Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

C-130, S-58, CN-235, ATR-42, LET 410 UVP-E…

Naik pesawat terbang jenis Fokker, Boeing, atau Airbus, dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 100-an orang sudah biasa. Pernahkah Anda terbang naik pesawat non komersial atau bahkan naik pesawat kecil berbaling-baling? Wah, seru banget!

Tahun 1983 kami naik Hercules C-130, pesawat kargonya TNI AU, karena belum ada pesawat komersial yang terbang ke Dili, Timor Timur. Naik Hercules serasa naik angkot karena duduknya hadap-hadapan. Tempat duduknya bukan berbentuk jok, tapi semacam hammock panjang menempel di sepanjang pinggiran pesawat sehingga duduknya ‘enjot-enjotan’ seirama dengan goncangan pesawat. Jendelanya kecil-kecil dan susah untuk melihat apa-apa karena harus berbalik badan 180 derajat. Di tengah alley adalah tempat menaruh barang-barang, ada meriam, container, koper, sampai burung. WC-nya digantung sehingga kalau mau pipis (jangan harap bisa buang air besar) dikatrol ke bawah lalu ditutupi terpal.

Peraturan naik Hercules: penumpang tidak boleh tahu rute terbang, yang penting sampai di tujuan akhir – jadi bisa saja sampai cepat, atau memakan waktu seharian karena kebanyakan mampir. Saking rahasianya, pas mendarat baru bisa tahu sedang ada di mana – pernah kami ‘nyasar’ mampir ke Pulau Natuna!

Dari Dili ke Los Palos, kota paling Timur propinsi Timor Timur saat itu juga belum ada akses melalui jalan darat – jadilah kami naik helicopter untuk pertama kali. Naik helicopter jenis Twin Pack S-58 tidak mengerikan sih, cuman berisiknya mengalahkan naik bajaj. Yang paling mengerikan justru saat turun dari helicopter: sampai-sampai saya merayap di tanah saking takutnya kalau saya berjalan tegak kepala saya bakal ditebas baling-baling helicopter yang masih berputar kencang.

Pertama kali saya naik pesawat kecil tahun 1991 dari Denpasar ke Mataram dengan Merpati jenis Twin Otter DHC-6 buatan Canada yang kapasitasnya 18 seats. Naik pesawat kecil itu goncangannya lumayan berasa, serasa naik mobil Ceria yang dibalap sama bis kota, suka tiba-tiba ‘ngesot’. Pengalaman pertama itu selalu bikin deg-degan, apalagi sahabat yang duduk di sebelah saya phobia naik pesawat jadi tambah bikin saya senewen.

Pengalaman kedua naik pesawat kecil terjadi 13 tahun kemudian dari Balikpapan ke Tanjung Redeb. Pesawat tua milik Kal Star jenis ATR-42 buatan Perancis ini lumayan besar dengan 48 seats. Rasanya tetap deg-degan, apalagi semakin tua saya jadi semakin ‘parno’. Pas take-off, pesawat terasa berat bak kelebihan bobot, suaranya pun meraung-raung seakan-akan mesinnya mau meledak. Pas landing, pesawat terbang rendah melewati sungai lebar dan oleng-oleng. Fuih!

Paling sering saya naik pesawat kecil berbaling-baling saat liburan di Filipina tahun lalu. Pesawat domestik South East Asian Airlines (SEAIR) sebagian besar jenisnya LET 410 UVP-E buatan Ceko yang isinya cuman 17 seats. Tempat duduknya sangat nyaman, kayak jok Recaro di mobil balap. Pilotnya membuka jendela sambil nangkringin sikunya kayak supir bis. Tidak ada pramugari, tidak ada peragaan keselamatan – si pilot hanya berkata, “In case of emergency, please take a life jacket located under your seat. You know how to use it, right?”.

Pesawat paling kecil yang pernah saya tumpangi adalah jenis Cessna 172 milik Kura-Kura Aviation, saat saya terbang dari Semarang ke Pulau Karimun Jawa bulan Februari lalu. Isinya 4 seats termasuk supir, eh pilot. Jadi serasa naik mobil terbang dengan setir kiri, saya duduk di kanan pilot, di belakang duduk kedua teman saya. Enak juga bisa ngobrol-ngobrol sama pilotnya, bahkan saya diajarin cara nyupirin pesawat. Gampang, tinggal pegang setir pesawat, dorong sedikit setirnya maka pesawat akan turun, tarik ke atas maka pesawat akan naik, dengan catatan harus pelan-pelan kalau tidak mau pesawat menukik tajam. Pandangan kita bukan ke depan kaca seperti naik mobil, namun lihat ke panel di dashboard dimana kita harus kontrol jalannya pesawat berdasarkan petunjuk tersebut.

Di tengah jalan, Albert, si pilot yang ternyata mantan pilot pesawat tempur AURI menawarkan, “Mau nyobain manuver ngga?”. Tentu saya mengiyakan. Tiba-tiba saja pesawat ‘digas’ kencang, naik tinggi dan berbelok menukik. Huek, saya langsung mual melihat garis horison bumi menjadi vertikal dan langit berada di bawah!

Read more

Taksi, Tram, Bis, atau Ojek?

Seperti kebanyakan airport di dunia yang mesti berlokasi agak melipir di luar kota, transportasi dari dan ke airport adalah penting. Bila Anda seorang turis bule yang pertama kali ke Indonesia dan tiba di airport Soekarno-Hatta, Anda akan dikerubutin orang-orang yang menawarkan taksi. Kalau mengantri taksi juga seringkali supirnya ‘nembak’ argo.

Pilihan lain adalah menggunakan bis Damri yang sebagian besar hanya dimanfaatkan oleh orang lokal saja. Informasi bagaimana orang sampai ke tengah kota pun minim. Memang paling baik kalau ada yang jemput sih, apalagi kalau pulang naik haji! Wih, satu RT diangkut!

Lagi-lagi saya harus membandingkan dengan airport di Kuala Lumpur, karena Indonesia selalu ‘ngakunya’ mirip dengan Malaysia. Lokasi airportnya di Sepang memang jauh; sekitar satu setengah jam naik mobil ke pusat kota. Tapi mereka menyediakan transportasi ke Kuala Lumpur yang sangat nyaman dan mudah dengan menggunakan tram KLIA Express. Begitu juga di Singapura dan Bangkok, sistem tram mereka sudah canggih dan mudah. Kedua kota itu ada pilihan menggunakan taksi memang, tapi siapa sih yang ga tau kalo naik taksi itu relatif mahal?

Ada juga transport airport yang menggunakan ‘taksi air’ alias speed boat, seperti dari airport Male (Maldives). Namun biasanya sudah di-arrange oleh resort di setiap pulau sebagai bagian dari paket.

Kalau kita mau merasa lebih superior, bandingkanlah dengan negara Kamboja. Di sana, hanya ada 2 pilihan transportasi ke tengah kota dengan tulisan besar: taxi 5$ or motorcycle 1$. Bahkan kita harus mengantri di loket untuk mendapatkan kupon terlebih dahulu. Bayangkan, ojek merupakan salah satu pilihan transportasi dari airport ke pusat kota!

Sama seperti negara-negara di dunia, hampir semua airport di kota besar di Indonesia pilihan utama ke pusat kota adalah menggunakan taksi. Namun jangan salah, kata ‘taksi airport’ di Tanjung Redeb (Kaltim) artinya ‘angkot’. Yep, di depan airport berjajar angkot-angkot yang berebutan mencari penumpang dan dengan pedenya para supir bilang, “Taksi! Taksi!”.

Transportasi antar terminal di airport saat ini pun sudah canggih, seperti di Atlanta (USA) atau Kuala Lumpur dimana terdapat tram yang menghubungkan antar-terminal atau ke tempat pengambilan bagasi. Escalator mendatar di Soekarno-Hatta sih sudah basi. Tapi di airport Dubai (UAE) bila kita ingin pergi ke terminal lain karena pindah pesawat, disediakan petugas merangkap supir yang mengangkut calon penumpang dengan mobil kecil bertenaga accu (seperti yang digunakan di lapangan golf). Lumayan menghemat tenaga. Sebaliknya di airport Bangkok saat saya harus langsung pindah pesawat, saya harus berlari-lari untuk mengejar pesawat berikutnya yang berada berpuluh-puluh gate dari gate saya turun!

Read more

Gotham City?

Saya akui meskipun saya seorang certified scuba diver, saya tidak fanatik amat menyelam. Menjadi penyelam pun tidak sengaja. Balik ke tahun 1992 saat jadi anak kos namun pengennya traveling melulu, dalam suatu liburan saya terdampar di Pulau Gili Trawangan, Lombok. Tidak mau pulang tapi duit menipis, saya setiap hari menjaga counter, membantu mengangkat tangki, membersihkan peralatan, dengan imbalan saya diperbolehkan menginap dan makan gratis di diving operator milik teman saya. Akhirnya teman saya malah mengajak saya untuk kursus menyelam, gratis pula.

Sebagai seorang mantan atlit perenang tingkat ecek-ecek dan kebetulan diberkahi otak yang lumayan tidak ecek-ecek, saya tidak menemukan kesulitan apapun dalam kursus menyelam ini. Bahkan di penyelaman ke-3 saya sudah turun di kedalaman 100 kaki karena (bagaikan terbius) mengikuti seorang lelaki yang menyelam hanya dengan celana renang tipis dan bokong yang wow! Tentu saja sehabis itu instruktur saya marah karena saya meninggalkan buddy saya dan menyelam terlalu dalam untuk seorang pemula. Well, sejak lulus, setiap traveling saya usahakan untuk menyelam – tidak seperti para ‘penyelam sejati’ yang bela-belain liburan untuk menyelam 3-4 kali sehari tanpa jalan ke mana-mana lagi.

Tempat diving paling bagus menurut saya so far adalah Bunaken, Sulawesi Utara. Cuman di tempat itu saya bisa tabrakan sama school of fish yang buanyak dan berwarna-warni, bisa keluar masuk gua, dan menemukan tumbuhan laut yang paling amazing. Tempat yang paling weird adalah Danau Kakaban, KalTim, dimana danau pra-sejarah yang dikelilingi atol ini 98% isinya jelly fish, jadi rasanya kayak berenang di dalam cendol kental karena banyakan cendol (yaitu jelly fish) dibandingkan airnya. Yikes!

Namun tempat diving paling saya sukai adalah di tank Seaworld, Ancol! Tidak usah pergi jauh-jauh, tidak usah bayar mahal, tidak usah menyelam dalam-dalam, tapi ketemu dengan ratusan spesies ikan – termasuk beberapa jenis hiu dan beragam ikan pari raksasa. Lagipula sebagai seorang yang agak exhibitionist, saya senang ditonton ratusan orang melalui kaca tunnel – pokoknya serasa jumpa fans meskipun saya yakin ada di antara mereka yang bilang, “Eh, ada ikan dugong pake kaca mata!”

Senangnya ikut trip menyelam di Indonesia karena kita dimanjakan oleh dive operator-nya. Bahkan fins aja dipasangin. Namun waktu saya menyelam di Great Barrier Reef, Australia, oleh dive operator dari Cairns, kami dipasangkan dua-dua orang, diceburin di tengah laut dan disuruh menyelam begitu saja tanpa ditemani dive master. Sayalah yang rugi karena buddy saya seorang cowok ABG Amerika yang baru belajar diving dan tukang panik sehingga saya hanya bisa setengah jam menyelam akibat mengikuti ritme napas paniknya.

Terus, dive operator di El Nido, Filipina, paling ‘koboy’ caranya. Peralatan tidak dicoba di counter sebelum kapal berangkat, tapi kita disuruh mencari sendiri di antara tumpukan alat di atas kapal yang terombang-ambing ombak. Bayangkan ada 15 orang penyelam yang ‘gubrak-gubruk’ rebutan booties, fins, weight belt, sampai BCD. Belum lagi bila ukurannya tidak cocok kami harus cabut-pasang kembali. Wah, kapal lama-lama oleng!

Cerita menyelam yang paling seru justru saat saya menyelam dekat-dekat saja di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu. Sore itu rasanya badan saya ringan sekali, sama sekali saya tidak merasa sedang menyelam tapi melayang di udara dengan kedua tangan menjulur ke depan, tak lupa melakukan manuver di antara karang sambil tersenyum-senyum sendiri. Tak disangka saya menemukan Gotham City, kota asal Batman! Kota yang mirip New York di waktu malam namun lebih kelam, lengkap dengan gedung pencakar langit dan lorong bawah tanah. Makin asiklah saya melayang ke atas ke bawah, miring-miring sedikit menghindari bangunan… sampai akhirnya saya ditepok buddy saya dan diberikan sign untuk naik. Parahnya saya sama sekali tidak punya tenaga untuk mengangkat badan saya naik ke pier, hidung saya pun mengeluarkan sedikit darah, namun saya tak berhentinya tertawa terbahak-bahak. Yah, saya akui bahwa saya sedang mabuk akibat konsumsi alkohol tapi nekat menyelam! Bye bye Gotham City!

Read more

Menunggu = Makan

Pada saat menunggu di airport, sebenarnya ada tempat yang nyaman dan gratis. Syaratnya kita harus mempunyai kartu kredit, lebih bagus lagi kalau kartu kredit Anda keluaran bank terkenal. Ya, itulah yang disebut Executive Lounge. Meskipun bank penerbit kartu kredit telah banyak menanamkan uangnya untuk memanjakan customer yang akan bepergian, namun masih sedikit orang yang memanfaatkannya. Padahal caranya gampang, tinggal lihat di papan merk kartu kredit di depan lounge. Bila kartu kredit Anda tercantum, tinggal nyelonong masuk dan mendaftarkan diri di receptionist dan kartu Anda akan digesek. Di dalamnya ada ruang duduk dengan sofa yang nyaman, surat kabar terbaru, TV, dan yang terpenting dapat makan dan minum gratis. Saya malah lebih ekstrim, bila saya kebelet, toilet yang paling bersih adalah yang berada di lounge ini. Saking nikmatnya, beberapa kali saya dipanggil lewat pengeras suara karena pesawat sudah akan berangkat.

Lucunya kalau kita bepergian dengan orang yang mempunyai kartu kredit berbeda, seringkali saya dan teman menunggu di lounge yang berbeda karena saya mempunyai kartu Standard Chartered dan dia punya Citibank. Kalau tidak ingin ‘berpisah’ silakan salah satu yang tidak mempunyai kartu kredit yang cocok membayar Rp 50.000,- sebagai charge masuk. Kalau Anda cukup nekat, cek orang yang akan masuk ke lounge dan membuka dompetnya. Kalau ada deretan bermacam kartu kredit apalagi yang berwarna emas, mintalah tolong, “Pak, teman saya tidak punya kartu kredit tapi mau masuk sama saya, boleh saya pinjam satu kartu Bapak?” Waktu itu sih saya berhasil, mungkin lagi hoki aja nemu bapak-bapak yang baik. Bila trik itu tidak berhasil, pilihan terakhir adalah silakan punya bermacam-macam jenis kartu kredit sehingga bisa punya banyak pilihan.

Nah, bagaimana bila kita tidak mempunyai kartu kredit? Restoran di airport menjadi pilihan. Saya sampai eneg. Bila sedang menunggu di Soekarno-Hatta Terminal 2 maka saya akan nongkrong di McDonald’s. Bila di Terminal 1 ya ke AW. Meskipun harga di fast food tersebut lebih mahal, paling tidak rasanya sesuai ekspektasi. Saya jadi ingat iklan salah satu fast food di Indonesia, bila ada iklan promosi paket pasti ada tanda bintang yang berisi keterangan dengan tulisan kecil-kecil di bagian paling bawah iklan ‘harga tidak berlaku di bandara’.

Restoran yang ada di dalam setelah check in bagi saya tidak nyaman karena rata-rata tidak bisa merokok. Kalau terpaksa makan di dalam, relakan merogoh kocek yang tidak sedikit karena apapun barangnya harga pasti melambung tinggi di airport. Sebagai perbandingan, saya pernah makan 1 porsi mie instan di airport Denpasar seharga Rp 20.000,-!

Pengalaman yang paling buruk bisa jadi kalau Anda harus menunggu lamaa sekali di airport pada malam hari dimana semua restoran sudah tutup. Saya pernah tertahan sepuluh jam di Soekarno-Hatta karena sistem menara pengontrolnya down (hebat sekali ya Indonesia!). Mau pulang tanggung karena saat itu musim liburan dan tidak ada pesawat lain yang tersedia sampai 2 hari berikutnya. Padahal, ada meeting penting yang harus saya hadiri keesokan harinya. Yang saya lakukan, sama seperti ratusan calon penumpang lain, adalah tidur di lantai. Ingat, airport ini tidak ada karpetnya, duh, punggung rasanya semriwing berat! Deretan ratusan orang tidur di lantai airport persis kayak pengungsi kena tsunami. Kami pun tidak pernah tau kapan pesawat akan berangkat karena papan jadwal elektroniknya pun mati. Bila salah satu pesawat akhirnya jadi berangkat, ada petugas khusus yang mendatangi calon penumpang, dia mengguncang-guncangkan badan kita sambil membangunkan, “Pak, Bu, bangun… bangun… pesawat ke Surabaya sudah mau berangkat sekarang.”

Read more

‘Dipalak’ di Tabung Kaca Berasap

Saya ingat sekitar sepuluh tahun yang lalu, merokok di dalam pesawat dengan rute panjang masih diperbolehkan. Waktu itu saya terbang dari Jakarta ke Amsterdam dan memang disediakan tempat duduk khusus perokok di bagian ekor pesawat. Tidak tahu sejak kapan keluarlah peraturan terbaru yang tidak memperbolehkan merokok di pesawat apapun dan kemanapun. Mau tak mau saya menyetujuinya juga, mengingat alasan keselamatan adalah jauh lebih penting. Malah sekarang saya berpikir, “kok dulu boleh ya merokok di dalam pesawat?”.

Setelah pesawat mendarat, apalagi setelah terbang berjam-jam, hal pertama yang saya selalu cari adalah tulisan ‘smoking room’. Saya yakin seluruh perokok di mana pun di seluruh dunia akan menyatakan hal yang sama (saat menulis ini saja membuat saya jadi pengen merokok). Begitu memasuki anjungan airport, signage dengan gambar rokok inilah yang paling utama dicari bagi para perokok, bagaikan magnet kita terbius dan mengikuti ke mana arah signage tersebut bermuara. Kalau tak sabar, langsung aja tanya ke petugas informasi. Pertanyaan ”where’s the closest smoking room here?” dalam bahasa apa pun saya sampai tahu saking bela-belainnya. Hehe, saya ngaku ini sih exagerated.

Anyway, smoking room yang dicari-cari ini sebenarnya hanyalah berbentuk tabung kaca. Tapi dapat mengundang orang dengan mata berbinar-binar dan langkah kaki cepat untuk masuk ke dalamnya. Lalu beberapa lama kemudian keluar dengan raut muka yang lebih relaks. Ajaib kan?

Dengan kecilnya ruangan tersebut sementara yang ngebul banyak banget, yang terlihat dari luar yah seperti tabung kaca berasap. Kita bisa lihat tabung kaca ini berisi orang-orang yang asik memicingkan mata sambil menghisap rokoknya dalam-dalam lalu asapnya disembur ke luar lewat mulut sehingga wajahnya tidak terlihat karena tertutup asap. Begitu seterusnya.

Bagi para pengguna lensa kontak, inilah saatnya meneteskan obat tetes mata saking sepetnya ruangan itu. Sialnya para perokok memang dianggap makhluk yang tidak berguna, ruangan merokok ini terletak jauh dari mana-mana. Maka tak heran ruangan merokok di airport adalah ruangan favorit pengunjung, padahal baunya sangat tengik. Kalau setiap 4 gate ada 1 ruangan merokok saja sudah bagus. Kadang di dalam airport besar hanya punya 1 atau 2 ruangan merokok, itupun susah ditemukan, seperti di airport Sydney atau Tokyo. Sedangkan di airport Los Angeles atau Kuala Lumpur, pilihannya adalah pergi ke luar dari airport dan merokok di area antrian taksi.

Ada juga airport yang ‘curang’ seperti di airport Christchurch (New Zealand). Waktu itu saya lagi sakau pengen banget merokok, setelah cari smoking room tidak ketemu, saya tanya petugas informasi. Dia menunjuk ke suatu arah dan setelah saya mengikutinya ternyata bukanlah smoking room melainkan sebuah bar. Saya lalu disapa waiter-nya, “If you drink beer here, you can smoke here, Ma’am!” Sialan, pinter banget cara marketingnya!

Well, biar bagaimanapun airport internasional Bangkok menurut saya adalah salah satu airport yang paling smoker friendly. Setiap 1 gate mempunyai 1 ruangan merokok. Horee!

Sekedar tips dari saya: kalau Anda berada di airport di negara barat, berhati-hatilah bagi yang merokok kretek. Baunya yang menyengat itu sering disangka ganja atau hasis. Inilah yang membuat saya sering dipelototin orang. Seperti yang sudah-sudah, pasti ada bule di situ yang akan bertanya saya merokok apa, atau bahkan ada yang (nekat) minta. Pokoknya kalau ada pilihan, lebih baik pergi ke ruangan merokok outdoor deh – aman bagi mata dan hidung, juga hemat karena tidak ada yang malak.

Read more