Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

I’m just a lucky bastard!

Saya punya teman chatting yang sudah 3 bulan ngobrol on and off. Dia seorang lelaki berusia 36 tahun, seorang Indonesia yang sudah tinggal di Amerika selama 15 tahun – kita sebut saja si Mr.X. Obrolan kami tidak intens, tidak ada motif apa-apa, hanya ngobrol ngalor-ngidul tentang hal-hal yang tidak penting. Itupun jarang karena dia sangat sibuk dan karena perbedaan waktu kedua negara. Kami juga tidak pernah tahu dan tidak mau tahu personal life masing-masing, bahkan tidak pernah kirim-kiriman foto.

Saya ingat hari Jumat tanggal 19 Oktober 2001, saya sedang chatting dengan Mr.X. Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan kepada saya, “If I could buy you a ticket to US, where do you wanna go?”. Saya jawab asal saja, “Texas”, karena saya ingin ketemu Sri, sahabat saya yang sedang mengambil kuliah di sana. Lalu dia menanyakan kapan saya mau pergi dan kapan mau pulang beserta nomer fax saya. Saya pun menjawab dengan santai tanpa tendensi apa-apa, “Next week, for 2 weeks. My fax number is +6221xxxxxxx.” Chatting pun berakhir. Satu jam kemudian dia meninggalkan pesan di e-mail saya bahwa bahwa dia sudah booking tiket pesawat United Airlines ke Amerika Serikat dengan nomer kode booking sekian sekian sekian! Hah?

Siapa yang bisa percaya dengan kegilaan virtual seperti ini? Tapi masak sih dia bisa tahu kode booking segala? Saya pun memperhatikan huruf dan angka-angka di e-mail saya, hmm, sepertinya memang kode booking. Setengah ragu-ragu saya menghubungi kantor United Airlines di Jakarta. Dan…huruf dan angka itu ternyata benar-benar sebuah tiket atas nama saya! Si Mbak bagian reservation lalu bertanya, “Boleh saya tahu nama lengkap orang yang booking ini? Kita perlu untuk verifikasi.” Yah bengonglah saya karena saya memang tidak tahu nama aslinya, hanya tahu nickname-nya saja. Sungguh tidak lucu, ini pasti hanya permainan belaka. Konspirasi macam apa ini? Malam harinya saya menceritakan kejadian ini kepada Sri via chatting. Tentu saja Sri juga tidak percaya, malah menantang balik, “Lu nyampe dulu dah di Dallas, baru gue percaya!” *keluh*

Hari Senin siang tiba-tiba ada fax masuk ke kantor saya berupa fotokopi e-tickets United Airlines, lengkap dengan jadwal penerbangan: berangkat tanggal 27 Oktober 2001 Singapore – Los Angeles – Dallas dan kembali tanggal 9 November 2001! Gilaaa! Saya pun terduduk lemas, antara percaya dan tidak percaya. Dengan waktu keberangkatan yang tinggal 4 hari lagi, saya kalang kabut mencari tiket Jakarta-Singapura pp yang termurah, dapatlah naik Emirates Airlines yang cuman 100 US$. Saya lalu menelepon Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk memastikan apakah visa Amerika saya yang bakal expired bulan Desember 2001 masih bisa dipakai. Ternyata Kedutaan sedang tutup karena kejadian 911, tapi si operatornya mengatakan bisa. Waduh!

Perasaan senang bercampur dengan kecurigaan pun timbul: Jangan-jangan ini jebakan dari teroris? Siapa yang mau terbang ke Amerika setelah tragedi 911? Siapakah Mr. X? Bagaimana kalau saya diculik? Atau pesawat saya dibom? Namun naluri untuk traveling ditambah dengan adrenalin yang memuncak telah mengalahkan logika saya. Dengan persiapan mepet dan duit seadanya, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Kapan lagi bisa ke Amerika GRATIS? Tak disangka tak dinyana, akhirnya sampailah saya di Dallas dengan selamat dan tidak menemui kesulitan apapun dengan e-tickets yang hanya berupa kertas fax. Saya lalu menelepon Sri yang akhirnya datang menjemput saya dengan mata terbelalak karena tidak percaya.

Itu belum selesai. Tanggal 31 Oktober 2001 pagi, saya menumpang online di apartemen Sri yang lagi ngantor. Eh Mr.X online juga, saya pun mengucapkan terima kasih. Dia lalu bertanya, “What are you gonna do for the next 9 days in Texas? There’s nothing there.” Saya mengatakan bahwa saya mau santai saja, lagian besok saya mau jalan-jalan ke San Antonio. Tau-tau dia bertanya lagi, “If I could buy you a ticket again, where do you wanna go?” Saya njeplak aja nyaut, ”Caribbean”. Lagi-lagi dia bertanya kapan saya mau berangkat dan nomer fax. Ah gila, this is too good to be true! Siangnya sambil marah-marah karena sirik, Sri memberikan fax e-tickets dari Mr.X. Beneran lho atas nama saya, naik Delta Airlines, Dallas – San Juan – Dallas, berangkat 4 November 2001, kembali 7 November 2001! Can you believe it? Saya bisa terbang ke Puerto Rico GRATIS (lagi)!

Boleh percaya, boleh tidak. Tapi ini adalah based on true story yang saya alami sendiri – bisa liburan di Amerika Serikat dan Puerto Rico gratis karena dikasih tiket sama orang yang belum kenal bahkan belum pernah ketemu sama sekali! Good people does exist. Miracle did happen. Saya yakin pasti Anda sirik pidik membaca ini, sama seperti semua teman saya yang pernah mendengarnya. Dan setelah membaca ini, saya yakin pertanyaan pertama yang keluar dari Anda adalah, “Mau dong dikenalin sama Mr. X!” Betul kan?

Read more

Percaya website = dideportasi

Saya melihat kalender Mei 2003, aha, minggu depan ada tanggal merah 3 hari dalam 1 minggu – lumayan dengan modal 2 hari cuti bisa dapat 9 hari http://viagracanadausa.com/ liburan! Saya pun berencana plesir ke luar negeri bersama ibu saya dan seorang teman berhubung kami bertiga sama-sama impulsif.

Dari hasil nonton ‘Wild on E’ membuat kami tertarik pergi ke Cyprus, sebuah pulau kecil di Eropa dekat dengan Italia. Kami pun sibuk mencari informasi via internet. Sedap, bisa masuk tanpa visa. Lagipula saking kecilnya itu negara sampai tidak ada kedutaan besarnya di Indonesia.

Kami pun terbang naik Emirates, Jakarta – Singapore – Dubai – Larnaca. Sampai di Dubai, kami langsung check-in di konter untuk penerbangan selanjutnya ke Larnaca, ibu kota Cyprus.

Sampai di depan petugas counter, kami ditanya soal visa. Dengan muka bego kami menjawab, “Do we need visa? We were told that we don’t need visa to get in Cyprus.

No, Ma’am. You need visa to go to Cyprus”, kata si petugas. Waduh, mampus!

No, we don’t. Look at these websites, even the Cyprus Tourist Office said we don’t need visa”, sambil kami memberikan hasil print dari beberapa website.

Website doesn’t guarantee you can get in, but we believe on our system which says you can’t”, jawabnya lagi.

Oh tidak! Setelah bersitegang sana-sini dan akhirnya merayu-rayu namun apa daya tidak berhasil, kami disuruh duduk di pojokan… sampai semua orang naik pesawat dan kami ditinggal!

Rupanya ada 4 orang lain yang bernasib sama dengan kami. Ibu dan anak asal South Africa, dan sepasang suami istri asal Sri Lanka. Kami pun berbincang-bincang. Si Sri Lanka mengatakan bahwa dia seorang businessman dan sudah 3 kali bolak-balik Cyprus tanpa visa. Si South Africa mengatakan bahwa Cyprus itu hanya pulau kecil tempat turis dan bisa dapat visa on arrival. Sial banget kan?

Alhasil kami semua digeret ke sebuah ruangan, dikerubutin orang-orang berseragam, diinterogasi ini itu, lamaaa banget. Kami bertiga hanya menunduk sambil dituding-tuding, padahal kami berusaha setengah mati menahan tawa saking begonya kejadian ini. Akhirnya diputuskan bahwa kami semua harus segera dipulangkan ke negara kami masing-masing! Waduh!

Saya pun maju dan berbisik memelas, “Sir, we’re on holiday. We can’t go back to work anyway since we already took our annual leave. Where can we spend holiday to any country on the way back to Jakarta which does not require visa?”. Si petugas pun mengetik-ngetik sesuatu di komputernya, lalu berkata, “Sri Lanka?” Tanpa pikir panjang, saya tersenyum dan merayu lagi, “OK, Sir. Please take us there first and back to Jakarta like a week later. Could you please make it? Please?”. Si petugas lalu ‘melempar’ kami ke lantai 2 di kantor Emirates bagian re-routing tickets.

Sementara diproses, kami disuruh menunggu di airport. Wah saya kenyang dengan window shopping terlama seumur hidup saya. Perut pun sudah kembung karena nongkrong dari satu kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Saya pun hapal setiap sudut airport, di mana saya bisa tidur di tempat yang sepi, di mana saya bisa akses internet, dan toilet mana yang paling bersih.

Bila Tom Hanks akhirnya berpacaran dengan Catherine Zeta-Jones dalam film ‘Terminal’, saya jadi percaya bahwa film itu true story. Karena harus bolak-balik mengurus tiket, saya akhirnya berkenalan dengan petugasnya. Cowok guanteng, tinggi, berkaca mata, yang sudah saya incar sejak kami ‘dilempar’ ke kantor itu. Sebelas jam kemudian… good news, rayuan saya berhasil.

Keesokan harinya kami dipulangkan ke Indonesia dengan tiket Dubai – Colombo – Singapore – Jakarta. Artinya, kami dapat berjalan-jalan di Dubai dulu (visa UAE bisa didapat dengan membeli paket hotel yang tersedia di counter airport). Kedua, kami diperbolehkan pulang ke Jakarta seminggu kemudian setelah sampai di Colombo (jadi kami bisa traveling dulu keliling Sri Lanka, bahkan bisa extend ke Maldives – tempat yang selalu saya impikan pergi ke sana). Ketiga, saya dapat cowok ganteng (yang sebulan kemudian menyusul saya ke Jakarta)!

Catatan: Meskipun terlambat, akhirnya saya tahu bahwa untuk pergi ke Cyprus, pemegang paspor Indonesia dapat apply visa di Kedutaan Besar Inggris karena Cyprus masih berstatus negara jajahannya. Tapi sampai saat ini saya tidak tertarik tuh ke sana, hehe!

Read more

Don’t Touch the (Women) Dancer!

Catatan: 17 tahun ke atas!

Mari kita ke Strip Club – acara hiburan malam melihat pertunjukan orang bugil menari – just for fun. Bisa jadi Anda malah merasa kasihan daripada enjoy the show. Perlu diketahui, strip club itu terbagi dua jenis, strip club cowok berarti penarinya adalah cewek, begitu juga sebaliknya strip club cewek penarinya adalah cowok.

Pengalaman pertama saya ke strip club sebenarnya tidak direncanakan. Tahun 1997 saat saya training di kota Atlanta, teman-teman dari headquarter mengajak saya ke sana. Risih juga saya diajak sekelompok cowok-cowok untuk menonton cewek-cewek bugil. Tapi penasaran.

Kami ke Gold Club yang merupakan strip club paling sukses di East Coast Amerika. Benar saja, saya satu-satunya cewek di antara seluruh tamu. Ih, jangan-jangan saya disangka lesbian. Di strip club cowok, tamu tidak boleh sama sekali menyentuh para penari. Sampai di dindingnya pun terdapat banyak signage “Don’t touch the dancer!“. Bahkan DJ-nya bisa memperingatkan langsung lewat pengeras suara dengan menyebutkan nomer meja bila ada tamu yang mencoba-coba ‘ngelaba’. Seperti saat tamu menyelipkan uang tip ke tali yang dilingkarkan di paha penari tapi jari-jarinya ‘nyolek’ bagian lain. Ironisnya penari cewek benar-benar dilindungi hukum anti sexual harrasment, meski profesi mereka adalah stripper.

Di Gold Club, stok penarinya sangat variatif dalam hal warna kulit dan ukuran tubuh. Tamu juga bisa memanggil salah satu penari untuk menari secara private di depan kita dengan biaya ekstra. Bos saya pun iseng ‘ngerjain’ salah seorang teman. Uh, ‘tu penari dengan ‘mupeng’-nya meliuk-liukan tubuhnya di depan teman saya, mendekatkan buah dadanya, menggetar-getarkan, bahkan nungging close-up di depan muka! Teman saya yang rasis lalu berkomentar, “Dasar orang item, sampe dalem-dalemnya pun uitem banget!”.

FYI, tahun 2001 klub ini ditutup karena skandal seks terbesar yang terjadi dalam sejarah olah raga profesional Amerika. Saa itu, bintang NBA Patrick Ewing dan pemain baseball Atlanta Braves Andruw Jones ketahuan menerima oral sex dari penari. Pemilik klubnya pun dituntut denda 5 juta dolar dan 3-5 tahun penjara. Nah, siapa yang salah dong?

Bagaimana dengan strip club khusus cewek? Tahun 2001 saya ke La Bare, di Dallas, Texas. Cover charge-nya cuman $5, tempatnya super besar seperti diskotik. Surprisingly di malam weekday isinya lumayan penuh dengan wanita pekerja. Di depan club terdapat main stage tempat pertunjukan stripper utama. Di berbagai tempat ada stage-stage kecil. Masing-masing terdapat 2 – 3 cowok bertubuh oh-my-goodness-bagus-banget berjoget dengan hanya mengenakan G-String.

Karena ini pengalaman pertama bagi kami semua maka kami memilih duduk dekat main stage. Pertunjukan dimulai dengan satu per satu cowo menari di main stage dengan sedikit drama. ada drama koboy, kinky, romantis, dsb. Intinya, mereka menari eksotis sembari mencopot bajunya satu satu sampai tinggal ‘tutupan’ penis.

Tidak seperti strip club cowok, di sini para tamu wanita boleh maju ke depan, memegang-megang tubuh penari (sambil mengkhayal tentunya), memberikan tip, dan mendapat tanda terima kasih berupa ciuman. Tentu saja saya maju! Hiii… bodinya memang slurph banget: gede berotot, perut kotak-kotak, kulit mulus tanpa selulit, dan mukanya yang cuakep-cuakeep. Kesimpulan saya, berdasarkan hukum supply and demand, bahwa cowok menyenangi cewek dengan berbagai bentuk dan ukuran, sementara cewek menyenangi cowok dengan satu tipe, yaitu bagus saja. Setuju kan, cewek?

Bagaimana di negara sendiri? Saya pernah ke salah satu diskotik di utara kota Semarang yang katanya ada pertunjukan penari bugil. Semarang gitu loh! Masuknya aja pake ngotot-ngototan sama bouncer karena peraturannya wanita saja tidak boleh masuk karena… takut mengambil jatah ‘jualan’ para pelacur di sana! Sial, apakah kami punya tampang pelacur?! Setelah saya ngamuk-ngamuk, akhirnya si bouncer memperbolehkan saya dan teman-teman wanita saya masuk.
Mulanya sih ada live band, tapi mainnya kelamaan – mending bagus – sampai kita semua teriak-teriak, “Hoy, cepetan napa?” Akhirnya keluarlah si penari. Loh, kok berpakaian lengkap? Rupanya dia menari-nari jaipongan dulu lah, dangdutan dulu lah, yang bagi saya kelamaan dan ga penting. Lalu satu per satu bajunya dicopot. Aha! Tapii…akhir dari acara buka-bukaan ini, ternyata dia memakai baju senam dan legging berwarna emas! Huuuuuu! Kami pun segera beranjak pulang. Maklumlah, saya bukan Moammar Emka yang punya akses mudah ke ‘negeri Sodom dan Gomorah’ sehingga ia bisa menulis 2 jilid buku ‘Jakarta Undercover’.

Read more

Terkutuklah Edinburgh

Edinburgh, Scotland, Februari 1995

Pergi ke kota ini tidak direncanakan. Saat saya berlibur di London, tiba-tiba saja salah seorang teman saya memberikan surprise dengan menghadiahi tiket pesawat pulang pergi ke Edinburgh. Saking surprise-nya, tiket diberikan 2 jam sebelum keberangkatan! Siapa yang menolak coba? Meski agak panik juga karena sama sekali tidak ada persiapan, tidak tahu mau ke mana, menginap di mana, dan naik apa.

Begitu pesawat British Airways mendarat siang hari, kesialan pertama terjadi: saya kehilangan topi baseball kesayangan yang tertinggal di pesawat. Sampai di tengah kota, saya mendapat hostel yang ternyata butut banget yang sangat tidak sesuai dengan promosi di brosur. Sorenya saya terkunci lama di dalam mall karena tidak tahu bahwa mall tutup jam 5 sore dan saya sedang ada di toilet. Malamnya di restoran Burger King, saya ditangkap 3 orang security dengan badan segede kulkas karena disangka ngeganja, padahal saya merokok Gudang Garam! Fuih…serangan bertubi-tubi menyerang saya di kota Edinburgh hanya dalam beberapa jam.

Karena buta mengenai kota ini, besoknya saya berencana ikut tour ke sebuah danau yang konon masih ada monster raksasa yang menyeramkan bernama Loch Ness. Saya pun pergi ke Tourist Information Office di Waverley Market dan mencari brosur sambil berpikir keras memilih salah satu paket yang paling terjangkau dompet. Saya lalu mengantri di depan loket pemesanan paket tour yang dijaga oleh seorang ibu berkulit putih berumur sekitar 40an dengan rambut warna keemasan yang digelung a la french twist dan pakaian yang rapih.

Di depan antrian ada 5 orang, persis di depan saya ada seorang cewek Jepang. Begitu giliran si Jepang, si ibu petugas loket tidak memandang muka si Jepang ini sama sekali. Si ibu kebanyakan menjawab “No” sambil menatap langit-langit pura-pura budeg akan apa yang dikatakan si Jepang. Saya pun mendekat, mau nguping apa yang mereka bicarakan. Oh rupanya paket tour sudah habis, tapi muka si Jepang terlihat begitu sedih bahkan hampir menangis.

Giliran saya pun tiba. Dengan sopannya saya menanyakan paket tour sambil menunjuk brosur. Begitu saya memandang si ibu, hah, si ibu juga memandang langit-langit sambil berkata dengan intonasi datar, “No tour today.” Saya menanyakan lagi paket tour lain yang juga ke Loch Ness. Dengan gaya yang sama si ibu juga menjawab, “No,” dengan nada yang tambah tinggi. Saking kesalnya saya menunjuk beberapa paket tour yang makin lama makin mahal, penasaran sama reaksi si ibu keparat ini. Dia pun menjawab dengan nada yang tinggi, “I said NO tour today!

Saya pikir karena dia marah, dia akan memandang saya, ga taunya dia tetap memandang langit-langit! Saya pun berjalan melengos sambil melihat si ibu dengan ekor mata saya. Saya melihat si ibu mengambil kain dan berkali-kali melap meja tempat saya menopangkan tangan! Sialan, memangnya saya bervirus membahayakan apa?!

Saya pun ngumpet di balik rak brosur, pengen tahu apa yang akan dilakukan si ibu terhadap 1 cewek bule yang mengantri di belakang saya. Hah? Raut muka si ibu tiba-tiba berubah menjadi sangat manis dan penuh senyum, menunjuk-nunjuk brosur, menerangkan tempat-tempat yang akan dikunjungi, dan akhirnya cewek bule ini membayar tour yang sama seperti yang saya inginkan! Darah saya langsung mendidih. Apalagi antrian berikutnya yang semuanya bule dilayani dengan baik dan ramah, ada eye contact, tanpa lap meja.

Saya segera beranjak ke luar, mau merokok untuk menenangkan diri. Tadaaa, saya melihat beberapa mini bus yang sedang parkir dengan nama Tour Operator dan paket yang saya ingin ikuti. Tour guide-nya membenarkan bahwa mereka akan pergi tour ke Loch Ness, ia bahkan mengatakan, “We have lots of empty seats here.” APA?

Saya langsung merepet panjang menceritakan bahwa si ibu keparat di dalam bilang tidak ada tour hari ini bla bla bla… sampai akhirnya saya baru sadar bahwa saya terkena diskriminasi rasial! Suatu kata yang selama ini saya bayangkan hanya terjadi pada orang kulit putih yang merasa superior terhadap kulit hitam pada masa perbudakan. Saya pun segera menelepon British Airways untuk mengganti tanggal kepulangan ke London. Secepatnya

Catatan: Tidak semua Scottish itu racist. Saya punya beberapa teman Scottish kok. Dan mereka tidak racist.

Read more

C-130, S-58, CN-235, ATR-42, LET 410 UVP-E…

Naik pesawat terbang jenis Fokker, Boeing, atau Airbus, dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 100-an orang sudah biasa. Pernahkah Anda terbang naik pesawat non komersial atau bahkan naik pesawat kecil berbaling-baling? Wah, seru banget!

Tahun 1983 kami naik Hercules C-130, pesawat kargonya TNI AU, karena belum ada pesawat komersial yang terbang ke Dili, Timor Timur. Naik Hercules serasa naik angkot karena duduknya hadap-hadapan. Tempat duduknya bukan berbentuk jok, tapi semacam hammock panjang menempel di sepanjang pinggiran pesawat sehingga duduknya ‘enjot-enjotan’ seirama dengan goncangan pesawat. Jendelanya kecil-kecil dan susah untuk melihat apa-apa karena harus berbalik badan 180 derajat. Di tengah alley adalah tempat menaruh barang-barang, ada meriam, container, koper, sampai burung. WC-nya digantung sehingga kalau mau pipis (jangan harap bisa buang air besar) dikatrol ke bawah lalu ditutupi terpal.

Peraturan naik Hercules: penumpang tidak boleh tahu rute terbang, yang penting sampai di tujuan akhir – jadi bisa saja sampai cepat, atau memakan waktu seharian karena kebanyakan mampir. Saking rahasianya, pas mendarat baru bisa tahu sedang ada di mana – pernah kami ‘nyasar’ mampir ke Pulau Natuna!

Dari Dili ke Los Palos, kota paling Timur propinsi Timor Timur saat itu juga belum ada akses melalui jalan darat – jadilah kami naik helicopter untuk pertama kali. Naik helicopter jenis Twin Pack S-58 tidak mengerikan sih, cuman berisiknya mengalahkan naik bajaj. Yang paling mengerikan justru saat turun dari helicopter: sampai-sampai saya merayap di tanah saking takutnya kalau saya berjalan tegak kepala saya bakal ditebas baling-baling helicopter yang masih berputar kencang.

Pertama kali saya naik pesawat kecil tahun 1991 dari Denpasar ke Mataram dengan Merpati jenis Twin Otter DHC-6 buatan Canada yang kapasitasnya 18 seats. Naik pesawat kecil itu goncangannya lumayan berasa, serasa naik mobil Ceria yang dibalap sama bis kota, suka tiba-tiba ‘ngesot’. Pengalaman pertama itu selalu bikin deg-degan, apalagi sahabat yang duduk di sebelah saya phobia naik pesawat jadi tambah bikin saya senewen.

Pengalaman kedua naik pesawat kecil terjadi 13 tahun kemudian dari Balikpapan ke Tanjung Redeb. Pesawat tua milik Kal Star jenis ATR-42 buatan Perancis ini lumayan besar dengan 48 seats. Rasanya tetap deg-degan, apalagi semakin tua saya jadi semakin ‘parno’. Pas take-off, pesawat terasa berat bak kelebihan bobot, suaranya pun meraung-raung seakan-akan mesinnya mau meledak. Pas landing, pesawat terbang rendah melewati sungai lebar dan oleng-oleng. Fuih!

Paling sering saya naik pesawat kecil berbaling-baling saat liburan di Filipina tahun lalu. Pesawat domestik South East Asian Airlines (SEAIR) sebagian besar jenisnya LET 410 UVP-E buatan Ceko yang isinya cuman 17 seats. Tempat duduknya sangat nyaman, kayak jok Recaro di mobil balap. Pilotnya membuka jendela sambil nangkringin sikunya kayak supir bis. Tidak ada pramugari, tidak ada peragaan keselamatan – si pilot hanya berkata, “In case of emergency, please take a life jacket located under your seat. You know how to use it, right?”.

Pesawat paling kecil yang pernah saya tumpangi adalah jenis Cessna 172 milik Kura-Kura Aviation, saat saya terbang dari Semarang ke Pulau Karimun Jawa bulan Februari lalu. Isinya 4 seats termasuk supir, eh pilot. Jadi serasa naik mobil terbang dengan setir kiri, saya duduk di kanan pilot, di belakang duduk kedua teman saya. Enak juga bisa ngobrol-ngobrol sama pilotnya, bahkan saya diajarin cara nyupirin pesawat. Gampang, tinggal pegang setir pesawat, dorong sedikit setirnya maka pesawat akan turun, tarik ke atas maka pesawat akan naik, dengan catatan harus pelan-pelan kalau tidak mau pesawat menukik tajam. Pandangan kita bukan ke depan kaca seperti naik mobil, namun lihat ke panel di dashboard dimana kita harus kontrol jalannya pesawat berdasarkan petunjuk tersebut.

Di tengah jalan, Albert, si pilot yang ternyata mantan pilot pesawat tempur AURI menawarkan, “Mau nyobain manuver ngga?”. Tentu saya mengiyakan. Tiba-tiba saja pesawat ‘digas’ kencang, naik tinggi dan berbelok menukik. Huek, saya langsung mual melihat garis horison bumi menjadi vertikal dan langit berada di bawah!

Read more