Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Ayam Bakpau, bukan Bakpau Ayam

Kata ‘ayam’ bermakna ganda – ayam dalam arti binatang ayam, atau ayam manusia alias perempuan ga bener. Mulai dari sini, daripada saya repot mengetik dengan tanda kutip, setiap kata ayam berarti ayam manusia. Well, saya senang memperhatikan ayam-ayam saat saya traveling. Sama sekali saya tidak bermaksud menghina, meskipun tragis mereka dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Ciri khas ayam bisa dilihat dari fisik dan gayanya, tapi sampai sekarang saya susah mengidentifikasikan ayam bule. Yang membedakan adalah lokasinya, biasanya mereka mejeng di jalan tertentu persis seperti yang digambarkan dalam film Pretty Woman. Paling gampang mengidentifikasikan ayam ya di negara Asia. Sama seperti di Indonesia, fisik para ayam dilihat dari leher ke bawah pokoknya yahut, asal jangan dilihat mukenye. Mereka memakai pakaian yang berfungsi dekoratif, dengan model kekecilan atau kekurangan bahan. Satu-satunya yang fungsional adalah riasan wajahnya yang (berusaha) menutupi cacat – setelah dirias, wajah yang hitam bisa jadi abu-abu, yang putih bisa jadi kuning. Yang membuat tambah parah adalah gigi mereka yang kok banyak yang ‘prongos’ alias bermodel a la Boneng. Kalaupun giginya bagus, silakan lihat kakinya bagian jari atau tumit, oh, you don’t wanna know!

Ciri lain, para ayam (Asia) senang mendekati lelaki bule tua. Karena penasaran, saya pernah tanya mengapa mereka begitu. Jawabnya, ‘karena lelaki bule tua bayarnya gede tapi maennya sedikit. Tidak seperti lelaki bule muda, bayarnya sedikit, maennya banyak dan macam-macam’. Masuk akal bukan? Tapi fenomena ‘ayam Asia dengan lelaki bule’ membuat beberapa teman saya di Jakarta yang menikah dengan bule expatriate menjadi sangat anti jalan berdua di tempat umum (apalagi ke Kem Chicks Kemang) karena takut disangka ayam.

Di Siem Reap, Kamboja, saya sengaja pergi ke bar Zanzibar yang terkenal tempat tongkrongan bule. Ayam di situ muda-muda dan kurus-kurus, parahnya mereka tidak bisa berbahasa Inggris, jadi hanya menggunakan bahasa tubuh dengan menggelendat-gelendot saja. Teman lelaki saya iseng menawar salah satu ayam, penasaran dengan harga pasaran di sana. O ya, nama para ayam di sana tiba-tiba berubah jadi kebule-bulean gitu, ada Mary, Lucy, Cindy (entah mengapa namanya selalu berkahiran ‘–y’). Anyway, si Mary ini mematok harga yang jika dikurskan ke Rupiah tahun 2002 sekitar Rp 500.000 – menurut teman saya sih kalau model si Mary, bisa dapat Rp 150.000 di Jakarta.

Di Thailand, ayamnya membingungkan. Ayamnya memang ayam banget, tapi susah membedakan antara ayam betina atau ayam jantan karena banyak sekali kaum transeksual yang cantiknya melebihi wanita beneran. Tapi karena ayam jantan harus ‘mengejar ketinggalan’ – akibat terlambat menjadi wanita, mereka terlambat bisa dandan – riasan wajah mereka jadi medok tidak karuan. Namun paling gampang membedakan ayam jantan dan ayam betina adalah dengan melihat dengkulnya, jika berbukuran dan berbentuk seperti bakpau bisa dipastikan mereka adalah lelaki. Bolehlah teknologi saat ini yang canggih yang dapat mengganti kelamin atau menghilangkan jakun, tapi mana ada operasi dengkul?

Di Brunei saya tidak pernah menemukan ayam, karena percaya atau tidak, tidak ada satupun kehidupan malam di sana. Tidak ada cafe atau bar, apalagi klub atau diskotik. Bahkan di hotel berbintang jaringan internasional pun tidak ada bar. Jadi kalau mau gaul malam, orang Brunai harus pergi sekitar dua jam dari kota Bandar Sri Begawan ke perbatasan Malaysia.

Ayam paling cantik yang pernah saya lihat adalah di klub Cocomangas di Boracay, Filipina. Ayam ini tidak seperti ayam umumnya, dia sangat cantik, sangat muda, kulit putih bersih, bodi keren, tapi kacaunya, dia memakai kostum beha putih dan G-String putih saja! Lelaki di situ berebutan joget dengan si ayam cantik, mulai dari bule tua, bule muda, anak gaul lokal, sampai tukang kapal dan tukang becak. Saya sih kasihan melihat dia yang sangat mabuk dan dilaba sana-sini. Kata penduduk lokal sana, ayam ini sangat terkenal (ancurnya) karena “She is half Philippines half Thailand” -. rupanya di sana orang Thailand itu dianggap ayam. Ha, jeruk makan jeruk!

Ayam-ayam paling jelek saya temui justru di Indonesia yaitu di bar salah satu hotel berbintang jaringan internasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ya ampun, cuman di situ satu-satunya tempat dimana para ayamnya gendut-gendut dan tua-tua, pede pula memakai baju minim dan ketat. Mereka dengan agresifnya mengejar lelaki bule tua para pekerja rig.

Hidup ayam! You make my day!

Read more

Penyakit Dunia Ketiga

Penyakit paling klasik kalau traveling di negara barat adalah sembelit atau susah buang air besar. Mungkin karena makanannya yang kurang kuah, kurang bumbu, kurang sayur dan buah. Sebagai backpacker, mana sempat memikirkan (dan kuat bayar) makanan full course yang bergizi coba? Alhasil kalau lebih dari 3 hari tidak bisa keluar juga, saya punya resep yang cukup ampuh: pergi ke Chinatown, makan nasi dengan lauk yang pedas. Ditanggung bakal langsung keluar semua dengan mudahnya. Indonesia banget!

Penyakit kedua adalah masuk angin.

Tidak tahu mengapa orang Indonesia menyebutnya ‘masuk angin’ – saya pun bingung kalau disuruh menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Yang jelas badan rasanya tidak enak, perut kembung, sering bersendawa, kepala pusing. Di Kuala Lumpur saya pernah masuk angin berat karena kamar di penginapan(murah)nya lembab akibat kurang cahaya matahari dan AC Window yang tidak bisa dikecilkan, tambah lagi semalaman di luar jendela terdengar suara bising motor kebut-kebutan. Obat paling manjur ya istirahat sebanyak-banyaknya, minum vitamin C, dan minum Antangin – bablas angine!

Kadang kalau saya masuk angin, saya minta dikeroki oleh teman. Banyak kejadian lucu, terutama saat berlibur di daerah pantai. Saya dengan santainya berenang memakai bikini dengan punggung yang belang-belang merah keunguan. Setiap saya jalan melewati para bule, mereka memelototi saya lalu saling bergosip satu sama lain. Misteri ini terpecahkan saat salah satu dari mereka menarik tangan saya dan bertanya sambil berbisik pelan, “I’m sorry but I have to ask you although I know it’s none of my business, but what happen to your back? Did your partner beat you?”

Versi parah dari masuk angin adalah flu. Saya pernah sakit flu berat sampai suhu tubuh meninggi, mungkin gara-gara kecapekan bela-belain week end ke Atlanta – Orlando pp naik Greyhound. Dua hari tewas, akhirnya saya memaksakan diri ke RS. Saat dokter mau periksa dengan stetoskop, otomatis saya main buka baju aja. Eh si dokter sambil membuang muka mengatakan, “No no no…you don’t have to open it.” Rupanya di sana pemeriksaan dengan stetoskop itu cukup dengan ditempel di baju saja, di bagian punggung lagi! Saya jadi malu. Bukan maksud saya…tapi dokter di Indonesia kan….

Penyakit karena transisi ternyata tidak ada-apanya dibanding karena kurangnya kebersihan. Pulang traveling dari Filipina, saya masuk RS seminggu karena typhus. Teman saya yang lain mengalami keputihan berat. Dan teman yang satu lagi menderita panuan, di mukanya lagi! Wah, betapa tidak higinisnya negara itu, atau cara kami traveling yang terlalu gembel kali ya? Ada lagi penyakit yang ‘Indonesia banget’ yaitu ‘cantengan’ – jempol kaki yang bengkak bernanah akibat kuku yang menusuk daging. Gara-garanya sederhana saja, teman saya kelamaan nyupir mobil sewaan kami keliling New Zealand!

Namun penyakit paling parah adalah saat saya bersama 2 orang teman cewek pulang trekking dari Pulau Moyo, Sumbawa, pada tahun 1994. Dua minggu setelahnya, satu per satu kami semua masuk RS karena malaria – penyakit yang hanya saya ketahui dari film-film perang zaman dulu! Pada jam tertentu, bagaikan datangnya malaikat pencabut nyawa, rasa dingin yang luar biasa menyerang perlahan dimulai dari ujung kaki sampai akhirnya menggelepar-gelepar kedinginan sampai mulut harus dimasukkan semacam sendok agar tidak menggigit lidah. Ugh! Meskipun kami semua melakukan tindakan preventif dengan rajin minum obat anti malaria 2 bulan sebelumnya dan rajin pakai lotion anti nyamuk, dokter saya menerangkan, “Mau minum obat segerobak kalau memang daerah endemis malaria, tetep saja kamu yang bukan orang asli sana bakal kena!” Nenek saya yang membesuk pun berkomentar, “Oh masih ada toh penyakit dunia ketiga?”

…Suatu malam, setahun kemudian…saya dan teman yang sama-sama pernah kena malaria tidur di stasion kereta api di Paris menunggu kereta ke Strasbourg. Udara winter yang duingin membuat kami menggigil berat, sampai-sampai saya memakai seluruh baju yang ada di ransel untuk menahan dingin. Tiba-tiba teman saya mengajukan pertanyaan yang sangat menohok, “Ini emang dingin atau malaria kita kumat ya?” Good question!

‘Pembelaan’ saya: Jangan menyebut diri Anda seorang traveler sejati, kalau belum kena malaria. Hehe!

Read more

Miss Metal Teeth

Sebagai siswa yang kuliah di universitas negeri, kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai pengabdian kepada masyarakat. Saya yang doyan jalan-jalan tentu menyambut baik program ini. Apalagi KKN terkenal sebagai ajang cari jodoh karena menganut falsafah ‘witing tresno jalaran soko kulino’ (menurut saya sih lebih tepat disebut ‘witing tresno jalaran soko ora ono lio’). Biasanya program KKN reguler diadakan di desa terpencil di Pulau Jawa selama 2 bulan, namun saat itu pas universitas mengadakan KKN hasil kerjasama dengan TNI AL dan Departemen Transmigrasi ke Kalimantan Tengah selama sebulan, dan saya terpilih bersama 99 orang mahasiswa/i lainnya.

Bayangkan letak lokasi KKN-nya: kami naik kapal perang AL selama semalam dan tidur terombang-ambing di hammock di dalam kabin yang bau muntah teman-teman yang seasick. Terus naik angkot 2 jam ke kota Pangkalan Bun. Dari situ naik angkot lagi sejam ke pinggir sungai. Terus naik speed boat kecepatan tinggi selama 5 jam di sepanjang sungai Amazon-nya Indonesia. Lanjut lagi naik truk selama 2 jam, baru sampai ke desa kami di Nanga Bulik. Ffuih, rambut saya langsung kayak Ahmad Albar! Meski tidak ada listrik, namun saya langsung betah karena pemandangannya yang indah. Terletak di pinggir hutan, dengan kontur tanah yang berbukit. Udaranya pun segar dengan langit yang jernih, kalau malam dengan jelas terlihat ribuan bintang di langit.

Di desa ini ada 9 orang mahasiswa/i yang ditempatkan di sebuah rumah panggung yang kosong. Kami tidur di lantai papan dimana dinginnya angin malam menembus tulang rusuk melalui celah lubang papan tersebut. Kalau mau menggunakan kamar mandi, airnya harus menimba sendiri di sumur yang berjarak 50 meter di belakang rumah. Karena kondisi alam yang kering, sumur di sini dalam sekali. Saya hitung, begitu menceburkan ember ke dalam sumur sampai terangkat kembali, sama lamanya dengan menyanyikan full lagu Indonesia Raya, dan pas bait lagu terakhir ‘Hiduplah Indonesia Raya…’ saat itulah ember mentok di atas kerekan persis seperti upacara bendera. Kebayang kan kalau pas kebelet tapi harus menimba dulu?

Setiap hari kami disediakan makan oleh istri Pak Lurah. Lauknya tak lain tak bukan adalah gabungan antara ikan sarden kaleng dan mie instan: sarden kuah, sarden goreng, mie kuah, mie goreng. Makan borju bagi kami adalah saat si Ibu berhasil menangkap ayam hutan – itupun kami sebut ‘ayam atlet’ saking alotnya itu daging mungkin karena ayamnya kebanyakan lari marathon di hutan belantara. Suatu kali kami pernah pesta makan daging non-ayam saat salah satu orang Dayak di situ berhasil berburu babi hutan. Untungnya saya boleh makan daging yang bersertifikat ‘100% haram’ dari MUI ini.

Selain menyelenggarakan program penyuluhan dan administrasi desa, kami juga mengajar di SMP lokal dan saya memilih untuk mengajar Bahasa Inggris. Kasihan guru di sana, satu guru harus mengajar 2 – 3 kelas. Yang paling kasihan sekaligus lucu, saat istirahat keluar main dan harus masuk lagi, guru-guru SD harus kejar-kejaran ke dalam hutan sambil membunyikan bel sekolah dan berteriak, “Hayoo anak-anak, masuk, masuk…” sementara anak-anak muridnya berlarian di tengah hutan bahkan ada yang bersembunyi di atas pohon.

Karena saya hobinya jalan-jalan, saya berusaha mendekati Pak Camat karena dia satu-satunya yang punya motor trail – cocok untuk kondisi jalan hutan belantara yang rusak berat karena banyaknya truk logging lewat. Saya mengajak teman lelaki saya (yang merupakan target program ‘witing tresno’ saya) untuk berjalan-jalan ke desa-desa sebelah. Dari yang tadinya kami naik motor, sampai akhirnya kami sendiri yang harus menggendong motor karena jalannya putus!

Jalan-jalan di desa sendiri juga sering kami lakukan sekalian bersosialisasi. Sialnya, semua anak kecil di situ selalu menangis ketakutan setiap melihat wujud saya karena saya memakai behel. Bahkan ibu-ibunya sengaja menjadikan saya sebagai obat ampuh untuk membuat anak-anaknya mau makan dengan ancaman, “Awas kalau kamu ndak mau makan, ntar ibu panggilin Mbak Gigi Besi lho!” (mungkin saya dianggap seperti si Jaws dalam film James Bond).

Malam terakhir, para tetua desa mengatakan bahwa kebiasaan farewel party di sana adalah dengan minum anggur bersama. Saya pun patungan dengan teman-teman untuk membeli Anggur Cap Orang Tua (pertama dan terakhir saya minum ini). Mulanya kami pesta ayam (atlet) bakar, lanjut dengan minum-minum, dan gitaran sampai pagi. Beberapa jam kemudian kami pun pulang naik truk. Semua orang sedesa berjejer dan menyalami kami sambil bertangis-tangisan. Anak-anak SMP mendadahi saya, “Good byeee, Miss! We miss you, Miss! We love you, Miss Metal Teeth!”

(dedicated to my big family in Nanga Bulik, miss y’all a lot!)

Read more

Eksotisnya Pohon Pisang

Sebagai backpacker, traveling lebih murah dengan cara independen – tanpa ikut paket tur. Saya tidak suka kalau traveling harus dijatah dengan waktu yang terbatas, ditentukan ke suatu tempat yang belum tentu saya tertarik, belum lagi harus mempunyai toleransi besar terhadap anggota tur lainnya yang sebagian besar menyebalkan gayanya. Namun terkadang ikut paket tur lokal menjadi satu-satunya cara untuk pergi ke suatu tempat karena sudah diorganisir (dan dikomersilkan) oleh pemerintah setempat. Apa boleh buat.

Tahun 2000, saya ikut paket tur 2 hari seharga 165 AU$ ke Fraser Island, Australia, dimana pulau tersebut merupakan the largest sand island in the world yang masuk ke dalam salah satu World Heritage List. Menarik bukan? Namun salah satu acaranya termasuk ke Wanggoolba untuk trekking. Hutan di sana bagus dan tertata, ada trail khusus dibuat dari papan kayu sehingga tidak perlu becek-becekan. Di setiap pohon ada plang yang menerangkan namanya apa, berapa umurnya, pokoknya detil. Sampailah kami di sebuah sungai kecil dimana Tour Guide-nya menerangkan, “This river is famous because it has lots of eels!” Semua orang berdecak kagum dan berebutan untuk memotret belut! Hoi, belut gitu loh! Saya yang bete pun teriak dengan jahilnya, “Humm…eels! So yummy! Makes me hungry!” Ajaib, semua orang mendadak sontak memelototi saya dengan jijiknya! Hahaha!

Besoknya setelah jalan-jalan keliling pulau, terakhir kami dibawa ke Eli Creek dimana promosinya di tempat eksotis ini bisa berenang mengapung di sungai arus. Setelah berlelah trekking, sampailah kami di… got! Yep, ini mah bukan sungai indah seperti gambaran di benak saya, tapi cuman got kecil yang berliku panjang dan dangkal sebatas paha. Banyak banget kayak beginian di Jawa! Namun lagi-lagi semua orang berebutan membuka baju dan nyebur. Saya pun hanya duduk bengong di pinggir ‘got’ sambil memandangi orang-orang yang berenang dan berusaha mendayung pakai dengkul di air berarus yang super dingin. Kasian deh lo!

Belum kapok juga, tahun 2001 saya ikutan tur di Puerto Rico. Kami semua naik bis dan berkeliling tempat wisata di sana, mulai dari melihat benteng bersejarah, berenang di pantai Luquillo, sampai ke trekking di Caribbean National Forest. Di tengah jalan tiba-tiba bis berhenti di belakang halaman rumah orang. Saya bingung, tidak melihat ada obyek wisata apa-apa yang menarik. Lalu si Tour Guide mengatakan, “Now Ladies and Gentlemen, this is … banana tree!” sambil menunjuk sebuah pohon pisang! Hah? Tololnya, semua orang turun dari bis dan berebutan memotret. Si Guide sampai terheran-heran karena saya tidak turun dan bertanya mengapa saya tidak mau foto-foto. Dengan malasnya saya menjawab, ”Not interested. I have many of them, in my own backyard!”.

Setengah jam kemudian bis berhenti di El Yunque Forrest dimana promosinya ada air terjun dan lagoon yang indah, dan kami dipersilakan turun untuk trekking. Berbekal pengalaman di Australia tahun lalu, saya sebenarnya malas sekali trekking, lagipula saat itu saya sedang memakai ‘sepatu show’ (sepatu tali-tali dengan hak ulekan setinggi 7 senti) yang tidak matching untuk jalan di hutan. Sepanjang jalan saya tidak memperhatikan sekeliling karena fokus menjaga sepatu bermerk yang telah saya beli mahal-mahal. 20 menit kemudian saya tiba di air terjun La Mina Falls yang dibangga-banggakan itu. Tak percaya mata saya membaca plang yang mengatakan bahwa memang inilah tempatnya. Idih! Air terjunnya cuman turun dari tebing setinggi 5 meter, airnya pun hanya ‘terjun’ sedikit alias nyiprat-nyiprat doang, kolam air (butek) di bawahnya juga kecil (inipun mereka sebut ‘lagoon’) dan dikelilingi dengan batu-batu kali di pinggirnya. Benar-benar eksotis, persis kayak pancuran di kampung saya!

Pesan sponsor: Berbahagialah kita sebagai orang Indonesia yang mempunyai keanekaragaman hayati. Mari kita lestarikan dan komersilkan ke turis asing yang tidak pernah masuk hutan dan tidak pernah lihat pohon pisang.

Read more

I’m just a lucky bastard!

Saya punya teman chatting yang sudah 3 bulan ngobrol on and off. Dia seorang lelaki berusia 36 tahun, seorang Indonesia yang sudah tinggal di Amerika selama 15 tahun – kita sebut saja si Mr.X. Obrolan kami tidak intens, tidak ada motif apa-apa, hanya ngobrol ngalor-ngidul tentang hal-hal yang tidak penting. Itupun jarang karena dia sangat sibuk dan karena perbedaan waktu kedua negara. Kami juga tidak pernah tahu dan tidak mau tahu personal life masing-masing, bahkan tidak pernah kirim-kiriman foto.

Saya ingat hari Jumat tanggal 19 Oktober 2001, saya sedang chatting dengan Mr.X. Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan kepada saya, “If I could buy you a ticket to US, where do you wanna go?”. Saya jawab asal saja, “Texas”, karena saya ingin ketemu Sri, sahabat saya yang sedang mengambil kuliah di sana. Lalu dia menanyakan kapan saya mau pergi dan kapan mau pulang beserta nomer fax saya. Saya pun menjawab dengan santai tanpa tendensi apa-apa, “Next week, for 2 weeks. My fax number is +6221xxxxxxx.” Chatting pun berakhir. Satu jam kemudian dia meninggalkan pesan di e-mail saya bahwa bahwa dia sudah booking tiket pesawat United Airlines ke Amerika Serikat dengan nomer kode booking sekian sekian sekian! Hah?

Siapa yang bisa percaya dengan kegilaan virtual seperti ini? Tapi masak sih dia bisa tahu kode booking segala? Saya pun memperhatikan huruf dan angka-angka di e-mail saya, hmm, sepertinya memang kode booking. Setengah ragu-ragu saya menghubungi kantor United Airlines di Jakarta. Dan…huruf dan angka itu ternyata benar-benar sebuah tiket atas nama saya! Si Mbak bagian reservation lalu bertanya, “Boleh saya tahu nama lengkap orang yang booking ini? Kita perlu untuk verifikasi.” Yah bengonglah saya karena saya memang tidak tahu nama aslinya, hanya tahu nickname-nya saja. Sungguh tidak lucu, ini pasti hanya permainan belaka. Konspirasi macam apa ini? Malam harinya saya menceritakan kejadian ini kepada Sri via chatting. Tentu saja Sri juga tidak percaya, malah menantang balik, “Lu nyampe dulu dah di Dallas, baru gue percaya!” *keluh*

Hari Senin siang tiba-tiba ada fax masuk ke kantor saya berupa fotokopi e-tickets United Airlines, lengkap dengan jadwal penerbangan: berangkat tanggal 27 Oktober 2001 Singapore – Los Angeles – Dallas dan kembali tanggal 9 November 2001! Gilaaa! Saya pun terduduk lemas, antara percaya dan tidak percaya. Dengan waktu keberangkatan yang tinggal 4 hari lagi, saya kalang kabut mencari tiket Jakarta-Singapura pp yang termurah, dapatlah naik Emirates Airlines yang cuman 100 US$. Saya lalu menelepon Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk memastikan apakah visa Amerika saya yang bakal expired bulan Desember 2001 masih bisa dipakai. Ternyata Kedutaan sedang tutup karena kejadian 911, tapi si operatornya mengatakan bisa. Waduh!

Perasaan senang bercampur dengan kecurigaan pun timbul: Jangan-jangan ini jebakan dari teroris? Siapa yang mau terbang ke Amerika setelah tragedi 911? Siapakah Mr. X? Bagaimana kalau saya diculik? Atau pesawat saya dibom? Namun naluri untuk traveling ditambah dengan adrenalin yang memuncak telah mengalahkan logika saya. Dengan persiapan mepet dan duit seadanya, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Kapan lagi bisa ke Amerika GRATIS? Tak disangka tak dinyana, akhirnya sampailah saya di Dallas dengan selamat dan tidak menemui kesulitan apapun dengan e-tickets yang hanya berupa kertas fax. Saya lalu menelepon Sri yang akhirnya datang menjemput saya dengan mata terbelalak karena tidak percaya.

Itu belum selesai. Tanggal 31 Oktober 2001 pagi, saya menumpang online di apartemen Sri yang lagi ngantor. Eh Mr.X online juga, saya pun mengucapkan terima kasih. Dia lalu bertanya, “What are you gonna do for the next 9 days in Texas? There’s nothing there.” Saya mengatakan bahwa saya mau santai saja, lagian besok saya mau jalan-jalan ke San Antonio. Tau-tau dia bertanya lagi, “If I could buy you a ticket again, where do you wanna go?” Saya njeplak aja nyaut, ”Caribbean”. Lagi-lagi dia bertanya kapan saya mau berangkat dan nomer fax. Ah gila, this is too good to be true! Siangnya sambil marah-marah karena sirik, Sri memberikan fax e-tickets dari Mr.X. Beneran lho atas nama saya, naik Delta Airlines, Dallas – San Juan – Dallas, berangkat 4 November 2001, kembali 7 November 2001! Can you believe it? Saya bisa terbang ke Puerto Rico GRATIS (lagi)!

Boleh percaya, boleh tidak. Tapi ini adalah based on true story yang saya alami sendiri – bisa liburan di Amerika Serikat dan Puerto Rico gratis karena dikasih tiket sama orang yang belum kenal bahkan belum pernah ketemu sama sekali! Good people does exist. Miracle did happen. Saya yakin pasti Anda sirik pidik membaca ini, sama seperti semua teman saya yang pernah mendengarnya. Dan setelah membaca ini, saya yakin pertanyaan pertama yang keluar dari Anda adalah, “Mau dong dikenalin sama Mr. X!” Betul kan?

Read more