<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Naked Traveler &#187; Anthology Posts</title>
	<atom:link href="http://naked-traveler.com/category/anthology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naked-traveler.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 12:57:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Solo trip pertama kali!</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 12:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[By Pristi Gusmatahati* Berbekal ilmu sebagai daydreamer, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama backpacking saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi backpacking sen-di-ri-an, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Pristi Gusmatahati*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 181px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-CBlq-4HZYlY/TyvYML_yPJI/AAAAAAAABOw/hPn6MeAhF1Q/s288/tjlesung.jpg" alt="" width="171" height="227" /><p class="wp-caption-text">Pose sama ikan buntal</p></div>
<p>Berbekal ilmu sebagai <em>daydreamer</em>, hobi ngiler tiap baca blog The Naked Traveler, pencerahan dari mbah Google dan milis indobackpacker yang saya ikuti, pengalaman pertama <em>backpacking</em> saya alami tahun 2009 ke Singapura bareng 2 teman. Tapi, sebenar-benarnya, saya ingin sekali pergi <em>backpacking</em> <strong>sen-di-ri-an</strong>, cuma belum ada keberanian. Pertama, karena saya perempuan berukuran kecil kaya balita padahal sudah tua, plus saya buta arah. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya memberanikan diri pergi ke Tanjung Lesung, sendiri. Yippiiiee!</p>
<p>Tanjung Lesung adalah sebuah pantai yang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Disebut Tanjung Lesung karena lokasinya berupa daratan yang menjorok ke laut mirip ujung lesung (alat tradisional untuk menumbuk padi). Tempat ini terkenal dengan resort mewahnya serta Beach Club yang menyediakan fasilitas snorkeling, mancing, banana boat, jetski, dan lain-lain. Ada juga sailing trip ke anak gunung Krakatau, tapi buat saya harganya ngajak miskin banget. Lagipula, saya berencana untuk trip satu hari saja, berangkat pagi, pulang malam, karena esok harinya harus ngantor.</p>
<p><span id="more-1068"></span>Dari rumah saya yang di Bogor, Tanjung Lesung memang tidak terlalu jauh, “cuma” 7 jam perjalanan saja angkutan umum. Saya berangkat pagi, dan berencana sudah tiba di rumah paling lambat pukul 12 malam. Sepanjang perjalanan, saya dapat pengalaman “unik”. Misalnya, sewaktu menunggu bus pagi-pagi, saya terpaksa diam-diam numpang buang air kecil di toilet pria di sebuah pusat perbelanjaan karena toilet wanitanya belum buka. Sudah mengendap-endap, eh pas keluar toilet sudah ada satpam menanti saya dan “menginterogasi”.</p>
<p>Setelah naik-turun bus, ajrut-ajrutan melewati jalanan busuk, sampai akhirnya mata dimanjakan dengan pemandangan pantai biru kehijauan dan nyiur melambai, sampai juga saya di Tanjung Lesung Beach Club. Cuaca yang lumayan terik tidak menyurutkan niat saya snorkeling. Sayangnya <em>visibility</em>-nya sedang kurang bagus karena sempat hujan. Walaupun begitu, snorkeling di Tanjung Lesung ini bagi saya lebih menyenangkan daripada pengalaman snorkeling sebelum-sebelumnya karena dengan jarak 20 meter saja dari pantai. Kedalaman tidak sampai 5 meter, begitu nyemplung saya langsung nabrak beragam <em>school of fish</em>! Terumbu karangnya pun berwarna-warni dan saya bisa mengelus-elusnya tanpa harus menyelam dalam-dalam. Saya juga bertemu banyak <em>clownfish</em> alias Nemo, dari ukuran kecil sampai yang agak besar. Tapi juaranya&#8230; saya nemu ikan buntal! Ternyata ikan ini wujudnya benar-benar lucu, selain badannya yang gembung, ikan ini punya gigi besar-besar bak gigi kelinci memenuhi mulutnya yang imut. Tapi ‘kurang ajar’nya si ikan ini (maaf) ternyata hobi pup. Selama saya pegang dalam air, dalam 1 menit dia pup sampai 2 kali.</p>
<p>Selesai snorkeling, saya pesan makanan. Berhubung Tanjung Lesung adalah objek wisata yang pada umumnya menyasar golongan &#8220;the have&#8221;, dengan akomodasi rata-rata minimal Rp. 1.000.000/malam, jadi Beach Club-nya pun menyediakan makanan mahal. Sekedar ilustrasi, teh tawar panas yang biasa digratisin di tukang pecel lele, di resto ini membandrolnya dengan harga Rp. 8000. Dan kalau di tukang pecel lele kita dapat segelas gede GRATIS, di sini hanya secangkir kecil.</p>
<p>Sambil menunggu pesanan, saya leyeh-leyeh di pinggir pantai sok-sok <em>sunbathing</em> ketika saya melihat ada cowo bule GANTENG berperut kotak-kotak! Untung saya pakai <em>sunglass</em>, jadi bisa ngelirik sepuas hati. Setelah saya perhatikan, ternyata memang banyak pengunjung yang bertampang ‘indo’. Selain si ganteng itu, ada segerombol keluarga Arab yang cakep-cakep banget. Ada juga keluarga India yang salah seorang wanitanya pakai sari lengkap sambil leyeh-leyeh di pantai! Hasil obrolan dengan pengelolanya, pengunjung di sini memang banyak ekspatriat dan rombongan perusahaan yang menginap di resort. Orang lokal Pandeglang-nya justru nyaris tidak ada.</p>
<p>Matahari mulai bergulir ke barat, dan ternyata oh ternyata, di Beach Club ini kita tidak bisa melihat sunset. Itulah sebabnya mereka menyediakan Sunset Trip, karena untuk melihat sunset mesti naik <em>boat</em> agak ke tengah laut. Gagal deh niat foto-foto “klasik” siluet berlatar sunset. Saya memutuskan untuk beranjak pulang, karena transportasi umum dari Tanjung Lesung ke terminal bus terdekat terbatas. Benar saja, selepas maghrib sudah tidak nampak ojek satupun! Untungnya seorang instruktur snorkeling berbaik hati memberi tumpangan sampai pangkalan ojek terdekat.</p>
<p>Di sinilah ‘kesalahperhitungan’ makin kacau. Karena niatnya <em>backpacking</em>, saya bawa uang tunai pas-pasan. Tapi ternyata di sini ada aturan tidak tertulis bahwa transportasi umum harganya bisa naik hampir 3 kali lipat kalau malam dan tidak bisa negosiasi karena tidak ada pilihan transportasi lain! Ojek yang harusnya Rp 15.000 jadi Rp. 35.000, angkot yang mestinya Rp. 10.000 jadi Rp. 25.000. Selain itu, sesampainya di Terminal Serang, saya yang santai karena diberitahu terminal ini beroperasi 24 jam, melongo melihat cuma ada 2 bus AC jurusan Bandung. Oalah, baru sadar ternyata walaupun terminalnya 24 jamtidak  berarti semua trayeknya  ikutan 24 jam. Wah, sudah deg-degan takut uang yang saya bawa tidak cukup, busnya gak ada pula! Apalagi waktu itu sudah menjelang tengah malam. Saya pun bertanya sama salah satu calo di situ, kalau mau ke Bogor bagaimana. Ternyata saya bisa naik bus jurusan Bandung tapi yang ekonomi via Ciawi, hanya saja saya harus sabar menanti karena datangnya biasanya lewat tengah malam. Waduh! Cuma dasar saya ndablek kali ya, karena terlalu senang berhasil <em>backpacking</em> sendirian, jadi sepanjang perjalanan bibir saya tidak bisa berhenti cekikikan walaupun lagi deg-degan takut tidak bisa pulang.</p>
<p>Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah, <strong>riset-riset-riset</strong>. Mungkin menyenangkan jalan-jalan dengan spontan, tapi salah perhitungan di tengah jalan itu tidak menyenangkan loh! Apalagi jalan sendirian berarti tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain diri sendiri.</p>
<p>&#8212;<br />
*Pristi Gusmatahati, broadcaster yang baru belajar jadi backpacker. Obsesi keliling Eropa sebelum usia 26 tahun, biar dapat diskon kereta 30%. Suka curhat dan menampung curhatan di <a href="http://kangenkasur.wordpress.com" target="_blank">http://kangenkasur.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2012/02/03/1068/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu kereta di Lucknow</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/09/19/menunggu-kereta-di-lucknow/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/09/19/menunggu-kereta-di-lucknow/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Sep 2011 08:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[By Seli Satriana* Pada suatu musim dingin dibagian utara India, saya melakukan perjalanan selama 25 hari dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Hari itu, saya mau berpindah kota dari Lucknow menuju Varanasi dengan naik kereta yang berangkat jam 11.00. Saya dan teman-teman sudah datang ke stasiun jam 10.30 pagi. Cuaca Lucknow hari ini mendung dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Seli Satriana</strong><strong>*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-Jtb99V2Vz2k/Tnb51K9xirI/AAAAAAAABJU/qjNVxyVcbIM/s288/Stasiun_kereta_Lucknow.jpg" alt="" width="288" height="216" /><p class="wp-caption-text">Stasiun Kereta Lucknow</p></div>
<p>Pada suatu musim dingin dibagian utara India, saya melakukan perjalanan selama 25 hari dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Hari itu, saya mau berpindah kota dari Lucknow menuju Varanasi dengan naik kereta yang berangkat jam 11.00. Saya dan teman-teman sudah datang ke stasiun jam 10.30 pagi. Cuaca Lucknow hari ini mendung dan suhu udaranya dingin banget, sekitar 10 derajat Celcius. Daripada bengong di peron, kami akhirnya memutuskan menunggu di sebuah <em>food court</em> kecil di dalam stasiun sambil makan siang dan minum <em>chai</em> (teh ala India). Lumayan sambil menghangatkan badan.</p>
<p>Tunggu punya tunggu, belum ada tanda-tanda keretanya muncul. Katanya kereta terlambat, rencananya akan datang jam 14.00. Kami pun balik lagi ke <em>food court</em>. Eh jam 14.00 lebih belum juga keretanya nongol! Sampai sudah bosan menunggu, kami bertanya-tanya ke penumpang di sekitar. Katanya keretanya telat lagi, baru sekitar jam 17.30 nanti dijadwalkan akan datang. Pasrah, kami memutuskan menunggu di <em>platform</em> daripada naik lagi ke ruang tunggu di lantai atas dengan <em>backpack</em> masing-masing. Di ruangan terbuka begini, dinginnya terasa minta ampun! Bolak-balik kami membeli <em>chai</em> di warung-warung kelontong yang tersedia di peron.</p>
<p><span id="more-919"></span>Suasana peron di stasiun Lucknow tidak jauh berbeda dengan susasan peron di kota-kota lainnya di India, penuh dengan manusia dan sapi yang berkeliaran bebas. Kan kaget gitu kalau tiba-tiba kesenggol sapi lewat! Masih mending sapi, ternyata ada pula tikus dan monyet! Padahal saya paling takut sama tikus! Nyebelinnya, tikus-tikus itu bukan sekedar berkeliaran, tapi mulai mencium-cium ransel saya. Duh, bete banget jadinya! Meski saya pindah duduk di atas ransel, tikus-tikus itu tetap aja masih nekat mendekat! Belum lagi monyet-monyetnya yang selain besar-besar, berjumlah banyak dan pastinya suka iseng. Di sebelah kami nongkrong ada keluarga India yang sedang asyik makan kacang, tiba-tiba harus rela plastik kacangnya diambil oleh si monyet. Saya jadi mendekap barang-barang saya dengan erat, takut dicuri monyet juga.</p>
<p>Sampai lewat jam 18.00, tetap belum ada tanda-tanda kemunculan kereta kami. Seorang penumpang di dekat kami yang juga sedang menunggu kereta yang sama bilang bahwa kereta baru akan datang jam 20.00! Gubrak! Saya mulai agak cemas nih mengingat baru kemarin saya baca berita di internet, ada tabrakan di jalur utara. Penyebabnya cuaca buruk karena kabut tebal. Kami sempat berpikir untuk naik bis, tapi karena sudah gelap rasanya tidak ada pilihan lain selain pasrah menunggu. Kali ini saya mengajak teman-teman untuk pindah ke ruang tunggu khusus perempuan di lantai atas. Di India, memang banyak terjadi pemisahan antara ruangan laki-laki dan perempuan, katanya karena kasus pelecehan seksual yang cukup sering terjadi di sana. Saya bakalan setuju banget nih kalau diterapkan hal yang sama di Indonesia.</p>
<p>Di ruang tunggu, suasananya penuh tapi kami masih kebagian tempat duduk. Di sebelah kami ada 2 orang ibu-ibu yang juga masih menunggu keretanya datang. Akhirnya jadi ngobrol ngalor-ngilur dengan kami. Lumayan sedikit mengatasi rasa kebosanan menunggu dalam ketidakjelasan. Sisi menariknya, kedua ibu ini adalah pengabdi gereja bukan penganut Hindu seperti kebanyakan masyarakat India umumnya. Mereka sangat tertarik setelah mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia dan sedang melakukan perjalanan keliling India utara. Di Lucknow sendiri memang tidak banyak terlihat turis-turis asing karena kota ini tidak terlalu populer kecuali jika ingin melihat sisa-sisa peninggalan bernuansa Islam.</p>
<p>Satu jam berlalu, belum ada pengumuman kereta kami datang. Sesekali saya keluar mencari keterangan di lobi utama mengenai waktu datangnya kereta kami. Pengumuman ditulis di papan tulis putih ukuran kecil dalam bahasa India pula. Untunglah seorang cowok yang sedang berdiri di samping bisa berbahasa Inggris dan menurutnya kereta kami baru akan datang jam 23.00 nanti. Hah?! Saya pun hanya bisa pasrah dan kembali menunggu.</p>
<p>Dan akhirnya jam 23.00 lewat sedikit, terdengar pengumuman kereta kami datang! Horeee! Kami buru-buru pamitan dengan ibu-ibu yang ramah tadi, lalu dengan semangat turun ke peron. Sialnya, kami sempat salah arah menuju gerbong tempat kami seharusnya berada, sehingga terpaksa balik arah menuju gerbong-gerbong di depan. Gerbong kereta di India memang panjang-panjang sehingga bikin panik. Sekitar jam 23.30, kereta kami benar-benar berangkat! Walaupun kereta ini terlambat 12,5 jam, waktu perjalanan selama 6 jam 45 menit tidak ikutan molor. India oh India, sekali seru tetap seru semuanya!</p>
<p>&#8212;<br />
<strong>*</strong><strong>Seli Satriana</strong> – Tinggal di Jakarta, penikmat jalan-jalan dan The Naked Traveler. Kepingin kembali menjelajah India bagian Selatan di suatu waktu nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/09/19/menunggu-kereta-di-lucknow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kena Sweeping di Thailand</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/08/23/kena-sweeping-di-thailand/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/08/23/kena-sweeping-di-thailand/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 19:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=904</guid>
		<description><![CDATA[By Ariyanto* Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By </strong><strong>Ariyanto*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 288px"><img src="https://lh3.googleusercontent.com/-BHI-zdlFoB0/TlKw3A447oI/AAAAAAAABI0/UJQKg6npZf8/s288/mae%252520sai.jpg" alt="" width="278" height="206" /><p class="wp-caption-text">Jalan utama Mae Sai</p></div>
<p>Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.</p>
<p>Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!</p>
<p><span id="more-904"></span>“<em>Chang wesuh kra be wos</em><em> </em><em>wus w</em><em>es</em>!” serentetan kalimat meluncur dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “<em>I’m speaking English. I’m Indonesian, Si</em><em>r,</em>” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya. </p>
<p>Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “<em>Okay</em><em>! P</em><em>assport! P</em><em>assport</em>!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila apa?!</p>
<p>Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang <em>sweeping</em> imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.”</p>
<p>Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand.  Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.</p>
<p>Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang diturunkan dari bus itu ya?</p>
<p>&#8212;&#8211;<br />
<strong>*Ariyanto – </strong>penulis 4 buku panduan<em> traveling</em>, yaitu “Rp 2 Jutaan Keliling China Selatan dalam 16 Hari”, “Rp 1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari”, “Travelicious Yogya &amp; Solo: Jalan Hemat Jajan Nikmat”, serta “Travelicious Surabaya, Malang &amp; Madura: Jalan Hemat Jajan Nikmat”. Banyak pengalaman <em>traveling</em>-nya yang belum dibukukan dia tuangkan di <a href="http://www.a-journo.blogspot.com/" target="_blank">http://www.a-journo.blogspot.com/</a> atau di twitter @ariysoc</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/08/23/kena-sweeping-di-thailand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjuangan ke Luang Prabang</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/08/17/perjuangan-ke-luang-prabang/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/08/17/perjuangan-ke-luang-prabang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 17:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[By Rini Raharjanti* Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit guesthouse. Menurut rekomendasi Lonely Planet, lebih baik naik van daripada bus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Rini Raharjanti*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh6.googleusercontent.com/-CEV1DfkbWKs/TkqjuvaRcWI/AAAAAAAABH0/StpFMPWpQU4/s288/luang_prabang_seen_from_Phou_Si_hills.jpg" alt="" width="288" height="216" /><p class="wp-caption-text">Luang Prabang, Laos</p></div>
<p>Siang bolong yang panas itu, segera setelah sampai di Vientiane saya langsung mencari informasi bus malam menuju Luang Prabang. Karena waktu liburan yang singkat makanya saya maksa berangkat malem-malem supaya bisa tidur di bus. Selain irit waktu, kita juga irit duit <em>guesthouse</em>. Menurut rekomendasi <em>Lonely Planet</em>, lebih baik naik van daripada bus karena lebih nyaman dan perjalanan yang harusnya ditempuh 12 jam bisa jadi 10 jam. Akhirnya saya memutuskan untuk naik van walaupun harganya $9 lebih mahal dari harga bus VIP. Di <em>travel agent</em> terpampang foto cantik van yang akan membawa saya ke Luang Prabang. Saya senyum sumringah karena bakal tidur di jok kursi van yang empuk.</p>
<p>Setelah makan siang dan berjalan-jalan sekitar kota, saya menuju <em>meeting point</em> dimana van menuju Luang Prabang akan menjemput saya. Tidak lama menunggu, sebuah mobil <em>pick up</em> lengkap dengan jeruji besi di kedua sisi berhenti di depan hidung saya. Pak Supir keluar dari mobil dan bertanya “Luang Prabang?”. Saya BENGONG. Sempet bolot beberapa saat ngebayangin bakalan naik mobil pick up buat ngangkut sapi ke Luang Prabang selama 12 jam! ALAMAK! Saya cuman mengangguk perlahan memandang nelangsa penuh derita nestapa. Dengan bahasa Inggris patah-patah pak supir bilang “<em>Don’t worry, I will only take you to bus station. You will move to a nice van there</em>.” OALAAHHH..mendengarnya lega sekali serasa diguyur air syurga! Dengan senyum lebar saya naik mobil <em>pick up</em> dan menuju terminal bus.</p>
<p><span id="more-894"></span>Sesampainya di terminal bus, saya langsung celingak-celinguk mencari van yang menuju Luang Prabang. Tapi saya ga nemu satu van pun beredar di sekitar terminal. Pak supir hanya mengantar saya sampai loket penjualan tiket untuk menukar tiket dan sepersekian detik berikutnya, dia hilang ditelan bumi. Saya mendapat karcis dan langsung digiring sama petugas terminal ke sebuah bus model bus AKAP ekonomi! SAYA DITIPU! Mana van-nya? Kok malah bus butut? Duh, rasanya gondok dan sebel bisa ditipu habis-habisan kayak begini. Mau ngamuk dan mau <em>complain</em> juga udah ga bisa lagi karena pak supir juga udah melarikan diri! Kalau dikasih bus VIP yang ada AC dan tempat duduk yang nyaman mungkin saya ga bakalan bete banget. Tapi ini bus ekonomi, bung! Padahal saya juga udah bayar $9 lebih mahal dari bus VIP. Saya cuman bisa duduk lemes, menelan ludah dan berusaha untuk mengendalikan kegondokan.</p>
<p>Tepat pukul jam 4 sore bus berangkat. Isi busnya ga penuh, hanya saya, dua orang teman, dan segelintir orang lokal dengan berbagai macam jenis belanjaan. Kegondokan saya berangsur hilang waktu ngeliat pemandangan indah sepanjang jalan ditemenin dengan lagu Laos yang hingar bingar model semi-dangdutan. Pak Supir dan pak kondektur dengan semangat juga ikutan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Orang-orang lokal pada ngobrol ngalor ngidul sambil ngakak ngikik.</p>
<p>Mendadak di tengah jalan bus berenti. Orang-orang pada serentak turun satu demi satu. Nah lho, kenapa nih? Ban bocor? Bus mogok? Kenapa sih? Sampe akhirnya pak supir bilang, “<em>T</em><em>oilet.</em>” Weks, saya cari cari mana toiletnya? Kagak ada bentuk toilet di sekitar-sekitar situ. Yang ada cuman semak-semak dimana-mana. Saya perhatiin orang-orang asoy geboy aja ngumpet disemak-semak pilihan mereka dan melepaskan pipisnya! Saya langsung ketawa abis-abisan! Buset, di Indonesia ga segitu parahnya deh ya!</p>
<p>Perjalanan panjang pun dilanjutkan. Bus cuman jalan dengan kecepatan kayak siput, 30-40 km per jam di jalan berkelak-kelok ditemani dengan rintik hujan. Sepanjang jalan saya berusaha tidur senyenyak mungkin walaupun kedinginan dan harus mengkeret di tempat duduk yang super sempit dan ga nyaman. Belum lagi tiap jam bus-nya berenti buat <em>toilet break</em> atau beli jajanan pasar atau makan. Rasanya ga sampe-sampe! Bener-bener penuh penderitaan!</p>
<p>Tepat 12 jam tersiksa di dalam bus, saya terbangun karena sudah sampai di Luang Prabang. Masih ngantuk dengan tampang kucel saya keluar dari bus. Saya <em>shock</em> karena terminal bus di sana sunyi senyap. Ga ada kehidupan. Ga ada tuk-tuk. Saya terdampar dan terlantar di terminal bus Luang Prabang jam 4 pagi! Saya sempet takut juga kalo bakalan diapa-apain sama orang. Untungnya ga lama sebuah tuk-tuk dateng. Setelah menyebutkan daerah mana yang mau saya tuju dan melakukan tawar-menawar saya pun meluncur ke daerah <em>backpacker</em>. <em>Luck was still on my side</em>, pagi-pagi buta setelah turun dari tuk-tuk ada seorang lelaki paruh baya yang muncul di depan hidung saya dan menawarkan <em>guesthouse</em> miliknya yang superluas dan bersih.</p>
<p>Setelah istirahat dan mandi, saya menyewa sepeda mini dan menggowesnya keliling Luang Prabang bersama teman. Saya langsung jatuh cinta dan terpesona dengan keindahan Luang Prabang. Ga salah kalo Luang Prabang ditunjuk sebagai UNESCO World Heritage Center. Kota ini tertata dengan teratur dan bersih. Rumah-rumah modern dengan gaya campuran Laos dan Perancis berjejer dengan rapi. Kuil-kuil Buddha yang sudah berumur ratusan tahun menambah kesan religi kota ini. Walaupun secara keseluruhan kota ini tampak modern tapi kesan keramahan Asia sangat terasa. Penduduk lokalnya baik dan ramah, sesama turis yang ga dikenal asik saling menyapa. Suasananya bener-bener nyaman dan menyenangkan. Saya terus menggowes sepeda mini sampai malam menyusuri sungai Mekong, kuil-kuil Buddha, Old heritage house dan berhenti di Night Market. Beberapa teman baru dari Skotlandia dan Spanyol bergabung bersama saya malam itu menikmati mie kuah khas Laos, Beer Lao dan Lao coffee.</p>
<p>Sedetik saya berada di titik terendah penuh penderitaan, namun sedetik berikut saya berada di titik teratas penuh keriaan menikmati perjalanan. Traveling memang selalu menjanjikan pengalaman naik turun yang memacu andrenalin. Hari ini saya rasakan seperti <em>roller coaster</em>..</p>
<p>&#8212;<br />
<strong>*Rini Raharjanti</strong> – Sudah menulis 2 buku panduan <em>traveling</em> berjudul “Rp 3 Jutaan Keliling India” dan “Travelicious Jakarta”. Suka melampiaskan kebosanannya lewat tulisan di blog <a href="http://cuapcuapnabi.blogspot.com/" target="_blank">cuapcuapnabi.blogspot.com</a>. Suka berkicau di twitter @riniraharjanti dengan banyak <em>sharing</em> cerita perjalanannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/08/17/perjuangan-ke-luang-prabang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semurup, the most dangerous hot spring</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/07/21/semurup-the-most-dangerous-hot-spring/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/07/21/semurup-the-most-dangerous-hot-spring/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 18:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[By Reinhard Hutagaol* Setelah pindah tugas meninggalkan Jambi beberapa bulan ini, saya jadi teringat cerita yang unik selama berdinas disana selama 7 tahun di sana, yaitu pada waktu berkunjung ke Kabupaten Kerinci. Ini adalah sebuah kabupaten yang paling jauh dari ibukota Jambi, letaknya di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatra) di sebelah Barat Jambi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Reinhard Hutagaol*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/-meqrPCuFvdU/TicZkjc6_dI/AAAAAAAABGo/9JeGJkaAHYQ/s288/semurup.jpg" alt="" width="288" height="216" /><p class="wp-caption-text">Dangerously Semurup</p></div>
<p>Setelah pindah tugas meninggalkan Jambi beberapa bulan ini, saya jadi teringat cerita yang unik selama berdinas disana selama 7 tahun di sana, yaitu pada waktu berkunjung ke Kabupaten Kerinci. Ini adalah sebuah kabupaten yang paling jauh dari ibukota Jambi, letaknya di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatra) di sebelah Barat Jambi. Kalau menggunakan kendaraan paling cepat bisa ditempuh 10 jam melewati jalan yang buruk disekitar pegunungan. Pernah sih Pemda-nya mengupayakan angkutan pesawat dengan memberikan subsidi kepada penumpangnya, tapi lama-lama bangkrut juga.</p>
<p>Kerinci secara geografis lebih dekat ke Sumatra Barat sehingga sangat berpengaruh sekali segala adat istidatnya yang hampir sama dengan budaya Minang kecuali bahasanya. Sebenarnya dulu Kerinci adalah bagian dari Sumatra Barat. Pada awal pembentukan Propinsi Jambi pada tahun 1950-an, syarat 5 kabupaten untuk membuat satu propinsi masih kurang 1 Kabupaten, nah melalui negoisasi dengan propinsi Sumatra Barat dilepaslah kabupaten Kerinci untuk bergabung dengan Jambi.</p>
<p><span id="more-853"></span>Seperti layaknya daerah pegunungan, pasti terdapat sumber mata air panas (<em>h</em><em>ot spring</em>). Begitu pula di Kerinci dengan sumber mata air panas Semurup yang terletak hanya 15 menit dari kota Kerinci. Lokasinya seperti tempat wisata lazimnya, ada banyak petunjuk arah menuju lokasi. Begitu masuk areal, ada gapura besar, ada petugas yang menjaga pintu masuk, dan dengan membayar Rp 5 ribu rupiah bisa masuk ke lokasi. Di dalam lokasi <em>hot spring</em> terdapat beberapa kolam permandian dan uniknya, banyak warung menjual kebanyakan telur dan pisang. Ternyata telur dan pisang itu nantinya akan dicelupkan langsung ke sumber air panas sehingga matang, tanpa harus direbus di atas kompor.</p>
<p>Anehnya, begitu masuk ke dalam area tempat <em>hot spring</em> itu ternyata pandangan kita terhalang dengan pagar tinggi terbuat dari besi dan kawat berduri di atasnya. Pintunya pun dikunci gembok dan hanya diberikan setelah meminta izin juru kunci lokasi air panas ini. Beliau lah lah yang memberikan <em>screening</em><em> </em>siapa saja yang boleh masuk ke kawasan air panas ini! Nah lho, kenapa urusannya jadi ribet begini?</p>
<p>Ternyata tempat itu merupakan lokasi favorit untuk bunuh diri! Tercatat sudah puluhan korban bunuh diri yang datang ke lokasi ini dan melompat terjun ke dalam kolam di tengah sumber air panas. Menurut penjaga warung, setiap tahun kurang lebih 4 sampai 5 kali peristiwa bunuh diri dengan terjun ke kolam air panas. Kolam itu lebarnya kurang lebih 20 x 10 meter, namun dasarnya tidak kelihatan. Konon kolam itu sangat dalam, lebih dari 50 meter dalamnya. Di dasarnya ada aliran air panas dengan panjang puluhan kilometer.</p>
<p>Menurutnya, apabila seorang terjun ke kolam sangat tidak mungkin untuk ditolong karena air sangat panas dan pasti hilang tersedot ke dalam kolam. Jenazah baru bisa ditemukan kembali apabila meminta pertolongan pawang setempat. Dengan mengucapkan doa tertentu, jenazah bisa mengapung kembali walaupun yang tersisa tinggal tulang belulang dan rambut. Mengapa begitu? Karena tulang dan rambut manusia relatif tahan panas, sementara daging dan organ tubuh sudah hilang karena panasnya air.</p>
<p>Peristiwa bunuh diri terakhir terjadi pada tahun 2010 saat seorang wanita yang merupakan istri Kepala Dinas PU Kabupaten Kerinci terjun bunuh diri ke tengah kolam. Semenjak itu dibuatlah pagar tinggi sehingga orang tidak bisa masuk ke dalam areal kolam air panas dengan sembarangan.</p>
<p>Kenapa banyak terjadi bunuh diri di tempat itu? Konon sangat terlarang orang yang mempunyai masalah berat dan berpikiran kosong untuk datang ke tempat itu, karena akan ada &#8220;roh&#8221; yang akan &#8220;menarik&#8221; seseorang untuk terjun ke tengah kolam. &#8220;Roh&#8221; tersebut akan masuk dan mengendalikan pikiran orang tersebut.</p>
<p>Pada waktu saya kesana, juru kunci kolam Semurup lagi tergopoh-gopoh membawa ayam kampung, berdoa mengucapkan mantra, dan menyembelih seekor ayam di pinggir kolam. Ternyata ada seorang dengan pikiran &#8220;kosong&#8221; sedang berdiri di pinggir kolam. Saya dibisiki oleh penjaga warung, “Sssttt.. itu orang (ia menunjuk orang yang berdiri di pinggir kolam itu) sedang berniat untuk terjun ke tengah kolam. Untungnya juru kunci segera bertindak. Ia segera mengganti korban dengan memotong seekor ayam kampung dan menciprati darah ayam di sekeliling kolam.” Anehnya setelah upacara singkat itu, orang yang disinyalir hendak bunuh diri meninggalkan lokasi kolam begitu saja! Aneh bukan?</p>
<p>Memang tempat ini terkenal sebagai <em>&#8220;The Most Dangerous Hot Spring&#8221;</em> yang penuh misteri dan menyeramkan, tapi lupakanlah… saya sedang menikmati telur dan pisang yang saya rebus di aliran air panas ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;-<br />
*Reinhard Hutagaol adalah seorang perwira POLRI di Jakarta yang saat ini berdinas di Divisi Hubungan Internasional. Polisi ngeblog? Itu lah dia. Cek di <a href="http://reinhardjambi.wordpress.com/" target="_blank">reinhardjambi.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/07/21/semurup-the-most-dangerous-hot-spring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Loak di Dubai</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/06/22/pasar-loak-di-dubai/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/06/22/pasar-loak-di-dubai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 15:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[by: Hairun Fahrudin* Suatu pagi di akhir pekan, saya ditemani Paolo, seorang kawan yang berkampung halaman di Filipina, mendatangi Safa Park tempat digelarnya pasar loak. Meski hanya pasar loak, nama resminya lumayan keren, yakni Dubai Flea Market. Itu adalah kali pertama saya mengunjunginya. Terus terang, saya tidak terlalu berminat membeli barang bekas. Namun, setelah mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by: Hairun Fahrudin*</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="https://lh3.googleusercontent.com/-Jv9e6tgRxMc/TgICpARIqzI/AAAAAAAABE0/wkhnqUQDc4M/s288/safa03.JPG" alt="" width="257" height="170" />Suatu pagi di akhir pekan, saya ditemani Paolo, seorang kawan yang berkampung halaman di Filipina, mendatangi Safa Park tempat digelarnya pasar loak. Meski hanya pasar loak, nama resminya lumayan keren, yakni Dubai Flea Market. Itu adalah kali pertama saya mengunjunginya. Terus terang, saya tidak terlalu berminat membeli barang bekas. Namun, setelah mendengar cerita seru tentang kemeriahan pasar loak ini, saya jadi tertarik mengunjunginya.</p>
<p>Safa Park adalah semacam Central Park-nya Dubai. Lokasinya tepat berada di pusat kota Dubai yang sangat modern itu. Meskipun beriklim padang pasir, Dubai memiliki banyak taman-taman hijau nan ribun bak kebun raya. Taman-taman kota seperti Safa Park ini kerap digunakan warga untuk berpiknik sambil memanggang <em>barberque</em>, atau tempat menggelar <em>event</em> seperti Dubai Flea Market.</p>
<p>Waktu masih jam tujuh pagi, namun antrian di depan pintu masuk Safa park sudah mengular. Safa Park yang biasanya sepi mendadak meriah dengan kehadiran ratusan pengunjung. Suasananya benar-benar seperti miniatur dunia. Segala bangsa dan ras berkumpul di sana hanya untuk berburu barang loak! Para penjual yang sebenarnya pedagang kagetan itu nampak lalu lalang mengangkut barang dagangan dari bagasi mobil mereka ke lokasi pasar loak digelar. Meskipun hanya berdagang barang-barang bekas, tapi alamak, kendaraan yang dipakai mereka kebanyakan bermerek kelas atas. Koper dan tas berisi barang-barang bekas dikeluarkan dari bagasi mobil Jaguar, BMW, Mercedez Benz dan yang setaraf itu. Bahkan ada yang membawa mobil sport seperti Ferrari dan Porsche.</p>
<p><span id="more-821"></span>Dubai Flea Market digelar tiga minggu sekali setiap hari Sabtu. Pada musim panas, sekitar Juni sampai September, lokasinya tidak di Safa Park, tapi digelar berpindah-pindah dalam ruangan tertutup. Maklum, musim panas di Dubai bukan main menyengat, bisa mencapai 45 derajat celcius di siang hari. Salah satu tempat yang dipilih untuk Dubai Flea Market di musim panas adalah <em>ballroom</em> hotel Ritz Carlton di kawasan prestisius Sheikh Zayed Road. Pasar loak digelar di <em>ballroom</em> hotel berbintang lima? Apa tidak salah tempat? Jangan heran, ini Dubai, bung!</p>
<p>Saking hobinya berdagang barang bekas, warga Dubai tak hanya memiliki satu pasar loak saja. Selain Dubai Flea Market di Safa Park, ada Mirdiff Flea Market yang khusus menjual barang-barang seni dan Jumeirah Flea Market yang hanya menjual baju-baju bekas keluaran desainer kelas dunia. Asal tahu saja, Mirdiff dan Jumeirah merupakan kawasan hunian eksklusif dan bukan orang sembarangan yang tinggal di sana.</p>
<p>Tepat pukul delapan pagi, pintu masuk Safa Park akhirnya dibuka. Ada jarak sekitar 300 meter dari pintu masuk ke lokasi Dubai Flea Market digelar. Tak sedikit yang berlari-lari menuju ke lokasi, seolah-olah takut barang yang diincar dibeli orang lain lebih dulu. Saya dan Paolo ikut-ikutan panas, kami turut berlari di atas rerumputan hijau Safa Park sampai mandi keringat. Benar-benar pasar loak yang heboh!</p>
<p>Ternyata Dubai Flea Market adalah sebenar-benarnya pasar loak, menjual barang bekas dengan harga murah-meriah. Hampir semua pernak-pernik yang kita pikirkan dijual di sana. Mulai dari perlengkapan dapur, mainan anak, barang pecah belah, <em>furniture</em>, baju, aksesoris, elektronik, komputer,  perlengkapan olahraga sampai alat musik. Namun, barang yang paling diincar biasanya buku dan DVD bekas. Harganya tentu saja jauh lebih murah dibanding membeli yang baru.</p>
<p>Dibanding Mirdiff atau Jumeirah Flea Market, Dubai Flea Market di Safa Park lebih terkenal dan pengunjungnya paling banyak. Ini seperti pasar kaget saja, barang-barang ditata seadanya di atas meja atau ditumpuk begitu saja di atas rumput. Sebagian pedagang ada yang berteriak-teriak untuk menarik pengunjung. Ada juga yang berpakaian seperti badut serta memainkan alat musik untuk mencuri perhatian pengunjung. Benar-benar meriah!</p>
<p>Ketika kami sudah sampai di arena pasar loak, Paolo teman saya langsung mencari <em>stand</em> yang menjual aksesoris dari perak. Saat menemukan kalung perak yang diidamkannya, Paolo menawar harga sambil memasang wajah culunnya, <em>“Pleaseeee, I wanna give it to my girlfriend”</em>, rayunya. Dasar jago <em>ngibul</em>, Paolo sebenarnya tidak punya pacar dan kalung itu akan dipakainya sendiri. Tapi, begitu rupanya trik untuk menawar di Dubai Flea Market. Pedagangnya, seorang perempuan bule muda itu akhirnya luluh. “<em>Oh, you&#8217;re so cute</em>”, balasnya dengan nada yang tak kalah manja. Huh, drama antar rasial yang benar-benar tidak menarik, guman saya dalam hati. Kalung perak itu akhirnya berpindah tangan dengan harga 10 dirham (sekitar 24 ribu rupiah).</p>
<p>Lalu tibalah giliran saya. Mata ini mencari-cari, kira-kira apa yang bisa dibeli di pasar loak ini. Perhatian saya kemudian tertuju pada tumpukan celana <em>jeans</em> yang dihamparkan begitu saja di atas rumput. Mata saya hampir terbelakak ketika tahu semua celana <em>jeans</em> itu bermerek Levi&#8217;s. Kondisinya hampir seperti baru, bahkan ada yang masih tertempel label harga. Artinya, celana <em>jeans</em> itu belum pernah dipakai pemiliknya. Entahlah, apa yang ada di benak pemiliknya hingga memutuskan menjualnya. Saya kemudian langsung menyambar dua potong celana <em>jeans</em> dan membayarnya tanpa menawar lagi. Ukurannya benar-benar pas dan yang penting tak ada yang menyangka kalau celana itu dibeli di pasar loak! Saya membayar 30 dirham (sekitar 70 ribu rupiah lebih) untuk tiap potong celana <em>jeans</em> merek Levi&#8217;s asli itu.</p>
<p>Sejak itu, saya menjadi pengunjung setia Dubai Flea Market. Ini adalah cara paling mudah untuk menghemat uang sekaligus bersikap ramah lingkungan. Jadi, kenapa harus gengsi memakai barang loak?</p>
<p>&#8212;<br />
<em>*</em>Hairun Fahrudin, mantan TKI yang kini menulis buku <em>traveling</em>. Tulisannya yang lain bisa dibaca di <a href="http://easybackpacking.blogspot.com/" target="_blank">easybackpacking.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/06/22/pasar-loak-di-dubai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Perjalanan Dinas</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/04/19/nikmatnya-perjalanan-dinas/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/04/19/nikmatnya-perjalanan-dinas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 08:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[by TJ* Kadang-kadang kita merasa iri terhadap orang seperti Trinity yang kerjanya jalan-jalan melulu. Pertanyaan yang muncul di dalam pikiran kita biasanya “Kok bisa ya? Kok punya duit ya?”. Jawaban yang paling mendasar tentunya karena setiap orang punya rejeki masing-masing. Kalau memang rejeki, kita bisa bekerja sebagai orang yang memang profesinya sering harus melakukan perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by TJ*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 264px"><img src="https://lh4.googleusercontent.com/_FKiDAcUhFzc/Tax_LH1XSbI/AAAAAAAABCU/959FoKh8iwE/s288/TJmaya.jpg" alt="" width="254" height="151" /><p class="wp-caption-text">Plengkung bersama Maya dkk</p></div>
<p>Kadang-kadang kita merasa iri terhadap orang seperti Trinity yang kerjanya jalan-jalan melulu. Pertanyaan yang muncul di dalam pikiran kita biasanya “Kok bisa ya? Kok punya duit ya?”. Jawaban yang paling mendasar tentunya karena setiap orang punya rejeki masing-masing.</p>
<p>Kalau memang rejeki, kita bisa bekerja sebagai orang yang memang profesinya sering harus melakukan perjalanan bisnis, misalnya marketing, auditor, atau wartawan. Tapi kembali lagi pada rejeki masing-masing, walaupun kita ditugaskan pergi ke luar kota, bisa jadi tenggat penyelesaian pekerjaan sangat ketat sehingga kita tidak sempat kemana-mana. Ada juga tuan rumah yang mengawal ketat tamu-tamunya, pagi dijemput, selesai kerja harus ramah-tamah basa-basi sampai malam, lalu diantar pulang ke hotel… lah, kapan jalan-jalannya coba? Selain itu tentu terkait dengan kepribadian kita, karena ada saja orang kurang berani jalan sendiri, bahkan bertugas ke luar negeri tapi yang diketahuinya cuma hotel dan lokasi kerja, ditambah <em>convinience store</em> di samping hotel tempat membeli makanan <em>instant</em>.</p>
<p><span id="more-690"></span>Saya pernah bekerja sebagai <em>salesman</em> pada sebuah perusahaan distributor <em>consumer goods</em>. Waktu itu hidup saya benar-benar di atas roda karena setiap hari harus membawa barang dagangan naik mobil boks ke berbagai kota. Dasarnya doyan ngelayap, kesempatan itu saya gunakan sebaik-baiknya, pekerjaan dikebut agar cepat selesai, lalu menuju tempat yang menarik. Saya juga suka keliling kesana kemari mencoba makanan khas daerah itu. Saya akui dalam beberapa hal saya merugikan perusahaan, karena bisa jadi ongkos bensin menuju daerah favorit saya tidak sepadan dengan prospek pasar di sana. Paling parah kalau ada pelanggan yang cakep, biarpun lokasinya jauh, beli barangnya sedikit pula, tapi tetap masuk dalam daftar wajib kunjung! Hehe! Tapi itu dulu, sekarang sudah ada teknologi GPS yang bisa dipakai memantau <em>salesman </em>nakal, jadi jangan harap bisa ngelayap jauh-jauh.</p>
<p>Beberapa perusahaan dan instansi memiliki budaya santai dan sangat longgar dalam urusan perjalanan dinas. Mohon maaf, tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, biasanya di tempat seperti itu kulturnya feodal. Para tamu dari kantor pusat bila mengunjungi daerah disambut bak tamu agung, diservis habis-habisan, diantar berwisata, kenyang ditraktir makan, dibelikan oleh-oleh, dan kalau tamu itu pria mesum bisa disediakan pula “hiburan khusus”. Tentunya tamu tak perlu bayar, semua ditanggung kantor setempat, mungkin dengan kuitansi dan nota fiktif. Soal pekerjaan? Ah, lupakan saja, semua toh sudah TST (tahu sama tahu), tinggal laporkan yang baik-baik dan kasih tanda tangan sambil merem. Bagaimanapun, jika kita berada pada posisi seperti itu maka sebaiknya dengan kesadaran penuh berusaha menghindari, karena dampak negatifnya baru akan kita rasakan kelak. Ketika sudah berhenti bekerja akan terkena <em>post power syndrome</em> &#8211; nggak enak deh kalau sudah tua terus stres karena tidak bisa menikmati layanan spesial lagi.</p>
<p>Ada juga pekerjaan yang memang seratus persen halal nge-<em>trip</em>. Jadi <em>tour guide </em>jelas setiap hari nge-trip melulu. Tapi coba deh amati, apa kira-kira mereka <em>enjoy</em>. Kayaknya sih enggak, karena tempat wisata yang mereka kunjungi ya itu-itu saja. Selain itu, biasanya ada saja peserta tur yang tukang komplen, begini salah begitu salah, rewel.</p>
<p>Satu orang yang saya kenal benar-benar berprofesi <em>happy traveler </em>adalah Mayawati Nur Halim (pernah menulis di blog TNT berjudul Wartawan Norak Pertama Kali ke Luar Negeri). Memang dia wartawan (nggak norak sih), dan sekarang mengasuh majalah jalan-jalan. Awalnya saya “mengenal Maya di dunia maya” saja, karena sama-sama menulis di Blog TNT, lalu dilanjut via <em>email</em>, <em>chatting</em> dan Facebook, sampai akhir 2010 ketika dia butuh teman jalan untuk meliput Plengkung, pantai di ujung timur Pulau Jawa. Kesempatan kopi-darat pertama, kami langsung nge-trip bareng. Simbiosis mutualisme, saya menjadi supir Surabaya Banyuwangi pp, tapi semua biaya perjalanan dibayar kantor tempat Maya bekerja. Mantap deh, entah kapan bisa diulangi lagi, rencananya kami ingin ke Pacitan atau Semeru.</p>
<p>Mereka yang sudah menikah, ada yang kurang beruntung jika memiliki pasangan yang cemburuan. Biasanya ketika dinas luar kota, pasangannya sebentar-sebentar menelepon. Apalagi kalau malam, teleponnya pasti ke kamar hotel, supaya yakin situasinya sudah “aman”. Saya pernah harus pergi keluar kota bersama teman perempuan yang sudah menikah. Si suami secara rutin meminta istrinya memotret lokasi ada dimana dan di-<em>upload</em> di Facebook. Saya jadi berpikir apa tampang saya ini sebegitu mesumnya ya, mungkin kalau istrinya pergi dengan orang lain dia tidak begitu khawatir. Yah, nasib!</p>
<p>Saya sendiri bukan tergolong ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), tapi memang saya aji mumpung. Kalau ada perjalanan dinas ke tempat yang menarik, saya akan mengajak istri, apalagi kalau dinasnya ke luar negeri. Lumayan kan, tiket pesawat dan hotel saya dibayar kantor, <em>outstationed allowance</em> juga ada &#8211; artinya saya tinggal keluar uang untuk beli tiket buat istri. Sementara saya bekerja, istri saya bisa jalan-jalan sendiri, setelah pekerjaan selesai saya akan <em>extend</em> cuti sekitar dua hari. Kadang-kadang perjalanan dinas dibayar oleh <em>principal, </em>kantor regional luar negeri. Mereka suka sebal kalau tahu istri saya ikut, “<em>Your wife is coming too?</em>” Saya sih cuek saja menjawab, “<em>Yes, why not, she paid for her own ticket.”</em></p>
<p>Pernah saya bekerja di perusahaan yang mewajibkan karyawan untuk <em>room sharing</em> pada setiap perjalanan dinas, padahal istri saya ikut. Untungnya jabatan saya waktu itu cukup senior, sehingga sering kali orang lain yang harus sekamar dengan saya jabatannya lebih rendah. Biasanya saya akan sedikit basa basi, “Maaf kamu saya tinggalkan, karena istri ikut maka saya pindah hotel yang lebih murah, maklum bayar sendiri”. Maka orang yang seharusnya sekamar dengan saya itu akan mengerti sendiri, “Oh nggak usah, Pak. Silakan dipakai kamarnya, saya gabung dengan kawan-kawan lain saja di kamar sebelah.” Hehehe.. memang itu risiko jadi junior, <em>man</em>!</p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
*) TJ, saat ini bekerja sebagai <em>surveyor marketing research</em>, sering melakukan perjalanan dinas ke berbagai kota. Ini adalah tulisannya yang kelima di blog TNT, dengan gaya tutur yang khas Bonek (bondo/modal nekad) dari Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/04/19/nikmatnya-perjalanan-dinas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titip-menitip vs oleh-oleh</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/02/13/titip-menitip-vs-oleh-oleh/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/02/13/titip-menitip-vs-oleh-oleh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 13:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[by Ms. Complaint Kalau lagi traveling yang menjadi beban bukannya baju winter atau koper, tapi titipan dan oleh-oleh. Para sahabat sudah maklum kalau saya adalah light traveler, jadi kalau ingin menitip harus tahu ukuran dan berat. Secara, kalau bepergian saya hanya membawa satu koper kabin yang berisi laptop, gadget dan barang ogah hilang lainnya seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Ms. Complaint</strong></p>
<p><img class="alignleft" src="https://lh6.googleusercontent.com/_FKiDAcUhFzc/TVfgyNDaB5I/AAAAAAAAA94/qb1QbI24Dcw/s800/KOPER.jpg" alt="" width="196" height="216" />Kalau lagi traveling yang menjadi beban bukannya baju <em>winter </em>atau koper, tapi titipan dan oleh-oleh. Para sahabat sudah maklum kalau saya adalah<em> light traveler, </em>jadi kalau ingin menitip harus tahu ukuran dan berat. Secara, kalau bepergian saya hanya membawa satu koper kabin yang berisi <em>laptop</em>, <em>gadget</em> dan barang <em>ogah hilang </em>lainnya<em> </em>seperti alat <em>makeup</em>, beberapa pakaian cadangan dan celana dalam kertas sekali pakai buang, <em>plus</em> satu <em>checked-in</em> koper berukuran <em>medium</em> yang cukup buat beberapa baju, sepatu, peralatan mandi, dengan ruang kecil tersisa buat oleh-oleh teman yang akan dikunjungi. Jarang koper saya beranak, kalau terpaksa barulah saya keluarkan tas lipatan <em>Longchamp</em> andalan, praktis, tipis dan manis buat tentengan darurat. Sudah kapok <em>overweight</em>, titipan tidak seberapa dibandingkan harga kelebihan bagasi. Kelebihan bagasi di luar negeri bisa sampai US$125 per koper dan domestik Rp.100.000 per kilogram.</p>
<p>Saya pernah <em>dititipin</em> gitar, sepeda dan bola <em>bowling</em>, kontan saya protes, katanya <em>sih</em> bercanda, tapi saya yakin mereka serius. Titipan baju, kebaya dan batik sudah sering, tiga pasang sepatu pernah, tas pesta dan coklat apalagi, sampai makanan basah juga kering bolak balik menjadi titipan langganan. Malah pernah, saya dititipkan sekoper penuh barang titipan, untungnya biaya dan jemputan ditanggung beres. Paling <em>deg-degan</em> waktu membawa cincin kawin berlian 2 karat titipan teman dari <em>Belgia</em>, karena takut hilang saya pakai saja cincin ber-<em>style</em> <em>Tiffanny</em> itu, sekalian gaya.</p>
<p><span id="more-647"></span>Saya pernah malu jadi tontonan orang sebandara, saat memindahkan isi koper ke koper lain agar beratnya seimbang, supaya lolos timbangan, tiba-tiba kotak titipan teman loncat keluar koper dan dengan jelas terbacalah tulisan berhuruf tebal itu:<em> Rammstein dildo box set</em> lengkap dengan gambarnya! <em>Anj**t!</em></p>
<p>Pernah juga berbaik hati menerima titipan barang pecah belah dan makanan mudah hancur. Mau tidak mau harus <em>hand carry </em>agar titipan selamat sampai ke alamat. Yang ada, pundak miring sebelah, tangan bengkak keberatan barang titipan. Sekali pernah meninggalkan titipan teman di <em>toilet</em> bandara karena tidak kuat dengan bau menyengat makanan aneh entah apa. Sejak itu, saya kapok menerima titipan lagi.</p>
<p>Hati-hati dengan orang yang bilang: &#8220;<em>nitip beliin dong,</em> nanti <em>gue</em> ganti disini&#8221;. Alih-alih berterima kasih, barang beda warna atau diluar <em>budget</em> sedikit saja, bisa-bisa uang tidak kembali. Biar aman, sebaiknya minta teman untuk membeli langsung barang yang diinginkan sesuai selera melalui <em>website online shopping</em> dan mengirimkan paket tersebut ke alamat penginapan kita. Praktis, tidak merepotkan, tinggal masukkan ke koper, bawa pulang <em>deh</em> tanpa hitungan hutang piutang.</p>
<p>Saran titip-menitip agar orang lain tidak keberatan dan terbebani: pilih barang berkategori penting seperti obat-obatan [jangan lupa resep dari dokter jika diperlukan, kasihan otang yang bawa nanti diinterogasi petugas <em>screening</em> dikira pengedar], kacamata baca buat <em>eldery, vitamin </em>atau<em> suplement</em> [diluar lebih murah, lengkap dan bervariasi], parfum, <em>clutch</em> bukannya <em>handbags</em> atau <em>scarf</em> batik halus unik yang tidak makan tempat. Paling malas menerima titipan berupa <em>body lotion </em>yang beratnya lumayan, produk elektronik [bedanya tipis kok sama di Indo], celana <em>jeans</em> [makan tempat <em>tau!]</em>, kaos <em>Hardrock Cafe</em> [<em>duh,</em> mendingan <em>Hooters</em> <em>deh</em>!]. <em>Anyways</em>, memang paling enak kalau tidak ada yang titip-menitip, jadi kita bisa menikmati liburan dengan nyaman plus ruang setengah koper masih bisa buat oleh-oleh pulang.</p>
<p>Oleh-oleh adalah sesuatu yang lazim dibawa pulang saat seseorang kembali dari liburan. Tanda perhatian kepada teman sebagai bukti <em>‘I wish you were here’</em> ini menjadi semacam aturan tak tertulis yang bisa jadi diharapkan dari pertemanan. Buktinya sehabis berlibur, pasti ditanya: &#8220;<em>mana oleh-oleh?&#8221;</em></p>
<p>Yang menjadi masalah adalah menyatukan harapan akan oleh-oleh itu sendiri. Sering saya bingung, mau dibelikan apa ya kalau teman tidak spesifik terhadap permintaan oleh-olehnya, takut tidak dihargai malah dibuang. Saya pernah <em>kapok</em> membawa oleh-oleh untuk seorang teman. Dia <em>ngomel</em>  saat saya belikan kimono <em>silk</em>, gerutunya &#8220;mendingan <em>dibeliin</em> kalung giok <em>deh&#8221;</em>. <em>Lah</em>, katanya terserah.</p>
<p>Lucunya, setiap saya memakai sesuatu yang baru hasil liburan, selalu ditanya: &#8220;<em>kok ngga bawain gue yang ini juga?&#8221;</em>, padahal oleh-oleh sudah saya beli sesuai pesanan. Sejak itu, saya punya 5 standar untuk membeli oleh-oleh.</p>
<p>Pertama: ketika saya membeli barang untuk diri sendiri, saya lebihkan 3 yang sama untuk para sahabat. Kedua: membeli oleh-oleh sesuai pesanan orang saja, jika tidak mohon diterima apa adanya. Ketiga: membeli oleh-oleh sesuai hobi teman, contohnya CD meditasi buat teman yang doyan <em>yoga</em>, kartupos bergambar gunung buat teman yang hobi <em>climbing</em>, kopi lokal buat teman yang gila <em>ngopi.</em></p>
<p>Keempat: sudah tidak jamannya lagi membeli tempelan kulkas dan gantungan kunci kecuali buat kolektor. Coklat, rokok lokal, <em>victoria secret panties</em>, <em>pashmina</em> dan asesoris unik, lebih personal dan berarti.</p>
<p>Kelima: Untuk oleh-oleh buat teman yang dikunjungi di luar negeri, coba bawakan coklat <em>silver queen </em>atau b<em>eng-beng</em> dari Indo, rokok gudang garam dan sampoerna, pensil alis <em>viva</em> sama dvd <em>film</em> Indo terbaru atau buku <em>Naked Traveler</em>, pasti mereka senang dan <em>kangen</em> barang-barang yang sudah jarang mereka temukan lagi dan pastinya lebih aman saat diperiksa petugas bagian <em>good declare </em>imigrasi daripada supermi, sambal dan dendeng.</p>
<p>Yang akhirnya menjadi beban adalah saat teman sudah dibawakan titipan pergi-pulang, masih saja berharap dan menagih oleh-oleh. Padahal yang terpenting adalah kita kembali dengan selamat bersama cerita dan foto-foto seru yang dibawa pulang, itu sudah merupakan oleh-oleh otentik yang pantas dihargai oleh teman yang menghargai kita. <em>If not, then, they are not really your good friends. </em></p>
<p><em>&#8212;<br />
</em>*Ms. Complaint, who loves traveling, snapping and writing. She doesn&#8217;t complain much though, she rather writes to express her disagreement. The complaints are just for fun, yet as her complain therapy. Check out her blog at <a href="http://www.mscomplaint.com">www.mscomplaint.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/02/13/titip-menitip-vs-oleh-oleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi monster pas berhaji</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2011/02/02/jadi-monster-pas-berhaji/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2011/02/02/jadi-monster-pas-berhaji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 16:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[by Nurul Rahmawati* Nggak banyak orang Indonesia yang berangkat haji di usia muda. Padahal, haji adalah totally Ibadah Fisik banget! Bayangin aja, selama Haji, kita kudu ngelakoni Thowaf (muterin bangunan Ka’bah selama 7 putaran), plus sa’i (jalan cepat antara bukit Shofa dan Marwah) juga selama 7 kali. Bangunan Masjidil Haram yang luas banget itu, juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Nurul Rahmawati*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img src="http://lh3.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TUmIP3JGxSI/AAAAAAAAA9A/48EVPWids7g/s288/bus%20haji.jpg" alt="" width="175" height="229" /><p class="wp-caption-text">Nurul (paling kiri) di bus bersama teman2 sekamar</p></div>
<p>Nggak banyak orang Indonesia yang berangkat haji di usia muda. Padahal, haji adalah <em>totally</em> Ibadah Fisik banget! Bayangin aja, selama Haji, kita kudu ngelakoni Thowaf (muterin bangunan Ka’bah selama 7 putaran), plus sa’i (jalan cepat antara bukit Shofa dan Marwah) juga selama 7 kali. Bangunan Masjidil Haram yang luas banget itu, juga kudu ditempuh dengan berjalan kaki. Kebayang kalo yang harus ngejabanin itu semua adalah nenek-nenek berusia 70-an tahun, lumayan bikin encok rematik jadi kumat bukan? Syukurlah, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berhaji di usia yang masih lumayan “pagi”: 29 tahun. Walaupun bobot bodi saya lumayan bikin ngos-ngosan—berat saya 69 kg dengan tinggi badan 155 cm, tapi, saya kan masih muda banget jadi saya optimis dan super-pede dengan perjalanan Haji pertama saya ini.</p>
<p>Ternyata, di Mekkah, saya kudu nginep di maktab (penginapan) di kawasan Syisya yang berjarak sekitar 6 kilo dari Masjidil Haram. Untungnya, gara-gara lokasi yang cukup jauh, saya dapat <em>cash back</em> dari pemerintah RI senilai 700 reyal. Selain itu, untuk menjangkau Masjidil Haram cukup naik bus Saptco 2 kali, dengan rute: Syisya-Terminal Mahbaz Jin, lalu ganti bus lagi, dengan jurusan Terminal Mahbaz Jin-Masjidil Haram. Busnya gratis pula. Jadi, pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah armada bus dengan rute yang disesuaikan berdasarkan lokasi maktab. Karena maktab saya bernomor 203, maka saya kudu naik bus nomor 2, jurusan Syisya. Nah, di Syisya itu bercokollah ribuan umat manusia yang juga pengin naik bus gratisan dengan destinasi yang sama: Masjidil Haram. Namanya aja bus gratisan, butuh perjuangan ekstra untuk bisa nangkring manis di dalam bus, baik dalam perjalanan dari maktab ke Masjidil Haram, maupun sebaliknya.</p>
<p><span id="more-637"></span>Apa aja kendalanya? Tentu perkara antre. Untuk bisa nangkring manis di dalam bus, kita musti baris-berbaris di sekujur <em>line</em> yang disediakan petugas haji di kawasan Bab Ali (pintu Ali) di Masjidil Haram. Antrinya bak ular naga panjangnya bukan kepalang! Tapi namanya manusia itu susaaahh banget diatur. Ternyata selama di Arab Saudi, beberapa dari kita justru menjelma menjadi “Monster”. Meski sama Pak Ustadz bolak-balik diceramahin bahwa kita kudu melatih kesabaran selama Berhaji, wew, ternyata slogan “Orang Sabar Disayang Tuhan” kagak berlaku manakala kita antre bus.</p>
<p>Pernah tuh, saya antre dengan rapih-jali, tiba-tiba seorang manusia slonong boy di sebelah saya, ia dengan cueknya nyerobot! Sabar, sabar Bu Haji… saya cuman bisa membatin. Eeh beberapa detik setelah itu, muncul segambreng manusia yang nyerobot juga. Terang aja, kami yang udah hampir mati berdiri saking lamanya antre, langsung muntab. “Woooiii… antre woooiii!”, kami pun koor neriakin si tukang serobot. Entah pura-pura budeg atau emang budeg beneran, tuh orang kagak ngeh dan nggak meduliin teriakan kita. Langsung aja saya samperin mereka, “Pak, antre tuh baris ke belakang, bukan baris ke samping. Di sekolah pernah ikut upacara bendera gak seh?”</p>
<p>Lain waktu, ada nenek-nenek yang ngantri di belakang saya. Hmm, enak nih, kalo nenek-nenek biasanya sopan. Lah, ternyata dugaan saya meleset! Biar kata nenek-nenek, dia tetep dengan pedenya dorongin badan saya yang segede gaban ini. Saya pun nyolot, “Rese deh! Nek, saya tuh bisa jalan sendiri, nggak usah didorong-dorong kenapa?”. Dan dengan manisnya, tu nenek malah melengos.</p>
<p>Setelah antre-mengantre yang super ngeselin itu, kami menanti detik-detik yang menegangkan untuk keluar dari Bab Ali. Jadi, para petugas itu membentengi kami yang lagi ngantre ini dengan sebingkai rantai. Manakala rantai penghalang itu dibuka…. Gruduuuuggg, para jamaah haji ini lepas begitu saja, kayak kuda dikeluarin dari kandangnya! Lalu, kita musti dorong sana-dorong sini, demi mendapatkan posisi wenak di dalam bus. “Kalo lo pengin dapat tempat duduk di bus, maka lo kudu agresif!” gitu kata salah satu temen sekamar saya. Jadilah, sikut sana, sikut sini sambil lari-lari ngejar bus.</p>
<p>Dapat kursi di dalam bus bagaikan secuil surga yang dilemparkan Tuhan ke muka bumi. Jadilah, kalo pas lagi hoki dan dapat tempat duduk, saya merem-meremin sekujur indra penglihatan, dan pura-pura bego ajalah, biarpun ada jamaah lain yang meminta belas kasihan untuk ikutan numpang duduk. Tapi, kadang, suka terbersit perasaan pengin nolong juga, apalagi kalau yang pasang tampang ‘melas jaya’ itu adalah nenek-nenek yang kliatan lemes banget gara-gara kurang oksigen pas antre di Bab Ali.</p>
<p>Belum lagi kalau kebetulan kita satu bus dengan jamaah dari negara lain, misalnya Turki atau Iran yang badannya segede alaihim. Tenaganya jos markojosss! Jangan coba-coba sikut-sikutan ama mereka, dijamin kita bakal dikepret.  Pernah nih, saya coba berusaha “asertif” dengan tetep keukeuh ambil giliran saya untuk naik bus. Apa yang terjadi kemudian? Saya disikut, plus dapat bonus lirikan tajam yang seolah-olah mengatakan, “Apaan lo? Orang Indonesia bodi kontet kayak gitu mau coba-coba lawan gue?”</p>
<p>Eniwei, justru suka-duka selama antre bus yang kayak ular naga panjangnya; sikut-sikutan antar jamaah; dan watak asli kita yang keluar selama di sana, adalah hiburan yang lumayan <em>memorable</em> selama saya berhaji. Kalau udah kumat betenya gara-gara capek antre dan lari-lari kejar bus, saya coba alihkan dengan ngobrol bareng mas-mas Temus alias Tenaga Musiman, yang jadi petugas transportasi di Arab Saudi. Mas-mas ini adalah orang Indonesia, kebanyakan mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir, yang memanfaatkan libur kuliahnya dengan cari ceperan di Arab. Lumayan enak diajakin ngobrol, bahkan saya kerap diajarin beberapa kosakata Bahasa Arab. Maklum, sopir bus gratisan itu kebanyakan orang Sudan yang ga bisa berbahasa Inggris. Efek positifnya bisa ditebak.  Saya gak perlu bingung-bingung manakala nyuruh sopir bus buat berhenti di depan maktab. Bonusnya adalah, tatapan mata kagum dari penumpang lainnya, “Wah, ternyata mbak ini bisa bahasa Arab tho? Lulusan pesantren mana yak? Pasti dia hafal Quran juga.” Hehehe… saya pun turun dari bis dan melenggang dengan jumawa.</p>
<p>_____<br />
*Nurul Rahmawati, mantan jurnalis Jawa Pos, SCTV, <em>media relations</em> PT HM Sampoerna Tbk., Marketing Communication Manager di Lembaga Manajemen Infaq (LMI). Saat ini memilih menjadi <em>freelance marketer</em> agen perjalanan umrah &amp; haji plus, biar gak ribet ngajuin cuti dan karena terinspirasi dari Trinity. Cita-cita yang paling mulia adalah pengin <em>traveling</em> keliling dunia dengan putra semata wayangnya, Sidqi, kini 4 tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2011/02/02/jadi-monster-pas-berhaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tersesat dalam makanan Korea</title>
		<link>http://naked-traveler.com/2010/12/26/tersesat-dalam-makanan-korea/</link>
		<comments>http://naked-traveler.com/2010/12/26/tersesat-dalam-makanan-korea/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 07:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Trinity</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anthology Posts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naked-traveler.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[by Milka Yeanne* Gara-gara AirAsia buka penerbangan baru di bulan Agustus lalu dengan destinasi ke Seoul, jiwa traveling saya bergetar hebat saat itu juga dan sukseslah saya membooking tiket KL-Incheon pp seharga Rp 750,000 untuk keberangkatan awal Desember 2010. Seperti mimpi saja rasanya bisa mengunjungi Korea Selatan karena bisa dibilang pengetahuan saya tentang Korea selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by Milka Yeanne*</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 271px"><img src="http://lh6.ggpht.com/_FKiDAcUhFzc/TRbnrxHkIGI/AAAAAAAAA6g/h3lqFjcxol8/s288/Seongsan%2C_Jeju.JPG" alt="" width="261" height="140" /><p class="wp-caption-text">Desa Seongsan dilihat dari puncak Seongsan Ilchulbong, Jeju</p></div>
<p>Gara-gara AirAsia buka penerbangan baru di bulan Agustus lalu dengan destinasi ke Seoul, jiwa traveling saya bergetar hebat saat itu juga dan sukseslah saya membooking tiket KL-Incheon pp seharga Rp 750,000 untuk keberangkatan awal Desember 2010. Seperti mimpi saja rasanya bisa mengunjungi Korea Selatan karena bisa dibilang pengetahuan saya tentang Korea selama ini nol besar, alias tidak tahu apa-apa sama sekali. Saya pun bukan penggemar drama serial Korea, sehingga tidak familiar dengan bahasanya, budayanya, makanannya, dll. Maka setiap malam saya habiskan waktu luang untuk survey dan <em>browsing</em> di internet selama 3 bulan sehingga sebelum berangkat saya merasa telah mengenal negara ini 90%.</p>
<p>Setelah saya tiba disana, terkagum-kagum jadinya karena ternyata hampir semua tanda dan petunjuk jalan di Korea disertai dengan bahasa Inggris yang jelas, bahkan di dalam bis umum pun tersedia pengumuman dalam bahasa Inggris, Jepang dan Mandarin untuk setiap halte yang akan dilewati sehingga kita tidak perlu takut kebablasan. Intinya, saya sama sekali tidak mengalami kesulitan saat bepergian kemanapun saat disana, padahal saya hanya menggunakan subway dan bis umum serta berjalan kaki tentunya. Tak pernah saya mengalami yang namanya disorientasi ataupun tersesat, bertanya arah ke orang lokal pun tidak karena banyak orang Korea yang tidak bisa berbahasa Inggris.</p>
<p><span id="more-605"></span>Hambatan pertama yang saya temui itu justru saat mau makan. Pertama kali saya masuk ke restoran kecil terdekat dan mulai memesan makanan, bingung juga melihat susunan huruf yang keriting-keriting tersebut. Untungnya di menu ada foto makanan beserta harganya. Lalu saya pun main tunjuk-tunjuk saja ke menu yang bentuknya seperti bulgogi. Setelah menghabiskan sepotong besar bulgogi, ternyata rasanya lumayan enak juga. Tapi saat saya mencicipi kimchi di antara beberapa kondimen yang disediakan, langsung saya putuskan kalo saya tak menyukainya. Rasanya sangat keras menyengat seperti cuka disertai citarasa pedas yang aneh plus sedikit tengik. Saya sendiri memang tak pernah menyukai makanan yang baunya terlalu menyengat. Namun herannya orang-orang Korea itu justru tak bisa makan tanpa didampingi kimchi, bahkan mereka bisa langsung menyantapnya begitu saja seperti camilan. Lucunya gara-gara hobi makan kimchi ini rupanya membuat badan mereka mengeluarkan bau yang ‘khas’ menyengat seperti bau kimchi. Setiap saya masuk ke gerbong <em>subway</em> yang penuh sesak, saya selalu menahan napas dikarenakan bau badan yang tak mengenakkan itu sangat pekat memenuhi ruangan. Penampilan mereka yang modis, badan yang proporsional disertai wajah ganteng atau cantik itu langsung tak berarti karena bau badan tersebut. Hehehe..</p>
<p>Keesokan harinya setelah saya masuk ke resto lain dan mencoba menu yang tampaknya seperti mie kuah. Dari fotonya sih kelihatan menarik tapi setelah hidangan tersebut tiba di meja kok tercium bau aneh yang menyengat itu? Dan setelah saya cicipi ternyata rasanya mirip seperti makan kimchi. Saya tidak tahu bumbu apa yang ada di dalamnya. Yang pasti rasanya tidak segar seperti mie kuah pada umumnya, tapi lagi-lagi seperti rasa fermentasi menyengat dan tak menyenangkan, sampai saya tak nafsu lagi memakannya. Herannya sejak itu semua makanan yang saya makan terasa mirip seperti itu meskipun jenisnya berbeda-beda. Karena tak tahan, akhirnya pada hari ketiga saya pilih makan di McD dan Burger King daripada jatuh sakit nantinya karena makan sedikit. Rupanya <em>Chinese Resto</em> pun susah ditemui di Korea, yang banyak justru <em>Japanese Resto</em>. Saya memang termasuk penggemar berat sushi, namun karena harganya cukup mahal disana, saya pilih <em>fast food</em> saja daripada kehabisan uang. Alternatif makanan lainnya adalah <em>street food</em> yang cukup mudah ditemui di pinggir jalan saat malam hari. Harganya sekitar 16 ribu kalo dirupiahkan dan isinya sosis, ikan atau ayam yang digoreng, tapi kali ini tanpa saos atau bumbu-bumbu apapun. Enak juga sih, tapi masak saya harus makan <em>street food</em> melulu setiap malam? Hiks.</p>
<p>Selain Seoul, saya pun pergi ke Jeju yang terkenal dengan keindahan alamnya. Rupanya itu adalah keputusan saya yang tepat karena selain sudah bosan dengan hingar bingarnya kota metropolis, alam Jeju memang eksotis dan cantik karena merupakan <em>volcanic island</em>. Walaupun sedang musim dingin, di Jeju masih banyak ditemui pohon-pohon hijau di antara rerumputan yang telah coklat mengering. Melihat pantai berbatu-batu, bukit yang menghijau serta birunya langit langsung membuat saya jatuh cinta terhadap pulau ini. Ditambah penduduk disana yang relatif sedikit jumlahnya tapi bis kota dan antar kota serta taksi yang jumlahnya berlimpah, membuat Jeju mudah untuk dijelajahi. Sejenak terlintas di benak saya kalo mungkin saja saya akhirnya bisa makan enak di sini. Namun rupanya keberuntungan belum berpihak ke saya karena disana ternyata tak ada <em>fast food</em> restoran, mau tak mau saya harus kembali ke menu Korea yang itu-itu lagi. Ada ikan goreng tepung yang dilumuri saos tomat yang kecut sekali bercampur rasa kimchi di dalamnya. Saya sampai berpikir begini, seandainya ikan goreng itu tidak usah dilumuri bumbu dan saos apapun mungkin rasanya malah lebih enak. Karena bagi saya pribadi lebih baik terasa hambar daripada ada rasa kecut yang menyengat.</p>
<p>Dua minggu kemudian setelah kembali ke Indonesia, saya sempat melihat tayangan di BBC Knowledge tentang <em>Korean Cuisine</em>. Disana dijelaskan kalo <em>Korean Food</em> itu terkenal sehat dan bahwa kimchi itu bagus untuk kesehatan. Namun saat diperlihatkan beberapa calon <em>chef</em> di Prancis yang tak menyukai kimchi waktu pertama kali disuruh mencoba dan bahwa di Jerman pun kimchi dibuat dengan citarasa yang disesuaikan dengan lidah Eropa, yakinlah kalo lidah saya tak salah. Mungkin memang saya yang (sial) selalu salah memilih resto dan tidak pernah minta rekomendasi ke orang lokal karena keterbatasan waktu. Tapi saya yakin kalau sebetulnya yang saya alami itu adalah salah satu bentuk <em>culture shock</em>. Sebelum berangkat ke Korea, seumur hidup saya hanya pernah tiga kali makan bulgogi dan saya tidak pernah familiar dengan kimchi. Jadi yah sah-sah saja kalo lidah saya langsung syok dengan rasa asing (apalagi cukup menyengat) tersebut. Rupanya saya memang tidak pernah tersesat selama di Korea, tapi saya tersesat ‘dalam’ makanannya.</p>
<p>___<br />
*Milka Yeanne berdomisili di Cepu adalah seorang wiraswastawan yang maniak traveling. Diawali dari seringnya saya mendapat bonus tour ke luar negeri maupun dalam negeri dari pekerjaan tapi lama-lama akhirnya bosan juga sehingga mulai jalan sendiri juga sejak tiga tahun lalu. Sialnya tidak bisa bepergian cukup lama dikarenakan tak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naked-traveler.com/2010/12/26/tersesat-dalam-makanan-korea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

