Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Miss Metal Teeth

Sebagai siswa yang kuliah di universitas negeri, kami diwajibkan untuk mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai pengabdian kepada masyarakat. Saya yang doyan jalan-jalan tentu menyambut baik program ini. Apalagi KKN terkenal sebagai ajang cari jodoh karena menganut falsafah ‘witing tresno jalaran soko kulino’ (menurut saya sih lebih tepat disebut ‘witing tresno jalaran soko ora ono lio’). Biasanya program KKN reguler diadakan di desa terpencil di Pulau Jawa selama 2 bulan, namun saat itu pas universitas mengadakan KKN hasil kerjasama dengan TNI AL dan Departemen Transmigrasi ke Kalimantan Tengah selama sebulan, dan saya terpilih bersama 99 orang mahasiswa/i lainnya.

Bayangkan letak lokasi KKN-nya: kami naik kapal perang AL selama semalam dan tidur terombang-ambing di hammock di dalam kabin yang bau muntah teman-teman yang seasick. Terus naik angkot 2 jam ke kota Pangkalan Bun. Dari situ naik angkot lagi sejam ke pinggir sungai. Terus naik speed boat kecepatan tinggi selama 5 jam di sepanjang sungai Amazon-nya Indonesia. Lanjut lagi naik truk selama 2 jam, baru sampai ke desa kami di Nanga Bulik. Ffuih, rambut saya langsung kayak Ahmad Albar! Meski tidak ada listrik, namun saya langsung betah karena pemandangannya yang indah. Terletak di pinggir hutan, dengan kontur tanah yang berbukit. Udaranya pun segar dengan langit yang jernih, kalau malam dengan jelas terlihat ribuan bintang di langit.

Di desa ini ada 9 orang mahasiswa/i yang ditempatkan di sebuah rumah panggung yang kosong. Kami tidur di lantai papan dimana dinginnya angin malam menembus tulang rusuk melalui celah lubang papan tersebut. Kalau mau menggunakan kamar mandi, airnya harus menimba sendiri di sumur yang berjarak 50 meter di belakang rumah. Karena kondisi alam yang kering, sumur di sini dalam sekali. Saya hitung, begitu menceburkan ember ke dalam sumur sampai terangkat kembali, sama lamanya dengan menyanyikan full lagu Indonesia Raya, dan pas bait lagu terakhir ‘Hiduplah Indonesia Raya…’ saat itulah ember mentok di atas kerekan persis seperti upacara bendera. Kebayang kan kalau pas kebelet tapi harus menimba dulu?

Setiap hari kami disediakan makan oleh istri Pak Lurah. Lauknya tak lain tak bukan adalah gabungan antara ikan sarden kaleng dan mie instan: sarden kuah, sarden goreng, mie kuah, mie goreng. Makan borju bagi kami adalah saat si Ibu berhasil menangkap ayam hutan – itupun kami sebut ‘ayam atlet’ saking alotnya itu daging mungkin karena ayamnya kebanyakan lari marathon di hutan belantara. Suatu kali kami pernah pesta makan daging non-ayam saat salah satu orang Dayak di situ berhasil berburu babi hutan. Untungnya saya boleh makan daging yang bersertifikat ‘100% haram’ dari MUI ini.

Selain menyelenggarakan program penyuluhan dan administrasi desa, kami juga mengajar di SMP lokal dan saya memilih untuk mengajar Bahasa Inggris. Kasihan guru di sana, satu guru harus mengajar 2 – 3 kelas. Yang paling kasihan sekaligus lucu, saat istirahat keluar main dan harus masuk lagi, guru-guru SD harus kejar-kejaran ke dalam hutan sambil membunyikan bel sekolah dan berteriak, “Hayoo anak-anak, masuk, masuk…” sementara anak-anak muridnya berlarian di tengah hutan bahkan ada yang bersembunyi di atas pohon.

Karena saya hobinya jalan-jalan, saya berusaha mendekati Pak Camat karena dia satu-satunya yang punya motor trail – cocok untuk kondisi jalan hutan belantara yang rusak berat karena banyaknya truk logging lewat. Saya mengajak teman lelaki saya (yang merupakan target program ‘witing tresno’ saya) untuk berjalan-jalan ke desa-desa sebelah. Dari yang tadinya kami naik motor, sampai akhirnya kami sendiri yang harus menggendong motor karena jalannya putus!

Jalan-jalan di desa sendiri juga sering kami lakukan sekalian bersosialisasi. Sialnya, semua anak kecil di situ selalu menangis ketakutan setiap melihat wujud saya karena saya memakai behel. Bahkan ibu-ibunya sengaja menjadikan saya sebagai obat ampuh untuk membuat anak-anaknya mau makan dengan ancaman, “Awas kalau kamu ndak mau makan, ntar ibu panggilin Mbak Gigi Besi lho!” (mungkin saya dianggap seperti si Jaws dalam film James Bond).

Malam terakhir, para tetua desa mengatakan bahwa kebiasaan farewel party di sana adalah dengan minum anggur bersama. Saya pun patungan dengan teman-teman untuk membeli Anggur Cap Orang Tua (pertama dan terakhir saya minum ini). Mulanya kami pesta ayam (atlet) bakar, lanjut dengan minum-minum, dan gitaran sampai pagi. Beberapa jam kemudian kami pun pulang naik truk. Semua orang sedesa berjejer dan menyalami kami sambil bertangis-tangisan. Anak-anak SMP mendadahi saya, “Good byeee, Miss! We miss you, Miss! We love you, Miss Metal Teeth!”

(dedicated to my big family in Nanga Bulik, miss y’all a lot!)

Read more

Eksotisnya Pohon Pisang

Sebagai backpacker, traveling lebih murah dengan cara independen – tanpa ikut paket tur. Saya tidak suka kalau traveling harus dijatah dengan waktu yang terbatas, ditentukan ke suatu tempat yang belum tentu saya tertarik, belum lagi harus mempunyai toleransi besar terhadap anggota tur lainnya yang sebagian besar menyebalkan gayanya. Namun terkadang ikut paket tur lokal menjadi satu-satunya cara untuk pergi ke suatu tempat karena sudah diorganisir (dan dikomersilkan) oleh pemerintah setempat. Apa boleh buat.

Tahun 2000, saya ikut paket tur 2 hari seharga 165 AU$ ke Fraser Island, Australia, dimana pulau tersebut merupakan the largest sand island in the world yang masuk ke dalam salah satu World Heritage List. Menarik bukan? Namun salah satu acaranya termasuk ke Wanggoolba untuk trekking. Hutan di sana bagus dan tertata, ada trail khusus dibuat dari papan kayu sehingga tidak perlu becek-becekan. Di setiap pohon ada plang yang menerangkan namanya apa, berapa umurnya, pokoknya detil. Sampailah kami di sebuah sungai kecil dimana Tour Guide-nya menerangkan, “This river is famous because it has lots of eels!” Semua orang berdecak kagum dan berebutan untuk memotret belut! Hoi, belut gitu loh! Saya yang bete pun teriak dengan jahilnya, “Humm…eels! So yummy! Makes me hungry!” Ajaib, semua orang mendadak sontak memelototi saya dengan jijiknya! Hahaha!

Besoknya setelah jalan-jalan keliling pulau, terakhir kami dibawa ke Eli Creek dimana promosinya di tempat eksotis ini bisa berenang mengapung di sungai arus. Setelah berlelah trekking, sampailah kami di… got! Yep, ini mah bukan sungai indah seperti gambaran di benak saya, tapi cuman got kecil yang berliku panjang dan dangkal sebatas paha. Banyak banget kayak beginian di Jawa! Namun lagi-lagi semua orang berebutan membuka baju dan nyebur. Saya pun hanya duduk bengong di pinggir ‘got’ sambil memandangi orang-orang yang berenang dan berusaha mendayung pakai dengkul di air berarus yang super dingin. Kasian deh lo!

Belum kapok juga, tahun 2001 saya ikutan tur di Puerto Rico. Kami semua naik bis dan berkeliling tempat wisata di sana, mulai dari melihat benteng bersejarah, berenang di pantai Luquillo, sampai ke trekking di Caribbean National Forest. Di tengah jalan tiba-tiba bis berhenti di belakang halaman rumah orang. Saya bingung, tidak melihat ada obyek wisata apa-apa yang menarik. Lalu si Tour Guide mengatakan, “Now Ladies and Gentlemen, this is … banana tree!” sambil menunjuk sebuah pohon pisang! Hah? Tololnya, semua orang turun dari bis dan berebutan memotret. Si Guide sampai terheran-heran karena saya tidak turun dan bertanya mengapa saya tidak mau foto-foto. Dengan malasnya saya menjawab, ”Not interested. I have many of them, in my own backyard!”.

Setengah jam kemudian bis berhenti di El Yunque Forrest dimana promosinya ada air terjun dan lagoon yang indah, dan kami dipersilakan turun untuk trekking. Berbekal pengalaman di Australia tahun lalu, saya sebenarnya malas sekali trekking, lagipula saat itu saya sedang memakai ‘sepatu show’ (sepatu tali-tali dengan hak ulekan setinggi 7 senti) yang tidak matching untuk jalan di hutan. Sepanjang jalan saya tidak memperhatikan sekeliling karena fokus menjaga sepatu bermerk yang telah saya beli mahal-mahal. 20 menit kemudian saya tiba di air terjun La Mina Falls yang dibangga-banggakan itu. Tak percaya mata saya membaca plang yang mengatakan bahwa memang inilah tempatnya. Idih! Air terjunnya cuman turun dari tebing setinggi 5 meter, airnya pun hanya ‘terjun’ sedikit alias nyiprat-nyiprat doang, kolam air (butek) di bawahnya juga kecil (inipun mereka sebut ‘lagoon’) dan dikelilingi dengan batu-batu kali di pinggirnya. Benar-benar eksotis, persis kayak pancuran di kampung saya!

Pesan sponsor: Berbahagialah kita sebagai orang Indonesia yang mempunyai keanekaragaman hayati. Mari kita lestarikan dan komersilkan ke turis asing yang tidak pernah masuk hutan dan tidak pernah lihat pohon pisang.

Read more

I’m just a lucky bastard!

Saya punya teman chatting yang sudah 3 bulan ngobrol on and off. Dia seorang lelaki berusia 36 tahun, seorang Indonesia yang sudah tinggal di Amerika selama 15 tahun – kita sebut saja si Mr.X. Obrolan kami tidak intens, tidak ada motif apa-apa, hanya ngobrol ngalor-ngidul tentang hal-hal yang tidak penting. Itupun jarang karena dia sangat sibuk dan karena perbedaan waktu kedua negara. Kami juga tidak pernah tahu dan tidak mau tahu personal life masing-masing, bahkan tidak pernah kirim-kiriman foto.

Saya ingat hari Jumat tanggal 19 Oktober 2001, saya sedang chatting dengan Mr.X. Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan kepada saya, “If I could buy you a ticket to US, where do you wanna go?”. Saya jawab asal saja, “Texas”, karena saya ingin ketemu Sri, sahabat saya yang sedang mengambil kuliah di sana. Lalu dia menanyakan kapan saya mau pergi dan kapan mau pulang beserta nomer fax saya. Saya pun menjawab dengan santai tanpa tendensi apa-apa, “Next week, for 2 weeks. My fax number is +6221xxxxxxx.” Chatting pun berakhir. Satu jam kemudian dia meninggalkan pesan di e-mail saya bahwa bahwa dia sudah booking tiket pesawat United Airlines ke Amerika Serikat dengan nomer kode booking sekian sekian sekian! Hah?

Siapa yang bisa percaya dengan kegilaan virtual seperti ini? Tapi masak sih dia bisa tahu kode booking segala? Saya pun memperhatikan huruf dan angka-angka di e-mail saya, hmm, sepertinya memang kode booking. Setengah ragu-ragu saya menghubungi kantor United Airlines di Jakarta. Dan…huruf dan angka itu ternyata benar-benar sebuah tiket atas nama saya! Si Mbak bagian reservation lalu bertanya, “Boleh saya tahu nama lengkap orang yang booking ini? Kita perlu untuk verifikasi.” Yah bengonglah saya karena saya memang tidak tahu nama aslinya, hanya tahu nickname-nya saja. Sungguh tidak lucu, ini pasti hanya permainan belaka. Konspirasi macam apa ini? Malam harinya saya menceritakan kejadian ini kepada Sri via chatting. Tentu saja Sri juga tidak percaya, malah menantang balik, “Lu nyampe dulu dah di Dallas, baru gue percaya!” *keluh*

Hari Senin siang tiba-tiba ada fax masuk ke kantor saya berupa fotokopi e-tickets United Airlines, lengkap dengan jadwal penerbangan: berangkat tanggal 27 Oktober 2001 Singapore – Los Angeles – Dallas dan kembali tanggal 9 November 2001! Gilaaa! Saya pun terduduk lemas, antara percaya dan tidak percaya. Dengan waktu keberangkatan yang tinggal 4 hari lagi, saya kalang kabut mencari tiket Jakarta-Singapura pp yang termurah, dapatlah naik Emirates Airlines yang cuman 100 US$. Saya lalu menelepon Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk memastikan apakah visa Amerika saya yang bakal expired bulan Desember 2001 masih bisa dipakai. Ternyata Kedutaan sedang tutup karena kejadian 911, tapi si operatornya mengatakan bisa. Waduh!

Perasaan senang bercampur dengan kecurigaan pun timbul: Jangan-jangan ini jebakan dari teroris? Siapa yang mau terbang ke Amerika setelah tragedi 911? Siapakah Mr. X? Bagaimana kalau saya diculik? Atau pesawat saya dibom? Namun naluri untuk traveling ditambah dengan adrenalin yang memuncak telah mengalahkan logika saya. Dengan persiapan mepet dan duit seadanya, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Kapan lagi bisa ke Amerika GRATIS? Tak disangka tak dinyana, akhirnya sampailah saya di Dallas dengan selamat dan tidak menemui kesulitan apapun dengan e-tickets yang hanya berupa kertas fax. Saya lalu menelepon Sri yang akhirnya datang menjemput saya dengan mata terbelalak karena tidak percaya.

Itu belum selesai. Tanggal 31 Oktober 2001 pagi, saya menumpang online di apartemen Sri yang lagi ngantor. Eh Mr.X online juga, saya pun mengucapkan terima kasih. Dia lalu bertanya, “What are you gonna do for the next 9 days in Texas? There’s nothing there.” Saya mengatakan bahwa saya mau santai saja, lagian besok saya mau jalan-jalan ke San Antonio. Tau-tau dia bertanya lagi, “If I could buy you a ticket again, where do you wanna go?” Saya njeplak aja nyaut, ”Caribbean”. Lagi-lagi dia bertanya kapan saya mau berangkat dan nomer fax. Ah gila, this is too good to be true! Siangnya sambil marah-marah karena sirik, Sri memberikan fax e-tickets dari Mr.X. Beneran lho atas nama saya, naik Delta Airlines, Dallas – San Juan – Dallas, berangkat 4 November 2001, kembali 7 November 2001! Can you believe it? Saya bisa terbang ke Puerto Rico GRATIS (lagi)!

Boleh percaya, boleh tidak. Tapi ini adalah based on true story yang saya alami sendiri – bisa liburan di Amerika Serikat dan Puerto Rico gratis karena dikasih tiket sama orang yang belum kenal bahkan belum pernah ketemu sama sekali! Good people does exist. Miracle did happen. Saya yakin pasti Anda sirik pidik membaca ini, sama seperti semua teman saya yang pernah mendengarnya. Dan setelah membaca ini, saya yakin pertanyaan pertama yang keluar dari Anda adalah, “Mau dong dikenalin sama Mr. X!” Betul kan?

Read more

Percaya website = dideportasi

Saya melihat kalender Mei 2003, aha, minggu depan ada tanggal merah 3 hari dalam 1 minggu – lumayan dengan modal 2 hari cuti bisa dapat 9 hari http://viagracanadausa.com/ liburan! Saya pun berencana plesir ke luar negeri bersama ibu saya dan seorang teman berhubung kami bertiga sama-sama impulsif.

Dari hasil nonton ‘Wild on E’ membuat kami tertarik pergi ke Cyprus, sebuah pulau kecil di Eropa dekat dengan Italia. Kami pun sibuk mencari informasi via internet. Sedap, bisa masuk tanpa visa. Lagipula saking kecilnya itu negara sampai tidak ada kedutaan besarnya di Indonesia.

Kami pun terbang naik Emirates, Jakarta – Singapore – Dubai – Larnaca. Sampai di Dubai, kami langsung check-in di konter untuk penerbangan selanjutnya ke Larnaca, ibu kota Cyprus.

Sampai di depan petugas counter, kami ditanya soal visa. Dengan muka bego kami menjawab, “Do we need visa? We were told that we don’t need visa to get in Cyprus.

No, Ma’am. You need visa to go to Cyprus”, kata si petugas. Waduh, mampus!

No, we don’t. Look at these websites, even the Cyprus Tourist Office said we don’t need visa”, sambil kami memberikan hasil print dari beberapa website.

Website doesn’t guarantee you can get in, but we believe on our system which says you can’t”, jawabnya lagi.

Oh tidak! Setelah bersitegang sana-sini dan akhirnya merayu-rayu namun apa daya tidak berhasil, kami disuruh duduk di pojokan… sampai semua orang naik pesawat dan kami ditinggal!

Rupanya ada 4 orang lain yang bernasib sama dengan kami. Ibu dan anak asal South Africa, dan sepasang suami istri asal Sri Lanka. Kami pun berbincang-bincang. Si Sri Lanka mengatakan bahwa dia seorang businessman dan sudah 3 kali bolak-balik Cyprus tanpa visa. Si South Africa mengatakan bahwa Cyprus itu hanya pulau kecil tempat turis dan bisa dapat visa on arrival. Sial banget kan?

Alhasil kami semua digeret ke sebuah ruangan, dikerubutin orang-orang berseragam, diinterogasi ini itu, lamaaa banget. Kami bertiga hanya menunduk sambil dituding-tuding, padahal kami berusaha setengah mati menahan tawa saking begonya kejadian ini. Akhirnya diputuskan bahwa kami semua harus segera dipulangkan ke negara kami masing-masing! Waduh!

Saya pun maju dan berbisik memelas, “Sir, we’re on holiday. We can’t go back to work anyway since we already took our annual leave. Where can we spend holiday to any country on the way back to Jakarta which does not require visa?”. Si petugas pun mengetik-ngetik sesuatu di komputernya, lalu berkata, “Sri Lanka?” Tanpa pikir panjang, saya tersenyum dan merayu lagi, “OK, Sir. Please take us there first and back to Jakarta like a week later. Could you please make it? Please?”. Si petugas lalu ‘melempar’ kami ke lantai 2 di kantor Emirates bagian re-routing tickets.

Sementara diproses, kami disuruh menunggu di airport. Wah saya kenyang dengan window shopping terlama seumur hidup saya. Perut pun sudah kembung karena nongkrong dari satu kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Saya pun hapal setiap sudut airport, di mana saya bisa tidur di tempat yang sepi, di mana saya bisa akses internet, dan toilet mana yang paling bersih.

Bila Tom Hanks akhirnya berpacaran dengan Catherine Zeta-Jones dalam film ‘Terminal’, saya jadi percaya bahwa film itu true story. Karena harus bolak-balik mengurus tiket, saya akhirnya berkenalan dengan petugasnya. Cowok guanteng, tinggi, berkaca mata, yang sudah saya incar sejak kami ‘dilempar’ ke kantor itu. Sebelas jam kemudian… good news, rayuan saya berhasil.

Keesokan harinya kami dipulangkan ke Indonesia dengan tiket Dubai – Colombo – Singapore – Jakarta. Artinya, kami dapat berjalan-jalan di Dubai dulu (visa UAE bisa didapat dengan membeli paket hotel yang tersedia di counter airport). Kedua, kami diperbolehkan pulang ke Jakarta seminggu kemudian setelah sampai di Colombo (jadi kami bisa traveling dulu keliling Sri Lanka, bahkan bisa extend ke Maldives – tempat yang selalu saya impikan pergi ke sana). Ketiga, saya dapat cowok ganteng (yang sebulan kemudian menyusul saya ke Jakarta)!

Catatan: Meskipun terlambat, akhirnya saya tahu bahwa untuk pergi ke Cyprus, pemegang paspor Indonesia dapat apply visa di Kedutaan Besar Inggris karena Cyprus masih berstatus negara jajahannya. Tapi sampai saat ini saya tidak tertarik tuh ke sana, hehe!

Read more

Don’t Touch the (Women) Dancer!

Catatan: 17 tahun ke atas!

Mari kita ke Strip Club – acara hiburan malam melihat pertunjukan orang bugil menari – just for fun. Bisa jadi Anda malah merasa kasihan daripada enjoy the show. Perlu diketahui, strip club itu terbagi dua jenis, strip club cowok berarti penarinya adalah cewek, begitu juga sebaliknya strip club cewek penarinya adalah cowok.

Pengalaman pertama saya ke strip club sebenarnya tidak direncanakan. Tahun 1997 saat saya training di kota Atlanta, teman-teman dari headquarter mengajak saya ke sana. Risih juga saya diajak sekelompok cowok-cowok untuk menonton cewek-cewek bugil. Tapi penasaran.

Kami ke Gold Club yang merupakan strip club paling sukses di East Coast Amerika. Benar saja, saya satu-satunya cewek di antara seluruh tamu. Ih, jangan-jangan saya disangka lesbian. Di strip club cowok, tamu tidak boleh sama sekali menyentuh para penari. Sampai di dindingnya pun terdapat banyak signage “Don’t touch the dancer!“. Bahkan DJ-nya bisa memperingatkan langsung lewat pengeras suara dengan menyebutkan nomer meja bila ada tamu yang mencoba-coba ‘ngelaba’. Seperti saat tamu menyelipkan uang tip ke tali yang dilingkarkan di paha penari tapi jari-jarinya ‘nyolek’ bagian lain. Ironisnya penari cewek benar-benar dilindungi hukum anti sexual harrasment, meski profesi mereka adalah stripper.

Di Gold Club, stok penarinya sangat variatif dalam hal warna kulit dan ukuran tubuh. Tamu juga bisa memanggil salah satu penari untuk menari secara private di depan kita dengan biaya ekstra. Bos saya pun iseng ‘ngerjain’ salah seorang teman. Uh, ‘tu penari dengan ‘mupeng’-nya meliuk-liukan tubuhnya di depan teman saya, mendekatkan buah dadanya, menggetar-getarkan, bahkan nungging close-up di depan muka! Teman saya yang rasis lalu berkomentar, “Dasar orang item, sampe dalem-dalemnya pun uitem banget!”.

FYI, tahun 2001 klub ini ditutup karena skandal seks terbesar yang terjadi dalam sejarah olah raga profesional Amerika. Saa itu, bintang NBA Patrick Ewing dan pemain baseball Atlanta Braves Andruw Jones ketahuan menerima oral sex dari penari. Pemilik klubnya pun dituntut denda 5 juta dolar dan 3-5 tahun penjara. Nah, siapa yang salah dong?

Bagaimana dengan strip club khusus cewek? Tahun 2001 saya ke La Bare, di Dallas, Texas. Cover charge-nya cuman $5, tempatnya super besar seperti diskotik. Surprisingly di malam weekday isinya lumayan penuh dengan wanita pekerja. Di depan club terdapat main stage tempat pertunjukan stripper utama. Di berbagai tempat ada stage-stage kecil. Masing-masing terdapat 2 – 3 cowok bertubuh oh-my-goodness-bagus-banget berjoget dengan hanya mengenakan G-String.

Karena ini pengalaman pertama bagi kami semua maka kami memilih duduk dekat main stage. Pertunjukan dimulai dengan satu per satu cowo menari di main stage dengan sedikit drama. ada drama koboy, kinky, romantis, dsb. Intinya, mereka menari eksotis sembari mencopot bajunya satu satu sampai tinggal ‘tutupan’ penis.

Tidak seperti strip club cowok, di sini para tamu wanita boleh maju ke depan, memegang-megang tubuh penari (sambil mengkhayal tentunya), memberikan tip, dan mendapat tanda terima kasih berupa ciuman. Tentu saja saya maju! Hiii… bodinya memang slurph banget: gede berotot, perut kotak-kotak, kulit mulus tanpa selulit, dan mukanya yang cuakep-cuakeep. Kesimpulan saya, berdasarkan hukum supply and demand, bahwa cowok menyenangi cewek dengan berbagai bentuk dan ukuran, sementara cewek menyenangi cowok dengan satu tipe, yaitu bagus saja. Setuju kan, cewek?

Bagaimana di negara sendiri? Saya pernah ke salah satu diskotik di utara kota Semarang yang katanya ada pertunjukan penari bugil. Semarang gitu loh! Masuknya aja pake ngotot-ngototan sama bouncer karena peraturannya wanita saja tidak boleh masuk karena… takut mengambil jatah ‘jualan’ para pelacur di sana! Sial, apakah kami punya tampang pelacur?! Setelah saya ngamuk-ngamuk, akhirnya si bouncer memperbolehkan saya dan teman-teman wanita saya masuk.
Mulanya sih ada live band, tapi mainnya kelamaan – mending bagus – sampai kita semua teriak-teriak, “Hoy, cepetan napa?” Akhirnya keluarlah si penari. Loh, kok berpakaian lengkap? Rupanya dia menari-nari jaipongan dulu lah, dangdutan dulu lah, yang bagi saya kelamaan dan ga penting. Lalu satu per satu bajunya dicopot. Aha! Tapii…akhir dari acara buka-bukaan ini, ternyata dia memakai baju senam dan legging berwarna emas! Huuuuuu! Kami pun segera beranjak pulang. Maklumlah, saya bukan Moammar Emka yang punya akses mudah ke ‘negeri Sodom dan Gomorah’ sehingga ia bisa menulis 2 jilid buku ‘Jakarta Undercover’.

Read more