Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Jutawan yang Menyamar Jadi ‘Backpacker’

Kalau saya traveling, saya paling anti memberitahu banyak orang tentang rencana kepergian saya. Soalnya pasti mereka akan bilang, “Oleh-oleh ya?”. Tidak tahu dari mana budaya oleh-oleh di Indonesia itu berasal, maksudnya sih sebagai kenang-kenangan tapi kok terasa menyusahkan orang yang pergi. Padahal saya jalan a la gembel, dengan duit terbatas, membawa ransel pula. Oleh-oleh itu harganya mahal tau’, barang-barang suvenir termurah seperti magnet kulkas dan gantungan kunci saja harganya sekitar 2 – 7 Euro atau setaranya dalam Dolar. Apalagi T-Shirt yang rata-rata harganya 2 digit.

Belum lagi kalau ada yang bilang, “Titip ya?”. Males banget! Saya sih bukan seperti teman kantor saya yang bersedia dititipi sepatu merk Vincci. Teman-teman yang lain dengan semangatnya browsing di internet, print gambar sepatu idamannya, dan memberikan gambar tersebut beserta ukurannya kepada teman yang akan jalan-jalan ke Malaysia. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya dititipi Vincci begitu, saya harus meluangkan waktu khusus ke mall, memilih-milih puluhan sepatu, nombokin bayar dulu, dan menggeret koper berat sampai ke Indonesia. Hii! Soal titip-menitip, saya selalu bilang dengan jahatnya, “Hey, titip itu berarti minta tolong dibelikan sesuatu dengan memodali saya uangnya terlebih dahulu. Itupun terserah saya mau apa ngga kan?”. Permintaan titip paling parah ketika teman saya menyembah-nyembah minta dititipi knalpot untuk motor gedenya! Gila apa? Ogah!

Herannya, banyak teman saya yang pasti minta titip kaos dari Hard Rock Cafe, padahal harga selembar polo shirt saja bisa mencapai hampir 450 ribu rupiah. Terus terang saya paling anti masuk ke sana karena tempatnya sangat turis, tidak ada orang lokal yang hang out di sana karena harganya yang mahal untuk makanan yang standar. Tidak seperti di Jakarta dimana Hard Rock sampai saat ini pun merupakan salah satu tempat yang dibanjiri orang lokal. Mungkin karena gaya. Namun saya mengaku, kalau saya nemu Hard Rock Cafe di luar negeri saya tidak kuasa untuk tidak berfoto di depannya, buat nyirik-nyirikin.

Saya paling bela-belain membawakan oleh-oleh atau bersedia dititipi sesuatu bila saya akan nebeng di rumah teman di luar negeri. Yah, sebagai balas budi lah. Biasanya teman-teman Indonesia saya minta dibawakan makanan, seperti abon, serundeng, rendang, lapis legit. Meskipun mereka tidak menyebutkan jumlahnya, tidak mungkin saya hanya bawa sebungkus abon atau sekilo rendang bukan? Nah, kalau teman-teman bule saya yang pernah tinggal di Indonesia, mereka biasanya minta dibawakan rokok 1 slop. Maklum, harga rokok di Indonesia sangat murah sekali dibandingkan harga di sana. Lucunya, ada juga yang minta dibawakan Teh Botol Sosro (tentu saya membawa versi Teh Sosro Kotak) dan permen Kopiko.

Yang paling parah, seorang teman saya di Amerika minta dibawakan ‘sesuatu’ yang akan dikirim adiknya ke rumah saya. Si adik pun datang dengan membawa…1 dus Antangin! Gila, ini masuk angin apa masuk anjing coba? Saya lalu membuka dus tersebut dan membungkusnya dengan kertas kado agar di bagian custom saya tidak rese ditanya-tanya. Pulangnya, teman saya itu – dan teman-temannya yang lain – minta dibawakan pula oleh-oleh untuk keluarga mereka. Alhasil saya disuruh membawa 16 botol gede parfum! Untung saya tidak dikenai pajak, mungkin karena saya menaruhnya di dalam ransel butut, tidak menaruh ransel saya dilalui mesin X-Ray di bagian custom, dan tidak mengaku ada goods to declare.


Bagi saya, definisi ‘oleh-oleh’ itu jenis barang dan harganya terserah yang bawa. Sebagai backpacker, saya biasanya membelikan barang yang murah, ringan, dan berukuran tidak lebih dari segenggaman tangan. Karena saya bekerja di perusahaan yang banyak pegawainya, biar adil saya pasti mencari barang yang kecil dan murah-meriah. Untuk cewek-cewek, saya belikan lipstick, lip gloss, kuteks, atau G-String yang lagi sale. Untuk cowok-cowok, saya belikan korek api, bolpen, pensil, atau coklat versi mini. Untuk sahabat dekat saya, barulah saya agak memutar otak untuk membelikan sesuatu yang lebih spesial. Enaknya kalau ke Amerika, saya bisa beli di Factory Outlet yang menjual barang branded dengan harga sangat miring, seperti kaos merk Gap atau Esprit seharga 3 Dolar-an.

Saya sendiri selalu membawa uang kertas Rupiah limaratusan atau seribuan yang masih licin. Saya paling senang menempelnya di toko atau restoran yang mengkoleksi mata uang manca negara. Sekalian promosi Indonesia gitu. Atau uang tersebut saya berikan kepada teman-teman ‘nemu di jalan’ sebagai kenang-kenangan, lengkap dengan sedikit kata-kata dan alamat e-mail saya. Pasti mereka berkomentar, “Nooo…This is too much!”. Kalau saya lagi mood baik, saya menceritakan tentang mata uang Indonesia yang jeblok banget dibanding Euro atau Dolar. Tapi kalau lagi mood males, saya hanya tersenyum saja biar disangka jutawan yang menyamar jadi backpacker.

Read more

Kelas Bisnis Pakai Piring

Saya baru saja terbang dari Jakarta ke Vienna (Austria), naik Emirates Airlines. Pesawat milik negara UAE ini merupakan airlines favorit saya karena alasan sederhana, harganya relatif lebih murah dan pramugaranya ganteng-ganteng. Saat check in saya bela-belain datang duluan supaya dapat request duduk di paling depan sesudah wall karena cuman di deretan kursi kelas ekonomi itulah lumayan membuat nyaman kaki dalam perjalanan panjang berhubung memiliki ruang yang sedikit lebih lega untuk dengkul saya. Sejujurnya sih, sebenarnya saya menghindari duduk di belakang karena suka malu melihat kelakuan para TKI.

Di Singapura, kami transit selama setengah jam untuk terbang ke Colombo dulu. Saya pun memanfaatkannya dengan nongkrong di smoking room. Begitu masuk lagi, boarding pass saya diganti dari warna hijau menjadi warna biru. Saya tidak perduli dan ikut antri masuk pesawat. Di pintu masuk, saya menyerahkan boarding pass dan pramugari menyapa saya kembali, “Hi, welcome back,”. Lalu ia mendekatkan boarding pass saya ke matanya dan berkata lagi, “Wow! You are on business class!” Hah? Saya pun diantar ke pesawat bagian depan pesawat dengan jejeran kursi besar dan nyaman. Yiihaa, ternyata saya di-upgrade ke business class!

Begitu duduk saya ditawari minuman dengan pilihan orange juice, apple juice, champagne, atau bir. 15 menit kemudian saya ditawari berbagai macam wine atau liquor ditemani dengan penganan kacang yang bukan kacang bundar biasa, tapi kacang mede, almond, pistachio, dll. Saya juga diberi hot towel dengan handuk beneran, bukan kain kertas tipis yang bahannya sama dengan sarung bantal kelas ekonomi dan celana dalam disposable. Kartu menu makanan juga terdiri dari berbagai macam pilihan makanan dan minuman, termasuk wine list lengkap dengan sejarahnya. Kursi kelas bisnis memang sangat nyaman, ada extended kursinya dimana kaki bisa selonjor dan reclining seat yang bisa ‘ngejeblak’. Pokoknya kalau mau tidur tidak perlu susah-susah menekuk-nekuk tubuh, tinggal pencet tombol jadilah tempat tidur. Selimutnya besar dan tebal, bantalnya pun terbuat dari bantal beneran berukuran besar dan dibungkus dengan sarung bantal dari kain katun. Untuk menonton di personal TV, saya diberi headset yang terbuat dari kulit, bukan busa keras seperti di kelas ekonomi. Yang paling asik, saya diberi tas kecil berisi perlengkapan kosmetik bermerk Clarins seperti sabun muka, pelembab, pembersih muka, juga pelembab bibir, mouth wash, sisir sikat, tisu Kleenex, parfum kecil merk Bvlgari, sikat gigi travel merk Oral B dan odol mini. Toilet pun sangat nyaman karena bersih dan interiornya terbuat dari marmer.

Makanan disajikan secara table service dan full course, mulai dari salad dengan pilihan dressing, berbagai macam roti hangat, appetizer, main course (dengan porsi besar), buah-buahan mahal, macam-macam keju, coklat, dan terakhir dessert yang tinggal dipilih dari troli. Minuman juga terserah, terdiri dari segala macam jenis minuman keras dan ‘minuman lunak’. Yang membedakan kelas bisnis dan kelas ekonomi adalah tempatnya. I see the real plate! Tidak seperti di kelas ekonomi yang terbuat dari plastik dan stereofoam, di kelas bisnis semua makanan menggunakan piring dan mangkok yang terbuat dari keramik, dan gelas yang beneran terbuat dari gelas. Garpu dan pisau juga serius, terbuat dari perak, bukan plastik. Garam dan lada menggunakan tempat yang juga terbuat dari keramik, bukan dari sachet. Semua makanan dihidangkan panas dan tidak terbungkus alumunium foil atau plastik. Benar-benar serasa makan di restoran fine dining. Sehabis itu saya dengan nyenyaknya tidur di antara orang-orang tua yang berpakaian business suit (sementara saya pakai T-Shirt baseball, celana training, sepatu kets, dan rambut awul-awulan). Satu lagi, hanya di sinilah saya dipanggil dengan ‘Madame xxxxxxxxx’ (nama keluarga saya) setiap mereka menawarkan sesuatu atau mengajak bicara. Wih!

Transit 2 jam di Dubai, saya manfaatkan dengan masuk ke lounge khusus kelas bisnis Emirates. Kucluk-kucluk saya mendaftarkan diri, sampai petugasnya mengerutkan alis karena tak percaya melihat gaya saya yang bukan penumpang kelas bisnis sama sekali. Di situ diberi sarapan gratis a la buffet dengan makanan serius, mulai dari scrambled eggs, bacon, ham, corn flakes, pancakes, macam-macam roti, aneka juice, kue, buah, kopi, you name it. Disediakan juga seperangkat komputer dengan flat screen plus koneksi internet gratis, bisa sambil merokok pula.

Saat boarding, penumpang kelas bisnis lah yang dipersilakan masuk ke pesawat duluan. Saya jadi berasa super star dengan berdiri duluan sambil dipandang oleh ratusan pasang mata orang yang tak percaya.

Maaf, saya memang kampungan. Kalau bukan karena hoki, saya yang backpacker mana mungkin duduk di kelas bisnis pesawat karena tak sanggup bayar. Tak usahlah saya menceritakan mengapa saya tiba-tiba di-upgrade ke business class, nanti judulnya ‘I’m just a lucky bastard part 2’ lage!

Read more

Bugil di Danau Es

Finlandia, akhir Oktober 2005


Banyak orang di Indonesia, terutama di Jakarta karena saya tinggal di sana, berasumsi salah mengenai sauna. Mereka pikir (mungkin Anda juga) sauna itu berfungsi untuk menguruskan badan sehingga makin menjamur pula tempat sauna di Jakarta, terutama di pusat kebugaran sebagai bagian dari fasilitas untuk ´menguruskan´. Bahkan saya sering menemui orang yang khusus datang ke pusat kebugaran hanya untuk sauna, tanpa berolah raga sama sekali. Dengan keringetan, mereka pikir badannya akan otomatis kurus. Henna, teman saya yang orang asli Finlandia menganggap kebiasaan sauna orang Indonesia ini sangat lucu, sampai-sampai saya diundang khusus untuk merasakan sauna di negara asalnya. Ya, tradisi sauna sendiri berasal dari Finlandia yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Setiap satu dari tiga orang penduduk di sana yang berjumlah 5,1 juta orang bahkan mempunyai sauna sendiri di rumahnya.

Di Helsinki, ibu kota Finlandia, saya sengaja pergi ke tempat sauna publik bernama Yrjönkatu. Tempat ini dibangun pada tahun 1928 di antara kompleks bangunan tua di tengah kota dengan arsitektur yang impresif. Begitu saya masuk dengan membayar 3 Euro, saya takjub dengan pemandangannya: semua orang berbugil ria! Rupanya di tempat ini semua orang diwajibkan untuk bugil – meski dengan versi lebih ´sopan´ dimana pria dan wanita dipisah hari bukanya. Untung saya datang pas hari Jumat, hari bugil wanita. Karena saya datang pagi hari di hari kerja, sebagian besar pengunjungnya adalah nenek-nenek. Saya pun pede untuk bugil saat itu, apalagi kalau dibandingkan dengan mereka yang sudah ngelomprot. Hehe! Di dalamnya juga terdapat kolam renang indoor berukuran 25 x 10 m dengan interior a la Yunani, banyak pula nenek-nenek berenang bolak-balik bahkan bersalto bugil. Hebat! Di sisinya terdapat 2 buah ruang sauna besar, yang satu bersuhu 75 derajat Celcius dan satu lagi 85 derajat Celcius, lagi-lagi banyak nenek-nenek bugil ngerumpi. Nikmatnya jadi nenek di Finlandia! Urutan bersauna a la orang Finnish adalah: mandi di pancuran yang tersedia, sauna selama beberapa menit saja dengan mencipratkan air ke batu di dalam pembakaran terus menerus sehingga keluar uap panasnya, lalu mandi lagi atau berenang, sauna lagi, dan begitu seterusnya.

Pengalaman sauna kedua, saya dan Louise (seorang teman dari Swedia) diundang ke rumah orang tua Henna di pinggir danau kota Verla, sekitar 200 km dari Helsinki. Mereka mempunyai 2 buah sauna, satu di dalam rumah induk dan satu lagi merupakan rumah terpisah yang terletak persis di pingir danau. Kami pun diajak Henna untuk merasakan tradisi sauna mereka, dimana Henna asik terus menerus menuangkan air ke dalam pembakaran sehingga menghasilkan uap yang sangat panas sampai saya pun susah bernapas. Sepuluh menit ngobrol sambil minum bir dingin (seharusnya sih tidak boleh minum alkohol sama sekali), jam 8 malam di musim salju dengan suhu 0 derajat Celcius kami disuruh ke luar dengan hanya berbelit handuk berjalan terseok-seok di antara salju yang turun sejak 2 hari yang lalu. Dan inilah klimaksnya, kami semua wajib (lagi-lagi) bugil menceburkan diri ke dalam danau air es! Ujung jempol kaki saya saja rasanya beku saat berjalan di salju, ini seluruh badan harus nyebur di air es! Brrr!!

Begitulah intinya, sauna bertujuan untuk menghaluskan kulit, relaksasi, mempercepat detak jantung sehingga memperlancar pernapasan dan sirkulasi darah, dan menstimulasi metabolisme. Uap yang dihasilkan dari cipratan air ke batu di perapian lah yang disebut dengan sauna, lah dalam bahasa Indonesia saja disebut mandi uap. Sehabis sauna selanjutnya wajib menceburkan diri di air yang sangat dingin, panas dingin – panas dingin, begitu seterusnya. Berdeda dengan kebiasaan di Indonesia yang sukanya duduk berlama-lama di dalam ruang sauna tanpa uap, kalau bisa selama mungkin sampai kemringet, lalu mandi dan pulang. Ngomong-ngomong, saya jadi ingat komentar seorang teman yang pertama kali merasakan sauna, “Wah, ini sih ngga usah mahal-mahal bayar ke sauna segala, lah wong pengapnya serasa di dalam bis Metro Mini yang penuh!“

Read more

Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu

Bicara tentang ukuran kecanggihan airport, menurut saya hal itu tergantung dari sistem bagasi di area baggage claim. Airport yang bagus dan canggih harus mempunyai conveyor belt – ban berjalan tempat kita menunggu bagasi dipindahkan dari pesawat ke ruang pengambilan bagasi. Kategori bagasi pesawat bisa berupa koper, ransel, tas tenteng, papan surfing, tas golf, sampai ke dus. Percaya deh, saya cuman melihat banyak dus di bagasi pesawat kalau yang punya orang asal Asia Tenggara!

Airport internasional di Amerika atau Eropa adalah contoh airport yang canggih, convetor belt-nya banyak dan berjejer sesuai dengan banyaknya pesawat yang lepas landas dari airport tersebut yang dapat dibedakan dari tampilan layar TV yang tersedia. Bahkan ada yang bentuk belt-nya tidak rata melainkan naik turun bagaikan lift, tambah lagi dengan traffic light khusus, hijau bila bagasi sudah boleh diambil, merah bila bagasi belum boleh diambil. Di sana dilengkapi juga rambu-rambu lalu lintas, yang artinya tidak boleh begini tidak boleh begitu.

Bagaimana di Indonesia? Meski hanya sepanjang 5 meter seperti di airport Jambi, pokoknya ada conveyor belt dan beroperasi dengan baik. Nah itu lumayan canggih menurut saya. Airport di kota-kota lain di Indonesia juga kurang lebih sama, paling tidak punya conveyor belt. Sedangkan airport di Denpasar, Balikpapan dan Manado saat ini merupakan salah tiga airport yang tecanggih menurut saya karena conveyor belt-nya paling panjang dan berliuk. Horee! Bukannya saya conveyor belt fetish, tapi mengingat koper itu rata-rata besar dan berat, seharusnya setiap airport memikirkan dan mengimplementasikan cara yang paling efektif demi kenyamanan para penumpang – dan tentunya demi segi kemanusiaan para petugas transfer bagasi.


Di airport Samarinda (Kalimantan Timur) yang kecil, saya bisa ke luar ruang tunggu dan nongkrong di pinggir landasan memperhatikan aktivitas pengambilan bagasi. Caranya begini, bagasi satu per satu diturunkan dari pesawat. Lalu tumpukan tersebut diletakkan di troli super besar terbuat dari besi. Bukannya ditarik dengan mobil, namun troli tersebut ditarik oleh seorang laki-laki berseragam SMA (baca: seorang laki-laki ABG) dari tempat parkir pesawat ke ruang tunggu yang berjarak sekitar 300m! Troli lalu diparkir persis di luar ruang tunggu, dan voila – silakan cari bagasi Anda di antara ratusan tumpukan koper dan dus di siang bolong! Inilah saat yang menyebalkan, antara porter, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, semuanya berebutan mengubek-ngubek dan mengambil barang. Belum lagi saling berteriak kalo ada yang dituduh salah ambil. *keluh*


Di airport Siam Reap (Kamboja), lebih mending sedikit. Memang saya tidak bisa melihat bagaimana bagasi ditransfer dari pesawat ke ruang tunggu, tapi di tempat pengambilan bagasi yang ber-AC ada pintu kecil dimana semua orang mengerubung di depannya. Saya malas berebutan berdiri di depan gerombolan orang, malas bersaing dengan bule-bule sebesar kulkas. Betul saja, begitu pintu kecil dibuka, ada 2 orang petugas yang melempar koper-koper dari dalam pintu dan kita harus berebutan menangkapnya! Bukannya nangkep rambutan, ini sih koper ‘segede bagong’ melayang-layang di udara dan hup, bisa mejret saat menangkapnya bukan? Sesuailah dengan keadaan airportnya dimana pengumuman naik pesawat dilakukan petugas dengan tidak menggunakan pengeras suara sentral, tapi pakai toa – pengeras suara yang bisa ditenteng kemana-mana, persis seperti di sekolah saat guru menyuruh kita upacara bendera.

Read more

Orang Indonesia Juga Manusia

Apakah negara Indonesia cukup ngetop di luar negeri? Ya, bila Anda bertanya kepada orang yang berasal dari negara yang letaknya dekat dengan Indonesia, contohnya orang dari negara-negara Asia dan Australia. Atau tanyalah kepada orang yang berasal dari negara dimana banyak orang Indonesia sering pergi ke sana karena orang Indonesia terkenal suka shopping, sampai-sampai tukang jualan di luar negeri pun banyak yang bisa berbahasa Indonesia meskipun hanya bahasa pasar.

Namun jika Anda pergi ke negara yang ‘tidak biasa’, banyak juga yang tidak tahu di manakah letak negara Indonesia. Kalau jawaban saya ‘in South East Asia’ tidak cukup dimengerti (bisa jadi mereka tidak mengerti arah mata angin), saya kadang mengatakan ‘near Australia’, atau dengan versi ‘between Singapore and Australia’. Padahal jauh banget! Kalau saya bete dengan orang yang tidak tahu Indonesia tapi sok tahu, saya suka bilang, “We have 17,000 islands with 250 million people. Your country is nothing. How come you don’t know my country, stupid!” (tentu kata terakhir saya ucapkan dalam hati saja).

Jika menginap di hostel, kita wajib mendaftarkan diri dan menyebutkan asal negara karena kebanyakan hostel bersistem keanggotaan. Seringkali saat saya menginap di hostel di kota kecil dan/atau di negara yang ‘tidak biasa’ dikomentari, “Indonesia? Humm… there’s no Indonesia in our list. You are the first Indonesian who’s staying here.” Haruskah saya bangga? Tidak juga, karena jarang sekali orang Indonesia yang menginap di hostel gembel seperti saya. Ironisnya orang Indonesia justru terkenal borju di kota besar di negara ‘biasa’. Saat saya menginap di hostel di Paris, saya ‘dituduh’ begini, “Why are you staying here? Indonesians are rich, they love shopping and go on tours with luxury busses!”

Saya ‘bangga’ menjadi seorang Indonesia ketika saya di Belanda atau di Australia. Hanya dengan bau rokok kretek saya, mereka bisa mengidentifikasikan bahwa saya orang Indonesia. Terharu juga mendengar mereka berkata, “Humm…I smell kretek. I miss Indonesia very much!” – selanjutnya mereka bercerita tentang indahnya negara kita dan betapa ramah orangnya. Kalau bukan karena bau kretek, saya pasti dituduh orang Vietnam atau Filipina, dua negara yang orangnya banyak jadi imigran di mana-mana.

Pernah juga tiba-tiba orang di sekeliling saya tahu saya orang Indonesia tanpa menanyakan atau ‘membaui’ saya. Waktu itu saya sedang boarding di airport Brisbane, Australia, dan TV di ruangan pas menayangkan kejadian rusuh di Indonesia. Seketika saya dipelototi orang satu ruangan dan orang di sebelah saya bertanya sambil menyindir, “That’s the country you’re from, right?” Saya hanya meringis dan menjawab, “Well, that’s why I’m here! Holiday!” Saya akui, jawaban saya tidak patriotik.

Namun menjadi orang Indonesia bisa menguntungkan dengan cara yang ajaib: naiklah taksi yang disupiri imigran di negara barat. Karena tahu saya orang Indonesia, seorang supir taksi keturunan Arab di Atlanta, AS, tidak mau dibayar dengan alasan sangat sederhana, “I love Indonesia! They make good sarong for sholat.” Karena saya orang Indonesia, lagi-lagi saya dikasih gratis naik taksi di Christchurch, New Zealand, dengan alasan ajaib supirnya, “You are from Indonesia? Wow! I’m from India!” Apa coba?

Secara statistik pribadi, orang asli Amerika adalah orang yang paling tidak tahu Indonesia ada di mana. Mungkin karena saya pergi ke negara bagian non California, atau karena orang Amerika merasa super power sehingga tidak belajar tentang negara lain. Pertanyaan yang sering diajukan setelah saya menyebut saya berasal dari Indonesia adalah, “Where is that?” atau “Is it near Bali?”. Versi parahnya adalah, “Indonesia? It’s close to Guam right?” Sebel! Paling parah ketika saya ditanya-tanya tentang Indonesia oleh seorang bapak-bapak super bawel yang duduk di sebelah saya di pesawat Singapore Airlines dari San Francisco. Dia bertanya mulai dari Indonesia letaknya di mana, berapa jauh, ibukotanya apa, sampai ke pertanyaan, “What do Indonesians eat for breakfast?” Dengan juteknya, saya menjawab asal saja, “Bread, cheese, bacon, and egg.” Eh dia dengan seriusnya bertanya lagi, “Really? Same here, we eat that for breakfast.” Ih, males!

Read more