya, bila membayar resmi duduk di gerbong eksekutif, saya justru tidak bisa tidur karena AC terlalu dingin. Belum lagi pegawai restorasi &#8211; yang tidak pernah dididik <em>service quality</em> &#8211; dengan cueknya menyorongkan piring tepat di depan hidung penumpang yang lagi tidur,&#8221;Nasi goreng?&#8221;. Ajegile, ini jam dua pagi, jek!</p>
<p>Menjadi penumpang haram tentu beresiko kena razia. Petugas yang tertangkap bisa di-<em>grounded</em> dengan berbagai sanksi administratif kepegawaian, sedangkan penumpang haram bisa diturunkan di tengah sawah atau ditahan semalam di stasiun terdekat. Saya pernah dipaksa menginap di sebuah stasiun kecil pasca sebuah razia. Karena tidak bisa tidur, saya keluarkan <em>netbook</em> lalu bekerja. Petugasnya geleng-geleng kepala berkata,&#8221;<em>Sampeyan</em> punya laptop tapi <em>ndak</em> beli karcis?&#8221;. Oh pola pikirnya dibalik, Pak. Kalau uangnya dipakai beli karcis saya tidak bisa nabung buat beli laptop! Hehe&#8230;</p>
<p>Suatu ketika saya menjadi penumpang haram di kereta eksekutif bersama seorang sobat. Baru saja kereta berangkat dari stasiun Jakarta Kota, eh ketangkepbasah dan disuruh turun di Gambir. Sobat saya mengajak pindah naik kereta barang dari Senen, tapi saya memaksa naik bus dari Pulogadung. Sampai di terminal ternyata semua bus ke Surabaya penuh. Saya memaksa naik bus secara estafet, pokoknya ke arah Timur, berpindah-pindah sampai Surabaya. Di tengah suasana gaduh, sebuah bus kecil yang tampak kumal lewat di depan kami, kota tujuan berawalan huruf &#8216;P&#8217;. Tulisannya tidak jelas, tapi seingat saya kota itu letaknya di Pantura antara Cirebon dan Semarang. Kenek berteriak masih ada tempat, kami berdua merangsek naik. Bus itu ternyata kondisinya memelas, di tengah jalan turun hujan deras dan atapnya bocor dimana-mana, walaupun berpayung jaket toh tetap saja kami basah. Bus itu pun tak sanggup berlari kencang, entah jam berapa bisa sampai di kota &#8216;P&#8217;. Situasi sengsara seperti itu membuat kami bertengkar.</p>
<p>Hari sudah pagi ketika kami tiba di terminal kota tujuan. Suasananya terasa asing, bukan Pantura Jawa. Di dinding terminal terpampang sebuah peta besar, berdua kami memelototi peta ingin tahu terdampar dimana.<br />
&#8221; Di mana sih kita?&#8221;<br />
&#8221; Kalau lihat nama terminalnya sih Purwokerto.&#8221;<br />
&#8221; Kok gak ada di peta? Coba nih&#8230;Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus&#8230;&#8221;<br />
&#8221; Nih ada Purwokerto, tapi kok di bawah yaa?&#8221;<br />
Hening sejenak, sedetik kemudian dua orang kompak berteriak, &#8220;Hah? Purwokertooo? Kita seharusnya ke Pekalongaaaan tauu!&#8221;. Duh, kesasar 130 km lebih! Itulah upah yang setimpal buat penumpang haram, sekaligus hukuman karena dulu membolos pelajaran geografi. Parahnya, pagi hari tidak ada bus AC dari Purwokerto ke Surabaya. Terpaksa kami meruskan perjalanan dengan bus-bus kumal lagi, pelan-pelan, terhuyung-huyung menuju Yogya, sambung ke Solo, Kertosono, sampai akhirnya Surabaya, dengan jarak 300 km lebih.</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
<strong>*TJ</strong>: numpang eksis di blog The Naked Traveler yang sudah ramai, daripada membuat blog sendiri belum tentu ada yang mampir baca. Sebagai orang asli Surabaya, cerita-ceritanya cenderung konyol, seperti kesenian Ludruk. Ini adalah tulisannya keempatnya yang selalu kontroversial, contohnya <a href="http://naked-traveler.com/2009/12/10/desperately-seeking-tiger-show/" target="_blank">ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/04/07/penumpang-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cheju, pulau 17 tahun ke atas</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/02/03/cheju-pulau-17-tahun-ke-atas/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/02/03/cheju-pulau-17-tahun-ke-atas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 19:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[by Ivan Imanuel Tumpak*
Saat kuliah di Korea Selatan, saya berkesempatan mengunjungi Cheju Island atau orang Korea menyebutnya Jejudo. Kata teman saya, tempat ini menjadi sangat terkenal ketika sinetron drama Korea bertajuk &#8220;Winter Sonata&#8221; memilih pulau ini sebagai tempat syuting. Tentu saya jadi penasaran pengen ke sana dan pengen nyirik-nyirikin teman-teman di Indonesia penggemar sinetron Korea.
Dari kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Ivan Imanuel Tumpak*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 175px"><img src="http://lh5.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/S2hw23tNgpI/AAAAAAAAAgM/OoHy__G3I9w/s144/cheju.JPG" alt="Cheju Island" width="165" height="129" /><p class="wp-caption-text">Cheju Island</p></div>
<p>Saat kuliah di Korea Selatan, saya berkesempatan mengunjungi <em>Cheju Island</em><em> </em>atau orang Korea menyebutnya <em>Jejudo</em>. Kata teman saya, tempat ini menjadi sangat terkenal ketika sinetron drama Korea bertajuk &#8220;Winter Sonata&#8221; memilih pulau ini sebagai tempat syuting. Tentu saya jadi penasaran pengen ke sana dan pengen nyirik-nyirikin teman-teman di Indonesia penggemar sinetron Korea.</p>
<p>Dari kota Gimpo ke Cheju Island memakan waktu 1 jam perjalanan dengan maskapai penerbangan <em>Jeju Air</em>. Ketika berada di pesawat, perhatian saya tertuju kepada seorang gadis Korea bening nan aduhai yang sedang melintas hendak menuju toilet. Dasar laki-laki nggak bisa lihat barang bagus dikit, saya langsung berbisik-bisik nakal dengan Jeremy, teman saya asal Ceko, dan Boo asal Georgia. Begitu gadis itu melintas kembali ke tempat duduknya, dari belakang kami memperhatikan ada sesuatu yang menyembul keluar dari bawah lengannya. Dan ternyata&#8230; itu adalah bulu keteknya yang hitam dan superduper lebat! Alhasil kami ketawa keras banget karena ilfil, sampai seorang pramugari menegur kami untuk tenang. (FYI, orang Korea paling tidak suka kebisingan meski di tempat umum sekalipun seperti taman, bus, pesawat, atau mall).</p>
<p><span id="more-389"></span>Begitu mendarat di Jeju International Airport, teman-teman yang berasal dari negara dingin merasa sangat senang sekali dan terkagum-kagum dengan pemandangan pulau ini. Namun bagi saya, pulau-pulau yang pernah saya kunjungi di Indonesia jauh lebih bagus. Ternyata perkiraan saya itu terbukti. <em>Tour guide</em> kami mengatakan bahwa Cheju Island menempati posisi ke 40 sebagai pulau terindah di dunia, sedangkan posisi pertama dipegang oleh Pulau Jawa! Ketika si <em>tour guide</em> menanyakan, &#8220;<em>Is there anybody from Indonesia here</em>?&#8221;, saya langsung semangat empat lima mengangkat tangan. Tuh kan, Indonesia emang oke banget!</p>
<p>Selama perjalanan di Cheju Island, saya selalu terkikik sendiri karena <em>tour guide</em> dan teman-teman Korea selalu memuji dan membangga-banggakan pulau ini. Kata mereka, pulau ini memiliki banyak hal yang tidak dapat di temui di daratan Korea Selatan. Padahal pantai yang mereka sebut indah, bagi saya masih kalah jauh sama Tanjung Aan di Lombok. Mount Halla sebagai gunung tertinggi di Korea Selatan, tingginya cuma sepertiga Jayawijaya. Makanan yang disebut enak, ujung-ujungnya makanan Barat. Dari semua tempat yang kami kunjungi, ada hal yang membuat saya bete. Kami diajak ke sebuah gua purba bernama Manjanggul yang menurut si <em>tour guide</em> menarik untuk dikunjugi. Selama menjelajahi gua tersebut, saya hanya melihat kegelapan dan batu-batu yang terukir alami karena kikisan air dan muntahan lava zaman dahulu. Lalu saya bertanya kepada sang <em>tour gui</em><em>de</em>, &#8220;<em>W</em><em>hat&#8217;s interesting here</em>?&#8221;. Dia pun berkata, &#8220;<em>At</em><em> the end of this cave, you&#8217;re gonna see an incredible thing</em>.&#8221; Saya pun bersabar dan berharap-harap cemas akan menemukan sesuatu yang mengejutkan di akhir penjelajahan gua ini. Setibanya di ujung gua, si <em>tour guide</em> menunjukkan apa yang dia bilang <em>incredible</em> itu. Ternyata si <em>incredible</em> itu cuma gundukan lava besar dan tidak kelihatan saking gelapnya. Yaelah, udah jalan satu kilometer, akhirannya harus ngeliat batu juga! Capee deeh!</p>
<p>Namun tempat yang paling menarik dan menjadi <em>highlight</em> tujuan pariwisata di pulau ini adalah Sex Education Theme Park. Sesuai dengan namanya, seluruh mosaik, patung, bangunan, pajangan, hingga marka jalan di taman ini, berhubungan dengan seks! Saya dan teman-teman tertawa-tawa melihat sesuatu yang tidak lazim seperti ini. Bagaimana tidak tertawa kalau melihat patung berbentuk, maaf, penis dalam skala besar, gaya dalam berhubungan intim, hingga mosaik laki-laki dan perempuan yang sedang bersanggama. Dengan warna yang menarik dan selera humor yang tinggi, saya harus mengacungkan dua jempol pada sang konseptor tempat ini.</p>
<p>Penduduk Cheju Island hampir sama dengan orang-orang Korea daratan yang sedikit keras dan tidak ramah. Modernisasi pun terlalu menjamah tempat ini sehingga saya jarang menemukan sesuatu yang masih murni di Cheju Island. Meskipun demikian, pulau ini masih menjadi tempat yang <em>high recommended</em> bagi mereka yang ingin berbulan madu atau menghabiskan waktu bersama pasangannya. Pasalnya, selain suasananya damai dan tenang, saluran televisi di pulau ini menayangkan adegan ranjang secara gratis dan legal, tanpa disensor sama sekali. Wow!</p>
<p>&#8212;-<br />
*Ivan, cowok Aquarius kelahiran Jakarta tahun 1988. Hobinya menyanyi, membaca dan traveling.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/02/03/cheju-pulau-17-tahun-ke-atas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
