Author Archives

Trinity

Trinity is Indonesia’s leading travel writer and blogger. Author of 13 national best-selling books including “The Naked Traveler” series - which will become a movie in 2017.

Dimana Andorra?

Tidak ada yang bisa menjelaskan dan menjamin bahwa pergi ke negara Andorra tidak memerlukan visa. Meskipun di website dan di buku disebutkan visa not necessary, tapi kan selalu ada pengecualian untuk pemegang paspor Indonesia. Lagipula saya pernah punya pengalaman dideportasi karena tidak punya visa negara Cyprus yang sama-sama negara terkecil di dunia. Namun saya membulatkan tekad saja, toh naik bis hanya 3 jam dari Barcelona, kalau dipulangkan ya tinggal balik lagi – jangan kayak orang susah! Benar saja, di perbatasan ada posko dengan bendera Andorra dan bis pun disuruh behenti. Duh, dengkul saya lemas sekali, saya lalu memelorotkan tubuh saya di kursi berharap saya tidak dilihat petugas imigrasi. Rupanya si petugas hanya melongok sebentar dari poskonya dan bis dipersilakan jalan lagi. Fuih…lega!


“Andorra? Di mana tuh?”. Pertanyaan ini pasti muncul ketika saya memberi kabar bahwa saya sedang ada di Andorra. Ia adalah salah satu negara terkecil di dunia yang terletak di Eropa, ‘nyempil’ di antara negara Spanyol dan Perancis. Baru merdeka tahun 1993, sebelumnya dijajah oleh Perancis sebagai kepala pemerintahan dan Spanyol sebagai kepala keuskupan. Penduduknya cuman 70.000 orang dengan luas negara 468 km persegi, sebagian besar menetap di ibu kotanya yang bernama Andorra la Vella dengan mata pencaharian buka toko kalee. Seperti orang Singapura yang beli telor di Batam, orang Spanyol dan Perancis datang ke situ hanya untuk berbelanja atau sekedar mengisi bensin karena harga di Andorra 25% lebih murah. Selain terkenal dengan surga berbelanja, Andorra merupakan tempat ski favorit di musim salju.


Uniknya, Andorra hanya memiliki satu jalan utama yang membelah pegunungan Pyrenees yang tembus dari Spanyol ke Perancis. Meski demikian, mobil-mobil pada ngebut sehingga sulit untuk menyebrang jalan, sampai-sampai polisi di sana saya perhatikan kerjanya hanya membantu orang menyebrang jalan. Perumahan dan hotel murah terletak di kemiringan pegunungan, sehingga jalannya menanjak dan berliku – setiap hari bisa dikatakan saya hiking. Ada 1 jalan shortcut yaitu naik sebuah lift khusus yang menghubungkan jalan utama ke perumahan. Kalau di Jakarta saat rush hour jalan Sudirman macet karena penuh mobil, kalau di Andorra la Vella ‘macet’ karena penuh orang ngantri mau masuk lift. Unik kedua, Andorra tidak mempunyai sistem pos, semua surat dari dan ke alamat yang masih dalam satu negara akan dikirim gratis. Untuk pengiriman antar negara, ada 2 sistem pos berbeda yang dioperasikan oleh negara Perancis dan Spanyol, mereka jugalah yang membuatkan perangko khusus untuk Andorra sehingga perangko di sana ada 2 versi.


Maksud hati ingin menghemat biaya hidup dengan tinggal di negara yang termasuk murah di Eropa, namun apa daya akhirnya saya menghabiskan banyak uang di sini. Pertama, saya pergi ke Caldea – the largest spa complex in Europe. Rasanya tidak mungkin melewatkan sesuatu yang merupakan kategori ‘jangan bilang pernah ke sana kalau tidak pergi ke tempat itu’ contohnya seperti ‘jangan bilang pernah ke Perancis kalau belum pernah ke Eiffel Tower’. Memang hebat tempat ini, di gedung berbentuk piramid terbuat dari kaca, di dalamnya terdapat kolam renang air panas indoor lengkap dengan hydromassage pool, jacuzzi dan swan’s neck. Lalu ada area fitness antara lain terdiri dari aqua-massage, sauna, hammam, wood’s lighting (relaksasi dengan ion negatif). Lalu ada kolam renang outdoor dimana saya bisa berendam di jacuzzi sambil memandang pegunungan, lampu kota, dan melihat matahari terbenam. Wah, saya serasa Onasis! Saya juga minum di Sirius Bar Panoramic yang katanya bar tertinggi dengan spectacular view di negara itu, kedengarannya sih heboh tapi ternyata cuman ada 4 meja dan terletak di lantai 11 doang.


Kedua, saya terpengaruh secara psikologis bahwa harga barang-barang di Andorra lebih murah, sehingga saya melakukan (sedikit) shopping meskipun di Indonesia saya tidak suka shopping. Contohnya saja barang bermerk Zara dan Mango berasal dari Spanyol, namun di Andorra harganya lebih murah. Jadilah saya merelakan kartu kredit saya digesek demi membelikan oleh-oleh untuk 3 keponakan tersayang, dan tentunya untuk menghadiahi diri saya sendiri sepotong celana panjang dan sebuah tas tangan.


Ketiga, karena masalah bahasa (mereka berbahasa Catalan), untuk makan saya jadi harus bayar lebih. Minta bon, dikasih kopi. Minta ayam doang dikasih paket ayam dan kentang dan minum. Minta sandwich dikasih kue dimasukkan ke french bread. Pokoknya aneh banget penerimaan bahasanya. Entah mereka sengaja berlagak tidak mengerti supaya dapat duit lebih banyak, atau saya yang bego banget bahasa ‘tunjuk-tunjuk’-nya.

Read more

Makan Hemat dan Nekad (2)

Mau lebih borju lagi, saya makan di restoran yang menyediakan menu all you can eat. Lebih mahal memang, tapi jauh lebih kenyang. Supaya tidak rugi, kosongkanlah perut sekosong mungkin dan makanlah dengan santai, sedangkan modal lainnya adalah nekat. Di Helsinki (Finlandia) dimana merupakan salah satu kota dan negara termahal di dunia, saya pernah makan di restoran Cina all you can eat seharga 8 Euro. Saya makan mulai dari nasi, gorengan, aneka lauk pauk dan sayuran, termasuk softdrink dan kopi. Istirahat sebentar, merokok, mulai lagi makan dari awal, begitu seterusnya, sampai sempat-sempatnya saya buang air besar dulu, lalu makan dari awal lagi. Hehe! Atau makan model seperti di Auckland (New Zealand), di restoran Thailand bersistem all you can take seharga 6,50 NZ$ dimana kita boleh mengambil apapun makanannya asal masuk ke dalam kotak styrofoam yang disediakan. Dasar saya ogah rugi, makanan pun saya penyet-penyet dan susun sedemikian rupa sampai styrofoam bentuknya bukan kotak lagi tapi bundar dan saya dipelototi si ‘Mbaknya’.

Sesekali saya sih makan ‘bener’ di restoran yang ‘bener’ artinya makan full course meal di restoran fine dining. Biasanya itu terjadi di hari-hari terakhir liburan saya dimana saya sudah capek berhitung dan berhemat. Itu pun seringnya saya ‘ngeracunin’ teman sekamar di hostel untuk patungan dengan alasan, “It’s our last night here, we have to spend it nicely. So let’s have dinner together in a fine restaurant with a real good local food.” Trik saya selalu berhasil asal pintar memilih orang yang akan diajak makan, carilah teman yang sama-sama tinggal hari terakhir dan kelihatan tidak kere-kere banget. Sebagian besar saya berhasil menggeret orang Jepang, resikonya siap-siap kesusahan ngobrol saat makan karena bahasa Inggris mereka yang kacau. Sekedar catatan, di restoran ‘bener’, harga sebotol air putih dengan segelas bir atau wine kurang lebih sama saja. Jadi, jangan mau rugi! Atau kalau mau lebih hemat dan nekat, pesan saja tap water alias air kran.

Dalam rangka penghematan, saya biasa makan jam 11 untuk sekalian makan pagi dan siang, malamnya makan jam biasa tergantung laparnya perut. Susahnya bila sedang berada di kota kecil di Italia atau Spanyol dimana jam buka restoran minimal jam 8 malam karena mereka biasa makan jam 9. Suatu hari sehabis lelah jalan di desa-desa di bukit Cinque Terre, pernah saya hampir mau pingsan di kota Marina di Masa (Italia), karena jam 7 tidak ada restoran yang buka dan tidak ada tukang jualan. Sial! Di beberapa tempat juga kadang diberlakukan jam buka 11.00 – 15.00 dan 18.00 – 21.00. Saya beberapa kali kecele, salah satunya di kota Noosa (Australia). Waktu itu saya dan seorang teman yang sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi jam 4 sore, sibuk membaca menu yang dipajang 20 meter di depan salah satu restoran Thailand yang terletak di atas bukit. Setelah lebih dari 15 menit pilah-pilih, hitang-hitung, ngotat-ngotot (karena lagi-lagi masalah budget yang terbatas), berjalanlah kami dengan girang masuk ke restoran tersebut, lalu… waiter mengatakan, “Sorry, closed,” sambil menunjuk sign di jendela yang menunjuk jam operasional. Dasar nasib, hari itu lagi-lagi kami makan fish & chips pinggir jalan yang dibungkus kertas koran.

Ada pengalaman saya yang sangat memalukan sekaligus lucu. Di Dallas (AS), saya ngiler banget pengen makan makanan Jepang di restoran. Saya baca promosinya dari luar bahwa bila seseorang berulang tahun akan mendapat voucher diskon 10 US$ yang dapat digunakan hari berikutnya. Makanlah saya di sana, dan terakhir saya mengaku (eh berbohong) kalau saya hari itu berulang tahun – untung mereka tidak minta ID. Tak berapa lama kemudian, saya didatangi seluruh waiters sambil dinyanyikan Happy Birthday, dikalungkan bunga plastik, diberikan ice cake kecil, tiup lilin dan difoto pake Polaroid plus diberikan voucher mujarab. Wah, malunya! Saya lalu bilang, I don’t live here and I’m leaving tomorrow early in the morning to my country so I can’t use this voucher. Can I use it now?… dan berhasil!

Jujur saja, setiap pulang backpacking dari negara barat, saya pasti bersumpah untuk tidak makan roti dan sejenisnya sampai 6 bulan ke depan. Sumpah, eneg banget! Memang benar kata pepatah ‘lebih baik hujan batu di negri sendiri daripada hujan emas di negri orang’. Mau makan tinggal panggil tukang jualan yang sering lewat di depan rumah, kelaparan di tengah malam tinggal lari ke warung dan beli mie kuah. Murah pula!

Yah, begitulah nasib backpacker. Emang enak?

Read more

Makan Hemat dan Nekad (1)

Sebagai backpacker, atau istilah lebih kerennya budget traveler, faktor makan adalah hal yang terpenting karena merupakan faktor yang dapat kita kontrol pengeluarannya sebab biaya transportasi dan tiket masuk sight seeing adalah pengeluaran yang wajib dan tidak dapat ditawar. Apalagi jika traveling di negaranya bule, dimana 1 main course saja sekitar 7 – 12 Euro atau setaranya dalam Dolar, belum termasuk minum dan pajak. Lupakan appetizer dan dessert. Bukannya saya pelit, saya bisa makan dengan harga segitu di restoran di Jakarta. Tapi ini kan dalam rangka traveling di luar negeri dimana harga tiket pesawatnya saja sudah mahal, bawa duit juga terbatas, dan tidak punya kartu kredit Platinum. Kalau di negara Asia Tenggara sih aman-aman saja, karena harga makanan relatif sama atau lebih mahal sedikit, jadi tidak usah saya ceritakan. Untunglah saya termasuk pemakan segalanya dan mempunyai urat malu yang sudah dol, jadi segalanya terasa mudah dan lucu.

Cara paling murah adalah membawa bekal sendiri dari Indonesia yang tinggal diseduh air panas, seperti mie instan dan bubur instan. Namun cara ini menuh-menuhin ransel, saya pun sudah tidak melakukan lagi kecuali kadang membawa sambal sachet karena sambal luar negeri tidak ada yang seenak sambal Indonesia. Cara kedua adalah membeli roti dari supermarket setempat, sedangkan mentega dan selai tinggal ngembat dari pesawat. Nah, kalau di hostel ada dapur umum, kita bisa belanja bahan makanan dengan lebih variatif dan buatlah sendiri makanan panas seperti omelet, telor ceplok, hot dog, atau burger. Kalau di hostel ada microwave, bisa beli frozen food yang tinggal dipanaskan.

Soal minum pun ada caranya. Air minum dalam botol plastik termasuk mahal, minimal 1 Euro untuk isi 500 ml. Salah-salah, seringnya saya diberikan sparkling water atau air bersoda karena tidak mengerti bahasa setempat sedangkan kemasannya sama. Namun air putih di negara maju sebagian besar bisa langsung diminum dari keran, jadi tinggal modal botol plastik yang siap di-refill. Tidak usah malu-malu atau jijik, tinggal masuk saja ke toilet umum dan isi airnya dari wastafel. Terus, karena saya doyan ngopi, saya bawa kopi instan dan tinggal seduh di kran wastafel yang ada air panasnya. Beres. Kalau bosan namun lebih hemat, saya beli kopi atau softdrink dari vending machine, tinggal masukkan koin. Resikonya, kadang ada mesin yang rusak sehingga tidak dapat uang kembalian, atau lebih parah lagi sudah memaasukkan koin, minumannya tidak keluar. They ate my money! Hiks.

Bila cara-cara di atas masih membuat saya bosan, pilihannya adalah jajan di pinggir jalan. Seperti di Jerman, biasanya suka ada tukang jualan gerobak yang menjual bratwurst – sosis guede khas Jerman ini lumayan mengenyangkan. Atau bisa juga beli makanan dari warung atau kios tidak permanen di alun-alun (disebut square dalam bahasa Inggris, atau piazza dalam bahasa Itali, atau plaça dalam bahasa Spanyol). Di tempat nongkrong yang luas ini, saya biasa beli hot dog, burger, kebab, bahkan mie goreng. Nah, makanlah di kursi taman sambil ngeliatin orang lalu lalang, atau duduk di sebelah restoran yang bau dari dapurnya bisa menambah napsu makan.

Makan di hostel merupakan salah satu cara yang hemat. Sebagai tempat menginap para backpackers yang notabene ‘orang miskin’, mereka wajib menyediakan makanan dengan harga yang terjangkau, bisa hemat sampai 60% dari harga di luar. Kadang ada hostel yang harga menginapnya termasuk makan pagi, bahkan salah satu hostel di Barcelona (Spanyol) harga menginap yang 16 Euro/orang/malam sudah termasuk makan pagi dan makan malam. Porsinya tidak banyak, tapi lumayan untuk mengganjal perut. Di hostel Calypso Inn di kota Cairns (Australia) ada hari tertentu kita dapat makan malam gratis karena mereka mengadakan kerja sama dengan salah satu restoran yang sedang promosi, lumayan kan BBQ Party di pinggir kolam renang, all you can eat lagi. Minum murah juga silakan ke hostel, seperti di salah satu hostel di kota Salzburg (Austria) jam 18.00 – 20.00 ada happy hour, bir cuman 2 Euro untuk 3 liter. Blenger deh tuh minumnya!

Kalau saya merasa ingin makan sambil duduk di dalam ruangan yang hangat saat musim dingin, atau ruangan dingin saat udara panas, mau tidak mau saya ke restoran fast food seperti McDonald’s atau KFC. Meskipun di Indonesia bisa dihitung dengan jari saya makan di situ, saat backpacking saya tidak punya pilihan. Di situlah harga makanan yang paling terjangkau, satu paket ayam atau burger lengkap dengan kentang goreng dan softdrink sekitar 5 Euro. Mahal memang, tapi restoran fast food di negara barat sudah bagaikan warteg saking murah dan tidak nyamannya bagi mereka. Kadang mereka hanya menyediakan meja tinggi tanpa kursi, karena itulah konsep fast food – makanan cepat saji dan cepat makan, bukan restoran tempat nongkrong seperti di Indonesia.

Bersambung…

Read more

Jutawan yang Menyamar Jadi ‘Backpacker’

Kalau saya traveling, saya paling anti memberitahu banyak orang tentang rencana kepergian saya. Soalnya pasti mereka akan bilang, “Oleh-oleh ya?”. Tidak tahu dari mana budaya oleh-oleh di Indonesia itu berasal, maksudnya sih sebagai kenang-kenangan tapi kok terasa menyusahkan orang yang pergi. Padahal saya jalan a la gembel, dengan duit terbatas, membawa ransel pula. Oleh-oleh itu harganya mahal tau’, barang-barang suvenir termurah seperti magnet kulkas dan gantungan kunci saja harganya sekitar 2 – 7 Euro atau setaranya dalam Dolar. Apalagi T-Shirt yang rata-rata harganya 2 digit.

Belum lagi kalau ada yang bilang, “Titip ya?”. Males banget! Saya sih bukan seperti teman kantor saya yang bersedia dititipi sepatu merk Vincci. Teman-teman yang lain dengan semangatnya browsing di internet, print gambar sepatu idamannya, dan memberikan gambar tersebut beserta ukurannya kepada teman yang akan jalan-jalan ke Malaysia. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya dititipi Vincci begitu, saya harus meluangkan waktu khusus ke mall, memilih-milih puluhan sepatu, nombokin bayar dulu, dan menggeret koper berat sampai ke Indonesia. Hii! Soal titip-menitip, saya selalu bilang dengan jahatnya, “Hey, titip itu berarti minta tolong dibelikan sesuatu dengan memodali saya uangnya terlebih dahulu. Itupun terserah saya mau apa ngga kan?”. Permintaan titip paling parah ketika teman saya menyembah-nyembah minta dititipi knalpot untuk motor gedenya! Gila apa? Ogah!

Herannya, banyak teman saya yang pasti minta titip kaos dari Hard Rock Cafe, padahal harga selembar polo shirt saja bisa mencapai hampir 450 ribu rupiah. Terus terang saya paling anti masuk ke sana karena tempatnya sangat turis, tidak ada orang lokal yang hang out di sana karena harganya yang mahal untuk makanan yang standar. Tidak seperti di Jakarta dimana Hard Rock sampai saat ini pun merupakan salah satu tempat yang dibanjiri orang lokal. Mungkin karena gaya. Namun saya mengaku, kalau saya nemu Hard Rock Cafe di luar negeri saya tidak kuasa untuk tidak berfoto di depannya, buat nyirik-nyirikin.

Saya paling bela-belain membawakan oleh-oleh atau bersedia dititipi sesuatu bila saya akan nebeng di rumah teman di luar negeri. Yah, sebagai balas budi lah. Biasanya teman-teman Indonesia saya minta dibawakan makanan, seperti abon, serundeng, rendang, lapis legit. Meskipun mereka tidak menyebutkan jumlahnya, tidak mungkin saya hanya bawa sebungkus abon atau sekilo rendang bukan? Nah, kalau teman-teman bule saya yang pernah tinggal di Indonesia, mereka biasanya minta dibawakan rokok 1 slop. Maklum, harga rokok di Indonesia sangat murah sekali dibandingkan harga di sana. Lucunya, ada juga yang minta dibawakan Teh Botol Sosro (tentu saya membawa versi Teh Sosro Kotak) dan permen Kopiko.

Yang paling parah, seorang teman saya di Amerika minta dibawakan ‘sesuatu’ yang akan dikirim adiknya ke rumah saya. Si adik pun datang dengan membawa…1 dus Antangin! Gila, ini masuk angin apa masuk anjing coba? Saya lalu membuka dus tersebut dan membungkusnya dengan kertas kado agar di bagian custom saya tidak rese ditanya-tanya. Pulangnya, teman saya itu – dan teman-temannya yang lain – minta dibawakan pula oleh-oleh untuk keluarga mereka. Alhasil saya disuruh membawa 16 botol gede parfum! Untung saya tidak dikenai pajak, mungkin karena saya menaruhnya di dalam ransel butut, tidak menaruh ransel saya dilalui mesin X-Ray di bagian custom, dan tidak mengaku ada goods to declare.


Bagi saya, definisi ‘oleh-oleh’ itu jenis barang dan harganya terserah yang bawa. Sebagai backpacker, saya biasanya membelikan barang yang murah, ringan, dan berukuran tidak lebih dari segenggaman tangan. Karena saya bekerja di perusahaan yang banyak pegawainya, biar adil saya pasti mencari barang yang kecil dan murah-meriah. Untuk cewek-cewek, saya belikan lipstick, lip gloss, kuteks, atau G-String yang lagi sale. Untuk cowok-cowok, saya belikan korek api, bolpen, pensil, atau coklat versi mini. Untuk sahabat dekat saya, barulah saya agak memutar otak untuk membelikan sesuatu yang lebih spesial. Enaknya kalau ke Amerika, saya bisa beli di Factory Outlet yang menjual barang branded dengan harga sangat miring, seperti kaos merk Gap atau Esprit seharga 3 Dolar-an.

Saya sendiri selalu membawa uang kertas Rupiah limaratusan atau seribuan yang masih licin. Saya paling senang menempelnya di toko atau restoran yang mengkoleksi mata uang manca negara. Sekalian promosi Indonesia gitu. Atau uang tersebut saya berikan kepada teman-teman ‘nemu di jalan’ sebagai kenang-kenangan, lengkap dengan sedikit kata-kata dan alamat e-mail saya. Pasti mereka berkomentar, “Nooo…This is too much!”. Kalau saya lagi mood baik, saya menceritakan tentang mata uang Indonesia yang jeblok banget dibanding Euro atau Dolar. Tapi kalau lagi mood males, saya hanya tersenyum saja biar disangka jutawan yang menyamar jadi backpacker.

Read more

Kelas Bisnis Pakai Piring

Saya baru saja terbang dari Jakarta ke Vienna (Austria), naik Emirates Airlines. Pesawat milik negara UAE ini merupakan airlines favorit saya karena alasan sederhana, harganya relatif lebih murah dan pramugaranya ganteng-ganteng. Saat check in saya bela-belain datang duluan supaya dapat request duduk di paling depan sesudah wall karena cuman di deretan kursi kelas ekonomi itulah lumayan membuat nyaman kaki dalam perjalanan panjang berhubung memiliki ruang yang sedikit lebih lega untuk dengkul saya. Sejujurnya sih, sebenarnya saya menghindari duduk di belakang karena suka malu melihat kelakuan para TKI.

Di Singapura, kami transit selama setengah jam untuk terbang ke Colombo dulu. Saya pun memanfaatkannya dengan nongkrong di smoking room. Begitu masuk lagi, boarding pass saya diganti dari warna hijau menjadi warna biru. Saya tidak perduli dan ikut antri masuk pesawat. Di pintu masuk, saya menyerahkan boarding pass dan pramugari menyapa saya kembali, “Hi, welcome back,”. Lalu ia mendekatkan boarding pass saya ke matanya dan berkata lagi, “Wow! You are on business class!” Hah? Saya pun diantar ke pesawat bagian depan pesawat dengan jejeran kursi besar dan nyaman. Yiihaa, ternyata saya di-upgrade ke business class!

Begitu duduk saya ditawari minuman dengan pilihan orange juice, apple juice, champagne, atau bir. 15 menit kemudian saya ditawari berbagai macam wine atau liquor ditemani dengan penganan kacang yang bukan kacang bundar biasa, tapi kacang mede, almond, pistachio, dll. Saya juga diberi hot towel dengan handuk beneran, bukan kain kertas tipis yang bahannya sama dengan sarung bantal kelas ekonomi dan celana dalam disposable. Kartu menu makanan juga terdiri dari berbagai macam pilihan makanan dan minuman, termasuk wine list lengkap dengan sejarahnya. Kursi kelas bisnis memang sangat nyaman, ada extended kursinya dimana kaki bisa selonjor dan reclining seat yang bisa ‘ngejeblak’. Pokoknya kalau mau tidur tidak perlu susah-susah menekuk-nekuk tubuh, tinggal pencet tombol jadilah tempat tidur. Selimutnya besar dan tebal, bantalnya pun terbuat dari bantal beneran berukuran besar dan dibungkus dengan sarung bantal dari kain katun. Untuk menonton di personal TV, saya diberi headset yang terbuat dari kulit, bukan busa keras seperti di kelas ekonomi. Yang paling asik, saya diberi tas kecil berisi perlengkapan kosmetik bermerk Clarins seperti sabun muka, pelembab, pembersih muka, juga pelembab bibir, mouth wash, sisir sikat, tisu Kleenex, parfum kecil merk Bvlgari, sikat gigi travel merk Oral B dan odol mini. Toilet pun sangat nyaman karena bersih dan interiornya terbuat dari marmer.

Makanan disajikan secara table service dan full course, mulai dari salad dengan pilihan dressing, berbagai macam roti hangat, appetizer, main course (dengan porsi besar), buah-buahan mahal, macam-macam keju, coklat, dan terakhir dessert yang tinggal dipilih dari troli. Minuman juga terserah, terdiri dari segala macam jenis minuman keras dan ‘minuman lunak’. Yang membedakan kelas bisnis dan kelas ekonomi adalah tempatnya. I see the real plate! Tidak seperti di kelas ekonomi yang terbuat dari plastik dan stereofoam, di kelas bisnis semua makanan menggunakan piring dan mangkok yang terbuat dari keramik, dan gelas yang beneran terbuat dari gelas. Garpu dan pisau juga serius, terbuat dari perak, bukan plastik. Garam dan lada menggunakan tempat yang juga terbuat dari keramik, bukan dari sachet. Semua makanan dihidangkan panas dan tidak terbungkus alumunium foil atau plastik. Benar-benar serasa makan di restoran fine dining. Sehabis itu saya dengan nyenyaknya tidur di antara orang-orang tua yang berpakaian business suit (sementara saya pakai T-Shirt baseball, celana training, sepatu kets, dan rambut awul-awulan). Satu lagi, hanya di sinilah saya dipanggil dengan ‘Madame xxxxxxxxx’ (nama keluarga saya) setiap mereka menawarkan sesuatu atau mengajak bicara. Wih!

Transit 2 jam di Dubai, saya manfaatkan dengan masuk ke lounge khusus kelas bisnis Emirates. Kucluk-kucluk saya mendaftarkan diri, sampai petugasnya mengerutkan alis karena tak percaya melihat gaya saya yang bukan penumpang kelas bisnis sama sekali. Di situ diberi sarapan gratis a la buffet dengan makanan serius, mulai dari scrambled eggs, bacon, ham, corn flakes, pancakes, macam-macam roti, aneka juice, kue, buah, kopi, you name it. Disediakan juga seperangkat komputer dengan flat screen plus koneksi internet gratis, bisa sambil merokok pula.

Saat boarding, penumpang kelas bisnis lah yang dipersilakan masuk ke pesawat duluan. Saya jadi berasa super star dengan berdiri duluan sambil dipandang oleh ratusan pasang mata orang yang tak percaya.

Maaf, saya memang kampungan. Kalau bukan karena hoki, saya yang backpacker mana mungkin duduk di kelas bisnis pesawat karena tak sanggup bayar. Tak usahlah saya menceritakan mengapa saya tiba-tiba di-upgrade ke business class, nanti judulnya ‘I’m just a lucky bastard part 2’ lage!

Read more