Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Terjun dari Monas

Anda termasuk orang yang takut ketinggian? Tidak perlu malu. Sebab menurut survey yang diadakan oleh Fear Factor di channel TV AXN Asia, sekitar 40% pemirsa di Asia takut akan ketinggian. Perasaan takut ketinggian ini menempati urutan pertama dibandingkan rasa takut yang lain, seperti takut kecoa, takut laba-laba, atau takut hantu. Buat saya sih terjun dari ketinggian justru merupakan pengalaman yang sangat seru daripada makan kecoa hidup! Perasaan deg-degan dan gemetaran itu terasa lebih mengasikkan dibandingkan dengan perasaan jijik dan bau. Takut sih wajar, saya aja orang yang paling nekat dan gila ternyata ciut juga sebelum terjun, namun bagaimana mengatasi ketakutan itulah yang terpenting.

Dari dulu saya bercita-cita untuk bungy jump pertama kali di New Zealand – negara pelopor bungy jump di dunia, selain karena pengalaman pertama harus yang paling oke, paling tidak dari segi keamanan lebih terjamin. Kesempatan itu datang saat saya liburan bulan Desember 2003 di Queenstown, kota di selatan New Zealand yang terkenal dengan sebutan ‘mecca for bungy jumpers’. Di hostel Deco Backpackers tempat saya menginap terdapat brosur AJ Hackett, pelopor operator bungy, dimana terdapat 3 pilihan trip ‘terjun’ yaitu dari Kawarau Bridge (jembatan tempat bungy komersial pertama di dunia dengan ketinggian 43m), Ledge Bungy (47m), dan Nevis Highwire (134m). Adrenalin saya langsung memuncak dan segera memutuskan untuk ambil bungy yang tertinggi di negara ini dan di seluruh Australasia, yaitu Nevis Highwire dengan ketinggian 134 meter atau 440 feet! Hmm, 134 meter itu setinggi apa ya? Hah, setinggi Monas, bo! Mampuz ga lo! Ngebayanginnya aja udah bikin deg-degan sendiri.

Jam 10.30 pagi kita mendaftarkan diri di kantor AJ Hackett, ditimbang berat badan, dan dikasih tag yang diikat di tangan dengan tulisan angka hasil timbangan. Jam 11 kita dinaikkan ke Mini Bus 4WD isi 18 orang untuk menuju lokasi bungy yang terletak 32 km dari pusat kota Queenstown. Di dalam bis semua orang stres berat, udah kayak kambing mau disembelih. Ada yang merokok ga brenti-brenti, ada yang nyanyi-nyanyi keras, ada yang terdiam pucat sambil berpegangan tangan dengan temannya, ada yang berdoa keras-keras, bahkan ada yang manggil-manggil mamanya! Setengah jam kemudian mampirlah di Kawarua Bridge, tempat bungy yang ‘cuma’ setinggi 43 m. Melihat orang-orang dengan muka stres terjun dari jembatan bikin kita tambah stres! Dari situ bis bergerak di jalanan offroad melewati pinggiran tebing menuju ke atas gunung… makin lama makin tinggi sampai ke puncak. Huaa…tambah stres! Lalu kita diberikan training singkat dan dipakaikan harness dan carabiner untuk keamanan. Setelah itu naik cable car kecil – tanpa dinding dan atap – melewati wire (kabel) yang terbentang sepanjang 380 meter di antara 2 gunung. Terlihat lah lembah yang mengecil ke bawah seperti kerucut terbalik dengan sungai Nevis yang biru. Di tengah-tengah rentangan kabel ada ‘bangunan’ kecil dengan lantai yang terbuat dari kaca sehingga kita bisa melihat orang terjun dan dasar sungai yang jauuuuuh banget.

Baru saja cable car saya sampai, tahu-tahu nama saya dipanggil. Saya? “Yes, you!” Lah! Rupanya urutan siapa yang terjun duluan ditentukan dari berat badan dari yang paling berat sampai yang paling ringan (sialan, saya termasuk gendut!), padahal tadi saya sengaja berangkat belakangan supaya bisa melihat ‘korban’ awal. Dengan pasrah pergelangan kaki saya dibungkus dengan padding, kemudian didudukkan di kursi untuk pengikatan tali bungy khusus yang terbuat dari rubber latex, lalu dituntun berdiri di pinggir platform menghadap jurang. Saya melihat ke bawah…mampuz, tinggi banget! Lutut saya terasa lemaass dan saya bisa mendengar detak jantung sendiri yang terdengar seperti suara dentuman. Si instruktur berteriak, “Three…two…one…Go!” Tapi saya malah menarik bajunya karena belum siap mental. Saya pun dibujuk-bujuk lagi. Dihitung ulang lagi, “Three…two…one…GO!” Saya pun terjun dengan tangan terbuka… melayang… isi perut rasanya naik ke tenggorokan… tapi kok ga nyampe-nyampe… sesak napas…sampai tiba-tiba saya tersentak dan memantul lagi ke atas… naik… tinggiii… saya pun baru bisa teriak, “YIIHAAA!”. Saat itulah saya menarik tali kecil di kiri dan ZIING… saya berubah posisi dari kepala di bawah jadi posisi duduk dan terlempar ke atas ke bawah 3 kali lalu berhenti, baru saya perlahan dikatrol dari ‘bangunan’ yg menggantung di kabel. Huaaah, leganya! It wasn’t that scary though! Hehe!

Well, rasa takut itu hanya datang pada saat sebelum terjun kok. First step is always the hardest, tapi setelahnya akan terbayar! Dengan sombongnya saya lalu bikin target: ikutan bungy jump tertinggi di dunia yaitu di Macao setinggi 233 meter! Ada yang berminat pergi sama saya?

Read more

Berkelana di Toilet

Yang bikin bete menunggu di airport di Indonesia karena seumur-umur tidak pernah nyaman toiletnya. Heran bisa begitu, padahal penggunaan toilet di airport termasuk yang paling tinggi karena minimal orang berada di sana selama sejam untuk penerbangan domestik dan dua jam untuk penerbangan internasional. Belum lagi seringnya kita lebih lama di airport lokal karena pesawat kita hobi delayed, plus juga ada orang yang menunggu berjam-jam untuk transit kan?

Baru-baru ini Soekarno-Hatta International Airport (bandara internasional bo!) baru merenovasi toiletnya. Memang lebih bagus dengan tegel dan dinding keramik yang baru dan berwarna, sabun cair sudah ada di setiap wastafel, bahkan ada pengering tangan yang berfungsi. Tapiii…dengan ruangan seluas itu, hanya ada 2 – 3 bilik saja. Di dalamnya…yah, sama aja bo’ong! Tetap kotor, becek, bau, dengan sampah berceceran, dan tidak ada tissue. Tambah lagi toilet shower – lebih tepatnya selang air untuk membasuh kelamin – tidak berfungsi (cara menyalakan airnya bukan dengan memencet gagang shower tapi dengan memutar kran, artinya saat itu juga ujung selang memuncratkan air yang deras sehingga membasahi seluruh bilik!). Bagaimana dengan airport domestik di luar Jakarta? Setali tiga uang. Bahkan dari dari 3 bilik, mesti salah satunya ada yang mampet. Hii!

Suatu kali di airport Schippol (Amsterdam, Belanda), pernah saya kebelet buang air besar. Setelah menyelesaikan ‘tugas’, you know lah, bau kotoran orang Indonesia itu kan ‘khas’ banget! Saya pun segera mencari tungkai untuk flush, hmm ga ada. Cari tombol ke seluruh bilik toilet ga nemu juga. Wah, saya pun mulai panik. Alhasil saya menarik banyak-banyak tissue gulung dan membuangnya di kakus, berharap bau dan bentuknya tidak begitu kelihatan sehingga cukup waktu untuk saya kabur dan tidak dipelototin orang yang ngantri. Setelah berlama-lama di dalam, saya memberanikan diri ke luar. Klik, saya membuka kunci pintu. Seketika itu, byurrr, flush menyala dan membasuh kotoran dengan bersihnya! Hehe, rupanya flush baru keluar secara otomatis kalo kita membuka kunci pintu. Bagus juga sistemnya, membantu kelupaan atau kebodohan manusia sehabis buang air.

Fasilitas toilet memang harus nyaman karena saat ini penggunaannya bukan hanya untuk buang hajat belaka. Bisa untuk sikat gigi, ganti baju, ganti popok, pake make-up, nyisir, ngaca, ngerumpi. Airport di negara maju sih sudah lengkap, ada ruang ‘ibu dan anak’, ada vending machine untuk membeli pembalut wanita sampai toilet kit berisi sikat gigi, odol dan sisir. Bahkan ada tempat shower khusus bagi yang ingin mandi. Di sana pun disediakan kertas yang berfungsi sebagai alas duduk toilet-bowl agar higinis dan membantu kita supaya ngga pipis sambil nungging karena jijik. By the way, saya perhatikan hanya toilet di airport negara Asia Tenggara yang mempunyai pilihan toilet jongkok.

Tidak usah lah membandingkan toilet airport kita dengan negara maju, tapi bila negara kita selalu dibandingkan dengan sesama negara di Asia, mengapa toilet di airport internasional negara tetangga kita selalu ada tissue gulung dan lantai yang kering? Siapa yang bertanggung jawab?

Read more

Pilih Makan Rendang atau "KKN"?

Kecanggihan sistem pengamanan di airport bagaikan dilema, semakin canggih semakin annoying, tapi sebaliknya semakin tidak canggih ya semakin tidak aman bukan? Bukan hanya senjata tajam atau bahan pembuat bom yang ditakutkan, tapi juga bahan yang dianggap berbahaya seperti obat-obatan tertentu, atau yang dilindungi seperti bibit tanaman langka.

Amerika adalah negara yang paling rese soal keamanan di airport, terutama kalau Anda mendarat di airport Los Angeles, New York atau San Francisco, dimana merupakan gerbang pendaratan pesawat internasional.

Saya pernah ke Amerika persis sebulan setelah peristiwa 911, wih ketatnya
pemeriksaan. Pemeriksaan sampai berlapis-lapis sehingga membuat antrian yang panjang, bahkan beberapa pesawat diperbolehkan delay karena penumpangnya belum selesai diperiksa. Bagi penumpang yang bawa tas tenteng, meski sudah lewat sinar X tetap saja isinya dikeluarin satu-satu, bahkan yang bawa laptop pun harus dibuka sampe ke batre dan kabelnya. Biasanya orang setelah lolos pintu metal detector, petugas hanya mendekatkan tongkat metal detector dan men-scan seluruh tubuh.

Di sana ada lagi pemeriksaan ‘lebih menyeluruh’ dengan sistem random, herannya meskipun dibilang random saya pasti kebagian salah seorang yang dicek (pasti karena paspor Indonesia saya. Huh!). Oleh petugas cewek item gede saya diraba-raba dari ujung kepala, dada, selangkangan, sampe ujung kaki, di depan umum! Masih mending di airport Dubai dimana cewek dan cowok antriannya dipisah, diperiksa ‘menyeluruh’-nya di dalam ruangan kecil berkorden persis seperti ruangan nyoblos pas Pemilu. Kalau yang meraba Brad Pitt sih saya tentu tidak keberatan sama sekali!

Di bagian custom, bagian pemeriksaan bagasi yang khusus mencek boleh tidaknya bahan makanan, tumbuhan, alkohol, parfum dan rokok masuk ke suatu negara, punya cerita lucu. Teman saya seorang Amerika yang pernah tinggal di Indonesia 3 tahun doyan banget sama daging rendang, saat pulang ke negaranya dia pun membawa rendang. Unfortunatelly, rendang tersebut tidak diperbolehkan petugas custom untuk dibawa ke luar karena mencurigakan. Setelah berdebat panjang mengenai apa dan bagaimana rendang itu dibuat namun tetap tidak diperbolehkan juga, akhirnya dengan kesal dan saking ‘ogah-rugi’-nya teman saya pun bilang, “OK, if you don’t allow me to take my rendang, I’ll eat here,” dan dengan cuek dia memakan 2 kg rendang (baca: 2 kilo, bo!) saat itu juga di depan petugas custom! Saya jadi merasa beruntung, saya pernah meloloskan 5 kg rendang ke Amsterdam karena punya Oom yang kerjanya di airport situ. Hehe, KKN boleh dong!

Saat penyakit SARS sedang ramai, airport adalah salah satu yang berusaha melakukan pencegahan. Biasanya di airport manapun kita harus mengisi formulir yang menanyakan tentang riwayat kesehatan terakhir dan negara-negara mana yang pernah kita kunjungi sebelumnya.

Di airport Male (Maldives), mengharuskan kita mengisi catatan kesehatan – terutama suhu tubuh – dari hari ke hari dengan dibubuhi tandatangan dan cap dokter setempat (males banget kan liburan kudu ke dokter tiap hari!), dan formulir tersebut harus diserahkan sebagai syarat untuk pulang. Tapi di Singapura, sebelum masuk ke airport kita dipersilakan lewat di depan kamera yang dapat mendeteksi panas tubuh. Kita dapat melihat di layar TV sebentuk tubuh manusia digital yang berwarna-warni yang sedang berjalan, dengan warna merah sebagai indikator untuk titik-titik tubuh yang semakin merah berarti semakin panas – kelihatannya seperti video clip musik. Wiih…!

Sinar X untuk mendeteksi barang bawaan sih sudah biasa di mana-mana, paling banter Anda terpaksa harus menyerahkan pisau lipat model Victorinox atau gunting kuku sebelum masuk pesawat. Saat ini pintu metal detector sudah sedemikian canggihnya. Alat pendeteksi bahan yang mengandung besi ini dulu rasanya tidak sesensitif sekarang, paling kita hanya perlu mengeluarkan uang koin dan handphone dari saku. Meski tidak terjadi di airport Indonesia, di luar negeri saat ini orang harus rela melepas anting dan kalung, bahkan mencopot ikat pinggang dan membuka sepatu, supaya bisa lewat di dalamnya tanpa ada bunyi alarm.

Nah, bila Anda akan bepergian ke luar negeri pastikan Anda memakai kaos kaki yang tidak bolong dan tidak berbau, karena saya sudah cukup melihat (dan terpaksa membaui) orang-orang yang memalukan ini.

Read more

Ketemu ‘Malaikat’ di Airport

Kalau Anda terbang long flight dan maunya bayar murah, harusnya Anda pernah terpaksa menginap di airport. Apalagi Jakarta jarang jadi kota asal untuk terbang direct flight karena hampir semua pesawat yang menuju ke Eropa atau Amerika biasanya bermula dari Singapura. Untuk mendapatkan tiket murah, pasti jam keberangkatannya bukan di jam yang convenient. Contohnya saja, terbang dari Jakarta ke Singapura pada jam 11 malam untuk mengejar pesawat berikutnya pada jam 7 pagi. Well, di manapun airport untuk transit dan bila negara itu tidak memerlukan visa, sebenarnya bisa saja kita ke luar airport menghabiskan malam dengan minum-minum di kota. Tapi selain karena saya seorang yang disoriented – tidak tahu arah dan tidak bisa membaca peta – naik taksi ke kota dan minum-minum tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi saya yang seorang backpacker.

Kalau Anda menghargai privasi dan kenyamanan, silakan menginap di Hotel Transit yang berada di dalam airport. Saya pernah (terpaksa) menggunakan fasilitas ini di airport Kuala Lumpur karena saya sudah lelah sekali berlibur selama 3 minggu keliling Asia Tenggara, dan tiba di aiport sudah jam 1 pagi sementara pesawat berikutnya jam 8 pagi. Saya langsung saja check in di Hotel Transit yang ternyata harga menginapnya paling mahal dibandingkan penginapan-penginapanan a la backpackers selama 3 minggu sebelumnya. Sistem menginap di hotel transit adalah per lot, satu lot sama dengan 6 jam, kalau tidak salah harga per lot sebesar 200 Ringgit (hampir Rp 500.000,-) untuk single bed. Kamarnya kecil dan ada kamar mandi di dalamnya. Di dinding ada korden motif bunga-bunga berwarna pink, yang begitu kordennya dibuka ternyata hanya dinding belaka sebagai ‘kamuflase’ biar disangka ada jendela dan biar terlihat seperti layaknya kamar di hotel beneran gitu loh. AC-nya pun AC sentral, tidak bisa dikecilkan atau dibesarkan sesuai keinginan. Enam jam kurang lima belas menit, telepon akan berdering keras, artinya harus segera cabut dari kamar itu atau ditawarkan perpanjangan jam oleh petugas reception. Duh, lima belas menit bagi saya kurang cukup untuk ‘mengumpulkan nyawa’ – belum lagi melakukan kegiatan ritual lainnya di kamar mandi.

Kalau Anda tahan dingin dan ‘ogah rugi’ bayar hotel, Anda bisa tidur di bangku ruang tunggu atau bahkan di lantai airport yang berkarpet biar bisa selonjor. Tidak usah kawatir, banyak kok orang yang memanfaatkan ‘fasilitas’ ini. Pernah suatu kali karena tahu kita (terpaksa) transit 5 jam di airport Bandar Seri Begawan, saya dan teman-teman saling mempersiapkan ‘singgasana’ tidurnya: saya dengan badan tertutup selendang pashmina warna shocking pink dari ujung kaki ke ujung kepala, teman yang lain dengan kedua kakinya yang dimasukkan ke dalam tas saking dinginnya, dan yang parah adalah teman satu lagi yang tidur dengan selimut dan bantal hasil nyolong dari pesawat (ini cara yang paling nyaman tapi butuh keberanian)! Zzzz…..kami pun pergi ke alam mimpi. Tiba-tiba ada suara laki-laki berteriak kasar, ”Hooi! Bangun! Bangun!” sambil menggetok-getokkan benda keras ke kursi yang begitu terdengar sangat berisik. Begitu membuka mata, terlihat para satpam dengan muka garang sedang mengerubungi kita sambil memegang pentungan. Gila, kita udah diperlakukan seperti gembel tidur di stasion bis aja! Tapi saya yakin ini hanya terjadi di Brunei kepada orang yang tidur di bangku airport dengan muka Asia, maklum pasti disangka TKW alias pembokat.

Dasar saya ndeso yang tidak tahan dinginnya AC, suatu malam transit di airport Changi Singapura saya memilih ke lantai dua untuk tidur di ruang outdoor untuk perokok. Di sana ada bangku kayu panjang yang lumayan bisa untuk merebahkan badan plus ‘AC’ khusus, bukan ‘Air Conditioning’ tapi singkatan dari ‘Angin Cepoi-Cepoi’. Tidak berapa lama saya tertidur, tiba-tiba ada sinar sangat terang yang meyorot saya bagaikan spot light dan suara yang sangat memekakkan telinga sampe budeg. Sumpah, saya pikir ada malaikat yang datang menjemput saya! Rasanya badan saya lemas sekali dan tulang-tulang terlepas perlahan-lahan dari tubuh saya. Pikiran saya pun jadi flash back mengingat semua dosa yang pernah saya lakukan. Tidak, jangan sekarang! Akhirnya saya memberanikan diri membuka mata, ternyata saya melihat ada pesawat yang terbang rendah sekali di atas muka sampai anginnya menghempas! Setelah sadar atas apa yang terjadi, ah pantas saja demikian karena lokasi tempat tidur saya persis di sebelah landasan pesawat! Namun lama-lama suara bising itu jadi musik penghantar tidur saya bagaikan lagu nina bobo.

Jadi moral of the story: ada harga ada mutu. Jika Anda berani bayar mahal, tentu Anda akan mendapat pesawat yang mempunyai waktu transit seminim mungkin sehingga tidak usah tidur di airport. Jika harus transit lama juga dan mau bayar ekstra untuk hotel plus tahan dinginnya AC, tentu Anda tidak akan ketemu ‘malaikat’ seperti pengalaman saya.

Read more

Planet Bugil

Oktober 2000, saya dalam perjalanan ke airport diantar seorang teman bernama Trevor, lelaki Aussie asal Sydney yang dulu exchange student di kampus. Di tengah jalan timbul ide gilanya, “Sebelum kamu pulang, saya mau kasih kenang-kenangan yang tidak bisa kamu dapat di Indonesia, yaitu berenang di nude beach.” Apa?! Nude beach? Muka saya pun mendadak pucat. Gila kali ye berenang telanjang di tempat umum, siang bolong pula! Saya pun protes keras dan merepet sepanjang perjalanan, tapi ia hanya tertawa jahil dan membelokkan mobilnya ke arah Mosman. Tak lama kemudian mobilnya diparkir di pinggir hutan, saya melihat plang kayu bertuliskan Obelisk Beach. Trevor menarik tangan saya masuk ke dalam hutan Enchanted Forrest yang lebat dan gelap karena pohon-pohonnya yang tinggi dan rapat. Setengah berlari kami melewati jalan setapak yang semakin lama menurun dan berakhir di sebuah teluk kecil menghadap Sydney Harbor dengan air laut yang biru dan kapal-kapal yacht. Pantai kecil ini benar-benar secluded, dikelilingi hutan dan tidak ada akses yang dapat menembus pantai lain.

Trevor berbicara sebentar dengan seorang lelaki yang kelihatannya penjaga tempat itu sambil menunjuk-nunjuk saya yang berdiri kaku. Ia tertawa sambil menarik tangan saya lagi ke balik batu besar, dan tiba-tiba ia memelorotkan celananya dan berlari bugil nyebur ke laut! “Ayo! Sini!” ajaknya sementara saya masih menganga bengong. Di sepanjang pantai yang berpasir putih ini saya melihat orang-orang sedang mandi matahari tanpa selembar benangpun kayak di zaman Adam dan Hawa! Well, saya pernah melihat satu dua orang cewek bule yang topless di Bali, tapi ini ada berpuluh-puluh orang cewek dan cowok yang bugil gil gil! Ada juga sekelompok orang yang dengan santainya berjalan mondar-mandir sambil ngobrol dan berbugil-ria. Tambah lagi, orang-orang bermain Frisbee yang dengan cueknya berlari-lari dan terlihat ‘bergondal-gandul’. Lagi shock dengan pemandangan ini, saya didatangi lelaki penjaga tadi dan ia mengatakan bahwa saya tidak boleh datang untuk melihat-lihat tapi saya juga harus bugil! Hah? Saya memandang Trevor dari kejauhan seakan-akan minta pembelaan. “Ayo, buka baju kamu dan cepat ke sini!” teriaknya lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sialan, saya dikerjain!

Dengan jantung yang rasanya mau copot karena nervous, saya pun berlindung di balik batu besar. Sambil menenangkan diri saya berpikir ‘sehat’ (untuk ukuran saya saat itu), “Ah sudahlah, kapan lagi bisa begini? Ga ada orang yang kenal ini.” Perlahan saya membuka seluruh penutup tubuh saya sambil menengok kanan-kiri, rasanya semua mata menuju ke arah saya, mungkin karena saya satu-satunya dan pertama kali ada cewek Asia. Saya menghitung dalam hati, “Satu…dua…tiga!” dan saya pun berlari cepat (mungkin 200 km per jam saking nggak pedenya) ke laut lalu langsung membenamkan tubuh dan kepala saya ke dalam air. Byur! Sekali lagi saya dibikin shock, orang-orang seliweran berenang bugil di depan mata saya yang hanya berjarak satu meter. Saya menarik kepala lagi ke atas, berasa risih. Tapi…di atas yacht pun orang-orang semuanya bugil sambil berjalan-jalan dan minum-minum. Ya ampyun, saya berada planet mana ini? Trevor mendekati saya dan berkata, “Cuek aja lagi. Ayo berenang!” Saya yang sudah bisa menenangkan diri lalu berenang sambil menikmati keberadaan saya di ‘planet lain’. Karena semua orang di sini bugil dan cuek, lama-lama saya jadi tidak merasa aneh atau malu. Rasa air yang melaju di atas permukaan kulit saya tanpa halangan apapun membuat sensasi yang berbeda…

Tidak di semua pantai orang bisa bugil, ada undang-undang khusus yang mengaturnya – Obelisk Beach merupakan salah satu pantai khusus orang bugil yang telah dilegalkan pemerintah Australia. Sebagai seorang beradat ketimuran yang dipenuhi oleh norma (klise nih), berenang telanjang di pantai umum memang tidak pernah terlintas di benak saya. Namun sebagai seorang yang adventurous dan adrenaline junkie, ini merupakan salah satu hal gila dan penuh tantangan yang pernah saya lakukan. Meski kata-kata promosi di website-nya “if you are an outdoor person visiting Sydney, a trip to Obelisk Beach is highly recommended”, tetap saja kembali ke Anda sendiri. Beranikah Anda menerima tantangan?

Read more