Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Hotel, Losmen, Guest House, Bungalow, sama bututnya

Catatan: bagian terakhir dari dua tulisan.

Berbeda dengan negara barat, hostel di Asia Tenggara kurang dikenal karena banyak dan variatifnya penginapan. Dengan kurs mata uang Asia yang jeblok dibanding Dolar dan Euro, hotel berbintang pun masih terhitung murah bagi turis asing. Sistem penginapannya memang ada yang a la hostel, satu kamar berbagi dengan beberapa orang. Tapi berhubung murah, lebih baik menyewa kamar sendiri atau berdua sehingga lebih private. Untuk membiasakan diri, cobalah menginap di salah satu losmen di Jalan Jaksa, Jakarta. Seperti itulah rasanya.

Memang biasanya penginapan berpusat di suatu jalan seperti di Penang, Malaysia, penginapan backpackers terpusat di Jalan Lebuh Chulia. Saya menginap di Hotel Swiss. Namanya sih hotel, tapi keadaannya jauh dari hotel, apalagi negara Swiss. Losmen ini menempati bangunan tua yang diperbesar dengan kamar-kamar tambahan terbuat dari tripleks di sisinya, persis kayak kos-kosan. Petugas reception-nya adalah seorang bapak-bapak Cina gendut yang selalu memakai celana pendek saja dan suka membuang dahak keras-keras. Kalau malam aduh ributnya si bapak ngobrol dengan teman-temannya sambil bermain kartu.

Di Bangkok, pusatnya ada di Khaosan Road. Berjejer dah tuh penginapan murah meriah. Semuanya juga mirip kos-kosan. Di setiap reception ditulis larangan membawa cewek Thailand ke dalam kamar – tuh kan, cuman turis lelaki yang dianggap suka ‘mengangkut’ cewek!

Di Pnom Pehn, Kamboja, saya menginap di Narin Guesthouse seharga US$ 6/malam untuk kamar berdua. Losmen ini bertingkat dua, kamarnya kecil-kecil terbuat dari kayu persis kayak di kos-kosan juga. Di balkon lantai 2 ini ada restoran dan bar, tempat tamu ngumpul-ngumpul dan berpesta. Ironisnya, persis di seberang losmen itu adalah Rumah Sakit Bersalin! Jadi bisa dibayangkan lagi asik-asiknya minum, kami bisa mendengar suara ibu menjerit-jerit kesakitan saat melahirkan, atau melihat suster-suster berlarian, atau orang yang berjalan tertatih sambil menggeret infus.

Penginapan murah belum tentu lokasinya tidak strategis, kadang bila kita jeli, kita bisa mendapat penginapan yang sangat strategis. Contohnya waktu saya ke Pulau Koh Samui, Thailand, dimana pulau ini merupakan tujuan wisata tingkat tinggi alias banyak hotel atau resort mahal di sepanjang pantainya. Berkat jasa supir angkot kami, dia mereferensikan sebuah penginapan yang berupa bungalow ber-AC bernama canggih Chaweng Pearl Cabana seharga 400 Baht/malam untuk berdua dengan kamar mandi dalam dan air panas.

Malamnya saya duduk-duduk di kursi di pinggir pantai persis di depan bungalow, dengan suasana romantis makan a la candle light menghadap pantai yang bersih dan tenang sambil memandang bulan purnama. Paginya ketika saya sarapan, saya baru sadar bahwa saya duduk di kursi bambu reot dan meja kaki buntung, sementara di sepanjang sisi kiri kanannya berjejer kursi-kursi mewah dan cozy milik resort berbintang! Lumayan juga lokasinya, padahal harga penginapan saya mungkin hanya sepersepuluhnya saja.

Sama seperti di Manila, saya menginap di Pension Natividad di daerah Mabini Street. Penginapan ini menempati bangunan kolonial seperti di daerah Menteng Jakarta, langit-langitnya tinggi, tapi sarung bantalnya itu lho bau minyak rambut! Meskipun lokasinya nyempil, tapi dalam jarak 1 blok saja berkumpul hotel-hotel berbintang lima dan apartemen mewah.

Di Indonesia, penginapan paling murah yang pernah saya inapi adalah di Pantai Lagundri Bay, Pulau Nias, Sumatra Utara, pada tahun 1996. Baru kali itu saya bisa menginap di bungalow tradisional terbuat dari kayu dan atap rumbia yang berukuran lumayan besar, ada balkon, ada kamar tidur, ada kamar mandi dalam, seharga Rp 3.000,- per malam! Bungalow ini pun berlokasi strategis, persis menghadap pantai tempat surfing internasional yang sangat terkenal. Cuman di Nias satu-satunya tempat yang saya lihat ombaknya pecah dari arah kanan (right-band reef breaks), sangat besar, tinggi (sampai 3,5 meter), bergulung-gulung, sehingga kalau tidur malam saya menjadi was-was karena mendengar suara deru ombak yang sangat bergemuruh yang terdengar seperti tsunami.

Read more

Hostel Sandwich

Catatan: bagian pertama dari dua tulisan

Hostel adalah tempat penginapan para backpackers dimana satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, biasanya model tempat tidur bertingkat (bunk bed). Paling decent, meskipun sedikit lebih mahal, bila menginap di hostel yang masuk ke dalam jaringan International Youth Hostel Federation (IYHF), organisasi non profit dengan logo pohon cemara biru yang tersebar di 80 negara. Di tiap negara pembahasaannya disesuaikan dengan bahasa lokal, jadi harus dihapal biar tidak nyasar. Misalnya di Perancis disebut Auberges de Jeunnesse, di Italia disebut Ostello, di Swiss (bagian Jerman) dan Austria disebut Jugendherberge.

Selain IYHF, boleh dicoba chain keduanya, seperti di Australia yaitu VIP Backpackers dan di New Zealand yaitu BBH (Budget Backpacker Hostel). Dengan menjadi member kita dapat diskon menginap, bila bukan member beda harganya 2-3 dolar. Yang penting punya kartu kredit untuk booking, karena biasanya selalu penuh. Yang jelas, menginap di hostel chain IYFH kita sudah tahu what to expect karena sudah standar yang berlaku internasional sehingga tidak usah diceritakan lagi.

Bila hostel yang bukan merupakan chain IYHF, besar kemungkinan kamarnya co-ed alias gabungan cewek dan cowok dalam 1 kamar. Modalnya harus pede tidur dengan orang yang tidak dikenal dan berjenis kelamin berbeda, plus kalau pas sial harus tahan dengan berisiknya ngorok para lelaki dan bau alkohol mereka. Belum lagi kalau pas ada cowok tidur di bunk bed (reot) di atas kepala kita, siap-siap deh berasa di kapal karena kegoncang-goncang. Paling lucu pas di hostel Auckland Central Backpackers, bisa-bisanya saya yang cewek sendiri tidur bareng dengan 4 orang cowok sekamar. Sedap bukan? Pernah di Cape Tribulation, Australia, pagi itu saya lagi ‘gebet’ seorang cowok kece di pantai, eh sorenya ketahuan dia sekamar dengan saya (dan 6 orang lainnya sih). Maksud hati mau lanjut ‘gebet’, tidak tahunya dia bawa cewek pula – malam-malam saya lihat ceweknya pindah ke tempat tidurnya. Sialan!

Yang terparah adalah hostel di (lagi-lagi) Edinburgh, Scotland, yang terletak di deretan bangunan tua dengan plang nama yang nyaris tidak kelihatan. Reception-nya terdapat di lantai 3, dengan tangga sempit berliku dan lembab mirip film Dracula. Kamarnya sempit meski khusus cewek, terdiri dari 8 bunk bed dengan kasur busa yang punya cekungan dalam di bagian tengahnya sehingga kalau merebahkan badan akan terlihat seperti sandwich – saya terjepit di antara kasur busa. Kamar tidur memang dibedakan antara cowok dan cewek, tapi kamar mandinya campur. Terdapat jejeran bilik shower dengan curtain berwarna putih menerawang bahkan banyak yang sudah bolong-bolong, dan orang yang mandi akan terlihat jelas mulai dari dengkul ke bawah. Saya hanya sikat gigi saja di wastafel sambil memandang orang-orang di balik bilik tersebut lewat pantulan cermin.

Hostel yang paling cantik adalah Villa Camerata di Florence, Italia. Mencapai ke sananya memang melelahkan karena terletak di atas bukit, apalagi sambil kepayahan menggendong ransel. Tapi cantiknya minta ampun, terletak di kaki bukit Fiesole dan merupakan bekas villa super besar abad ke-17 dengan arsitektur Renaissance. Kamar-kamarnya luas, langit-langitnya tinggi, jendelanya besar dan langsung menghadap pegunungan. Sedangkan hostel di kota kecil Marina di Massa yang bernama Ostello Apuano juga cantik. Waktu itu saya bersama 4 orang ‘teman nemu di jalan’ patungan menyewa kamar ‘suite’ di bekas ancient villa yang menghadap langsung ke pantai indah dengan balkon sendiri. Nikmat!

Favorit saya justru hostel yang tak direncanakan menginap saat nyupir kemalaman, yaitu Buscot Station di kota Omarama (mengingatkan saya sama si Raja Dangdut), New Zealand. Setelah tanya sana-sini, kami menerabas di kegelapan malam dan terlihatlah plangnya di pinggir jalan yang sangat sepi. Jalannya off road, makin jauh jalannya malah makin sempit… mulailah timbul pikiran2 buruk, “Waduh, jangan-jangan si empunya hostel ternyata pembunuh pake kampak, trus kita disekap dan disuruh kerja paksa nyabut-nyabutin rumput dan ngasih makan domba!” Mulailah kami pasang strategi, mulai dari cara merebut kampak, cara menyelamatkan diri, cara ini dan itu.

Sampailah kami di sebuah rumah besar bertingkat dan… keluarlah bapak-bapak tua yang sangat ramah menyambut kami. Dengan baiknya dia memberikan kami bonus, boleh tidur di kamar anaknya berinterior a la Eropa di lantai dua yang sangat cozy sekali, plus kamar mandi dengan bath tub. Dia cuman men-charge kami NZ$18 – sebenarnya merupakan harga untuk shared dorm jelek di belakang rumahnya. Besok paginya kami tambah merasa bersalah karena hostel ini pemandangannya indaaah banget, berlokasi di tengah farm yang luas dan dikelilingi pegunungan bersalju.

Read more

Ayam Bakpau, bukan Bakpau Ayam

Kata ‘ayam’ bermakna ganda – ayam dalam arti binatang ayam, atau ayam manusia alias perempuan ga bener. Mulai dari sini, daripada saya repot mengetik dengan tanda kutip, setiap kata ayam berarti ayam manusia. Well, saya senang memperhatikan ayam-ayam saat saya traveling. Sama sekali saya tidak bermaksud menghina, meskipun tragis mereka dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Ciri khas ayam bisa dilihat dari fisik dan gayanya, tapi sampai sekarang saya susah mengidentifikasikan ayam bule. Yang membedakan adalah lokasinya, biasanya mereka mejeng di jalan tertentu persis seperti yang digambarkan dalam film Pretty Woman. Paling gampang mengidentifikasikan ayam ya di negara Asia. Sama seperti di Indonesia, fisik para ayam dilihat dari leher ke bawah pokoknya yahut, asal jangan dilihat mukenye. Mereka memakai pakaian yang berfungsi dekoratif, dengan model kekecilan atau kekurangan bahan. Satu-satunya yang fungsional adalah riasan wajahnya yang (berusaha) menutupi cacat – setelah dirias, wajah yang hitam bisa jadi abu-abu, yang putih bisa jadi kuning. Yang membuat tambah parah adalah gigi mereka yang kok banyak yang ‘prongos’ alias bermodel a la Boneng. Kalaupun giginya bagus, silakan lihat kakinya bagian jari atau tumit, oh, you don’t wanna know!

Ciri lain, para ayam (Asia) senang mendekati lelaki bule tua. Karena penasaran, saya pernah tanya mengapa mereka begitu. Jawabnya, ‘karena lelaki bule tua bayarnya gede tapi maennya sedikit. Tidak seperti lelaki bule muda, bayarnya sedikit, maennya banyak dan macam-macam’. Masuk akal bukan? Tapi fenomena ‘ayam Asia dengan lelaki bule’ membuat beberapa teman saya di Jakarta yang menikah dengan bule expatriate menjadi sangat anti jalan berdua di tempat umum (apalagi ke Kem Chicks Kemang) karena takut disangka ayam.

Di Siem Reap, Kamboja, saya sengaja pergi ke bar Zanzibar yang terkenal tempat tongkrongan bule. Ayam di situ muda-muda dan kurus-kurus, parahnya mereka tidak bisa berbahasa Inggris, jadi hanya menggunakan bahasa tubuh dengan menggelendat-gelendot saja. Teman lelaki saya iseng menawar salah satu ayam, penasaran dengan harga pasaran di sana. O ya, nama para ayam di sana tiba-tiba berubah jadi kebule-bulean gitu, ada Mary, Lucy, Cindy (entah mengapa namanya selalu berkahiran ‘–y’). Anyway, si Mary ini mematok harga yang jika dikurskan ke Rupiah tahun 2002 sekitar Rp 500.000 – menurut teman saya sih kalau model si Mary, bisa dapat Rp 150.000 di Jakarta.

Di Thailand, ayamnya membingungkan. Ayamnya memang ayam banget, tapi susah membedakan antara ayam betina atau ayam jantan karena banyak sekali kaum transeksual yang cantiknya melebihi wanita beneran. Tapi karena ayam jantan harus ‘mengejar ketinggalan’ – akibat terlambat menjadi wanita, mereka terlambat bisa dandan – riasan wajah mereka jadi medok tidak karuan. Namun paling gampang membedakan ayam jantan dan ayam betina adalah dengan melihat dengkulnya, jika berbukuran dan berbentuk seperti bakpau bisa dipastikan mereka adalah lelaki. Bolehlah teknologi saat ini yang canggih yang dapat mengganti kelamin atau menghilangkan jakun, tapi mana ada operasi dengkul?

Di Brunei saya tidak pernah menemukan ayam, karena percaya atau tidak, tidak ada satupun kehidupan malam di sana. Tidak ada cafe atau bar, apalagi klub atau diskotik. Bahkan di hotel berbintang jaringan internasional pun tidak ada bar. Jadi kalau mau gaul malam, orang Brunai harus pergi sekitar dua jam dari kota Bandar Sri Begawan ke perbatasan Malaysia.

Ayam paling cantik yang pernah saya lihat adalah di klub Cocomangas di Boracay, Filipina. Ayam ini tidak seperti ayam umumnya, dia sangat cantik, sangat muda, kulit putih bersih, bodi keren, tapi kacaunya, dia memakai kostum beha putih dan G-String putih saja! Lelaki di situ berebutan joget dengan si ayam cantik, mulai dari bule tua, bule muda, anak gaul lokal, sampai tukang kapal dan tukang becak. Saya sih kasihan melihat dia yang sangat mabuk dan dilaba sana-sini. Kata penduduk lokal sana, ayam ini sangat terkenal (ancurnya) karena “She is half Philippines half Thailand” -. rupanya di sana orang Thailand itu dianggap ayam. Ha, jeruk makan jeruk!

Ayam-ayam paling jelek saya temui justru di Indonesia yaitu di bar salah satu hotel berbintang jaringan internasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ya ampun, cuman di situ satu-satunya tempat dimana para ayamnya gendut-gendut dan tua-tua, pede pula memakai baju minim dan ketat. Mereka dengan agresifnya mengejar lelaki bule tua para pekerja rig.

Hidup ayam! You make my day!

Read more

Penyakit Dunia Ketiga

Penyakit paling klasik kalau traveling di negara barat adalah sembelit atau susah buang air besar. Mungkin karena makanannya yang kurang kuah, kurang bumbu, kurang sayur dan buah. Sebagai backpacker, mana sempat memikirkan (dan kuat bayar) makanan full course yang bergizi coba? Alhasil kalau lebih dari 3 hari tidak bisa keluar juga, saya punya resep yang cukup ampuh: pergi ke Chinatown, makan nasi dengan lauk yang pedas. Ditanggung bakal langsung keluar semua dengan mudahnya. Indonesia banget!

Penyakit kedua adalah masuk angin.

Tidak tahu mengapa orang Indonesia menyebutnya ‘masuk angin’ – saya pun bingung kalau disuruh menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Yang jelas badan rasanya tidak enak, perut kembung, sering bersendawa, kepala pusing. Di Kuala Lumpur saya pernah masuk angin berat karena kamar di penginapan(murah)nya lembab akibat kurang cahaya matahari dan AC Window yang tidak bisa dikecilkan, tambah lagi semalaman di luar jendela terdengar suara bising motor kebut-kebutan. Obat paling manjur ya istirahat sebanyak-banyaknya, minum vitamin C, dan minum Antangin – bablas angine!

Kadang kalau saya masuk angin, saya minta dikeroki oleh teman. Banyak kejadian lucu, terutama saat berlibur di daerah pantai. Saya dengan santainya berenang memakai bikini dengan punggung yang belang-belang merah keunguan. Setiap saya jalan melewati para bule, mereka memelototi saya lalu saling bergosip satu sama lain. Misteri ini terpecahkan saat salah satu dari mereka menarik tangan saya dan bertanya sambil berbisik pelan, “I’m sorry but I have to ask you although I know it’s none of my business, but what happen to your back? Did your partner beat you?”

Versi parah dari masuk angin adalah flu. Saya pernah sakit flu berat sampai suhu tubuh meninggi, mungkin gara-gara kecapekan bela-belain week end ke Atlanta – Orlando pp naik Greyhound. Dua hari tewas, akhirnya saya memaksakan diri ke RS. Saat dokter mau periksa dengan stetoskop, otomatis saya main buka baju aja. Eh si dokter sambil membuang muka mengatakan, “No no no…you don’t have to open it.” Rupanya di sana pemeriksaan dengan stetoskop itu cukup dengan ditempel di baju saja, di bagian punggung lagi! Saya jadi malu. Bukan maksud saya…tapi dokter di Indonesia kan….

Penyakit karena transisi ternyata tidak ada-apanya dibanding karena kurangnya kebersihan. Pulang traveling dari Filipina, saya masuk RS seminggu karena typhus. Teman saya yang lain mengalami keputihan berat. Dan teman yang satu lagi menderita panuan, di mukanya lagi! Wah, betapa tidak higinisnya negara itu, atau cara kami traveling yang terlalu gembel kali ya? Ada lagi penyakit yang ‘Indonesia banget’ yaitu ‘cantengan’ – jempol kaki yang bengkak bernanah akibat kuku yang menusuk daging. Gara-garanya sederhana saja, teman saya kelamaan nyupir mobil sewaan kami keliling New Zealand!

Namun penyakit paling parah adalah saat saya bersama 2 orang teman cewek pulang trekking dari Pulau Moyo, Sumbawa, pada tahun 1994. Dua minggu setelahnya, satu per satu kami semua masuk RS karena malaria – penyakit yang hanya saya ketahui dari film-film perang zaman dulu! Pada jam tertentu, bagaikan datangnya malaikat pencabut nyawa, rasa dingin yang luar biasa menyerang perlahan dimulai dari ujung kaki sampai akhirnya menggelepar-gelepar kedinginan sampai mulut harus dimasukkan semacam sendok agar tidak menggigit lidah. Ugh! Meskipun kami semua melakukan tindakan preventif dengan rajin minum obat anti malaria 2 bulan sebelumnya dan rajin pakai lotion anti nyamuk, dokter saya menerangkan, “Mau minum obat segerobak kalau memang daerah endemis malaria, tetep saja kamu yang bukan orang asli sana bakal kena!” Nenek saya yang membesuk pun berkomentar, “Oh masih ada toh penyakit dunia ketiga?”

…Suatu malam, setahun kemudian…saya dan teman yang sama-sama pernah kena malaria tidur di stasion kereta api di Paris menunggu kereta ke Strasbourg. Udara winter yang duingin membuat kami menggigil berat, sampai-sampai saya memakai seluruh baju yang ada di ransel untuk menahan dingin. Tiba-tiba teman saya mengajukan pertanyaan yang sangat menohok, “Ini emang dingin atau malaria kita kumat ya?” Good question!

‘Pembelaan’ saya: Jangan menyebut diri Anda seorang traveler sejati, kalau belum kena malaria. Hehe!

Read more

Miss Metal Teeth

Sebagai siswa yang kuliah di universitas negeri, kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai pengabdian kepada masyarakat. Saya yang doyan jalan-jalan tentu menyambut baik program ini. Apalagi KKN terkenal sebagai ajang cari jodoh karena menganut falsafah ‘witing tresno jalaran soko kulino’ (menurut saya sih lebih tepat disebut ‘witing tresno jalaran soko ora ono lio’). Biasanya program KKN reguler diadakan di desa terpencil di Pulau Jawa selama 2 bulan, namun saat itu pas universitas mengadakan KKN hasil kerjasama dengan TNI AL dan Departemen Transmigrasi ke Kalimantan Tengah selama sebulan, dan saya terpilih bersama 99 orang mahasiswa/i lainnya.

Bayangkan letak lokasi KKN-nya: kami naik kapal perang AL selama semalam dan tidur terombang-ambing di hammock di dalam kabin yang bau muntah teman-teman yang seasick. Terus naik angkot 2 jam ke kota Pangkalan Bun. Dari situ naik angkot lagi sejam ke pinggir sungai. Terus naik speed boat kecepatan tinggi selama 5 jam di sepanjang sungai Amazon-nya Indonesia. Lanjut lagi naik truk selama 2 jam, baru sampai ke desa kami di Nanga Bulik. Ffuih, rambut saya langsung kayak Ahmad Albar! Meski tidak ada listrik, namun saya langsung betah karena pemandangannya yang indah. Terletak di pinggir hutan, dengan kontur tanah yang berbukit. Udaranya pun segar dengan langit yang jernih, kalau malam dengan jelas terlihat ribuan bintang di langit.

Di desa ini ada 9 orang mahasiswa/i yang ditempatkan di sebuah rumah panggung yang kosong. Kami tidur di lantai papan dimana dinginnya angin malam menembus tulang rusuk melalui celah lubang papan tersebut. Kalau mau menggunakan kamar mandi, airnya harus menimba sendiri di sumur yang berjarak 50 meter di belakang rumah. Karena kondisi alam yang kering, sumur di sini dalam sekali. Saya hitung, begitu menceburkan ember ke dalam sumur sampai terangkat kembali, sama lamanya dengan menyanyikan full lagu Indonesia Raya, dan pas bait lagu terakhir ‘Hiduplah Indonesia Raya…’ saat itulah ember mentok di atas kerekan persis seperti upacara bendera. Kebayang kan kalau pas kebelet tapi harus menimba dulu?

Setiap hari kami disediakan makan oleh istri Pak Lurah. Lauknya tak lain tak bukan adalah gabungan antara ikan sarden kaleng dan mie instan: sarden kuah, sarden goreng, mie kuah, mie goreng. Makan borju bagi kami adalah saat si Ibu berhasil menangkap ayam hutan – itupun kami sebut ‘ayam atlet’ saking alotnya itu daging mungkin karena ayamnya kebanyakan lari marathon di hutan belantara. Suatu kali kami pernah pesta makan daging non-ayam saat salah satu orang Dayak di situ berhasil berburu babi hutan. Untungnya saya boleh makan daging yang bersertifikat ‘100% haram’ dari MUI ini.

Selain menyelenggarakan program penyuluhan dan administrasi desa, kami juga mengajar di SMP lokal dan saya memilih untuk mengajar Bahasa Inggris. Kasihan guru di sana, satu guru harus mengajar 2 – 3 kelas. Yang paling kasihan sekaligus lucu, saat istirahat keluar main dan harus masuk lagi, guru-guru SD harus kejar-kejaran ke dalam hutan sambil membunyikan bel sekolah dan berteriak, “Hayoo anak-anak, masuk, masuk…” sementara anak-anak muridnya berlarian di tengah hutan bahkan ada yang bersembunyi di atas pohon.

Karena saya hobinya jalan-jalan, saya berusaha mendekati Pak Camat karena dia satu-satunya yang punya motor trail – cocok untuk kondisi jalan hutan belantara yang rusak berat karena banyaknya truk logging lewat. Saya mengajak teman lelaki saya (yang merupakan target program ‘witing tresno’ saya) untuk berjalan-jalan ke desa-desa sebelah. Dari yang tadinya kami naik motor, sampai akhirnya kami sendiri yang harus menggendong motor karena jalannya putus!

Jalan-jalan di desa sendiri juga sering kami lakukan sekalian bersosialisasi. Sialnya, semua anak kecil di situ selalu menangis ketakutan setiap melihat wujud saya karena saya memakai behel. Bahkan ibu-ibunya sengaja menjadikan saya sebagai obat ampuh untuk membuat anak-anaknya mau makan dengan ancaman, “Awas kalau kamu ndak mau makan, ntar ibu panggilin Mbak Gigi Besi lho!” (mungkin saya dianggap seperti si Jaws dalam film James Bond).

Malam terakhir, para tetua desa mengatakan bahwa kebiasaan farewel party di sana adalah dengan minum anggur bersama. Saya pun patungan dengan teman-teman untuk membeli Anggur Cap Orang Tua (pertama dan terakhir saya minum ini). Mulanya kami pesta ayam (atlet) bakar, lanjut dengan minum-minum, dan gitaran sampai pagi. Beberapa jam kemudian kami pun pulang naik truk. Semua orang sedesa berjejer dan menyalami kami sambil bertangis-tangisan. Anak-anak SMP mendadahi saya, “Good byeee, Miss! We miss you, Miss! We love you, Miss Metal Teeth!”

(dedicated to my big family in Nanga Bulik, miss y’all a lot!)

Read more